ASPEK HUKUM ZONASI PASAR TRADISIONAL
DAN PASAR MODERN
Rahadi Wasi Bint oro
Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman E-mail: mas. wasi@yahoo. co. id
Abst ract
The exist ence of t r adit ional mar ket s i n ur ban ar eas f r om t ime t o t i me f ur t her i ncr easi ngl y t hr eat ened by r ampant const r uct ion of moder n mar ket s. Ther ef or e, i n t hi s paper t he aut hor s ar e i nt er est ed t o expl or e some aspect s zoni ng l aws of moder n mar ket s and t r adi t ional mar ket s. Based on t he anal ysi s, zoni ng t r adi t ional mar ket s and moder n mar ket is t he aut hor it y of l ocal gover nment s as st i pul at ed i n Pr esi dent i al Regul at i on Number 112 Year 2007 concer ni ng Set t l ement and Development of Tr adit ional , Moder n Shoppi ng Cent er s and who i s t he embodi ment of Law No. 5 Year 1999 concer ni ng Pr ohi bit ion of Monopol i st i c Pr act i ces and Unf ai r Busi ness Compet i t ion healt hy. If t he est abl i shment of a moder n mar ket viol at es t he pr ovi sions of Law No. 5 Year 1999 and Pr esi dent i al Decr ee. 112 Year 1999 wi l l be r epor t ed t o t he KPPU t o be exami ned. In addit ion, wi t h no est abl i shment of zoning di st r i ct r egul at i ons r egar di ng l ocal gover nment mar ket has r esul t ed i n unl awf ul act s and t her ef or e can be sued by act io popul ar i s l awsui t or ci t izen l aw suit s.
Keywor ds: zoni ng, t r adi t ional mar ket s, moder n mar ket s
Abst rak
Keberadaan pasar t radisional di perkot aan dari wakt u ke wakt u semakin t erancam dengan semakin maraknya pembangunan pasar modern. Oleh karena it u, dalam t ulisan ini penulis t ert arik unt uk mengupas sedikit mengenai aspek hukum zonasi pasar t radisional dan pasar modern. Berdasarkan hasil analisis, zonasi pasar t radisional dan pasar modern merupakan kewenangan pemerint ah daerah sebagaimana diat ur dalam Perat uran Presiden Nomor 112 Tahun 2007 t ent ang Penat aan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj aan dan Toko Modern yang merupakan pengej awant ahan dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 t ent ang Larangan Prakt ek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat . Apabila pendirian pasar modern melanggar ket ent uan dalam UU No. 5 Tahun 1999 dan Perat uran Presiden No. 112 Tahun 1999 maka dapat dilaporkan kepada KPPU unt uk diperiksa. Selain it u, dengan t idak dibent uknya perat uran daerah mengenai zonasi pasar mengakibat kan pemerint ah daerah t elah melakukan perbuat an melawan hukum dan karenanya dapat digugat melalui act io popul ar i s at au ci t i zen l aw sui t .
Kat a Kunci : zonasi, pasar t radisional, pasar modern
Pendahuluan
Dari sudut sej arah hukum, suat u bangsa memasuki t ahap negara kesej aht eraan dit andai dengan berkembangnya hukum yang melindungi pihak yang lemah. Pada periode ini negara mulai memperhat ikan ant ara lain perlindungan t enaga kerj a, perlindungan konsumen. Undang-undang yang berkenaan unt uk perlindungan berbagai pihak t ersebut unt uk mengoreksi in-dust rialisasi yang t idak selalu memberikan
ke-baikan kepada semua golongan masyarakat .1 Sekt or inf ormal t elah diakui sebagai kat up pengaman bagi t enaga kerj a yang pindah dari Sekt or agraria t et api t idak dapat dit ampung oleh Sekt or indust ri, dan merupakan mot or penggerak ekonomi rakyat . Melalui hukum, sekt or ini bisa menj adi f ormal dalam bent uk usaha-usaha kecil. Berbagai usaha kecil ini
1 Mort on J. Horwit z, 1977, The Tr ansf or mat i on of Amer i can Law 1780–1860, Cambri dge: Harvard Uni versit y
dalam t ahap berikut nya dapat t erkait dengan usaha besar, dengan demikian diharapkan re-zeki usaha besar akan menet as j uga kepada usaha kecil. Unt uk mengembangkan mereka perlu dipikirkan bent uk-bent uk perizinan khu-sus unt uk sekt or inf ormal, f asilit as hukum da-lam hubungannya dengan hak milik, kont rak, dan sebagainya. Ket erkait an indust ri besar dengan indust ri-indust ri kecil, bukan saj a ber-dasarkan belas kasihan at au alasan-alasan polit is, t et api sudah menj adi sat u keharusan karena alasan ef isinsi dan t eknis dalam suat u masyarakat indust ri.
Manusia t elah mengenal dan melakukan kegiat an j ual beli sej ak mengenal peradaban sebagai bent uk pemenuhan kebut uhan. Dalam kegiat an j ual beli, keberadaan pasar me-rupakan salah sat u hal yang paling pent ing karena merupakan t empat unt uk melakukan kegiat an t ersebut selain menj adi salah sat u indikat or paling nyat a kegiat an ekonomi ma-syarakat di suat u wilayah.
Sama halnya dengan bangsa lain, bangsa Indonesia t elah lama mengenal pasar khususnya pasar t radisional. Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia pasar berart i t empat orang berj ual beli sedangkan t radisional dimaknai si-kap dan cara berpikir sert a bert indak yang selalu berpegang kepada norma dan adat ke-biasaan yang ada secara t urun t emurun. Berdasarkan art i diat as, maka pasar t radisional adalah t empat orang berj ual beli yang ber-langsung di suat u t empat berdasarkan ke-biasaan. Di Indonesia, keberadaan pasar t ra-disional bukan semat a urusan ekonomi t et api lebih j auh kepada norma, ranah budaya, sekaligus peradaban yang berlangsung sej ak lama di berbagai wilayah di Indonesia.
Sebagai pusat kegiat an sosial ekonomi kerakyat an, pola hubungan ekonomi yang t er-j adi di pasar t radisional menghasilkan t erer-j alin-nya int eraksi sosial yang akrab ant ara gang-pembeli, pedagang-pedagang, dan peda-gang-pemasok yang merupakan warisan sosial represent asi kebut uhan bersosialisasi ant
ar-individu. Fungsi pasar t radisional selanj ut nya menj adi pusat pert emuan, pusat pert ukaran inf ormasi, akt ivit as kesenian rakyat , bahkan
menj adi paket wisat a yang dit awarkan. Dalam pemikiran demikian, pasar t radisional merupa-kan aset ekonomi daerah sekaligus perekat hubungan sosial dalam masyarakat . Dengan de-mikian, pasar t radisional bukan hanya sekadar ruang, akan t et api sebagai lembaga sosial yang t erbent uk karena proses int eraksi sosial dan kebut uhan masyarakat nya.
Di t engah arus modernit as, keberadaan pasar t radisional sebagai suat u budaya bangsa saat ini mencoba unt uk bert ahan dan mengem-bangkan diri agar mampu bersaing di t engah arus t ersebut . Liberalisasi invest asi yang makin t idak t erbendung t elah membuat pasar t radi-sional semakin t erdesak dengan bermunculan-nya pasar modern yang menawarkan lebih ba-nyak keunggulan komodit i, harga sert a kenya-manan. Kenyat aan t ersebut t elah membuat masyarakat Indonesia berpaling dari bagian kebudayaan dan beralih kepada kehidupan modern yang serba prakt is dengan int ensit as int eraksi yang minim.
Pasar t radisional mempunyai f ungsi dan peranan yang t idak hanya sebagai t empat per-dagangan t et api j uga sebagai peninggalan ke-budayaan yang t elah ada sej ak zaman dahulu. Saat ini perlu disadari bahwa pasar t radisional bukan sat u-sat unya pusat perdagangan. Sema-kin banyaknya pusat perdagangan lain sepert i pasar modern, hyper mar t dan Mal l pada gilir-annya dapat membuat pasar t radisional harus mampu bert ahan dalam persaingan agar t idak t ergilas oleh arus modernisasi.2 Berdasarkan penj elasan t ersebut , maka dalam t ulisan ini penulis t ert arik unt uk mengupas sedikit me-ngenai aspek hukum zonasi pasar t radisional dan pasar modern.
Pembahasan
Sebagai akibat semangat liberalisasi da-lam dunia perdagangan, eksist ensi pasarpun
2
Lihat j uga Adri Poesoro, “ Pasar Tradisional Di Era Persaingan Gl obal ” , New sl et t er SMERU, Lembaga
Penel i t i an SMERU No. 22, April -Juni 2007; Sr i Budiyat i “ Quo Vadis Pasar Tr adisional ” , Newsl et t er SMERU No.
