• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Jahl Dalam Al Quran Perspektif Taf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makna Jahl Dalam Al Quran Perspektif Taf"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

JAHL DALAM AL-QUR´AN

DALAM PESRPEKTIF KITAB AL-QUR´AN DAN TAFSIRNYA (EDISI YANG DISEMPURNAKAN)

MAKALAH

DIPRESENTASIKAN DALAM DISKUSI MATA KULIAH

“ TAFSIR KEINDONESIAAN “

DOSEN:

PROF. DR. H. ASWADI, M.AG

DISUSUN OLEH: DELTA YAUMIN NAHRI

NIM: FO 3314011

PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

PROGRAM PASCASARJANA (S3)

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Makalah ini berusaha untuk mengekplorasi makna jahl yang dideskripsikan oleh al-Qur´an dengan berbagai bentuk kata dan konteksnya melalui pendekatan tematik (al-afsi>r al-mawd}u>’iy). Kemudian dikonfrontasikan dengan menggunakan

kitab tafsir yang dimiliki Kementrian Agama “Al-Qur´an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan).” Dengan harapan bahwa pengungkapan makna tersebut menghasilkan kesimpulan yang dapat dijadikan sumbangsih pemikiran sekaligus petunjuk operasional dalam kehidupan. Karena pada dasarnya sejarah manusia dengan segala problematika serta sebab akibatnya berulang1 dari satu waktu ke waktu, dan pengetahuan menjadi pintu awal menuju perubahan. Dengan diungkapkan berbagai kisah yang dilalui oleh umat-umat terdahulu serta akibat yang timbul dari perbuatan dan keingkaran mereka, maka kita yang hidup kemudian dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Sehingga dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela dan melaksanakan hal-hal yang terpuji agar apa yang dialami oleh umat yang lalu itu tidak terulang lagi di masa kini.2 Umumnya pola kesalahan yang berulang dari satu umat ke umat lainnya bermuara pada satu sebab yaitu jahl / kebodohan. Baik bodoh karena tidak adanya ilmu terhadap Allah dan ajarannya ataupun bodoh karena meyakini sesuatu yang tidak pantas diyakini, musyrik misalnya. Lebih-lebih bodoh karena meyakini bahwa yang dilakukannya adalah kebenaran meskipun hakikatnya dia mengetahui bahwa itu salah, sebagaimana kaum Lut. Hal ini jika dikaitkan dengan pemikiran al-As}faha>niy ketika beliau mengartikan lafal jahl dalam al-Qur´an.3

1 Quraish Shihab menukil pemikiran Syeikh Muhammad Mutawalli> al-Sha’ra>wiy yang menyimpulkan

bahwa : “Bila al-Qur´an menyebut nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka itu menunjukan

bahwa peristiwa serupa tidak akan terulang, tetapi bila tidak menyebut nama tokohnya maka

peristiwa serupa atau semakna berpotensi terulang.” M Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat,

Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahu dalam Memahami al-Qur´an (Jakarta: Lentera Hati, 2013) 14.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. AL QURAN DAN TAFSIRNYA (EDISI YANG DISEMPURNAKAN)

1. Latar Belakang Penulisan

Al-Qur´an adalah kitab suci bukan untuk satu generasi tertentu tapi untuk beberapa generasi, dan bukan untuk bangsa Arab saja melainkan untuk segenap umat manusia, termasuk didalamnya adalah bangsa Indonesia terutama kaum Musliminnya, sebagaimana firman Allah:

ﭥ ﭤ ﭣ ﭢ ﭡ ﭠ ﭟ ﭞ

Artinya: “Al Qur´an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu memberi peringatan

kepadamu dan kepada orang yang (al-Qur´an ini) sampai kepadanya.”4

Dalam hal ini, para ulama di satu daerah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam memasyarakatkan al-Qur´an. Berkaitan dengan ini, Departemen Agama Republik Indonesia mempunyai tugas sosialisasi Kitab Suci Al Qur´an kepada seluruh umat Islam di Indonesia. Salah satu cara sosialisasi tersebut adalah dengan menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.5 Namun demikian, bagi mereka yang hendak mempelajari al-Qur´an secara lebih mendalam tidak cukup dengan sekedar terjemah, melainkan juga diperlukan adanya tafsir Qur´an, dalam hal ini tafsir al-Qur´an dalam bahasa Indonesia. Untuk menghadirkan tafsir al-al-Qur´an, Menteri Agama membentuk tim penyusun Al-Qur´an dan Tafsirnya yang disebut Dewan Penyelenggara Pentafsir al-Qur´an yan diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. dengan KMA No. 90 Tahun 1972, kemudian disempurnakan dengan KMA No. 8 tahun 1973 dengan ketua tim Prof. H. Bustami A. Gani dan selanjutnya

4 Al-Qur’an, 6: 19.

(4)

disempurnakan dengan KMA No. 30 Tahun 1980 dengan ketua tim Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML.6

Percetakan pertama kali dilakukan pada tahun 1975 secara bertahap berupa jilid I yang memuat juz 1 sampai dengan juz 3, kemudian menyusul jilid-jilid selanjutnya pada tahun berikutnya. Untuk pencetakan secara lengkap 30 juz baru dilakukan pada tahun 1980 dengan format dan kualitas yang sederhana. Kemudian pada penerbitan berikutnya secara bertahap dilakukan perbaikan atau penyempurnaan yang pelaksanaannya dilakukan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur´an – Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan. Perbaikan agak luas pernah dilakukan pada tahun 1990, tetapi juga tidak mencakup perbaikan yang sifatnya substansial, melainkan lebih banyak pada aspek kebahasaan. Selanjutnya, dalam rangka upaya penyempurnaan tafsir al-Qur´an secara menyeluruh, Menteri Agama RI dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 280 Tahun 2003 membentuk tim penyempurna yang diketuai oleh Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA dengan anggota terdiri dari para cendikiawan dan ulama ahli al-Qur´an yang menjadi guru besar di berbagai perguruan tinggi agama Islam di Indonesia, dengan terget setiap tahun dapat menyelesaikan 6 juz sehingga diharapkan akan selesai seluruhnya pada tahun 2007. 7

Penyempurnaan tafsir al-Qur´an secara menyeluruh dirasakan perlu sesuai perkembangan bahasa, dinamika masyarakat sertai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang mengalami kemajuan pesat bila dibanding saat pertama kali tafsir tersebut diterbikan sekitar 30 tahun yang lalu. Namun demikian, Ketua Tim

Penyempurnaan, Ahsin Sakho Muhammad menegaskan bahwa, “yang demikian itu

bukan berarti tafsir yang sudah ada sudah tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini, tapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar pembaca mendapatkan hal-hal yang

baru dengan gaya bahasa yang cocok untuk kondisi masa kini.”8

(5)

