GAMBARAN HEMATOLOGI ANJING PELACAK OPERASIONAL RAS GOLDEN RETRIEVER DI SUBDIREKTORAT SATWA POLRI DEPOK GALUH TYAS UTAMI B

56 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

GAMBARAN HEMATOLOGI ANJING PELACAK OPERASIONAL RAS GOLDEN RETRIEVER DI SUBDIREKTORAT SATWA POLRI DEPOK

GALUH TYAS UTAMI B04103132

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

 

RINGKASAN

GALUH TYAS UTAMI. Gambaran Hematologi Anjing Pelacak Operasional Ras Golden Retriever di Subdirektorat Satwa POLRI Depok. Dibimbing oleh ARYANI SISMIN SATYANINGTIJAS dan HERA MAHESHWARI.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hematologi pada anjing ras Golden Retriever yang merupakan anjing pelacak di Subdirektorat Satwa Kepolisian Republik Indonesia yang terletak di daerah Depok. Parameter yang diamati adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai PCV, nilai MCV, nilai MCH, nilai MCHC, jumlah leukosit, dan diferensiasi leukosit. Sampel darah diambil dua kali dalam selang waktu dua minggu dan dalam kondisi yang sama. Hasil penelitian yang diperoleh adalah rata-rata jumlah eritrosit (5,02 ± 0,90) x 106/mm3, rata-rata kadar hemoglobin (9,61 ± 1,12) gr%, rata-rata nilai PCV (30,00 ± 6,30) %, rata-rata nilai MCV (61,98 ± 13,11) fL, rata-rata nilai MCH (20,17 ± 4,01) pg, rata-rata nilai MCHC (32,66 ± 3,32) gr/dL, rata-rata jumlah leukosit (10,90±2,57) x 103/mm3, rata-rata jumlah neutrofil (6,38±1,67) x 103/mm3, rata-rata jumlah eosinofil (0,59±0,89) x 103/mm3, rata-rata jumlah basofil 0, rata-rata jumlah limfosit (3,74±1,72) x 103/mm3, dan rata-rata jumlah monosit (0,07±0,05) x 103/mm3. Terjadinya anemia dan eosinofilia diduga disebabkan oleh adanya infestasi caplak, sedangkan terjadinya limfositosis diduga karena faktor stress akibat latihan atau kerja yang berat.

(3)

 

GAMBARAN HEMATOLOGI ANJING PELACAK OPERASIONAL RAS GOLDEN RETRIEVER DI SUBDIREKTORAT SATWA POLRI DEPOK

GALUH TYAS UTAMI B04103132

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran Hewan

di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

(4)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : GAMBARAN HEMATOLOGI ANJING PELACAK OPERASIONAL RAS GOLDEN RETRIEVER DI SUBDIREKTORAT SATWA POLRI DEPOK NAMA : GALUH TYAS UTAMI

NRP : B04103132

Menyetujui,

Dr. drh. Aryani Sismin S, MSc Dr. drh. Hera Maheshwari, MSc Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Mengetahui,

Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS Wakil Dekan

(5)

 

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Surabaya pada tanggal 5 November 1985 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Ir. Adjar Sandjojo, MBA dan Ibu Ir. Ni Nengah Himawati.

Pendidikan penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina pada tahun 1990-1991, Sekolah Dasar Negeri 11 Manado pada tahun 1991-1992, Sekolah Dasar Swasta Saraswati Bali pada tahun 1992, Sekolah Dasar Negeri Pulogebang 20 Pagi Jakarta pada tahun 1992-1996, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 172 Jakarta pada tahun 1996-1999, kemudian Sekolah Menengah Umum Negeri 21 Jakarta pada tahun 1999-2003.

Pada tahun 2003, penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis pernah aktif dalam organisasi Himpunan Minat dan Profesi (Himpro) Hewan Kesayangan dan Satwa Akuatik, Himpro Satwaliar, Forum Ilmiah Mahasiswa (FIM) FKH IPB, Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI), Veterinary English Club (VEC), dan Komunitas Seni STERIL.

(6)

PRAKATA

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, berkat kasih sayang dan kuasa Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Hematologi Anjing Pelacak Operasional Ras Golden Retriever di Subdirektorat Satwa POLRI Depok”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. drh. Aryani Sismin Satyaningtijas, MSc dan Ibu Dr. drh. Hera Maheshwari, MSc selaku dosen pembimbing skripsi yang senantiasa memberikan bimbingan, saran, dan nasihat kepada penulis dari awal penelitian hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Rasa terima kasih juga penulis persembahkan dengan penuh hormat kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, serta Adik tersayang yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, semangat, bantuan, dan dukungan yang begitu besar kepada penulis, baik secara moril maupun materiil.

Penulis juga berterima kasih kepada Bapak Ajun Komisaris Polisi drh. R. Chaindraprasto Saleh, Bripda Wahyu, dan segenap staf di Subdirektorat Satwa POLRI Depok yang telah memberikan banyak bantuan dan kemudahan sehingga penulis dapat menjalankan penelitian dengan lancar.

Terima kasih pula kepada seluruh staf Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor atas kerjasama dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

Ungkapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Dr. drh. Anita Esfandiari, MSi selaku dosen penilai atas saran dan nasihat yang telah diberikan.

