• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Anthropometri Tubuh Manusia

2.1.1 Pengertian dan Tujuan Anthropometri

Anthropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah

suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik

tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut

untuk penanganan masalah desain (Nurmianto,p50).

Tujuan utama Anthropometri adalah mendapatkan suatu produk desain yang

sesuai dengan lengkuk tubuh manusia termasuk kelebihan dan keterbatasan

manusia (The design fits to the man) dan bukan manusia yang menyesuaikan

diri (The man fits to the design).

2.1.2 Anthropometri dan Aplikasi dalam Perancangan Fasilitas Kerja 1. Perancangan Areal Kerja (work station)

2. Perancangan Peralatan Kerja (mesin, perkakas dan dll)

3. Perancangan Produk-Produk Konsumtif (seperti pakaian, kursi, lemari, dan

sebagainya)

(2)

2.1.3 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya

1) Pengukuran Dimensi Struktur Tubuh (Structural Body Dimensions)

Pengukuran dimensi-dimensi tubuh pada saat posisi tubuh standar dan tidak

bergerak atau diam disebut juga Static Anthropometri. Ukuran dimensi

tubuh yang diambil seperti ukuran kepala, tinggi tubuh, panjang kaki,

panjang lengan, dan dll, biasanya dalam persentil 5th dan 95th

(Wignjosoebroto,p62).

2) Pengukuran Dimensi Fungsional Tubuh (Functional Body Dimensions)

Pengukuran dimensi – dimensi tubuh pada saat tubuh melakukan gerakan –

gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.

Disebut juga Dynamic Anthropometri. Ukuran dimensi tubuh yang diambil

seperti posisi tubuh pada saat menyetir mobil. Kita mendesain atau

mengukur panjang kursi atau jok mobil, lebar dan jarak pedal gas, rem, dan

(3)

2.1.4 Prinsip – Prinsip dalam Perancangan Produk/ Fasilitas Kerja 1) Prinsip Perancangan Produk bagi Individu dengan Ukuran yang Ekstrim

Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya mengikuti

kualifikasi tetapi masih bisa digunakan unutk memenuhi ukuran tubuh dari

mayoritas populasi yang ada. Untuk dimensi minimum yang ditetapkan

biasanya memakai ukuran persentil yang terbesar yaitu 90th, 95th, dan 99th

(seperti lebar dan tinggi pintu darurat). Sedangkan untuk dimensi

maksimum yang ditetapkan diambil ukuran yang terkecil 1th, 5th, dan 10th

(jarak jangkauan) (Wignjosoebroto,p68).

2) Prinsip Perancangan Produk yang bisa Beroperasi di Antara Rentang

Ukuran Tertentu

Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya dapat diubah-ubah

ukurannya sehingga cukup fleksible digunakan oleh setiap orang yang

memilikinya berbagai macam ukuran tubuh. Biasanya rentang ukurannya

antara nilai persentil 5thsampai 95th(Wignjosoebroto,p68).

3) Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran Rata-rata

Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang didasarkan terhadap

rata-rata ukuran manusia pengguna. Sering kali ukuran tubuh kita tidak sama

dengan ukuran tubuh rata-rata. Jadi hanya orang yang memiliki ukuran

tubuh rata-rata yang dapat menggunakan produk perancangan dengan

(4)

jarang ditemukan orang dengan ukuran dimensi tubuh sesuai dengan

rata-rata (Wignjosoebroto,p69).

2.1.5 Metode Pengukuran Anthropometri

2.1.5.1 Metode Ukur dengan Anthropometer

Pengukuran dengan menggunakan Anthropometer. Biasanya

memakai konsep percentil dari data yang berdistribusi normal.

Biasanya untuk melakukan pengukuran bagian-bagian tubuh kita harus

menentukan design approach, prinsip desain, dan barulah mengambil

persentase dari populasi yang akan diakomodasikan dari desain kita.

Untuk ukuran yang besar biasanya menggunakan persentil 95th

sedangkan ukuran kecil menggunakan persentil 5th.

Biasanya kita hanya melihat sebuah tabel yang berisi

ukuran-ukuran dimensi tubuh dari berbagai persentilnya. Untuk desain dengan

metode anthropometer akan sama akurat dengan metode tukang jahit,

hanya tergantung dari cara pakainya saja. Sebagai metode ini akan

lebih cocok jika digunakan untuk mengukur data-data seperti data

lebar pinggul, panjang ibu jari, lebar telapak tangan, dll.

2.1.5.2 Metode Ukur Tukang Jahit

Pengukuran dengan menggunakan metode ini biasanya

(5)

metode ini pengukuran data-data Anthropometri dilakukan langsung

ke bagian-bagian tubuh dengan menggunakan pita ukur (meteran).

Metode ini biasanya dipakai untuk mendapatkan data ukuran untuk

prinsip desain individual. Jadi seluruh dimensi-dimensi yang ada pada

tubuh diukur untuk mendapatkan nilai ukuran yang tepat. Biasanya

metode ini digunakan untuk mengukur data-data seperti tinggi badan,

panjang jangkauan tangan ke atas, dan lain-lain.

2.2 Perancangan dan Pengembangan Produk

Pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis

persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap produksi, penjualan, dan

pengiriman produk (Ulrich,p2).

Berikut adalah diagram proses pengembangan produk. Diagram menunjukkan

(6)

Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p9) Gambar 2.1 Proses Pengembangan Produk

Enam fase dalam proses pengembangan secara umum adalah (Ulrich,p15-17) :

0 Perencanaan : Kegiatan perencanaan sering ditujuk sebagai ”zerofase” karena

kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran

pengembangan produk aktual.

1 Pengembangan Konsep : Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target

diindentifikasi, alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan

satu atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.

(7)

biasanya diimbangi dengan sekumpulan spesifikasi, analisis produk-produk

pesaing serta pertimbangan ekonomis proyek.

2 Perancangan Tingkat Sistem : Fase perancangan tingkatan sistem mencakup

definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta

komponen-komponen. Gambaran rakitan akhir untuk sistem produksi biasanya

didefinisikan selama fase ini. Output pada fase ini biasanya mencakup tata letak

bentuk produk, spesifikasi secara fungsional dari tiap subsistem prosuk, serta

diagram aliran proses pendahuluan untuk proses rakitan akhir.

3 Perancangan Detail : Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari

bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk

dan indentifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok. Rencana

proses dinyatakan dan peralatan dirancang untuk tiap komponen yang dibuat

dalam sistem produksi. Output dari fase ini adalah pencatatan pengendalian untuk

produk : gambar pada file komputer tentang bentuk tiap komponen dan peralatan

untuk pabrikasi dan perakitan produk.

4 Pengujian dan Perbaikan : Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi

dan evaluasi dari bermacam-macam versi produksi awal produk. Prototipe awal

(alpha) biasanya dibuat dengan menggunakan komponen-komponen dengan

bentuk dan jenis material pada produksi sesungguhnya, namun tidak memerlukan

proses pabrikasi dengan proses yang sama dengan yang dilakukan pada produksi

sesungguhnya. Prototipe alpha diuji untuk menentukan apakah produk akan

(8)

kebutuhan kepuasan konsumen utama. Prototipe berikutnya (beta) biasanya

dibuat dengan komponen-komponen yang dibutuhkan pada produksi namun tidak

dirakit menggunakan proses perakitan akhir seperti pada perakitan sesungguhnya.

5 Produksi Awal : Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan

sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk

melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin timbul

pada proses produksi sesungguhnya.

2.2.1 Perencanaan Produk

Proyek pengembangan produk dikelompokkan menjadi 4 tipe (Ulrich,p36) :

 Platform produk baru.

 Turunan dari platform produk yang telah ada.

 Peningkatan perbaikan untuk produk yang telah ada.

 Pada dasarnya produk baru.

Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p36) Gambar 2.2 Proses Perencanaan Produk

Gambar 2.2 menggambarkan langkah-langkah dalam proses perencanaan

(9)

sekumpulan proyek-proyek yang menjanjikan dipilih. Sumber daya – sumber

daya dialokasikan untuk proyek-proyek ini dijadwalkan. Kegiatan-kegiatan

perencanaan ini berfokus pada portfolio dari peluang dan proyek-proyek yang

potensial dan kadang-kadang disesuaikan dengan manajemen portfolio,

perencanaan produk keseluruhan, perencanaan lini produk, atau manajemen

produk. Segera setelah proyek dipilih dan sumber daya dialokasikan, suatu

pernyataan misi dikembangkan untuk setiap proyek. Formulasi dari suatu

rencana produk dan pengembangan dari pernyataan misi akan mendahului

proses pengembangan produk aktual.

Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi proyek,

terdapat lima tahapan proses berikut (Ulrich,p37) :

1. Indentifikasi Peluang.

2. Mengevaluasi dan memprioritaskan proyek.

3. mengalokasikan sumber daya dan rencana waktu.

