Konflik Sumbawa – Bali: Akibat Miscommunication antar etnis
Konflik yang terjadi antara etnis satu dengan etnis lainnya di Indonesia memang bukan menjadi masalah baru lagi. Mengapa tidak , mengingat Negara kita adalah salah satu Negara yang mendapat julukan sebagai Negara dengan tingkat kemajemukannya sangat tinggi, karena wilayah Negara yang terbagi menjadi beberapa pulau besar. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa dari kemajemukan tersebut kemudian muncul beberapa perbedaan pendapat karena kepentingan berbeda, yang pada satu titik akan memicu terjadinya konflik. Salah satu konflik antar etnis yang pernah terjadi atau bahkan sudah beberapa kali terjadi adalah konflik antara etnis Sumbawa dan etnis Bali.
Sumbawa dan Bali sama-sama merupakan daerah bagian timur Indonesia, hanya saja berada di pulau berbeda. Sumbawa berada di pulau Nusa Tenggara Barat, sementara Bali berada dalam wilayah pulau Denpasar. Akan tetapi, jarak antar pulau yang terbilang cukup dekat, memungkinkan terjalin hubungan dekat dalam beberapa hal, salah satunya adalah kegiatan ekonomi. Bali, yang notabenenya merupakan daerah pariwisata terkenal di Indonesia, membawa dampak yang begitu besar bagi penduduknya. Mulai dari dampak positif, dengan di kenalnya Bali hingga ke penjuru dunia, sampai ke dampak negatif yang mengharuskan beberapa warga Bali berpindah tempat atau bermigrasi ke wilayah atau daerah terdekat karena tidak mampu bersaing dengan para pendatang. Dan itulah yang menjadi alasan kenpa banyaknya warga Bali yang kemudian memulai kehidupan di tanah Sumbawa.
dengan cara membakar berbagai tempat yang diketahui sebagai milik etnis Bali, seperti hotel, toko, hingga beberapa rumah.
Seperti halnya masa lalu, konflik etnis Sumbawa- Bali kembali terjadi pada tanggal 23 Januari 2013 yang juga dipicu oleh sebuah isu, yakni kematian seorang perempuan Sumbawa yang diisukan dibunuh oleh pacarnya sendiri yang tidak lain adalah seorang polisi berasal dari Bali. Berdasarkan laporan yang diberikan oleh pihak polres Sumbawa, bahwa korban meninggal dunia murni karena kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi, isu berbeda mulai berhembus di kalangan masyarakat, yang mengatakan bahwa korban meninggal dunia dikarenakan penganiayaan oleh sang pacar. Isu pertama kali berkembang dari pihak keluarga korban yang merasa ada yang aneh dari kematian putri mereka, melihat luka lebam dibeberapa bagian tubuh korban yang tidak mungkin disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.
Sampai pada titik, dimana beberapa mahasiswa beserta massa berunjuk rasa meminta penjelasan pada pihak kepolisian dan juga pihak tersangka. Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan, amukan massa kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah hotel Tambora, hotel yang bisa dikatakan sebagai hotel terbesar di wilayah kabupaten Sumbawa, kurang lebih 35 rumah dan beberapa toko, satu supermarket, hingga motor dan mobil box angkutan barang. Selain pembakaran, massa juga mengambil beberapa barang elektronik yang berasal dari toko-toko tersebut.
Tampaknya luka masa lalu dibenak masyarakat Sumbawa, diturunkan hingga ke generasi sekarang, yang tertanam bahwa etnis Bali tidak dapat dipercaya. Jika mengingat kembali bagaimana konflik yang sebenarnya bersumber dari isu semata , maka dapat disimpulkan bahwa konflik antar etnis ini semata-mata terjadi hanya karena miscommunication. Pertama, jika kita analisa dari kasus yang terjadi pada tahun 1980, contohnya perkelahian dan juga kasus kawin lari, sebenarnya kedua kasus tersebut dapat diselesaikan hanya dengan negosiasi antar keluarga. Dengan cara tersebut tidak akan mungkin sampai menyulut kemarahan warga lokal. Jelas bahwa disini tidak terjalin komunikasi yang baik antar pihak keluarga, atau etnis Bali dan juga etnis lokal (Sumbawa) .
maupun kepolisian. Amukan massa pun pasti tidak akan terjadi. Dalam ilmu sosiologi, atau ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial, miscommunicasion bisa dikatakan sebagai awal dari sebuah perpecahan. Dan miscommunication sangat rentan terjadi ditengah masyarakat yang memang pada hakikatnya heterogen atau majemuk.
Jika dianalisa menggunakan pendekatan Multikulturarisme, dalam pendekatan ini, dikatakan bahwa salah satu ciri dari masyarakat Multikultural adalah lambatnya proses Integrasi serta adanya dominasi ekonomi, politik maupun sosial budaya. Yang dimaksud dengan integrasi adalah proses penyatuan sosial didalam masyarakat yang memiliki banyak perbedaan, baik cara berpakaian, bertingkah laku, dan lain sebagainya. Menurut analisa saya, melihat konflik yang bisa terjadi kapan saja karena hal kecil, dapat disimpulkan bahwa Integrasi antara etnis Bali dan Sumbawa masih sangat jauh. Dengan integrasi yang masih jauh, maka tingkat saling percaya antara kedua etnis pun masih sangat jauh. Sehingga sangat mudah bermunculan berbagai prasangka-prasangka yang merujuk pada terjadinya miscommunication sehingga rentan terjadinya konflik. Selain itu, dominasi yang dilakukan oleh etnis Bali terhadap perekonomian yang ada di daerah Sumbawa juga bisa dikatakan sebagai penyulut, mengingat hal tersebut secara tidak langsung melahirkan persaingan yang ketat antara warga lokal dan pendatang.
