• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN CANGKANG BEKICOT ACHATINA FU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN CANGKANG BEKICOT ACHATINA FU"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

Staff Pengajar Program Studi Kimia, FMIPA UNLAM Banjarbaru Email: [email protected]

100

SEBAGAI KATALIS UNTUK REAKSI TRANSESTERIFIKASI

(Kajian Pengaruh Temperatur Reaksi dan Rasio Mol Metanol: Minyak)

Sunardi1, Kholifatu Rosyidah1 dan Toto Betty Octaviana1

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur kalsinasi terhadap kristalinitas dan aktivitas katalis CaO dari limbah cangkang bekicot (Achatina fulica) dalam sintesis biodiesel dari minyak sawit. Preparasi katalis dilakukan dengan mengkalsinasi cangkang pada variasi temperatur 700oC, 800oC dan 900oC selama 4 jam untuk mendapatkan senyawa CaO dan dianalisis dengan XRD (X-Ray Difraction) untuk mengetahui karakteristik katalis yang diperoleh. Katalis kemudian digunakan untuk reaksi transesterifikasi untuk mengetahui aktivitas katalitik dari CaO. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa katalis terbaik didapatkan pada temperatur kalsinasi 800oC. Kondisi terbaik dicapai pada temperatur reaksi transesterifikasi 60oC dengan rasio mol metanol:minyak 12:1.

Kata Kunci: Biodiesel, Cangkang Bekicot, Transesterifikasi, CaO.

PENDAHULUAN

Katalis adalah suatu zat yang

berfungsi mempercepat laju reaksi

dengan menurunkan energi aktivasi,

namun tidak menggeser letak

keseimbangan. Katalis homogen

yang banyak digunakan pada reaksi

transesterifikasi adalah katalis

basa/alkali seperti kalium hidroksida

(KOH) dan natrium hidroksida (NaOH)

(Darnoko, 2000). Produksi biodiesel

menggunakan katalis homogen

berlangsung secara cepat, namun

diperlukan langkah tambahan untuk

menghilangkan kotoran katalis dari

produk sehingga meningkatkan biaya

produksi akhir (Zabeti et al., 2009).

Kelemahan lain dari katalis homogen

yaitu bersifat korosif, berbahaya

karena dapat merusak kulit, mata,

paru-paru bila tertelan, sulit

dipisahkan dari produk sehingga

terbuang pada saat pencucian, tidak

dapat digunakan kembali dan akan

mencemari lingkungan (Widyastuti,

2007). Alternatif lain adalah

penggunaan katalis heterogen, yaitu

katalis yang mempunyai fasa yang

tidak sama antara reaktan dan

produk. Beberapa jenis katalis

heterogen yang dapat digunakan

pada reaksi transesterifikasi adalah

CaO dan MgO.

Cangkang bekicot merupakan

salah satu sumber CaO yang murah

yang mempunyai potensi untuk

dimanfaatkan sebagai katalis

(2)

CaCO3 melalui pemanasan pada

temperatur tinggi. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui

karakteristik dan kemampuan katalis

CaO dari cangkang bekicot sebagai

kataliheterogen untuk reaksi

transesterifikasi minyak sawit menjadi

biodiesel.

METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan antara

lain difraktometer sinar-X, peralatan

refluks, alat distilasi, hot plate,

termometer, neraca analitik,

viskometer, piknometer dan furnace.

Bahan-bahan yang digunakan adalah

limbah cangkang bekicot yang

diperoleh di daerah Banjarbaru,

Kalimantan Selatan, minyak sawit,

akuades, kalium hidroksida, metanol,

isopropil alkohol, indikator fenolftalein.

Preparasi dan Karakterisasi Katalis Cangkang bekicot sebanyak

500 gram dibersihkan beberapa kali

guna menghilangkan protein dan

zat-zat lain menggunakan air panas.

Selanjutnya cangkang dikeringkan

pada temperatur 100oC selama 24

jam dan kemudian dihaluskan dan

diayak sehingga lolos 120 mesh.

