BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul
Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman Pada Tn.H
Trauma Cervical Di Bangsal Inayah RSU PKU Muhammadiyah Gombong
B. Latar Belakang Masalah
Cedera Cervikal merupakan penyebab yang paling sering dari kecacatan dan
kelemahan setelah trauma. Tulang servikalis terdiri dari 7 tulang yaitu C1 atau atlas, C2
atau axis, C3, C4, C5, C6 dan C7, benturan keras atau benda tajam yang mengenai tulang
servikal ini tidak hanya akan merusak struktur tulang saja namun dapat menyebakan
cedera pada medulla spinalis apabila benturan yang disebabkan ini sampai pada bagian
posterior tulang servikal, struktur tulang servikal yang rusak dapat menyebabkan
pergerakan kepala menjadi terganggu. Sedangkan apabila mengenai serabut saraf spinal
dapat menghambat impuls sensorik dan motorik tubuh (Ducker dan Perrot, 2002).
Kecelakaan merupakan penyebab kematian ke empat, setelah penyakit jantung,
kanker dan stroke, tercatat kurang lebih 50 meningkat per 100.000 populasi tiap tahun,
3% penyebab kematian ini karena trauma langsung medulla pinalis, 2% karena multiple
trauma. Insidensi trauma pada laki- laki 5 kali lebih besar dari perempuan. Ducker dan
Perrot melaporkan 40% spinal cord injury disebabkan kecelakaan lalu lintas, 20% jatuh,
40% luka tembak, sport, kecelakaan kerja. Lokasi trauma dislokasi cervical paling sering
pada C2 diikuti dengan C5 dan C6 terutama pada usia dekade. Trauma pada servikal C1
dan C2 dapat menyebakan dislokasi atlanto-servikalis sehingga kepala tidak dapat
melalakukan gerakan mengangguk dan apabila menembus ligamentum posterior dan
mencederai medulla spinalis maka pusat ventilasi otonom akan terganggu. Cedera pada
C3-C5 menyebabkan gangguan pada otot pernapasan dan cedera pada C4-C7
mengakibatkan kelemahan pada ekstremitas atas ( Ducker dan Perrot, 2002).
Trauma servikal merupakan suatu trauma yang serius dan berbahaya karena dapat
menyebabkan kematian ataupun gangguan neurologi yang mempengaruhi produktifitas
ker a penderita dan meningkatnya biaya pengobatan. Trauma servikal tidak selalu berdiri
sendiri, sering disertai trauma kepala(20%), wa ah(2%), penurunan kesadaran,dan
multiple trauma (Grogono dan Schneider, 2004).
Kecenderungan meningkatnya trauma servikal se alan dengan kepadatan arus lalu
lintas yang mengakibatkan tingginya resiko angka kecelakaan, Hasil survei pada 165
pusat trauma di Amerika, 4,3 % dari 111.219 pasien mengalami cedera servikal dimana
5- 10 % ter adi kerusakan medulla spinalis post trauma atau saat dievakuasi, kepadatan
arus lalu lintas dengan resiko tingginya angka kecelakaan lalu lintas menyebabkan
kecenderungan meningkatkan trauma ini, penyebab lainnya adalah atuh dari ketinggian
tertentu, dan olah raga, umumnya trauma pada vertebra servikalis ter adi pada dua
tempat. Sepertiga dari trauma ter adi pada segmen C2 dan setengahnya ter adi pada
segmen C6 atau C7, trauma cervical paling sering ter adi C4,C5,C6 meskipun cedera ini
bisa ter adi pada setiap level, biomekanika trauma ini adalah akibat hiperfleksi yang
hebat, dan secara patologinya merupakan cedera yang tidak stabil, dalam mengevaluasi
penderita trauma cervikal, seringkali diperlukan rekonstruksi trauma untuk
memperhitungkan mekanisme trauma yang ter adi serta memperkirakan tipe dari trauma
tersebut, dengan asumsi bahwa penderita trauma yang memperlihatkan ge ala adanya
kerusakan tulang belakang seperti nyeri leher, nyeri punggung, paresa ekstremitas atau
perubahan sensibilitas, harus dirawat seperti merawat penderita dengan kerusakan tulang
belakang sampai terbukti tidak terjadi (Grogono dan Schneider, 2004).
Karena sangat pentingnya peranan tulang servikalis pada fungsional tubuh
manusia maka evaluasi dan pengobatan pada cedera servikal memerlukan pendekatan
yang terintegrasi. Diagnosa dini, prevervasi fungsi spinal cord dan pemeliharaan aligment
dan stabilitas merupakan kunci keberhasilan manajemen. Penanganan rehabilitas spinal
cord dan kemajuan perkembangan multidisipliner tim trauma dan perkembangan metode
modern dari fungsi servikal dan stabilitas merupakan hal penting harus dikenal
masyarakat. Oleh karena itu, perawat sebagai tenaga kesehatan harus mampu menguasai
dan memmahami pengetahuan tentang asuhan keperawatan dan tindakan-tindakan yang
dilakukan pada pasien dengan cedera servikalis. Sehingga pada tatanan praktiknya,
perawat mampu mengaplikasikan teori dengan baik dan terampil (Grogono dan
Schneider, 2004).
