• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

WIWIK PUJIATI

ISSN : 2502 – 35856

REFORMA

JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN

ABDUL KHOLIQ

Penerapan Model Snowball Throwing pada Pembelajaran Pemahaman Paragraf

Vol.COVER IV No. 01, Desember 2016

FITA FARIDAH

Penggunaan Metode Pembelajaran Peta Konsep (Mind Map) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Ngimbang Semester I Tahun Pelajaran 2016-2017

ZAMRONI

Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Sistematis (Systematic Approach to Problem Solving)

untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran pada Tema Getaran dan Gelombang Siswa Kelas VIII-A

SMP Negeri 3 Ngimbang

AYU ISMI HANIFAH

Analisis Kesalahan Siswa Dilihat dari Skema Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

KUSNAN

Penggunaan Metode Praktek Terbimbing Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknik Dasar Lompat Jauh Gaya Jongkok Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 3 Ngimbang Semester II Tahun Pelajaran 2015-2016

Diterbitkan oleh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Lamongan Three Dimension Movie for The Students’ Ability in Narrative Writing

RIVATUL RIDHO ELVIERAYANI

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Berorientasi Keterampilan Proses untuk Mengajarkan Life Skills Siswa

EKO SULISTIONO

(2)
(3)

REFORMA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Vol IV, No. 01, Desember 2016

DEWAN REDAKSI

Penanggung Jawab Pengarah

: Rektor Universitas Islam Lamongan

: Wakil Rektor I Universitas Islam Lamongan

Ketua Penyunting : Madekhan, MSi

Wakil Ketua Penyunting : Mohamad Nurman, SPd. MPd.

Penyunting Pelaksana : Abdul. Kholik, S.Pd., M.Pd. Dian Luthfiyati, S.Pd., M.Pd. Diah Astuty, MPd.

Ryrin Fatmawati, MPd. Tiara Retno H., MPd.

Penyunting Ahli : Dr. Like Riskova, MPd. (UIN MMI Malang)

Rivatul Ridho Elvierayani, S.Si, MPd Ayu Ismi, S.Pd., M.Pd.

Abdullah Farih, S.Pd., M.Pd.

Nahdia Rupawanti BR., S.Pd., M.Pd. Septy Rizki Amalia, S.Pd., M.Pd.

PENERBIT

KANTOR

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Islam Lamongan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Gedung A Universitas Islam Lamongan

Jl. Veteran No. 53 A Lamongan Telp. (0322)324706/ 317116. Email: [email protected]

Mengutip ringkasan dan pernyataan atau mencetak ulang gambar atau tabel dari jurnal ini harus mendapatkan ijin langsung dari penulis. Jurnal ini diedarkan sebagai tukaran untuk perguruan tinggi, lembaga penelitian dan perpustakaan di

(4)
(5)

ABDUL KHOLIQ

1

Penerapan Model Snowball Throwing pada Pembelajaran Pemahaman

Paragraf

RIVATUL RIDHO ELVIERAYANI

10

Gesture Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Fungsi

EKO SULISTIONO

20

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Berorientasi Keterampilan Proses untuk Mengajarkan Life Skills Siswa

AYU ISMI HANIFAH

30

Analisis Kesalahan Siswa Dilihat dari Skema Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

KUSNAN

43

Penggunaan Metode Praktek Terbimbing Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknik Dasar Lompat Jauh Gaya Jongkok Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 3 Ngimbang Semester II Tahun Pelajaran 2015-2016

FITA FARIDAH

51

Three Dimension Movie for the Students’ Ability in Narrative Writing

WIWIK PUJIATI

62

Penggunaan Metode Pembelajaran Peta Konsep (Mind Map) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Ngimbang Semester I Tahun Pelajaran 2016-2017

ZAMRONI

69

Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Sistematis (Systematic Approach to Problem Solving) untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran pada Tema Getaran dan Gelombang Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 3 Ngimbang

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

R E F O R M A

(6)

Artikel merupakan kajian kependidikan yang belum pernah dterbitkan dalam media lain, baik cetak maupun online. Jurnal Reforma di bawah naungan FKIP Unisla.

Artikel dapat dikirim ke email [email protected] dalam format Ms. Word/rtf.

A. FORMAT PENULISAN

1. Artikel ditik pada kertas A4 dengan 1,5 spasi, kecuali kutipan langsung.

Artikel ditik dengan menggunakan huruf book antiqua 11.

2. Artkel ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,

kecuali ditulis dalam bahasa asing.

3. Sistematika artikel meliputi abstrak, nama penulis, asal instansi (jika ada), alamat email, abstrak, kata kunci, pendahuluan, metode, hasil, simpulan, dan daftar pustaka.

4. Artikel ditulis tidak lebih dari 7.000 kata (untuk pendahuluan—simpulan)

5. Abstrak ditulis dalam satu paragraf sekitar 120 kata dengan 1 spasi.

6. Sumber kutipan ditulis dengan menggunakan model catatan perut/bodynote.

Contoh:

Model 1

Zubaedi (2011:17) mengatakan pendidikan karakter adalah upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir; penghayatan dalam bentuk sikap; dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya.

Model 2

Pendidikan karakter adalah upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir; penghayatan dalam bentuk sikap; dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya (Zubaedi, 2011:17).

B. FORMAT DAFTAR PUSTAKA

Daftar pustaka dituliskan sebagai berikut.

a. Dari buku

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Aplikasinya dalam

Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana

Wijayakusuma, Mustava. 2009. Mukjizat Air Putih. Yogjakarta: Data Media.

b. Dari Penelitian

Mardiyati, Iffah. 2011. Pengaruh Motivasi dan Kompetensi terhadap Kinerja Guru

di Mediasi Komitmen Sekolah Studi Kasus di SMK Negeri se-Kecamatan Pati (Tesis).

Semarang: Universitas STIKUBANK.

c. Dari Artikel dari Sumber Cetak

Djaali. 2007. Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional Melalui Program

(7)

melalui Pendekatan Whole Language Siswa Kelas V SDN Kramat II Kecamatan

Lamongan”. Reforma. Vol. 02 nmr. 02. Hlm. 70—84.

e. Dari Artikel dari Sumber Online

Syaifudin, Ahmad. 2015. “Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Membuat

Makalah”.

(8)
(9)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 1

Paragraf

ABDUL KHOLIQ

Prodi. Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Islam Lamongan E-mail: [email protected]

ABSTRAK:

Model pembelajaran inovatif diperlukan setiap pengajar dan calon pengajar sebagai bentuk pengembangan diri atas kualitas dan efektivitas pembelajaran. Melalui penerapan pembelajaran snowball throwing, mahasiswa yang mengampu mata kuliah Bahasa Indonesia memiliki gambaran tentang langkah dan kendala model pembelajaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dan kendala model snowball throwing pada pembelajaran pemahaman paragraf. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi dengan instrumen tabel pengamatan. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester VA Prodi Bahasa Inggris, Unisla. Hasil penelitian adalah penerapan model snowball throwing pada pembelajaran pemahaman paragraf dilakukan dengan delapan langkah dan kendalanya adalah alokasi waktu dan terdapatnya fase diam untuk anggota kelompok.

Kata Kunci : snowball throwing, pemahaman paragraf, kendala penerapan snowball throwing

Pendahuluan

Keberhasilan pelaksanaan pembelajar-an ditentukpembelajar-an dari beberapa komponen

yang sangat berkaitan.

Komponen-komponen tersebut di antaranya guru, siswa, media, rencana pembelajaran, model pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran yang dipilih. Pembelajaran yang efektif harus mampu menciptakan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk menggali kemampuan siswa agar berperan secara aktif, meningkatkan kemampuan

intelektual, sikap dan minatnya.

Pembelajaran yang dimaksudkan bukan

hanya pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah, melainkan juga pembelajaran di perguruan tinggi.

Pembelajaran dikatakan berhasil jika terdapat perubahan persepsi peserta didik (pebelajar) tentang sesuatu yang dijadikan topik setelah pembelajaran selesai. Rusman (2012:123) menyatakan bahwa hasil belajar

adalah sejumlah pengalaman yang

diperoleh pebelajar yang mencakup

kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal tersebut menyiratkan bahwa hasil dari pembelajaran akan mengubah kognisi,

afeksi, dan psikomotor pebelajar. Hasil

(10)

2 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA faktor yang mempengaruhi proses belajar

mereka.

