Nama : Pungky Dwiki Enriko Kelas : B
NBI : 1311700066
Tanggapan Saya Mengenai Perkembangan Perkembangan Baru Tentang Konstitusi Dan Konstitusionalisme Dalam Teori Dan Praktek
Oleh Prof Dr Jimly Asshiddiqie, SH
A. TERMINOLOGI DAN PENGERTIAN
Sebagaimana sudah saya ungkapkan dalam berbagai buku saya ,Bahwa konstitusi
(constitution) merupakan suatu pengertian tentang seperangkat prinsip-prinsip nilai dan norma dasar yang mengatur mengenai apa dan bagaimana suatu system kekuasaan dilembangkan dan dijalankan untuk mencapai tujuan bersama dalam wadah organisasi.
Menurut saya dari pengerian di atas karena konstitusi adalah kekuasaan tertinggi dalam suatu organisasi dan perlu ada di organisasi karena adanya kosnstitusi didalam organisasi bisa mengatur fungsi pada lembaga lembaga yang ada pada organisasi agar bisa lurus dalam tugas dan fungsinya masing masing.
Dalam system ketatanegaraan, konstitusi dikonstruksikan sebagai
kesepakatan tertinggi atau bahkan suatu kontrak social dari seluruh rakyat dan organisasi.Dari segi isinya, isinya konstitusi itu mengandung muatan muatan fundamental dan norma norma yang dituangkan secara tertulis dan nyata tentang praktik penyelenggaraan kekuasaan Negara.Dalam pengertian yang lebih luas, penyelenggaraan kekuasaan dapat berupa berbagai macam bentuk organisasi.Dalam praktik, yang lazim dinisbatkan dengan istilah konsitusi itu adalah dalam pengertian konstitusi organisasi negara. Jika Negara itu berbentuk kesatuan maka konstitusi itu hanya ada satu sebagai adanya kesatuan badan hokum Negara kesatuan itu. Jika Negara itu berbentuk federal maka badan hukum secara seniri sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengertian konstitusi itu sangat luas. Akan tetapi dalam makalah ini hanya konstitusi dalam konteks kegiatan penyelenggaraan kekuasaan Negara.
Banyak macam-macam bentuk konstitusi dan untuk memakai bentuk konstitusu itu perlu mengetahui bentuk Negara tersebut.
B. PERKEMBANGAN DARI KONSTITUSI POLITIK KE EKONOMI DAN SOSIAL Semula, ide konstitusi memang berawal dari kebutuhan untuk mengatur hal-hal yang berkenan dengan kegiatan bernegara saja, sehingga wajar jika pada awalnya konstitusi hanya dipahami sebagai persoalan politik saja.
Cara pandang tentang konstitusi yang semata-mata bersifat politik ini menjadi paradigma berpikir yang luas di dunia, kecuali di lingkungan Negara-negara yang menganut paham sosialisme dan komunisme. Teori-teori konstitusi yang dilihat secara terbatas hanya dari segi hukum tata Negara jelas tidak lagi mencukupi, Maka di masa mendatang teori-teori konstitusi harus mencakup luas bukan hanya hokum positif tetapi juga hukum sebagai ilmu pengetahuan
universal, dan mencakup tidak saja ilmu hukum tetapi juga studi politik dan ekonomi.
Sekarang, di samping berbagai istilah dan konsepsi-konsepsi tentang konstitusi politik, konstitusi ekonomi, dan konstitusi hukum , muncul pula kebutuhan untuk pengembangan dimensi-dimensi social dari konstitusi.Inilah yang saya namakan konstitusi sosial.Sekarang, konsep konstitusi sosial justru sangat penting terutama untuk menjawab berbagai tantangan perkembangan masa kini.Pertama, hubungan-hubungan anatar pelaku dalam perspektif relasi antar kekuasaan yang ada selama ini hanya terpusat pada hubungan-hubungan yang bersifat vertical, yaitu dalam hubungan antar penguasa Negara dengan rakyat.
Cara pandang demikian tercermin dalam berbagai teori politik dan ketatanegaraan, seperti dalam konsep hak asasi manusia (HAM). Kedua,
sebagaimana sering saya istilahkan dengan ‘trias politica’ baru, dalam teori dan praktik sejak pertengahan nabad ke 20, semakin banyak sarjana yang
membedakan tiga cabang pemeran dalam proses perubahan sosial, yaitu Negara (state), masyarakat madani (civil society), dan pasar (market) yang masing-masing mempunyai peran yang sama-sama menentukan.Dalam pergaulan antar warga masyarakat, antar kelompok masyarakat, dan antar organisasi
harus bersumber dari konstitusi baik sebagai sumber norma hukum (constitutional law) maupun sumber norma etika (constitutional ethics)
bermasyarakat.Dinamika persaingan dan kerjasama antar kekuatan-kekuatan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat harus mengacu kesepakatan normative yang tertinggi yang sudah di atur dalam Pancasila dan UUD 1945 itu harus di pandang tidak hanya sebagai konstitusi politik tetapi juga konstitusi sosial, yaitu konstitusi yang membuat dasar-dasar kebijakan Negara di bidang sosial kemasyarakatan, dan sekaligus menjadi tuntunan dan pegangan untuk semua masyarakat dalam kehidupan.
C. PERKEMBANGAN DARI HUKUM KONSTITUSI KE ETIKA KONSTITUSI 1. Konstitusi sebagai hukum tertinggi
Selama ini, Undang-Undang Dasar dalam pengertian konstitusin tertulis biasa dipahami dalam kontruksi hukum dan politik.Konstitusi dijadikan sebagai kontrak sosial atau kesepakatan tertinggi yang memuat system hukum norma tertinggi.Perkembangan hukum tertinggi ini terkait dengan perkembangan pemikiran tentang ide kedulatan (souvereignty) dalam filsafat hukum dan politik di sepanjang sejarah.
