BAB III DASAR TEORI
3.1. Sekilas Proses Pembuatan Semen Portland
Bahan baku yang dibutuhkan sebuah pabrik semen antara lain adalah batuan
yang mengandung kapur (seperti batu kapur dan chalk) , tanah liat (clay), pasir
silika dan pasir besi serta gipsum. Karena porsi batu kapur adalah yang paling banyak dibutuhkan disusul dengan pasir silika dan tanah liat, maka kebanyakan pabrik semen dibangun di dekat tambang ketiga bahan baku tersebut khususnya tambang kapur. Selain pertimbangan bahan baku, pada umumnya pabrik semen dibangun sedekat mungkin dengan pasarnya untuk mengurangi biaya transportasi.
Proses pembuatan semen dimulai dari penambangan bahan baku, khususnya batu kapur, tanah liat, dan pasir/batu silika, kemudian diangkut oleh dump truck ke crushing plant untuk dikecilkan ukurannya dengan crusher. Setelah ukurannya cukup kecil, bahan baku ini disimpan di dalam gudang sambil dikeringkan secara alamiah seperti terlihat pada Gambar 3.1. Sedangkan pasir besi biasanya didatangkan dari tempat lain karena jarang sekali dalam suatu wilayah tambang batu kapur juga terdapat pasir besi disekitarnya.
Proses berikutnya adalah menggiling bahan baku serta mencampurnya pada proporsi tertentu yang sangat tergantung dari kemurnian masing-masing bahan baku. Hasil penggilingan bahan baku ini berupa serbuk dengan ukuran partikel
merata dikisaran 50 – 60 µm dengan proporsi sesuai dengan yang dipersyaratkan.
Proses penggilingan ini dapat dilakukan dengan ballmil.
Kemudian campuran bahan baku dengan proporsi yang benar ini dibakar hingga
temperatur 1300 sampai 1500o C dimana bahan baku akan mengalami proses
sintering dan terbentuk terak semen (clinker). Terak panas ini kemudian
dalam rangka menjaga mutu terak yang biasanya diukur berdasarkan sifat reaktivitasnya. Terak dingin tersebut kemudian digiling kembali bersama sekitar 3 - 5% fraksi massa gipsum sebagai bahan retarder (penghambat reaksi pengeringan semen apabila dicampur dengan air) hingga lembut dan disebut sebagai semen Portland.
Gudang Pasir Besi (Iron Sand Storage)
Gambar 3.1. Bahan baku dari tambang direduksi ukurannya dan diangkut
menuju gudang bahan baku (Duda, 1976)
3.2. Kualitas Batugamping Sebagai Bahan Baku Semen
Bahan baku semen adalah mineral yang mengandung komponen-komponen
utama semen, yaitu CaO, SiO2, Al2O3 dan Fe2O3. Komponen-komponen tersebut
tersedia di alam dalam komposisi yang dibutuhkan untuk pembuatan semen. Bahan baku dengan kadar CaO yang tinggi disebut komponen gamping, sedangkan bahan baku dengan kadar silika, alumina, dan besi oksida yang tinggi
Crusher Crusher
Batukapur
sebagai bahan baku semen, kedua komponen tersebut harus dicampurkan. Pasir silika dan pasir besi hanya perlu ditambahkan sebagai koreksi apabila komponen bahan baku masih belum memenuhi syarat sebagai bahan baku semen (Duda,
1976). Berdasarkan kadar CaCO3nya, batukapur yang dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuat semen, terdiri dari batugamping dengan kadar CaCO3
minimal 50%, chalk dengan kadar CaCO3 98 – 99%, mengandung sedikit SiO2,
Al2O3 dan Mg2O3 serta bersifat lebih lunak sehingga mengurangi biaya operasional
karena tidak memerlukan peledakan maupun penghancuran serta napal yang dianggap sebagai bentuk transisi antara batugamping dan lempung, merupakan bahan mentah yang sangat baik karena mengandung CaO dan lempung dalam komponen yang homogen (Duda, 1976).
