MANUSIA)
Untuk memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) Mata Kuliah Diplomasi dan Politik Luar Negeri
Dosen : Prof. Drs. Yanyan M. Yani, Ph. D
Oleh:
Ahirul Habib Padilah 170820140512
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga tugas individu membuat makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Diplomasi dan Politik Luar Negeri. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah juga sebagai penerapan pemahaman penulis terhadap materi kuliah yang telah disampaikan di kelas. Adapun permasalahan yang saya angkat adalah tentang “Kebijakan dan Upaya Indonesia dalam Mengatasi Kejahatan Transnasional (Studi Kasus tentang Perdagangan Manusia)”.
Penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada Prof. Drs. Yanyan. M. Yani, Ph.D, yang telah banyak membagikan ilmunya kepada penulis dalam pelaksanaan perkuliaan di kelas dan menuntun dalam membuat makalah ini.
Akhir kata, penulis berharap agar makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi yang membaca dan penulis berharap kritik dan sarannya guna pengembangan penulisan makalah untuk selanjutnya. terima kasih.
Bandung, 06 Mei 2016
DAFTAR ISI
3.1 Perdagangan Manusia di Asia Tenggara... 9
3.2 Peran ASEAN dalam Menangani Kejahatan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara... 11
3.3 Perdagangan Manusia di Indonesia... 12
3.3.1 Modus-Modus Perdagangan Manusia... 12
3.3.2 Faktor-Faktor Penyebab Perdagangan Manusia... 14
3.4 Negara Tujuan Perdagangan Manusia... 15
3.5 Upaya Indonesia dalam Mengatasi Perdagangan Manusia... 16
3.6 Struktur Sistem Internasional Mengenai Perdagangan Manusia.. 17
3.6.1 Hukum Internasional Mengenai Perdagangan Manusia... 18
3.6.2 Instrumen Internasional Mengenai Perdagangan Manusia... 18
3.7 Persepsi Elit Mengenai Perdagangan Manusia... 19
3.8 Strategi Negara-Bangsa Lain Mengenai Perdagangan Manusia. . 20
3.8.1 Strategi Indonesia... 20
3.8.2 Strategi Negara Lain... 20
3.9 Kapabilitas Indonesia Mengenai Perdagangan Manusia... 21
BAB IV PENUTUP... 22
4.1 Simpulan... 22
4.2 Saran... 22
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Korban Perdagangan Manusia Berdasarkan Negara
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya berbagai model dari teknologi dan informasi memberikan dampak yang sangat nyata dan menimbulkan sebuah tatanan kehidupan baru dalam berbagai dimensi yang diikuti dengan implikasinya yaitu saling ketergantungan dan terintegrasi. Perubahan sistem bipolar ke sistem multipolar dunia merupakan salah satu warna konstalasi kehidupan global saat ini1. Keadaan ini, sadar atau tidak telah memberikan pengaruh yang besar dalam
sebuah hubungan yang terjalin antara negara dan kehidupan di dalamnya terutama masalah keamanan manusia (human security).
Saat ini, isu keamanan internasional masih tetap merupakan isu yang sangat penting untuk dibicarakan. Namun, dalam proses perkembangannya, isu keamanan internasional bukan hanya bicara masalah keamanan negara melainkan juga sangat erat kaitannya dengan keamanan manusia. Konsep keamanan sendiri telah mengalami pergeseran dari keamanan tradisional ke keamanan nontradisional. Keamanan tradisional biasanya dipersepsikan dan ditangani dalam konteks hubungan antanegara dengan makna bahwa bagaimana menjaga dan melindungi keamanan suatu negara dari ancaman pihak luar dan lebih khusus yang berkaitan dengan ancaman militer yang berasal dari negara lain.
Sementara keamanan nontradisional didasarkan pada dua komponen kebebasan negatif, yakni bebas rasa takut (freedom from fear) dan bebas dari kekurangan (freedom from want), dua hal ini merupakan hak yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semenjak berdiri (Winarno, 2014:9).
Dalam konteks ini, konsep keamanan nontradisional dikaitkan dengan kasus kejahatan transnasional berupa perdagangan manusia (human trafficking).
1 Irdayanti, 2013. “Penguatan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Menangani Kejahatan Transnasional”, Jurnal Transnasional, Vol. 5, No. 1, Hal. 2-3
Perdagangan manusia menjadi isu sentral era globalisasi ini karena kejahatan yang melintasi wilayah suatu negara ini menjadi epidemi di berbagai negara. Karena perdagangan manusia merupakan kejahatan yang melanggar nilai-nilai kemanusia yang menempatkan posisi manusia layaknya properti dan produk komersial yang dapat dengan bebas di eksploitasi.
Indonesia merupakan negara sumber utama perdagangan seks dan kerja paksa bagi perempuan, anak-anak, dan laki-laki, dan dalam tingkatan yang jauh lebih rendah menjadi negara tujuan dan transit perdagangan seks dan kerja paksa. Masing-masing provinsi dari 33 provpinsi di Indonesia merupakan daerah sumber dan tujuan perdagangan manusia, dengan daerah sumber yang paling signifikan adalah Jawa, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan2.
