KAJIAN EKONOMIS BAJA TULANGAN BETON
Biatna Dulbert T dan Denny WahyudiAbstract
Steel is one of the strategic products. Its using can influence national economy and national development. Impact of steel using is concern with safety aspect to its users. National Standardization Agency of Indonesia (BSN) have established SNI 07-2052-2002 and then it was adopted as technical regulation, so this SNI became mandatory. Now that of this SNI has been mandatory, producer and infrastructure should have been ready to apply this SNI. Economic benefit of applying this SNI in national can be taken if either sub-standard local or import products are not circulate in the market anymore, so the total economic benefit in applying this standard is Rp. 4.141.905.428.338. This standard Application which is not comprehensive can be burden for producer who apply SNI and circulation of the illegal product will more and more luster and can’t be dammed up. So we need to improve quality related to conformity assessment body, surveillance and standard harmonization.
Keywords: economic benefit, standard, crude steel
1. PENDAHULUAN
Baja merupakan produk strategis yang dipakai dalam berbagai keperluan seperti konstruksi rumah, gedung, jembatan atau berbagai perkakas rumah tangga. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, Indonesia termasuk paling sedikit dalam memproduksi baja. Industri yang memproduksi baja di Indonesia, juga hanya tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.
Peredaran baja di Indonesia akhir-akhir ini diwarnai dengan produk baja impor nonstandar/ilegal. Produk baja jenis ini, selain memukul industri domestik juga sangat merugikan masyarakat sebagai konsumen. Produk baja ilegal jauh lebih murah harganya dibanding produk baja yang mengikuti standar sehingga produk baja yang berstandar kurang laku di pasaran. Di sisi konsumen, produk yang dibelinya ternyata tidak berkualitas sehingga apabila digunakan untuk bahan bangunan, misalnya, dapat membahayakan konsumen itu sendiri.
Sejauh ini, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan SNI Baja yang diharapkan dapat diacu oleh produsen baik produsen domestik ataupun mancanegara yang ingin memasarkan produk bajanya di Indonesia. Regulator melalui Departemen Perindustrian juga mengadopsi SNI Baja Tulangan Beton, salah satunya ke dalam Regulasi Teknis. Dengan adanya Regulasi Teknis ini diharapkan mampu mendorong daya saing produk baja domestik serta membendung membanjirnya produk baja impor yang tidak sesuai standar.
Dengan dikeluarkannya Regulasi Teknis tentang Pemberlakuan SNI Baja Tulangan Beton
secara wajib, maka sesuai dengan PP 102 Tahun 2000, akan memiliki implikasi bagi produsen maupun importir baja. Produksi baja mereka harus mengikuti SNI. Oleh karena itu, perlu dipastikan kesiapan produsen dan laboratorium serta lembaga sertifikasi untuk menerapkan SNI. Di sisi lain, dengan adanya kewajiban pemberlakuan SNI Baja Tulangan Beton ini, diharapkan tidak hanya sekedar menahan membanjirnya produk impor namun juga akan meningkatkan nilai ekonomis bagi produsen baja tersebut.
Untuk melihat sejauh mana nilai ekonomis bagi produsen baja tulangan beton yang menerapkan SNI, maka diperlukan penelitian. Penelitian dilakukan melalui survey lapangan dan beberapa data sekunder yang diperlukan. 2. GAMBARAN PRODUKSI BAJA DI
INDONESIA
Sebaran perusahaan produsen baja di Indonesia hanya terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera dengan tingkat sebaran yakni 93,75% terdapat di Pulau Jawa (khususnya Jawa Timur 40,62% dan DKI 31,25%) dan 6,25% di Pulau Sumatera (tepatnya di Sumatera Utara). Dan perusahaan yang belum tergabung dalam asosiasi ABBEPSI sekitar 20 Perusahaan.
Sedangkan perkembangan dan pertumbuhan rata-rata produksi baja di Indonesia cukup kecil yaitu 1,3% dibandingkan dengan negara-negara produsen baja lainnya, seperti terlihat dalam Tabel 2:
Tabel 1 Sebaran Perusahaan Produsen Baja di Indonesia
No. Propinsi Jumlah
1. Sumatera Utara 2 2. DKI 10 3. Banten 3 4. Jawa Barat 3 5. Jawa Tengah 1 6. Jawa Timur 13 Total 32 Sumber: ABBEPSI (Asosiasi Pabrik Billet, Batang
Kawat, Besi Beton, dan Profil Seluruh Indonesia)
Sementara itu, Tabel 3 berikut ini adalah gambaran perkembangan produksi baja dunia. Kebutuhan akan baja dunia ternyata sangat besar untuk kebutuhan konstruksi dan menopang industri manufaktur lainnya seperti Amerika, China dan Jepang. Ketiga negara tersebut merupakan merupakan negara industri.