Adapun bahan baku pembuat semen (Duda, 1976) adalah sebagai berikut : 1. Batugamping sebagai sumber CaO
2. Lempung sebagai sumber Al2O3
3. Pasir Silika sebagai sumber SiO2
4. Pasir besi sebagai sumber Fe2O3
Menurut Duda (1976) komposisi kimia dari batugamping pembentuk bahan baku semen yang sangat dominan berpengaruh adalah enam komponen kimia, yang dapat dilihat dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Komposisi senyawa batugamping pembentuk bahan baku semen
(Duda, 1976)
Komponen Komposisi Ideal (%) Kisaran (%)
SiO2 0,95 0,76 – 4,75 Al2O3 0,92 0,71 – 2,00 Fe2O3 0,38 0,36 – 1,47 MgO 0,95 0,30 - 1,48 CaO 54,6 49,8 – 55,6 LOI 42,03 39,65 – 44,03
Tabel 3.2. Persyaratan kualitas bahan baku semen PT Semen Padang
Komposisi Standar Kualitas PT Semen Padang Bahan
Baku SiO2 (%) Al2O3 (%) CaO (%) H2O (%)
Batu Kapur Maks. 5 - Min. 48 Maks. 6
Batu Silika Min. 65 - - Maks. 10
Tanah Liat - Min. 27 - Maks. 37
3.3. Komposisi Kimia dan Mineralogi Batugamping
Batugamping (Batuan karbonat) adalah batuan sedimen yang mempunyai komposisi dominan (lebih dari 50%) terdiri dari garam-garam karbonat.
Batugamping tersusun oleh sebagian besar mineral kalsit (CaCO3), terjadi secara
organik, kimiawi, atau detritus. Jenis batugamping yang terbentuk oleh koloni: Algae, Foram, Bryozoa, Brachiopoda, lazim disebut batugamping terumbu/batugamping koral. Batuan sedimen batugamping disusun dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang menghasilkan kalsium karbonat sebagai bagian dari metabolismenya membentuk bagian utama dari batugamping.
Batugamping autokton adalah batugamping yang terbentuk di tempat karena adanya pengumpulan organisme yang hidup dan mati di satu tempat. Bila kelompok tidak luas dan terbatas penyebarannya dapat disebut batugamping
bioherm dan bila sifat penyebarannya luas dapat disebut sebagai batugamping biostorm.
Batugamping Allokton terdiri dari sisa-sisa dan pecahan-pecahan organisme yang mati dan telah mengalami pengangkutan dan diendapkan di tempat lain.
Batugamping bioklastik adalah batugamping yang terdiri dari fragmen-fragmen sisa
kehidupan binatang laut. Adapun mineral yang penting dan umum yang terdapat dalam batugamping terlihat dalam Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Mineral-mineral Penyusun Batugamping
Mineral Keterangan / Diskripsi
Kalsit
( CaCO3 )
- Merupakan mineral karbonat yang lebih stabil, biasanya merupakan hablur kristal yang baik dan jelas.
- Dijumpai sebagai semen pengisi ruang antar butir dan rekahan. - Merupakan komponen utama dari batugamping.
Aragonit ( CaCO3 )
- Material strukturnya dari moluska laut; terkadang terendapkan dalam air dangkal yang hangat.
- Mengkristal dalam sistem orthorhombic.
- Dibandingkan dengan kalsit, kestabilannya lebih rendah dan lebih mudah larut.
- Berbentuk jarum atau serabut umumnya diendapkan secara kimiawi langsung dari presipitasi air laut.
Dolomit
(CaMg(CO3)2 )
- Merupakan mineral yang hampir serupa dengan mineral kalsit, namun secara petrografis dapat dibedakan dari indeks refraksinya.
- Diketahui sebagai mineral sedimen primer, tetapi lazimnya hasil dari replacement sedimen kalsit oleh air asin yang kaya dengan magnesium yang menyebabkan dolomit menggantikan kalsit.
