• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanggulangan Kemiskinan melalui Sistem. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penanggulangan Kemiskinan melalui Sistem. docx"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang.

Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat populasi tertinggi keempat dari negara yang ada di dunia dan peringkat ketiga dari negara ASEAN. Dengan kapasitas penduduk yang besar, negara berkembang seperti Indonesia memiliki permasalahan layaknya pada negara – negara berkembang lainnya yaitu pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. Dengan semakin majunya peradaban, mulai terjadi perbedaan atau pergeseran pandangan mengenai laju pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah banyak. Menurut para pemikir klasik mengatakan bahwa dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin banyak maka sebenarnya akan berdampak negatif kepada pertumbuhan perekonomian suatu bangsa karena nantinya pasti pendapatan setiap induvidu akan berkurang karena akan dibagi dengan penduduk lainnya sehingga akan rawan muncul konflik sosial yang didasari oleh kepentingan ekonomi individu masing – masing. Anggapan pemikir klasik ini lama kelamaan memudar oleh anggapan para kaum modern dimana mereka berpendapat bahwa peningkatan penduduk tidaklah berdampak negatif terhadap suatu bangsa, tapi para pemikir modern berfikir anomali dengan para pemikir klasik. Para pemikir modern berpendapat bahwa semakin banyaknya pertumbuhan penduduk sebuah bangsa maka tingkat perekonomian suatu negara tersebut akan semakin berkembang karena dengan bertambahnya tingkat tetumbuhan penduduk secara tidak langsung tingkat produktivitas suatu negara akan semakin meningkat karena tingkat konsumsi di negara tersebut juga meningkat. Berikut akan disajikan tabel pertumbuhan penduduk di negara penjuru dunia:

No .

Negara Jumlah Penduduk Wilaya

h

1. RRC 1.343.239.923 Asia

2. India 1.205.073.612 Asia

3. Amerika Serikat 313.847.465 Amerika

4. Indonesia 237.641.326 Asia

5. Brasil 205.716.890 Amerika

6. Pakistan 190.291.129 Asia

7. Nigeria 170.123.740 Afrika

8. Bangladesh 161.083.804 Asia

9. Rusia 138.082.178 Eropa

10. Jepang 127.756.412 Asia

Sumber : http://statistik.ptkpt.net/

(2)

seperti Indonesia tidak diikuti oleh peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Banyak sekali ketimpanga sehingga pertumbuhan penduduk bukan meningkatkan pertumbuhan perekonomian tetapi semakin memperlebar jarak/ Gap antara si miskin dan si kaya. Perbedaan yang mencolok antara golongan miskin dan golong kaya adalah terletak pada tingkat kesejahteraan masing – masing individu. Kebanyakan dari golongan miskin mengengah ke bawah, mereka mengalami miskin terbesar diakibatkan karena kurang modal usaha yang mereka miliki untuk memulai sebuah usaha baru.

Dengan kurang terjangkaunya akses modal kepada lapisan golongan miskin dimana ini nantinya berdampak kepada semakin rendahnya tingkat produktivitas seseorang karena keterbatasan dana produktif atau pinjaman produktif yang dimilikinya, maka secara lambat laun pasti akan berdampak pada kemajuan perekonomian negara. Permasalahan kesulitan akses biaya lembaga keuangan ini bukan sepenuhnya permasalahan atau kesalahan dari lembaga keuangan yang ada di Indonesia. ketakutan lembaga keuangan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat miskin cukup wajar hal ini dikarenakan masyarakat miskin dianggap tidak bankable. Bagi masyarakat miskin, persyaratan umum yang diajukan oleh perbankan kepada calon penerima kredit yang biasa kita sebut dengan 5c + 3R sulit untuk dipenuhi, dimana 5C adalah singkatan dari Character (moral), Collateral (agunan tambahan), Capital (modal sendiri semangat kerja/berusaha), Capacity (kemampuan membayar), Condition (produktivitas). Sedangkan 3R singkatan dari Return (hasil yang akan diperoleh), repayment (kemampuan membayar) dan Risk (resiko).

Dengan adanya permasalahan akses kredit yang dimiliki oleh masyarakat miskin tersebut maka butuh sebuah solusi keuangan yang biasa sering disebut dengan final inclusion, final inclusion di sini diharapkan agar masyarakat di negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana proporsi tingkat pertumbuhan penduduk masyarakat miskin jauh lebih besar dari pada penduduk menengah atas yang memiliki tingkat perekonomian yang mapan. Dimana masyarakat miskin ini mayoritas tidak bankable lebih kepada proses pembiayaan yang dilakukan oleh lembaga keuangan, sehingga pertambahan penduduk dianggap memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan perekonomian.

