• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Perkembangan Beauty Vlogger pad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Fenomena Perkembangan Beauty Vlogger pad"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Fenomena Perkembangan Beauty Vlogger pada Perilaku Konsumtif Remaja Studi Kasus Perempuan Remaja Kota Jakarta

Adi Tasya Nurzahra (4825144066)

Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta Sosiologi Pembangunan A 2014

[email protected]

Abstrak

Tulisan ini akan membahas tentang terjadinya fenomena perkembangan Beauty Vlogger pada perilaku konsumtif remaja kota Jakarta. Perkembangan pada jejaring sosial YouTube ini justru memberikan dampak pada perilaku yang konsumtif remaja kota akibat dari menonton saluran YouTube sang Beauty Vlogger. Tulisan ini mengambil YouTube sebagai objek penelitian dan remaja kota Jakarta sebagai subjek penelitian, dimana YouTube ternyata menggantikan posisi TV, radio sebagai penyedia informasi. YouTube merupakan jejaring sosial yang memungkinkan pemilik akun membagi video yang mereka bikin. YouTube sekaligus menjadi tempat dimana para blogger bertransformasi untuk memvisualisasikan tulisannya menjadi video dan menjadi lebih menarik. Tulisan ini dibuat dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang memungkinkan penulis untuk melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang diperlukan, serta memungkinkan penulis untuk melakukan observasi melalui akun jejaring sosial. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dampak dari fenomena perkembangan beauty vlogger ini memengaruhi remaja perempuan untuk melakukan perilaku konsumtif yang lebih besar daripada biasanya. Dalam hal ini terjadi apa yang dimaksud dengan Simulakra dimana kenyataan semu dibuat seperti nyata dan membangun persepsi, memberikan motivasi, meningkatkan kepercayaan, dan membentuk pola konsumtif tersendiri.

(2)

Abstract

This paper will discuss the phenomenon of Beauty Vlogger on consumer behavior in adolescent city. The development of social networking YouTube this would have an impact on consumer behavior-city teenager result of watching the Beauty Vlogger YouTube channel. This paper take YouTube as research objects and adolescents Jakarta as a research subject, which turns YouTube replace TV, radio as an information provider. YouTube is a social network that allows the account owner to divide the videos they make. YouTube also become a place where bloggers transformed to visualize the video and his writing became more interesting. This paper is made by using descriptive qualitative method that allows the author to conduct interviews with several sources are needed, as well as allows the author to make observations through social networking accounts. These results indicate that the impact of this phenomenon of beauty vlogger affects adolescent girls to consumer behavior that is larger than usual. In case this happens what is meant by Simulakra where artificial reality created as a real and build perceptions, motivate, increase trust, and establish its own consumptive patterns.

Keywords : Beauty Vlogger, YouTube, Young Women, Simulacra, Consumer Behavior.

Pendahuluan

Penelitian ini menjelaskan tentang dinamika maraknya perkembangan beauty vloggers pada perilaku konsumtif remaja dewasa kota Jakarta. Sebagai mahasiswa strata satu (S1) prodi Sosiologi Pembangunan yang harus lebih peka akan keadaan sekitar yang telah berubah dari waktu-ke-waktu yang juga menghadirkan banyak perubahan, baik di dalam kehidupan sehari-hari pada diri sendiri dan sekitarnya. Dewasa ini sudah banyak kemajuan yang dicapai berkat semakin pesatnya penemuan dan perkembangan teknologi. Perkembangan itu sendiri dapat terlihat dengan aksesibilitas untuk memperoleh informasi ini semakin mudah dan seolah tidak terbatas oleh wilayah ataupun negara. Perkembangan-perkembangan ini sesungguhnya menjadi salah satu bentuk dari modernisasi, yang membuat banyak terjadinya perubahan dalam kehidupan manusia dalam segala bidang baik perilaku, cara konsumsi, cara hidup, dan sebagainya. Salah satu perubahan yang akan dilihat pada tulisan ini adalah bagaimana posisi blogger yang sudah bertransformasi menjadi vlogger yang dapat membuat para remaja lebih percaya akan suatu produk dengan menonton saluran YouTube vlogger tersebut, daripada hanya melihat dari toko online1.

(3)

Bila kita melihat bahwa YouTube sekarang menjadi sasaran para pelakon seni dunia maya untuk mengembangkan kreativitasnya, contohnya adalah sekarang ini sudah banyak anak muda yang membuat video kesehariannya itu sendiri dan mengunggahnya di akun YouTubemereka, dimana bisa kita lihat bahwa ini merupakan bentuk positif dari berkembangnya teknologi yang membuat segalanya terasa lebih mudah. Khususnya pada akhir-akhir ini YouTube juga menjadi seperti pengganti tv. Aksesibilitas masyarakat untuk menonton sekarang juga dipengaruhi oleh YouTube. Faktor yang mendukung adalah banyaknya orang-orang yang berkreasi di YouTube ini dan mengunggah kreasi-kreasi mereka pada saluran YouTube mereka. Penulisan paper ini melihat bahwa YouTube menjadi salah satu media utama pada penyebaran informasi, khususnya pada tayangan-tayangan kecantikan yang dibawakan oleh seorang vlogger2.

Sebelum vlog yang berkembang seperti saat ini, terbentuk komunitas Indonesian Beauty Blogger (IBB) yang menggunakan media blog sebagai platform mereka. Indonesian Beauty Blogger (IBB) ini menunjukan bagaimana animo masyarakat atau pengguna menggunakan blog sebagai media mereka dalam eksistensi dan aktualisasi diri. Tidak hanya itu, populernya beauty blog ditengah masyarakat diperkuat oleh data dari survei yang dilakukan oleh Nielsen. Survei tersebut menyatakan peningkatan konsumsi kosmetik atau produk kecantikan perempuan di wilayah perkotaan di Indonesia semester I tahun 2013 mencapai Rp 606 miliar naik 9,38 persen dibanding semester I tahun lalu Rp 554 miliar3. Data berikut memperkuat berkembangnya para beauty blogger yang beralih ke dunia vlog demi lebih menarik para penontonnya dan agar mereka dapat memvisualisasikan apa yang mereka buat. Peluang besar terbuka untuk para beauty vloggers untuk dapat membuat kreatifitas dan menunjukan keahliannya dalam menggunakan alat make up, berias wajah, memberikan ulasan tentang produk kecantikan dan mengunggahnya di saluran YouTube mereka, sehingga video mereka dapat diakses oleh para pengunjung YouTube lainnya.