Menurut IOM (International Organization for Migration) dan LSM anti-perdagangan manusia terkemuka di Indonesia memperkirakan bahwa 43-50 % atau bila dalam jumlah sekitar 3- 4,5 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri menjadi korban dari kondisi yang mengindikasikan adanya perdagangan manusia. Dari 3.840 korban perdagangan manusia yang diidentifikasi IOM dan pemerintah Indonesia saat kembali dari bekerja di luar negeri, 90 persen adalah perempuan dan 56 persen telah dieksploitasi dalam pekerjaan rumah tangga. Menurut IOM, total 82% korban yang diidentifikasi pada tahun 2010 telah menjadi korban perdagangan manusia ke luar negeri; 18 persen diantaranya menjadi korban perdagangan manusia di Indonesia3.
1.2 Rumusan Masalah
2 Dalam (http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/laporan-politik/perdangangan-manusia.html) diakses pada 2 Mei 2016
Berdasarkan pemaparan di latar belakang penelitian, peneliti menarik sebuah rumusan masalah : Bagaimana Kebijakan dan Upaya Indonesia dalam Menangani Kejahatan Perdagangan Manusia?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kebijakan dan upaya Indonesia dalam menangani kejahatan transnasional lebih khsusnya tentang perdagangan manusia.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Untuk memberikan masukan terhadap studi hubungan internasional khususnya tentang kebijakan dan upaya Indonesia dalam menangani kejahatan perdagangan manusia.
1.4.2 Manfaat Praktis
Memberikan masukan melalui hasil penelitian terhadap para pembuat kebijakan di tingkat nasional dan lokal mengenai upaya menanggulangi kasus perdagangan manusia di Indonesia.
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Sumber Kebijakan Luar Negeri
John P. Lovel (1970) di dalam bukunya Foreign Policy in Perspective: Strategy, Adaptation, Decision Making mengatakan bahwa sumber-sumber terbentuknya suatu kebijakan luar negeri adalah terdiri dari struktur sistem internasional, persepsi elit politik, strategi negara-bangsa lain, dan kapabilitas dalam negeri4. Keempat faktor ini yang nantinya akan menentukan strategi mana
yang harus dijalankan oleh sebuah negara, antara leadership strategy (negara kuat dan berpengaruh terhadap negara lemah), concordance strategy (negara lemah terhadap negara kuat), confrontation strategy (melawan secara terang-terangan), atau accomodative strategy (strategi mengalah)5.
a. Leadeship strategy
Strategi menunjukkan adanya posisi pengawasan melalui cara persuasi dan tawar-menawar daripada melalui cara kekerasan (walaupun kadangkala cara kekerasan mungkin saja dapat dikombinasikan dengan cara persuasi). Pada tipe startegi ini suatu negara mengganggap kapabilitasnya superior dan strategi negara bangsa lain mendukung. b. Concordance strategy
Strategi mengacu pada adanya suatu kepentingan yang saling menguntungkan. Namun, menyadari bahwa kapabilitasnya relatif lebih rendah daripada negara A, maka para pembuat keputusan negara B akan berusaha untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan negara A dengan cara menghindari pembuatan kebijakan luar negeri yang dapat menimbulkan mkonflik dengan negara A, dan negara B akan bertingkah laku selaras dengan initiatif-initiatif negara A.
c. Confrontation strategy
Negara-bangsa A akan mencoba untuk mempertajam isu-isu yang mengandung konflik kepentingan dengan negara B, dan memaksa negara
4 Yanyan Mochamad Yani, Drs., MAIR., Ph.D. "Perspektif-Perspektif Politik Luar Negeri: Teori Dan Praksis." dalam Ceramah Sistem Politik Luar Negeri, 16. SESKO TNI-AU, 2010.
B untuk memodifikasi posisinya melalui pengakuan terhadap superioritas kapabilitas negara A.
d. Accomodative strategy
Dengan adanya pengakuan negara B terhadap superirotas kapabilitas negara A, maka diharapkan negara B akan mencoba untuk membuat strategi penyesuaian-penyesuaian untuk menghindari konflik, meskipun ada kemungkinan di waktu depan negara B akan menerapkan strategi konfrontasi (confrontation strategy) ketika kapabilitas negara B meningkat.
Keempat varian strategi di atas dapat dilihat pada di bawah ini6.
2.2 Kejahatan Transnasional
Menurut Mueller Kejahatan transnasional adalah offences whose inception, prevention, and/or direct or indirect effects involve more than one country. Mueller menggunakan istilah kejahatan transnasional untuk mengidentifikasi “certain criminal phenomena transcending international borders, transgressing the laws of several states or having an impact on another country”7. Dalam
definisi yang ditawarkan oleh Mueller ini dapat dilihat bahwa kejahatan transnasional di sini adalah kejahatan yang melibatkan lebih dari satu negara. Jadi
6Ibid.
jelas bahwa Mueller mendefinisikannya berdasarkan keterlibatan lebih dari satu negara.
Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia ancaman kejahatan transnasional bukanlah omong kosong belaka. Kedekatan Indonesia secara geografis dengan negara lain telah memberikan keuntungan dalam kerjasama pembangunan bersama dan kerugian dalam hal kejahatan transnasional. Contohnya, penyelundupan obat-obat terlarang dari luar ke dalam negeri, terorisme, pembalakan liar dan perdagangan manusia (human trafficking) merupakan ancaman yang sangat nyata bagi Indonesia. Kerjasama internasional sangat diperlukan untuk menghentikan ancaman kejatahan ini.
Istilah Transnational Organized Crimes (TOC) berpedoman pada hasil UN Convention against Transnational Organized Crime atau yang juga dikenal dengan Konvensi Palermo. Menurut TOC, kejahatan yang dinamakan transnasionak jika dilakukan lebih dari satu negara, dilakukan di satu negara namun bagian penting seperti persiapan, perencanaan, pengarahan dan pengendalian dilakukan di negara lain, dilakukan di satu negara tetapi melibatkan kelompok kriminal yang terlibat dalam kegiatan kriminal di lebih dari satu negara, dan dilaksanakan di satu negara tetapi berdampak pada negara lain. Berdasarkan hasil dalam konvensi tersebut, beberapa jenis kejahatan yang diakui sebagai kejahatan terorganisir lintas negara, Perdagangan Manusia Merupakan Salah Satunya.
2.3 Definisi Perdagangan Manusia
permasalahan global yang berkaitan dengan perdagangan manusia yaitu dengan membentuk unit kerja khsusus dalam badan PBB yang dinamakan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Menurut UNODC perdagangan manusia adalah :
Pendapatan bisnis yang diperoleh dengan cara yang jahat, seperti pemaksaan, penipuan, atau muslihat dengan tujuan untuk mengeksploitasi mereka8.
Tersirat jelas bahwa dalam protokol PBB bahwa perdagangan manusia merupakan kegiatan untuk mencari, mengirim, memindahkan, menampung, atau menerima tenaga kerja ilegal dengan ancaman, kekerasan atau menggunakan bentuk-bentuk pemaksaan lainnya. Salah satunya menyalahkangunakan wewenang atau kekuasaan dengan memanfaatkan ketidaktahuan, keinginan, ketidakberdayaan korban dengan tujuan eksploitasi. Kejahatan perdagangan manusia merupakan persoalan kejahatan yang terorganisir, yang disebut dengan A Transnational-Crime (kejahatan terorganisasi secara transnasional)9.
Sementara itu, menurut Interpol, perdagangan manusia terdapat 4 (empat) kategori10. Pertama, perdagangan pada peremuan untuk eksploitasi seksual yang
pada umumnya perempuan lebih mudah terpikat oleh janji-janji untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan pada kenyataannya mereka justru dijerumuskan dalam aktivitas perbudakan seksual. Kedua, perdagangan manusia untuk kerja paksayang mana para korban terjebak dalam berbagai macam industri pertanian, pekerjaan konstruksi, dan perbudakan domestik. Ketiga, eksploitasi seksual komersial pada anak-anak dalam industri pariwisata di mana di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin praktik eksploitasi ini marak terjadi karena minimnya larangan dan tuntutan peraturan hukuman dalam menjalin hubungan seksual dengan kaum yang minoritas. Keempat, penjualan organ manusia dengan tujuan menjual organ tubuhnya yang lebih khusus bagian tubuh berupa ginjal yang turut serta menyumbang terhadap semakin meningkatnya angka kriminalitas.
8 Pengertian “Perdagangan Manusia” dan “Penyelundupan Imigran Gelap” oleh UNODC dalam websitenya (http://www.unodc.org)
9 M. Gandhi Lapian & Geru, A. Hetty, 2010, Trafficking Perempuan & Anak: Penanggulangan Komprehensif Studi Kasus: Sulawesi Utara, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 132-133
Berdasarkan pengertian perdagangan manusia di atas dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa manusia telah dijadikan komoditas. Dengan kesewenangan mengeksploitasi tenaga kerja untuk kepentingan yang sangat merugikan korban dan memberikan keuntungan pada pihak lain. Dengan melibatkan anak dan perempuan demi kepentingan eksploitasi seksual, perdagangan organ manusia, perdagangan bayi dan eksplotasi lainnya. Bentuk-bentuk dari eksploitasi itu sendiri, seperti eksploitasi seksual, kerja paksa, perbudakan atau pengambilan organ tubuh. Terdapat tiga model yang dapat menjelaskan cara-cara yang dilakukan dalam memperdagangkan manusia, antara lain11 :
a. Act, yaitu tindakan seperti apa yang dilakukan. Misalnya, rekrutmen, transportasi, transfer/pengiriman, harbouring dan penerimaan.
b. Means, yaitu bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Misalnya, dengan menggunakan ancaman atau kekuatan, paksaan, penculikan, penipuan, adanya penyalahgunaan kekuasaan serta adanya pemberian pembayaran. c. Purpose, yaitu mengapa tindakan tersebut dilakukan. Misalnya,
eksploitasi, prostitusi terhadap orang lain, kerja paksa, perbudakan atau tindakan sejenis lainnya serta pengambilan organ tubuh.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Isu mengenai perdagangan manusia menjadi sebuah masalah yang serius dan menjadi perhatian di negara-negara Asia Tenggara. Jumlah korban perdagangan manusia dari tahun ke tahun semakin meningkat, dengan rujukan berbagai sumber menunjukan dan menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan paling tinggi sebagai “pengekspor” manusia untuk di perdagangkan. Di Asia Tenggara, diperkirakan 200 ribu – 400 ribu orang diperdagangkan setiap tahunnya12.
