• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA PERSADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA PERSADA"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK

PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY

BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA

PERSADA

TUGAS AKHIR

Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan Program Diploma III

Oleh:

INNES KURNIA 3110801069

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

POLITEKNIK NEGERI BATAM

2011

(2)

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tugas Akhir ini adalah karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Innes Kurnia

Nim : 3110801069

Tanda Tangan : ………

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS AKHIR

PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO

ANEKA PERSADA Oleh: INNES KURNIA 3110801069 BATAM, 21 Juni 2011 Dosen Pembimbing

Ely Kartikaningdyah, SE, M.Si. 109058

Dosen Penguji I Dosen Penguji II

Bambang Hendrawan, ST, M.Si. Chici Rhamdaniah, SE

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah S.W.T yang telah memberikan

rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang

dilakukan di PT Apollo Aneka Persada dengan judul “ Perhitungan Proyeksi

Harga Pokok Produksi dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada “. Tugas akhir ini diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan untuk kelulusan Program Diploma III.

Dalam menyelesaikan tugas akhir ini penulis banyak menerima bantuan

dan masukan baik dalam petunjuk, saran, nasehat dan dorongan dari berbagai

pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Allah S.W.T atas nafas yang diberikan kepada penulis , sehingga penulis dapat

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

2. Kedua orang tua ku tercinta atas doa dan dorongan serta nasehat nya sehingga

penulis semangat menyelesaikan tugas akhir ini.

3. Ibu Ely Kartikaningdyah selaku dosen pembimbing yang telah banyak

meluangkan waktu dam memberikan masukan dan saran untuk membantu

penulis menyelesaikan tugas akhir ini.

4. Seluruh staf dan karyawan PT Apollo Aneka Persada yang telah memberikan

bantuan berupa fasilitas, masukan, saran dan kerja sama dalam proses

pengambilan data.

5. Dosen Penguji I yaitu Bapak Bambang Hendrawan dan Dosen Penguji II yaitu

(5)

v

6. Semua dosen Akuntansi yang telah memberikan banyak ilmu serta

bimbingannya selama 3 tahun ini.

7. Teman-teman ku ina, winda,mery, dan farika atas masukan dan sarannya.

8. Buat kakak ku tecinta terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

9. Seluruh teman-teman akuntansi 2008 yang tidak bisa disebutkan satu persatu

terima kasih untuk kebersamaan kita selama 3 tahun ini.

Akhir kata, penulis berharap agar Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi

seluruh pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis menyadari bahwa

banyak isi dari tugas akhir ini belum sempurna, oleh karena itu penulis

mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kebaikan di masa

yang akan datang.

Batam, 18 Juli 2011 Penulis

Innes Kurnia 3110801069

(6)

vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Politeknik Negeri Batam, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Innes Kurnia

NIM : 3110801069

Program Studi : Akuntansi

Jenis Karya : Tugas Akhir/Skripsi/Karya Ilmiah

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Politeknik Batam Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive

Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC) PADA PT APOLLO ANEKA PERSADA” beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Politeknik Negeri Batam berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemillik Hak Cipta.

Demikian penyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Batam Pada tanggal : 18 Juli 2011

Yang menyatakan

(7)

vii ABSTRAK

Nama : Innes Kurnia

Program Studi : Akuntansi

Judul : Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada

Keanekaragaman produk merupakan salah satu masalah bagi perusahaan untuk menetapkan harga pokok produksi setiap produk. Tugas akhir ini bertujuan untuk menghitung proyeksi harga pokok produksi dengan pendekatan Activity Based

Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada. Penelitian ini menggunakan

analisis deskriptif. Terjadi selisih antara hasil perhitungan penulis dengan perhitungan versi perusahaan. Hasil penelitian ini menyarankan perusahaan untuk mempertimbangkan menggunakan perhitungan harga pokok produksi dengan pendekatan Activity Based Costing (ABC). Pendekatan Activity Based Costing (ABC) dapat membantu perusahaan untuk mengukur secara cermat biaya-biaya yang terjadi dari setiap aktivitas yang akan dialokasikan ke setiap produk, sehingga harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan ini akan menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.

(8)

viii DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Lembar Pernyataan Orisinalitas ... ii

Lembar Pengesahaan ... iii

Kata Pengantar ... iv

Lembar Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah... vi

Abstrak ... ... vii

Daftar Isi... viii

Daftar Tabel .... ... x

Daftar Gambar ... xi

Daftar Lampiran ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Batasan Masalah ... 3 1.4 Tujuan Penelitian ... 4 1.5 Manfaat Penelitian ... 4 1.6 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Biaya ... 7

2.1.1 Pengertian Biaya ... 7

2.1.2 Klasifikasi Biaya ... 7

2.2 Aktivitas ... 11

2.2.1 Pengertian Aktivitas... 11

2.2.2 Penggolongan Tingkat Aktivitas ... 11

2.2.3 Pemacu Aktivitas ... 12

2.3 Activity Based Costing (ABC) ... 13

2.3.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC) ... 13

2.3.2 Manfaat Sistem Activity Based Costing (ABC) ... 14

2.3.3 Pemacu Biaya (Cost Driver) ... 14

2.3.4 Perhitungan Biaya Produk dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) ... 15

2.4 Harga Pokok Produksi ... 18

2.4.1 Pengertian Harga Pokok Produksi ... 18

2.4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi ... 19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 20

3.1 Metodologi Penelitian ... 20

3.1.1 Objek Penelitian... 20

(9)

ix

3.1.3 Metode Analisis Data ... 21

3.2 Gambaran Umum Perusahaan ... 21

3.3.1 Sejarah Berdirinya PT Apollo Aneka Persada... 21

3.3.2 Produk Perusahaan... 22

3.3.3 Struktur Organisasi Perusahaan ... 23

3.3.4 Job Description ... 25

BAB IV PEMBAHASAN ... 29

4.1 Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)... 29

4.1.1 Mengidentifikasi Aktivitas dan Tingkatan Aktivitas ... 29

4.1.2 Membebankan Biaya ke Aktivitas ... 32

4.1.3 Mengidentifikasi Cost Driver ... 33

4.1.4 Menentukan Tarif ... 37

4.1.5 Pembebanan Biaya ke Produk ... 38

4.2 Perbandingan Proyeksi Harga Pokok Produksi Versi Perusahaan dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC) ... 43

BAB V PENUTUP ... 45

5.1 Kesimpulan ... 45

5.2 Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ……….. ... 47 LAMPIRAN

(10)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Tabel Aktivitas dan Tingkat Aktivitas ... 32

Tabel 4.2 Tabel Rincian Biaya Overhead Setiap Aktivitas ... 33

Tabel 4.3 Tabel Jumlah Penggerak Aktivitas Setiap Aktivitas ... 36

Tabel 4.4 Tabel Cost Driver Tiap Aktivitas ... 36

Tabel 4.5 Tabel Tarif Overhead Setiap Aktivitas... 37

Tabel 4.6 Tabel Biaya Bahan Baku dan Biaya TKL Tahun Anggaran 2011 ... 38

Tabel 4.7 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 49

Tabel 4.8 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 40

Tabel 4.9 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 41

Tabel 4.10 Tabel Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi ... 42

Tabel 4.11 Tabel Perbandingan Proyeksi HPP Versi Perusahaan dengan Pendekatan ABC ... 43

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

(12)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Laporan Magang Lampiran 2 : Produk Perusahaan

Lampiran 3 : Proyeksi Penggunaan Direct Material dan Indirect Material Lampiran 4 : Dokumen-dokumen yang Digunakan pada Bagian Store

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan industri di Batam dewasa ini cukup pesat, sehingga banyak berdiri

perusahaan-perusahaan baru yang bergerak di berbagai bidang, termasuk dalam

bidang manufaktur. Lokasi Kota Batam yang strategis dan didukung oleh

permintaan pasar yang bagus, merupakan salah satu alasan berdirinya PT Apollo

Aneka Persada. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2009 ini, memproduksi

protector (pelindung) pipa yang berukuran 2-7/8”, 3-1/2”, 4-1/2”, 5-1/2”, 6-5/8”,

7”, 9-5/8”, 10-3/4”,13-3/8” dan 20”.

