BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam suatu perusahaan diperlukanlah sebuah data dalam bentuk laporan tertulis. Laporan dalam sebuah perusahaan sangatlah beragam,dari mulai laporan pertanggungjawaban, laporan Manajemen, Laporan hasil Produksi,dan laporan keuangan.
Laporan keuangan dalam suatu perusahaan sangatlah diperlukan bagi para Pemangku kepentingan Stakeholder’s,seperti Manajer, Pegawai, Pemerintah,Kreditur,Analis keuangan, dan Akademisi. Laporan Keuangan yang handal dapat memberikan pengaruh positif bagi penggunanya. Karena fungsi dari laporan keuangan itu sendiri adalah memberikan informasi keuangan, dari mana saja modal diperoleh lalu penggunaan modalnya,lalu memberikan informasi berapa pendapatan dan laba setelah dikurangi beban-beban.
Pada dasarnya setiap pengguna laporan keuangan memiliki tujuan masing-masing dalam peruntukkannya. Berikut dijelaskan bagaimana fungsi laporan keuangan dilihat dari para pemangku kepentingannya.
Manajer
Laporan keuangan dapat memberikan informasi bagi Manajer. Sehingga Manajer dapat langsung memberikan keputusan yang tepat dalam mengatur operasi perusahaan. Sebagai contoh : Pendapatan dari hasil penjualan dalam perusahaan pada triwulan 1,triwulan 2 dan triwulan 3 mengalami penurunan. Seorang manajer, akan berupaya untuk meningkatkan hasil penjualannya. Maka, Manajer akan memberikan keputusannya dalam mengurangi jumlah produksi dan meningkatkan fungsi Pemasaran.
Pegawai
Laporan Keuangan dalam perusahaan Go Public sangat diperlukan bagi pegawai guna melihat prospek kedepan perusahaan, dan sarana motivasi bagi pegawai dalam meningkatkan produktivitasnya sehingga pegawai berpikir bagaimana caranya agar target laba dapat tercapai pada periode selanjutnya
Laporan Keuangan berfungsi pula untuk para Investor yang menanam sahamnya atau menginvestasikan dananya pada perusahaan. Tujuan para Investor adalah agar ia mendapatkan Dividen dari perusahaan. Maka dari itu, seorang Investor yang ingin menanamkan modalnya dalam suatu perusahaan membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kinerja dan operasi perusahaan. Salah satunya adalah Laporan Keuangan. Dengan melihat laporan keuangan,Investor akan menilai seberapa besar keuntungan perusahaan setiap tahunnya,dilihat dari Laporan Laba rugi yang ada, selain itu Investor akan menilai, digunakan dalam bentuk apa saja modal yang tersedia,dalam hal ini Investor akan melihatnya dilaporan posisi keuangan (Statement Of Financial Reporting). Dengan demikian Investor akan berpikir keuntungan atau Dividen yang akan ia peroleh. Setelah melihat Laporan Keuangan, para Investor mungkin akan berpikir untuk menanamkan saham atau modalnya diperusahaan tersebut atau tidak.
Karena laporan keuangan ini sangatlah penting bagi para pengguna yang telah disebutkan diatas. Maka dalam mengambil keputusan dibutuhkanlah suatu analisis pada laporan keuangan. Namun, apabila terjadi perubahan peraturan terhadap pajak dalam perusahaan, maka sangat berpengaruh sekali terhadap hasil analisis. Sebagai contoh Peraturan pemerintah terbaru Nomor 46 tahun 2013 mengenai penghitungan pajak penghasilan atas yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu..
Dalam Sebuah artikel yang ditulis pada Blog oleh Dwi Yunanta, dikatakan bahwa Pengakuan pajak penghasilan dalam PSAK no 46,mengenai akuntansi pajak penghasilan secara komprehensif dengan pendekatan aktiva-kewajiban atau balance sheet approach (Harnanto,2003)
Dalam Artikel tersebut di tulis pula :
Biaya lebih awal atau menangguhkan pendapatannya untuk tujuan pelaporan keuangan dibanding pelaporan pajak (Philips et al,. 2003; dalam Subekti, 2008).
aktiva pajak tangguhan terhadap konsekuensi fiskal masa depan yang disebabkan oleh adanya perbedaan temporer dan sisa kerugian yang belum dikompensasikan.
Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak. Aktiva pajak tangguhan (deferred tax asset) adalah jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian. Untuk itu perbedaan temporer yang menambah jumlah pajak di masa depan akan menambah atau diakui sebagai utang pajak tangguhan, dan perusahaan harus mengakui adanya biaya pajak tangguhan (deferred tax expense), yang berarti bahwa kenaikan utang pajak tangguhan konsisten dengan perusahaan yang mengakui pendapatan lebih awal atau menunda biaya untuk pelaporan keuangan dibanding pelaporan pajak.
Sebaliknya perbedaan temporer yang mengurangi jumlah pajak dei masa depan akan menambah atau diakui sebagai aktiva pajak tangguhan, dan perusahaan harus mengakui adanya keuntungan atau manfaat pajak tangguhan (deferred tax benefit), yang berarti bahwa kenaikan aktiva pajak tangguhan konsisten dengan perusahaan yang menngakuidan diungkapkan dalam laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi. Suatu perusahaan bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja perusahaan membayar pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih kecil di masa datang. Bila dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam neraca dan laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya
Dapat Disimpulkan bahwa pengaruh pajak sangat besar terhadap laporan keuangan,terutama analisis yang dilakukan oleh para penggunannya dalam berbagai tujuannya. Pajak yang dimaksud disini tidak hanya beban pajak dalam Laporan laba rugi saja, namun Utang pajak yang tersusun dalam laporan posisi keuangan pun termasuk didalamnya. Adapun Analisis laporan keuangan dapat menggunakan beberapa analisis rasio, mencakup :
1. Likuiditas
2. Solvabilitas
Yaitu menunjukan seberapa mampukah perusahaan untuk membayar kewajibannya apabila perusahaan di likuidasi.
3. Aktivitas
Yaitu Rasio yang menunjukkan aktivitas penggunaan modal atau aset perusahaan menjadi laba.
4. Rentabilitas atau Profitabilitas
Suatu rasio yang digunakan untuk melihat seberapa besar laba yang akan diperoleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.
