• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Proposal Skripsi Peranan Six Part

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Contoh Proposal Skripsi Peranan Six Part"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN SIX-PARTY TALKS PADA KONFLIK SEMENANJUNG

KOREA (2003-2009)

Proposal Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Disusun oleh:

Ramadhani Eko Putranto

1110113000014

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

1 A. Latar Belakang Masalah

Ancaman nuklir seringkali mewarnai hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Pada tahun 2013, isu krisis nuklir kembali menguak dengan ancaman keras Korea Utara untuk menyerang Korea Selatan dan Amerika Serikat pada 15 April 2013 dengan meluncurkan rudal

(Bell, 2013). Pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara dipandang oleh dunia internasional telah mengancam stabilitas keamanan tidak hanya di Kawasan Asia Timur saja tetapi dunia secara lebih luas. Hal ini tentu saja menjadi pusat perhatian dunia karena Kawasan

Asia Timur merupakan kawasan yang “dikuasai” oleh negara-negara besar dunia yang masing-masing memiliki kepentingan yang sangat besar terhadap kawasan ini, seperti Amerika Serikat

dan Rusia.

Amerika Serikat melihat pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara sangat mengancam karena kemampuan rudal balistik Korea Utara diklaim telah mampu menjangkau

wilayahnya (Welle, 2013). Selain itu, Jepang dan Korea Selatan yang merupakan aliansi abadi Amerika Serikat sangat rentan terhadap serangan yang dapat terjadi kapan saja oleh Korea Utara.

Tidak hanya Amerika Serikat, China dan Rusia pun saat ini mulai mempertegas sikap mereka atas tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara yang mengancam akan menyerang Korea Selatan, dan telah mendeklarasikan perang secara terbuka dengan Korea Selatan. Hal ini

dilakukan China dengan mendukung Amerika Serikat untuk terus mendorong Korea Utara menghentikan rencana penyerangannya terhadap Korea Selatan dan Amerika Serikat (Online,

2013).

Krisis di Semenanjung Korea yang terjadi untuk kesekian kalinya ini, pernah ditangani

(3)

2 adalah sebuah forum ad-hoc multilateral yang dicetuskan oleh Amerika Serikat pada masa pemerintahan George W. Bush untuk menanggulangi permasalahan nuklir di Semenanjung

Korea ketika pada tahun 2003, Korea Utara memutuskan untuk keluar dari Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT) (Cossa, 2008).

Secara umum, NPT adalah sebuah traktat yang dibentuk pada tahun 1970 untuk membatasi pengembangan senjata nuklir di dunia, di mana hak untuk mengembangkan senjata nuklir hanya diberikan kepada lima negara yaitu Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Inggris dan

China. Korea Utara adalah satu dari 189 negara yang menadatangani traktat ini, namun menyatakan untuk keluar pada tahun 2003 (Kerr, Nikitin, Woolf, & Medalia, 2010).

Six-Party Talks dimulai pada tahun 2003 yang terdiri atas enam negara, yakni Korea

Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, China dan Rusia (Buzan, 2012). Six-Party Talks bertujuan untuk melakukan negosiasi penghentian proyek pengembangan nuklir Korea Utara

selain usaha oleh pihak-pihak terkait untuk mendorong Korea Utara kembali meratifikasi NPT, dan perundingan ini berlangsung di Beijing dengan China sebagai moderator. (Studies, 2012).

Konflik yang terjadi di Semenanjung Korea ini merupakan sisa peninggalan dari peristiwa Perang Dingin. Berawal dari Perang Dingin, perang antara dua ideologi besar dunia kala itu, yakni ideologi demokrasi yang digaungkan oleh Amerika Serikat, dan ideologi

sosialis-komunis yang dipromosikan oleh Uni Soviet, membuat sebuah bangsa yang dahulunya bersatu menjadi terpecah. Bangsa ini adalah bangsa Korea.

Berbeda dengan entitas-entitas bangsa lain yang pada akhirnya membentuk sebuah negara yang berdaulat atas dorongan kesamaan ras, etnis, bahasa dan sejarah, bangsa Korea

(4)

3 terpisah di bawah sistem pemerintahan yang berbeda, sistem perekonomian yang juga berbeda satu sama lainnya yang seluruhnya sangat bertolak belakang, walaupun pada dasarnya bangsa

Korea yang hidup terpisah ini memiliki latar belakang sejarah, ras, bahasa dan etnis yang sama.

Pada tahun 1900-an Jepang mulai menduduki Semenanjung Korea dan secara resmi

memerintah kawasan ini pada tahun 1910 dan selama 30 tahun Jepang melakukan penjajahan terhadap kawasan ini (Society, 2008). Pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat melakukan tindakan balasan atas serangan Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat, Pearl

Harbour dengan menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki dengan menjatuhkan bom atom. Jepang dipaksa bertekuk lutut pada Amerika Serikat akibat kehancuran total yang diderita oleh

dua kota pusat perdagangan Jepang saat itu. Ditambah dengan munculnya Uni Soviet yang secara tiba-tiba melakukan penyerangan pada Manchuria (saat ini Korea Utara) dan mendeklarasikan perang pada Jepang tepat pada tanggal 8 Agustus 1945 berselang dua hari

setelah jatuhnya bom atom di kota Hiroshima (Lew, 2000). Kedua peristiwa ini menyebabkan Jepang menyerah pada Amerika Serikat, dan pada September 1945 secara resmi menyerahkan

wilayah Semenanjung Korea kepada Amerika Serikat (Lew, 2000). Setelah penyerahan tersebut, Amerika Serikat membagi kedua wilayah semenanjung ini di mana Amerika Serikat mendapatkan setengah bagian di selatan dan Uni Soviet mendapatkan setengah bagian di utara

(Lew, 2000).

Bangsa Korea kini terpisah menjadi dua negara berdaulat, yakni Korea Utara (Republik

Rakyat Demokratik Korea) dan Korea Selatan (Republik Korea). Perbedaan antara kedua negara ini bukanlah hal yang menjadi alasan bagi berbagai kalangan melakukan kajian dan menaruh

(5)

4 Terkait dengan isu nuklir ini, Korea Utara adalah pihak yang terus mendapatkan sorotan dan kecaman keras dari berbagai pihak. Korea Utara dinilai telah menjadi pemicu ketidakstabilan

kawasan Asia Timur dengan proyek nuklir yang dikembangkannya. Hal ini terbukti dengan uji coba rudal yang dilakukan oleh Korea Utara ke wilayah di sekitarnya dan ancaman-ancaman

penyerangan nuklir yang diberikan oleh Korea Utara kepada Korea Selatan dan sekutunya.