PT Apollo Aneka Persada melakukan kegiatan produksi berdasarkan

pesanan, tetapi perusahaan tetap melakukan kegiatan produksi setiap harinya

tanpa harus menunggu pesanan dari konsumen. Perusahaan telah memenuhi

permintaan pasar dalam negeri serta melakukan ekspor produknya, khususnya ke

Singapura. Salah satu konsumen dengan tingkat pemesanan tertinggi selama tahun

2010 adalah Marubeni Itochu Tabulars Asia Pte Ltd (MITA).

Dalam rangka menghindari kerugian perusahaan, penetapan harga pokok

produksi menjadi suatu masalah yang kompleks bagi perusahaan karena

merupakan acuan bagi perusahaan untuk menetapkan harga pokok penjualan.

Harga pokok produksi merupakan jumlah biaya bahan baku langsung (direct

material), tenaga kerja langsung, serta biaya overhead yang terjadi selama proses

(14)

mempengaruhi harga pokok penjualan dan menyebabkan perusahaan mengalami

kerugian.

PT Apollo Aneka Persada menghasilkan protector dengan berbagai macam

ukuran, sehingga output yang dijual oleh perusahaan lebih dari satu.

Keanekaragaman ukuran protector mengakibatkan banyaknya jenis biaya serta

aktivitas yang terjadi selama proses produksi. Hal ini akan menyulitkan

perusahaan untuk mengalokasikan biaya overhead ke masing-masing produk.

Metode Activity Based Costing (ABC) dapat membantu perusahaan untuk

mengukur secara cermat biaya-biaya yang terjadi dari setiap aktivitas yang akan

dialokasikan ke setiap produk.

Keanekaragaman ukuran protector berarti bahwa masing-masing ukuran

protector mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda.

Menurut Hansen dan Mowen (2006), dalam lingkungan yang memiliki

keanekaragaman produk, pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas

(activity based costing) menjanjikan keakuratan yang lebih baik dan keputusan

dibuat berdasarkan fakta yang benar.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis tertarik

untuk mengambil judul “PERHITUNGAN PROYEKSI HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

(15)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah

sebagai berikut:

a. Bagaimana perhitungan proyeksi harga pokok produksi protector dengan menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC).

b. Bagaimana perbandingan proyeksi harga pokok produksi protector yang menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan yang telah

diterapkan perusahaan.

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah: a. Batasan Data

Data yang digunakan adalah data yang berhubungan dengan perhitungan

proyeksi harga pokok produksi tahun 2011 dengan menggunakan

pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo Aneka Persada.

b. Batasan Lapangan

Penelitian ini dilakukan pada bagian accounting dan bagian produksi pada

PT Apollo Aneka Persada.

c. Batasan Aspek

Dalam penelitian ini penulis hanya mengarah pada aspek perhitungan

proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan

(16)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk menghitung proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan

pendekatan pendekatan Activity Based Costing (ABC) pada PT Apollo

Aneka Persada.

b. Untuk membandingkan proyeksi harga pokok produksi protector yang

menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan yang telah

diterapkan perusahaan.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

a. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi

perusahaan berkaitan dengan perhitungan harga pokok produksi.

b. Bagi Penulis

Sebagai wadah menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku

kuliah dan untuk mengetahui penerapan dan praktek sesungguhnya.

c. Bagi Pustaka

(17)

1.6 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:

Bab I Pendahuluan

Pada bab ini penulis menguraikan latar belakang, rumusan masalah,

batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika

penulisan

Bab II Tinjauan Pustaka

Dalam bab ini dibahas landasan teori yang mendasari penelitian yang

berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan perhitungan proyeksi

harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan Activity Based

Costing (ABC).

Bab III Metodologi Penelitian dan Gambaran Umum Perusahaan

Dalam bab ini, menjelaskan tentang objek penelitian, teknik

pengumpulan data, dan metode analisis data penelitian. Selain itu, pada

bab ini juga dibahas tentang sejarah perusahaan, kegiatan dan jenis

usaha serta perkembangan usaha sampai saat ini.

Bab IV Pembahasan

Bab ini akan berisi jawaban dari seluruh rumusan masalah tentang

perhitungan proyeksi harga pokok produksi protector dengan

(18)

Bab V Penutup

Pada bab ini penulis akan membuat kesimpulan dan saran yang diambil

dari pembahasan yang ada pada bab IV.

(19)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biaya

2.1.1 Pengertian Biaya

Hansen dan Mowen (2006) menyatakan bahwa biaya adalah kas atau nilai

ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang

diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi

organisasi. Dikatakan sebagai ekuivalen kas karena sumber nonkas dapat ditukar

dengan barang atau jasa yang diinginkan.

Bustami dan Nurlela (2006) menyatakan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau

kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut

Samryn (2002), istilah biaya umumya digunakan untuk pengorbanan manfaat

ekonomis untuk memperoleh jasa yang tidak bisa dikapitalisir nilainya.

2.1.2 Klasifikasi Biaya

Menurut Bustami dan Nurlela (2006), biaya dapat diklasifikasikan sebagai

berikut:

1. Biaya dalam hubungannya dengan produk

a. Biaya produksi, adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang

terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya

overhead.

(20)

 Biaya bahan baku langsung, adalah bahan baku yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk selesai dan dapat

ditelusuri langsung kepada produk selesai.

 Tenaga kerja langsung, adalah tenaga kerja yang merubah atau mengkonversi bahan baku menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri

secara langsung kepada produk selesai.

 Biaya overhead pabrik, merupakan biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung tetapi membantu dalam merubah bahan

menjadi produk selesai. Biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung

kepada produk selesai.

Biaya overhead dapat dikelompokkan sebagai berikut:

- Bahan tidak langsung (bahan pembantu atau penolong), merupakan

bahan yang digunakan dalam penyelesaian produk tetapi

pemakaiannya relatif lebih kecil dan biaya ini tidak dapat ditelusuri

secara langsung ke produk selesai.

- Tenaga kerja tidak langsung, adalah tenaga kerja yang membantu

dalam pengolahan produk selesai, tetapi tidak dapat ditelusuri

kepada produk selesai. Misalnya gaji resepsionis pabrik.

- Biaya tidak langsung lainnya, merupakan biaya selain bahan tidak

langsung dan tenaga kerja tidak langsung yang membantu dalam

pengolahan produk selesai, tetapi tidak dapat ditelusuri ke produk

selesai. Misalnya listrik pabrik.

b. Biaya non produksi, adalah biaya yang tidak berhubungan dengan proses

(21)

Biaya ini terdiri dari:0

 Beban Pemasaran, adalah biaya yang dikeluarkan apabila produk selesai dan siap dipasarkan ke tangan konsumen. Misalnya beban iklan

dan promosi.

 Beban Administrasi, merupakan biaya yang dikeluarkan dalam hubungan dengan kegiatan penentu kebijakan, pengarahan, pengawasan

kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berjalan dengan

efektif dan efisien.

 Beban Keuangan, adalah biaya yang muncul dalam melaksanakan fungsi-fungsi keuangan.

2. Biaya dalam Hubungannya dengan Volume Produksi

a. Biaya variabel, adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan

volume produksi dalam rentang relevan, tetapi tidak per unit tetap.

Misalnya biaya bahan bakar.

b. Biaya tetap, adalah biaya yang secara totalitas bersifat tetap dalam rentang

relevan tertentu, tetapi secara per-unit berubah. Misalnya penyusutan jika

menggunakan metode garis lurus.

c. Biaya Semi, adalah biaya yang didalamnya mengandung unsur tetap dan

mengandung unsur variabel.

Biaya semi ini dapat dikelompokkan menjadi dua elemen, yaitu:

 Biaya semivariabel, merupakan biaya yang di dalamnya mengandung unsur tetap dan memperlihatkan karakter tetap dan variabel, seperti

(22)

 Biaya semitetap, merupakan biaya yang berubah dan volume secara bertahap, seperti gaji penyelia.

3. Biaya dalam Hubungannya dengan Departemen Produksi

a. Biaya langsung departemen, adalah biaya yang dapat ditelusuri secara

langsung ke departemen bersangkutan. Misalnya gaji mandor pegawai

pabrik departemen cutting.

b. Biaya tidak langsung departemen, adalah biaya yang tidak dapat ditelusuri

secara langsung ke departemen bersangkutan. Misalnya biaya penyusutan

yang merupakan biaya yang manfaatnya digunakan secara bersama oleh

masing-masing departemen.

