• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMUNOLOGI CEA.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMUNOLOGI CEA.docx"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERIKSAAN CARCINOEMBRYON

PEMERIKSAAN CARCINOEMBRYONIC ANTIGEN TEST IC ANTIGEN TEST (CEA)(CEA) DENGAN METODE ELFA

DENGAN METODE ELFA

disusun oleh: disusun oleh: 1.

1. Andraina Andraina Auliayati Auliayati (1611E2049)(1611E2049) 2.

2. Atik Atik Setyowati Setyowati (1611E2053)(1611E2053) 3.

3. Ima Ima Majiid Majiid (1611E2064)(1611E2064) 4.

4. Tri Tri Winarsih Winarsih (1611E2081)(1611E2081) 5.

5. Widianingsih Widianingsih (1611E2083)(1611E2083)

Pembimbing: Pembimbing:

Rani Hendriani, S.Si, M.Kes Rani Hendriani, S.Si, M.Kes

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG

Jalan Padasuka Atas No 233 Bandung, Jawa Barat 40192 Jalan Padasuka Atas No 233 Bandung, Jawa Barat 40192

2018 2018

(2)

KATA PENGANTAR 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang. Dengan ini penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Imunologi II yang diberi judul pemeriksaan carcinoembryonic antigen test (CEA) dengan metode ELFA.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pemeriksaan pertanda tumor yaitu pemeriksaan CEA. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah disusun di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Petanda tumor (tumor marker) adalah sejenis zat yang pada umumnya mengandung protein dan terdapat dalam cairan tubuh, atau terdapat pada jaringan kanker penderita. Zat ini dapat dihasilkan oleh sel kanker atau sel tubuh penderita yang lain akibat rangsangan kanker. Petanda ini mencerminkan keberadaan atau keaktifan sel kanker.

Sel kanker adalah sel dengan metabolisme yang tinggi karena kecepatannya untuk berduplikasi, pertumbuhannya tidak terkontrol oleh mekanisme kontrol tubuh yang normal atau yang sudah ada. Akibatnya gen yang sebelumnya nonaktif menjadi teraktivasi, sehingga terjadi overekspresi (pengeluaran yang berlebihan) dari produk produk gen tersebut. Mekanisme pertahanan tubuh juga menyebabkan sebagian sel kanker mati atau nekrosis dan munculnya gen gen tertentu yang  berfungsi menekan (mensupresi) pertumbuhan kanker serta produk produk

ikutannya.

Tujuan utama pemeriksaan laboratorium petanda tumor adalah untuk menilai produk metabolisme sel kanker, produk gen yang teraktivasi, zat yang terdegradasi dari sel kanker yang mati atau produk reaksi tubuh terhadap sel kanker. Dari uraian asal usul zat petanda tumor tampak bahwa satu jenis tumor dapat memiliki tidak hanya satu jenis petanda tumor, dan satu jenis petanda tumor  juga dapat muncul pada berbagai jenis tumor yang berbeda. Karakteristik ini

(4)

membuat pemeriksaan petanda tumor bersifat fleksibel dan bervariasi pola kombinasinya.

Produk dalam jumlah yang besar memberi nilai pemeriksaan yang akurat, sebaliknya dalam jumlah yang kecil sulit terdeteksi secara laboratorium dan tidak memberi makna. Yang menjadi problem adalah bahwa kalau produknya dalam  jumlah besar maka kanker pada umumnya sudah besar atau lanjut. Oleh karena itu  petanda tumor umumnya tidak digunakan untuk deteksi dini tetapi lebih bermakna

dalam membantu diagnosa dan pemantauan hasil pengobatan serta follow-up. Berdasar sifat biokimia dan imunologisnya, zat petanda tumor biasanya dibagi menjadi

a. Antigen, enzim, hormon, zat biokimia, reaksi antibodi penderita, yang dapat terdeteksi dalam pemeriksaan serum atau darah yang bisa diketahui dari  pemeriksaan laboratorium. Contoh antigen adalah: AFP (Alfa-fetoprotein),

CEA, CA15-3, CA 125, CA 19-9, PSA (Prostat Spesifik Antigen). Contoh enzim misalnya Alkali Fosfatase (ALP). Contoh hormon misalnya Beta-HCG (β-human chorionic gonadotrophin).

 b. Gen Kanker, gen penekan kanker atau produknya yang dapat diketahui dari  pemeriksaan histopatologi atau imunohistokimia oleh seorang ahli patologi.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud pemeriksaan tumor marker? 2. Apakah kegunaan pemeriksaan CEA?

