GENDER, MEDIA MASSA DAN
ISLAM
1
Oleh: Hasnun Jauhari Ritonga
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara
ABSTRAK
Persoalan yang ingin dikembangkan dalam tulisan ini adalah tentang pemahaman masyarakat terhadap isu gender, isu-isu gender yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, agenda media massa tentang isu gender, agenda setting media terkait isu gender, dan isu gender dalam konteks ajaran Islam dan keterkaitannya dengan peran media massa. Tulisan ini dianalisis berdasarkan referensi-referensi terkait yang dilihat dengan pendekatan komunikasi massa. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa media massa memang masih memiliki ketertarikan dengan isu gender. Isu gender dikemas sedemikian rupa sehingga tetap menarik untuk diperbincangkan. Apalagi didukung pula oleh legitimasi agama—yang dipahami secara keliru—dan suku-suku tertentu, sehingga menguatkan media untuk mengagendakan isu-isu tentang gender. Tentu saja, jika dilihat dari konsepsi ajaran Islam, isu gender dengan diskriminatif terhadap kaum perempuan, adalah kontraproduktif. Islam justru mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Jadi, tidak ada tempat dalam Islam untuk bersikap diskriminatif terhadap perempuan. Sebab Islam adalah agama rahmat bagi sekalian alam. Adapun yang berkembang hanyalah penafsiran-penafsiran yang belum tentu benar. Penafsiran berarti pemahaman bukan konsep, yang berarti sebagaimana halnya ilmu pengetahuan kebenarannya tidak absolut.
Kata Kunci: gender, media massa, komunikasi, dan Islam.
A. Pendahuluan
Berbicara mengenai gender, maka yang menjadi isu sentralnya adalah diskriminasi laki-laki terhadap kaum perempuan yang diakibatkan perbedaan jenis kelamin. Gender diyakini sebagai konstruksi sosial berdasarkan jenis kelamin. Akibat perbedaan jenis kelamin tersebut, maka kaum perempuan mendapatkan perlakuan atau pemaknaan yang lebih subordinatif dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kendati isu ini hanya merupakan rekayasa sosial, tetapi tidak jarang justru di bawa ke isu suku, agama dan ras (SARA) tertentu.
Gender merupakan isu yang sudah lama dipublikasikan di media massa, baik surat kabar, jurnal ilmiah, televisi, maupun media online. Agaknya memang isu ini sangat diperhatikan dan diberikan ruang yang luas untuk memperbincangkannya. Mediapun begitu antusias mempublikasikannya. Oleh karena itu kajian yang pada awalnya berkembang di dunia akademis telah merambah ke ranah publik. Tentu saja peran media sangat menentukan berkembangnya isu ini.
Harus diakui bahwa terkadang media yang meliputnya tidak semata-mata ingin mendongkrak agar kasus-kasus yang terkait dengan isu gender semakin menyempit, akan tetapi sengaja “diblow up” untuk mendiskreditkan kelompok tertentu, dan bahkan suku dan agama tertentu. Tentu saja respon publik—terutama yang dijadikan sasaran—tidak begitu saja menerimanya. Nada penolakanpun tidak terhindarkan. Berbagai ragam cara penolakan dilaksanakan, seperti counter attack dengan tulisan, atau pemberitaan, musik, pidato, dan bahkan demonstrasi.
Secara langsung atau tidak langsung, media memang memainkan peranan yang signifikan dalam “menggembar-gemborkan” isu kesetaraan gender. Padahal, jika dikaji secara cermat belum tentu ada legalitas dari suku atau agama tertentu yang secara konkret mempunyai adat istiadat atau doktrin yang terkait dengan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Agama Islam misalnya, bahkan sangat memuja ketinggian harkat dan martabat kaum perempuan. Bahkan dalam satu hadis yang sangat populer dijelaskan bahwa: “Surga itu berada di telapak kaki ibu”. Demikian juga ketika Nabi Saw. ditanya seseorang tentang siapa yang semestinya lebih ia taati, Nabi menjawab: “Ibumu”, dan pertanyaan yang sama diulangi hingga 4 (empat) kali, Nabi mengulanginya hingga 3 (tiga) kali untuk ibu, dan barulah yang keempatnya untuk: “Ayahmu”. Bahkan ayat-ayat Alqur’an demikian banyaknya yang mengungkapkan bahwa kedudukan kaum laki-laki dengan perempuan itu setara, tidak ada perbedaan terutama jika dilihat konsep beribadah dalam Islam, hanya saja akibat adanya perbedaan susunan jaringan tubuh, maka secara teknisnya ada perbedaan dan juga dalam beberapa hal diberikan keringanan, misalnya ketika menstruasi kaum perempuan diperbolehkan tidak shalat dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan (tetapi diganti pada hari yang lain). Ini menandakan bahwa pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kecuali hanya perbedaan fisiknya dan hak-hak yang melekat di dalamnya.