22. April -Juni 2007, Lembaga Penel it ian SMERU; Ar ie Suj it o, “ Mal dan Marginal i sasi ” , Jur nal Fl amma, Edisi
kemudian t urut berkembang. Mall-mall, hyper -mar ket maupun mini-market t elah bermuncul-an, bahkan sampai ket ingkat kecamat an. Proses liberalisasi ini pun pada gilirannya melahirkan dua konsep pasar, yait u pasar modern dan pasar t radisional. Pasar modern memberikan f asilit as-f asilit as lebih kepada konsumen diban-dingkan dengan pasar t radisional, mulai dari kenyamanan dan keamanan dalam bert ransaksi, kebersihan, sert a f asilit as-f asilit as pendukung lainnya yang membuat konsumen merasa lebih bet ah berada dalam pasar modern.
Keberadaan pasar t radisional di perkot a-an dari wakt u ke wakt u semakin t era-ancam dengan semakin maraknya pembangunan pasar modern. Kesan pasar t radisional yang panas, semrawut , kot or, becek, t idak aman karena banyak pencopet adalah sangat bert olak be-lakang dengan pasar modern yang ber-AC, nyaman, pelayanan mandiri dan cepat , sert a realt if lebih aman dari pencopet . Kondisi ini menj adi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha para pedagang di pasar t radisional, yang pada umumnya merupakan pedagang kecil dan menengah.
Pada sat u sisi keberadaan pasar modern ini memberikan nilai posit if t ersendiri bagi kon-sumen, akan t et api disisi lain keberadaan pasar modern berhadap-hadapan dengan keberadaan pasar t radisional. Sebagaimana t elah dij elaskan sebelumnya bahwa pasar t radisional mempu-nyai f ungsi dan peranan yang t idak hanya seba-gai t empat perdagangan t et api j uga sebaseba-gai peninggalan kebudayaan yang t elah ada sej ak zaman dahulu.
Pasar sendiri merupakan suat u t empat di mana para penj ual dan pembeli dapat bert emu unt uk melakukan j ual beli barang. Penj ual me-nawarkan barang dagangannya dengan harapan dapat laku t erj ual dan memperoleh uang seba-gai gant inya. Adapun para konsumen (pembeli) akan dat ang ke pasar unt uk berbelanj a dengan membawa uang unt uk membayar sej umlah ba-rang yang dibelinya. Penj ual dan pembeli akan melakukan t awar-menawar harga hingga t erj adi
kesepakat an harga. Set elah kesepakat an harga dapat dilakukan, barang akan berpindah dari t angan penj ual ke t angan pembeli. Pembeli
a-kan menerima barang dan penj ual aa-kan me-nerima uang. Hal ini merupakan pengert ian pasar secara konkrit , art inya pengert ian pasar dalam kehidupan sehari-hari, yait u t empat o-rang bert emu unt uk melakukan suat u t ransaksi j ual beli barang. Seiring berkembangnya zaman dan t eknologi, pasar t idak hanya t erbat as pada pert emuan ant ara penj ual dan pembeli, t et api memiliki art i yang lebih luas. Transaksi j ual beli t idak lagi hanya dilakukan di pasar t et api bisa di t oko, kios, pusat perbelanj aan, supermarket , mall, dan lain sebagainya. Barang yang di-but uhkannya pun dapat j uga dipesan melalui t elepon, surat at au e-mai l , sehingga pert emuan ant ara penj ual dan pembeli unt uk j ual beli barang t idak lagi t erbat as pada suat u t empat t ert ent u saj a. Oleh karena it u pasar merupakan suat u pert emuan ant ara orang yang mau men-j ual dan orang yang mau membeli suat u barang at au j asa t ert ent u dengan harga t ert ent u pula. Sampai dengan saat ini, negara berkem-bang yang memilih j enis kebij akan ekonomi baru yang lebih mengedepankan inst rumen harga, pasar dan persaingan sehat dalam per-dagangan guna meningkat kan dinamika pem-bangunan di masing-masing negaranya. Kebij ak-an ekonomi dengak-an t at ak-anak-an baru ini dit erapkak-an sebagai reaksi at as kemaj uan ekonomi yang lebih dulu memanf aat kan inst rumen harga, pasar dan persaingan sehat dalam membangun dan mengembangkan perekonomian negara. Karakt erist ik kebij akan sepert i inilah yang di-inginkan oleh negara yang lebih mengut amakan kesej aht eraan masyarakat . Namun demikian kebij akan yang lebih mengut amakan inst rumen harga, pasar dan persaingan usaha yang sehat t ersebut dalam kenyat aan sulit unt uk dit erap-kan. Oleh karena it u negara perlu memperhat i-kan dan berharap perlunya harmonisasi ant ara kebij akan pemerint ah di bidang perekonomian dan sekt or-sekt or usaha t ert ent u dengan prin-sip-prinsip hukum persaingan usaha. Dalam persaingan usaha yang sehat , persoalan harga yang diserahkan pada mekanisme pasar me-rupakan persoalan mendasar dan syarat mut lak
usahanya berpedoman pada prinsip-prinsip per-saingan sehat akan menj amin persediaan se-cara cukup kebut uhan konsumen t erhadap produk-produk t ert ent u sert a berupaya lebih meningkat kan kesej aht eraan dan kemakmuran masyarakat .
Kebij akan menj alankan perekonomian sert a sekt or-sekt or usaha t ert ent u pemerint ah berkepent ingan unt uk memperhat ikan apa yang dibut uhkan oleh masyarakat maupun pelaku usaha dalam melakukan kegiat an ekonomi secara kompet it if .3 Pemerint ah berkepent ingan pula mengat ur kehidupan ekonomi berlandas-kan pada corak perekonomian yang ant i mono-poli dengan menj unj ung t inggi prinsip-prinsip persaingan usaha secara sehat . Disamping it u pemerint ah mempunyai kewaj iban pula unt uk mengat ur prakt ek-prakt ek bisnis/ usaha yang berpot ensi merugikan masyarakat dalam suat u perat uran perundang-undangan. Jika int ervensi pemerint ah dapat dilakukan secara sist emat is dan benar akan t erj adi persaingan usaha yang sehat dan waj ar. Pada gilirannya persaingan usaha yang sehat akan memulihkan alokasi sumberdaya yang rasional. Oleh karena it u pu-la, maka pemerint ah harus t erlibat didalamnya unt uk :4mencipt akan l evel of pl aying f iel d yang adil bagi para pelaku usaha; melindungi pihak yang lemah dari eksploit asi ekeonomi dari pihak yang kuat ; pemerint ah sebagai pihak yang menerbit kan perat uran perundangan, ha-rus mengat ur secara j elas, t ransparan; peme-rint ah berwewenang menj at uhkan sanksi pida-na sert a sanksi administ rat if bagi pelanggar undang-undang persaingan usaha; sert a ber-t indak sebagai wasiber-t bagi dunia usaha secara adil, j uj ur dan bert anggung j awab.
Apabila dikait kan dengan maraknya per-t umbuhan pasar modern dewasa ini, maka per-t
3
Lihat j uga Diana Hal i m Koent j oro, “ Penegakan Hukum dan Pert umbuhan Ekonomi di Indoenesia” , Gl or i a Jur i s
Vol . 6 No. 2, Mei-Agust us 2006, Jakart a: FH Unika At ma-j aya, hl m. 166; Hasnat i , “ Perl unya Ref or masi Hukum Pembangunan Ekonomi di Indonesia” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol . 4 No. 1, Tahun 2004, hl m. 84
4
Luci anus Budi Kagramant o, 2009, Harmonisasi Kebij akan dan Hukum Persai ngan Usaha dal am Meni ngkat kan Kesej aht er aan Masyar akat , pi dat o pengukuhan Prof Dr Luci anus Budi Kagramant o SH MH MM sebagai guru besar Il mu Hukum Per saingan Usaha pada Fakul t as Hukum Uni versit as Airl angga, Sabt u 6 Juni 2009
pak bahwa pemerint ah bert ekad unt uk mem-pert ahankan pasar t radisional. Hal ini t ampak dengan lahirnya Perat uran Presiden Nomor 112 Tahun 2007 t ent ang Penat aan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj aan dan Toko Modern. Perpres ini dibent uk unt uk mewuj ud-kan dunia usaha yang kondusif sebagaimana diamanat kan dalam UU No. 5 Tahun 1999 t en-t ang Larangan Praken-t ek Monopoli dan Persaingan usaha Tidak Sehat . Perat uran presiden ini di-lat arbelakangi bahwa dengan semakin berkem-bangnya usaha perdagangan eceran dalam skala kecil dan menengah, usaha perdagangan eceran modern dalam skala besar, maka pasar t radi-sional perlu diberdayakan agar dapat t umbuh dan berkembang serasi, saling memerlukan, saling memperkuat sert a saling mengunt ungkan dan unt uk membina pengembangan indust ri dan perdagangan barang dalam negeri sert a kelan-caran dist ribusi barang, perlu memberikan pe-doman bagi penyelenggaraan pasar t radisional, pusat perbelanj aan dan t oko modern, sert a norma-norma keadilan, saling mengunt ungkan dan t anpa t ekanan dalam hubungan ant ara pemasok barang dengan t oko modern sert a pengembangan kemit raan dengan usaha kecil, sehingga t ercipt a t ert ib persaingan dan keseim-bangan kepent ingan produsen, pemasok, t oko modern dan konsumen.
