UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM PASCASARJANA ADMINISTRASI KEBIJAKAN PUBLIK TAKE HOME TEST MATA KULIAH HUBUNGAN NEGARA DAN MASYARAKAT
Mahasiswa : Arum Novita Sari NPM : 1306500214
LATAR BELAKANG
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia merupakan demokrasi berdasarkan Pancasila. Namun hingga kini demokrasi di Indonesia masih dalam taraf perkembangan yang dalam prosesnya masih dipenuhi dengan berbagai tafsiran dan pandangan mengenai sifat-sifat dan ciri-cirinya. Pada intinya demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur kesadaran religius, berbudi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan. Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat. Keuniversalan cita-cita demokrasi dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa Indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi mayoritas atau minoritas.
Namun berdasarkan dengan berbagai pemikiran dan perhitungan yang telah diperhitungkan Dewan Perwakilan Rakyat, maka DPR memutuskan adanya perubahan Undang-Undang mengenai pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung menjadi tidak langsung yang tertuang dalam UU No. 22 tahun 2014 yang berisi tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota dipilih oleh DPRD. Hal tersebut terjadi berdasarkan pemikiran bahwa dengan adanya pemilihan tidak langsung maka pemerintah akan lebih menghemat uang yang akan dikeluarkan, Seperti yang telah dikatakan Ketua DPP Partai Demokrat, Khatibul Umam Wiranu yang menyatakan bahwa jika pilkada kembali ke DPRD, maka Negara akan menghemat anggaran sebanyak Rp. 41 triliun dari perhitungan sesuai jumlah kabupaten/kota di seluruh Indonesia sebanyak 524 daerah dan 33 provinsi. Belum lagi dengan adanya pemilihan tidak langsung, maka kemungkinan terjadinya money politic dari para calon Gubernur, Bupati dan Wali Kota akan hilang sehingga tidak menimbulkan budaya buruk terhadap masyarakat Indonesia. Hal tersebutlah yang memicu DPR memutuskan adanya UU No. 22 tahun 2014 seperti yang sudah dijelaskan.
Di satu sisi, berbeda dengan pemikiran DPR sendiri, adanya UU No. 22 tahun 2014 justru menimbulkan pergolakan yang berisi pro dan kontra antara masyarakat dan pemerintahan. Reaksi dan resistensi publik relatif masif terhadap keputusan pilkada tidak langsung. Tidak sedikit masyarakat yang tidak setuju akan keputusan tersebut, menurutnya Indonesia sebagai Negara democratic decentralized state harus mengikutsertakan masyarakatnya kedalam pemilihan kepala daerah. Masyarakat daerah merasa memiliki hak untuk mengatur daerahnya sendiri sehingga pemilihan kepala daerah pun ada ditangan mereka.
Dengan adanya berbagai penolakan dari rakyat, maka Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menanggapi hal tersebut dengan berkomentar “Saya kecewa dengan proses dan hasil keputusan DPR itu…” (SBY, AS 26 Sept, 2014); “Sebagai Presiden saya berat untuk tandatangani UU ini, karena merebut hak rakyat dan berpotensi konflik dengan produk hukum lain, seperti UU Pemda” (Twitt, S.B. Yudhoyono, 26 Sept, 2014); “SBY bersumpah terus perjuangkan Pilkada langsung dengan perbaikan” (news.detik.com, 27 Sept, 2014).
tanggal 2 Oktober 2014. Perppu No 1 Tahun 2014 berisi tentang pemilihan Gubernur. Bupati dan Wali Kota, dimana presiden mencabut UU No. 22 tahun 2014 yang dikeluarkan DPR mengenai kepala daerah yang dipilih oleh DPRD. Dalam pidato yang disiarkan langsung di salah satu televisi swasta itu, Presiden menyatakan “Saya menghormati keputusan DPR soal UU Pilkada. namun izinkan saya berikhtiar untuk tegaknya demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Presiden pun menyatakan pilkada langsung adalah buah dari perjuangan reformasi, sembari menambahkan, "Saya jadi Presiden melalui pemilu langsung oleh rakyat pada 2004 dan 2009".