Faktor terpenting adalah faktor intern yang berasal dari dalam diri siswa. Sikap siswa terhadap proses belajar dapat berupa penerimaan, penolakan, atau pengabaian

kesempatan belajar. Pada kondisi

pembelajaran yang masih menerapkan pembelajaran konvensional, siswa cende-rung melakukan pengabaian terhadap kesempatan untuk belajar. Hal tersebut tentu berpengaruh pada hasil belajarnya.

Dimyati dan Mudjiono (2006:239)

menyatakan bahwa salah satu faktor intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sikap terhadap belajar.

Keefektifan pembelajaran salah

satunya ditentukan oleh strategi

pembelajaran yang digunakan oleh

pengajar (guru/dosen). Selanjutnya

stragtegi tersebut dikembangkan menjadi model pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang variatif pun harus digunakan pengajar untuk meningkatkan dan menerapkan pembelajaran inovatif sebagai bentuk aplikasi dari

pengembang-an pembelajaran di kelas. Model

pembelajaran inovatif yang dimaksudkan adalah model pembelajaran yang meng-utamakan pebelajar dalam menggali

sendiri informasi, memecahkan masalah–

efektimasalah dari suatu konsep yang dipelajari (student centered). Hal ini tentu akan membangkitkan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlang-sung.

Salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif adalah snowball throwing. Snowball throwing adalah salah

satu pembelajaran kooperatif yang

menggunakan pendekatan student

centerred yang berupaya melibatkan siswa untuk aktif dalam penerapannya. Snowball throwing berkaitan dengan permainan

menggulung dan melemparkan “bola salju” yang berisikan pertanyaan setiap

pebelajar yang selanjutnya dijawab oleh pebelajar yang lain.

Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran Snowball Throwing adalah model pembelajaran yang memberikan

pengalaman kepada siswa melalui

pembelajaran terpadu dengan

menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah baik sosial, sains, hitungan dan lingkungan pergaulan. Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapatkan tugas dari guru kemudian masing masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing masing siswa menjawab pertanyaan dari yang diperoleh.

Menurut Komalasari (2010:67)

snowball throwing adalah model

pembelajaran yang menggali potensi kepemimpinan dalam kelompok dan keterampilan membua pertanyaan dan jawaban yang dipadukan dalam bentuk permainan imajinatif dengan membentuk dan melempar bola salju. Selain itu, model pembelajaran snowball throwing adalah

model kegiatan pembelajaran yang

memberikan kesempatan individu untuk berpendapat, kemudian dipadukan secara berpasangan, berkelompok, dan yang

terakhir secara klasikal untuk

(11)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 3 siswa atau siswa di kelas. Model

pembelajaran ini menjadi salah satu model pembelajaran inovatif yang menarik untuk diterapkan dalam pembelajaran karena mengajak pebelajar untuk aktif di kelas.

Suprijono (2009:128) menyatakan

bahwa langkah-langkah pembelajaran

snowball throwing sebagai berikut: (1) apersepsi; (2) pembentukan kelompok dan

pemanggilan ketua masing-masing

kelompok untuk diberikan penjelasan tentang materi yang dibahas; (3) ketua masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya untuk menyampaikan ulang penjelasan dari pengajar; (4) setiap pebelajar menuliskan satu pertanyaan yang berkaitan dengan materi pada selembar kertas; (5) kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibentuk seperti bola dan dilempar ke pebelajar yang lain selama waktu 15 menit; (6) pebelajar menjawab pertanyaan dari pembelajar yang lain; (7) Evaluasi; (8) penutup. Penerapan model snowball throwing tersebut tidak hanya dapat dilakukan di pendidikan dasar, tetapi juga dapat dilakukan di pendidikan tinggi. Ciri model snowball throwing

adalah model yang sesuai untuk

pembelajaran berbasis penyampaian

konsep tentang materi tertentu.

Model snowball throwing dapat

diterapkan pada pembelajaran

pemahaman tentang paragraf di mata kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi sebagai penerapan model inovatif.

Model tersebut diharapkan mampu

melibatkan mahasiswa untuk aktif dan berpikir kritis terhadap materi tentang paragraf. Selain itu, dengan diterapkannya model snowball throwing diharapkan

mahasiswa memiliki gambaran penerapan sesungguhnya sebagai bekal mereka dalam penguasaan model pembelajaran inovatif. Oleh karena itu, penelitian penerapan

model snowball throwing pada

pembelajaran paragraf dilakukan pada mahasiswa yang memprogram mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dari uraian di atas, fokus penelitian adalah (1) penerapan model snowball throwing pada pembelajaran paragraf dan (2) kendala penerapan model snowball throwing pada pembelajaran paragraf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan dan kendala dari

model snowball throwing pada

pembelajaran paragraf.

Metode

Penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi. Jenis observasi yang dimaksud

adalah obersevasi pertisipan (nana,

2013,85). Observasi dilakukan selama satu kali pembelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia (2 sks) dengan setiap pertemuan

dialokasikan 100 menit. Intrumen

pengumpulan data yang digunakan adalah

lembar observasi. Lembar observasi

tersebut berupa tabel pengamatan

penerapan langkah-langkah model

(12)

4 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

No. Uraian

Aspek

Penilaian Ket

T TT

1

Pemberian apersepsi (penyampaian materi yang akan dibahas) 2 Pembentukan kelompok dan pemanggilan ketua kelompok dan penjelasan materi pada ketua kelompok 3 Penyampaian ulang dari ketua kelompok kepada anggota kelompok 4 Setiap individu menuliskan pertanyaan

5 Pelemparan bola selama 15 menit

6

Penjawaban pertanyaan bola yang diterima 7 Evaluasi 8 Penutup

Ket: T : Terpenuhi; TT : Tak Terpenuhi

Tabel 1 : Pengamatan Penerapan Langkah Model Snowball Throwing

Subjek penelitian ini adalah mahasiwa semester V kelas A Tahun Pelajaran 2016-2017 di Prodi Bahasa Inggris, Universitas

Islam Lamongan. Subjek penelitian

tersebut memprogram mata kuliah Bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini berjumlah tiga puluh mahasiswa. Data dari penelitian ini adalah penerapan dari setiap langkah

model pembelajaran snowball throwing.

Penganalisisan data dalam penelitian ini berupa penganalisisan lembar observasi

penerapan snowball throwing pada

pembelajaran pemahaman paragraf.

Hasil

Penerapan Model Snowball Throwing dalam Pembelajaran Paragraf

Hasil penerapan model Snowball Throwing dalam Pembelajaran Paragraf pada mata kuliah Bahasa Indonesia dapat dilihat pada hasil pengamatan pada tabel berikut.

Nmr. Uraian

Aspek

Penilaian Keterangan T TT

1 Pemberian apersepsi (penyampaia n materi yang akan dibahas) √ Dosen menyampaika n materi yang akan dibahas dalam pembelajaran yang akan dilakukan, yaitu tentang paragraf (10 menit) 2 Pembentuka n kelompok dan pemanggilan ketua kelompok dan penjelasan materi pada ketua kelompok √ Kelompok dibentuk dengan beranggotakan lima mahasiswa setiap kelompok. Ketua kelompok dipanggil dan dijelaskan konsep tentang paragraf. (35 menit) 3 Penyampaia n ulang dari ketua kelompok kepada anggota kelompok √ Ketua kelompok menyampaika n kembali penjelasan dari dosen kepada anggota kelompok(25 menit)

4 Setiap

individu √

(13)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 5

Nmr. Uraian

Aspek

Penilaian Keterangan T TT

menuliskan pertanyaan

menuliskan pertanyaan tentang materi

yang telah disampaikan

ketua kelompok (5

mnt)

5

Pelemparan bola selama 15 menit

Mahasiswa melemparkan

pertanyan di kertas yang telah dibentuk

seperti bola kepada mahasiswa yang lain (15

menit)

6

Penjawaban pertanyaan bola yang diterima

Mahasiswa menjawab pertanyan di

kertas yang telah mereka

terima (10 menit)

7 Evaluasi √

Dosen memberikan

konfirmasi atas jawaban mahasiswa (10

menit)

8 Penutup √

Dosen dan mahasiswa melakukan refleksi atas pembelajaran

yang berlangsung

(5) Tabel 2 : Hasil Pengamatan Model Snowball

Throwing

1. Pemberian apersepsi (penyampaian materi

yang akan dibahas)

Pemberian apersepsi dilakukan dengan penyampaian materi yang akan dibahas, yaitu konsep paragraf. Pada tahap ini mahasiswa bertanya sekilas tentang tujuan pembelajaran dan tentang konsep paragraf.

