PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK
PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY
BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA
PERSADA
TUGAS AKHIR
Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan Program Diploma III
Oleh:
INNES KURNIA 3110801069
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI BATAM
2011
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tugas Akhir ini adalah karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Innes Kurnia
Nim : 3110801069
Tanda Tangan : ………
iii
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR
PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO
ANEKA PERSADA Oleh: INNES KURNIA 3110801069 BATAM, 21 Juni 2011 Dosen Pembimbing
Ely Kartikaningdyah, SE, M.Si. 109058
Dosen Penguji I Dosen Penguji II
Bambang Hendrawan, ST, M.Si. Chici Rhamdaniah, SE
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur hanya kepada Allah S.W.T yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
dilakukan di PT Apollo Aneka Persada dengan judul “ Perhitungan Proyeksi
Harga Pokok Produksi dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada “. Tugas akhir ini diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk kelulusan Program Diploma III.
Dalam menyelesaikan tugas akhir ini penulis banyak menerima bantuan
dan masukan baik dalam petunjuk, saran, nasehat dan dorongan dari berbagai
pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Allah S.W.T atas nafas yang diberikan kepada penulis , sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Kedua orang tua ku tercinta atas doa dan dorongan serta nasehat nya sehingga
penulis semangat menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Ibu Ely Kartikaningdyah selaku dosen pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu dam memberikan masukan dan saran untuk membantu
penulis menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Seluruh staf dan karyawan PT Apollo Aneka Persada yang telah memberikan
bantuan berupa fasilitas, masukan, saran dan kerja sama dalam proses
pengambilan data.
5. Dosen Penguji I yaitu Bapak Bambang Hendrawan dan Dosen Penguji II yaitu
v
6. Semua dosen Akuntansi yang telah memberikan banyak ilmu serta
bimbingannya selama 3 tahun ini.
7. Teman-teman ku ina, winda,mery, dan farika atas masukan dan sarannya.
8. Buat kakak ku tecinta terima kasih atas bantuan dan dukungannya.
9. Seluruh teman-teman akuntansi 2008 yang tidak bisa disebutkan satu persatu
terima kasih untuk kebersamaan kita selama 3 tahun ini.
Akhir kata, penulis berharap agar Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi
seluruh pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis menyadari bahwa
banyak isi dari tugas akhir ini belum sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kebaikan di masa
yang akan datang.
Batam, 18 Juli 2011 Penulis
Innes Kurnia 3110801069
vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Politeknik Negeri Batam, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Innes Kurnia
NIM : 3110801069
Program Studi : Akuntansi
Jenis Karya : Tugas Akhir/Skripsi/Karya Ilmiah
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Politeknik Batam Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA PERSADA” beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Politeknik Negeri Batam berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemillik Hak Cipta.
Demikian penyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Batam Pada tanggal : 18 Juli 2011
Yang menyatakan
vii ABSTRAK
Nama : Innes Kurnia
Program Studi : Akuntansi
Judul : Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada
Keanekaragaman produk merupakan salah satu masalah bagi perusahaan untuk menetapkan harga pokok produksi setiap produk. Tugas akhir ini bertujuan untuk menghitung proyeksi harga pokok produksi dengan pendekatan Activity Based
Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada. Penelitian ini menggunakan
analisis deskriptif. Terjadi selisih antara hasil perhitungan penulis dengan perhitungan versi perusahaan. Hasil penelitian ini menyarankan perusahaan untuk mempertimbangkan menggunakan perhitungan harga pokok produksi dengan pendekatan Activity Based Costing (ABC). Pendekatan Activity Based Costing (ABC) dapat membantu perusahaan untuk mengukur secara cermat biaya-biaya yang terjadi dari setiap aktivitas yang akan dialokasikan ke setiap produk, sehingga harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan ini akan menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.
viii DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Pernyataan Orisinalitas ... ii
Lembar Pengesahaan ... iii
Kata Pengantar ... iv
Lembar Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah... vi
Abstrak ... ... vii
Daftar Isi... viii
Daftar Tabel .... ... x
Daftar Gambar ... xi
Daftar Lampiran ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Batasan Masalah ... 3 1.4 Tujuan Penelitian ... 4 1.5 Manfaat Penelitian ... 4 1.6 Sistematika Penulisan ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Biaya ... 7
2.1.1 Pengertian Biaya ... 7
2.1.2 Klasifikasi Biaya ... 7
2.2 Aktivitas ... 11
2.2.1 Pengertian Aktivitas... 11
2.2.2 Penggolongan Tingkat Aktivitas ... 11
2.2.3 Pemacu Aktivitas ... 12
2.3 Activity Based Costing (ABC) ... 13
2.3.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC) ... 13
2.3.2 Manfaat Sistem Activity Based Costing (ABC) ... 14
2.3.3 Pemacu Biaya (Cost Driver) ... 14
2.3.4 Perhitungan Biaya Produk dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) ... 15
2.4 Harga Pokok Produksi ... 18
2.4.1 Pengertian Harga Pokok Produksi ... 18
2.4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi ... 19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 20
3.1 Metodologi Penelitian ... 20
3.1.1 Objek Penelitian... 20
ix
3.1.3 Metode Analisis Data ... 21
3.2 Gambaran Umum Perusahaan ... 21
3.3.1 Sejarah Berdirinya PT Apollo Aneka Persada... 21
3.3.2 Produk Perusahaan... 22
3.3.3 Struktur Organisasi Perusahaan ... 23
3.3.4 Job Description ... 25
BAB IV PEMBAHASAN ... 29
4.1 Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)... 29
4.1.1 Mengidentifikasi Aktivitas dan Tingkatan Aktivitas ... 29
4.1.2 Membebankan Biaya ke Aktivitas ... 32
4.1.3 Mengidentifikasi Cost Driver ... 33
4.1.4 Menentukan Tarif ... 37
4.1.5 Pembebanan Biaya ke Produk ... 38
4.2 Perbandingan Proyeksi Harga Pokok Produksi Versi Perusahaan dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) ... 43
BAB V PENUTUP ... 45
5.1 Kesimpulan ... 45
5.2 Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ……….. ... 47 LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Tabel Aktivitas dan Tingkat Aktivitas ... 32
Tabel 4.2 Tabel Rincian Biaya Overhead Setiap Aktivitas ... 33
Tabel 4.3 Tabel Jumlah Penggerak Aktivitas Setiap Aktivitas ... 36
Tabel 4.4 Tabel Cost Driver Tiap Aktivitas ... 36
Tabel 4.5 Tabel Tarif Overhead Setiap Aktivitas... 37
Tabel 4.6 Tabel Biaya Bahan Baku dan Biaya TKL Tahun Anggaran 2011 ... 38
Tabel 4.7 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 49
Tabel 4.8 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 40
Tabel 4.9 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 41
Tabel 4.10 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 42
Tabel 4.11 Tabel Perbandingan Proyeksi HPP Versi Perusahaan dengan Pendekatan ABC ... 43
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Laporan Magang Lampiran 2 : Produk Perusahaan
Lampiran 3 : Proyeksi Penggunaan Direct Material dan Indirect Material Lampiran 4 : Dokumen-dokumen yang Digunakan pada Bagian Store
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri di Batam dewasa ini cukup pesat, sehingga banyak berdiri
perusahaan-perusahaan baru yang bergerak di berbagai bidang, termasuk dalam
bidang manufaktur. Lokasi Kota Batam yang strategis dan didukung oleh
permintaan pasar yang bagus, merupakan salah satu alasan berdirinya PT Apollo
Aneka Persada. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2009 ini, memproduksi
protector (pelindung) pipa yang berukuran 2-7/8”, 3-1/2”, 4-1/2”, 5-1/2”, 6-5/8”,
7”, 9-5/8”, 10-3/4”,13-3/8” dan 20”.
