• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Critical Theory dan Aplikasin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perspektif Critical Theory dan Aplikasin"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Perspektif Critical Theory dan Aplikasinya dalam Studi

Kasus Foreign Aid to Indonesia

Esai Mata Kuliah Perspektif Alternatif dalam Hubungan Internasional

Dosen Pengampu : Yusli Effendi, S.IP., M.A.

Disusun oleh :

Kelompok 1

Ezra Day Sitorus

145120401111007

Rika Zulkarnaen

155120400111002

Rizqi Wisnu Mauludino

155120400111005

Yoga Maulidy Prawira

155120400111007

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya

Malang

(2)

Latar Belakang

Perspektif alternnatif dalam ilmu hubungan internasional atau yang lebih dikenal dengan perspektif post-positivist merupakan perspektif yang memberikan pendekatan baru dalam mengkaji fenomena hubungan internasional. Salah satu perspektif yang termasuk dalam aliran post-positivist adalah teori kritis, atau critical theory. Tanpa membahas terlalu dalam, perspektif teori kritis merupakan perspektif alternatif dalam hubungan internasional yang membahas mengenai suatu fenomena sosial yang kemudian berusaha mengupasnya hingga ke akar fenomena tersebut.1

Perspektif teori kritis yang juga mempromosikan emansipasi di masyarakat, dengan cara-cara berupa penumpasan penggunaan kekerasan dan sebagainya maka dapat dikatakan sebagai perspektif yang sangat humanis. Perspektif ini melihat sesuatu hingga ke dasarnya sehingga secara garis besar perspektif ini kemudian menyajikan suatu solusi tentang suatu masalah, yang mana sering sekali menyinggung aspek tatanan masyarakat atau dunia. Robert Cox secara singkat menjelaskan “untuk mengubah dunia maka harus dimulai dengan memahami dunia sebagaimana adanya”.2 Robert Cox yang merupakan ahli teori kritis kemudian menjelaskan bahwa teori kritis harus mampu menilai secara kritis terhadap asal-usul sesuatu untuk kemudian menemukan letak permasalahan yang sebenarnya.3 Jadi, penggunaan perspektif teori kritis dapat digunakan untuk melihat sebuah fenomena dan mencari masalah sebenarnya dengan cara melihat asal-usul atau awal mula fenomena tersebut.

Washington consensus merupakan suatu produk dari institusi keuangan besar di Amerika Serikat. Membahas lebih jauh dalam pembahasan, singkatnya dari washington consensus adalah kondisi perekonomian sebuah negara yang diasumsikan mampu untuk meningkatkan perekonomian negara tersebut menjadi lebih baik dan membuat lebih sejahtera. Washington consensus ini kemudian dipopulerkan dan dipromosikan ke negara-negara berkembang untuk kemudian menyesuaikan dengan kondisi tersebut guna memperbaiki ekonomi negara tersebut. Washington consensus dapat dikatakan merupakan sebuah bentuk perekonomian kapitalisme. Salah satu negara yang turut mengaplikasikan washington consensus adalah Indonesia. Dampaknya, terdapat bantuan luar negeri yang

1Burchill, Scott dan Andrew Linklater. 2002. Teori-teori Hubungan Internasional. Bab 6. 2 Burchill. Ibid. Halaman 209.

(3)

diberikan kepada Indonesia berupa utang luar negeri dengan syarat Indonesia mengikuti kondisi-kondisi sebagaimana tercantum dalam washington consensus.

Maka, perspektif teori kritis yang menekankan pada kritik yang emansipatoris dan penekanan pada akibat dari tatanan dunia yang berpihak pada kaum tertentu, penggunaan teori kritis dirasa cukup menarik dan diharapkan mampu menemukan gambaran yang lebih besar terhadap kasus yaitu bantuan luar negeri yang diterima Indonesia sebagai bentuk dari implementasi washington consensus.