Akan tetapi, jawaban dari dosen tidak mendalam karena pendalaman tentang konsep paragraf akan dilakukan pada kegiatan inti atau langkah selanjutnya. Selain penyampaian materi, penyampaian penggunaan model snowball throwing yang akan digunakan juga disampaikan, kemudian respons mahasiswa begitu tertarik karena mereka dapat menambah pengalaman mahasiswa dalam menerap-kan model snowball throwing. Pada langkah ini waktu yang dibutuhkan sekitar sepuluh menit. Waktu tersebut dirasakan sudah sesuai mengingat beberapa langkah selanjutnya juga membutuhkan banyak waktu.

2. Pembentukan kelompok dan pemanggilan

ketua kelompok dan penjelasan materi pada ketua kelompok

Pembentukan kelompok dilakukan dengan membentuk kelompok yang setiap

kelompok berjumlah 5 mahasiswa

sehingga kelompok yang terbentuk adalah enam kelompok. Pada pembentukan kelompok ini suasana sudah mulai ramai, tetapi tetap terkendali. Waktu yang

dibutuhkan dalam pembentukan

kelompok sekitar 7 menit. Pemanggilan ketua kelompok dan penjelasan materi kepada ketua kelompok dilakukan di depan kelas. Materi yang disajikan kepada

ketua kelompok tentang pengertian

paragraf, syarat dan ciri paragraf, macam paragraf berdasarkan letak kalimat utama,

dan macam paragraf berdasarkan

tujuannya.

(14)

6 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

waktu yang dibutuhkan untuk

menjelaskan kepada ketua kelompok menjadi sedikit lama, yaitu sekitar 28 menit. Pada rentang waktu sekitar 28 menit tersebut terjadi fase diam untuk anggota masing-masing kelompok. Pada fase tersebut suasana menjadi takterkendali karena anggota kelompok berbicara sendiri dengan anggota kelompok yang lain. Hal tersebut disebabkan anggota kelompok tidak diberikan instruksi untuk melakukan tugas atau apa pun. Fase diam yang

dialami anggota kelompok tersebut

menjadi kendala yang perlu diperhatikan oleh pengajar ketika menerapkan model pembelajaran snowball throwing.

3. Penyampaian ulang dari ketua kelompok

kepada anggota kelompok

Penyampaian ulang yang dilakukan

ketua kelompok kepada anggota

disampaikan dalam bentuk diskusi

intrakelompok. Pada tahap tersebut

kegaduhan juga sempat terjadi karena ternyata ketua kelompok juga mengalamai kendala saat menyampaikan ulang materi yang telah dijelaskan dosen pada langkah sebelumnya. Dari hal tersebut, waktu yang dibutuhkan pun menjadi lama, sekitar 25 menit.

Dari perhitungan waktu pada

penerapan setiap tahap tersebut, terlihat

kendala yang selanjutnya adalah

manajemen waktu. Selain itu, ternyata pada tahap ini anggota kelompok yang telah dijelaskan ulang oleh ketua kelompok

pun mengalami kesulitan ketika

memahami materi. Kesulitan yang dialami oleh anggota kelompok dalam memahami materi yang telah disampaikan ketua

kelompok dimungkinkan dapa di atasi pada tahap selanjutnya, yaitu penulisan pertanyaan, penjawaban, dan evaluasi.

4. Setiap individu menuliskan pertanyaan

Seperti yang telah dijelaskan pada tahap sebelumnya, penulisan pertanyaan

dilakukan mahasiswa beradasarkan

masalah ketidakpahamanan mereka atas penyampaian materi dari ketua kelompok. Dalam waktu sekitar 5 menit mahasiswa menuliskan pertanyaan yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mereka atas materi yang telah disampaiakan. Dari

pengamatan yang dilakukan, dalam

penulisan pertanyaan ternyata terdapa

beberapa mahasiswa menuliskan

pertanyaan atas dasar permintaan per-tanyaan dari teman yang lain. Hal tersebut tidak menjadi masalah yang krusial karena alasan menulis pertanyaan adalah untuk memperdalam pemahaman mahasiswa.

5. Pelemparanbola selama 15 menit

Pelemparan bola pertanyaan dilakukan sekitar 15 menit. Mahasiswa membentuk kertas pertanyaan menjadi sebuah bola.

Ada yang mengepal-ngepal kertas

(15)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 7 bola pertanyaan tersebut dinilai terlalu

lama karena pada langkah-langkah

sebelumnya waktu yang dibutuhkan sudah terlalu lama.

6. Penjawaban pertanyaan bola yang diterima

Penjawaban atas bola pertanyaan yang mereka terima dilakukan dalam waktu 10 menit. Pada tahap ini ditemukan beberapa mahasiswa yang mengalami kesulitan karena takdapat menjawab pertanyaan tersebut. Beberapa mahasiswa yang merasa

kesulitan tersebut bertanya pada

mahasiswa yang lain. Dosen tidak memberikan bantuan jawaban ketika terdapat mahasiswa yang menanyakan jawaban dari salah satu pertanyaan yang terdapat dalam bola pertanyaan.

7. Evaluasi

Pada tahap evaluasi dosen mengambil

alih kegiatan pembelajaran dengan

memberikan kesempatan beberapa

mahasiswa untuk membacakan

jawabannya atas pertanyaan yang telah mereka terima. Pada tahap ini dosen memberikan konfirmasi benar atau salah atas jawaban mahasiswa tersebut. Jika terdapat kesalahan, dosen membetulkan jawaban yang salah tersebut. Tahap evaluasi seharusnya menjadi tahap inti

atau konfirmasi atas pemahaman

mahasiswa tentang paragraf. Akan tetapi, waktu yang terlampaui sudah 100 menit sehingga evaluasi hanya dilakukan selama 10 menit.

8. Penutup

Pada tahap penutup, dilakukan refleksi atas kegiatan pembelajaran yang telah

dilakukan. Rekfleksi hanya dilakukan selama 5 menit karena waktu yang telah digunakan sudah melampaui 100 menit.

Dari refleksi yang telah dilakukan

didapatkan bahwa mahasiswa merasa senang karena model pembelajaran yang telah dilakukan seperti permainan dan mereka tidak merasa bosan.

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan model

snowball throwing, setiap langkah

pembelajaran dapat diterapkan dengan baik. Meskipun terdapat beberapa kendala, langkah pembelajaran snowball throwing tetap dapat dilaksanakan oleh mahasiswa dan dosen.

Kendala Penerapan Model Snowball Throwing dalam Pembelajaran Paragraf

Dari pembahasan hasil pengamatan penerapan model pembelajaran snowball throwing di atas, terdapat beberapa kendala yang perlu diperhatikan oleh pengajar yang akan menerapkan model pembelajaran ini. Kendal-kendala tersebut disajikan sebagai berikut.

1. Waktu

Kendala waktu menjadi kendala utama

dalam penerapan model snowball

throwing. Hal tersebut terjadi pada tahap

ketiga, keempat, dan kelima yang

(16)

8 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

2. Terdapatnya fase diam pada tahap kedua

Fase diam yang dimaksudkan adalah tidak adanya aktivitas apa pun yang dialami oleh anggota kelompok saat ketua kelompok dijelaskan oleh dosen. Dalam fase tersebut anggota kelompok diam menunggu ketua kelompok kembali,

sedangkan penjelasan untuk ketua

kelompok sekitar 28 menit. Artinya, selama

28 menit anggota kelompok tidak

mendapatkan tugas atau aktivitas untuk dilakukan. Dari hal tersebut, fase diam pada anggota kelompok akan terjadi yang dimungkinkan adanya rasa bosan dalam pembelajaran yang dialami oleh anggota kelompok.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa

1. Penerapan model pembelajaran

snowball throwing pada pembelajaran

pemahaman paragraf dilakukan

dengan delapan langkah, yaitu (a) Pemberian apersepsi; (b) Pembentukan kelompok dan penjelasan materi pada ketua kelompok; (c) Penyampaian ulang dari ketua kelompok kepada anggota kelompok; (d) penulisan

pertanyaan; (e) Pelemparan bola

pertanyaan; (f) Penjawaban pertanyaan bola yang diterima; (g) evaluasi; (h) penutup.