PT Apollo Aneka Persada melakukan kegiatan produksi berdasarkan
pesanan, tetapi perusahaan tetap melakukan kegiatan produksi setiap harinya
tanpa harus menunggu pesanan dari konsumen. Perusahaan telah memenuhi
permintaan pasar dalam negeri serta melakukan ekspor produknya, khususnya ke
Singapura. Salah satu konsumen dengan tingkat pemesanan tertinggi selama tahun
2010 adalah Marubeni Itochu Tabulars Asia Pte Ltd (MITA).
Dalam rangka menghindari kerugian perusahaan, penetapan harga pokok
produksi menjadi suatu masalah yang kompleks bagi perusahaan karena
merupakan acuan bagi perusahaan untuk menetapkan harga pokok penjualan.
Harga pokok produksi merupakan jumlah biaya bahan baku langsung (direct
material), tenaga kerja langsung, serta biaya overhead yang terjadi selama proses
mempengaruhi harga pokok penjualan dan menyebabkan perusahaan mengalami
kerugian.
PT Apollo Aneka Persada menghasilkan protector dengan berbagai macam
ukuran, sehingga output yang dijual oleh perusahaan lebih dari satu.
Keanekaragaman ukuran protector mengakibatkan banyaknya jenis biaya serta
aktivitas yang terjadi selama proses produksi. Hal ini akan menyulitkan
perusahaan untuk mengalokasikan biaya overhead ke masing-masing produk.
Metode Activity Based Costing (ABC) dapat membantu perusahaan untuk
mengukur secara cermat biaya-biaya yang terjadi dari setiap aktivitas yang akan
dialokasikan ke setiap produk.
Keanekaragaman ukuran protector berarti bahwa masing-masing ukuran
protector mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda.
Menurut Hansen dan Mowen (2006), dalam lingkungan yang memiliki
keanekaragaman produk, pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas
(activity based costing) menjanjikan keakuratan yang lebih baik dan keputusan
dibuat berdasarkan fakta yang benar.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis tertarik
untuk mengambil judul “PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
a. Bagaimana perhitungan proyeksi harga pokok produksi protector dengan menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC).
b. Bagaimana perbandingan proyeksi harga pokok produksi protector yang menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan yang telah
diterapkan perusahaan.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah: a. Batasan Data
Data yang digunakan adalah data yang berhubungan dengan perhitungan
proyeksi harga pokok produksi tahun 2011 dengan menggunakan
pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada.
b. Batasan Lapangan
Penelitian ini dilakukan pada bagian accounting dan bagian produksi pada
PT Apollo Aneka Persada.
c. Batasan Aspek
Dalam penelitian ini penulis hanya mengarah pada aspek perhitungan
proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk menghitung proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan
pendekatan pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo
Aneka Persada.
b. Untuk membandingkan proyeksi harga pokok produksi protector yang
menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan yang telah
diterapkan perusahaan.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi
perusahaan berkaitan dengan perhitungan harga pokok produksi.
b. Bagi Penulis
Sebagai wadah menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku
kuliah dan untuk mengetahui penerapan dan praktek sesungguhnya.
c. Bagi Pustaka
1.6 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini penulis menguraikan latar belakang, rumusan masalah,
batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan
Bab II Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini dibahas landasan teori yang mendasari penelitian yang
berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan perhitungan proyeksi
harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan Activity Based
Costing (ABC).
Bab III Metodologi Penelitian dan Gambaran Umum Perusahaan
Dalam bab ini, menjelaskan tentang objek penelitian, teknik
pengumpulan data, dan metode analisis data penelitian. Selain itu, pada
bab ini juga dibahas tentang sejarah perusahaan, kegiatan dan jenis
usaha serta perkembangan usaha sampai saat ini.
Bab IV Pembahasan
Bab ini akan berisi jawaban dari seluruh rumusan masalah tentang
perhitungan proyeksi harga pokok produksi protector dengan
Bab V Penutup
Pada bab ini penulis akan membuat kesimpulan dan saran yang diambil
dari pembahasan yang ada pada bab IV.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biaya
2.1.1 Pengertian Biaya
Hansen dan Mowen (2006) menyatakan bahwa biaya adalah kas atau nilai
ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang
diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi
organisasi. Dikatakan sebagai ekuivalen kas karena sumber nonkas dapat ditukar
dengan barang atau jasa yang diinginkan.
Bustami dan Nurlela (2006) menyatakan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau
kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut
Samryn (2002), istilah biaya umumya digunakan untuk pengorbanan manfaat
ekonomis untuk memperoleh jasa yang tidak bisa dikapitalisir nilainya.
2.1.2 Klasifikasi Biaya
Menurut Bustami dan Nurlela (2006), biaya dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Biaya dalam hubungannya dengan produk
a. Biaya produksi, adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang
terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya
overhead.
Biaya bahan baku langsung, adalah bahan baku yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk selesai dan dapat
ditelusuri langsung kepada produk selesai.
Tenaga kerja langsung, adalah tenaga kerja yang merubah atau mengkonversi bahan baku menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri
secara langsung kepada produk selesai.
Biaya overhead pabrik, merupakan biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung tetapi membantu dalam merubah bahan
menjadi produk selesai. Biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung
kepada produk selesai.
Biaya overhead dapat dikelompokkan sebagai berikut:
- Bahan tidak langsung (bahan pembantu atau penolong), merupakan
bahan yang digunakan dalam penyelesaian produk tetapi
pemakaiannya relatif lebih kecil dan biaya ini tidak dapat ditelusuri
secara langsung ke produk selesai.
- Tenaga kerja tidak langsung, adalah tenaga kerja yang membantu
dalam pengolahan produk selesai, tetapi tidak dapat ditelusuri
kepada produk selesai. Misalnya gaji resepsionis pabrik.
- Biaya tidak langsung lainnya, merupakan biaya selain bahan tidak
langsung dan tenaga kerja tidak langsung yang membantu dalam
pengolahan produk selesai, tetapi tidak dapat ditelusuri ke produk
selesai. Misalnya listrik pabrik.
b. Biaya non produksi, adalah biaya yang tidak berhubungan dengan proses
Biaya ini terdiri dari:0
Beban Pemasaran, adalah biaya yang dikeluarkan apabila produk selesai dan siap dipasarkan ke tangan konsumen. Misalnya beban iklan
dan promosi.
Beban Administrasi, merupakan biaya yang dikeluarkan dalam hubungan dengan kegiatan penentu kebijakan, pengarahan, pengawasan
kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berjalan dengan
efektif dan efisien.
Beban Keuangan, adalah biaya yang muncul dalam melaksanakan fungsi-fungsi keuangan.
2. Biaya dalam Hubungannya dengan Volume Produksi
a. Biaya variabel, adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan
volume produksi dalam rentang relevan, tetapi tidak per unit tetap.
Misalnya biaya bahan bakar.
b. Biaya tetap, adalah biaya yang secara totalitas bersifat tetap dalam rentang
relevan tertentu, tetapi secara per-unit berubah. Misalnya penyusutan jika
menggunakan metode garis lurus.
c. Biaya Semi, adalah biaya yang didalamnya mengandung unsur tetap dan
mengandung unsur variabel.
Biaya semi ini dapat dikelompokkan menjadi dua elemen, yaitu:
Biaya semivariabel, merupakan biaya yang di dalamnya mengandung unsur tetap dan memperlihatkan karakter tetap dan variabel, seperti
Biaya semitetap, merupakan biaya yang berubah dan volume secara bertahap, seperti gaji penyelia.
3. Biaya dalam Hubungannya dengan Departemen Produksi
a. Biaya langsung departemen, adalah biaya yang dapat ditelusuri secara
langsung ke departemen bersangkutan. Misalnya gaji mandor pegawai
pabrik departemen cutting.
b. Biaya tidak langsung departemen, adalah biaya yang tidak dapat ditelusuri
secara langsung ke departemen bersangkutan. Misalnya biaya penyusutan
yang merupakan biaya yang manfaatnya digunakan secara bersama oleh
masing-masing departemen.