Pembahasan

Critical Theory

Pada dasarnya, teori kritis (critical theory) dalam teori-teori hubungan internasional adalah sejenis teori alternatif baru yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran teoritikal alternatif dari teori-teori arus utama lain yang seringkali digunakan dalam studi hubungan internasional, seperti teori realisme dan liberalisme. Tidak hanya teori kritis berdiri mandiri dari teori-teori yang lainnya, teori kritis juga berusaha mengkritik teori-teori lain yang sudah mapan keberadaannya dalam studi hubungan internasional, di mana aspek-aspek internal dari teori-teori arus utama yang sering digunakan adalah fokus utama kritik oleh teori kritis.

Untuk lebih jelasnya, aspek-aspek non-politik dan ekonomi yang seringkali diabaikan oleh paham-paham realisme dan liberalisme seperti budaya dan gender turut berusaha dilibatkan oleh teori kritis untuk menjamin pembahasan yang menyeluruh dari seluruh aspek dinamika hubungan internasional. Di sini, teori kritis banyak mendapatkan inspirasinya dan merupakan sebuah kelanjutan dari teori Marxisme4 yang

dicetuskan oleh pemikir Jerman Karl Marx, yang meyakini akan adanya dan selalu hadirnya sistem eksploitasi materiil dalam sistem produksi di tengah masyarakat. Menurutnya, ketimpangan ekonomi dan sosial yang

(4)

disebabkan oleh praktek kapitalisme dalam perekonomian negara akan memperluas kemelaratan dan kemiskinan fnansial masyarakat, yang memancing reaksi keras dari kelas pekerja terhadap para pemilik modal yang telah mengeksploitasi mereka.

Pendekatan Marxisme oleh Marx yang sifatnya ekonomik ini kemudian diperdalam lebih jauh oleh Antonio Gramsci (seorang Marxis Italia). Menurut Gramsci, Marxisme yang memang ditujukan untuk mencapai emansipasi dan persamaan ekonomi kepada seluruh lapisan strata masyarakat (emancipation) yang menuntut adanya kebebasan manusia dari kekangan hegemoni dan kekuatan lain yang mencegah mereka untuk mencapai keinginan pribadi mereka.5 Dari situ, teori kritis

menitikberatkan pada keyakinan bahwa sistem internasional, tidak seperti yang dipercaya oleh kaum realis dan liberal sebagai sesuatu yang taken for granted, adalah cerminan dari kekuatan-kekuatan politik dan sosial yang berusaha menjaga keamanan dan kekuasaannya terhadap entitas-entitas lain yang tidak sekuat mereka.6

Mengacu pada struktur hegemoni yang merupakan dasar asumsi utama kekuatan yang berusaha melakukan eksploitasi di tengah sistem internasional, terciptalah blok-blok politik, ekonomi, dan kelas sosial yang terus dikelola oleh negara-negara hegemonik, yang mencerminkan adanya sebuah tatanan dunia yang akan mempermudah proses eksploitasi ekonomi oleh negara-negara hegemonik. Teori kritis menganggap bahwa tatanan dunia tersebutlah yang menjadi akar dari permasalahan. Teori kritis berusaha mengkritik tatanan tersebut dan berusaha mengubah dan menciptakan tatanan dunia yang dirasa lebih adil bagi seluruh manusia.

Melalui penjelasan diatas, teori kritis memang terdengar mirip dengan perspektif marxisme. Hal tersebut tidaklah salah karena teori kritis mempelajari banyak pemikir dan flsuf tidak terkecuali Karl Marx.

5 Ashley, Richard K. Political Realism and Human Interests. International Studies Quarterly, Vol. 25, No. 2, Symposium in Honor of Hans J. Morgenthau. (Jun., 1981)

(5)

Teori kritis sebagaimana dijelaskan oleh Robert Cox, merupakan teori yang berbentuk antitesis dari teori-teori tradisional.7 Teori tradisional

seperti realisme melihat tatanan dunia sebagai hal yang ada sejak dahulu, kaku, dan sebagaimana adanya. Namun, teori kritis melihat bahwa bahkan teori-teori tradisional mempunyai asal-usul yaitu tempat dan waktu tertentu dimana para pemikirnya terpengaruh oleh keadaan sosial yang ada. Dengan kata lain, teori kritis memandang bahwa segala teori merupakan hasil interaksi sosial dan pasti mempunyai akar permulaan.