Katalis CaO diperoleh dengan cara

mengkalsinasi cangkang pada

temperatur 700oC, 800oC dan 900oC

selama 4 jam. Fase kristalin dari

sampel hasil kalsinasi dianalisis

dengan difraktometri sinar-X untuk

mengetahui karakteristik katalis yang

diperoleh.

Reaksi Transesterifikasi

Reaksi transesterifikasi

dilakukan dengan menggunakan labu

leher tiga dilengkapi dengan

pengaduk magnetik dan kondensor

dengan variasi temperatur 55oC,

60oC, 65oC dan 70oC. Sebanyak 50

ml minyak sawit dimasukkan ke dalam

labu, kemudian ditambahkan katalis

sebanyak 10% (b/b) katalis CaO

komersial dan katalis hasil kalsinasi

(CaO700, CaO800 dan CaO900) dengan

rasio molar metanol dengan minyak

6:1, 9:1, 12:1 dan 15:1. Waktu reaksi

ditentukan selama 120 menit dan

reaksi dihentikan dengan cara labu

direndam dalam air es. Hasil reaksi

transesterifikasi disentrifuse untuk

memisahkan katalis sedangkan fase

minyak dan sisa metanol kemudian

dipisahkan dari sisa metanol,

kemudian dicuci dengan akuades

sampai netral. Biodiesel yang

dihasilkan kemudian dilakukan uji

kualitas biodiesel yang meliputi

viskositas, bilangan asam, kadar air

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Temperatur Kalsinasi terhadap Karakteristik Katalis

Proses kalsinasi dilakukan pada

temperatur 700oC, 800oC dan 900oC

untuk mencari katalis terbaik dengan

melihat kristalinitas katalis

masing-masing sampel. Gambar 1

memperlihatkan perbandingan

difraktogram cangkang sebelum dan

sesudah kalsinasi pada variasi

temperatur 700oC, 800oC dan 900oC

yang selanjutnya disebut dengan

CaO700, CaO800 dan CaO900.

Gambar 1. Difraktogram (a) cangkang bekicot alami (b) kalsinasi 700oC (c) kalsinasi 800oC (d) kalsinasi 900oC.

Hasil difraktogram memperlihatkan

hilangnya puncak-puncak CaCO3 di daerah 2θ = 30,44°; 41,86°; 49,10o;

56,25°; 63,46°dan 72,26°. Hal ini

memperlihatkan bahwa perlakuan

kalsinasi menyebabkan perubahan

komposisi senyawa kimia dalam

(4)

timbulnya puncak-puncak baru yang

berbeda dengan difraktogram pada

cangkang alami. Puncak baru ini

Analisis pH dilakukan untuk

mengetahui tingkat kebasaan dari

ketiga sampel yang dikalsinasi dimana

dari hasil pengukuran semua sampel

menunjukkan pH sebesar 11,67; 11,69

dan 11,76. Hasil pengukuran pH dapat

dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengukuran pH katalis Jenis Katalis pH

Nilai-nilai yang terukur

menunjukkan bahwa temperatur

kalsinasi tidak membuat perubahan

signifikan terhadap pH katalis. Hal ini

dikarenakan senyawa-senyawa yang

dikandung oleh katalis CaO700,

CaO800 dan CaO900 relatif sama,

artinya tidak ada perubahan senyawa

diantara ketiga katalis akibat

perubahan temperatur kalsinasi.

Uji Aktivitas Katalis CaO

Kajian Pengaruh Temperatur Kalsinasi terhadap Aktivitas Katalis

Pada penelitian ini dilakukan

reaksi transesterifikasi menggunakan

katalis CaO dari cangkang bekicot

dan CaO komersial sebagai

pembanding. Beberapa parameter

yang dianalisis antara lain adalah

viskositas, densitas, bilangan asam,

kadar air dan rendemen.

Viskositas

Viskositas biodiesel hasil

reaksi menggunakan katalis CaO700,

CaO800 dan CaO900 berturut-turut

adalah 36,72; 31,2 dan 39,66 mm2/s.