4. Biaya dalam Hubungan dengan Periode Waktu
a. Biaya Pengeluaran Modal, adalah biaya yang dikeluarkan untuk
memberikan manfaat untuk periode di masa depan dan dalam jangka
waktu yang panjang dan dilaporkan sebagai aktiva, seperti pembelian
mesin dan peralatan.
b. Biaya pengeluaran pendapatan, adalah biaya yang memberikan manfaat
untuk periode sekarang dan dilaporkan sebagai beban. Misalnya biaya
penyusutan mesin.
5. Klasifikasi Biaya untuk Pembebanan Pada Objek Biaya
a. Biaya langsung, adalah suatu biaya yang dapat dengan mudah
hubungannya dengan objek biaya tersebut, misalnya biaya bahan baku
b. Biaya tidak langsung, adalah suatu biaya yang tidak dapat ditelusuri
hubungannya dengan objek yang dibiayai. Biaya tidak langsung juga
sering disebut dengan common cost seperti overhead pabrik.
2.2 Aktivitas
2.2.1 Pengertian Aktivitas
Menurut Nafarin (2007), aktivitas (activity) adalah keseluruhan tindakan dalam
organisasi yang mengkonsumsi sumber daya (tenaga kerja, peralatan, dan
lain-lain) yang berguna bagi manajer untuk tujuan perencanaan, pengendalian, dan
pengambilan keputusan demi memenuhi kebutuhan pelanggan. Sedangkan
menurut Supriyono (1999), aktivitas adalah pekerjaan yang dilaksanakan dalam
organisasi.
Hansen dan Mowen (2005) menyatakan suatu aktivitas merupakan tindakan
yang diambil atau pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan atau dengan orang.
Menurut Hansen dan Mowen (2005), terdapat 2 (dua) tipe aktivitas, yaitu:
a. Aktivitas primer, adalah aktivitas yang dikonsumsi produk atau pelanggan.
b. Aktivitas sekunder, adalah aktivitas yang dikonsumsi oleh aktivitas primer.
2.2.2 Penggolongan Tingkat Aktivitas
Menurut Nafarin (2007), tingkat aktivitas digolongkan menjadi empat, yaitu:
a. Aktivitas tingkat unit (unit-level activity), adalah aktivitas yang dikonsumsi
oleh produk berdasarkan unit yang dihasilkan dari produk tersebut.
b. Aktivitas tingkat gugus (batch-level activity), adalah aktivitas yang
diproduksi. Gugus (batch) adalah sekelompok produk yang diproduksi dalam
satu kali proses.
c. Aktivitas Tingkat Produk (product-level activity), adalah aktivitas yang
dikonsumsi oleh produk berdasarkan produk yang dihasilkan dari aktivitas
tersebut.
d. Aktivitas Tingkat Fasilitas (facility-level activity), adalah aktivitas yang
dikonsumsi oleh produk berdasarkan fasilitas yang dinikmati oleh produk
yang diproduksi.
2.2.3 Pemacu aktivitas
Menurut Nafarin (2007), pemacu aktivitas (activity driver) adalah sesuatu yang
menjadi penyebab timbulnya konsumsi aktivitas oleh objek biaya. Sedangkan
pemacu biaya (cost driver) adalah faktor penyebab timbulnya pola konsumsi yang
khas dan menghubungkan sebab akibat pada proses pembebanan biaya. Pemacu
biaya adalah unsur yang menyebabkan aktivitas menggunakan sumber daya dalam
rangka melaksanakan pekerjaan, karena merupakan bagian integral dari
penghargapokokan produk.
Menurut Nafarin (2007), pemacu aktivitas ini dapat digolongkan menjadi
empat, yaitu:
a. Pemacu aktivitas tingkat unit (unit- level activity driver), adalah dasar
pembebanan biaya aktivitas ke produk yang menggunakan jumlah unit
produk, jam mesin, dan jam tenaga kerja langsung.
b. Pemacu aktivitas tingkat gugus (batch-level activity driver), adalah dasar
c. Pemacu aktivitas tingkat produk (product-level activity driver), adalah dasar
pembebanan biaya aktivitas ke produk dengan menggunakan konsumsi waktu
untuk mendesain dan mengembangkan produk tersebut.
d. Pemacu aktivitas tingkat fasilitas (facility-level activity driver), adalah dasar
pembebanan biaya aktivitas ke produk berdasarkan pemanfaatan fasilitas.
2.3 Activity Based Costing (ABC)
2.3.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC)
Menurut Samryn (2002), Activity Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem
yang berfokus pada aktivitas sebagai obyek biayanya dan menggunakan biaya
aktivitas tersebut kepada cost driver bagi obyek pembiayaan selain aktivitas.
Sedangkan menurut Nafarin (2007), penghargapokokan berbasis aktivitas (activity
based costing) adalah metode untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas
yang terkait dengan proses dan objek biaya, membebankan biaya aktivitas
berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada
objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian
aktivitas, mengenali hubungan sebab akibat (kausal) antara pemacu biaya dengan
aktivitas.
Menurut Hansen dan Mowen (2006) sistem biaya berdasarkan aktivitas
(ABC) pertama-tama menelusuri biaya aktivitas dan kemudian produk. Asumsi
yang mendasari adalah bahwa aktivitas-aktivitas memakai sumber daya dan
produk, sebagai gantinya memakai aktivitas.
Menurut Mulyadi (2007), activity based costing merupakan sistem
dihubungkan dengan aktivitas untuk kepentingan perhitungan tarif biaya aktivitas.
Tarif biaya aktivitas ini kemudian digunakan untuk menghitung object cost
dengan cara mengalikan kuantitas aktivitas yang dikonsumsi dalam setiap cost
object dengan tarif biaya aktivitas.
2.3.2 Manfaat Sistem Activity Based Costing (ABC)
Menurut Tunggal (2000), manfaat atau kebaikan Activity Based Costing (ABC)
adalah:
a. Suatu pengkajian Activity Based Costing (ABC) dapat meyakinkan
manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk
menjadi lebih kompetitif.
b. Manajemen akan berada dalam posisi untuk melakukan penawaran
kompetitif yang lebih wajar.
c. ABC dapat membantu dalam keputusan membuat-membeli yang
manajemen harus lakukan.
d. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan analisis
yang lebih akurat mengenai volume yang diperlukan untuk mencapai impas
(break even) atas produk yang bervolume rendah.
e. Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen
dapat mulai merekayasa kembali proses manufakturing untuk mencapai pola
keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.
2.3.3 Pemacu Biaya (Cost Driver)
Menurut Nafarin (2007), pemacu biaya (cost driver) adalah faktor penyebab
proses pembebanan biaya. Pemacu biaya adalah unsur yang menyebabkan
aktivitas menggunakan sumber daya dalam rangka melaksanakan pekerjaan
karena merupakan bagian integral dari penghargapokokan produk. Ukuran
pemacu biaya lebih berguna untuk mengukur kinerja karena lebih menekankan
pada unsur penyebab, seperti besarnya sediaan atau ketidakseimbangan jadwal
mesin.
Menurut Nafarin (2007), terdapat 2 (dua) faktor yang harus diperhatikan
dalam memilih pemacu biaya, yaitu:
a. Biaya pengukuran, adalah biaya yang berkaitan dengan pengkuran yang
diperlukan dalam metode biaya yang digunakan. Dalam memilih pemacu
biaya hendaknya dipilih biaya pengukuran yang minimal misalnya dengan
membuat kelompok biaya (cost pool) yang homogen.
b. Tingkat korelasi antara pemacu biaya dengan konsumsi overhead pabrik
sesungguhnya.