2. Eksekusi Kepenulisan dan Tim Penulis

Dalam upaya menyediakan kebutuhan masyarakat di bidang pemahaman al-Qur´an, yakni melakukan upaya penyempurnaan tafsir al-Qur´an yang bersifat menyeluruh, Departemen Agama mengawali kegiatan tersebut dengan Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur´an pada tanggal 28 s.d. 30 April 2003. Muker tersebut merekomendasikan oerlunya dilakukan penyempurnaan Al-Qur´an dan Tafsirnya Departemen Agama serta merumuskan pedoman penyempurnaan tafsir yang kemudian menjadi acuan kerja tim tafsir dalam melakukan tugas-tugasnya, termasuk jadwal penyelesaian.9 Rumusan pedoman itu meliputi:

1. Aspek Bahasa, yang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan bahasa Indonesia pada zaman sekarang

2. Aspek substansi, yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat 3. Aspek muna>sabah dan asba>b al-nuzu>l

4. Aspek penyempurnaan hadis, melengkapi hadis dengan sanad dan ra>wiy

5. Aspek transliterasi yang mengacu kepada Pedoman Transliterasi Arab-Latin berdasarkan SKB dua Menteri tahun 1987

6. Dilengkapi dengan kajian ayat-ayat kauniyah yang dilakukan oleh tim pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

7. Teks ayat al-Qur´an menggunakan rasm ‘ Uthma>niy, diambil dari Mushaf al-Qur´an Standar yang ditulis ulang

8. Terjemah al- Qur´an menggunakan Al-Qur´an dan Terjemahnya Departemen Agama yang Disempurnakan (Edisi 2002)

9. Dilengkapi dengan kosakata yang fungsinya menjelaskan makna lafal tertentu yang terdapat dalam kelompok ayat yang ditafsirkan

10. Pada bagian akhir setiap jilid diberi indeks

11. Diupayakan membedakan karakteristik penulisan teks Arab, antara kelompok ayat yang ditafsirkan, ayat-ayat pendukun dan penulisan teks hadist.10

(6)

Adapun Sebagai tindak lanjut dari Muker Ulama al-Qur´an dan juga Keputusan Menteri Agama RI Nomor 280 Tahun 2003menetapkan Tim Penyempurnaan dengan susunan sebagai berikut:

1. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar Pengarah

2. Prof. Dr. H. Fadhal AE. Bafadhal, M.Sc. Pengarah

3. Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, M.A. Ketua / anggota

4. Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A. Wakil Ketua /anggota

5. Drs. H. Muhammad Shohib, M.A. Sekretaris / anggota

6. Prof. Dr. H. Rif’at Syauqi Nawawi, M.A Anggota

7. Prof. Dr. H. Salman Harun Anggota

8. Dr. Hj. Faizah Ali Sibromalisi Anggota

9. Dr. H. Muslih Abdul Karim Anggota

10. Dr. H. Ali Audah Anggota

11. Dr. Muhammad Hisyam Anggota

12. Prof. Dr. Hj. Huzaimah T. Yanggo, MA. Anggota

13. Prof. Dr. H.M. Salim Umar, M.A. Anggota

14. Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, MA Anggota

15. Drs. H. Sibli Sardjaja, LML Anggota

16. Drs. H. Mazmur Sya’roni Anggota

17. Drs. H.M. Syatibi AH>. Anggota

Staf Sekretariat:

1. Drs. H. Rosehan Anwar, APU 2. Abdul Azz Sidqi, M.Ag 3. Jonni Syatri, S.Ag

4. Muhammad Musaddad, S.TH.I

(7)

H.M. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA selaku Konsultan Ahli/Narasumber.11

Sebagai respon atas saran dan masukan dari para pakar, penyempurnaan Tafsir Al Qur´an Departemen Agama telah memasukan kajian ayat-ayat kawniyah atau kajian ayat dari perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam hal ini dilakukan oleh tim pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yaitu:12 1. Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie, Apt, M.Sc. Pengarah

2. Dr. H. Hery Harjono Ketua/Anggota

3. Dr. H. Muhammad Hisyam Sekretaris/Anggota

4. Dr. H. Hoemam Rozie Sahil Anggota

5. Dr. H. A. Rahman Djuwansah Anggota

6. Prof. Dr. Arie Budiman Anggota

7. Ir. H. Dudi Hidayat, M.Sc. Anggota

8. Prof. Dr. H. Syamsul Farid Ruskanda Anggota

3. Metode Penafsiran

Kitab Al-Qur´an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan) berisi 30 juz

ayat-ayat al-Qura>n yang terbagi menjadi 10 jilid berukuran besar plus satu jilid Mukadimah Al-Qur´an dan Tafsirnya. Pada setiap jilidnya berisi tiga juz. Pada tahun 2007 tim tafsir telah menyelesaikan serluruh kajian dan pembahasan juz 1 s.d. 20, yang hasilnya diterbitkan secara bertahap. Pada tahun 2004 diterbitkan juz 1 s.d. 6, pada tahun 2005 telah diterbitkan juz 7 s.d. 12 dan pada tahun 2006 diterbitkan juz 13 s.d. 18, pada tahun 2007 juz 19 s.d. 24, dan pada tahun 2008 diterbitkan juz 25 s.d. 30 beserta Mukaddimahnya.

a. Sumber Penafsiran

(8)

Sumber penafsiran yang digunakan dalam Kitab Al-Qur´an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan) adalah: bi al-ma’thu>r,13 baik menafsirkan al-Qur’a>n

dengan al-Qur’a>n maupun dengan hadis/riwayat. Karena hampir disetiap ayat ditafsirkan dengan ayat al-Qur´an lainnya. Sebagai contoh saat menafsirkan lafal

‘Shayt}a>n’ didalam al-Quran, 2:36 menafsirkan dengan al-Qur´an, 6:112.14 Dan saat menafsirkan ayat riba di dalam al-Quran, 2:275 mencantumkan hadits-hadits terkait riba.15 Lebih jauh, sumber bi al-ma’thu>r pada kitab ini dilengkapi dengan pandangan ulama-ulama tafsir sebelumnya-meskipun terhitung sedikit- dan diperkuat dengan kajian ayat-ayat kawniyah, yakni perspektif dan penemuan ilmiah (IPTEK) secara sederhana sebagai refleksi kemajuan teknologi yang sedang berlangsung saat ini dan juga untuk mengemukakan kepada beberapa kalangan saintis bahwa al-Qur´an berjalan beriringan bahkan memacu kemajuan teknologi. Misalnya saat menafsirkan al-Qur´an 2:172 dipaparkan tentang bahaya babi secara fakta ilmiah.16 Metode penafsiran yang bersumber dari penggabungan tersebut lazim dinamakan bi iqtira>n (memadukan antara bi

al-ma’thu>r dan bi al-ra’y). 17 Dengan corak penafsiran ‘Ilmiy. b. Sasaran dan Tertib Ayat yang Ditafsirkan