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum penulisan
Untuk dapat memberikan gambaran dalam memberikan asuhan keperawatan
dan dokumentasi keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan trauma
cervical.
2. Tujuan khusus penulisan
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan trauma cervical.
b. Mampu menganalisa data untuk menentukan masalah keperawatan pada pasien
trauma cervical.
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan trauma cervical.
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan trauma cervical.
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada klien dengan trauma cervical.
f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan trauma cervical.
D. Pengumpulan Data
Karya tulis ilmiah ini ditulis menggunakan metode diskriptif naratif agar lebih
mudah dalam mengetahui gambaran trauma cervical. Penulis menggunakan metode
ilmiah dengan pendekatan proses keperawatan. Adapun cara pengumpulan datanya
adalah :
1. Studi kepustakaan dari buku-buku yang berkaitan dengan masalah trauma cervical.
2. Studi dokumenter dengan menggunakan catatan medik atau catatan keperawatan
pada klien trauma cervical.
3. Wawancara langsung pada klien, keluarga klien dan orang terdekat klien.
4. Observasi dan partisipasi aktif langsung dengan merawat klien di rumah sakit.
BAB II
KO SEP DASAR
A. TRAUMA ERVI AL
. Defi isi
Trauma ervi al adalah idera a g me ge ai tula g servi al akibat trauma, jatuh dari keti ggia , ke elakaka lalu li tas, ke elakaka olah raga da sebagai a a g dapat me ebabka fraktur atau pergesera satu atau lebih pada tula g vertebra sehi gga aka me gakibatka defisit
eurologi (Sjamsuhida at, 200 .
Trauma ervikal adalah rusak a da terputus a ko ti uitas tula g servikal, trauma dapat diakibatka oleh beberapa hal aitu: Fraktur akibat peristi a trauma, fraktur akibat peristi a kelelaha atau teka a , Fraktur patologik kare a kelemaha pada tula g, edera terjadi akibat hiperfleksi, hiperekste si, kompresi atau rotasi tula g belaka g (Hughes, 2008 .
Trauma ervi al adalah suatu keadaa darurat medis a g membutuhka pera ata segera, spi e trauma mu gki terkait edera saraf tula g belaka g a g dapat me gakibatka kelumpuha , da dapat me gga ggu sistem saraf a g terdapat pada vertebra, hal i i dapat me gakibatka ga ggua -ga ggua eurologis (Jo es & Bartlett, 200 .
Trauma ervi al adalah pemisaha atau patah a tula g a g terjadi pada tula g belaka g bagia ervi al (Hudak a d allo, 200 .
Pe ebab trauma ervikal adalah ke elakaa lalu li tas (44% , ke elakaa olah raga (22% , terjatuh dari keti ggia (24% , ke elakaa kerja.
Trauma dapat diakibatka oleh beberapa hal aitu: a. Trauma akibat peristi a
Sebagia trauma disebabka oleh kekuata a g tiba-tiba berlebiha a g dapat berupa pemukula , pe gha ura , perubaha pemu tira atau pe arika .
b. Trauma akibat kelelaha atau teka a
Retak dapat terjadi pada tula g seperti hal a pada logam da be da lai akibat teka a berula g-ula g. Keadaa i i pali g seri g dikemukaka pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, pe ari atau alo te tara a g berjala baris-berbaris dalam jarak jauh. . Trauma patologik kare a kelemaha pada tula g
Trauma dapat terjadi oleh teka a a g ormal kalau tula g tersebut lu ak (misal a oleh tumor atau tula g-tula g tersebut sa gat rapuh (Le is 200 .