2. Kendala dalam penerapan model

pembelajaran snowball throwing pada pembelajaran pemahaman paragraf adalah kendala waktu dan Terdapatnya fase diam.

Daftar Pustaka

Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Komalasari, Kokom. 2013. Pembelajaran

Kontekstual, konsep dan Aplikasi.

Bandung: PT. Refika Aditama.

Nana Sudjana. 2013. Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran

Berbasis Komputer. Bandung: Penerbit

Alfabeta

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning.

Jakarta: Pustaka Pelajar.

Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning,

Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:

(17)
(18)

10 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

RIVATUL RIDHO ELVIERAYANI

Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Lamongan.

E-mail: [email protected]

Abstrak:

Segala tindakan spontan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika merupakan gesture. Penelitian terhadap tiga kelompok siswa yangmana setiap kelompok terdiri dari dua siswa semuanya menggunakan gesture berdasarkan klasifikasi McNeill. Gesture yang dilakukan sebanyak 53 gesture, diantaranya terdiri dari 13 gesture ikonik, 9 gesture metaforik dan 31 gesture deiktik. Gesture ikonik, metaforik dan deiktik ditemui dalam tiga cara baik itu disertai ucapan maupun tidak disertai ucapan. Pertama siswa menggunakan gesture ikonik, metaforik dan deiktik di atas kertas, kedua dilakukan diatas meja dan ketiga dilakukan di udara. Sesuai dengan hipotesis McNeill bahwa gesture matematis siswa memiliki gerakan-gerakan khusus untuk menjelaskan istilah-istilah matematika, dan gerakan ini menyerupai gerakan isyarat namun tidak semuanya mengacu pada gerakan isyarat.

Kata Kunci: pemecahan masalah, gesture, gesture ikonik, gesture metaforik, gesture

deiktik.

Pendahuluan

Menyelesaikan masalah matematika merupakan proses yang perlu dimiliki siswa dalam pembelajaran matematika. Siswa dituntut untuk dapat mengem-bangkan kemampuan berpikirnya agar dapat lebih terampil dalam menyelesai-kan masalah matematika. Peneliti banyak menemui siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tipe soal berbentuk soal cerita. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Croteau (2004) dan Chan, dkk (2006) bahwa siswa masih mengalami kesulitan saat memecahkan masalah matematika

berbentuk soal cerita materi aljabar dan geometri.

Ketika siswa menyelesaikan masalah matematika, peneliti mencoba mengamati

proses penyelesaian masalah yang

dilakukan oleh siswa. Peneliti mulai tertarik dengan segala tindakan spontan yang dilakukan siswa dalam memecah-kan masalah matematika. Salah satu penelitian tentang tindakan spontan ini diungkap oleh Caroline, dkk (2012) tentang Theories of Embodied Cognition,

teori ini menjelaskan bahwa kemampuan

(19)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 11 inilah yang mendasari bahwa tubuh

terlibat dalam proses berpikir yang

dilakukan oleh seseorang. Ketika

seseorang berhadapan dengan sebuah

masalah, secara alamiah seseorang

memikirkannya sebentar dan secara spontan menanggapi masalah tersebut dengan berinteraksi melibatkan gerakan tubuh mereka.

Gerakan-gerakan spontan inilah yang

disebut sebagai gesture. Becvar, dkk

(2008) berpendapat bahwa gesture

merupakan semua gerakan tubuh,

khususnya lengan dan tangan yang terintegrasi baik dengan ucapan maupun tidak dan digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan sesuatu. Hosteter &

Alibali (2008) berpendapat bahwa gesture

muncul dari persepsi dan simulasi motorik yang mendasari bahasa dan

bayangan mental seseorang. Saat

memecahkan masalah, siswa sering

menggunakan gesture disertai dengan

ucapan, hal ini digunakan untuk

memperjelas penggunaan gesture kepada

pendengar tentang apa yang sedang dipikirkannya (McNeill, 1992). Sehingga

gesture sering nampak jika ada seseorang

yang melihatnya.

Baru-baru ini penelitian yang

menghubungkan antara gesture dan

bahasa merupakan inovasi baru untuk sebuah paradigma dari kognisi yang

diwujudkan. Gerakan seseorang

merupakan bagian yang tak terpisahkan antara bahasa dan pikiran. Psikolog dan ahli bahasa David McNeill (1992) telah

mengatakan bahwa bahasa dan gesture

telah membentuk sebuah sistem yang

terintegrasi dengan baik dalam

berkomunikasi. McNeill juga

menunjuk-kan bahwa bahasa dan gesture memiliki

karakteristik yang berbeda namun efektif dalam mendukung sebuah makna dalam

komunikasi. Sehingga gesture dapat

berperan sebagai mediasi (perantara)

antara pengguna gesture dengan

pengamat, gambaran yang subjektif, menjelaskan sebuah hal, dan percakapan konvensional.

Saat siswa berdiskusi menyelesaikan masalah matematika, siswa melakukan komunikasi dengan rekannya baik dalam menjelaskan apa yang dipikirknnya ataupun melakukan sebuah gambaran dalam menjelaskan konsep matematika. Komunikasi yang dilakukan juga tidak

lepas dari penggunaan gesture di

dalamnya. Hal ini sesuai dengan

penelitiam dalam beberapa tahun

terakhir, terdapat sebuah badan

penelitian empiris untuk melihat

perananan gesture dalam melakukan,

mengajar dan belajar matematika.

Penelitian ini membahas topik mulai dari

cara anak-anak menggunakan gesture

dalam menghitung (Alibali &diRusso, 1999); bagaimana siswa bekerja sama

memahami berbagai jenis grafik

(Moschkovich, 1996; Reynolds & Reeve,

2002); penggunaan gesture dalam

memecahkan masalah matematika

(Alibali, dkk (1999); Rasmussen, Stephan & Allen (2004); Edwards (2009); Radford, Edwards, & Arzarello (2009); dan

Francaviglia & Servidio (2011));

(20)

12 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA Goldin-Meadow, Alibali, & Church, 1993;

dan Goldin-Meadow & Alibali, 1995).

Berdasarkan penelitian-penelitian

yang telah dilakukan peneliti ingin melakukan analisis deskriptif mengenai jenis gesture yang digunakan oleh siswa saat berdiskusi tentang konsep fungsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

menggambarkan jenis gesture spontan

yang dilakukan siswa dalam konteks matematika. Selain itu juga untuk menyelidiki hipotesis yang dikemukakan oleh McNeill saat difokuskan dalam konsep matematika.

Metode

Subjek penelitian ini terdiri dari enam siswa SMP kelas VIII. Selanjutnya subjek dibagi menjadi 3 kelompok secara heterogen. Diskusi terjadi selama 10 menit untuk menyelesaikan masalah soal cerita berkaitan dengan konsep fungsi yang dituangkan melalui sebuah grafik seperti di bawah ini:

Dua orang siswa kelas VIII, yaitu Koko dan Wachid terlihat sedang berdiskusi tentang sebuah grafik terkait materi relasi dan fungsi. (Perhatikan gambar di

samping!) Jika sumbu 𝑋 pada grafik

merupakan daerah asal suatu fungsi, Koko

menganggap bahwa grafik tersebut

merupakan representasi dari suatu fungsi. Namun, Wachid tidak setuju dengan koko. Ia berpendapat bahwa grafik tersebut bukan merupakan representasi suatu fungsi. menurutmu, siapakah yang benar? Kemukakan alasanmu!

Data penelitian ini diambil dari

rekaman audio-visual (video) siswa selama

berdiskusi menyelesaikan masalah

matematika secara kelompok. Selanjutnya

dari hasil rekaman, peneliti menganalisa

banyaknya gesture dan

mengkategorisasi-kan variasi gesture yang dilakukan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Analisis data mengikuti tahapan dari Johnson, B. & Christensen L. (2004) yakni dilakukan dengan tekhnik transkripsi, segmentasi, kodding dan pengkate-gorisasian hingga penarikan kesimpulan.

Hasil

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap tiga kelompok, Tiga kelompok subjek terpilih berasal dari kelompok siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan sedang, siswa berkemampuan sedang dengan siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan sedang dengan siswa

berkemampuan rendah. Terdapat

sebanyak 53 geture yang dilakukan

diantaranya terdiri dari gesture ikonik,

gesture metaforik dan gesture deiktik.