(3)

juga turut menyumbang mengapa kemiskinan di Indonesia masih sulit dikendalikan. Jurnal ini berusaha untuk menjelaskan permasalahan penyebab kemiskinan yang terjadi di Indonesia dilihat dari sudut pandang sektor keuangan, penulis merasa bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia lebih diakibatkan oleh kurangnya akses masyarakat miskin menengah ke bawah dalam akses kredit produktif sehingga berakibat pada pertambahan penduduk tidak lagi memberikan dampak positif tapi malah memberikan dampak negatif apabila masyarakat miskin menengah ke bawah tidak dapat mengakses kredit perbankan sehingga tingkat produktivitas masing – masing individu menurun dan pada akhirnya tingkat kesejahteraan suatu bangsa akan sulit tercapai.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana cara mengatasi kemiskinan pada negara berkembang dalam hal ini Indonesia, dimana apabila dilihat dari sektor keuangan yang dikerucutkan kepada pemberian akses pembiayaan kredit produktif kepada masyarakat miskin menengah ke bawah yang dianggap tidak bankable oleh lembaga perbankan yang terdapat di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan financial inclusion yang dihadapi oleh masyarakat miskin menengah ke bawah yang memiliki permasalahan akses kredit sehingga berdampak semakin tidak sejahtera dan semakin tidak produktifnya masyarakat golongan menengah ke bawah.

D. Landasan Teori D.1 Kemiskinan

(4)

Kemiskinan dibagi dalam empat bentuk, yaitu:

a. Kemiskinan absolut, kondisi dimana seseorang memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang dibutuhkan untuk bisa hidup dan bekerja.

b. Kemiskinan relatif, kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat, sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan.

c. Kemiskinan kultural, mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif meskipun ada bantuan dari pihak luar.

d. Kemiskinan struktural, situasi miskin yang disebabkan oleh rendahnya akses terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial budaya dan sosial politik yang tidak mendukung pembebasan kemiskinan, tetapi seringkali menyebabkan suburnya kemiskinan.

Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

a. Kemiskinan alamiah, berkaitan dengan kelangkaan sumber daya alam dan prasarana umum, serta keadaan tanah yang tandus.

b. Kemiskinan buatan, lebih banyak diakibatkan oleh sistem modernisasi atau pembangunan yang membuat masyarakat tidak mendapat menguasai sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi yang ada secara merata.

Menurut Nasikun dalam Chriswardani Suryawati (2005), beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu:

a. Policy induces processes, yaitu proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan, diantaranya adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi relitanya justru melestarikan.

b. Socio-economic dualism, negara bekas koloni mengalami kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani sekala besar dan berorientasi ekspor.

(5)

d. Resaurces management and the environment, adalah unsur mistmanagement sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan produktivitas.

e. Natural cycle and processes, kemiskinan terjadi karena siklus alam. Misalnya tinggal dilahan kritis, dimana lahan itu jika turun hujan akan terjadi banjir, akan tetapi jika musim kemarau kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.

f. The marginalization of woman, peminggiran kaum perempuan karena masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang lebih rendah dari laki-laki.

g. Cultural and ethnic factors, bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya pada pola konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan.

h. Exploatif inetrmediation, keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti rentenir.

i. Inetrnal political fragmentation and civil stratfe, suatu kebijakan yang diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dapat menjadi penyebab kemiskinan.

j. Interbational processe, bekerjanya sistem internasional (kolonialisme dan kapitalisme) membuat banyak negara menjadi miskin.

D.2 Ukuran Kemiskinan

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah rupiah konsumsi berupa makanan yaitu 2100 kalori per orang per hari (dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk yang berada dilapisan bawah), dan konsumsi nonmakanan (dari 45 jenis komoditi makanan sesuai kesepakatan nasional dan tidak dibedakan antara wilayah pedesaan dan perkotaan). Patokan kecukupan 2100 kalori ini berlaku untuk semua umur, jenis kelamin, dan perkiraan tingkat kegiatan fisik, berat badan, serta perkiraan status fisiologis penduduk, ukuran ini sering disebut dengan garis kemiskinan. Penduduk yang memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan dikatakan dalam kondisi miskin.

