ANALISIS BERBAGAI INDEKS KEANEKARAGAMAN (DIVERSITAS)
TUMBUHAN DI BEBERAPA UKURAN PETAK CONTOH PENGAMATAN
Mariana S. Moy (E351120131), Novriyanti (E351120061), Rudi Hermawan (E351120181), Siva Devi Azahra (E351124031)
Mahasiswa Pascasarjana, Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
PENDAHULUAN
Keanekaragaman hayati spesies diamati dengan berbagai macam teknik analisis. Ada banyak panduan yang dapat menuntun interpretasi hasil analisis sesuai dengan metode atau indeks keanekaragaman, kekayaan yang digunakan (lihat juga Smith & van Belle (1984) dan Magurran (1988)). Masing-masing indeks memiliki sensitivitas tersendiri bergantung pada metode teknis yang digunakan oleh penemu indeks tersebut.
Indeks keanekaragaman didekati melalui pendekatan kekayaan jenis (species richness) dan kelimpahan jenis (species abudance)1. Kekayaan jenis ditentukan oleh banyaknya jumlah spesies di dalam suatu komunitas dimana semakin banyak jenis yang teridentifikasi maka kekayaan spesiesnya pun tinggi. Kelimpahan spesies adalah jumlah individu dari tiap spesies. Kajian kelimpahan spesies dapat juga diteruskan pada kajian kemerataan spesies dimana kajian ini menujukkan kelimpahan spesies yang tersebar antar spesies tersebut. Semakin merata jumlah individu masing-masing spesies ditemukan di berbagai tempat, maka semakin merata dan melimpah spesies tersebut.
Tulisan ini mencoba untuk mengulas dan menganalisis kekayaan dan kelimpahan spesies dari beberapa tipe petak contoh pengamatan dengan menggunakan beberapa tipe indeks keanekaragaman dan menganalisis kepekaan dari indeks yang digunakan.
METODE ANALISIS
Ukuran petak contoh yang akan dianalisis yaitu 10 x 10 m2, 20 x 20 m2, 30 x 30 m2, 40 x 40 m2, 50 x 50 m2, dan 60 x 60 m2. Data jenis tumbuhan di masing-masing petak contoh yang akan dianalisis disajikan dalam Tabel 1. Tingkat keanekaragaman spesies dari data tersebut (Tabel 1) akan diolah dalam kurva minimum spesies dan
1 Magurran menggunakan istilah ini, dimana awalnya dipakai heterogeneity namun oleh Maguran diganti menjadi species abundance.
juga dari data yang sama akan dianalisis dengan menggunakan beberapa metode dan/atau indeks berikut:
A. Penentuan Kurva Minimum Species Area
Kegiatan penilaian keanekaragaman
tumbuhan seringkali berbenturan dengan seberapa banyak dan besar ukuran petak contoh yang digunakan. Jenis tumbuhan tidak akan bertambah pada kondisi hutan yang sedikit homogen
sedangkan pada hutan yang heterogen
pertambahan jumlah jenis mengikuti ukuran petak. Semakin besar ukuran petak, maka dugaan bertambahnya jumlah jenis baru semakin besar.
Dugaan pertambahan jumlah jenis yang sebanding dengan besarnya ukuran petak dapat memperkecil efektivitas penghitungan dan penilaian. Dengan demikian, kemudian muncul asumsi bahwa pertambahan jumlah jenis akan kembali stabil sehingga tidak perlu penambahan ukuran petak pengamatan. Penentuan petak minimal untuk mendapatkan hasil tersebut digunakan metode Kurva Minimum Spesies Area.