4. Melengkapi perencanaan dan pendahuluan proyek.

5. Merefleksikan kembali hasil dan proses.

2.2.1.1 Mengidentifikasi Peluang-Peluang

Rencana proses dimulai dengan mengindentifikasikan

peluang-peluang pengembangan produk. Langkah ini dapat dibayangkan

sebagai terowongan peluang karena bersama membawa input dari

(10)

sangat berhubungan dengan kegiatan mengidentifikasi kebutuhan

pelanggan. Bila dipergunakan secara aktif, terowongan peluang dapat

menampung ide-ide secara kontinu, dan peluang-peluang produk baru

mungkin akan dihasilkan setiap waktu (Ulrich,p37-38).

2.2.1.2 Mengevaluasi dan Memprioritaskan Proyek

Langkah kedua dalam proses perencanaan produk h‚dala memilih

proyek yang paling menjanjikan untuk diikuti. Empat perspektif dasar

yang berguna dalam mengevaluasi dan memprioritaskan

peluang-peluang bagi produk baru dalam kategori produk yang ada adalah

(Ulrich,p38-42):

 Strategi bersaing

 Segmentasi pasar

 Alur teknologi

 Perencanaan platform produk

Setelah itu, proses mengevaluasi peluang produk baru didiskusikan,

dan menyeimbangkan portfolio proyek. Kriteria-kriteria yang

digunakan untuk mengevaluasi peluang-peluang produk baru secara

fundamental, dapat juga untuk mengevaluasi beberapa peluang

(11)

(screening) untuk mengevaluasi keseluruhan daya tarik dan tipe-tipe

resiko untuk beberapa peluang yang tersedia.

2.2.1.3 Mengalokasikan Sumber Daya dan Rencana Waktu Perencanaan agregat membantu suatu perusahaan untuk

menggunakan sumberdayanya secara efesien dengan mengambil

proyek-proyek yang beralasan untuk diselesaikan berdasarkan sumber

daya yang dianggarkan (Ulrich,p45).

Dalam menentukan waktu dan urutan proyek, kadang digunakan

istilah manajemen pipa (pipeline management), yang harus

mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut (Ulrich,p46) :

 Penentuan waktu pengenalan produk

 Kesiapan teknologi

 Kesiapan pasar

 Persaingan

Sekumpulan proyek yang dilakukan dengan proses perencanaan

dalam waktu berurutan menjadi rencana produk. Rencana harus

mencakup gabungan produk baru secara fundamental, proyek

platform, dan proyek-proyek lanjutan dengan ukuran bervariasi.

Rencana produk diperbaharui secara periodik sebagai bagian dari

(12)

2.2.1.4 Melengkapi Perencanaan dan Pendahuluan Proyek Segera setelah proyek disetujui, Namur sebelum sumber daya

penting digunakan dilakukan kegiatan perencanaan Proyek

Pendahuluan. Kegiatan ini melibatkan tim fungsional silang yang kecil

yang sering dinamai tim inti. Dalam rangka memberikan petunjuk

yang jelas untuk organisasi pengembangan produk, biasanya tim

memformulasikan suatu definisi yang lebih detail dari pasar target dan

asumƒs-asumsi yang mendasari operasional tim pengembangan.

Keputusan-keputusan mengenai hal ini akan terdapat pada suatu

pernyataan misi (mision statement).

Pernyataan misi kadang-kadang juga disebut dsebagai perjanjian

(charter) atau ringkasan disain (design brief). Pernyataan misi ini

menjelaskan kemana arah yang akan dituju, tetapi tidak menjelaskan

tempat tujuan dan cara untuk mencapainya.

Pertanyaan misi mungkin mencakup beberapa dari keseluruhan

informasi berikut (Ulrich,p48-49) :

 Uraian Produk Ringkas: uraian ini mencakup manfaat produk

utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan konsep

(13)

 Sasaran Utama Bisnis: sebagai tambahan sasaran proyek yang

mendukung strategi perusahaan, sasaran ini biasanya mencakup

waktu, biaya dan kualitas

 Pasar Target untuk Produk: terdapat beberapa pasar target untuk

produk. Bagian ini mengidentifikasikan pasar utama dan pasar

kedua yang perlu dipertimbangkan dalam usaha pengembangan.

 Asumsi-Asumsi dan Batasan-Batasan untuk mengarahkan usaha

pengembangan : asumsi harus dibuat dengan hati-hati, meskipun

mereka membatasi kemungkinan jangkauan konsep produk,

mereka membantu untuk menjaga lingkup proyek yang terkelola.

Untuk itu dibutuhkan informasi-informasi untuk pencatatan

keputusan mengenai asumsi dan batasan.

Stakeholder: satu cara untuk menjamin bahwa banyak permasalahan pengembangan ditujukan untuk mendaftar secara

eksplisit seluruh stakeholder dari produk, yaitu sekumpulan orang

yang dipengaruhi oleh keberhasilan dan kegagalan produk. Daftar

stakeholer dimulai dari pengguna akhir (pelanggan eksternal akhir) dan pelanggan eksternal yang membuat keputusan tentang produk.

Stakeholder juga mencakup pelanggan produk yang mendampingi perusahaan, seperti tenaga penjual, organisasi pelayanan, dan

(14)

bayangan bagi tim untuk mempertimbangkan kebutuhan setip

orang yang akan diperngaruhi oleh produk.

Karena pernyataan misi merupakan pegangan untuk tim

pengembangan, suatu “reality cek“ harus dilakukan sebelum melalui

proses pengembangan. Langkah awal ini adalah waktu untuk

memperbaiki, paling tidak mereka menjadi lebih hebat dan bernilai

sesuai dengan kemajuan proses pengembangan.

Tabel 2.1 Contoh Format Pernyataan Misi

Pernyataan misi : (nama produk) Deskripsi produk : *

Sasaran bisnis Kunci : * * * Pasar Utama : * Pasar Sekunder : * * Asumsi-asumsi : *

Pihak yang terkait : * * *

Langkah–langkah dalam proses dapat dan seharusnya dijalankan

secara simultan untuk memastikan apakah banyak rencana dan

keputusan konsisten dengan yang lainnya dan dengan sasaran,

(15)

2.2.1.5 Merefleksikan Kembali Hasil dan Proses

Pada langkah terakhir dari perencanaan dan proses strategi, tim

seharusnya menanyakan beberapa pertanyaan untuk memperkirakan

kualitas proses dan hasil.

2.2.2 Pengembangan Konsep

Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p57) Gambar 2.3 Proses Pengembangan Konsep

Gambar diatas menjelaskan mengenai proses pengembangan konsep mulai

dari identifikasi kebutuhan pelanggan hingga pada rencana alur pengembangan.

2.2.2.1 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan

Identifikasi kebutuhan pelanggan adalah sebuah proses yang dibagi

(16)

Langkah 1 : Mengumpulkan data mentah

Proses pengumpulan data mencakup kontak dengan pelanggan

dan mengumpulkan pengalaman dari lingkungan pengguna produk.

Tiga metode yang biasa digunakan adalah :

1. Wawancara

Satu atau lebih anggota pengembang berdiskusi mengenai

kebutuhan dengan seorang pelanggan. Wawancara biasanya

dilakukan pada lingkungan pelanggan dan berlangsung sekitar 1

sampai 2 jam.

2. Kelompok fokus

Moderator memfasilitasi suatu diskusi kelompok yang disebut

kelompok fokus selama 2 jam. Kelompok ini terdiri dari 8-12

orang pelanggan. Kelompok ini ditempatkan dalam suatu

ruangan yang dilengkapi cermin pada dua sisi yang membantu

anggota tim pengembang mengamati proses yang sedang

berlangsung

3. Observasi Produk Pada Saat Digunakan

Mengamati pelanggan menggunakan produk atau melakukan

pekerjaan yang sesuai dengan tujuan produk tersebut diciptakan,

dapat memberi informasi yang penting mengenai kebutuhan

pelanggan. Observasi memang merupakan proses yang pasif,

(17)

menggunakan produk dengan pelanggan. Namun demikian

observasi memungkinkan tim pengembang mengetahui

pengalaman dalam menggunakan produk dari tangan pertama.

Idealnya anggota tim mengobservasi produk pada lingkungan

yang sebenarnya.

Pengguna utama merupakan orang yang tepat untuk

diwawancara dalam identifikasi kebutuhan pelanggan. Tetapi dalam

memilih pelanggan untuk diwawancara, biasanya kita juga harus

memperhatikan orang – orang yang terkait dengan produk tersebut

(stakeholder) , maka diperlukan juga pengumpulan data dari sekelompok ini.