1.2Identifikasi Masalah & Rumusan Masalah
Dalam Laporan keuangan terdapat 3 jenis laporan yang disajikan,yakni Laporan Laba rugi ( Income Statement), Laporan Posisi Keuangan (Statement Of Financial Position), Arus Kas (Cash Flow) dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Dalam menganalisis laporan keuangan kita membutuhkan Informasi dari keempat laporan tersebut. Fungsi dari Analisis ini adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan pada tahun tersebut dari segi perputaran modal menjadi sumber penghasilan, perputaran persediaan,Tingkat pengembalian investasi,Tigkat pengembalian Piutang dan lain-lain.
Dalam menganalisis laporan keuangan,maka diperlukanlah 3 laporan keuangan meliputi Laporan laba rugi,laporan posisi keuangan, dan laporan arus kas. Adanya beban pajak , restitusi pajak, dan pajak dibayar dimuka dan beban tangguhan pajak, menjadi hal yang menentukan penambahan atau pengurangan laba dan mempengaruhi pula pada analisis laporan keuangan. Seperti yang telah dibahas, bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pajak perlu di catat dalam laporan keuangan, agar laporan tersebut handal dan para pengguna laporan tidak meleset dalam hasil analisisnya.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menganalisis laporan keuangan dengan menggunakan keempat rasio? 2. Apa yang dimaksud dengan beban pajak, pajak tagguhan,pajak dibayar dimuka dan
3. Seberapa besar pengaruh Pajak terhadap Analisis laporan keuangan?
4. Bagaimana hubungan komponen-komponen pajak tersebut dalam laporan keuangan? 5. Apa yang terjadi apabila salah satu komponen pajak tidak di laporkan dalam laporan
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian megenai Pengaruh pajak terhadap Analisis laporan keuangan adalah agar kita mengetahui seberapa besar pajak terhadap hasil analisis oleh para Investor,manajemen dan kreditur. Serta efek yang ditimbulkan apabila Pajak tidak dimasukkan dalam laporan keuangan,adapun komponen pajak yang berkaitan dengan laporan keuangan, diantaranya
1. Beban Pajak 2. Pajak Tangguhan 3. Pajak dibayar Di muka 4. Restitusi Pajak
Dimana.masing –masing komponen ini terdapat pada laporan keuangan. Sehingga,salah satu komponen saja, yang tidak dilaporkan dalam laporan keuangan,maka dampaknya akan sangat besar terutama bagi para pengambil keputusan, maka dari itu dalam Bab berikutnya akan dibahas lebih detail mengenai dampaknya terhadap hasil analisis laporan keuangan.
Tujuan penelitian ini memiliki sasaran pembaca untuk mahasiswa dan para praktisi akademik, guna mengetahui pengaruh pajak terhadap analisis laporan keuangan.
Selain itu, agar kita mengetahui tingkat Likuiditas,Solvabilitas,Aktivitas,Rentabilitas atau Profitabilitas, ketika pajak dilaporkan dalam laporan keuangan atau ketika salah satu komponen pajak tidak dilaporkan, sehingga kita dapat mengetahui perbedaannya.
1.5 Kegunaan Penelitian
Dalam proposal penelitian yang saya buat, diharapkan proposal ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pentingnya pelaporan atas pajak pada suatu laporan keuangan, dimana laporan keuanga tersebut akan memberikan informasi bagi penggunanya untuk di analisis melalui empat rasio yaitu : Likuiditas, Solvabilitas,Aktivitas, profitabilitas atau rentabilitas.
Selain itu kegunaan dari penelitian ini pun agar kita sebagai pembaca mengetahui efek yang ditimbulkan apabila salah satu komponen pajak tidak dimasukkan dalam laporan keuangan. Tentu saja efek tersebut dapat mempengaruhi tingkat laba perusahaan, aktivitas pendanaan, kewajiban yang dapat dibayar perusahaan selama berapa periode dan lain sebagainya.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori
Laporan Keuangan adalah suatu bentuk pertanggungjawaban perusahaan selama satu periode,mengenai aktivitas perusahaan. Yakni berupa:
o Aktivitas Bisnis
Dalam Buku Analisis Laporan Keuangan Oleh K.R. Subramanyam dan John J.Wild dijelaskan bahwa, Sebuah perusahaan menjalankan aktivitas untuk menyediaka produk atau jasa yang dapat dijual dan menghasilkan pengembalian investasi yang memuaskan/ Laporan Keuangan perusahaan berikut pengungkapannya menginformasikan empat aktivitas utama perusahaan : Perencanaan,Pendanaan,Investasi,dan operasi. Masing-masing aktivitas bisnis utama ini penting untuk dipahami sebelum kita dapat menganalisis laporan keuangan perusahaan secara efektif.
o Aktivitas Perencanaan
Sebuah perusahaan ada untuk mengimplementasikan sasaran dan tujuan tertentu. Sebagai Contoh: Perusahaan dibidang Manufacture yaitu Colgate yang memprodksi Pasta Gigi ingin bertahan sebagai pemimpin dalam bidang produk perawatan mulut,pribadi dan rumah. Sasaran dan tujuan perusahaan terdapat dalam rencana bisnis (Business Plan) yang mendeskripsikan maksud perusahaan,strategi,dan taktik untuk aktivitasnya. Rencana Bisnis membantu manajer untuk memusatkan usaha mereka dan mengidentifikasi kesempatan dan rintangan yang diharapkan. Pandangan kedalam rencana bisnis sangat membantu analisis atas prospek perusahaan kini dan nanti,dan merupakan bagian dari analisis lingkungan bisnis dan strategi. Kita mencari informasi tentang tujuan perusahaan dan taktiknya,permintaan pasar,analisis kompetitif,strategi penjualan(penetapan harga, promosi,distribusi),kinerja manajemen dan proyeksi keuangan. Jenis informasi ini,dalam berbagai bentuk sering ditemui dalam laporan keuangan . informasi ini juga tersedia melalui media yang kurang formal,seperti pernyataan pers,publikasi industry,bulletin analisis dan berita keuangan.