Nilai viskositas menggunakan katalis

CaO700, CaO800 ini lebih kecil

daripada nilai viskositas bahan baku

berupa minyak sawit yang memiliki

viskositas sebesar 40,39 mm2/s. Hal

ini berarti adanya penurunan

viskositas yang menunjukkan

terjadinya pemutusan rantai panjang

trigliserida menjadi metil

(5)

Densitas

Sama seperti viskositas, pada

saat digunakan katalis CaO800

menghasilkan produk metil ester

yang memiliki densitas yang terkecil

dibandingkan katalis CaO700 dan

CaO900 yaitu sebesar 0,896 g/ml

sedangkan nilai densitas pada saat

digunakan katalis CaO700 dan CaO800

berturut-turut adalah 0,905 dan 0,902

g/ml. Nilai densitas yang besar

disebabkan oleh berat molekul yang

besar, dan berat molekul yang besar

ini adalah trigliserida yang belum

terkonversi menjadi biodiesel.

Densitas biodiesel ini juga

mengalami penurunan dari densitas

bahan baku yang memiliki densitas

0,913 g/ml. Nilai densitas

dipengaruhi oleh faktor gliserol yang

terdapat dalam biodiesel.

Bilangan Asam

Bilangan asam biodiesel

dengan variasi temperatur kalsinasi

cangkang bekicot dapat diamati pada

Tabel 2. Bilangan asam biodiesel

menunjukkan penurunan jika

dibandingkan dengan bilangan asam

bahan baku minyak sawit. Nilai

bilangan asam minyak sawit adalah

sebesar 0,42 mg-KOH/g sedangkan

nilai bilangan asam dengan katalis

CaO700 dan CaO800 adalah 0,14

mg-KOH/g. Kondisi ini menunjukkan

bahwa pada temperatur kalsinasi

700oC dan 800oC katalis yang

dihasilkan mampu mengurangi

jumlah bilangan asam bahan baku.

Sedangkan pada temperatur kalsinasi

900oC katalis yang digunakan tidak

mampu menurunkan bilangan asam

bahan baku, hal ini juga terjadi saat

digunakan katalis komersial CaO.

Terbentuknya asam lemak bebas ini

disebabkan oleh reaksi hidrolisis yang

terjadi pada biodiesel, dan ini

berdampak pada kandungan air yang

terdapat dalam biodiesel.

Kadar Air

Kadar air biodiesel ditunjukkan

pada Tabel 2. Nilai kadar air biodiesel

dengan katalis CaO700, CaO800,

CaO900 dan CaOkomersial berturut-turut

adalah 0,0439%; 0,0039%; 1,038%

dan 0,522%. Tingginya kadar air

menggunakan katalis CaO900 ini

mungkin karena pada saat

penyimpanan, biodiesel bereaksi

dengan uap air. Hal ini sesuai

dengan sifat biosiesel yang

higroskopis. Kondisi ini juga terjadi

pada saat menggunakan katalis

CaOkomersial. Kadar air yang terukur

lebih besar daripada kadar air yang

menggunakan CaO700, CaO800.

(6)

berasosiasi dengan reaksi hidrolisis

yang menyebabkan biodiesel berubah

menjadi asam lemak bebas

(Mittelbach & Remschmidt, 2004).

Tabel 2. Hasil uji kualitas biodiesel dengan menggunakan katalis hasil kalsinasi

Parameter

Katalis

CaO

komersial

Minyak

sawit SNI CaO700 CaO800 CaO900

Viskositas

40○C(mm2/s) 36,72 31,02 39,66 5,99 40,39 2,3-6,0 Densitas

(g/cm3) 0,905 0,896 0,902 0,863 0,913 0,85-0,89

Kadar air (%) 0,0439 0,0039 1,038 0,5219 0,0579 Maks 0,05

Bilangan asam

(mg-KOH/g) 0,14 0,14 0,42 0,42 0,42 Maks 0,8

Rendemen (%) 78 86 82 85 - -

Kajian Pengaruh Temperatur Reaksi Transesterifikasi

Menurut Kusmiati (2008),

kenaikan temperatur akan

meningkatkan kecepatan reaksi

transesterifikasi karena semakin

banyak energi yang digunakan antar

molekul-molekul reaktan untuk

bertumbukan.

