Metode Jalan Barru Pare Pare

Teks penuh

(1)

5.a. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN BARRU PAREPARE

LINGKUP PEKERJAAN TERDIRI DARI :

1.2 Mobilisasi dan Demobilisasi

1.8 Manajemen dan keselamatan lalu Lintas

1.17 Pengamanan Lingkungan Hidup

1.21 Manajemen Mutu

3.1.7 Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine 3.1.8 Galian Perkerasan Berbutir

3.2 (1) Timbunan Biasa

3.2 (2) Timbunan Pilihan

3.3 Penyiapan Badan jalan

5.1 (1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A 6.1 (1b) Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair 6.1 (2b) Lapis Perekat – Aspal Cair

6.3 (5a) Laston – Lapis Aus ( AC – WC) (Gradasi halus/kasar) 6.3 (6c) Laston – Lapis Antara Perata ( AC – BC (L)) (Gradasi

halus/kasar)

6.3.8.a Aspal Minyak

6.3.9 Aditif Anti Pengelupasan

6.3.10 Bahan Pengisi (Filler) Tambahan. 7.1 (8) Beton Mutu Rendah f’c= 15MPa

7.9 Pasangan Batu

8.1.1 Lapis Pondasi Aggregat Kelas A untuk Pek. Minor 8.1.2 Lapis Pondasi Aggregat Kelas B untuk Pek. Minor 8.1 (5) Campuran Aspal Panas untuk Pek. Minor

8.4 (1) Marka Jalan Thermoplastic

8.4 (10a) Kerb Pracetak Jenis 1 (Peninggi / Mountable) 10.1 (1) Pemeliharaan Rutin Perkerasan

10.1 (2) Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan

10.1 (3) Pemeliharaan Rutin Selokan, Saluran Air, Galian dan Timbunan

I.UMUM

1.2 (MOBILISASI)

Pekerjaan Pendahuluan Meliputi : - Pembuatan Direksi Keet

- Pengukuran dan As Built Drawing - Dokumentasi

- Mobilisasi dan Demobilisasi - Pembuatan Direksi Keet

(2)

dan penerangan secukupnya. Ukuran dari direksi keet ini sesuai dengan petunjuk direksi atau petunjuk teknis yang ditempatkan di sekitar lokasi proyek.

- Pengukuran dan As Built Drawing

Sebelum melakukan kegiatan konstruksi maka terlebih dahulu diadakan pengukuran awal untuk menentukan letak, elevasi dari konstruksi dan setelah berakhirnya pekerjaan konstruksi dilakukan pengukuran kembali untuk pembuatan As Built Drawing.

- Mobilisasi dan Demobilisasi

Melakukan Mobilisasi terhadap semua peralatan yang tercantum dalam kontrak. Setelah masa kontrak selesai semua peralatan ditarik (demobilisasi) dari lokasi proyek.

- Dokumentasi

Segala kegiatan konstruksi harus difoto mulai dari 0 %, 50 % dan 100 %.

I.2 Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas

a. Kontraktor Melakukan manajemen lalu lintas untuk mengendalikan dan melindungi pekerja (kontaktor dan konsultan) dan pengguna jalan, yang melewati areal konstruksi, termasuk lokasi sumber material dan jalur pengangkutannya, sesuai dengan spek ini dan rencana manajemen lalu lintas atau yang ditentukan oleh Konsultan dan Direksi

b. Melengkapi, memasang dan memelihara rambu, pagar, dsb dan menyediakan per-bendera-an dan lainnya untuk mengarahkan lalu lintas melalui daerah kerja konstrtuksi. Pengendalian lalu lintas harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan pengaturan yang berlaku.

c. Semua peralatan pengendalian lalu lintas yang dipakai dan dipasang oleh kontraktor harus dikaji pemenuhannya oleh Engineer .