Tabel 2 Produksi Crude Steel Dunia dan Posisi Indonesia
Negara 2001 2002 2003 2004 2005 Average Growth
China 150,9 181,7 220,1 272,5 346,1 18,4% Jepang 102,9 107,7 110,5 112,7 112,8 2,0% USA 901,1 91,6 91,3 98,5 102,0 2,8% CIS 97,2 99,9 106,2 118,8 115,2 3,0% Korea Selatan 43,9 45,4 46,3 47,5 46,9 1,6 % India 27,3 28,8 31,8 32,6 39,5 8,2 % Others 337,7 347,9 363,8 374,4 362,5 - World 850,0 903,0 970,0 1,057,0 1,125,0 - Indonesia 2,6 2,5 2,0 2,6 2,6 1,3%
Sumber: IISI Goldman Sachs Research Estimates (Juta MT)
Sekitar tahun 1995-1997 Industri Baja Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN, produksi mencapai 5,5 Juta ton. Akibat krisis ekonomi Industri Baja Indonesia terus menurun dan tertinggal oleh Malaysia (5,9 Juta MT), Thailand (9 Juta MT), dan Indonesia hanya 4,2 Juta MT pada tahun 2004.
Dari tabel di bawah terlihat bahwa kelebihan sisa produksi dari negara-negara produsen akan membanjiri negara-negara lainnya termasuk Indonesia. Hal ini akan mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan perusahaan produsen baja nasional.
Oleh sebab itu, untuk melindungi industri baja dari serbuan barang impor, pemerintah Malaysia menggunakan A/P (Approval Permit) dan Thailand menggunakan TIS (Thailand Industrial Standart). Indonesia juga memberlakukan Standar baja tulangan beton sebagaimana telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 256/M/SK/II/1979.
Tabel 3 Kebutuhan Penggunaan Baja Dunia
Negara 2001 2002 2003 2004 2005 Average Growth
China 174,2 211,2 257,0 290,0 327,7 13,8% Jepang 73,2 71,7 73,7 71,9 73,4 0,8% USA 101,6 102,9 106,2 112,3 115,1 2,4% CIS 47,2 45,2 46,0 50,2 53,3 2,6% Korea Selatan 38,3 43,7 45,9 47,7 48,8 5,0% India 27,1 29,0 31,0 33,0 36,2 6,0% World 780,0 831,0 884,0 971,0 998,0 -
Sumber IISI Goldman Sachs Research Estimates (Juta MT) Keputusan tersebut memberlakukan secara
wajib SII 0136-1975. Namun standar tersebut telah mengalami beberapa kali revisi, berawal dari SII 1975 direvisi menjadi SII 0136-1984, kemudian dengan berubahnya semua SII menjadi SNI, standar ini berubah penomorannya menjadi SNI 07-2052-1990. Setelah itu dilakukan revisi tahun 1997 menjadi SNI 07-2052-1997, dan yang terakhir adalah SNI 07-2052-2002.
Pada saat ini, dengan pertimbangan untuk menjamin mutu hasil produksi serta untuk mencapai daya guna produksi dan melindungi konsumen terhadap mutu produk, Departemen Perindustrian berencana akan meregulasi ulang produk baja tulangan beton.
Tindakan Non Tariff Barriers ini tidak bertentangan dengan ketentuan WTO.
Tabel 4 Selisih Produksi dengan Kebutuhan dari Negara Produsen Baja Dunia
Negara 2001 2002 2003 2004 2005 China (23.3) (29.5) (36.9) (17.5) 18.4 Jepang 29.7 36.0 36.8 40.8 39.4 USA 799.5 (11.3) (14.9) (13.8) (13.1) CIS 50.0 54.7 60.2 68.6 61.9 Korea Selatan 5.6 1.7 0.4 (0.2) (1.9) India 0.2 (0.2) 0.8 (0.4) 3.3 World 70.0 72.0 86.0 86.0 127.0 931.7 123.4 132.4 163.5 235.0 Sumber IISI Goldman Sachs Research Estimates, diolah kembali
3. ANALISIS PENGUJIAN 3.1 Identifikasi Produk Baja
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim dari BSN diketahui bahwa pedagang tidak mengetahui tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) baja yang dijual. Pada umumnya, produk baja dipasok oleh distributor, namun ada juga yang langsung dari pabrik apabila terdapat pesanan dengan skala yang besar.
Baja tulangan beton yang banyak diminati konsumen adalah yang berdiameter 8 mm biasa yang dipergunakan untuk perbaikan rumah. Untuk bangunan bertingkat umumnya menggunakan baja tulangan beton berdiameter
8 mm penuh dan 10 mm biasa. Dalam
proyek-proyek pembangunan gedung biasanya digunakan baja ulir yang berdiameter 12 mm, 14 mm dan ukuran yang lebih besar yang langsung dipesan atau dibeli dari pabrik.
3.2 Identifikasi Tingkat Kesesuaian dengan SNI
Identifikasi tingkat kesesuaian sampel baja tulangan beton dengan SNI bertujuan untuk mengetahui karakteristik apa yang sesuai atau tidak sesuai dengan persyaratan SNI. Hal ini agar dapat memberikan gambaran sifat-sifat baja tulangan beton yang perlu mendapatkan perhatian untuk perbaikan.
SNI 07-2052-2002 antara lain mengatur syarat mutu produk baja tulangan beton yang meliputi: sifat tampak, bentuk, ukuran dan toleransi, sifat mekanis, dan penandaan/label. 1) Sifat tampak
Baja tulangan beton tidak boleh mengandung serpihan, lipatan, retakan, gelombang, cerna yang dalam dan hanya diperkenankan berkarat ringan pada permukaan.