Meskipun teori kritis berorientasi pada pemecahan masalah, namun pada dasarnya teori kritis hanya mempertanyakan asal-usul bagaimana suatu masalah tersebut terjadi. Teori kritis melihat segala aspek sosial masyarakat seperti budaya dan sejarah masyarakat sehingga akar dari masalah ataupun tatanan yang ada dapat diidentifkasi. Teori kritis menjelaskan bahwa setiap kejadian atau fenomena tidak berasal dari sesuatu yang diberikan secara alamiah, tetapi merupakan suatu produk dari interaksi sosial, budaya, dan sejarah manusia. Bahkan, setiap teori memiliki subjektiftasnnya sendiri dikala sebuah teori dan penelitinya harus bebas dari nilai-nilai tertentu. Hal ini yang menjadikan teori kritis sebagai teori post-positivist karena teori kritis melihat bahwa segala sesuatu pasti memiliki pembuat atau pencipta yang mana dapat ditelusuri dan dikritik.8 Tetapi pada akhirnya, teori kritis menjelaskan bahwa sistem

atau tatanan dunia yang dibuat berdasarkan situasi tertentu adalah sumber dari masalah dan bahwa tatanan tersebut harus direkonstruksi ulang. Oleh karena itu, teori kritis sangat berorientasi pada kesejahteraan manusia dan berusaha membuat dunia adil pada seluruh orang, maka dari itu teori kritis selalu mempromosikan nilai-nilai emansipasi. Hanya saja secara praktek teori kritis masih lebih menekankan pada kritik-kritik terhadap sumber masalah dibanding memberi solusi konkret.

Washington Consensus dan Foreign Aid to Indonesia

(6)

Washington Consensus

Konsep pembangunan negara terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, krisis yang dialami banyak negara pasca perang dunia kedua akibat adanya intervensi negara yang terlalu kuat dalam hal perekonomian memunculkan banyak gagasan dari para ahli mengenai model pembangunan baru yang harus dilakukan bagi negara. Neo-liberalisme kemudian muncul sebagai sebuah ide baru yang mengasumsikan bahwa negara seharusnya tidak terlibat dalam urusan pasar karena akan menghambat jalannya perekonomian. Sehingga pasar harus independent agar fungsinya secara natural bisa berjalan dengan baik. Para aktor dari pasar harus dibebaskan dari aturan-aturan yang dibuat negara agar tidak menghalangi mereka dalam mencapai tujuan yang ideal, dengan demikian maka semua negara didunia harus menerapkan hal serupa, kebijakan ekonomi yang terintegrasi seara penuh, dengan kata lain harus ada deregulasi.

Model ini juga mengharuskan negara untuk tidak menghabiskan anggaran untuk pelayanan sosial bagi masyarakatnya, misalnya kesehatan dan pendidikan, hal tersebut dikatakan sangat tidak efisien. Maka cara yang dianjurkan adalah dengan melakukan privatisasi. Negara tidak perlu menyediakan dan mengelola hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan publik, sehingga anggaran negara tidak harus terpotong, ditambah lagi pelayanan yang akan dihasilkan oleh swasta tentunya akan lebih baik mengingat tujuannya adalah profit, sehingga berusaha memberikan sesutu yang dibutuhkan masyarakat.

