LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
EKOLOGI LAUT TROPIS
Oleh :
KELOMPOK 07
LISA NUR HIDAYAH (145080201111007)
FAJAR RANI (145080201111011)
UMMI ULFI YUSFIANI P. (145080201111015)
MUHAMMAD IRFAN S. E. (145080201111042)
FITRI SALAMAH (145080200111030)
IDA BAGUS AGUNG S. W. (145080200111048)
PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
EKOLOGI LAUT TROPIS
OLEH: KELOMPOK 07
LISA NUR HIDAYAH (145080201111007)
FAJAR RANI (145080201111011)
UMMI ULFI YUSFIANI P. (145080201111015)
MUHAMMAD IRFAN S. E. (145080201111042)
FITRI SALAMAH (145080200111030)
IDA BAGUS AGUNG S. W. (145080200111048)
Menyetujui, Mengetahui,
Koordinator Asisten Asisten Laporan
Chandra Wijaya Fatin Kurnia Laily
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Berkat-Nya dapat terselesaikannya Laporan Praktikum Mata Kuliah Ekologi Laut Tropis. Puji Syukur kembali kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas tuntunan dan hikmat yang diberikan sehingga dapat teratasinya semua kendala yang kami alami dalam penulisan.
Laporan ini kami buat berdasar pada praktikum yang telah kami lakukan. Setiap bab telah disusun secara sistematis berisi teori dasar praktikum,metode praktikum, alat dan bahan dan prosedur kerja dan hasil pengamatan yang telah kami analisis.
Penulis merasa laporan akhir praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena keterbatasan kami.Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan dan perbaikan laporan akhir praktikum ini. Terima Kasih.
Malang, 10 Desember 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekosistem merupakan satu kesatuan antara komunitas dengan lingkungannya. Di dalam ekosistem terjadi interaksi antara komunitas sebagai komponen biotik (makhluk hidup) dengan lingkungannya sebagai komponen abiotik (makhluk tak hidup). Komponen biotik terdiri dari makhluk hidup (Luci, 2012). Ekosistem adalah tatanan dari satuan unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (biotik maupun abiotik) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Ekosistem mengandung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan interaksi kehidupan dalam alam (Dephut, 1997). Ekosistem adalah suatu unit ekologi yang di dalamnya terdapat hubungan antara struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies (species diversity). Ekosistem yang mempunyai struktur yang kompleks, memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.Sedangkan istilah fungsi dalam definisi ekosistem berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen komponen ekosistem (Tansley, 1935).
Istilah Ekologi, berasal dari bahasa Yunani, yaitu :Oikos = Tempat Tinggal (rumah) Logos = Ilmu, telah. Oleh karena itu Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungnya (Ernest Haeckel, 1869).ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut (Odum, 1994).
1.2 Maksud dan Tujuan
Terumbu Karang di pantai Kondang Merak.Selain itu juga dapat melihat secara langsung jenis-jenis individu yang terdapat di ketiga ekosistem tersebut.
Tujuan diadakannya Praktikum Ekologi Laut Tropis di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang adalah untuk mengetahui kondisi dari ketiga ekosistem yang ingin diamati dan persentase penutupan ekosistem Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang.
1.3 Manfaat dan Kegunaan
Manfaat dari praktikum Ekologi Laut Tropis adalah agar dapat memahami tentang habitat dan siklus hidup dari ekosistem Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang.
Kegunaan dari praktikum Ekologi Laut Tropis adalah agar mahasiswa dan mahasiswi dapat mengerti dan memahami keragaman hayati yang ada di ekosistem Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang pada transek yang telah dibuat.
1.4 Tempat dan Waktu
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekologi Laut Tropis
Daerah perbatasan seperti daerah pesisir dan estuaria menjadi tempat
bertemu bagi banyak spesies organisme yang berasal dari darat dan laut. Adanya
pertemuan 2 ekosistem ini memberikan peluang bagi berbagai jenis organisme
untuk menyeberang dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain. Akibatnya,
masing-masing jenis organisme yang berasal dari komunitas yang berbeda
tersebut memiliki sebaran yang saling tumpang tindih dan bahkan memiliki
spesies tersendiri yang tidak ditemukan di wilayah darat dan laut. Kadang-kadang
spesies tertentu memiliki kelimpahan yang lebih besar di daerah peralihan
dibandingkan dengan kedua daerah ekosistem yang mengapitnya.
Pertemuan antara ekosistem darat dan laut ini dikenal sebagai ekoton dan pada
akhirnya menciptakan suatu keterkaitan ekosistem. Keterkaitan ekosistem terjadi
akibat adanya hubungan timbal-balik, baik yang sifatnya satu arah maupun dua
arah. Hubungan ini akan mencapai titik klimaks pada saat kesetimbangan dan
kestabilan ekosistem telah tercapai. Kecenderungan meningkatnya
keanekaragaman dan kepadatan di daerah pertemuan antar komunitas dikenal
sebagai pengaruh tepi atau “edge effect” (Odum,1994).
Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara
keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi
merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik
antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan
semua komponen yang ada di sekitarnya (Indriyanto, 2006).
2.1.1 Mangrove
(tumbuhan laut) dan bahasa Inggris grove (belukar), yakni belukar yang tumbuh di tepi laut. Kata ini dapat ditujukan untuk menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas. Hutan mangrove atau mangal adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan sub-tropis yang didominasi tumbuhan bunga terrestrial berhabitus pohon dan semak yang dapat menginvasi dan tumbuh di
kawasan pasang surut dengan salinitas tinggi (Setyawan et al.,2003) Gambar 1. Mangrove
Tanah dalam pengertian habitat pada ekosistem mangrove adalah lingkungan baur yang dibentuk oleh pertemuan antara lingkungan marine dengan darat, dikenal juga sebagai rawa garaman, rawa payau, intertidal zone, intertidal flat, estuarine. Atas dasar pengetian ini, maka ada tidaknya vegetasi penutup yang khas (mangrove) tidak menjadi kriteria pokok (Notohadiprawiro, 1979 dalam Kusumahadi, 2008).