2) Ukuran
Persyaratan yang diatur mengenai ukuran baja tulangan beton meliputi diameter, berat dan ukuran sirip, Ukuran sirip hanya untuk baja tulangan beton jenis sirip. Diameter baja tulangan beton bervariasi antara 6mm – 50mm. masing-masing memiliki karakteristik sesuai dengan diameter dan berat nominal (kg/m). Standar juga mensyaratkan toleransi ukuran yang dapat diterima.
3) Sifat mekanis
Sifat mekanis meliputi batas ulur, kuat tarik, regang, dan uji lengkung. Pengelompokan sifat mekanis ditentukan berdasarkan kelas baja tulangan beton. Untuk uji tarik menggunakan SNI 07-0408-1989 dan batang uji menggunakan SNI 07-0371-1998. 4) Penandaan
Pemberian tanda pada produk baja tulangan beton dengan huruf timbul yang menunjukkan inisial pabrik dan ukuran diameter nominal. serta pada setiap ujung-ujung penampangnya diberi warna yang tidak mudah hilang sesuai dengan kelas baja.
Penentuan kelas baja dalam SNI 07-2052-2002 didasarkan pada tingkat kekuatan baja. yang dijadikan acuan dalam jenis penggunaannya. Misalnya penggunaan baja tulangan beton untuk bangunan yang tidak memerlukan tingkat kekuatan yang tinggi maka tidak membutuhkan baja tulangan beton dengan kelas baja yang tinggi.
Pemberian label juga diberikan pada kemasan baja yang harus mencantumkan nama atau nama singkatan pabrik, ukuran (diameter dan panjang), kelas baja, nomor leburan, nomor seri produksi dan tanggal produksi. dan nomor SNI.
3.3 Pengujian
Pengujian sampel baja tulangan beton meliputi sifat tampak, ukuran dimensi (meliputi panjang, berat, diameter, dan penyimpangan kebundaran), sifat mekanis (meliputi batas ulur, kuat tarik, regang, dan lengkung), dan penandaan (meliputi merek, ukuran diameter, dan kelas).
Pengolahan data hasil pengujian disajikan untuk mengetahui kesesuaian karakteristik sample yang diambil dibandingkan dengan persyaratan SNI 07-2052-2002 Baja Tulangan Beton, selanjutnya dilakukan identifikasi tingkat kesesuaian masing-masing karakteristik tersebut dalam memenuhi persyaratan SNI.
Sebagai contoh berdasarkan hasil penelitian penerapan SNI tahun 2006 hasil pengujian pengambilan sampel baja tulangan beton di Kota Jakarta. disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 5 Contoh Hasil Penelitian Penerapan SNI Tahun 2006 di Kota Jakarta Jumlah sampel per diameter
6 mm 8 mm 10 mm 12 mm Jumlah
8 16 16 10 50
Pengamatan Visual Penandaan (%) Ukuran
Panjang (%)
Merk Ukuran Kelas
100 54 54 0
Jumlah sampel yang sesuai dengan SNI
6mm 8mm 10mm 12mm Jumlah Persentase (%) 0 1 1 0 2 4 Tabel diatas memperlihatkan bahwa dari 50
sampel yang diambil di kota Jakarta secara keseluruhan hanya 4 persen yang memenuhi persyaratan SNI 07-2052-2002. Sedangkan persentasi berdasarkan diameter sampel yang diambil untuk diameter 8 mm dan 10 mm masing-masing 2, sementara untuk diameter yang lain tidak ada yang memenuhi SNI Baja Tulangan Beton.
4. ANALISIS EKONOMI STANDAR BAJA 4.1 Penilaian Ekonomis Standar Baja
Pembahasan nilai ekonomis standar baja dalam makalah ini dihitung secara nasional mencakup dua faktor yaitu faktor penilaian kesesuaian dan faktor penolakan barang impor yang tidak memenuhi standar. Pertama, faktor penilaian kesesuaian adalah faktor selisih biaya penilaian kesesuaiaan dalam meningkatkan nilai jual produk (product value) dengan produk yang dijual tanpa pengujian standar produk terlebih dahulu. Biaya pengujian produk mencakup biaya biaya pengujian produk dan transportasinya.
Produk baja yang belum menerapkan sesuai standar baja dijual dengan harga jual Produk Pra Standar dibandingkan dengan produk baja yang sudah menerapkan sesuai dengan standar baja
dijual dengan harga jual produk standar. Selisih kedua harga tersebut terdapat delta.
∆ = harga jual produk standar – harga jual produk pra standar
Delta ini kita asumsikan: biaya-biaya yang dikelurkan dalam menerapkan standar ditambah value dari nilai standar tersebut. Tetapi penerapan standar perusahaan seperti Sistem Menagement Mutu SNI 19-9000-2000, Sistem Menegemen Mutu Lingkungan SNI 19-14000-2000, training personil, instrument dan sertifikasi dapat kita jadikan modal/investasi perusahaan dalam menciptakan perusahaan yang sehat. Jadi faktor biaya yang dikeluarkan dalam menerapkan standar, yang akan kita bahas adalah biaya pengujian penilaian kesesuaian produk baja. Biaya pengujian kesesuaian produk baja ini adalah biaya yang dikeluarkan dalam menguji produk sesuai dengan aturan dalam pengambilan contoh dan pengujian produk.