Ide atau konsep ini kemudian dipertegas dalam washington consensus. Washington consensus pertama kali diperkenalkan oleh John Williamson pada akhir tahun 1980an. Konsensus Washington adalah kesamaan pandangan lembaga-lembaga yang bermarkas di washington (IMF, World Bank, dan US Treasury Departmet) mengenai rekomendasi bagi negara-negara berkembang yang dilanda krisis.9 Konsensus Washington memiliki tiga pilar utama, yaitu dereguasi, privatisasi, dan liberalisasi pasar. Konsensus tersebut menjabarkan sepuluh kebijakan ekonomi yang diperlu dilakukan sebuah negara untuk terlepas dari krisis, yakni10:

1. Disiplin fiskal

Pemerintah disarankan untuk melakukan kebijakan fiskal yang konservatif. Defisit anggaran tidak boleh lebih dari dua persen terhadap produk domestik bruto(PDB).

9 Awalil Rizky dan Nasyith Majidi. Neoliberalisme Mencengkram Indonesia. hal 234.

(7)

2. Reorientasi Pengeluaran Publik

Perlu adanya prioritas bagi pengeluaran publik untuk anggaran pemerintah, dimana pemerintah juga harus berupaya untuk memperbaiki distribusi pendapatan melalui belanja pemerintah.

3. Reformasi pajak

Pemerintah perlu memperluas basis pemungutan pajak. Hal ini dikarenakan pajak merupakan komponen penting anggaran pemerintah dan pemerintah dinilai perlu lebih kreatif dalam hal pemungutannya, dengan cara memperluas basisnya.

4. Liberalisasi finansial

Sektor finansial perlu didorong lebih ke arah iberal dan kian diperketat kompetisinya. Hal ini agar terciptanya efisiensi.

5. Kebijakan nilai tukar yang memiliki kredibilitas dan dapat menjamin terdorongnya iklim persaingan.

6. Liberalisasi Perdagangan

Liberalisasi perdagangan diupayakan agar terciptanya efisiensi dan meningkatkan kompetisi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan penghilangan hambatan-hambatan secara berkesinambungan.

7. Keterbukaan Penanaman modal asing

Pemerintah diharuskan untuk mendorong kompetisi antara perusahaan domestik dengan perusahaan asing, sehingga meningkatkan efisiensi. Disamping itu dengan semakin terbukana negara terhadap investasi asing, akan mendorong kompetisi perdagangan dan finansial domestik.

8. Privatisasi

Pemerintah harus mengupayakan dilakukannya privatisasi, dimana perusahaan BUMN dialihkan kepada sektor swasta agar dapat dikelola dengan maksimal.

9. Deregulasi

Hambatan-hambatan dalam perdagangan harus dihilangkan, termasuk peraturan dari negara yang menghambat berkembangnya industri-industri, sehingga persaingan semakin kompetitif dan pertumbuhan pasar bisa semakin cepat.

10. Pinjaman hak paten

(8)

Konsensus Washington ini sangat berpengaruh di dunia, karena bukan hanya sebuah ide-ide yang tertulis, namun juga diapikasikan secara nyata karena poin-poin yang terdapat didalamnya digunakan sebagai prasarat pemberian hutang atau bantuan ekonomi kepada negara-negara berkembang. Hal ini kemudian memunculkan aspek baru dalam hubungan antara negara maju dan negara berkembang, yakni dalam aspek politik karena salah satu persyaratanya adalah negara harus merubah kebijakannya. WTO dan IMF dalam prakteknya menggunakan poin-poin dalam washington konsensus sebagai syarat yang diberikan kepada negara peminjam, dengan catatan bahwa dalam kondisi beragam yang dialami oleh negara peminjam, syarat yang diberikan adalah sama.

Bantuan Luar Negeri (Foreign Aid) ke Indonesia

Pada 10 tahun pertama masa pemerintahan Soeharto, perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan ekonomi selalu berada dia atas 5% per tahun. Dan bahkan di awal 1990-an, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai rata-rata 7%. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang konsisten dan berada pada posisi yang baik selama 10 tahun berturut-turut ini telah menyebabkan Indonesia masuk dalam kategori the newly industrializing economy (NIEs).11

