• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pihak Kuasa Hukum dalam Sengketa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Pihak Kuasa Hukum dalam Sengketa "

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Pihak Kuasa Hukum dalam Sengketa Pajak dan

Eksistensinya Menurut Undang - Undang

Makalah

Untuk melengkapi persyaratan dalam menempuh mata kuliah

Hukum Advokatur (HKU 2092)

Disusun Oleh :

Nama : Ken Luigi Bagaskara

NIM : 13 / 351885 / HK / 19707

YOGYAKARTA

(2)

A.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Amandemen ke – tiga Undang – Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 24 ayat (2) menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.1

Pada umumnya dikenal pembagian peradilan menjadi peradilan umum dan peradilan khusus. Peradilan umum adalah peradilan bagi rakyat pada umumnya, baik yang menyangkut perkara perdata maupun pidana, sedangkan peradilan khusus mengadili perkara atau golongan tertentu. Demikian pula dalam Undang – Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengenal pada asasnya dua pembagian tersebut. Pasal 10 menentukan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama, militer, tata usaha negara, dan tidak menutup kemungkinan adanya spesialisasi dalam masing – masing lingkungan peradilan.2

Saat ini Indonesia telah memiliki empat lingkup peradilan, yaitu Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Militer, dan Peradilan Agama. Amademen terhadap Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 hingga pada perubahan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tidak merubah ketentuan apapun mengenai hal ini. Amandemen tersebut menimbulkan permasalahan tersendiri pada saat Pengadilan Pajak dibentuk. Keberadaan Pengadilan Pajak, sekilas dapat diketahui bahwa pengadilan ini tidak mungkin masuk dalam lingkup Peradilan Umum karena Pengadilan Pajak menyelesaikan sengketa negara yang tidak puas dengan keputusan yang diberikan oleh Negara, khususnya Kantor Perpajakan baik itu di daerah dan/atau di pusat.

1 Achmad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum: Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Toko Agung, Jakarta, hlm. 2.

(3)

Menurut Pasal 2 Undang - Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak . Rumusan tersebut dimaksud untuk memberikan penegasan bahwa pengadilan pajak memang merupakan lembaga peradilan yang dapat digunakan sebagai sarana bagi rakyat selaku wajib pajak atau penanggung pajak untuk mendapatkan keadilan di bidang perpajakan.

Kehadiran Pengadilan Pajak diharapkan dapat Iebih memberikan keadilan dan kepastian hukum yang tidak didapatkan dari institusi penyelesai sengketa pajak sebelumnya. Ekspektasi inilah yang hendak dicoba untuk dijawab oleh Pengadilan Pajak. Sejak awal pendiriannya, Pengadilan Pajak cukup diminati oleh para pihak yang bersengketa pajak dan dianggap cukup menjanjikan sebagai suatu badan peradilan yang baru dibentuk dalam hal kepastian hukum.

Menghadapi dan menjalani proses hukum sesungguhnya merupakan hak setiap orang yang mempunyai permasalahan hukum. Hal tersebut berlaku bagi setiap orang sepanjang orang yang bersangkutan memenuhi syarat yang ditentukan. Secara prinsip setiap orang dapat menghadapi dan menjalani proses hukum bagi dirinya sendiri namun dengan pengecualian jika berada dalam pengampuan karena tidak cakap hukum.3

Peran seorang Advokat dalam proses penyelesaian sengketa tentu sudah umum diketahui, yakni mengajukan fakta dan pertimbangan yang berkaitan dengan kepentingan hukum klien yang diwakili atau dibelanya dalam suatu perkara, yang dengan demikian memungkinkan hakim untuk menemukan kebenaran materiil pada proses pemeriksaan perkara sehingga dapat menjatuhkan putusan yang seadil - adilnya. Pada satu sisi, Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, Advokat berfungsi sebagai pemberi jasa hukum yang tentunya terikat dengan kepentingan hukum klien yang dibelanya.

.

(4)

Dalam pengadilan pajak adanya kuasa hukum untuk mendampingi dan atau mewakili para pihak yang bersengketa di Pengadilan Pajak memiliki hak dan kewajiban hukum tertentu. Hak dan kewajiban seorang kuasa hukum yang telah memiliki Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum serta memiliki Kuasa Khusus dapat bertindak sebagai kuasa hukum Pengadilan Pajak. Hal ini sangat berbeda pada ranah Pengadilan Umum baik secara litigasi maupun non litigasi. Ada syarat – syarat yang tentunya yang wajib untuk dipenuhi oleh advokat di bidang perpajakkan.

