Apa yang Salah dengan politik

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Apa yang Salah?

Sebuah kata bijak berbunyi “Barang Siapa yang Menanam Pasti Menuai“. Kata mutiara ini menjelaskan bahwa seseorang yang berbuat sesuatu maka dialah yang akan mendapat efeknya. Termasuk bumi ini dan kehidupan yang ada di dalamnya sekarang. Ribuan energi yang dapat dihasilkan oleh alam semesta ini, namun hanya satu energi yang paling berpengaruh dan dapat menentukan segalanya. Energi tersebut adalah energi “MANUSIA”.

Hal itu menegaskan segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah hasil apa yang telah diperbuat. Baik atau buruk yang diterima berasal dari setiap hal baik buruk yang diperbuat sebelumnya. Begitu juga dengan bumi. Sebagai tempat kehidupan manusia,keadaan bumi saat ini dipengaruhi oleh segala hal yang dilakukan manusia. Mengapa manusia??? Karena manusia sebagai pelaku, aktor kehidupan di muka bumi.

Oleh karena itu, tanpa disadari sesungguhnya energi yang paling menentukan nasib baik buruknya bumi adalah manusia. Dari ribuan energi yang dapat melakukan segala usaha di muka bumi, manusialah penentu energi tersebut. Satu gerakan ayunan tangan manusia untuk bumi dapat berbuah dampak positif bagi kelangsungan bumi.

Selama bersekolah, penulis mengamati banyak aturan di Indonesia yang bersifat penghamburan. Diantaranya peraturan dilingkungan sekolah. Kerap kali guru memberi tugas untuk membuat suatu makalah. Bayangkan, jika guru tersebut mengajar mata pelajaran yang sama diberbagai kelas. Tugas membuat makalah yang sama pun diberikan pada sejumlah kelas. Pendek kata, panjang makalah itu ditentukan sebanyak 10 lembar minimal. Berapa jumlah kertas yang digunakan hanya untuk satu tugas tersebut? Andaikan dalam satu kelas berjumlah 40 orang, dan guru tersebut mengajar 10 kelas. Maka jumlah kertas yang digunakan untuk tugas mencapai 4000 lembar. Jumlah yang cukup mencengangkan bukan? Guru memberi tugas untuk membuat suatu makalah, lalu murid membuatnya diwarnet, setelah itu mereka print tugas mereka itu di tempat rental, kemudian mereka beranjak ke tempat Fotocopyan untuk menjilidnya. Bagaimana dengan Guru yang memberi tugas kepada mereka? Adakah guru-guru itu memikirkan bagaimana proses yang telah dilakukan oleh anak didiknya itu untuk menyelesaikan tugasnya? Praktis memang, namun bagaimana dengan energi yang sudah dikeluarkan. Lalu setelah itu, apa yang mereka lakukan dengan makalah-makalah itu yang ternyata setiap tahun anak didiknya diberi tugas yang sama persis. Kini, siapakah yang dirugikan dari hal tersebut? Jawabannya adalah “BUMI”. Bumilah yang pasti dirugikan.

(2)

mereka ambil seratnya sudah pasti diambil dari pohon-pohan yang berada dihutan. Jadi, sudah jutaan hektar hutan yang sudah mereka basmi untuk pembuatan kertas tersebut. Belum lagi pembuatan bahan-bahan lain yang pasti menuju ke dalam penebangan hutan pula. Betapa menyedihkan bumi kita ini bukan???

Baru-baru ini sudah ada orang yang berhasil menemukan suatu penemuan baru yaitu pembuatan kertas ramah lingkungan dari nata de coco yang berasal dari air kelapa. Kertas yang terbuat dari nata de coco ini adalah penemuan seorang Prof. Ir. Khaswar Syamsu,MSc beserta rekannya Dr. Ir. Han Roliadi dari IPB ( Institut Pertanian Bogor ). Dia telah berhasil menciptakan kertas ramah lingkungan dari nata/ selulosa murni yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan nata de coco. Produksi selulosa dengan menggunakan mikroba ini mengurangi proses penghilangan lignin dan tidak perlu lagi menggunakan pemutihan dengan klorin sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Kertas yang terbuat dari natadecoco ini hanya menghabiskan waktu 7 hari panen , sedangkan kertas yang terbuat dari serat kayu berjenis Akasia manium menghabiskan waktu 16th panen agar dapat diproses lebih lanjut. Dalam hal iini secara tidak

langsung telah membantu bumi dalam melakukan proses penyerapan gas CO2 yang sering

memicu pemanasan global di bumi ini.

Berikutnya adalah keputusan pemerintah yang mewajibkan semua kendaraan untuk menyalakan lampu di siang hari. Apa pemerintah berfikir berapa energi yang terbuang sia-sia untuk penyalaan lampu kendaraan disiang hari. Kini minyak bumi diIndonesia sudah mulai langka. Penulis yakin bahwasannya Pemerintah juga masyarakat sekitar sadar akan hal itu. Tapi kenapa Pemerintah masih memaksakan warganya untuk tetap menghidupkan lampu kendaraannya disiang hari. Pemborosan bensin ia, pemanasan global ia, bikin mata silau ia , penambahan pengeluaran juga ia. Jadi menurut kalian, apa yang diharapkan Pemerintah dari kebijakannya itu ??? Sayangkah mereka dengan bumi kita ini ??? Padahal energi yang dimiliki bumi cukup banyak, namun energi manusia yang begitu besar mampu mengalahkan energi yang dimiliki bumi saat ini. Salah satu pusat energi terbesar bumi adalah “HUTAN”. Namun kini hutan dibumi sudah takberdaya dan juga sudah tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Hawa nafsu manusia yang berkeinginan keras menguasai segalanya apa yang diinginkan membuat hutan kini kehilangan jati dirinya. Hutan-hutan saat ini sebagian besar sudah dimusnah oleh tangan jahil manusia. Akibatnya, terjadi bencana banjir dimana-mana, tanah longsor, pemanasn globaldan menipisnya lapisan ozon. Ini disebabkan karena hakikat hutan yang sebenarnya sudah tidak berfungsi lagi.

(3)

sampah tidak akan kemana-mana, sampah akan selalu ada dimanapun kalian berpijak. Ingatlah bahwasannnya “ Siapapun yang berhasil menakhlukan sampah, dialah sebaik-baik dan sehebat-hebatnya orang karena seorang ilmuan, profesor, doctor terkemuka belum tentu mampu memanfaatkan keberadaan sampah sekarang ini “.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...