Dua sumber informasi penting tentang rencana bisnis perusahaan tentang rencana bisnis perusahaan adalah sambutan presiden direktur serta Management Discussion and Analysis (MD&A) .
o Aktivitas Pendanaan (Financing Activities)
(Pemberi pinjaman). Keputusan tentang komposisi aktivitas pendanaa tergantung pada kondisi dipasar keuangan.
o Aktivitas Investasi (Investing Activities)
Aktivitas Investasi mengacu pada perolehan pemeliharaan investasi dengan tujuan menjual produk dan menyediakan jas dan untuk tujuan menginvestasikan kelebihan kas. Investasi dalam tanah,bangunan,peralatan,hak hokum(Paten,Lisensi,Hak cipta) persediaan, modal manusia (Manajer dan karyawan), sistem informasi,dan asset sejenis adalah untuk menjalankan operasi bisnis perusahaan. Aset-aset ini disebut sebagai asset operasi (Operating Asset). Perusahaan juga sering secara temporer atau permanen menginvestasi kelebihan kasnya dalam bentuk efek seperti saham ekuitas perusahaan lain, obligasi perusahaan dan pemerintah dan reksadana. Aset ini disebut asset keuangan (Financial Asset). Investasi dalam asset jangka pendek disebut asset lancer (Current Asset). Aset ini diharpkan terkonversi menjadi kas dalam jangka pendek. Investasi dalam asset jangka panjang disebut aseet tak lancar (Non Current Assets).
o Aktivitas Operasi (Operating Activities)
Aktivitas Operasi mencerminkan pelaksanaan rencana bisnis yang terdapat dalam aktivitas pendanaan dan aktivitas investasi. Aktivitas operasi melibatkan setidaknya lima komponen: Penelitian dan pegembangan,pembelian,produksi,pemasaran dan Administrasi.
Menurut Drs.Munawir.Ak.:
“Laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antar data keuangan/aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data-data/aktivitas tersebut.”
Sedangkan, Analisis Laporan Keuangan adalah suatu bentuk proses atau pemikiran dalam suatu laporan keuangan,dimana pengguna dapat memprediksi,memperkirakan dan mengevaluasi kinerja perusahaan periode ini maupun periode yang akan datang.
Dalam laporan keuangan terdiri dari Laporan Laba rugi, Laporan Posisi Keuangan (Neraca),dan laporan Arus kas (Cash Flow).
1. Neraca (Laporan Posisi Keuangan)
dari kreditur atas asset. Ekuitas atau Ekuitas pemegang saham(Shareholder’s Equity) merupakan total dari:
o Pendanaan yang diinvestasikan atau dikontribusikan oleh pemilik(modal kontribusi). o Akumulasi laba yang tidak dibagikan kepada pemilik (saldo laba) sejak berdirinya
perusahaan.
Aset dan kewajiban dipisahkan antara lancar dan tidak lancar. Aset Lancar (Current Asset) diharpkan untuk terkonversi menjadi kas atau digunakan pada operasi dalam waktu satu tahun atau dalam satu siklus operasi,bergantung pada yang lebih panjang. Kewajiban lancar ( Current Liabilities) merupakan kewajiban perusahaan yang diharapkan terselesaikan dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi. Bergantung pada yang lebih panjang. Selisih antara asset lancar dan kewajiban lancar disebut modal kerja (Working Capital).
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi (income statement) mengukur kinerja keuangan perusahaan antara tanggal neraca. Laporan ini mencerminkan aktivitas operasi perusahaan. Laporan laba rugi menyediakan rincian pendapatan,beban,untung,dan rugi perusahaan untuk suatu periode waktu. Laba bersih mengindikasikan profitabilitas perusahaan. Laba mencerminkan pengembalian kepada pemegang ekuitas untuk periode bersangkutan,sementara pos-pos dalam laporan merinci bagaimana laba didapat. Laba merupakan perkiraan atas kenaikan (atas penurunan) ekuitas sebelum distribusi kepada dan konstribusi dari pemegang ekuitas.
Bentuk laporan laba rugi: 1.Bentuk Single Step
Menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok,sehingga untuk menghitung laba/rugi bersih hanya memerlukan 1 langkah yaitu mengurangi total biaya terhadap total penghasilan.
2.Bentuk Multiple Step
Dalam bentuk ini dilakukan pengelompokkan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum.
Ringkasan aliran kas untuk suatu periode tertentu (1 tahun). Disebut juga ‘Laporan Sumber dan penggunaan dana’, yang menunjukan aliran operasi perusahaan,investasi,dan aliran kas pendanaan serta menunjukan perubahan kas dan surat berharga selama periode tertentu. Laporan arus kas melaporka arus ka masuk dan keluar bagi aktivitas operas,investasi,dan pendanaan perusahaan secara terpisah dalam suatu periode tertentu.
2.1.2 Pengertian dan bentuk analisis laporan keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan bagian penting dari analisis bisnis yang lebih luas. Analisis bisnis (bussines analysis) merupakan proses evaluasi prospek ekonomi dan risiko perusahaan. Hal tersebut meliputi analisis atas lingkungan bisnis perusahaan,strateginya,serta posisi keuangan dan kinerjanya. Analisis bisnis berguna dalam banyak keputusan bisnis seperti memilih investasi dalam efek (surat berharga atau sekuritas) ekuitas atau efek utang,memilih perpanjangan pinjaman dengan utang jangka panjang atau utang jangka pendek,menilai perusahaan dalam penawaran saham perdana (Initial Public Offering-IPO),dan mengevaluasi strukturisasi yang meliputi merger,akuisisi,dan divestasi.
Analisis
Laporan Keuangan (Financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam anallisis bisnis. Analisis laporan keuangan mengurangi ketergantungan pada firasat,tebakan dan intuisi,dalam pengambilan keputusan,serta mengurangi ketidakpastian analisis bisnis. Analisis ini tidak mengurangi perlunya penilaian ahli,namun menyediakan dasar yang sistematis dan efektif dalam analisis bisnis.
Ada 5 alat analisis laporan keuangan:
Penulis hanya memberikan analisis laporan keuangan dalam bentuk analisis rasio,seperti halnya dijelaskan dalam judul proposal penelitian.
2.1.3 Analisis Rasio
Analisis Rasio (Ratio Analysis) adalah salah satu alat analisis keuangan yang paling popular yang sering digunakan. Namun, perannya sering disalah pahami dan sebagai konsekuensinya,kepentingannya sering dilebih-lebihkan. Sebuah rasio menyatakan hubungan matematis antara dua kuantitas. Rasio 200 terhadap 100 dinyatakan sebagai 2:1, atau cukup 2. Meskipun perhitungan rasio merupakan operasi aritmetika sedehana,interpretasinya lebih kompleks. Agar bermakna,sebuah rasio harus mengacu hubungan ekonomis yang penting. Sebagai contoh,terdapat hubungan langsung dan penting harga jual dan biaya suatu produk. Dengan demikian,rasio harga pokok pejualan terhadap penjualan adalah penting. Sebaliknya, tidak ada hubungan yang jelas antara biaya angkut dengan saldo efek.