Namun, perekonomian Indonesia kemudian mengalami penurunan drastis setelah pada pertengahan tahun 1997 muncul krisis moneter di Thailand karena devaluasi bath yang juga berpengaruh terhadap perekonomiandi Indonesia. Untuk menangani hal itu, pemerintah melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. Pada bulan Agustus 1997, Pemerintah membuat keputusan drastis, antara lain pengalihan dana BUMN dari bank-bank komersial ke SBI dan menaikkan tingkat suku bunga SBI (30% untuk satu bulan dan 28% untuk 3 bulan). Sayangnya kebijakan tersebut justru mengakibatkan kurs rupiah terdepresiasi hingga 32% sejak 1 Januari 1997. Sampai akhir tahun 1997 keadaan rupiah tidak stabil hingga akhirnya rupiah ditutup pada nilai Rp 4.650 atau terdepresiasi hingga 68,7%.12

(9)

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut berdampak negatif terhadap posisi neraca pembayaran, terutama karena utang luar negeri makin membengkak. Anjloknya rupiah secara dramatis menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan begitu pula dengan bank-bank besar internasional. Bahkan surat utang pemerintah juga terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah pada 15 September 1998. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.13

Krisis tersebut berdampak pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, mulai dari skala kecil hingga konglomerat. Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan. Tumbangnya perusahaan-perusahaan itu melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50% dari total penduduk. Pendapatan per kapita yang mencapai US$ 1.155 per kapita tahun 1996, menciut menjadi US$ 610 per kapita pada tahun 1998.14

Krisis ekonomi yang terjadi pada Indonesia pada tahun 1997 berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Dalam penanganannya, pemerintah juga berusaha untuk menyelesaikan masalah krisis tersebut dengan berbagai kebijakan seperti dengan kebijakan moneter, fskal, perbankan, dll. Namun, hal itu masih sulit untuk dilakukan sehingga Presiden Soeharto meminta bantuan kepada IMF untuk membantu menyelesaikan krisis ekonomi tersebut, maka pada 31 Oktober 1997, ditandatangani Nota Kesepakatan (Letter of Intent / LoI) pertama dengan IMF oleh Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Sudradjad Djiwandono dalam Memorandum on Economic and Financial Policies.15

13Ibid. Hlm. 6. 14Ibid. Hlm. 7.

(10)

Nota Kesepakatan itu mencakup: sasaran anggaran berimbang, sasaran-sasaran pengadaan uang dan infasi, kebijakan nilai tukar uang, keseimbangan perdagangan dan kebijakan perdagangan, reformasi hukum perburuhan, reformasi struktur PNS, privatisasi, dan perubahan perundang-undangan. Dalam syarat jangka pendek, IMF menekankan kebijakan: (a) devaluasi nilai tukar uang, unifkasi dan peniadaan kontrol uang; (b) liberalisasi harga: peniadaan subsidi dan harga; (c) pengetatan anggaran. Sedangkan untuk jangka panjang yaitu: (a) liberalisasi perdagangan: mengurangi dan meniadakan kuota impor dan tarif; (b) deregulasi sektor perbankan sebagai “program penyesuain sektor keuangan”; (c) privatisasi perusahaan-perusahaan milik negara; (d) privatisasi lahan pertanian, mendorong agrobisnis; (e) reformasi pajak: meningkatkan pajak tak langsung; dan (f) mengelola kemiskinan melalui penciptaan sasaran dana-dana sosial.16

Dengan adanya bantuan dari IMF tersebut, praktis Indonesia pada saat itu bergantung kepada utang luar negeri. Meskipun hal itu membantu untuk penanganan krisis, tetapi justru membuat utang luar negeri Indonesia semakin meningkat. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh IMF untuk menangani krisis moneter tidak memperhatikan keadaan politik Indonesia pada saat itu kurang stabil dan kapabilitas pengelolaan yang sarat dengan praktik korupsi. Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan LoI yang kedua. Dalam LoI tersebut, tercantum 50 pernyataan yang harus dijalankan oleh Pemerintah Indonesia, seperti kebijakan moneter, kebijakan fskal, kebijakan perbankan, dan juga kebijaksanaan sektor riil melalui penyesuaian secara struktural.17