Pengumpulan data kebutuhan pelanggan sangat berbeda dengan

sales call, tujuannya adalah untuk mendapatkan ekspresi yang jujur tentang kebutuhan, bukan meyakinkan pelanggan mengenai apa

yang mereka butuhakan seperti sales call. Suatu tutunan wawancara

akan berguna untuk menstrukturkan dialog tersebut. Berikut ini

adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan setelah

pewawancara memperkenalkan dirinya dan menerangkan maksud

wawancara tersebut :

 Kapan dan mengapa anda menggunakan produk jenis ini?

(18)

 Apa yang anda sukai dari produk sekarang?

 Hal – hal apa yang anda pertimbangkan ketika membeli produk

ini?

 Apa perbaikan yang ingin anda lakukan terhadap produk ini?

Berikut ini adalah beberapa tuntunan untuk melakukan interaksi

yang efektif dengan pelanggan :

 Biarkan wawancara mengalir apa adanya

 Gunakan perangsang visual dan alat peraga

 Hindari hipotesa awal tentang teknologi produk

 Biarkan pelanggan mendemonstrasikan produk atau tugas –

tugas tertentu yang berhubungan dengan produk

 Bersiaplah dengan kejutan atau ekspresi yang trcetus dari

kebutuhan yang tersembunyi

 Amati informasi non verbal

Empat metode yang biasa digunakan untuk mendokumentasikan

hasil interaksi dengan pelanggan adalah :

1. Rekaman Suara (Audio Recording)

Membuat rekaman suara sangat mudah. Namun,

menterjemahkan hasil rekaman menjadi teks tertulis cukup

(19)

2. Catatan

Catatan tangan adalah metode yang paling umum dalam

mendokumentasikan hasil wawancara. Catatan diterjemahkan

langsung setelah wawancara yang digunakan untuk memberi

gambaran wawancara yang sangat mirip dengan transkrip

aktualnya.

3. Rekaman Video

Rekaman video berguna untuk mendokumentasikan hasil

diskusi kelompok fokus. Dan juga berguna untuk

mendokumentasikan hasil observasi pelanggan di lingkungan

penggunanya atau pada saat menggunakan produk sekarang.

Kegunaan lainnya ialah untuk mempercepat adaptasi anggota

tim pengembang baru terhadap tugas – tugasnya dan sebgai

bahan presentasi bagi pihak manajemen.

4. Foto

Pengambilan foto untuk dokumentasi memberikan banyak

gambaran keuntungan. Manfaat utamanya adalah mudah untuk

ditampilkan, kualitas gambar bagus dan kemudahan fasilitas.

Kerugiannya adalah relatif tidak mampu untuk menangkap

(20)

Hasil akhir dari mengumpulkan data adalah menyusun data

mentah. Kemudian tugas akhir pada langkah 1 adalah menulis

ucapan terima kasih yang berpartisipasi dalam proses.

Langkah 2 : Menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan

Kebutuhan pelanggan diekspresikan sebagai pernyataan tertulis

dan merupakan hasil interpretasi kebutuhan yang berupa data

mentah yang diperoleh dari pelanggan. Setiap pernyataan atau hasil

observasi dapat diterjemahkan sebagai kebutuhan pelanggan.

Berikut ini merupakan 5 petunjuk untuk menulis pernyataan

kebutuhan pelanggan :

 Ekspresikan kebutuhan sebagai “Apa yang harus dilakukan

produk”, bukan “bagaimana melakukannya”.

 Ekspresikan kebutuhan sama spesifiknya seprti data mentah.

 Gunakan pernyataan positif, bukan negatif.

 Ekspresikan kebutuhan sebagai atribut dari produk.

 Hindari kata – kata ”harus” dan ”mesti”.

Daftar kebutuhan pelanggan merupakan susunan final dari semua

kebutuhan yang diperoleh dari wawancara pelanggan yang

(21)

Langkah 3 : Mengorganisirkan kebutuhan menjadi beberapa hierarki, yaitu kebutuhan primer , sekunder dan ( jika diperlukan) tertier.

Pada langkah 3 ini, hal yang dilakukan adalah

mengorganisasikan kebutuhan – kebutuhan menjadi beberapa

hierarki. Daftar kebutuhan ini terdiri dari beberapa kebutuhan

primer, dimana kebutuhan primer akan tersusun menjadi beberapa

kebutuhan sekunder. Dalam kasus produk yang sangat komplek,

kebutuhan sekunder dapat dipecah lagi menjadi kebutuhan tertier.

Prosedur mengorganisasikan kebutuhan menjadi daftar hierarki

merupakan proses yang intuitif, dan banyak tim yang dapat

menyelesaikan tugas ini dengan baik tanpa adanya petunjuk detail.

Berikut dibawah ini, tahap–tahap prosedur untuk mengelompokkan

kebutuhan menjadi daftar hierarki :

 Tuliskan setiap pernyataan kebutuhan pada kartu – kartu atau

secarik kertas yang terpisah

 Kurangi pernyataan kebutuhan yang sama atau tidak dibutuhkan

lagi

 Kelompokkan kartu–kartu berdasarkan kesamaan kebutuhan

yang diekspresikan

(22)

 Pertimbangkan untuk mengelompkokkan grup yang dihasilkan

menjadi super grup yang terdiri dari 2 sampai 5 grup

 Periksa dan edit kembali pernyataan kebutuhan yang telah

disusun

Langkah 4 : Menetapkan derajat kepentingan relatif setiap kebutuhan.

Langkah 4 proses identifikasi kebutuhan pelanggan adalah

menetapkan tingkat kepentingan relatif kebutuhan yang berupa nilai

untuk setiap kebutuhan. Ada dua pendekatan dasar untuk

menetapkan bobot kepentingan setiap kebutuhan, yaitu (1)

bersandar pada pada konsesus anggota tim berdasarkan pengalaman

mereka selama ini dengan pelanggan, atau (2) berdasarkan nilai

kepentingan yang diperoleh dari survei lanjutan terhadap pelanggan.

Bobot kepentingan setiap kebutuhan dapat diungkapkan dengan

beberapa cara, yaitu nilai rata–rata, standar deviasi, atau jumlah

respon untuk setiap kategori kepentingn. Respon ini kemudian

digunakan untuk menilai bobot kepentingan setiap pernyataan

kebutuhan.

Penentuan jumlah sampel untuk survey ke-2 adalah dengan

rumus :

2 2 1 e p p n    

(23)

Keterangan : n = Jumlah ukuran sampel

Z= Angka Tabel untuk selang tingkat kepercayaan

Tertentu.

p = Persen proporsi pasar yang akan dimasuki

e = Allowable error

Penentuan bobot berdasarkan hasil rata-rata dari bobot

kepentingan tiap variabel.

Langkah 5 : Merefleksikan hasil dan proses.

Langkah terakhir pada metoda identifikasi kebutuhan pelanggan

adalah menggambarkan kembali hasil dan proses. Tim harus

menguji hasilnya untuk meyakinkan bahwa hasil tersebut konsisten

dengan pengetahuan dan intuisi yang telah dikembangkan melalui

interaksi yang cukup lama dengan pelanggan. Beberapa pertanyaan

yang dapat diajukan untuk langkah ini ialah :

 Sudahkah kita berinteraksi dengan semua tipe pelanggan

penting dalam target pasar kita?

 Apakah kita sanggup menangkap lebih jauh kebutuhan yang

berhubungan dengan produk sekarang untuk menangkap

(24)

 Masih adakah wilayah penyelidikan yang harus kita kejar untuk

mencatat kemajuan wawancara atau survei yang telah

dilakukan?

 Manakah diantara pelanggan yang diwawancara merupakan

partisipan yang baik, yang dapat membantu kita pada usaha

pengembangan produk yang lebih lanjut?

 Apa yang kita ketahui sekarang, namun belum kita ketahui

waktu memulai proses? Apakah kita mendapatkan kejutan

dengan kebutuhan yang terkumpul?

 Apakah kita sudah melibatkan semua orang dalam organisasi

kita yang membutuhkan pemahaman yang baik mengenai

kebutuhan pelanggan?

 Bagaimana kita memperbaiki proses pada usaha pengembangan

di masa yang akan datang?

2.2.2.2 Spesifikasi Produk

Speksifikasi produk yaitu menjelaskan tentang hal-hal yang harus

dilakukan olah sebuah produk dan kumpulan dari

spesifikasi-spesifikasi individual (Ulrich,p77). Speksifikasi terdiri dari metrik dan

nilai metrik. Sebagai contoh “waktu rata-rata untuk memasang” adalah

(25)

Dua tahapan pembuatan spsifikasi yang merupakan bagian dari

pengembangan produk adalah menetapkan spesifikasi dan targetnya

serta menetapkan spesifikasi akhir.

Proses pembuatan target speksifikasi terdiri dari 4 langkah:

1. Menyiapkan gambar metrik, dan menggunakan metrik-metrik

kebutuhan, jika diperlukan.

Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung

kebutuhan pelanggan menjadi sekumpulan nilai speksifikasi yang

tepat dan terukur dapat dilakukan, dan upaya memenuhi

speksifikasi dengan sendirinya akan menghasilkan kepuasan

terhadap kebutuhan pelanggan yang terkait.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat daftar

metrik:

 Metrik harus komplit.

 Metrik harus merupakan varibel yang berhubungan.

 Metrik harus praktis.

 Beberapa kebutuhan tidak dengan mudah diterjemahkan

menjadi metrik yang terukur.

Tabel 2.2 Contoh Format Daftar Metrik Kebutuhan

No Kebutuhan Kepentingan

1 (Produk) 2 (Produk) 3 (Produk)

(26)

2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing.

Ketika tim memulai proses pengembangan produk dengan

beberapa ide tentang bagaimana produk bersaing di pasaran, target

speksifikasi merupakan bahasa yang digunakan tim untuk

berdiskusi dan menentukan posisi produknya dibandingkan produk

yang ada, baik produk yang dimiliki perusahaan sendiri maupun

produk pesaing.

Dalam hal ini pengumpulan informasi pesaing menggunakan

metode Quality Function Deployment (QFD). Quality Function

Deployment (QFD) adalah alat perencanaan dan pemecahan

masalah yang digunakan untuk mengembangkan serta

menghubungkan customer requirements terhadap engineering

(27)

Sumber : Engineering Design (Dieter,p70) Gambar 2.4 Contoh QFD

Contoh penerapan dan penggunaannya dapat dilihat pada bab 4.

3. Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai

untuk tiap metrik.

Terdapat lima cara untuk mengungkapkan nilai metrik:

 Minimal X: speksifikasi ini menetapkan target untuk batas

bawah metric, dimana nilai yang lebih tinggi adalah yang lebih

baik.

 Maksimal X: speksifikasi ini menetspkan target untuk batas

atas dari metrik, dimana nilai yang lebih kecil adalah lebih

(28)

 Diantara X dan Y: speksifikasi ini mentapkan targt batas atas

dan bawah untuk nilai metrik.

 Tepat X: speksifikasi ini menetapkan target metrik pada nilai

tertentu, dimana perbedaan nilai akan menurunkan kinerja.

 Kumpulan nilai diskret: Beberapa metrik mempunyai nlai

berupa beberapa pilihan diskret.

4. Merefleksikan hasil dan proses.

Setelah target ditentukan, tim memulai bekerja untuk

menghasilkan solusi-solusi konsep. Spesifikasi target lalu dapat

digunakan untuk membantu tim dalam memilih sebuah konsep.

Dalam menentukan speksifikasi akhir sangat sulit karena adanya

trade-offs, yaitu hubungan berlawanan antara dua speksifikasi yang sudah melekat pada konsep produk yang terpilih.

Lima langkah dalam pembuatan speksifikasi akhir:

1. Mengembangkan model-model teknis suatu produk.

Model teknis suatu produk adalah alat yang digunakan untuk

memperkirakan nilai metrik untuk membuat beberapa keputusan

desain. Dalam hal ini cenderung menggunakan istilah ‘model’

untuk menyebut suatu bentuk tiruan fisik maupun analitik dari

(29)

2. Mengembangkan model biaya suatu produk.

Biaya yang dimaksud adalah biaya manufaktur dimana pihak

perusahaan selalu memperoleh keuntungan yang cukup, juga dapat

menawarkan produk ini ke pelanggan dengan harga bersaing.

Untuk sebagian besar produk, perkiraan mengenai biaya

manufaktur dapat diketahu dengan menuliskan daftar bahan-bahan

dan komponen dan memperkirakan harga pembelian atau pabrikasi

untuk setiap komponen.

3. Memperbaiki speksifikasi, membuat trade-offs jika diperlukan.

Setelah tim membuat model kinerja teknis yang dibutuhkan untuk

membuat model biaya awal, tim telah dapat menggunakan model

ini untuk mengembangkan speksifikasi akhir. Speksifikasi akhir

dapat dihasilkan dengan cara memaparkan nilai-nilai kombinasi

yang mungkin melalui penggunaan model teknis, dan kemudian

biaya-biaya penerapannya dapat ditentukan. Analisa Cojoint

merupakan alternatif yang sesuai untuk menyempurnakan

speksifikasi produk.

4. Menentukan speksifikasi yang sesuai.

Proses penetapan speksifikasi akan lebih penting dan menantang

jika produk yang dikembangkan sangat kompleks, terdiri dari

subsistem, dan membutuhkan beberapa tim pengembangan.

(30)

dana yang disediakan. Namun speksifikasi komponen lainnya

harus ditentukan melalui pemahaman yang lebih kompleks

mengenai bagaimana kinerja subsistem berhubungan dengan

kinerja produk secara keseluruhan.

5. Merefleksikan hasil dan proses.

 Apakah produk ini akan memenangkan persaingan?

 Ada berapa banyak ketidakpastian yang ada pada model teknik

dan model biaya?

 Apakah konsep yang dipilih oleh tim paling sesuai target pasar

yang ditetapkan atau konsep itu diterapkan pada pasar yang

lain?

 Haruskah perusahaan melalui usaha formal untuk

mengembangkan model teknik yang lebih baik yang

merupakan ukuran kinerja produk untuk masa yang akan

datang?

2.2.2.3 Penyusunan Konsep

Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai

teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk (Ulrich,p102). Konsep

produk merupakan gambaran singkat bagaimana produk memuaskan

(31)

serangkaian kebutuhan pelanggan dan spesifikasi target, dan diakhiri

dengan terciptanya beberapa konsep produk sebagai sebuah pilihan

akhir.

Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p104) Gambar 2.5 Lima Langkah Metode Penyusunan Konsep

(32)

Memperjelas masalah mencakup pengembangan sebuah pengertian

umum dan pemecahan sebuah masalah menjadi submasalah.

Pernyataan misi untuk proyek, daftar kebutuhan pelanggan dan

spesifikasi produk awal merupakan input yang ideal untuk proses

penyusunan konsep, meskipun seringkali bagian-bagian ini masih

diperbaiki pada saat tahapan penyusunan konsep dimulai.

Membagi sebuah masalah menjadi submasalah yang lebih

sederhana disebut dekomposisi masalah. Pendekatan-pendekatan

untuk membagi sebuah masalah manjadi submasalah yang lebih

sederhana yaitu :

 Dekomposisi fungsi.

 Dekomposisi berdasarkan urutan penggunaan.

 Dekomposisi berdasarkan kebutuhan utama pelanggan.

Tujuan dari semua teknik dekomposisi ini adalah untuk membagi

sebuah masalah kompleks menjadi sederhana sehingga dapat ditangani

dengan lebih terfokus.

Pencarian eksternal untuk menghasilkan solusi pada pokoknya

merupakan proses pengumpulan informasi. Waktu dan sumber yang

tersedia dapat dioptimasi dengan menggunakan sebuah strategi

ekspansi dan fokus. Sedikitnya terdapat 5 cara yang baik untuk

(33)

pengguna utama, konsultasi dengan pakar, pencarian paten, pencarian

literature dan menganalisis (benchmarking) pesaing.

Pencarian internal merupakan penggunaan pengetahuan dan

kreativitas dari tim dan pribadi untuk menghasilkan konsep solusi.

Pencarian bersifat “internal” dalam arti semua pemikiran yang timbul

dari langkah ini dihasilkan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada

dalam tim.

Pohon klasifikasi dan tabel kombinasi kemudian digunakan untuk

menggali secara sistematis konsep penyelesaian tersebut dan untuk

mengintegrasikan penyelesaian sub masalah ke dalam sebuah

penyelesaian total. Akhirnya dapat dibuat sebuah langkah mundur

untuk merefleksikan validitas dan kemampuan aplikasi dari hasil,

seperti yang digunakan oleh proses. Tabel kombinasi konsep akan

kurang berguna ketika jumlah kolom lebih dari tiga atau empat.

Dari sini akan muncul beberapa macam konsep yang tujuannya

sama yaitu untuk menjawab penyelesaian dari submasalah yang sudah

difokuskan karena sifatnya memang penting.

2.2.2.4 Seleksi Konsep

Seleksi konsep merupakan proses menilai konsep dengan

memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kriteria lain,

(34)

memilih satu atau lebih konsep untuk penyelidikan, pengujian dan

pengembangan selanjutnya (Ulrich,p130).

Metode seleksi konsep pada proses ini didasarkan pada penggunaan

matriks keputusan untuk mengevaluasi masing-masing konsep dengan

mempertimbangkan serangkaian kriteria seleksi.