Pro dan kontra mengenai perdebatan pilkada tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat melainkan dikalangan pemerintah. Tidak semua anggota DPRD setuju terhadap keputusan pemilu tidak langsung, salah satunya ketua DPRD Kabupaten Batang, Imam Teguh Raharjo yang mengatakan bahwa dirinya kecewa dengan hasil sidang paripurna yang dilakukan oleh DPR RI, menurutnya “pilkada langsung yang dipilih oleh masyarakat, kami nilai lebih demokratis dibanding hanya dipilih oleh anggota DPRD”.
KERANGKA TEORITIK
Teori Negara Kesatuan
Negara kesatuan adalah Negara berdaulat yang diselenggarakan sebagai satu kesatuan tunggal, dimana pemerintah pusat adalah yang tertinggi dan satuan subnasionalnya hanya menjalankan kekuasaan yang dipilih oleh pemerintah pusat untuk didelegasikan. Negara kesatuan sangat bertentangan dengan Negara federal dimana di Negara kesatuan, satuan subnasional diciptakan dan dihapus oleh pemerintah pusat dan kekuasaan subnasional dapat diperluas dan dihapus oleh pemerintah pusat. Pemerintah pusat memiliki wewenang yang paling berkuasa, dapat membatalkan peraturan-peraturan daerah atau membatasi kekuasaan mereka.
Menurut C.F. Strong negara kesatuan ialah bentuk negara di mana wewenang legislatif tertinggi dipusatkan dalam satu badan legislatif nasional/pusat. Kekuasaan terletak pada pemerintah pusat dan tidak pada pemerintah daerah. Pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk menyerahkan sebagian namun sepenuhnya tetap terletak pada pemerintah pusat.
Bentuk Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik atau lebih dikenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan ini secara tegas tertuang di UUD 45 pasal 1. Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan bentuk negara yaitu: bentuk negara Federal, Kesatuan atau sistem pemerintahan yang parlementer, Semi-Presidensil, dan Presidensil.
Menurut pidato Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 17 Agustus 2007 dikatakan bahwa bentuk negara Indonesia yang paling tepat adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Empat pilar utama yang menjadi nilai dan konsensus dasar yang selama ini menopang tegaknya Republik Indonesia adalah: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Teori Demokratis
menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnnya kebebasan politik.
Dari sekian banyak teori dan definisi mengenai demokrasi, kita lebih sering mendengar teori Abraham Lincoln yang mengatakan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang dikemukakan beliau pada tahun 1863. Yang dimaksud pemerintah dari rakyat disini berarti pemerintahan Negara mendapat mandat dari rakyat untuk menyelenggarakan pemerintahan, kemudian pemerintahan oleh rakyat maksudnya pemerintahan Negara dijalankan oleh rakyatnya sendiri dan yang terakhir pemerintahan untuk rakyat adalah pemerintahan menghasilkan dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu peran rakyat disini sangat penting dalam konsep demokrasi itu sendiri.
Berangkat dari asumsi bahwa rakyat Indonesia menganut nilai-nilai dasar bersama yang terkandung didalam Pancasila sebagai ideologi Negara dan sumber dari segala sumber bagi segenap tatanan kehidupan yang berwadahkan NKRI, maka penentuan model demokrasi yang paling sesuai diterapkan adalah demokrasi yang sesuai dengan nilai-nilai dasar bersama yang terkandung dalam Pancasila, yaitu Model Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip pemerintahan yang dijalankan berdasarkan konstitusi, adanya pemilu secara berkesinambungan dan penghargaan atas HAM serta perlindungan hak minoritas. Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional dengan mekanisme kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan negara dan penyelengaraan pemerintahan berdasarkan konstitusi yaitu Undang-undang Dasar 1945.