Sebagaimana dikutip pada situs hukumonline.com “di Pengadilan Pajak, Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak berlaku. Karena untuk berpraktek di Pengadilan Pajak ditentukan Ketua Pengadilan Pajak. Biasanya yang menangani kasus pajak di Pengadilan Pajak kebanyakan malah konsultan pajak dan akuntan publik, bukan pengacara. Soal ijin oleh Ketua Pengadilan Pajak ini, dinilai sebagai bentuk campur tangan Pengadilan Pajak terhadap profesi advokat. Alasan pihak pengadilan bahwa hal itu adalah bentuk pengawasan terhadap kuasa hukum.”4

Dapat dikatakan bahwa ada beberapa perbedaan yang sangat spesifik dalam proses beracara khususnya pada advokat untuk mengambil perannya sebagai kuasa hukum dalam Pengadilan Pajak. maka dari itu penulis tertarik untuk meneliti dan mengambil judul “Peran Pihak Kuasa Hukum dalam Sengketa Pajak dan Eksistensinya Menurut Undang – Undang.”

Rumusan Masalah

(5)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, Penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana prosedur sebagai kuasa hukum untuk menjalankan perannya pada penyelesaian sengketa pajak ?

2. Bagaimana eksistensi kuasa hukum perpajakan terhadap hak, kewajiban, dan pencabutan kuasa hukum berdasarkan undang-undang yang berlaku ?

(6)

1. Peran dan fungsi advokat dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, ketentuin tentang fungsi dan peran advokat selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

Pasal 1

(1) Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini.

Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa peran dan fungsi advokat meliputi pekerjaan yang dilakukan baik di dalam pengadilan (pekerjaan litigasi) maupun di luar pengadilan (non-litigasi) tentang masalah hukum pidana, perdata, masalah hukum yang timbul antara warga masyarakat dengan pejabat tentang tata usaha negara, atau hal – hal khusus lainnya seperti mendampingi klien dalam tingkat penyelidikan dan penyidikan, atau beracara di muka persidangan.5

Dalam perkembangannya, advokat di luar bidang litigasi, bidang – bidang itu adalah:

a. Memberi pelayanan hukum (legal service);

b. Memberi nasihat hukum (legal advice), dengan peran sebagai penasihat hukum (legal adviser);

c. Memberi pendapat hukum (legal opinion);

d. Mempersiapkan dan menyusun kontrak (legal drafting); e. Memberikan informasi hukum;

f. Membela dan melindungi hak asasi manusia;

g. Memberikan bantuan hukum cuma – cuma (pro bono legal aid) kepada masyarakat yang tidak mampu dan lemah.6

5 H. Fauzie Yusuf Hasibuan, 2007, Peran Fungsi & Perkembangan Organisasi Advokat, Jakarta, Fauzie and Partners, hlm. 9.

(7)

Dalam sengketa pajak, melibatkan orang atau badan sebagai Wajib Pajak atau penanggung pajak berhadapan dengan pejabat yang berwenang. orang atau badan di satu pihak berhadapan dengan pejabat yang berwenang di lain pihak. Pengertian orang dalam hal ini tentu saja sebagai manusia yang berkedudukan sebagai pendukung hak dan kewajiban perpajakan tertentu.

Kekhususan dalam sengketa pajak suatu badan juga dapat mengajukan gugatan atau banding. tidak harus badan hukum yang kita kenal seperti Perseroan Terbatas, Yayasan, maupun Koperasi. Seperti hal-nya sebuah firma, kongsi, persekutuan komanditer, dan sebagainya dapat mengajukan gugatan maupun banding. Pengajuan banding ataupun gugatan itu adalah organ – organ dari badan itu yang menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya ditunjuk sebagai pihak yang berhak untuk mewakili perusahaan baik ke luar maupun ke dalam.