. Patofisiologi
Terjadi a trauma pada daerah tula g leher me gakibatka fraktur. Akibat ko disi seperti i i, pusat-pusat persarapa aka terjadi ga ggua . ga ggua i i diakibatka kare a terjepit a saraf-saraf a g melalui daerah vertebra. Kare a vertebra merupaka pusat persarapa bagi berbagai orga , maka kerja orga -orga tersebut aka terga ggu atau bahka ma galami kelumpuha , akibat fraktur i i pula, aka me gakibatka blok saraf parasimpasi da pasie aka me galami iskemia da hipoksemia, Da akhir a aka me galami ga ggua kebutuha oksige , edera a g terjadi juga aka me gakibatka pelepasa mediator-mediator kimia a g aka me imbulka eri hebat da
akut sela jut a terjadi s ok spi al da pasie aka merasa tidak ama , ga ggua sistem saraf spi al aka me gakibatka kelumpuha pada orga -orga per afasa , ekstremitas, pe er aa da sistem perkemiha . edera pada da 2 me ebabka ve tilasi spo ta tidak efektif. Pada -dapat terjadi kerusaka ervus fre ikus sehi gga -dapat terjadi hila g a i ervasi otot per afasa aksesori da otot i terkostal a g dapat me ebabka komplie e paru me uru . Pada 4- dapat terjadi kerusaka tula g sehi gga terjadi pe jepita medula spi alis oleh ligame tum flavum di posterior da kompresi osteosif/material diskus dari a terior a g bisa me ebabka ekrosis da me stimulasi pelepasa mediator kimia a g me ebabka kerusaka m eli da akso , sehi gga terjadi ga ggua se sorik motorik. Lesi pada - dapat mempe garuhi i ter ostal, paraster al, s ale us, otot-otot abdomi al. I tak pada diafragma, otot trapezius, da sebagia pe toralis ma or. Masalah a g aka terjadi adalah ga ggua pola afas akibat terga ggua a pers arafa diafragma, ga ggua elimi asi serta kelumpuha pada ekstremitas aka me gakibatka ga ggua mobilitas fisik da ga ggua i tegritas kulit (Alimul, 2008 .
4. Ma ifestasi kli is
Pe ampaika ma ifestasi kli ik me urut Le is (200 , adalah sebagai berikut: a. eri
eri dirasaka la gsu g setelah terjadi trauma. Hal i i dikare aka ada a spasme otot, teka a dari pataha tula g atau kerusaka jari ga sekitar a.
Merupaka perubaha ar a kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jari ga sekitar a. d. Spasme otot
Merupaka ko traksi otot i volu ter a g terjadi disekitar fraktur. e. Pe uru a se sasi
Terjadi kare a kerusaka s araf, terke a a s araf kare a edema. f. a ggua fu gsi
Terjadi kare a ketidakstabila tula g a g fraktur, eri atau spasme otot. paral sis dapat terjadi kare a kerusaka s araf.
g. Mobilitas ab ormal
Adalah pergeraka a g terjadi pada bagia -bagia a g pada ko disi ormal a tidak terjadi pergeraka . I i juga bisa terjadi pada trauma tula g pa ja g.
h. Krepitasi
Merupaka rasa gemeretak a g terjadi jika bagia -bagaia tula g digerakka . i. Deformitas
Ab ormal a posisi dari tula g sebagai hasil dari ke elakaa atau trauma da pergeraka otot a g me doro g fragme tula g ke posisi ab ormal, aka me ebabka tula g kehila ga be tuk ormal a.
j. Sho k hipovolemik
. Pe atalaksa aa
Semua pe derita korba ke elakaa a g memperlihatka gejala ada a kerusaka pada tula g belaka g, seperti eri leher, eri pu ggu g, kelemaha a ggota gerak atau perubaha se sitivitas harus dira at seperti mera at pasie kerusaka tula g belaka g akibat edera sampai dibuktika bah a tidak ada kerusaka tersebut (Tu ker da Susa , 2002 .
Setelah diag osis ditegakka , di sampi g kemu gki a pemeriksaa edera lai a g me ertai, misal a trauma kepala atau trauma toraks, maka pe gelolaa patah tula g belaka g ta pa ga ggua eurologik berga tu g pada stabilitas a. Pada tipe a g stabil atau tidak stabil temporer, dilakuka imobilisasi de ga gips atau alat pe guat. Pada patah tula g belaka g de ga ga ggua eurologik komplit, ti daka pembedaha terutama ditujuka u tuk stabilisasi patah tula g a u tuk memudahka pera ata atau u tuk dapat dilakuka mobilisasi di i. Mobilisasi di i merupaka s arat pe ti g sehi gga pe ulit a g timbul pada kelumpuha akibat edera tula g belaka g seperti i feksi salura afas, i feksi salura ke i g atau dekubitus dapat di egah. Pembedaha juga dilakuka de ga tujua dekompresi aitu melakuka reposisi u tuk me ghila gka pe ebab a g me eka medula spi alis, de ga harapa dapat me gembalika fu gsi medula spi alis a g terga ggu akibat pe eka a tersebut. Dekompresi pali g baik dilaksa aka dalam aktu e am jam pas a trauma u tuk me egah kerusaka medula spi alis a g perma e tidak boleh dilakuka dekompresi de ga ara lami ektomi, kare a aka me ambah i stabilitas tula g belaka g (Tu ker da Susa , 2002 .
Perhatia utama pada pe derita edera tula g belaka g ditujuka pada usaha me egah terjadi a kerusaka a g lebih parah atau edera seku der, aitu de ga dilakuka a imobilisasi di tempat kejadia de ga mema faatka alas a g keras. Pe ga gkuta pe derita tidak dibe arka ta pa me ggu aka ta du atau sara a apapu a g beralas keras. Hal i i dilakuka pada semua
pe derita a g patut di urigai berdasarka je is ke elakaa , pe derita a g merasa eri di daerah tula g belaka g, lebih-lebih lagi bila terdapat kelemaha pada ekstremitas a g disertai mati rasa. Selai itu harus selalu diperhatika jala apas da sirkulasi (Tu ker da Susa , 2002 .
Bila di urigai edera di daerah servikal, harus diusahaka agar kepala tidak me u duk da tetap di te gah de ga me ggu aka ba tal ke il atau gulu ga kai u tuk me a gga leher pada saat pe ga gkuta . Setelah semua la gkah tersebut di atas dipe uhi, barulah dilakuka pemeriksaa fisik da eurologik a g lebih ermat. Pemeriksaa pe u ja g seperti radiologik dapat dilakuka , pada umum a terjadi paralisis usus selama dua sampai e am hari akibat hematom retroperito eal sehi gga memerluka pemasa ga pipa lambu g. Pemasa ga kateter tetap pada fase a al bertujua me egah terjadi pe gemba ga ka du g kemih a g berlebiha , a g lumpuh akibat s ok spi al. Selai itu pemasa ga kateter juga bergu a u tuk mema tau produksi uri , serta me egah terjadi a dekubitus kare a me jami kulit tetap keri g. Terapi pada idera medula spi alis terutama ditujuka u tuk me i gkatka da memperhatika da mempertaha ka fu gsi se soris da motoris. Pasie de ga idera medula spi alis komplet ha a memiliki pelua g % u tuk kembali ormal. Lesi medula spi alis komplet a g tidak me u jukka perbaika dalam 2 jam pertama, e deru g me etap da prog osis a buruk. edera medula spi alis tidak komplit
e deru g memiliki prog osis a g lebih baik. Apabila fu gsi se soris diba ah lesi masih ada, maka kemu gki a u tuk kembali berjala adalah lebih dari 0%. Metilpred isolo merupaka terapi a g pali g umum digu aka u tuk edera medula spi alis traumatika da direkome dasika oleh atio al I stitute Of Health di Amerika Serikat. amu demikia pe ggu aa a sebagai terapi utama idera medula spi alis traumatik masih dikritisi ba ak pihak da belum digu aka sebagai sta dart terapi (Tu ker da Susa , 2002 .
Dalam Cho hra e Library me u jukka bah a metilpredi solo dosis ti ggi merupaka satu satu a terapi farmakologik a g terbukti efektif pada uji kli is tahap sehi gga dia jurka u tuk digu aka sebagai terapi edera medula spi alis traumatika. Ti daka rehabilitasi medik merupaka ku i utama dalam pe a ga a pasie idera medula spi alis, fisioterapi, terapi okupulasi da blader trai i g pada pasie i i harus dikerjaka sea al mu gki (Tu ker da Susa , 2002 .
Tujua utama fisioterapi adalah mempertaha ka ROM ( Ra ge of Motio da kemampua mobilitas, de ga memperkuat fu gsi otot-otot a g ada. Pasie de ga e tral ord sy drome/ SS biasa a me galami pemuliha kekuata otot ekstremitas ba ah a g baik sehi gga dapat berjala de ga ba tua apapu ataupu tidak (Tu ker da Susa , 2002 .
Terapi Okupasio al terutama ditujuka u tuk memperkuat da memperbaiki fu gsi ektermitas atas, mempertaha ka kemampua aktivitas hidup sehari hari atau a tiviti g of dayli livi g (ADL . Pembe tuka ko traktur harus di egah seoptimal mu gki (Tu ker da Susa , 2002 . 6. Pemeriksaa Pe u ja g
a. Sinar x spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislok)
b. Foto rongent : mengetahui keadaan tulang belakang.
c. AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi.
d. CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas pemeriksaan ini dapat memberikan
visualisasi yang baik komponen tulang servikal dan sangat membantu bila ada fraktur akut.
Akurasi Pemeriksaan CT berkisar antara 72 -91 % dalam mendeteksi adanya herniasi
diskus. Akurasi dapat mencapai 96 % bila mengkombinasikan CT dengan myelografi.
e. MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal, pemeriksaan ini sudah menjadi
maupun diskus. Seluruh daerah medula spinalis , radiks saraf dan tulang vertebra dapat
divisualisasikan. Namun pada salah satu penelitian didapatkan adanya abnormalitas berupa
herniasi diskus pada sekitar 10 % subjek tanpa keluhan, sehingga hasil pemeriksaan ini
tetap harus dihubungkan dengan riwayat perjalanan penyakit , keluhan maupun
pemeriksaan klinis.
f. Elektromiografi ( EMG) : Pemeriksaan EMG membantu mengetahui apakah suatu
gangguan bersifat neurogenik atau tidak, karena pasien dengan spasme otot, artritis juga
mempunyai gejala yang sama. Selain itu juga untuk menentukan level dari iritasi/kompresi
radiks , membedakan lesi radiks dan lesi saraf perifer, untuk membedakan adanya iritasi
atau kompresi.
Orga ekstremitas Orga per afasa (diafragma Paralisis Pola afas tidak efektif . Path a
Trauma la gsu g Trauma tidak la gsu g Keadaa patologis
Fraktur servikalis
a ggua s araf servikalis (
-Iskemik Blog saraf parasimpasi
Hipoksia Pelepasa mediator kimia ( prostaglandin, bradiki i Orga perkemiha Perubaha pola elimi asi uri e Orga pe er aa a ggua elimi asi alvi
eri
Hambata mobilitas
Tirah bari g lama
a ggua i tegritas kulit
( ura hmah, 2004
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Focus pengkajian
Pengkajian pada klien dengan trauma servikal meliputi:
a.
Aktifitas dan istirahat
Tanda : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal.
Gejala : Keterbatasan partisipasi dalam latihan perubahan pola istirahat dan jam
kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor yang mempengaruhi tidur misal
nyeri.
b.
Sirkulasi
Gejala : Berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi,
bradikardi, ekstremitas dingin atau pucat.
c.
Eliminasi
Tanda : Inkontinensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut, peristaltik
usus hilang.
Gejala : Konstipasi
d.
Integritas ego
Tanda : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah.
Gejala : menarik diri
e.
Pola makan
Tanda : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang.
Gejala : nafsu makan menurun
f.
Pola kebersihan diri
Tanda : sangat ketergantungan dalam melakukan personal hygiene .
Gejala: kebersihan diri kurang
g.
Neurosensori
Tanda : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid.
Gejala : hilangnya sensasi dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan
reaksi pupil, ptosi.
h.
Nyeri/ketidaknyamanan
Tanda : nyeri tekan otot.
Gejala : hiperestesi tepat diatas daerah trauma, dan mengalami deformitas pada
daerah trauma
i.
Pernapasan
Tanda : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis.
Gejala : sesak nafas
j.
Beribadah
Tanda: ada hambatan dalam beridadah.
Gejala: menjalankan kewajibannya dan berdo’a dengan bantuan.
k. Kebutuhan belajar
Tanda: Menggali informasi.
Gejala: mengugkapkan secara verbal kepada petugas kesehatan dan tampak bingung.
(Alimul, 2008 .
2. Diagnosa Keperawatan
Diag osa Kepera ata a g mu ul pada klie de ga trauma ervi al me urut ( Smeltzer, 2002
antara lain :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma.
d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.
e. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada
usus dan rectum.
f. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syaraf perkemihan.
3. Fokus Intervensi
Intervensi Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
Tujuan dan Kriteria Hasil :
1) Menunjukan nyeri: efek merusak: dibuktikan dengan indikator berikut (sebutkan
minimal 1-5 ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada), penurunan
penampilan peran atau hubungan interpersonal. Gangguan kerja, kepuasaan hidup
atau untuk mengendalikan penurunan konsentrasi, terganggunya tidur.
2) Menunjukkan tingkat nyeri dibuktikan dengan indikator berikut ini (sebutkan 1-5 ;
ekstrem, berat, sedang, ringan, tidak ada), ekspresi nyeri lisan atau wajah, posisi
tubuh melindungi, kegelisahan atau ketegangan otot.
Intervensi :
a) Kaji tingkat nyeri
Rasionalnya mengetahui seberapa nyeri yang dirasakan oleh klien, dan
mengetahui skala nyeri pasien yang berguna dalam pengawasaan keefektifan obat
kemajuan penyembuhan.
b) Monitor TTV
Rasionalnya untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pasien yaitu respon
automotik meliputi perubahan tekanan darah, nadi, suhu, respirasi rate
berhubungan dengan keluhan atau penghilangan nyeri lanjut, karena nyeri
berpengaruh pada sistem tubuh.
c) Ajarkan teknik relaksasi
Rasionalnya teknik relaksasi dapat memfokuskan kembali perhatian,
meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri.Dengan nafas dalam
suplai oksigen meningkat berkaitan dengan hemoglobin membentuk HbO
2masuk
jaringan, dengan meningkatnya sirkulasi ke jaringan mengurangi sensasi
ketidaknyamanan dan meningkatkan relaksasi.
d) Berikan posisi pasien senyaman mungkin
Rasionalnya untuk memberikan kenyamanan pasien dan mengurangi yang
menyebabkan timbulnya nyeri.
a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Menunjukan tingkat mobilitas ditandai dengan indikator: (1-5) ketergantungan
(tidak berpartisipasi), membutuhkan bantuan orang lain dan alat, membutuhkan
alat bantu atau mandiri penuh, penampilan yang seimbang, penampilan posisi
tubuh pergerakan, pergerakan sendi dan otot, melakukan perpindahan, ambulasi :
berjalan, kursi roda.
2) Menunjukan penggunaan alat bantu dengan benar dengan pengawasan.
3) Meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi jika diperlukan
4) Mampu berpindah dari tempat tidur kekursi atau kursi roda.
Intervensi :
a) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (terlentang, miring) dan jika memungkinkan
bisa lebih sering jika diletakan dalam posisi bagian yang terganggu.
Rasionalnya menurunkan terjadinya trauma atau iskemi jaringan, pada yang
terkena mengalami perbaikan atau sirkulasi yang lebih jelek dan menurunkan
sensasi dan lebih besar menimbulkan kerusakan pada kulit atau dekubitus.
b) Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ektermitas saat
masuk dan anjurkan latihan seperti quardrisep atau gluteal, melebarkan jari jari
dan telapak tangan.
Rasionalnya meminimalkan atropi otot, meningkatkan sirkulasi dan menurunkan
risiko terjadinya hiperkalsiuria.
c) Tempatkan bantal dibawah aksila untuk melakukan aduksi pada tangan.
Rasionalnya mencegah abduksi atau fleksi siku.
b. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
Tujuan dan kriteria hasil :
1) pola nafas efektif setelah diberikan oksigen
2) ventilasi adekuat
3) PaCo2<45
4) PaO2>80
5) RR 16-20x/ menit
6) Tanda-tanda sianosis(-) :CRT 2 detik
I terve si :
a) Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.
Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk
mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas.
Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara
partial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan.
c) Auskultasi suara napas.
Rasional : hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang
berakibat pnemonia.
d) Observasi warna kulit
Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan
tindakan segera
e) Kaji distensi perut dan spasme otot.
Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma
f) Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret
sebagai ekspektoran.
g) Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan.
Rasional : menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus menerus
untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.
h) Pantau analisa gas darah.
Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai
contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.
i) Berikan oksigen dengan cara yang tepat.
Rasional : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan.
j) Lakukan fisioterapi nafas.
Rasional : mencegah sekret tertahan
c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Tidak terjadi gangguan integritas kulit selama perawatan
2) Tidak ada dekibitus
3) Kulit kering
Intervensi keperawatan :
a) Inspeksi seluruh lapisan kulit.
Rasio al : kulit e deru g rusak kare a perubaha sirkulasi perifer
b) Lakukan perubahan posisi sesuai pesanan
Rasio al: u tuk me gura gi pe eka a kulit
c) Bersihkan dan keringkan kulit.
Rasio al: me i gkatka i tegritas kulit
d) Jagalah tenun tetap kering.
Rasio al: me gura gi resiko kelembaba kulit
e) Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan
Rasional: meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan menurunkan tekanan
pada kulit serta mengurangi kerusakan kulit
d. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada
usus dan rektum.
Tujuan dan Kriteria hasil :
1) Pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi alvi/konstipasi.
2) Pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali
Intervensi keperawatan :
a) Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya
Rasional : bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal
b) Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT
Rasional: pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma
dan stress.
c) Berikan diet seimbang TKTP cair
Rasional: meningkatkan konsistensi feces
d) Berikan obat pencahar sesuai pesanan
Rasional: merangsang kerja usus
f. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syaraf perkemihan.
Tujua pera ata da Kriteria hasil :1) Produksi urine 50cc/jam
2) Keluhan eliminasi urin tidak ada
3) pola eliminasi kembali normal selama perawatan
Intervensi keperawatan :
a) Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam
Rasional : mengetahui fungsi ginjal.
b) Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih
Rasional : mengetahui adanya penumpukan urine.
c) Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari
Rasional : membantu mempertahankan fungsi ginj al.
d) Pasang dower kateter
Rasional membantu proses pengeluaran urine.
BAB III
RESUME KEPERA ATA
A. Pe gkajia
Pe gkajia dilakuka oleh Sarjo o pada ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 0.00 IB di Rua g I a ah RSU PKU Muhammadi ah ombo g sebagai pe a ggu g ja ab pasie adalah T . H umur 60 tahu , pekerjaa s asta, alamat : re gge g Rt 0 R 06 Kara ga ar.
. Ide titas Pasie
T . H umur 60 tahu , je is kelami laki laki, pekerjaa s asta, agama Islam, suku ba gsa Ja a / I do esia, alamat re gge g Rt 0 R 06 Kara ga ar ta ggal masuk 2 Juli 20 2 o RM 22 2 2, diag osa medis Trauma Cervikal.
2. Ri a at Kepera ata
Pasie data g ke RS PKU Muhammadi ah ombo g de ga dia tar oleh keluarga pada ta ggal 2 Juli pukul 2.00 IB de ga keluha eri pada bagia leher da bahu, ta da-ta da vital pasie aitu : teka a darah 0/60 mmHg, adi 62x/me it, RR 24x/me it, Suhu o . Pada hari mi ggu ta ggal 2 Juli 20 2 pukul .00 IB pasie me galami ke elakaa jatuh dari sepeda motor. Pada saat dikaji ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 0.00 IB pasie me gataka eri leher da me jalar kebahu, eri kuadra 2 de ga skala eri , eri timbul hila g, eri seperti terbakar, eri bertambah apabila u tuk bergerak, kedua ta ga pasie tidak dapat digeraka ha a terasa kesemuta , kedua kaki pasie bisa digeraka tetapi ha a bisa ditekuk saja, ta da-ta da vital pasie aitu teka a darah : 0 / 0 mmHg, adi : 62 x/me it, suhu :
sebelum a belum per ah dira at di RS. Keluarga pasie tidak ada a g me derita pe akit seperti a g diderita pasie saat i i da keluarga pasie tidak ada a g mempu ai ri a at pe akit keturu a atau me ular.
. Pe gkajia Fokus
Pada saat pe gkajia pe ulis me dapatka pasie me gataka eri leher da bahu kuadra 2 de ga skala eri , eri seperti terbakar, eri bertambah saat bergerak, pasie terlihat me aha eri, pasie bedrest. Re ta g gerak pasie kura g, mobilisasi da aktivitas diba tu keluarga, pasie me gataka tidak ama pada leher da bahu a. Pasie da keluarga pasie merasa bi gu g te ta g ko disi a g dialami pasie .
Pemeriksaa fisik : Kesadara ompos me tis, teka a darah 0 / 0 mmHg, adi: 62 x/me it, suhu: 6, o . RR : 24 x/me it. Pe gkajia sistematik kulit kepala bersih, ko ju gtiva a a emis, mukosa bibir da mulut keri g, leher tidak ada kele jar tiroid, thorax tidak ada lesi, abdome : i speksi datar, simetris palpasi : tidak ada eri teka , perkusi : timpa i auskultasi : suara bisi g usus 4 x/me it, ge etalia terpasa g D laki laki ukura 8, extermitas ta ga ka a IVFD RL 20 tetes/me it, tidak ada oedem, tidak ada lesi, akral di gi .
Pemeriksaa pe u ja g aitu pemeriksaa laboratorium ta ggal 2 Juli 20 2 Hb 4, gr/dl, leukosit 6.8 0 /uL, eritrosit 4.84 0 6/Ul, hematokrit 44. %, M V ( mea orpus ular volume . fl, M H ( mea ell hemoglobi 0.4 Pg, M H (mea orpus ular hemoglobi
o e tratio ) . g/dL, Trombosit 64 0 /dL. Hasil foto ro ge t pasie aitu spo dylosis ervi al atau perubaha dege erasi pada tula g servikal. Pasie me dapatka program terap pada ta ggal 2 Juli 20 2 aitu. Terap i jeksi: Torasik 0mg x , Ra ti 0mg 2x , eurotam
0mg x , efriaxo x2gram. Ta ga kiri IVFD RL 20 tetes/me it. B. A alisa Data
Pada ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 0.00 IB pasie me gataka eri, pada bagia leher da bahu, data ob ektif aitu pasie tampak kesakita , terasa eri bila beraktifitas, pa as seperti terbakar, regio al leher da bahu, skala eri , time timbul hila g, pasie tampak pu at, pasie terlihat gelisah. Berdasarka data tersebut timbul diag osa kepera ata eri akut berhubu ga de ga age idera fisik.
Pada ta ggal 0 Juli pukul 0.00 IB pasie me gataka tubuh a susah digeraka da ta ga a sama sekali tidak bisa digeraka , data ob ektif aitu pasie ha a berbari g di tempat tidur, pergeraka pasie terbatas, da aktivitas diba tu keluarga. Berdasarka data di atas mu ul diag osa kepera ata hambata mobilitas fisik berhubu ga de ga kerusaka euromuskuler. Diag osa kepera ata sesuai de ga prioritas masalah
. eri akut berhubu ga de ga age idera fisik
2. Hambata mobilitas fisik berhubu ga de ga kerusaka euromuskuler . I terve si, Impleme tasi da Evaluasi
Pe ulis mera gkai pere a aa , pelaksa aa , da evaluasi me jadi satu bagia u tuk mempermudah memahami masalah a g dihadapi, re a a a g dilakuka , pelaksa aa da hasil akhir dari asuha kepera ata a g diberika .
. eri akut berhubu ga de ga age idera fisik Tujua da Kriteria Hasil O
Tujua a g telah dibuat adalah setelah dilakuka t daka kepera ata 2 x 8 jam diharapka dapat teratasi de ga kriteria hasil eri berkura g, dapat me ghadapi atau me erima eri a.
I terve si a g telah dilakuka pe ulis pada ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 0.40 IB mo itor ta da-ta da vital, me gkaji karakteristik eri, ajarka afas dalam, berika posisi se ama mu gki , iptaka li gku ga a g ama , ajarka tek ik distraksi relaksasi, kolaborasi pemberia a algetik.
Impleme tasi atau ti daka a g dilakuka pe ulis pada ta ggal Juli 20 2 pukul 0 . 0 IB adalah memo itor ta da-ta da vital teka a darah 0/60 mmHg, suhu 6,4o , adi
0x/me it RR 24 x/me it, me gkaji karakteristik eri de ga hasil eri pada leher da bahu, skala , eri seperti terbakar, eri timbul hila g, me gajarka afas dalam jika eri de ga hasil pasie mampu melakuka afas dalam, memberika posisi a g ama de ga hasil pasie merasa lebih ama , pukul 2.00 IB memberika i jeksi Torasik 0mg.
Impleme tasi atau ti daka a g dilakuka pe ulis pada ta ggal 0 Agustus 20 2 pukul 0 . 0 IB adalah memo itor ta da-ta da vital teka a darah 0/ 0mmHg, adi 2x/me it, RR 20x/me it, suhu 6o , pukul 0. 0 IB me gajarka tek ik distraksi relaksasi. Pukul 2.00 IB memberika i jeksi Torasik 0mg.
Evaluasi dari masalah eri : pada ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 4.00 IB de ga data subjektif pasie me gataka masih eri, data objektif pasie tampak me aha eri. Masalah
eri belum teratasi da la jutka i terve si de ga ajarka tek ik distraksi relaksasi, kolaborasi pemberia obat a algetik.
Evaluasi dari masalah eri : pada ta ggal 0 Agustus 20 2 pukul 4.00 IB de ga data subjektif pasie me gataka eri berkura g, data objektif pasie tampak rileks, te a g. Masalah eri teratasi da pertaha ka i terve si de ga memo itor eri.
2. Hambata mobilitas fisik berhubu ga de ga kerusaka euromuskuler
Tujua a g telah dibuat adalah setelah dilakuka ti daka kepera ata selama 2 x 8 jam diharapka hambata mobilitas fisik dapat teratasi de ga kriteria hasil kekuata otot
me i gkat, me demo strasika tek ik atau perilaku a g memu gki ka melakuka kembali aktivitas se ara bertahap.
I terve si a g telah dilakuka pe ulis pada ta ggal 0 Ju i 20 2 pukul 0.40 IB adalah me gajarka pasie u tuk me ggu aka tek ik relaksasi, me gga ti posisi pasie se ara bertahap, me gajarka pasie u tuk latiha mobilitas atau gerak se ara bertahap, me gajarka pasie latiha ROM, melibatka keluarga dalam peme uha kebutuha pasie .
Impleme tasi atau ti daka a g dilakuka pe ulis pada ta ggal Juli 20 2 pukul 0 .00 IB adalah me ga jurka pasie u tuk me gubah posisi miri g ka a da miri g ke kiri de ga hasil pasie belum mampu me gubah posisi, me ga jurka pasie u tuk latiha mobilitas se ara bertahap.
Impleme tasi atau ti daka a g dilakuka pe ulis pada ta ggal 0 Agustus 20 2 pukul 0 . 0 IB adalah me ga jurka pasie u tuk me gubah posisi miri g ka a da miri g kiri de ga hasil pasie belum mampu me gubah posisi miri g ka a da kiri se ara ma diri, me ga jurka pasie u tuk duduk de ga hasil pasie belum mampu melakuka se ara ma diri, me gajarka pasie ROM pasif de ga hasil pasie belum mampu me ggeraka ekstrimitas atas se ara ma diri.
Evaluasi dilakuka pada ta ggal 0 Juli 20 2 pukul 4.00 IB de ga diag osa kepera ata hambata mobilitas fisik berhubu ga de ga kerusaka euromuskuler belum
teratasi de ga data subjektif pasie me gataka belum dapat beraktivitas se ara ma diri. Data objektif pasie ha a tidura di tempat tidur, kekuata otot lemah, ekstremitas atas belum bisa digeraka . la jutka i terve si me ga jurka pasie u tuk me gubah posisi miri g ka a atau miri g kiri, me ga jurka pasie u tuk latiha mobilitas se ara bertahap.
Evaluasi dilakuka pada ta ggal 0 Agustus 20 2 pukul 4.00 IB de ga diag osa kepera ata hambata mobilitas fisik berhubu ga de ga kerusaka euromuskuler belum teratasi de ga data sub ektif pasie me gataka belum dapat beraktifitas de ga ma diri. Data ob ektif a pasie belum mampu me gubah posisi se ara ma diri, pasie masih tampak lemah.