Pasar yang dimaksud dalam Perpres ini adalah area t empat j ual beli barang dengan j umlah penj ual lebih dari sat u baik yang disebut sebagai pusat perbelanj aan, pasar t ra-disional, pert okoan, mall, plasa, pusat per-dagangan maupun sebut an lainnya(Pasal 1 anga 1 Perat uran Presiden Nomor 112 Tahun 2007). Perpres membedakan pengert ian ant ara pasar t radisional, pusat perbelanj aan dan t oko modern. Pasar t radisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerint ah, Pemerint ah Daerah, Swast a, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah t ermasuk kerj asama dengan swast a dengan t empat usaha berupa t oko, kios, los dan t enda yang dimiliki/ dikelola oleh pedagang kecil,
melalui t awar menawar (Pasal 1 angka 2 Perat uran Presiden Nomor 112 Tahun 2007). Pusat Perbelanj aan adalah suat u area t ert ent u yang t erdiri dari sat u at au beberapa bangunan yang didirikan secara vert ikal maupun horizont al, yang dij ual at au disewakan kepada pelaku usaha at au dikelola sendiri unt uk melakukan kegiat an perdagangan barang, sedangkan t oko modern adalah t oko dengan sist em pelayanan mandiri, menj ual berbagai j enis barang secara eceran yang berbent uk minimarket , supermarket , depar t ment st or e, hipermarket at aupun grosir yang berbent uk perkulakan.
Berkait an dengan pendirian pasar t ra-disional, pusat perbelanj aan dan t oko modern t elah dit ent ukan bahwa mengacu pada Rencana Tat a Ruang Wilayah Kabupat en/ Kot a, dan Rencana Det ail Tat a Ruang Kabupat en/ Kot a, t ermasuk Perat uran Zonasinya. Lebih lanj ut berkait an dengan zonasi pasar t radisional, Pasal 4 huruf a dan b Perpres No. 112 menent ukan bahwa pendirian pusat perbelanj aan dan t oko modern waj ib memperhit ungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan pasar t ra-disional, usaha kecil dan usaha menengah yang ada di wilayah yang bersangkut an dan mem-perhat ikan j arak ant ara hypermarket dengan pasar t radisional yang t elah ada sebelumnya.
Pendirian perkulakan, hyper mar ket , pu-sat perbelanj aan, supermarket , depar t ement st or e, minimarket dan pasar t radisional harus memperhat ikan lokasi-lokasi yang t elah dit en-t ukan dalam Pasal 15. Pendirian perkulakan hanya boleh berlokasi pada at au pada akses sist em j aringan j alan art eri at au kolekt or primer at au art eri sekunder (Pasal 15 ayat (1)). Pendirian hypermarket dan pusat perbelanj aan hanya boleh berlokasi pada at au pada akses sist em j aringan j alan art eri at au kolekt or dan t idak boleh berada pada kawasan pelayanan lokal at au lingkungan di dalam kot a/ perkot a-an(Pasal 15 ayat (2)). Pendirian supermarket dan depart ment st ore t idak boleh berlokasi pada sist em j aringan j alan lingkungan dan t idak
boleh berada pada kawasan pelayanan ling-kungan di dalam kot a/ perkot aan. (Pasal 15 ayat (3)). Minimarket boleh berlokasi pada set iap
sist em j aringan j alan, t ermasuk sist em j aringan j alan lingkungan pada kawasan pelayanan ling-kungan (perumahan) di dalam kot a/ perkot aan (Pasal 15 ayat (4)). Pasar t radisional boleh berlokasi pada set iap sist em j aringan j alan, t ermasuk sist em j aringan j alan lokal at au j alan lingkungan pada kawasan pelayanan bagian kot a/ kabupat en at au lokal at au lingkungan (perumahan) di dalam kot a/ kabupat en (Pasal 15 ayat (6)).
Berdasarkan penj elasan t ersebut di at as, dapat diint erpret asikan bahwa zonasi pasar t radisional dan pasar modern menj adi kewe-nangan pemerint ah daerah unt uk mengat urnya at au dalam pengert ian lain pemerint ah daerah dalam pembuat an rencana t at a ruang harus memperhat ikan mengenai zonasi pasar t radi-sional dan pasar modern. Oleh karena it u dapat dikat akan bahwa zonasi ini merupakan suat u kewaj iban yang dibebankan kepada pemerint ah daerah unt uk menj aga eksist ensi pasar t ra-disional.
Kemudian apabila ket ent uan mengenai zonasi pasar t radisional dengan pasar modern ini dihubungkan peranan KPPU dalam upaya mencegah persaiangan usaha t idak sehat , maka pada dasarnya t erdapat dualisme penyelesaian sengket a bagi pihak yang dirugikan. Pert ama penyelesaian sengket a melalui peran akt if KPPU dan kedua penyelesaian sengket a dengan peng-aj uan gugat an kepada pengadilan. Sebelum membahas mengenai upaya hukum yang dit em-puh melalui KPPU, berikut penulis sampaikan garis besar pengat uran larangan prakt ek mono-poli dan persaingan usaha t idak sehat dalam UU No. 5 Tahun 1999:
Sej ak dimulainya peradaban dan selama masih akan ada peradaban, persaingan t idak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan adanya persaingan j elas mem-berikan manf aat kepada peningkat an kualit as kehidupan manusia. Namun di samping dampak posit if nya persaingan j uga t erkadang menim-bulkan dampak negat if , t erut ama bagi pihak yang kalah dalam persaingan. Namun secara
persaingan adalah suat u keinginan yang j elas j ust ru akan membawa kehidupan umat manusia kearah kemunduran.
Berkait an dengan persaingan usaha se-cara sehat t elah diat ur dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999 t ent ang Larangan Prakt ek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat . Undang–undang ini dilat arbelakangi agar set iap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam sit uasi persaingan yang sehat dan waj ar, sehingga t idak menimbulkan adanya pemusat an kekuat an ekonomi pada pelaku usaha t ert ent u.
Sebelum diberlakukan Undang-undang Persaingan Usaha, Indonesia t elah memiliki perat uran perundang-undangan yang yang me-ngat ur mengenai prakt ek monopoli dan per-saingan usaha t idak sehat , walupun masih t ercecer, bersif at parsial dan kurang kompre-hensif ,5 sepert i t erdapat beberapa pasal di dalam Kit ab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Kit ab Undang-undang Hukum Perdat a, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 t ent ang Perindust rian, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 t ent ang Perseroan Terbat as (PT), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 t ent ang Pasar Modal, Undang-undang Nomor 9 t ahun 1995 t ent ang Usaha Kecil, Undang-undang Nomor 32 Tahun 1997 t ent ang Perdagangan Berj angka Komodit i, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 j o. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 t ent ang Perbankan.6
Mat eri yang t erkandung di dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999 secara umum meng-at ur 6 (enam) hal, yang t erdiri dari: perj anj ian yang dilarang; kegiat an yang dilarang; posisi dominan; Komisi Pengawas Persaingan Usaha; penegakan hukum; sert a ket ent uan lain-lain. Asas yang digunakan sebagai landasan dalam pembent ukan Undang-undang No. 5 Tahun 1999 berdasar ket ent uan Pasal 2 Undang-undang No. 5 Tahun 1999, yang merumuskan: “ pelaku usa-ha di Indonesia dalam menj alankan kegiat an
5
Normi s S. Pakpahan, 1998, Rangkuman Semi nar ELIPS: Penemuan Hukum Per sai ngan: Suat u Layanan Anal i t i k Kompar at i f , Jur nal Hukum Bi sni s, Vol . 4, Jakart a: Fakul
-t as Hukum Unika A-t ma Jaya, hl m. 23.