Namun berdasarkan letak lokasi perusahaan dan letak lembaga penilaian kesesuaian yang telah diakreditasi KAN relatif dekat sehingga biaya ini bisa diabaikan kecuali perusahaan yang di Sumatera Utara. Jadi untuk menghitung nilai ekonomis dari standar baja dalam faktor penilaian kesesuaian adalah delta standar:
δstandar = ∆ - biaya pengujian produk
Tabel 6 Data Produk Baja Tulangan Beton Indonesia
Item 2001 2002 2003 2004 2005 Produksi 1,532,846 1,641,536 1,688,352 1,652,013 1,983,512 Konsumsi 1,555,647 1,670,354 1,702,183 1,663,702 2,037,764
Ekspor 41,228 28,948 25,117 32,950 43,952
Impor 64,029 57,767 38,948 44,639 98,205
Untuk mengetahui nilai estimasi data produksi, konsumsi, ekspor, impor tahun berikutnya dengan membuat persamaan trend linear menggunakan metode kuadrat terkecil.
Y’=a+bX Dimana:
Y’= data berkala (time series data) X = waktu (hari, minggu, bulan, tahun) a,b = bilangan konstan
Berdasarkan data pada tabel 1 diatas akan diperoleh persamaan trend linear untuk setiap item pada tabel 2, sebagai berikut:
Dari data tabel 9 dan persamaan linear pada tabel 10, dapat kita estimasi data produk baja tulangan beton Indonesia untuk tahun 2006 dan 2007. yang akan ditampilkan pada tabel 11.
Tabel 7 Persamaan Trend Linear untuk Setiap Item
Item Persamaan trend linear Produksi YP’ = 1.699.652 + 68.123.75X
Konsumsi YK’ = 1.725.930 + 71.984.95X
Ekspor YE’ = 34.439 + 608.70X
Impor YI’ = 60.718 + 4.470X
Berdasarkan informasi dari ABBEPSI (Asosiasi Pabrik Billet. Batang Kawat. Besi Beton. dan Profil Seluruh Indonesia) bahwa dari total produksi baja tersebut 40% merupakan baja tulangan berulir yang pada umumnya sudah menerapkan standar dengan baik. Berdasarkan penelitian penerapan baja tulangan beton pada tahun 2006 diperoleh informasi bahwa baja tulangan berulir umumnya diperuntukkan untuk gedung dan pembelian langsung ke pabrik atau distributor besar karena pembelian dalam jumlah
besar. sehingga hal ini tidak termasuk dalam analisa ini.
Tabel 8 Estimasi untuk Setiap Item Produk Baja Tulangan Beton Indonesia
Estimasi Item 2006 2007 Produksi 2.040.270,55 2.176.518,05 Konsumsi 2.085.854,75 2.229.824,65 Ekspor 37.482,50 38.699,90 Impor 83.067,60 92.007,60 (dalam ton)
Jadi sekitar 60% produk baja tulangan beton merupakan baja tulangan beton polos yang umum terdapat di masyarakat secara luas. Apabila dikalikan dengan jumlah konsumsi nasional pada tahun 2007 sekitar 1.337.894,79 ton.
Bentuk baja tulangan beton polos sama dengan bentuk silinder/tabung, maka dapat dihitung volume baja berdasarkan diameter yang beredar dengan menggunakan rumus volume tabung sebagai berikut:
2
r
v
=
π
dimana: v = volume tabung/silinder=
π
konstanta (3.14159265358)r = jari-jari alas tabung (setengah dari diameter tabung)
Bila baja tulangan beton polos yang beredar berdasarkan referensi data hasil penelitian penerapan baja tulangan beton pada tahun 2006, dari sepuluh lokasi penelitian maka kelompok baja tulangan beton berdasarkan diameter dan volume baja tulangan beton serta jumlah konsumsi nasional berdasarkan diameter. Jumlah sampel per diameter (mm)
No
6 8 10 12 Jumlah
Jumlah sampel 64 79 80 53 276
Volume per batang 0.00033929 0.00060319 0.00094248 0.00135717
Volume sampel 0.02171469 0.04765168 0.07539822 0.07192991 0.216694495 Konsumsi nasional
berdasar diameter
4.2 Penilaian Ekonomis Standar Baja dari Faktor Pengujian
Berdasarkan cara pengambilan contoh pada SNI 07-2052-2002, maka bila diasumsikan rata-rata contoh uji yang akan diuji setiap 25 (dua puluh lima) ton adalah 3 (tiga) contoh uji. Maka banyaknya contoh uji yang harus diujikan untuk konsumsi nasional sebagai berikut:
Untuk menghitung biaya pengujian yang dibutuhkan untuk seluruh konsumsi nasional baja tulangan beton, perlu dihitung rata-rata berat baja tulangan beton per batang (berdasarkan rata-rata data survei penelitian penerapan baja tulangan beton tahun 2006), dengan uraian sebagai berikut:
Banyak contoh uji:
x
3
ton
25
ton
79
1.337.894,
contoh uji = 53.515,79contoh uji
≈
53
.