4. Biaya dalam Hubungan dengan Periode Waktu

a. Biaya Pengeluaran Modal, adalah biaya yang dikeluarkan untuk

memberikan manfaat untuk periode di masa depan dan dalam jangka

waktu yang panjang dan dilaporkan sebagai aktiva, seperti pembelian

mesin dan peralatan.

b. Biaya pengeluaran pendapatan, adalah biaya yang memberikan manfaat

untuk periode sekarang dan dilaporkan sebagai beban. Misalnya biaya

penyusutan mesin.

5. Klasifikasi Biaya untuk Pembebanan Pada Objek Biaya

a. Biaya langsung, adalah suatu biaya yang dapat dengan mudah

hubungannya dengan objek biaya tersebut, misalnya biaya bahan baku

(23)

b. Biaya tidak langsung, adalah suatu biaya yang tidak dapat ditelusuri

hubungannya dengan objek yang dibiayai. Biaya tidak langsung juga

sering disebut dengan common cost seperti overhead pabrik.

2.2 Aktivitas

2.2.1 Pengertian Aktivitas

Menurut Nafarin (2007), aktivitas (activity) adalah keseluruhan tindakan dalam

organisasi yang mengkonsumsi sumber daya (tenaga kerja, peralatan, dan

lain-lain) yang berguna bagi manajer untuk tujuan perencanaan, pengendalian, dan

pengambilan keputusan demi memenuhi kebutuhan pelanggan. Sedangkan

menurut Supriyono (1999), aktivitas adalah pekerjaan yang dilaksanakan dalam

organisasi.

Hansen dan Mowen (2005) menyatakan suatu aktivitas merupakan tindakan

yang diambil atau pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan atau dengan orang.

Menurut Hansen dan Mowen (2005), terdapat 2 (dua) tipe aktivitas, yaitu:

a. Aktivitas primer, adalah aktivitas yang dikonsumsi produk atau pelanggan.

b. Aktivitas sekunder, adalah aktivitas yang dikonsumsi oleh aktivitas primer.

2.2.2 Penggolongan Tingkat Aktivitas

Menurut Nafarin (2007), tingkat aktivitas digolongkan menjadi empat, yaitu:

a. Aktivitas tingkat unit (unit-level activity), adalah aktivitas yang dikonsumsi

oleh produk berdasarkan unit yang dihasilkan dari produk tersebut.

b. Aktivitas tingkat gugus (batch-level activity), adalah aktivitas yang

(24)

diproduksi. Gugus (batch) adalah sekelompok produk yang diproduksi dalam

satu kali proses.

c. Aktivitas Tingkat Produk (product-level activity), adalah aktivitas yang

dikonsumsi oleh produk berdasarkan produk yang dihasilkan dari aktivitas

tersebut.

d. Aktivitas Tingkat Fasilitas (facility-level activity), adalah aktivitas yang

dikonsumsi oleh produk berdasarkan fasilitas yang dinikmati oleh produk

yang diproduksi.

2.2.3 Pemacu aktivitas

Menurut Nafarin (2007), pemacu aktivitas (activity driver) adalah sesuatu yang

menjadi penyebab timbulnya konsumsi aktivitas oleh objek biaya. Sedangkan

pemacu biaya (cost driver) adalah faktor penyebab timbulnya pola konsumsi yang

khas dan menghubungkan sebab akibat pada proses pembebanan biaya. Pemacu

biaya adalah unsur yang menyebabkan aktivitas menggunakan sumber daya dalam

rangka melaksanakan pekerjaan, karena merupakan bagian integral dari

penghargapokokan produk.

Menurut Nafarin (2007), pemacu aktivitas ini dapat digolongkan menjadi

empat, yaitu:

a. Pemacu aktivitas tingkat unit (unit- level activity driver), adalah dasar

pembebanan biaya aktivitas ke produk yang menggunakan jumlah unit

produk, jam mesin, dan jam tenaga kerja langsung.

b. Pemacu aktivitas tingkat gugus (batch-level activity driver), adalah dasar

(25)

c. Pemacu aktivitas tingkat produk (product-level activity driver), adalah dasar

pembebanan biaya aktivitas ke produk dengan menggunakan konsumsi waktu

untuk mendesain dan mengembangkan produk tersebut.

d. Pemacu aktivitas tingkat fasilitas (facility-level activity driver), adalah dasar

pembebanan biaya aktivitas ke produk berdasarkan pemanfaatan fasilitas.

2.3 Activity Based Costing (ABC)

2.3.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC)

Menurut Samryn (2002), Activity Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem

yang berfokus pada aktivitas sebagai obyek biayanya dan menggunakan biaya

aktivitas tersebut kepada cost driver bagi obyek pembiayaan selain aktivitas.

Sedangkan menurut Nafarin (2007), penghargapokokan berbasis aktivitas (activity

based costing) adalah metode untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas

yang terkait dengan proses dan objek biaya, membebankan biaya aktivitas

berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada

objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian

aktivitas, mengenali hubungan sebab akibat (kausal) antara pemacu biaya dengan

aktivitas.

Menurut Hansen dan Mowen (2006) sistem biaya berdasarkan aktivitas

(ABC) pertama-tama menelusuri biaya aktivitas dan kemudian produk. Asumsi

yang mendasari adalah bahwa aktivitas-aktivitas memakai sumber daya dan

produk, sebagai gantinya memakai aktivitas.

Menurut Mulyadi (2007), activity based costing merupakan sistem

(26)

dihubungkan dengan aktivitas untuk kepentingan perhitungan tarif biaya aktivitas.

Tarif biaya aktivitas ini kemudian digunakan untuk menghitung object cost

dengan cara mengalikan kuantitas aktivitas yang dikonsumsi dalam setiap cost

object dengan tarif biaya aktivitas.

2.3.2 Manfaat Sistem Activity Based Costing (ABC)

Menurut Tunggal (2000), manfaat atau kebaikan Activity Based Costing (ABC)

adalah:

a. Suatu pengkajian Activity Based Costing (ABC) dapat meyakinkan

manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk

menjadi lebih kompetitif.

b. Manajemen akan berada dalam posisi untuk melakukan penawaran

kompetitif yang lebih wajar.

c. ABC dapat membantu dalam keputusan membuat-membeli yang

manajemen harus lakukan.

d. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan analisis

yang lebih akurat mengenai volume yang diperlukan untuk mencapai impas

(break even) atas produk yang bervolume rendah.

e. Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen

dapat mulai merekayasa kembali proses manufakturing untuk mencapai pola

keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.

2.3.3 Pemacu Biaya (Cost Driver)

Menurut Nafarin (2007), pemacu biaya (cost driver) adalah faktor penyebab

(27)

proses pembebanan biaya. Pemacu biaya adalah unsur yang menyebabkan

aktivitas menggunakan sumber daya dalam rangka melaksanakan pekerjaan

karena merupakan bagian integral dari penghargapokokan produk. Ukuran

pemacu biaya lebih berguna untuk mengukur kinerja karena lebih menekankan

pada unsur penyebab, seperti besarnya sediaan atau ketidakseimbangan jadwal

mesin.

Menurut Nafarin (2007), terdapat 2 (dua) faktor yang harus diperhatikan

dalam memilih pemacu biaya, yaitu:

a. Biaya pengukuran, adalah biaya yang berkaitan dengan pengkuran yang

diperlukan dalam metode biaya yang digunakan. Dalam memilih pemacu

biaya hendaknya dipilih biaya pengukuran yang minimal misalnya dengan

membuat kelompok biaya (cost pool) yang homogen.

b. Tingkat korelasi antara pemacu biaya dengan konsumsi overhead pabrik

sesungguhnya.

2.3.4 Perhitungan Biaya Produk dengan Menggunakan Pendekatan Activity

Based Costing (ABC)

Menurut Hansen dan Mowen (2006), ABC merupakan proses 2 (dua) tahap.

a. Tahap Pertama

Tahap pertama terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

1. Pengidentifikasian Aktivitas dan Atributnya

Oleh karena suatu aktivitas merupakan tindakan yang diambil atau

pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan, atau dengan orang, bagi orang

(28)

mewawancarai para manajer atau wakil dari area kerja fungsional

(departemen). Untuk mengidentifikasi aktivitas diperlukan rancangan

pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan menghasilkan banyak data

yang diperlukan bagi perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.