B. Indeks Keanekaragaman/ Kelimpahan
Spesies (Heterogenity)
Terdapat beberapa indeks yang biasa digunakan untuk menilai tingkat keanekaragaman jenis (tumbuhan atau hewan) di suatu tempat. Berikut formulasi masing-masing indeks:
1. Indeks Shannon-Wiener
�′= − ∑ � ��� �� �
�= Keterangan:
N: Total individu dari seluruh spesies, ni: Banyaknya individu pada spesies ke-i
Indeks Shannon yang dinyatakan dalam jumlah jenis:
Tabel 1 Hasil Pengukuran Jenis Tumbuhan di Berbagai Ukuran Pengamatan
No Spesies
Jumlah individu per Ukuran petak (m2)
Jumlah 10 x 10 20 x 20 30 x 30 40 x 40 50 x 50 60 x 60
Jumlah Spesies Unik*
1 Altingia excelsa 3 3 6
2 Intsia bijuga 2 2
3 Cungit-1 1 1 1 3
4 Vitex coffasus 1 1 1 1 1 1 6
5 Cungit-2 1 1 1 1 4
6 Shorea siminis 1 1 1 1 1 5
7 Cungit-3 1 2 3
8 Cungit-4 1 1 1 1 4
9 Maesopsis eminii 2 3 6 8 10 13 42
10 Meranti sp3 1 1 1 1 4
11 Dipterocarpus sp 1 1 2
12 Meranti sp1 1 1 1 1 1 5
13 Scorodocarpus borneensis 1 1 1 1 4
14 Cungit-5 1 1 1 1 1 5
15 Lucuma sp 1 1 2
16 Cungit-6 2 2 2 6
17 Cungit-7 1 1 1 1 1 1 6
18 Schima wallichi 1 1 2 2 6
19 Cungit-8 1 1 1 1 1 1 6
20 Cerbera manghas 1 1 1 3
21 Terminalia catappa 2 1 1 4
22 Pinus merkusii 1 1 1 2 2 7
23 Macaranga sp 1 1 1 1 1 1 6
24 Agathis dammara 1 1 1 1 1 1 6
25 Tectona grandis 1 1 1 3
26 Ceiba pentandra 1 1 1 1 1 1 6
27 Meranti sp4 1 1 1 1 1 5
28 Cananga odorata 3 4 7
29 Gmelina arborea 1 1 1 1 1 1 6
30 Shorea pinanga 1 1 1 1 1 5
31 Shorea stenoptera 1 2 2 2 7
32 Ficus ribes 2 3 5
33 Pometia pinnata 3 4 7
34 Maniltoa grandiflora 2 2
35 Cungit-9 1 2 4 7
36 Lagerstomea/Bungur 1 2 3
Jumlah Individu (N) 9 16 25 36 55 69 210 Jumlah Spesies (S) 8 14 20 26 34 36 2
2. Indeks Simpson
= ∑ ��
Nilai Pi diperoleh dengan menggunakan rumus: �� =���
Keterangan:
N : Total individu dari seluruh spesies ni : Banyaknya individu pada spesies ke-i
3. Indeks Brillouin
�� =ln �! − ∑ ln �� �! Keterangan:
N : Total individu dari seluruh spesies, ni : Banyaknya individu pada spesies ke-i
C. Indeks Kekayaan Spesies (Species
Richness)
Indeks kekayaan jenis ini terdiri dari :
1. Indeks Hulbert (Rarefaction)
Indeks Hulbert digunakan untuk mengetahui kekayaan spesies di suatu habitat berdasarkan jumlah kelimpahan individu terkecil. Index Hulbert dihitung dengan rumus:
E Sn = ∑ [ −
N − Ni
n N n
]
S
i−
Keterangan:
E(Sn) = nilai harapan jumlah spesies N = jumlah total individu teramati Ni = jumlah individu jenis ke-i
n = ukuran sample yang distandardkan (jumlah N terkecil)
2. Indeks Margalef
DMg Margalef =� −ln � Keterangan:
N : Total individu dari seluruh spesies yang tercatat,
S : Banyaknya spesies
3. Indeks Menhinick
DMn Menhinick = � √� Keterangan:
S : jumlah spesies yang terhitung di dalam plot contoh
N : Jumlah individu keseluruhan
4. Indeks JackKnife
Indeks Jackknife merupakan formulasi yang menunjukkan kekayaan suatu jenis tumbuhan di tempat tertentu. Jn(S) menurut Smith and van Belle (1984) sebagai berikut:
Jn S = + � −� ∑ � �
�=
Keragaman Pendugaan IJ dihitungdengan: Var S =�−
� ∑��= �−�∑��= �
Keterangan:
S0 : jumlah total spesies teramati yang terdapat dalam kuadrat
ri: Jumlah spesies yang hanya ditemukan di plot ke-i
n : jumlah plot