I.3 Pengamanan Lingkungan Hidup

Proyek harus mengadopsi Kebijakan Pengamanan Sosial dan Lingkungan Hidup dengan tujuan sebagai berikut;

a) Melindungi kesehatan manusia;

b) Mencegah kerusakan lingkungan ataupun dampak kumulatifnya sebagai akibat adanya kegiatan;

c) Menghindari konflik sesama anggota masyarakat dan memperkuat keterikatan sosial masyarakat;

d) Memastikan bahwa desain setiap kegiatan menjamin MA&KAT memperoleh manfaat sosial dan ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai budaya, yang memasukkan gender serta nilai-nilai dan kepentingan antar-generasi;

e) Memastikan bahwa setiap kegiatan mendapatkan dukungan dari komunitas MA&KAT melalui konsultasi yang bebas dan terbuka sebelum kegiatan dilaksanakan; dan

(3)

setiap siklus Proyek perlu dilakukan proses konsultasi yang transparan, partisipatif serta dokumentasi yang benar, dan terbuka.

I.4 Manajemen Mutu

Manajemen Mutu adalah aspek-aspek dari fungsi manajemen keseluruhan yang menetapkan dan menjalankan kebijakan mutu suatu perusahaan/organisasi. Dalam rangka mencukupkan kebutuhan pelanggan dan ketepatan waktu dengan anggaran yang hemat dan ekonomis, seorang manager proyek harus

memasukkan dan mengadakan pelatihan management kualitas. Hal hal yang menyangkut kualitas yang di maksud diatas adalah : • Produk / pelayanan / proses pelaksanaan.

• Proses management proyek itu sendiri.

Didalam tuntutan zaman , dan dalam era persaingan bebas, kita harus banyak belajar tentang hal hal yang menyangkut proses manajemen dalam lingkungan kerja, terutama tentang pentingnya sistem dan realisasinya dalam proyek di lapangan.

Continuous Quality Management

Merupakan cara yang digunakan sebuah perusahaan yang mana dapat

digunakan untuk meningkatkan proses bisnis mereka. Ini merupakan cara hidup dari semua organisasi yang ingin mencapai posisi yang kompetitif dalam arus industrisasi yang cepat.

Syarat Penggunaan dalam Quality Management

Ada beberapa bagian yang mana digunakan dalam management kualitas. Dalam konteks konstruksi beberapa akan di jelaskan.

1. Inspeksi

Inspeksi merupakan alat untuk mengukur kegiatan proses konstruksi untuk memeriksa apakah standard spesifikasi udah di capai.

2. Quality control

Pengendalian Mutu (Quality Control) adalah teknik dan aktivitas operasi yang digunakan agar mutu tertentu yang dikehendaki dapat dicapai. Aktivitasnya mencakup monitoring, mengeliminir problem yang diketahui, mengurangi penyimpangan/perubahan yang tidak perlu serta usaha-usaha untuk mencapai efektivitas ekonomi.

Mutu (kualitas) dalam kerangka ISO-9000 didefinisikan sebagai “ciri dan karakter menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang mempengaruhi kemampuan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan tertentu”. Hal ini berarti bahwa kita harus dapat mengidentifikasikan ciri dan karakter produk yang berhubungan dengan mutu dan kemudian membuat suatu dasar tolok ukur dan cara pengendaliannya.

(4)

Tujuan :

1. Mencegah defect atau non-conforming product masuk pasar atau sampai pada customer. Hal ini yang dilakukan oleh suatu bagian diluar produksi yang disebut Quality Assurance. Ia langsung bertanggung jawab kepada pimpinan organisasi.

2. Mencegah bahan baku yang buruk masuk proses produksi

Kadang-kadang bagian produksi juga melakukan inspeksi sendiri yang hasilnya di cek ulang oleh QA.

Simbol I adalah Inspeksi.

Kelemahan

1. Kesalahan baru diketahui pada akhir produksi

2. Umpan balik yang diperlukan untuk analisis persoalan dan pencegahan sering terlambat sampai pada bagian yang membuat kesalahan dan harus membetulkannya

3. Operator (pekerja) tidak peduli terhadap kesalahan yang terjadi karena sudah ada bagian yang menanganinya

4. Pekerjaan ulang kadang-kadang dilakukan tanpa sepengetahuan bagian yang bertanggung-jawab akan kesalahan yang terjadi

II. Quality Control

Para inspektur ditempatkan pada awal dan akhir tiap proses

Kerugian

- Membutuhkan lebih banyak inspektur

- Para operator hanya bergantung pada hasil evaluasi inspektur III. Built-in Quality Control

(5)

IV. Total Quality

Disini seluruh inspektur ditiadakan, termasuk inspektur untuk bahan baku yang masuk. Hal ini dimungkinkan karena ada supplier-customer partnership

sehingga supplier dilatih oleh customer tentang Quality Management. Dengan melatih supplier dan operator untuk melakukan pekerjaannya secara benar sejak awal maka kualitas tinggi dapat dicapai pada seluruh tahap produksi. Dengan modus total quality dan tanpa inspeksi maka akan menurunkan biaya operasi, memperpendek manufacturing lead time dengan dapat mengendalikan inventories dengan baik.