516
contoh uji (pembulatan) Bila biaya uji rata-rata setiap contoh uji Rp.100.000,- (berdasarkan penelitian penerapan baja tulangan beton pada tahun 2006), ditambah biaya transportasi pengiriman sebesar 100% dari biaya pengujian contoh uji rata-rata, total biaya menjadi Rp. 200.000,-. Maka biaya yang dibutuhkan untuk mengujikan semua contoh uji adalah Rp.10.703.200.000,-Volume 276 sampel = 0,216694495 m3
Volume rata-rata per batang = 0,0007851 m3 Menggunakan Bj (berat jenis) baja adalah 7,850 kg/m3 maka
Rata-rata berat baja tulangan beton per batang adalah 6,1632311 kg
Tabel 9 Produk Baja Tulangan Beton Indonesia dalam Jumlah Batang
Estimasi Item 2005 2006 2007 Produksi 321.829.892 331.039.112 353.145.617 Konsumsi 330.632.418 338.435.265 361.794.749 Ekspor 7.131.324 6.081.631 6.279.158 Impor 15.934.012 13.477.930 14.928.468 Ukuran Harga Rata-rata Baja SNI Harga Rata-rata Baja Biasa
8 Rp. 24,600 Rp. 16,000
10 Rp. 34,500 Rp. 24,500
12 Rp. 50,100 Rp. 35,000
Rata-rata Rp. 36,400 Rp. 25,167 Berdasarkan harga hasil survei 2006
Bila kita masukkan ke dalam rumus delta
11,233
25.176
-36.400
=
=
∆
Maka estimasi biaya delta untuk produksi baja yang dihasilkan pada tahun 2007 adalah
11.233 x 353.145.617 = 3.967.000.000.000 (3,967 trilliun)
Keuntungan standar dari produk menerapkan standar setelah dikurangi biaya pengujiannya: Rp.3.967.000.000.000 - Rp.10.703.200.000 = Rp. 3.956.296.800.000
4.3 Penilaian Ekonomis Standar Baja dari Faktor Impor
Berdasarkan informasi ABBEPSI bahwa 60% dari total produk baja merupakan baja tulangan
polos dan berdasarkan hasil penelitian penerapan baja tulangan beton pada tahun 2006 dapat disampaikan bahwa sekitar 60% produk impor merupakan baja tulangan polos dan tidak menerapkan standar. Hal ini merupakan kerugian nasional sekaligus merupakan nilai ekonomis dari standar baja, dimana produk tersebut tidak dapat masuk pasar karena harus mengikuti regulasi yang mewajibkan menerapkan standar baja.
Berdasarkan hasil estimasi impor produk baja tulangan beton pada Tabel 11 dan Tabel 12 dapat dihitung jumlah produk baja tulangan beton yang tidak sesuai SNI (dalam jumlah batang) adalah:
Maka nilai ekonomis standar baja dari faktor impor yang seharusnya dihasilkan pada tahun 2007 dengan menolak produk tersebut adalah: = 8.957.081 x Rp. 20.722 = Rp.185.608.628.338 (185 milyar)
Ukuran Harga Rata-rata Baja Impor 8 Rp 23.611 10 Rp 23.000 12 Rp 15.556 Rata-rata Rp 20.722 Berdasarkan harga hasil survei 2006
Total nilai ekonomis standar baja dari kedua faktor adalah:
= nilai ekonomis faktor pengujian + nilai ekonomis faktor impor
= Rp. 3.956.296.800.000 + Rp.185.608.628.338 = Rp. 4.141.905.428.338
Apabila tidak ada beredar lagi produk lokal ataupun impor yang sub-standar maka dampak ekonomi penerapan standar baja secara total adalah Rp. 4.141.905.428.338.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
a. SNI 07-2052-2002 telah cukup dapat mengakomodasi kepentingan sesuai dengan penggunaannya. namun masih perlu dilakukan penyempurnaan sebagai berikut: • Syarat penandaan pada kemasan perlu
didefinisikan secara konkret untuk memperkecil peluang terjadinya penyalahgunaan informasi pada konsumen.
• Perlu diharmonisasi dengan standar Internasional agar memperlancar dalam proses notifikasi ke WTO.
• Perlu dilakukan sosialisasi SNI kepada semua pihak yang terkait (penghuji. aparat penegak hukum. lembaga pembina dan pelaku usaha).
b. Produsen cukup merasakan manfaatnya dari menerapkan SNI, apalagi apabila produk non standar/ilegal tidak beredar di pasar. c. Penerapan standar baja secara benar akan
berdampak terhadap ekonomi nasional yang cukup signifikan sebesar Rp. 4.141.905.428.338. Hal ini tercapai apabila tidak ada beredar lagi produk lokal ataupun impor yang sub-standar.
d. Oleh sebab itu, program pengawasan pasar oleh instansi terkait perlu dilaksanakan secara efektif melalui :
• Pembinaan oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah dalam penerapan SNI Baja Tulangan Beton yang perlu ditingkatkan.