Pembahasan ini memang masih cukup menarik. Oleh karena itu mediapun masih sangat antusias mempublikasikan kajian-kajian yang terkait dengan isu ini. Berangkat dari hal tersebut, maka penulis akan ikut juga “nimbrung” memperbincangkannya. Akan tetapi diskursus ini lebih diarahkan kepada kajian filsafat dan etika komunikasi. Untuk tujuan ini, maka akan dikemukakan beberapa permasalahan yang akan dicoba dijawab pada bagian-bagian selanjutnya, yaitu:
1. Bagaimanakah sebenarnya masyarakat memahami gender bila dikaitkan dengan komunikasi?
2. Apa saja isu gender yang berkembang di tengah-tengah masyarakat terutama jika dikaitkan dengan komunikasi?
4. Kenapa media massa masih demikian tertariknya mempublikasikan berita atau tulisan yang terkait dengan gender?
5. Bagaimana pula isu gender dalam konteks ajaran Islam terutama bila dikaitkan dengan komunikasi dan peran media massa?
Berdasarkan kelima pertanyaan tersebut, maka pembahasannya akan lebih terarah dan fokus. Namun agar lebih simpel, maka yang akan dibahas nanti juga diupayakan dengan mengetengahkan sub-sub yang simpel saja, yaitu pengertian gender, isu-isu gender, gender sebagai agenda media massa, dan peran media massa dalam kaitannya dengan isu gender (yang akan dilihat dari sisi posiitif dan negatifnya) serta akan digali secara selintas menurut perspektif Islam. Kemudian untuk melengkapi tulisan ini pada bagian akhir akan dikemukakan kesimpulan dan sumber-sumber yang dijadikan sebagai rujukan.
B. Pengertian Gender
Secara singkat sebenarnya pengertian gender telah dikemukakan pada bagian pendahuluan di atas, namun tentu akan lebih ilmiah kalau pengertiannya dikutip dari pendapat-pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kata gender (jender-Indonesia) berarti jenis kelamin. Di dalam Webster’s New World Dictionary gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, prilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.2
Menurut H.T. Wilson dalam Sex and Gender dipaparkan bahwa yang dikatakan dengan gender adalah suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Sedangkan menurut Elaine Showalter mengartikan gender lebih dari sekedar perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari kontruksi sosial-budaya.3
Selanjutnya, istilah gender dibedakan dari sex untuk menunjukkan perbedaan jenis kelamin adalah perkara yang diadakan budaya di dalam masyarakat. Orang yang menjadi lelaki atau perempuan itu telah dinyatakan secara sadar dan tidak sadar menurut garis panduan tentang tingkah laku mereka supaya identitas seksual mereka mantap dan mengikut norma budaya masyarakatnya. Ini sesuai dengan yang dikemukakan Sherry Ortner dan Harriet Whitehead (1981) yang menjelaskan bahwa gender dalam pengertian jenis kelamin dan seks dapat dipahami sebagai simbol atau sistem simbol yang mempunyai nilai budaya yang berbeda-beda.4
Gender penting untuk dipahami dan dianalisis untuk melihat apakah perbedaan yang bukan alami ini telah menimbulkan diskriminasi dalam arti perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap perempuan. Apakah gender telah memposisikan perempuan secara nyata menjadi tidak setara dan menjadi subordinat oleh pihak laki-laki. Gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan mempunyai sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. Sementara perempuan digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut.
2 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur`an (Jakarta: Paramadina,
2001), h. 33. 3 Ibid, h. 34.
4 Ruzy Suliza Hashim, “Meniti Duri dan Ranjau: Pembikinan Gender dan Seksualiti dalam
Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media. Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara sosial, masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Suharti (1995) menyebutkan bahwa biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan gender. Istilah “gender” diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki tanpa konotasi-konotasi yang sepenuhnya bersifat biologis. Jadi rumusan ‘gender’ sebagaimana yang disinyalir McDonald dkk. (1999) dalam hal ini merujuk pada perbedaan-perbedaan antara perempuan dengan laki-laki yang merupakan bentukan sosial, perbedaan-perbedaan yang tetap muncul meskipun tidak disebabkan oleh perbedaan-perbedaan biologis yang menyangkut jenis kelamin.5
Sementara itu, Haris Luthfi dalam tulisannya Upaya Kesetaraan Gender Dalam Rumusan Kodifikasi Hukum Keluaga di Dunia Islam menyimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Dengan demikian dapat dibedakan apa yang dimaksud dengan gender dengan apa yang dimaksud dengan sex. Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya. Sedangkan sex, secara umum dipergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi anatomi biologi.6
Belajar tentang gender dan komunikasi mempertinggi kesadaran kita bahwa pengertian tentang seks dan gender yang sangat boleh jadi tumbuh akibat konstruksi sosial yang dengannya pula masyarakat merasa telah didorong atau dikondisikan untuk menerimanya. Setelah kita menjadi sadar akan gagasan dan berpikir kritis tentang mereka, kita diberi wewenang untuk menerima yang kita temukan baik atau berguna dengan cara yang lebih tepat dari yang kita miliki. Sama pentingnya, menjadi informasi tentang gender memberdayakan kita untuk membantah pandangan konvensional dari jenis kelamin yang tidak kita temukan diinginkan atau mengagumkan. Kadang-kadang, kami menantang dan menolak definisi sosial gender pada tingkat individu-misalnya, seorang pria yang memilih untuk menjadi ayah yang tinggal di rumah bukan pencari nafkah utama atau seorang wanita yang agresif dan dominan. Kami juga dapat menantang dan mencoba untuk mengubah pandangan sosial tentang gender pada tingkat yang lebih luas misalnya, dengan alasan karena di tahun 1800 beberapa perempuan cukup rasional untuk memilih menjadi anggota angkatan bersenjata AS untuk ikut serta bertempur, akan tetapi tidak diizinkan.7
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa gender hanyalah suatu isu yang dikonstruksi oleh masyarakat yang mungkin memang telah lama dipraktekkan dan mendapat legitimasi dari adat/masyarakat tertentu, lalu kemudian
5 Tanti Hermawati, “Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender” dalam Jurnal Komunikasi Massa
Vol. 1, No. 1, Juli 2007, h. 22.