Hubungan antara kedua Korea tidak pernah harmonis. Ditambah dengan kedua Korea memiliki ideologi yang sangat kontras satu sama lainnya, membuat perpecahan antara kedua

Korea semakin meruncing. Puncaknya adalah pada tahun 1950-1953, Korea Utara menyerang Korea Selatan yang mengakibatkan lebih dari tiga juta nyawa masyarakat Korea Selatan

melayang (Society, 2008). Semenjak peristiwa invasi ini, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan diliputi oleh teror.

Pasca peristiwa tersebut, Korea Utara terus menerus melakukan langkah-langkah provokasi yang cukup radikal untuk membendung kekuatan Korea Selatan. Salah satunya adalah dengan melakukan uji coba rudal balistik hingga tes peluncuran senjata nuklir sebagai bentuk

ancaman terhadap Korea Selatan yang merupakan musuh utama bagi Korea Utara. Sebagaimana dikutip dan diolah dari website KBS, berikut adalah kronologi pengembangan rudal Korea Utara hingga masuknya Six-Party Talks ke dalam konflik ini (World, 2012):

No. Tahun proyek rudal China dan memperoleh teknologi rudal

2. 1976-1981 Penggunaan rudal SCUD-B dan papan peluncur buatan Uni Soviet dari Mesir untuk mengembangkan rudal sendiri

(6)

5 4. Mei 1986 Uji coba Scud C

5. 1988 Alokasi Scud B-C ke dalam militer Korea Utara 6. Mei 1993 Peluncuran uji coba rudal Rodong

7. Januari 1994 Identifikasi pertama adanya Taepodong-1

8. 1998 Alokasi rudal Rodong ke dalam militer Korea

Pelaksanaan perundingan Six-Party Talks dimulai; yakni dengan diadakannya First Round hingga Fifth Round

13. Agustus 2006 Diberikannya sanksi embargo ekonomi dan dijatuhkannya Resolusi 1718 oleh Dewan Kemanan PBB kepada Korea Utara atas uji coba rudal Rodong/Scud

14. April 2012 Roket jarak jauh ‘Unha nomor-3’ diluncurkan, tetapi gagal memasuki orbit (Sebelum roket Unha nomor-3 diluncurkan, diumumkan secara terbuka kepada media massa luar negeri. Hal itu dianalisis untuk memperlunak kecaman masyarakat internasional yang menanggapi peluncuran uji-coba rudal balistik antarbenua) 15. Desember

2012

Roket jarak jauh ‘Unha nomor-3’ diluncurkan di Dongchang-ri, Cheolsan-gun, Provinsi Pyeongan Utara

Tabel 1 Kronologi pengembangan rudal Korea Utara (Sumber: diolah berdasarkan data KBS World)

(7)

6 keluar dari NPT. Six-Party Talks memulai perundingan pada tahun 2003. Pada First Round tanggal 27 Agustus 2003, keenam negara Six Party Talks ini bertemu di Beijing untuk pertama

kalinya untuk membahas permasalahan nuklir Korea Utara dengan agenda besar melakukan normalisasi hubungan dan persetujuan pakta non agresi yang ditawarkan oleh Korea Utara,

hanya saja Amerika Serikat menolak (Bajoria & Xu, 2013). Kemudian pada Second Round tanggal 25 Februari 2004, dengan dipimpin oleh China dan dibantu oleh Rusia sebagai pimpinan sidang, forum berjalan buntu dengan keinginan Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat yang

mendorong Korea Utara untuk menutup seluruh reaktor nuklirnya dan dibalas dengan ultimatum Korea Utara untuk menghentikan program nuklirnya dengan catatan Korea Utara akan tetap

keluar dari proyek pengembangan nuklir untuk perdamaian di bawah NPT (Bajoria & Xu, 2013).

Pada Third Round yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2004, Korea Utara melunak dengan menerima proposal yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk melakukan penutupan

beberapa reaktor nuklir dalam jangka waktu tiga bulan dengan keingininan Korea Utara untuk mendapatkan kompensasi dari penghentian sementara reaktor nuklirnya tersebut (Bajoria & Xu,

2013). Kemudian, pada bulan November 2004, Presiden Bush kembali terpilih dan memenangkan putaran kedua dari Pemilihan Presiden Amerika Serikat, tetapi sebuah keputusan mengejutkan tiba-tiba diambil oleh Korea Utara ketika secara tiba-tiba Korea Utara menolak

untuk melakukan perundingan pada pertemuan Fourth Round di Beijing (Bajoria & Xu, 2013). Tetapi Korea Utara akhirnya kembali meneruskan perundingan ketika Pemerintahan Bush secara

gamblang mencoret Korea Utara dari daftar “axis of evil” dan mengakui kedaulatan Korea Utara sebagai entitas negara berdaulat (Chamberlin, 2007).

(8)

7 2005 Six-Party Talks ini membuahkan sebuah “Joint Statement” yang berisikan empat poin penting yaitu:

1. Denuklirisasi Semenanjung Korea,

2. Normalisasi hubungan antara seluruh stakeholders di kawasan regional Asia Timur,

3. Pembangunan ekonomi yang berfokus di Korea Utara, dan

4. Perdamaian di Semenanjung Korea dan perdamaian di Asia Timur Laut (Snyder, 2007).

Pada Fifth Round, kondisi kembali memanas dengan jatuhnya sanksi ekonomi dari Amerika Serikat terhadap Korea Utara dan peristiwa Banco Delta Asia yang memicu kemarahan Korea Utara yang kemudian memboikot Six-Party Talks (Bajoria & Xu, 2013). Banco Delta Asia

adalah sebuah bank yang berpusat di Makau, China. Bank ini adalah pusat aktifitas keuangan Korea Utara di mana semua pengolahan sumber keuangan Korea Utara dilakukan di bank tersebut. Korea Utara juga merupakan salah satu pemegang saham terbesar bank ini. Namun,

pasca embargo ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Korea Utara, Amerika Serikat memutuskan untuk menyita bank tersebut atas indikasi adanya money laundering dan

menutup rekening milik Korea Utara (Renack, 2006, pp. 1-4).