6 Faisal Basri, 2002, Per ekonomi an Indonesi a: Tant angan dan Har apan Bagi Kebangki t an Ekonomi Indonesi a,
Jakart a: Erl angga, hl m. 355-364.
usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhat ikan keseimbangan ant ara kepent ingan pelaku usaha dan kepent ingan umum, ” sebenarnya adalah demokrasi ekono-mi. Demokrasi ekonomi yang dimaksud oleh Undang-undang No. 5 t ahun 1999 dapat dilihat pada bagian konsiderans Undang-undang No. 5 Tahun 1999 yait u menghendaki adanya kesem-pat an yang sama bagi set iap warga negara unt uk berpart isipasi di dalam proses produksi at au pemasaran barang at au j asa. Penj abaran lebih lanj ut dari asas demokrasi ekonomi pada Undang-undang No. 5 Tahun 1999 dapat dilihat pada Pasal 3 Undang-undang No. 5 Tahun 1999, yang memuat mengenai t uj uan pembent ukan Undang-undang No. 5 Tahun 1999, yait u: Per -t ama, menj aga kepen-t ingan umum dan me-ningkat kan ef esiensi ekonomi nasional sebagai salah sat u upaya unt uk meningkat kan kesej ah-t eraan rakyaah-t ; Kedua, mewuj udkan iklim usaha yang kondusif melalui pengat uran persaingan usaha yang sehat sehingga menj amin adanya kepast ian kesempat an berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; Ket i ga, mencegah prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat yang dit imbulkan oleh pelaku usa-ha; dan Keempat , t ercipt anya ef ekt ivit as dan ef esiensi dalam kegiat an usaha.
Oleh karena it u, Undang-undang No. 5 Tahun 1999 t elah menet apkan beberapa perj anj ian-perj anj ian yang dilarang dilakukan unt uk mencegah suat u persaingan usaha secara t idak sehat . Per t ama, oligopoli (Pasal 4). Ber-dasarkan rumusan Pasal 4 dapat disimpulkan bahwa pasar oligopoli adalah pasar yang dua at au t iga pelakunya memiliki shar e 75% at au lebih. Beberapa perusahaan t ersebut dipandang memiliki kemampuan unt uk mengendalikan har-ga at au memiliki mar ket power . Salah sat u cara unt uk dapat mengendalikan harga adalah me-lalui kebij akan dif erensiasi produk dimana per-usahaan mencipt akan produk yang berbeda dengan produk kompet it ornya sehingga st rukt ur permint aan produk menj adi lebih inelast is.
-nat ion, Pr edat or y Pr i ci ng dan Resal e Pr i ce Mai nt enance. Pr i ce f i xi ng diat ur dalam ket en-t uan Pasal 5. Perj anj ian peneen-t apan harga (pr i ce f i xi ng agr eement ) merupakan salah sat u st ra-t egi yang dilakukan di anra-t ara pelaku usaha yang t uj uannya adalah unt uk menghasilkan laba yang set ingi-t ingginya, dimana dengan adanya pene-t apan harga yang dilakukan di anpene-t ara pelaku usaha (produsen at au penj ual) t elah meniada-kan persaingan dari segi harga t erhadap produk yang mereka j ual at au pasarkan, yang kemudian dapat berakibat kepada consumer ’ s sur pl us yang dimiliki oleh konsumen dipaksa beralih ke produsen at au penj ual.
Diskriminasi harga/pr i ce di scr i mi nat i on diat ur dalam ket ent uan Pasal 6. Ket ent uan Pa-sal 6 melarang set iap perj anj ian diskriminasi har-ga t anpa memperhat ikan t ingkat an yang ada pada diskriminasi harga, dimana bunyi dari pasal t ersebut ant ara lain: “ Pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian yang mengakibat -kan pembeli yang sat u harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus di-bayar oleh pembeli lain unt uk barang dan/ at au j asa yang sama. ” Dengan adanya prakt ek yang sepert i diat ur Pasal 6 dapat menyebabkan pembeli t ert ent u (dimana pembeli t ersebut merupakan pelaku usaha j uga) yang t erkena kewaj iban harus membayar dengan harga yang lebih mahal dibandingkan pembeli lain (yang j uga merupakan pelaku usaha) yang sama-sama berada dalam pasar yang sama, dapat menye-babkan pembeli yang mengalami diskrimisasi t ersebut t ersingkir dari pasar.
Pr edat or y Pr i ci ng sebagaimana diat ur da-lam ket ent uan Pasal 7, melarang sesama pelaku usaha unt uk membuat perj anj ian di ant ara pelaku usaha unt uk menet apkan harga di ba-wah harga pasar (pr edat or y pr i cing) yang dapat mengakibat kan t erj adinya persaingan usaha t idak sehat . Namun di dalam pasal t ersebut def enisi harga pasar akan sangat kabur bila dit erapkankarena harga pasar bukanlah me-rupakan sesuat u yang past i dalam nilai, j uga bervariasi dalam wakt u yang berbeda.
Resal e Pr i ce Maint enance diat ur dalam ket ent uan Pasal 8, dimana pelaku usaha di larang membuat perj anj ian dengan pelaku
usa-ha lain yang memuat persyarat an bahwa pene-rima barang dan/ at au j asa t idak akan menj ual at au memasok kembali barang dan/ at au j asa yang dit erimanya, dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang t elah diperj anj ikan sehingga dapat mengakibat kan t erj adinya per-saingan usaha t idak sehat .
Ket i ga, pembagian wilayah/ mar ket divi -si on (Pasal 9). Pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bert uj uan unt uk membagi wilayah pe-masaran at au alokasi pasar t erhadap barang dan/ at au j asa sehingga dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan persaingan usaha t idak sehat . Ket ent uan yang mengat ur mengenai perj anj ian pembagian wilayah dalam ket ent uan Pasal 9 merupakan bent uk peng-at uran secara Rul e of Reason, sehingga sebe-lum mengakibat kan t erj adinya prakt ik monopoli dan/ at au persaingan usaha t idak sehat , pelaku usaha belum bisa dij at uhi hukuman ber-dasarkan pasal ini.
Keempat , Pemboikot an (Pasal 10). Pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian, dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat meng-halangi pelaku usaha lain unt uk malakukan usaha yang sama, baik unt uk t uj uan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Selain it u, pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian dengan pelaku usaha pesaingnya, unt uk meno-lak menj ual set iap barang dan/ at au j asa dari pelaku usaha lain sehingga perbuat an t ersebut : merugikan at au dapat diduga akan merugikan pelaku usaha lain at au membat asi pelaku usaha lain dalam menj ual at au membeli set iap barang dan/ at au j asa dari pasar. Ket ent uan Pasal 10 ayat (1) dan (2) dirumuskan secara Per Se oleh pembuat undang-undang, sehingga ket ika ada pelaku usaha yang melakukan perbuat an di-sebut kan oleh pasal t erdi-sebut t anpa harus mem-perhat ikan akibat yang muncul dari perbuat an t ersebut , pelaku usaha sudah dapat dij at uhi sanksi hukuman.
Kel i ma, kart el (Pasal 11). Pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian, dengan pelaku
j asa, yang dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan persaingan usaha t idak sehat . Perumusan kart el secara Rul e of Reason oleh pembent uk undang-undang dapat diart ikan pelaku usaha dapat membuat perj anj ian de-ngan pelaku usaha pesaingnya yang bermaksud unt uk mempengaruhi harga dengan mengat ur produksi at au pemasaran suat u barang at au j asa asalkan t idak mengakibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan persaingan usaha t idak sehat .
Keenam, Tr ust diat ur dalam ket ent uan Pasal 12, yang mengat ur bahwa pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian dengan mem-bent uk gabungan perusahaan at au perseroan yang lebih besar, dengan t et ap menj aga dan mempert ahankan kelangsungan hidup masing-masing perusahaan at au perseroan anggot anya yang bert uj uan unt uk mengont rol produksi dan/ at au pemasaran at as barang dan/ at au j asa, sehingga dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ik monopoli dan/ at au persaingan usaha t idak sehat .
Ket uj uh, oligopsoni diat ur dalam ket en-t uan Pasal 13 yang mengaen-t ur bahwa pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian dengan pelaku usaha lain yang bert uj uan unt uk secara bersama-sama menguasai pembelian at au pe-nerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga at as barang dan/ at au j asa dalam pasar bersangkut an, yang dapat mengakibat kan t er-j adinya prakt ek monopoli dan/ at au persaingan usaha t idak sehat . Dalam hal ini, pelaku usaha pat ut diduga at au dianggap secara bersama-sama menguasai pembelian at au penerimaan pasokan, apabila 2 (dua) at au 3 (t iga) pelaku usaha at au kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (t uj uh puluh lima persen) pangsa pasar sat u j enis barang at au j asa t ert ent u.
Kedel apan, int egrasi vert ikal (Pasal 14). Pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian de-ngan pelaku usaha lain yang bert uj uan unt uk menguasai produksi sej umlah produk yang t ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan/ at au j asa t ert ent u yang mana set iap
rang-kaian produksi merupakan hasil pengolahan at au proses lanj ut an, baik dalam sat u rangkaian langsung maupun t idak langsung, yang dapat
mengakibat kan t erj adinya persaingan usaha t i-dak sehat dan/ at au merugikan masyarakat . Rumusan Pasal 14 ini dilakukan secara Rul e of Reason, dapat diart ikan pelaku usaha sebenar-nya t idak dilarang membuat perj anj ian dengan pelaku usaha lain yang bert uj uan unt uk me-nguasai produksi sej umlah produk yang t er-masuk dalam rangkaian produksi barang at au j asa t ert ent u yang mana set iap rangkaian pro-duksi merupakan hasil pengolahan at au proses lanj ut an, baik dalam sat u rangkaian langsung maupun t idak langsung sepanj ang t idak meng-akibat kan t erj adinya persaingan usaha t idak sehat at au merugikan kepent ingan masyarakat .