Menurut Shelley beberapa faktor yang menyebabkan kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan manusia adalah dikarenakan konflik berkepanjangan di kawasan, kemiskinan, tingginya angka korupsi, faktor geografis, dan faktor budaya13. Berbagai konflik dan urusan militer
yang terjalin antarnegara di kawasan Asia Tenggara maupun dengan negara-negara di luar kawasan mempengaruhi berkembangnya kejahatan perdagangan manusia dan muncul sebuah kecenderungan bahwa di daerah-daerah konsentrasi tentara yang bertugas dan tempat tinggal tentara selama konflik meningkatkan kasus perdagangan manusia d kawasan tersebut14.
Selain itu, kemiskinan merupakan salah satu penyebab utama semakin berkembangnya kejahatan perdagangan manusia dalam suatu negara, sehingga hal ini mempengaruhi tingkat kejahatan di Asia Tenggara. Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di sektor industri yang tidak seimbang menciptakan kesenjangan yang semakin tajam di Asia Tenggara, sehingga melahirkan batas yang sangat jelas antara negara-negara yang tergolong kaya dan negara-negara miskin15. Pembangunan ekonomi yang tidak merata kemudian akan menyebabkan
munculnya kejahatan perdagangan manusia. Menurut Winarno16 kejahatan
perdagangan dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, negara-negara yang relatif berhasil saat ini memiliki sebah kebutuhan akan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan insudtrinya yang semakin berkembang. Kedua,
12 Janis Foo, “Cost of Human Trafficking in Southeast Asia”, Viet-Studies. Info, April 2009, (http://www.vietstudies.info/kinhte/cost_of_human_trafficking.htm) diakses 30 April 2016.
13 Louis Shelley, 2010. Human Trafficking: A Global Perspective, New York: Cambridge, Hal. 157-158.
14 Budi Winarno, 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS, Hal. 338.
15 Richard Stubbs, 2005. Rethinking Asia’s Economic Miracle, New York: Palgrave MacMillan, Hal. 21.
16 Winarno, Op. Cit. Hal. 339
masyarakat di negara-negara tertinggal secara ekonomi terdorong oleh sebuah keinginan untuk memperbaiki ekonomi dan kesempatan memperoleh penghasilan yang lebih baik di luar negaranya, sehingga mereka terdorong untuk melakukan migrasi dan sangat mudah dibujuk untuk bekerja di luar negeri. Kedua hal ini tentunya saling terkait dalam hal sebab-sebab terjadinya kejahatan perdagangan manusia yang di manfaatkan oleh organisasi kriminal transnasional untuk meraup keuntungan secara ekonomi, yaitu dengan menjadikan manusia layaknya komoditas yang layak untuk diperjualbelikan.
Salah satu faktor yang sangat berperan dalam mendukung terjadinya perdagagan manusia adalah faktor geografis suatu negara yang seringkali berdekatan dan berhimpitan dengan negara lain, terpendil serta susahnya menjangkau suatu wilayah dikarenakan luasnya sebuah negara sehingga menyebabkan lemahnya kontrol dari pemerintah pusat. Salah satu contohnya adalah kawasan segitiga emas, yang merupakan wilayah pegunungan yang menghubungkan negara-negara di Greater Mekong Subregion (GMS) yaitu Myanmar, Laos, dan Thailand. Wilayah ini telah manjadi usat kriminal transnasional, baik perdagangan manusia, perdagangan narkoba, penyelundupan senjata, dan bentuk kejahatan lainnya17.
Menurut data International Organization for Migration (IOM) pada tahun 2011 silam menempatkan 4 negara kawasan Asia Tenggara masuk dalam posisi 10 negara penyumbang utama kasus perdagangan manusia di dunia. Laos berada pada nomor 4 , kemudia Kamboja pada urutan nomor 6 sebagai negara dengan korban perdagangan manusia terbanyak di dunia. Sementara Thailand berada di nomor 4 dan Indonesia di nomor 7 sebagai negara tujuan perdagangan manusia terbesar di dunia. Indonesia meruakan negara penyuplai sekaligus negara tujuan kejahatan perdagangan manusia yang sangat mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.
3.2 Peran ASEAN dalam Menangani Kejahatan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Shelley dan Mark memberikan sebuah peringatan atau ”warning” kepada para aktor internasional dan lebih khususnya negara untuk bersiap dalam menghadapi berbagai kejahatan transnasional (transnational crime) yang semakin marak terjadi pada era globalisasi ini. Maka dari itu, guna merespon kejahatan lintas negara ini ASEAN mengadakan rangkaian pertemuan, salah satunya adalah dihasilkannya sebuah kesepakatan ASEAN Security Community pada tahun 2004 lalu di Vientien, Laos.