Tabel 1 dibawah ini menunjukkan distribusi dari tiga jenis gesture yang

𝑌

(21)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 13 ditemukan serta presentase dari

masing-masing jenis gesture. Jenis

gesture

Banyaknya Presentase

gesture

ikonik

13 24,5%

gesture

metaforik

9 17%

gesture

deiktik

31 58,5%

Total 53 100%

Tabel 1. Distrubusi banyaknya gesture yang dilakukan

Gesture Ikonik

Gesture ikonik merupakan gesture

yang menggambarkan hubungan

kesesuaian dengan isi semantik

pembicaraan. Gesture ikonik

meng-gambarkan entitas konkret atau

peristiwa, seperti melalui bentuk atau

gerak lintasan tangan. Gesture ikonik

terjadi ketika kedua siswa mendiskusikan tentang sebuah fungsi yang mengingat-kan mereka tentang sebuah grafik yang

saling berpotongan. Gesture tersebut

dilakukan disertai dengan ucapan

“seingatku kalau yang merupakan fungsi

itu berpotongan dan sejajar.” Pada saat

itulah, mereka menggunakan tangan dan jari mereka untuk mengindikasikan bgaimana bentuk grafik yang saling

berpotongan. Percakapan daan gesture

yang dimaksud ditunjukkan pada

Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Gesture ikonik untuk menjelaskan garis berpotongan

Sama halnya ketika kelompok lain

mendiskusikam fungsi dengan

representasi grafik maupun diagram mereka juga mengindikasikan konsep yang sedang dipikirkannya dengan menggerakkan tangan maupun jari-jari mereka secara spontan disertai dengan ucapan. Ketika mendiskusikan fungsi

dengang diagram yang dikatakan

“seingat saya fungsi itu bisa dibentuk

dengan diagram panah yang saling menghubungkan antara satu bulatan

dengan bulatan lainnya”. Gesture yang menyertainya ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini.

(22)

14 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA Kalimat tersebut disertai dengan

gesture yang dilakukan dengan

mengaitkan kedua tangannya untuk merepresentasikan diagram panah antara domain dan kodomainsebuah fungsi.

Gerakan-gerakan yang dilakukan

tersebut merupakan gesture ikonik yang

artinya gerakan tersebut dilakukan oleh siswa sesuai dengan pengalaman yang pernah dilakukannya dan digunakan dalam menjelaskan konsep abstrak dalam matematika kepada rekan sebayanya. Hal itu dilakukan untuk mempermudah menyampaikan apa yang dipirkannya kepada rekan diskusinya. Dua gerakan yang diberikan peneliti sebelumnya menurut Edwards (2014) dapat dibagi

dalam dua subcategori gesture yaitu

gesture ikonik-fisik dan gesture

ikonik-simbolik. Gesture ikonik-simbolik

merupakan gesture yang mengacu pada

gerakan-gerakan yang merujuk pada simbol atau grafik yang mana prosedur

yang digunakan berkaitan dengan

inskripsinya. Seperti yang ditunjukkan

pada Gambar 1. Sedangkan gesture i

ikonik-fisik seperti yang disampaikan

oleh McNeill’s yaitu suatu gerakan

konkrit atau fisik untuk menggambarkan sebuah hal, seperti gesture siswa pada Gambar 2.

Gesture Metaforik

Gesture metaforik adalah gesture yang

menggambarkan isi semantik melalui kiasan tanpa bentuk fisik. Berbagai macamistilah dan frasa yang terkait dengangerakan metaforis, hal ini dapat dikatakan sebagai gerakan abstrak yang tidak memiliki makna secara nyata untuk

menggambarkan peristiwa. Gerakan ini

berhubungan dengan abstraksi

matematika. Gambar 3 di bawah ini

menunjukkan contoh salah satu gesture

metaforik. Gesture ini muncul ketika

keduanya saling berdiskusi dan

menemukan perbedaan pendapat pada kesimpulan yang diperolehnya. Salah satu rekannya memberikan gambaran tentang apa itu titik potong pada sebuah

“koordinat”. Dalam kasus ini,siswa

memberikan gambaran dengan

mem-bentangkan tangan kanannya dan

menggerakkan tangan kirinya seperti menunjuk ke arah tangan kanan yang sedang dibentangnya (mungkin hal ini dimaksudkan sebagai bentuk koordinat titik pada sebuah grafik).

Gambar 3: Gesture metaforik saat mengkonkritkan ide abstraknya

Gesture metaforik yang muncul pada

kelompok lain yaitu saat salah satu rekan diskusinya tidak memahami masalah yang diberikan. Pada lembar tugas

terdapat kata “representasi”, salah satu

siswabertanya tentang apa makna

representasi yang dimaksud dalam lembar tugas tersebut. Selanjutnya rekan diskusinya menjelaskan makna tersebut

diawali dengan menaikkan dan

membuka semua tanggannya kemudian membuat lintasan ke samping serta membuat lintasan melingkari semua

Menunjukkan titik potong

pada koordinat

(23)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 15 grafik sebanyak dua kali di atas kertas

dengan jari tengah tanggan kanannya. Seperti yang terlihat pada gambar 4 di bawah ini.

Gambar 4 : Gesture metaforik saat Menjelaskan Pemahaman kata

“Representasi”

Gesture metaforik ini sangat menarik,

karena mereka melakukan gerakan yang mengartikan bahwa sebuah

penggambar-an dari “representasi” grafik dalam

matematika. Sampai-sampai kata tersebut harus dijelaskannya dalam perbincangan lain untuk mempermudah memahami apa yang dimaksud pada masalah yang sedang mereka hadapi.

Gesture Deiktik

Gesture deiktik merupakan gesture

yang paling sering dilakukan siswa,baik saat siswa baru memahami masalah, sampai dengan siswa menyimpulkan hasil jawaban dari masalah yang sedang

dihadapinya. Gesture deiktik merupakan

gesture menunjuk. Sehingga peneliti

menemukan gesture ini terkadang

digunakan bersamaan dengan gesture

ikonik maupun gesture metaforik. Seperti

pada gambar 5 dibawah ini

Gambar 5 : geture deiktik yang dilakukan bersamaan dengan ikonik

Hal ini wajar ditemui dikarenakan siswa mencoba untuk mengeksplorasi apa yang sedang dipikirkannya dengan

berbagai macam gesture yang

dianggap-nya mudah untuk medianggap-nyampaikan segala informasi yang sedang dipikirkannya. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Alibali & Nathan

(2011) bahwa gesture menunjuk yang

dilakukan secara bersamaan atau

serempak secara khusus efektif untuk mereduksi perhatian yang terpecah karena informasi diintegrasikan baik

dengan leluasa maupun untuk

sementara. Hal itu juga dapat membantu

pengguna gesture untuk mengatur beban

memori kerjanya saat berpikir untuk memecahkan masalah matematis dan memberikan penjelasan kepada lawan

bicaranya. Selain itu argumentasi

Francaviglia & Servidio (2011) juga

menguatkan bahwa siswa akan

menggunakan beragam gesture

sebagai-mana persepsi pengetahuannya yang

berguna sebagai strategi untuk

menciptakan representasi pemikiran

Membuat lintasan garis dan membuat lengkungan

(24)

16 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA mereka dalam menghadapi masalah

matematika.

Data hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memecahkan masalah matematis yang diberikan oleh peneliti, siswa melakukan variasi gesture. Variasi

gesture yang dilakukan siswa dapat

digolongkan berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh McNeill (1992) mengenai

gesture proporsional. Jenis gesture

proporsional tersebut terdiri dari gesture

ikonik, gesture metaforik dan gesture

deiktik. Selanjutnya gesture ikonik dibagi lagi menjadi dua sub kategori yaitu

gesture ikonik-fisik dan gesture

ikonik-simbolik. Gesture deiktik merupakan

gesture yang paling sering digunakan saat

memecahkan masalah yang diberikan.

Dari ketiga kelompok jumlah gesture

deiktik yang dilakukan sebanyak 31dari

53 gesture yang dilakukan. Fakta ini

sesuai dengan pernyataan yang diungkap oleh Alibali & Nathan (2007) dalam salah satu penelitiannya diperoleh bahwa 56% pembelajaran matematika menggunakan

gesture, 21% diantaranya menggunakan

gesture deiktik, 20% diantaranya gesture

representasional dan sisanya gesture

menulis.