2.3.4 Perhitungan Biaya Produk dengan Menggunakan Pendekatan Activity
Based Costing (ABC)
Menurut Hansen dan Mowen (2006), ABC merupakan proses 2 (dua) tahap.
a. Tahap Pertama
Tahap pertama terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Pengidentifikasian Aktivitas dan Atributnya
Oleh karena suatu aktivitas merupakan tindakan yang diambil atau
pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan, atau dengan orang, bagi orang
mewawancarai para manajer atau wakil dari area kerja fungsional
(departemen). Untuk mengidentifikasi aktivitas diperlukan rancangan
pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan menghasilkan banyak data
yang diperlukan bagi perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Dari data yang diperoleh kemudian dibuat kamus aktivitas. Kamus
aktivitas menyebutkan aktivitas, menggambarkan tugas yang menyebabkan
aktivitas, mengklasifikasikan aktivitas sebagai aktivitas primer dan
sekunder, mendaftar pengguna (objek biaya), dan mengidentifikasikan
penggerak aktivitas.
2. Pembebanan Biaya ke Aktivitas
Begitu aktivitas diidentifikasikan dan dijelaskan, tugas berikutnya
adalah menentukan berapa banyak biaya untuk melakukan tiap aktivitas. Hal
ini membutuhkan identifikasi sumber daya yang dikonsumsi oleh tiap
aktivitas. Aktivitas memakai sumber daya seperti tenaga kerja, bahan, energi
dan modal. Untuk mengetahui berapa banyak biaya yang dihabiskan pada
setiap aktivitas, maka untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas
maka dilakukan penelusuran langsung dan penggerak.
3. Pengelompokan Aktivitas yang Homogen
Guna mengurangi jumlah tarif overhead yang dibutuhkan dan untuk
mempersingkat proses, aktivitas dapat dikelompokkan ke dalam kelompok
sejenis berdasarkan karakter yang sama: (1) mereka secara logis
berhubungan, dan (2) mereka memiliki rasio konsumsi yang sama terhadap
semua produk. Kumpulan biaya overhead yang berhubungan dengan
Oleh karena aktivitas dalam kesatuan biaya sejenis mamiliki rasio
konsumsi yang sama, penggerak aktivitas dari tiap aktivitas akan
membebankan biaya pada produk pada proporsi yang sama. Hal ini berarti
hanya satu penggerak yang diperlukan untuk membebankan biaya
kelompok. Begitu kesatuan biaya ditentukan, biaya per unit dari penggerak
aktivitas terpilih dihitung dengan cara membagi biaya kelompok dengan
kapasitas praktis penggerak aktivitas. Hal inilah yang disebut dengan tarif
kelompok (pool rate).
4. Penentuan Tarif
Penggerak aktivitas diidentifikasikan untuk aktivitas primer. Guna
menghitung tarif aktivitas, kapasitas praktis dari tiap aktivitas harus
ditentukan. Tarif dapat ditentukan dengan membagi biaya produksi yang
terkait dengan aktivitas dengan total kapasitas praktis dari aktivitas tersebut.
b. Tahap Kedua (Pembebanan Biaya pada Produk)
Setelah biaya dari aktivitas ditentukan, maka biaya tersebut dapat
dibebankan pada produk dalam suatu proporsi sesuai dengan aktivitas
pengunaannya, seperti yang diukur oleh penggerak aktivitas. Pembebanan ini
dapat diselesaikan dengan cara :
Menurut Samryn (2002), ada dua langkah dalam proses akuntansi activity
based costing, yaitu:
1. Membagi biaya-biaya overhead ke dalam sejumlah biaya-biaya pool
aktivitas yang merupakan jenis aktivitas yang menimbulkan biaya overhead, Tarif BOP x Penggunaan Aktual Aktivitas
seperti pemeliharaan gudang, pembelian bahan, reparasi mesin, pemakaian
listrik dan lain-lain.
2. Alokasi biaya pada tiap-tiap pool biaya.
Untuk mengidentifikasi arus alokasi biaya overhead, dapat dibuat skema
alokasi berdasarkan biaya aktivitas yang dikonsumsi tiap lini produk.
Berdasarkan pola alokasi tersebut tiap item biaya overhead selanjutnya dapat
dibuat proses alokasi biaya dengan prosedur sebagai berikut:
Tentukan item dan jumlah biaya overhead yang akan dialokasikan.
Secara berturut-turut tentukan dasar alokasi biaya, jenis pool biaya aktivitas, pemicu biaya, dan lini produk yang akan menyerap biaya
overhead.
Hitung tarif alokasi biaya untuk tiap dasar alokasi biaya.
Tentukan total biaya yang dialokasikan kepada tiap pool biaya aktivitas.
Alokasikan biaya dari tiap pool biaya aktivitas kepada masing-masing lini produk berdasarkan level pemicu biaya yang diserap tiap produk.
2.4 Harga Pokok Produksi
2.4.1 Pengertian Harga Pokok Produksi
Menurut Samryn (2002) harga pokok produk meliputi semua biaya yang terjadi
dalam rangka pembelian atau pembuatan produk. Dalam pendekatan full costing
harga pokok produk akan sama jumlah dan komponennya dengan biaya pabrik.
Termasuk dalam kelompok biaya ini adalah biaya bahan langsung, biaya tenaga
Menurut Hansen dan Mowen (2006), harga pokok produksi mencerminkan
total biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Biaya yang
dibebankan ke barang yang diselesaikan adalah biaya manufaktur bahan langsung,
tenaga kerja langsung, dan overhead.
Menurut Bustami dan Nurlela (2006), harga pokok produksi adalah
kumpulan biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik ditambah persediaan produk dalam proses
awal dan dikurangi persediaan produk dalam proses akhir.
2.4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi
Menurut Bustami dan Nurlela (2006), harga pokok produksi akan sama dengan
biaya produksi apabila tidak ada persediaan produk dalam proses awal dan akhir.
Sehingga harga pokok produksi dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya-biaya
produksi yang terjadi selama proses produksi.
Contoh:
Biaya bahan baku langsung xxx
Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead xxx+
20
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM
PERUSAHAAN
3.1 Metodologi Penelitian 3.1.1 Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari 7 Februari sampai dengan 7 Mei 2011 di PT
Apollo Aneka Persada yang beralamat di Kara Industrial Park Blok C4 No.2,
Batam Centre, Telepon (0778) 465201, Faksimili (0778) 465247, Email:
[email protected]. Adapun objek dari penelitian ini adalah bagian
accounting dan bagian produksi PT Apollo Aneka Persada. Penulis melakukan
penelitian terkait perhitungan proyeksi harga pokok produksi dengan
menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC).
3.1.2 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam menyusun
tugas akhir ini adalah:
a. Observasi
Penulis melakukan pengamatan langsung dan sistematis pada objek
penelitian, seperti aktivitas yang dilakukan dan biaya-biaya apa saja yang
digunakan dalam menentukan proyeksi harga pokok produksi dengan
b. Wawancara
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik wawancara. Penulis akan
mengadakan dialog langsung dengan senior di bagian accounting dan bagian
produksi untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam peneliatian ini.
3.1.3 Metode Analisis Data
Dalam menyusun tugas akhir ini, teknik analisis yang digunakan penulis adalah
penelitian deskriptif. Penulis akan menjelaskan bagaimana perhitungan proyeksi
harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan Activity Based Costing
(ABC).
3.2 Gambaran Umum Perusahaan
3.2.1 Sejarah Berdirinya PT Apollo Aneka Persada
PT Apollo Aneka Persada berdiri sejak tanggal 26 Juni 2009 berdasarkan akta
notaris nomor 43 yang dikeluarkan di Batam oleh Notaris Anly Cenggana SH.