Uniknya dari fenomena ini adalah, beauty vloggers semakin banyak ditonton oleh para pengguna YouTube. Dilansir dari acara konferensi pers YouTube FanFest Indonesia pada 23 Oktober 2015 silam, terdapat peningkatan sebesar 130% untuk jumlah penonton YouTube di Indonesia dalam setahun terakhir dan Indonesia memiliki antusiasme yang sangat besar terhadap konten YouTube dengan jumlah unggahan meningkat sebanyak 600% selama setahun terakhir4, yang berarti beauty vlogger juga menjadi salah satu penyebab peningkatan drastis yang terjadi itu. Selain itu Google Indonesia, sebanyak 23 persen pengakses YouTube dari perangkat smartphone rata-rata menonton

2 Vlogger itu sendiri memiliki arti sebagai orang yang membuat, dan mengunggah video blog (vlog) ke dalam akun jejaring sosialnya.

3 Op.cit, diakses pada 10/05/2016 pada pukul 20.56.

(4)

video selama 30 menit atau lebih. Sebanyak 43 persennya membuka YouTube selama 15 menit atau lebih lama lagi5. Data tersebut sangat relevan jika dikaitkan dengan meningkatnya beauty vloggers di Indonesia, karena dapat membawa banyak keuntungan dengan menjadi beauty vloggers. Hal tersebut seperti yang diutarakan oleh Michelle Phan bahwa dengan ia mengunggah video mengenai ulasan atau tutorial menggunakan suatu produk kecantikan itu dapat membuatnya meraup keuntungan yang signifikan. Pernyataan tersebut juga dilontarkan oleh beberapa beauty vloggers lainnya seperti Rachel Goddards, Stephanie, Sarah Ayu, Stefany Talita Visa, dan lain-lain.

Keunikan lain dari fenomena beauty vloggers ini juga seperti memudahkan para remaja dewasa di kota-kota besar yang memiliki kemudahan dalam mengakses internet dalam mencari sebuah ulasan produk atau melihat tutorial make up, dan lain-lain. Pada dasarnya masyarakat kota memang menjadi sasaran utama pasar baik dalam bidang fashion, kuliner, properti, maupun kecantikan yang sering diungkit-ungkit sebagai masyarakat paling konsumtif dibandingkan mereka yang masih kesulitan dalam aksesibilitasnya. Maka dari itu, pemanfaatan jejaring YouTube ini dilakukan oleh kebanyakan masyarakat kota yang ingin membeli sebuah produk kecantikan contohnya sehingga sebelum membeli ia akan lebih mengetahui spesifikasi barang yang ia inginkan. Dengan peluang yang tersedia untuk para beauty vloggers juga dengan kemajuan zaman yang serba ingin cepat dan transparan inilah yang menjadi salah satu stimulan maraknya fenomena beauty vloggers ini.

Untuk itu dalam penulisan ini penulis ingin mengungkap beberapa masalah yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari ini, maka penulis mengacu pada tiga pertanyaan. Pertama, bagaimana dinamika perkembangan dan kedekatan beauty vloggers pada remaja6 kota Jakarta. Kedua, bagaimana beauty vloggers dapat memberikan dampak bagi remaja kota Jakarta. Ketiga, bagaimana dampak tersebut memberikan pengaruh lain pada perilaku konsumtif remaja kota Jakarta tersebut. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, latar belakang atau pendahuluan terkait dengan tujuan, permasalahan dan konsep sental dari penulisan ini. Kedua, merupakan metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk membuat tulisan ini. Ketiga, merupakan pemaparan objek sebagai tempat melakukan penelitian. Bagian ini menjelaskan tentang YouTube sebagai objek kajian mulai dari sejarah, keberadaannya dan realita yang terjadi atau ada pada YouTube tersebut. Keempat, merupakan pembahasan terkait

5 Wahyudi, Reza. 2015. Indonesia Penonton YouTube Terbesar Se-Asia. Kompas.com :

(5)

dengan fenomena beauty vloggers yang dikaitkan dengan teori Simulakra oleh Jean Baudrillard Kelima, melihat perilaku konsumtif remaja kota Jakarta dan kaitannya dengan dampak beauty vloggers. Keenam, merupakan penutup yang menjelaskan kesimpulan dari keseluruhan isi tulisan yang telah diamati.

Dalam penulisan penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian ini lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Secara umum penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami (understanding) dunia makna yang disimbolkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri7. Jenis pendekatan dari penelitian ini adalah deskriptif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai fenomena dan juga dampak dari maraknya beauty vloggers menggunakan metode wawancara dengan informan. Selain itu, dengan pendekatan kualitatif diharapkan dapat mengungkapkan bagaimana dampak dari fenomena beauty vloggers tersebut memberikan pengaruh lain pada perilaku konsumtif remaja kota Jakarta tersebut. Untuk mendapatkan data-data pendukung yang dapat mempertajam penulisan tersebut, tulisan ini menggunakan wawancara mendalam agar dapat memperoleh informasi yang lebih mendalam dari informan. Hal ini demi menghindari kesan yang kaku dan terlihat lebih fleksibel dalam sesi tanya-jawabnya.

Penulisan penelitian ini juga melihat YouTube sebagai fokus atau objek penelitian yang lingkupnya adalah dunia maya yang dapat diakses oleh remaja dewasa kota Jakarta sebagai subjek penelitian atau sasaran dari penelitian ini. Penulis juga perlu melakukan pendekatan versthein agar data yang didapat tidak mengarah kepada salah satu pihak atau tidak bersifat netral. Selain itu, sumber data dari penelitian ini terdiri dari dua, yaitu: Data Primer yang diperoleh langsung dari responden yang dipilih sebagai sampel dengan mengajukan beberapa pertanyaan melalui wawancara, dan Data Sekunder yang diperoleh dari berbagai catatan, dokumentasi, jurnal (Skripsi, Tesis, dan Disertasi), juga website resmi perusahaan yang didapat oleh penulis.