III. PEKERJAAN TANAH 3.1 (1) Galian Biasa

 Tanah yang akan dipotong umumnya berada pada sisi jalan  Penggalian dilakukan dengan menggunakan excavator

 Selanjutnya excavator menuangkan material hasil galian kedalam dump

truck

 Setelah itu Dump Truck mengangkut dan membuang material hasil galian

keluar lokasi jalan.

3.1.

7 Galian Perkerasan Beraspal Tanpa Cold Milling Machine

 Permukaan jalan yang akan dibentuk dengan spesifikasi yang memenuhi

garis, ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau pembuangan material yang tidak terpakai ( humus ) memakai metode galian yang disesuaikan juga dengan jenisnya, apakah itu galian biasa atau galian padas.

 Untuk galian biasa dapat menggunakan tenaga manusia sedangkan untuk

galian padas atau keras harus menggunakaan alat berat (excavator / loader) dengan seijin direksi.

 Panjang atau luas penggalian disetarakan dengan kemampuan untuk

membuang dan mengganti volume galian dengan bahan pilihan sehingga tidak menimbulkan kerawanan lalu lintas bagi pengguna jalan.

 Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air terutama pada musim hujan,

maka permukaan galian yang telah selesai dan terbuka terhadap aliran air permukaan diusahakan serata mungkin dan memiliki cukup kemiringan.

 Apabila ada sebuah alat berat yang akan melewati pinggiran galian maka

diusahakan tidak lebih dekat dari 1,5 m dari tepi galian terbuka untuk menghindari terjadinya longsoran dan dapat merusak garis kelurusan galian yang telah terbentuk dengan sempurna.

 Jika dijumpai permukaan galian yang keras atau terdapat tonjolan batu maka

(6)

kepermukaan yang mantap dan merata dan tonjolan batu tersebut dapat rata dengan permukaan galian disekitarnya. Hasil pecahan batu yang diameternya lebih dari 15 cm akan dibuang keluar dari lokasi penggalian. 3.1.8 Galian Perkerasan Berbutir

 Bagian yang digali adalah bagian perkerasan berbutir (dibawah perkerasan

beraspal)

 Permukaan jalan yang akan dibentuk dengan spesifikasi yang memenuhi

garis, ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau pembuangan material yang tidak terpakai ( humus ) memakai metode galian yang disesuaikan juga dengan jenisnya,

 Panjang atau luas penggalian disetarakan dengan kemampuan untuk

membuang dan mengganti volume galian dengan bahan pilihan sehingga tidak menimbulkan kerawanan lalu lintas bagi pengguna jalan.

 Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air terutama pada musim hujan,

maka permukaan galian yang telah selesai dan terbuka terhadap aliran air permukaan diusahakan serata mungkin dan memiliki cukup kemiringan.

 Apabila ada sebuah alat berat yang akan melewati pinggiran galian maka

diusahakan tidak lebih dekat dari 1,5 m dari tepi galian terbuka untuk menghindari terjadinya longsoran dan dapat merusak garis kelurusan galian yang telah terbentuk dengan sempurna.

 Jika dijumpai permukaan galian yang keras atau terdapat tonjolan batu maka

pada permukaan tersebut akan digali 15 cm lebih dalam lagi hingga kepermukaan yang mantap dan merata dan tonjolan batu tersebut dapat rata dengan permukaan galian disekitarnya. Hasil pecahan batu yang diameternya lebih dari 15 cm akan dibuang keluar dari lokasi penggalian.