Perusahaan yang beralamat di Kara Industrial Park Blok C4 No 2 Batam Centre
ini didirikan oleh Riki Sendjaja sebagai Komisaris Utama, Herry Wijaya sebagai
komisaris, Lim Tiak Hian sebagai Direktur Utama, Kusuma Rahadi sebagai
Direktur Marketing, Phang Tiam Loi sebagai Direktur Finance & Administrasi.
Perusahaan ini telah mendapatkan pengesahan kehakiman dengan nomor
dokumen AHU-46891.AH.01.01 tanggal 30 September 2009.
PT Apollo Aneka Persada bergerak di sektor usaha manufaktur yang
memproduksi barang-barang penunjang perminyakan dan gas bumi. Produk yang
1/2”, 6 5/8”, 7”, 9 5/8”, 10 ¾”, 13 3/8”, dan 20”.Meski PT Apollo Aneka Persada sebagai badan hukum resmi didaftarkan tahun 2009, namun sebagai pembuat
barang-barang plastik pendukung industri minyak dan gas, usaha ini telah telah
dirintis melalui perusahaan afiliasi PT Apollo Aneka Plasindo di Cibitung,
Bekasi-Jawa Barat sejak tahun1996.
3.2.2 Produk Perusahaan
Produk yang diproduksi oleh PT Apollo Aneka Persada saat ini adalah Plastik dan
Composite Protector dengan ukuran sebagai berikut:
a. Plastik Protector, dengan ukuran sebagai berikut:
1. 2 7/8“
2. 3 ½“
3. 4 ½“
b. Composite Protector, dengan ukuran sebagai berikut:
1. 5 ½” 2. 6 5/8” 3. 7” 4. 9 5/8” 5. 10 ¾” 6. 13 3/8” 7. 20”
Untuk mendukung kegiatan PT Apollo Aneka Persada juga memproduksi
barang lainnya, yaitu:
b. Econowarp
c. Stopper
d. Spacer
3.2.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Setiap perusahaan pasti menginginkan pencapaian target yang maksimal dalam
menjalankan kegiatan usaha, baik dari segi keuntungan yang diperoleh maupun
kepuasan para pelanggannya karena hal inilah yang akan menjamin kelangsungan
usaha perusahaan di masa yang akan datang. Untuk mencapai hal ini, diperlukan
orang-orang yang dapat bekerja sama dengan baik demi tercapainya tujuan
perusahaan. Di sinilah letak pentingnya struktur organisasi bagi setiap perusahaan.
Setiap perusahaan mempunyai struktur organisasi yang berbeda-beda,
tergantung pada kebutuhan setiap perusahaan. Struktur organisasi dimaksudkan
untuk mewujudkan kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien, karena
adanya pembagian tanggung jawab bagi masing-masing unsur dalam perusahaan.
STRUKTUR ORGANISASI PT APOLLO ANEKA PERSADA
COMMISINERS
PRESIDENT DIRECTOR
SECT. TO THE BOD
OPERATIONAL DIR. FINANCE&GEN ADMIN/SERVICE DIR. MARKETING DIR. PRODUCTION MKT ADMIN HR/ PURCHASING ADMIN&SERV. FINANCE QC PPC MATERIAL MAINTENANCE
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Perusahaan Sumber : PT Apollo Aneka Persada
25 3.2.4 Job Description
Deskripsi pekerjaan dari setiap bagian dalam struktur organisasi yang ada di PT
Apollo Aneka Persada adalah:
1. Operational Director
a. Memastikan semua kegiatan operasional sudah berjalan di perusahaan dapat
berlangsung sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan diketahui
bersama.
b. Mengontrol semua aktivitas yang berjalan di perusahaan melalui kepala
departemen yang ditunjuk dari setiap departemen.
c. Memantau dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan kegiatan pengendalian
mutu yang berjalan di perusahaan.
d. Melakukan evaluasi kinerja setiap bagian yang barada di bawah otorisasi.
e. Mengotorisasi dokumen-dokumen penting seperti Receiving Voucher,
Purchase Order serta dokumen penting lainnya.
f. Memonitor kebutuhan material di dalam kelancaran operasional.
2. Marketing Director
a. Bertanggung jawab terhadap pemasaran produk perusahaan.
b. Melakukan penjualan terhadap produk perusahaan.
3. Finance & Gen. Admin Services Director
a. Membawahi finance, human resource, admin &sevices.
b. Melakukan evaluasi kinerja setiap bagian yang berada di bawah otorisasi.
c. Mengotorisasi dokumen-dokumen penting perusahaan yang berada di
4. Production
a. Berkoordinasi dengan setiap bagian agar proses produksi berjalan sesuai
dengan aliran produksi.
b. Mengamati produksi secara berkesinambungan agar pencapaian target
terpenuhi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
c. Melakukan pengawasan atas kegiatan produksi apakah telah sesuai dengan
prosedur dan peralatan yang terkontrol dengan benar.
d. Bertanggung jawab terhadap kegitan produksi perusahaan.
e. Membuat laporan produksi untuk periode tertentu.
f. Membawahi proses injection, metal, threading, dan painting.
5. Quality Control
a. Mengecek setiap produk yang telah selesai diproduksi untuk memastikan
bahwa produk tersebut telah sesuai dengan standard yang telah ditetapkan.
b. Menjaga dan menjamin kualitas produk pada waktu proses dan setelah
proses produksi.
c. Menerima dan menolak produk yang tidak sesuai dengan standard yang
telah ditetapkan.
6. Finance
a. Memimpin fungsi keuangan PT Apollo Aneka Persada termasuk
manajemen keuangan, akunting, pajak, audit, bendahara dan persediaan.
b. Bertanggung jawab atas perencanaan dan analisis pengeluaran modal dan
c. Menjamin pelaksanaan seluruh kebijakan perusahaan, mengatur pelaporan
lokal dan corporate, serta memberi saran pada manajemen tentang strategi
keuangan.
d. Membuat budget serta perkiraan dalam kebutuhan keuangan.
e. Menangani penerimaan uang, pengeluaran uang serta yang berhubungan
dengan utang dan piutang perusahaan.
f. Membuat laporan pajak setiap bulan.
g. Melakukan pembayaran terhadap supplier berdasarkan invoice, laporan
penerimaan barang dan purchase order.
7. Material
a. Mencatat keluar masuknya barang di gudang.
b. Melakukan aktivitas kontrol stok barang di gudang.
c. Mengawasi pengiriman barang ke atau dari perusahaan.
d. Melakukan pemeriksaan dan pengecekan terhadap jumlah barang yang
dipesan.
8. Maintenance
a. Melakukan perbaikan atas kerusakan fasilitas perusahaan seperti mesin,
kendaraan serta peralatan produksi lainnya.
b. Bertanggung jawab atas perawatan fasilitas perusahaan untuk kegiatan
produksi seperti mesin-mesin, listrik serta kendaraan pendukung produksi.
9. Purchasing
a. Mengawasi segala bentuk perencanaan dan pembelian bahan baku.
b. Melakukan pembelian bahan baku dan bahan baku pendukung
c. Memilih supplier yang menguntungkan perusahaan.
10. PPC (Planning Production Control)
a. Mengontrol rencana produksi perusahaan.
b. Mengawasi sistem pengendalian dan perencanaan produksi.
c. Menjamin ketetapan schedule fabrikasidan kebenaran dalam menyelesaikan
produk proyek sesuai standard dan persyaratan pelanggan.
11. Human Resource & Services
a. Menyeleksi, menerima dan mengangkat karyawan sesuai dengan
kebutuhan.
b. Menghitung dan membuat daftar gaji untuk semua karyawan.
c. Membuat laporan karyawan tentang kehadiran, cuti, pengunduran diri, serta
jumlah karyawan untuk kepentingan jamsostek.