Deskripsi YouTube : YouTube sebagai Ruang Kreativitas Para Blogger Menjadi Vlogger

(6)

dibangun. Mereka mempublikasikan preview dari website tersebut pada Mei 2005. YouTube adalah situs berbagi video di mana video yang dapat ditonton dan diakses secara gratis. YouTube ini sendiri didirikan oleh Chan Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim pada 15 Februari 2005 dan pada tahun 2006 diakuisisi oleh Google atau 6 bulan sebelum launching secara resmi8. Data yang di dapat dari seluruh dunia, YouTube memiliki lebih dari 1 miliar pengunjung, lebih dari 100 jam video diunggah setiap menit dan sekitar 80 persen dari lalu lintas YouTube's berasal dari luar Amerika Serikat . Menurut Alexa Rank, sebuah perusahaan informasi web, YouTube secara global situs ketiga paling populer setelah Google dan Facebook9.

Gambar 1

Keberadaan YouTube di Indonesia

Sumber : BBG & Galup, October 2012 pada tanggal 11/05/16

YouTube merupakan salah satu situs jaringan sosial penting dalam masyarakat saat ini sehingga dengan tingginya jumlah penonton dan video di YouTube, wajar jika YouTube menjadi bagian dalam budaya internet. Kebebasan setiap orang menikmati komputer pribadi mereka tanpa intervensi dari pemerintah mampu menyajikan berita dari sudut pandang yang lebih variatif. YouTube merupakan layanan file sharing berbasis web, audio/ video yang memungkinkan individu untuk dapat (a) membangun profil publik atau semi-publik dalam sistem yang dibatasi, (b) mengartikulasikan daftar pengguna lain dengan siapa mereka akan berbagi sambungan, dan (c) melihat daftar koneksi yang dibuat oleh orang lain dalam sistem tersebut. Layanan berbasis web memungkinkan pengguna untuk mendownload video yang bisa dibagi dengan orang lain.10

8 www.youtube.com/t/about diakses pada 11/05/16 pada pukul 07.51

9 YouTube Statistic: www.YouTube.com/yt/press/statistics.html diakses pada 10/05/16 pada pukul 00.07 10 Said, M. Irhas. Terintegrasinya YouTube sebagai Media Pembelajaran ke dalam Kurikulum Keperawatan.

(7)

YouTube adalah layanan video-sharing yang memungkinkan pengguna untuk mengirim video pribadi yang dikembangkan, dari animasi untuk rekaman pribadi, merupakan aplikasi sosial yang memungkinkan pengguna untuk berbagi dan membentuk masyarakat di sekitar konten mereka. Ini akan menarik pengguna konten seperti remaja perempuan yang dapat mengakses berbagai video kecantikan dalam bentuk visual, dan yang pastinya tidak akan membuat mereka mengeluarkan kocek yang besar. Video yang diunggah ke saluran pemilik akun dapat disesuaikan, dapat diatur untuk menjadi pribadi atau umum.

Dengan adanya situs YouTube, maka aktor-aktor yang dianggap berperan dalam komunikasi global seperti perusahaan-perusahaan penyiaran baik itu dalam surat kabar, radio, ataupun televisi seakan berkurang peranannya. Semua orang dapat menyiarkan kabar di YouTube. Bahkan, ada beberapa berita yang hanya disiarkan lewat YouTube dikarenakan bebasnya orang untuk meng – upload video mereka sendiri. Karena tujuan utama YouTube adalah sebagai tempat bagi setiap orang (tidak peduli tingkat keahliannya) untuk mengunggah dan membagikan pengalaman perekaman mereka kepada orang lain11. Pengguna dapat menonton konten dari pengguna lain dan berlangganan pada saluran mereka untuk mendapatkan pemberitahuan terbaru atas video baru yang diunggahnya. Pengguna bisa menyatakan suka/tidak suka dan mengomentari video di pemilik saluran lain dan saling mengirim pesan pribadi lainnya. YouTube itu sendiri juga memiliki fasilitas-fasilitas yang dapat menonjolkan seorang pengunggah yang berpotensi menjadi populer dari saluran YouTube-nya.

Gambar 2 Tampilan Akun YouTube

(8)

Sumber : Tangkap Layar www.youtube.com/aditasyanurzahra pada tanggal 11/05/16

YouTube yang menjadi sarana utama dari kajian penulisan kali ini menjadi sangat menonjol dengan adanya Beauty vloggers. Vlogger itu sendiri mengandung kata dasar “vlog” yang berarti adalah “video blogger” atau yang bisa di sebut dengan videoblog/ vlog12. Videoblogging menawarkan pengalaman Web yang lebih kaya dari blogging teks karena menggabungkan film, suara, gambar diam, dan teks, meningkatkan informasi-dan berpotensi emosi-berbagi dengan pengguna. multimedia memungkinkan penulis untuk mengeksplorasi cara-cara baru berkomunikasi-banyak video bloggers percaya bahwa video memungkinkan ekspresi yang lebih alami daripada menulis13. Vlog dapat berupa data yang menggambarkan isi file, namun yang akan dibahas pada tulisan ini adalah vlog yang berupa video berisikan tentang seorang vlogger yang akan mengulas sebuah produk, memberikan sebuah tutorial merias wajah, dan hal-hal serupa lainnya yang berhubungan dengan kecantikan.

Vlogger itu sendiri memiliki arti sebagai orang yang membuat, dan mengunggah video blog (vlog) ke dalam akun jejaring sosialnya. Vlogger biasanya merajai jejaring sosial yang bernama YouTube, atau yang lebih dikenal sebagai jejaring sosial yang dapat mengakses berbagai video yang diunggah oleh orang dari seluruh penjuru dunia agar dapat dilihat oleh orang lain melalui akun platform YouTube ini. YouTube adalah situs berbagai multimedia yang memungkinkan pengguna untuk mengunggah, berbagi, dan melihat video. Hal ini didukung oleh fasilitas pendukung yang memungkinkan pengguna akun YouTube saling berinteraksi melalui komentar, pernyataan bahwa ia menyukai/tidak menyukai video yang diunggah, dan juga ada penghitung otomatis yang memperlihatkan jumlah pengunjung laman YouTube sang pemilik akun14. YouTube memungkinkan pemiliki akun ini untuk menyalurkan bakat-bakatnya seperti menari, bernyanyi, membuat kreativitas,

12 Vlog itu sendiri adalah log Web (blog) yang menggunakan video dan audio sebagai sumber media utama. Videoblog biasanya disertai dengan teks atau dengan gambar pendukung, dan beberapa vlogs termasuk metadata.