Dalam negara demokrasi, peran masyarakat amat penting. Masyarakat tidak dapat mengambil posisi sebagai peminta dan penikmat keadilan. Masyarakat adalah stakeholder dan harus menjadi aktor yang turut menghidupkan mekanisme checks and balances. Kita harus gigih memperjuangkan kepentingan yang adil, tetapi tidak dalam pendekatan pre-mordial sektarian. Ia harus diperjuangkan dalam konteks kebersamaan dan keluhuran martabat manusia.
Indonesia, memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dalam kerangka itu kegiatan yang dilakukan hari ini mempunyai makna yang penting.
Teori Desentralisasi
Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahannya menganut asas desentralisasi yang berarti penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri. Dengan adanya desentralisasi maka muncul pula otonomi bagi suatu pemerintahan daerah yang diatur pada UU No.32 Tahun 2004 atau yang biasa disebut dengan otonomi daerah. Otonomi daerah dalam negara kesatuan sebagaimana yang dimaksudkan di Indonesia adalah kewenangan suatu daerah untuk menyusun, mengatur, dan mengurus daerahnya sendiri tanpa ada campur tangan serta bantuan dari pemerintah pusat sebagaimana yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Dengan adanya desentralisasi, diharapkan akan ada dampak positif pada pembangunan daerah-daerah yang tertinggal dalam suatu Negara, agar daerah tersebut dapat mandiri dan secara otomatis dapat memajukan pembangunan nasional.
ANALISIS
Berdasarkan dengan segala teori dan perdebatan yang terjadi antara pro dan kontra terhadap pemilihan kepala daerah secara langsung dan tidak langsung, penulis dapat menyimpulkan bahwa pokok persoalan Pilkada tidak terdapat pada konteks langsung atau tidak langsungnya, melainkan terhadap kesediaan membayar prasyarat demokrasi. Indonesia sendiri harus menyadari bahwa demokrasi yang bagus itu apabila masyarakatnya sudah punya pemahaman yg baik, sudah melek secara politik. Selama Indonesia belum memiliki rakyat yang cerdas dan benar-benar perduli terhadap kemajuan bangsa maka Pilkada atau Pemilu nasional belum mampu dikelola secara cerdas.
Tradisi transaksi politik berkaitan erat dengan iklim politik yang kapitalistik. Pemegang hak pilih dengan sadar menjual hak pilihnya sendiri, sebaliknya pengguna hak dipilih karena berani dan mampu membeli suara, dalam berbagai cara. Untuk mengatasinya, harus ada transparasi modal dari para calon kepala agar fenomena seperti ini tidak terjadi lagi dan lebih dieksplor lagi secara mendalam. Jika tidak, percuma saja kita berdebat mengenai mana yang lebih baik antara pilkada langsung atay tidak langsung karena sesungguhnya pilkada langsung dan tidak langsung hanyalah persoalan perpindahan lokasi transaksi. Seringnya terjadi pertentangan terhadap hasil dan pelaksanaan Pilkada ini menunjukkan terjadinya pendangkalan, atau banalitas pilkada. Pilkada seringkali berakhir dengan sengketa dan pada akhirnya dibawa ke ranah hukum (persidangan di Mahkamah Konstitusi).
Selama ini demokratisasi hanya ditempatkan sebagai kebijakan pemerintah, bukan sebagai bentuk gerakan rakyat. Demokratisasi dijabarkan secara yuridis administrative yang hanya merupakan serangkaian prosedur dan peraturan, bukan sebagai ekspresi politik, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya nilai-nilai demokrasi. Alur proses demokratisasi yang terjadi sekarang ini masih top down, dimana rakyat tidak pernah punya ruang untuk mendesain cara berpemilu. Rakyat tidak lain hanya sebagai obyek sasaran pemerintah. Berikut merupakan berbagai pilihan solusi yang bisa diambil terkait pemilihan kepala daerah yang kiranya bisa menutupi segala kekurangan yang ada;
1. Tuntaskan demokratisasi sesuai text book (melalui jalur liberal).
Gunakan praktek dan sejarah negeri liberal sebagai acuan. Sesungguhnya tidak ada negara yang serumit Indonesia dalam konteks keberagaman, budaya dan geografisnya, sehingga perlu dilakukan pendalaman mengenai demokratisasi lokal.