Dari objek yang ditafsirkan, karya ini mengikuti alur tertib urutan ayat/surat yang menjadikannya tergolong kepada tafsir tah}li>li> (analitik), yaitu

(9)

salah satu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qura>n dari seluruh aspeknya,18

dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat

al-Qur’a>n sebagaimana tercantum dalam mus}h}af.19 Tim Penulis berusaha menjelaskan kandungan al-Qura>n dengan menyajikan bahasan sesuai dengan tema pokok surah. Hal ini mirip dengan metode yang digunakan Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah. Wajar saja mengingat beliau diposisikan sebagai Konsultan Ahli/ Narasumber bersama Said Agil Al Munawar. Menurutnya, dalam setiap surat al-Qura>n pasti terdapat tema pokok yang dibahas. Dengan memperkenalkan 114 surah beserta intinya, al-Qura>n akan mudah dikenal dan dipahami oleh masyarakat.20

c. Keluasan Penjelasan dan Sistematika Penafsiran

Penjelasan yang dihidangkan Tim Penulis tergantung konteks ayat yang disajikan. Penyajian penafsiran ayat yang berbicara sejarah berbeda dengan ayat yang bernuansa kawniyah. Namun demikian, cakupan penjelasan yang terdapat pada kitab tafsir ini tidak lebih luas jika dibandingkan dengan kitab tafsir tahli>liy lainnya semisal Al Misbah Karya M. Quraish Shihab lebih-lebih yang berbahasa Arab. Hal ini menjadi sandaran bagi penulis untuk menggolongkannya –dari sisi keluasan penjelasan- sebagai al-tafsi>r al-ijma>liy. Demikian ini karena ketika menafsirkan suatu ayat atau surat al-Qur’a>n, Tim Penulis menjelaskannya dengan porsi yang terkesan biasa. Bisa jadi, yang demikian ini, dimaksudkan agar karya ini bisa diterima secara luas bukan hanya mereka yang memang kecenderungannya pada kajian tafsir. Sebagai contoh misalnya, penjelasan kosa kata sangat minim, rata-rata hanya satu kosakata yang dijelaskan dari setiap ayatnya. Nampaknya mereka tidak ingin terjebak dalam penjelasan bahasa. Selain tujuan diatas juga dikarenakan tidak dirumuskan dalam pedoman penyempurnaan tafsir oleh Musyawarah Kerja Ulama Al Qur´an yang menjadi acuan kerja tim tafsir.

18 Abd. Al-H{ayy Al-Farmawi, Al-Bida>yah Fi> Tafsi>r al-Maud}u’i>, (Kairo: Al-H{ad}a>rah Al-‘Arabiah, 1977), 23

19Mohammad Bukhori, “Jahiliyah dalam al-Qur’a>n; Studi Komparatif Interpretasi Sayyid Qut}ub”, 52.

(10)

Sistematika penulisan penafsiran dimulai dengan pemberian judul yang disesuaikan dengan kandungan kelompok ayat yang akan ditafsirkan, kemudian menuliskan kelompok ayat terlebih dahulu dengan rasm standar dari Mushaf Standar Indonesia yang sudah banyak beredar. Langkah berikutnya adalah

menerjemahkan kelompok ayat dengan menggunakan Al-Qur´an dan

Terjemahnya edisi 2002 yang telah diterbitkan oleh Kementerian Agama tahun 2004. Kosakata dan Muna>sabah (korelasi antar ayat) juga tidak dilupakan oleh Tim sebelum ia menafsirkan ayat demi ayat dengan berpijak pada nas}-nas} yang s}ah{i>h}. Muna>sabah yang digunakan dalam tafsir ini terbatas pada dua macam saja, yaitu muna>sabah antar satu surat sebelumnya dan muna>sabah antar kelompok ayat sebelumnya. Jika ayat tersebut terdapat sabab al-nuzul juga dicantumkan setelah pembahasan muna>sabah. Baru kemudian menafsirkan ayat dan ditutup dengan kesimpulan dengan menggunakan bahasa yang lugas dan ringkas. Di samping itu, terkadang mengaitkan isi kandungan al-Qur’a>n dengan

problematika kehidupan masa kini, sebagai contoh saat menjelaskan ayat riba>. Hanya saja penjelasan ayat riba> terlalu tekstual, mendeskripsikan hadits-hadist terkait kemudian mengambil kesimpulan singkat bahwa bunga bank adalah bagian dari riba>. Seharusnya lebih kontekstual dengan menjelaskan berbagai bentuk bunga / riba> yang berkembang saat ini, yang hampir sulit dibedakan mana yang haram dan mana yang dibolehkan.

B. AYAT-AYAT JAHL DALAM AL-QURAN

1. Struktur Ayat-ayat Jahl Dalam al-Qur´an

(11)

15 diantaranya makkiyah, dan sisanya madaniyah. Berikut tabel lengkap sesuai dengan urutan kronologi turunnya wahyu.21

No Nama

Surat

No Surat

No Ayat

Makkiah / Madaniah

Urutan Wahyu

Istihqa>q

1 Al A’ra>f 7 138 Makkiah 39 mud}a>ri’

نولهتج

2 Al A’ra>f 7 199 Makkiah 39 ism fa>’il

ينلهالجا

3 Al Furqa>n 25 63 Makkiah 42 ism fa>’il

نولهالجا

4 Al Naml 27 55 Makkiah 48 mud}a>ri’

نولهتج

5 Al Qas}as 28 55 Makkiah 49 ism fa>’il

نولهالجا

6 Hu>d 11 29 Makkiah 52 mud}a>ri’

نولهتج

7 Hu>d 11 46 Makkiah 52 ism fa>’il

ينلهالجا

8 Yu>suf 12 33 Makkiah 53 ism fa>’il

ينلهالجا

9 Yu>suf 12 89 Makkiah 53 ism fa>’il

نولهاج

10 Al An’a>m 6 35 Makkiah 55 ism fa>’il

ينلهالجا

11 Al An’a>m 6 54 Makkiah 55 Mas}dar

ةلاهج

12 Al An’a>m 6 111 Makkiah 55 mud}a>ri’

نولهيج

13 Al Zumar 39 64 Makkiah 59 ism fa>’il

نولهالجا

14 Al Ah}qa>f 46 23 Makkiah 66 mud}a>ri’

نولهتج

15 Al Nah}l 16 119 Makkiah 70 Mas}dar

ةلاهج

16 Al Baqarah 2 67 Madaniah 87 ism fa>’il

ينلهالجا

(12)