Magnesit
( MgCO3 )
- Merupakan kristal hexagonal
- Terjadi akibat penggantian dari kalsit dan dolomit, sering juga terbentuk dari batuan yang mengandung magnesium silikat
3.3.1. Klasifikasi Batugamping Menurut Folk (1959)
Klasifikasi batuan karbonat yang dikemukakan oleh Folk (1959) adalah berdasarkan kepada tiga komponen utama batuan karbonat, yaitu butiran (allochems), sparit, dan mikrit, yang meliputi macam butiran dan ratio ketiga komponen tersebut.
a. Allochem merupakan butiran karbonat yang berukuran pasir – kerikil yang berasal dari sedimen klastik, termasuk didalamnya adalah oolit, pisolit, onkilit, pellet, dan fosil.
b. Microcrystallin Kalsit zone atau Micrite, merupakan agregat halus yang berukuran 1 – 4 (mikron) sebagai pembentuk mineral kalsit, terjadi secara biokimia atau kimiawi dari presipitasi air laut, terbentuk dalam lingkungan pengendapan dan menunjukkan sedikit atau tidak adanya transportasi yang berarti.
c. Sparry Kalsit cements atau Sparit, merupakan semen yang mengisi ruang antara butir dan rekahan, berukuran butir halus (0,02 – 1 mm), dapat terbentuk langsung dari sedimen secara insitu atau dari rekristalisasi mikrit.
Dengan berdasarkan kepada tiga komponen utama tersebut, sehingga penamaan batuan karbonatnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe utama, yaitu sebagai berikut:
a. Tipe I (Sparry Allochemical Rocks)
Batuan karbonat yang termasuk ke dalam tipe I ini, sebagian besar terdiri dari konstitusi “allochem” yang disemen oleh sparit. Tipe ini biasanya terbentuk pada lingkungan pantai atau laut dangkal, tetapi dapat pula terbentuk pada daerah-daerah yang berenergi gelombang yang rendah tanpa dipengaruhi oleh
adanya lumpur karbonat (mikrit). Jenis batuan karbonat ini adalah intrasparit, oosparit, biosparit, dan pelsparit.
b. Tipe II (Microcrystallin Allochemical Rocks)
Batuan karbonat yang termasuk ke dalam tipe I ini, sebagian besar terdiri dari konstitusi “allochem” dan “Microcrystallin Calcite Ooze” sebagai matriksnya, terbentuk pada lingkungan pengendapan yang berenergi gelombang lemah. Jenis batuan karbonat ini adalah intramikrit, oomikrit, biomikrit dan pelmikrit. c. Tipe III (Microcrystallin Rocks)
Batuan karbonat yang termasuk ke dalam tipe I ini, merupakan kebalikan tipe I, dimana hampir seluruhnya terdiri dari mikrit dan terbentuk pada lingkungan pengendapan yang mempunyai kondisi air laut tenang. Jenis batuan karbonatnya adalah mikrit dan dismikrit.
d. Tipe IV
Batuan karbonat yang termasuk ke dalam tipe I ini merupakan pembagian khusus, karena mengingat proses atau cara pembentukannya yang sangat khas. Batugamping ini memiliki struktur organik yang terbentuk pada tempat dimana ia tumbuh (insitu). Struktur organik tersebut bersifat saling mengikat dan kuat dalam pertumbuhan. Batuan karbonat ini disebut Biolitit.
Gambar 3.2. Klasifikasi batugamping menurut Folk (1959).
3.3.2. Klasifikasi Batugamping Menurut Dunham (1962)
Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962) adalah dengan berdasarkan kepada tekstur pengendapannya.
Faktor-faktor penting yang menjadi dasar pembagian batuan karbonat menurut Dunham (1962) adalah sebagai berikut :
¾ Butiran didukung oleh lumpur ¾ Butiran saling menyangga
¾ Sebagian butiran didukung oleh lumpur dan sebagian butirannya saling menyangga
Dengan berdasarkan faktor-faktor tersebut, Dunham (1962) mengklasifikasikan batuan karbonat sebagai berikut :
a. Butiran didukung oleh lumpur :
1. Jika jumlah butiran kurang dari 10% dinamakan Mudstone 2. Jika jumlah butiran lebih banyak dari 10% dinamakan Wackstone b. Butiran saling menyangga :
3. Dengan Matriks dinamakan Packstone
4. Sedikit atau tanpa matriks dinamakan Grainstone
c. Komponen yang saling terkait pada pengendapan, dicirikan dengan adanya struktur tumbuh dinamakan Boundstone
d. Tekstur pengendapan yang tidak teramati dengan jelas dinamakan Batugamping kristalin
3.4. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pengendapan Batugamping
3.4.1. Pengaruh Sedimen Klastik Asal Darat
Pengendapan karbonat memerlukan lingkungan yang praktis bebas dari sedimen klastik asal darat. Adanya partikel-partikel lempung dan lanau (asal darat) akan menyebabkan terhalangnya proses fotosintesis sehingga hal ini akan menghalangi pertumbuhan ganggang gampingan, dimana ganggang gampingan ini merupakan
pembentuk unsur CaCO3, sehingga pembentukan CaCO3 akan terhambat. Dengan
terhambatnya pertumbuhan CaCO3 maka secara tidak langsung akan
menghambat mekanisme kehidupan dan pertumbuhan binatang-binatang bentonik karena cangkang-cangkang binatang bentonik ini kebanyakan terbentuk dari unsur
CaCO3. Dengan demikian untuk dapat terjadinya pengendapan karbonat dengan
cepat, maka dibutuhkan daerah dengan kondisi aliran air yang jernih, daerah yang stabil dan daratan sekitarnya yang hampir datar. Bila pada suatu daerah terjadi sedimentasi butiran asal darat, maka akan terbentuk napal atau batupasir gampingan.