Menurut Sayogyo, tingkat kemiskinan didasarkan jumlah rupiah pengeluaran rumah tangga yang disetarakan dengan jumlah kilogram konsumsi beras per orang per tahun dan dibagi wilayah pedesaan dan perkotaan (Criswardani Suryawati, 2005).

(6)

i. Miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 320 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

ii. Miskin sekali, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 240 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

iii. Paling miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 180 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

b. Daerah perkotaan:

i. Miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 480 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

ii. Miskin sekali: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 380 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

iii. Paling miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 270 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

Bank Dunia mengukur garis kemiskinan berdasarkan pada pendapatan seseorang. Seseorang yang memiliki pendapatan kurang dari US$ 1 per hari masuk dalam kategori miskin (Criswardani Suryawati, 2005). Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengukur kemiskinan berdasarkan dua kriteria (Criswardani Suryawati, 2005), yaitu:

a. Kriteria Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS) yaitu keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan perintah agama dengan baik, minimum makan dua kali sehari, membeli lebih dari satu stel pakaian per orang per tahun, lantai rumah bersemen lebih dari 80%, dan berobat ke Puskesmas bila sakit.

b. Kriteria Keluarga Sejahtera 1 (KS 1) yaitu keluarga yang tidak berkemampuan untuk melaksanakan perintah agama dengan baik, minimal satu kali per minggu makan daging/telor/ikan, membeli pakaian satu stel per tahun, rata-rata luas lantai rumah 8 meter per segi per anggota keluarga, tidak ada anggota keluarga umur 10 sampai 60 tahun yang buta huruf, semua anak berumur antara 5 sampai 15 tahun bersekolah, satu dari anggota keluarga mempunyai penghasilan rutin atau tetap, dan tidak ada yang sakit selama tiga bulan.

Ukuran kemiskinan menurut Foster-Greer-Thorbecke (dalam Todaro, 2004):

Px=1

n

i=1

q

[

z−y1 z

]

α

Dimana:

(7)

z = Garis kemiskinan

y1 = Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan penduduk yang berada di bawah

garis kemiskinan ( i =1, 2, 3, ..., q ), y1 < z

q = Banyaknya penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan. n = Jumlah penduduk.

Jika:

α = 0, maka diperoleh Head Count Index (0 P), yaitu persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan.

α = 1, maka diperoleh Poverty Gap Index (1 P), yaitu indeks kedalaman kemiskinan, merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indek, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

α = 2, maka diperoleh Poverty Severity (2 P), yaitu indeks keparahan kemiskinan, yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indek, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

E. Metodelogi Penelitian

Metode merupakan cara untuk mengungkapkan kebenaran yang objektif. Kebenaran tersebut merupakan tujuan, sementara metode itu adalah cara. Penggunaan metode dimaksudkan agar kebenaran yang diungkapkan benar-benar berdasarkan bukti ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, metode dapat diartikan pula sebagai prosedur atau rangkaian cara yang secara sistematis dalam menggali kebenaran ilmiah. Sedangkan penelitian dapat diartikan sebagai pekerjaan ilmiah yang harus dilakukan secara sistematis, teratur dan tertib, baik mengenai prosedurnya maupun dalam proses berfikir tentang materinya (Nawawi dan Martini dalam Prastowo, 2011).

(8)

Metode penelitian deskriptif adalah salah satu metode penelitan yang banyak digunakan pada penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu kejadian. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2011) “penelitian desktiptif adalah sebuah penelitian yang bertujuan untuk memberikan atau menjabarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual”. Sedangkan, Sukmadinata (2006) menyatakan bahwa metode penelitian deskriptif adalah sebuah metode yang berusaha mendeskripsikan, menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau tentang kecenderungan yang sedang berlangsung.

Dari kedua pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa metode penelitian deskriptif adalah sebuah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan, menginterpretasikan sesuatu fenomena, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual. Dengan demikian, penulis beranggapan bahwa metode penelitian deskriptif sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan oleh penulis.