Gambar 2.6 Seleksi dan penyaringan konsep

Proses seleksi konsep terdiri atas 2 langkah utama yaitu

penyaringan konsep dan penilaian konsep dengan metode yang

dikembangkan oleh Stuart Pugh pada tahun 1980-an dan sering sekali

disebut seleksi konsep Pugh (Pugh,1990). Tujuan tahapan ini adalah

mempersempit jumlah konsep secara cepat dan untuk memperbaiki

konsep.

Langkah-langkah pada tahapan penyaringan dan penilaian konsep,

yaitu :

1. Menyiapkan matriks seleksi

2. Menilai konsep

(35)

4. Mengkombinasi dan memperbaiki konsep

5. Memilih satu atau lebih konsep

6. Mereflesikan hasil dan proses

Dengan dasar kedua matriks seleksi pada penyaringan konsep dan

penilaian konsep, dapat diputuskan untuk memilih satu atau lebih

konsep terbaik, konsep-konsep ini mungkin lebih lanjut

dikembangkan, dibuat prototipe dan diuji untuk memperoleh umpan

balik dari pelanggan.

Penyaringan Konsep

Penyaringan adalah proses yang evaluasinya masih berupa

perkiraan yang ditujukan untuk mempersempit alternatif. Selama

penyaringan konsep, beberapa konsep awal dievaluasi dengan

membandingkan dengan sebuah konsep referensi yang

menggunakan matriks penyaringan. Pada tahap awal ini

perbandingan kuantitatif secara rinci sulit untuk dihasilkan dan

mungkin menyesatkan, sehingga digunakan sebuah sistem penilaian

(36)

Tabel 2.3 Contoh Matriks Penyaringan Konsep Kriteria seleksi Konsep 1 2 n Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Jumlah + Jumlah 0 Jumlah -Nilai akhir Peringkat lanjutkan ?

Proses penyaringan konsep merupakan proses penilaian yang

sederhana yang menggunakan tiga simbol yaitu nilai relatif “lebih

baik” (+), jika konsep tersebut lebih baik dari konsep yang lain

dalam hal kriteria tersebut. “sama dengan” (0), jika untuk kriteria

tersebut konsep tersebut sama dengan konsep yang lainnya. Dan

terakhir “lebih buruk” (-), bila konsep tersebut lebih buruk dari

konsep yang lainnya. Kemudian jumlah bobot tiap kriteria

dijumlahkan untuk masing-masing konsep diberi rangking. Konsep

yang dipilih untuk diteruskan adalah satu atau lebih konsep yang

memiliki tingkat rangking yang lebih tinggi. Setelah beberapa

alternatif dihilangkan, tim dapat memilih untuk meneruskan pada

(37)

serta mengevalusi kuantitatif yang lebih terhadap konsep yang

tersisa dengan menggunakan matriks penilaian sebagai pedoman.

Penilaian Konsep

Penilaian konsep merupakan sebuah analisis konsep yang ada

untuk memilih salah satu konsep memungkinkan untuk membawa

kesuksesan pada sebuah produk. Adapun langkah awal setelah

penyaringan konsep adalah menyiapkan matriks seleksi.

Tabel 2.4 Contoh Matriks Penilaian Konsep

Konsep

x y

Kriteria Beban Rating Nilai Beban Rating Nilai Beban

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Total Nilai Peringkat Lanjutkan ?

Beberapa pola yang berbeda dapat digunakan untuk memberi

bobot pada kriteria seperti menandai nilai kepentingan dari 1-5 atau

mengalokasi nilai 100%. Selanjutnya penetapan rating dapat

dilakukan oleh beberapa responden untuk menentukan apakah bobot

yang diberikan sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Nilai rating dan beban dikalikan untuk mendapatkan nilai beban.

(38)

tiap konsep yang dinilai. Total nilai untuk tiap konsep merupakan

penjumlahan dari nilai yang berbobot.

  n i j ij j rw S 1

Dimana, rij = nilai konsep j untuk kriteria i

wj = bobot untuk kriteria i

n = jumlah kriteria

Sj = total nilai untuk konsep j

Sama seperti tahap penyaringan konsep, konsep yang terpilih

adalah konsep yang memiliki rangking tertinggi.

2.2.2.5 Pengujian Konsep

Pengujian Konsep berhubungan erat dengan seleksi konsep, dimana

kedua aktivitas ini bertujuan untuk menyempitkan jumlah konsep yang

akan diproses lebih lanjut. Namun pengujian konsep berbeda, karena

aktivitas ini menitikberatkan pada pengumpulan data langsung dari

pelanggaan potensial dan hanya melibatkan sedikit penilaian dari tim

pengembang.

Metode pengujian konsep terdiri dari 7 tahap yaitu :

1. Mendefinisikan maksud dari pengujian konsep

Pengujian konsep dapat diartikan sebagai suatu eksperimen, oleh

(39)

dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Konsep mana

yang akan diuji?, Bagaimana konsep dapat diperbaiki?, Berapa

Jumlah produk yang dapat dijual?, Dapatkah proses

pengembangan dilanjutkan?.

2. Memilih Populasi Survei

Seringkali produk ditujukan untuk pasar potensial dengan

beberapa segmen sekaligus. Hal yang perlu diperhatikan adalah

pengujian ke beberapa segmen sekaligus akan membuang banyak

waktu dan biaya, sehingga seringkali untuk menghindari

pembengkakan biaya maka pengujian konsep cukup dilakukan

dengan memilih pelanggan potensial dengan segmen pasar terbesar

saja.

3. Memilih Format Survei

Sama seperti survei-survei yang pernah dilakukan pada tahapan

sebelumnya, jenis format yang dapat dipilih adalah dengan :

face-to-face interaction, Telepon, Surat, E-mail, Internet. Dan tiap format memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

4. Mengkomunikasikan Konsep

Yang membedakan survei pengujian konsep dengan survei-survei

sebelumnya adalah adanya konsep terpilih yang harus

dkomunikasikan kepada responden untuk dinilai sendiri oleh

(40)

mengkomunikasikan Konsep yaitu : uraian verbal, sketsa, Foto dan

gambar, storyboard, Video, simulasi, Multimedia interaktif, Model

fisik, dan prototipe yang dioperasikan. Sehingga tim pengembang

dapat memilih cara yang sesuai untuk mengkomunikasikan konsep

disesuaikan dengan biaya dan kemampuan yang ada.

5. Mengukur respon pelanggan

Data yang didapatkan dari survei dapat diolah dan digunakan

untuk mengukur respon pelanggan, dan hal yang terutama diukur

adalah Konsep mana yang dipilih, usulan perbaikan, serta

keinginan pelanggan untuk membeli dengan dibagi ke dalam 5

skala yaitu pasti akan membeli, mungkin akan membeli, mungkin

atau tidak akan membeli, mungkin tidak akan membeli, pasti tidak

akan membeli. Atau bisa juga dengan cara menyuruh responden

untuk menyebut angka peluang sendiri untuk membeli.

6. Mengiterpretasikan Hasil

Maksud dari mengiterpretasikan hasil adalah bila memang ada

konsep yang mendominasi, maka secara langsung konsep tersebut

dapat dipilih untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan model,

tetapi bila hasilnya tidak terbatas, maka konsep dapat dipilih

berdasarkan pertimbangan waktu dan biaya. Dan tidak jarang juga

tim pengembang dapat memperkirakan potensi penjualan produk 1

(41)

sifatnya tidak pasti, tetapui prediksi penjualan cenderung

berkorelasi dengan permintaan yang sebnarnya, karena itu prediksi

penjualan merupakan informasi yang sangat berharga bagi Tim

pengembangan produk.

7. Merfleksikan Hasil dan proses

Manfaat utama dari pengujian konsep adalah memperoleh umpan

balik dari pelanggan potensial, yang diuntungkan oleh pemikiran

tentang pengaruh tiga variabel kunci yang terdapat pada model

prediksi yaitu : Ukuran Pasar keseluruhan, Ketersediaan tentang

produk, dan proporsi pelanggan yang mungkin akan membeli

produk. Dalam merefleksikan hasil pengujian konsep, sebaiknya 2

pertanyaan kunci harus terjawab, yaitu : apakah konsep sudah

dikomunikasikan dengan benar sehingga menghasilkan respon

pelanggan sesuai dengan yang dituju ? dan apakah hasil prediksi

konsisten dengan hasil tingkat pengamatan tingkat penjualan

terhadap produk-produk yang sama ? Akhirnya pengalaman

dengan produk baru kemungkinan besar dapat diterapkan di masa

(42)

2.2.3 Arsitektur Produk

Semua produk terdiri dari elemen fungsional dan fisik. Elemen-elemen

fungsional dari produk terdiri atas operasi dan transformasi yang menyumbang

terhadap kinerja keseluruhan produk.

Elemen-elemen fisik dari sebuah produk adalah bagian-bagian, komponen,

dan sub rakitan yang pada akhirnya diimplementasikan terhadap fungsi produk.