Dari data yang diperoleh kemudian dibuat kamus aktivitas. Kamus

aktivitas menyebutkan aktivitas, menggambarkan tugas yang menyebabkan

aktivitas, mengklasifikasikan aktivitas sebagai aktivitas primer dan

sekunder, mendaftar pengguna (objek biaya), dan mengidentifikasikan

penggerak aktivitas.

2. Pembebanan Biaya ke Aktivitas

Begitu aktivitas diidentifikasikan dan dijelaskan, tugas berikutnya

adalah menentukan berapa banyak biaya untuk melakukan tiap aktivitas. Hal

ini membutuhkan identifikasi sumber daya yang dikonsumsi oleh tiap

aktivitas. Aktivitas memakai sumber daya seperti tenaga kerja, bahan, energi

dan modal. Untuk mengetahui berapa banyak biaya yang dihabiskan pada

setiap aktivitas, maka untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas

maka dilakukan penelusuran langsung dan penggerak.

3. Pengelompokan Aktivitas yang Homogen

Guna mengurangi jumlah tarif overhead yang dibutuhkan dan untuk

mempersingkat proses, aktivitas dapat dikelompokkan ke dalam kelompok

sejenis berdasarkan karakter yang sama: (1) mereka secara logis

berhubungan, dan (2) mereka memiliki rasio konsumsi yang sama terhadap

semua produk. Kumpulan biaya overhead yang berhubungan dengan

(29)

Oleh karena aktivitas dalam kesatuan biaya sejenis mamiliki rasio

konsumsi yang sama, penggerak aktivitas dari tiap aktivitas akan

membebankan biaya pada produk pada proporsi yang sama. Hal ini berarti

hanya satu penggerak yang diperlukan untuk membebankan biaya

kelompok. Begitu kesatuan biaya ditentukan, biaya per unit dari penggerak

aktivitas terpilih dihitung dengan cara membagi biaya kelompok dengan

kapasitas praktis penggerak aktivitas. Hal inilah yang disebut dengan tarif

kelompok (pool rate).

4. Penentuan Tarif

Penggerak aktivitas diidentifikasikan untuk aktivitas primer. Guna

menghitung tarif aktivitas, kapasitas praktis dari tiap aktivitas harus

ditentukan. Tarif dapat ditentukan dengan membagi biaya produksi yang

terkait dengan aktivitas dengan total kapasitas praktis dari aktivitas tersebut.

b. Tahap Kedua (Pembebanan Biaya pada Produk)

Setelah biaya dari aktivitas ditentukan, maka biaya tersebut dapat

dibebankan pada produk dalam suatu proporsi sesuai dengan aktivitas

pengunaannya, seperti yang diukur oleh penggerak aktivitas. Pembebanan ini

dapat diselesaikan dengan cara :

Menurut Samryn (2002), ada dua langkah dalam proses akuntansi activity

based costing, yaitu:

1. Membagi biaya-biaya overhead ke dalam sejumlah biaya-biaya pool

aktivitas yang merupakan jenis aktivitas yang menimbulkan biaya overhead, Tarif BOP x Penggunaan Aktual Aktivitas

(30)

seperti pemeliharaan gudang, pembelian bahan, reparasi mesin, pemakaian

listrik dan lain-lain.

2. Alokasi biaya pada tiap-tiap pool biaya.

Untuk mengidentifikasi arus alokasi biaya overhead, dapat dibuat skema

alokasi berdasarkan biaya aktivitas yang dikonsumsi tiap lini produk.

Berdasarkan pola alokasi tersebut tiap item biaya overhead selanjutnya dapat

dibuat proses alokasi biaya dengan prosedur sebagai berikut:

 Tentukan item dan jumlah biaya overhead yang akan dialokasikan.

Secara berturut-turut tentukan dasar alokasi biaya, jenis pool biaya aktivitas, pemicu biaya, dan lini produk yang akan menyerap biaya

overhead.

 Hitung tarif alokasi biaya untuk tiap dasar alokasi biaya.

Tentukan total biaya yang dialokasikan kepada tiap pool biaya aktivitas.

 Alokasikan biaya dari tiap pool biaya aktivitas kepada masing-masing lini produk berdasarkan level pemicu biaya yang diserap tiap produk.

2.4 Harga Pokok Produksi

2.4.1 Pengertian Harga Pokok Produksi

Menurut Samryn (2002) harga pokok produk meliputi semua biaya yang terjadi

dalam rangka pembelian atau pembuatan produk. Dalam pendekatan full costing

harga pokok produk akan sama jumlah dan komponennya dengan biaya pabrik.

Termasuk dalam kelompok biaya ini adalah biaya bahan langsung, biaya tenaga

(31)

Menurut Hansen dan Mowen (2006), harga pokok produksi mencerminkan

total biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Biaya yang

dibebankan ke barang yang diselesaikan adalah biaya manufaktur bahan langsung,

tenaga kerja langsung, dan overhead.

Menurut Bustami dan Nurlela (2006), harga pokok produksi adalah

kumpulan biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja

langsung, dan biaya overhead pabrik ditambah persediaan produk dalam proses

awal dan dikurangi persediaan produk dalam proses akhir.

2.4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi

Menurut Bustami dan Nurlela (2006), harga pokok produksi akan sama dengan

biaya produksi apabila tidak ada persediaan produk dalam proses awal dan akhir.

Sehingga harga pokok produksi dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya-biaya

produksi yang terjadi selama proses produksi.

Contoh:

Biaya bahan baku langsung xxx

Biaya tenaga kerja langsung xxx

Biaya overhead xxx+

(32)

20

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM

PERUSAHAAN

3.1 Metodologi Penelitian 3.1.1 Obyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai dari 7 Februari sampai dengan 7 Mei 2011 di PT

Apollo Aneka Persada yang beralamat di Kara Industrial Park Blok C4 No.2,

Batam Centre, Telepon (0778) 465201, Faksimili (0778) 465247, Email:

[email protected]. Adapun objek dari penelitian ini adalah bagian

accounting dan bagian produksi PT Apollo Aneka Persada. Penulis melakukan

penelitian terkait perhitungan proyeksi harga pokok produksi dengan

menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC).

3.1.2 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam menyusun

tugas akhir ini adalah:

a. Observasi

Penulis melakukan pengamatan langsung dan sistematis pada objek

penelitian, seperti aktivitas yang dilakukan dan biaya-biaya apa saja yang

digunakan dalam menentukan proyeksi harga pokok produksi dengan

(33)

b. Wawancara

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik wawancara. Penulis akan

mengadakan dialog langsung dengan senior di bagian accounting dan bagian

produksi untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan

kebenarannya berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam peneliatian ini.

3.1.3 Metode Analisis Data

Dalam menyusun tugas akhir ini, teknik analisis yang digunakan penulis adalah

penelitian deskriptif. Penulis akan menjelaskan bagaimana perhitungan proyeksi

harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan Activity Based Costing

(ABC).

3.2 Gambaran Umum Perusahaan

3.2.1 Sejarah Berdirinya PT Apollo Aneka Persada

PT Apollo Aneka Persada berdiri sejak tanggal 26 Juni 2009 berdasarkan akta

notaris nomor 43 yang dikeluarkan di Batam oleh Notaris Anly Cenggana SH.

Perusahaan yang beralamat di Kara Industrial Park Blok C4 No 2 Batam Centre

ini didirikan oleh Riki Sendjaja sebagai Komisaris Utama, Herry Wijaya sebagai

komisaris, Lim Tiak Hian sebagai Direktur Utama, Kusuma Rahadi sebagai

Direktur Marketing, Phang Tiam Loi sebagai Direktur Finance & Administrasi.

Perusahaan ini telah mendapatkan pengesahan kehakiman dengan nomor

dokumen AHU-46891.AH.01.01 tanggal 30 September 2009.