F. Analisis dan pembahasan

F.1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia

(9)

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)

Kota Desa Linear (Desa)

Kota+Desa Linear (Kota+Desa) Linear (Kota+Desa)

Sumber : Badan Pusat Statistik

Indonesia telah diakui Bank Dunia sebagai negara yang berhasil menurunkan tingkat kemiskinan dimana tingkat kemiskinan di Indonesia telah berhasil diturunkan dari sekitar 40% pada tahun 1976 menjadi sekitar 11% pada tahun 1996 berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Perhitungan Bank Dunia juga menunjukkan hal yang sama dimana persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan 1 dolar PPP per kapita per hari turun dari 20,6% pada tahun 1990 menjadi 7,8% pada tahun 1996. Akan tetapi ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, tingkat kemiskinan kemabali meningkat. Berdasarkan data BPS, pada tahun 1998 tingkat kemiskinan tercatat sebesar 24,2% yang utamanya disebabkan oleh meroketnya harga-harga komoditas baik makanan maupun non-makanan.

(10)

berdasarkan garis kemiskinan 2 dolar PPP per kapita per hari tingkat kemiskinan di Indonesia tercatat sebesar 42.6%.

F.2. Strategi Percepatan Penurunan Tingkat Kemiskinan

Penanggulangan kemiskinan yang komprehensif memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha (sektor swata) dan masyarakat merupakan pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab sama terhadap penanggulangan kemiskinan. Pemerintah telah melaksanakan penanggulangan kemiskinan melalui berbagai program dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga negara secara layak, meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat miskin, penguatan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat serta melaksanakan percepatan pembangunan daerah tertinggal dalam upaya mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan.

Namun keseluruhan upaya tersebut belum maksimal jika tanpa dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya. Untuk menunjang penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan mewujudkan percepatan penanggulangan kemiskinan dirumuskan empat startegi utama. Strategi-strategi penanggulangan kemiskinan tersebut diantaranya:

1. Memperbaiki program perlindungan sosial.

Prinsip pertama adalah memperbaiki dan mengembangkan sistem perlindungan sosial bagi penduduk miskin dan rentan. Sistem perlindungan sosial dimaksudkan untuk membantu individu dan masyarakat menghadapi goncangan-goncangan (shocks) dalam hidup, seperti jatuh sakit, kematian anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, ditimpa bencana atau bencana alam, dan sebagainya. Sistem perlindungan sosial yang efektif akan mengantisipasi agar seseorang atau masyarakat yang mengalami goncangan tidak sampai jatuh miskin.

Penerapan strategi ini antara lain didasari satu fakta besarnya jumlah masyarakat yang rentan jatuh dalam kemiskinan di Indonesia. Di samping menghadapi masalah tingginya potensi kerawanan sosial, Indonesia juga dihadapkan pada fenomena terjadinya populasi penduduk tua (population ageing) pada struktur demografinya. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan beban ekonomi terhadap generasi muda untuk menanggung mereka atau tingginya rasio ketergantungan.

(11)

program bantuan sosial untuk melindungi mereka yang tidak miskin agar tidak menjadi miskin dan mereka yang sudah miskin agar tidak menjadi lebih miskin. 2. Meningkatkan akses terhadap pelayanan dasar.

Prinsip kedua dalam penanggulangan kemiskinan adalah memperbaiki akses kelompok masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Akses terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi, serta pangan dan gizi akan membantu mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh kelompok masyarakat miskin. Di sisi lain peningkatan akses terhadap pelayanan dasar mendorong peningkatan investasi modal manusia (human capital).

Salah satu bentuk peningkatan akses pelayanan dasar penduduk miskin terpenting adalah peningkatan akses pendidikan. Pendidikan harus diutamakan mengingat dalam jangka panjang ia merupakan cara yang efektif bagi penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan. Sebaliknya, kesenjangan pelayanan pendidikan antara penduduk miskin dan tidak miskin akan melestarikan kemiskinan melalui pewarisan kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak dari keluarga miskin yang tidak dapat mencapai tingkat pendidikan yang mencukupi sangat besar kemungkinannya untuk tetap miskin sepanjang hidupnya.

Selain pendidikan, perbaikan akses yang juga harus diperhatikan adalah akses terhadap pelayanan kesehatan. Status kesehatan yang lebih baik, akan dapat meningkatkan produktivitas dalam bekerja dan berusaha bagi penduduk miskin. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dan keluar dari kemiskinan. Selain itu, peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak menjadi poin utama untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Konsumsi air minum yang tidak layak dan buruknya sanitasi perumahan meningkatkan kerentanan individu dan kelompok masyarakat terhadap penyakit. 3. Pemberdayaan kelompok masyarakat miskin.