Kesepakatan dan kerjasama ASEAN dalam pemberantasan kejahatan transnasional kemudian diperkuat dengan diadakannya pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri kedua tentang kejahatan transnasional (Second ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime) yang diadakan di Yangon Myanmar. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan bersama tentang pemberantasan kejahatan transnasional. Langkah-langkah yang disepakati dalam pertemuan tersebut antara lain18 :
a. Mempertegas kembali Visi ASEAN 2020 sebagai sebuah harapan dan tujuan dari negara-negara ASEAN yaitu meningkatkan kerjasama eksternal, menjaga stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia Tenggara; b. Menjadikan ASEAN Plant of Action sebagai panduan dalam memerangi kejahatan transnasional dengan mendorong negara yang tergabung dalam kawasan ASEAN untuk meluaskan usahanya memerangi kejahatan transnasional pada tingkat regional dan memperkuat kapasitas serta komitmen.
c. Menjadikan ASEAN Plant of Action to Combat Transnational Crimes sebagai instrumen untuk membangun strategi regional dalam mengawasi dan menetralisir kejahatan transnasional.
d. Dan yang terakhir adalah menyepakati dibangunnya ASEAN Center for Combating Transnational Crime (ACTC) yang akan menjadi badan koordinasi dalam pemberantasan kejahatan transnasional.
3.3 Perdagangan Manusia di Indonesia
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perdagangan manusia atau human trafficking termasuk dalam kejahatan transnasional (transnational crime) karena aktivitas yang terjadi merupakan tindakan menjadikan manusia sebagai komoditas yang disertai dengan tindak kekerasan dimana terjadi melewati lintas batas negara. Aktivitas seperti ini merupakan suatu pelanggaran terhadap humanity. Sebagian besar korban kasus trafficking yang berasal dari Indonesia diperdagangkan menuju negeri tetangga. Terdapat dua kategori perdagangan manusia di Indonesia yaitu yang terjadi di dalam negeri dan yang melewati batas negara. Perdagangan manusia yang melewati batas negara disebut international trafficking dengan modus modus perdagangan manusia.
3.3.1 Modus-Modus Perdagangan Manusia19
a. Domestic Workers
Hal terbesar yang menjadi kebutuhan akan tenaga kerja Indonesia adalah kegiatan yang tidak membutuhkan kemampuan yang tinggi seperti pembantu rumah tangga. Banyak diantara mereka dilaporkan mengalami eksploitasi seperti dipaksa bekerja dengan waktu yang berlebihan, tidak diberikan waktu istirahat, tidak diberikan makanan dan tempat untuk tidur yang layak, tidak diberikan kebebasan beribadah seperti halnya di Indonesia, mendapat kekerasan fisik dan seksual serta gaji yang rendah bahkan tidak dibayar sama sekali.
b. Sex Work
Para pekerja migran Indonesia semula direkrut untuk bekerja sebagai domestic worker di restauran dan tempat hiburan lainnya yang kemudian dipaksa untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial. Banyak dari para pekerja ini mendapat penghasilan yang rendah (bila dibayar), tidak diberikan makanan apabila menolak melayani klien, dipaksa untuk melayani banyak klien perharinya, kebebasan dibatasi, kekerasan terhadap pekerja adalah hal yang lazim serta kualitas pekerjaan dan kehidupan yang buruk dari para pekerja seks ini menjadi hal yang menakutkan. Karena penularan penyait seperti HIV/AIDS sangat mudah terjadi tanpa adanya standar keamanan saat “bekerja”.
c. Marriage
Modus perdagangan manusia berikutnya adalah pernikahan. Melalui layanan biro jodoh mereka kemudian bertemu dengan para pengguna layanan tersebut yang berasal dari luar negeri atau luar Indonesia. Ketika mereka sukses bertemu pasangannya dan menikah, ada laporan bahwa mereka tidak diperlakukan secara manusiawi sebagai bagian dari keluarga, melainkan mereka diperlakukan layaknya seorang budak dan dipekerjakan dengan tidak menerima gaji dengan waktu kerja yang sangat panjang. Banyak dari mereka yang dipaksa bekerja menjadi pekerja seks komersial oleh suami mereka dan dokumen mereka dirubah dan dipalsukan sehingga banyak dari mereka sulit untuk pulang kembali ke Indonesia.
d. Adoption
3.3.2 Faktor-Faktor Penyebab Perdagangan Manusia20
a. Kurangnya kesadaran ketika mencari pekerjaan dengan tidak mengetahui bahaya trafficking dan cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak korban.
b. Kemiskinan telah memaksa banyak orang untuk mencari pekerjaan ke mana saja, tanpa melihat risiko dari pekerjaan tersebut.
c. Kultur/budaya yang menempatkan posisi perempuan yang lemah dan juga posisi anak yang harus menuruti kehendak orang tua dan juga perkawinan dini, diyakini menjadi salah satu pemicu trafficking. Biasanya korban terpaksa harus pergi mencari pekerjaan sampai ke luar negeri atau ke luar daerah, karena tuntutan keluarga atau orang tua. d. Lemahnya pencatatan /dokumentasi kelahiran anak atau penduduk
sehingga sangat mudah untuk memalsukan data identitas.
e. Lemahnya oknum-oknum aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam melakukan pengawalan terhadap indikasi kasus-kasus trafficking.