PT Apollo Aneka Persada bergerak di sektor usaha manufaktur yang

memproduksi barang-barang penunjang perminyakan dan gas bumi. Produk yang

(34)

1/2”, 6 5/8”, 7”, 9 5/8”, 10 ¾”, 13 3/8”, dan 20”.Meski PT Apollo Aneka Persada sebagai badan hukum resmi didaftarkan tahun 2009, namun sebagai pembuat

barang-barang plastik pendukung industri minyak dan gas, usaha ini telah telah

dirintis melalui perusahaan afiliasi PT Apollo Aneka Plasindo di Cibitung,

Bekasi-Jawa Barat sejak tahun1996.

3.2.2 Produk Perusahaan

Produk yang diproduksi oleh PT Apollo Aneka Persada saat ini adalah Plastik dan

Composite Protector dengan ukuran sebagai berikut:

a. Plastik Protector, dengan ukuran sebagai berikut:

1. 2 7/8“

2. 3 ½“

3. 4 ½“

b. Composite Protector, dengan ukuran sebagai berikut:

1. 5 ½” 2. 6 5/8” 3. 7” 4. 9 5/8” 5. 10 ¾” 6. 13 3/8” 7. 20”

Untuk mendukung kegiatan PT Apollo Aneka Persada juga memproduksi

barang lainnya, yaitu:

(35)

b. Econowarp

c. Stopper

d. Spacer

3.2.3 Struktur Organisasi Perusahaan

Setiap perusahaan pasti menginginkan pencapaian target yang maksimal dalam

menjalankan kegiatan usaha, baik dari segi keuntungan yang diperoleh maupun

kepuasan para pelanggannya karena hal inilah yang akan menjamin kelangsungan

usaha perusahaan di masa yang akan datang. Untuk mencapai hal ini, diperlukan

orang-orang yang dapat bekerja sama dengan baik demi tercapainya tujuan

perusahaan. Di sinilah letak pentingnya struktur organisasi bagi setiap perusahaan.

Setiap perusahaan mempunyai struktur organisasi yang berbeda-beda,

tergantung pada kebutuhan setiap perusahaan. Struktur organisasi dimaksudkan

untuk mewujudkan kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien, karena

adanya pembagian tanggung jawab bagi masing-masing unsur dalam perusahaan.

(36)

STRUKTUR ORGANISASI PT APOLLO ANEKA PERSADA

COMMISINERS

PRESIDENT DIRECTOR

SECT. TO THE BOD

OPERATIONAL DIR. FINANCE&GEN ADMIN/SERVICE DIR. MARKETING DIR. PRODUCTION MKT ADMIN HR/ PURCHASING ADMIN&SERV. FINANCE QC PPC MATERIAL MAINTENANCE

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Perusahaan Sumber : PT Apollo Aneka Persada

(37)

25 3.2.4 Job Description

Deskripsi pekerjaan dari setiap bagian dalam struktur organisasi yang ada di PT

Apollo Aneka Persada adalah:

1. Operational Director

a. Memastikan semua kegiatan operasional sudah berjalan di perusahaan dapat

berlangsung sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan diketahui

bersama.

b. Mengontrol semua aktivitas yang berjalan di perusahaan melalui kepala

departemen yang ditunjuk dari setiap departemen.

c. Memantau dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan kegiatan pengendalian

mutu yang berjalan di perusahaan.

d. Melakukan evaluasi kinerja setiap bagian yang barada di bawah otorisasi.

e. Mengotorisasi dokumen-dokumen penting seperti Receiving Voucher,

Purchase Order serta dokumen penting lainnya.

f. Memonitor kebutuhan material di dalam kelancaran operasional.

2. Marketing Director

a. Bertanggung jawab terhadap pemasaran produk perusahaan.

b. Melakukan penjualan terhadap produk perusahaan.

3. Finance & Gen. Admin Services Director

a. Membawahi finance, human resource, admin &sevices.

b. Melakukan evaluasi kinerja setiap bagian yang berada di bawah otorisasi.

c. Mengotorisasi dokumen-dokumen penting perusahaan yang berada di

(38)

4. Production

a. Berkoordinasi dengan setiap bagian agar proses produksi berjalan sesuai

dengan aliran produksi.

b. Mengamati produksi secara berkesinambungan agar pencapaian target

terpenuhi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

c. Melakukan pengawasan atas kegiatan produksi apakah telah sesuai dengan

prosedur dan peralatan yang terkontrol dengan benar.

d. Bertanggung jawab terhadap kegitan produksi perusahaan.

e. Membuat laporan produksi untuk periode tertentu.

f. Membawahi proses injection, metal, threading, dan painting.

5. Quality Control

a. Mengecek setiap produk yang telah selesai diproduksi untuk memastikan

bahwa produk tersebut telah sesuai dengan standard yang telah ditetapkan.

b. Menjaga dan menjamin kualitas produk pada waktu proses dan setelah

proses produksi.

c. Menerima dan menolak produk yang tidak sesuai dengan standard yang

telah ditetapkan.

6. Finance

a. Memimpin fungsi keuangan PT Apollo Aneka Persada termasuk

manajemen keuangan, akunting, pajak, audit, bendahara dan persediaan.

b. Bertanggung jawab atas perencanaan dan analisis pengeluaran modal dan

(39)

c. Menjamin pelaksanaan seluruh kebijakan perusahaan, mengatur pelaporan

lokal dan corporate, serta memberi saran pada manajemen tentang strategi

keuangan.

d. Membuat budget serta perkiraan dalam kebutuhan keuangan.

e. Menangani penerimaan uang, pengeluaran uang serta yang berhubungan

dengan utang dan piutang perusahaan.

f. Membuat laporan pajak setiap bulan.

g. Melakukan pembayaran terhadap supplier berdasarkan invoice, laporan

penerimaan barang dan purchase order.

7. Material

a. Mencatat keluar masuknya barang di gudang.

b. Melakukan aktivitas kontrol stok barang di gudang.

c. Mengawasi pengiriman barang ke atau dari perusahaan.

d. Melakukan pemeriksaan dan pengecekan terhadap jumlah barang yang

dipesan.

8. Maintenance

a. Melakukan perbaikan atas kerusakan fasilitas perusahaan seperti mesin,

kendaraan serta peralatan produksi lainnya.

b. Bertanggung jawab atas perawatan fasilitas perusahaan untuk kegiatan

produksi seperti mesin-mesin, listrik serta kendaraan pendukung produksi.

9. Purchasing

a. Mengawasi segala bentuk perencanaan dan pembelian bahan baku.

b. Melakukan pembelian bahan baku dan bahan baku pendukung

(40)

c. Memilih supplier yang menguntungkan perusahaan.

10. PPC (Planning Production Control)

a. Mengontrol rencana produksi perusahaan.

b. Mengawasi sistem pengendalian dan perencanaan produksi.

c. Menjamin ketetapan schedule fabrikasidan kebenaran dalam menyelesaikan

produk proyek sesuai standard dan persyaratan pelanggan.

11. Human Resource & Services

a. Menyeleksi, menerima dan mengangkat karyawan sesuai dengan

kebutuhan.

b. Menghitung dan membuat daftar gaji untuk semua karyawan.

c. Membuat laporan karyawan tentang kehadiran, cuti, pengunduran diri, serta

jumlah karyawan untuk kepentingan jamsostek.

(41)

29

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)

4.1.1 Mengidentifikasi Aktivitas dan Tingkatan Aktivitas

Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian produksi, bagian gudang, dan bagian

maintenance dan bagian Quality Control (QC), aktivitas-aktivitas yang dapat

penulis identifikasi adalah sebagai berikut:

1. Penanganan Bahan

Aktivitas penanganan bahan merupakan aktivitas yang terkait dengan

kegiatan penanganan bahan baku meliputi penerimaan bahan baku hingga

pengeluaran bahan baku untuk proses produksi. Penanganan bahan

dilakukan setiap suatu batch produk (sekelompok produk yang diproduksi

dalam satu kali proses) diproduksi sehingga aktivitas ini termasuk ke

dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead yang terkait dengan

aktivitas ini adalah biaya tenaga kerja tidak langsung (bagian material).