Data hasil penelitian menunjukkan

bahwa gesture deiktik dilakukan siswa

dengan dua cara, terkadang tanpa ucapan dan paling sering digunakan

disertai dengan ucapan. Gesture deiktik

yang dilakukan tanpa ucapan digunakan

untuk dirinya sendiri sebelum

menyampaikan apa yang dipikirkan kepada lawan bicaranya, hal ini sesuai dengan pendapat Alibali dan Nathan (2011) bahwa siswa mengekspresikan

pengetahuan baru dalam bentuk gesture

sebelum mereka menyampaikannya

dengan perkataan. Sedangkan gesture

deiktik yang digunakan bersamaan

dengan ucapan digunakan untuk

menunjukkan suatu hal kepada lawan bicaranya. Seperti yang dikatakan oleh

McNeill (1992) bahwa gesture dan ucapan

mengkombinasikan pengungkapan

makna yang tidak sepenuhnya ditangkap oleh pembicara jikalau hanya dilakukan salah satu saja. Dengan kata lain gesture

deiktik yang disertai dengan ucapan memberikan penegasan bagi pembicara

untuk menyampaikan apa yang

dipahaminya.

Dalam penelitian ini penggunaan

gesture ikonik, metaforik dan deiktik

ditemui dalam tiga cara baik itu disertai ucapan maupun tidak disertai ucapan.

Pertama siswa menggunakan gesture

ikonik, metaforik dan deiktik di atas kertas, kedua dilakukan diatas meja dan

ketiga dilakukan di udara. Gesture ikonik

yang dilakukan siswa diatas kertas ditujukan pada grafik. Gesture ini sering berbentuk lintasan bentuk, baik itu

lintasan bentuk melingkar yang

digunakan untuk merepresetasikan

informasi yang dianggap penting dalam pikirannya, lintasan garis lurus untuk

merepresentasikan sumbu 𝑥 sebagai

daerah asal suatu fungsi dan lintasan

grafik lengkung seperti huruf “U” untuk

merepresentasikan dengan jelas grafik

fungsi kuadrat. Gesture yang dilakukan

(25)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 17 Seperti yang dikatakan oleh McNeill

(1992) bahwa matematika memiliki

gerakan-gerakan khusus untuk

menjelaskan istilah-istilah matematika, dan gerakan ini menyerupai gerakan isyarat namun tidak semuanya mengacu

pada gerakan isyarat. Mengapa

demikian? Karena dari ketiga kelompok yang mendiskusikan tentang konsep fungsi, ditemukan gerakan-gerakan yang

hampir sama (konstan) untuk

menggambarkan sebuah hal, baik seperti grafik fungsi kuadrat dan perpotongan titik. Sehingga salah satu tujuan dari penelitian ini bahwa untuk membuktikan hipotesis yang dikatakan oleh McNeill tentang konsep fungsi menunjukkan adanya gerakan yang khas dalam mempelajari sebuah konsep matematika.

Di bawah ini disajikan Tabel 1

mengenai protokol gesture siswa saat

berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan denga fungsi. simbol D artinya gesture deiktik yang digunakan, I

adalah gesture ikonik dan M gesture

metaforik.

Tabel 2. Protokol Gesture LIsaat

Memberikan Alasan Jawaban Setuju

dengan Wachid

Ucapan Gesture Jenis Gesture Menit

Ini kan gini Dengan menggunakan pensil mewakili jari telunjuk menunjuk gambar dan membuat lintasan tanpa bekas berbentuk dua garis, garis pertama dari arah atas ke bawah dan garis kedua dari kiri ke kanan. D (gambar pada soal) I (koordinat cartesius) 03:21

Ucapan Gesture Jenis Gesture Menit

Kamu ingat deskriminan? Kalau gini bukannya itu? Dengan menggunakan pensil mewakili jari telunjuk membuat lintasan tanpa bekas di udara membentuk garis lengkung. I (representasi grafik) 03:25 Bener gak jawabanku? Tapi yang ini? Dengan menggunakan pensil mewakili jari telunjuk membuat lintasan tanpa bekas di meja seperti bulatan dan

membentuk garis lurus di tengah bulatan. I(grafik panah) 03:39 Bukannya kalau fungsi itu harus berbentuk gini Menggunakan kedua tanggannya, tangan kanan diarahkan ke atas dan tangan kiri diarahkan ke samping kanan. M (perpotongan garis) 04:18

Lah kalau ini kan berbentuk lengkung Menggunakan jari telunjuk membentuk lintasan grafik di udara melengkung seperti huruf U. I (representasi grafik fungsi kuadrat) 04:25

Iya kan grafik nya gini Menggunakan jari telunjuk membentuk lintasan grafik di udara melengkung seperti huruf U. I (representasi grafik fungsi kuadrat) 05:02 Seingatku kalau yang fungsi itu berpotongan dan sejajar Menggunakan kedua tangannya, tangan kanan dan kiri saling bertumpu di telapak tangan. M (representasi grafik) 05:20 ini ada deskriminannya Menggunakan jari telunjuk membentuk lintasan grafik di udara melengkung seperti huruf U. I (memperjelas alasan grafik) 06:04

(26)

18 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

Ucapan Gesture Jenis Gesture Menit

tegak lurus jawaban rekan diskusinya dengan menggunakan jari telunjuk tangan kanan

lurus)

Eksplorasi makna dari gesture yang

dihasilkan siswa dalam berpikir tentang sebuah konsep matematika akan banyak

digali, karena topik gesture dalam bidang

matematika diharapkan dapat memberi-kan inovasi terbaru dalam proses belajar mengajar. Tata cara berkomunikasi

dengan menggunakan gesture diharapkan

dapat membantu siswa lebih muda dalam memahami konsep matematika.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa

selama berdiskusi menyelesaikan

masalah matematika berkaitan dengan

konsep fungsi. Gesture yang dilakukan

sebanyak 53 gesture, diantaranya terdiri dari 13 gesture ikonik, 9 gesture metaforik dan 31 gesture deiktik. Gesture ikonik, metaforik dan deiktik ditemukan dalam tiga cara baik itu disertai ucapan maupun tidak disertai ucapan. Pertama siswa

menggunakan gesture ikonik, metaforik

dan deiktik di atas kertas, kedua dilakukan diatas meja dan ketiga

dilakukan di udara. gesture digunakan

sebagai alat untuk menarik perhatian dan memusatkan perhatian siswa selama berdiskusi memecahkan masalah karena siswa lebih tertarik memperhatikan

argumentasi rekannya saat rekan

diskusinya memunculkan gesture.

Dengan memunculkan gesture siswa

merasa terbantu dalam mengurangi beban kerjanya selama memecahkan masalah secara kelompok. Sesuai dengan

hipotesis McNeill, gesture matematis

siswa. bahwa matematika memiliki

gerakan-gerakan khusus untuk

menjelaskan istilah-istilah matematika, dan gerakan ini menyerupai gerakan isyarat namun tidak semuanya mengacu pada gerakan isyarat.

Daftar Pustaka

Alibali, M.W. & DiRusso, A.A. 1999. The Function of Gesture in Learning to Count: More than Keeping Track.

Cognitive Development, 14: 37–56.

Alibali, M.W. & Goldin-Meadow, S. 1993.

Gesture–speech Mismatch and

Mechanisms of Learning: What the

Hands Reveal about a Child’s State

of Mind. Cognitive Psychology, 25: 468–523.

Becvar, A., Hollan, J., dan Hutchins, E. 2008. Representational Gestures as Cognitive Artifacts for Developing Theories in a Scientific Laboratory.

Ackerman, M.S., (eds) Resources,

Co-Evolution and Artifacts: Theory in

CSCW . Hal: 117-143.

Caroline C, W., Walkington, C.,

Boncoddo, R., Srisurichan, R., Pier, E., Nathan, A., & Alibali, M. 2012. Invisible Proof: The Role Of Gesture

And Action In Proof. Journal of

Memory and Languange, (Online),

Vol. 43, No. 3,

(27)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 19 Chan, H., Tsai, P., Huang, T.Y. 2006.

Web-based Learning in a Geometry Course. Educational Technology &

Society, 9(2), pp.133-140.

Church, R.B. & Goldin-Meadow, S. 1986. The Mismatch Between Gesture and Speech as an Index of Transitional Knowledge. Cognition, 23: 43–71. Croteau, Ethan A.,Heffernan,Neil T. &

Koedinger,Kenneth R.2004.Why Are Algebra Word Problem Difficult?.