3.4.2. Pengaruh Iklim dan Suhu
Pada proses pengendapan batuan karbonat, diperlukan suatu kondisi lingkungan geografis tertentu yang memenuhi persyaratan untuk proses pertumbuhan dan peerkembangan kehidupan organisme. Lingkungan geografis yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme adalah lingkungan yang beriklim Tropis sampai subtropis, dimana pada daerah-daerah tersebut akan cukup dapat menerima sinar matahari dengan baik, sehingga dapat memperlancar proses fotosintesis dan akan mempunyai kondisi lingkungan yang bertemperatur hangat. Dengan demikian pada lingkungan-lingkungan yang berada pada garis lintang
3.4.3. Pengaruh Kedalaman
Pengendapan karbonat memerlukan penguapan yang kelewat jenuh dari airlaut di
daerah yang mempunyai kandungan unsur CaCO3, dimana pada keadaan yang
demikian ini hanya dijumpai pada lingkungan laut yang dangkal. Apabila pada
lingkungan laut yang dalam makan menyebabkan sebagian tekanan CO2 akan
sangat tinggi, dimana pada keadaan yang demikian menyebabkan unsur CaCO3
akan terlarut.
3.4.4. Faktor Mekanik
Faktor mekanik yang mempengaruhi kecepatan pengendapan karbonat antara lain adalah adanya aliran laut yang bertekanan tinggi menuju ke daerah-daerah yang
bertekanan rendah, adanya percampuran air dengan kandungan CaCO3 yang
berkadar tinggi, penguraian oleh bakteri, proses pembuatan material organik, serta adanya kenaikan PH air laut sehingga pada kondisi yang demikian dapat menyebabkan penambahan konsentrasi karbonat.
Gambar 3.4. Klasifikasi batugamping berdasarkan tekstur pengendapan, menurut
3.5. Lingkungan Pengendapan Batugamping (Wilson, 1975)
Wilson (1975) mengemukakan suatu penampang yang ideal yang memperlihatkan jalur fasies secara standar dan interpretasi lingkungan pengendapan pada tepi paparan seperti terlihat pada Gambar 3.5.
Daerah penelitian dijumpai batugamping dengan butiran berukuran halus sampai sedang dan masif. Dengan dijumpai beberapa lokasi mengandung fosil yang telah
tergantikan oleh kalsit (CaCO3). Hal tersebut menggambarkan batugamping
terbentuk pada lokasi yang banyak mengandung oksigen, berkadar garam rendah dan sirkulasi air yang baik sehingga memungkinkan organisme plangtonik dapat hidup dan berkembang dengan baik. Lingkungan pengendapan yang terbentuk mempunyai kedalaman dari beberapa puluh meter sampai beberapa ratus meter. Material-material endapannya berasal dari daerah-daerah yang dangkal. Sehingga daerah penelitian diinterpretasikan berada pada lingkungan pengendapan Organic
Build-Up.( Wilson, 1975).