17 Al Baqarah 2 273 Madaniah 87 ism fa>’il

لهالجا

18 Ali ‘Imran 3 154 Madaniah 89 Mas}dar

ةيلهالجا

19 Al Ah}za>b 33 33 Madaniah 90 Mas}dar

ةيلهالجا

20 Al Ah}za>b 33 72 Madaniah 90 Mas}dar

لاوهج

21 Al Nisa> 4 17 Madaniah 92 Mas}dar

ةلاهج

22 Al H{ujura>t 49 6 Madaniah 106 Mas}dar

ةلاهج

23 Al-Fath} 48 26 Madaniah 111 Mas}dar

ةيلهالجا

24 Al Ma>idah 5 50 Madaniah 112 Mas}dar

ةيلهالجا

Diantara kata yang yang merupakan sinonim jahl adalah safaha. Kata

(هفس) safaha berasal dari kata (ه ف س) sa-fa-ha yang berarti

bodoh/merendahkan/tolol.22 Di dalam al-Qur’an kata safaha disebutkan

sebanyak 10 kali. Pada ayat-ayat tersebut kata safaha (هفس) menurut versi

DEPAG diartikan dengan bodoh atau kurang akal atau lemah akalnya atau belum sempurna akalnya. Menurut Quraish Shihab kata safaha digunakan untuk orang yang lemah akalnya atau tolol, karena pelakunya melakukan aktfitas tanpa sadar, baik karena tidak tahu, atau enggan tahu, atau tahu tapi melakukan yang sebaliknya akibat keangkuhannya.23 Sebagaimana dalam al-Qur’an surat

al-An’a>m ayat 140, sebagai berikut:

ز ر ا م او م ر ح و م ل ع يْ غ ب ا ه ف س م ه د لا و أ او ل ت ق ني ذ لا ر س خ د ق ني د ت ه م او نا ك ا م و او ل ض د ق ه للا ى ل ع ءا تِ فا ه للا م ه ق

.

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan

22Louis Ma’luf, al-Munjid fi> al-Lughah wa al-A’la>m (Beiru>t: Da>r al-Masriq, 1988), 338.

(13)

terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”24

Selain itu kata safaha digunakan untuk orang yang lemah akalnya dikarenakan sakit, sangat tua, atau karena ia belum baligh. Sebagaiman dalam surat al-Nisa’ ayat 5, sebagai berikut:

او لو ق و م هو س كا و ا هي ف م هو ق ز را و ا ما ي ق م ك ل ه للا ل ع ج تِ لا م ك لا و م أ ءا ه ف سلا او ت ؤ ت لا و ا فو ر ع م لا و ق م لَ

.

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”25

Bisa dikatakan, jahl bersifat internal karena ketiadaan ilmu didalam jiwa, sementara safah bersifat eksternal karena pengarai yang buruk akibat dari lingkungan. Dan lemah akal yang disebabkan usia baik terlalu tua ataupun masih terlalu anak-anak, namun tidak selamanya berkonotasi negatif. Antara jahl dan safah terdapat keumuman dan kekhususan, jika berupa tingkatan, jahl dengan arti ketiadaannya ilmu didalam jiwa adalah level yang rendah, biasanya tingkatan anak-anak masih minim ilmu, dan pada kondisi tua banyak ilmu yang hilang karena pikun. Tingkatan yang paling tinggi adalah ketika kebodohan tersebut dikarenakan meyakini sesuatu yang bertentangan dengan fakta yang seharusnya.

2. Makna Asal

Makna dasar merupakan sebuah kata yang selalu terbawa bersamanya dimanapun kata itu berada dan selalu merupakan inti konseptual kata tersebut, sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri dimanapun kata itu diletakkan dan bagaimanapun ia digunakan. Cara kerja pencarian makna dasar diperoleh melalui

(14)

perhatian makna leksikal maupun gramatikal. Semua makna baik bentuk dasar maupun turunan yang ada dalam kamus itu disebut dengan leksikal. Jadi, kata-kata tersebut memiliki makna dan dapat dibaca melalui kamus. Sedangkan makna gramatikal yaitu makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat.26

Makna lafal ja-ha-la )لهج( merupakan lawan kata ilm (ملعلا), kasar tabiatnya /bersikap tidak ramah/berpaling dari/menjauh (افج), dungu/tolol/bodoh/naik darah (قمح).27 Sinonim dari kata (لهج) jahala adalah (ةّفخلا) al-khiffatu (kekurangan berfikir) atau (هّفختسا) istakhaffahu (meremehakan/menganggap ringan), (خسف) fasakha (bodoh/lemah akalnya), (طفض) d}afut}a (bodoh/dungu), (هفس) safaha (merendahkan/bodoh/tolol/jelek akhlaknya), (ظلغ) ghalaz}a (kasar dalam perangai).28 Sedangkan antonimnya adalah (ملعلا) al-ilm (pengetahuan)29, (ملع) ‘alima (mengetahui)30, (هلماج) ja>malahu31 (bersikap baik dan ramah), (ةنينأمطلا) al-t}uma’ni>nah

(ketenangan), (ةفرعملا)ّal-ma’rifah (pengetahuan), (مسجلا) al-jusum32 (perkara-perkara besar).

Dalam Mu’jam Mufrada>t al-Alfaz} al-Qur’an makna kata al-jahl dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu kosongnya jiwa dari ilmu, dan ini merupakan makna asal. Kedua meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan (tidak layak dipercayai). Ketiga, melakukan sesuatu yang salah (tidak sesuai dengan kebenaran), baik mengerjakannya itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan itu benar atau meyakini bahwa perbuatannya itu memang salah.33

Pada masa-masa pra Islam, kata jahl sama sekali tidak mempunyai konotasi relegius, jahl semata-mata hanyalah sifat pribadi manusia, hanya saja sifat tersebut

32Ahmad bin Fa>ris bin Zakariya>’ al-Qazwaini al-Ra>zi>, Majmal al-lughah li ibn Fa>ris, Vol. I (Beiru>t:

Muassasah al-Risa>lah, 1986), 201.

(15)

sangat khas. Sifat tersebut sesungguhnya merupakan ciri khas Arab pra Islam. Konsep jahl begitu lekat dengan psikologi orang-orang Arab pra Islam, sehingga wajar saja kata tersebut seringkali dijumpai dalam puisi jahiliyah.34

Sebagai contoh sya’ir bangsa Arab pra Islam yang menggunakan kata jahl degan arti tidak mengetahui, (kebodohan) lawan kata ilm, kasar perangainya,

mendidih, dan semacamnya, seperti dalam sya’ir oleh al-Dhubya>ni>:

ل زا ن م لا ك ت ل ه ج ت سا و ى و لَا كا ع د

#

ل ما ش ب ي شلا و ء ر م لا بِا ص ت ف ي ك و

35

Nafsu-nafsu itu mengajak kepada kamu dan kedudukan itu membutakan kamu (sesuatu yang membawa kamu keapada tidak mengetahui). Bagaimana sesorang bertingkah seperti bayi, sedangkan masa tua sudah habis.