3.2 (1) Timbunan Biasa

a. Setelah penyiapan jalan dan pengukuran selesai dikerjakan maka dilakukan pekerjaan timbunan tanah.

b. Whell Loader memuat tanah ke Dump Truck yang siap di lokasi. c. Kemudian dump Truck mengangkut dari asal tempat ke lapangan.

d. Tanah dihampar setebal 20 cm dengan menggunakan motor grader. Atau sesuai Instruksi Direksi.

e. Timbunan dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju sumbu jalan. f. Tanah tersebut disiram dengan Water Tank dan dipadatkan dengan Vibrator

Roller sebanyak 4 sampai 8 kali lewat.

g. Selama pemadatan sekelompok pekerja merapikan tepi hamparan dengan menggunakan alat bantu.

3.3

Penyiapan Badan Jalan

 Pengambilan ketinggian akhir setelah pemadatan tidak boleh tinggi atau

rendah satu centimeter dari yang disyaratkan.

 Dilakukan perataan dari seluruh permukaan akhir serta memiliki kelandaian

(7)

 Tanah dasar harus dipadatkann dengan menggunakan Vibro Roller.

 Hamparan Material kemudian disiram dengan Water Tank sampai mencapai

kadar air yang sesuai dengan spesifikasi dan dipadatkan dengan mesin gilas 6-8 ton (tandem Roller).

V. PERKERASAN BERBUTIR

5.1 (1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A a. Uraian Metode Pelaksanaan

Pekerjaan ini terdiri dari pemasok, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan pada lahan yang telah disiapkan, sesuai dengan garis, kelandaian dan dimensi yang ditujukkan pada gambar.

Untuk pengadaan material agregat kasar diproduksi di base camp, kemudian dicampur untuk dijadikan agregat kelas A sesuai dengan komposisi campuran masing-masing dari Lapisan Pondasi A yang telah ditentukan dalam spesifikasi.

Prosedur Umum

a. Pengukuran dan pematokan (staking out) diakukan oleh surveyor untuk menentukan kelandaian, elevasi yang ditentukan dalam Gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan.

b. Dalam pelaksanaan pencampuran ini digunakan alat Wheel Loader yang sekaligus meloading ke atas Dump Truck yang digunakan untuk mengangkut material ke lokasi yang siap di hampar.

c. Material dibongkar untuk selanjutnya dihampar/diratakan dengan Motor Grader hingga mencapai ketebalan yang dihasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang diisyaratkan.

d. Pada pengoperasian alat Motor Grader saat penghamparan metrial tidak menyebabkan segregasi partikel aggregat kasar dan halus.

e. Pemadatan dilaksanakan dengan menggunakan alat Vibrator Roller yang memadai sambil dilaksanakan pembasahan dengan water tank untuk menjaga kadar air optimum selama pemadatan hingga paling sedikit kepadatan 100 % dari kepadatan kering maksimum.

f. Operasi penggilasan dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit kearah sumbu jalan dalam arah memanjang.

(8)

VI. PERKERASAN ASPAL

6.1 (1a) Lapis Resap Pengikat (Asp al Minyak )

a. Permukaan yang akan diberi lapisan resap pengikat terlebih dahulu dibersihkan menggunakan alat bantu dan mesin compressor.

b. Aspal emulsi yang akan digunakan sebagai lapis resap pengikat dimasukkan dalam tangki asphalt sprayer dan dipanaskan sampai mencapai suhu yang telah ditetapkan dan kemudian disiram pada permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan takaran 0,80 s/d 1,20 ltr/m2 atau sesuai dengan jenis permukaan yang akan menerima pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan dipakai. c. Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan

penyemprotan terlebih dahulu diukur dan ditandai sesuai dengan volume pekerjaan yang akan dilaksanakan pada hari tersebut.

d. Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal disemprotkan dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang diperintahkan oleh konsultan atau direksi.

e. Setelah pelaksanaan penyemprotan, bahan aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot diratakan dengan menggunakan alat pemadat karet, sikat ijuk atau alat penyapu dari karet.

f. Penggilasan awal (Breakdown) dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja maupun dengan alat pemadat roda karet. Penggilasan awal dioperasikan dengan roda penggerak berada di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan menerima minimum dua lintasan penggilasan awal.

g. Penggilasan kedua atau utama dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Penggilasan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi).

h. Pertama-tama penggilasan dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan campuran aspal akibat penggilasan. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya, maka lintasan awal dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek.

i. Penggilasan dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Selanjuntnya penggilasan dilakukansejajar dengan sumbu jalan beurutan menuju kearah sumbu jalan, kecuali untuk super elevasi pada tikungan dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi. Lintasan yang berurutan saling tumpang tindih (overlap) minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.

j. Semua jenis operasi penggilasan dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidarataan dapat dihilangkan.