2. Pemrosesan Produk

Aktivitas pemrosesan produk merupakan aktivitas utama dalam

perusahaan. Aktivitas ini memproses bahan baku hingga menjadi sebuah

(42)

aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat unit. Biaya overhead yang

terkait dengan aktivitas ini terdiri dari:

a. Biaya administrasi pabrik, meliputi biaya work facility, printing,

fotocopy, stationary, air minum, dan kopi.

b. Biaya komunikasi dan energi, meliputi biaya telepon dan fax, biaya

listrik dan biaya air.

c. Biaya consumable (bahan pendukung)

d. Rejected

3. Perbaikan dan Perawatan

Aktivitas perbaikan dan perawatan merupakan aktivitas yang terkait

dengan perbaikan dan perawatan inventaris pabrik seperti mesin, peralatan

pabrik serta listrik pabrik. Bagian maintenance akan melakukan aktivitas

perbaikan inventaris pabrik yang mengalami kerusakan dan perawatan

inventaris pabrik setiap suatu batch produk (sekelompok produk yang

diproduksi dalam satu kali proses) diproduksi sehingga aktivitas ini

termasuk ke dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead yang terkait

dengan aktivitas ini, terdiri dari:

a. Biaya repair dan maintenance, yang meliputi biaya oli mesin dan

biaya lainnya yang terkait dengan perawatan dan perbaikan kerusakan

inventaris pabrik.

b. Biaya gaji bagian maintenace.

4. Pengawasan

Aktivitas pengawasan merupakan Aktivitas yang berkaitan dengan

(43)

produksi. Aktivitas ini dilakukan setiap suatu batch produk (sekelompok

produk yang diproduksi dalam satu kali proses) diproduksi sehingga

aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat batch. Biaya overhead

yang terkait dengan aktivitas ini adalah:

a. Biaya gaji supervisor produksi

b. Biaya gaji supervisor warehouse

c. Biaya gaji supervisor maintenance

d. Biaya gaji PPC

5. Pengecekan

Aktivitas pengecekan merupakan aktivitas ini berkaitan dengan kegiatan

pengecekan dan pemeriksaan terhadap produk jadi perusahaan. Hal ini

dilakukan untuk mengecek apakah produk telah sesuai dengan standar

yang telah ditetapkan serta sesuai dengan pesanan dari konsumen.

Aktivitas ini dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi, sehingga aktivitas

ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat unit. Biaya yang terkait dengan

aktivitas ini adalah biaya gaji Quality Control (QC).

6. Packing Produk

Aktivitas packing produk merupakan aktivitas yang terkait dengan

pengepakan produk perusahaan sesuai dengan jumlah produk yang dipesan

oleh pelanggan. Aktivitas packing produk merupakan aktivitas yang

dilakukan untuk mendukung pemasaran produk perusahaan ke konsumen

sehingga aktivitas ini termasuk ke dalam aktivitas tingkat produk. Biaya

yang terkait dengan aktivitas ini adalah delivery expense yang terdiri dari

(44)

7. Pemeliharaan Fasilitas

Aktivitas ini terkait dengan pemeliharaan inventaris pabrik. Aktivitas ini

menopang proses umum produksi suatu pabrik dan tidak memberikan

manfaat kepada produk secara spesifik sehingga aktivitas ini termasuk ke

dalam aktivitas tingkat fasilitas. Biaya overhead yang terkait dengan

aktivitas ini adalah biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, dan biaya sewa

gedung.

Setelah mengetahui aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan

produksi, dapat ditentukan penggerak aktivitas dari setiap aktivitas.

Aktivitas-aktivitas tersebut selanjutnya digolongkan ke dalam tingkat Aktivitas-aktivitas. Hal ini

dapat dilihat di Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Aktivitas dan Tingkat Aktivitas

No Aktivitas Tingkat Aktivitas

1 Penanganan Bahan Aktivitas tingkat batch

2 Pemrosesan Aktivitas tingkat unit

3 Perbaikan dan Perawatan Aktivitas tingkat batch

4 Pengawasan Aktivitas tingkat batch

5 Pengecekan Aktivitas tingkat unit

6 Packing Produk Aktivitas tingkat produk 7 Pemeliharaan Fasilitas Aktivitas tingkat fasilitas

4.1.2 Membebankan Biaya ke Aktivitas

Setelah akitivitas diidentifikasi dan dijelaskan, langkah selanjutnya adalah

(45)

Tabel 4.2

Rincian Biaya Overhead Setiap Aktivitas Tahun Anggaran 2011

No Aktivitas Elemen Biaya Jumlah Biaya

(Rp) 1 - Penanganan Bahan gaji bagian material 62,108,583

(aktivitas tingkat batch)

2 - Pemprosesan biaya administrasi pabrik 16,215,000 (aktivitas tingkat unit) biaya komunikasi dan energi pabrik 847,800,000

biaya consumable

rejected

6,056,772 156,242,756 3 - Perbaikan dan Perawatan biaya repair & maintenance 130,522,170 (aktivitas tingkat batch) gaji maintenance 15,527,146 4 - Pengawasan gaji supervisor produksi 32,752,841 ( aktivitas tingkat batch) gaji supervisor warehouse 23,337,683 gaji supervisor maintenance 23,277,422

gaji PPC 35,174,561

5 - Pengecekan gaji Quality Control (QC) 68,637,478 ( aktivitas tingkat unit)

6 - Packing Produk delivery expense 63,687,000 (aktivitas tingkat produk)

7 Pemeliharaan Fasilitas depreciation (inventaris pabrik) 465,019,564 (aktivitas tingkat fasilitas) insurance(mesin) 5,000,000

sewa gedung 293,160,000

Total 2,244,518,976

Sumber Data : PT Apollo Aneka Persada

4.1.3 Mengidentifikasi Cost Driver

Sebelum menentukan cost driver setiap aktivitas, terlebih dahulu ditentukan

penggerak aktivitas dari setiap aktivitas, yaitu sebagai berikut:

1. Penanganan Bahan

Biaya overhead yang terkait oleh aktivitas ini merupakan biaya gaji tenaga

kerja bagian material. Biaya ini digunakan untuk membiayai aktivitas

penanganan bahan. Jam kerja karyawan bagian material akan sama dengan

(46)

aktivitas penanganan bahan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja

bagian material.

2. Pemrosesan Produk

PT Apollo Aneka Persada memiliki 12 mesin, sehingga hampir seluruh

kegiatan produksinya menggunakan mesin. Mesin-mesin tersebut beroperasi

setiap jam kerja termasuk ketika over time. Sehingga untuk aktivitas

pemrosesan produk penggerak aktivitasnya adalah jam mesin.

3. Perbaikan dan Perawatan

Aktivitas perbaikan dan perawatan inventaris pabrik dilakukan setiap

harinya oleh karyawan bagian maintenance. Waktu yang dihabiskan untuk

aktivitas ini merupakan waktu bagian maintenance melakukan kegiatan

perbaikan dan perawatan (jam kerja maintenance). Sehingga untuk aktivitas

perbaikan dan perawatan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja

bagian maintenance.

4. Pengawasan

Aktivitas pengawasan dilakukan setiap harinya oleh karyawan bagian

pengawasan. Waktu yang dihabiskan untuk aktivitas ini merupakan waktu

bagian pengawasan (supervisor) melakukan kegiatan pengawasan terhadap

setiap aktivitas dan bagiannya (jam kerja bagian pengawasan). Sehingga

untuk aktivitas pengawasan penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja

bagian pengawasan.

5. Pengecekan

Aktivitas pengecekan dilakukan ketika produk telah diproses. Waktu yang

(47)

bagian Quality Control (QC) dalam mengecek produk setiap unitnya (jam

kerja bagian Quality Control). Sehingga untuk aktivitas pengawasan

penggerak aktivitasnya adalah jam tenaga kerja bagian Quality Control

(QC).

6. Packing Produk

Aktivitas packing produk dilakukan setelah produk dicek setiap unitnya.

Jumlah biaya yang dihabiskan untuk aktivitas ini tergantung banyaknya unit

produk yang diproduksi. Sehingga untuk aktivitas packing produk

penggerak aktivitasnya adalah unit produksi.

7. Pemeliharaan Fasilitas

Biaya yang terkait dengan aktivitas pemeliharaan fasilitas adalah biaya

tetap. Besar kecilnya jumlah unit produk yang diproduksi oleh perusahaan

tidak akan menambah atau mengurangi biaya untuk aktivitas ini. Kapasitas

produksi setiap produk yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan

perusahaan dalam memproduksi dapat dipilih sebagai penggerak aktivitas

untuk aktivitas ini. Alasannya karena biaya terkait dengan aktivitas ini

ditetapkan untuk kapasitas produksi perusahaan.