Di samping pihak pemohon banding ataupun penggugat di pihak lain, masih ada pihak terbanding ataupun tergugat, dalam hal ini adalah pejabat yang berwenang. Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak ditentukan sebagai berikut:

Pasal 1

(1) Pejabat yang berwenang adalah Direktur Jenderal Pajak, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Gubernur, Bupati/Walikota, atau pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Rumusan ketentuan tersebut tentu saja mereka mempunyai kewenangan di bidang perpajakan. Selain itu mereka mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pajak di pusat dan daerah. Hal lain mereka mempunyai kewenangan membuat peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

(8)

menjadi kuasa hukum dari Ketua Pengadilan Pajak dan memperoleh surat kuasa khusus dari pihak-pihak yang bersengketa untuk dapat mendampingi dan/atau mewakili mereka dalam berperkara pada Pengadilan Pajak.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari pengertian kuasa hukum di sini adalah kata “orang perseorangan”. Maksud dari pengertian kata “orang perserorangan” adalah orang pribadi (individu). Artinya, yang dapat menjadi kuasa hukum di Pengadilan Pajak hanyalah orang pribadi (individu), bukan badan dan ia tidak mewakili badan atau persekutuannya.

Mengenai ketentuan yang dapat beracara serta prosedur sebagai kuasa hukum untuk menjalankan perannya pada penyelesaian sengketa pajak, sekalipun para pihak yang bersengketa diberi hak untuk didampingi atau diwakili oleh seorang atau lebih kuasa hukum. Untuk dapat bertindak sebagai kuasa hukum dan beracara di Pengadilan Pajak, seseorang perlu memenuhi berbagai persyaratan. Pasal 34 ayat (1), (2) dan (3) Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak menentukan sebagai berikut:

Pasal 34

(1) Para pihak yang bersengketa masing-masing dapat didampingi atau diwakili oleh satu atau lebih kuasa hukum dengan Surat Kuasa Khusus.

(2) Untuk menjadi kuasa hukum harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Warga Negara Indonesia;

b. mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan perpajakan;

c. persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri.

(9)

Dalam Pasal 34 ayat (2) butir b, secara substansial kiranya cukup beralasan mengingat ketentuan hukum material perpajakan tentu sangat penting untuk dikuasai meliputi hukum materiil dan juga hukum formil.

Dalam Pasal 34 ayat (2) butir c, dapat diambil kesimpulan bahwa persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri. Sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (1) dan (2), sedangkan ayat (3) berupa permohonannya pada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 61/PMK.01/2012 tentang Persyaratan Untuk Menjadi Kuasa Hukum Pada Pengadilan Pajak.

Pasal 2

Setiap orang perseorangan yang akan menjadi Kuasa Hukum pada Pengadilan Pajak, harus memiliki izin kuasa hukum dari Ketua.

Pasal 3

(1) Untuk memperoleh izin kuasa hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, orang perseorangan harus memenuhi persyaratan untuk menjadi Kuasa Hukum pada Pengadilan Pajak dan menyampaikan permohonan kepada Ketua melalui Sekretariat Pengadilan Pajak.

(2) Persyaratan untuk menjadi Kuasa Hukum pada Pengadilan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:

a. merupakan Warga Negara Indonesia (WNI);

b. memiliki asli Surat Kuasa Khusus dari pihak yang bersengketa untuk mendampingi atau yang mewakilinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) Undang - Undang Pengadilan Pajak dalam berperkara pada Pengadilan Pajak;

c. mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;

d. memiliki ijazah Sarjana atau Diploma IV dari perguruan tinggi yang terakreditasi oleh instansi yang berwenang;

e. mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

(10)

g. dalam hal orang perseorangan yang akan menjadi Kuasa Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah mantan Hakim Pengadilan Pajak, yang bersangkutan harus telah melewati jangka waktu 2 (dua) tahun setelah berhenti/pensiun sebagai Hakim Pengadilan Pajak.

Pengecualian persyaratan kuasa hukum diatur dalam Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Pengadilan Pajak:

(3) Dalam hal kuasa hukum yang mendampingi atau mewakili pemohon Banding atau penggugat adalah keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua, pegawai, atau pengampu, persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak diperlukan.

Dalam Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Pengadilan Pajak ini adalah keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua, pegawai atau pengampu dapat menjadi kuasa hukum Wajib Pajak di Pengadilan Pajak. Dan, apabila mereka (dalam hal ini pegawai) bertindak sebagai kuasa hukum, persyaratan untuk dapat menjadi kuasa hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang Pengadilan Pajak dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.01/2012 tidak diperlukan.