(9)

6.1 (2a) Lapis Perekat (Aspal Minyak )

a. Permukaan yang akan diberi lapisan perekat terlebih dahulu dibersihkan menggunakan alat bantu dan mesin compressor.

b. Aspal emulsi yang akan digunakan sebagai lapis perekat dimasukkan dalam tangki asphalt sprayer dan dipanaskan sampai mencapai suhu yang telah ditetapkan dan kemudian disiram pada permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan takaran 0,15 s/d 0,40 ltr/m2 atau sesuai dengan jenis permukaan yang akan menerima pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan dipakai. c. Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan

penyemprotan terlebih dahulu diukur dan ditandai sesuai dengan volume pekerjaan yang akan dilaksanakan pada hari tersebut.

d. Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal disemprotkan dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang diperintahkan oleh konsultan atau direksi.

e. Setelah pelaksanaan penyemprotan, bahan aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot diratakan dengan menggunakan alat pemadat karet, sikat ijuk atau alat penyapu dari karet.

f. Penggilasan awal (Breakdown) dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja maupun dengan alat pemadat roda karet. Penggilasan awal dioperasikan dengan roda penggerak berada di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan menerima minimum dua lintasan penggilasan awal.

g. Penggilasan kedua atau utama dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Penggilasan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi).

h. Pertama-tama penggilasan dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan campuran aspal akibat penggilasan. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya, maka lintasan awal dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek.

i. Penggilasan dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Selanjuntnya penggilasan dilakukansejajar dengan sumbu jalan beurutan menuju kearah sumbu jalan, kecuali untuk super elevasi pada tikungan dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi. Lintasan yang berurutan saling tumpang tindih (overlap) minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.

j. Semua jenis operasi penggilasan dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidarataan dapat dihilangkan.

(10)

Pekerjaan Lapis Resap

Metode Pelaksanaan Lapis Perekat & Lapis Resap Pengikat

AREA YANG TELAH DI PRIME COAT / TAKE COAT

Arah Penyemprotan

Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet dari campuran aspal yang terdiri dari aggregate dan bahan aspal yang dicampur dipusat instalasi. Pencampuran, serta menghampar terdiri dari pemasok, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan pada lahan yang telah disiapkan, sesuai dengan garis, kelandaian dan dimensi yang ditujukkan pada gambar.

Prosedur Umum

a. Pekerjaan Persiapan dimulai dengan melakukan campuran percobaan laboratorium untuk memperoleh suatu campuran rancangan yang memenuhi spesifikasi. Percobaan campuran di Instalasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan akan menjadikan rancagan campuran dapat disetujui sebagai Rumus Perbandingan aspal dicampur dan dipanaskan dengan AMP untuk dimuat langsung ke dalam Dump Truck dan diangkut ke lokasi pekerjaan.

(11)

terpal atau bahan lainnya yang cocok dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi campuran aspal terhadap cuaca.

d. Sesaat sebelum penghamparan, permukaan yang akan dihampar harus dibersihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak dikehendaki. Campuran hanya bias dihampar bila permukaan yang telah dipersiapkan keadaan kering dan tidak turun hujan.

e. Campuran aspal panas dihampar dengan finishe dengan suatu kecepatan yang tidak menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidak rataan lainnya pada permukaan. Sebelum memulai penghamparan, sepatu (Sreed) alat penghampar harus dipanaskan. Penghamparan harus dimulai dari jalur yang lebih rendah menuju jalur yang lebih tinggi bilamana pekerjaan terdiri dari satu lajur, bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada tiap hari produksi dibuat seminimal mungkin.

f. Penggilasan campuran aspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah sebagai berikut :

1. Penggilasan Awal atau Breakdown 2. Penggilasan kedua atau Utama 3. Penggilasan akhir/Penyelesaian

g. Penggilasan awal atau breakdown harus dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja/tandem Roller, Penggilasan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet (Pneumatic Tyre Roller) sedekat mungkin dibelakang penggilasan awal. Penggilasan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar. Roda alat pemadat harus dibasahi secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran boleh sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran aspal pada roda. Penggunaan air selama pemadatan disuplai dengan alat Water Taker.

h. Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dengan menggunakan alat Bantu.