3. Penafsiran Jahl di Dalam Kitab Al-Qur´an dan Tafsirnya

Jahl yang terdapat pada surat al-A’raf ayat 138 ditafsirkan dengan: “Orang -orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Tuhan, tidak mengetahui keharusan menyembah hanya kepada Allah semata dengan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tidak mengetahui akan keharusan beribadah langsung ditujukan kepada Allah

tanpa mengambil perantara dengan sesuatupun.”36 Menurut kitab tafsir ini, keimanan yang dimiliki bani Israil seperti digambarkan diatas, disebabkan kebodohan dan pengaruh kepercayaan nenek moyang. Keadaan seperti ini terdapat juga pada manusia pada umumnya dan kaum Muslimin khususnya, serta dijumpai pula pada tiap-tiap periode dalam sejarah sejak masa Nabi Muhammad sampai kepada akhir zaman kelak.37

Ayat ini merupakan ayat pertama yang terdapat didalamnya lafal jahl (tajhalu>n). Berkedudukan sebagai fi’l mud{a>ri’ Konotasi makna yang terkandung pada ayat ini sesuai dengan konteks yang berlaku saat itu, yaitu masa awal Islam.

34 Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, 227.

35 Muh}ammad bin Mukrim Ibn Manz}u>r > al-Ifri>qi>, Lisa>n al-‘Arab, Vol. II 130. Lihat juga Ahmad bin

Fa>ris bin Zakariya>’ al-Qazwaini Ra>zi>, Majmal lughah li ibn Fa>ris, Vol. I (Beiru>t: Muassasah

al-Risa>lah, 1986), 201.

(16)

Yang dihadapi adalaah kaum musyrik Makkah yang masih kental dengan budaya nenek moyangnya, penyembahan berhala. Begitu juga dari sisi perilaku memiliki kemiripan dengan kaum bani Israil. Yang membedakan adalah strata social antara kaum musyrik Makkah yang merupakan pembesar kaum, sementara bani Israil merupakan kaum marginal, bermata pencaharian sebagai budak Fir’aun, bukan hanya golongan yang rendah tetapi juga pengetahuannya, hampir tidak ditemukan cerdik cendikiawan yang berasal dari mereka, semua cendikiawan berasal dari bangsa pribumi Mesir. Strata ini menghasilkan pola pikir yang berbeda, pola pikir para pembesar adalah kebebasan mutlak, tidak suka diatur apalagi disalahkan. Sedangkan bani Israil bersifat apatis, tidak ada cita-cita untuk membebaskan diri dari

perbudakan Fir’aun, tidak ada keinginan kuat untuk merdeka. Hal ini tercermin pada

reaksi dan sikap mereka dalam menerima ajakan Musa, sedikit saja halangan dan kesulitan yang mereka hadapi, dengan spontan mereka menyatakan rasa putus asa kepada Musa. Perbedaan strata ini tidak lantas menghilangkan jurang intelektual. Musyrik Makkah maupun Bani Israil tetap saja dalam kebodohannya. Yang satu menolak kebenaran karena mereka sudah merasa besar dan benar, apalagi yang menyeru bukan dari sesasam pembesar. Sementara yang satu menerima ajakan Musa tetapi memilih untuk menyembah dengan cara yang mereka kehendaki, adanya bentuk fisik sesembahan, sesuatu yang mudah dijangkau oleh akal mereka yang terbatas.

Ayat berikutnya al-A’raf: 199, al-Furqa>n: 63 dan al-Qas{as{: 55 lafal ja>hil/ja>hilu>n berposisi sebagai subjek (fa>’il) ditafsirkan sebagai orang yang bersikap kasar dan menimbulkan gangguan gangguan terhadap para Nabi dan tidak dapat disadarkan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil, tidak melayani mereka dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.38 Akan tetapi hendaklah menjawab dengan ucapan yang baik dan mengandung nasihat dan harapan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah. Konteks ayat ini masih tetap berlaku, karena dimanapun dakwah ditegakan selalu

(17)

saja ada gangguan, apalagi pada surat al-Furqa>n objek pembicaraannya berkaitan dengan sifat-sifat hamba-hamba Allah yang Maha Maha Pengasih (‘Iba>d al -Rah}ma>n).39

Pada surat al-Naml: 55 membicarakan perbuatan cabul kaum Lut, lafal jahl dengan bentuk fi’il mud}a>ri’ (tajhalu>n) dimaknai sebagai “Orang-orang yang tidak mau mengetahui tujuan Tuhan menciptakan manusia yang terdiri atas laki-laki dan perempuan. Tidak mengetahui kedudukan dalam masyarakat, dan tidak mengetahui pula rencana yang besar yang akan menimpa manusia dan kemanusiaan seandainya

teta mengerjakan perbuatan yang demikian itu (homoseksual)”40

Pada surat Hu>d: 29 lafal tajhalu>n dimaknai: “tidak mengetahui” tentang

hakikat nilai iman meskipun yang memiliki iman itu orang yang rendah dalam kasta sosial masyarakat. Penentang nabi Nuh adalah mereka yang terhormat dimasyarakatnya. Menurut mereka, ukuran berharga tidaknya dinilai dari pangkat dan kepemilikan harta. Saat mereka mengajukan syarat agar mereka beriman yaitu dengan mengusir orang-orang yang dianggapnya hina karena kemiskinan, nabi Nuh menjawabnya dengan kalimat, “Sungguh mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh”41 Sementara pada surat Hu>d: 46 lafal jahl dalam bentuk fa>’il (al-Ja>hili>n) ditafsirkan: “Allah melarang

Nuh memohon kepadaNya tentang sesuatu yang belum diketahuinya dengan yakin bahwa permohonan itu sudah wajar di kemukakan atau tidak. Sesungguhnya Allah memperingatkan Nuh as supaya ia tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang jahil yang memohon sesuatu kepadaNya menurut keinginan nafsunya atau untuk keuntungan keluarga dan kekasihnya tanpa mengetahui apa yang boleh dan patut diminta.”42

Pada surat Yu>suf: 33 lafal jahl sebagai fa>’il (al-Ja>hili>n) dalam konteks keteguhan hati dan iman nabi Yusuf dalam menghadapai rayuan dan bujukan

(18)

perempuan dimaknai dengan “Orang bodoh yang sesat jalan dan mudah terperdaya hingga terjerumus kedalam lembah kehinaan dan maksiat.”43

Pada surat Al An’a>m (6) : 35 al-Ja>hili>n dimaknai dengan: ”Orang yang tidak

tahu tentang sunah-Nya, sehingga mencita-citakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunatullah.”44 Pembicaraan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw agar tidak merasa keberatan, marah dan sedih atas keingkaran orang-orang musyrik yang berpaling dari agama Allah dan mengajukan permintaan yang beraneka ragam agar mereka beriman. Allah bahkan menegaskan, jika nabi keberatan maka dipersilahkan untuk membuat lorong di bumi atau tangga menuju ke langit untuk mendapatkan bukti lain untuk memuaskan mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, hanya saja sunatullah berkata lain, maka dari itu janganlah termasuk orang yang bodoh terhadap sunatullah.