(12)

Pentingnya pelaksana strategi dengan prinsip ini menimbang kemiskinan juga disebabkan oleh ketidakadilan dan struktur ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum miskin. Hal ini menyebabkan output pertumbuhan tidak terdistribusi secara merata pada semua kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat miskin, yang secara politik, sosial, dan ekonomi tidak berdaya, tidak dapat menikmati hasil pembangunan tersebut secara proporsional. Proses pembangunan justru membuat mereka mengalami marjinalisasi, baik secara fisik maupun sosial.

Konsep pembangunan yang ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan umumnya melalui mekanisme atas-bawah (top-down). Kelemahan dari mekanisme ini adalah tanpa penyertaan partisipasi masyarakat. Semua inisiatif program penanggulangan kemiskinan berasal dari pemerintah (pusat), demikian pula dengan penanganannya. Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis implementasi program selalu dibuat seragam tanpa memperhatikan karakteristik kelompok masyarakat miskin di masing-masing daerah. Akibatnya, program yang diberikan sering tidak mempunyai korelasi dengan prioritas dan kebutuhan masyarakat miskin setempat. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, upaya secara menyeluruh disertai dengan pemberdayaan masyarakat miskin menjadi salah satu prinsip utama dalam strategi penanggulangan kemiskinan.

4. Menciptakan pembangunan yang inklusif.

Prinsip keempat adalah pembangunan yang inklusif yang diartikan sebagai pembangunan yang mengikutsertakan dan sekaligus memberi manfaat kepada seluruh masyarakat. Partisipasi menjadi kata kunci dari seluruh pelaksanaan pembangunan. Fakta di berbagai negara menunjukkan bahwa kemiskinan hanya dapat berkurang dalam suatu perekonomian yang tumbuh secara dinamis. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang stagnan hampir bisa dipastikan berujung pada peningkatan angka kemiskinan. Pertumbuhan harus mampu menciptakan lapangan kerja produktif dalam jumlah besar. Selanjutnya, diharapkan terdapat multiplier effect pada peningkatan pendapatan mayoritas penduduk, peningkatan taraf hidup, dan pengurangan angka kemiskinan.

(13)

perlindungan kepemilikan. Selanjutnya, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus didorong untuk terus menciptakan nilai tambah, termasuk melalui pasar ekspor. Pertumbuhan yang berkualitas juga mengharuskan adanya prioritas lebih pada sektor perdesaan dan pertanian. Daerah perdesaan dan sektor pertanian juga merupakan tempat di mana penduduk miskin terkonsentrasi. Dengan demikian, pengembangan perekonomian perdesaan dan sektor pertanian memiliki potensi besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan pengurangan kemiskinan secara signifikan.

Pembangunan yang inklusif juga penting dipahami dalam konteks kewilayahan. Setiap daerah di Indonesia dapat berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dengan sumber daya dan komoditi unggulan yang berbeda. Perekonomian daerah ini yang kemudian akan membentuk karakteristik perekonomian nasional. Pengembangan ekonomi lokal menjadi penting untuk memperkuat ekonomi domestik.

F.3 Instrumen Percepatan Penurunan Tingkat Kemiskinan.

Dalam rangka melaksanakan strategi percepatan penganggulangan kemiskinan, dilaksanakan program penanggulangan kemiskinan bersasaran (targeted program). Program – program penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan mensasarkan langsung kepada mereka yang tergolong miskin dan dekat miskin. Program penanggulangan kemiskinan kepada mereka yang membutuhkan diharapkan akan jauh lebih efektif dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

a. Program Penanggulangan Kemiskinan Bersasaran Rumah Tangga atau Keluarga (Klaster I)

Kelompok pertama adalah program – program penanggulangan kemiskinan yang sasarannya adalah rumah tangga/keluarga. Program tersebut antara lain : Program Keluarga Harapan, (PKH – conditional cash transfer), bantuan langsung tunai tanpa syarat (unconditional cash transfer), bantuan langsung dalam bentuk in-kind, misalnya pemberian beras bagi masyarakat miskin (raskin), serta himbauan bagi kelompok masyarakat rentan seperti mereka yang cacat, lansia, yatim/piatu dan sebagainya.

b. Program Penanggulangan Kemiskinan Bersasaran Komunitas (Klaster II)

(14)

komunitas dalam pelaksanaannya menggunakan prinsip pemberdayaan masyarakat (Community Driven Development). Contoh program ini adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.

c. Program Penanggulangan Kemiskinan Bersasaran Usaha Mikro dan Kecil (Klaster III)

Kelompok program ketiga adalah program penanggulangan kemiskinan yang sasarannya adalah usaha mikro dan kecil. Tujuan program ini adalah memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil.

d. Peningkatan dan Perluasan Program Pro Rakyat (Klaster IV)

Kelompok program keempat adalah kelompok program penanggulangan kemiskinan yang bertujuan untuk meningkatkan askes terhadap ketersediaan pelayanan dasar dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin. Program-program dalam kelompok ini adalah Program-program kemiskinan lain yang secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat miskin.