Ketentuan pengecualian ini juga menunjukan bahwa seorang Warga Negara Asing (WNA), seorang yang tidak mempunyai pengetahuan dan keahlian tentang peraturan perpajakan, atau tidak memenuhi persyaratan lain yang ditetapkan oleh menteri keuangan, namun karena memiliki hubungan darah atau semenda sampai derajat kedua atau pegawai atau pengampu dari Wajib Pajak, dapat menjadi kuasa hukum di Pengadilan Pajak.

Setiap orang yang akan menjadi kuasa hukum pada Pengadilan Pajak harus memiliki ijin kuasa hukum dari Ketua Pengadilan Pajak. Untuk memperoleh ijin, orang perseorangan harus memenuhi persyaratan menjadi kuasa hukum tersebut pada Pengadilan Pajak dan menyampaikan permohonan kepada Ketua Pengadilan Pajak melalui Sekretariat Pengadilan Pajak.7

(11)

Setelah menyampaikan permohonan kepada Ketua Pengadilan Pajak melalui Sekretariat Pengadilan Pajak, maka proses menerbitkan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai izin Kuasa Hukum dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas hari) kerja sejak permohonan diterima secara lengkap sesuai Pasal 5 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.01/2012.

Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum berlaku untuk jangka waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal ditetapkan. Dalam hal jangka waktu 12 (dua belas) bulan telah lewat, kuasa hukum dapat mengajukan permohonan perpanjangan izin kuasa hukum.

2. Eksistensi pemegang kuasa hukum dalam Pengadilan Pajak memiliki hak dan kewajiban tertentu. Di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.01/2012 mengenai hak, kewajiban, dan pencabutan kuasa hukum pada Pengadilan Pajak tercantum pada Bab V Pasal 10, 11, 12, dan 13.

Pasal 10

(1) Orang perseorangan yang telah memiliki Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai izin kuasa hukum atau Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai perpanjangan izin kuasa hukum dan memiliki Kartu Tanda Pengenal Kuasa Hukum yang masih berlaku, berhak mendampingi dan/atau mewakili pihak yang bersengketa dalam berperkara di Pengadilan Pajak.

(2) Dalam berperkara di Pengadilan Pajak, Kuasa Hukum yang telah memiliki izin kuasa hukum, harus melampirkan asli Surat Kuasa Khusus yang masih berlaku dari pihak-pihak yang bersengketa untuk dapat mendampingi dan/atau mewakili pihak-pihak yang bersengketa dalam berperkara pada Pengadilan Pajak.

(12)

yang mana harus menunjukan kartu advokat sebelum beracara di pengadilan, Namun kekhususan Pengadilan Pajak haruslah memperoleh izin untuk menjadi kuasa hukum.

Pasal 11

Kuasa Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 wajib mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang perpajakan dan Undang-Undang Pengadilan Pajak.

Selain hak tersebut, kuasa hukum itu wajib mematuhi semua ketentuan peraturan perundang – undangan di bidang pajak, termasuk Undang – Undang Pengadilan Pajak. Konsekuensi dari kewajiban tersebut, jika kuasa hukum tidak menaati atau melanggar peraturan perundang – undangan perpajakan, maka Ketua dapat mencabut Keputusan Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum yang dimiliki oleh kuasa hukum tersebut.

Pasal 12

(1) Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai izin kuasa hukum dan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai perpanjangan izin kuasa hukum dapat dilakukan pencabutan, dalam hal:

a. Kuasa Hukum melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan Undang-Undang Pengadilan Pajak;

b. Kuasa Hukum dipidana berdasarkan keputusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap; atau

c. atas permintaan Kuasa Hukum yang bersangkutan.

(2) Pencabutan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai pencabutan izin kuasa hukum.

Pasal 13

(13)

Seseorang yang memiliki Kartu Tanda Pengenal kuasa hukum yang masih berlaku, yang bersangkutan berhak mendampingi dan atau mewakili pihak yang bersengketa dalam berperkara di semua Majelis atau Hakim Tunggal Pengadilan Pajak. Kekuasaan Hakim pada Pengadilan Pajak tercantum pada Pasal 32 Undang – Undang Pengadilan Pajak

Pasal 32

(1) Pengadilan Pajak mengawasi kuasa hukum yang memberikan bantuan hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang Pengadilan Pajak.

(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Ketua.