13 Educause. 2005. 7 Things You Should Now About Videoblogging. Educause Learning Initiative.

(9)

membuat film pendek atau panjang, dan lain-lain. YouTube juga mendorong transparansi, relatability, dan keterlibatan media sosial lainnya seperti dapat membentuk opini publik, sikap, dan sentimen melalui pencarian-pencarian populer di YouTube itu sendiri.15

Singkat kata pada gambar dibawah akan diperlihatkan peta konsep dari tulisan ini, yaitu YouTube sebagai platform yang menjembatani antara beauty vloggers dan remaja yang mengakses YouTube dan akan bermuara pada perilaku konsumtif yang dapat terbentuk akibat dari remaja yang menonton atau mengakses saluran beauty vloggers (baik secara sengaja maupun tidak sengaja).

Gambar 3

Peta Konsep Penulisan Paper

Sumber : Koleksi Penulis

Dinamika Perkembangan Beauty Vloggers dan Remaja kota Jakarta

Kembali pada arti dari beauty vloggers itu sendiri berarti adalah vlogger yang mengunggah videonya yang bertemakan kecantikan. Dengan kata lain, beauty vloggers ini adalah seseorang yang terampil membuat video yang fokus pada isu-isu kecantikan, atau tips-tips kecantikan. Salah satu contoh dari beauty vloggers internasional adalah Michelle Phan yang mengunggah tutorial beriasnya yang memang telah mencintai make up sejak ia masih di usia belia16. Kelihaiannya dalam berias mendapat tanggapan positif dari viewers17. Selain tanggapain positif Michelle pun mendapatkan

15 Ibid, hlm. 2.

16 www.fimela.com/beauty-health/exclusive-interview-michelle-phan-cinta-makeup-sejak-usia-5-tahun-1208160-page1.html diakses pada 09/05/2016 pukul 22.26

(10)

keuntungan lain seperti mendapatkan tawaran endorsement18 dari sebuah produk, sampai mendapatkan kesempatan untuk menjadi model sebuah produk besar19. Endorsement ini sekarang memang menjadi salah satu strategi penjualan suatu perusahaan untuk dapat membuat suatu produk itu menjadi booming. Endorsement selain menjadi salah satu strategi suatu perusahaan atau penjual untuk menjual barangnya, namun juga menjadi peluang para beauty vlogger untuk mendapatkan banyak kelebihan dan keuntungan darinya. Endorsement ini sendiri juga berfungsi sebagai media penghantar pesan yang ingin disampaikan dari suatu perusahaan atau penjual melalui beauty vlogger, sangat mirip dengan cara kerja iklan namun lebih menekan biaya pengeluaran perusahaan atau penjual. Tentunya dengan endorsement itu sendiri yang berarti pihak perusahaan atau penjual ini memberikan barang kepada beauty vlogger dan kelak produk itu akan dibahas dan diulas terkait dengan baik atau buruknya produk tersebut, kelebihan dan kekurangan produk tersebut.

Tak hanya Michelle Phan sebagai artis beauty vloggers internasional, Indonesia juga memiliki para beauty vloggers terkenal lainnya. Mereka adalah Rachel Goddard dengan total 100.217 subscribers, Sarah Ayu 63.440 subscribers, Stefany Talita Visa dengan 59.937 subscribers. Wanita-wanita ini yang mendapat banyak tawaran wawancara dalam menanggapi fenomena beauty vloggers20, selain itu berbagai tawaran pekerjaanpun datang menghampiri mereka. Belum lagi dengan vloggers sekarang ini seperti menjadi artis di dunia maya yang keberadaannya bisa mumpuni artis sungguhan di dunia nyata.

Gambar 4

Sarah Ayu, Rachel Goddard, Beauty vloggerss Indonesia21

18 Khatri, Puja. 2006. Celebrity Endorsement : A Strategic Promotion Perspective. Apeejay School of Management, Dwarka, New Delhi. hlm. 28.

19 Endorsement adalah sebuah dukungan produk adalah bentuk testimonial dari seseorang yang menunjukkan bahwa mereka suka atau menyetujui suatu produk. Dukungan produk ini dikumpulkan dari orang-orang yang sosial terkemuka, yang memungkinkan perusahaan untuk mengiklankan produk mereka dengan pernyataan seperti "seperti yang digunakan oleh seorang aktris”, "atau" produk resmi perusahaan". Dukungan ini ditujukan untuk memposisikan tanggapan dari orang terkemuka baik suka maupun biasa saja sehingga mereka selalu di mata publik. (Laporan Disertasi, Celebrity Endorsement and Brand Building)

(11)

Sumber : Tangkap Layar www.youtube.com pada tanggal 11/05/16

Perkembangan beauty vlogging di Indonesia sangat pesat. Jumlah vloggers meningkat lima kali lipat dari tahun lalu, semenjak adanya komunitas Indonesian Beauty Vlogger. Konten vlog pun semakin sangat beragam, di mana setiap beauty vloggers memiliki ciri khas masing-masing, keunikan video, dan juga kualitas video yang semakin meningkat. Segmen pasarnya pun semakin luas, karena didukung oleh kualitas internet yang semakin baik. Jumlah penontonnya juga semakin banyak, dan setiap vlogger selalu mendapatkan permintaan dari penonton setia mereka masing-masing. Menurut data dari Nielsen22, sebanyak 67 persen konsumen di seluruh dunia mempercayai review online, sementara hanya 37 persen saja yang percaya media-media konvensional seperti televisi, radio, dan media cetak. Selain dengan kualitas vlog yang dibuat ini semakin baik dan menarik perhatian, ini dapat dikaitkan dengan keberadaan beauty vloggerss dan para remaja kota Jakarta, mereka berada pada posisi yang dekat karena hadirnya peran internet dan YouTube tersebut. Selain itu kebanyakan dari remaja yang telah menjadi mahasiswa menghabiskan waktunya diluar rumah, sehingga tidak ada akses untuk menonton televisi dan mereka lebih dekat pada wifi yang mungkin ada di sekitar kampus, perpustakaan, tempat makan, atau tempat nongkrong. Kedekatan mereka pada akses inilah yang menjadikan YouTube sebagai sarana lain untuk mendapatkan hiburan, salah satunya mengakses saluran beauty vloggers.

