TUGAS SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM
PENGELOLAAN LIMBAH PADAT RUMAH
SAKIT DAN DAMPAKNYA PADA
LINGKUNGAN DAN KESEHATAN
DI SUSUN OLEH :
A.DINAH ADILAH
DEPARTEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
DAFTAR ISI
Sampul
Daftar isi ...2
Bab I Pendahuluan ...3
Bab II Pembahasan ...5
A. Masalah Terkait Limbah Padat Rumah Sakit ...5
B. Teori Limbah Padat Rumah Sakit ...6
C. Indentifikasi Sumber, Karakteristik ...7
D. Dampak Pencemaran ...11
E. Dampak Kesehatan dan Penyakit yang ditimbulkan ...13
F. Model baru Penanganan Limbah Padat Rumah Sakit ...14
G. Hambatan dan Keberhasilan ...16
H. Keunggulan ...17
BAB I
PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan sarana atau fasilitas sosial yang tak mungkin dapat dipisahkan dengan masyarakat, dan keberadaannya diharapkan oleh masyarakat dalam mengobati dan sebagai manusia atau masyarakat tentu menginginkan agar kesehatan tetap terjaga. Rumah sakit sebagai institusi yang bersifat sosio-ekonomis mempunyai fungsi dan tugas memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di masa sebelum adanya teknologi yang memadai, rumah sakit dibangun di suatu wilayah dengan jarak yang lumayan jauh dari pemukiman dan berdekatan sungai dengan pertimbangan agar pengelolaan limbah baik padat maupun cair tidak terlalu berdampak negatif secara langsung pada manusia. Sejalan dengan perkembangan penduduk yang sangat pesat, lokasi rumah sakit yang dulunya jauh dari daerah pemukiman penduduk sekarang umumnya telah berubah dan berada di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, sehingga masalah pencemaran akibat limbah rumah sakit baik limbah padat atau limbah cair sering menjadi pencetus konflik antara pihak rumah sakit dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Masalah lingkungan erat sekali hubungannya dengan dunia kesehatan. Untuk mencapai kondisi masyarakat yang sehat diperlukan lingkungan yang baik pula. Dalam hal ini rumah sakit sebagai sarana kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan tersebut. Dilain pihak, rumah sakit juga dapat dikatakan sebagai pendonor limbah karena buangannya berasal dari kegiatan non-medis maupun non-medis yang bersifat berbahaya dan beracun dan dalam skala besar. Oleh karena itu diperlukan adanya pengolahan limbah yang sesuai sehingga tidak membahayakan bagi lingkungan (Paramita, 2007).
kemungkinan dampak negatif berupa cemaran akibat limbahnya yang dibuang tanpa melalui pengolahan yang benar. Aktivitas rumah sakit akan menghasilkan sejumlah hasil samping berupa limbah, baik limbah padat, cair, dan gas yang mengandung kuman patogen, zat-zat kimia serta alat-alat kesehatan yang pada umumnya bersifat berbahaya dan beracun. Untuk meningkatkan mutu pelayanan perlu pula ditingkatkan sarana untuk mengatasi limbah yang dihasilkan rumah sakit (Paramita, 2007).
Sampah yang dihasilkan rumah sakit hampir 80% berupa sampah non medis dan 20% berupa sampah medis. Sebesar 15% dari sampah rumah sakit merupakan limbah infeksius dan limbah jaringan tubuh; limbah benda tajam sebesar 1%, limbah kimia dan farmasi sebesar 3% dan limbah genotoksik serta radioaktif sebesar 1%. Negara berkembang menghasilkan 0.5 sampai 3 kg per orang per tahun (World Health Organization, 2007).
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASALAH TERKAIT LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT
Limbah padat yang dihasilkan Rumah sakit telah menjadi permasalahan lingkungan hidup. Limbah rumah sakit tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, pasien dan masyarakat namun juga bagi tenaga medis dan pengelola limbah tersebut. Seringkali limbah rumah sakit dibuang bebas secara serampangan tanpa perhitungan, dibakar tak terkendali, dan dikuburkan tidak bertanggung jawab. Diperkirakan secara nasional produksi limbah padat RS sekitar 376,089 ton/hari yang menunjukkan betapa besar pengaruh RS dalam mencemari lingkungan yang juga memungkinkan dapa menimbulkan gangguan terhadap masyarakat.