Kesembi l an, perj anj ian t ert ut up yang da-pat dikualif ikasikan menj adi excl usi ve di st r i bu-t i on agr eemenbu-t , bu-t ying agr eemenbu-t dan ver bu-t i cal agr eement on di scount . excl usi ve di st r i but ion agr eement diat ur dalam ket ent uan Pasal 15 ayat (1), dimana pelaku usaha dilarang mem-buat perj anj ian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyarat an bahwa pihak yang mene-rima barang dan/ at au j asa hanya akan mema-sok at au t idak memamema-sok kembali barang dan/ at au j asa t ersebut kepada pihak t ert ent u dan/ at au pada t empat t ert ent u. Pasal 15 ayat (1) dirumuskan secara Per Se, sehingga ket ika pe-laku usaha membuat perj anj ian dengan pepe-laku usaha lain yang memuat persyarat an bahwa pihak yang menerima barang dan/ at au j asa hanya akan memasok at au t idak akan memasok kembali barang dan at au j asa t ersebut kepada pihak t ert ent u dan/ at au pada t empat t ert ent u, t anpa harus menunggu munculnya akibat dari perbuat an t ersebut , pelaku usaha yang mem-buat perj anj ian t ersebut sudah langsung dapat dikenakan pasal ini. Tyi ng agr eement diat ur dalam Pasal 15 ayat (2) yang mengat ur bahwa pelaku usaha dilarang membuat perj anj ian dengan pihak lain yang memuat persyarat an bahwa pihak yang menerima barang dan/ at au j asa t ert ent u harus bersedia membeli barang dan/ at au j asa lain dari pelaku usaha pemasok. perumusan pasal yang mengat ur mengenai t yi ng agr eement dirumuskan secara Per Se,
harus melihat akibat dari prakt ek t ersebut muncul, pasal ini sudah secara sempurna dapat dikenakan kepada pelaku usaha yang me-langgarnya.
Ver t i cal agr eement on di scount diat ur dalam ket ent uan Pasal 15 ayat (3). Pelaku usa-ha dilarang membuat perj anj ian mengenai harga at au pot ongan harga t ert ent u at as barang dan/ at au j asa yang memuat persyarat an bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan/ at au j asa dari usaha pemasok harus bersedia mem-beli barang dan/ at au j asa lain dari pelaku usaha pemasok; at au t idak akan membeli barang dan/ at au j asa yang sama at au sej enis dari pelaku usaha lain yang menj adi pesaing dari pelaku usaha pemasok. Dengan kat a lain j ika pelaku usaha ingin mendapat kan harga diskon unt uk produk t ert ent u yang dibelinya dari pelaku usaha lain, pelaku usaha harus bersedia membeli produk lain dari pelaku usaha t ersebut at au t idak akan membeli produk yang sama at au sej enis dari pelaku usaha lain yang menj adi pesaing.
Kesepul uh, perj anj ian dengan pihak luar negeri. Pelaku usaha dilarang membuat per-j anper-j ian dengan pihak lain di luar negeri yang memuat ket ent uan yang dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ik monopoli dan/ at au persaing-an usaha t idak sehat . Dapat dikat akpersaing-an pasal ini mengat ur suat u keadaan khusus apabila pelaku usaha di dalam negeri melakukan perj anj ian dengan pihak pelaku usaha di luar negeri. Kare-na Pasal 1 angka 5 t idak menj angkau pelaku usaha yang berkant or pusat diluar negeri dan t idak melakukan akt if it as usahanya di Indo-nesia, walaupun akt if it as usahanya menimbul-kan dampak di pasar Indonesia.
Kemudian ket ent uan Pasal 17 sampai dengan Pasal 24 mengat ur mengenai kegiat an-kegiat an yang dilarang unt uk dilakukan oleh pelaku usaha ket ika mereka menj alankan usa-hanya. Oleh Undang-undang kegiat an yang di larang t ersebut dibagi menj adi empat bagian.
Per t ama, monopoli. Pasal 1 ayat (1) Un-dang-undang No. 5 Tahun 1999 mendef enisikan
monopoli sebagai penguasaan at as produksi dan/ at au pemasaran barang dan/ at au peng-gunaan j asa t ert ent u oleh sat u pelaku usaha
at au sat u kelompok pelaku usaha. pelaku usaha pat ut diduga at au dianggap melakukan mono-poli apabila: barang dan/ at au j asa yang ber-sangkut an belum ada subst it usinya; at au meng-akibat kan pelaku usaha lain t idak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan/ at au j asa yang sama; at au sat u pelaku usaha at au sat u kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar sat u j enis barang at au j asa t ert ent u.
Paramet er yang digunakan oleh Undang-undang No. 5 Tahun 1999 unt uk menget ahui pelaku usaha melakukan monopoli at au t idak, yang t erdapat pada Pasal 17 ayat (2), dalam implement asinya akan menimbulkan ket idak past ian, t erut ama dalam hal pencat uman kat a “ at au” sebagai kat a penghubung pada set iap kondisi yang dianggap sebagai ukuran dari monopoli, sehingga membawa konsekwensi dengan digunakannya salah sat u ukuran yang ada (sepert i mengakibat kan pelaku usaha lain t idak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan/ at au j asa yang sama) pelaku usaha dapat dianggap melakukan monopoli, padahal pelaku usaha t ersebut mungkin t idak menguasai lebih dari 50% pangsa pasar sat u j enis barang at au j asa t ert ent u.
Pemberian j udul Pasal 17 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 dengan j udul monopoli, dit af -sirkan oleh masyarakat luas bahwa monopoli merupakan suat u yang dilarang. Padahal se-sungguhnya apabila dibaca isi dari pasal 17 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 sama sekali t idak melarang monopoli, t et api yang dilarang adalah penyalahgunaan posisi monopoli yang dimiliki oleh pelaku usaha unt uk melakukan t indakan-t indakan ant i persaingan t ersebut .
Kedua, monopsoni. Pasal 18 ayat (1) pada dasarnya mengat ur bahwa pelaku usaha me-nguasai penerimaan pasokan at au menj adi pembeli t unggal at as barang dan/ at au j asa da-lam pasar yang bersangkut an dan pada ayat dua, pasal ini menyat akan seseorang at au sekelompok pelaku usaha dianggap melakukan monopsoni manakala menguasai lebih dari 50%
Ket i ga, penguasaan pasar. Bagian ket iga dari Bab IV (mengenai Kegiaket an yang Di -larang) memasukan beberapa t indakan yang mungkin dilakukan oleh pelaku usaha ket ika memiliki penguasaan yang cukup besar di da-lam pasar, yait u: menolak dan/ at au mengha-langi pelaku usaha t ert ent u unt uk melakukan kegiat an usaha yang sama pada pasar ber-sangkut an; menghalangi konsumen at au pelang-gan pelaku usaha pesaingnya unt uk t idak me-lakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaing; membat asi peredaran dan/ at au pen-j ualan barang dan/ at au pen-j asa pada pasar yang bersangkut an; melakukan prakt ek diskriminasi t erhadap pelaku usaha t ert ent u; melakukan pemasokan barang dan/ at au j asa dengan cara melakukan j ual rugi at au menet apkan harga yang sangat rendah dengan maksud unt uk me-nyingkirkan at au memat ikan usaha pesaingnya di pasar bersangkut an; melakukan kecurangan dalam menet apkan biaya produksi dan biaya lainnya yang menj adi bagian dari komponen harga barang dan/ at au j asa.
Keempat , persekongkolan. Persekongkol-an at au j uga dapat disebut sebagai konspirasi usaha didef enisikan oleh Pasal 1 ayat (8) adalah sebagai bent uk kerj asama yangdilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud unt uk menguasai pasar bersangkut an bagi kepent ingan pelaku usaha yang bersekong-kol. Persekongkolan (conspi r acy) merupakan salah sat u kegiat an yang dilarang. Undang-un-dang No. 5 Tahun 1999 kemudian membagi per-sekongkolan menj adi t iga bent uk, yait u: Perse-kongkolan unt uk mengat ur at au menent ukan pemenang t ender (Pasal 22); Persekongkolan unt uk mendapat kan inf ormasi kegiat an usaha pesaingnya yang dapat diklasif ikasikan sebagai rahasia perusahaan (Pasal 23); dan Perse-kongkolan unt uk menghambat produksi at au pemasaran barang at au j asa pelaku usaha pesaingnya dengan maksud agar barang at au j asa yang dit awarkan at au dipasok di pasar bersangkut an menj adi kurang baik dari j umlah, kualit as, maupun ket epat an wakt u yang di
persyarat kan (Pasal 24).