Gambar 3.5. Penampang ideal memperlihatkan jalur fasies karbonat pada tepi
3.6. INTRUSI
Di lokasi penelitian dijumpai intrusi basalt yang menerobos Satuan Batugamping Bukit Karang Putih. Intrusi basalt terdapat di bagian tengah dan utara lokasi penelitian. Intrusi pertama yang dijumpai pada lokasi pengamatan berada di daerah Blok M, koordinat X : - 55.00, Y : - 2,650.00 dengan panjang lebih kurang 100 meter dan lebar 20 meter. Intrusi kedua berada di daerah Blok J, koordinat X : 80.00, Y : -2,305.00 dengan panjang kurang lebih 150 meter dan lebar 30 meter. Di lokasi pengamatan intrusi basalt ini menerobos batugamping yang berumur pratersier. Diperkirakan intrusi basalt berumur Tersier (Miosen, menurut Kastowo, dkk 1973) karena menerobos batuan berumur pratersier (batugamping) dan ditutupi oleh batuan sedimen tersier (silika dan batuan vulkanik). Pengamatan secara makroskopis batuan ini berwarna gelap, berbutir halus, tersingkap dalam keadaan segar dan sangat kompak.
Sill adalah intrusi konkordan, berbentuk tabular sejajar dengan foliasi atau perlapisan batuan yang diterobos oleh intrusi. Sill tersebut pada umumnya tipis (beberapa meter sampai beberapa ratus meter), dangkal dan terbentuknya pada batuan yang tidak terlipat. Kebanyakan sill berkomposisi basaltik, hal ini disebabkan oleh keenceran magma yang memungkinkan bentuk melebar dan sering kali terjadi karena beberapa kali injeksi. Pada sill yang tebal, sering terjadi diferensiasi sehingga komposisi mineralnya berbeda antara bagian bawah dan bagian atasnya.
Dike adalah intrusi yang bentuknya tabular (seperti sill) dan mempunyai hubungan diskordan dengan batuan sekitarnya. Intrusi ini pada umumnya menempati pola rekahan yang sudah ada. Pada beberapa daerah dike berasosiasi dengan intrusi dangkal dan kadang-kadang mempunyai pola radial. Vein adalah
Gambar 3.6. Beberapa tipe intrusi (Ernest G Ehlers, 1980)
Laccolith adalah intrusi konkordan yang berbentuk seperti jamur (mushroom), dengan diameter 1 sampai 8 Km, dengan ketebalan mancapai 1000 m, terbentuk pada kedalaman kecil pada batuan sedimen yang relatif belum terganggu. Laccolith terbentuk oleh magma yang membumbung (ke atas) pada batuan sedimen yang perlapisannya masih horizontal, apabila gerakan naik tertahan oleh lapisan yang resisten, maka magma akan membumbung dan menyebar ke samping dan membentuk dome. Apabila penyebaran lateralnya lebih dominan maka kan berangsur-angsur menjadi sill. Kebanyakan intrusi jenis ini berkomposisi asam hingga intermediet.
Batuan beku intrusif membeku di bawah batuan yang sudah ada (pre-existing
rock) di bawah permukaan bumi. Kontak intrusif terhadap batuan sekitarnya bisa
diskordan atau konkordan. Pada intrusi dangkal, apabila batuan samping bersifat getas/mudah pecah, pada saat intrusi disertai oleh terjadinya banyak pecahan, patahan atau sebagian dari batuan samping terbawa/terseret oleh intrusi. Pada tempat yang lebih dalam (beberapa kilometer), temperatur dan tekanan memberikan sifat plastis atau ductile pada batuan samping, magma akan bergerak dengan tekanan dan akan memberikan struktur foliasi sejajar dengan permukaan
pluton. Intrusi jenis ini disebut “diaper” yang tentu saja konkordan terhadap batuan sampingnya.
Banyak intrusi yang kelihatannya konkordan pada sebuah singkapan, tetapi secara umum mereka diskordan bila dipetakan secara regional. Memotong atau sejajar dengan batuan samping sering terlihat sebagai fungsi skala pengamatan. Batuan beku yang semenjak terbentuknya belum pernah mengalami perubahan selama orogenesis, tetapi karena pengaruh penambahan tekanan dan temperatur (batuan metamorf) menyebabkan batuan tersebut melebur/meleleh sebagian atau semuanya. Proses ini disebut ”anateksis”. Magma yang terbentuk mungkin meninggalkan tempat itu atau tetap ada di tempat. Bila magma mendingin disitu, maka batas antara batuan beku dan metamorf akan terlihat mempunyai kontak konkordan dibeberapa tempat dan lainnya diskordan, tergantung dari jauh/dekatnya pergerakan material yang terlelehkan.