Limbah rumah sakit disamping berupa limbah cair dapat pula berbentuk limbah padat, misalnya botol dan selang infus, spuit dan jarum suntik, serta peralatan medis lain. Atau bisa juga kain, kassa yang tercemar oleh darah atau cairan tubuh lainnya. Sering kali pula dijumpai jaringan tubuh manusia. Sumber limbah padat medis dapat berasal dari kegiatan pelayanan medis meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan bedah sentral.
Adapun kasus yang timbul akibat dari pengelolaan limbah pada rumah sakit yang tidak sesuai yaitu penggunaan jarum suntik bekas tanpa sterilisasi menyebabkan 8 (delapan) sampai 16 milyar infeksi hepatitis B tiap tahun, 2.3 sampai 4.7 milyar hepatitis C dan 80.000 sampai 160.000 terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pada juni 2000, di Rusia enam anak terkena cacar setelah bermain-main dengan botol bekas berisi vaksin yang sudah kadaluarsa dari tempat sampah di Valdivostok, Rusia; di Goiania Brazil empat orang meninggal pada tahun 1988 akibat terpajan radiasi dan 28 orang mengalami luka bakar yang serius akibat radiasi (World Health Organization, 2003).
B. TEORI TENTANG LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT
Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis (Galih, tnp tahun)
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti rumah sakit, pulp, kertas, plywood, limbah nuklir, dll. Secara garis besar limbah padat terdiri dari Limbah padat yang mudah terbakar; Limbah padat yang sukar terbakar; Limbah padat yang mudah membusuk; Limbah yang dapat di daur ulang; Limbah radioaktif; Bongkaran bangunan; dan Lumpur (Galih, tnp tahun)
C. IDENTIFIKASI SUMBER, KARAKTERISTIK, TRANSPORT, DAN TRANSFER
a. Sumber
Limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit tentunya berasal dari sumber yang berbeda. Jenis limbah padat yang dihasilkan dari tiap rumah sakit berbeda, tergantung dari kegiatan dan tindakan medis. Sumber limbah padat dapat berasal dari kegiatan pelayanan medis meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, poliklinik, gawat darurat, ruang kebidanan dan bedah sentral. Limbah padat berupa suntik habis pakai bersumber dari kegiatan perawatan untuk pembiusan dan vaksin.
Limbah medis berdasarkan potensi bahaya yaitu limbah infeksius yang bersumber dari kegiatan laboratorium, kamar isolasi, dan kamar perawatan; limbah patologis berupa jaringan atau organ tubuh manusia, bangkai hewan, dll yang bersumber dari kegiatan autopsi dan UGD; limbah benda tajam yang bersumber dari kegiatan pembedahan dan pengobatan secara fisik; limbah farmasi yang bersumber dari bagian apotek semisal obat-obatan yang kadaluarsa; limbah sitotoksis bersumber dari kegiatan kemoterapi yang dilakukan pada pasien kanker; dan limbah kimiawi yang bersumber dari aktivitas diagnostik dan eksperimen serta dari pemeliharaan kebersihan, aktivitas keseharian, dan prosedur pemberian desinfektan.
b. Karakteristik
Karakteristik utama limbah pelayanan kesehatan adanya limbah medis dan limbah non medis. Limbah medis adalah limbah yang berasal dari kegiatan pelayanan medis. Limbah ini tergolong dalam limbah berbahaya dan beracun (B3) sehingga berpotensi membahayakan komunitas rumah sakit. Berbagai jenis limbah medis yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehatan terutama pada saat pengumpulan, pemilahan, penampungan, penyimpanan, pengangkutan dan pemusnahan serta pembuangan akhir.
Penggolongan kategori limbah medis dapat diklasifikasikan berdasarkan potensi bahaya yang tergantung didalamnya, serta volume dan sifat persistensinya yang menimbulkan masalah (Depkes RI, 2002) :
1. Limbah benda tajam seperti jarum perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, dll. Limbah benda tajam memiliki potensi bahaya yang dapat menyebabkan infeksi dan cedera karena mengandung bahan kimia. Limbah benda tajam walaupun diproduksi sedikit namun sangat berbahaya.