Penandatangan LoI yang kedua tidak mendapat tanggapan yang positif sehingga LoI yang kedua ini gagal menyelesaikan masalah utama pada saat itu yaitu jatuhnya rupiah. Dengan gagalnya LoI yang kedua, pada 10 April 1998 ditandatangi kesepakatan yang ketiga. Fokusnya tidak berbeda jauh dari beberapa kesepakatan sebelumnya mengenai ekonomi mikro, bukan pada krisis mata uang pada saat itu. Pada 4 Mei 1998, atas

(11)

desakan IMF, pemerintah menaikkan harga BBM sampai 71%, tarif listrik dinaikkan secara gradual.18 Pada pertengahan 1998, perekonomian

Indonesia masih terpuruk. Diperkirakan 113 Juta orang penduduk Indonesia (56% dari jumlah penduduk) berada dibawah garis kemiskinan. Ada yang mengatakan bahwa 40 juta orang penduduk Indonesia tidak mampu membeli makanan dan dalam kondisi rawan pangan. 19

Pandangan Perspektif Critical Theory terhadap Foreign Aid ke Indonesia

Sebelum teori kritis berusaha menjelaskan pandangannya terhadap kasus tersebut. Washington consensus sendiri juga mengalami beberapa kritikan dalam pelaksanaannya. Dalam perkembangannya, terjadi krisis global yang menyebabkan negara mengalami keterpurukan ekonomi, termasuk beberapa negara berkembang di Asia. Bagi beberapa negara, cara yang paling cepat digunakan untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi adalah dengan meminjam dana, disisi lain syarat yang diberikan oleh pemberi hutang terbesar didunia, yakni IMF dan World Bank sangat terpaku pada poin-poin Washington Consensus. Sehingga solusi yang ditawarkan bagi negara-negara tersebut hanya satu.

Keberadaan Washington Consensus awalnya berjalan dengan baik dengan memberi bantuan ke negara-negara berkembang maupun negara yang mengalami krisis. Akan tetapi masyarakat Indonesia menilai keberadaan Washington Consensus terdapat tekanan pada penggalian dana dan pembangunan luar negeri. Adanya tekanan tersebut menyebabkan pengabaian pemakaian biaya pembangunan dalam negeri. Washington Consensus cenderung membiarkan defisit pada transaksi berjalan (Current Account Deficit), maka seharusnya diperlukan pengaturan neraca modal (Capital Account Control) dan perlu diberlakukan sistem nilai tukar yang terkendalikan. Hal ini nantinya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat akan mata uang dalam negeri dan dimungkinkan. Kritikan terhadap Washington Consensus adalah terlalu dominan dalam menagani krisis yang dialami oleh beberapa negara.

Washington Consensus mendapat kritikan karena utang luar negeri / PDB tinggi, defisit transaksi berjalan, liberalisasi neraca modal, kepercayaan pada mata uang dalam negeri rendah, suku bunga tinggi, jumlah kredit uang beredar rendah, sistem perbankan lemah, investasi rendah, pertumbuhan ekonomi rendah. Sedangkan keadaan perekonomian

18 Fadli Zon, Op. Cit., hal. 10

(12)

yang ditawarkan oleh Herr Pierwe adalah utang luar negeri / PDB rendah, surplus transaksi berjalan, sistem nilai tukar dikontrol, kepercayaan mata uang dalam negeri tinggi, suku bunga rendah, jumlah kredit uang beredar tinggi, sistem perbankan kuat, investasi tinggi, pertumbuhan ekonomi tinggi.