Gambar 5

Grafik Kepercayaan Konsumen

(12)

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%

Consumen's Trust's

Consumen's Trusts

Sumber : www.bizjournals.com diakses pada 10/05/2015 pukul 20.55

Fakta lainnya mengenai beauty vloggers ini adalah bahwa mereka yang tergabung atas komunitas-komunitas beauty vlog itu memang sengaja selalu mengadakan acara-acara yang dapat mempertemukan mereka, dengan kesempatan itu mereka memanfaatkannya untuk bertukar ide, memperdalam ilmu kecantikan, belajar untuk membuat video agar lebih menarik, dan belajar untuk menjadi beauty vloggers yang terampil lagi. Mereka berkumpul tanpa perlu khawatir apabila ide mereka atau dicuri dan sebagainya, mereka bersaing dengan cara membuat video yang lebih menarik. Selain itu mereka akan memperlakukan para followers23 mereka dengan cara yang berbeda-beda pula, mereka akan membuat kekhasan pada vlog mereka itu sendiri.

“Gue suka nonton vlog, atau beauty vlogger. Soalnya mereka kayak real mereka, gak dibuat-buat. Walaupun terkadang mereka pake skenario, tapi tetep aja mereka natural banget. Terus kalo buat beauty vlogger gue suka karena ide-idenya unik, juga kadang apa yang dia bawain tuh lagi nge-in banget gitu”24

Gambar 6

Alur Berpikir Beauty Vloggers25

23 Followers adalah sebutan untuk pengikut suatu jejaring sosial

24 Wawancara dengan Pratiwi Ayuningtyas, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Rawamangun, 10/05/16 pukul 10.18 WIB.

(13)

Sumber : Koleksi Penulis pada tanggal 11/05/16

Cara beauty vloggers melihat mode yang sedang berkembang dimasyarakat inilah yang nantinya akan menjadi daya tarik remaja untuk mengunjungi saluran mereka. Maka dari itu, tak dapat dipungkiri lagi bahwa keadaan mereka sangat fundamental dikehidupan remaja sekarang.

“Saya sering nonton vlog-vlog dari beauty vloggers gitu, soalnya tuh enak kan tinggal ketik aja di YouTube trus nanti dapet tuh referensi akun siapa yang mau kita liat, terus juga bisa milih judulnya sama yang sesuai mau kita tonton. Seringnya sih ngesearch sesuatu di YouTube itu ketika mau beli produk kosmetik baru, tapi takut fail jadi mending nonton review-reviewnya dulu di YouTube deh.”26

Berdasarkan wawancara dengan salah satu mahasiswa di atas, dapat dilihat bahwa ternyata beauty vloggers ini membuatnya berpikir bahwa sebelum ia membeli sesuatu ia dapat melihatnya di saluran sang vlogger. Beauty vloggers ini seakan memberikan peran yang besar dalam memutuskan apakah seorang remaja ini akan membeli suatu produk atau tidak. Dapat diandaikan ini seperti cara iklan menginternalisasikan pesan yang ada di dalamnya untuk masuk ke dalam diri seorang yang melihat atau menonton sebuah iklan. Cara kerja ini seperti kebudayaan industri yang akan menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan akses-akses politik. Para remaja ini tidak akan sadar akan pengaruh tanda-tanda yang mereka dapat selain dengan merasakannya secara tidak langsung, yang membuat mereka kerap kali ingin mencoba hal yang beru ditawarkan oleh keadaan “simulasi” tersebut sehingga akan mulai memilih, dan membeli.27

Gambar 7

26 Wawancara dengan Anggita Anjani, mahasiswa UI yang sering mengakses beauty vloggerss. Wawancara pribadi. Cengkareng, 10/05/16 pada pukul 20.33 WIB

27Norris, Trevor. 2004. Jean Baudrillard and Educational Practice. University of Toronto. hlm. 24. Produks

i Vlog

Dikunjungi oleh banyak

M endapatka n taw aran M elihat m ode yang

(14)

Eksistensi Beauty Vloggers

Seperti apa yang diterangkan oleh gambar diatas, ide-ide yang dituangkan oleh para beauty vloggers ini seakan mengemas keinginan remaja pada umumnya dalam suatu kemasan yang begitu menarik dan seperti memverifikasi pernyataan remaja yang menonton seakan berkata bahwa produk tersebut memang pantas untuk dibeli. Kenyataan-kenyataan semu itu datang begitu saja ketika para remaja bisa tertarik dengan tampilan yang diberikan oleh beauty vloggers itu sendiri.

“Pengalaman selama aku di Kazakhtan membuat aku semakin kaya akan pengetahuan tentang kecantikan itu sendiri. Apalagi orang Indonesia itu kulitnya mempunyai banyak jenis, dan penampilannya terdiri dari banyak referensi mode pula. Hal-hal seperti itu yang bikin aku makin leluasa untuk mengeksplore kemampuan berias, ide membuat video, dan memberikan tutorial yang menarik. Saya bangga lahir di Indonesia, kekayaannya benar-benar membuat Indonesia itu sendiri menjadi negara yang kaya akan keindahan.”28

Vlog dari Rachel Goddard itu sendiri yang memaparkan bahwa ide-ide yang ia dapat untuk membuat vlog didapat dari kehidupan sehari-harinya di Kazakhtan, dan ternyata ide-ide tersebut membuatnya digemari oleh remaja-remaja, khususnya kota Jakarta. Ditunjukkan dari komentar-komentar yang diberikan oleh para viewers pada kolom komentar di bawah vieo Rachel Goddard tersebut29. Tentunya dampak yang diberikan oleh Rachel Goddard dan teman-teman beauty vlogger lainnya adalah sama, yaitu membuat penonton dapat menerima apa yang mereka buat, persembahkan, dan apa yang mereka berikan, tak terkecuali pada sesuatu yang negatif yang berada pada mereka. Hal itu seperti menjadi sesuatu yang terbuka saja, tidak menjadi sesuatu yang tabu, dan mereka sangat fair memperlakukan tanggapan-tanggapan negatif. Begitu pula apa yang dibangun pada dasarnya oleh youtube, yaitu selalu menjaga agar angka subscribers sealu meningkat setiap saat30 dimana memang para subscribers inilah yang menjadi pundi-pundi mereka. Maka

28 www.youtube.com/rachelgoddard 29 Ibid.

30 Fred, Stephanie. 2015. Examining Endorsment and Viewership Effects on the Source Credibility of YouTubers. University of South Florida. hlm. 29.