Limbah infeksiun berupa darah dan cairan tubuh meliputi darah atau produk darah Serum; Plasma; dan Komponen darah lainnya. Cairan tubuh yaitu Semen, Sekresi vagina, Cairan serebrospinal, Cairan pleural, Cairan peritoneal, Cairan perkardial, Cairan amniotik, dan Cairan tubuh lainnya yang terkontaminasi darah. Tidak termasuk dalam kategori cairan tubuh yaitu Urin, kecuali terdapat darah; Feses, kecuali terdapat darah; dan Muntah, kecuali terdapat darah.
3. Limbah patologis (jaringan tubuh) yaitu jaringan tubuh yang terbuang dari proses bedah atau autopsi.
4. Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan bat citotoksik selama peracikan, pengangkutan, atau tindakan terapi citotoksik. Termasuk dalam kategori limbah sitotoksik adalah limbah genotoksik (genotoxic) yang merupakan limbah bersifat sangat berbahaya, mutagenik (menyebabkan mutasi genetik), teratogenik (menyebabkan kerusakan embrio atau fetus), dan / atau karsinogenik (menyebabkan kanker). Genotoksik berarti toksik terhadap asam deoksiribo nukleat (DNA), dan Sitotoksik berarti toksik terhadap sel.
5. Limbah farmasi berasal dari obat-obatan yang kadaluarsa, yang sudah tidak diperlukan.
6. Limbah kimiawi dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, veterinary, laboratorium, proses sterilisasi dan riset.
7. Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionuklida.
penting dalam penyimpanan adalah melengkapi tempat penyimpanan dengan cover atau penutup, menjaga agar areal penyimpanan limbah medis tidak tercampur dengan limbah non-medis, membatasi akses sehingga hanya orang tertentu yang dapat memasuki area serta, lebeling dan pemilihan tempat penyimpanan yang tepat (dikutip dalam jurnal
Limbah non medis merupakan sampah yang berasal dari segala zat padat, zat semi padat yang terbuang atau tidak berguna baik yang dapat membusuk maupun yang tidak dapat membusuk. Sampah jenis ini hampir sama dengan sampah rumah tangga. Sampah non medis biasanya ditampung di tempat produksi sampah untuk jangka waktu yang lama. Untuk itu setiap rumah sakit hendaknya disediakan tempat penampungan dengan bentuk, ukuran dan jumlah yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah sampah serta kondisi setempat. Hanya 19% limbah domestik dari rumah sakit yang telah diolah dan dimanfaatkan kembali, sisanya limbah domestik itu masuk ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) (Depkes RI, 2002; Kementrian Lingkungan Hidup, 2006).
D. DAMPAK PENCEMARAN PADA LINGKUNGAN SAMPAH RS
Rumah sakit menghasilkan sampah medis dan non medis sampah rumah sakit berpotensial menimbulkan resiko untuk pasien, staf rumah sakit, pengunjung rumah sakit, dokter dan perawat dan bahkan lingkungan sekitar rumah sakit. Dari segi lingkungan, sampah yang dihasilkan rumah sakit dapat mencemari perairan dan tanah, dimana hal tersebut dapat menganggu organisme-organisme yang ada di lingkungan serta merusak kandungan yang ada baik di perairan maupun tanah.
a. Pencemaran Air Akibat Sampah RS
Limbah padat yang dibuang ke lingkungan tanpa melalui serangkaian proses pengelolaan limbah tentunya akan menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu bagian dari lingkungan yang mendapatkan pengaruh buruk yaitu perairan. Seperti yang kita ketahui jika limbah padat yang dihasilkan dari aktivitas di rumah sakit memiliki limbah yang sulit untuk terurai sehingga jika limbah tersebut dibuang langsung ke sungai atau laut tentu akan mengganggu kondisi dari sungai atau laut tersebut. Secara tidak langsung pembuangan sampah yang mengandung racun ke lingkungan dapat mengkontaminasi perairan. Sampah medis seperti sisa bahan kimia dan obat-obat kadaluarsa yang terbuang ke perairan dapat menganggu kondisi perairan sehingga konsentrasi air berubah dan dapat mematikan mahkluk hidup yang ada didalamnya. Selain itu, jika manusia menggunakan air yang mengandung cemaran sampah rumah sakit akan menyebabkan gangguan kesehatan dan pada tingkat parah dapat menyebabkan kematian.
b. Pencemaran Tanah Akibat Sampah RS
pertanian. Jika tanah yang telah terkontaminasi bahan kimia dari sampah rumah sakit di tanami sayuran dan buah, maka sayur dan buah ini juga akan ikut terpengaruh dan jika dikonsumsi oleh manusia maka akan menimbulkan penyakit.