F.4 Progam Penganggulangan Kemiskinan a. Kluster I

i. Penjelasan

Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial bertujuan untuk melakukan pemenuhan hak dasar, pengurangan beban hidup, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin. Fokus pemenuhan hak dasar ditujukan untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat miskin untuk kehidupan lebih baik, seperti pemenuhan hak atas pangan, pelayanan kesehatan, dan pendidikan.

ii. Karakteristik

Karakteristik program pada kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial adalah bersifat pemenuhan hak dasar utama individu dan rumah tangga miskin yang meliputi pendidikan, pelayanan kesehatan, pangan, sanitasi, dan air bersih. Ciri lain dari kelompok program ini adalah mekanisme pelaksanaan kegiatan yang bersifat langsung dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat miskin.

iii.Cakupan

(15)

dasar utama. Hak dasar utama tersebut memprioritaskan pada pemenuhan hak atas pangan, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta sanitasi dan air bersih.

iv. Penerima Manfaat

Penerima manfaat pada kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial ditujukan pada kelompok masyarakat sangat miskin. Hal ini disebabkan bukan hanya karena kondisi masyarakat sangat miskin yang bersifat rentan, akan tetapi juga karena mereka belum mampu mengupayakan dan memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri.

b. Kluster II i. Penjelasan

Upaya penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan secara langsung pada masyarakat miskin karena penyebab kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh aspek-aspek yang bersifat materialistik semata, akan tetapi juga karena kerentanan dan minimnya akses untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin. Pendekatan pemberdayaan dimaksudkan agar masyarakat miskin dapat keluar dari kemiskinan dengan menggunakan potensi dan sumberdaya yang dimilikinya.

Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah tahap lanjut dalam proses penanggulangan kemiskinan. Pada tahap ini, masyarakat miskin mulai menyadari kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk keluar dari kemiskinan. Pendekatan pemberdayaan sebagai instrumen dari program ini dimaksudkan tidak hanya melakukan penyadaran terhadap masyarakat miskin tentang potensi dan sumberdaya yang dimiliki, akan tetapi juga mendorong masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam skala yang lebih luas terutama dalam proses pembangunan di daerah. ii. Karakteristik

Karakteristik program pada kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut :

a) Menggunakan pendekatan partisipatif.

(16)

b) Penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat.

Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat menitikberatkan pada penguatan aspek kelembagaan masyarakat guna meningkatkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, sehingga masyarakat mampu secara mandiri untuk pengembangan pembangunan yang diinginkannya. Penguatan kapasitas kelembagaan tidak hanya pada tahap pengorganisasian masyarakat untuk mendapatkan hak dasarnya, akan tetapi juga memperkuat fungsi kelembagaan sosial masyarakat yang digunakan dalam penanggulangan kemiskinan.

c) Pelaksanaan berkelompok kegiatan oleh masyarakat secara swakelola dan berkelompok.

Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat harus menumbuhkan kepercayaan pada masyarakat miskin untuk selalu membuka kesempatan masyarakat dalam berswakelola dan berkelompok, dengan mengembangkan potensi yang ada pada mereka sendiri guna mendorong potensi mereka untuk berkembang secara mandiri.

d) Perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Perencanaan program dilakukan secara terbuka dengan prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat dan hasilnya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan di tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional. Proses ini membutuhkan koordinasi dalam melakukan kebijakan dan pengendalian pelaksanaan program yang jelas antar pemangku kepentingan dalam melaksanakan program penanggulangan kemiskinan tersebut.

iii. Cakupan

Cakupan program pada kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat dapat diklasifikasikan berdasarkan:

a. Wilayah

Kelompok berbasis dilakukan pada wilayah perdesaan, wilayah perkotaan, serta wilayah yang dikategorikan sebagai wilayah tertinggal.

b. Sektor

(17)

pada penguatan kapasitas masyarakat miskin dengan mengembangkan berbagai skema program berdasarkan sektor tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat di suatu wilayah.

