BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ilmu Sejarah merupakan disiplin ilmu yang membahas segala kejadian yang terjadi
pada masa lampau yang berhubungan dengan kegiatan manusia. Dengan mencatat dan
merekonstruksi ulang setiap kegiatan yang di lakukan manusia pada masa lampau, maka
sejarah mampu mengurai peristiwa kekinian untuk memberi gambaran umum masa depan.
Dalam merekonstruksi kembali peristiwa masa lampau, segala kegiatan yang di lakukan
manusia, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, agama, termasuk segala sesuatu yang
memberikan maupun membentuk nilai dalam kemasyarakatan, mampu menjadi petunjuk
tentang bagaimana masa depan yang mungkin terjadi.
Proses sejarah menjadi sesuatu yang kompleks, sebab terjadi interaksi dari berbagai
unsur yang saling mempengaruhi dan saling ketergantungan diantara unsur- unsur tersebut.
Dalam memahami suatu proses sejarah, penelitian dan penulisan sejarah merupakan usaha
untuk merekonstruksi ataupun menulis kembali peristiwa sejarah dan menyusunnya menjadi
sebuah historiografi yang lengkap. Historiografi tidak hanya sekedar usaha penyuntingan
ulang sebuah kisah lampau. Agar menjadi sebuah disiplin ilmu, historiografi harus
berkembang dengan menggunakan metode dan pendekatan ilmu- ilmu sosial. Sebab dengan
menggunakan pendekatan ilmu sosial ruang lingkup sejarah tidak lagi dibatasi oleh
pertanyaan tentang proses, tapi juga berbicara tentang struktur. Sejarah yang semula bersifat
kisah yang hanya membahas deskriptif dan diakronik mulai menuju ke arah tulisan yang
analitis dan sikronis. Dari berbagai tema penulisan sejarah, tema tentang sejarah sosial
dan berbagai aktifitasnya sebagai bahan kajian baik peristiwa yang bersifat lokal maupun
nasional.
Sosial sebagai bidang kajian terluas dan paling beragam memberi historiografi ruang
untuk mengkaji berbagai peristiwa dalam sejarah sebagai materi kajiannya. Sejarah yang
bersifat kontemporer membuka celah bagi sejarah untuk mengupas dan membahas berbagai
peristiwa kekinian yang memenuhi syarat- syarat penulisan sejarah. Isu gender yang semakin
berkembang dewasa ini, merupakan salah satu kajian yang menarik bagi historiografi
menurut sudut pandang sejarah terjadinya. Berkembangnya isu gender tentang persamaan hak
antara laki- laki dan perempuan, isu tentang SARA, isu yang berkaitan dengan diskriminasi
kelompok minoritas seperti LGBT merupakan peristiwa yang menuai kontroversi dari
berbagai sudut pandang termasuk sejarah.
Di tengah masyarakat Indonesia yang mengenal dan mengakui dua jenis gender
(kontruksi sosial bentukan masyarakat yang membedakan antara jenis kelamin laki- laki dan
perempuan), maka keberadaan transgender (seseorang yang mempunyai sifat dan sikap yang
tidak sesuai dengan gendernya) yaitu waria menjadi momok yang menakutkan bagi
masyarakat mapan yang mengetengahkan ajaran agama sebagai pedoman hidup. Masyarakat
pada umumnya merasa terancam dengan keberadaan waria sebab takut tertimpa hukuman
akibat dosa yang dilakukan oleh waria karena dianggap melakukan penyimpangan kodrat.
Hal ini cenderung memicu perlakuan kasar dan semena- mena dari masyarakat sebagai usaha
untuk menyadarkan kaum waria dari penyimpangannya. Masyarakat percaya bahwa
kekerasan akan mendorong waria untuk bertobat dari kewariaannya. Kurangnya pengetahuan
dan kesadaran masyarakat akan fakta- fakta yang berkenaan dengan waria membuat
masyarakat menilai positif tindakan kekerasan yang mereka lakukan sehingga menghilangkan
Kecurigaan berlebihan yang timbul akibat keberadaan waria, disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang waria. Paradigma (kerangka berfikir) yang
berkembang ialah waria sebagai penyakit yang bisa menular, sehingga masyarakat takut
untuk mendekati apalagi bergaul dengan waria, bahkan untuk bertetangga dengan mereka
karena ajaran agama yang dianut secara umum, mengajarkan bahwa penyimpangan kodrat
adalah dosa. Sulitnya mencari pekerjaan merupakan hal biasa yang dialami waria, sehingga
banyak waria yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), agar bisa bertahan hidup.
Mereka hampir tidak memiliki alternatif pilihan pekerjaan akibat steriotip (konsepsi tentang
suatu kelompok yang didasarkan pada prasangka yang subyektif dan tidak tepat) yang ada di
masyarakat.