Pada bulan Juli 2006 Korea Utara melakukan uji coba misil dan tanggal 9 Oktober 2006 melakukan uji coba nuklir yang segera direspon oleh Dewan Keamanan PBB dengan segera

mengeluarkan Resolusi 1718 pada 14 Oktober 2006 (Bajoria & Xu, 2013). Resolusi 1718 terdiri atas 17 butir keputusan Dewan Keamanan PBB di mana secara garis besar terdapat tiga poin

penting, yaitu:

 Korea Utara tidak diperbolehkan melakukan uji coba rudal balistik dan harus

(9)

8  Korea Utara harus segera kembali berunding di Six-Party Talks dan mendorong

implementasi tahap I dari Joint Statement segera dilaksanakan.

 Embargo ekonomi segera diimplementasikan kepada Korea Utara (Nations, 2006).

Pada tahun 2007 “Joint Statement” tahap pertama resmi diimplementasikan dengan tindakan Korea Utara menutup fasilitas nuklir Yongbyon dan diikuti oleh Amerika Serikat dan Jepang yang mulai mengirimkan 50 ribu ton minyak mentah ke wilayah Korea Utara. Kemudian,

pada tanggal 11 Oktober 2008, Sixth Round kembali membahas implementasi “Joint Statement” tahap kedua bagi tiap-tiap negara (Sang-soo & Chan-young, 2007).

Namun, pasca Sixth Round keberlangsungan Six-Party Talks tidak mencapai kemajuan yang berarti dan cenderung memburuk. Pada tanggal 5 April 2009, Korea Utara melakukan uji

coba rudal Taepodong-2 III. Pada tanggal 14 April 2009 Korea Utara mendeklarasikan untuk keluar dari Six-Party Talks dan tanggal 25 Mei 2009 melakukan tes nuklir yang lebih besar dibandingkan tahun 2006 (Liang, 2012).

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti akan berusaha untuk melihat bagaimanakah peranan Six-Party Talks pada konflik yang terjadi di Semenanjung Korea pada tahun 2003-2009?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

(10)

9 1. Mengetahui peranan apa yang dimainkan oleh Six-Party Talks dalam upayanya meredam

konflik yang terjadi di Kawasan Semenanjung Korea.

2. Mengetahui konsep-konsep neoliberalisme institusional yang relevan dan sesuai untuk melihat fenomena internasional saat ini.

3. Memberikan gambaran kepada pembaca mengenai dampak yang ditimbulkan oleh Six-Party Talks terhadap upaya peredaman konflik di Kawasan Semenanjung Korea.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat, diantaraya adalah:

1. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan studi Hubungan Internasional di lingkungan universitas baik nasional maupun internasional.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memudahkan pembaca dalam memperluas pengetahuan khususnya bagi mereka yang memiliki ketertarikan dalam mempelajari isu diplomasi multilateral, organisasi internasional dan studi Hubungan Internasional Kawasan Asia

Timur.

3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian berikutnya yang juga

membahas isu-isu yang berkaitan dengan Six-Party Talks dan penelitian terkait dengan organisasi internasional lainnya.

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian yang hampir serupa pernah dilakukan sebelumnya oleh Alfina Farmaritia

(11)

10 berikut: “Bagaimana dampak pengembangan senjata nuklir Korea Utara terhadap kompleksitas

keamanan regional Asia Timur pasca Perang Dingin?”.

Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan teori realisme dan menelaah lebih dalam dengan menggunakan konsep regionalis yang dikembangkan oleh konstruktivis. Secara

lebih spesifik, teori realis digunakan oleh penulis untuk memperlihatkan bahwa militer adalah faktor yang menggerakkan negara dalam melakukan hubungan di sistem internasional. Lebih jauh dinyatakan oleh penulis dalam penelitiannya tersebut, eksistensi negara akan membuat

negara lain di sekitar semakin khawatir yang berujung pada pengetatan dan perbaikan militer untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut.

Kemudian, kosep regionalis digunakan oleh Wicahyani untuk menganalisis kompleksitas keamanan regional yang di mana kompleksitas keamanan regional tersebut terdiri atas unsur-unsur seperti geografi, etnisitas dan budaya masyarakat di suatu wilayah. Terdapat empat

variabel penyusun struktur esensial kompleksitas keamanan regional, yaitu:

1. Batas wilayah, yang membedakan kompleksitas keamanan regional dari negara-negara sekitarnya;

2. Struktur anarkis, yang berarti bahwa struktur keamanan regional harus terdiri dari lebih dari dua otonom;

3. Polaritas, yang meliputi distribusi kekuasaan antar unit; dan 4. Konstruksi sosial, yang meliputi pola amity dan enmity antar unit.

Dalam penelitiannya, Wicahyani menemukan bahwa dampak dari pengembangan nuklir Korea Utara membuat adanya efek aksi-reaksi dalam dinamika konstelasi keamanan di Kawasan

(12)

11 bargaining power membuat suasana keamanan di wilayah Asia Timur tidak dapat terjamin dan

menyebabkan sistem internasional di kawasan tersebut sangat rentan terhadap perubahan dan

perlombaan militer.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian penulis adalah terkait dengan aktor-aktor

yang terlibat di mana negara-negara anggota Six-Party Talks yakni Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Rusia dan China dibahas di dalam penelitian dan dilihat respon serta tindakan apa saja yang dilakukan oleh masing-masing negara tersebut dalam proses konflik yang

terjadi di Semenanjung Korea.

Namun, terdapat beberapa perbedaan antara penelitian ini dengan tesis ini. Pertama, perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah terletak pada poin utama penelitian di mana Wicahyani menjadikan Korea Utara sebagai aktor utama penelitian, sedangkan penulis menjadikan Six-Party Talks sebagai aktor utama dalam penelitian.

Kedua, tesis ini sangat bersifat sangat state-centric di mana penelitian yang dilakukan penulis berusaha melihat melalui sudut pandang yang berbeda di mana Six-Party Talks sebagai sebuah

unit tunggal dalam sistem dapat berpengaruh dalam konstelasi keamanan Asia Timur pada masa Six-Party Talks masih berdiri. Ketiga, penggunaan teori dan konsep di dalam tesis tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini. Penulis akan

menggunakan teori dan konsep yang berbeda di mana konsep organisasi internasional dan diplomasi multilateral akan dijadikan dasar dalam analisa dampak yang ditimbulkan Six-Party

Talks pada konflik Semenanjung Korea pada tahun 2003-2009.

Terdapat penelitian lain yang membahas isu Six-Party Talks. Penelitian ini adalah sebuah

(13)

12 Humaniora dan Sosial Universitas Newcastle pada tahun 2009. Disertasi ini berjudulThe North Korean Nuclear Crisis and the Six Party Talks Organising International Security:

Hegemony, Concert of Powers, and Collective Security”. Mun sangat kental mengemas

penelitian ini dengan konsep-konsep yang dikembangkan oleh neorealisme di mana analisis yang

digunakan merupakan analisis kemanan, power, kepentingan nasional, balance of power dan sistem aliansi.

Di dalam penelitiannya, Mun mengambil beberapa pertanyaan penelitian, yaitu:

1. Dapatkah tahap pertama dari krisis nuklir Korea Utara diperiksa melalui konsep keamanan di bawah struktur kekuasaan hegemonik?

2. Apakah asumsi utama teori stabilitas hegemoni dapat berlaku untuk memeriksa proses konfrontasi nuklir bilateral antara Amerika Serikat dan Korea Utara?

3. Dapatkah tahap kedua ditafsirkan melalui persepsi keamanan di bawah sistem

kekuasaan?

4. Apa dampak sistem aliansi terhadap isu nuklir Korea Utara?

5. Dapatkah gagasan keamanan kolektif digunakan dalam menganalisis implikasi keamanan dari fase ketiga?

6. Apa peran rezim keamanan kolektif dalam menggambarkan fase ketiga?

Dalam disertasinya, Mun sangat berfokus pada hubungan yang terjadi antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Dimulai dari sejarah hubungan kedua Korea dari masa Pasca Perang

Dingin hingga masa pemerintahan Presiden Bush, kontribusi Amerika Serikat dalam penanggulangan nuklir di Korea Utara hingga isu-isu aliansi yang mewarnai tarik ulur

(14)

13 kausal yang ditimbulkan atas hegemoni Amerika Serikat dengan kompleksitas keamanan di Kawasan Semenanjung Korea. Walaupun begitu, negara-negara anggota Six-Party Talks yang

lain yaitu Korea Selatan, Jepang, Rusia dan China juga ditelaah, hanya saja fokus yang diberikan Mun tidak sebesar ketertarikannya terhadap Amerika Serikat.

Secara umum, penelitian yang dilakukan oleh Mun memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis. Persamaan tersebut datang dari kesamaan aktor-aktor yang terlibat di mana negara-negara anggota Six-Party Talks yakni Korea Utara, Korea Selatan, Amerika

Serikat, Jepang, Rusia dan China dibahas di dalam penelitian dan dilihat respon serta tindakan apa saja yang dilakukan oleh masing-masing negara di dalam Six-Party Talks tersebut dalam

proses konflik yang terjadi di Semenanjung Korea.

Perbedaan penelitian penulis dari disertasi tersebut terletak pada fokus penelitian di mana Mun mengambil krisis nuklir Korea sebagai fokus utama dengan Six-Party Talks sebagai

argumen pendukung atas penelitiannya terkait dengan konsep hegemoni dan aliansi. Mun juga sangat menekankan fokus penelitiannya kepada Amerika Serikat dengan melihat hubungan

antara hegemoni, power dan aliansi berpengaruh terhadap Korea Utara. Perbedaan terakhir munvuldari penggunaan konsep. Mun menggunakan konsep-konsep turunan neorealisme yakni analisis kemanan, power, kepentingan nasional, balance of power dan sistem aliansi, yang

tentunya berbeda dengan konsep-konsep yang digunakan oleh penulis.

Selain tesis dan disertasi tersebut, penelitian yang hampir serupa juga dijumpai dalam

beberapa jurnal internasional, salah satunya adalah jurnal dengan judul “The Six Party Talks and Beyond: Cooperative Threat Reduction and North Korea”. Jurnal ini merupakan sebuah

(15)

14 diterbitkan oleh Center for Strategic and Internatonal Studies (CSIS) International Security Program di Washington DC, Amerika Serikat pada tahun 2011.

Report ini secara garis besar terkait dengan usaha Amerika Serikat dalam

penanggulangan krisis Semenanjung Korea melalui pengimplementasian kebijakan Cooperative

Threat Reduction (CTR). CTR adalah salah satu bentuk kebijakan Amerika Serikat yang secara

garis besar melakukan pendekatan baik dalam bidang ekonomi, perdagangan, politik, militer dan budaya melalui dialog-dialog yang dikembangkan dengan melibatkan pihak-pihak yang terlibat.

Kebijakan ini telah diimplementasikan sebelumnya dalam menanggulangi permasalahan pengembangan Weapon of Mass Destruction (WMD) yang dilakukan oleh Rusia pada tahun

1991. Kebijakan ini terbukti efektif dalam menekan Rusia melakukan pengembangan senjatanya. Berikut adalah bentuk CTR Amerika Serikat yang dilakukan dalam upaya menanggulangi krisis nuklir di Korea Utara:

 Sama seperti di Rusia, pendekatan non-permusuhan fleksibel akan diperlukan untuk

membangun hubungan kerja yang efektif. Menunjukkan bahwa mitra yang ada untuk

mencapai tujuan yang diharapkan, tidak berusaha mengubah, menyuap atau memata-matai Korea Utara.

 Menampilkan kerjasama yang merupakan jalan dua arah juga akan menjadi penting. Hal

tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan Korea Utara dari awal proyek dan dengan

melakukan upaya "Koreanizing", khususnya melalui penggunaan program pelatihan.  Di Korea Utara, sama seperti di Rusia, akan sangat penting untuk bekerja langsung di

(16)

15 individu yang berbeda akan memiliki kepentingan yang berbeda dan hal tersebut dapat digunakan untuk membantu mengatasi hambatan dan untuk mempercepat implementasi.  Sementara sengketa tidak dapat dihindari, menjaga peningkatan kemungkinan sengketa

terjadi akan membutuhkan tidak hanya hubungan kerja yang baik, tetapi juga kemauan untuk mencapai solusi ad-hoc. Unsur dasar ideologi Korea Utara adalah pragmatisme meskipun akan ada batas untuk implementasinya.

 Menggunakan kombinasi dari dialog politik dan teknis akan menjadi penting. Ketika

dialog teknis cenderung lambat, dialog politik dapat membantu memecah kebuntuan.

Ketika suasana politik tidak baik, dialog teknis dapat memberikan "pragmatic islets".  Kebutuhan untuk konsisten dan terus-menerus dalam rangka untuk mendobrak hambatan

untuk kerjasama di Korea Utara adalah tantangan. Korea Utara awalnya mungkin menolak apa yang tampak sebagai permintaan yang wajar tetapi penolakan tersebut lebih

sering daripada menyatakan tidak, mereka akhirnya setuju.

Penulis jurnal ini secara implisit menggunakan pendekatan neoliberalisme institusional.

Hal ini sangat terlihat melalui tulisan penulis jurnal dengan memberikan analisis-analisis yang bersifat ekonomis. Selain itu, penulis jurnal juga memberikan solusi yang dipercaya sebagai jalan keluar yang paling efektif berupa pembentukan forum dialog multilateral dan menekankan

usaha-usaha pendekatan ekonomi dan perdagangan dalam upaya melunakkan negara yang dianggap sebagai ancaman oleh Amerika Serikat. Terkait dengan Korea Utara, Amerika Serikat

membentuk Six-Party Talks sebagai salah satu bentuk CTR.

Persamaan yang terlihat dari jurnal ini adalah pendekatan yang digunakan oleh penulis

(17)

16 langsung mengambil konsep-konsep turunan yang digunakan di dalam neo-liberalisme institusional. Neoliberalisme institusionalme digunakan sebagai payung yang menjadi tolak ukur

dalam analisis penelitian sedangkan konsep-konsep seperti peran organisasi internasional dan diplomasi multilateral digunakan sebagai pisau analisa.

Perbedaan yang terhadap penelitian yang dilakukan penulis adalah terkait dengan fokus penelitian. Jurnal ini berfokus pada CTR yang merupakan kebijakan yang digunakan Amerika Serikat untuk membentuk Six-Party Talks. Selain itu, jurnal ini juga membahas mekanisme

pendekatan-pendekatan yang dilakukan Amerika Serikat dalam upaya menanggulangi krisis nuklir Korea Utara. Selain fokus, yang membedakan jurnal tersebut dengan penelitian ini adalah

pada konteks kurun waktu. Pembahasan yang dilakukan oleh jurnal ini dimulai pada tahun 1991 dengan melihat implementasi CTR di Rusia, yang kemudian dilanjutkan dengan implemetasinya dalam permasalahan di Korea Utara.

Kemudian jurnal berjudul“The Six-Party Process, Regional Security Mechanisms, and China-U.S. Cooperation: Toward A Regional Security Mechanism for A New Northeast Asia

yang ditulis oleh Pang Zhongying, juga membahas mengenai Six-Party Talks. Penelitiannya melihat hubungan China dan Amerika Serikat dalam upaya membuat sebuah mekanisme regional baru untuk Kawasan Timur Laut Asia, terutama yang terkait dengan keamanan.

Dalam jurnal ini, Zhongying sangat optimis akan kehadiran Six-Party Talks. Ia melihat bahwa Six-Party Talks telah menjadi sebuah mekanisme multilateral baru yang dapat menjadi

payung bagi kemanan regional di Kawasan Asia Timur Laut. Six-Party Talks juga telah menjadi titik awal munculnya kerangka-kerangka kerjasama regional di Kawasan Asia Timur Laut,

(18)

17 kehadiran dari forum multilateral ini membawa perdamaian atas Perang Korea dan membuat kedua Korea duduk dalam satu meja secara formal dan membahas kepentingan masing-masing

secara bersama-sama.

Zhongying juga membahas mengenai hubungan China dan Amerika Serikat yang

dianggapnya sebagai hal terpenting dalam penyelesaian konflik Semenanjung Korea Kerjasama antara Amerika Serikat dan China dinilai menjadi inti dalam masa depan pembentukkan regionalisme keamanan di Kawasan Asia Timur Laut. Kehadiran China dan Amerika Serikat

dapat membawa perdamaian di kawasan ini.

Terdapat beberapa saran yang diberikan oleh Zhongying terkait dengan permasalahan ini,

yaitu:

Six-Party Talks harus terus dilaksanakan dan implementasi Joint Statement harus

diprioritaskan untuk segera terealisasi.

 Terus membangun visi dan pengaturan bersama, dan memperbaharui kepentingan

bersama.

 Mekanisme negosiasi Six-Party Talks harus secara permanen dilembagakan ke dalam

mekanisme perdamaian dan keamanan Asia Timur Laut agar wilayah tersebut dapat bersaru secara rekonsiliatif dan integratif.

 Mekanisme keamanan Asia Timur Laut harus bekerja sama dengan mekanisme

keamanan bilateral atau multilateral regional lainnya seperti Assosciation of Southeast

Asia Nations (ASEAN), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) dan Shanghai Cooperation Organization agar dapat mendukung kerangka keamanan regional yang

(19)

18  China dan Amerika Serikat harus lebih mengambil peranan dalam proses negosiasi yang

berlangsung di Six-Party Talks agar tercapainya kepentingan masing-masing pihak.

Persamaan jurnal ini dengan penelitian penulis terletak pada fokus penelitian yakni

Six-Party Talks. Di dalam jurnal ini, Six-Party Talks dikupas berdasarkan asumsi-asumsi neoliberalisme institusionalisme yang terbukti akan kepercayaan penuh Zhongying terhadap keberadaan Six-Party Talks.

Perbedaan yang mendasar antara jurnal ini dengan penelitian penulis adalah terletak pada studi kasus yang diangkat, di mana Zhongying lebih berfokus pada peranan China dan Amerika

Serikat dalam proses terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea yang dapat dicapai melalui Six-Party Talks. Penelitian dalam jurnal ini juga lebih terperinci membahas upaya-upaya yang

harus dilakukan oleh Amerika Serikat dan China dalam memperkuat hubungannya untuk membangun Six-Party Talks. Penelitian penulis akan lebih mengupas peranan Six-Party Talks

dan meneliti dampak yang ditimbulkan dari forum multilateral ini terhadap kawasan.

E. Kerangka Pemikiran

Dalam upaya untuk menganalisis dan mengupas permasalahan yang ada terhadap penelitian penulis terkait dengan “Dampak Six-Party Talks dalam Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)”, penulis akan menggunakan beberapa konsep untuk mencoba menjawab penelitian ini berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan sebelumnya. Penulis akan menganalisis dampak-dampak yang ditimbulkan Six-Party Talks terhadap konflik Semenanjung

(20)

19 Diplomasi Multilateral

Konsep pertama yang akan digunakan adalah konsep diplomasi multilateral. Definisi diplomasi sendiri menurut Christer Jönsson dan Martin Hall dalam bukunya Essence of Diplomacy menyatakan:

Diplomacy has been characterized as “the master-institution” or, more prosaically, as

“the engine room” of international relations. Yet diplomacy has received surprisingly

little attention among political scientists specializing in international relations. Indeed,

diplomacy has been particularly resistant to theory.”

Diplomasi telah dikarakterisasikan sebagai "institusi-utama" atau, lebih umum dikenal sebagai "ruang mesin" hubungan internasional. Namun diplomasi telah menerima sangat sedikit perhatian di kalangan ilmuwan politik yang mengkhususkan diri dalam hubungan internasional. Memang, diplomasi telah sangat resisten terhadap teori. (Jönsson & Hall,

2005, p. 1)

Diplomasi terus berkembang sehingga pada akhirnya terbentuklah beberapa macam bentuk diplomasi. Sebagaimana dikutip dalam sebuah Disertasi berjudul Multilateral Diplomacy as An Instrument of Global Governance: The Case of The Intrernational Bill of Human Rights

1948-1966 yang ditulis Angela Kingsley, mahasiswa Pasca Sarjana dari Universitas Pretoria,

mengutip pendapat Berridge yang melihat bahwa diplomasi dalam dunia modern terbagi atas beberapa bentuk, yaitu telekomunikasi langsung, diplomasi bilateral, diplomasi multilateral,

(21)

20 Berbeda dengan konsep diplomasi yang disebutkan oleh Berridge, diplomasi multilateral memiliki ciri khas yang berbeda. Diplomasi multilateral termasuk diplomasi yang masih baru

dan masih terus berkembang. Kingsley menyatakan bahwa dipomasi multilateral masih terus berkembang (Kingsley, 2009, p. 28). Berridge menyatakan bahwa diplomasi multilateral adalah

fenomena abad ke-20, walaupun faktanya diplomasi multilateral telah berkembang jauh sebelumnya (Kingsley, 2009).

Menurut Tania Felicio, diplomasi multilateral adalah sebuah bentuk kerjasama antar negara-negara, dengan upaya menginstitusionalisasikan kerjasama antarnegara dan menggantikan anarki (Felicio, 2007, p. 51). Keohane mendefinisikan diplomasi multilateral

sebagai set-set peraturan yang membatasi aktivitas, membentuk harapan dan peran yang ditentukan. (Felicio, 2007)

Dalam jurnal berbeda, John G. Ruggie menyatakan bahwa:

At its core, multilateralism refers to coordinating relations among three or more states

in accordance with certain principles (…) which specify appropriate conduct for a class

of actions, without regard for the particularistic interests of the parties or the strategic

exigencies that may exist in any specific occurrence.”

"Pada intinya, multilateralisme mengacu pada koordinasi hubungan antara tiga atau lebih negara sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu (...) yang menentukan perilaku yang tepat untuk kelas tindakan, tanpa memperhatikan kepentingan partikularistik dari para

(22)

21 Terkait dengan pernyataan tersebut, Ruggie kemudian menjelaskan prinsip-prinsip yang dimaksudnya dalam diplomasi multilateral, yakni (Kingsley, 2009, p. 35):

General Principle of Conduct

Prinsip ini menggambarkan penerimaan terhadap peraturan, nilai, norma dan prosedur universal oleh semua negara yang berpartisipasi di dalam sebuah diplomasi multilateral terlepas dari status, situasi, kebutuhan dan kondisi tertentu. Prinsip memfasilitasi

pembentukan norma umum dan nilai bersama yang diaplikasikan terhadap seluruh organisasi internasional.

Indivisibility

Prinsip ini menjelaskan tentang kesepahaman kolektif tiap anggota dalam merespon

segala hal ketika negara tersebut berada dalam sebuah diplomasi multilateral. Tujuannya adalah untuk bisa saling melindungi dalam menghadapi setiap ancaman dan berupaya dalam menciptakan perdamaian.

Diffuse Reciprocity

Prinsip ini melihat bahwa kesetaraan antara tiap negara memang ada dan adanya ekspektasi akan usaha saling menguntungkan dari pihak-pihak yang terlibat dalam diplomasi multilateral. Hal ini dapat terwujud dengan prinsip organisasi internasional

yang menjunjung tinggi non-diskriminasi dan upaya penciptaan konsensus dalam setiap keputusan yang diambil.

Organisasi Internasional

(23)

22 makin lama makin menarik perhatian berbagai penstudi Hubungan Internasional untuk menelitinya. Terutama setelah munculnya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), konsep organisasi

internasional semakin banyak diteliti. Hanya saja, hingga saat ini definisi organisasi internasional sendiri masih belum bisa diputuskan karena studi terkait dengan organisasi internasional yang

terus berkembang dengan pesat hingga saat ini.

Schemers menyatakan bahwa definisi organisasi internasional akan bervariasi tergantung pada apakah suatu organisasi internasional dilihat berdasarkan kualifikasi formal atau kekuasaan

yang sesungguhnya untuk menyelenggarakan fungsi yang berdiri sendiri, dan dalam hal terakhir berapa banyak kemandirian tersebut diperlukan. Biasanya definisi dari organisasi internasional

adalah berdasarkan pada persyaratan formal daripada berapa banyaknya independensi dari organisasi tersebut yang menyelenggarakan tugas pemerintahan (Suherman, 2005, p. 47).

Namun, kemudian Schemers sendiri menambahkan bahwa organisasi internasional dapat dikatakan sebagai semua bentuk pemerintahan internasional yang belum sempurna, di mana sifat pemerintahan itu berada di atas level negara (Suherman, 2005, p. 47).

Pendapat tersebut didukung oleh Starke. Sebagaimana dikutip dalam buku Organisasi Internasional & Integrasi Ekonomi Regional dalam Perspektif Hukum dan Globalisasi, Starke melihat bahwa fungsi suatu negara modern memiliki hak, kewajiban dan kekuasaan yang

dimiliki beserta alat perlengkapannya, semua itu diatur oleh hukum nasional yang dinamakan Hukum Tata Negara sehingga dengan demikian organisasi internasional sama halnya dengan alat

(24)

23 Pendapat lain terkait dengan organisasi internasional juga diungkapkan oleh NA Maryan Green. Green memberikan batasan langsung tentang organisasi internasional dengan menyatakan

bahwa organisasi internasional adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan suatu perjanjian dengan tiga atau lebih negara menjadi peserta (Suherman, 2005, p. 50).

Diungkapkan oleh Daniel S. Cheever dan H. Field Haviland Jr yang menyatakan bahwa organisasi internasional adalah:

“….any cooperative arrangement instituted among states, usually by a basic agreement

to perform some mutually advantegous functions implemented through periodic meetings

and staff activities.”

".... setiap bentuk pengaturan kerjasama yang dilembagakan antara negara-negara, biasanya dengan kesepakatan dasar untuk melakukan beberapa fungsi yang saling menguntungkan dengan dilaksanakan melalui pertemuan berkala dan kegiatan staf."

(Suherman, 2005, p. 49)

Boer Mauna sepakat dengan Cheever dan Haviland dengan menyatakan bahwa organisasi internasional adalah suatu perhimpunan negara-negara yang merdeka dan berdaulat yang bertujuan untuk mencapai kepentingan bersama melalui organ-organ dari perhimpunan itu

sendiri (Suherman, 2005, p. 50).

A. Leroy Bennet kemudian memberikan ciri-ciri organisasi internasional sebagai berikut (Suherman, 2005, p. 52):

1. Organisasi permanen yang melaksanakan fungsi berkelanjutan;

(25)

24 3. Instrumen dasar yang menyatakan tujuan, struktur dan metode operasional;

4. Badan konferensi perwakilan konsultatif yang luas;

5. Sekretariat tetap untuk melanjutkan fungsi administrasi, penelitian dan administrasi secara berkelanjutan.

Terkait dengan jenis-jenis organisasi internasional, Bowett membaginya menjadi empat jenis, yakni berdasarkan fungsi, sifat, perjanjian dan kewenangan seperti berikut (Suherman, 2005):

 Organisasi internasional dilihat berdasarkan fungsi yaitu berfungsi sebagai organisasi

politik, organisasi administrasi, organisasi-organisasi yang memiliki kompetensi luas dan organisasi-organisasi yang mempunyai kompetensi terbatas;

 Organisasi internasional dilihat berdasarkan sifat yaitu bersifat global dan regional;

 Organisasi internasional dilihat berdasarkan perjanjian yaitu organisasi internasional

antarnegara, antarpemerintah dan nonpemerintah;

 Organisasi internasional dilihat berdasarkan kewenangan yaitu supranasional dan non

supranasional.

Teori Peran

Berdasarkan uraian di atas, sangat terlihat bahwa organisasi internasional memiliki pengaruh yang besar dalam percaturan politik internasional saat ini dan juga tentunya memiliki peranan penting dalam pergaulan internasional. Peranan organisasi internasional menjadi

(26)

25 Menurut Perwita dan Yani, peranan dapat dilihat sebagai tugas atau kewajiban atas suatu posisi sekaligus juga hak atas suatu posisi. Peranan memiliki sifat saling tergantung dan

berhubungan dengan harapan. Harapan-harapan ini tidak terbatas hanya pada aksi (action), tetapi juga termasuk harapan mengenai motivasi (motivation), kepercayaan (beliefs), perasaan

(feelings), sikap (attitudes) dan nilai-nilai (values)” (Perwita & Yani, 2005, p. 30).

Soerjono Soekanto mendefinisikan peranan sebagai berikut:

“Peranan merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan dari seseorang atau dari

struktur yang menduduki suatu posisi dalam sistem. Peranan dari struktur tunggal, maupun bersusun, ditentukan oleh harapan orang lain atau perilaku peran itu sendiri, juga

ditentukan oleh pemegang peran terhadap tuntutan dan situasi yang mendorong dijalankannya peran tadi. Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia

telah menjalankan suatu peranan.” (Soekanto, 2001, p. 268).

Teori peranan menegaskan bahwa, perilaku politik adalah perilaku dalam menjalankan peranan politik. Teori ini melihat sebagian besar perilaku politik adalah akibat dari tuntutan atau harapan terhadap peran yang kebetulan dipegang oleh aktor politik. Seseorang yang menduduki posisi tertentu diharapkan atau diduga akan berperilaku tertentu pula. Harapan atau dugaan itulah

yang membentuk peranan (Mas'oed, 1989, p. 45). Kegunaan teori peranan ini, sebagai alat analisis, yang paling penting adalah untuk menjelaskan dan meramalkan perilaku politik

(Mas'oed, 1989).

Terkait dengan peranan organisasi internasional, Perwita dan Yani membaginya dalam

(27)

26  Sebagai instrumen. Organisasi Internasional digunakan oleh negara-negara anggotanya

untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan tujuan politik luar negerinya.

 Sebagai arena. Organisasi Internasional merupakan tempat bertemu bagi anggota saja

untuk membicarakan dan membahas masalah dalam negeri lain dengan tujuan untuk mendapat perhatian internasional.

 Sebagai aktor independen. Organisasi Internasional dapat membuat keputusan-keputusan

sendiri tanpa dipengaruhi oleh kekuasaan atau paksaan dari luar organisasi

Penulis akan menggunakan ketiga konsep tersebut, yakni diplomasi multilateral, organisasi internasional dan teori peran, dalam upaya menjelaskan “Dampak Six-Party Talks pada Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)”. Diplomasi multilateral digunakan untuk melihat proses terbentuknya Six-Party Talks sebagai sebuah forum multilateral yang berperan penting dalam konflik di Kawasan Semenanjung Korea. Kemudian konsep organisasi

internasional digunakan juga untuk melihat dinamika Six-Party Talks sebagai sebuah organisasi dan digunakan untuk menganalisa fungsi-fungsi dan sifat-sifatnya sebagai sebuah organisasi

internasional.

Konsep terakhir adalah teori peran. Teori peran digunakan oleh penulis untuk melihat peranan apa saja yang dibawa oleh Six-Party Talks terhadap kawasan ini. Setelah mendapatkan

hasil penelitian dari ketiga analisa konsep di atas, barulah bisa ditarik kesimpulan atas dampak yang diberikan organisasi ini pada konflik di kawasan tersebut. Berikut adalah operasionalisasi

(28)

27 F. Metode Penelitian

Penelitian tentang “Dampak Six-Party Talks pada Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)”, adalah penelitian yang bersifat deskriptif. Tujuan penelitian deskriptif adalah berusaha untuk mencandra, menjelaskan dan meramalkan berbagai fenomena seperti pemilihan umum, revolusi, perang, aliansi, perilaku internasional dan sebagainya. Deskripsi adalah bagian tidak terpisahkan dari sains dan biasanya dilakukan sebelum eksplanasi dan prediksi (Mas'oed,

1990, p. 79).

Penelitian ini menekankan pada penelitian dengan metode penelitian kualitatif. Prosedur kualitatif memiliki asumsi-asumsi filosofis, strategi-strategi penelitian dan metode-metode pengumpulan, analisis dan interpretasi data yang seragam. Proses penelitian kualitatif

mengandalkan data berupa teks dan gambar, memiliki langkah-langkah unik dalam analisis datanya dan bersumber dari strategi-strategi penelitian yang berbeda-beda (Creswell, 2010, p. 258).

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder seperti jurnal, buku, majalah, internet dan data-data tertulis lainnya yang berkaitan dan mendukung penelitian ini. Tabel 2 Alur pemikiran dan penggunaan teori dan konsep dalam penelitian

(29)

28 Data pelengkap yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah berupa wawancara terhadap pihak-pihak terkait seperti Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, Kedutaan Besar Republik

Rakyat Demokratik Korea di Jakarta, staf Direktorat Kementerian Luar Negeri, LIPI dan instansi-instansi lain yang dapat mendukung penelitian.

G. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Pertanyaan Penelitian

1.3 Tujuan dan Signifikansi Penelitian 1.4 Tinjauan Pustaka

1.5 Kerangka Pemikiran 1.6 Metodologi Penelitian 1.7 Sistematikan Penulisan

BAB II Dinamika Perkembangan Six-Party Talks pada Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

2.1 Dinamika Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

2.2 Tantangan dan Ancaman dalam Konflik Semenanjung Korea (2003-2009) 2.3 Peranan Six-Party Talks pada Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

2.4 Capaian Six-Party Talks dalam Penyelesaian Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

BAB III Analisis Dampak Six-Party Talks pada Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

3.1 Six-Party Talks sebagai Keberhasilan dalam Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

3.2 Six-Party Talks sebagai Institusi Multilateral dalam Konflik Semenanjung Korea (2003-2009)

(30)

29 DAFTAR PUSTAKA

Buku

Buzan, B. (2012). Geopolitical Reconstruction of Asia. Politique étrangère, 1-14.

Creswell, J. W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jönsson, C., & Hall, M. (2005). Essence of Diplomacy. New York: Palgrave Macmillan.

Kingsley, A. (2009). Multilateral Diplomacy as an Instrument of Global Governance: The Case of the Intrernational Bill of Human Rights 1948-1966. Pretoria: University of Pretoria.

Lew, Y. I. (2000). Brief History of Korea: A Bird's Eye View. New York: The Korea Society. Mas'oed, M. (1989). Studi Hubungan Internasional Tingkat Analisis dan Teorisasi. Yogyakarta:

Pusat Antar Universitas - Studi Sosial UGM.

Mas'oed, M. (1990). Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES. Mun, B. (2009). The North Korean Nuclear Crisis and the Six Party Talks – Organising

International Security: Hegemony, Concert of Powers, and Collective Security. Newcastle: University of Newcastle.

Perwita, A. A., & Yani, Y. M. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soekanto, S. (2001). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Graffindo Persada.

Studies, C. f. (2012). Six Party Talks. Inventory of Nonproliferation Organizations and Regimes. Suherman, A. M. (2005). Organisasi Internasional & Integrasi Ekonomi Regional dalam

Perspektif Hukum dan Globalisasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Wicahyani, A. F. (2010). Dampak Pengembangan Senjata Nuklir Korea Utara Terhadap Kompleksitas Keamanan Regional Asia Timur Tahun 2010. Depok: Universitas Indonesia.

(31)

30 Chamberlin, P. F. (2007). Six Party Talks: Time for Change. New York: Georgetown Journal of

International Affairs.

Cossa, R. A. (2008). Security Dynamics in East Asia: Geopolitics vs. Regional Institutions. International Relations of Asia, 317-338.

Felicio, T. (2007). Multilevel Security Governance: Reinventing Multilateralism through Multiregionalism. Human Security Journal, 50-61.

Kerr, P. K., Nikitin, M. B., Woolf, A. F., & Medalia, J. (2010). 2010 Non-Proliferation Treaty (NPT) Review Conference: Key Issues and Implications. Washington DC: Congresional Research Service.

Nations, U. (2006, October 14). Resolution 1718. New York: United Nations Security Council. Renack, D. E. (2006). North Korea: Economic Sanctions. Washington DC: Congressional

Research Service.

Ruggie, J. G. (1992). Multilateralism: The Anatomy of an Institution. International Organizations 46, 561-598.

Sang-soo, L., & Chan-young, B. (2007). The Six-Party Talks at a Crossroad: Implication from Eight Years of Experience.

Snyder, S. (2007). The Korean Peninsula and Northeast Asian Stability.

Wit, J. S., Wolfsthal, J., & Oh, C.-s. (2011). The Six Party Talks and Beyond: Cooperative Threat Reduction and North Korea. Washington DC: Center for Strategic and International Studies (CSIS) International Security Program.

World, K. (2012). Pengembangan Rudal Korea Utara. Seoul: KBS World.

Zhongying, P. (2009). The Six-Party Process, Regional Security Mechanisms, and China-U.S. Cooperation: Toward A Regional Security Mechanism for A New Northeast Asia. The Brooking Institution Center for Northeast Asian Policy Studies, 1-35.

(32)

31 http://www.forbes.com/sites/larrybell/2013/04/14/the-ultimate-north-korean-missile-threat-to-america-a-nuke-power-grid-attack/

Liang, X. (2012, May). The Six-Party Talks at a Glance. Retrieved October 1, 2013, from Arms Control Association: http://www.armscontrol.org/factsheets/6partytalks

Online, S. K. (2013, April 15). AS Dekati China dan Rusia. Retrieved April 15, 2013, from Suara Karya Online: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=324648

Society, T. K. (2008, August 4). History of Korea Part 1. Retrieved April 14, 2013, from The

Korea Society:

http://www.koreasociety.org/korean- studies/history_of_korea_part_1.html?_kk=korean%20history&_kt=cbb7101c-4222-4aa1-8959-d1d717bcbe85&gclid=CNzBhLq1zbYCFdF36wod5zUAbg

Gambar

Tabel 1 Kronologi pengembangan rudal Korea Utara (Sumber: diolah berdasarkan data KBS World)
Tabel 2 Alur pemikiran dan penggunaan teori dan konsep dalam penelitian

Referensi

Dokumen terkait