Sedangkan jika dilihat menggunakan teori Konflik, konflik antar Sumbawa-Bali tergolong ke dalam jenis konflik non-realistis yang dicetuskan oleh Lewis A Coser, dimana dikatakan bahwa konflik non-realistis, yaitu konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembalasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.
bahwa kegiatan ekonomi di Sumbawa yang dominan dikuasai oleh etnis Bali, seperti beberapa hotel dan pusat-pusat perbelanjaan.
Selain karena proses Integrasi yang melamban dan persaingan ekonomi di tengah masyarakat etnis Bali, dan etnis Sumbawa, konflik yang rentan terjadi juga disebabkan karena kinerja aparat kepolisian, atau dengan kata lain, Pranata sosial yang ada di masyarakat tersebut tidak melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik. Seperti yang dijelaskan dalam pendekatan struktur sosial, bahwa pranata sosial bertugas menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkut sekaligus menjadi pedoman pada anggota masyarakat. Akan tetapi, jika melihat bagaimana konflik yang terjadi dengan amukan massa yang tidak dapat dibendung, tentu selain dari pihak yang berselisih, pihak aparat kepolisian atau pranata sosial perlu dipertanyakan. Bagaimana bisa kejadian yang sama bisa terulang kembali, setelah selang 23 tahun lamanya, terlebih masih dengan penyebab yang sama, yakni isu-isu tidak jelas yang beredar di tengah masyarakat lokal maupun pendatang.
Pernyataan mengenai kinerja aparat yang kurang baik terbukti dari jawaban yang diberikan untuk pertanyaan mahasiswa (massa) dan pihak keluarga mengenai lebam yang ada di tubuh korban sebelum konflik Januari 2013 kemarin yang dirasa tidak masa akal. Hanya semata karena kecelakaan. Tidak ada penjelasan lain mengenai lebam tersebut. Selain itu mengingat kejadian yang sama pernah terjadi, seharusnya pihak kepolisian sudah mengantisipasi segala memungkinan terburuk dengan berusaha untuk mencari jalan keluar, atau kata damai sebelum amukan massa mulai memuncak.
Beralih dari masalah kurangnya kinerja Pranata Sosial yang ada, disisi lain konflik Sumbawa- Bali juga bisa dikatakan sebagai suatu hal yang wajar, mengingat seperti yang dijelaskan dalam teori Solidaritas Sosial, bahwa rasa solid diantara dua atau lebih etnis/kelompok berbeda sangat sulit terjadi. Teori Solidaritas sosial membenarkan bahwa beberapa hal yang menyebabkan sulitnya tercipta rasa solid adalah karena adanya kecendrungan pada masyarakat kita, khususnya masyarakat desa transisi pada warga asli dan warga pendatang berupa kecurigaan terhadap orang lain yang dianggap sebagai lawan berbahaya.
adalah kecemburuan sosial yang muncul ditengah masyarakat lokal (Sumbawa) terhadap pendatang (Bali) dalam hal ekonomi khususnya. Dan hal tersebut semakin benar adanya melihat bagaimana amukan massa yang tidak hanya membakar, melainkan seperti peribahasa “Kesempatan dalam kesempitan”, mereka juga mengambil beberapa barang elektronik dari toko tersebut sebelum dibakar. Rasa cemburu yang begitu besar yang kemudian menghilangkan akal sehat sehingga menarik mereka yang tidak bersalah ke dalam konflik tersebut. Terbukti 35 rumah terbakar dalam aksi frontal itu. Padahal sebelumnya konflik tersebut hanya menyangkut dua keluarga. Dan itu semua bermuara pada proses komunikasi. Dimana komunikasilah yang menjadi poin penting terjalinnya suatu hubungan yang kondusif, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Seperti pepatah “tak kenal maka tak sayang”, dan rasa cemburu tidak akan muncul begitu besar di kalangan masyarakat lokal (Sumbawa) jika saja, hubungan yang kondusif sudah terjalin diantara kedua masyarakat tersebut. Sekali lagi, terjadi miscommunication.
Miscommunication-lah yang menyebabkan adanya jarak yang jauh antara kedua etnis, miscommunication pula yang menyebabkan isu kecil dalam waktu kurang dari seminggu menjadi sebuah krisis (konflik) besar. Serta rentetat peristiwa lainnya. Dari konflik ini, kita bisa lihat betapa hal yang mungkin terdengar mudah dan sederhana, seperti komunikasi mampu melahirkan konflik dengan kerugian mencapai angka milyaran. Dari sini pula kita dapat belajar bahwa bukan perihal yang mudah untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada di tengah kehidupan bermasyarakat. Melihat bagaimana konflik yang terjadi di antara kedua etnis berbeda tersebut meski berada di lingkungan yang sama.