Setelah penggerak aktivitas untuk setiap aktivitas ditentukan, langkah

selanjutnya adalah menentukan cost driver untuk setiap aktivitas. Cost driver

merupakan jumlah penggerak aktivitas dari setiap aktivitas selama satu tahun.

Cost driver ini akan menjadi pembagi biaya produksi ketika dilakukan penentuan

(48)

Tabel 4.3

Jumlah Penggerak Aktivitas Setiap Aktivitas Tahun Anggaran 2011 No Ukuran Protector Jam TKTL (BB) Jam Mesin Jam TKTL (B) Jam TKTL (P) Jam TKTL (C) Unit Produksi (set) Kapasitas Produksi (set) 1 2-7/8" 91 284 23 101 69 1,129 1,162 2 3-1/2" 108 335 27 119 81 1,334 1,374 3 4-1/2" 208 645 52 230 156 2,565 2,642 4 5-1/2" 340 1,057 85 376 255 4,206 4,333 5 6-5/8" 150 464 37 165 112 1,847 1,902 6 7" 839 2,605 210 927 629 10,362 10,673 7 9-5/8" 1,395 4,332 349 1,542 1,046 17,236 17,753 8 10-3/4" 1,594 4,951 399 1,763 1,196 19,698 20,289 9 13-3/8" 2,674 8,304 668 2,956 2,005 33,035 34,026 10 20" 905 2,811 226 1,001 679 11,182 11,518 TOTAL 8,304 25,788 2,076 9,180 6,228 102,594 105,672 Sumber : PT Apollo Aneka Persada

Keterangan : BB = Penanganan Bahan

B = Perbaikan

P = Pengawasan

C = Pengecekan

Tabel 4.4

Cost Driver Tiap aktivitas

No Aktivitas Penggerak Aktivitas Cost Driver

1 Penanganan Bahan Jam Kerja TKTL (M) 8,304

2 Pemrosesan Jam Mesin 25,788

3 Perbaikan dan Perawatan Jam Kerja TKTL (MT) 2,076

4 Pengawasan Jam Kerja TKTL (S) 9,180

5 Pengecekan Jam Kerja TKTL (QC) 6,228

6 Packing Produk Unit Produksi 102,594 7 Pemeliharaan Fasilitas Kapasitas Produksi 105,672

Keterangan : M = Material MT = Maintenance

(49)

4.1.4 Menentukan Tarif

Setelah cost driver setiap aktivitas ditentukan, langkah selanjutnya adalah

menentukan tarif setiap aktivitas. Tarif setiap aktivitas dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

Tarif Overhead = Jumlah Biaya Aktivitas

Cost Driver

Contoh perhitungan :

Tarif Overhead Penanganan Bahan = 62,108,583 8,304

= 7,479.36

Tabel 4.5

Tarif Overhead Setiap Aktivitas

No Aktivitas Tarif Overhead

(Rp)

1 Penanganan Bahan 7,479.36

2 Pemprosesan 39,798.14

3 Perbaikan dan Perawatan 70,351.31

4 Pengawasan 12,477.40

5 Pengecekan 11,020.79

6 Packing Produk 620.77 7 Pemeliharaan Fasilitas 7,222.16

(50)

4.1.5 Pembebanan Biaya ke Produk

Setelah biaya dari aktivitas ditentukan, maka biaya tersebut dapat dibebankan

pada produk dalam suatu proporsi sesuai dengan penggunaan aktivitasnya, seperti

yang diukur oleh penggerak aktivitas. Pembebanan ini dapat diselesaikan dengan

cara :

Tabel 4.6

Biaya Bahan Baku, Biaya TKL dan Bahan Baku Tidak Langsung Tahun Anggaran 2011

Ukuran Biaya BB Biaya TKL BB Tidak Langsung Unit Produksi

Protector (Rp) (Rp) (Rp) (set) 2-7/8" 69,314,762 3,074,405 - 12,500 3-1/2" 85,334,789 3,633,387 - 13,990 4-1/2" 157,252,279 6,987,283 - 13,504 5-1/2" 238,362,143 11,459,144 - 7,000 6-5/8" 103,165,401 5,030,844 3,286,016 2,200 7" 589,345,867 28,228,624 18,351,027 12,000 9-5/8" 988,933,837 46,954,542 19,134,563 11,500 10-3/4" 1,136,844,027 53,662,334 19,134,563 11,500 13-3/8" 1,904,582,321 89,996,206 27,238,481 15,300 20" 647,861,919 30,464,554 6,553,846 3,100 Total 5,920,997,345 279,491,324 93,698,496 102,594 Sumber Data : PT Apollo Aneka Persada

(51)

Tabel 4.7

Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi

Keterangan Perhitungan

Ukuran Protector 2-7/8" 3-1/2" 4-1/2" Biaya Bahan Baku (Rp) 69,314,762 85,334,789 157,252,279

Biaya TKL (Rp) 3,074,405 3,633,387 6,987,283 BB Tidak Langsung (Rp) - - - Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 91 x 7479.36 680,622 108 x 7479.36 807,771 208 x 7479.36 1,555,707 Pemrosesan 284 x 39798.14 11,302,672 335 x 39798.14 13,332,377 645 x 39798.14 25,669,800

Perbaikan dan Perawatan

23 x 70351.31 1,618,080 27 x 70351.31 1,899,485 52 x 70351.31 3,658,268 Pengawasan 101 x 12477.4 1,260,217 119 x 12477.4 1,484,811 230 x 12477.4 2,869,802 Pengecekan 69 x 11020.79 760,435 81 x 11020.79 892,684 156 x 11020.79 1,719,243 Packing Produk 1129 x 620.77 700,849 1334 x 620.77 828,107 2565 x 620.77 1,592,275 Pemeliharaan Fasilitas 1162 x 7222.16 8,392,150 1374 x 7222.16 9,923,248 2642 x 7222.16 19,080,947

Total Biaya Overhead 24,715,025 29,168,483 56,146,042 Harga Pokok Produksi 97,104,192 118,136,659 220,385,604

Unit Produksi 12,500 13,990 13,504

(52)

Tabel 4.8

Perhitungan Proyeksi Harga Pokok Produksi (Lanjutan)

Keterangan Perhitungan

Ukuran Protector 5-1/2" 6-5/8" 7"

Biaya Bahan Baku (Rp) 238,362,143 103,165,401 589,345,867

Biaya TKL (Rp) 11,459,144 5,030,844 28,228,624 BB Tidak Langsung (Rp) - 3,286,016 18,351,027 Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 340 x 7479.36 2,542,982 150 x 7479.36 1,121,904 839 x 7479.36 6,275,183 Pemrosesan 1057 x 39798.14 42,066,634 464 x 39798.14 18,466,337 2605 x 39798.14 103,674,155

Perbaikan dan Perawatan

85 x 70351.31 5,979,861 37 x 70351.31 2,602,998 210 x 70351.31 14,773,775 Pengawasan 376 x 12477.4 4,691,502 165 x 12477.4 2,058,771 927 x 12477.4 11,566,550 Pengecekan 255 x 11020.79 2,810,301 112 x 11020.79 1,234,328 629 x 11020.79 6,932,077 Packing Produk 4206 x 620.77 2,610,959 1847 x 620.77 1,146,562 10362 x 620.77 6,432,419 Pemeliharaan Fasilitas 4333 x 7222.16 31,293,619 1902 x 7222.16 13,736,548 10673 x 7222.16 77,082,114

Total Biaya Overhead 91,995,859 40,367,449 226,736,272 Harga Pokok Produksi 341,817,146 151,849,710 862,661,790

Unit Produksi 7,000 2,200 12,000

(53)

Tabel 4.9

Perhitungan Harga Pokok Produksi (Lanjutan)

Keterangan Perhitungan

Ukuran Protector 9-5/8" 10-3/4" 13-3/8" Biaya Bahan Baku (Rp) 988,933,837 1,136,844,027 1,904,582,321