6 Haris Luthfi, “Upaya Kesetaraan Gender Dalam Rumusan Kodifikasi Hukum Keluarga di Dunia Islam” dalam http://sumberpencarianartikel.info/ebook- upaya - kesetaraan - gender - dalam -rumusan - kodifikasi - hukum - kelua r ga -d i - dunia - islam .pdf, diakses pada tanggal 13 Juli 2012 pukul 15.08 WIB.
7 William F. Eadie (ed.), A Reference Handbook Communication 21st Century, Volume 1 (New
seringkali dicari pula pembenarannya di dalam ranah politik/negara dan ajaran agama tertentu, untuk selanjutnya diblow up oleh media massa, baik cetak maupun elektronik, dan bahkan menjadi bahan diskursus secara luas di dunia akademis, yang tujuannya—mungkin saja baik, tetapi secara sadar atau tidak sadar justru—menjadikan isu tersebut menjadi lebih intens dibicarakan di ranah publik. Bahkan, lebih dahsyatnya lagi isu ini justru oleh pihak-pihak tertentu yang memang merasa “nyaman/diuntungkan” menjadi sangat menarik untuk “dipertandingkan” (dicarikan alasan-alasan pembenarannya yang pasti berbanding terbalik dengan tujuan awalnya menghilangkan adanya diskriminasi akibat perbedaan gender tersebut). Agaknya ini akan terus menjadi isu yang sangat menarik, seiring dengan adanya pro dan kontra dalam diskursus-diskursus yang dibangun.
C. Isu-Isu Gender
Berbicara mengenai gender berarti berbicara mengenai isu-isu yang berkembang pada konstruksi gender itu sendiri. Artinya, mau tidak mau akan lebih banyak berbicara tentang perempuan, sebab pada kenyatannya yang dibicarakan adalah dominasi laki-laki terhadap perempuan akibat konstruksi sosial dan budaya tersebut. Oleh karena itulah, maka tuntutannya adalah kesetaraan gender (gender equality) atau keadilan gender (gender equity).
Kesetaraan gender (gender equality) dalam terminologi UNESCO didefinisikan dengan:
Equality between men and women entails the concept that all human beings, both men and women, are free to develop their personal skills and make choices without limitations set by stereotypes, rigid gender roles and prejudices. Gender equality means that the different behaviors, aspirations and needs of women and men are considered, valued and favoured equally. It does not mean that that women and men have to become the same, but their rights, responsibilities and opportunities will not depend on whether they are born male or female. (Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan merupakan konsep yang menyatakan bahwa semua manusia (baik laki-laki maupun perempuan) bebas mengembangkan kemampuan personal mereka dan membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotype, peran gender yang kaku dan prasangka-prasangka. Hal ini bukan berarti bahwa perempuan dan laki-laki harus selalu sama, tetapi hak, tanggung jawab dan kesempatannya tidak dipengaruhi oleh apakah mereka dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan).8
Sedangkankeadilan gender (gender equity) diartikan dengan:
Fairness in the treatment of women and men, according to their respective needs. This may include equal treatment or treatment that is different but which is considered equivalent in terms of rights, benefits, obligations and opportunities. (Keadilan gender adalah keadilan dalam memperlakukan perempuan dan laki-laki sesuai kebutuhan mereka. Hal ini mencakup perlakuan yang setara atau perlakuan yang berbeda tetapi diperhitungkan ekuivalen dalam hak, kewajiban, kepentingan dan kesempatannya).9
Berangkat dari kedua pengertian yang disebutkan di atas, dipahami bahwa isu sentral atau isu utama yang terkait dengan gender adalah tuntutan diberlakukannya kesetaraan dan keadilan gender. Ada apa dengan gender? Kenapa ada tuntutan kesetaraan dan keadilan?