Proses transesterifikasi akan

berlangsung lebih cepat bila

temperatur dinaikkan mendekati titik

didih metanol. Viskositas terendah

dihasilkan pada saat temperatur reaksi

60oC, begitu juga dengan densitas,

kadar air dan bilangan asam. Secara

keseluruhan, hasil uji kualitas biodiesel

semakin turun ketika temperatur reaksi

melebihi temperatur 60oC.

Viskositas

Viskositas terendah pada reaksi

transesterifikasi diperoleh saat

temperatur 60oC dengan nilai 31,02

mm2/s. Viskositas biodiesel ketika

temperatur 55oC masih sangat tinggi

yaitu sebesar 33,84 mm2/s, namun

saat temperatur reaksi naik menjadi

60oC viskositasnya menurun menjadi

31,02 mm2/s dan semakin meningkat

seiring dengan bertambahnya

(7)

Tabel 3. Hasil uji kualitas biodiesel dengan variasi temperatur reaksi transesterifikasi

. Densitas

Densitas biodiesel pada

temperatur reaksi 55oC adalah 0,898

g/ml, kemudian turun menjadi 0,875 g/ml

disaat temperatur reaksi dinaikkan

menjadi 60oC. Hal ini dikarenakan pada

kondisi tersebut temperatur 60oC mampu

memutus senyawa trigliserida menjadi

metil ester. Namun densitas kembali naik

lagi ketika temperatur berturut-turut

dinaikkan menjadi 65oC dan 70oC.

Naiknya nilai densitas ketika temperatur

65oC dan 70oC mengindikasikan bahwa

biodiesel yang dihasilkan masih memiliki

berat molekul yang besar.

Bilangan Asam

Bilangan asam pada saat

temperatur reaksi 55oC dan 60oC memiliki

nilai yang sama 0,14 mg-KOH/g, namun

nilainya naik ketika temperatur reaksi

65oC dan 70oC yaitu sebesar 0,28

mg-KOH/g. Berdasarkan data yang

didapatkan pada variasi rasio mol reaktan

sudah sesuai dengan standar dari SNI

(maksimum 0,80 mg-KOH/g). Jika

dibandingkan dengan bilangan asam

bahan baku (minyak sawit) yang nilainya

0,42 mg-KOH/g, bilangan asam biodiesel

telah mengalami penurunan.

Kadar

Pada temperatur reaksi 55oC

kadar air yang terukur adalah sebesar

0,1996%, kemudian saat temperatur

reaksi dinaikkan menjadi 60oC biodiesel

yang dihasilkan memiliki kadar air yang

sangat kecil yaitu 0,0039%. Dilihat dari

kadar air biodiesel pada temperatur 60oC

memiliki kualitas yang bagus karena

kadar airnya yang sangat kecil. Kadar air

biodiesel kembali naik lagi ketika

temperatur reaksi 65 dan 70oC yaitu

berturut-turut sebesar 0,2575 dan 0,4%. Parameter Temperatur (

oC)

Minyak

sawit SNI

55 60 65 70

Viskositas 40○C

(mm2/s) 33,84 31,02 31,10 32,71 40,39 2,3-6,0

Densitas (g/cm3) 0,898 0,875 0,894 0,895 0,913 0,85-0,89

Kadar air (%) 0,1996 0,0039 0,2575 0,4 0,0579 Maks 0,05

Bilangan asam

(mg-KOH/g) 0,14 0,14 0,28 0,28 0,42 Maks 0,8

(8)

Kajian Pengaruh Rasio Mol Metanol: Minyak

Secara stoikiometri, reaksi

pembentukan metil ester terjadi ketika

satu mol trigliserida bereaksi dengan

tiga mol metanol, namun menurut

Empikul et al., (2010) jumlah metanol

berlebih akan membantu pembentukan

spesies metoksi pada permukaan CaO

dan juga dapat mendorong reaksi

bergeser ke arah kanan kesetimbangan.