2.1.2 Lamun
Gambar 2. Lamun
Lamun sebagai salah satu kelompok tumbuhsn laut merupakan sumber kekayaan nutfah dan keankaragaman hayati di perairan pantai. Pentingnya keberadaan padang lamun di perairan tidak hanya terkait dengan peranannya sebagai penunjang produksi ian, tetapi juga dengan fungsi fisika dan kandungan biokimia yang dimiliki. Padang lamun berperan sebagai produser primer, stabilisator dasar perairan dan pencegah erosi pantai, sumber makanan, tempat asuhan dan tempat tinggal beberapa jenis organisme. Tumbuhan lamun juga mempunyai potensi sebagai bahan untuk pembuatan kertas, makanan, dan obat-obatan bagi manusia karena kandungan biokimia yang dimilikinya (Fortes,1990 dalam Supriyadi et al., 2006).
2.1.3. Terumbu Karang
Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hew an karang. Karang adalah hew an tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hew an berrongga) atau Cnidaria. Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter (Timotius, 2003).
Terumbu karang alami ini mempunyai peran penting dalam mendukung kelestarian sumberdaya ikan dan organisme laut, serta berfungsi sebagai pelindung pantai dari aktifitas gelombang dan arus Peranan dan potensi terumbu karang dan ikan karang Indonesia yang berlimpah di atas, mendapat tekanan yang beragam dari aktivitas manusia di daratan dan dari alam itu sendiri seperti praktek penangkapan ikan yang merusak, aktifitas rekreasi pantai, penyaluran kotoran ke laut, masuknya nutrien yang melebihi ambang batas serta oleh kelebihan tangkapan ikan suatu perairan overfishing dimana jika species dan kepadatan ikan pemakan algae mengalami penurunan, maka akan berakibat pada pertumbuhan algae yang lebih cepat dan akan menutupi terumbu karang. Aktifitas lain yang dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang secara fisik adalah kegiatan penyelaman, penambatan kapal dengan sistem jangkar, endapan pecahan karang di dalam sedimen dan pencemaran dari industri termasuk power plant (Santoso dan Kardono, 2008).
2.2 Ciri Ekosistem Laut Tropis
Kondisi perairan sebagai habitat ikan di daerah tropis memeliki tiga perbedaan dengan kawasan bumi lainnya. Pertama, daerah khatulistiwa menerima sinar Matahari yang sama sepanjang tahun, lain halnya daerah tropis yang memiliki empat musim ekstrim, musim panas, gugur, dingin dan semi. Kedua, iklim tropis yang menjadi penyebab keanekaragaman sumber hayati yang jauh lebih besar dari yang ada di subtropics. Ketiga, suhu yang relatif tinggi di daerah tropis merupakan beban yang nyata dalam usaha perikanan (Poernomo, 1997 dalam Sulistyono et al., 2015).
dimana seluruh jenis organisme saling berhubungan dan ekosistem pesisir dimana organisme penghuninya berbaur antara organisme dari darat dan dari laut. Seperti pantai berbatu, pantai berpasir, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang (Regional, 2008)
2.3 Rantai makanan
Secara ekologis, ekosistem mangrove merupakan tempat siklus rantai makanan karena tersedianya sumber unsur hara yang kaya raya. Sedangkan daun-daun mangrove yang telah gugur dan jatuh ke dalam air akan menjadi substrat yang baik bagi jamur dan bakteri dan sekaligus mempercepat proses pembentukan detritus dan mineralisasi. Dengan demikian tersedia makanan bagi hewan avertebrata, yang selanjutnya terbentuk sistem jaringan makanan kompleks, sehingga ekosistem mangrove merupakan habitat, nursery ground, feeding ground, spawning ground bagi fauna diperaira. Lebih kurang 2.000 tersebut karena pada umumny buangan atau lmbah mengandung zat beravun yang termasuk adalah logam berat. Logam berat akan masuk ke dalam tubuh organisme laut srbagian besar melalui rantai makanan yang akan dimangsa oleh zooplankton, zooplankton dimangsa oleh ikan-ikan kecil, ikan kecil akan dimangsa oleh ikan besar dan akhirnya ikan besar dikonsumsi oleh manusia. Proses ini berlangsung secara terus menerus maka jumlah dari logam yang terkonsumsi juga semakin banya dan termasuk terakumulasi ke dalam tubuh manusia (Darmono, 2011).
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekologi Laut Tropis 2.4.1 Faktor Fisika
mendukung pergerakannya secara vertikal. Hal ini sangat berhubungan dengan densitas air laut yang mampu menahan plankton untuk tidak tenggelam. Perpindahan secara vertikal ini juga dipengaruhi oleh kemampuannya bergerak atau lebih tepat mengadakan adaptasi fisiologis sehingga terus melayang pada kolom air. Perpaduan kondisi fisika air dan mekanisme mengapung menyebabkan plankton mampu bermigrasi secara vertikal sehingga distribusinya berbeda (Sunarto, 2008).
Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktifitas fotosintesa. Kecerahan merupakan faktor penting bagi proses fotosintesa dan produksi primerdalam suatu perairan (Sari et al., 2012 ).