3. Bagaimana prosedur pemeriksaan CEA dengan metode ELFA?

1.3 Tujuan

1. Untuk mendiskripsikan pemeriksaan tumor marker

2. Untuk mengetahui bagaimana prosedur pemeriksaan CEA dengan metode ELISA.

3. Untuk mengetahui fungsi pemeriksaan CEA.

(6)

BAB II MATERI

2.1 Tinjauan Pustaka

Carcinoembryonic Antigen Test (CEA) pertama kali ditemukan oleh Gold dan Freedman pada tahun 1965. Merupakan antigen (berupa glikoprotein keluarga immunoglobulin) dengan berat molekul 180.000 dalton. Dijumpai pada kolon,  janin dan adenokarsinoma kolon, tetapi tidak didapati pada kolon dewasa sehat.

(Goldsteinet al , 2005).

Beberapa studi menunjukkan CEA juga terdapat pada jaringan sehat, namun kadar CEA pada tumor rata-rata 60x lipat lebih tinggi dari jaringan tidak ganas dengan nilai ambang CEA normal < 5 ng/ml.

CEA juga terdeteksi dalam jumlah besar pada keganasan saluran cerna (termasuk pankreas), paru, payudara, dan ovarium, sehingga kurang spesifik untuk tumor, konsentrasinya dalam serum juga dipengaruhi banyak faktor. Oleh karena itu, prosedur kadar CEA ini tidak dianjurkan untuk penapisan (screening) kanker kolorektal. Namun peningkatan secara berlebihan patut menimbulkan kecurigaan untuk evaluasi diagnosis lebih lanjut.

Tes darah CEA digunakan sebagai tumor marker, yakni indikator apakah terdapat keganasan kanker ataupun tidak.

1. Untuk monitoring efektivitas terapi yang dilakukan pada pasien dengan kanker kolon ataupun marker kanker lainnya.

(7)

2. Tes awal CEA sebelum terapi dilakukan untuk dijadikan nilai tolak ukur (baseline). Jika kadarnya meningkat setelah terapi, akan menunjukkan respon pasien terhadap terapi yang diberikan dan menentukan apakah kanker telah berkembang ataupun terulang kembali.

3. Menentukan Prognosis (bagaimana perkembangan kanker nantinya)

4. Mengetahui stadium kanker dengan melihat ukuran dari tumor dan seberapa  jauh penyebaran tumor tersebut (metastasis).

5. Pemeriksaan CEA untuk pemantauan terapi dan meramalkan prognosis. a. CEA > 20 ng/mL preoperasi, keganasan tinggi (prognosis

kurang baik).

 b. CEA > 2.5 ng/ml postoperasi, adanya kekambuhan 80 % (18  bulan mendatang.

c. CEA < 20 ng/ml, metastase.

6. Pada sample cairan tubuh dapat membantu menentukan apakah kanker sudah menyebar ke rongga tubuh (co: rongga pleural dan peritoneal)

7. Dapat dilakukan bersama beberapa tumor kanker lain untuk mendiagnosis kanker seperti karsinoma saluran cerna (CA 19-9), kanker payudara (CA 15-3), kanker ovarium (CA 125), kanker paru-paru (NSE), dan lain-lainnya. 8. Tidak semua kanker memproduksi CEA dan tidak semua hasil positif tes

CEA disebabkan oleh kanker, oleh sebab itu, tes ini tidak digunakan untuk screening kanker.

(8)

CEA paling sering diperiksa dalam darah (serum), namun dapat juga diperiksa dalam cairan tubuh misalnya ascites, cairan pleura, peritoneal, serebrospinal dan biopsi jaringan.