Pendugaan selang Jn (S) dicari dengan: S ± �⁄ ; n-1 √var s
D. Indeks Kemerataan Jenis (Species
Eveness)
=��′ ���=
�′ ln � =
�� � ln �
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kurva
Minimum Species AreaGambar 1 Pertambahan Jumlah Jenis di Masing-masing Plot Pengamatan
Gambar 1 juga menunjukkan pertambahan jumlah jenis tersebut pada akhirnya akan berkurang dan mencapai garis datar. Dengan kata lain pertambahan yang terjadi tidak terlalu signifikan. Saat kurva menunjukkan garis yang hampir mendatar, kegiatan penghitungan sebaiknya dihentikan sebab hasil yang diperoleh akan mendekati atau bahkan telah mencapai jumlah jenis maksimum. Jika jumlah jenis yang diidetifikasi telah mencapai jumlah maksimum maka tidak akan diperoleh lagi pertambahan jenis yang berarti. Dalam kajian ini, ukuran petak 60 x 60 m2 sudah termasuk petak optimal di dalam teori Kurva Minimum Spesies Area.
Indeks-indeks
Keanekaragaman/Kelimpahan Jenis
(Heterogenity)
1. Shannon-Wienner
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
tertinggi terjadi pada petak pada petak 50x50 sebesar 3,258 dan terendah pada petak 10x10 sebesar 2,043. Magurran (1988) menjelaskan bahwa nilai indeks keanekaragaan (H') ini berhubungan dengan kekayaan spesies pada lokasi tertentu, tetapi juga dipengaruhi oleh distribusi kelimpahan spesies. Jika diasumsikan distribusi menyebar normal, maka pada kisaran 100 spesies akan didapatkan nilai H' ≈ 3, dan untuk mendapatkan H' > 5 diperlukan 105 spesies. Berdasarkan Wilhm & Dorris (1968) dalam Masson (1981) bahwa nilai H' ≤ 1 termasuk
keanekaragaman rendah dan nilai 1≤ H' ≤ 3
termasuk keanekaragaman sedang dan kestabilan komunitas sedang. Berdasarkan interpretasi
tersebut, dapat pula dikatakan bahwa
keanekaragaman pada petak 10x10, 20x20, 30x30
dan 40x40 tergolong sedang. Implikasinya di dalam konservasi keanekaragaman hayati ialah indeks ini cukup peka untuk menduga dan menggambarkan keanekaragaman spesies di suatu tempat. Kendati perubahan pertambahan ukuran petak tidak signifikan terhadap pertambahan keanekaragaman spesies.
2. Indeks Shimpson
Indeks Simpson digunakan untuk
menunjukkan proporsi individu di dalam spesies (Magurran 1988). Di dalam teori dasarnya, D
(Simpson’s Index) menginginkan adanya
peningkatan keanekaragaman setiap kenaikan ukuran petak. Dalam hal ini, peningkatan yang dimaksud dibantu dengan peningkatan dan pemerataan individu spesies-spesies yang diukur. Tabel 2 merupakan hasil perhitungan Indeks
Simpson pada beberapa ukuran petak
pengamatan.
Tabel 2 Hasil indeks Simpson pada beberapa petak pengamatan
Petak Indeks Simpson
(kenaikan Diversitas)
Penurunan Diversitas
10 x 10 0,061 0.939
20 x 20 0,058 0.942
30 x 30 0,076 0.924
40 x 40 0,088 0.912
50 x 50 0,086 0.914
60 x 60 0,136 0.864
Tabel 2 menunjukkan bahwa kenaikan nilai D tidak signifikan sehingga sulit diduga kelimpahan jenis spesies di dalamnya. Dengan kata lain nilai D yang diperoleh jauh sekali dari selang 0 – 1 yang diberikan. Implikasinya dalam konservasi keanekaragaman spesies ialah indeks ini kurang sensitif untuk menggambarkan kelimpahan spesies. Indeks Simpson ini lebih cocok diterapkan pada spesies dengan kelimpahan tinggi.