Washington Consensus lebih memperhatikan efisiensi dan disiplin fiskal yang mengacu pada pemotongan biaya yang seharusnya untuk sosial dan tidak memperhatikan kebijakan sosial. Tugas pemerintah semestinya mengusahakan pembangunan masyarakat sosial untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Millenium Development Goal’s (MDG’s) 2015 merupakan salah satu upaya yang dapat mengatasi kemiskinan. Indonesia tertipu dalam debt trap yang disarankan oleh IMF setelah Indonesia melakukan privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. Akibat hal tersebut memperparah krisis, karena proses privatisasi maupun penjualan BUMN yang dilakukan oleh negara membuat masyarakat miskin kehilangan ruang untuk mengakses apa yang selama ini menjadi tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat miskin. Privatisasi, liberalisasi, dan stabilisasi memang penting, akan tetapi dalam implementasinya seringkali dilakukan secara terburu-buru tanpa memperhitungkan masyarakat yang belum siap terhadap ketiga hal tersebut. Washington consensus juga kurang memperhatikan keadilan di dalam masyarakat, sehingga jumlah masyarakat yang pengangguran terus meningkat akibat kompetisi yang terjadi di era globalisasi yang menyebabkan adanya privatisasi.

Penerapan syarat yang diajukan sesuai dengan konsensus tersebut nyatanya tidak selalu berhasil, karena beberapa negara justru semakin dilanda keterpurukan akibat pada beberapa poin, negara belum siap menerapkan kebijakan tersebut. Dari sinilah asumsi-asumsi washington consensus dipertanyakan. Ide kritis terhadap konsep washington consensus ini disebut juga sebagai post-washington konsensus. Kritiknya adalah penerapan satu solusi untuk semua masalah yang ditawarkan oleh washington consensus dianggap terlalu mengabaikan fakta-fakta bahwa setiap masalah membutuhkan satu solusi yang spesifik.

(13)

namun juga teknologi yang memudahkan proses produksi ataupun distribusi. Dengan adanya hal tersebut, masyarakat dalam wilayah tersebut belum tentu siap terhadap perubahan tersebut, misalnya kemampuan mereka yang kurang terlatih, sehingga besar peluang mereka akan termarjinalkan dari dunia pekerjaan, disisi lain mereka tetap harus bekerja keras untuk bisa mengakses kebutuhan pokok yang telah dikelola oleh pihak swasta, dengan kemungkinan besar harganya lebih mahal dibanding ketika dikelola oleh negara. Sehingga dalam prakteknya sangat memimpikan GDP yang tinggi tentang pemerataan pendapatan dan kesehjateraan masayarakat.

Jika dilihat secara teoritis, maka pemikiran post-washington consensus sangat dekat dengan paham Keynesian yang menekankan pada state rule khususnya pada kebijakan ekonomi yang mengedepankan kepada pemerataan kesehjateraan masyarakat. Peran negara dalam perekonomian tidak bisa dihilangkan seluruhnya dan peran swasta juga harus dibatasi. Swasta tidak serta merta diberikan kebebasan untuk menjalankan usahanya karena mereka adalah golongan yang berorientasi profit semata. Negara akan tetap memberikan regulasi-regulasi tertentu yang akan menguntungkan pihak swasta dan tidak merugikan masyarakat dan negara.

Maka, washington consensus dapat dilihat sebagai cara negara besar yang didominasi oleh negara-negara penganut liberalisme dan kapitalisme ekonomi. Kritik terhadap washington consensus diatas juga mencerminkan kritik-kritik yang dapat diutarakan melalui perspektif teori kritis. Negara-negara besar yang berperan dalam sistem internasional tentu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kedaulatannya sebagai negara hegemon. Hal ini dibtuktikan dengan kemampuan negara-negara besar dalam menciptakan tatanan dunia dimana pusat dan sumber dari tatanan tersebut berasal dari negara-negara ini. Kemudian terciptalah tatanan dunia yang dikehendaki oleh negara-negara tersebut yang mana kemudian disebarkan ke negara-negara lain. Washington consensus merupakan salah satu produk dari tatanan dunia yang dikontrol negara hegemon, lebih spesifik negara barat.

(14)

penduduk dunia tanpa menyadari bahwa sebenarnya hal tersebutlah yang menjadi akar permasalahan sebenarnya.