Sementara pada ayat 54, jahl sebagai mas}dar (bijaha>lah) dimaknai dengan

“kebodohan atau ketidaktahuan mereka atas kejahatan yang diperbuat.”45 Ditujukan kepada mereka yang melakukan kejahatan karena kebodohan dan kemudian mereka bertobat melakukan kebaikan. Yang tergolong dalam kebodohan dalam maksiat menurut tafsir ini adalah ketidaktahuan bahwa yang diperbuat adalah dosa dan mengerjakan larangan karena tidak sadar lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu, dan kesalahan yang diperbuat dilakukan tanpa kemauan dan ikhtiarnya.46 Kebodohan dalam konteks ini bukan kebodohan yang merupakan antonim dari pengetahuan, karena jika ini yang dimaksud tentu saja pelakunya tidak berdosa. Yang dimaksud jaha>lah disini adalah kecerobohan, dalam arti yang bersangkutan mestinya mengetahui bahwa hal tersebut terlarang, atau memiliki kemampuan untuk tahu, atau memiliki sedikit informasi menyangkut keharamannya, namun demikian ia melangkah melakukannya, didorong oleh nafsu. Ada juga para ulama berpendapat bahwa penyebutan kata jaha>lah disini untuk mengisyaratkan bahwa kebanyakan dosa lahir akibat dorongan nafsu dan kelalaian

(19)

memikirkan akibat-akibat buruknya. Hal ini diungkapkan dalam surat al-Nisa’ ayat

17, surat al-Nahl ayat 119, al-H}ujura>t ayat 6.

Pada ayat berikutnya, 111, yajhalu>n ditujukan kepada orang-orang kafir yang miminta kepada Nabi Muhammad untuk memperlihatkan kepada mereka malaikat dan bukti-bukti lainnya yang bisa dilihat oleh mata kepala mereka, hanya saja permintaan ini bukan untuk mendapatkan petunjuk melainkan hanya menunjukan permusuhan dan keingkaran mereka. Sehingga ditegaskan kepada

mereka bahwa, “Mereka tidak mengetahui bahwa iman tidak perlu disangkutpautkan dengan melihat tanda-tanda kebenaran, sebab telah menjadi kebenaran bahwa keimanan adalah semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala.”47

Pada surat al-Zumar: 64 al-Ja>hilu>n dimaknai dengan: ”Orang yang tidak

tahu tentang bukti-bukti keesaan Allah.”48 Hal ini ditujukan kepada orang kafir Qurays yang memberi tawaran kepada Nabi Muhammad harta yang tak terbatas sehingga ia menjadi yang terkaya dengan syarat Nabi berhenti mencela tuhan mereka. Sedangkan al-ja>hili>n pada surat al-Baqarah: 67 dimaknai dengan: “orang

yang suka mengolok-olok.”49 Berbeda dengan lafal al-Ja>hil pada ayat sebelumnya, pada ayat 273 tidak dimaknai secara gamblang, namun secara tersirat berarti orang yang tidak tahu antonim dari ‘ilm (mengetahui).50

Ayat-ayat terakhir sesuai urutan turnunnya wahyu yang menyebutkan lafal jahl tersisa tujuh ayat, kesemuanya dalam bentuk mas}dar. Empat ayat menggunakan lafal ja>hiliyyah, dua ayat menggunakan lafal jaha>lah, dan satu ayat menggunakan lafal jahu>la(n). Ketiga bentuk lafal jahl tersebut mempunyai makna yang berbeda. Lafal ja>hiliyyah pada surat Ali ‘Imran: 154, al-Fath: 26 dan Al-Ahza>b: 33 dimaknai dengan: “Orang-orang jahiliah yang hidup pada masa dahulu sebelum zaman Nabi Muhammad.”51 Dan al-Fath: 26 berbunyi h}amiyyat al-Ja>hiliyyah. H{amiyyah dimaknai sebagai keangkuhan, keras kepala dan kedengkian. Dan al-ja>hiliyyah

(20)

dimaknai sebagai zaman jahiliyah.52 Tidak ada penjelasan lebih detail terkait definisi jahiliyah yang di paparkan tim penulis. Hanya menunjukan sebuah zaman sebelum kedatangan Islam.53

Sedangkan makna jahl dengan bentuk jaha>lah dimaknai dengan kecerobohan, sebagaimana dipaparkan diatas. Sementara pasa surat al-Ahza>b: 72 jahu>la(n) di dalam ayat ini dimaknai dengan: “bodoh karena tidak memikirkan

akibat-akibat dari penerimaan wahyu.”54 Sifat ini diberikan Allah kepada manusia karena manusia yang dianggap lebih berpotensi berani menerima amanat berupa tugas-tugas keagamaan dari Allah disaat langit, bumi dan gunung enggan menerima amanat ini dikarenakan konsekwensinya yang berat, yaitu siksa di neraka jika menghianati amanat tersebut. Tetapi, karena pada diri manusia terdapat ambisi dan syahwat yang sering mengelabui mata dan menutup pandangan hatiunya, Allah menyifatinya dengan amat zalim dan bodoh karena kurang memikirkan akibat-akibat dari penerimaan amanat ini.55

4. Karakteristik Kebodohan

Kesimpulan yang didapat dari penelusuran makna jahl menurut kitab tafsir Al-Qur´an dan Tafsirnya yang ditulis oleh Tim Penulis Kementerian Agama adalah bahwa makna jahl tidak melenceng dari makna jahl yang didapat dari penelusuran bahasa. Hanya saja makna tersebut berkembang menyesuaikan konteks ayat itu ditujukan. Dari keduapuluh empat ayat yang menyertakan lafal jahl didalam al-Qur´an, maknanya berorientasi kepada hal-hal berikut:

52 Ibid., vol. 9, 379.

53 Penulis lebih setuju dengan pendapat Sayyid Qut}b berkaitan term Ja>hiliyyah. Menurtunya, ja>hiliyah tidak hanya pada saat tertentu akan tetapi suatu tatanan, aturan, sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, dan esok. Yang menjadi tolak ukur adalah ke-ja>hiliyah-an sebagai kebalikan dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Dan manusia yang berada dalam syari’at hukum buatan manusia, apapun bentuknya, dan dia menerimanya, maka dia berada dalam ke-ja>hiliyah-an. Sayyid Qut}b, fi> Z}ila>l

al-Qur’an (Beiru>t: Da>r al-Shuru>q, 1412 H), Vol. II, 904.