Rasio merupakan alat untuk menyediakan pandangan terhadap kondisi yang mendasari. Rasio merupakan salah satu titik awal, bukan titik akhir. Rasio yang diinterpretasikan dengan tepat mengidentifikasi area yang memerlukan investigasi lebih lanjut. Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk rasio.
Seperti alat analisis lainnya,rasio paling bermanfaat bila berorientasi kedepan. Hal ini berarti kita sering menyesuaikan factor-faktor yang memengaruhi rasio untuk kemungkinan trend an ukurannya di masa depan. Oleh karena itu,kegunaan rasio tergantung pada keahlian penerapan dan interpretasinya,dan inilah bagian yang paling menantang dari analisis rasio.
Sama halnya dengan kewajiban pension tertentu yang sering tidak disajikan melainkan hanya diungkapkan dalam catatan. Kita biasanya ingin mengakui kewajiban pension saat menghitung rasio seperti rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity). Kita juga harus mengakui bahwa penyesuaian untuk satu rasio harus diterapkan secara konsisten untuk rasio lainnya. Sebagai contoh, penghilangan kewajiban pensiun berarti eban pensiun di laporkan terlalu rendah. Dengan demikian,dalam perhitungan rasio,angka laba bersih sering memerlukan penyesuaian saat asset atau kewajiban disesuaikan. Perlu diingat bahwa kegunaan rasio tergantung pada keandalan angkanya. Jika pengedalian akuntansi internal perusahaan atau tata laksana lainnya dan mekanisme pengawasan kurang andal untuk menghassilkan angka yang dapat dipertangungjawabkan,maka hasil rasio juga kurang andal.
Interpretasi rasio. Rasio yang diinterpretasikan dengan hati-hati karena factor-faktor yang memengaruhi pembilang dapat berkorelasi dengan faktor-faktor yang memengaruhi penyebut. Sebagai contoh,perusahaan dapat memperbaiki rasio beban operasi terhadap penjualan dengan mengurangi biaya yang menstimulasi penjualan (misalnya pengembangan dan penelitian). Pengurangan jenis biaya seperti ini kemungkinan berakibat pada penurunan penjualan atau pangsa pasar jangka panjang. Dengan demikian,profitabilitas yang tampaknya membaik dalam jangka pendek dapat merusak prospek perusahaan dalam masa depan. Kita harus menginterpretasikan perubahan tersebut dengan tepat. Banyak rasio memiliki variable penting yang sama degan rasio lainnya. Dengan demikian tidaklah perlu untuk menghitung semua rasio yang mungkin untuk menganalisis sebuah situasi. Rasio, seperti sebagian besar teknik analisis keuangan,tidak relevan dalam isolasi. Rasio bermanfaat bila diinterpretasikan dalam perbandingan dengan:
1. Rasio tahun sebelumnya ;
2. Standar yang ditentukan sebelumnya ; 3. Rasio pesaing.
1. Analisis kredit (Risiko)
a. Likuiditas. Untuk mengevaluasi kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
b. Struktur modal dan solvabilitas. Untuk menilai kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang
2. Analisis Profitabilitas
a. Tingkat pengembalian atas investasi (Return On Investment-ROI). Untuk menilai kompensasi keuangan kepada penyedia pendanaan ekuitas dan utang. b. Kinerja operasi. Untuk mengevaluasi margin laba dari aktivitas operasi.
c. Pemanfaatan asset (asset utilization). Untuk menilai efektivitas dan intensitas asset dalam menghasilkan penjualan,disebut pula perputaran (turnover).
A.Rasio
Rasio keuangan biasanya dalam bentuk presentase (%) atau ‘kali’ pengelompokkan rasio keuangan dilakukan dengan beberapa cara,salah satunya adalah sebagai berikut:
1. Rasio Likuiditas (Liquidity Rations) ; Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
2. Rasio Aktivitas (Activity Rations) ; Rasio untuk mengukur sejauh mana efektivitas pengunaan asset dengan melihat tingkat aktivitas asset.
3. Rasio Solvabilitas (Solvability Rations) / Leverage; Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
4. Rasio Profitabilitas (Profitability Rations) ; Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
5. Rasio Pasar (Rasio Investor); Rasio untuk melihat perkembanga nilai perusahaan relative terhadap nilai buku perusahaan.
Rumus Rasio:
1. Rasio Likuiditas (Liquidity Rations)
Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiba jangka pendekya dengan menggunakan aktiva lancarnya terhadap hutang lancarnya.
a. Net Working Capital (Modal kerja bersih)
Net Working Capital= Current Asset - Current Liabilities b. Current Rasio/ Rasio Lancar
Current Rasio = Current Assets/ Current liabilities. Interpretasi :
o Current Rasio rendah menunjukan resiko likuiditas yang tinggi
o Current rasio untuk perusahaan normal berkisar pada angka 2 (tergantung dari jenis industry).
c. Quick Acid Ratio (CAR)/ Rasio cepat
Quick Acid Ratio= Current Asset-Inventory Current Liabilities
Note : persediaan biasanya dianggap asset yang paling tidak liquid perlu waktu untuk menjadi kas
Interpretasi :
o CAR untuk perusahaan normal berkisar pada angka 1 (tergantung jenis industry) o CAR rendah menunjukan resiko likuiditas yang tinggi akibat 2 faktor
1. Terlalu anyak macam persediaan yang tidak dapat dijual dengan mudah. 2. Jika barang dijual dengan kredit maka akan menjadi piutang sebelum menjadi
uang kas.
2.Rasio Aktivitas (Activity Rations)
Rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas pengunaan asset dengan melihat tingkat aktivitas asset atau untuk mengetahui kecepatan beberapa perkiraan menjadi penjualan atau kas.
Aktivitas aktiva yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besar kelebihan dana yang tertanam dalam aktiva tersebut,yang lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif.