• Penegakan hukum bagi produk atau produsen yang tidak memenuhi SNI
• Kebijakan pemerintah untuk
menumbuhkembangkan ketersediaan dan kemampuan Lembaga Penilaian Kesesuaian antara lain pemberian insentif
DAFTAR PUSTAKA
1 Puslitbang, 2007, Jurnal Standardisasi Vol.9 No.1 Maret 2007, Evaluasi Penerapan Baja Tulangan Beton di Indonesia. Jakarta 2 Peraturan Menteri Perindustrian
19/M-IND/PER/5/2006
3 Peraturan Menteri Perindustrian 20/M-IND/PER/5/2006
4 SNI 07-2052-2002. Baja Tulangan Beton. BSN
5 Suhartono. H. Agus. 2006. Pengambilan Contoh dan Pengujian Baja Tulangan Beton. B2TKS. BPPT
6 Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa. 2005. Laporan Akhir Pengawasan Produk Baja Tulangan Beton yang Beredar di Pasar. Departemen Perdagangan
BIODATA
Biatna Dulbert T, lahir di Sidikalang tanggal 3 Desember 1976. Menamatkan jenjang S1 jurusan Statistika di Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 2000. Saat ini bekerja sebagai peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Standardisasi, Badan Standar-disasi Nasional.
Denny Wahyudi, lahir di Jakarta tanggal 28 Juli 1975. Menamatkan pendidikan Akuntansi (S1) di Universitas Pembangunan Nasional Jakarta pada tahun 1998. Saat ini bekerja di Biro Hukum, Organisasi, dan Humas, Badan Standardisasi Nasional.
KAJIAN APLIKASI TEPUNG SAGU
Bambang HaryantoAbstract
The demand of sago flour as raw material for food industries is increased along with the increase wheat flour’s price. On one hand, food industries -especially sohun industry- uses wet sago. On the other hand, the large-scale trading tends to use the dried sago. Until now, the benchmarks that usually applied in sago trading are color, particle size and viscosity. Nowadays, Indonesia has a standard for sago flour, which refers to the Indonesian National Standard (SNI) 01-3729-1995. On December 2007, the final draft of Indonesian National Standard (RASNI) was proposed in order to update the SNI 01-3729-1995. SNI’s document was created based on the clauses that protect the interest of each stakeholder. In he practical trading of sago flour however, the SNI could not protect the interest buyers, especially the foreign one, In the former SNI and RASNI, indicators such as viscosity and color are still qualitatively mentioned. This could lead to the misinterpretation among stakeholders. Along with the increase of the sago demand from abroad, it is necessary to develop the exact standard of sago flour, which directly pointed the sago’s characteristics such color, particle size and viscosity.
Keywords: sago, standard, process
1. PENDAHULUAN
Meningkatnya harga terigu di pasaran dunia mengakibatkan harga sagu di dalam negeri juga meningkat. Selama ini bahan baku sagu digunakan sebagai bahan baku pembuatan sohun. Pasokan sagu berasal dari Selat Panjang Riau dan dikirim ke Cirebon. Kegiatan in telah berlangsung sejak jaman Jepang dan berjalan secara turun temurun (Takaya, 1986). Pada umumnya industri sagu di Riau merupakan industri kecil yang memproduksi sagu dan dijual dalam bentuk sagu basah ke Cirebon. Selanjutnya melalui pelabuhan di Cirebon sagu dari Selat Panjang tersebut didistribusikan ke berbagai daerah baik ke Jawa Tengah maupun Jawa Barat untuk memasok industri sohun (Haryanto, 2004).
Haryanto B, (1988) melaporkan tentang evaluasi pati sagu dari beberapa daerah dan berupaya membandingkan antara sagu dari Bogor, sagu dari Riau dan sagu produksi dari Serawak; Parameter yang dijadikan acuan waktu itu adalah kadar air, kadar abu, kadar serat, warna putih, ukuran partikel yang dalam hal ini diukur dalam mesh. Pertimbangan asal lokasi tersebut menggambarkan proses produksinya. Dari hasil tersebut ternyata sagu dari Serawak lebih unggul baik warna, maupun parameter lainnya. Berdasarkan informasi ini menggambarkan bahwa proses sangat berpengaruh terhadap hasil pati sagu yang diperoleh.
Dalam penggunaan pati sagu lebih lanjut sagu basah tersebut dicuci beberapa kali sehingga standar warna menjadi sangat penting sebagai acuan. Dalam praktek dilapangan
pembeli dan penjual menggunakan standar warna yang menggunakan standar visual. Perbedaan warna dan kadar air menjadi patokan harga jual sagu.