(15)

keterkaitan yang terjadi antara beauty vlogger – remaja kota Jakarta (sebagai viewers) – YouTube memiliki sinkronisasi yang sangat harmonis. Apabila terjadi disfungsi pada salah satu pihak saja, ini pasti akan mempengaruhi “eksistensi” dari salah satu pihak.

Gambar 7

Komentar yang diberikan para viewers untuk Rachel Goddard

Sumber : Layar Tangkap www.youtube.com/rachelgoddard

Maka yang terjadi disini adalah YouTube memberikan fasilitas, dan selalu menawarkan hal-hal positif pada para vlogger dan beauty vlogger. Lalu para beauty vlogger selalu mengoptimalkan performa demi mendapatkan hati setiap remaja dan selalu ditonton berkali-kali atau terus menerus. Tak luput pula dari sisi setiap remaja akan selalu ada yang berkembang, akan selalu berdampingan dengan masalah-masalah baru yang dapat dibahas, atau gejala-gejala sosial yang bisa diangkat menjadi sebuah topik yang sangat menarik bagi para vlogger. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kepuasan konsumen akan selalu menimbulkan efek yang baik pula pada perusahaan, maka dari itu disini akan penggantungan ekspektasi dan harapan dari remaja sebagai viewers tersebut. Untuk itu, menjaga kepercayaan seorang konsumen pada suatu produk/jasa sangat penting dan akan berdampak pada sikap mereka atau perilaku konsumtif mereka31. Ini berlaku pada setiap video yang para vlogger dan beauty vlogger buat, meskipun barang yang mereka review bukan barang-barang yang mahal nilainya, tapi akan berdampak pada perhatian viewers mereka.

Perilaku Konsumtif yang Timbul Akibat Mengakses Saluran YouTube Beauty Vlogger

(16)

Perilaku konsumtif merupakan tindakan seorang membeli suatu barang tanpa adanya pertimbangan yang masuk akal dimana seorang tersebut dalam membeli suatu barang tidak didasarkan pada faktor kebutuhan32. James F. Engel berpendapat bahwa perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengembalian keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut33. Dalam pengambilan keputusan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen. Terdapat dua kekuatan dari faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu kekuatan sosial budaya dan kekuatan psikologis itu mempengaruhi perilaku konsumtif pada konsumen. Aspek ini menunjukkan bahwa seorang remaja berperilaku membeli semata-mata karena didasari oleh hasrat yang tiba-tiba / keinginan sesaat, dilakukan tanpa terlebih dahulu memepertimbangkannya, tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian dan biasanya bersifat emosional.34 Faktor yang mempengaruhi perilaku membeli menurut terdiri dari :

1. Kebudayaan yang terdiri dari : budaya, sub budaya dan kelas sosial. 2. Sosial yang terdiri dari: kelompok acuan, keluarga, peran dan status.

3. Personal yang terdiri dari: usia dan siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri.

4. Psikologi yang terdiri dari: motivasi, persepsi, proses belajar, proses belajar, kepercayaan dan sikap.

Faktor-faktor tersebut tentunya lekat berada dikehidupan remaja. Hal-hal ini nantinya yang akan mempengaruhi bagaimana cara remaja-remaja tersebut berperilaku konsumtif. Seperti yang kita ketahui perilaku konsumtif dapat diartikan sebagai suatu tindakan memakai produk yang tidak tuntas artinya, belum habis sebuah produk yang dipakai seseorang telah menggunakan produk jenis yang sama dari merek lainnya atau dapat disebutkan, membeli barang karena adanya hadiah yang ditawarkan atau membeli suatu produk karena banyak orang memakai barang tersebut. Sebenarnya untuk semua poin itu akan selalu berpengaruh pada perilaku konsumtif seseorang, termasuk dari budaya dari lingkungan yang lekat pada kehidupan seseorang, yang sangat erat hubungan sosialnya dengan keluarga, teman, dan tetangga rumah mereka, juga usia, sampai gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri apa yang mereka pegang teguh dalam kehidupan.

“Menurut gue sih kita beruntung banget, waktu teknologi udah canggih kayak gini pas-pasan sama umur kita yang udah nginjek 19 tahun. Jadi wawasan kita tentang kosmetik,

32 Sumartono. 2002. Terperangkap dalam Iklan : Meneropong Imbas Pesan Iklan Televisi. Bandung: Penerbit Alfabeta.

33 Drs. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara. 1988. Perilaku Konsumen. PT: ERESCO. hlm. 3.

(17)

kecantikan itu gak melulu harus kita tanya ke ibu sendiri. Kadang-kadang gue suka malu, makanya gue bersyukur banget bisa tinggal ketik aja di YouTube apa yang kita cari, trus keluar deh”35

Usia remaja perempuan yang menjadi sasaran penelitian ini adalah masa remaja pertengahan pada perempuan yaitu 15-18 tahun dan pada, sedangkan kriteria masa remaja akhir pada perempuan yaitu 18-21 tahun. Usia ini memegang peranan penting dari dampak dari beauty vlogger ini, karenadi usia ini remaja memang sedang berada di tahap pubertas, termasuk faktor lingkungan dan sosial akan sangat mendukung pula. Melihat faktor-faktor diatas, pada penulisan kali ini faktor ke empat (faktor psikologi) berarti yang masuk mempengaruhi perilaku konsumtif. Motivasi, persepsi, kepercayaan, dan sikap adalah poin-poin yang penulis ambil bahwa poin-poin tersebut secara implisit hadir di setiap vlog yang dibuat oleh para beauty vlogger.

Gambar 8

Respon positif dari viewers

Sumber : Layar Tangkap www.youtube.com/rachelgoddard

Contoh pada video blog yang dibuat oleh Rachel Goddard tentang “Review Lipstick ColorPop”. Pada video ini terdapat motivasi yang diberikan untuk mempercayai review ini, dan persepsi penonton akan dibangun melalui review yang Rachel Goddard berikan. Terbukti pada komentar-komentar atau respon positif dari para penonton yang menyukai review dari Rachel Goddard, tak ketinggalan ada yang merasa puas dengan review yang diberikan karena ia merasa bahwa review tersebut sangat membantunya dalam memilih lipstick yang ia inginkan tentunya juga sedang populer dibicarakan. Mengenai konstruksi pemikiran ini, tak juga banyak yang mengaku bahwa terkadang

(18)

dengan menonton vlog para beauty vlogger ini juga membuat para remaja ini menjadi ingin membeli suatu barang namun tidak dikarenakan itu adalah sebuah kebutuhan, melainkan dikarenakan hal-hal lain. Menurut Sumartono terdapat indikator perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh orang banyak, diantaranya yaitu :

1. Membeli produk karena iming-iming hadiah. 2. Membeli produk karena kemasannya menarik.

3. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi.

4. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya).

5. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status.

6. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan.

7. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.

8. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).

Kesimpulannya adalah perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan memiliki kencenderungan untuk mengkonsumsi sesuatu tanpa batas dimana individu lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan serta ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, pengunaan segala hal yang paling mewah yang memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik. Sedangkan dari kedelapan indikator diatas, banyak remaja yang ternyata melakukan beberapa indikator tersebut.

“Kadang gue suka ngelakuin hal-hal kaya gitu sih. Habis gimana ya, suka laper mata aja gitu. Terkadang emang ngeliatnya kalo dipake orang bagus, cocok, terus keren. Tapi pas udah nyampe barangnya jadi biasa aja, makanya suka gue jual lagi. Jadi cuma buat laper mata aja gitulah”36

Jawaban yang sama juga terjadi pada beberapa narasumber ketika penulis melakukan wawancara tentang apakah review dari para beauty vlogger sering mempengaruhi cara mereka berbelanja atau membeli produk-produk kosmetik / kecantikan lainnya. Ternyata sebagian besar memiliki opini yang sama, yang berarti sebenarnya para beauty vloggers telah sukses menyampaikan pesan yang ingin mereka kirim ke masyarakat luas, juga keinginan mereka untuk membangun

persepsi, memberikan motivasi, meningkatkan kepercayaan, dan membentuk sikap responsif bagi viewers.

Penutup

(19)

Dengan melihat perkembangan yang sangat signifikan dari beauty vlogger tersebut, maka dapat dilihat bahwa hal tersebut juga menimbulkan perilaku konsumtif pada remaja perempuan. Karena beauty vlogger ini menggunakan YouTube sebagai media dan tempatnya mengunggah kreativitas, maka para remaja ini dapat mengakses dan menonton saluran YouTube mereka. Dimana akan ada persepsi yang dibangun ketika mereka menonton vlog mengenai ulasaan suatu produk, komentar suka atau tidak suka, dimana tempat membelinya, dan tentang kepopularitasan produk tersebut. Nantinya hal ini akan mempengaruhi bagaimana simulakra hadir tanpa disadari, memberikan kenyataan yang semu, suatu keindahan atau ketidaksukaan terhadap suatu produk (dan hal semacamnya) yang masuk ke dalam pikiran manusia. Efek dari simulakra tersebut memberikan dampak yang besar sekaligus menyumbang faktor utama dari pola perilaku yang terbentuk pada remaja kota Jakarta ini.

Studi mengenai fenomena perkembangan beauty vlogger dalam penelitian ini mengambil konsentrasi pada remaja perempuan yang gemar mengakses saluran vlog kecantikan. Penonton vlog perempuan ini menjadi subjek penelitian dan YouTube sebagai kanal/saluran yang menjadi sebuah media dari beauty vlogger sebagai objek hingga menghasilkan makna, tindakan, maupun perilaku konsumtif. Sedangkan perilaku mencari informasi ini juga seakan menjadi jembatan akan terciptanya hal diatas. Semua kajian tersebut memiliki andil besar terhadap terbentuknya perilaku konsumtif karena memiliki keterkaitan dan mengandung efek multiplayer dimana akan ada efek ganda dari setiap yang viewes lakukan dan makna yang dihasilkan oleh penonton vlog akan mengarahkan mereka pada tindakan dan respon yang lebih kompleks selanjutnya. Kemudian, setiap hal yang dipaparkan pada penulisan ini ditujukan untuk menjelaskan lebih spesifik kondisi, keadaan, dan posisi beauty vlogger di Indonesia. Beauty vlog tidak jauh berbeda dengan ensiklopedia yang berisi tentang beragam hal mengenai kecantikan. Ulasan dan unggahan mengenai kecantikan benar-benar membantu pengetahuan baik bagi para informan dan pengguna atau pembaca Beauty vlog. Perilaku mencari informasi (information seeking behavior) dan perilaku berbagi informasi (information sharing behavior)37 jelas tergambar dari hasil data dan pembahasan didalam penelitian ini. Para narasumber selain mencari berbagai informasi seputar kecantikan, mereka turut menunjukan perilaku berbagi informasi. Selain itu, mencari informasi tentang kecantikan tidak hanya dilakukan guna memenuhi kebutuhan informasi bagi indvidu yang mencari, namun mencarikan untuk orang-orang yang ada disekitarnya turut salah satu informan lakukan.

Perkembangan beauty vlogger yang meningkat secara signifikan dari tahun 2014 sampai dengan 2016 ini juga mampu mendorong pasar endorsement menjadi lebih besar lagi efeknya pada

(20)

masyarakat. Endorsement selain menjadi salah satu strategi suatu perusahaan atau penjual untuk menjual barangnya, namun juga menjadi peluang para beauty vlogger untuk mendapatkan banyak kelebihan dan keuntungan darinya. Endorsement ini sendiri juga berfungsi sebagai media penghantar pesan yang ingin disampaikan dari suatu perusahaan atau penjual melalui beauty vlogger, sangat mirip dengan cara kerja iklan namun lebih menekan biaya pengeluaran perusahaan atau penjual. Tentunya dengan endorsement itu sendiri yang berarti pihak perusahaan atau penjual ini memberikan barang kepada beauty vlogger dan kelak produk itu akan dibahas dan diulas terkait dengan baik atau buruknya produk tersebut, kelebihan dan kekurangan produk tersebut dan hal itu berarti akan merangsang peningkatan penonton kanal/saluran YouTube tersebut. Hal-hal tadi akan menyumbang atau menjadi faktor-faktor yang paling sering dilakukan oleh seorang remaja ketika sedang ingin membeli sesuatu atau ingin memutuskan suatu pilihan.