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa akibat adanya perbedaan jenis kelamin, maka muncul diskriminasi. Diskriminasi itu dialamatkan kepada kaum perempuan yang dilakukan oleh sebagian kaum laki-laki yang disebabkan karena bangunan/konstruksi adat, sosial kemasyarakatan, budaya, bahkan ditarik ke arah politik dan agama, yang sudah sedemikian kentara dan berlarut-larut. Akibatnya kaum feminis merasa bahwa keadaan itu perlu diluruskan dan bahkan dihapuskan.
Tuntutan kesetaraan dan keadilan gender tersebut merupakan puncak kegundahan atau pemberontakan kaum feminis dalam beberapa isu, yaitu:
1. Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi;
2. Subordinasi atau second class atau only complement akibatnya perempuan dianggap lebih baik bekerja secara domestik (indoor) sementara laki-laki bekerja mencari nafkah di luar rumah (outdoor);
3. Stereotype atau pelabelan (labeling/naming) yang negatif; 4. Kekerasan (violence);
5. Beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (peran ganda), yang disebut burden; dan 6. Sosialisasi ideologi peran gender.10
Keenam isu di atas digagas oleh kaum feminis agar segera dihapuskan. Bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama ketika berada di ranah publik, kendati secara fisik memang sudah secara kodrati satu sama lain berbeda. Perbedaan fisiologis bukan berarti menjadikan kaum perempuan lebih subordinatif dibandingkan dengan kaum laki-laki. Toh dalam perjalanan sejarah banyak di antara kaum perempuan bisa berhasil dan bahkan tidak kalah dengan lelaki ketika berkiprah di tengah-tengah publik. Kaum perempuan juga tidak harus berperan ganda, hanya berkutat di ruang domestik (rumah tangga), dan seterusnya, tetapi kaum laki-laki juga bisa mengerjakannya. Itulah beberapa hal yang menjadi tuntutan para kaum feminis.
Tentu saja sejauh itu dapat dipastikan bahwa sebagian besar kaum laki-laki juga tidak akan merasa keberatan, sebab sangat realistis dan bisa diterima oleh kalangan awam sekalipun. Bahkan dalam sejarah Nabi Muhammad Saw. hal-hal seperti itu tidak ada yang asing atau “istimewa”. Nabi Saw. menambal atau menjahit sendiri kain atau pakaiannya yang koyak, membawa atau mengambil makanan bila tidak dihidangkan, dan sebagainya yang kesemuanya memang dapat dikerjakan oleh kaum laki-laki.
Akan lain halnya bila kaum perempuan menuntut kaum laki-laki untuk tidak hamil, melahirkan, atau menyusukan anak. Tentu saja tuntutan itu tidak realistis dan pastilah tidak dapat diterima kaum laki-laki. Bukankah hormon yang dimiliki laki-laki dan perempuan memang sangat berbeda? Maka kaum perempuan secara struktur fisik memang bisa hamil, melahirkan, atau menyusui, tidak demikian bagi kaum laki-laki. Artinya, ada hal-hal yang memang secara kodrati sudah diciptakan Tuhan sedemikian rupa, dan hal itu tidak harus digugat. Tentu saja hal tersebut bukan muncul akibat konstruksi sosial, adat, atau politik, akan tetapi lebih kepada konstruksi fisik yang sudah kodratnya.
D. Gender Sebagai Agenda Media Massa
Media massa merupakan salah satu filar yang menyertai kehidupan umat manusia sejak awal kemunculannya hingga era kontemporer ini. Media massa sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan siang dan malam waktu manusia. Bahkan era digital ini semakin merambah ruang-ruang privat dalam kehidupan umat manusia. Harus diakui bahwa media massa sangat dibutuhkan.
Terkait dengan isu yang dikembangkan oleh media massa, ada satu teori yang langsung melihat keterkaitan dengannya, yaitu teori agenda setting media. Teori ini
berangkat dari asumsi bahwa: (1) masyarakat pers dan media massa tidak mencerminkan kenyataan; karena informasi yang disampaikan pun sudah mereka seleksi atau disaring sehingga yang diharapkan akan membentuk suatu isu tertentu; dan (2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.11 Adapun agenda yang dapat ditentukan oleh media massa
adalah: 1) apa yang harus dipikirkan oleh masyarakat; 2) menentukan fakta yang harus dipercayai oleh masyarakat; 3) menentukan penyelesaian terhadap suatu masalah; 4) menentukan tumpuan perhatian terhadap sesuatu masalah; dan 5) menentukan apa yang perlu diketahui dan dilakukan masyarakat.12
Ketika suatu isu dianggap penting—dan dengan memperhatikan kaidah-kaidah penyiaran dan peraturan yang berlaku—orang-orang yang terlibat dalam mengelola media massa akan melakukan peliputan dan mempublikasikan hasil liputan itu ke tengah-tengah masyarakat. Gender misalnya, ketika berita atau opini yang terkait dengannya, dianggap dapat mejadi isu yang menarik untuk dibaca, atau dilihat, dan atau didengar, serta diperbincangkan sehingga menjadi opini publik, maka berita atau opini yang terkait dengannya akan “diblow up” dan dirancang sedemikian rupa untuk kemudian dipublikasikan.