Unt uk mencegah persaingan t idak sehat , UU No. 5 Tahun 1999 j uga mengat ur t ent ang
posisi dominan. Posisi dominan didef enisikan oleh Pasal 1 ayat (4) sebagai suat u keadaan di mana pelaku usaha t idak mempunyai pesaing yang berart i di pasar bersangkut an dalam kait -an deng-an p-angsa pasar y-ang dikuasai, at au pelaku usaha mempunyai posisi t ert inggi di ant ara pesaingnya di pasar bersangkut an dalam kait an dengan kemampuan keuangan, kemam-puan akses pada pasokan at au penj ualan, sert a kemampuan unt uk menyesuaikan pasokan at au permint aan barang at au j asa t ert ent u.
Apabila dibandingkan dengan monopoli, pada pasar yang berst rukt ur monopoli, pelaku usaha yang ingin masuk ke dalam pasar akan mendapat kan rint angan yang cukup besar dari si pelaku usaha yang memiliki kedudukan monopoli, t et api unt uk pasar yang t erdapat pelaku usaha yang memiliki kedudukan posisi dominan didalamnya, hambat an yang dibuat unt uk mencegah pelaku usaha lain yang hendak masuk ke dalam pasar oleh pelaku usaha yang memiliki kedudukan posisi dominan t idak sebesar yang dibuat oleh pelaku usaha yang memiliki kedudukan monopoli, at au dengan kat a lain, rint angan yang dicipt akan oleh pelaku usaha dominan unt uk mencegah pelaku usaha lain unt uk masuk kedalam pasar yang sama t idak sebesar rint angan yang dicipt akan oleh pelaku usaha yang memiliki kedudukan monopoli. Selain it u, kemampuan pelaku usaha yang memiliki kedudukan posisi dominan (si posisi dominan) dalam mengont rol (menaikan at au menurunkan) harga t idak sekuat yang dimiliki oleh pelaku usaha yang memiliki ke-dudukan monopoli. Dimana dalam menent ukan harga si posisi dominan harus memperhat ikan reaksi konsumen at as t indakan yang diambil-nya, karena mungkin at as t indakannya t ersebut dapat memicu konsumen si posisi dominan berpindah kepada pelaku usaha lain yang lebih kecil yang berusaha menj adi pesaing dari si posisi dominan. Sedangkan bagi pelaku usaha yang memiliki kedudukan monopoli (si mono-poli) t idak perlu memperhat ikan reaksi konsu-men ket ika si monopoli harus konsu-menaikan harga,
me-naikan harga, karena sebelumnya si monopoli t elah membuat rint angan-rint angan yang men-cegah pelaku usaha lain masuk ke dalam pasar si monopoli, sehingga membuat yang ada di dalam pasar t ersebut hanya si monopoli saj a yang menj alankan usahanya.7
Hukum persaingan usaha pada dasarnya t idak mengharamkan bagi pelaku usaha memi-liki kedudukan posisi dominan di dalam pasar, asalkan t idak menyalahgunakan posisi yang dimilikinya unt uk melakukan hal-hal yang t elah di sebut kan di at as, sebagaimana diat ur dalam ket ent uan Pasal 25 ayat (1) dimana pelaku usa-ha dilarang menggunakan posisi dominan baik secara langsung maupun t idak langsung unt uk: menet apkan syarat -syarat perdagangan dengan t uj uan unt uk mencegah dan/ at au menghalangi konsumen memperoleh barang dan/ at au j asa yang bersaing, baik dari segi harga maupun dari segi kualit as; at au membat asi pasar dan pe-ngembangan t eknologi; at au menghambat pela-ku usaha lain yang berpot ensi menj adi pesaing unt uk memasuki pasar bersangkut an.
Persaingan memberikan manf aat yang t idak sedikit bagi kehidupan manusia, akan t e-t api une-t uk menghindari sisi negae-t if dari per-saingan perlu dibuat suat u at uran main yang j e-las, sehingga persaingan dapat berj alan dengan baik at au dengan kat a lain t ercipt a suat u l evel pl ayi ng f iel d, yang membuat pelaku-pelaku usaha kecil t et ap dapat menj alankan usaha disamping pelaku-pelaku usaha besar t et ap dapat menj alankan usahanya j uga.
Kemudian unt uk mengawal UU No. 5 Tahun 1999 dibent uklah Komisi Pengawas Per-saingan Usaha (KPPU) berdasar Kepres No. 75 Tahun 1999 t ent ang Komisi Pengawas Persaing-an Usaha. BerdasarkPersaing-an pasal 35 UU No. 5 Tahun 1999, KPPU mempunyai t ugas: Per t ama, me-lakukan penilaian t erhadap perj anj ian yang dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ik mono-poli dan at au persaingan usaha t idak sehat se-bagaimana diat ur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16; Kedua, melakukan penilaian t erhadap
7 Dit ha Wiradi put r a, 2004, Modul unt uk Ret ool i ng Pr ogr am under Empl oyee Gr aduat es at Pr i or i t y Di si ci pl i nes under TPSDP (Technol ogy and Pr of esi onal Ski l l s Devel opment Sect or Pr oj ect ) DIKTI, Tanggal 14 Sept ember 2004,
Ja-kart a.
kegiat an usaha dan at au t indakan pelaku usaha yang dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat sebagaimana diat ur dalam Pasal 17 sam-pai dengan Pasal 24; Ket i ga, melakukan nilaian t erhadap ada at au t idak adanya pe-nyalahgunaan posisi dominan yang dapat meng-akibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat sebagaimana diat ur dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 28; Keempat , mengambil t indakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diat ur dalam Pasal 36; Kel i ma, memberikan saran dan per-t imbangan per-t erhadap kebij akan Pemerinper-t ah yang berkait an dengan prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat ; Keenam, me-nyusun pedoman dan at au publikasi yang ber-kait an dengan Undang-undang ini; dan Ket uj uh, memberikan laporan secara berkala at as hasil kerj a Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat .
Selain it u KPPU mempunyai kewenangan: Per t ama, menerima laporan dari masyarakat dan at au dari pelaku usaha t ent ang dugaan t erj adinya prakt ek monopoli dan at au per-saingan usaha t idak sehat ; Kedua, melakukan penelit ian t ent ang dugaan adanya kegiat an usa-ha dan at au t indakan pelaku usausa-ha yang dapat mengakibat kan t erj adinya prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat ; Ket i ga, melakukan penyelidikan dan at au pemeriksaan t erhadap kasus dugaan prakt ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat yang dilapor-kan oleh masyarakat at au oleh pelaku usaha at au yang dit emukan oleh Komisi sebagai hasil dari penelit iannya; Keempat , menyimpulkan hasil penyelidikan dan at au pemeriksaan t en-t ang ada aen-t au en-t idak adanya praken-t ek monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat ; Kel i ma, memanggil pelaku usaha yang diduga t elah melakukan pelanggaran t erhadap ket ent uan undang-undang ini; Keenam, memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan set iap orang yang dianggap menget ahui pelanggaran t er-hadap ket ent uan undang-undang ini; Ket uj uh,
f , yang t idak bersedia memenuhi panggilan Komisi; Kedel apan, memint a ket erangan dari inst ansi Pemerint ah dalam kait annya dengan penyelidikan dan at au pemeriksaan t erhadap pelaku usaha yang melanggar ket ent uan un-dang-undang ini; Kesembi l an, mendapat kan, menelit i, dan at au menilai surat , dokumen, at au alat bukt i lain guna penyelidikan dan at au pemeriksaan; Kesepul uh, memut uskan dan me-net apkan ada at au t idak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain at au masyarakat ; Ke-sebel as, memberit ahukan put usan Komisi kepa-da pelaku usaha yang diduga melakukan prakt ik monopoli dan at au persaingan usaha t idak sehat ; dan Keduabel as, menj at uhkan sanksi be-rupa t indakan administ rat if kepada pelaku usaha yang melanggar ket ent uan Undang-un-dang ini.
Keberadaan KPPU diharapkan menj amin: konsumen t idak lagi menj adi korban posisi produsen sebagai price t aker; Keragaman pro-duk dan harga dapat memudahkan konsumen menent ukan pilihan; Ef isiensi alokasi sumber daya alam; Konsumen t idak lagi diperdaya dengan harga t inggi t et api kualit as seadanya, yang lazim dit emui pada pasar monopoli; Kebut uhan konsumen dapat dipenuhi karena produsen t elah meningkat kan kualit as dan layanannya; Menj adikan harga barang dan j asa ideal, secara kualit as maupun biaya produksi; Membuka pasar sehingga kesempat an bagi pelaku usaha menj adi lebih banyak; dan mencipt akan inovasi dalam perusahaan.