Kontak antara batuan beku dan batuan samping ada yang tegas dan tidak tegas. Kontak tegas berarti tidak ada reaksi antara magma dengan batuan samping, mungkin karena batuan sampingnya tidak reaktif (kwarsit), atau pendinginan sangat cepat karena batuan sampingnya dingin. Perbedaan temperatur yang besar akan menyebabkan besarnya kristal semakin berkurang kearah kontak seperti pada tubuh intrusi dangkal atau aliran lava.
Xenoliths juga harus diperhatikan dengan cermat. Biasanya mereka terkonsentrasi
pada ujung tubuh intrusi. Benda-benda asing tersebut mencerminkan batuan samping yang dilalui magma atau hanya batuan samping dimana magma terakhir membeku. Batuan intrusi yang magmanya berasal dari kedalaman yang tinggi (> 100 Km), akan membawa material-material dari sumbernya atau dari batuan samping yang dilewati sewaktu magma membumbung. Fragmen-fragmen bisa jadi sudah lebur dalam magma, dan bila masih ada tentu akan mempengaruhi
protogenesisnya. Oleh karenanya harus selalu diamati dalam penelitian di lapangan.
Proses intrusi akan mengakibatkan perubahan kimia, mineralogi, dan tekstur. Efek ini menyebabkan interaksi antara batuan samping dengan intrusinya. Faktor yang berpengaruh pada intrusi adalah temperatur, kimia fluida, konsentrasi, komposisii batuan samping, permeabilitas serta durasi aktifitas hidrotermal (Pirajno, 1992). Walaupun semua faktor saling mengkait, namun faktor temperatur dan kimia fluida merupakan faktor yang paling dominan (Browne, 1991 dalam Corbett dan Leach, 1996).
Salah satu efek dari adanya intrusi adalah terjadinya metamorf kontak (termal). Metamorf kontak disebabkan oleh adanya kenaikan temperatur pada batuan tertentu. Panas tubuh intrusi yang diteruskan pada batuan sekitarnya mengakibatkan metamorf kontak. Zona metamorf kontak disekitar tubuh batuan tersebut dinamakan daerah kontak (contact aureole) yang efeknya terutama terlihat pada batuan sekitarnya. Lebar daerah penyebaran panas tersebut berkisar dari beberapa meter sampai beberapa kilometer. Lebar zona pengaruh dari intrusi biasanya tidak jauh dari tebal tubuh intrusi. Intrusi kecil dapat menghasilkan zona kontak yang disebut backing effect, biasanya akan nampak berbeda dengan batuan yang tidak terkena intrusi, atau sering juga dengan terdapatnya perbedaaan warna dengan batuan yang tidak terkena proses metamorfism. Perbedaan ini disebabkan oleh hasil oksidasi. Metamorfosa kontak pada batu lempung akan membentuk hornfels, sedangkan pada batugamping, akan menghasilkan batumarmer. Seperti pada Gambar 3.7. Zona kontak akan dicirikan dengan adanya mineral-mineral yang berbeda yang dapat dihubungkan dengan jarak dari intrusi. Efek dari intrusi juga dapat menggantikan sebagian komposisi batuan samping dengan terjadinya pertukaran ion-ion dari larutan sisa magma
ini disebut metasomatisme. Penggantian komposisi dapat disebabkan oleh fluida asal dari batuan beku intrusi atau dari perpindahan fluida aktif pada batuan samping dengan kehadiran intrusi. Efek metasomatism sering terjadi pada intrusi batuan karbonat (batugamping) tergantikan dengan silika. Di dalam batugamping akan menghasilkan calsium kaya akan silika, epidot atau wolastonit. Kalo intrusi terjadi pada dolomit akan menyebabkan kehadiran serpentin, diopsit dan kelompok mineral khondrit.
Gambar 3.7 Kontak intrusi monzonit di batugamping menyebabkan terbentuknya
marmer. Tebal kontak tersebut 17 m dengan 3 zona mineral. (Burnham, 1959).