Teori agenda setting itu sendiri disebutkan oleh Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss sebagai teori yang menyatakan bahwa media membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran. Hal ini terjadi karena media harus selektif dalam melaporkan berita. Saluran berita sebagai penjaga gerbang informasi membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan bagimana melaporkannya. Apa yang masyarakat ketahui pada waktu tertentu merupakan hasil dari penjagaan gerbang (gateskeeping) oleh media.13
Kukuh Herdianto dalam tulisannya yang berjudul “Media sebagai alat propaganda politik” menyebutkan bahwa sekalipun media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Bisa jadi bila suatu isu terus menerus diberitakan, maka masyarakat akhirnya mempersepsikan bahwa hal tersebut memang nyata dan penting. Kemungkinan besar hal ini berpengaruh pada cara berpikir masyarakat. Saat media selalu menampilkan isu atau tokoh tertentu, maka isu atau orang tersebut cenderung dianggap sebagai isu atau tokoh penting.14 Singkatnya, apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula
oleh masyarakat dan apa yang dilupakan media akan dilupakan juga oleh masyarakat. Hal tersebut berarti propaganda melalui media massa akan efektif, kalau ada upaya mengemas pesan propaganda dalam prioritas isi pesan media. Isi pesan inilah yang menjadi tawaran dalam mempengaruhi cara berpikir khalayak. Tentu saja isu tentang gender dalam beberapa dekade terakhir tetap dikemas sedemikian rupa sehingga tetap menjadi sangat menarik untuk dibicarakan.
Beberapa hal yang terkait dengan gender yang sangat diminati oleh media massa tentu saja sangat terkait dengan ruang dan waktu. Di satu wilayah dalam momentum tertentu kemungkinan menyoroti kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan terhadap perempuan sangat menarik. Sangat boleh jadi pada suatu daerah dan dalam masa
11 W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Theories of Human Communication, 9th ed (Teori
Komunikasi)(terj.) Mohammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h. 416. 12 Syukur Kholil, Komunikasi Islami (Bandung: Citapustaka Media, 2007), h. 36.
13 Littlejohn & Foss, Teori, h. 416.
tertentu pula sorotan terhadap trafficking dan prostitusi, atau pornografi menjadi isu yang hangat. Atau bisa jadi, isu tentang keterlibatan kaum perempuan di ranah politik, keterwakilannya di kancah parlemen, dan seterusnya menjadi isu yang menggemparkan. Itulah beberapa hal yang menjadi agenda media massa yang terkait dengan isu gender. Tentu saja masih banyak isu-isu yang bisa jadi sangat berbeda menurut suatu daaerah dan waktu tertentu.
E. Peran Media Massa Tentang Isu Gender
Bila media massa telah menetapkan isu gender sebagai hal yang patut dipublikasikan maka akan sangat mungkin isu itu menjadi isu yang diminati oleh masyarakat. Sebab tentu saja selain sebagai mengedukasi masyarakat, isu ini juga menjadi isu internasional yang memang memiliki keterkaitan global.
Beraneka ragam liputan atau pemberitaan tentang gender, sehingga kemungkinan membuka mata para kaum pria dan penentu-penentu kebijakan publik, sangat menentukan bahwa isu-isu yang ingin dikembangkan adalah untuk mengurangi akibat negatif yang ditimbulkannya sehingga tercipta kesetaraan dan keadilan gender. Konstruksi sosial dan budaya yang missed tentang gender tersebut lama kelamaan ditinggalkan oleh masyarakat untuk kemudian tergantikan oleh hal-hal yang mengarah kepada kesetaraan dan keadilan gender sebagaimana yang diinginkan oleh para pelopor feminisme.
perempuan Indonesia atas inisiatif, kemajuan, dan posisinya dalam mayarakat. Sekaligus membuktikan bahwa banyak hal yang dapat dilakukan perempuan.