2.4.2 Faktor Kimia
Salinitas disamping suhu, adalah merupakan faktor abiotik yang sangat menentukan penyebaran biota laut. Perairan dengan salinitas lebih rendah atau lebih tinggi dari pada pergoyangan normal air laut merupakan faktor penghambat (limiting factor) untuk penyebaran biota laut tertentu (Aziz, 1994).
Faktor kimia utama adalah ketersediaan nutrien atau zat anorganik. Sebagai organisme autotrop maka fitoplankton mendapatkan sumber energinya dari bahan anorganik yang akan dirubah menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya.Sebagai organissme autotrop fitoplankton berperan sebagai produser primer yang mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik pada selnya yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain pada tingkat tropis diatasnya. Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut (Sunarto, 2008).
2.4.3 Faktor Aktifitas Manusia
karang. Dengan melihat penyebab kerusakan tersebut terlihat bahwa aktivitas manusia lah yang menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dan laut. Padahal kalau dilihat dari dampak kerusakan tersebut sebagai besar akan berdampak kepada aktivitas manusia dan lingkungan, seperti rusaknya biota laut, terancamnya pemukiman nelayan, terancamnya mata pencaharian nelayan dan sebagainya. Oleh sebab itu apabila hal ini tidak secepatnya ditanggulangi dengan optimal maka dikhawatirkan sumber daya pesisir dan laut akan semakin terdegradasi. Selain itu juga aktivitas masyarakat pesisir akan semakin terancam (Vatria, 2010).
Salah satu penyebab tekanan berlangsung terus menerus terhadap ekosistem terumbu karang serta biota yang beasosiasi dengannya adalah aktivitas masyarakat nelayan yang menggunakan jarring muromi, bubu (perangkap tradisional) panah, tombak, dan bahan peledak serta racun ikan diwilayah perairan ekosistem terumbu karang. Factor lain yang menyebabkan tekanan pada ekosistem adalah kegiatan pengambilan batu karang untuk berbagai peruntukan seperti pengerasan jalan, fondasi rumah, pengeingan pantai, penghalang ombak, dan lainnya yang secara tidak langsung berdampak negative bagi pertumbuhan dan perkembangan karang (Haruddin et al., 2011). 2.5 Hubungan Antara Ekosistem Mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang
Hubungan antar ekosistem mangrove dengan ekosistem terumbu karang dan lamun diantaranya dapat dillihat dari perpindahan hewan-hewan (khususnya hewan air) dari ekosistem mangrove dan terumbu karang maupun lamun. Banyak ikan maupun udang sebagian siklus hidupnya berpindah dari ekosistem mangrove ke ekosistem terumbu karang dan lamun. Hubungan lainnya dapat dilihat dari aliran air dimana dinamika pasang-surut dan arus membawa nutrient dari dan ke ekosistem-ekosistem tersebut (Lovelock, 1964).
2.6 Manfaat
2.6.1 Ekosistem Mangrove
Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan, khususnya di wilayah pesisir. Fungsi dan manfaat mangrove telah banyak diketahui, baik sebagai tempat pemijahan ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah migrasi burung, dan sebagai habitat satwa liar serta manfaat langsung lainnya bagi manusia. Hutan mangrove mampu mengikat sedimen yang terlarut dari sungai dan memperkecil erosi atau abrasi pantai. Mangrove juga mampu dalam menekan laju intrusi air laut ke arah daratan. Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar (Anwar dan Gunawan, 2007).
2.6.2 Ekosistem Lamun
Telah diketahui bahwa sejumlah avertebrata memakan lamun sedikit sekali. Tetapi jika lamun tersebut hanyut dan terdampar di pantai mulai terjadi dekompoisi sehingga lamun akan dimakan oleh beberapa larvae dan Talitridae (Amphipoda). Selanjutnya telah diketahui bahwa makanan yang diproduksi oleh lamun yang berguna untuk fauna dasar melalui bentuk detritus. Hanya sedikit sekali pengetahuan tentang proses dekomposisi lamun (Menzies et al., 1967).
Padang lamun merupakan daerah asuhan untuk beberapa organisme. Sejumlah jenis fauna tergantung pada padang lamun, walaupun mereka tidak mempunyai hubungan dengan lamun itu sendiri. Banyak dari organisme tersebut mempunyai kontribusi terhadap keragaman pada komunitas, tetapi tidak berhubungan langsung dengan kepentingan ekonomi (Azkab, 2000).
2.6.3 Ekosistem Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang banyak meyumbangkan berbagai biota laut seperti ikan karang, mollusca, crustacean bagi masyarakat yang hidup dikawasan pesisir. Selain itu bersama dengan ekosistem pesisir lainnya menyediakan makanan dan merupakan tempat berpijah bagi berbagai jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain itu karang juga digunakan sebagai tempat pengasuhan dan berlindung dari predator bagi biota laut(Cesar , 2000 dalam Dewi, 2006)
III. METODE PRAKTIKUM 3.1 Mangrove
3.1.1 Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum ekologi laut tropis mengenai ekosistemmangrove, yaitu :
No Nama Alat Jumlah Kegunaan
1 Rool Meter
sampel Secukupnya Untuk menyimpan spesimen
4 Spidol Table 1. Alat dan Bahan Mangrove
3.1.2 Prosedur Kerja
Mengunjungi stasiun mangrove yang telah ditentukan
Dalam stasiun mangrove terdapat 2 stasiun yang terdiri dari 9 transek. Dimana pada setiap transek terdiri dari3 plot, yaitu 10×10, 5 × 5 , dan 1 × 1m
Dipilih minimal 3 transek untuk identifikasi
Diidentifikasi genus dari mangrove di setiap transek
Diamati jenis substrat dan kondisi lingkungan serta biota yang ada disetiap stasiun
Diambil foto mangrove secara keseluruhan dan
bagian-bagiannya (bunga, susunan bunga, buah, daun, susunan daun, letak daun, dan akar).