Apabila UU No. 5 Tahun 1999 ini di-hubungkan dengan f enomena merebaknya pasar modern dit engah eksist ensi pasar t radisional maka dapat dij elaskan sebagai berikut . Pada dasarnya pendirian pasar modern yang bdekat an dengan pasar t radisional t idaklah t er-masuk dalam kegiat an yang dilarang sebagai-mana diat ur dalam UU No. 5 Tahun 1999 se-panj ang t idak melakukan perbuat an melawan hukum. Namun demikian, perlu diingat disini, bahwa KPPU merupakan garda t erdepan dalam penegakkan UU No. 5 Tahun 1999 yang
men-dasarkan pada demokrasi ekonomi yang meng-hendaki adanya kesempat an yang sama bagi set iap warga negara unt uk berpart isipasi di
dalam proses produksi dan pemasaran barang dan at au j asa, dalam iklim usaha yang sehat , ef ekt if , dan ef isien sehingga dapat mendorong pert umbuhan ekonomi dan bekerj anya ekonomi pasar yang waj ar, sehingga pada gilirannya set iap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam sit uasi persaingan yang sehat dan waj ar, sehingga t idak menimbulkan adanya pemusat an kekuat an ekonomi pada pelaku usa-ha t ert ent u, dengan t idak t erlepas dari kesepa-kat an yang t elah dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia t erhadap perj anj ian-per-j anian-per-j ian int ernasional. Oleh karena it u, pihak yang dirugikan sebagai akibat pendirian pasar modern yang dekat dengan pasar t radisional dapat mengaj ukan laporan kepada KPPU unt uk dit elit i lebih lanj ut . Berkait an dengan t at a cara penyelesaian sengket a oleh KPPU, dapat dij elaskan sebagai berikut .
Set iap orang yang menget ahui t elah t erj adi at au pat ut diduga t elah t erj adi pelang-garan t erhadap undang-undang ini dapat me-laporkan secara t ert ulis kepada Komisi dengan ket erangan yang j elas t ent ang t elah t erj adinya pelanggaran, dengan menyert akan ident it as pelapor. Berdasarkan laporan, Komisi waj ib melakukan pemeriksaan pendahuluan, dan da-lam wakt u seda-lambat -da-lambat nya 30 (t iga puluh) hari set elah menerima laporan, Komisi waj ib menet apkan perlu at au t idaknya dilakukan pemeriksaan lanj ut an selambat -lambat nya 60 (enam puluh) hari sej ak dilakukan pemeriksaan lanj ut an dan dapat diperpanj ang paling lama 30 (t iga puluh) hari. Apabila dipandang perlu Komisi dapat mendengar ket erangan saksi, saksi ahli, dan at au pihak lain. Selain it u, Ko-misi dapat melakukan pemeriksaan t erhadap pelaku usaha apabila ada dugaan t erj adi pe-langgaran Undang-undang ini walaupun t anpa adanya laporan. Pelaku usaha dilarang menolak diperiksa, menolak memberikan inf ormasi yang diperlukan dalam penyelidikan dan at au pe-meriksaan, at au menghambat proses penyeli-dikan dan at au pemeriksaan. Komisi waj ib memut uskan t elah t erj adi at au t idak t erj adi
Komisi harus dibacakan dalam suat u sidang yang dinyat akan t erbuka unt uk umum dan segera diberit ahukan kepada pelaku usaha. Da-lam wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak pelaku usaha menerima pemberit ahuan put usan Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (4), pelaku usaha waj ib melaksanakan put usan t er-sebut dan menyampaikan laporan pelaksana-annya kepada Komisi. Apabila t idak dij alankan oleh pelaku usaha, Komisi menyerahkan put us-an t ersebut kepada penyidik unt uk dilakukus-an penyidikan sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku. Put usan Komisi merupakan bukt i permulaan yang cukup bagi penyidik unt uk melakukan penyidikan.
Pelaku usaha dapat mengaj ukan keberat an kepada Pengadilan Negeri selambat lambat -nya 14 (empat belas) hari set elah menerima pemberit ahuan put usan t ersebut . Pelaku usaha yang t idak mengaj ukan keberat an dianggap menerima put usan Komisi. Pengadilan Negeri harus memeriksa keberat an pelaku usaha dalam wakt u 14 (empat belas) hari sej ak dit erimanya keberat an t ersebut dan harus memberikan put usan dalam wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak dimulainya pemeriksaan keberat an t ersebut . Pihak yang keberat an t erhadap put usan Peng-adilan Negeri, dalam wakt u 14 (empat belas) hari dapat mengaj ukan kasasi kepada Mahka-mah Agung Republik Indonesia. MahkaMahka-mah Agung harus memberikan put usan dalam wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak permohonan kasasi dit erima. Apabila t idak t erdapat keberat an, put usan Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (3) t elah mempunyai kekuat an hukum yang t et ap dan dimint akan penet apan eksekusi kepada Pengadilan Negeri.
Selain it u, penyelesaian sengket a j uga dapat dilakukan melalui pengadilan dengan cara mengaj ukan gugat an perdat a. Hal ini di sebabkan Perpres No. 112 Tahun 2007 mem-bebankan zonasi pasar kepada pemerint ah dae-rah. namun demikian, pengaj uan gugat an ber-kait an dengan zonasi pasar ini berbeda dengan pengaj uan gugat an biasa. Perlu diket ahui,
bahwa pengaj uan t unt ut an hak dalam perkara perdat a dapat dilakukan melalui mekanisme pengaj uan gugat an biasa, cl ass act ion, l egal
st andi ng (hak gugat LSM), maupun act io po-pul ar i s. Sebagai suat u gambaran unt uk dapat membedakan masing-masing mekanisme peng-aj uan gugat an, dij elaskan sebagai berikut . 8
Gugat an biasa yait u penggugat dan t er-gugat merupakan subyek hukum, baik orang maupun badan hukum dengan dalil t unt ut an hak berupa wanprest asi maupun perbuat an me-lawan hukum. Tunt ut annya adalah gant i kerugi-an maupun melakukkerugi-an at au t idak melakukkerugi-an perbuat an t ert ent u kepada t ergugat , sehingga dalam hal ini penggugat harus mempunyai perbuat an dan kerugian yang t erj adi sebagai akibat perbuat an t ergugat .
Cl ass act ion diaj ukan manakala j umlah penggugat nya adalah banyak (numer ous), sedangkan yang mengaj ukan gugat an adalah wakil kelompok, yang mewakili kepent ingannya sendiri maupun anggot a kelompoknya, dengan t unt ut an berupa gant i kerugian. Pihak yang dapat digugat adalah seluruh subyek hukum, baik orang maupun badan hukum t ermasuk pemerint ah.
Gugat an LSM at au l egal st andi ng merupa-kan memerupa-kanisme pengaj uan gugat an oleh LSM sebagai akibat pelanggaran at au adanya per-buat an melawan hukum yang dilakukan pihak lain yang merupakan kegiat an perlindungan yang dilakukan LSM t ersebut sebagaimana d iat ur dalam anggaran dasar.
Gugat an cit i zen l awsuit at au act io popu-l ar i s, merupakan gugat an yang diaj ukan opopu-leh seorang at au lebih warga negara at as nama seluruh warga negara yang dit uj ukan kepada negara, dalam hal ini penyelenggara negara, sebagai akibat adanya perbuat an melawan hukum, pada umumnya berupa penelant aran hak-hak warga negara, dengan maksud agar segera dibent uk at uran hukum, sehingga hak-hak warga negara dapat t erlindungi.
Apabila mekanisme pengaj uan gugat an t ersebut dihubungkan dengan zonasi pasar yang menj adi kewaj iban pemerint ah daerah sebagai-mana diasebagai-manat kan dalam Perpres No. 112
8 Handr i Wirast ut i Sawit r i dan Rahadi w asi Bi nt oro, 2010,
“ Tunt ut an Hak dal am Per si dangan Perkar a Perdat a” ,
Jur nal Di nami ka Hukum Edi si Mei 2010, Purwokert o:
hun 2007, maka mekanisme pengaj uan gugat an yang dapat dilakukan adalah berupa gugat an Act io popul ar i s at au cit i zen l aw sui t . Beberapa sarj ana berpendapat bahwa Act io popul ar i s at au ci t i zen l aw sui t hampir sama dengan act io popul ar i s yang dikenal di common l aw. Menurut Gokkel9, act i o popul ar i s at au ci t i zen l awsui t adalah gugat an yang dapat diaj ukan oleh set iap orang, t anpa ada pembat asan, dengan pe-ngat uran oleh negara. Menurut Kot enhagen-Edzes10, dalam Act i o popul ar i s at au ci t izen l aw sui t set iap orang dapat menggugat at as nama kepent ingan umum dengan menggunakan Pasal 1401 Ni ew BW (Pasal 1365 BW). Dari kedua pendapat t ersebut dapat disimpulkan bahwa Act io popul ar i s at au ci t izen l aw sui t adalah suat u gugat an yang dapat diaj ukan oleh set iap orang t erhadap suat u perbuat an melawan hu-kum, dengan mengat asnamakan kepent ingan umum, berdasarkan peerat uran perundangan yang mengat ur adanya prosedur t ersebut .