Contoh kekuasaan tersebut adalah berupa pengawasan terhadap kuasa hukum yang beracara pada Pengadilan Pajak hal ini sebagaimana diatur pada Surat Edara Nomor SE-003/PP/2015 tentang Laporan Pemberian Jasa Kuasa Hukum di Pengadilan Pajak yang dimaksudkan untuk melaksanakan fungsi pengawasan Ketua Pengadilan Pajak terhadap Kuasa Hukum dan dalam rangka meningkatkan profesionalisme Kuasa Hukum dalam rangka pemenuhan menjalankan hak dan kewajibannya.8

C.

PENUTUP

KESIMPULAN

Kuasa hukum pajak dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 61/PMK.01/2012 Tahun 2012 tentang Persyaratan Untuk Menjadi

(14)

Kuasa Hukum Pada Pengadilan Pajak. Yang dimaksud dengan kuasa hukum adalah orang perseorangan yang telah mendapat izin menjadi Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak dan memperoleh Surat Kuasa Khusus dari pihak-pihak yang bersengketa untuk dapat mendampingi dan/atau mewakili pihak-pihak yang bersengketa dalam berperkara pada Pengadilan Pajak.

Ketua Pengadilan Pajak lah yang menentukan siapa saja yang bisa menjadi kuasa hukum untuk perkara yang disidangkan. Bahkan, seorang pengacara yang sudah memiliki izin praktek advokat, belum tentu bisa berpraktek di Pengadilan Pajak. Jadi Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat dapat dikatakan tidak berlaku pada Pengadilan Pajak.

Prosedur Pengangkatan Kuasa Hukum Pajak

1. Setiap orang perseorangan yang akan menjadi Kuasa Hukum pada Pengadilan Pajak, harus memiliki Izin Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak;

2. Untuk memperoleh izin kuasa hukum ini, orang perseorangan harus memenuhi persyaratan untuk menjadi Kuasa Hukum pada Pengadilan Pajak dan menyampaikan permohonan kepada Ketua melalui Sekretariat Pengadilan Pajak;

3. Terhadap permohonan untuk mendapatkan izin kuasa hukum, Sekretaris Pengadilan Pajak melakukan penelitian terhadap kelengkapan dokumen permohonan izin kuasa hukum;

4. Terhadap permohonan yang telah dilakukan penelitian oleh Sekretaris Pengadilan Pajak disampaikan kepada Ketua Pengadilan Pajak untuk diberikan keputusan;

5. Dalam hal permohonan disetujui, Ketua Pengadilan Pajak menerbitkan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak mengenai izin kuasa hukum dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap;

6. Berdasarkan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak yang menyetujui permohonan izin kuasa hukum ini, Sekretariat Pengadilan Pajak menindaklanjuti dengan memproses pembuatan Kartu Tanda Pengenal Kuasa Hukum untuk ditandatangani oleh Sekretaris Pengadilan Pajak;

(15)

perpanjangan izin kuasa hukum dan memiliki Kartu Tanda Pengenal Kuasa Hukum yang masih berlaku, berhak mendampingi dan/atau mewakili pihak yang bersengketa dalam berperkara di Pengadilan Pajak.

DAFTAR PUSTAKA

Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 27 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189)

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 61/PMK.01/2012 Tahun 2012 tentang Persyaratan Untuk Menjadi Kuasa Hukum Pada Pengadilan Pajak (Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 461)

Ali, Achmad, 2002, Menguak Tabir Hukum: Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Toko Agung, Jakarta.

H. Fauzie Yusuf Hasibuan, 2007, Peran Fungsi & Perkembangan Organisasi Advokat, Jakarta, Fauzie and Partners.

Mertokusumo, Sudikno, 2009, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta.

Pudyatmoko, Y. Sri, 2009, Pengadilan dan Penyelesaian Sengketa di Bidang Pajak , Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sinaga, V. Harlen, 2011, Dasar-Dasar Profesi Advokat, Jakarta, Penerbit Erlangga.

(16)

http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/19459-karyawan-kuasa-hukum-wajib-pajak Diakses pada tanggal 23 Mei 2016.

http://www.setpp.depkeu.go.id/DataFile/PPBerita/SE-003.PP.2015.pdf Diakses pada tanggal 23 Mei 2016.

Kepada:

Yth. Ketua Pengadilan Pajak

Di Jakarta

Perihal : PERMOHONAN IZIN MENJADI KUASA HUKUM PADA PENGADILAN PAJAK

FORMULIR

(17)

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ...

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : ...