Intelligent Tutoring Systems Lecture Notes in Computer Science,Vol. 3220, Hal: 240-250.

Edwards, L. 2009. Gesture, Conceptual

integration and Mathematical Talk. International Journal for Studies in Mathematics Education, 1 (1): 33-46.

Francaviglia, M. & Servidio, R. 2011.

Gesture as a Cognitive Support to Solve Mathematical Problems. Psychology, 2 (2): 91-97.

Goldin-Meadow, S. & Alibali, M.W. 1995. Mechanisms of Transfer: Learning with a Helping Hand. Psychology of

Learning and Motivation, 33: 115–157.

Hostetter, A.B. & Alibali, M.W. 2008. Visible Embodiment: Gestures as

Simulated Action. Psychonomic

Bulletin & Review. 15 (3): 495-514

Johnson, B. & Christensen, L. 2004.

Educatioonal Research Quantitative, Qualitative, and Mixed Approaches

Second edition. United States:

Pearson Education, Inc.

McNeill, D. 1992 Hand and Mind: What

Gesture Reveal about Thought.

Chicago: Chicago University Press. Moschkovich, J. (1996). Moving up and

getting steeper: Negotiating shared descriptions of linear graphs. The

Journal of the Learning Sciences, 5(3).

239-278.

Radford, L., Edwards, L., & Arzarello, F.

2009. Introduction: Beyond words.

Educational Studies in Mathematics, 70: 91-95.

Rasmussen, C., Stephan, M., & Allen, K.

2004. Classroom Mathematical

Practices and Gesturing. Journal of Mathematical Behavior, 23: 301-323.

Reynolds, F. & Reeve, R. (2002). Gesture in collaborative mathematics

problem-solving. Journal of

(28)

20 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

Keterampilan Proses untuk Mengajarkan Life Skills Siswa

EKO SULISTIONO

Fakultas Teknik UNISLA

E-mail: [email protected]

Abstrak:

Pembelajaran IPA di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan cara yang konvensional yaitu ceramah, sehigga perlu diterapkannya suatu pendekatan belajar yang lebih mengutamakan pada proses belajar dari pada produk yaitu dengan pendekatan keterampilan proses. Oleh karena itu perlu dikembangkannya perangkat pembelajaran biologi yang berorientasi keterampilan proses yang sekaligus diorientasi-kan untuk mengajardiorientasi-kan kecakapan hidup (life skills) siswa. Life skills penting diajardiorientasi-kan karena dapat membekali peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kualitas perangkat pembelajaran, hasil uji coba perangkat pembelajaran untuk mengajarkan life skills melalui keterampilan proses. Metode penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian pengembangan. Hasil dari penelitian yag telah dilakukan ialah pelaksanaan pembelajaran biologi berorientasi keterampilan proses yang didukung oleh ketersediaan perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh para pakar dapat mengajarkan life skills, pada siswa kelas VII SMP.

Kata Kunci: Pembelajaran IPA, Life Skills

Pendahuluan

Mata pelajaran biologi menekankan pada pemberian pengalaman belajar dan sikap ilmiah sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup (life skills). Kecakapan hidup (life skills) merupakan pengembangan diri untuk bertahan

hidup, tumbuh, dan berkembang,

memiliki kemampuan untuk berkomuni-kasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu (Hopson dalam Puskur, 2006). Life skills tersebut dapat dilatihkan kepada siswa

melalui kegiatan pembelajaran kete-rampilan proses.

Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Pengalaman belajar itu

meliputi keterampilan mengamati,

mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik, mengajukan

pertanyaan, menggolongkan dan

(29)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 21

peristiwa alam sekitar (Lampiran

Permendiknas No 22 Tahun 2006).

Life skills yang harus dimiliki siswa

adalah kecakapan berpikir (thinking skills), kecakapan sosial (social skills) dan

kecakapan berpikir ilmiah (academic

skills). Kecakapan berpikir (thinking skills)

merupakan kecakapan menggali

informasi, mengolah informasi, dan mengambil keputusan secara cerdas, serta mampu memecahkan masalah secara tepat dan baik. Kecakapan Sosial

(social skills) dapat dipilah menjadi dua

jenis, yaitu: (1) kecakapan berkomuni-kasi dan (2) kecakapan bekerjasama

(Puskur, 2006). Kecakapan berpikir

ilmiah (academic skills) seringkali disebut

juga kecakapan intelektual atau

kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir secara umum namun mengarah kepada kegiatan yang bersifat keilmuan. Kecakapan ini mencakup

kecakapan mengidentifikasi variabel,

menjelaskan hubungan suatu fenomena

tertentu, merumuskan hipo-tesis,

merancang dan melaksanakan penelitian.

Untuk membangun

kecakapan-kecakapan tersebut diperlu-kan pula sikap ilmiah, kritis, obyektif, dan

transparan. Komponen-komponen

tersebut merupakan komponen keteram-pilan proses, yang diharapkan dengan dilatihkannya keterampilan proses maka

kecakapan hidup (life skills) dapat

terpenuhi.

Berdasarkan skor yang diperoleh siswa Indonesia dalam mengerjakan

soal-soal TIMSS (Third International

Mathematics and Science Study), siswa

Indonesia berada pada rangking 34 dari

45 negara untuk mata pelajaran

Matematika dan rangking 36 dari 45 negara untuk pelajaran IPA. Butir-butir soal TIMSS didesain untuk mencermin-kan pemikiran dan prioritas terkini

dalam IPA. Skor ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPA di Indonesia kurang berhasil (Team World Bank, 2008) (Rahayu, 2010). Pembelajar-an IPA di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan cara yang konven-sional yaitu ceramah, oleh karena itu perlu diterapkannya suatu pendekatan belajar yang lebih mengutamakan pada proses belajar dari pada produk yaitu dengan pendekatan keterampilan proses. Oleh karena itu perlu dikembangkannya perangkat pembelajaran biologi yang berorientasi keterampilan proses yang sekaligus diorientasikan untuk meng-ajarkan kecakapan hidup (life skills) siswa. Life skills penting diajarkan karena dapat membekali peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik secara pribadi yang mandiri maupun sebagai warga masyarakat.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan karena

meng-embangkan perangkat pembelajaran

biologi SMP pada materi Pencemaran Lingkungan yang berorientasi

keteram-pilan proses untuk mengajarkan

kecakapan hidup (life skills) di SMP Negeri 1 Lamongan pada semester genap di kelas VII-H.

Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap pertama pengembangan perangkat pembelajaran, dan tahap

kedua adalah uji coba perangkat

pembelajaran di kelas dengan meng-gunakan rancangan penlitian pada saat pengambilan data dalam rangka uji coba I dan II, menggunakan rancangan One-Group Pretest-Post test Design yang

dikembangkan oleh Campbell dan

(30)

22 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

Hasil dan Pembahasan

Hasil Pengembangan dan Validasi Pakar

Validasi yang dilakukan oleh pakar meliputi validasi terhadap silabus,

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP), Buku Ajar Siswa (BAS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan Tes Hasil Belajar (THB). Validasi yang dilakukan oleh para pakar dan praktisi pendidikan terhadap silabus meliputi komponen tujuan pembelajaran, kegiatan pembe-lajaran, waktu, alat dan bahan ajar, dan penilaian. Validasi RPP meliputi kom-ponen tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, waktu, perangkat pembe-lajaran, dan bahasa. Validasi BAS

meliputi komponen kelayakan isi,

kebahasaan dan penyajian. Validasi LKS meliputi aspek petunjuk, kelayakan isi,

keterampilan proses, prosedur dan

pertanyaan. Validasi THB meliputi aspek materi, konstruksi dan bahasa.

N o. Aspek Penilaian Skala Penilaia n Ra ta-rat

a Ket V 1 V 2 V 3 TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menuliskan Kompetensi Dasar (KD)

5 5 5 5

Sangat baik 2.