(21)

a. Tidak mengetahui tentang Allah meliputi: hakikat iman terhadap Allah, sifat-sifat-Nya, keharusan menyembah-Nya, hukum-hukum Allah yang berlaku di dunia dan di Akhirat, serta tidak mengetahui akibat dari menyekutukan Allah. Makna ini umumnya menggunakan bentuk kata kerja (fi’il mud}a>ri’). Baik bercerita tentang umat terdahulu, maupun berkaitan dengan umat Nabi Muhammad. Penggunaan fi’il mud{a>ri’

untuk menggambarkan masa lampau mengindikasikan bahwa kebodohan tentang Allah bukan hanya saat firman Allah diturunkan, melainkan berlanjut hingga al-Qur´an tidak berlaku lagi (hari kiamat). b. Ayat ayat yang mencantumkan lafal jahl dalam bentuk fa>’il mempunyai

makna dasarnya tetap sama yaitu ketiadaan ilmu didalam jiwa. Namun demikian terkadang dimaknai sebagai orang yang berperangai kasar, suka mengolok-olok. Terkadang juga dimaknai tidak mengetahui tentang Allah, sesuai makna dasarnya.

c. Lafal jahl dalam bentuk mas}dar mempunyai makna yang lebih beragam. Jika masd}ar tersebut dalam bentuk jaha>lah, maka yang dimaksud jaha>lah disini adalah kecerobohan, kebodohan dalam konteks ini bukan kebodohan yang merupakan antonim dari pengetahuan, karena jika ini yang dimaksud tentu saja pelakunya tidak berdosa. Jika mas}dar tersebut dalam bentuk ja>hiliyyah maka menunjuk kepada suatu masa sebelum kedatangan Islam. Selain itu juga menunjuk pada suatu tatanan, aturan, sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, dan esok. Dan jika mas}dar berbentuk jahu>l maka maknanya kembali kepada makna asal, tidak mengetahui.

5. Solusi Kebodohan a. Iman

(22)

disampaikan oleh Nabi Muh}ammad. Orang mukmin juga adalah orang yang mempercayakan (tawakkal, memasrahkan) dirinya sendiri dan semua urusannya kepada Allah. (b) Orang yang menjaga amanah (dapat dipercaya). Atau orang mukmin dikatakan orang yang menjaga amanat karena mereka konsisten dan berkomitmen dengan perjanjian dan pengakuan mereka akan ke-tuhan-an Allah pada zaman primordial dulu. (c) Orang yang mengamankan. Maksudnya, karena ke-iman-an mereka, mereka telah mengamankan diri mereka dari siksa Allah.56

Jadi seseorang yang telah memiliki keimanan dalam dirinya maka ia pasti bertaqwa dan selalu berserah diri kepada Allah. Berhubungan dengan kasus jahl, masyarakat Arab pra Islam melakukan ke-jahil-an atau melakuakan tingkah laku ja>hiliyah dikarenakan mereka tidak memiliki iman. Mereka menyatakan dalam sumpah untuk beriman yaitu mereka ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri tentang kesaksian para malaikat bahwa Nabi Muh{ammad adalah utusan Allah dan orang yang telah mati dihidupkan kembali dan segala sesuatu baik berupa al-Qur’an dan kebenaran nabi dan

mukjizatnya ditampakkan kepada mereka, namun setelah menampakkannya mereka masih tidak beriman dan menganggap itu adalah sihir. Mereka tidak mengetahui bahwa iman tidak perlu diungkapkan dengan melihat tanda, sebab telah menjadi kebenaran umum bahwa keimanan semata-mata anugerah dari Allah. Bahwa iman dan jahl berkaitan yaitu dengan keimanan yang kuat maka seseorang tidak akan terjerumus kepada ke-jahil-an.

b. ‘Amalu al-S}a>lih}

Kalimat ‘amal al-s}a>lih} terdiri dari dua kata, yaitu ‘amal dan al-s}a>lih} Kata ‘amal biasa digunakan untuk menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu. Dapat dikatakan bahwa kata amalّmencakup segala macam perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dan mempunyai tujuan tertentu, walau hanya dalam bentuk niat atau tekad. Atau

(23)

menggunakan daya-daya manusia, baik daya fisik, daya pikir, daya kalbu, dan daya hidup.57

Menurut Quraish Shihab yang dikutip oleh Mohammad Yardho, kata s}a>lih} diartikan sebagai “tiadanya (terhentinya) kerusakan”. Kata ini diartikan

juga “bermanfaat dan sesuai”. Bahwa ‘amalu al-s}a>lih} bisa mengantarkan jahl kepada kebaikan asalkan ia benar-benar memperbaiki ke-jahil-an tersebut dan tidak mengulangi kembali. Sebagaimana Allah mengampuni orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena ke-jahil-an yang telah diperbuat kemudian mereka bertaubat dan memperbaiki dirinya, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Nah}l ayat 119.

c. Menghindari Perbuatan Dzalim

Kata z}ulm menurut ahli bahasa diartikan dengan meletakkan di tempat yang salah. Dalam lingkup etika, z}ulm diartikan dengan bertindak sedemikian rupa yang melampui batas yang benar serta melanggar hak orang lain. Secara singkat dan umum, z}ulm berhubungan dengan ketidak adilan dalam pengertian melewati batas yang dimiliki seseorang dan melakukan yang bukan menjadi haknya.58 Dalam al-Qur’an, karakter z}ulm meliputi mereka yang menyekutukan Allah,59 mendustkan ayat-ayat Allah,60 hatinya mengeras,61 menghalangi jalan Allah,62 mengadakan kedustaan terhadap Allah.63

Berkaitan dengan jahl, bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah disebut dengan kezaliman yang besar.64 Selain itu, orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasulnya, setelah menerima amanat namun mereka khawatir akan menghianatinya, maka dia termasuk manusia yang z}alim dan bodoh. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ah}za>b ayat 72. Ke-z}alim-an dan

57 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misba>h}, Vol. XV, 443.

58 Toshihiko Izutsu, Konsep-konsep Etika Relegius Dalam al-Qur’an, 197.

59 Al-Qur’an,(31): 13.

60 Ibid., (62): 5. 61 Ibid., (22): 53.

(24)

kebodohan walaupun keduanya merupakan sesuatu yang buruk dan mengandung kecaman terhadap pelakunya, tetapi keduanya merupakan sebab yang menjadikan seseorang dapat memikul amanat (beban ilahi), karena sifat z}alim dan jahl hanya dapat disandang oleh siapa yang dapat menyandang sifat adil dan ilmu. Dan manusialah yang berpotensi menyandang keduanya, berpotensi pula menyandang lawan keduanya yakni z{alim dan jahl. Ini berarti manusia menurut tabiatnya adalah z}ulu>man jahu>lan.65

d. Konfirmasi Ulang Informasi

Hal ini tergambar jelas pada pristiwa yang dikisahkan pada surat al-H}ujura>t ayat 6, yaitu berkaitan dengan penyampaian informasi. Orang-orang fasik mengetahui bahwa kaum yang beriman tidak mudah dibohongi dan bahwa mereka akan meneliti kebenaran setiap informasi, sehingga orang fa>siq dapat dipermalukan dengan kebohongannya. Sebagaiamana dalam al-Qur’an

surat al-H}ujura>t ayat 6. Ayat tersebut menuntut agar menjadikan langkah kita berdasarkan pengetahuan (lawan dari jahl) supaya tidak mudah tertipu.

e. Bersegera Taubat

Dapat dipahami bahwa relasional taubat memberikan dampak positif kepada orang yang jahl. Jika seseorang mengerjakan kejahatatan lantaran jahl atau karena kebodohannya maka Allah menerima taubat orang tersebut dengan syarat ia menyadari dan menyesali perbuatan tersebut dan berjanji sepenuh hati tidak akan memulainya kembali. Sebagaimana dijelaskan dalam surat

al-Nisa’ ayat 17. Taubat yang diterima oleh Allah yaitu: (a) menyesali dengan sungguh-sungguh perbuatan yang telah dilakukan. (b) meninggalkan perbuatan tersebut dan melaksanakan ketaatan-ketaatn. Dan (3) bertekad dengan kuat bahwa ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.66

65 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misba>h}, Vol. XI, 335.

(25)

BAB III PENUTUP

Pemaparan diatas mengantarkan penulis kepada kesimpulan sebagai berikut:

1. Kitab Tafsir ‘Al-Qur´an dan Tafsirnya (Edisi yang Di Sempurnakan)’

adalah karya dari kumpulan ulama-ulama al-Qur´an Indonesia. Karya ini adalah penyempurnaan dari karya yang sama yang sudah disusun sejak tahun 1972. Kitab ini bercorak ‘ilmiy, dengan penjelasan yang global / ijma>li, dengan metode tah}liliy dimulai dari al-Fatihah sampai al-Na>s. 2. Makna asal Jahl adalah ketiadaan ilmu dalam jiwa. Penggunaan lafal

tersebut didalam al-Qur´an mengalami perkembangan sedemikan rupa sesuai dengan konteks ayat tersebut. Diantaranya: ceroboh, tidak mengetahui hakikat iman kepada Allah, masa sebelum kedatangan Islam, tidak mengetahui sunatullah dan lain sebagainya.

3. Makna Jahl di dalam al-Qur´an bisa diklasifikasikan kepada tiga kelompok besar sesuai dengan perubahan kata-katanya (istih{qa>q). Jahl sebagai kata kerja/fi’il, kata benda/mas{dar dan subyek/fa>’il.

4. Pemakalah belum menemukan perbedaan makna yang signifikan terkait ayat-ayat jahl Makkiyah dan Madaniyah. Perbedaan lebih terasa jika diklasifikasikan sesuai perubahan bentuk kata –nya.

(26)

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an, 6: 19.

Shihab, M Quraish. Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami al-Qur´an. Jakarta: Lentera Hati, 2013.

Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

RI, Kementerian Agama. Al Qur´an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan): Mukadimah. Jakarta: Widya Cahaya, 2011.

Zarqani >(al), Muhammad ‘Abd al-‘Az}i>m. Mana>hil al-‘Irfa>n, Vol. I. Al-Nashr wa

al-Tauzi’: Da>r al-Fikr, tt.

Qat}t}a>n (al), Manna>’. Maba>hi>th fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Surabaya: al-Hida>yah, 1973.

Dhahabiy, Muhammad Husayn. Al-Tafsi>r al-Mufassiru>n. Kairo: Dar al-H}adith, 2005.

Nasir, Ridwan. Memahami Al-Qura>n, Perspektif Baru Metodologi Tafsir Muqa>rin. Surabaya, CV. Indra Media.

Farmawi (al), Abd. Al-H{ayy. Al-Bida>yah Fi> Tafsi>r al-Maud}u’i>. Kairo: Al-H{ad}a>rah Al-‘Arabiah, 1977.

Izutsu, Toshihiko. Relasi Tuhan dan Manusia, terj. Agus Fahri Husein, dkk. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003.

As}faha>niy (al), Al-Ra>ghib. Mufrada>t al-Alfa>z} al-Qur’a>n (Damaskus: Da>r al-Qalam, 2011), 209.

Manz}u>r , Muh}ammad bin Mukrim Ibn. Lisa>n al-‘Arab, Vol. II. Beiru>t: Da>r al-Masriq, 1988.

Ra>zi> (al), Ahmad bin Fa>ris bin Zakariya>’ al-Qazwaini. Majmal al-lughah li ibn Fa>ris, Vol. I. Beiru>t: Muassasah al-Risa>lah, 1986.

Referensi

Dokumen terkait

orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan

Makna tahiyyat yang sebenarnya adalah tidak menyembah selain kepada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Sifat dan perbuatan Tuhan disebutkan kalau Dia Maha Melihat tapi tidak

Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa Allah menyerupakan kaum kafir yang menyembah berhala dengan laba-laba dalam membuat rumah yang lemah, tidak dapat melindungi

Penegasan bahwa Tuhan yang maha esa yaitu Allah sudah sangat lah gamblang. Bukan hanya di surat Thaha ayat 14 saja bahkan masih banyak sekali riwayat dan ayat-ayat

Menurut Ahmad Musthofa Al-Maraghi bahwa ayat ini menjelaskan sesungguhnya Allah SWT tidak melarangmu untuk berbuat baik dengan orang – orang kafir dengan catatan

Tujuan utama dari tulisan ini adalah menjelaskan bahwa memahami makna suatu kata terutama dalam ayat ± ayat Alquran tidak bisa dilepaskan konteks.. Sebagai penguat

Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika

Sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu, jika ketemu orang yang saya anggap mengerti tentang itu, saya selalu menanyakan, siapa sesungguhnya orang yang memberi nama setiap surat