Kekerasan, kesulitan dalam pekerjaan, dan ketidakpedulian masyarakat menambah
daftar panjang hal negatif menyangkut waria. Di tambah lagi tidak adanya tanggapan
positif-negatif mengenai keberadaan waria dari pemerintah. Tidak adanya usaha perlindungan
terhadap hak waria dan kurang ditekankannya kewajiban bagi masyarakat umum terhadap
waria, menimbulkan kesulitan yang sangat banyak bagi waria. Waria yang mengalami
penganiayaan dan tindak kekerasan kurang dipedulikan dan kesehatan mereka sangat tidak
diperhatikan, akibat dari stigmatisasi (proses indentitas sosial yang hilang sehingga
disingkirkan dari pergaulan) dan steriotip yang cenderung mengabaikan penderitaan mereka
dan menganggap hal itu sebagai bentuk hukuman dari jalan hidup yang mereka pilih sendiri.
Menilik usaha dan kerja keras waria untuk dapat diterima di tengah keluarga dan
masyarakat. Serta perjuangan mereka dalam menentukan jati diri, eksistensi dan penerimaan
mereka terhadap penolakan yang di lakukan masyarakat, mendorong penulis untuk
mengungkap sisi lain dari waria di luar konsep yang secara umum tertanam dalam benak
Melihat kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa waria membutuhkan dampingan
dan dukungan untuk mampu mandiri di dalam bermasyarakat, menjadi motivasi untuk
meneliti dan melakukan penulisan yang bersifat ilmiah tentang komunitas- komunitas yang di
bangun untuk melindungi dan menolong waria dari tindakan diskriminasi. Masa di mana
militer memegang peran penting, sehingga kekerasan sering digunakan untuk mengendalikan
situasi dan keamanan.
Pentingnya sosialisasi tentang bahaya dari penyakit HIV/ AIDS dan membantu
mereka yang terinfeksi dalam menghadapi penyakit tersebut, mendorong di bangunnya satu
lembaga khusus yang mengfokuskan diri untuk membantu para waria dalam mengatasi
masalah tersebut. Kurangnya pemahaman waria sendiri akan peliknya masalah ini,
menjadikan masalah kesehatan akibat seks bebas menjadi fokus utama yang menjadi
perhatian lembaga tersebut.
Hal ini yang menginspirasi dan mendorong penulis untuk menulis tentang “
Berdirinya Yayasan Srikandi Sejati di Jakarta 1998 ” yang merupakan organisasi berbentuk
yayasan pertama di Indonesia yang mendapat legalitas (keabsahan) dari pemerintah untuk
mewadahi dan menampung aspirasi waria bukan hanya di Jakarta tetapi juga di Indonesia.
Melalui Yayasan Srikandi Sejati (YSS), waria mendapat pengetahuan lebih terutama di
bidang kesehatan mengenai HIV/ AIDS, dan mendapat bantuan kesehatan. Juga mendapat
banyak penyuluhan dan pelatihan keterampilan kerja. Serta menyelenggarakan pertunjukan
kesenian dalam rangka pengumpulan dana untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.
Berdasarkan S.K. Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. : M- 135 – HT. 03.05 – Th.
1986 tgl. 9 – 12 – 1986.
Semua usaha ini dilakukan untuk membangun kepercayaan masyarakat bahwa waria
dalam diri waria bahwa mereka memiliki wadah inspirasi yang akan menolong dan
memberikan masukan untuk hal- hal yang kurang mereka pahami terutama di bidang
kesehatan. Seperti pencegahan penyakit tertentu dan bagaimana mengatasinya.
Yayasan Srikandi Sejati mencoba memberi dampingan berwirausaha bagi para waria
agar mereka memiliki keterampilan khusus, sehingga mampu bekerja di sektor informal,
seperti membuka salon atau berjualan jamu. Juga mengadakan kegiatan yang bersifat
keagamaan, seperti merayakan lebaran atau natal bersama. YSS juga mengadakan seminar-
seminar sosialisasi mengenai HIV/AIDS, bahaya dan pencegahannya. Di samping itu mereka
juga mengadakan dampingan di lapangan untuk mengetahui kebutuhan dan memberi
informasi kabar terkini seputar komunitas mereka. Mereka juga berusaha memberikan
bantuan hukum atau menuntut keadilan bagi waria yang mengalami diskriminasi.
Semakin besarnya peluang bagi waria untuk mengekspresikan diri dengan cara yang
positif dan adanya dukungan dari keluarga, masyarakat serta kesempatan yang muncul sejak
era reformasi membuka jalan bagi waria untuk membentuk organisasi yang di bentuk dan
diperuntukan untuk mengorganisir kebutuhan mereka berorganisasi dan membentuk
kelompok yang mampu menyatukan mereka. Melindungi dan mewadahi tiap kebutuhan
mereka terutama bidang kesehatan.
2. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan penulisan dalam upaya melakukan penelitian yang objektif, maka
pembahasannya difokuskan pada masalah-masalah berikut :
1. Bagaimana latar belakang berdirinya Yayasan Srikandi Sejati?
3. Bagaimana sistem pengelolaan Yayasan Srikandi Sejati?
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Mengetahui apa yang menjadi permasalahan yang akan dikaji oleh penulis maka
yang menjadi kajian permasalahan adalah tujuan penulis dalam penelitian ini, serta manfaat
yang didapatkan dari hasil penulisan.
Tujuan penulisan ini adalah:
1. Mengetahui latar belakang Yayasan Srikandi Sejati didirikan.
2. Memaparkan alasan- alasan pentingnya keberadaan Yayasan Srikandi Sejati bagi
para waria di Jakarta maupun Indonesia secara umum.
3. Menunjukkan perubahan yang muncul sejak Yayasan Srikandi Sejati didirikan
baik bagi waria secara khusus atau masyarakat secara umum.
Adapun manfaat penulisan tersebut ialah:
1. Menambah literatur bagi penulis maupun pembaca tentang Organisasi atau LSM yang
bergerak di bidang kemanusiaan terutama yang menaungi kaum marjinal misalnya
waria,
2. Dapat dijadikan bahan reverensi untuk penulisan selanjutnya mengenai waria dalam
penulisan sejarah ataupun penulisan lainnya yang berhubungan,
3. Menambah pengetahuan masyarakat tentang kaum marjinal dan membuka wawasan
4. Tinjauan Pustaka
Untuk mendukung penulisan tersebut terdapat beberapa buku yang dapat dijadikan acuan
yaitu:
Buku karangan Zunly Nadia yang berjudul Waria Laknat atau Kodrat yang
memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan agama terutama agama Islam selaku
agama mayoritas yang dianut rakyat Indonesia tentang waria. Dalam buku ini dijelaskan
mengenai beberapa penyimpangan seksual, berbagai pandangan tentang waria, ruang sosial
waria dan waria dalam lintasan sejarah.
Juga tentang hadis dan fikih mengenai waria dan peraturan bagi waria dalam Islam
baik dalam hukum dan pengadilan maupun soal hak warisan. Secara tidak langsung buku ini
menunjukan masalah waria sudah ada bahkan sejak jaman nabi, dan bahwa ada peraturan
yang bersikap lebih toleran terhadap keberadaan waria melalui hadis dan fikih.
Waria di dalam kitab fikih disebut khuntsa.1 Khuntsa juga berarti seseorang yang
diragukan jenis kelaminnya, apakah laki- laki atau perempuan, karena memiliki alat kelamin
laki- laki dan perempuan secara bersamaan atau pun tidak memiliki alat kelamin sama sekali,
baik alat kelamin laki- laki maupun perempuan.2 Di terangkan bahwa dalam hal warisan
maupun pengadilan seorang khuntsa memiliki hak dan kewajiban yang berbeda dari seorang
pria ataupun wanita. Dengan demikian, selama hukum fikih masih mengacu pada hal- hal
yang lahir ( aspek jasmani), maka untuk kasus waria- transeksual, waria- transvestisme
sampai saat ini masih belum ada kejelasan hukum.3
1
Zunly Nadia, Waria Laknat atau Kodrat, (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2005) hlm. 80
2Ibid
., hlm 81
Dengan adanya pembakuan hukum
dalam kitab- kitab fikih secara otomatis masalah waria menjadi semakin kompleks pada masa
dan acuan yang menjadi representasi dari hukum Tuhan yang baku, dimana posisi fikih
seolah sejajar dengan Al- Qur’an itu sendiri. Sedemikian besar pengaruh fikih dalam
konstruksi masyarakat sehingga tanpa adanya rekonstruksi fikih pemahaman masyarakat
terhadap realitas sosial yang ada pada saat ini akan tetap parsial karena mengabaikan konteks
yang melingkupinya.4
Ariyanto dan Rido Triawan dalam bukunya Hak Kerja Waria : Tanggung Jawab
Negara memaparkan tentang fakta- fakta kehidupan yang dialami waria di Indonesia,
terutama tentang sikap keluarga dan lingkungan terhadap mereka. Banyak kekerasan fisik
maupun verbal yang di alami waria sejak mereka menyatakan diri sendiri sebagai perempuan.
Juga dalam perihal pekerjaan mereka mengalami diskriminasi. Dari semua waria yang
terpaksa harus mencari dan menemukan cara untuk menghidupi dirinya di sektor informal di
pinggir- pinggir jalan sebagai PSK, sulit dibantah hal itu disebabkan karena perlakuan
diskriminatif dan intoleran yang terus bertahan dalam aparatur negara negara maupun
perusahaan- perusahaan negara dan swasta.