Dari kasus-kasus trafficking yang terjadi di Indonesia dan faktor penyebabnya dapat dijelaskan bahwa perdagangan manusia yang terjadi rata-rata diakibatkan oleh adanya keinginan dari para korban untuk bekerja mencari penghasilan yang lebih baik dari tempat asalnya21. Namun, karena kurangnya
pengetahuan, mereka dimanfaatkan oleh oknum yang akhirnya “memperdagangkan” mereka. Ditambah dorongan keadaan yang membuat keterpaksaan dalam diri mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi.
3.4 Negara Tujuan Perdagangan Manusia
Berdasarkan pada data International Organization for Migration (IOM) dalam Annual Report 2009, merilis sejumlah negara yang menjadi negara tujuan
20 International Development Law Organization(IDLO), dalam (www.idlo.int) diakses pada 02 Mei 2016.
perdagangan manusia beserta data jumlah korban yang kejahatan perdagangan manusia.
Tabel 1.1
Jumlah Korban Perdagangan Manusia Berdasarkan Negara Tujuan
No Negara Tujuan Jumlah Korban sebagai negara tujuan perdagangan manusia dengan jumlah korban paling banyak yaitu 2.800 orang. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kedekatan geografis wilayah Indonesia dan Malaysia.
3.5 Upaya Indonesia dalam Mengatasi Perdagangan Manusia
sehingga menempatkan Indonesia termasuk dalam 10 negara terbesar tempat terjadinya perdagangan manusia. sebagian besar trafficking dilakukan dengan modus pencarian tenaga kerja untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, pekerja seks komersial atau bentuk eksploitasi lainnya. Selain itu terdapat pula keinginan dari para pencari kerja tersebut yang mungkin tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup terhadap jasa penyalur pekerjaan yang resmi dan mana yang underground atau terselubung.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menindaklanjuti praktek-praktek ilegal ini. Pada tahun 2007, Undang-undang nomor 21 diterbitkan pemerintah Indonesia untuk mengatur mengenai pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Hal ini merupakan salah satu langkah yang positif untuk dijadikan landasan untuk menindak setiap pelanggaran hukum yang terjadi terkait dengan kejahatan perdagangan manusia di Indonesia. Dalam undang-undang tersebut terdapat pasal-pasal yang mengatur tentang pendefinisian tindak pidana kejahatan transnasional ini. Ketentuan hukuman serta kerjasama dengan negara lain karena kejahatan tipe ini kita ketahui beroperasi lintas batas negara yang diatur dalam pasal 59 ayat 1 (UU. No. 21 Th. 2007). Pemerintah Indonesia menyadari bahwa upaya memberantas tindak kejahatan perdagangan manusia tidak bisa dilakukan sendiri melainkan harus bekerjasama dengan negara lain yang menjadi tujuan perdagangan manusia yang berasal dari Indonesia. Karena terjadi lebih dari satu negara atau melintasi negara, maka harus melalui kerjsama antarnegara supaya bisa masuk dalam lembaga hukum negara yang menjadi tempat berlangsungnya kejahatan ini. Seperti terdapat dalam ketentuan perundangan-udangan diatas yang memberikan kewajiban untuk melaksanakan kerjasama pemberantasan perdagangan manusia dengan negara lain baik itu secara bilateral, regional, maupun multilateral.
Pada tataran internasional, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi kesepakatan-kesepakatan internasional. Salah satunya, pengesahan Protokol PBB untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum Perdagangan Orang. Lengkapnya, protokol ini adalah Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children, Supplementing the United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. Ada beberapa perundang-undangan yang diperkuat akibat disetujukannya protokol ini. Yakni, UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, dan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Selain itu, Indonesia bertindak sebagai co-chair Bali Process pada tahun 2002. Bali Process merupakan forum internasional yang memfasilitasi diskusi mengenai perkembangan dan solusi atas praktek penyelundupan manusia, perdagangan orang, serta kejahatan transnasional lainnya. Bali Process merupakan pertemuan yang diselenggarakan untuk menjawab masalah penyelundupan orang, perdagangan orang, serta tantangan-tantangan dalam migrasi ireguler di kawasan. Pertemuan Bali Process VI diikuti 303 delegasi termasuk 16 menteri dari 54 negara. Pertemuan ini juga akan diikuti 12 negara pengamat dan 8 organisasi internasional. Tercatat lebih dari 38 media baik media internasional maupun nasional yang meliput pertemuan ini.
3.6.1 Hukum Internasional mengenai Perdagangan Manusia
Pengaturan hukum internasional mengenai tindak pidana perdagangan orang (Human Trafficking yaitu :
Suppression of White Slave Traffic). Dokumen ini diamandemen dengan protokol PBB pada tanggal 3 Desember 1948.
Konvensi Internasinal tanggal 4 Mei 1910 untuk penghapusan perdagangan budak kulit putih (International Convention for the Suppression of White Slave Traffic), diamandemen dengan protokol tersebut di atas.