Act io popul ar i s at au ci t i zen l aw sui t sen-diri merupakan akses orang perorangan warga negara unt uk kepent ingan publik t ermasuk kepent ingan lingkungan mengaj ukan gugat an dipengadilan guna menunt ut agar pemerint ah melakukan penegakan hukum yang diwaj ibkan kepadanya at au unt uk memulihkan kerugian publik yang t erj adi. Pada dasarnya Act i o popu-l ar i s at au ci t i zen popu-l aw sui t merupakan suat u hak gugat warga negara yang dimaksudkan unt uk melindungi warga negara dari kemungkinan t erj adinya kerugian sebagai akibat dari t in-dakan at au pembiaran omisi dari negara at au ot orit as negara. Menurut pendapat Michael D Axline11, Act i o popul ar i s at au ci t i zen l aw sui t memberikan kekuat an kepada warga negara unt uk menggugat pihak t ert ent u (privat ) yang melanggar undang-undang selain kekuat an ke-pada warga negara unt uk menggugat negara
9 Sundari, 2002, Pengaj uan Gugat an Secar a Cl ass Act i on (Suat u St udi Per bandi ngan dan pener apannya di Indo-nesi a), Yogyakart a: Universit as At ma Jaya Yogyakar t a,
hl m. 12.
10 Loc. ci t .
11 Mi chael D Axl ine. h dal am www. l egal -dail y-t houht . i nf o/
2009/ 02/ ant ar a-cit izen-l aw -suit -dan-cl ass-act ion/ 2, 29 Februari 2009, Ant ar a Ci t i zen Law sui t dan Cl ass Act i on,
di akses pada t anggal 3 Maret 2009
dan lembaga-lembaga (f ederal) yang melaku-kan pelanggaran Undang-undang at au yang gagal dalam memenuhi kewaj ibannya dalam pelaksanaan Undang-undang.
Sebagai cont oh dalam mekanisme peng-aj uan gugat an ini adalah pengpeng-aj uan gugat an at as nama Munir cs at as penelant aran negara t erhadap t enaga kerj a Indonesia (TKI) migran yang dideport asi di Nunukan dikabulkan Maj elis Hakim Jakart a Pusat dengan Ket ua Maj elis Andi Samsan Nganro. Hasilnya adalah UU Nomor 39 Tahun 2004 t ent ang Penempat an dan perlin-dungan Tenaga Kerj a Indonesia. Ini merupakan gugat an Act io popul ar i s at au ci t izen l aw sui t pert ama yang muncul di Indonesia.
Perlu dit ekankan disini, bahwa sebagai pihak t ergugat t idak harus pemerint ah pusat , akan t et api pemerint ah daerah j uga dapat digugat dengan menggunakan mekanisme Act io popul ar i s at au ci t izen l aw suit . Dalam hal zona-si pasar ini, pemerint ah daerah dapat digugat ke pengadilan negeri sebagai akibat penelan-t aran zonasi pasar yang mengakibapenelan-t kan pasar t radisional kalah bersaing sebagai akibat pendirian pasar modern didekat nya. Hal ini disebabkan zonasi pasar merupakan kewaj iban pemerint ah daerah sebagaimana diat ur dalam Perpres No. 112 Tahun 2007. Sebagai pihak penggugat dalam hal ini adalah set iap orang yang bert empat t inggal at au berdomisili di yurisdiksi pemerint ah daerah set empat at au pihak yang dirugikan at as penelant aran yang dilakukan oleh pemerint ah daerah dengan t idak menerbit kan perat uran mengenai zonasi pasar. Mekanisme gugat an melalui act io popul ar i s at au ci t i zen l aw sui t dalam hal zonasi pasar ini hanya dapat dilakukan apabila, pemerint ah daerah t idak mengeluarkan perat uran menge-nai hal ini dan hal inilah yang kemudian dit un-t uun-t oleh penggugaun-t .
Kedua mekanisme penyelesaian sengket a ini, baik penyelesaian sengket a melalui KPPU dan pengaj uan gugat an ke pengadilan, merupa-kan suat u pilihan upaya hukum bagi penggugat . Pemeriksaan sengket a secara bersamaan, baik
ban-t ahan diluar pokok perkara yang diaj ukan oleh pihak t ergugat sebagai akibat perkara yang sama masih dalam proses pemeriksaan.
Penut up Simpulan
Pemerint ah daerah merupakan pihak yang paling berkompet en dalam implement asi perpres di t ingkat daerah, khususnya dalam aspek manaj erial pengat uran perizinan pen-dirian pasar modern dan pengelolaan pasar t radisional. Hal ini t elah diat ur dalam Per-at uran Presiden No. 112 Tahun 2007 t ent ang Pe-nat aan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj aan dan Toko Modern. Per-at uran Presiden ini merupakan salah sPer-at u per-at uran perundang-undangan yang melaksanakan UU No. 5 Tahun 1999.
Apabila pendirian pasar modern me-langgar ket ent uan dalam UU No. 5 Tahun 1999 dan Perat uran Presiden No. 112 Tahun 1999 maka dapat dilaporkan kepada KPPU unt uk diperiksa. Selain it u, dengan t idak dibent uknya perat uran daerah mengenai zonasi pasar me-ngakibat kan pemerint ah daerah t elah melaku-kan perbuat an melawan hukum dan karenanya dapat digugat dengan menggunakan mekanisme gugat an melalui act io popul ar is at au cit i zen l aw sui t .
Daft ar Pust aka
Axline, Michael D. 29 Februari 2009. Ant ar a Ci t i zen Lawsuit dan Cl ass Act i on. Diakses diwebsit e www. legal-daily-t houht . inf o/ 2009/ 02/ ant ara-cit izen-law-suit -dan-class-act ion/ 2, pada t anggal 3 Maret 2009;
Basri, Faisal, 2002. Per ekonomi an Indonesi a: Tant angan dan Har apan Bagi Kebangkit an Ekonomi Indonesi a. Jakart a: Erlangga;
Budiyat i, Sri. “ Quo Vadis Pasar Tradisional” . Newsl et t er SMERU. Lembaga Penelit ian SMERU. No. 22. April-Juni 2007;
Hasnat i, “ Perlunya Ref ormasi Hukum Pem-bangunan Ekonomi di Indonesia” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol. 4 No. 1, Tahun 2004;
Horwit z, Mort on J. 1977. The Tr ansf or mat ion of Amer i can Law 1780–1860. Cambridge: Harvard Universit y Press4;
Kagramant o, Lucianus Budi. 2009, Har moni sasi Kebi j akan dan Hukum Per sai ngan Usaha dal am Meni ngkat kan Kesej aht er aan Ma-syar akat , pidat o pengukuhan Prof Dr Lucianus Budi Kagramant o SH MH MM sebagai guru besar Ilmu Hukum Per-saingan Usaha pada Fakult as Hukum Uni-versit as Airlangga. Sabt u 6 Juni 2009;
Koent j oro,Diana Halim. “ Penegakan Hukum dan Pert umbuhan Ekonomi di Indoenesia” . Gl or i a Jur i s Vol. 6 No. 2. Mei-Agust us 2006. Jakart a: FH Unika At maj aya;
Pakpahan, Normis S. “ Rangkuman Seminar ELIPS: Penemuan Hukum Persaingan: Suat u Layanan Analit ik Komparat if ” , Jur nal Hukum Bi snis. Vol. 4. Tahun 1998. Jakart a: Fakul t as Hukum Unika At ma
Jaya;
Poesoro, Adri. “ Pasar Tradisional Di Era Per-saingan Global” . Newsl et t er SMERU No. 22. April-Juni 2007. Lembaga Pene-lit ian SMERU;
Sawit ri, Handri Wirast ut i dan Rahadi wasi Bint oro. “ Tunt ut an Hak dalam Persi-dangan Perkara Perdat a” . Jur nal Di na-mi ka Hukum, Vol. 10 No. 2. Mei 2010, Purwokert o: Fakult as Hukum Unsoed;
Suj it o, Arie. “ Mal dan Marginalisasi” . Jur nal Fl amma. Edisi 24 Tahun 2005. websit e www. ireyogya. org diakses 10 Januari 2010;
Sundari. 2002. Pengaj uan Gugat an Secar a Cl ass Act ion (Suat u St udi Per bandi ngan dan pener apannya di Indonesi a). Yogyakart a: Universit as At ma Jaya Yogyakart a;