Menurut saya dari pengertian konstitusi sebagai hukum tertinggi di atas adalah saya setuju dari pengertian diatas karena norma atau dasar tertinggi ialah konstitusi, konstitusi ialah kekuasaan maka dari itu konstitusi ialah norma dasar tertinggi.
Yang dipahami dalam pemegang kekuasaan tertinggi adalah alam semesta sebagai lingkungan hidup dan kehidupan umat manusia.Umat manusia sudah terlalu lama terpuruk dengan ide yang lama yaitu demokrasi yang menempatkan manusia sebagai individu-individu yang diediealkan bersifat bebas dan otonom sebagai pusat kehidupan.Karena itu, alam semesta yang dianggap sebagai subjek kekuasaan tertinggi atau kedaulatan juga.Inilah yang saya namakan dengan gagasan ekokrasi (ecocracy) yang mengimbangi ide demokrasi yang diidealakan selama ini.
of man”.Di semua Negara, norma hukum yang ditempatkan nsebagai norma tertinggi ialah konstitusi, baik dalam pengertian tekstualnya maupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Konstitusi oleh Jean Jacques Rousseau, disebut sebagai ‘social contract’ (contrat sociale) atau perjanjian masyarakat, yaitu dalam bentuk perjanjian tertinggi untuk bernegara.
Pengertian tentang hukum tertinggi dalam konstitusi ini bahkan
melahirkan cabang studi tersendiri yang disebut sebagai ’constitutional law’ atau yang dikenal dengan Hukum Tata Negara (HTN).Doktrin ini banyak di
kembangkan oleh para sarjana seperti, Hans Kelsen, Hans Nawiasky, dan lain-lain.
2.Tentang Etika Konstitusi (constitutional Ethics)
Semula, apa yang dimaksudkan dengan nomoi dalam bukunya, belumlah identik pengertian hukum atau perundangan pada zaman sekarang.’Nomoi’ dalam pandangan Plato masih tercampur baur antara pengertian-pengertian tentang norma hukum, norma etika, norma agama seperti yang di pahami dalam zaman sekarang.
Tentu cara pandang para sarjana hukum positivist seperti ini merupakan gambaran umum.Bahwa hampir seluruh sarjana hukum di Indonesia
beranggapan bahwa hukum itu lebih tinggi kedudukannya daripada etika.Tetapi para ahli agama atau para ulama memiliki pandangan lain yaitu hukumlah yang tidak boleh bertentangan dengan etika dan apalagi dengan agama.Karena itu, kita tidak dapat lagi bahwa hukum itu lebih tinggi daripada etika .Bahkan etika juga tidak bisa dikatan lebih tinggi daripada hukum karena hukum tidak boleh terlepas dari etika keadilan sedangkan, etika tidak bisa pisah dengan hukum karena hukum ialah jasadnya dan etika ialah rohnya.
Teori-teori konstitusi atau hukum tata negara yang kontemporer haruslah memperluas lingkup kajiannya, yaitu munculnya kebutuhan untuk di
order).Semua ini perlu pengkajian dan sekaligus praktik yang lebih lanjut dan lebih mendalam mengenai (constitutional ethics) untuk melengkapi teori dan doktrin yang sudah berkembang selama berabad-abad mengenai hukum konstitusi (constitutional law).
D. PANCASILA DAN KEHIDUPAN ETIKA BERBANGSA 1. TAP MPR No. VI/MPR/2001
Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya sehingga dalam memperkembangkan praktik demokrasi modern kerap kali harus menghadap fenomena pertentangan-pertentangan politik yang bersifat primordial sebagai akibat ketidaksamaan pemahaman mengenai landasan filosofi bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945 dan tujuan utama berbangsa dan bernegara.Pada fase perkembangan terkini, krisis etika telah melanda di hamper semua elemen bangsa.
Maksud dan tujuan dari TAP MPR/VI/2001 tentang Etika Kehidupan
Berbangsa ini sangat mulia.Untuk menyadarka warga agar arti pentingnya tegak etika dan moral dalam kehidupan berbangsa.Rumusan TAP MPR/VI/2001 tentang Etika Berbangsa ini menjadi pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa .
2. Ekaprasetya Pancaskara
Di masa Orde Baru, sebelum berlakunya ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tersebut, pernah disusun Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila yang biasa disingkat P4 yang dikukukan dengan ketettapan MPR No.
II/MPR/1978.Ekaprasetya Pancaskara yaitu merupakan apnduan tentang Pancasila dalam kehidupan bernegara semasa Orde Baru.
Praktik kehidupan bernegara pada prinsip-prinsip fundamental dalam nilai-nilai Pancasila tercermin dari adanya suatu pemahaman dan penalaran
sangat penting mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat
majemuk.Disinilah penting melembagakan nilai-nilai hukum dan etika kedalam kaedah-kaedah pemersatu baik dalam konteks norma hukum maupun norma etika tanpa diskriminasi.
Tetapi dalam pelaksanaannya Pancasila harus dikembangkan sebagai ide dan ideologi terbuka. Sikap dan sifat ketertutupan adalah pertanda kelemahan dan kesesatan dengan menganggap diri sendiri sempurna dan tidak dapat
menerima pendapat orang lain.Sikap demikian justru berbahaya, apalagi jika hal itu cara untuk menutupi kelemahan
yang terdapat dalam diri sendiri Jika sikap dan sifat keterbukaan di terapkan dalam masyarakat majemuk, maka kita tidak akan perlu khawatir untuk