Walaupun demikian penambahan

metanol terlalu banyak tidak akan

meningkatkan laju reaksi, bahkan akan

menyebabkan sebagian besar gliserol

akan terlarut dalam metanol berlebih

yang akan menghambat reaksi. Hasil uji

kualitas biodiesel dengan variasi rasio

mol metanol minyak disajikan dalam

Tabel4.

Tabel 4. Hasil uji kualitas biodiesel dengan variasi rasio mol metanol: minyak

Parameter Rasio mol metanol: minyak Minyak

sawit SNI 6:1 9:1 12:1 15:1

Viskositas

40○C(mm2/s) 35,60 31,08 31,02 31,72 40,39 2,3-6,0

Densitas

(g/cm3) 0,898 0,896 0,875 0,892 0,913 0,85-0,89

Kadar air (%) 0,1575 0,1445 0,0039 0,0802 0,0579 Maks 0,05

Bilangan asam

(mg-KOH/g) 0,42 0,42 0,14 0,42 0,42 Maks 0,8

Rendemen (%) 78 80 86 86 -

Hasil yang diperoleh

menunjukkan bahwa kualitas biodiesel

semakin baik seiring dengan

meningkatnya rasio mol metanol:

minyak. Hal ini dapat dilihat dari Tabel

4, dimana viskositas biodiesel semakin

turun dengan peningkatan rasio mol

yang ditambahkan, begitu juga dengan

nilai densitas biodiesel. Namun, disaat

rasio mol metanol: minyak 15:1,

kualitas biodiesel menurun jika

dibandingkan pada saat rasio mol

metanol: minyak 12:1. Hal ini

dikarenakan penambahan metanol

yang terlalu banyak akan menurunkan

kualitas biodiesel, yang bisa dilihat dari

naiknya nilai viskositas dan densitas

biodiesel.

Viskositas

Berdasarkan data Tabel 4

(9)

mm2/s menjadi 31,08 mm2/s pada saat

rasio mol metanol: minyak 9:1.

Viskositas yang terukur masih besar

jika dibandingkan dengan standar

kualitas biodiesel menurut SNI (2,3-6,0

mm2/s). Viskositas biodiesel paling

rendah dari empat varian rasio mol

reaktan terjadi ketika rasio mol 12:1

yaitu sebesar 31,02 mm2/s.

Densitas

Densitas semua biodiesel sudah

sesuai dengan standar yang ditetapkan

oleh SNI yaitu berkisar antara 0,85-0,89

g/ml. Nilai densitas ini juga lebih rendah

jika dibandingkan dengan densitas

bahan baku minyak sawit yang nilainya

0,913 g/ml. Sama seperti viskositas,

penurunan nilai densitas menunjukkan

telah terjadi pemutusan ikatan

trigliserida menjadi metil ester yang

memiliki berat molekul yang lebih kecil.

Bilangan Asam

Variasi rasio mol reaktan tidak

berpengaruh terhadap bilangan asam,

hal ini dapat dilihat dari Tabel 4. Ketika

rasio mol reaktan 6:1 nilainya sama

dengan disaat rasio mol reaktan 9:1

dan 15:1 yaitu sebesar 0,42 mg-KOH/g.

Sedangkan pada saat rasio mol reaktan

12:1 bilangan asam yang terukur

adalah sebesar 0,14 mg-KOH/g.

Secara keseluruhan bilangan asam

biodiesel yang dihasilkan telah

mengalami penurunan dari bilangan

asam bahan baku (minyak sawit) yang

memiliki bilangan asam 0,42

mg-KOH/g.