Gambar 9

(21)

Sumber : Kesimpulan Penulis (2016)

Secara keseluruhan dari uraian di atas itu menggambarkan bahwa perilaku konsumtif yang di lakukan oleh remaja kota Jakarta ini di pengaruhi oleh faktor-faktor eksternal sebagai pendukungnya. Faktor-faktor tersebut dapat berupa karena iming-iming hadiah, kemasannya menarik, demi menjaga penampilan diri dan gengsi, pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya), karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan, munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, dan ingin mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda). Selain itu faktor psikologi juga sangat mempengaruhi pula dimana motivasi, persepsi, kepercayaan dan sikap akan terbentuk akibat faktor psikologi tersebut tersentuh oleh tangan-tangan semu simulakra yang diberikan oleh beauty vlogger beserta efek-efek ganda lainnya. Sehingga fenomena perkembangan beauty vlogger ini menjadi suatu fenomena yang besar mempengaruhi perilaku konsumtif remaja kota Jakarta.

(22)

De-hsin Chia. 2010. A Study on Female Blog Reader’s Attitude toward eWOM and Buzz Marketing in Beauty Blogs. Thesis. International Master’s Program Journal. National Chengchi University.

Drs. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara. 1988. Perilaku Konsumen. PT: ERESCO

Dwi Astuti, Endang. 2013. Perilaku Konsumtif Dalam Membeli Barang pada Ibu Rumah Tangga di Kota Samarinda. Jurnal Psikologi. Universitas Mulawarman.

Educause. 2005. 7 Things You Should Now About Videoblogging. Educause Learning Initiative

Fitria, Ika. 2014. Konsep Diri Remaja Putri Dalam Menghadapi Menarche. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Diakses pada 11/05/16 pukul 07.02 WIB

Fred, Stephanie. 2015. Examining Endorsement and Viewership Effects on the Source Credibility of YouTubers. Thesis. University of South Florida.

Khatri, Puja. 2006. Celebrity Endorsement : A Strategic Promotion Perspective. Disertasi. Apeejay School of Management, Dwarka, New Delhi.

Laursen, Lone. 2014. A Study of the YouTube Beauty Community. Thesis. Bachelor of Arts in Marketing and Management Communication’s Journal. Aarhus University.

Lina & Rasyid, H.F. 1997. Perilaku Konsumtif Berdasarkan Locus of Control pada Remaja Putra. Jurnal Psikologika.

Norris, Trevor. 2004. Jean Baudrillard and Educational Practice. University of Toronto.

Piyush. Celebrity Endorsement and Brand Building. Dissertation Report.

Qodaril Thohiroh, Anisa. 2015. Perlaku Konsumtif Melalui Online Shopping Fashion Pada Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. Surakarta : Universitas Muhammadyah Surakarta.

Ralli Georgia, Androulaki. 2015. The Leading Role of Influencers in the YouTube Beauty Community. Thesis. Linnaeus University, Swedia.

Rosandi, Andika Filona. 2004. Perbedaan Perilaku Konsumtif Antara Mahasiswa Pria dan Wanita di Universitas Katolik Atma Jaya. Skripsi. Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya.

(23)

Sumartono. 2002. Terperangkap dalam Iklan : Meneropong Imbas Pesan Iklan Televisi. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sumber Lainnya

S, Soraya. 2010. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17462/4/Chapter%20II.pdf diakses pada 11/05/16 pada pukul 07.58 WIB

www.fimela.com/beauty-health/exclusive-interview-michelle-phan-cinta-makeup-sejak-usia-5-tahun-1208160-page1.html diakses pada 09/05/2016 pukul 22.26 WIB

www.merdeka.com/gaya/yuk-intip-isi-pundi-pundi-para-beauty-vlogger-sukses/carlibel55.html diakses pada 09/05/2016 pukul 21.38 WIB

www.tekno.kompas.com/read/2016/02/08/19580047/Semua.Bisa.Ngetop.di.YouTube diakses pada 09/05/2016 pukul 22.50 WIB

www.

wwd.com/beauty-industry-news/beauty-features/cracking-the-code-of-beauty-vloggers-authenticity-8093143/ diakses pada 05/05/16 pukul 10.44 WIB

www.youtube.com/SarahAyu diakses pada 09/05/2016 pukul 22.31 WIB

www.youtube.com/StephaniA diakses pada 09/05/2016 pukul 22.48 WIB

Gambar

Gambar 1
Gambar 5Grafik Kepercayaan Konsumen
Gambar 7
Gambar 8

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi dari guru Bimbingan konseling dan buku kasus disekolah yang akan diteliti tersebut dapat dilihat dari berbagai masalah yang di hadapi remaja masa

Substansi yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan pertanian menjadi perumahan dilihat dari faktor

Namun, masalah yang akan dibahas dalam penelitian Fenomena Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja Pengguna Twitter (Studi Interaksionisme Simbolik) ini fokus pada

Berdasarkan informasi dari guru Bimbingan konseling dan buku kasus disekolah yang akan diteliti tersebut dapat dilihat dari berbagai masalah yang di hadapi remaja masa

Perkembangan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di Indonesia Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) merupakan instrumen penting dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Perkembangan AMDAL di Indonesia dapat dilihat dari berbagai tahapan, mulai dari tidak adanya peraturan, hingga dilengkapi dan dikembangkan dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Cipta Kerja. Pada awalnya, tidak ada peraturan khusus yang mengatur tentang AMDAL. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan, pemerintah mulai melihat kebutuhan untuk memiliki instrumen yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi dampak potensial suatu kegiatan terhadap lingkungan. Seiring berjalannya waktu, peraturan tentang AMDAL semakin dilengkapi dan dikembangkan. Hal ini tercermin dalam berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk Undang-Undang Cipta Kerja. Undang-Undang ini memberikan penekanan khusus pada pentingnya AMDAL dalam proses perizinan usaha. Perkembangan ini menggambarkan adanya keperluan perubahan sesuai situasi ekonomi dan politik pembuat undang-undang. Dalam konteks ekonomi, AMDAL dianggap sebagai instrumen yang dapat membantu mencapai pembangunan berkelanjutan, dengan memastikan bahwa dampak lingkungan dari suatu kegiatan usaha dapat diidentifikasi dan dikelola dengan baik. Sementara itu, dalam konteks politik, AMDAL menjadi alat bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmennya dalam perlindungan lingkungan. Dengan adanya AMDAL, pemerintah dapat memastikan bahwa setiap kegiatan usaha yang dilakukan tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan demikian, perkembangan AMDAL di Indonesia mencerminkan dinamika dan perubahan yang terjadi dalam konteks ekonomi dan politik di negara ini. Melalui AMDAL, kita dapat melihat bagaimana pemerintah berusaha untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan