2.1 Anthropometri Tubuh Manusia
2.1.1 Pengertian dan Tujuan Anthropometri
Anthropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah
suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik
tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut
untuk penanganan masalah desain (Nurmianto,p50).
Tujuan utama Anthropometri adalah mendapatkan suatu produk desain yang
sesuai dengan lengkuk tubuh manusia termasuk kelebihan dan keterbatasan
manusia (The design fits to the man) dan bukan manusia yang menyesuaikan
diri (The man fits to the design).
2.1.2 Anthropometri dan Aplikasi dalam Perancangan Fasilitas Kerja 1. Perancangan Areal Kerja (work station)
2. Perancangan Peralatan Kerja (mesin, perkakas dan dll)
3. Perancangan Produk-Produk Konsumtif (seperti pakaian, kursi, lemari, dan
sebagainya)
2.1.3 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya
1) Pengukuran Dimensi Struktur Tubuh (Structural Body Dimensions)
Pengukuran dimensi-dimensi tubuh pada saat posisi tubuh standar dan tidak
bergerak atau diam disebut juga Static Anthropometri. Ukuran dimensi
tubuh yang diambil seperti ukuran kepala, tinggi tubuh, panjang kaki,
panjang lengan, dan dll, biasanya dalam persentil 5th dan 95th
(Wignjosoebroto,p62).
2) Pengukuran Dimensi Fungsional Tubuh (Functional Body Dimensions)
Pengukuran dimensi – dimensi tubuh pada saat tubuh melakukan gerakan –
gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.
Disebut juga Dynamic Anthropometri. Ukuran dimensi tubuh yang diambil
seperti posisi tubuh pada saat menyetir mobil. Kita mendesain atau
mengukur panjang kursi atau jok mobil, lebar dan jarak pedal gas, rem, dan
2.1.4 Prinsip – Prinsip dalam Perancangan Produk/ Fasilitas Kerja 1) Prinsip Perancangan Produk bagi Individu dengan Ukuran yang Ekstrim
Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya mengikuti
kualifikasi tetapi masih bisa digunakan unutk memenuhi ukuran tubuh dari
mayoritas populasi yang ada. Untuk dimensi minimum yang ditetapkan
biasanya memakai ukuran persentil yang terbesar yaitu 90th, 95th, dan 99th
(seperti lebar dan tinggi pintu darurat). Sedangkan untuk dimensi
maksimum yang ditetapkan diambil ukuran yang terkecil 1th, 5th, dan 10th
(jarak jangkauan) (Wignjosoebroto,p68).
2) Prinsip Perancangan Produk yang bisa Beroperasi di Antara Rentang
Ukuran Tertentu
Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya dapat diubah-ubah
ukurannya sehingga cukup fleksible digunakan oleh setiap orang yang
memilikinya berbagai macam ukuran tubuh. Biasanya rentang ukurannya
antara nilai persentil 5thsampai 95th(Wignjosoebroto,p68).
3) Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran Rata-rata
Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang didasarkan terhadap
rata-rata ukuran manusia pengguna. Sering kali ukuran tubuh kita tidak sama
dengan ukuran tubuh rata-rata. Jadi hanya orang yang memiliki ukuran
tubuh rata-rata yang dapat menggunakan produk perancangan dengan
jarang ditemukan orang dengan ukuran dimensi tubuh sesuai dengan
rata-rata (Wignjosoebroto,p69).
2.1.5 Metode Pengukuran Anthropometri
2.1.5.1 Metode Ukur dengan Anthropometer
Pengukuran dengan menggunakan Anthropometer. Biasanya
memakai konsep percentil dari data yang berdistribusi normal.
Biasanya untuk melakukan pengukuran bagian-bagian tubuh kita harus
menentukan design approach, prinsip desain, dan barulah mengambil
persentase dari populasi yang akan diakomodasikan dari desain kita.
Untuk ukuran yang besar biasanya menggunakan persentil 95th
sedangkan ukuran kecil menggunakan persentil 5th.
Biasanya kita hanya melihat sebuah tabel yang berisi
ukuran-ukuran dimensi tubuh dari berbagai persentilnya. Untuk desain dengan
metode anthropometer akan sama akurat dengan metode tukang jahit,
hanya tergantung dari cara pakainya saja. Sebagai metode ini akan
lebih cocok jika digunakan untuk mengukur data-data seperti data
lebar pinggul, panjang ibu jari, lebar telapak tangan, dll.
2.1.5.2 Metode Ukur Tukang Jahit
Pengukuran dengan menggunakan metode ini biasanya
metode ini pengukuran data-data Anthropometri dilakukan langsung
ke bagian-bagian tubuh dengan menggunakan pita ukur (meteran).
Metode ini biasanya dipakai untuk mendapatkan data ukuran untuk
prinsip desain individual. Jadi seluruh dimensi-dimensi yang ada pada
tubuh diukur untuk mendapatkan nilai ukuran yang tepat. Biasanya
metode ini digunakan untuk mengukur data-data seperti tinggi badan,
panjang jangkauan tangan ke atas, dan lain-lain.
2.2 Perancangan dan Pengembangan Produk
Pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis
persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap produksi, penjualan, dan
pengiriman produk (Ulrich,p2).
Berikut adalah diagram proses pengembangan produk. Diagram menunjukkan
Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p9) Gambar 2.1 Proses Pengembangan Produk
Enam fase dalam proses pengembangan secara umum adalah (Ulrich,p15-17) :
0 Perencanaan : Kegiatan perencanaan sering ditujuk sebagai ”zerofase” karena
kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran
pengembangan produk aktual.
1 Pengembangan Konsep : Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target
diindentifikasi, alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan
satu atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.
biasanya diimbangi dengan sekumpulan spesifikasi, analisis produk-produk
pesaing serta pertimbangan ekonomis proyek.
2 Perancangan Tingkat Sistem : Fase perancangan tingkatan sistem mencakup
definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta
komponen-komponen. Gambaran rakitan akhir untuk sistem produksi biasanya
didefinisikan selama fase ini. Output pada fase ini biasanya mencakup tata letak
bentuk produk, spesifikasi secara fungsional dari tiap subsistem prosuk, serta
diagram aliran proses pendahuluan untuk proses rakitan akhir.
3 Perancangan Detail : Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari
bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk
dan indentifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok. Rencana
proses dinyatakan dan peralatan dirancang untuk tiap komponen yang dibuat
dalam sistem produksi. Output dari fase ini adalah pencatatan pengendalian untuk
produk : gambar pada file komputer tentang bentuk tiap komponen dan peralatan
untuk pabrikasi dan perakitan produk.
4 Pengujian dan Perbaikan : Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi
dan evaluasi dari bermacam-macam versi produksi awal produk. Prototipe awal
(alpha) biasanya dibuat dengan menggunakan komponen-komponen dengan
bentuk dan jenis material pada produksi sesungguhnya, namun tidak memerlukan
proses pabrikasi dengan proses yang sama dengan yang dilakukan pada produksi
sesungguhnya. Prototipe alpha diuji untuk menentukan apakah produk akan
kebutuhan kepuasan konsumen utama. Prototipe berikutnya (beta) biasanya
dibuat dengan komponen-komponen yang dibutuhkan pada produksi namun tidak
dirakit menggunakan proses perakitan akhir seperti pada perakitan sesungguhnya.
5 Produksi Awal : Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan
sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk
melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin timbul
pada proses produksi sesungguhnya.
2.2.1 Perencanaan Produk
Proyek pengembangan produk dikelompokkan menjadi 4 tipe (Ulrich,p36) :
Platform produk baru.
Turunan dari platform produk yang telah ada.
Peningkatan perbaikan untuk produk yang telah ada.
Pada dasarnya produk baru.
Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p36) Gambar 2.2 Proses Perencanaan Produk
Gambar 2.2 menggambarkan langkah-langkah dalam proses perencanaan
sekumpulan proyek-proyek yang menjanjikan dipilih. Sumber daya – sumber
daya dialokasikan untuk proyek-proyek ini dijadwalkan. Kegiatan-kegiatan
perencanaan ini berfokus pada portfolio dari peluang dan proyek-proyek yang
potensial dan kadang-kadang disesuaikan dengan manajemen portfolio,
perencanaan produk keseluruhan, perencanaan lini produk, atau manajemen
produk. Segera setelah proyek dipilih dan sumber daya dialokasikan, suatu
pernyataan misi dikembangkan untuk setiap proyek. Formulasi dari suatu
rencana produk dan pengembangan dari pernyataan misi akan mendahului
proses pengembangan produk aktual.
Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi proyek,
terdapat lima tahapan proses berikut (Ulrich,p37) :
1. Indentifikasi Peluang.
2. Mengevaluasi dan memprioritaskan proyek.
3. mengalokasikan sumber daya dan rencana waktu.
4. Melengkapi perencanaan dan pendahuluan proyek.
5. Merefleksikan kembali hasil dan proses.
2.2.1.1 Mengidentifikasi Peluang-Peluang
Rencana proses dimulai dengan mengindentifikasikan
peluang-peluang pengembangan produk. Langkah ini dapat dibayangkan
sebagai terowongan peluang karena bersama membawa input dari
sangat berhubungan dengan kegiatan mengidentifikasi kebutuhan
pelanggan. Bila dipergunakan secara aktif, terowongan peluang dapat
menampung ide-ide secara kontinu, dan peluang-peluang produk baru
mungkin akan dihasilkan setiap waktu (Ulrich,p37-38).
2.2.1.2 Mengevaluasi dan Memprioritaskan Proyek
Langkah kedua dalam proses perencanaan produk h‚dala memilih
proyek yang paling menjanjikan untuk diikuti. Empat perspektif dasar
yang berguna dalam mengevaluasi dan memprioritaskan
peluang-peluang bagi produk baru dalam kategori produk yang ada adalah
(Ulrich,p38-42):
Strategi bersaing
Segmentasi pasar
Alur teknologi
Perencanaan platform produk
Setelah itu, proses mengevaluasi peluang produk baru didiskusikan,
dan menyeimbangkan portfolio proyek. Kriteria-kriteria yang
digunakan untuk mengevaluasi peluang-peluang produk baru secara
fundamental, dapat juga untuk mengevaluasi beberapa peluang
(screening) untuk mengevaluasi keseluruhan daya tarik dan tipe-tipe
resiko untuk beberapa peluang yang tersedia.
2.2.1.3 Mengalokasikan Sumber Daya dan Rencana Waktu Perencanaan agregat membantu suatu perusahaan untuk
menggunakan sumberdayanya secara efesien dengan mengambil
proyek-proyek yang beralasan untuk diselesaikan berdasarkan sumber
daya yang dianggarkan (Ulrich,p45).
Dalam menentukan waktu dan urutan proyek, kadang digunakan
istilah manajemen pipa (pipeline management), yang harus
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut (Ulrich,p46) :
Penentuan waktu pengenalan produk
Kesiapan teknologi
Kesiapan pasar
Persaingan
Sekumpulan proyek yang dilakukan dengan proses perencanaan
dalam waktu berurutan menjadi rencana produk. Rencana harus
mencakup gabungan produk baru secara fundamental, proyek
platform, dan proyek-proyek lanjutan dengan ukuran bervariasi.
Rencana produk diperbaharui secara periodik sebagai bagian dari
2.2.1.4 Melengkapi Perencanaan dan Pendahuluan Proyek Segera setelah proyek disetujui, Namur sebelum sumber daya
penting digunakan dilakukan kegiatan perencanaan Proyek
Pendahuluan. Kegiatan ini melibatkan tim fungsional silang yang kecil
yang sering dinamai tim inti. Dalam rangka memberikan petunjuk
yang jelas untuk organisasi pengembangan produk, biasanya tim
memformulasikan suatu definisi yang lebih detail dari pasar target dan
asumƒs-asumsi yang mendasari operasional tim pengembangan.
Keputusan-keputusan mengenai hal ini akan terdapat pada suatu
pernyataan misi (mision statement).
Pernyataan misi kadang-kadang juga disebut dsebagai perjanjian
(charter) atau ringkasan disain (design brief). Pernyataan misi ini
menjelaskan kemana arah yang akan dituju, tetapi tidak menjelaskan
tempat tujuan dan cara untuk mencapainya.
Pertanyaan misi mungkin mencakup beberapa dari keseluruhan
informasi berikut (Ulrich,p48-49) :
Uraian Produk Ringkas: uraian ini mencakup manfaat produk
utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan konsep
Sasaran Utama Bisnis: sebagai tambahan sasaran proyek yang
mendukung strategi perusahaan, sasaran ini biasanya mencakup
waktu, biaya dan kualitas
Pasar Target untuk Produk: terdapat beberapa pasar target untuk
produk. Bagian ini mengidentifikasikan pasar utama dan pasar
kedua yang perlu dipertimbangkan dalam usaha pengembangan.
Asumsi-Asumsi dan Batasan-Batasan untuk mengarahkan usaha
pengembangan : asumsi harus dibuat dengan hati-hati, meskipun
mereka membatasi kemungkinan jangkauan konsep produk,
mereka membantu untuk menjaga lingkup proyek yang terkelola.
Untuk itu dibutuhkan informasi-informasi untuk pencatatan
keputusan mengenai asumsi dan batasan.
Stakeholder: satu cara untuk menjamin bahwa banyak permasalahan pengembangan ditujukan untuk mendaftar secara
eksplisit seluruh stakeholder dari produk, yaitu sekumpulan orang
yang dipengaruhi oleh keberhasilan dan kegagalan produk. Daftar
stakeholer dimulai dari pengguna akhir (pelanggan eksternal akhir) dan pelanggan eksternal yang membuat keputusan tentang produk.
Stakeholder juga mencakup pelanggan produk yang mendampingi perusahaan, seperti tenaga penjual, organisasi pelayanan, dan
bayangan bagi tim untuk mempertimbangkan kebutuhan setip
orang yang akan diperngaruhi oleh produk.
Karena pernyataan misi merupakan pegangan untuk tim
pengembangan, suatu “reality cek“ harus dilakukan sebelum melalui
proses pengembangan. Langkah awal ini adalah waktu untuk
memperbaiki, paling tidak mereka menjadi lebih hebat dan bernilai
sesuai dengan kemajuan proses pengembangan.
Tabel 2.1 Contoh Format Pernyataan Misi
Pernyataan misi : (nama produk) Deskripsi produk : *
Sasaran bisnis Kunci : * * * Pasar Utama : * Pasar Sekunder : * * Asumsi-asumsi : *
Pihak yang terkait : * * *
Langkah–langkah dalam proses dapat dan seharusnya dijalankan
secara simultan untuk memastikan apakah banyak rencana dan
keputusan konsisten dengan yang lainnya dan dengan sasaran,
2.2.1.5 Merefleksikan Kembali Hasil dan Proses
Pada langkah terakhir dari perencanaan dan proses strategi, tim
seharusnya menanyakan beberapa pertanyaan untuk memperkirakan
kualitas proses dan hasil.
2.2.2 Pengembangan Konsep
Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p57) Gambar 2.3 Proses Pengembangan Konsep
Gambar diatas menjelaskan mengenai proses pengembangan konsep mulai
dari identifikasi kebutuhan pelanggan hingga pada rencana alur pengembangan.
2.2.2.1 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan
Identifikasi kebutuhan pelanggan adalah sebuah proses yang dibagi
Langkah 1 : Mengumpulkan data mentah
Proses pengumpulan data mencakup kontak dengan pelanggan
dan mengumpulkan pengalaman dari lingkungan pengguna produk.
Tiga metode yang biasa digunakan adalah :
1. Wawancara
Satu atau lebih anggota pengembang berdiskusi mengenai
kebutuhan dengan seorang pelanggan. Wawancara biasanya
dilakukan pada lingkungan pelanggan dan berlangsung sekitar 1
sampai 2 jam.
2. Kelompok fokus
Moderator memfasilitasi suatu diskusi kelompok yang disebut
kelompok fokus selama 2 jam. Kelompok ini terdiri dari 8-12
orang pelanggan. Kelompok ini ditempatkan dalam suatu
ruangan yang dilengkapi cermin pada dua sisi yang membantu
anggota tim pengembang mengamati proses yang sedang
berlangsung
3. Observasi Produk Pada Saat Digunakan
Mengamati pelanggan menggunakan produk atau melakukan
pekerjaan yang sesuai dengan tujuan produk tersebut diciptakan,
dapat memberi informasi yang penting mengenai kebutuhan
pelanggan. Observasi memang merupakan proses yang pasif,
menggunakan produk dengan pelanggan. Namun demikian
observasi memungkinkan tim pengembang mengetahui
pengalaman dalam menggunakan produk dari tangan pertama.
Idealnya anggota tim mengobservasi produk pada lingkungan
yang sebenarnya.
Pengguna utama merupakan orang yang tepat untuk
diwawancara dalam identifikasi kebutuhan pelanggan. Tetapi dalam
memilih pelanggan untuk diwawancara, biasanya kita juga harus
memperhatikan orang – orang yang terkait dengan produk tersebut
(stakeholder) , maka diperlukan juga pengumpulan data dari sekelompok ini.
Pengumpulan data kebutuhan pelanggan sangat berbeda dengan
sales call, tujuannya adalah untuk mendapatkan ekspresi yang jujur tentang kebutuhan, bukan meyakinkan pelanggan mengenai apa
yang mereka butuhakan seperti sales call. Suatu tutunan wawancara
akan berguna untuk menstrukturkan dialog tersebut. Berikut ini
adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan setelah
pewawancara memperkenalkan dirinya dan menerangkan maksud
wawancara tersebut :
Kapan dan mengapa anda menggunakan produk jenis ini?
Apa yang anda sukai dari produk sekarang?
Hal – hal apa yang anda pertimbangkan ketika membeli produk
ini?
Apa perbaikan yang ingin anda lakukan terhadap produk ini?
Berikut ini adalah beberapa tuntunan untuk melakukan interaksi
yang efektif dengan pelanggan :
Biarkan wawancara mengalir apa adanya
Gunakan perangsang visual dan alat peraga
Hindari hipotesa awal tentang teknologi produk
Biarkan pelanggan mendemonstrasikan produk atau tugas –
tugas tertentu yang berhubungan dengan produk
Bersiaplah dengan kejutan atau ekspresi yang trcetus dari
kebutuhan yang tersembunyi
Amati informasi non verbal
Empat metode yang biasa digunakan untuk mendokumentasikan
hasil interaksi dengan pelanggan adalah :
1. Rekaman Suara (Audio Recording)
Membuat rekaman suara sangat mudah. Namun,
menterjemahkan hasil rekaman menjadi teks tertulis cukup
2. Catatan
Catatan tangan adalah metode yang paling umum dalam
mendokumentasikan hasil wawancara. Catatan diterjemahkan
langsung setelah wawancara yang digunakan untuk memberi
gambaran wawancara yang sangat mirip dengan transkrip
aktualnya.
3. Rekaman Video
Rekaman video berguna untuk mendokumentasikan hasil
diskusi kelompok fokus. Dan juga berguna untuk
mendokumentasikan hasil observasi pelanggan di lingkungan
penggunanya atau pada saat menggunakan produk sekarang.
Kegunaan lainnya ialah untuk mempercepat adaptasi anggota
tim pengembang baru terhadap tugas – tugasnya dan sebgai
bahan presentasi bagi pihak manajemen.
4. Foto
Pengambilan foto untuk dokumentasi memberikan banyak
gambaran keuntungan. Manfaat utamanya adalah mudah untuk
ditampilkan, kualitas gambar bagus dan kemudahan fasilitas.
Kerugiannya adalah relatif tidak mampu untuk menangkap
Hasil akhir dari mengumpulkan data adalah menyusun data
mentah. Kemudian tugas akhir pada langkah 1 adalah menulis
ucapan terima kasih yang berpartisipasi dalam proses.
Langkah 2 : Menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan
Kebutuhan pelanggan diekspresikan sebagai pernyataan tertulis
dan merupakan hasil interpretasi kebutuhan yang berupa data
mentah yang diperoleh dari pelanggan. Setiap pernyataan atau hasil
observasi dapat diterjemahkan sebagai kebutuhan pelanggan.
Berikut ini merupakan 5 petunjuk untuk menulis pernyataan
kebutuhan pelanggan :
Ekspresikan kebutuhan sebagai “Apa yang harus dilakukan
produk”, bukan “bagaimana melakukannya”.
Ekspresikan kebutuhan sama spesifiknya seprti data mentah.
Gunakan pernyataan positif, bukan negatif.
Ekspresikan kebutuhan sebagai atribut dari produk.
Hindari kata – kata ”harus” dan ”mesti”.
Daftar kebutuhan pelanggan merupakan susunan final dari semua
kebutuhan yang diperoleh dari wawancara pelanggan yang
Langkah 3 : Mengorganisirkan kebutuhan menjadi beberapa hierarki, yaitu kebutuhan primer , sekunder dan ( jika diperlukan) tertier.
Pada langkah 3 ini, hal yang dilakukan adalah
mengorganisasikan kebutuhan – kebutuhan menjadi beberapa
hierarki. Daftar kebutuhan ini terdiri dari beberapa kebutuhan
primer, dimana kebutuhan primer akan tersusun menjadi beberapa
kebutuhan sekunder. Dalam kasus produk yang sangat komplek,
kebutuhan sekunder dapat dipecah lagi menjadi kebutuhan tertier.
Prosedur mengorganisasikan kebutuhan menjadi daftar hierarki
merupakan proses yang intuitif, dan banyak tim yang dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik tanpa adanya petunjuk detail.
Berikut dibawah ini, tahap–tahap prosedur untuk mengelompokkan
kebutuhan menjadi daftar hierarki :
Tuliskan setiap pernyataan kebutuhan pada kartu – kartu atau
secarik kertas yang terpisah
Kurangi pernyataan kebutuhan yang sama atau tidak dibutuhkan
lagi
Kelompokkan kartu–kartu berdasarkan kesamaan kebutuhan
yang diekspresikan
Pertimbangkan untuk mengelompkokkan grup yang dihasilkan
menjadi super grup yang terdiri dari 2 sampai 5 grup
Periksa dan edit kembali pernyataan kebutuhan yang telah
disusun
Langkah 4 : Menetapkan derajat kepentingan relatif setiap kebutuhan.
Langkah 4 proses identifikasi kebutuhan pelanggan adalah
menetapkan tingkat kepentingan relatif kebutuhan yang berupa nilai
untuk setiap kebutuhan. Ada dua pendekatan dasar untuk
menetapkan bobot kepentingan setiap kebutuhan, yaitu (1)
bersandar pada pada konsesus anggota tim berdasarkan pengalaman
mereka selama ini dengan pelanggan, atau (2) berdasarkan nilai
kepentingan yang diperoleh dari survei lanjutan terhadap pelanggan.
Bobot kepentingan setiap kebutuhan dapat diungkapkan dengan
beberapa cara, yaitu nilai rata–rata, standar deviasi, atau jumlah
respon untuk setiap kategori kepentingn. Respon ini kemudian
digunakan untuk menilai bobot kepentingan setiap pernyataan
kebutuhan.
Penentuan jumlah sampel untuk survey ke-2 adalah dengan
rumus :
2 2 1 e p p n Keterangan : n = Jumlah ukuran sampel
Z= Angka Tabel untuk selang tingkat kepercayaan
Tertentu.
p = Persen proporsi pasar yang akan dimasuki
e = Allowable error
Penentuan bobot berdasarkan hasil rata-rata dari bobot
kepentingan tiap variabel.
Langkah 5 : Merefleksikan hasil dan proses.
Langkah terakhir pada metoda identifikasi kebutuhan pelanggan
adalah menggambarkan kembali hasil dan proses. Tim harus
menguji hasilnya untuk meyakinkan bahwa hasil tersebut konsisten
dengan pengetahuan dan intuisi yang telah dikembangkan melalui
interaksi yang cukup lama dengan pelanggan. Beberapa pertanyaan
yang dapat diajukan untuk langkah ini ialah :
Sudahkah kita berinteraksi dengan semua tipe pelanggan
penting dalam target pasar kita?
Apakah kita sanggup menangkap lebih jauh kebutuhan yang
berhubungan dengan produk sekarang untuk menangkap
Masih adakah wilayah penyelidikan yang harus kita kejar untuk
mencatat kemajuan wawancara atau survei yang telah
dilakukan?
Manakah diantara pelanggan yang diwawancara merupakan
partisipan yang baik, yang dapat membantu kita pada usaha
pengembangan produk yang lebih lanjut?
Apa yang kita ketahui sekarang, namun belum kita ketahui
waktu memulai proses? Apakah kita mendapatkan kejutan
dengan kebutuhan yang terkumpul?
Apakah kita sudah melibatkan semua orang dalam organisasi
kita yang membutuhkan pemahaman yang baik mengenai
kebutuhan pelanggan?
Bagaimana kita memperbaiki proses pada usaha pengembangan
di masa yang akan datang?
2.2.2.2 Spesifikasi Produk
Speksifikasi produk yaitu menjelaskan tentang hal-hal yang harus
dilakukan olah sebuah produk dan kumpulan dari
spesifikasi-spesifikasi individual (Ulrich,p77). Speksifikasi terdiri dari metrik dan
nilai metrik. Sebagai contoh “waktu rata-rata untuk memasang” adalah
Dua tahapan pembuatan spsifikasi yang merupakan bagian dari
pengembangan produk adalah menetapkan spesifikasi dan targetnya
serta menetapkan spesifikasi akhir.
Proses pembuatan target speksifikasi terdiri dari 4 langkah:
1. Menyiapkan gambar metrik, dan menggunakan metrik-metrik
kebutuhan, jika diperlukan.
Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung
kebutuhan pelanggan menjadi sekumpulan nilai speksifikasi yang
tepat dan terukur dapat dilakukan, dan upaya memenuhi
speksifikasi dengan sendirinya akan menghasilkan kepuasan
terhadap kebutuhan pelanggan yang terkait.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat daftar
metrik:
Metrik harus komplit.
Metrik harus merupakan varibel yang berhubungan.
Metrik harus praktis.
Beberapa kebutuhan tidak dengan mudah diterjemahkan
menjadi metrik yang terukur.
Tabel 2.2 Contoh Format Daftar Metrik Kebutuhan
No Kebutuhan Kepentingan
1 (Produk) 2 (Produk) 3 (Produk)
2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing.
Ketika tim memulai proses pengembangan produk dengan
beberapa ide tentang bagaimana produk bersaing di pasaran, target
speksifikasi merupakan bahasa yang digunakan tim untuk
berdiskusi dan menentukan posisi produknya dibandingkan produk
yang ada, baik produk yang dimiliki perusahaan sendiri maupun
produk pesaing.
Dalam hal ini pengumpulan informasi pesaing menggunakan
metode Quality Function Deployment (QFD). Quality Function
Deployment (QFD) adalah alat perencanaan dan pemecahan
masalah yang digunakan untuk mengembangkan serta
menghubungkan customer requirements terhadap engineering
Sumber : Engineering Design (Dieter,p70) Gambar 2.4 Contoh QFD
Contoh penerapan dan penggunaannya dapat dilihat pada bab 4.
3. Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai
untuk tiap metrik.
Terdapat lima cara untuk mengungkapkan nilai metrik:
Minimal X: speksifikasi ini menetapkan target untuk batas
bawah metric, dimana nilai yang lebih tinggi adalah yang lebih
baik.
Maksimal X: speksifikasi ini menetspkan target untuk batas
atas dari metrik, dimana nilai yang lebih kecil adalah lebih
Diantara X dan Y: speksifikasi ini mentapkan targt batas atas
dan bawah untuk nilai metrik.
Tepat X: speksifikasi ini menetapkan target metrik pada nilai
tertentu, dimana perbedaan nilai akan menurunkan kinerja.
Kumpulan nilai diskret: Beberapa metrik mempunyai nlai
berupa beberapa pilihan diskret.
4. Merefleksikan hasil dan proses.
Setelah target ditentukan, tim memulai bekerja untuk
menghasilkan solusi-solusi konsep. Spesifikasi target lalu dapat
digunakan untuk membantu tim dalam memilih sebuah konsep.
Dalam menentukan speksifikasi akhir sangat sulit karena adanya
trade-offs, yaitu hubungan berlawanan antara dua speksifikasi yang sudah melekat pada konsep produk yang terpilih.
Lima langkah dalam pembuatan speksifikasi akhir:
1. Mengembangkan model-model teknis suatu produk.
Model teknis suatu produk adalah alat yang digunakan untuk
memperkirakan nilai metrik untuk membuat beberapa keputusan
desain. Dalam hal ini cenderung menggunakan istilah ‘model’
untuk menyebut suatu bentuk tiruan fisik maupun analitik dari
2. Mengembangkan model biaya suatu produk.
Biaya yang dimaksud adalah biaya manufaktur dimana pihak
perusahaan selalu memperoleh keuntungan yang cukup, juga dapat
menawarkan produk ini ke pelanggan dengan harga bersaing.
Untuk sebagian besar produk, perkiraan mengenai biaya
manufaktur dapat diketahu dengan menuliskan daftar bahan-bahan
dan komponen dan memperkirakan harga pembelian atau pabrikasi
untuk setiap komponen.
3. Memperbaiki speksifikasi, membuat trade-offs jika diperlukan.
Setelah tim membuat model kinerja teknis yang dibutuhkan untuk
membuat model biaya awal, tim telah dapat menggunakan model
ini untuk mengembangkan speksifikasi akhir. Speksifikasi akhir
dapat dihasilkan dengan cara memaparkan nilai-nilai kombinasi
yang mungkin melalui penggunaan model teknis, dan kemudian
biaya-biaya penerapannya dapat ditentukan. Analisa Cojoint
merupakan alternatif yang sesuai untuk menyempurnakan
speksifikasi produk.
4. Menentukan speksifikasi yang sesuai.
Proses penetapan speksifikasi akan lebih penting dan menantang
jika produk yang dikembangkan sangat kompleks, terdiri dari
subsistem, dan membutuhkan beberapa tim pengembangan.
dana yang disediakan. Namun speksifikasi komponen lainnya
harus ditentukan melalui pemahaman yang lebih kompleks
mengenai bagaimana kinerja subsistem berhubungan dengan
kinerja produk secara keseluruhan.
5. Merefleksikan hasil dan proses.
Apakah produk ini akan memenangkan persaingan?
Ada berapa banyak ketidakpastian yang ada pada model teknik
dan model biaya?
Apakah konsep yang dipilih oleh tim paling sesuai target pasar
yang ditetapkan atau konsep itu diterapkan pada pasar yang
lain?
Haruskah perusahaan melalui usaha formal untuk
mengembangkan model teknik yang lebih baik yang
merupakan ukuran kinerja produk untuk masa yang akan
datang?
2.2.2.3 Penyusunan Konsep
Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai
teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk (Ulrich,p102). Konsep
produk merupakan gambaran singkat bagaimana produk memuaskan
serangkaian kebutuhan pelanggan dan spesifikasi target, dan diakhiri
dengan terciptanya beberapa konsep produk sebagai sebuah pilihan
akhir.
Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p104) Gambar 2.5 Lima Langkah Metode Penyusunan Konsep
Memperjelas masalah mencakup pengembangan sebuah pengertian
umum dan pemecahan sebuah masalah menjadi submasalah.
Pernyataan misi untuk proyek, daftar kebutuhan pelanggan dan
spesifikasi produk awal merupakan input yang ideal untuk proses
penyusunan konsep, meskipun seringkali bagian-bagian ini masih
diperbaiki pada saat tahapan penyusunan konsep dimulai.
Membagi sebuah masalah menjadi submasalah yang lebih
sederhana disebut dekomposisi masalah. Pendekatan-pendekatan
untuk membagi sebuah masalah manjadi submasalah yang lebih
sederhana yaitu :
Dekomposisi fungsi.
Dekomposisi berdasarkan urutan penggunaan.
Dekomposisi berdasarkan kebutuhan utama pelanggan.
Tujuan dari semua teknik dekomposisi ini adalah untuk membagi
sebuah masalah kompleks menjadi sederhana sehingga dapat ditangani
dengan lebih terfokus.
Pencarian eksternal untuk menghasilkan solusi pada pokoknya
merupakan proses pengumpulan informasi. Waktu dan sumber yang
tersedia dapat dioptimasi dengan menggunakan sebuah strategi
ekspansi dan fokus. Sedikitnya terdapat 5 cara yang baik untuk
pengguna utama, konsultasi dengan pakar, pencarian paten, pencarian
literature dan menganalisis (benchmarking) pesaing.
Pencarian internal merupakan penggunaan pengetahuan dan
kreativitas dari tim dan pribadi untuk menghasilkan konsep solusi.
Pencarian bersifat “internal” dalam arti semua pemikiran yang timbul
dari langkah ini dihasilkan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada
dalam tim.
Pohon klasifikasi dan tabel kombinasi kemudian digunakan untuk
menggali secara sistematis konsep penyelesaian tersebut dan untuk
mengintegrasikan penyelesaian sub masalah ke dalam sebuah
penyelesaian total. Akhirnya dapat dibuat sebuah langkah mundur
untuk merefleksikan validitas dan kemampuan aplikasi dari hasil,
seperti yang digunakan oleh proses. Tabel kombinasi konsep akan
kurang berguna ketika jumlah kolom lebih dari tiga atau empat.
Dari sini akan muncul beberapa macam konsep yang tujuannya
sama yaitu untuk menjawab penyelesaian dari submasalah yang sudah
difokuskan karena sifatnya memang penting.
2.2.2.4 Seleksi Konsep
Seleksi konsep merupakan proses menilai konsep dengan
memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kriteria lain,
memilih satu atau lebih konsep untuk penyelidikan, pengujian dan
pengembangan selanjutnya (Ulrich,p130).
Metode seleksi konsep pada proses ini didasarkan pada penggunaan
matriks keputusan untuk mengevaluasi masing-masing konsep dengan
mempertimbangkan serangkaian kriteria seleksi.
Gambar 2.6 Seleksi dan penyaringan konsep
Proses seleksi konsep terdiri atas 2 langkah utama yaitu
penyaringan konsep dan penilaian konsep dengan metode yang
dikembangkan oleh Stuart Pugh pada tahun 1980-an dan sering sekali
disebut seleksi konsep Pugh (Pugh,1990). Tujuan tahapan ini adalah
mempersempit jumlah konsep secara cepat dan untuk memperbaiki
konsep.
Langkah-langkah pada tahapan penyaringan dan penilaian konsep,
yaitu :
1. Menyiapkan matriks seleksi
2. Menilai konsep
4. Mengkombinasi dan memperbaiki konsep
5. Memilih satu atau lebih konsep
6. Mereflesikan hasil dan proses
Dengan dasar kedua matriks seleksi pada penyaringan konsep dan
penilaian konsep, dapat diputuskan untuk memilih satu atau lebih
konsep terbaik, konsep-konsep ini mungkin lebih lanjut
dikembangkan, dibuat prototipe dan diuji untuk memperoleh umpan
balik dari pelanggan.
Penyaringan Konsep
Penyaringan adalah proses yang evaluasinya masih berupa
perkiraan yang ditujukan untuk mempersempit alternatif. Selama
penyaringan konsep, beberapa konsep awal dievaluasi dengan
membandingkan dengan sebuah konsep referensi yang
menggunakan matriks penyaringan. Pada tahap awal ini
perbandingan kuantitatif secara rinci sulit untuk dihasilkan dan
mungkin menyesatkan, sehingga digunakan sebuah sistem penilaian
Tabel 2.3 Contoh Matriks Penyaringan Konsep Kriteria seleksi Konsep 1 2 n Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Jumlah + Jumlah 0 Jumlah -Nilai akhir Peringkat lanjutkan ?
Proses penyaringan konsep merupakan proses penilaian yang
sederhana yang menggunakan tiga simbol yaitu nilai relatif “lebih
baik” (+), jika konsep tersebut lebih baik dari konsep yang lain
dalam hal kriteria tersebut. “sama dengan” (0), jika untuk kriteria
tersebut konsep tersebut sama dengan konsep yang lainnya. Dan
terakhir “lebih buruk” (-), bila konsep tersebut lebih buruk dari
konsep yang lainnya. Kemudian jumlah bobot tiap kriteria
dijumlahkan untuk masing-masing konsep diberi rangking. Konsep
yang dipilih untuk diteruskan adalah satu atau lebih konsep yang
memiliki tingkat rangking yang lebih tinggi. Setelah beberapa
alternatif dihilangkan, tim dapat memilih untuk meneruskan pada
serta mengevalusi kuantitatif yang lebih terhadap konsep yang
tersisa dengan menggunakan matriks penilaian sebagai pedoman.
Penilaian Konsep
Penilaian konsep merupakan sebuah analisis konsep yang ada
untuk memilih salah satu konsep memungkinkan untuk membawa
kesuksesan pada sebuah produk. Adapun langkah awal setelah
penyaringan konsep adalah menyiapkan matriks seleksi.
Tabel 2.4 Contoh Matriks Penilaian Konsep
Konsep
x y
Kriteria Beban Rating Nilai Beban Rating Nilai Beban
Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Total Nilai Peringkat Lanjutkan ?
Beberapa pola yang berbeda dapat digunakan untuk memberi
bobot pada kriteria seperti menandai nilai kepentingan dari 1-5 atau
mengalokasi nilai 100%. Selanjutnya penetapan rating dapat
dilakukan oleh beberapa responden untuk menentukan apakah bobot
yang diberikan sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Nilai rating dan beban dikalikan untuk mendapatkan nilai beban.
tiap konsep yang dinilai. Total nilai untuk tiap konsep merupakan
penjumlahan dari nilai yang berbobot.
n i j ij j rw S 1Dimana, rij = nilai konsep j untuk kriteria i
wj = bobot untuk kriteria i
n = jumlah kriteria
Sj = total nilai untuk konsep j
Sama seperti tahap penyaringan konsep, konsep yang terpilih
adalah konsep yang memiliki rangking tertinggi.
2.2.2.5 Pengujian Konsep
Pengujian Konsep berhubungan erat dengan seleksi konsep, dimana
kedua aktivitas ini bertujuan untuk menyempitkan jumlah konsep yang
akan diproses lebih lanjut. Namun pengujian konsep berbeda, karena
aktivitas ini menitikberatkan pada pengumpulan data langsung dari
pelanggaan potensial dan hanya melibatkan sedikit penilaian dari tim
pengembang.
Metode pengujian konsep terdiri dari 7 tahap yaitu :
1. Mendefinisikan maksud dari pengujian konsep
Pengujian konsep dapat diartikan sebagai suatu eksperimen, oleh
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Konsep mana
yang akan diuji?, Bagaimana konsep dapat diperbaiki?, Berapa
Jumlah produk yang dapat dijual?, Dapatkah proses
pengembangan dilanjutkan?.
2. Memilih Populasi Survei
Seringkali produk ditujukan untuk pasar potensial dengan
beberapa segmen sekaligus. Hal yang perlu diperhatikan adalah
pengujian ke beberapa segmen sekaligus akan membuang banyak
waktu dan biaya, sehingga seringkali untuk menghindari
pembengkakan biaya maka pengujian konsep cukup dilakukan
dengan memilih pelanggan potensial dengan segmen pasar terbesar
saja.
3. Memilih Format Survei
Sama seperti survei-survei yang pernah dilakukan pada tahapan
sebelumnya, jenis format yang dapat dipilih adalah dengan :
face-to-face interaction, Telepon, Surat, E-mail, Internet. Dan tiap format memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
4. Mengkomunikasikan Konsep
Yang membedakan survei pengujian konsep dengan survei-survei
sebelumnya adalah adanya konsep terpilih yang harus
dkomunikasikan kepada responden untuk dinilai sendiri oleh
mengkomunikasikan Konsep yaitu : uraian verbal, sketsa, Foto dan
gambar, storyboard, Video, simulasi, Multimedia interaktif, Model
fisik, dan prototipe yang dioperasikan. Sehingga tim pengembang
dapat memilih cara yang sesuai untuk mengkomunikasikan konsep
disesuaikan dengan biaya dan kemampuan yang ada.
5. Mengukur respon pelanggan
Data yang didapatkan dari survei dapat diolah dan digunakan
untuk mengukur respon pelanggan, dan hal yang terutama diukur
adalah Konsep mana yang dipilih, usulan perbaikan, serta
keinginan pelanggan untuk membeli dengan dibagi ke dalam 5
skala yaitu pasti akan membeli, mungkin akan membeli, mungkin
atau tidak akan membeli, mungkin tidak akan membeli, pasti tidak
akan membeli. Atau bisa juga dengan cara menyuruh responden
untuk menyebut angka peluang sendiri untuk membeli.
6. Mengiterpretasikan Hasil
Maksud dari mengiterpretasikan hasil adalah bila memang ada
konsep yang mendominasi, maka secara langsung konsep tersebut
dapat dipilih untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan model,
tetapi bila hasilnya tidak terbatas, maka konsep dapat dipilih
berdasarkan pertimbangan waktu dan biaya. Dan tidak jarang juga
tim pengembang dapat memperkirakan potensi penjualan produk 1
sifatnya tidak pasti, tetapui prediksi penjualan cenderung
berkorelasi dengan permintaan yang sebnarnya, karena itu prediksi
penjualan merupakan informasi yang sangat berharga bagi Tim
pengembangan produk.
7. Merfleksikan Hasil dan proses
Manfaat utama dari pengujian konsep adalah memperoleh umpan
balik dari pelanggan potensial, yang diuntungkan oleh pemikiran
tentang pengaruh tiga variabel kunci yang terdapat pada model
prediksi yaitu : Ukuran Pasar keseluruhan, Ketersediaan tentang
produk, dan proporsi pelanggan yang mungkin akan membeli
produk. Dalam merefleksikan hasil pengujian konsep, sebaiknya 2
pertanyaan kunci harus terjawab, yaitu : apakah konsep sudah
dikomunikasikan dengan benar sehingga menghasilkan respon
pelanggan sesuai dengan yang dituju ? dan apakah hasil prediksi
konsisten dengan hasil tingkat pengamatan tingkat penjualan
terhadap produk-produk yang sama ? Akhirnya pengalaman
dengan produk baru kemungkinan besar dapat diterapkan di masa
2.2.3 Arsitektur Produk
Semua produk terdiri dari elemen fungsional dan fisik. Elemen-elemen
fungsional dari produk terdiri atas operasi dan transformasi yang menyumbang
terhadap kinerja keseluruhan produk.
Elemen-elemen fisik dari sebuah produk adalah bagian-bagian, komponen,
dan sub rakitan yang pada akhirnya diimplementasikan terhadap fungsi produk.
Elemen-elemen fisik diuraikan lebih rinci ketika usaha pengembangan
berlanjut. Elemen fisik produk biasanya diorganisasikan menjadi beberapa
building blocks utama yang disebut chunks. Setiap Chunk terdiri dari
sekumpulan komponen yang mengimplementasikan fungsi dari produk.
Arsitektur produk adalah skema elemen-elemen fungsional dari produk disusun
menjadi chunk yang bersifat fisik. Dan menjelaskan bagaimana setiap chunk
berinteraksi.
Karakter arsitektur produk yang terpenting adalah modularitas. Ciri-ciri
arsitektur modular adalah : Chunk melaksanakan atau mengimplementasikan
satu atau sedikit elemen fungsional pada keseluruhan fisiknya, dan interaksi
antar chunk dapat dijelaskan dengan baik, dan umumnya penting untuk
menjelaskan fungsi-fungsi utama produk.
Keputusan mengenai cara membagi produk menjadi chunk dan tentang
berapa banyak modularitas akan diterapkan pada arsitektur sangat terkait
perubahan produk, variasi produk, standarisasi komponen, kinerja produk,
kemampuan manufaktur, dan manajemen pengembangan produk.
Langkah-langkah dalam menetapkan arsitektur produk adalah dengan:
1. Membuat skema produk
2. Mengelompokkan elemen-elemen pada skema
Skema adalah diagram yang menggambarkan pengertian tim terhadap
elemen–elemen penyusun produk. Setelah membuat skema produk yang ingin
dirancang, langsunglah seluruh tim mengelompokkan elemen-elemen pada
skema itu menjadi chunk. Setiap elemen dapat ditugas kepada satu chunk,
sehingga menghasilkan beberapa chunk. Pada sisi ekstrim lainnya, tim dapat
memutuskan bahwa produk hanya mempunyai satu chunk utama dan kemudian
berusaha untuk mengintegrasikan semua elemen produk secara fisik.
Kenyataannya, mempertimbangkan semua kemungkinan pengelompokan
elemen akan menghasilkan banyak sekali alternatif. Salah satu prosedur untuk
mengatur kompleksitasalternatif adalah dengan mengasumsikan bahwa setiap
elemenpada skema akan ditugaskan terhadap satu chunk tersendiri. Kemudian
secara bertahap dilakukan pengelompokkan jika memungkinkan.
Untuk mengetahui kapan pengelompokkan dilakukan, dibawah ini adalah
beberapa faktor dalam pengelompokan elemen-elemen pada skema untuk
1. Integrasi geometris dan presisi : Penugasan elemen terhadap chunk yang
sama memungkinkan satu orang atau kelompok mengontrol hubungan fisik
antar-elemen.
2. Pembagian fungsi : Ketika satu komponen fisik dapat
mengimplementasikan beberapa elemen fungsional dari produk,
elemen-elemen fungsional ini sebaiknya dikelompokkan bersama-sama.
3. Kemampuan (Kapabilitas) Pemasok : pemasok yang dipercaya mungkin
mempunyai kapabilitas tertentu yang berkaitan dengan proyek
pengembangan, dan untuk memperbolehkan hasil terbaik dari kapabilitas
tersebut, tim dapat mengelompokkan elemen-elemen yang merupakan
keahlian dari pemasok menjadi satu chunk.
4. Kesamaan desain atau teknologi produk : ketikan dua atau lebih elemen
fungsional dapat diimplementasikan menggunakan desain atau teknologi
produksi yang sama, maka penggabungan elemen-elemen ini pada chunk
yang sama akan menghasilkan desain atau proses produksi yang lebih
ekonomis.
5. Lokalisasi perubahan : ketika tim mengantisipasi sejumlah besar perubahan
pada beberapa elemen, yang lebih baik adalah mengisolasi elemen tersebut
pada chunk terpisah, sehingga perubahan yang diperlukan terhadap elemen
6. Mengamodasi variasi : elemen-elemen harus dikelompokkan sedemikian
rupa untuk memungkinkan perusahaan memvariasikan produk dengan cara
yang akan memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
7. Kemungkinan standarisasi : jika beberapa elemen juga dapat digunakan
pada produk lain, elemen-elemen ini dapat dikelompokkan menjadi satu
chunk.
8. Kemudahan perpindahan berbagai jenis penghubung yang ada pada produk:
beberapa interaksi dengan mudah dikirimkan menempuh jarak yang jauh.
2.2.4 Desain Industri (DI)
Perhimpunan Desainer Industri Amerika (IDSA) mendefinisikan desain
industri sebagai “jasa profesional” dalam menciptakan dan mengembangkan
konsep dan spesifikasi guna mengoptimalkan fungsi-fungsi, nilai, dan
penampilan produk serta system untuk mencapai keuntungan yang mutual
antara pemakai dan produsen (Ulrich,p200).
Bentuk dan ciri memegang peranan besar dalam peralatan dan produksi.
Karena itu, hal ini harus diperhatikan secara bersama-sama oleh tim. Total
biaya DI dan persentase anggaran pengembangan produk yang investasikan
untuk DI diperlihatkan pada para pemakai produk dan industri yang
menghasilkan berbagai produk. Statistik ini harus memberikan tim desain
sebuah produk baru. Biaya relatif untuk DI sebagai bagian seluruh anggaran
pengembangan juga memperlihatkan jangkauan yang luas.
Biaya DI terdiri dari biaya langsung, biaya manufaktur, dan biaya waktu.
Biaya langsung terdiri dari biaya konsultan, biaya tim pengembang, dan biaya
material. Biaya konsultan merupakan biaya pada jasa untuk dapat
mengkonsultasikan produk dan lebih terpercaya dalam perbandingan dengan
produk yang lain. Biaya material terdiri dari biaya untuk bahan-bahan membuat
prortotype. Biaya manufaktur hanya terdiri dari biaya desain termasuk dalam biaya proses produksi untuk pembuatan prortotype ini.
Desain industri sangat penting terhadap suatu produk tertentu dari dua
dimensi. Untuk menjelaskan pentingnya DI ada dua dimensi yaitu ergonomik
dan estetis.
Dimensi yang pertama yaitu dari segi ergonomiknya. Dapat kita lihat bahwa
dimensi ini merupakan bentuk jamak ergonomik untuk menampung semua
aspek suatu produk yang berhubungan dengan sisi manusia. Semakin penting
aspek ergonomik terhadap kesuksesan produk, semakin tergantung pula produk
tersebut terhadap desain industri. Oleh karena itu, dengan menjawab
serangkaian pertanyaan dalam aspek ini, secara kualitatif kita dapat menilai
pentingnya desain industri.
Seberapa penting kemudahan pemakaian? Kemudahan pemakaian mungkin sangat penting untuk produk-produk yang sering digunakan.
Kemudahan pemakaian akan lebih diperlukan jika produk mempunyai
beberapa ciri atau cara mengoperasikannya yang mungkin membingungkan
dan menyebabkan pemakainya frustasi dalam penggunaannya. Ketika
kemudahan pemakaian menjadi kriteria yang penting, desainer industri
perlu menjamin bahwa ciri-ciri produk secara efektif dapat
memberitahukan fungsi-fungsinya.
Seberapa pentingnya kemudahan perawatan? Jika produk perlu diperbaiki secara berkala, kemudahan perawatan menjadi penting. Sekali
lagi, adalah penting bahwa ciri-ciri suatu produk untuk memberitahukan
prosedur perawatan / perbaikan kepada pemakainya. Bagaimanapun, dalam
banyak kasus, penyelesaian yang lebih, diperlukan untuk memenuhi
perawatan secara keseluruhan.
Berapa banyak interaksi pemakai yang diperlukan untuk fungsi-fungsi produk? Secara umum, semakin banyak interaksi pemakai dengan produk, produk akan semakin tergantung dengan desain industri. Semua ini harus
dipahami benar oleh desainer industri. Lebih jauh lagi, setiap interaksi
mungkin membutuhkan suatu pendekatan desain yang berbeda dan / atau
riset tambahan.
Berapa pembaruan yang interaksi pemakai perlukan? Suatu antarmuka pemakai memerlukan perbaikan terhadap desain yang telah ada yang secara
pada interfase pemakai mungkin memerlukan riset yang substansial dan
studi kemungkinan.
Apa pokok permasalahan keamanan? Semua produk mempunyai pertimbangan keamanan. Untuk beberapa produk, hal ini dapat
menghasilkan tantangan yang nyata bagi tim desain.
Dimensi kedua dari desain industri adalah dimensi estetis. Seperti halnya
dengan dimensi dari segi ergonomik, dimensi ini merupakan suatu dimensi
yang penting yang harus diperhatikan dalam desain industri. kita juga dapat
menilai pentingnya desain industri secara kualitatif dengan menjawab beberapa
pertanyaan.
Apakah diferensiasi produk visual diperlukan? Produk dengan market dan tekhnologi yang stabil sangat tergantung pada desain industri untuk
menciptakan daya tarik estetis dan tentunya diferensiasi visual. Sebaliknya
produk seperti internal disk drive komputer, yang dibedakan oleh kinerja
tekhnologinya lebih sedikit tergantung pada desain industrinya.
Seberapa penting gengsi kepemilikan, kesan, dan mode? Persepsi pelanggan terhadap suatu produk sebagian didasarkan oleh daya tarik
estetis. Produk yang menarik mungkin diasosiasikan dengan mode dan
kesan yang tinggi. Pada akhirnya hal itu akan menciptakan perasaan gengsi
yang tinggi pada pemiliknya. Hal ini mungkin berlawanan dengan suatu
seperti itu penting, desain industri akan memainkan peranan penting dalam
menentukan kesuksesan akhir.
Akankah suatu produk estetis memacu atau memotivasi tim? Suatu produk yang mempunyai daya tarik estetis dapat membangkitkan perasaan
bangga diantara para staf desain dan manufaktur. Kebanggaan tim dapat
memotivasi dan menyatukan setiap orang yang berhubungan dengan
proyek. Konsep awal desain industri memberikan tim suatu visi konkrit
terhadap hasil akhir dari usaha pengembangan produk.
Secara spesifik, proses DI dapat dipikirkan seperti fase-fase yang tertera
berikut ini:
1. Penyelidikan kebutuhan-kebutuhan pelanggan
Tim pengembangan produk mulai dengan mendokumentasikan
kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang diperoleh dari proses mengidentifikasi
kebutuhan pelanggan. Karena desainer industri mempunyai kemampuan
untuk mengenali pokok-pokok permasalahan yang melibatkan interaksi
pemakaian, keterlibatan DI penting dalam proses kebutuhan.
2. Konseptualisasi
Setelah kebutuhan dan tututan pelanggan dipahami, desainer industri
membantu tim untuk membuat konsep produk. Selama tahap penggalian
konsep ahli teknik dengan sendirinya memfokuskan perhatian mereka
desainer industri berkonsentrasi menciptakan bentuk produk dan
penghubung pemakai. Desainer industri membuat sketsa yang sederhana.
Untuk setiap konsep sketsa itu dikenal dengan sketsa yang pendek sekali.
Sketsa-sketsa ini adalah media yang cepat dan tidak mahal untuk
mengekspresikan ide-ide dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan.
Konsep-konsep yang telah diajukan kemudian dicocokkan dan
digabungkan dengan penyelesain teknis selama penggalian. Konsep-konsep
ini dikelompokkan dan dievaluasi oleh tim berdasarkan kebutuhan
pelanggan, kemungkinan teknis, biaya, dan pertimbangan manufaktur.
Sangatlah tidak menguntungkan jika didalam beberapa perusahaan,
desainer industri bekerja terpisah dari ahli teknis. Ketika hal itu terjadi, ID
yang ajukan untuk konsep melibatkan bentuk dan gaya yang terikat.
Ketikan ahli-ahli teknik menemukan konsep-konsep tersebut secara teknis
tidaklah memungkinkan biasanya terdapat sejumlah pengulangan.
Karenanya perusahaan telah menemukan keuntungan dengan
menggabungkan koordinasi antara desainer industri dengan ahli-ahli teknik
melalui fase pengembangan konsep sehingga pengulangan ini dapat dicapai
dengan cepat bahkan dalam bentuk sketsa.
3. Perbaikan awal
Pada fase perbaikan awal, desainer industri membuat model dari konsep
yang paling menjanjikan. Model lunak (soft model) biasanya dibuat dalam
metode kedua tercepat, namun sedikit lambat dari sketsa, digunakan untuk
mengevaluasi konsep. Desainer industri menggunakan sejumlah model
lunak untuk menilai ukuran, proposi, dan bentuk keseluruhan dari banyak
konsep yang diajukan. Perhatian khusus ditujukan pada kehalusan produk
di tangan dan di wajah.
4. Perbaikan lanjutan dan pemilihan konsep akhir
Pada tahap ini, para desainer industi sering mengganti dari model lunak dan
sketsa menjadi model keras dan gambaran informasi-intensif yang dikenal
dengan rendering. Rendering meperlihatkan detail desain dan sering
melukiskan penggunaan produk. Yang digambarkan dalam bentuk dua
dimensi atau tiga dimensi. Langkah perbaikan akhir sebelum memilih suatu
konsep adalah menciptakan model keras (hard model). Model ini secara
teknis belum berfungsi karena hanya mendekati replica desain akhir dengan
penampilan yang realistic. Model keras terbuat dari kayu, busa tebal,
plastik, atau logam. Model itu dilukiskan dan diberi tekstur; untuk
mendorong atau meluncurkan gerakan.
5. Penggambaran kontrol
Desainer industri menyelesaikan proses pengembangan mereka dengan
membuat gambar control dari konsep akhir. Penggambaran akhir
mendokumentasikan fungsi, ciri, ukuran, warna, sentuhan akhir permukaan,
6. Koordinasi dengan ahli tekik,menufaktur, dan pengecer
Desainer industri harus bekerja berdekatan dengan ahli teknik dan personil
manufaktur melalui subsekuen proses pengembangan produk. Beberapa
perusahaan konsultasi desain industri menawarkan jasa pengembangan
produk yang cukup luas, termasuk desain teknik detail dan pemilihan serta
menajemen di luar pengecer baik material, peralatan, komponen, dan jasa
perakitan.
Penilaian kualitas ID untuk produk yang sudah jadi adalah tugas subjektif
yang sudah melekat. Namun kita dapat menentukan secara kualitatif apakah ID
mengerjakan tujuannya dengan menimbang setiap aspek dari produk yang
dipengaruhi oleh ID. Dibawah ini ada 5 kategori untuk mengevaluasi sebuah
produk.
1. Kualitas dari Antarmuka Pengguna
Ini adalah rating tentang bagaimana mudahnya produk itu digunakan.
Kualitas antarmuka pengguna dengan penampilan produk, rasa dan bentuk
interaksi.
Apakah keistimewaan dari produk secara efektif dapat menyampaikan
operasinya kepada pengguna?
Apa penggunaan produk intuitif?
Apakah semua pengguna yang potensial dan menggunakan produk telah
diidentifikasi?
2. Daya Tarik Emosional
peringkat secara keseluruhannya, konsumenlah yang menjadi daya tarik
bagi suatu produk. Daya tarik ini dicapai lewat penampilan, sentuhan, suara
dan baunya.
Apakah produk ini menarik? Mengasyikkan?
Apakah produk ini bagus mutunya?
Apa bayangan yang akan terlintas di pikiran anda jika melihat produk
ini?
Apakah produk ini menimbulkan perasaan bangga bagi pemiliknya?
Apakah produk ini menyebabkan rasa bangga pada tim pengembangan
dan staf bagi penjualan?
3. KemampuanMemelihara dan Memperbaiki Produk
Ini adalah peringkat kesenangan untuk memelihara dan memperbaiki suatu
produk. Pemeliharaan dan perbaikan seharusnya dipertimbangkan dengan
interaksi antar pemakai.
Apakah pemeliharaan dari produknya jelas? Apakah mudah?
Apakah produk ini secara efektif menyampaikan cara membongkar dan
4. Ketepatan Penggunaan Sumber
Ini adalah peringkat bagaimana sebaiknya sumber daya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen. Jenis sumber daya lebih diarahkan pada
ID pengeluaran dolar dan fungsi lainnya. Faktor ini cenderung untuk
menggerakkan harga – harga seperti pada pembuatan barang – barang.
Rancangan produk yang kurang baik, salah satunya dari segi yang kurang
penting atau produknya terbuat dari bahan yang tidak biasa yang akan
mempengaruhi hasil peralatannya, proses pembuatan barang – barang,
proses pemasangan dan lainnya. Kategori ini mempertanyakan apakah
investasi tersebut akan diberikan.
Bagaimana sumber daya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan?
Apakah bahan pilihannya tepat (baik harga dan kualitasnya)?
Apakah produknya sudah ketinggalan atau rancangannya dibawah
standar (apakah keistimewaannya tidak penting atau dapat diabaikan)?
Apakah faktor ekologi juga dipertimbangkan?
5. Perbedaan Produk
Ini adalah peringkat dari suatu produk yang unik dan konsisten terhadap
Apakah pelanggan yang melihat produk di toko dapat menjadikannya
suatu hal yang khusus oleh karena bentuknya ?
Apakah pelanggan mengingat produk yang telah dilihatnya di TV?
Apakah produk alkan menjadi terkenal ketika terlihat di jalan?
Apakah produk cocok atau dapat mempertinggi identitas perusahaan?
2.2.5 Design For Manufacturing (DFM)
Biaya manufaktur merupakan penentu utama dalam keberhasilan ekonomis
dari suatu produk. Keberhasilan ekonomis tergantung dari marjin keuntungan
dari tiap penjualan produk dan berapa banyak yang dapat dijual oleh
perusahaan. Jadi secara keseluruhan DFM memiliki sasaran jaminan kualitas
produk yang tinggi, sambil meminimasi biaya manufaktur.
DFM mengarahkan untuk meminimasi biaya manufaktur tanpa harus
mengurangi kualitas dari produk tersebut. Metode itu terdiri dari lima langkah :
Memperkirakan biaya manufaktur
Mengurangi biaya komponen
Mengurangi biaya perakitan
Mengurangi biaya pendukung produksi
Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p225) Gambar 2.7 Metode Perancangan Untuk Proses Manufaktur
2.2.5.1 Memperkirakan Biaya Manufaktur
Biaya manufaktur merupakan jumlah seluruh biaya untuk input dari
sistem dan untuk proses pembuangan output yang dihasilkan oleh
sistem. Sebagian besaran biaya untuk produk, perusahaan biasanya
menggunakan unit biaya menufaktur, yang dihitung dengan membagi
total biaya menufaktur untuk beberapa periode dengan jumlah unit produk yang hasilkan selama periode tersebut.
Biaya manufaktur dari suatu produk yang terdiri dari biaya-biaya
dalam tiga kategori, yaitu :
- Biaya-biaya komponen: komponen-komponen dari suatu produk
mencangkup komponen standar yang dibeli dari pemasok.
- Biaya-biaya perakitan: barang-barang diskrit biasanya dirakit dari
kompone-komponen. Proses perakitan hampir selalu mencangkup
biaya upah tenaga kerja dan juga mencangkup biaya peralatan dan
perlengkapan.
- Biaya-biaya overhead: overhead merupakan kategori yang
digunakan un tuk mencangkup seluruh biaya-biaya lainnya.
Overhead dapat digunakan untuk dua tipe yang berbeda : biaya pendukung dan alokasi tidak langsung. Biaya pendukung adalah
biaya-biaya yang berhubungan dengan penanganan material,
jaminan kualitas, pembelian, pengiriman, penerimaan,
langsung adalah biaya manufaktur yang tidak dapat secara
langsung dikaitan dengan suatu produk namun harus dibayarkan
dalam suatu usaha.
Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p227) Gambar 2.8 Elemen Biaya Manufaktur dari Suatu Produk
2.2.5.2 Mengurangi Biaya Komponen
Untuk kebanyakan produk diskrit yang sangat bersifat teknik, biaya
komponen yang dibeli akan menjadi elemen yang biaya menufaktur
yang paling berarti. Bagian ini menginformasikan beberapa strategi
untuk meminimasi biaya-biaya. Strategi-strategi yang dapat ditempuh
adalah :
Memahami batasan-batasan proses dan dasar-dasar biaya
Beberapa komponen mungkin dapat ditentukan harganya secara
biaya, dan batasan-batasan proses produksi. Proses-proses yang
memiliki kemampuan yang tidak mudah dijelaskan, strategi terbaik
adalah dengan bekerja langsung dengan orang-orang yang sangat
mengetahui proses produksi yang dimaksud. Ahli-ahli manufaktur
ini umumnya akan memiliki banyak ide mengenai bagaimana
merancang ulang komponen untuk mengurangi biaya produksi.
Merancang ulang komponen untuk mengurangi langkah-langkah
pemrosesan
Kecermataan rancangan yang diusulkan akan mengarahkan pada
usulan rancangan ulang yang dapat menghasilkan penyederhanaan
proses produksi. Dengan mengurangi jumlah langkah dalam proses
pablikasi umumnya memberikan hasil pengurangan biaya.
Beberapa tahapan proses mungkin tidak diperlukan.
Pemilihan skala ekonomi yang sesuai untuk pemrosesan
komponen
Biaya menufaktur untuk suatu produk biasanya turun bila volume
produksi meningkat. Gejala ini dinamakan skala ekonomi. Skala
ekonomi untuk suatu komponen yang dibuat dan terjadi karena dua
1. Biaya tetap dibagi di antara lebih banyak unit
2. Biaya variabel menjadi lebih rendah karena perusahaan dapat
mempertibangkan penggunaan proses-proses dan peralatan
yang lebih luas dan efisien.
Menstandarkan komponen-komponen dan proses-proses.
Prinsip skala ekonomi juga digunakan dalam pemilihan komponen
dan proses. Jika volume produksi bertambah, biaya per unit
komponen akan berkurang. Kualitas dan kinerja sering meningkat
dengan bertambahnya jumlah produksi dikarenakan pihak
penghasil komponen dapat menginvestasikan dalam proses
pembelajaran dan perbaikan dalam perancangan komponen dan
proses produksinya. Untuk volume produk yang diharapkan,
manfaat diperolehnya volume komponen yang lebih tinggi dapat
dicapai melalui penggunaan komponen standar. Komponen standar
biasanya umum dipakai untuk lebih dari satu produk. Standardisasi
ini mungkin terjadi dalam lini produk dari satu perusahaan, atau
dapat juga melalui pemasokan diluar, dengan lini yang berbeda
dari beberapa perusahaan.
Mengikuti black box pengadaan komponen
Suatu strategi pengurangan biaya komponen yang digunakan
pemasok ’black box’. Pada pendekatan ini, tim memberikan
pemasok dengan hanya uraian komponen berupa black box, yaitu
uraian mengenai apa yang harus dilakukan oleh komponen, dan
bukannya bagaimana untuk mencapai hal tersebut.
2.2.5.3 Mengurangi Biaya Perakitan
Perancangan untuk perakitan (Design For Assembly / DFA) kadang
dinyatakan sebagai bagian DFM yang melibatkan minimasi biaya
perakitan. Untuk kebanyakan produk, perakitan memberikan bagian
total biaya yang relatif kecil. Sering suatu hasil yang menekankan pada DFA, keseluruhan hitungan komponen, kerumitan proses
manufaktur dan biaya pendukung, seluruhnya mengurangi biaya
perakitan. Beberapa prinsip yang berguna untuk mengarahakan
keputusan DFA, yaitu :
Menyimpan angka
Indeks DFA ini dihitung dengan sebagai suatu indeks yang
merupakan rasio waktu perakitan minimum teoritis dibandingkan
dengan perkiraan waktu perakitan aktual produk. Konsep ini
berguna dalam pengembangan intuisi mengetahui dasar dari biaya
perakitan. Hal ini dirumuskan sebagai berikut :
Indeks DFA = total perakitan waktu perkiraan detik) x(3 teoritis) minimum komponen (jumlah