0 5 10 15 20 25 30 35 40
10X10 20X20 30x30 40x40 50x50 60x60
J u m
l a h
J e n i s
3. Indeks Indeks Brillouin
Sama dengan Indeks Shannon-Wiener, Indeks Brillouin diperoleh dari hubungan yang simple antara kekayaan (richness) dan kemerataan (evenness) spesies. Diketahui bahwa dari 69 spesies dan 36 spesies dari petak ukur 60m x 60m diperoleh nilai indeks Brillouin adalah sebagai berikut:
�� =ln �! − ∑ ln ��! �
�� =ln ! − [ln + ln + ⋯ + ln ]
�� =ln , � ^ − 4 ,
�� = , −4 , �� = ,
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa nilai Indeks Brillouin jarang, bahkan tidak akan pernah menyentuh angka lebih dari 4. Biasanya, nilai keanekaragaman jenis berada dalam selang 1
– 4. Pada petak yang sama, nilai Brillouin lebih kecil dibandingkan dengan Shannon-Wienner. Hal ini menunjukkan bahwa Indeks Brillouin tidak cukup signifikan untuk menentukan keanekaragaman spesies. Indeks Brillouin lebih mudah mengalami penurunan apabila jumlah individu di dalam spesies tersebut lebih sedikit. Dengan demikian, indeks ini disebut sebagai indeks yang sensitif untuk keseluruhan ukuran sampel. Semakin besar ukuran sampel/individu di dalam jenis, semakin tinggi nilai indeks, dan sebaliknya.
Indeks-indeks Kekayaan Jenis (
SpeciesRichness
)
Kepekaan kekayaan jenis dapat dihitung dengan beberapa beberapa indeks, seperti Indeks Hulbert, Margalef, Indeks Menhinick, dan Indeks Jackknife.
1. Indeks Hulbert
Indeks Hulbert digunakan untuk menduga seberapa besar pertambahan jumlah jenis dan memastikan sensitivitas kesamaan jenis pada petak yang satu dengan petak sebelumnya. Hasil perhitungan Indeks Hulbert disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3 Hasil indeks Hulbert pada petak petak ukur 60x60 m2 dan petak ukur 40x40 m2
Petak Ukur 40 x 40 m2 60 x 60 m2
Jumlah Spesies (S) 26 36
Individu Spesies (N) 36 69
Indeks Hulbert E(s) 23,33
Tabel 3 memberikan informasi bahwa sebenarnya pertambahan ukuran petak tidak berpengaruh signifikan terhadap pertambahan jumlah jenis. Misalnya, sebelum dilakukan penghitungan diketahui bahwa pada petak 40 x 40 terdapat 26 spesies yang bertambah sebanyak 10 jenis menjadi 36 pada petak 60 x 60 m2. Pertambahan jumlah jenis (semakin kaya jenis) tersebut mendekati angka jumlah individu pada petak sebelumnya. Dengan kata lain, kekayaan jenis tersarang pada jumlah individu. Dengan demikian, hasil perhitungan menurut indeks Hulbert (Es) pada petak 60 x 60 m2 dengan nilai sebesar 23,33 mengandung makna bahwa jumlah jenisnya yang mirip dengan petak sebelumnya sangat banyak, yaitu hampir 23 spesies.
2. Indeks Margalef dan Indeks Menhinick
Berdasarkan hasil analisis, terdapat dua kecenderungan yang dihasilkan dari pertambahan S dan N di dalam penggunaan Indeks Margalef, yaitu sebagai berikut:
a. Nilai indeks diversitas Margalef akan meningkat apabila nilai N (jumlah total individu yang teramati) semakin bertambah, disertai dengan pertambahan nilai S (jumlah jenis yang teramati).
b. Nilai indeks diveristas Margalef akan bervariasi jika hanya salah satu dari kedua S dan N meningat. Contoh:
- nilai S tetap dan nilai N semakin bertambah Dmg Rendah
- nilai N tetap dan nilai S meningkat Dmg tinggi.