(12)

VII. STRUKTUR 7.1(

10 ). Beton Mutu rendah dengan f’ c=10 Mpa ( K 1 2 5)

PENGUKURAN

 Semua pengukuran yang akan dimulai, didasarkan pada BM (Bench Mark) yang telah ditentukan oleh Direksi dan konsultan pengawas.

 Pengukuran untuk penentuan batas-batas area pekerjaan dan posisi jembatan menggunakan alat ukur Theodolith dan Water Pass.

 Pengukuran dilaksanakan oleh pelaksana bersama-sama dengan konsultan pengawas agar ketinggian peil tanah dasar dapat disetujui bersama yang nantinya akan menjadi patokan dalam menentukan peil bangunan lainnya yang akan segera dikerjakan.

 Apabila dalam pengukuran telah diperoleh batas-batas dan ketinggian peil tanah dasar, maka patok-patok pembantu yang dibuat dari beton cor dipasang agar kedudukan titik-titik yang dimaksud tidak berubah.

 Karena jembatan ini adalah penerus dari jalan (sebelum dan sesudah jembatan) maka as jembatan ini merupakan satu kesatuan dari as jalan. Dan as jembatan dibuat berpedoman pada as jalan baik pada ujung dan pangkal jembatan tersebut.  Sudah tentu dengan pasti itu perlu dilengkapi dengan patok-patok yang tetap

seperti yang telah diuraikan dia atas. Ini penting untuk menjaga jangan sampai terjadi lagi pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu diulangi lagi dan kontinyuitas kerja terjamin.

 Selesai penentuan jembatan (arah melintang) pun kita menetukan ketinggiannya, untuk itu kita ambil dasar dari titik ketinggian pedoman. (BM)

 Setelah kita kerjakan titik/patok – patok utama ini, maka dapat diteruskan pemasnagan patok-patok pembantu (bowplank) dimana jembatan itu didirikan. Setelah cukup sempurna, bentuk dan kekuatan patok pembantu tersebut maka dipindahkanlah titik ketinggian dan center linenya itu yang diperlukan untuk dapat diketahui luas area dan berapa kedalaman galian yang diperlukan.

 Ini perlu diteliti kembali dengan seksama.

 Kalau di atas disinggung soal tenaga (Surveyor) maka tidak kalah penting keadaan alat-alat yang dipergunakan. Oleh sebab itu sebelum memulai bekerja, alat yang akan digunakan perlu diperiksa dan diteliti apakah ada kejanggalan / kerusakan pada alat-alat itu yang akan menghasilkan pekerjaan tidak sempurna dan adanya kesalahan-kesalahan nantinya ditemui.

PENCAMPURAN MATERIAL BETON

Pencampuran material beton dengan menggunakan concrete mixer (molen) perlu kita perhatikan spesifikasi waktu pencampuran minimum sbb :

Kapasitas Alat Campur (m3)

Adapun prinsip umum penggunaan alat campur beton sbb :

(13)

2. Air harus diberikan kedalam alat campur pada waktu yang bersamaan. 3. Pencampuran harus berlangsung terus sampai beton seragam konsistensinya. 4. Alat campur diisikan sesuai dengan kapasitasnya.

5. Alat campur harus disetel dengan teliti sehingga sumbu putar wadah pencampur dalam posisi horisontal.

6. Untuk mendapatkan penampilan beton yang memuaskan, alat campur harus menghasilkan beton seragam pada seluruh takaran.

7. Alat campur harus berputar pada kecepatan yang benar seperti dinyatakan oleh pabrik.

8. Pembersihan teratur pada setiap akhir dari siklus pencampuran.

Cara / metode pencampuran beton yang akan kami terapkan sbb : 1. Pencampuran berlangsung lebih kurang 5 menit pada alat campur

2. Agregat kasar dan halus dimasukkan ke dalam alat campur dan ditambahkan air 2/3 dari volume yang diperlukan.

3. Molen diputar lebih kurang 1,5 menit (90 putaran) 4. Semen kemudian dimasukkan.

5. Molen terus berputar selama 2 menit (120 putaran) 6. Sisa air yang 1/3 tadi ditambahkan ke dalam campuran. 7. Molen diputar terus selama 1,5 menit (90 putaran) 8. Campuran beton siap dicorkan.