5
Ariyanto dan Rido Triawan dalam bukunya yang lain yang berjudul Jadi, Kau Tak
Merasa Bersalah mengupas secara mendalam mengenai kebijakan yang diskriminatif,
perkembangan Internasional mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan
Interseksual (LGBTI), dan pemahaman tentang diskriminasi. Dalam buku ini juga pembaca
bisa melihat contoh kasus kekerasaan yang di alami oleh waria yang terjadi di Indonesia di
tengah masyarakat kita yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).
Ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib kelompok LGBTI, membuat kelompok LGBTI
rentan terhadap diskriminasi dan pelecehan serta pelanggaran Hak Asasi Manusia. Undang-
undang yang berlaku di negara belum ada yang sepenuhnya memihak pada kepentingan
4
kelompok minoritas. Pembedaan berdasarkan gender masih sering terjadi bukan hanya
terhadap para wanita tetapi juga waria. Waria seringkali menjadi pihak yang dipersalahkan
dan diperlakukan tidak adil, sedangkan aparatur penegak hukum seakan tidak peduli dan
tidak mau tahu terhadap nasib kaum minoritas termasuk waria.
Kasus- kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dialami kaum minoritas seperti
Waria seringkali diabaikan bahkan tidak diproses. Kaum LGBTI seringkali diperlakukan
dengan kasar dan semena- mena seperti seorang penjahat. Tidak jarang, kaum minoritas
tersebut dijadikan kambing hitam dan mereka kesulitan mendapatkan bantuan hukum. Usaha-
usaha yang dikalukan guna mendapatkan keadilan justru mendapat hambatan dan tidak
dipedulikan.
5. Metode Penelitian
Dalam melakukan penulisan sejarah yang deskriptif analitis harus melalui langkah-
langkah tertentu. Langkah pertama heuristik (pengumpulan sumber) yang sesuai dan
mendukung sumber objek yang diteliti. Penelitian kepustakaan dengan menggunakan
beberapa buku, majalah, artikel-artikel, skripsi dan karya tulis yang pernah ditulis
sebelumnya berkaitan dengan judul yang dikaji. Lalu penelitian lapangan dilakukan dengan
menggunakan metode wawancara terhadap pimpinan sekaligus pendiri Yayasan Srikandi
Sejati yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penulisan ini.
Langkah kedua yang dilakukan adalah kritik. Dalam tahapan ini kritik dilakukan
terhadap sumber yang telah dikumpulkan untuk mencari keabsahan sumber tersebut dari segi
isi yaitu dengan cara menganalisis sejumlah sumber tertulis misalnya buku-buku atau
Mengkritik dari segi materinya untuk mengetahui asli- tidaknya sumber tersebut agar
autentik sifatnya, kritik ini disebut kritik ekstern.
Langkah ketiga adalah interpretasi, di sini data yang diperoleh dianalisis kembali
sehingga menjadi satu analisis baru yang bersifat lebih objektif dan ilmiah. Pada tahap ini
subjektivitas penulis harus dihilangkan, paling tidak dikurangi agar analisis menjadi lebih
akurat.
Langkah terakhir adalah historiografi, yakni menyusun kembali kesaksian yang dapat
dipercaya menjadi satu kisah atau kajian yang menarik namun akurat dan berusaha
mengetengahkan aspek kronologisnya. Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah
deskriptif analitis. Yaitu dengan menganalisis setiap data dan fakta yang ada untuk
memperoleh penulisan sejarah yang kritis dan ilmiah.
Dalam fase heuristik, selain mengumpulkan bahan-bahan seperti telah dipaparkan di
atas, juga digunakan ”ilmu-ilmu bantu” yang relevan dengan fokus penelitian. Ilmu bantu
mempunyai fungsi yang esensial yang digunakan para sejarawan untuk mendukung penelitian
dan penulisan sejarah sebagai suatu karya ilmiah. Ilmu bantu tersebut dalam ilmu-ilmu sosial
seperti sosiologi, psikologi, antropologi, politikologi, ekonomi, dan lain sebagainya.
Konsep-konsep dari ilmu sosial membantu atau menjadi alat (tools) untuk kajian sejarah yang
analitis-kritis ilmiah.6
Pendekatan interdisiplin atau multidimensional yang memberikan karakteristik
“ilmiah” kepada sejarah. Penggunaan berbagai konsep disiplin ilmu sosial lain ini
memungkinkan suatu masalah dapat ditinjau dari berbagai dimensi sehingga pemahaman
tentang masalah itu, baik keluasaan maupun kedalamannya, akan semakin jelas.7