Diidentifikasi sample (bagian tumbuhan mangrove)
Dihitung indeks keragaman, kelimpahan dan homogenitas. Mangrove
3.2 Lamun
3.2.1 Alat dan Bahan
Perlengkapan Pengukuran Parameter Lingkungan:
NO NAMA ALAT FUNGSI
1 Termometer digital Mengukur temperatur perairan 2 Refraktometer Mengukur salinitas 3 DO meter Mengukur kandugan oksigen
terlarut
4 pH meter Mengetahui pH suatu
perairan
Tabel 2. Perlengkapan Mengukur Kondisi Lingkungan Perairan
Alat yang digunakan pada saat praktikum ekologi laut tropis pengamatan ekosiste lamun, yaitu:
No Nama Alat FUNGSI
1 Roll meter (100m) Untuk PembuatanTransek 2 Sabak dan Pensil Mencatat data 3 Buku identifikasi lamun Digunakan membantu
identifikasi lamun 4 Skin dive tools Masker, snorkle dan fin 5 Transek kuadran 1x1m Dibagi menjadi 100 bagian
(100 cm2) Table 3. Perlengkapan Praktikum Lamun
3.2.2 Prosedur Kerja
Dibuat line transek sepanjang 30 m kearah laut (vertikal dari garis pantai)
Transek kuadran diletakan dalam setiap line transek dengan jarak 10 m
Dilakukan pengulangan beberapa kali pada transek kuadran disetiap stasiun untuk mendapatkan hasil yang akurat
Diamati dan dicatat jenis-jenis lamun
Diambil Gambar hewan yang ditemukan didalam transek Dicatat hasil indentifikasi
Dihitung indeks keragaman, kelimpahan dan homogenitas.
3.3. Terumbu Karang 3.3.1 Alat dan Bahan
Perlengkapan Pengukuran Parameter Lingkungan:
NO NAMA ALAT FUNGSI
1 Termometer digital Mengukur temperatur perairan 2 Refraktometer Mengukur salinitas 3 DO meter Mengukur kandugan oksigen
terlarut
4 pH meter Mengetahui pH suatu
perairan
Tabel 4. Perlengkapan Mengukur Kondisi Lingkungan Perairan
Perlengkapan Praktikum:
NO NAMA ALAT FUNGSI
2 Sabak dan pensil Mencatat data 3 Buku identifikasi
karang
Digunakan untuk membantu mengidentifikasi karang 4 Skin dive tools Masker,snorkel ,dan fin
Tabel 5. Alat dan Bahan Terumbu Karang
Sedangkan bahan yang di gunakan pada saat praktikum yaitu terumbu karang, yang akan dihitung prosentase penutupan karang.
3.3.2 Prosedur Kerja
Ditarik Line Intersek (LIT) sepanjang 50m sejajar garis pantai Dicatat kategori / bentuk pertumbuhan karang yang berada tepat di bawah garis transek
Diidentifikasi jenis karang yang berada di bawah transek Dicatat dengan form data lapang terumbu karang
Dicatat hasil indentifikasi TERUMBU KARANG
IV. DATA DAN HASIL PENGAMATAN
5x5m Xylocarpus molucensis 3 5,003 cm
1x1m Xylocarmus molucensis 1 0,911cm
Tabel 6. Data Lapang Mangrove
Biota yang ditemukan adalah semut, ulat bulu, nyamuk, pandan, ketapang. Transek B
5x5m Xylocarpus moluce 1 5,732 cm
1x1m Xylocarpus molucensis 1 0,745 cmm
Tabel 7. Data Lapang Mangrove
Transek C
10x10m Xylocarpus molucensis 1 29,857 cm
5x5m Xylocarpus molucensis 2 3,43 cm
1x1m Xylocarpus granatum 5 0,286 cm
Tabel 8. Data Lapang Mangrove
Biota yang ditemukan adalah semut, kepiting, gastropoda dan ulat. Transek D
10x10m Xylocarpus granatum 1 19,43 cm
5x5m Xylocarpus molucensis 4 7,8cm
1x1m Bruguiera sp. 2 1 cm
Tabel 9. Data Lapang Mangrove
Biota yang ditemukan adalah kerang, keong, belalang, kepiting, semut. Transek E
10x10m Xylocarpus rumpii 3 18,46 cm
5x5m Xylocarpus rumpii
Tabel 10. Data Lapang Mangrove Biota yang ditemukan adalah semut, kepiting, laba-laba.