iv. Penerima Manfaat

Penerima Kelompok program berbasis pemberdayaan masyarakat adalah kelompok masyarakat yang dikategorikan miskin. Kelompok masyarakat miskin tersebut adalah yang masih mempunyai kemampuan untuk menggunakan potensi yang dimilikinya walaupun terdapat keterbatasan

c. Kluster III

Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil adalah program yang bertujuan untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil. Aspek penting dalam penguatan adalah memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat miskin untuk dapat berusaha dan meningkatkan kualitas hidupnya.

i. Karakteristik

Karakteristik program pada kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil adalah:

a. Memberikan bantuan modal atau pembiayaan dalam skala mikro Kelompok program ini merupakan pengembangan dari kelompok program berbasis pemberdayaan masyarakat yang lebih mandiri, dalam pengertian bahwa pemerintah memberikan kemudahan kepada pengusaha mikro dan kecil untuk mendapatkan kemudahan tambahan modal melalui lembaga keuangan/ perbankan yang dijamin oleh Pemerintah.

b. Memperkuat kemandirian berusaha dan akses pada pasar

c. Memberikan akses yang luas dalam berusaha serta melakukan penetrasi dan perluasan pasar, baik untuk tingkat domestik maupun internasional, terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh usaha mikro dan kecil. Akses yang dimaksud dalam ciri ini tidak hanya ketersediaan dukungan dan saluran untuk berusaha, akan tetapi juga kemudahan dalam berusaha.

d. Meningkatkan keterampilan dan manajemen usaha. Memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan dan manajemen berusaha kepada pelaku-pelaku usaha kecil dan mikro.

(18)

Cakupan program kelompok program berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil dapat dibagi atas 3 (tiga), yaitu: (1) pembiayaan atau bantuan permodalan; (2) pembukaan akses pada permodalan maupun pemasaran produk; dan (3) pendampingan dan peningkatan keterampilan dan manajemen usaha.

iii.Penerima Manfaat

Penerima manfaat dari kelompok program berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil adalah kelompok masyarakat hampir miskin yang kegiatan usahanya pada skala mikro dan kecil. Penerima manfaat pada kelompok program ini juga dapat ditujukan pada masyarakat miskin yang belum mempunyai usaha atau terlibat dalam kegiatan ekonomi

F.5. Financial Inclusion

Pada kenyataannya kemiskinan yang terjadi di Indonesia lebih diakibatkan oleh kurangnya modal yang dimiliki oleh setiap individu yang mayoritas adalah masyarakat miskin yang terdapat di daerah pedesaan. Perlunya bantuan modal produktif yang ditujukan kepada masyarakat miskin sangatlah berarti dalam pengentasan kemiskinan baik berskala daerah ataupun nasional.

Pengentasan kemiskinan ini memiliki beberapa kendala pokok dimana sistem kluster yang telah diberikan pemerintah sebagai solusi pengentasan kemiskinan belum bisa berjalan. Kekurangan modal mungkin bisa diatasi dengan kluster ketiga yaitu KUR akan tetapi KUR ini tidak dapat disalurkan kepada masyarakat miskin yang masih dianggap tidak bankable dalam kegiatan kredit. Dibutuhkan lembaga yang memang mengerti dan pro dengan sistem kemiskinan yang ada di daerah pedesaan. Pola kemiskinan pedesaan yang cukup rumit dimana hampir disetiap lini baik itu modal atau wawasan tentang dunia perbankan yang minum memberikan dampak yang cukup riskan bagi lembaga perbankan untuk masuk dalam mengentaskan kemiskinan.

(19)

lembaga perbankan kurang begitu maksimal bagi masyarakat miskin yang tidak bankable.

Solusi pengentesan kemiskinan adalah dengan adanya lebih besar peran koperasi di dalam peningkatan kualitas standar mutu masyarakat miskin dalam mengakses modal produktif. Dengan adanya perbaikan lembaga koperasi baik dari sistem permodalan hingga struktur yang ada di dalamnya diharapkan masyarakat yang kurang atau tidak bankable dapat tertolong dari masalah kemiskinan. Diharapkan nantinya koperasi dapat sebagai penjebatan antara si pemerintah yang berperan sebagai supply dari modal produktif dan si masyarakat miskin yang berperan sebagai demand yang membutuhkan bantuan modal.