Empat rasio aktivitas tersebut adalah :
a. Inventory Turn Over (Perputaran persediaan)
b. Average age of Inventory ( Rata-rata umur persediaan) c. Average payment periode (Rata-rata periode bayar) d. Fixed Asset Turn over (Perputaran aktiva tetap) a. Inventory Turn Over (Perputaran persediaan)
Inventory Turn Over = Cost Of Good Sold (HPP)/ Inventory Interpretasi:
o Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semkin tingginya persediaan berputar dalam satu taun dan ini menandakan terdapat efektivitas manajemen persediaan.
o Sebaliknya perputaran persediaan yang rendah menandakan mis-manajeme seperti kurangnya pengendalian persediaan yang efektif.
b. Average age of Inventory (Rata-rata umur persediaan) Average age of Inventory=Jumlah hari dalam 1 tahun
Inventory Turnover c. Average Collections period (Rata-rata periode tagih)
Average Collections period= Accounts Receivable Annual Sales/360 d. Average Payment Period (Rata-rata periode bayar)
e. Fixed Asset Turn over (Perputaran aktiva tetap) Fixed Asset Turn over= Sales
Net Fixed Asset
o Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. o Rasio ini cukup penting diperhatikan pada perusahaan indutri yang mempunyai aktiva tetap yang tinggi untuk perusahaan jasa tidak begitu penting diperhatikan f. Total Asset Turnover (Perputaran total aktiva)
Total Asset Turnover= Sales
Total Asset
o Rasio yang tinggi menunjukan manajemen yang baik,sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi,pemasaran dan investasinya.
3. Rasio Solvabilitas (Debt Rations)/ Leverage
Rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jagka panjangnya. Perusahaan yang tidak sovable adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan total asetnya.
g. Leverage atau debt ratio
Rasio yang menghitung seberapa jauh dana disediakan oleh kreditur Debt Ratio= Total Liabilities
Total Asset h. Debt Equity Ratio
Debt Equity Ratio= Long Term-Term Debt Stockholders equity
i. Times Interest Earned Ratio (TIE)/ Rasio mampu bayar bunga
Rasio yang mengukur seberapa besar laba sebelum bunga dan pajak yang tersedia untuk menutup beban tetap bunga.
Times Interest Earned Ratio= Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT (Rasio mampu bayar bunga) Interest (bunga)
Interpretasi :
o Rasio TIE yang tinggi menunjukkan semakin baik kemampuan perusahaan memmbayar bunga atau terlalu rendahnya penggunaan hutang (Financial Leverage)
o Rasio TIE yang rendah memerlukan perhatian manajemen. j. Fixed Charge Coverage Ratio
kewajiban tetapnya seperti bunga dan pokok pinjaman, pembayaran sewa guna usaha dan dividen saham preferen.
Fixed-Payment Coverage Ratio= EBIT+ Lease Payment
(Rasio mampu bayar kewajiban tetap)
Interest+Lease Payments+((Principal+Prefereed stock dividens)* 1 (1-Tax)
Interpretasi
o Semakin rendah rasio tersebut semakin tinggi resiko baik bagi yang meminjamkan maupun pemilik yaitu resiko perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tetap sesuai jadwal yang menyebabkan perusahaan bangkrut
o Semakin Tinggi rasio tersebut semakin rendah resiko baik bagi yang meminjamkan maupun pemilik.
4. Rasio Profitabilitas
Rasio yang melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba (Profitabilitas) pada tingkat penjualan,asset dan modal saham yang tertentu. Rasio yang sering digunakan ; a. Gross profit Margin/Marjin laba kotor
b. Operating profit margin c. Net Profit Margin
d. Return on Total Asset (ROA) e. Return on Equity (ROE)
a. Gross Profit Margin/Marjin laba kotor
Gross Profit Margin = Sales-Cost Of good Sold Sales
Semakin tinggi marjin laba kotor maka semakin baik atau secara relative semakin rendah harga pokok barang yang dijual.
b. Operating Profit Marjin
Rasio yang mengukur presentase sisa hasil penjualan sesudah perusahaan dikurangi biaya dan pengeluaran termasuk bunga dan pajak.
Operating Profit Margin = Operating Profit Sales
c. Net Profit Margin
Menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.
Net Profit Margin= Net Profit After Tax Sales
Interpretasi :
o Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu.
o Profit Margin yang rendah menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya tertentu atau biaya terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu.
d. Return On Total Assets (ROA) atau hasil atas total asset (HAA)
Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu. Disebut juga ROI (Return On Investement). Return on Total Assets (ROA) = Net profit after Taxes
Total asset
Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen asset yang berarti efisiensi manajemen.
e. Return on Equity (ROE) atau hasil atas ekuitas (HAE)
Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu.
ROE = Net Profit After Taxes Stockholders Equity
1.1.2 Pengertian Pajak
Definisi pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1 berbunyi pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berbagai pengertian pajak yang dikemukan oleh berbagai pakar antara lain sebagai berikut :
Prof. Dr. A. Adriani
Pajak adalah iuran masyarakat pada negara (yang sifatnya dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas-tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro, S.H.
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang sifatnya dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Suparman Sumawidjaya
Pajak adalah iuran wajib berupa barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma hukum guna menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.
Smeets
Pengertian Beban Pajak
Beban pajak pada perusahaan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh perusahaan, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Untuk Wajib Pajak Badan, besarnya pembayaran Angsuran PPh 25 yang terutang diperoleh dari penghasilan kena pajak dikalikan dengan tarif PPh yang diatur di Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang Undang Pajak Penghasilan. Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU PPh adalah 25%.
Khusus untuk Wajib Pajak badan yang peredaran bruto setahun sampai dengan Rp 50.000.000.000,- mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU PPh, yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari peredaran bruto sampai dengan Rp
4.800.000.000,-Pengertian Restitusi Pajak
Restitusi adalah sebutan umum untuk suatu proses pengembalian kelebihan pajak (Lebih Bayar/LB) yang tercantum dalam suatu surat ketetapab atau surat keputusan, kepada Wajib Pajak (WP). Surat keputusan/ketetapan yang dimaksud adalah: Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKP-LB), Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP), Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengurangan Surat Tagihan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding oleh Pengadilan Pajak, maupun Putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung.
Fungsi Pajak
Dengan pertimbangan yang sama, pemerintah juga telah mengeluarkan beleid berupa pengurangan angsuran PPh Pasal 25 dan penundaan pembayaran PPh Pasal 29 tahun 2013 bagi industri tertentu. Kebijakan ini akan meringankan dan menjaga likuiditas bagi Wajib Pajak yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing industri nasional baik yang berorientasi domestik maupun ekspor. Industri yang diberikan keistimewaan ini adalah industri padat karya, terbatas pada industri tekstil, industri pakaian jadi, industri alas kaki, industri furniture dan/atau industri mainan anak-anak.