Transek F
1x1m Rhizopora articulata 1 1,75 cm
Tabel 11. Data Lapang Mangrove 4.1.2 Lamun
Hasil pengamatan lamun di pantai Kondang Merak adalah sebagai berikut : Transek 1 :
Transek 2 :
1 2 5 5 5 3 3 3 4 3
1 3 4 4 0 3 5 5 1 0
0 5 5 5 5 5 5 5 3 5
5 5 5 5 5 5 5 5 4 3
5 5 5 5 4 5 5 5 2 1
5 5 3 3 4 5 5 5 5 5
5 5 3 4 5 5 5 5 5 5
5 5 5 5 5 5 5 5 2 1
5 5 5 5 5 5 5 4 4 5
4 5 4 5 5 5 5 5 5 4
Tabel 13. Data lapang lamun Transek 3 :
2 2 1 4 4 4 3 2 5 5
3 2 0 4 4 4 5 3 5 5
4 2 0 4 4 5 4 4 3 3
4 3 2 5 5 5 3 3 5 3
3 3 1 5 5 5 4 0 4 3
4 4 3 5 5 5 5 5 3 3
4 3 4 5 5 5 5 5 3 3
4 4 4 5 5 5 5 5 1 2
3 4 5 5 5 5 5 5 1 2
3 4 5 5 5 5 5 5 1 1
4.1.3 Terumbu Karang
0 1,24 1,24 SD Abiotic
1,25 1,60 0,35 CE Hard Coral Non-Acropora
1,61 4,39 2,78 SD Abiotic
4,40 4,48 0,8 CE Hard Coral Non-Acropora
4,49 8,69 4,20 SD Abiotic
8,70 8,73 0,03 CF Hard Coral Non-Acropora
8,74 10,8 2,06 SD Abiotic
10,8 10,9 0,1 ACB Hard Coral Acropora
10,9 11,3 0,4 SD Abiotic
11,3 11,5 0,2 ACB Hard Coral Acropora
11,5 14,8 3,3 SD Abiotic
14,8 14,9 0,1 CF Hard Coral Non-Acropora
14,9 22,1 7,2 SD Abiotic
22,1 22,3 0,2 ACB Hard Coral Acropora
22,3 27,3 5 SD Abiotic
27,3 27,5 0,2 CS Hard Coral Non-Acropora
27,5 27,6 0,1 SD Abiotic
27,6 27,9 0,3 CM Hard Coral Non-Acropora
4.2 Perhitungan Dan Analisa Hasil Pengamatan
4.2.1 Mangrove
Lokasi : Stasiun 1 dan Stasiun 2 Spesies :
A = Xylocarpus molucensis B = Xylocarpus rumpii C = Xylocarpus granatum D = Barringtonia asiatica E = Aegiceras corniculatum F = Bruguiera sp.
G = Rhizopora sp. H = Rhizopora apiculata
luas area 100m2 (0,01ha)
Jumlah transek Pohon Ha belta Ha semai Ha
6 10 0,06 5 0,015 1 0,0006
Stasiun 1
Transek Jenis Pohon Belta Semai
C 0 0,00 - 0 0 0,00 - 0 5 8333,33 0,29 1
Tabel 17. Data Perhitungan mangrove
Stasiun 2
Transek Jenis Pohon Belta Semai
C 0 0,00 - 0 2
Tabel 18. Data Perhitungan mangrove
Kerapatan Jenis (Di) Rumus Di = ni/A Di = kerapatan jenis i
ni = Jumlah total tegakan dari jenis i A = Luas total area pengambilan sampel
JENIS (A) 266,67 JENIS (A) 666,67 JENIS (A) 3333,33
JENIS (B) 100,00 JENIS (B) 400,00 JENIS (B) 0,00
JENIS (C) 16,67 JENIS (C) 133,33 JENIS (C) 8333,33
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 83,33 JENIS (E) 400,00 JENIS (E) 5000,00 JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 133,33 JENIS (F) 10000,00 JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 733,33 JENIS (G) 10000,00 JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 133,33 JENIS (H) 11666,67
Σ= 466,67 Σ= 2600,00 Σ= 48333,33
Tabel 19. Kerapatan jenis pohon Kerapatan jenis pohon :
Jenis A: Di= 266,67 Jenis E: Di= 83,33 Jenis B: Di= 100,00 Jenis F: Di= 0,00 Jenis C: Di=16,67 Jenis G: Di= 0,00 Jenis D: Di=0,00 Jenis H: Di= 0,00
Total kerapatan jenis pohon adalah 266,67 + 100 + 16,67 + 0 + 83,33 + 0 + 0 + 0 = 466,67
Kerapatan Jenis Belta
Jenis A: Di= 666,67 Jenis E: Di= 400,00 Jenis B: Di= 400,00 Jenis F: Di= 133,33 Jenis C: Di=133,33 Jenis G: Di= 733,33 Jenis D: Di= 0,00 Jenis H: Di= 133,33
Kerapatan Jenis Semai
Jenis A: Di= 3333,33 Jenis E: Di= 5000,00 Jenis B: Di= 0,00 Jenis F: Di= 10000,00 Jenis C: Di=8333,33 Jenis G: Di= 10000,00 Jenis D: Di=0,00 Jenis H: Di= 11666,67
Kerapatan Relatif Jenis (Rdi) (%)
Rumus RDi=
jumlahtegakan jenis i
jumlahtegakan seluruh jenis
x
100
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 57,14 JENIS (A) 25,64 JENIS (A) 6,90
JENIS (B) 21,43 JENIS (B) 15,38 JENIS (B) 0,00
JENIS (C) 3,57 JENIS (C) 5,13 JENIS (C) 17,24
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 17,86 JENIS (E) 15,38 JENIS (E) 10,34
JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 5,13 JENIS (F) 20,69
JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 28,21 JENIS (G) 20,69
JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 5,13 JENIS (H) 24,14
Σ= 100,00 Σ= 100,00 Σ= 100,00
Tabel 20. Kerapatan relatif jenis Kerapatan relatif jenis pohon :
Jenis A: RDi= 57,14% Jenis E: RDi= 17,86% Jenis B: RDi= 21,43% Jenis F: RDi= 0 Jenis C: RDi= 3,57% Jenis G: RDi= 0
Jenis D: RDi= 0 Jenis H: RDi= 0