Berkaitan dengan penerapan SNI tersebut, tampaknya kurang dimanfaatkan oleh pelaku di lapangan karena kurang praktis dan kurang menyentuh pada penggunaan lebih lanjut. Oleh karena itu tulisan ini mencoba mengkaji agar SNI yang tersedia tersebut dapat memiliki kekuatan bagi pihak pembeli maupun penjual. Tujuan dari kajian ini adalah menambahkan parameter yang justru digunakan dalam praktek di lapangan dengan harapan suatu saat SNI tersebut dapat dijadikan sebagai acuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan
2. METODE KAJIAN
Dalam kajian ini metoda yang digunakan adalah mempelajari SNI 01-3729-1995 dan RASNI serta membandingkan kondisi di lapangan dan sebagai acuan juga melihat standar dari negara lain. Analisis dilakukan terhadap parameter-parameter yang menentukan dan standar yang tersedia dan mencermati kemungkinan beberapa hal yang perlu ditambahkan agar SNI menjadi pegangan berbagai pihak yang terlibat menggunakan sagu
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
SNI untuk tepung sagu ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional pada tahun 1995 dan diusulkan untuk diperbarui dengan RASNI tahun 2007 yang disajikan pada Tabel 1
Tabel 1 Syarat Mutu Tepung Sagu SNI 01-3729-1995 dan RASNI Tepung Sagu yang Diusulkan Kriteria Uji SNI 01-3729-1995 RASNI
Satuan Persyaratan Satuan Persyaratan 1. Keadaan 1.1. Bau 1.2. Warna 1.3. Rasa 1.4. Bentuk - - - Normal Normal Normal - - - - Normal (bebas dari bau asing) Putih khas sagu
Normal Serbuk halus
2. Benda asing - Tidak boleh ada - Tidak ada
3. Serangga (dalam segala bentuk stadia dan
potongan-potongan) - Tidak oleh ada - Tidak oleh ada
4. Jenis pati lain selain pati
sagu - Tidak boleh ada - Tidak boleh ada
5. Kadar Air % (b/b) Maks 13 % (b/b) Maks 13
6. Kadar abu % (b/b) Maks 0.5 % (b/b) Maks 0.5
7. Kadar pati - - % Min 65
8. Kadar Serat Kasar % (b/b) Maks 0,1 % (b/b) Maks 0,5
9. Derajat asam Ml NaOH 1 N/100 gr Maks 4,0 Ml NaOH 1 N/100 gr Maks 4.0
10. Residu SO2 Mg/kg Maks 30 Mg/kg Maks 30
11. Bahan tambahan
makanan (bahan pemutih) - Sesuai SNI 01-0222-dengan 1995
- - 12. Kehalusan, lolos ayakan
100 mesh % (bb) Min 95 % (bb) Min 95
13. Cemaran Logam 13.1. Timbal (Pb) 13.2. Tembaga (Cu) 13.3. Seng (Zn) 13.4. Raksa (Hg) mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg Maks 1,0 Maks 10,0 Maks 40,0 Maks 0,05 mg/kg mg/kg - mg/kg Maks 1,0 Maks 10,0 - Maks 0,05
14. Cemaran Arsen (As) Mg/kg Maks 0,50 Mg/kg Maks 0,50
15. Cemaran mikroba 15.1. Angka lempengan total 15.2. E. Coli 15.3. Kapang Koloni/g APM/g Koloni/g Maks 106 Maks 10 Maks 104 Koloni/g APM/g Koloni/g Maks 10 6 Maks 10 Maks 104 Berdasarkan Tabel 1 terlihat banyak hal
yang sifatnya masih kualitatif dan tidak secara tegas disebut angkanya, seperti warna, bau, dan sebagainya. Warna dapat dibandingkan dengan warna putih dari BaSO4 dan saat ini telah tersedia peralatan pengukur derajat putih dengan Whiteness. Seyogyanya warna disebut dalam skala sehingga lebih dapat dikuantitatifkan. Seharusnya dalam RASNI dicantumkan nilai-nilai yang lebih terukur dalam bentuk angka sehingga masing-masing pihak yang berkepentingan dengan sagu memiliki presepsi yang sama.
Selanjutnya bila dicermati lebih dalam pada RASNI 2007 dan SNI 01-3729-1995 secara fakta
tidak ada perubahan yang signifikan apalagi pembaharuan. Dipihak lain justru malah terdapat kecenderungan kemunduran. Hal ini terlihat dengan tidak dicantumkannya unsur seng (Zn) dalam golongan pencemaran logam, padahal sebelumnya masuk sebagai kriteria penilaian. Kemudian kadar serat yang sebelumnya pada SNI 01-3729-1995 mensyaratkan kadar serat 0,1% pada RASNI 2007 kadar serat menjadi 0,5%. Perubahan nilai ini diduga bahwa selama ini kadar serat yang ditentukan terlalu kecil, padahal tingkat teknologi pengolahan sagu di Indonesia masih dilakukan pada tataran tradisionil dan kearah semi mekanis. Karena itu kadar serat cenderung lebih tinggi. Sebaiknya
untuk penetapan kadar serat ini juga dapat menengok standar sagu di negeri tetangga Malaysia yang menetapkan kadar serat justru 1%.
Lebih lanjut bila mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) memang standar perlu dilengkapi misalnya viskositas yang diukur puncaknya dengan alat Amylograp. Hal ini penting mengingat umumnya pati sagu di Indonesia digunakan untuk sohun dimana mutu sohun yang dihasilkan akan dipengaruhi oleh tingkat viskositas pati sagunya. Dipihak lain
puncak viskositas juga dipengaruhi bahan baku tersebut apakah berasal dari sagu yang tingkat ketuaannya sudah optimal atau masih terlalu muda atau lewat tua. Sebagai gambaran standar industri pati sagu dari Malaysia dicantumkan pada Tabel 2. Pada tabel tersebut terlihat bahwa hal-hal yang dicantumkan dalam persyaratan standar menunjukan parameter yang langsung memberi pengaruh terhadap kualitas sagu, meski warna yang merupakan parameter yang paling mudah dilihat dengan panca indera belum dicantumkan.
Tabel 2 Standar Industri Sagu di Malaysia
No Parameter Nilai
1 Kandunganpati (%) 80
2 Kadar air (%) 14
3 Total kadar abu (%) 0.5
4 Kadar Serat 1.0
5 pH 4.5-6.5
6 Ukuran partikel (lewat 120 mesh) 80
Sumber: Sim Jefery (1986)
Haryanto B (1993) melakukan penelitian tentang standar pati sagu untuk industri kecil dan besar. Waktu itu sampel diperoleh dari industri Riau yang mewakili industri kecil, kemudian industri besar diambil dari Sagindo Sari Lestari di Sorong, dan sagu produksi Inhutani mewakili industri besar. Sebagai acuan dibandingkan dengan pati sagu produksi Serawak. Parameter yang diperiksa adalah kadar air, kadar serat, kadar abu, kehalusan dan warna. Ternyata hasil yang diperoleh antara pati sagu hasil industri
kecil dan besar sangatlah berbeda untuk parameter kadar air dan kehalusan. Tetapi jika dibandingkan pati sagu, maka pati hasil industri kecil dan besar di Indonesia, nilai parameter yang dinilai jauh dengan nilai dengan Serawak. Berdasarkan hasil tersebut, waktu itu penulis mengusulkan untuk membedakan standar untuk industri kecil dan industri besar, seperti pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3 Usulan Standar Mutu Pati Sagu Produk Industri Kecil dan Besar No Parameter Industri besar Industri kecil
1 Kadar air (% maks) 13 17
2 Kadar abu (% maks) 0,5 0,5
3 Kadar pati (%) 81 81
4 Kadar serat (%) 0,5 0,6
5 Warna putih 84 75
6 Kehalusan (lewat saringan 100
mesh) 100 80
7 Viskositas/kekentalan (BU) 540 500
8 Kadar SO2 (ppm) maks 100 -
Sumber Haryanto B (1993)
Kaitannya dengan standar pati sagu perlu menggabungkan antara standar SNI yang telah diperbarui dengan parameter yang lain dari unsur pati yang dapat membahayakan.
Pada tahun-tahun kedepan peran sagu menjadi penting mengingat harga pangan katbohidrat terus meningkat harganya. Karena
itu peran standar menjadi sangat penting keberadaanya.
Dengan semakin mahalnya harga terigu, masyarakat akan cenderung beralih ke sohun. Karena itu permintaan pati sagu dan sohun akan meningkat. Dengan sendirinya permintaan kaporit akan meningkat.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pencermatan RASNI 2007 dan SNI 01-3729-1995 maka diperoleh hasil sebagai berikut :
a. RASNI 2007 dan SNI 01-3729-1995 tidak memberi informasi baru yang berarti, dan malah terdapat kesan kemunduran bagi pelaku di lapangan.
b. Beberapa parameter di RASNI 2007 masih dinyatakan dalam bentuk kualitatif yang kemungkinan mengundang presepsi sangat besar.
c. Sebaiknya nilai kualitatif dinyatakan dalam bentuk kuantitatif
d. Perlu penambahan parameter yang langsung terlihat dianyatakan dalam nilai nominal seperti warna, ataupun viskositas. e. Pencantuman nilai kuantitatif kedepan perlu
diupayakan agar produk sagu kita dapat bersaing dengan produk sagu dari Malaysia. f. Untuk melindungi industri yang di Indonesia
ini terdapat industri skala besar dan kecil perlu dicantumkan juga pada tingkatan skala yang berbeda dan standarnyapun juga berbeda
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonimous, 1995. Tepung Sagu. Standar Nasional Indonesia. SNI 01-3729-1995. Dewan Standar Nasional. Jakarta
2. Anonimous, 2007. Tepung Sagu.
Rancangan Akhir Standar Nasional
Indonesia. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
3. Haryanto, B. 1988. Kualitas pati sagu asal Bogor, Riau dan Serawak. Majalah Insinyur Indonesia. Jakarta
4. Haryanto, B. 1993, Evaluasi Kualitas Pati Sagu Produksi Industri Kecil dan Besar di Indonesia. Majalah BPPT No LVI/1993. Jakarta
5. Haryanto, B. 2004. Survei sagu di distributor Cirebon (tidak dipublikasikan). BPPT. Jakarta
6. Takaya, Y. 1986. Sago Production at Desa Tanjung, Riau Sumatra. It past and prospects. Proceeding The third International Sago Symposium. Tokyo.
7. Sim Jefery. 1986. Sago Industry in the State Serawak Malaysia. Proceeding The third International Sago Symposium. Tokyo
BIODATA
Bambang Haryanto, dilahirkan di Kendal pada tanggal 17 Maret 1954. Penulis menamatkan pendidikan terakhir S3 bidang Teknik Pertanian. Penulis adalah peneliti dengan bidang kepakaran ilmu keteknikan pertanian/pangan. Penulis mempunyai beberapa pengalaman dalam membuat kajian/studi dan instruktur pelatihan, diantaranya menjadi Tim Kajian Pengembangan Agro Tekno Park Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.