Dua kebijakan perpajakan di atas menjadi contoh yang paling hangat untuk menerangkan fungsi pajak sebagai alat pengatur dan sebagai stabilisator. Fungsi pajak yang paling melekat di benak kita, ketika mendengar istilah pajak, adalah bahwa pajak merupakan sumber pembiayaan negara yang terbesar. Fungsi pajak sebagai sumber pembiayaan ini biasa dikenal sebagi fungsi budgetair pajak. Fungsi budgetair pajak memegang peranan sangat penting di Indonesia, karena sekitar 70% pengeluaran negara dibiayai oleh pajak.
Peran penting fungsi budgetair pajak, menjadikan pajak dapat digunakan sebagai alat pengatur (regulerend). Fungsi ini mempunyai pengertian bahwa pajak dapat dijadikan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai contoh, ketika pemerintah berkeinginan untuk melindungi kepentingan petani dalam negeri, pemerintah dapat menetapkan pajak tambahan seperti pajak impor atau bea masuk, atas kegiatan importasi komoditas tertentu. Contoh yang lain, ketika Jokowi berusaha mengatasi kemacetan di Jakarta, salah satu alternatif yang diusulkan adalah penerapan ERP (Electronic Road Pricing). ERP ini pun salah satu bentuk implementasi pajak sebagai alat pengatur.
defisit perdagangan tidak semakin melebar, pemerintah dapat menetapkan kebijakan pengenaan PPnBM di atas.
Tak kalah pentingnya adalah pajak sebagai sarana redistribusi pendapatan. Pemerintah membutuhkan dana untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Kebutuhan akan dana itu, salah satunya dapat dipenuhi melalui pajak. Pajak hanya dibebankan kepada mereka yang mempunyai kemampuan untuk membayar pajak. Namun demikian, infrastruktur yang dibangun tadi, dapat juga dimanfaatkan oleh mereka yang tidak mempunyai kemampuan membayar pajak, untuk meningkatkan pendapatannya.
Mereka dapat memanfaatkan jalan raya untuk kelancaran distribusi hasil pertaniannya, mereka dapat memanfaatkan sekolah untuk pendidikan anak-anaknya. Kelancaran distribusi hasil pertanian, akan membuat harga jual produk agribisnisnya lebih mahal, yang akan membuat penghasilan para petan meningkat. Anak-anak petani dapat menikmati pendidikan sehingga ketika tiba waktunya mereka, anak-anak petani itu, akan mempunyai kemampuan untuk dapat berkompetisi dan meraih kehidupan yang layak. Intinya, saat ini tidak ada satupun masyarakat Indonesia yang tidak merasakan manfaat pajak.
2.2 Kerangka Pemikiran
1. Rasio likuiditas a. Net working Capital
Net Working Capital= Current Asset-Current liabilities
Tahun Current Asset
Current Ratio= Current Asset/Current liabilities
Tahun Current Asset
Current
Liabilities Current Ratio
2011 4,584,704
i : 1.Setiap Rp.1 hutang dijamin oleh Rp.4.09aktiva lancar 2.CR untuk perusahaan normal berkisar pada angka 3 3.CR rendah menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi
c.Quick acid ratio/Rasio cepat =(Current Asset-Inventory)/ Current Liabilities
Tahun Current Asset
Current
Liabilities Inventory
Quick Acid ratio 2011 4,584,704 1,421,976 2,447,376 1.29 2012 3,929,664 959,806 1,617,389 1.84
Interpretasi
1.Setiap Rp.1 hutang dijamin oleh Rp.1.84 aktiva lancar diluar persediaan
2.CAR untuk perusahaan normal berkisar pada angka 1 3.CAR rendah menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi 2.Rasio Aktivitas
a. Inventory turn Over (Perputaran Persediaan)= Cost Of good sold/Inventory
Tahun COGS Inventory
Inventory turn Over 2011 6,776,336 2,447,376 2.77 2012 6,498,505 1,617,389 4.02
Interpretasi 1. Jadi dalam satu tahun persediaan berputar sebanyak 4 kali,
hal ini menandakan kurangnya pengendalian persediaan yang efektif.
b.Average Age of Inventory( Rata-rata umur persediaan) = Jumlah hari dalam setahun/ inventory turn Over
Tahun 1 Tahun=360
inventory turn Over
Average age of inventory
2011 360 3 120
2012 360 4 90
c. Average Collection Periode(rata-rata periode tertagih)= Account receivable/average sales per
Interpretasi 1.Lamanya waktu yang diperlukan untuk menagih piutang menjadi kas
adalah 23 hari..apabila syarat kredit 2.10, n/30 maka tingkat pengembalian piutang relatif cepat. d. Average payment periode(Rata-rata periode bayar)= Account Payable/average purchase per
day
Interpretasi 1. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk membayar hutang dagang adalah 14 hari maka,syarat kredit 30 hari rata-rata periode bayar perusahaan tinggi.
e.Total Asset Turnover(perputaran aktiva tetap)= Sales/ Total Asset
Tahun Sales/pendapatan Total Asset
f. Fixed Asset turn over
Tahun Sales/pendapatan Net Fixed Asset
Fixed Asset turn over 2011 8,749,617 1,985,103 4.41 2012 7,822,560 2,171,343 3.60 Interpretasi 1. tingkat perputaran aktiva bersih 3.60 kali dalam 1 tahun
artinya penggunaan aktiva tetapnya efektif.