Konvensi Internasional tanggal 30 September 1921 untuk penghapusan perdagangan perempuan dan anak (Convention of on the Suppression of Traffic in Women and Children), diamandemen dengan protokol PBB tanggal 20 Oktober 1947.
Konvensi Internasional tanggal 22 Oktober 1933 untuk penghapusan perdagangan perempuan dewasa (International Convention of the Suppression of the Traffic in Women of Full Age), diamandemen dengan protokol PBB tersebut di atas.
3.6.2 Instrumen Internasional Mengenai Perdagangan Manusia
Adapun larangan human trafficking secara internasional telah banyak instrumen yang mengaturnya. Terdapat berbagai instrumen internasional yang berkaitan dengan masalah perdagangan manusia, antara lain :
Universal Declaratin of Human Rights ;
International Covenant on Civil and Political Rights;
International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights;
Convention on the Rights of the Child and its Relevant Optional
Protocol;
Convention Concerning the Prohibiton and Immediate Action for
the Elimination of the Worst Forums of Child Labour ( ILO No. 182 );
Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination
Againts Women;
United Nations protokol to Suppress, Prevent, and Punish
SARC Convention on Combating Trafficking in Women and
Children for Prostitusion.
3.7 Persepsi Elit Mengenai Perdagangan Manusia
Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang dikenal dengan Nawa Cita, pemberantasan kejahatan perdagangan manusia harus menjadi perhatian (concern) semua pihak. Presiden Joko Widodo telah menyatakan: “menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara”. Dalam hal ini, Kementerian Luar Negeri menerjemahkannya dengan: “Meningkatkan perlindungan terhadap warga negara dan badan hukum Indonesia”, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Luar Negeri dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) Tahun 2015.
Sementara itu, menurut Prof. Denny Indrayana, SH., LL.M., Ph.D., ketika menjadi pembicara kunci dalam International Symposium “Combating Human Trafficking” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor “Upaya memerangi perdagangan manusia ini harus melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah, buruh migran itu sendiri, para penegak hukum, masyarakat sipil, media, serta negara transit dan negara tujuan migran. Lebih lanjut Prof. Denny juga mengingatkan bahwa permasalahan perdagangan manusia ini cukup kompleks. Oleh karena itu perlu perjuangan yang sungguh-sungguh dari semua elemen bangsa dalam mengatasinya. “Keep on Fighting for the Better Indonesia, Keep on Fighting for the better World, the World without Human Trafficking”.
3.8 Strategi Negara-Bangsa Lain Mengenai Perdagangan Manusia
3.8.1 Strategi Indonesia
Dengan adanya pengakuan negara B terhadap superirotas kapabilitas negara A, maka diharapkan negara B akan mencoba untuk membuat strategi penyesuaian-penyesuaian (accommodation strategy) untuk menghindari konflik, meskipun ada kemungkinan di waktu depan negara B akan menerapkan strategi konfrontasi (confrontation strategy) ketika kapabilitas negara B meningkat22.
3.8.2 Strategi Negara Lain
Mengenai strategi negara lain, salah satunya strategi dari Australia dalam menangani kasus perdagangan manusias. Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop dan Menteri Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan Australia Peter Dutton menerapkan strategi khusus untuk memerangi maraknya perdagangan manusia. Ada sejumlah poin dalam strategi memberantas perdagangan manusia yang disusun pemerintah Australia pada masa tugas Perdana Menteri Malcolm Turnbull. Salah satunya, Australia fokus pada kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara. Hal ini sebagai deteksi, juga untuk mencegah praktek perdagangan manusia". Bishop juga mengatakan Australia terbuka soal informasi dan kerja sama intelijen. "Kami terus membangun kapasitas hukum, dan penegakannya di program peradilan pidana Australia” serta Australia akan mempererat kerja sama dengan lembaga multinasional yang berkaitan langsung dengan perdagangan dan perbudakan manusia. "Negara-negara bisa bekerja lebih efektif dengan sejumlah organisasi, seperti United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC), United Nation High Commissioners for Refugees (UNHCR), International Organization for Migration (IOM), dan International Labour Organization (ILO)."
3.9 Kapabilitas Indonesia Mengenai Perdagangan Manusia
Kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat Indonesia banyak memiliki perbatasan baik darat maupun laut. Hal ini tentu memiliki dampak positif dan negatifnya. Melihat kondisi geografis seperti ini, Indonesia harus menyiapkan dan mengeluarkan segala upaya untuk melindungi warga negara dari berbagai kejahatan lebih khusus transnasional crime. salah satunya perdagangan manusia yang merupakan persoalan yang tidak kunjung usai. Indnesia sebagai negara pengirim, transit dan tujuan industri perdagangan manusia harus bersikap tegas dalam pengambilan kebijakan dan gencar dalam melakukan kerjasama dalam menangani kasus perdagangan manusia ini.