Elemen-elemen fisik diuraikan lebih rinci ketika usaha pengembangan

berlanjut. Elemen fisik produk biasanya diorganisasikan menjadi beberapa

building blocks utama yang disebut chunks. Setiap Chunk terdiri dari

sekumpulan komponen yang mengimplementasikan fungsi dari produk.

Arsitektur produk adalah skema elemen-elemen fungsional dari produk disusun

menjadi chunk yang bersifat fisik. Dan menjelaskan bagaimana setiap chunk

berinteraksi.

Karakter arsitektur produk yang terpenting adalah modularitas. Ciri-ciri

arsitektur modular adalah : Chunk melaksanakan atau mengimplementasikan

satu atau sedikit elemen fungsional pada keseluruhan fisiknya, dan interaksi

antar chunk dapat dijelaskan dengan baik, dan umumnya penting untuk

menjelaskan fungsi-fungsi utama produk.

Keputusan mengenai cara membagi produk menjadi chunk dan tentang

berapa banyak modularitas akan diterapkan pada arsitektur sangat terkait

(43)

perubahan produk, variasi produk, standarisasi komponen, kinerja produk,

kemampuan manufaktur, dan manajemen pengembangan produk.

Langkah-langkah dalam menetapkan arsitektur produk adalah dengan:

1. Membuat skema produk

2. Mengelompokkan elemen-elemen pada skema

Skema adalah diagram yang menggambarkan pengertian tim terhadap

elemen–elemen penyusun produk. Setelah membuat skema produk yang ingin

dirancang, langsunglah seluruh tim mengelompokkan elemen-elemen pada

skema itu menjadi chunk. Setiap elemen dapat ditugas kepada satu chunk,

sehingga menghasilkan beberapa chunk. Pada sisi ekstrim lainnya, tim dapat

memutuskan bahwa produk hanya mempunyai satu chunk utama dan kemudian

berusaha untuk mengintegrasikan semua elemen produk secara fisik.

Kenyataannya, mempertimbangkan semua kemungkinan pengelompokan

elemen akan menghasilkan banyak sekali alternatif. Salah satu prosedur untuk

mengatur kompleksitasalternatif adalah dengan mengasumsikan bahwa setiap

elemenpada skema akan ditugaskan terhadap satu chunk tersendiri. Kemudian

secara bertahap dilakukan pengelompokkan jika memungkinkan.

Untuk mengetahui kapan pengelompokkan dilakukan, dibawah ini adalah

beberapa faktor dalam pengelompokan elemen-elemen pada skema untuk

(44)

1. Integrasi geometris dan presisi : Penugasan elemen terhadap chunk yang

sama memungkinkan satu orang atau kelompok mengontrol hubungan fisik

antar-elemen.

2. Pembagian fungsi : Ketika satu komponen fisik dapat

mengimplementasikan beberapa elemen fungsional dari produk,

elemen-elemen fungsional ini sebaiknya dikelompokkan bersama-sama.

3. Kemampuan (Kapabilitas) Pemasok : pemasok yang dipercaya mungkin

mempunyai kapabilitas tertentu yang berkaitan dengan proyek

pengembangan, dan untuk memperbolehkan hasil terbaik dari kapabilitas

tersebut, tim dapat mengelompokkan elemen-elemen yang merupakan

keahlian dari pemasok menjadi satu chunk.

4. Kesamaan desain atau teknologi produk : ketikan dua atau lebih elemen

fungsional dapat diimplementasikan menggunakan desain atau teknologi

produksi yang sama, maka penggabungan elemen-elemen ini pada chunk

yang sama akan menghasilkan desain atau proses produksi yang lebih

ekonomis.

5. Lokalisasi perubahan : ketika tim mengantisipasi sejumlah besar perubahan

pada beberapa elemen, yang lebih baik adalah mengisolasi elemen tersebut

pada chunk terpisah, sehingga perubahan yang diperlukan terhadap elemen

(45)

6. Mengamodasi variasi : elemen-elemen harus dikelompokkan sedemikian

rupa untuk memungkinkan perusahaan memvariasikan produk dengan cara

yang akan memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

7. Kemungkinan standarisasi : jika beberapa elemen juga dapat digunakan

pada produk lain, elemen-elemen ini dapat dikelompokkan menjadi satu

chunk.

8. Kemudahan perpindahan berbagai jenis penghubung yang ada pada produk:

beberapa interaksi dengan mudah dikirimkan menempuh jarak yang jauh.

2.2.4 Desain Industri (DI)

Perhimpunan Desainer Industri Amerika (IDSA) mendefinisikan desain

industri sebagai “jasa profesional” dalam menciptakan dan mengembangkan

konsep dan spesifikasi guna mengoptimalkan fungsi-fungsi, nilai, dan

penampilan produk serta system untuk mencapai keuntungan yang mutual

antara pemakai dan produsen (Ulrich,p200).

Bentuk dan ciri memegang peranan besar dalam peralatan dan produksi.

Karena itu, hal ini harus diperhatikan secara bersama-sama oleh tim. Total

biaya DI dan persentase anggaran pengembangan produk yang investasikan

untuk DI diperlihatkan pada para pemakai produk dan industri yang

menghasilkan berbagai produk. Statistik ini harus memberikan tim desain

(46)

sebuah produk baru. Biaya relatif untuk DI sebagai bagian seluruh anggaran

pengembangan juga memperlihatkan jangkauan yang luas.

Biaya DI terdiri dari biaya langsung, biaya manufaktur, dan biaya waktu.

Biaya langsung terdiri dari biaya konsultan, biaya tim pengembang, dan biaya

material. Biaya konsultan merupakan biaya pada jasa untuk dapat

mengkonsultasikan produk dan lebih terpercaya dalam perbandingan dengan

produk yang lain. Biaya material terdiri dari biaya untuk bahan-bahan membuat

prortotype. Biaya manufaktur hanya terdiri dari biaya desain termasuk dalam biaya proses produksi untuk pembuatan prortotype ini.

Desain industri sangat penting terhadap suatu produk tertentu dari dua

dimensi. Untuk menjelaskan pentingnya DI ada dua dimensi yaitu ergonomik

dan estetis.

Dimensi yang pertama yaitu dari segi ergonomiknya. Dapat kita lihat bahwa

dimensi ini merupakan bentuk jamak ergonomik untuk menampung semua

aspek suatu produk yang berhubungan dengan sisi manusia. Semakin penting

aspek ergonomik terhadap kesuksesan produk, semakin tergantung pula produk

tersebut terhadap desain industri. Oleh karena itu, dengan menjawab

serangkaian pertanyaan dalam aspek ini, secara kualitatif kita dapat menilai

pentingnya desain industri.

Seberapa penting kemudahan pemakaian? Kemudahan pemakaian mungkin sangat penting untuk produk-produk yang sering digunakan.

(47)

Kemudahan pemakaian akan lebih diperlukan jika produk mempunyai

beberapa ciri atau cara mengoperasikannya yang mungkin membingungkan

dan menyebabkan pemakainya frustasi dalam penggunaannya. Ketika

kemudahan pemakaian menjadi kriteria yang penting, desainer industri

perlu menjamin bahwa ciri-ciri produk secara efektif dapat

memberitahukan fungsi-fungsinya.

Seberapa pentingnya kemudahan perawatan? Jika produk perlu diperbaiki secara berkala, kemudahan perawatan menjadi penting. Sekali

lagi, adalah penting bahwa ciri-ciri suatu produk untuk memberitahukan

prosedur perawatan / perbaikan kepada pemakainya. Bagaimanapun, dalam

banyak kasus, penyelesaian yang lebih, diperlukan untuk memenuhi

perawatan secara keseluruhan.

Berapa banyak interaksi pemakai yang diperlukan untuk fungsi-fungsi produk? Secara umum, semakin banyak interaksi pemakai dengan produk, produk akan semakin tergantung dengan desain industri. Semua ini harus

dipahami benar oleh desainer industri. Lebih jauh lagi, setiap interaksi

mungkin membutuhkan suatu pendekatan desain yang berbeda dan / atau

riset tambahan.

Berapa pembaruan yang interaksi pemakai perlukan? Suatu antarmuka pemakai memerlukan perbaikan terhadap desain yang telah ada yang secara

(48)

pada interfase pemakai mungkin memerlukan riset yang substansial dan

studi kemungkinan.

Apa pokok permasalahan keamanan? Semua produk mempunyai pertimbangan keamanan. Untuk beberapa produk, hal ini dapat

menghasilkan tantangan yang nyata bagi tim desain.

Dimensi kedua dari desain industri adalah dimensi estetis. Seperti halnya

dengan dimensi dari segi ergonomik, dimensi ini merupakan suatu dimensi

yang penting yang harus diperhatikan dalam desain industri. kita juga dapat

menilai pentingnya desain industri secara kualitatif dengan menjawab beberapa

pertanyaan.