Hasil penelitian tentang gender dan media juga ditulis oleh Ummy Hanifah dengan judul Konstruksi Ideologi Gender Pada Majalah Wanita (Analisis Wacana Kritis Majalah Ummi)15. Penelitian yang difokuskan pada penelaahan
terhadap artikel-artikel yang berupa feature yang menggambarkan peran perempuan di sektor publik pada majalah UMMI selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2004 ini dilakukan dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian berasal dari teori isi media yang menyatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi terhadap isi media yaitu faktor individual (wartawan), faktor rutinitas media, organisasi, extra media dan faktor ideologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis wacana kritis dengan pendekatan kualitatif dan konstruktivisme. Teori yang digunakan ialah teori isi media, konstruksi gender, praktek wacana media yang meliputi analisis wacana dari Norman Fairclough, analisis framing. Hasil penelitian menemukan bahwa UMMI mengkonstruksikan peran ganda kepada pembacanya melalui analisis teks yang dilakukan serta ideologi media tersebut.
Selain kedua tulisan di atas sebenarnya sudah cukup banyak tulisan yang terkait dengan isu gender. Bahkan media, baik cetak maupun elektronik memberikan liputan-liputan khusus atau spesial terhadapnya. Misalnya acara Oprah secara talkshow di TV Amerika sering menampilkan para ahli yang berbicara tentang komunikasi gender, majalah populer seperti Essence, Cosmo, dan Sports Illustrated termasuk yang rutin menurunkan artikel tentang hal-hal yang terkait dengan gender seperti cara menarik simpati, bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis.16 Ada lagi
jurnal-jurnal yang secara khusus mengatasnamakan gender dan sejenisnya seperti Jurnal Perenpuan yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan Jakarta yang bekerjasama dengan United Nations Depelovment Fund for Women (UNIFEM), Majalah Wanita Jakarta, Majalah Lipstik Jakarta, Majalah Ummi Jakarta, dan sebagainya.
Berdasarkan kedua penelitian di atas dapat dipahami bahwa media dalam mengkemas berita atau opini tentang gender dan berbagai hal yang terkait dengannya ingin menunjukkan bahwa memang ia memiliki suatu agenda tentang isu tersebut. Bahwa isu yang dikembangkan itu bisa saja berdampak positif terhadap pembaca, dan dapat pula memberikan dampak yang negatif. Akan tetapi bahwa isu yang dipublis tersebut sebagai suatu agenda media dalam kaitan dengan fungsinya pemberi informasi adalah sesuatu yang syarat dengan berbagai rekayasa sosial, politik, budaya, dan kepentingan ekonomi terutama dari orang-orang yang berpengaruh di dalam media tersebut.
F. Kajian Islam
Ketika Islam datang yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. pada hampir empat belas setengah abad yang lalu, membawa angin segar bagi kaum perempuan. Dimana Islam mengangkat dan memuliakan derajat dan martabat mereka. Hal ini terbukti, dalam sebuah hadis Nabi dinyatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, sebagaimana
15 Jurnal KOMUNIKA Vol. 5 No. 2 Juli – Desember 2011, h. 199-220. Jurnal ini merupakan Jurnal Dakwah dan Komunikasi Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto.
yang telah dikemukakan pada bahagian pendahuluan di atas. Dalam hadis lain juga dikatakan bahwa ketika Nabi ditanya siapakah orang yang pertama-tama harus dihormati, beliau menjawab: ibumu, jawaban itu terus diulang sampai pada pertanyaan yang ketiga dan terhadap jawaban yang keempat baru beliau menjawab ayahmu. Demikian tingginya kedudukan perempuan ditujukan oleh kedua hadis tersebut.
Apabila dicermati, diketahui bahwa Alquran mengungkapkan tiga prinsip dasar yang terkait dengan relasi perempuan dan laki-laki. Pertama, perempuan diciptakan dari entita (nafs) yang sama sehingga kedudukannya sama dan sejajar dengan laki-laki. Sebab di mata Allah perbedaan keduanya hanya dilihat dari sudut ketakwaannya. Kedua, perempuan dan laki-laki sama dituntut untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan melakuklan amal shaleh dan untuk merealisasikan hal itu perempuan dan laki-laki harus saling membantu satu dengan lainnya. Ketiga, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk memperoleh balasan yang setimpal atas kebaikan dan keburukan yang dilakukan.17
Menurut Haris Luthfi18 kendati ajaran Islam menjunjung tinggiharkat
dan martabat kaum perempuan, namun dalam penafsiran ulama-ulama tafsir terdapat sejumlah ayat Alquran yang mengindikasikan bahwa Islam memandang perempuan lebih rendah dari laki-laki (Q.S.4:34). Para mufassir menyatakan bahwa kata ﻥﻮﻣﺍﻭﻗ berarti pemimpin, penanggung jawab, pengatur, pendidik, dan lain-lain.19 Kategori ini pada dasarnya
tidaklah menjadi persoalan serius, sepanjang ditempatkan secara adil. Dan tidak didasari oleh pandangan yang diskriminatif. Akan tetapi, secara umum para mufassir berpendapat bahwa superioritas laki-laki ini adalah mutlak, diciptakan oleh Tuhan, sehingga tidak pernah berubah.