Total kerapatan relatif jenis pohon adalah (57,14 + 21,43 + 3,57 + 0 + 17,86 + 0 + 0 + 0) % = 100 %
Jenis A: RDi= 25,64% Jenis E: RDi= 15,38% Jenis B: RDi= 15,43% Jenis F: RDi= 5,13% Jenis C: RDi=5,13% Jenis G: RDi= 28,21%
Jenis D: RDi=0 Jenis H: RDi= 5,13%
Total kerapatan relatif jenis belta adalah (25,64 + 15,43 + 5,13 + 0 + 15,38 + 5,13 + 28,21 + 5,13) % = 100 %
Kerapatan relatif jenis semai :
Jenis A: Di=6,90% Jenis E: Di= 10,34%
Jenis B: Di= 0 Jenis F: Di= 20,69%
Jenis C: Di=17,24% Jenis G: Di= 20,69%
Jenis D: Di=0 Jenis H: Di= 24,14%
Frekuensi Jenis (Fi)
Rumus Fi =
jumlah petak sampel ditemukan jenis i
jumlahtotal sampel yang diamati
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 2 JENIS (A) 1,5 JENIS (A) 3
JENIS (B) 3 JENIS (B) 6 JENIS (B) 6
JENIS (C) 6 JENIS (C) 6 JENIS (C) 6
JENIS (D) 0 JENIS (D) 0 JENIS (D) 0
JENIS (E) 3 JENIS (E) 2 JENIS (E) 6
JENIS (F) 0 JENIS (F) 6 JENIS (F) 3
JENIS (G) 0 JENIS (G) 3 JENIS (G) 3
JENIS (H) 0 JENIS (H) 6 JENIS (H) 2
Σ= 14 Σ= 30,5 Σ= 29
Tabel 21. Frekuensi jenis Frekuensi jenis pohon
Jenis A: Fi= 2 Jenis E: Fi= 3
Jenis B: Fi= 3 Jenis F: Fi= 0
Jenis C: Fi=6 Jenis G: Fi= 0
Jenis D: Fi=0 Jenis H: Fi= 0
Total frekuensi jenis pohon adalah 2 + 3 + 6 + 0 + 3 + 0 + 0 + 0 = 14
Frekuensi Jenis Belta
Jenis B: Fi= 6 Jenis F: Fi= 6
Jenis C: Fi= 6 Jenis G: Fi= 3
Jenis D: Fi= 0 Jenis H: Fi= 6
Total frekuensi jenis belta adalah 1,5 + 6 + 6 + 0 + 2 + 6 + 3 + 6 = 30,5 Frekuensi Jenis Semai
Jenis A: Fi= 3 Jenis E: Fi= 6
Jenis B: Fi= 6 Jenis F: Fi= 3
Jenis C: Fi= 6 Jenis G: Fi= 3
Jenis D: Fi= 0 Jenis H: Fi= 2
Frekuensi Relatif Jenis (RFi) (%)
Rumus RFi =
Frekuensi jenis i
total frekuensi seluruh jenis
X
100
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 14,29 JENIS (A) 4,92 JENIS (A) 10,34
JENIS (B) 21,43 JENIS (B) 19,67 JENIS (B) 20,69
JENIS (C) 42,86 JENIS (C) 19,67 JENIS (C) 20,69
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 21,43 JENIS (E) 6,56 JENIS (E) 20,69
JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 19,67 JENIS (F) 10,34
JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 9,84 JENIS (G) 10,34
JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 19,67 JENIS (H) 6,90
Σ= 100,00 Σ= 100,00 Σ= 100,00
Tabel 22. Frekuensi relatif jenis Frekuensi relatif jenis pohon
Jenis A: RFi= 14,29% Jenis E: RFi= 21,43%
Jenis B: RFi= 21,43% Jenis F: RFi= 0
Jenis C: RFi= 42,86% Jenis G: RFi= 0
Jenis D: RFi= 0 Jenis H: RFi= 0
Total frekuensi relatif jenis pohon adalah (14,29 + 21,43 + 42,86 + 21,43 + 0 + 0 + 0) % = 100 %
Jenis A: RFi= 4,92% Jenis E: RFi= 6.56% Jenis B: RFi= 19,67% Jenis F: RFi= 19,67%
Jenis C: RFi= 19,67% Jenis G: RFi= 9,84%
Jenis D: RFi= 0 Jenis H: RFi= 19,67%
Total frekuensi relatif jenis belta adalah (4,92 + 19,67 + 19,67 + 0 + 6,56 + 19,67 + 9,84 + 19,67) %= 100 %
Frekuensi relatif jenis semai
Jenis A: RFi= 10,34% Jenis E: RFi= 20,69% Jenis B: RFi= 20,69% Jenis F: RFi= 10,34%
Jenis C: RFi= 20,69% Jenis G: RFi= 10,34%
Jenis D: RFi= 0 Jenis H: RFi= 6,90%
Penutupan Jenis (Pji)
Rumus PJi =
∑
(
π DBH
24
)
A
∑DBH = diameter pohon jenis i
A = Luas area (pohon/belta/semai)
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 50259,89 JENIS (A) 28119,35 JENIS (A) 3605,24 JENIS (B) 1800,17 JENIS (B) 2419,89 JENIS (B) 1059,75 JENIS (C) 4939,28 JENIS (C) 1308,33 JENIS (C) 110,03
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 69721,08 JENIS (E) 12899,64 JENIS (E) 837,33
JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 2211,08 JENIS (F) 4006,77
JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 3640,08 JENIS (G) 1308,33
JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 2211,08 JENIS (H) 16027,08
Σ= 126720,43 Σ= 52809,46 Σ= 26954,55
Tabel 23. Penutupan jenis Penutupan Jenis Pohon
Jenis A: PJi= 50,259,89 Jenis E: PJi= 69721,08
Jenis B: PJi= 1800,17 Jenis F: PJi= 0
Jenis C: PJi= 4939,28 Jenis G: PJi= 0
Jenis D: PJi= 0 Jenis H: PJi= 0
Penutupan Jenis Belta
Jenis A: PJi= 28119,35 Jenis E: PJi= 12899,64 Jenis B: PJi= 2419,89 Jenis F: PJi= 2211,08 Jenis C: PJi= 1308,33 Jenis G: PJi= 3640,08