Kejahatan yang melintasi batas negara memberikan ancaman bagi stabilitas suatu negara, kawasan bahkan sistem internasional. Salah satunya, muncul kejahatan transnasional karena kedekatan geografis sebuah wilayah negara. Hal inilah yang sedang dialami Indonesia, dimana kejahatan transnasional telah mengancam pembangunan kehidupan sosial negara ini. Dengan maraknya serangkaian kejahatan transnasional yang terjadi dan melewati batas wilayah Indonesia seperti perdagangan manusia yang terjadi tidak serta merta sebuah negara mampu menanganinya sendiri karena kejahatan seperti ini melibatkan lebih dari satu negara yang memiliki regulasi dan aturan yang berbeda-beda dalam menangani kasus ini. Sehingga, butuh kerjasama yang efektif guna menanggulangi kejahatan transnasional, seperti kerjasama bilateral yang merupakan scope paling kecil terjadinya kejahatan transnasional.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
pemusatan perhatian keamanan dalam negeri. Dipihak lain, ada aktor lain yang harus dijamin oleh negara yaitu kehidupan manusia. Human security atau konsep kemananan mausia ini merupakan suatu standar baru bagi penilaian keberhasilan kebijakan keamanan internasional. Kemampuan untuk melindungi manusia, tidak hanya mengamankan negara. Kendatipun keamanan manusia dijunjung tinggi oleh berbagai kalangan, terutama kalangan civil society, namun terkadang sering terlupakan oleh negara. Dengan bukti, semakin meningatnya kasus kejahatan transnasional lebih khususnya kejahatan perdagangan manusia. Beberapa faktor penyebab lemahnya keterlibatan negara dalam menangani kasus kejahatan ini adalah :
a. Kurang Koordinasi b. Ketersedian resource c. Maraknya korupsi
d. Perbedaan pendekatan yang digunakan oleh negara-negara lain
4.2 Saran
a. Koordinasi.
Koordinasi yang tepat dan lancar dari berbagai pihak terkait merupakan kunci utama keberhasilan upaya pencegahan dan pemberantasan human trafficking (perdagangan manusia). Hingga saat ini, masih terindikasi adanya ego sektoral dari masing-masing pihak terkait serta adanya tumpang tindih kewenangan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan human trafficking (perdagangan manusia). Oleh karenanya, diperlukan penetapan focal point bagi terlaksananya koordinasi dimaksud.
b. Ketersediaan resource
Dalam hal ini,resources meliputi dukungan finansial, sarana dan prasarana, kapabilitas SDM, dan kelembagaan menjadi hal yang minimal perlu mendapat perhatian dan diupayakan secara maksimal oleh
pemerintah. Ketersediaan resources tersebut perlu mendapat perhatian utama.
c. Korupsi
Korupsi dalam sistem pemerintahan menjadi hal yang perlu diwaspadai, khususnya yang terjadi pada lembaga yang berwenang terhadap lalu lintas manusia antar-negara.
d. Perbedaan pendekatan yang digunakan oleh negara-negara lain
Adanya perbedaan pendekatan yang dilakukan oleh berbagai negara dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Human trafficking (perdagangan manusia)menjadi salah satu penghalang bagi kerjasama antar-negara. Sebagai contoh adalah perbedaan definisi terhadap suatu kasus human trafficking (perdagangan manusia), dimana suatu negara menganggapnya sebagai suatu masalah keimigrasian dan keamanan sedangkan negara lain menganggapnya sebagai suatu masalah perlindungan Hak Asasi Manusia. Hal ini akan berdampak pada penerapan hukum yang akan menjadi dasar dalam penanganan kejahatan human trafficking (perdagangan manusia).
DAFTAR PUSTAKA
Adhinata, Made Bayu Permana. 2012. “Kejahatan Perdagangan Manusia sebagai Human Security Issues di Indonesia 2005-2009” dalam E-Jurnal Universitas Udayana, Vol. 1, No. 1
Irdayanti, 2013. “Penguatan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Menangani Kejahatan Transnasional”, dalam Jurnal Transnasional, Vol. 5, No. 1
Shelley, Louis. 2010. Human Trafficking: A Global Perspective, New York: Cambridge
Stubbs, Richard. 2005. Rethinking Asia’s Economic Miracle, New York: Palgrave MacMillan
Touzenis, Kristina. 2010. Trafficking in Human Beings, Paris: UNESCO
Winarno, Budi. 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS Yanyan Mochamad Yani, Drs., MAIR., Ph.D. "Perspektif-Perspektif Politik Luar
Negeri: Teori Dan Praksis." dalam Ceramah Sistem Politik Luar Negeri, 16. SESKO TNI-AU, 2010.
( http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/laporan-politik/perdangangan-manusia.html) diakses pada 2 Mei 2016
International Development Law Organization (IDLO), dalam (www.idlo.int) diakses pada 02 Mei 2016.
Interpol, Factsheets: “Trafficking in Human Beings” dalam (www.interpol.go.id) diakses 2 Mei 2016
Janis Foo, “Cost of Human Trafficking in Southeast Asia”, Viet-Studies. Info,
April 2009,
(http://www.vietstudies.info/kinhte/cost_of_human_trafficking.htm) diakses 30 April 2016.
Maryadi, “Upaya ASEAN dalam Menanggulangi Kejahatan Transnasional di Kawasan Asia Tenggara”, Community of ASEAN Studies, 2006, dalam (http://aseanerspublications.co.id/2006/04/upaya-asean-dalam
menanggulangi.html) diakses 02 Mei 2016