Dalam pengecoran perlu diperhatikan hal sebagai berikut :

1. Perlu diketahui berapa kuantiti pekerjaan guna mengetahui banyaknya bahan yang harus disediakan (semen, pasir, kerikil, air dll).

2. Alat-alat / perlengkapan selengkap-lengkapnya dan dengan kondisi yang baik terutama mixer, vibrator dan perlengkapan untuk ada kalanya perlu kerja sampai malam dan sedang bekerja hujan datang.

3. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat pula bahwa pekerjaan pengecoran deck slab ini tidak boleh terhenti dimana satu bidang (span)nya harus terlaksana terus menerus.

4. Mengingat hal itu juga perlu dipersiapkan tenaga tambahan / pengganti apabila pekerjaan itu terlaksana lebih dari 8 jam.

5. Dalam pekerjaan deck slab ini perlu pula diingat untuk pekerjaan selanjutnya yaitu tempat tiang sandaran dan drainasenya. Jadi semua hal yang bertalian satu sama lain harus diperhatikan dengan seksama, kalau harus terpasang sebelumnya tetapi tertinggal yang mengakibatkan kesukaran dan memperlambat pekerjaan.

7.9.

Pekerjaan Pasangan Batu

Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan struktur yang ditujukan dalam gambar atau seperti yang diperintahkan. Direksi Pekerjaan yang dibuat dari pasangan batu. Pekerjaan harus meliputi pemasokan semua bahan, galian, penyiapan pondasi dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti yang dtunjukkan dalam gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh direksi.

Prosedur Umum

(14)

b. Penempatan material sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan dan tidak mempersempit lebar jalan sehingga menggagu lalu lintas dan orang lain.

c. Pembasahan permukaan batu sebelum pemasangan dengan waktu secukupnya untuk penyerapan air hingga jenuh.

d. Pencampuran mortar dilaksanakan secara mekanis dengan alat concrete mixer (Molen). Penggunakan air saat pencampuran mortar disuplay dengan water tank truck.

e. Batu harus dipasang dengan muka yang terpasang mendatar dan muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.

f. Batu harus ditanami sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu yang telah terpasang menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekerjaan yang baru dipasang tidak diperkenankan.

g. Dinding pada pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan dengan bamboo. Kecuali ditunjukkan lain pada gambar atau diperintahkan oleh direksi pekerjaan, lubang sulingan harus ditempatkan dengan jarak antara tidak lebih dari 2 meter dari sumbu satu ke sumbu lainnya.

h. Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah, maka deletasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20meter. Deletasi harus 30 meter lebarnya dan harus diteruskan sampai seluruh tinggi dinding.

i. Bila mana lokasi pekerjaan pasangan batu adukan berada pada jalur lalu lintas padat pada lokasi daerah terbuka atau jalur lalu lintas padat dilaksanakan pengaturan dan pengaman untuk mencegah terhadap pekerja dan orang lain mengalami kecelakaan dengan menempatkan rambu-rambu peringatan.

VIII. PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR 8.1.

(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A untuk Pek. Minor b. Uraian Metode Pelaksanaan

Pekerjaan ini terdiri dari pemasok, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan pada lahan yang telah disiapkan (untuk Pek. Minor), sesuai dengan garis, kelandaian dan dimensi yang ditujukkan pada gambar.

Untuk pengadaan material agregat kasar diproduksi di base camp, kemudian dicampur untuk dijadikan agregat kelas A sesuai dengan komposisi campuran masing-masing dari Lapisan Pondasi A yang telah ditentukan dalam spesifikasi.