Dalam ayat tersebut menurut Atho’ Muzhar, kata ﻥﻮﻣﺍﻭﻗ inilah yang menjadi tantangan bagi mufassir, apakah boleh diterjemahkan dengan “mitra kerja” sehingga laki-laki adalah mitra sejajar bagi kaum perempuan.20 Menurut M. Quraish Shihab, ayat tersebut berbicara
mengenai kepemimpinan dalam rumah tangga. Di mana hak kepemimpinan menurut Alquran dalam hal ini dibebankan kepada suami. Pembebanan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu:
a. Adanya sifat-sifat fisik dan psikis pada suami yang lebih dapat menunjang suksesnya kepemimpinan rumah tangga.
b. Adanya kewajiban memberi nafkah kepada istri dan anggota keluarga.21
Walaupun diakui, dalam kenyataan terdapat istri-istri yang memiliki kemampuan berpikir dan materi melebihi kemampuan suami, tetapi semua itu merupakan kasus yang tidak dapat dijadikan dasar untuk
17 J. Sayuthi Pulungan dan Saleh Pertaonan Daulay, “Posisi Perempuan di Tengah Otonomi
Daerah di Indonesia” dalam Mimbar Hukum, No. 61 Tahun XIV 2003, h. 67. 18 Luthfi, “Upaya...”, h. 5.
19 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender
(Yogyakarta: LKiS, t.th.), h. 21.
20 M. Atho’ Muzhar dan Khiruddin Nst (ed), Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern (Jakarta:
Ciputat Press, 2003), h.199.
menetapkan suatu kaidah yang bersifat umum. Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa pembagian kerja ini tidak membebaskan masing-masing pasangan untuk membantu pasangannya.
Lebih lanjut menurut M.Quraish Shihab, dalam ayat lain dinyatakan bahwa bagi suami itu diberikan derajat yang lebih dari istri. Sebagaimana di dalam Alquran surat Al-Baqarah/2, ayat 228 Allah Swt. berfirman: Artinya: “Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf, dan bagi suami terhadap mereka (istri) satu derajat”.
Lebih lanjut Haris Luthfi menyebutkan bahwa derajat yang paling tinggi yang dimaksud adalah kepemimpinan dalam rumah tangga. Dalam ayat lain juga mengindikasikan bahwa laki-laki superioritas dari pada perempuan, yaitu ayat yang membicarakan kesaksian (Q.S.2:182). Di mana nilai kesaksian seorang wanita separoh dari nilai kesaksian laki-laki. Begitu juga dalam ayat yang berbicara masalah nusuz (Q.S.4:34) di mana suami diberi hak untuk memukul istrinya apabila tidak taat dan patuh pada suami. Ini jelas mengarah lebih jauh bahwa laki-laki memang superior dari perempuan. Begitu juga dengan ayat yang berbicara mengenai kewarisan (Q.S.4:11).22
Harus diakui bahwa memang di dalam kitab fikih zaman klasik dan pertengahan kedudukan wanita pada umumnya diperlihatkan sebagai inferior terhadap laki-laki. Hal ini terjadi sebagian karena pemahaman penulisnya mengenai ayat Alquran tersebut tidak berani keluar dari pernyataan sharih. Sebagian lain karena struktur masyarakat di mana para penulis itu hidup yang sangat kental dengan patriarkhi sehingga tidak terbayang adanya masyarakat berstruktur matriarkhi dan bilateral.23
Jika dilihat dari substansinya, dapat dikemukakan juga satu riset yang relevan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Marzuki24 dengan judul Kekerasan Gender Dalam Wacana
Tafsir Keagamaan di Indonesia Dalam Perspektif Islam menunjukkan bahwa secara umum gambaran kekerasan gender terjadi hampir di semua tempat dan negara di belahan bumi ini, termasuk di Indonesia, dalam kurun waktu yang cukup lama. Kekerasan gender di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh beredarnya kitab-kitab fikih yang menunjukkan bias gender (ketimpangan gender) yang berpengaruh pada pola pikir dan perilaku keagamaan masyarakat Muslim. Di antara faktor penyebab terjadinya kekerasan gender di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia, adalah adanya pengaruh yang begitu kuat dari hasil penafsiran yang dilakukan oleh para ulama Islam yang bercirikan penafsiran yang parsial, tidak komprehensif, literal (tekstual), tidak kontekstual, dan banyak dipengaruhi oleh budaya lokal. Akibatnya, hasil pemahamannya kurang sejalan dengan prinsip-prinsip Alquran yang sangat menekankan persamaan, kesetaraan, keadilan, dan kebebasan. Adapun upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi kekerasan gender akibat beredarnya kitab-kitab fikih yang bias gender itu adalah melakukan rekonstruksi dan reformulasi terhadap pemahaman yang dituangkan dalam kitab-kitab fikih tersebut.