Apakah diferensiasi produk visual diperlukan? Produk dengan market dan tekhnologi yang stabil sangat tergantung pada desain industri untuk

menciptakan daya tarik estetis dan tentunya diferensiasi visual. Sebaliknya

produk seperti internal disk drive komputer, yang dibedakan oleh kinerja

tekhnologinya lebih sedikit tergantung pada desain industrinya.

Seberapa penting gengsi kepemilikan, kesan, dan mode? Persepsi pelanggan terhadap suatu produk sebagian didasarkan oleh daya tarik

estetis. Produk yang menarik mungkin diasosiasikan dengan mode dan

kesan yang tinggi. Pada akhirnya hal itu akan menciptakan perasaan gengsi

yang tinggi pada pemiliknya. Hal ini mungkin berlawanan dengan suatu

(49)

seperti itu penting, desain industri akan memainkan peranan penting dalam

menentukan kesuksesan akhir.

Akankah suatu produk estetis memacu atau memotivasi tim? Suatu produk yang mempunyai daya tarik estetis dapat membangkitkan perasaan

bangga diantara para staf desain dan manufaktur. Kebanggaan tim dapat

memotivasi dan menyatukan setiap orang yang berhubungan dengan

proyek. Konsep awal desain industri memberikan tim suatu visi konkrit

terhadap hasil akhir dari usaha pengembangan produk.

Secara spesifik, proses DI dapat dipikirkan seperti fase-fase yang tertera

berikut ini:

1. Penyelidikan kebutuhan-kebutuhan pelanggan

Tim pengembangan produk mulai dengan mendokumentasikan

kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang diperoleh dari proses mengidentifikasi

kebutuhan pelanggan. Karena desainer industri mempunyai kemampuan

untuk mengenali pokok-pokok permasalahan yang melibatkan interaksi

pemakaian, keterlibatan DI penting dalam proses kebutuhan.

2. Konseptualisasi

Setelah kebutuhan dan tututan pelanggan dipahami, desainer industri

membantu tim untuk membuat konsep produk. Selama tahap penggalian

konsep ahli teknik dengan sendirinya memfokuskan perhatian mereka

(50)

desainer industri berkonsentrasi menciptakan bentuk produk dan

penghubung pemakai. Desainer industri membuat sketsa yang sederhana.

Untuk setiap konsep sketsa itu dikenal dengan sketsa yang pendek sekali.

Sketsa-sketsa ini adalah media yang cepat dan tidak mahal untuk

mengekspresikan ide-ide dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan.

Konsep-konsep yang telah diajukan kemudian dicocokkan dan

digabungkan dengan penyelesain teknis selama penggalian. Konsep-konsep

ini dikelompokkan dan dievaluasi oleh tim berdasarkan kebutuhan

pelanggan, kemungkinan teknis, biaya, dan pertimbangan manufaktur.

Sangatlah tidak menguntungkan jika didalam beberapa perusahaan,

desainer industri bekerja terpisah dari ahli teknis. Ketika hal itu terjadi, ID

yang ajukan untuk konsep melibatkan bentuk dan gaya yang terikat.

Ketikan ahli-ahli teknik menemukan konsep-konsep tersebut secara teknis

tidaklah memungkinkan biasanya terdapat sejumlah pengulangan.

Karenanya perusahaan telah menemukan keuntungan dengan

menggabungkan koordinasi antara desainer industri dengan ahli-ahli teknik

melalui fase pengembangan konsep sehingga pengulangan ini dapat dicapai

dengan cepat bahkan dalam bentuk sketsa.

3. Perbaikan awal

Pada fase perbaikan awal, desainer industri membuat model dari konsep

yang paling menjanjikan. Model lunak (soft model) biasanya dibuat dalam

(51)

metode kedua tercepat, namun sedikit lambat dari sketsa, digunakan untuk

mengevaluasi konsep. Desainer industri menggunakan sejumlah model

lunak untuk menilai ukuran, proposi, dan bentuk keseluruhan dari banyak

konsep yang diajukan. Perhatian khusus ditujukan pada kehalusan produk

di tangan dan di wajah.

4. Perbaikan lanjutan dan pemilihan konsep akhir

Pada tahap ini, para desainer industi sering mengganti dari model lunak dan

sketsa menjadi model keras dan gambaran informasi-intensif yang dikenal

dengan rendering. Rendering meperlihatkan detail desain dan sering

melukiskan penggunaan produk. Yang digambarkan dalam bentuk dua

dimensi atau tiga dimensi. Langkah perbaikan akhir sebelum memilih suatu

konsep adalah menciptakan model keras (hard model). Model ini secara

teknis belum berfungsi karena hanya mendekati replica desain akhir dengan

penampilan yang realistic. Model keras terbuat dari kayu, busa tebal,

plastik, atau logam. Model itu dilukiskan dan diberi tekstur; untuk

mendorong atau meluncurkan gerakan.

5. Penggambaran kontrol

Desainer industri menyelesaikan proses pengembangan mereka dengan

membuat gambar control dari konsep akhir. Penggambaran akhir

mendokumentasikan fungsi, ciri, ukuran, warna, sentuhan akhir permukaan,

(52)

6. Koordinasi dengan ahli tekik,menufaktur, dan pengecer

Desainer industri harus bekerja berdekatan dengan ahli teknik dan personil

manufaktur melalui subsekuen proses pengembangan produk. Beberapa

perusahaan konsultasi desain industri menawarkan jasa pengembangan

produk yang cukup luas, termasuk desain teknik detail dan pemilihan serta

menajemen di luar pengecer baik material, peralatan, komponen, dan jasa

perakitan.

Penilaian kualitas ID untuk produk yang sudah jadi adalah tugas subjektif

yang sudah melekat. Namun kita dapat menentukan secara kualitatif apakah ID

mengerjakan tujuannya dengan menimbang setiap aspek dari produk yang

dipengaruhi oleh ID. Dibawah ini ada 5 kategori untuk mengevaluasi sebuah

produk.

1. Kualitas dari Antarmuka Pengguna

Ini adalah rating tentang bagaimana mudahnya produk itu digunakan.

Kualitas antarmuka pengguna dengan penampilan produk, rasa dan bentuk

interaksi.

 Apakah keistimewaan dari produk secara efektif dapat menyampaikan

operasinya kepada pengguna?

 Apa penggunaan produk intuitif?

(53)

 Apakah semua pengguna yang potensial dan menggunakan produk telah

diidentifikasi?

2. Daya Tarik Emosional

peringkat secara keseluruhannya, konsumenlah yang menjadi daya tarik

bagi suatu produk. Daya tarik ini dicapai lewat penampilan, sentuhan, suara

dan baunya.

 Apakah produk ini menarik? Mengasyikkan?

 Apakah produk ini bagus mutunya?

 Apa bayangan yang akan terlintas di pikiran anda jika melihat produk

ini?

 Apakah produk ini menimbulkan perasaan bangga bagi pemiliknya?

 Apakah produk ini menyebabkan rasa bangga pada tim pengembangan

dan staf bagi penjualan?

3. KemampuanMemelihara dan Memperbaiki Produk

Ini adalah peringkat kesenangan untuk memelihara dan memperbaiki suatu

produk. Pemeliharaan dan perbaikan seharusnya dipertimbangkan dengan

interaksi antar pemakai.

 Apakah pemeliharaan dari produknya jelas? Apakah mudah?

 Apakah produk ini secara efektif menyampaikan cara membongkar dan

(54)

4. Ketepatan Penggunaan Sumber

Ini adalah peringkat bagaimana sebaiknya sumber daya digunakan untuk

memenuhi kebutuhan konsumen. Jenis sumber daya lebih diarahkan pada

ID pengeluaran dolar dan fungsi lainnya. Faktor ini cenderung untuk

menggerakkan harga – harga seperti pada pembuatan barang – barang.

Rancangan produk yang kurang baik, salah satunya dari segi yang kurang

penting atau produknya terbuat dari bahan yang tidak biasa yang akan

mempengaruhi hasil peralatannya, proses pembuatan barang – barang,

proses pemasangan dan lainnya. Kategori ini mempertanyakan apakah

investasi tersebut akan diberikan.

 Bagaimana sumber daya digunakan untuk memenuhi kebutuhan

pelanggan?

 Apakah bahan pilihannya tepat (baik harga dan kualitasnya)?

 Apakah produknya sudah ketinggalan atau rancangannya dibawah

standar (apakah keistimewaannya tidak penting atau dapat diabaikan)?

 Apakah faktor ekologi juga dipertimbangkan?

5. Perbedaan Produk

Ini adalah peringkat dari suatu produk yang unik dan konsisten terhadap

(55)

 Apakah pelanggan yang melihat produk di toko dapat menjadikannya

suatu hal yang khusus oleh karena bentuknya ?