29
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)
4.1.1 Mengidentifikasi Aktivitas dan Tingkatan Aktivitas
Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian produksi, bagian gudang, dan bagian
maintenance dan bagian Quality Control (QC), aktivitas-aktivitas yang dapat
penulis identifikasi adalah sebagai berikut:
1. Penanganan Bahan
Aktivitas penanganan bahan merupakan aktivitas yang terkait dengan
kegiatan penanganan bahan baku meliputi penerimaan bahan baku hingga
pengeluaran bahan baku untuk proses produksi. Penanganan bahan
dilakukan setiap suatu batch produk (sekelompok produk yang diproduksi
dalam satu kali proses) diproduksi sehingga aktivitas ini termasuk ke
dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead yang terkait dengan
aktivitas ini adalah biaya tenaga kerja tidak langsung (bagian material).
2. Pemrosesan Produk
Aktivitas pemrosesan produk merupakan aktivitas utama dalam
perusahaan. Aktivitas ini memproses bahan baku hingga menjadi sebuah
aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat unit. Biaya overhead yang
terkait dengan aktivitas ini terdiri dari:
a. Biaya administrasi pabrik, meliputi biaya work facility, printing,
fotocopy, stationary, air minum, dan kopi.
b. Biaya komunikasi dan energi, meliputi biaya telepon dan fax, biaya
listrik dan biaya air.
c. Biaya consumable (bahan pendukung)
d. Rejected
3. Perbaikan dan Perawatan
Aktivitas perbaikan dan perawatan merupakan aktivitas yang terkait
dengan perbaikan dan perawatan inventaris pabrik seperti mesin, peralatan
pabrik serta listrik pabrik. Bagian maintenance akan melakukan aktivitas
perbaikan inventaris pabrik yang mengalami kerusakan dan perawatan
inventaris pabrik setiap suatu batch produk (sekelompok produk yang
diproduksi dalam satu kali proses) diproduksi sehingga aktivitas ini
termasuk ke dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead yang terkait
dengan aktivitas ini, terdiri dari:
a. Biaya repair dan maintenance, yang meliputi biaya oli mesin dan
biaya lainnya yang terkait dengan perawatan dan perbaikan kerusakan
inventaris pabrik.
b. Biaya gaji bagian maintenace.
4. Pengawasan
Aktivitas pengawasan merupakan Aktivitas yang berkaitan dengan
produksi. Aktivitas ini dilakukan setiap suatu batch produk (sekelompok
produk yang diproduksi dalam satu kali proses) diproduksi sehingga
aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead
yang terkait dengan aktivitas ini adalah:
a. Biaya gaji supervisor produksi
b. Biaya gaji supervisor warehouse
c. Biaya gaji supervisor maintenance
d. Biaya gaji PPC
5. Pengecekan
Aktivitas pengecekan merupakan aktivitas ini berkaitan dengan kegiatan
pengecekan dan pemeriksaan terhadap produk jadi perusahaan. Hal ini
dilakukan untuk mengecek apakah produk telah sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan serta sesuai dengan pesanan dari konsumen.
Aktivitas ini dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi, sehingga aktivitas
ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat unit. Biaya yang terkait dengan
aktivitas ini adalah biaya gaji Quality Control (QC).
6. Packing Produk
Aktivitas packing produk merupakan aktivitas yang terkait dengan
pengepakan produk perusahaan sesuai dengan jumlah produk yang dipesan
oleh pelanggan. Aktivitas packing produk merupakan aktivitas yang
dilakukan untuk mendukung pemasaran produk perusahaan ke konsumen
sehingga aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat produk. Biaya
yang terkait dengan aktivitas ini adalah delivery expense yang terdiri dari
7. Pemeliharaan Fasilitas
Aktivitas ini terkait dengan pemeliharaan inventaris pabrik. Aktivitas ini
menopang proses umum produksi suatu pabrik dan tidak memberikan
manfaat kepada produk secara spesifik sehingga aktivitas ini termasuk ke
dalam aktivitas tingkat fasilitas. Biaya overhead yang terkait dengan
aktivitas ini adalah biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, dan biaya sewa
gedung.
Setelah mengetahui aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan
produksi, dapat ditentukan penggerak aktivitas dari setiap aktivitas.
Aktivitas-aktivitas tersebut selanjutnya digolongkan ke dalam tingkat Aktivitas-aktivitas. Hal ini
dapat dilihat di Tabel 4.1.
Tabel 4.1
Aktivitas dan Tingkat Aktivitas
No Aktivitas Tingkat Aktivitas
1 Penanganan Bahan Aktivitas tingkat batch
2 Pemrosesan Aktivitas tingkat unit
3 Perbaikan dan Perawatan Aktivitas tingkat batch
4 Pengawasan Aktivitas tingkat batch
5 Pengecekan Aktivitas tingkat unit
6 Packing Produk Aktivitas tingkat produk 7 Pemeliharaan Fasilitas Aktivitas tingkat fasilitas
4.1.2 Membebankan Biaya ke Aktivitas
Setelah akitivitas diidentifikasi dan dijelaskan, langkah selanjutnya adalah
Tabel 4.2
Rincian Biaya Overhead Setiap Aktivitas Tahun Anggaran 2011
No Aktivitas Elemen Biaya Jumlah Biaya
(Rp) 1 - Penanganan Bahan gaji bagian material 62,108,583
(aktivitas tingkat batch)
2 - Pemprosesan biaya administrasi pabrik 16,215,000 (aktivitas tingkat unit) biaya komunikasi dan energi pabrik 847,800,000
biaya consumable
rejected
6,056,772 156,242,756 3 - Perbaikan dan Perawatan biaya repair & maintenance 130,522,170 (aktivitas tingkat batch) gaji maintenance 15,527,146 4 - Pengawasan gaji supervisor produksi 32,752,841 ( aktivitas tingkat batch) gaji supervisor warehouse 23,337,683 gaji supervisor maintenance 23,277,422
gaji PPC 35,174,561
5 - Pengecekan gaji Quality Control (QC) 68,637,478 ( aktivitas tingkat unit)
6 - Packing Produk delivery expense 63,687,000 (aktivitas tingkat produk)
7 Pemeliharaan Fasilitas depreciation (inventaris pabrik) 465,019,564 (aktivitas tingkat fasilitas) insurance(mesin) 5,000,000
sewa gedung 293,160,000
Total 2,244,518,976
Sumber Data : PT Apollo Aneka Persada
4.1.3 Mengidentifikasi Cost Driver
Sebelum menentukan cost driver setiap aktivitas, terlebih dahulu ditentukan
penggerak aktivitas dari setiap aktivitas, yaitu sebagai berikut:
1. Penanganan Bahan
Biaya overhead yang terkait oleh aktivitas ini merupakan biaya gaji tenaga
kerja bagian material. Biaya ini digunakan untuk membiayai aktivitas
penanganan bahan. Jam kerja karyawan bagian material akan sama dengan
aktivitas penanganan bahan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja
bagian material.
2. Pemrosesan Produk
PT Apollo Aneka Persada memiliki 12 mesin, sehingga hampir seluruh
kegiatan produksinya menggunakan mesin. Mesin-mesin tersebut beroperasi
setiap jam kerja termasuk ketika over time. Sehingga untuk aktivitas
pemrosesan produk penggerak aktivitasnya adalah jam mesin.
3. Perbaikan dan Perawatan
Aktivitas perbaikan dan perawatan inventaris pabrik dilakukan setiap
harinya oleh karyawan bagian maintenance. Waktu yang dihabiskan untuk
aktivitas ini merupakan waktu bagian maintenance melakukan kegiatan
perbaikan dan perawatan (jam kerja maintenance). Sehingga untuk aktivitas
perbaikan dan perawatan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja
bagian maintenance.
4. Pengawasan
Aktivitas pengawasan dilakukan setiap harinya oleh karyawan bagian
pengawasan. Waktu yang dihabiskan untuk aktivitas ini merupakan waktu
bagian pengawasan (supervisor) melakukan kegiatan pengawasan terhadap
setiap aktivitas dan bagiannya (jam kerja bagian pengawasan). Sehingga
untuk aktivitas pengawasan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja
bagian pengawasan.