Prosedur Umum

(15)

i. Dalam pelaksanaan pencampuran ini digunakan alat Wheel Loader yang sekaligus meloading ke atas Dump Truck yang digunakan untuk mengangkut material ke lokasi yang siap di hampar.

j. Material dibongkar untuk selanjutnya dihampar/diratakan dengan Motor Grader hingga mencapai ketebalan yang dihasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang diisyaratkan.

k. Pada pengoperasian alat Motor Grader saat penghamparan metrial tidak menyebabkan segregasi partikel aggregat kasar dan halus.

l. Pemadatan dilaksanakan dengan menggunakan alat Vibrator Roller yang memadai sambil dilaksanakan pembasahan dengan water tank untuk menjaga kadar air optimum selama pemadatan hingga paling sedikit kepadatan 100 % dari kepadatan kering maksimum.

m. Operasi penggilasan dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit kearah sumbu jalan dalam arah memanjang.

n. Pengecekan terhadap elevasi dan ukuran yang telah ditentukan dilaksanakan pengendalian mutu dengan suatu program pengujian sesuai dengan spesifikasi. Pengendalian lalu lintas terhadap lokasi tempat kerja pada jalur lalu lintas terbuka dengan menempatkan rambu-rambu peringatan baik siang hari maupun dimalam hari.

8.1.

(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas B untuk Pek. Minor c. Uraian Metode Pelaksanaan

Pekerjaan ini terdiri dari pemasok, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan pada lahan yang telah disiapkan (untuk Pek. Minor), sesuai dengan garis, kelandaian dan dimensi yang ditujukkan pada gambar.

Untuk pengadaan material agregat kasar diproduksi di base camp, kemudian dicampur untuk dijadikan agregat kelas B sesuai dengan komposisi campuran masing-masing dari Lapisan Pondasi B yang telah ditentukan dalam spesifikasi. Prosedur Umum

o. Pengukuran dan pematokan (staking out) diakukan oleh surveyor untuk menentukan kelandaian, elevasi yang ditentukan dalam Gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan.

p. Dalam pelaksanaan pencampuran ini digunakan alat Wheel Loader yang sekaligus meloading ke atas Dump Truck yang digunakan untuk mengangkut material ke lokasi yang siap di hampar.

q. Material dibongkar untuk selanjutnya dihampar/diratakan dengan Motor Grader hingga mencapai ketebalan yang dihasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang diisyaratkan.

r. Pada pengoperasian alat Motor Grader saat penghamparan metrial tidak menyebabkan segregasi partikel aggregat kasar dan halus.

s. Pemadatan dilaksanakan dengan menggunakan alat Vibrator Roller yang memadai sambil dilaksanakan pembasahan dengan water tank untuk menjaga kadar air optimum selama pemadatan hingga paling sedikit kepadatan 100 % dari kepadatan kering maksimum.

t. Operasi penggilasan dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit kearah sumbu jalan dalam arah memanjang.

(16)

dengan spesifikasi. Pengendalian lalu lintas terhadap lokasi tempat kerja pada jalur lalu lintas terbuka dengan menempatkan rambu-rambu peringatan baik siang hari maupun dimalam hari.

8.1 (5) Campuran Aspal Panas untuk Pek. Minor

 Whell Loader memuat Agregat dan Aspal ke dalam Cold Bin AMP

 Agregat dan Aspal di campur dan dipanaskan dengan AMP untuk dimuat

langsung kedalam Dump Truck dan diangkut ke Lokasi pekerjaan.

 Sekelompok Pekerja Membuat Galian Lubang/Patching,

 Campuran panas di hampar dengan menggunakan Finisher dan dipadatkan

dengan mengunakan Tandem Roller

 Sekelompok Pekerja Merapikan tepi hamparan dengan menggunakan alat

bantu 8.1(

4 ) . Marka Jalan Thermoplastik

 Permukaan Jalan yang akan dikerjakan dibersihkan dari debu dan kotoran  Cat Thermoplastic yang telah dipanaskan disemprotkan dengan menggunakan

compressor di atas mal tripleks yang telah dipasang di permukaan jalan

 Glass bit diberikan segera setelah cat marka selesai disemprotkan.

8.

6 (1 ) . Kerb Pracetak

 Pekerja membuat Kerb sesuai dengan gambar rencana menggunakan Beton

K275

 Kerb yang telah dibuat diangkut ke lokasi dengan menggunakan Dump Truck  Sekelompok Pekerja Menggali titik yg akan dipasangi Kerb

 Tukang batu melakukan pengecoran kaki Kerb dengan beton spesi  Pekerja merapihkan sisa pemasangan Kerb

Makassar, 09 Januari 2014 PT. Sinar Agung Jaya Lestari

(17)
(18)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :