4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Sejarah PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh
Pada Dekade 1980-an Perseroan didirikan dengan nama PT Maskapai IISM, pada tahun 1979 yang berdomisili di Bandung, dengan bisnis yang berbasiskan kepercayaan dari PT Perkebunan I - XXIX. Pada periode ini operasional Perseroan didukung oleh jaringan 5 kantor cabang dan 1 kantor perwakilan. Dengan semakin berkembangnya kegiatan usaha, sejak tahun 1987 domisili Perseroan dipindahkan dari Bandung ke Jakarta.
Pada Dekade 1990-an dengan semakin meningkatnya kepercayaan dari PT Perkebunan I-XXXII dan berkembangnya industri asuransi, perseroan mulai mengembangkan bisnisnya disektor perbankan, badan usaha milik negara dan badan usaha milik swasta. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, perseroan memperluas jaringan dengan menambah 2 kantor cabang dan 1 kantor perwakilan.
Pada Dekade 2000-an dengan melihat peluang pasar yang ada, Perseroan memfokuskan segmentasi usaha di sektor korporasi dan ritel, dengan pendekatan pengembangan manajemen resiko dan pusat pelayanan pelanggan yang berorientasi "customer care". Untuk membentuk corporate image, perseroan melakukan perubahan seiring dengan diluncurkannya produk unggulan, yaitu JT OTO, JT CARE dan JT GRIYA. Untuk lebih dekat dengan pelanggan, Perseroan, menambah jaringan distribusi menjadi 10 kantor cabang, 1 kantor pemasaran dan beberapa outlet.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2010 PT IISM, Tbk pusat membuka salah satu cabangnya yang bertempat di Banda Aceh dengan menyewa sebuah ruko di Jalan Hasan Dek No. 4 Jambo Tape, Banda Aceh. Keinginan membuka cabangnya di Banda Aceh disebabkan karena adanya persaingan pasar yang sangat minim. Faktor persaingan inilah yang membuat perusahaan yakin bahwa dengan mendirikan salah satu cabang di Banda Aceh, perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang sangat menjanjikan.
4.1.2 Visi dan Misi
Visi PT IISM, Tbk cabang Banda Aceh
Menjadi mitra usaha utama yang terpercaya di dalam memberikan jaminan dan perlindungan dini dengan mengutamakan pelayanan dan kepuasan pelanggan di era ekonomi digital.
Misi PT IISM, Tbk cabang Banda Aceh
Memberikan layanan terpadu mudah, cepat, menyenangkan dan proaktif dalam mengembangkan manajemen resiko serta menciptakan produk-produk berkualitas. Menjadikan perusahaan tempat sehat serta membanggakan untuk berkarya, berkehidupan dan tempat untuk mengembangkan profesionalitas bagi karyawan. Berupaya meraih dan menghasilkan laba atau keuntungan dengan cara efisien serta menciptakan pertumbuhan yang berkesinambungan sehingga dapat menunjang misi pemegang saham dan ikut berperan serta dalam Pembangunan Nasional.
4.1.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di PT IISM, Tbk cabang Banda Aceh, yang beralamat di Jln. Hasan Dek No. 4 Jambo Tape, Banda Aceh.
4.1.4 Struktur Organisasi
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Perusahaan
Sumber : PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh
4.1.5 Tugas dan Wewenang
Berikut ini merupakan uraian tugas dan wewenang dari masing-masing bagian yang tertera pada struktur organisasi diatas, yaitu:
1. Kepala Kantor Perusahaan, bertugas sebagai:
a. Menjaga, memelihara dan mengurus kekayaan perusahaan.
b. Bersama direktur lainnya, memutuskan kebijakan-kebijakan pedoman kerja bagi kantor pusat dan kantor cabang/ kantor pemasaran.
c. Menyusun dan menyelenggarakan visi dan misi kedepan/waktu yang akan datang dengan tetap mempertahankan misi dari perusahaan
Memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Menetapkan dan memutuskan hal-hal yang dipandang perlu atas semua bidang kegiatan operasional perusahaan hal tersebut tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan ataupun ketentuan lainnya.
b. Mengatur, mengangkat, dan memberhentikan pegawai perusahaan dengan mekanisme yang telah diatur didalam peraturan perusahaan.
c. Menandatangani perjanjian-perjanjian kerjasama. 2. Marketing, bertugas sebagai:
a. Membantu Direktur merumuskan suatu bentuk perancanaan program kerja atau garis-garis besar kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan Divisi Marketing.
b. Menyusun dan membuat Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Perusahaan
c. Melakukan koordinasi dengan seluruh divisi, Bagian, kantor cabang, dalam menajalankan tugas-tugasnya terutama yang berkaitan dengan bidang marketing.
d. Bertanggung jawab atas kerahasiaan dokumen, data dan informasi perusahaan.
Memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Menerbitkan atau mengeluarkan instruksi, memorandum, edaran pengumuman dan semacamnya dalam rangka pelaksanaan atau menjabarkan kebijaksanaan perusahaan yang ditetapkan atau digariskan dalam Divisi Marketing.
b. Mengambil keputusan atas penutupan langsung dan indirect bisnis dan penempatan reasuransinya sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. c. Menetapkan hal-hal yang dipandang perlu atas semua kegiatan di Bagian
Underwritting dan Bagian Klaim sesuai dengan batas kewenangannya. 3. Underwriting, bertugas sebagai:
a. Melaksanakan kebijakan Kepala Kantor dan Manajer Umum terkait dengan kegiatan operasional dalam rangka pencapaian target atau sasaran perusahaan.
b. Menetapkan sasaran tugas bawahan dan memberikan ”umpan balik” agar dapat meningkatkan hasil kerja bawahan secara optimal yang sejalan dengan program kerja bagian Underwriting Motor dan Reinsurance.
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang dan batas kewenangannya.
Memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Berwenang menandatangani dokumen yang ditujukan untuk eksternal dan internal dalam rangka pelaksanaan kebijakan di bidang underwriting sebatas kewenangan yang diberikan oleh Kepala Kantor.
b. Mengevaluasi prestasi bawahan dalam rangka penilaian bawahannya, memberikan laporan kepada Kepala Kantor.
4. Keuangan, bertugas sebagai:
a. Merumuskan perencanaan program kerja atau kebijakan perusahaan.
b. Memastikan dan memonitor bahwa kebijakan-kebijkan perusahaan yang terkait dengan bidang akuntansi dan pajak, keuangan dan anggaran, collection telah berjalan sebagaimana mestinya.
c. Bertanggung jawab atas kelancaran arus kas berikut tertib administrasinya. d. Membuat dan menganalisa laporan-laporan secara periodik dan memberikan
pendapat dan saran atas hasil analisa. Memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Melakukan otorisasi terhadap rencana pengeluaran dan penerimaan sesuai dengan batas kewenangannya.
b. Memberi laporan persetujuan atas pengeluaran-pengeluaran perusahaan sesuai dengan batas kewenangannya.
c. Mengatur pelaksanaan pembayaran kepada pihak lain dan melaporkan kepada Kepala Kantor.
d. Melakukan negosiasi dengan pihak ketiga dalam rangka menjalankan kebijakan atau program kerja sesuai dengan kewenangan.
5. Administrasi, bertugas sebagai:
a. Mengkoordinasikan perumusan perencanaan dan pemberdayaan pegawai (man power planning), sesuai kebutuhan Perusahaan.
b. Mengkoordinasikan perumusan sistem pengadaan, penempatan dan pe-ngembangan pegawai.
c. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan kantor, serta pengaturan, penataan dan penggunaan ruang kantor/ruang rapat.
d. Mengelola persediaan ATK dan cetakan kantor pusat.
e. Menyediakan perlengkapan dan peralatan kerja yang diperlukan kantor pusat dan atau perusahaan (komputer, kendaraan dinas, kendaraan operasional).
f. Menyelenggarakan kegiatan rapat kerja, kunjungan kerja/ perjalanan dinas dan penerimaan tamu perusahaan.
Memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Mengusulkan kepada Kepala Kantor Perwakilan tentang pengesahan sistem dan kebijakan di bidang kepegawaian.
b. Menerima atau menolak hasil penilaian kinerja Pegawai dari atasannya setelah dilakukan evaluasi.
c. Menyetujui daftar pembayaran yang menjadi hak pegawai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Memberikan surat teguran kepada pihak ketiga atas pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi.
e. Mengatur penyediaan fasilitas untuk kegiatan rapat kerja, kunjungan kerja/ perjalanan dinas dan penerimaan tamu perusahaan.
f. Mengusulkan penjualan/pemusnahan barang-barang yang tidak produktif. 6. Driver, bertugas sebagai:
a. Bersiap sedia dikantor.
b. Bertanggung jawab atas kendaraan dan juga Barang titipan.
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Cash Ratio 2010 = Rp .Rp .10.170 .085.9105.603.595 .294 = 0,55
Cash Ratio 2011 = Rp .Rp .12.085 .783.3228.876 .579.290 = 0,73
Penilaian kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari tingkat pencapaian laba dan penambahan aset pada tahun yang bersangkutan belum dapat dikatakan cukup. Pernyataan ini penulis kemukakan dengan alasan bahwa tingkat pencapaian laba dan penambahan total aset tidak menggambarkan keadaan perusahaan keseluruhan pada saat ini, baik berupa risiko, maupun hasil operasi yang dapat dijadikan pedoman bagi investor dimasa yang akan datang. Di sisi lain, melalui rasio keuangan perusahaan juga dapat menentukan tingkat pencapaian laba dan mengurangi risiko keuangan dimasa yang akan datang.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Perhitungan dan Interpretasi Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan
Berdasarkan laporan keuangan pada PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh periode tahun 2010 dan 2011, maka dapat dilakukan perhitungan rasio sebagai berikut:
4.3.2 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan perhitungan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.
a) Cash Ratio
Perhitungan dengan menggunakan cash ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk menjamin dan melunasi kewajibannya yang akan jatuh tempo dengan menggunakan kas dan ekuivalen kas yang tersedia dalam perusahaan. Berikut adalah perhitungan cash ratio PT IISM Tbk Cabang Banda Aceh pada tahun 2010 dan 2011.
Cash Ratio = Kewajiban LancarKas+Bank
Curent Ratio 2010 = Rp .Rp .14.781 .531.03110.170 .085.910 = 1,45
Curent Ratio 2011 = Rp .Rp .12.085 .783.32220.226 .416 .989
= 1,67
b) Current RatioPerhitungan current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam menjamin dan melunasi utang perusahaan yang akan jatuh tempo. Berikut adalah perhitungan current ratio PT IISM Tbk pada tahun 2010 dan 2011.
Current Ratio = Kewajiban LancarAktiva Lancar
Berdasarkan perhitungan rasio likuiditas PT IISM di atas, dapatlah disusun rasio likuiditas PT IISM tersebut seperti yang terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas
PT IISM, Tbk Cabang
Banda Aceh PT IISM, Tbk Pusat
Cash Ratio 0,55 kali 0,73 kali 1,05 kali 1,03 kali Current Ratio 1,45 kali 1,67 kali 2,13 kali 1,74 kali Sumber : Edit Penulis (2014)
1) Interpretasi Rasio Likuiditas a. Current Ratio
Current ratio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menutupi hutang jangka pendeknya. Berdasarkan hasil perhitungan current ratio, dapat diketahui pada tahun 2010 terdapat hasil perhitungan current ratio sebesar 1,45 kali. Artinya, dengan menggunakan aktiva lancarnya yang ada sekarang ini perusahaan dapat membayar seluruh utang lancarnya sebanyak 1,45 kali. Dapat disimpulkan juga bahwa pada tahun 2010 setiap Rp. 1 hutang lancar yang dimiliki oleh PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh mampu dijamin oleh Rp. 1,45 aktiva lancar. Hal ini menunjukkan bahwa PT IISM memiliki kelebihan aktiva lancar sebesar Rp. 0,45 untuk menutupi setiap Rp. 1 hutang lancarnya.
Kemudian dapat dilihat juga pada tahun 2011 yaitu meningkatnya nilai current ratio sebesar 0,22 kali. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kinerja manajemen yang membuat perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya. Perbandingan rata-rata industri pada tahun 2010 dan tahun 2011 menggambarkan bahwa perusahaan masih cukup likuid. Perusahaan dikatakan cukup likuid pada tahun 2010 dan 2011 karena aset lancar yang dapat dicairkan menjadi uang dalam waktu yang cepat masih dapat menutupi kewajiban jangka pendeknya yang akan jatuh tempo.
b. Cash Ratio
Perhitungan cash ratio dihitung dengan cara akun Kas ditambah akun Ekuivalen Kas dibagi dengan jumlah Kewajiban Lancarnya. Berdasarkan hasil perhitungan cash ratio dapat diketahui bahwa pada tahun 2010 terdapat hasil
DER 2010 = Rp .Rp .10.170 .085.9106.565 .994 .501
x 100% = 154%
Rp.12.085 .783.322
x 100% = 119%
perhitungan cash ratio sebesar 0,55 kali. Hasil cash ratio sebesar 0,55 kali menunjukkan bahwa perusahaan hanya mampu menutupi 55% dari total utang lancarnya yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.
Di sisi lain, dari hasil perhitungan juga dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan nilai cash ratio pada tahun 2011 sebesar 0,73 kali. Walaupun mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun meningkatnya nilai tersebut masih dinilai kurang bagi perusahaan. Pernyataan ini dikemukakan karena cash ratio sebesar Rp. 0,73 masih belum mampu untuk menutupi Rp. 1 dari total kewajiban lancarnya yang akan jatuh tempo.
Pada tahun 2011 perusahaan dikatakan tidak likuid karena kenaikan kas lebih kecil dari kenaikan hutang jangka pendek perusahaan. Hal yang menyebabkan tingginya kenaikan kewajiban lancar pada tahun 2011 adalah karena kenaikan premi yang belum merupakan pendapatan, bertambahnya hutang komisi dari pihak hubungan istimewa dan pihak ketiga, serta bertambahnya biaya yang masih harus dibayar oleh perusahaan.
4.3.3 Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas merupakan perhitungan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang yang disediakan oleh kreditur.
a. Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio digunakan untuk mengukur tingkat modal yang tersedia dalam menjamin utang yang dimiliki oleh perusahaan. Adapun perhitungan debt to equity ratio perusahaan pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut :
DTA 2010 = Rp .Rp.10.170 .085.91017.207 .707 .237
x 100% = 59%
DTA 2011 = Rp .Rp.12.085 .783.32222.897 .953.973
x 100% = 52,8% b. Debt to Total Assets Ratio
Perhitungan debt to total assets ratio dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. Perhitungan debt to total assets ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut :
Debt to Total Assets Ratio = Total KewajibanTotal Assets x 100%
Berdasarkan perhitungan rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh di atas, dapatlah disusun rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh tersebut seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas
PT IISM, Tbk Cabang
Banda Aceh PT IISM, Tbk Pusat
2010 2011 2010 2011
DER 154% 119% 73% 103%
DTA 59% 52,8% 42% 51%
Sumber : Edit Penulis (2014)
1) Interpretasi rasio solvabilitas a. Debt to Equity Ratio (DER)
Berdasarkan data pada tabel 4.2 di atas, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2010 PT IISM memiliki nilai total debt to equity ratio sebesar 154%. Persentase tersebut menyatakan bahwa pada tahun 2010 untuk setiap lembar
ekuitas pemegang saham, perusahaan memiliki kewajiban sebesar Rp. 1,54,-. Nilai persentase yang berada di atas 100% juga menunjukkan risiko perusahan yang tinggi, karena dalam menjalankan operasinya lebih banyak dibelanjai oleh hutang dari pada modal sendiri.
Pada tahun berikutnya nilai debt to equity ratio perusahaan menurun menjadi Rp. 1,19,- atau sebesar 119%, dimana setiap lembar ekuitas pemegang saham, perusahaan memiliki kewajiban sebesar Rp. 1,19,-. Dapat disimpulkan juga bahwa perusahaan harus dapat menutupi setiap Rp. 1,19,- dari seluruh kewajibannya dengan menggunakan Rp. 1,- dari modal sendiri yang dimilikinya.
Penurunan tingkat debt to equity ratio dari tahun 2010 sebesar 154% menjadi 119% pada tahun 2011, menunjukkan bahwa solvabilitas perusahaan pada tahun 2011 cenderung membaik karena perusahaan mampu menurunkan tingkat solvabilitasnya sehingga bisa menutupi hutang-hutangnya yang mungkin timbul dari penutupan risiko dengan menggunakan modal yang dimilikinya. Penurunan tingkat solvabilitas perusahaan juga menandakan bahwa perusahaan telah lama mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertumbuhan premi yang tinggi.
b. Debt to Total Assets
Perhitungan rasio ini menunjukkan sejauh mana kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan seluruh aktivanya untuk menjamin dan melunasi kewajiban yang akan jatuh tempo. Perhitungan debt to total assets ratio pada tahun 2010 menunjukkan hasil sebesar 59%. Persentase tersebut dapat diinterpretasikan bahwa seluruh aktiva tetap perusahaan PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh didanai oleh utang sebesar 59%.
ROA 2010 = Rp .Rp.17.207 .707 .2371.631 .020.404 x 100% = 9,5%
ROA 2011 = Rp .Rp .22.897 .953.9733.546 .874 .970 x 100% = 15,5%
Persentase debt to total assets ratio yang besar mencerminkan bahwa perusahaan telah banyak dibantu oleh pihak kreditur, yang menyebabkan perusahaan harus melakukan pembayaran bunga bahkan pada saat perusahaan tidak memperoleh laba yang cukup untuk membayar bunga pada tahun yang bersangkutan. Nilai rasio yang berada di atas 50% menunjukkan bahwa kreditur telah memberikan lebih dari setengah pembiayaan kepada perusahaan dalam beroperasi. Di sisi lain, nilai rasio di atas 50% juga akan membuat kreditur enggan untuk meminjamkan tambahan dana kepada perusahaan, dan manajemen mungkin akan menghadapi risiko kebangkrutan jika perusahaan meningkatkan rasio utang dengan meminjam tambahan dana.
4.3.4 Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan perhitungan rasio keuangan yang menunjukkan tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari sejumlah dana dan aktiva yang diinvestasikan oleh perusahaan.
a) Return On Assets
Rasio return on assets dihitung dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan seluruh total aset yang dimilikinya. Adapun perhitugan return on assets ratio perusahaan pada tahun 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut :
ReturnOn Assets Ratio=¿ Laba BersihTotal Aset x 100% b) Return On Equity
Return on equity merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham. Perhitungan return on equity pada perusahaan PT IISM Tbk Cabang Banda Aceh pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut :
ROE 2010 = Rp .Rp .1.631.020 .4046.565 .994 .501 = 0,248 atau 25%
ROE 2011 = Rp .Rp .10.151.693 .0673.546.874 .970 = 0,349 atau 35%
ReturnOn Equity Ratio=Ekuitas Pemegang Sa h amLaba Bersih x 100%
Berdasarkan perhitungan rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh di atas, dapatlah disusun rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh tersebut seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3 Rasio Profitabilitas Rasio
Profitabilitas
PT Jasa Tania, Tbk Cabang Banda Aceh
PT Jasa Tania, Tbk Pusat
2010 2011 2010 2011
ROA 9,5% 15,5% 7% 7%
ROE 25% 35% 11% 15%
Sumber : Edit Penulis (2014)
1) Interpretasi rasio profitabilitas a. Return On Assets Ratio
Perhitungan return on assets ratio adalah laba bersih dibagi dengan aset rata-rata. Return on assets ratio berguna untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dengan menggunakan aktiva perusahaan untuk operasionalnya. Semakin tinggi persentase rasio ini semakin menguntungkan karena laba bersih perusahaan semakin besar.
Data pada tabel di atas menunjukkan PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh pada tahun 2010 memiliki nilai return on assets ratio sebesar 9,5%. Tingkat persentase return on assets ratio tersebut menjelaskan untuk setiap Rp. 1 aset yang digunakan hanya menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 0,095.
tahun 2011 untuk setiap Rp. 1 Aset yang digunakan, PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh hanya mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0,15. Peningkatan nilai return on assets ratio tersebut menunjukkan kinerja manajemen perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan keuntungan telah bagus dibandingkan pada tahun sebelumnya.
Kenaikan persentase di tahun 2011 menunjukkan bahwa pada tahun 2011 manajemen perusahaan mampu mengelola ketersediaan kas dan aset yang menganggur secara optimal dibandingkan tahun 2010. Di sisi lain, tingkat perputaran piutang yang cepat juga merupakan alasan meningkatnya persentase return on assets ratio pada tahun yang bersangkutan.
b. Return On Equity
Perhitungan return on equity ratio adalah dengan cara membandingkan antara Laba Bersih yang dihasilkan pada suatu periode dengan saldo rata-rata Ekuitas pemegang saham. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang diinvestasikan oleh para pemegang saham.
Tahun 2010 tingkat return on equity ratio PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh adalah sebesar 25%. Dapat diinterpretasikan juga setiap Rp. 1 yang diinvestasikan, perusahaan hanya mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0,25. Pemegang saham memperoleh tambahan nilai ekuitas sebesar Rp. 0,25 dari setiap Rp. 1 yang diinvestasikan.
Pada tahun 2011 persentase return on equity ratio PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh lebih tinggi 10% dari tahun 2010 yaitu sebesar 35% dan dapat diinterpretasikan juga bahwa dari setiap Rp. 1 yang diinvestasikan, perusahaan hanya mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0,35 sehingga pemegang saham memperoleh tambahan nilai ekuitas sebesar Rp. 0,35.
4.3.5 Rasio Solvency Margin
Rasio solvency margin merupakan perhitungan rasio keuangan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan keuangan perusahaan dalam mendukung kewajiban yang mungkin timbul akibat dari penutupan risiko yang telah dilakukan.
Solvency Margin 2010
= Rp .1.500 .000.000+Rp.Rp .10.638 .397 .474471.626 .826+Rp .1.631 .020 .404
x 100% = 34%
Solvency Margin 2011
=Rp .500.000 .000+Rp .13.469 .024 .535Rp.660.477 .585+Rp .3.546 .874 .970
x 100% = 35%
Solvency Margin Ratio = Modal disetorPendapatan Premi+Cadangan Dana+Labax 100%
Berdasarkan perhitungan solvency margin ratio PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh di atas, dapatlah disusun rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh tersebut seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4
Solvency Margin Ratio
Solvency Margin Ratio
PT IISM, Tbk Cabang Banda
Aceh PT IISM, Tbk Pusat
2010 2011 2010 2011
Solvency Margin
Ratio 34% 35% 137% 97%
Sumber : Edit Penulis (2014)
1) Interpretasi solvency margin ratio
Perhitungan rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menanggung resiko yang ditutup. Resiko yang ditutup akan menimbulkan beberapa kewajiban yang harus dilunasi oleh perusahaan. Pada tahun 2010, perhitungan solvency margin ratio memiliki persentase sebesar 34%. Dapat dikatakan juga bahwa setiap Rp. 1 kewajiban yang timbul dari penerimaan premi akan dijamin oleh Rp. 0,34 dari modal, cadangan dana serta laba yang diperoleh perusahaan.
Underwriting 2010 = Rp .Rp.10.638 .397.4745.618 .958 .156
x 100% = 53%
Underwriting 2011 = Rp .Rp.13.469 .024 .5357.757 .742.210
x 100% = 58%
timbul dari penerimaan premi akan dijamin oleh Rp. 0,35 dari modal, cadangan dana serta laba yang diperoleh perusahaan.
4.3.6 Rasio Underwriting
Rasio underwriting merupakan salah satu perhitungan rasio keuangan perusahaan yang menunjukkan tingkat keuntungan murni yang diperoleh perusahaan setelah dikurangi beban klaim, beban komisi dan beban underwriting yang harus ditanggung perusahaan.
Underwriting Ratio = HasilUnderwritingPendapatan Premi x 100%
Berdasarkan perhitungan underwriting ratio PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh di atas, dapatlah disusun rasio solvabilitas PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh tersebut seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.5 Rasio Underwriting Rasio
Underwriting
PT IISM, Tbk Cabang Banda
Aceh PT IISM, Tbk Pusat
2010 2011 2010 2011
Underwriting 53% 58% 32% 35%
Sumber : Edit Penulis (2014)
Perhitungan underwriting ratio pada PT IISM, Tbk Cabang Banda Aceh tahun 2010 menunjukkan hasil sebesar 53%. Persentase tersebut dapat diartikan bahwa setiap Rp. 1 dari pendapatan premi, perusahaan akan memperoleh keuntungan sebesar 0,53. Pada tahun 2011 terjadi kenaikan underwriting ratio
sebesar 58%. Pada tahun tersebut setiap Rp. 1 dari total pendapatan premi, menghasilkan keuntungan bagi perusahaan sebesar Rp. 0,58.
Persentase yang berada diatas 50% pada kedua tahun tersebut menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam kondisi yang sehat. Hal ini dikarenakan karena hasil underwriting perusahaan merupakan keuntungan murni perusahaan setelah dikurangi beban klaim, beban komisi serta beban underwriting yang harus ditanggung perusahaan.