3. Rasio Solvabilitas
a. Leverage/ Debt Ratio= Total Liabilities/total Asset
Tahun
Total
Liabilities Total Asset Leverage 2011 1,972,012 6,569,807 0.30 2012 1,542,807 6,101,007 0.25
interpretasi 1. Setiap Rp.25 hutang dijamin oleh Rp.1 aset perusahaan atau aktiva perusahaan telah dibiayai 25% oleh hutang b.Debt Equity Ratio = Long term-Term Debt/ Stockholders equity
Tahun Long term
S.Holder Equity
Debt Equity
ratio 2011 1,972,012 4,597,795 0.43 2012 1,542,807 6,101,007 0.25
Interpretasi 1. pinjaman jangka panjang perusahaan hanya 25% dari modal sendiri. c. Times Interest earned ratio/Rasio mampu bayar
bunga=EBIT/Bunga
Tahun EBIT Bunga TIE
4.Rasio Profitabilitas
a. Gross profit margin= Gross profit/sales
Tahun Gross Profit Sales
Gross profit Margin 2011 1,973,281 8,749,617 0.23 2012 1,324,055 7,822,560 0.17
Interpretasi 1.berarti tingkat profit marjinnya 17% dari laba kotor. b. Operating profit Margin = Operating profit/sales
Tahun
Operating
Profit Sales
Operatin g Profit Margin 2011 1,268,085 8,749,617 0.14 2012 646,639 7,822,560 0.08
Interpretasi 1. berarti sisa hasil penjualan sebuah perusahaan sebesar 8% c.Net Profit Margin= Net profit After tax/Sales
Tahun
Net Profit
After tax Sales
Net Profit Margin 2011 897,126 8,749,617 0.10 2012 435,698 7,822,560 0.06
d. ROA= Net profit after tax/ total Asset Tahun
Net profit
After tax Total Asset ROA 2011 897,126 6,569,807 0.14 2012 435,698 6,101,007 0.07
Interpretasi 1. jadi kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih sebesar 7% rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen
e. ROE= Net Profit After tax/ SHE
Interpretasi 1. jadi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan modal sebesar 7%
Dalam perhitungan rasio diatas Sudah jelas, berapa tingkat likuiditas, solvabilitas,rentabilitas dan lain sebagainya. Kini akan menghitung tingkat rasio diatas dengan tidak menggunakan beban pajak dan restitusi pajak atau Pajak yang dibayar dimuka.
1. Rasio likuiditas a. Net working Capital
Net Working Capital= Current Asset-Current liabilities
b. Current ratio / rasio Lancar
Current Ratio= Current Asset/Current liabilities
Tahun
Current Asset
Current
Liabilities Current Ratio
2012
2,868,
513 935,338
Interpretasi : 1.Setiap Rp.1 hutang dijamin oleh Rp.3,06 aktiva lancar 2.CR untuk perusahaan normal berkisar pada angka 3 3.CR rendah menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi
4.CR Tinggi menunjukkan ada kelebihan aktiva lancar yang mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas
Tahun Current Asset
Current
Liabilities Inventory
Quick Acid ratio 2012 2,868,513 935,338 1,617,389 1.3
Interpretasi 1.Setiap Rp.1 hutang dijamin oleh Rp.1.3 aktiva lancar diluar persediaan 2.CAR untuk perusahaan normal berkisar pada angka 1
e.Total Asset Turnover(perputaran aktiva tetap)= Sales/ Total Asset
Tahun Sales/pendapatan Total Asset
Total asset Turn Over 2011 8,749,617 4,993,023 1.56 Interpretasi 1. perputaran aktivanya 1.56 kali
3.Rasio Solvabilitas
a. Leverage/ Debt Ratio= Total Liabilities/total Asset
Tahun Total Liabilities Total Asset Leverage 2012 1,541,738 4,993,023 0.30
interpretasi 1. Setiap Rp.30 hutang dijamin oleh Rp.1 aset perusahaan
4.Rasio Profitabilitas
d. ROA= Net profit after tax/ total Asset Tahun
Net profit
After tax Total Asset ROA 2012 650,749 4,993,023 0.13
Interpretasi 1. jadi kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih sebesar 13% rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen
e. ROE= Net Profit After tax/ SHE Tahun
Net profit After tax
S.Holder
Equity ROE 2012 650,749 4,993,023 0.13
2. Atau 13% Dibiayai oleh Hutang
Perbedaan rasio antara laporan keuangan denga menggunakan Beban pajak, pajak tangguhan,pajak dibayar dimuka dan Restitusi pajak. Berbeda jauh dengan yang tidak melaporkan pajak. Hal tersebut dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam operasi perusahaan.
2.2 Paradigma Penelitian
Dalam uraian diatas dapat diketahui bahwa pelaporan hal tentang pajak perlu dilaporkan. Terkadang beberapa perusahaan tidak melaporkan pajaknya dalam laporan keuangan agar,menarik investor. Namun,kenyataannya hal tersebut malah menyesatkan investor. Yang terjadi adalah ketidakpercayaan Investor kepada perusahaan tersebut, karena perhitungannya tidak sesuai dengan kenyataan dengan jarak perkiraan yang lumayan besar.
Berikut Ratio dari laporan keuangan yang tidak melaporkan pajaknya: Rasio Likuiditas
- Net working Capital 1,933,175 - Current Ratio 3,06
- Quick Acid Ratio 1,3 Rasio Aktivitas
- Total Asset Turn Over 1,56 Rasio Solvabilitas
- Leverage 0,30 Rasio Profitabilitas - ROA 0,13 - ROE 0,13
Rasio Likuiditas
- Net working Capital 2,969,858 - Current Ratio 4,09
- Quick Acid Ratio 1,84 Rasio Aktivitas
- Total Asset Turn Over 1,28 Rasio Solvabilitas
- Leverage 0,25 Rasio Profitabilitas - ROA 0,07 - ROE 0,07
2.3 Hipotesis Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Pengaruh perbedaan laporan keuangan atau laporan keuangan yang menyesatkan sangatlah besar. Kreditur sebagai peminjam modal,karena tingkat pengembalian modal yang salah, dalam hasil analisis, selain itu ,Investor dalam memberikan modalnya pada perusahaan, karena informasi yang menyesatkan dalam laporan keuangan.
3.2 Definisi Operasionalisasi Variabel
Laporan Keuangan adalah suatu bentuk pertanggungjawaban perusahaan selama satu periode,mengenai aktivitas perusahaan. Yakni berupa:
- Aktivitas Bisnis - Aktivitas Perencanaan
- Aktivitas Pendanaan (Financing Activities) - Aktivitas Investasi
Sedangkan Analisis Laporan Keuangan adalah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam anallisis bisnis. Analisis laporan keuangan mengurangi ketergantungan pada firasat,tebakan dan intuisi,dalam pengambilan keputusan,serta mengurangi ketidakpastian analisis bisnis. Analisis ini tidak mengurangi perlunya penilaian ahli,namun menyediakan dasar yang sistematis dan efektif dalam analisis bisnis.
Definisi pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1 berbunyi pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dalam perusahaan terdapat laporan keuangan yang tidak mencantumkan unsur pajak, sehingga laporan keuangan terkesan baik didalam pengamatan Investor,namun hal tersebut salah, karena malah menyesatkan penggunannya. Sebagai contoh dari kesalahan tersebut adalah hasil analisis rasio yang berbeda.