Washington Consensus secara sederhana adalah alat untuk mengendalikan ekonomi negara-negara kecil dan berkembang dengan dalih bahwa hal tersebut adalah resep untuk menciptakan kondisi perekonomian negara yang baik. Pada nyatanya tidak demikian, washington consensus merupakan bentuk penyebaran ideologi-ideologi negara barat yang hanya mempersulit dan bahkan mengekang masyarakat negara berkembang. Dampaknya, tatanan dunia sangat ketergantungan terhadap hal tersebut dan bahwa cara untuk memberikan solusinya adalah menawarkan sistem baru atau merekonstruksi ulang supaya keadilan dan kesejahteraan masyarakat secara umum dapat tercapai.

Oleh karena itu, Indonesia yang menyetujui syarat-syarat yang diajukan IMF dalam meminta bantuan luar negeri yang mana merupakan bentuk dari washington consensus membuat Indonesia mengikuti keinginan atau kondisi yang didasari pada orientasi negara barat dan bahwa ternyata hal tersebut adalah satu-satunya opsi rasional yang dipilih oleh pemerintah menunjukan bahwa tatanan dunia pada saat itu dikuasai oleh negara-negara barat yang menciptakan washington consensus. Permasalahan yang lalu timbul di kemudian hari dapat kita kritik bahwa sebenarnya berakar dari washington consensus itu sendiri yang mana tidak dikaji lebih dahulu terhadap kecocokannya di sistem ekonomi masyarakat Indonesia. Indonesia yang sudah tergantung dengan ekonomi pasar menjadi sulit untuk kemudian meraih kontrol kembali ketika intensitas dari kondisi-kondisi yang dipromosikan oleh washington consensus sudah berlaku secara umum dan semakin besar.

Kesimpulan

(15)
(16)

Daftar Pustaka

Ashley, R. K. (1981). Political Realism and Human Interests. International Studies Quarterly.

Burchill, S., & Linklater, A. (2002). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung: Nusamedia.

Devetak, R. (2001). Theories of International Relations. Palgrave Macmilan.

Prasetianto, A. T. (n.d.). IMF (International Monetary Fund). Yogyakarta: Cinderalas Pustaka Rakyat Cerdas.

Ricklefs, M. C. (2004). Sejarah Modern Indonesia. Jakarta: Serambi.

Rizky, A., & Majidi, N. (2008). Neoliberalisme Mencengkram Indonesia. Jakarta.

Sterling-Folker, J. (n.d.). Making Sense of International Relations Theory. London: Lynne Rienner Publishers.

Referensi

Dokumen terkait

Kesulitan yang ditemui peserta didik kelas X di SMA N I Panggul ketika maupun akan membaca Al-Qur’an diantarannya adalah kurang bisanya peserta didik untuk

lingkungannya maka free body diagramnya hanya menunjukkan 2 gaya saja yang bekerja pada. ujungnya Yaitu

11 Penelitian yang dilakukan oleh Pramono (2012) menunjukkan bahwa ada perubahan histopatologis hati tikus wistar berupa degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik,

Mendapatkan kode biss key tv one melalui penyedia di situs jejaringan seperti sosial media seperti Facebook dan Forum lainnya yang menyajikan khusus tentang biss key, cara

Dalam pelantikan dan raker ISNU Jatim itu, Mendikbud Mohammad Nuh yang juga Wakil Ketua Dewan Ahli PP ISNU itu meminta ISNU untuk tidak terjebak politik aliran, karena fungsi

Rasa empati akan mendorong kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Sebelum kita membangun

Menurut Sayyid Qutb, Islam bukanlah pergerakan yang “defensif” yang sekarang ini secara teknis disebut dengan “perang defensif” ia menyatakan bahwa pemikiran seperti ini

Silabus yang dibuat agar terarah, hendaknya dikembangkan berdasarkan tatap muka (2 jam pelajaran), sehingga lebih terarah atau singkron antara apa yang ada dalam silabus dengan