Jenis D: PJi= 0 Jenis H: PJi= 2211,08
Total penutupan relatif jenis belta adalah 28119,35 + 2419,89 + 1308,33 + 0 + 12899,64 + 2211,08 + 3640,08 + 2211,08 = 52809,45
Penutupan jenis semai
Jenis A: PJi= 3605,24 Jenis E: PJi= 837,33 Jenis B: PJi= 1059,75 Jenis F: PJi= 4006,77 Jenis C: PJi= 110,03 Jenis G: PJi= 1308,33
Jenis D: PJi= 0 Jenis H: PJi= 16027,08
Penutupan Relatif Jenis (RPji) (%)
Rumus RPJi=
luasarea penutupan suatu jenis i
luas total area penutupanuntuk seluruh wilayah
x
100
Tabel 18
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 39,66 JENIS (A) 53,25 JENIS (A) 13,38
JENIS (B) 1,42 JENIS (B) 4,58 JENIS (B) 3,93
JENIS (C) 3,90 JENIS (C) 2,48 JENIS (C) 0,41
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 55,02 JENIS (E) 24,43 JENIS (E) 3,11
JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 4,19 JENIS (F) 14,86
JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 6,89 JENIS (G) 4,85
JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 4,19 JENIS (H) 59,46
Σ= 100,00 Σ= 100,00 Σ= 100,00
Tabel 24. Penutupan relatif jenis Penutupan relatif jenis pohon :
Jenis A: RPJi=39,66 Jenis E: RPJi= 55,02
Jenis B: RPJi= 1,42 Jenis F: RPJi= 0
Jenis C: RPJi= 3,90 Jenis G: RPJi= 0
Jenis D: RPJi= 0 Jenis H: RPJi= 0
Total penutupan relatif jenis pohon adalah (39,66 + 1,42 + 3,90 + 0 + 55,02 + 0 + 0 + 0) % = 100 %
Jenis A: RPJi= 53,25 Jenis E: RPJi= 24,43
Jenis B: RPJi= 4,58 Jenis F: RPJi= 4,19
Jenis C: RPJi= 2,48 Jenis G: RPJi= 6,89
Jenis D: RPJi= 0 Jenis H: RPJi= 4,19
Total penutupan relatif jenis belta adalah (53,25 + 4,58 + 2,48 + 0 + 24,43 + 4,19 + 6,89 + 4,19) % = 100 %
Penutupan relatif jenis semai
Jenis A: RPJi= 13,38 Jenis E: RPJi= 3,11
Jenis B: RPJi= 3,93 Jenis F: RPJi= 14,86
Jenis C: RPJi= 0,41 Jenis G: RPJi= 4,85
Jenis D: RPJi= 0 Jenis H: RPJi= 59,45
Nilai Penting Jenis (INPi) Rumus INPi = Rdi + Rfi + RPji
TINGKAT POHON TINGKAT BELTA TINGKAT SEMAI
JENIS (A) 111,09 JENIS (A) 83,81 JENIS (A) 30,62
JENIS (B) 44,28 JENIS (B) 39,64 JENIS (B) 24,62
JENIS (C) 50,33 JENIS (C) 27,28 JENIS (C) 38,34
JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00 JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 94,31 JENIS (E) 46,37 JENIS (E) 34,14
JENIS (F) 0,00 JENIS (F) 28,99 JENIS (F) 45,90
JENIS (G) 0,00 JENIS (G) 44,93 JENIS (G) 35,89
JENIS (H) 0,00 JENIS (H) 28,99 JENIS (H) 90,49
Σ= 300,00 Σ= 300,00 Σ= 300,00
Tabel 25. Nilai penting jenis Nilai penting jenis pohon
Jenis A: INPi= 111,09 Jenis E: INPi= 94,31
Jenis B: INPi= 44,28 Jenis F: INPi= 0
Jenis C: INPi= 50,33 Jenis G: INPi= 0
Jenis D: INPi= 0 Jenis H: INPi= 0
Total nilai penting jenis pohon adalah 111,09 + 44,28 + 50,33 + 0 + 94,31 + 0 + 0 + 0 = 300
Jenis A: INPi= 83,81 Jenis E: INPi= 46,37 Jenis B: INPi= 39,64 Jenis F: INPi= 28,99 Jenis C: INPi= 27,28 Jenis G: INPi= 44,93
Jenis D: INPi= 0 Jenis H: INPi= 28,99
Total nilai penting jenis belta adalah 83,81 + 39,64 + 27,28 + 0 + 46,37 + 28,99 + 44,93 + 28,99 = 300
Nilai penting jenis semai
Jenis A: INPi= 30,62 Jenis E: INPi= 34,14 Jenis B: INPi= 24,62 Jenis F: INPi= 25,90 Jenis C: INPi= 38,34 Jenis G: INPi= 35,89
Jenis D: INPi= 0 Jenis H: INPi= 90,49
Nilai penting tiap spesies
Spesies Nilai penting
JENIS (A) 225,51
JENIS (B) 108,54
JENIS (C) 115,94
JENIS (D) 0,00
JENIS (E) 174,82
JENIS (F) 74,89
JENIS (G) 80,82
JENIS (H) 119,48
Σ= 900,00
Tabel 26. Nilai penting tiap spesies Analisa
4.2.2 Lamun
Penutupan transek 3 :
C3 =
∑
(
M x f
)
F
x
100
=
∑
(
4633,34)
7500 x100
Rata-rata ketiga transek
C =
C
1
+
C
2
+
C
3
3
=
18,75
+
74,08
+
61,78
3
=
154,61
3
= 51,52% Analisa
4.2.3 Terumbu Karang
P ersentase Penutupan
=
Total Panjang Kategori
PanjangTransek
x
100
CE =
35
+
80
2790
x
100
= 4,12%
CF =
3
+
10
2790
x
100
= 0,46%
ACB =
10
+
20
+
20
2790
x
100
= 1,79%
CS =
20
2790
x
100
= 0,72%
CM =
30
2790
x
100
= 1,07% Analisa
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Mangrove, lamun dan Terumbu Karang memiliki banyak kegunaan yang
sangat penting bagi kehidupan biota-biota laut yang ada..
Ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang mempunyai keterkaitan
ekologis (hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi satwa, dan dampak kegiatan manusia.
Berdasarkan pada nilai penting jenis, setiap jenis mangrove pada stasiun
1 dan 2 dapat diketahui peranan dan pengaruh jenis tersebut dalam komunitasnya. Dari tabel diatas dapat diketahui spesies yang paling berpengaruh diekosistem mangrove pada stasiun 1 dan 2 adalah jenis Xylocarpus moluccensis.
Berdasarkan pada persentase penutupannya, lamun di pantai kondang
merak termasuk dalam kondisi rusak tinggi (51,52%).
Berdasarkan persentasi penutupan terumbu karang, terumbu karang di
pantai Kondang Merak termasuk dalam kategori kritis/rusak sekali (4,12%; 0,46%; 1,79%; 0,72%; 1,07%).
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., Gunawan, H. 2007. Peranan Ekologis Dan Sosial Ekonomis Hutan Mangrove Dalam Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir. Konservasi Sumberdaya Alam, Pusat Litbang Hutan Dan Konservasi Alam Bogor.
Aziz, A. 1994. Pengaruh Salinitas terhadap Sebaran Fauna Echinodermata. Jurnal Oseana, vol. XIX, no. 2, hal. 23 - 32
Azkab, M. H. 2000. Struktur Dan Fungsi Pada Komunitas Lamun.
Dewi, Erni Sisca.2006. Tesis: Analisis Ekonomi Manfaat Ekosistem Terumbu Karang Di Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara. Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Haruddin, dkk. 2011.Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Hasil Penangkapan Ikan Oleh Nelayan Secara Tradisional di Pulau Siompu Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.
Indrayanti, E., Widianingsih., Riniatsih, I. 2003. Kajian Potensi Kerang-kerangan dan Siput Laut di Ekosistem Padang Lamun Perairan Jepara. FPIK. UNDIP: Semarang.
Indriyanto. 2006.
Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
http://www.irwantoshut.net/ekosistem.html. Diakses pada tanggal 9
Desember 2015.
Kamal, Eni. 2006. Potensidan Pelestarian Sumberdaya Pesisir: Hutan Mangrovedan Terumbu Karangdi Sumatera Barat. Universitas Bung Hatta.
Kusumahadi, K. S. 2008. Watak Dan Sifat Tanah Areal Rehabilitasi Mangrove Tanjung Pasir Tangerang. Fakultas Biologi. UNJ: Jakarta.
Lovelock, Catherine, 1964. Field Guide to the Mangrove of Queensland.
Menzies, F., J.S. Zaneveld and R.M. Pratt. 1967. Transported Turtle Grass as A Sources Organic Enrichment of Abysal Sediments of North Carolina. Deep-Sea Research, no.14, hal. 111-112
Odum P. Eugene, 1994. Fudamentals of Ecology.Dr.Samuel J. Mc. Naughton and Larry L. Wolf.
Regional. 2008. Ekosistem Pesisir dan Laut dalam regional.coramap.or.id.
Santoso, A.D., Kardono. 2008. Teknologi Konservasi dan Rehabilitasi Terumbu Karang. Jurnal Teknologi lingkungan. 9 (3): 121-228.
Sari, dkk. Sudi Parameter Fisikadan Kimia Daerah Penangkapan Ikan Perairan Selat Asam Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau. Riau: Universitas Riau Press.
Setyawan, A. D., Kusumo, W., Ppurin, C.P. 2003. Ekosistem mangrove di Jawa. Jurnal Biodiversitas. 4 (2):133-145.
Setyawan, Ahmad Dwi. Kusumo Winarno. 2006. Pemanfaatan Langsung Ekosistem Mangrove Di Jawa Tengah Dan Penggunaan Lahan Di Sekitarnya; Kerusakan Dan Upaya Restorasinya. Universitas Sebelas Maret (UNS). Surakarta. Jurnal Biodiversitas. 7 (3): 282-291.
Sulistiyono. Dwi., Suwarto., Moh. Gamal Rindarjono. Transformasi Mata Pencaharian Dari Petani Ke Nelayan Di Pantai Depok Desa Parangtritis Kabupaten Bantul. Jurnal Geoeco.1 (2): 234 – 24.
Sunarto. 2008 . Karakteristik Biologidan Peranan Planktonbagi Ekosistem Laut. Universitas PajajaranPres.
Supriadi., Dedi, S. Richardus, F.K. 2006. Beberapa Aspek Pertumbuhan lamun Enhalus acoroides Royle di Pulau Barrong Lompo Makasar. FIKP. UNHAS: Makasar.
Tansley. 1935. Komponen-Komponen Ekosistem.
http:///definisi_ekosistem_pengertian_dan_istilah_ekosistem_kompone n_ekosistem.html. Diakses pada tanggal 07 Mei 2014Vatria, Belvi. 2010. Berbagai Kegiatan Manusia yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Degradasi Ekosistem Pantai serta Dampak yang Ditimbulkannya. Pontianak: Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak Press.
Timotius, S. 2003. Biologi terumbu Karang. Makalah Trining Course: Yayasan Terumbu Karang Indonesia.