Rasio Likuiditas
- Current Ratio 3,06 - Quick Acid Ratio 1,3
Rasio Aktivitas
- Total Asset Turn Over 1,56 Rasio Solvabilitas
- Leverage 0,30 Rasio Profitabilitas - ROA 0,13 - ROE 0,13
Rasio Likuiditas
- Net working Capital 2,969,858 - Current Ratio 4,09
- Quick Acid Ratio 1,84 Rasio Aktivitas
- Total Asset Turn Over 1,28 Rasio Solvabilitas
Kualitas laporan keuangan adalah penting bagi para pengguna laporan keuangan karena untuk pengambian keputusan investasi dan tujuan kontrak(schipper dan Vincent,2003). Pada kenyataannya ada perusahaan yang meminimalisir pajak dalam berbagai cara bahkan sampai ada penggelapan pajak dan pengihndaran pajak,yang mana keduanya adalah bagian dari perencanaan pajak. Perencanaan pajak (Tax Planning) adalah tahap awal dari manajemen pajak yang merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari manajemen strategic dalam suatu perusahaan.
1. Variabel Terikat (dependent Variable)
Variabel terikat pada penelitian ini adalah perbedan Rasio solvabilitas / Laverage sebagai indikatornya
Dimana , Total Liabilities / Total Asset. 2. Variabel bebas (Independent Variable)
a. Pajak Tangguhan
Besarnya pajak tangguhan (deffered tax) dapat dilihat pada laporan keuangan (Neraca) perusahaan pada tahun berjalan.
b. Utang pajak
Tabel 1
Rangkuman hasil analisis Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien
Regresi
Statistik T Signifikasi Keterangan
Konstanta 0,30 2,457 0,017 Signifikan
Tangguhan Signifikan Koefisien bernilai negative -10,318.1 hal ini berpengaruh negative antara pajak tangguhan dengan tingkat leverage.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data primer dilakukan menggunakan pernyataan tertulis. Pada tanggal 12 April 2013 Menteri Keuagan Agus Martowardojo melaporkan sekitar 4000 perusahaan praktik profit shifting atau peralihan laba dengan membayar pajak lebih rendah dari yang seharusnya. Perusahaan multinasional yang berbasis di Indonesia tidak membayar pajak selama 7 tahun.
Profit shifting adalah upaya wajib pajak yang berusaha mencari manfaat dari negara yang menawarkan pajak rendah sehingga mampu membantu perusahaan menggeser keuntungan. Tujuannya untuk mengambil manfaat dari sistem berbagai negara yang tidak masuk dalam tax heaven country.
Hal ini merupakan upaya perekayasaan yang tidak patut dan tidak sesnonoh, karena telah melanggar dan dengan sengaja melakukan upaya pengkebirian atas hak rakyat Negara dan Pemerintah.
3.5 Metode Analisis data 1. Pertamina (Persero)
2. Karaha Bodas Company LLC 3. Industri Pulp Lestari
4. Badan Penyehatan Perbankan Nasional 5. Kalimanis Plywood Industries
6. Siemens Indonesia
7. Angkasa Pura II (Persero) 8. Bentala Kartika Abadi 9. Daya Guna Samudera Tbk 10. Direct Vision 16. Kereta Api Indonesia (Persero) 17. Bank BNI
19. Ing International
20. Surya Dumai Industri Tbk 21. DSM Kaltim Melamine
22. Cosa International Group Limited 23. Bank Bukopin
24. Pasifik Satelit
25. PT Bukit Makmur Mandiri Utama 26. Bank Global International tbk 27. DP3KK
28. Gandhi Memorial International School 29. Sarana Niaga Perdana
30. Perdana Karya Perkasa Tbk 31. Sampoerna AGro Tbk
32. Seaunion Energy (Limau) LTD 33. Agoda Rimba Irian
34. Total E & P Indonesia 35. Avera Pratama
36. Seatdy Safe Tbk
37. Toyota Tsusho Indonesia 38. Kaltim Prima Coal
39. Jakarta Llyod Kantor Pusat
40. Universal Foodwear Utama Indonesia 41. Sumalindo Lestari Jaya Tbk
42. General Food Industries
59. Perkebunan Hasil Musi Lestari 60. Petro Oxo Nusantara
62. Jamsostek (pusat) 63. Wira Insani 64. Ragam Logam
65. PT Catur Gatra Eka Perkasa 66. Persero Perkebunan
75. Dongfang Electric Corporation Indonesia Project 76. Cakrawala Mega Indah 82. Il Jin Sun Garment 83. LKBN Antara
84. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 85. Astina Putera
86. Pindo Deli Pulp And Papermills 87. Sragen Abadi Textile Industri 88. Kaltim Parna Industri
95. Sinar Kencana Inti Perkasa 96. Mandiri Eka Mandiri 97. Deutsche Bank AG 98. Wirakarya Sakti
99. Gunung Bayan Pratamacoal 100. Garuda Indonesia.
DPR tidak bisa langsung disebut penunggak pajak. Komisi Keuangan menyebut mereka sebagai daftar potensi penunggak pajak.
Direktorat Jenderal Pajak mencatat jumlah piutang pajak mencapai Rp 50 triliun. Dari jumlah itu,urutan 100 besar penunggak pajak nilainya mencapai Rp 17,5 triliun.
Dalam catatan Ditjen Pajak yang disampaikan Dirjen Pajak Mochammad Tjiptardjo, dari total 100 penunggak terbesar itu, 16 di antaranya adalah perusahaan BUMN. Nilainya yang harus di tagih adalah Rp 7,60 triliun selanjutnya selama 2009, juga ada pencairan jumlah piutang mencapai Rp 2,87 triliun. Sehingga saldo per 31 Desember 2009, yang tercatat dan masih harus ditagihkan ke BUMN tahun ini adalah sebesar Rp 7,60 triliun.
3.6 Rancangan Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang akan diuji adalah ada tidaknya pengaruh variable-variabel yakni. Beban pajak,pajak tangguhan, restitusi pajak yang dilaporkan maupun tidak dengan hasil analisis laporan keuangan. Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
H : Pelaporan atau penurunan nilai pajak dalam laporan keuangan berpengaruh terhadap hasil analisis laporan keuangan.
Ha: Pelaporan Beban pajak berpengaruh pada Solvabilitas,rentabilitas,profitabilitas dan likuiditas perusahaan
Daftar Pustaka
M. Mamduh dan Abdul Halim.”Analisis Laporan Keuangan”. Penerbit : UPP STIM YKPN. 2009.
Subramanyam K.R dan John J.wild. “Financial Statement Analysis”. Jakarta :Penerbit Salemba Empat.2002.