Dengan ini mengajukan permohonan izin menjadi kuasa hukum pada Pengadilan Pajak. Untuk melengkapi permohonan tersebut, bersama ini saya lampirkan dokumen sebagai berikut:

1. Daftar Riwayat Hidup/pengalaman kerja dan riwayat pendidikan;

2. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) WNI yang telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang;

3. Fotokopi NPWP yang telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang;

4. Fotokopi ijazah Sarjana atau Diploma IV dari perguruan tinggi yang terakreditasi dan telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang;

5. Fotokopi tanda bukti pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, yang telah dilegalisir oleh instansi berwenang, diantaranya:

a. Fotokopi ijazah/sertifikat brevet pajak atau keahlian di bidang Kepabeanan/Cukai dari instansi/lembaga yang terakreditasi;

(18)

c. Fotokopi surat Izin Konsultan Pajak yang masih berlaku untuk yang berprofesi sebagai Konsultan Pajak;

6. Pas photo terakhir pemohon berukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar;

7. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI); dan

8. Asli Surat pernyataan yang berisi komitmen untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan dengan cara sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Demikian disampaikan agar maklum.

……….……… 20……

PEMOHON

...

** (rangkap dua untuk tanda terima)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, sebagai Kuasa Hukum di Pengadilan Pajak dengan ini menyatakan untuk berkomitmen bahwa saya:

1. Tidak akan melakukan praktek Korupsi dan Kolusi;

2. Dalam menjalankan tugas sebagai Kuasa Hukum, berjanji akan melaksanakan peraturan

perundang-undangan perpajakan dengan cara sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya;

3. Apabila saya melanggar hal-hal yang telah saya nyatakan dalam komitmen Kuasa Hukum

(19)

ini, saya bersedia dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

yang berlaku;

Demikian pernyataan komitmen Kuasa Hukum ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan akan saya pertanggungjawabkan sebagaimana mestinya.

………….………….… ,……….……… 20……

...

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : ...

Tempat / tanggal lahir : ...

Alamat Rumah : ...

: ... FORMULIR

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Materai

(20)

,-Nomor Telepon/HP : ...

Nomor Izin Konsultan Pajak : ...

(21)

(……….………..……..…….……….….)

Kepada :

Yth. Ketua Pengadilan Pajak

Di Jakarta

FORMULIR

(22)

Perihal : PERMOHONAN PERPANJANGAN IZIN MENJADI KUASA HUKUM PADA PENGADILAN PAJAK

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ...

Tempat / tanggal lahir : ...

Pendidikan Terakhir : ...

Alamat Rumah : ...

Nomor Telepon/HP : ...

No. Kartu Tanda Penduduk : ...

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : ...

(23)

1. Daftar Riwayat Hidup;

2. Fotokopi Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum yang masih berlaku; 3. Fotokopi Kartu Tanda Pengenal kuasa hukum yang terakhir;

4. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) WNI yang telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang;

5. Fotokopi NPWP yang telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang; dan 6. Pas photo terakhir pemohon berukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar;

7. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI).

Demikian disampaikan agar maklum.

……….…. , …….……… 20……

Pemohon

(...)

Referensi

Dokumen terkait

Upaya hukum biasa yang pertama terhadap putusan atau penetapan Pengadilan Agama adalah upaya banding, yaitu permintaan atua permohonan salah satu

Ketiga, bahwa karena Kuasa Hukum Tergugat I dan II tidak bisa memperlihatkan Surat Izin untuk beracara yang resmi dikeluarkan oleh yang berwenang sebagaimana diatur dalam

Upaya hukum di luar peradilan dapat dilaksanakan karena upaya hukum di luar peradilan pajak atau pengadilan pajak di bagian mediasi Pengadilan Tata Usaha

Surat Kuasa Khusus 156 44- Ketua Pengadilan dan Hakim yang Tertua dalam Jabatan. Hakim Harus Bertindak Sebagai

pihak menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional, yakni negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase,

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hukum pajak mengatur hubungan antara pihak pemerintah dalam kapasitasnya yang khusus sebagai pemungut pajak

Tesis ini berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Kreditur Selama Proses Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) Akibat Pemblokiran Sertipikat Tanah”, dengan

i PRAKTEK GUGATAN KURANG PIHAK DALAM HUKUM ACARA PERDATA PENGADILAN NEGERI OELAMASI STUDI PUTUSAN NO... ii PRAKTEK GUGATAN KURANG PIHAK DALAM HUKUM ACARA PERDATA PENGADILAN