E. DAMPAK KESEHATAN DAN PENYAKIT YANG DITIMBULKAN AKIBAT LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT
Rumah sakit menghasilkan sampah medis dan non medis yang berpotensi menimbulkan risiko gangguan kesehatan dan penyakit bagi pasien, staf rumah sakit, dan pengunjung rumah sakit. Sampah rumah sakit mulai disadari sebagai bahan buangan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan karena bahan yang terkandung didalamnya dapat menimbulkan dampak kesehatan dan menimbulkan cidera (DepKes RI, 2002).
ICRC mengemukakan tentang resiko kesehatan akibat limbah medis, dibagi dalam lima kategori yakni resiko terjadinya trauma, resiko terjadinya infeksi, resiko zat kimia, resiko ledakan/ terbakar, dan resiko radioaktif. Dalam Chua Say Tiong dalam penelitiannya tentang manajemen pengelolaan limbah medis pada klinik swasta di Taiping, mengatakan bahwa limbah medis berpotensi menularkan infeksi seperti Hepatitis B virus (HBV), Hepatitis C virus (HCV), Human Immunodeficiency Virus (HIV) kepada manusia.
F. MODEL BARU PENANGANAN YANG AKAN DIAPLIKASIKAN
Limbah rumah sakit disamping berupa limbah cair dapat pula berbentuk limbah padat, misalnya botol dan selang infus, spuit dan jarum suntik, serta peralatan medis lain atau bisa juga kain, kassa yang tercemar oleh darah atau cairan tubuh lainnya. Sering kali pula dijumpai jaringan tubuh manusia. Saat ini limbah padat yang dihasilkan dari aktivitas rumah sakit masih menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan. Hal ini terjadi karena pengelola limbah yang belum terkelola dengan baik. Praktik dalam pengelolaan sampah di negara maju dan berkembang itu dapat berbeda-beda, hal ini dikarenakan negara berkembang masih terkendala oleh berbagai faktor.
Pengelolaan limbah padat rumah sakit saat ini dilakukan dengan cara: minimisasi dan pemilahan, penyimpanan sementara, pengangkutan, pengolahan atau pemanfaatan, dan penimbunan akhir. Khusus limbah medis yang bersifat infeksius, karena karakter bahayanya, terdapat beberapa metoda dan alat yang sudah dikenal dan biasa digunakan sebagai sarana penanganan awal, sebelum pengolahan (misal: insenerasi), yakni Dekontaminasi secara kimia (misal: menggunakan disinfektan); Penggunaan steam autoclaving atau hydroclaving;
Microwave; Pengemasan menggunakan kantong plastik khusus dan/atau safety box; Penyimpanan sementara tanpa atau menggunakan refrigerasi; Kombinasi sebagian atau kesemuanya.
Insenerasi limbah adalah proses pengolahan limbah organik (infeksius) yang terkandung dalam limbah medis dengan menggunakan pembakaran suhu tinggi dalam suatu sistem yang terkontrol dan terisolir dari lingkungannya, agar sifat bahayanya hilang atau berkurang. Insenerasi dan berbagai alternatif pengolahan limbah menggunakan suhu tinggi lainnya (misal: pirolisis, gasifikasi, plasma arc) dikenal sebagai pengolahan termal. Pada insenerasi berbagai jenis limbah dikonversi menjadi abu (ash), gas buang (flue gas) dan panas (energy).
Abu B3 insenerator sebenarnya terbentuk dari kandungan anorganik limbah yang tidak terbakar, yakni: mineral dan logam yang tersisa dalam proses pembakaran, berbentuk partikel kecil atau debu yang mengendap pada bagian penampung abu dan sebagian (karena lebih ringan) terbawa aliran gas buang, yang harus ditangkap menggunakan IPPU. Gas buang ini harus dibersihkan terlebih dulu dari berbagai kontaminan, menggunakan instalasi pengontrol polusi udara (IPPU), agar memenuhi baku mutu sehingga bisa dilepas ke udara. Dalam beberapa kasus, panas yang dihasilkan proses insenerasi bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik alternatif, sebagai kecenderungan yang menarik untuk dibahas, karena pada massa depan energi akan menjadi semakin langka dan mahal.