22 Luthfi, “Upaya...”, h. 6.
23 Ibid, h. 204. Lihat juga Muhammad, Fiqh, h. 22-23.
24 Dilahirkan di Banyuwangi tanggal 21 April 1966. Menyelesaikan studi S-1 dari Fakultas
Lebih jauh dikemukakan, rekonstruksi dimulai dari pembongkaran terhadap akar permasalahan yang muncul dalam penafsiran itu. Setelah itu dilakukan reformulasi dengan melakukan pemahaman kembali terhadap ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi dengan pendekatan-pendekatan kontekstual, interdisipliner, dan komprehensif, sehingga diperoleh fikih baru yang benar-benar sejalan dengan prinsip-prinsip Alquran yang menunjukkan adanya keadilan dan kesetaraan gender.
Dengan pemahaman seperti di atas berarti agama Islam sangat tidak menginginkan adanya diskriminasi terhadap perempuan yang disebabkan gender. Justru kehadiran Islam ke permukaan bumi ini adalah untuk mewujudkan terciptanya kasih sayang (rahmah) bagi sekalin alam. Hal ini berarti juga jika persamaan (musawah) sebagai bagian dari kasih sayang, maka itu harus diwujudkan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Berbagai prinsip yang terkait dengan upaya mewujudkan rahmah terutama jika dikaitkan dengan gender adalah konsep-konsep
al-‘adalah (keadilan), al-musawah (persamaan), ar-rahmah (kasih sayang), al-musyawakah
(berserikat), al-musyawarah (bermusyawarah), dan sebagainya.
G. Penutup
Sebagai penutup kajian ini, penulis ingin mengemukakan bahwa keseimbangan dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang alami dan indah bila dilihat sebagai sebuah keniscayaan. Suatu keniscayaan tentu tidak bisa ditawar-tawar, sebab apabila hal itu diabaikan, maka yang terjadi justru munculnya kerusakan (fasad). Demikianlah halnya dengan gender. Bila term ini memang hanya sebagai rekonstruksi sosial, budaya, politik, dan kemasyarakatan untuk kemudian ditarik-tarik ke ranah agama tertentu, maka tentu harus diupayakan untuk dihilangkan, sekalipun untuk itu sangat sulit, di mana pro dan kontra sesuatu yang lazim akan muncul.
Bagi agama Islam, kesetaraan dan keadilan gender—minus penghilangan identitas kodrati—adalah sebagai misi kehadirannya (raison d’etre) dalam ruang global. Akan tetapi memang dalam sejarah penafsiran terhadap teks-teks yang terkait dengan isu gender tidak luput dari upaya menguntungkan pihak laki-laki, itu suatu fenomena. Namun demikian, banyak kalangan justru sudah menggugat penafsiran yang bias gender dan terkesan misogini tersebut untuk kemudian diarahkan kepada penafsiran kontemporer. Tentu saja untuk tujuan ini dibutuhkan penafsiran interdisipliner. Mudah-mudahan tercapai, Amin !!!
H. Referensi
Eadie, William F. (ed.), A Reference Handbook Communication 21st Century, Volume 1. New
York: San Diego State University, 2009.
Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Hashim, Ruzy Suliza. “Meniti Duri dan Ranjau: Pembikinan Gender dan Seksualiti dalam Konteks Dunia Melayu” dalam Majalah Sari No. 24 tahun 2006.
Herdianto, Kukuh. “Media Sebagai Alat Propaganda Politik” dalam http://belajar-komunikasi.blogspot.com/2011/02/media-sebagai-alat-propaganda-politik.html, diakses tanggal 13 Juli 2012 pukul 14.58 WIB.
Hermawati, Tanti. “Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender” dalam Jurnal Komunikasi Massa Vol. 1, No. 1, Juli 2007.
Jurnal KOMUNIKA Vol. 5 No. 2 Juli – Desember 2011.
Kholil, Syukur. Komunikasi Islami. Bandung: Citapustaka Media, 2007.
Littlejohn, W. dan Foss, Karen A. Theories of Human Communication, 9th ed (Teori
Komunikasi)(terj.) Mohammad Yusuf Hamdan. Jakarta: Salemba Humanika, 2009. Luthfi, Haris. “Upaya Kesetaraan Gender Dalam Rumusan Kodifikasi Hukum Keluarga di
upaya-kesetaraan-gender-dalam-rumusan-kodifikasi-hukum-keluarga-di-dunia-islam.pdf, diakses pada tanggal 13 Juli 2012 pukul 15.08 WIB.
Muhammad, Husein. Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender. Yogyakarta: LKiS, t.th.
Muzharm M. Atho’. dan Khiruddin Nst (ed), Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern. Jakarta: Ciputat Press, 2003.
Pulungan, J. Sayuthi. dan Daulay, Saleh Pertaonan. “Posisi Perempuan di Tengah Otonomi Daerah di Indonesia” dalam Mimbar Hukum, No. 61 Tahun XIV 2003.
Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur`an. Jakarta: Mizan, 1996.
Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur`an. Jakarta: Paramadina, 2001.