 Apakah pelanggan mengingat produk yang telah dilihatnya di TV?

 Apakah produk alkan menjadi terkenal ketika terlihat di jalan?

 Apakah produk cocok atau dapat mempertinggi identitas perusahaan?

2.2.5 Design For Manufacturing (DFM)

Biaya manufaktur merupakan penentu utama dalam keberhasilan ekonomis

dari suatu produk. Keberhasilan ekonomis tergantung dari marjin keuntungan

dari tiap penjualan produk dan berapa banyak yang dapat dijual oleh

perusahaan. Jadi secara keseluruhan DFM memiliki sasaran jaminan kualitas

produk yang tinggi, sambil meminimasi biaya manufaktur.

DFM mengarahkan untuk meminimasi biaya manufaktur tanpa harus

mengurangi kualitas dari produk tersebut. Metode itu terdiri dari lima langkah :

 Memperkirakan biaya manufaktur

 Mengurangi biaya komponen

 Mengurangi biaya perakitan

 Mengurangi biaya pendukung produksi

(56)

Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p225) Gambar 2.7 Metode Perancangan Untuk Proses Manufaktur

(57)

2.2.5.1 Memperkirakan Biaya Manufaktur

Biaya manufaktur merupakan jumlah seluruh biaya untuk input dari

sistem dan untuk proses pembuangan output yang dihasilkan oleh

sistem. Sebagian besaran biaya untuk produk, perusahaan biasanya

menggunakan unit biaya menufaktur, yang dihitung dengan membagi

total biaya menufaktur untuk beberapa periode dengan jumlah unit produk yang hasilkan selama periode tersebut.

Biaya manufaktur dari suatu produk yang terdiri dari biaya-biaya

dalam tiga kategori, yaitu :

- Biaya-biaya komponen: komponen-komponen dari suatu produk

mencangkup komponen standar yang dibeli dari pemasok.

- Biaya-biaya perakitan: barang-barang diskrit biasanya dirakit dari

kompone-komponen. Proses perakitan hampir selalu mencangkup

biaya upah tenaga kerja dan juga mencangkup biaya peralatan dan

perlengkapan.

- Biaya-biaya overhead: overhead merupakan kategori yang

digunakan un tuk mencangkup seluruh biaya-biaya lainnya.

Overhead dapat digunakan untuk dua tipe yang berbeda : biaya pendukung dan alokasi tidak langsung. Biaya pendukung adalah

biaya-biaya yang berhubungan dengan penanganan material,

jaminan kualitas, pembelian, pengiriman, penerimaan,

(58)

langsung adalah biaya manufaktur yang tidak dapat secara

langsung dikaitan dengan suatu produk namun harus dibayarkan

dalam suatu usaha.

Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p227) Gambar 2.8 Elemen Biaya Manufaktur dari Suatu Produk

2.2.5.2 Mengurangi Biaya Komponen

Untuk kebanyakan produk diskrit yang sangat bersifat teknik, biaya

komponen yang dibeli akan menjadi elemen yang biaya menufaktur

yang paling berarti. Bagian ini menginformasikan beberapa strategi

untuk meminimasi biaya-biaya. Strategi-strategi yang dapat ditempuh

adalah :

 Memahami batasan-batasan proses dan dasar-dasar biaya

Beberapa komponen mungkin dapat ditentukan harganya secara

(59)

biaya, dan batasan-batasan proses produksi. Proses-proses yang

memiliki kemampuan yang tidak mudah dijelaskan, strategi terbaik

adalah dengan bekerja langsung dengan orang-orang yang sangat

mengetahui proses produksi yang dimaksud. Ahli-ahli manufaktur

ini umumnya akan memiliki banyak ide mengenai bagaimana

merancang ulang komponen untuk mengurangi biaya produksi.

 Merancang ulang komponen untuk mengurangi langkah-langkah

pemrosesan

Kecermataan rancangan yang diusulkan akan mengarahkan pada

usulan rancangan ulang yang dapat menghasilkan penyederhanaan

proses produksi. Dengan mengurangi jumlah langkah dalam proses

pablikasi umumnya memberikan hasil pengurangan biaya.

Beberapa tahapan proses mungkin tidak diperlukan.

 Pemilihan skala ekonomi yang sesuai untuk pemrosesan

komponen

Biaya menufaktur untuk suatu produk biasanya turun bila volume

produksi meningkat. Gejala ini dinamakan skala ekonomi. Skala

ekonomi untuk suatu komponen yang dibuat dan terjadi karena dua

(60)

1. Biaya tetap dibagi di antara lebih banyak unit

2. Biaya variabel menjadi lebih rendah karena perusahaan dapat

mempertibangkan penggunaan proses-proses dan peralatan

yang lebih luas dan efisien.

 Menstandarkan komponen-komponen dan proses-proses.

Prinsip skala ekonomi juga digunakan dalam pemilihan komponen

dan proses. Jika volume produksi bertambah, biaya per unit

komponen akan berkurang. Kualitas dan kinerja sering meningkat

dengan bertambahnya jumlah produksi dikarenakan pihak

penghasil komponen dapat menginvestasikan dalam proses

pembelajaran dan perbaikan dalam perancangan komponen dan

proses produksinya. Untuk volume produk yang diharapkan,

manfaat diperolehnya volume komponen yang lebih tinggi dapat

dicapai melalui penggunaan komponen standar. Komponen standar

biasanya umum dipakai untuk lebih dari satu produk. Standardisasi

ini mungkin terjadi dalam lini produk dari satu perusahaan, atau

dapat juga melalui pemasokan diluar, dengan lini yang berbeda

dari beberapa perusahaan.

Mengikuti black box pengadaan komponen

Suatu strategi pengurangan biaya komponen yang digunakan

(61)

pemasok ’black box’. Pada pendekatan ini, tim memberikan

pemasok dengan hanya uraian komponen berupa black box, yaitu

uraian mengenai apa yang harus dilakukan oleh komponen, dan

bukannya bagaimana untuk mencapai hal tersebut.

2.2.5.3 Mengurangi Biaya Perakitan

Perancangan untuk perakitan (Design For Assembly / DFA) kadang

dinyatakan sebagai bagian DFM yang melibatkan minimasi biaya

perakitan. Untuk kebanyakan produk, perakitan memberikan bagian

total biaya yang relatif kecil. Sering suatu hasil yang menekankan pada DFA, keseluruhan hitungan komponen, kerumitan proses

manufaktur dan biaya pendukung, seluruhnya mengurangi biaya

perakitan. Beberapa prinsip yang berguna untuk mengarahakan

keputusan DFA, yaitu :

 Menyimpan angka

Indeks DFA ini dihitung dengan sebagai suatu indeks yang

merupakan rasio waktu perakitan minimum teoritis dibandingkan

dengan perkiraan waktu perakitan aktual produk. Konsep ini

berguna dalam pengembangan intuisi mengetahui dasar dari biaya

perakitan. Hal ini dirumuskan sebagai berikut :

Indeks DFA = total perakitan waktu perkiraan detik) x(3 teoritis) minimum komponen (jumlah

Gambar

Gambar 2.1 Proses Pengembangan Produk
Gambar 2.2 Proses Perencanaan Produk
Tabel 2.1 Contoh Format Pernyataan Misi Pernyataan misi : (nama produk)
Gambar 2.3 Proses Pengembangan Konsep
+7

Referensi

Dokumen terkait

Isolat bakteri penambat N non-simbiotik pada sampel tanah HTA1 memperlihatkan bentuk, tepian dan elevasi yang berbeda-beda dengan warna koloni yang didominasi oleh

Item ke lima yaitu perusahaan menentukan standar efektifitas dalam pemberian insentif sehingga karyawan dapat mencapainya, disini dapat kita lihat bahwa terdapat

Ri R in ng gk ka as sa an n S Se es si i Introduction 10 menit Menyampaikan latar belakang, tujuan dan hasil belajar, sert langkah- langkah kegiatan Mengingatkan

Jika soal dirumuskan oleh suatu kelompok kecil (tim), maka kualitasnya akan lebih.. Halaman 123 dari 152 tinggi baik dari aspek tingkat keterselesaian maupun

8 Yang berisi tentang pelaksanaan metode Jadi, Penelitian ini merupakan penelaahan kembali terhadap penelitian yang sudah ada, yaitu sama-sama membahas tentang

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk merancang campuran beton mutu tinggi dengan bahan tambah superplasticizer dan

Dalam keseimbangan pada film Slepping Beauty, lebih memperlihatkan bagaimana kehidupan raja dan ratu, ketika mereka telah mempunyai seorang anak yang telah lama mereka

Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi dan satu sifat watak tertentu. Tokoh ini tidak memiliki sifat atau tingkah laku yang memberikan efek kejutan