Karena berpotensi menimbulkan bahaya bila tidak dikelola dengan baik, kegiatan insenerasi semua jenis limbah B3 disyaratkan harus memiliki izin. Residu tidak terbakar dan/atau abu berkategori limbah B3 yang terbentuk tersebut kemudian dipisahkan dari insenerator, dikumpulkan, dikemas secara khusus (menggunakan wadah dan/atau kantong plastik khusus limbah B3) dan disimpan di TPS (harus memiliki izin penyimpanan) maksimal 90 hari kerja, selanjutnya, bila tidak mampu mengolah atau memanfaatkan lebih lanjut, maka abu insenerasi yang berkategori limbah B3 wajib diserahkan ke pihak lain berizin, yakni: pengangkut, pengumpul, pengolah, pemanfaat atau penimbun akhir (secured landfill).
kandungan organik pada limbah (zat organik terbakar semua pada suhu >550°C), berarti mengurangi keberatan masyarakat pada proses penimbunan akhir limbah B3 (landfill), jika limbah masih memiliki kandungan organik tinggi.
Adapun kegiatan insenerasi limbah medis rumah sakit dapat dibagi menjadi beberapa tahapan proses berikut (1) Persiapan limbah medis yang akan diinsenerasi; (2) Pengumpanan atau pengisian limbah medis (waste feeding or charging system); (3) Pembakaran limbah medis (Ruang Bakar 1 dan 2); (4) Pengolahan gas hasil pembakaran akhir menggunakan IPPU (instalasi pengontrol polusi udara); dan (5) Penanganan dan pengelolaan abu insenerator yang juga berkategori limbah B3.
G. HAMBATAN DAN KEBERHASILAN 1. Hambatan
Hal yang menjadi kendala dalam pengelolaan limbah padat rumah sakit menggunakan insenerator adalah memerlukan minyak ataupun listrik yang tinggi karna dalam prosesnya membutuhkan temperatur yang tinggi. Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih kurang yaitu orang-orang yang ahli dalam teknologi khususnya dalam menjalankan alat ini. Di beberapa negara maju, teknologi insinerasi sudah diterapkan dengan kapasitas besar, namun dianggap bermasalah dalam pencemaran, merupakan sumber polusi dioxin dan logam berat, seperti merkuri dan kadmium, arsen dan kromium di udara. Teknologi ini membutuhkan biaya investasi, operasi dan pemeliharaan yang cukup tinggi.
2. Keberhasilan
H. KEUNGGULAN
Salah satu kelebihan yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah pemanfaatan energi. Disamping itu sampah dapat dimusnahkan dengan cepat, terkendali dan insitu, serta tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya proses landfill.
DAFTAR PUSTAKA
Asmarhany Chandra Dewi. 2013. Pengelolaan Limbah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kelet Kabupaten Jepara. Universitas Negeri Semarang. 94 hal.
Astuti Agustina dan S.G Purnama. 2014. Kajian Pengelolaan Limbah di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).Community Helath vol.2 no.1.
Bastari Alamsyah. 2007. Pengelolaan Limbah di Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang untuk Memahami Baku Mutu Lingkungan. Tesis: Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas diponegoro.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan dan Direktorat Jendral Pelayanan Medik.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Data Limbah Rumah Sakit di Indonesia. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan dan Direktorat Jendral Pelayanan Medik.
Febrina Rahma. 2012. Sistem Pengelolaan Sampah Padat di Rumah Sakit X Banyuwangi. Jurnal Kesehatan Lingkungan vol.7 no.1. Hal 71-75
Latief A.Sutowo. 2010. Manfaat dan Dampak Penggunaan Insinerator Terhadap Lingkungan. Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang.
Nainggolan Riris dan Supraptini. 2006. Quality of Solid Medical Waste in Hospital. Jurnal Ekologi Kesehatan vol.5 no.3. hal 497-505.
Paramita Nadia. 2007. Evaluasi Pengelolaan Sampah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Jurnal Presipitasi vol.2 no.1.
Pranowo Galih. tnp tahun. Limbah Padat. Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Said Nusa Idaman, dkk. 2010. Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob. Direktorat Teknologi Lingkungan Kedeputian Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahrs/limbahrs.html
Satmoko Wisaksono. 2001. Karakteristik Limbah Rumah Sakit dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Cermin Dunia Kedokteran, No.130. Tim Kementerian Lingkungan Hidup. 2014. Pedoman Kriteria Teknologi
Pengelolaan Limbah Medis Ramah Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup.
World Health Organization. 2007. Wastes From Health-Care Activities.