Biaya TKL (Rp) 46,954,542 53,662,334 89,996,206 BB Tidak Langsung (Rp) 19,134,563 19,134,563 27,238,481 Biaya Overhead: Penanganan Bahan 1395 x 7479.36 10,433,707 1594 x 7479.36 11,922,100 2674 x 7479.36 19,999,809 Pemrosesan 4332 x 39798.14 172,405,542 4951 x 39798.14 197,040,591 8304 x 39798.14 330,483,755

Perbaikan dan Perawatan

349 x 70351.31 24,552,607 399 x 70351.31 28,070,173 668 x 70351.31 46,994,675 Pengawasan 1542 x 12477.4 19,240,151 1763 x 12477.4 21,997,656 2956 x 12477.4 36,883,194 Pengecekan 1046 x 11020.79 11,527,746 1196 x 11020.79 13,180,865 2005 x 11020.79 22,096,684 Packing Produk 17236 x 620.77 10,699,592 19698 x 620.77 12,227,927 33035 x 620.77 20,507,137 Pemeliharaan Fasilitas 17753 x 7222.16 128,215,006 20289 x 7222.16 146,530,404 34026 x 7222.16 245,741,216

Total Biaya Overhead 377,074,352 430,969,716 722,706,470 Harga Pokok Produksi 1,432,097,294 1,640,610,640 2,744,523,478

Unit Produksi 11,500 11,500 15,300

(54)

Tabel 4.10

Perhitungan Harga Pokok Produksi (Lanjutan)

Keterangan Perhitungan

Ukuran Protector 20"

Biaya Bahan Baku (Rp) 647,861,919

Biaya TKL (Rp) 30,464,554 BB Tidak Langsung (Rp) 6,553,846 Biaya Overhead (Rp): Penanganan Bahan 905 x 7479.36 6,768,821 Pemrosesan 2811 x 39798.14 111,872,572

Perbaikan dan Perawatan

226 x 70351.31 15,899,396 Pengawasan 1,001 x 12477.4 12,489,877 Pengecekan 679 x 11020.79 7,483,116 Packing Produk 11,182 x 620.77 6,941,450 Pemeliharaan Fasilitas 11,518 x 7222.16 83,184,839

Total Biaya Overhead 244,640,071

Harga Pokok Produksi 929,520,390

Unit Produksi 3,100

(55)

4.2 Perbandingan Proyeksi Harga Pokok Produksi Versi Perusahaan dengan Pendekatan Activity Based Costing (ABC)

Hasil perhitungan proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan memiliki

perbedaan dengan hasil perhitungan versi penulis. Hal ini dapat di lihat pada

Tabel 4.11.

Tabel 4.11

Perbandingan Proyeksi HPP Versi Perusahaan dengan Versi Penulis

Ukuran HPP Perusahaan HPP ABC Selisih

(Rp) Protector (Rp) (Rp) 2-7/8" 7,344 7,768 424 3-1/2" 8,064 8,444 380 4-1/2" 15,423 16,320 897 5-1/2" 45,257 48,831 3,574 6-5/8" 64,259 69,023 4,764 7" 67,201 71,888 4,687 9-5/8" 116,336 124,530 8,194 10-3/4" 133,386 142,662 9,276 13-3/8" 167,572 179,381 11,809 20" 280,158 299,845 19,687 Total 904,999 968,692 63,693

Dari perhitungan di atas terdapat selisih antara harga pokok produksi versi

perusahaan dengan hasil perhitungan penulis yaitu sebesar Rp 63.693,00. Selisih

ini terjadi untuk semua ukuran protector. Jika dibandingkan dengan proyeksi

harga pokok produksi versi perusahaan, harga pokok produksi hasil perhitungan

penulis lebih tinggi.

Perbedaan/selisih proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan dengan

versi penulis terjadi karena perbedaan pembebanan biaya overhead ke setiap

(56)

masing-masing produk dibebankan dengan menggunakan beberapa cost driver

seperti jam mesin, jam tenaga kerja tidak langsung, unit produksi dan kapasitas

produksi. Sehingga metode Activity Based Costing (ABC) telah mampu

mengalokasikan biaya overhead ke masing-masing produk secara tepat

berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas oleh setiap produk.

(57)

45

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Perhitungan proyeksi harga pokok produksi dengan menggunakan

pendekatan Activity Based Costing (ABC) merupakan proses dua tahap.

Tahap pertama, aktivitas diidentifikasi dan dikelompokkan ke dalam

beberapa tingkatan aktivitas. Biaya-biaya overhead akan dibebankan ke

setiap aktivitas. Aktivitas-aktivitas yang berada pada tingkatan dan cost

driver yang sama akan dikelompokkan menjadi satu. Selanjutnya tarif

overhead untuk setiap aktivitas ditetapkan dengan cara membagi biaya

produksi setiap aktivitas dengan cost driver aktivitas tersebut. Tahap kedua

yaitu pembebanan biaya ke produk. Pembebanan ini dilakukan dengan cara

mengalikan tarif overhead setiap aktivitas dengan penggunaan aktivitas oleh

produk.

2. Terjadi selisih antara proyeksi harga pokok produksi versi perusahaan

dengan perhitungan yang dilakukan penulis yaitu sebesar Rp 63.693,00.

Selisih ini terjadi karena dalam menghitung biaya overhead untuk

masing-masing produk penulis menggunakan cost driver lebih dari satu. Sehingga

metode Activity Based Costing (ABC) telah mampu mengalokasikan biaya

overhead ke setiap produk secara tepat berdasarkan konsumsi aktivitas

(58)

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis uraikan dalam penyusunan tugas akhir ini

adalah:

1. Perusahaan sebaiknya melakukan perhitungan harga pokok produksi untuk

setiap jenis ukuran protector. Dengan mengetahui harga pokok produksi

setiap ukuran protector, perusahaan mempunyai dasar dalam menetapkan

harga pokok penjualan dan harga jual produk.

2. Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan penggunaan Activity Based

Costing (ABC) dalam menentukan harga pokok produksi setiap ukuran protector. Keanekaragaman ukuran protector yang dihasilkan oleh

perusahaan akan menyulitkan perusahaan dalam mengalokasikan biaya ke

masing-masing produk. Pendekatan Activity Based Costing (ABC) dapat

membantu perusahaan untuk mengukur secara cermat biaya-biaya yang

terjadi dari setiap aktivitas yang akan dialokasikan ke setiap produk.

Sehingga harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan ini akan

menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.

3. Dalam melakukan perhitungan proyeksi harga pokok produksi, penulis

hanya menggunakan data projected (anggaran) tahun 2011, sehingga hasil

perhitungannya memiliki perbedaan dengan harga pokok produksi

aktualnya. Perusahaan dapat melakukan perhitungan harga pokok produksi

dengan menggunakan data aktual agar memperoleh proyeksi harga pokok

Gambar

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Perusahaan  Sumber : PT Apollo Aneka Persada
Gambar 3.1 Flowchart Prosedur Bagian Accounting  2.  Prosedur Permintaan Pembelian
Gambar 3.2 Flowchart Prosedur Permintaan Pembelian
Gambar 3.3 Flowchart Prosedur Penerimaan Barang
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Simpulan dari penelitian yaitu pendekatan sistem Activity Based Costing (ABC) untuk menentukan harga pokok produksi pada masing-masing cost pool batik untuk perhitungan dengan

perhitungan harga pokok produksi menurut sistem akuntansi biaya tradisional dengan Activity Based Costing System (ABC system ) yang hasilnya adalah kesemua produk

Laksana Tekhnik Makmur dapat dikatakan kurang tepat bila menerapkan metode Activity Based Costing (ABC), hal ini disebabkan karena perusahaan ini masih terbilang

Perhitungan harga pokok produksi menggunakan sistem Activity based Costing adalah pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke objek biaya

Perhitungan harga pokok produksi (HPP) menggunakan metode activity based costing (ABC) menghasilkan laba yang lebih rendah untuk produk otak-otak dan lebih

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa perhitungan dengan menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) terbukti cukup efektif

Activity Based Costing (ABC) adalah salah satu metode yang dapat memperbaiki kelemahan metode tradisional dengan mengalokasikan biaya overhead pabrik sesuai

Jurnal Pendidikan Tambusai 3138 Analisis Perbandingan Metode Biaya Tradisional dan Metode Activity Based Costing dalam Perhitungan Harga Pokok Produksi Perusahaan Sakra Jaya Rotan