5. Pengecekan
Aktivitas pengecekan dilakukan ketika produk telah diproses. Waktu yang
bagian Quality Control (QC) dalam mengecek produk setiap unitnya (jam
kerja bagian Quality Control). Sehingga untuk aktivitas pengawasan
penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja bagian Quality Control
(QC).
6. Packing Produk
Aktivitas packing produk dilakukan setelah produk dicek setiap unitnya.
Jumlah biaya yang dihabiskan untuk aktivitas ini tergantung banyaknya unit
produk yang diproduksi. Sehingga untuk aktivitas packing produk
penggerak aktivitasnya adalah unit produksi.
7. Pemeliharaan Fasilitas
Biaya yang terkait dengan aktivitas pemeliharaan fasilitas adalah biaya
tetap. Besar kecilnya jumlah unit produk yang diproduksi oleh perusahaan
tidak akan menambah atau mengurangi biaya untuk aktivitas ini. Kapasitas
produksi setiap produk yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan
perusahaan dalam memproduksi dapat dipilih sebagai penggerak aktivitas
untuk aktivitas ini. Alasannya karena biaya terkait dengan aktivitas ini
ditetapkan untuk kapasitas produksi perusahaan.
Setelah penggerak aktivitas untuk setiap aktivitas ditentukan, langkah
selanjutnya adalah menentukan cost driver untuk setiap aktivitas. Cost driver
merupakan jumlah penggerak aktivitas dari setiap aktivitas selama satu tahun.
Cost driver ini akan menjadi pembagi biaya produksi ketika dilakukan penentuan
Tabel 4.3
Jumlah Penggerak Aktivitas Setiap Aktivitas Tahun Anggaran 2011 No Ukuran Protector Jam TKTL (BB) Jam Mesin Jam TKTL (B) Jam TKTL (P) Jam TKTL (C) Unit Produksi (set) Kapasitas Produksi (set) 1 2-7/8" 91 284 23 101 69 1,129 1,162 2 3-1/2" 108 335 27 119 81 1,334 1,374 3 4-1/2" 208 645 52 230 156 2,565 2,642 4 5-1/2" 340 1,057 85 376 255 4,206 4,333 5 6-5/8" 150 464 37 165 112 1,847 1,902 6 7" 839 2,605 210 927 629 10,362 10,673 7 9-5/8" 1,395 4,332 349 1,542 1,046 17,236 17,753 8 10-3/4" 1,594 4,951 399 1,763 1,196 19,698 20,289 9 13-3/8" 2,674 8,304 668 2,956 2,005 33,035 34,026 10 20" 905 2,811 226 1,001 679 11,182 11,518 TOTAL 8,304 25,788 2,076 9,180 6,228 102,594 105,672 Sumber : PT Apollo Aneka Persada
Keterangan : BB = Penanganan Bahan
B = Perbaikan
P = Pengawasan
C = Pengecekan
Tabel 4.4
Cost Driver Tiap aktivitas
No Aktivitas Penggerak Aktivitas Cost Driver
1 Penanganan Bahan Jam Kerja TKTL (M) 8,304
2 Pemrosesan Jam Mesin 25,788
3 Perbaikan dan Perawatan Jam Kerja TKTL (MT) 2,076
4 Pengawasan Jam Kerja TKTL (S) 9,180
5 Pengecekan Jam Kerja TKTL (QC) 6,228
6 Packing Produk Unit Produksi 102,594 7 Pemeliharaan Fasilitas Kapasitas Produksi 105,672
Keterangan : M = Material MT = Maintenance
4.1.4 Menentukan Tarif
Setelah cost driver setiap aktivitas ditentukan, langkah selanjutnya adalah
menentukan tarif setiap aktivitas. Tarif setiap aktivitas dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Tarif Overhead = Jumlah Biaya Aktivitas
Cost Driver
Contoh perhitungan :
Tarif Overhead Penanganan Bahan = 62,108,583 8,304
= 7,479.36
Tabel 4.5
Tarif Overhead Setiap Aktivitas
No Aktivitas Tarif Overhead
(Rp)
1 Penanganan Bahan 7,479.36
2 Pemprosesan 39,798.14
3 Perbaikan dan Perawatan 70,351.31
4 Pengawasan 12,477.40
5 Pengecekan 11,020.79
6 Packing Produk 620.77 7 Pemeliharaan Fasilitas 7,222.16
4.1.5 Pembebanan Biaya ke Produk
Setelah biaya dari aktivitas ditentukan, maka biaya tersebut dapat dibebankan
pada produk dalam suatu proporsi sesuai dengan penggunaan aktivitasnya, seperti
yang diukur oleh penggerak aktivitas. Pembebanan ini dapat diselesaikan dengan
cara :
Tabel 4.6
Biaya Bahan Baku, Biaya TKL dan Bahan Baku Tidak Langsung Tahun Anggaran 2011
Ukuran Biaya BB Biaya TKL BB Tidak Langsung Unit Produksi
Protector (Rp) (Rp) (Rp) (set) 2-7/8" 69,314,762 3,074,405 - 12,500 3-1/2" 85,334,789 3,633,387 - 13,990 4-1/2" 157,252,279 6,987,283 - 13,504 5-1/2" 238,362,143 11,459,144 - 7,000 6-5/8" 103,165,401 5,030,844 3,286,016 2,200 7" 589,345,867 28,228,624 18,351,027 12,000 9-5/8" 988,933,837 46,954,542 19,134,563 11,500 10-3/4" 1,136,844,027 53,662,334 19,134,563 11,500 13-3/8" 1,904,582,321 89,996,206 27,238,481 15,300 20" 647,861,919 30,464,554 6,553,846 3,100 Total 5,920,997,345 279,491,324 93,698,496 102,594 Sumber Data : PT Apollo Aneka Persada
Tabel 4.7
Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi
Keterangan Perhitungan
Ukuran Protector 2-7/8" 3-1/2" 4-1/2" Biaya Bahan Baku (Rp) 69,314,762 85,334,789 157,252,279
Biaya TKL (Rp) 3,074,405 3,633,387 6,987,283 BB Tidak Langsung (Rp) - - - Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 91 x 7479.36 680,622 108 x 7479.36 807,771 208 x 7479.36 1,555,707 Pemrosesan 284 x 39798.14 11,302,672 335 x 39798.14 13,332,377 645 x 39798.14 25,669,800
Perbaikan dan Perawatan
23 x 70351.31 1,618,080 27 x 70351.31 1,899,485 52 x 70351.31 3,658,268 Pengawasan 101 x 12477.4 1,260,217 119 x 12477.4 1,484,811 230 x 12477.4 2,869,802 Pengecekan 69 x 11020.79 760,435 81 x 11020.79 892,684 156 x 11020.79 1,719,243 Packing Produk 1129 x 620.77 700,849 1334 x 620.77 828,107 2565 x 620.77 1,592,275 Pemeliharaan Fasilitas 1162 x 7222.16 8,392,150 1374 x 7222.16 9,923,248 2642 x 7222.16 19,080,947
Total Biaya Overhead 24,715,025 29,168,483 56,146,042 Harga Pokok Produksi 97,104,192 118,136,659 220,385,604
Unit Produksi 12,500 13,990 13,504
Tabel 4.8
Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi (Lanjutan)
Keterangan Perhitungan
Ukuran Protector 5-1/2" 6-5/8" 7"
Biaya Bahan Baku (Rp) 238,362,143 103,165,401 589,345,867
Biaya TKL (Rp) 11,459,144 5,030,844 28,228,624 BB Tidak Langsung (Rp) - 3,286,016 18,351,027 Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 340 x 7479.36 2,542,982 150 x 7479.36 1,121,904 839 x 7479.36 6,275,183 Pemrosesan 1057 x 39798.14 42,066,634 464 x 39798.14 18,466,337 2605 x 39798.14 103,674,155
Perbaikan dan Perawatan
85 x 70351.31 5,979,861 37 x 70351.31 2,602,998 210 x 70351.31 14,773,775 Pengawasan 376 x 12477.4 4,691,502 165 x 12477.4 2,058,771 927 x 12477.4 11,566,550 Pengecekan 255 x 11020.79 2,810,301 112 x 11020.79 1,234,328 629 x 11020.79 6,932,077 Packing Produk 4206 x 620.77 2,610,959 1847 x 620.77 1,146,562 10362 x 620.77 6,432,419 Pemeliharaan Fasilitas 4333 x 7222.16 31,293,619 1902 x 7222.16 13,736,548 10673 x 7222.16 77,082,114