Hasil penghitungan menujukkan bahwa pada petak 40 x 40 (n=36, s=26) dan 60 x 60 (n=69, s=36), indeks kekayaan jenis yang dihitung dengan Metode Margalef memiliki angka berturut-turut 6,98 dan 8,27. Kedua nilai tersebut di dalam tingkatan kekayaan jenis menurut Margalef termasuk kedalam kelompok petak dengan kekayaan jenis yang tinggi. Diketahui bahwa kategori penetapan kekayaan jenis untuk Indeks Kekayaan Margalef:
- 3,5 < Dmg < 5 maka kekayaan jenis sedang - Dmg > 5 maka kekayaan jenis tinggi. Jika mengacu pada panjang selang yang tidak sama dari kategori tersebut maka dapat dikatakan bahwa indeks diversitas Margalef tidak cukup peka dalam menilai kekayaan jenis. Penilaian terhadap tingkat kekayaan jenis yang rendah memiliki selang yang pendek. Sementara itu, tingkat kekayaan tinggi memiliki jarak selang yang lebih panjang sehingga kategori kekayaan jenis yang tinggi sangat lebih memungkinkan diperoleh dibandingkan kategori sedang dan rendah.
Kedua indeks baik Margalef maupun Menhinick menggunakan notasi dan makna yang sama untuk menghitung kekayaan jenis. Perbedaanya terletak pada pembagi. Indeks Margalef membagi jumlah spesies dengan fungsi logaritma natural yang bermakna bahwa kenaikan jumlah spesies berbanding terbalik dengan pertumbuhan dan pertambahan jumlah individu. Hal ini memberikan gambaran bahwa pada ekosistem yang memiliki banyak spesies akan memiliki sedikit jumlah individunya pada setiap spesies tersebut.
Tabel 4 Perbandingan Indeks Margalef Kekayaan Spesies antara petak ukur 60x60 m2 dengan petak ukur 40x40 m2
Indeks Petak ukur 60x60
Petak ukur 40x40
Perbedaan nilai
Margalef 8,266 6,976 1,29 Menhinick 4,333 4,333 0
Hasil perhitungan pada Tabel 4
menunjukkan bahwa Indeks Margalef memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan Indeks Menhinick. Berdasarkan perbedaan nilai kedua Indeks tersebut maka Indeks Margalef lebih sensitif terhadap perubahan jumlah spesies dan jumlah individu dibandingkan dengan Indeks Menhinick. Indeks Margalef memiliki perbedaan nilai 1.29 sedangkan Indeks Menhinick tidak memiliki perbedaan nilai. Sebagaimana menurut Magurran (1988) indeks Margalef memiliki kemampuan merespon perbedaan spesies yang baik dan sensitivitas tinggi.
3. Indeks JackKnife
Berdasarkan formulasi pada metode, indeks Jackknife diketahui sebesar 37,667 dan variannya 5,556. Selang kepercayaan dalam penghitungan
indeks kekayaan ini 37,667 ± 6,058. Selang kepercayaan ini berari bahwa indeks kekayaan jenis yang dihitung masuk dalam selang 31,609 sampai dengan 43,725. Dalam hal ini ditunjukkan bahwa sebenarnya Indeks Jack-Knifing tidak disarankan untuk menduga keanekaragaman dari sistem random sampling dengan jumlah n yang sedikit. Ini disebabkan bias yang dihasilkan akan besar. Sebagai contoh, varian yang diperoleh dari hasil penghitungan cukup besar sehingga ketelitian semakin rendah [ditunjukkan pada selang kepercayaan yang besar].
Indeks Kemerataan Jenis (Species
Eveness)
Indeks kemerataan jenis dihitung pada petak berukuran 40x40 m2 dan 60x60 m2. Hasil perhitungannya disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 5 Hasil perhitungan kemerataan jenis pada petak ukur 40x40 m2 dan 60x60 m2.