Demokrasi menjadi gerakan (bottom up). Sehingga rakyat bukan lagi hanya sekedar objek pemerintah melainkan turut ikut serta didalamnya.
Reorientasi cara kerja pemerintah baik penyelenggara Pilkada maupun rakyat didalamnya sehingga terbangun rasa saling memiliki.
2. Kontekstualisasi demokrasi dengan keadaan Indonesia:
Prinsip asimetrisme. Harus ada pemetaan konteks lokal secara tuntas. Batas yang esensial dan yang aksesoris itu yg menjadi fokus kita.
Pemilihan Kepala Daerah dengan berbagai skema.
Asimetri demokratisasi local; karakterisasi daerah dan identifikasi kerawanan yang mengemuka.
3. Tinggalkan rekayasa elektoral yang ada. Pilkada tidak langsung.
Demokrasi tetap sama di seluruh Indonesia, kepala Daerah dibawah kendali langsung pemerintah pusat, dan ruang untuk mengangkat lokalitas tidak ada.
Konsentrasi pada politik transaksional di DPRD KDH akan menjadi bulan2an politisi partai di DPRD Birokrat lebih nyaman bekerja
KESIMPULAN
Demokrasi dan desentralisasi adalah dua konsep yang saat ini tengah populer dalam wacana publik, khususnya di Indonesia. Pasca reformasi, harapan publik tertumpu pada demokrasi sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kronis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokratisasi yang berlangsung di hampir seluruh belahan dunia membawa perubahan dalam berbagai aspek ketatanegaraan, baik sistem maupun aktor, termasuk dalam pola hubungan pusat dan daerah. Demokratisasi membawa perubahan dalam sistem pemerintahan daerah yang semula sentralistis menjadi desentralistis. Implikasinya, terjadi pergeseran lokus kekuasaan, dari pusat ke daerah.
Demokratisasi dan desentralisasi membawa perubahan signifikan dalam relasi kekuasaan menjadi lebih berimbang antara pusat dan daerah, maupun antara suprastruktur politik dengan infrastruktur politik. Peluang partisipasi masyarakat menjadi lebih besar, termasuk dalam mengontrol kebijakan-kebijakan yang diambil dan dilaksanakan pemerintah. Peluang ini menjadi lebih besar setelah diterapkannya sistem pemilihan kepala daerah secara langsung (pilkada), sehingga masyarakat memiliki akses lebih besar untuk menentukan para pemimpinnya.Pada praktiknya, sistem pemilihan kepala daerah langsung ini memang tidak secara otomatis membawa perubahan yang lebih baik dalam tata kelola pemerintahan daerah. Peluang money politics, manipulasi, politisasi adat dan ikatan primordial, serta mobilisasi massa tetap berlangsung. Para elit tetap berperan dominan dalam pilkada, minimal dalam menentukan pasangan calon yang akan berlaga dalam pilkada. Masyarakat hanya berperan dalam memberikan suara bagi para calon yang telah ditentukan para elit.
REFERENSI
http://www. Indonesia.go.id http://www.academia.edu
http://aceh.tribunnews.com - Pilkada berporos pada rakyat atau dewan? http://news.okezone.com - Pilkada tidak langsung
http://www.republika.co.id - Pro kontra pilkada tidak langsung di DPRD http://nasional.kompas.com - Perppu pilkada oleh presiden
http://nasional.inilah.com - Pro kontra dan dilemma pilkada langsung