Total Biaya Overhead 91,995,859 40,367,449 226,736,272 Harga Pokok Produksi 341,817,146 151,849,710 862,661,790
Unit Produksi 7,000 2,200 12,000
Tabel 4.9
Perhitungan Harga Pokok Produksi (Lanjutan)
Keterangan Perhitungan
Ukuran Protector 9-5/8" 10-3/4" 13-3/8" Biaya Bahan Baku (Rp) 988,933,837 1,136,844,027 1,904,582,321
Biaya TKL (Rp) 46,954,542 53,662,334 89,996,206 BB Tidak Langsung (Rp) 19,134,563 19,134,563 27,238,481 Biaya Overhead: Penanganan Bahan 1395 x 7479.36 10,433,707 1594 x 7479.36 11,922,100 2674 x 7479.36 19,999,809 Pemrosesan 4332 x 39798.14 172,405,542 4951 x 39798.14 197,040,591 8304 x 39798.14 330,483,755
Perbaikan dan Perawatan
349 x 70351.31 24,552,607 399 x 70351.31 28,070,173 668 x 70351.31 46,994,675 Pengawasan 1542 x 12477.4 19,240,151 1763 x 12477.4 21,997,656 2956 x 12477.4 36,883,194 Pengecekan 1046 x 11020.79 11,527,746 1196 x 11020.79 13,180,865 2005 x 11020.79 22,096,684 Packing Produk 17236 x 620.77 10,699,592 19698 x 620.77 12,227,927 33035 x 620.77 20,507,137 Pemeliharaan Fasilitas 17753 x 7222.16 128,215,006 20289 x 7222.16 146,530,404 34026 x 7222.16 245,741,216
Total Biaya Overhead 377,074,352 430,969,716 722,706,470 Harga Pokok Produksi 1,432,097,294 1,640,610,640 2,744,523,478
Unit Produksi 11,500 11,500 15,300
Tabel 4.10
Perhitungan Harga Pokok Produksi (Lanjutan)
Keterangan Perhitungan
Ukuran Protector 20"
Biaya Bahan Baku (Rp) 647,861,919
Biaya TKL (Rp) 30,464,554 BB Tidak Langsung (Rp) 6,553,846 Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 905 x 7479.36 6,768,821 Pemrosesan 2811 x 39798.14 111,872,572
Perbaikan dan Perawatan
226 x 70351.31 15,899,396 Pengawasan 1,001 x 12477.4 12,489,877 Pengecekan 679 x 11020.79 7,483,116 Packing Produk 11,182 x 620.77 6,941,450 Pemeliharaan Fasilitas 11,518 x 7222.16 83,184,839
Total Biaya Overhead 244,640,071
Harga Pokok Produksi 929,520,390
Unit Produksi 3,100
4.2 Perbandingan Proyeksi Harga Pokok Produksi Versi Perusahaan dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)
Hasil perhitungan proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan memiliki
perbedaan dengan hasil perhitungan versi penulis. Hal ini dapat di lihat pada
Tabel 4.11.
Tabel 4.11
Perbandingan Proyeksi HPP Versi Perusahaan dengan Versi Penulis
Ukuran HPP Perusahaan HPP ABC Selisih
(Rp) Protector (Rp) (Rp) 2-7/8" 7,344 7,768 424 3-1/2" 8,064 8,444 380 4-1/2" 15,423 16,320 897 5-1/2" 45,257 48,831 3,574 6-5/8" 64,259 69,023 4,764 7" 67,201 71,888 4,687 9-5/8" 116,336 124,530 8,194 10-3/4" 133,386 142,662 9,276 13-3/8" 167,572 179,381 11,809 20" 280,158 299,845 19,687 Total 904,999 968,692 63,693
Dari perhitungan di atas terdapat selisih antara harga pokok produksi versi
perusahaan dengan hasil perhitungan penulis yaitu sebesar Rp 63.693,00. Selisih
ini terjadi untuk semua ukuran protector. Jika dibandingkan dengan proyeksi
harga pokok produksi versi perusahaan, harga pokok produksi hasil perhitungan
penulis lebih tinggi.
Perbedaan/selisih proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan dengan
versi penulis terjadi karena perbedaan pembebanan biaya overhead ke setiap
masing-masing produk dibebankan dengan menggunakan beberapa cost driver
seperti jam mesin, jam tenaga kerja tidak langsung, unit produksi dan kapasitas
produksi. Sehingga metode Activity Based Costing (ABC) telah mampu
mengalokasikan biaya overhead ke masing-masing produk secara tepat
berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas oleh setiap produk.
45
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Perhitungan proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan
pendekatan Activity Based Costing (ABC) merupakan proses dua tahap.
Tahap pertama, aktivitas diidentifikasi dan dikelompokkan ke dalam
beberapa tingkatan aktivitas. Biaya-biaya overhead akan dibebankan ke
setiap aktivitas. Aktivitas-aktivitas yang berada pada tingkatan dan cost
driver yang sama akan dikelompokkan menjadi satu. Selanjutnya tarif
overhead untuk setiap aktivitas ditetapkan dengan cara membagi biaya
produksi setiap aktivitas dengan cost driver aktivitas tersebut. Tahap kedua
yaitu pembebanan biaya ke produk. Pembebanan ini dilakukan dengan cara
mengalikan tarif overhead setiap aktivitas dengan penggunaan aktivitas oleh
produk.
2. Terjadi selisih antara proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan
dengan perhitungan yang dilakukan penulis yaitu sebesar Rp 63.693,00.
Selisih ini terjadi karena dalam menghitung biaya overhead untuk
masing-masing produk penulis menggunakan cost driver lebih dari satu. Sehingga
metode Activity Based Costing (ABC) telah mampu mengalokasikan biaya
overhead ke setiap produk secara tepat berdasarkan konsumsi aktivitas
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis uraikan dalam penyusunan tugas akhir ini
adalah:
1. Perusahaan sebaiknya melakukan perhitungan harga pokok produksi untuk
setiap jenis ukuran protector. Dengan mengetahui harga pokok produksi
setiap ukuran protector, perusahaan mempunyai dasar dalam menetapkan
harga pokok penjualan dan harga jual produk.
2. Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan penggunaan Activity Based
Costing (ABC) dalam menentukan harga pokok produksi setiap ukuran protector. Keanekaragaman ukuran protector yang dihasilkan oleh
perusahaan akan menyulitkan perusahaan dalam mengalokasikan biaya ke
masing-masing produk. Pendekatan Activity Based Costing (ABC) dapat
membantu perusahaan untuk mengukur secara cermat biaya-biaya yang
terjadi dari setiap aktivitas yang akan dialokasikan ke setiap produk.
Sehingga harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan ini akan
menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.
3. Dalam melakukan perhitungan proyeksi harga pokok produksi, penulis
hanya menggunakan data projected (anggaran) tahun 2011, sehingga hasil
perhitungannya memiliki perbedaan dengan harga pokok produksi
aktualnya. Perusahaan dapat melakukan perhitungan harga pokok produksi
dengan menggunakan data aktual agar memperoleh proyeksi harga pokok