Kadar Air

Pada kondisi rasio mol reaktan

6:1 kadar air yang terukur adalah

0,1575%, kemudian kadar air menurun

disaat rasio mol reaktan 9:1 yaitu

sebesar 0,1445%. Kadar air terkecil

diperoleh pada saat kondisi rasio mol

reaktan 12:1 yang bernilai 0,0039%,

nilai ini memenuhi standar SNI yang

menetapkan kadar air biodiesel

maksimum 0,05%. Berdasarkan uraian

di atas didapatkan bahwa jumlah rasio

mol metanol: minyak 12:1 merupakan

kondisi terbaik untuk pembuatan

biodiesel dengan menggunakan katalis

CaO dan bahan baku minyak sawit.

KESIMPULAN

Proses kalsinasi cangkang

bekicot pada temperatur tinggi mampu

mengkonversi CaCO3 menjadi CaO

yang berfungsi sebagai katalis

heterogen. Berdasarkan hasil penelitian

yang telah dilakukan, temperatur dan

rasio mol metanol: minyak berpengaruh

terhadap reaksi transesterifikasi dimana

temperatur optimum dalam reaksi

(10)

rasio mol metanol:minyak sebesar 12:1

dan menggunakan cangkang bekicot

hasil kalsinasi pada temperatur 800 oC.

DAFTAR PUSTAKA

Darnoko, D., A. Nasution, & G. Bagus. 2005. Produksi Biodiesel dari Crude Palm Oil. Warta PPKS, Medan.

Empikul, N.V., P. Krasae, B. Puttasawat, B. Yoosuk, N. Chollacoop, & K.Faungnawakij. 2010. Waste Shells of Mollusk and Egg as Biodiesel Production Catalysts. Bioresource Technology 101:3765–3767.

Kusmiyati. 2008. Reaksi Katalitis Esterifikasi Asam Oleat Dan Metanol Menjadi Biodiesel

Dengan Metode Distilasi Reaktif.

Reaktor, Vol. 12 No. 2, 78-82

Mittelbach, M. & C. Remschmitdt. 2004. Biodiesel : The Comprehensive Handbook. Edisi ke-1. Boersedruck Ges.m.b. H. vienna, Austria.

Widyastuti, L. 2007. Reaksi Metanolisis Minyak Biji Jarak Pagar Menjadi Metil Ester Sebagai Bahan Bakar Pengganti Minyak Diesel Dengan Menggunakan Katalis KOH. Skripsi. Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang.

Zabeti, M., W.M.A. Daud, & M. Aroua. 2009. Optimization of the Activity of CaO/Al2O3 Catalyst for

Biodiesel Production Using Response Surface Methodology.

Gambar

Gambar 1
Tabel 2. Hasil uji kualitas biodiesel dengan menggunakan katalis hasil kalsinasi
Tabel 3. Hasil uji kualitas biodiesel dengan variasi temperatur reaksi transesterifikasi
Tabel 4. Hasil uji kualitas biodiesel dengan variasi rasio mol metanol: minyak

Referensi

Dokumen terkait

Kasihilah kami gerejaMu yang seringkali terjerumus dalam keegoisan diri sehingga membatasi kasih-Mu bagi orang- orang tertentu bahkan membentengi kasihMu dari dunia dengan berbagai

Penolakan terhadap calon notaris magang yang dilakukan oleh beberapa Notaris di Kota Batu agar keberlangsungan di dunia Notaris tetap terjaga maka diperlukan campur

Namun, stigma diskriminasi juga dialami ODHA yang berprofesi sebagai ibu rumahtangga yang tidak memiliki latar belakang seks bebas atau pun jarum suntik sesama

Mekanisme dalam menentukan nilai pasar pada pemungutan BPHTB atas waris di kota Surabaya yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (Dispenda) kota

Semakin tinggi konsentrasi STPP dan semakin lama waktu reaksi pada pati gembilli termodifikasi secara ikatan silang akan terjadi interaksi pati dengan senyawa

Berdasarkan hasil penelitan tentang peningkatan aktivitas belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan menggunakan diskusi kelompok

Perusahaan dapat berjalan dengan baik dan berkembang apabila mempunyai suatu aturan yang disebut peraturan. Hukuman juga sangat diperlukan dalam kedisiplinan karyawan,

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah: mengidentifikasi pencapaian standar mutu akademik pada Jurusan Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, Manajemen, dan