Ketepatan penjabaran dari KD ke indikator

4 4 4 4 Baik 3. Indikator yang dikembangkan mencakup pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 5 5 5

Sangat baik 4. Mengembangk an indikator Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 4 5 4,7

Sangat baik 5. Kesesuaian aspek keterampilan proses yang diajarkan dengan indikator

5 4 5 4,7

Sangat baik N o. Aspek Penilaian Skala Penilaia n Ra ta-rat

a Ket V 1 V 2 V 3 6. Ketepatan perumusan indicator

4 4 4 4 Baik 7. Kesesuaian indikator dengan kegiatan pembelajaran

5 4 5 4,7 Sangat baik 8. Kesesuaian indikator dengan jenis penilaian

5 4 5 4,7 Sangat baik KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. Kesesuaian tujuan pembelajaran dengan kegiatan pembelajaran

4 4 4 4 Baik

2. Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan melibatkan pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 4 5 4,7 Sangat baik WAKTU 1. Kesesuaian alokasi waktu yang digunakan

4 4 4 4

Baik

ALAT DAN BAHAN AJAR

1.

Menuliskan sumber pelajaran

5 5 5 5

Sang at baik PENILAIAN 1. Kesesuaian tujuan pembelajaran dengan jenis penilaian

5 4 4 4,3 Baik

2. Jenis penilaian mencakup lembar penilaian (LP): a. Produk b. Proses Kecakapan berpikir Kecakapan akademik c. Afektif Kecakapan sosial

4 4 4 4 Baik

(31)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 23

No. Aspek Penilaian

Skala Penilaia n Ra ta-rat a Ket V 1 V 2 V 3 TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Menuliskan Kompetensi Dasar (KD)

5 5 5 5 Sangat baik 2. Ketepatan

penjabaran dari KD ke indicator

5 5 4 4,3 Baik 3. Indikator yang

dikembangkan mencakup pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 5 5 5 Sangat baik 4. Ketepatan

penjabaran dari indikator ke tujuan pembelajaran

5 4 4 4,3 Baik 5. Mengembangka

n tujuan pembelajaran Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 4 4 4,3 Baik 6. Ketepatan

perumusan tujuan pembelajaran

4 4 4 4 Baik 7. Operasional

rumusan tujuan pembelajaran

4 4 4 4 Baik

KEGIATAN PEMBELAJARAN

1. Model yang dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran

4 5 5 4,7 Sangat baik 2. Model yang

dipilih dapat melatihkan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 5 5 5 Sangat baik 3. Kegiatan

pembelajaran yang dikembangkan melibatkan pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 5 5 5 Sangat baik 4. Fase-fase model

ditulis lengkap dalam RPP dan Fase-fase sintaks memuat dengan jelas peran guru dan peran siswa

5 5 5 5 Sangat baik 5. Skenario RPP

ada komponen 4 4 4 4 Baik

No. Aspek Penilaian

Skala Penilaia n Ra ta-rat a Ket V 1 V 2 V 3

life skills yang diajarkan yaitu:

Thinking skills Social skills Academic skills

WAKTU

1. Pembagian waktu setiap kegiatan/fase dinyatakan dengan jelas

5 4 5 4,7 Sangat baik 2. Kesesuaian

waktu setiap fase/kegiatan

4 3 4 3,7 Baik

PERANGKAT PEMBELAJARAN

1. Lembar kegiatan siswa

(Worksheet) mencakup pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

5 4 4 4,3 Baik 2. Lembar kegiatan

siswa (Worksheet) menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran

4 4 4 4 Baik 3. Buku siswa

yang dikembangkan mencakup pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

4 4 4 4 Baik 4. Buku siswa

yang dikembangkan dan dipilih menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran

4 3 4 3,7 Baik 5. Media

menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran

4 5 4 4,3 Baik 6. Butir-butir soal

lembar penilaian (LP) mencakup: a. Produk b. Proses Kecakapan berpikir Kecakapan akademik c. Afektif

(32)

24 | Jurnal “Reforma” Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISLA

No. Aspek Penilaian

Skala Penilaia n Ra ta-rat a Ket V 1 V 2 V 3 Kecakapan sosial 7. Butir-butir soal

lembar penilaian (LP) sesuai dengan tujuan pembelajaran

4 5 5 4,7 Sangat baik 8. Buku siswa,

Worksheet, media, dan LP diskenariokan penggunaanya dalam RPP

4 5 5 4,7 Sangat baik

A. BAHASA

1. RPP

menggunakan kaidah bahasa Inggris yang baik dan benar

3 4 3 3,3 Cukup baik 2. Buku Siswa,

LKS (Worksheet), Media, LP dengan menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar

3 4 4 3,7 Baik 3. Ketepatan

struktur kalimat 4 4 4 4 Baik 4. Kemutakhitran

daftar pustaka 4 5 5 4,7

Sangat baik

Tabel 2. Hasil Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP )

No. Aspek Penilaian

Penilaia n Ra ta-rat a Ket V 1 V 2 V 3 A. ASPEK PETUNJUK

1. Petunjuk dinyatakan dengan jelas

5 4 4 4,3 Baik 3. Materi LKS sesuai

dengan tujuan pembelajaran di LKS dan RPP

4 4 4 4 Baik 4. Mencantumkan

Keterampilan Proses Sains (KPS) yang dilatihkan

5 5 5 5 Sangat baik

B. KELAYAKAN ISI

1. Keluasan materi 5 5 5 5 Sangat baik 2. Kedalaman

materi

5 4 5 4,7 Sangat baik 3. Menekankan

pada penerapan-penerapan dunia

5 5 Sangat baik 5 5

No. Aspek Penilaian

Penilaia n Ra ta-rat a Ket V 1 V 2 V 3 nyata atau kehidupan sehari-hari kecakapan berpikir 4. Menumbuhkan

rasa ingin tahu 4 5 5 4,7

Sangat baik 5. Mengembangkan

kecakapan sosial 5 5 5 5

Sangat baik 6. Mengembangkan

kecakapan akademik

5 5 5 5 Sangat baik 7 Menunjang

terlaksananya proses belajar mengajar yang lebih diwarnai oleh student centered daripada

teacher centered

4 5 5 4,7 Sangat baik 8. Mendorong

untuk mencari informasi lebih lanjut

3 3 3 3 Cukup baik

C. KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS)

1. Melatihkan Keterampilan Proses Sains (KPS) yang dicantumkan dalam tujuan pembelajaran.

4 5 5 4,7 Sangat baik 2. Melatihkan

Keterampilan Proses Sains (KPS) yang tercantum dalam kegiatan LKS.

5 5 5 5 Sangat baik

D. PROSEDUR

1. Urutan kerja 4 4 4 4 Baik 2. Keterbacaan/bah

asa dari prosedur 4 4 4 4 Baik

E. PERTANYAAN

1. Kesesuaian pertanyaan dengan tujuan pembelajaran di LKS dan RPP

4 4 4 4 Baik 2. Pertanyaan

mendukung konsep

4 4 4 4 Baik 3. Keterbacaan/bah

asa dari pertanyaan

4 4 4 4 Baik

(33)

Jurnal Reforma Vol. IV No. 01, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA | 25

No Aspek yang dinilai

Skala Penilaian Rata-rata

Keterangan V1 V2 V3

A Aspek materi

Gambar

Tabel 1 : Pengamatan Penerapan Langkah
Tabel 2 : Hasil Pengamatan Model Snowball
Gambar 1. Gesture ikonik untuk menjelaskan  garis berpotongan
Gambar 2.   yang diberikan. Pada lembar tugas terdapat kata “representasi”, salah satu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Judul Penelitian yang peneliti ambil yaitu: “MAKNA PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM FILM HOLLYWOOD (Studi Semiotika Roland Barthes pada Film Hollywood)”, yang dalam

No. Artinya responden setuju bahwa dengan waktu sedikit karyawan dan pegawai berusaha memperoleh hasil yang maksimal dalam bekerja.. Dari tabel diatas dapat diketahui

Penyelamatan yang dilakukan bukan pada tanaman itu sendiri melainkan pada tanaman yang lain yang dekat dengan pathogen supaya tidak menular dan mencegah lebih dahulu mulai

Menimbang a. bahwa dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang

[r]

value 0,0005 yang berarti ada perbedaan yang bermakna antara daya makan ikan guppy , ikan mas, ikan nila, ikan cupang, ikan kepala timah, ikan larvavour , dan ikan

pertolongan-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Keefektifan Penggunaan Media Gambar Berseri dalam Pembelajaran Menulis Cerpen pada Siswa Kelas X SMA Negeri

Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia terdapat banyak faktor yang memengaruhi kinerja, namun dengan mempertimbangkan bahwa saat ini di Direktorat Jenderal Perlindungan