G. Kesimpulan Dan Saran G.1. Kesimpulan

Indoensia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang tinggi, dengan tingginya jumlah penduduk yang ada ini sebenarnya tingkat pertumbuhan ekonominya juga mampu meningkat secara cepat. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Indonesia memang tumbuh dengan cepat, akan tetapi sayangnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat dan tinggi tidak diimbangi oleh pemerataan proporsi kue pembangunan dan pendapatan individunya. Masih lebarnya gab antara si kaya dan di miskin merupakan permasalahan serius kemiskinan di Indonesia. Masih banyak masyarakat miskin wilayah desa ataupun kota yang masih hidup dengan perekonomian yang memprihatinkan.

Dengan adanya perbedaan gap pendapatan yang cukup mencolok antara masyarakat baik di desa ataupun di kota sehingga menciptakan tingkat kemiskinan, dimana tingkat kemiskinan yang terjadi antara di desa dan di kota berbeda. Tingkat kemiskinan di desa cenderung lebih para dari pad tingkat kemiskinan yang terjadi di daerah perkotaan.

(20)

penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan secara langsung pada masyarakat miskin karena penyebab kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh aspek-aspek yang bersifat materialistik semata, akan tetapi juga karena kerentanan dan minimnya akses untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin), kluster ketiga (Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil adalah program yang bertujuan untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil).

G.2. Saran

Dari progam – progam yang dirilis oleh pemerintah untuk mengatasi tingkat kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Ada yang sedikit yang perlu di koreksi, melihat keimiskinan tidak bisa hanya saja dilihat dari faktor supllay atau demand saja, akan tetapi untuk mengatasi tingkat kemiskinan perlu dikaji dari faktor permintaan dan penawaran. Selama ini dari kluster – kluster yang dipergunakan untuk mengatasi kemiskinan, nampak jelas bahwa progam yang dibuat adalah progam yang banyak bermuara kepada sisi penawaran.

Sisi permintaan yang bersumber dari permintaan kurang begitu diperhatikan oleh pemerintah, sehingga seringkali kebijakan yang dipakai atau digunakan tidak sesuai dengan kondisi riil tingkat kemiskinan yang terjadi di masyarakat pada umumnya. Kebijakan yang dipakai seringkali tidak efektif dalam pelaksanaanya dan cenderung pada akhirnya malah dapat menimbulkan konflik serta tingkat produktifitas masyarakat menjadi kurang diserap secara maksimum dari adanya kebijakan yang sudah diterapkan.

Daftar Pustaka

Arief Furchan. (2007). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Malang : Pustaka Pelajar. Badan Pusat Statistik. 2014. Berita Resmi Statistik Indonesia. .

Criswardani Suryawati, 2005. Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional. Prastowo, Andi. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Sukmadinata, Syaodih Nana. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

http://www.jmpk-online.net/Volume_8/Vol_08_No_03_2005.pdf.

http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=6

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya, initial depth migrated section dikonversi ke domain time dengan menggunakan model kecepatan interval sehingga menghasilkan penampang seismik hasil PSDM

1 Kluster Skim Penempatan Stutong Baru, Kuching Tiada kes baharu dikesan atau dilaporkan dalam tempoh 28 hari yang lepas melibatkan kluster ini... KLUSTER YANG

KOBANTER BARU merupakan koperasi angkot yang terbesar di Kota Bandung dengan jumlah trayek yang 28 dan armada 4.702 kendaraan.. KOBUTRI mengontrol 6 trayek dengan armada 599

1 Kluster Jalan Sultan Tengah Rampangi, Kuching Tiada kes baharu dikesan atau dilaporkan dalam tempoh 28 hari yang lepas melibatkan kluster ini.. 2 Kluster Jalan

Dalam pengertian yang sama, yang sudah kita pahami ukuran kluster di Dalam pengertian yang sama, yang sudah kita pahami ukuran kluster di sudah kita pahami…ukuran kluster di

Berdasarkan analisa yang dilakukan pada bahasan sebelumnya, maka diketahui karakteristik di wilayah studi. Kawasan dibagi menjadi tiga Kluster yaitu Kluster I,

Daerah pelayanan (area coverage) yang akan dikaji adalah pada jarak 0-10 km dari Jalan Siguntur ke Jalan Barung-Barung Belantai,dan jarak 0-8 kilometer dari Jalan Barung-Barung

Prinsip dari pengoperasian alat akustik adalah dengan gelombang suara yang ditransmisikan ke kolom perairan dalam bentuk pulsa yang jika mengenai target maka