Prinsip pemeriksaan CEA dengan metode ELFA merupakan kombinasi metode kompetisi immunoassay enzyme dengan deteksi fluorescent. SPR (Solid Phase Receptacle) bertindak sebagai fasa padat dalam pengujian. Sampel yang akan diperiksa dimasukkan kedalam well yang berisi conjugate berupa alkaline  phospatase yang dilabel dengan anti CEA polyclonal. CEA serum dan anti CEA  polyclonal pada conjugate akan bersaing pada tempat antibody spesifik anti-CEA yang melapisi pada permukaan SPR. Komponen yang tidak terikat akan dibuang melalui proses pencucian. Konjugat enzim mengkatalisis hidrolisis substrat dan dianalisis dengan fluoresensi pada panjang gelombang 450nm. Intensitas fluoresensi menunjukkan proporsi konsentrasi sampel. Pada akhir pemeriksaan, nilai sampel otomatis akan dihitung dengan instrumen yang dihubungkan dengan kurva kalibrasi yang tersimpan pada memori.

Kadar normal CEA dalam darah orang dewasa dan tidak merokok yaitu <3 ng / ml dan untuk perokok <5.0 ng / ml. Kemoterapi dan radiasi dapat meningkatkan kadar CEA secara temporer akibat kematian sel-sel tumor dan  pelepasan CEA ke dalam aliran darah. Penyakit-penyakit jinak biasanya tidak menyebabkan peningkatan di atas 10 ng/ml. Berikut merupakan beberapa keadaan yang mempengaruhi peningkatan kadar CEA dalam darah:

(9)

a. Peningkatan Kadar CEA terjadi pada kanker (George Krucik, 2012) 1. Colorectal (colon) cancer

2. Medullary thyroid carcinoma 3. Breast cancer

4. Cancer of the gastrointestinal tract 5. Liver cancer

6. Lung cancer 7. Ovarian cancer 8. Pancreatic cancer 9. Prostate cancer

 b. Faktor Resiko Peningkatan Kadar CEA selain kanker

1. Sirosis hati dan koleositisis (peradangan pada kandung empedu) 2. Perokok berat

3. Penyakit peradangan usus besar (co: ulcerative colitis or  diverticulitis) 4. Infeksi saluran pernapasan

5. Peradangan pankreas (pancreatitis) 6. Ulkus pencernaan

2.2 Prosedur Pemeriksaan

a. Persyaratan dan Jenis Sampel : Serum atau plasma  b. Stabilitas Sampel :

1. Suhu 2 - 8 °C, 7 hari

(10)

c. Persiapan Pasien :

Informasikan kepada petugas laboratorium jika Anda perokok aktif.

d. Metode : ELFA e.  Nilai Rujukan : 0.5 –  200 ng/mL f. Alat : 1. Mikropipet 200 µl. 2. Yellow tip. 3. Collection tube. 4. Centrifuge. 5. Torniguet. 6. Alkohol swab.

7. Spuit dan needle atau vacutainer.

g. Reagen : 1. Control (C1) 2. Calibrator (S1) 3. CEAS SPRs 4. CEAS strip h. Cara Kerja :

1. Disiapkan alat dan bahan.

2. Dilakukan pengambilan darah vena.

3. (Serum) tampung darah pada collection tube tanpa antikoagulan, tunggu selama 30 menit sampai darah membeku, kemudian

(11)

4. (Plasma) tampung darah pada collection tube dengan antikoagulan kemudian di centrifuge 3000 rpm selama 15 menit. 5. Bila serum/plasma disimpan dalam kulkas, keluarkan serum dari

kulkas, sesuaikan dengan suhu ruang (150C sampai 220C)

6. Keluarkan Reagen CEA dari kulkas, sesuaikan dengan suhu dengan suhu ruang (150C sampai 220C)

7. Gunakan CEAS strip dan CEAS SPR untuk pemeriksaan sampel, control dan calibrator.

8. Kode CEAS akan teridentifikasi sebagai tes. Kode S1 akan teridentifikasi sebagai calibrator dan kode C1 akan teridentifikasi sebagai control pada instrument.

9. Masukkan CEAS SPRs dan CEAS strip dalam instrument. 10. Inisiali tes di User Manual.

11. Masukkan sampel/control/calibrator sebanyak 200 µl dalam CEAS strip, kemudian tutup dan simpan kembali setelah di  pipet.

12. Pemeriksaan akan selesai kurang lebih 60 menit, hasil akan keluar pada print out. Setelah pemeriksaan selesai, ambil SPRs dan strip dari instrument.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.rsonkologi.com/berita/petanda-tumor 

https://www.pesanlab.com/blog/petanda-tumor-tumor-markers-dan-tes- pemeriksaannya/

Referensi

Dokumen terkait