Pada Petak Ukuran 60 x 60 m2
J' = 3,253499 = 0,91
ln 36
Pada Petak Ukuran 40 x 40 m2
J' = 3,005896 = 0,92 ln 26
Tabel 5 menginformasikan bahwa petak 40 x 40 m2 memiliki nilai 0,92 sedangkan pada petak 60 x 60 m2 diperoleh nilai 0,91. Menurut konsep kemerataan, jika nilai indeks yang diperoleh mendekati 1 (satu) berarti penyebarannya semakin merata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyebaran spesies pada kedua petak ukur tersebut hampir sama rata.
DAFTAR PUSTAKA
Smith E, van Belle G. 1984. Nonparametric estimation of species richness. Biometrics 40: 119–129.
Schmera D. 2002. Comparison of species richness of light trap-collected caddisfly assemblages (Insecta: Trichoptera) using rarefaction. Plant Protection Institute ot the Hungarian Academy of Science 34:77-83.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel Perhitungan Indeks Hulbert
N
o Jenis
Indeks Hulbert Petak 40 x 40 Indeks Hulbert Petak 60x60
Jumla
13 Scorodocarpus
23
9 8
8 Cungit-4 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129
9 Maesopsis eminii 1
3 0.18
8 -1.669 -0.314
1 0
0.18
2 -1.705 -0.310 8 0.216 -1.531 -0.331 6
0.24
0 -1.427 -0.343 3
0.18
8 -1.674 -0.314 2
0.22
2 -1.504 -0.334
10 Meranti sp3 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129
11 Dipterocarpus sp 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073
12 Meranti sp1 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173
13 Scorodocarpus
borneensis 1
0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129
14 Cungit-5 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173
15 Lucuma sp 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073
16 Cungit-6 2 0.02
9 -3.541 -0.103 2
0.03
6 -3.314 -0.121 2 0.054 -2.918 -0.158
17 Cungit-7 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
18 Schima wallichi 2 0.02
9 -3.541 -0.103 2
0.03
6 -3.314 -0.121 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129
19 Cungit-8 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
20 Cerbera manghas 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098
21 Terminalia catappa 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 2 0.054 -2.918 -0.158
22 Pinus merkusii 2 0.02
9 -3.541 -0.103 2
0.03
6 -3.314 -0.121 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173
23 Macaranga sp 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
24 Agathis dammara 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
25 Tectona grandis 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098
26 Ceiba pentandra 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
27 Meranti sp4 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173
28 Cananga odorata 4 0.05
8 -2.848 -0.165 3
0.05
5 -2.909 -0.159
29 Gmelina arborea 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
3 -2.773 -0.173 1
0.11
1 -2.197 -0.244
30 Shorea pinanga 1 0.01
4 -4.234 -0.061 1
0.01
8 -4.007 -0.073 1 0.027 -3.611 -0.098 1
0.04
0 -3.219 -0.129 1
0.06
31 Shorea stenoptera 2 0.02
9 -3.541 -0.103 2
0.03
6 -3.314 -0.121 2 0.054 -2.918 -0.158 1
0.04
0 -3.219 -0.129
32 Ficus ribes 3 0.04
3 -3.135 -0.136 2
0.03
6 -3.314 -0.121
33 Pometia pinnata 4 0.05
8 -2.848 -0.165 3
0.05
5 -2.909 -0.159
34 Maniltoa grandiflora 2 0.02
9 -3.541 -0.103
35 Cungit-9 4 0.05
8 -2.848 -0.165 2
0.03
6 -3.314 -0.121 1 0.027 -3.611 -0.098
36 Lagerstomea/Bungur 2 0.02
9 -3.541 -0.103 1
0.01
8 -4.007 -0.073
6 9
1.00 0
-137.96
2
-3.253 5
5 1.00
0 -126.49
2
-3.258 3
6
0.9729 73
-89.72
5
-2.951 2
5 1.00
0 -62.58
6
-2.789 1
6 1.00
0 -37.71
8
-2.567 9 1.00
0 -16.88
5
-2.043
Indeks Shannon Wiener H'=-∑PixlnPi