Penulis juga berterimakasih kepada Ibu Dr. drh. Sri Murtini, MSi selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Terima kasih kepada Umar Salim Hasibuan yang senantiasa memberi semangat, dukungan, bantuan, dan kasih sayang kepada penulis.

Ucapan terima kasih tak lupa penulis haturkan kepada rekan-rekan sepenelitian (Fitri Patmawati dan Gita Widarti Anggayasti) atas kerjasama yang baik dan menyenangkan, serta Giffar Rahman Ajji atas segala bantuan yang telah diberikan. Kepada teman-teman sepermainan (Cecedug, MC, Hani, K8 dkk), seluruh teman-teman angkatan 40, serta teman-teman kost (Jijah, Achy, mbak Erni, mbak Yuli, mbak Ratih, mbak Aline, mbak Kiki, mbak Dian), penulis berterima kasih atas kebersamaan yang indah selama ini. Semoga persahabatan kita tetap terjalin dengan baik.

Skripsi ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, namun penulis tetap berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia kedokteran hewan.

(7)

Penulis DAFTAR ISI Halaman PRAKATA... .  i DAFTAR ISI...  ii DAFTAR TABEL...  iv DAFTAR GAMBAR...  v DAFTAR LAMPIRAN...  vi   PENDAHULUAN  Latar Belakang...  Tujuan Penelitian...  Manfaat Penelitian...  1 2 2   TINJAUAN PUSTAKA Darah...  3 Eritrosit...  5 MCV...  MCH...  MCHC...  8 9 9 Leukosit...  Neutrofil...  Eosinofil...  Basofil...  Limfosit...  Monosit...  10 10 11 12 12 13 Trombosit...  14 Plasma Darah...  15 Anjing...  16 Klasifikasi Anjing...  Asal-usul Anjing...  Sejarah Pemanfaatan Anjing oleh Manusia...  Kehebatan Indera Penciuman Anjing...  Jenis-jenis Anjing...  Anjing Pelacak...  Golden Retriever...  16 16 17 17 19 20 20 METODE  Pengambilan Sampel...  Parameter Penelitian...  Penghitungan Jumlah Eritrosit...  Kadar Hemoglobin...  PCV atau Hematokrit...  MCV...  22 22 22 24 24 25

(8)

MCH...  MCHC...  Penghitungan Jumlah Leukosit...  Diferensiasi Leukosit...  25 26 26 27  

HASIL DAN PEMBAHASAN... 29  

KESIMPULAN DAN SARAN... 37  

DAFTAR PUSTAKA... 38  

LAMPIRAN... 41  

(9)

 

DAFTAR TABEL

1. Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin, dan Nilai PCV... 29 2. Nilai MCV, MCH, dan MCHC... 32 3. Jumlah Leukosit dan Diferensiasi Leukosit... 34

(10)

DAFTAR GAMBAR

1. Skema Hematopoiesis... 4

2. Morfologi Eritrosit pada Anjing... 6

3. Morfologi Neutrofil pada Anjing... 11

4. Morfologi Eosinofil pada Anjing... 12

5. Morfologi Basofil pada Anjing... 12

6. Morfologi Limfosit pada Anjing... 13

7. Morfologi Monosit pada Anjing... 14

8. Morfologi Trombosit pada Anjing... 15

9. Indera Penciuman Anjing... 19

10. Anjing Ras Golden Retriever... 21

11. Kamar Hitung pada Hemositometer... 24

12. Grafik Jumlah Eritrosit... 29

13. Grafik Kadar Hemoglobin... 29

14. Grafik PCV... 29

15. Grafik MCV... 32

16. Grafik MCH... 32

17. Grafik MCHC... 32

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Silsilah Anjing Pelacak Ras Golden Retriever (Halaman Depan)... 41 2. Surat Silsilah Anjing Pelacak Ras Golden Retriever (Halaman Tengah)... 42 3. Surat Silsilah Anjing Pelacak Ras Golden Retriever (Halaman Tengah)... 43 4. Surat Silsilah Anjing Pelacak Ras Golden Retriever (Halaman Belakang)... 44

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Darah adalah cairan ekstraseluler yang beredar dalam tubuh melalui saluran berupa pembuluh darah dan merupakan bagian dari sistem sirkulasi. Fungsi darah antara lain membawa O2 dan CO2 dalam tubuh, membawa nutrisi ke seluruh tubuh, membawa sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh, membawa air dan elektrolit, sebagai pertahanan tubuh melawan penyakit, serta menjaga keseimbangan suhu dan pH tubuh (Swenson and Reece 1993).

Peranan darah terhadap tubuh sangat penting dilihat dari fungsi utamanya sebagai sarana transportasi zat-zat metabolik. Gambaran darah dapat memberikan informasi tentang kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengetahui keadaan darah adalah dengan menganalisa nilai-nilai gambaran darah tersebut. Gambaran darah yang tidak normal dapat mengindikasikan adanya gangguan dalam tubuh.

Salah satu jenis hewan yang memerlukan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya adalah anjing pelacak. Kemampuan istimewanya yang berupa penciuman tajam dimanfaatkan kepolisian untuk membantu jalannya penyelidikan kasus-kasus tertentu seperti pelacakan narkotika atau pembunuhan. Ras anjing yang sering digunakan sebagai anjing pelacak antara lain Golden Retriever, German Shepherd, Rottweiler, Dobermann Pinscher, Labrador Retriever, dan lain-lain. Anjing pelacak yang digunakan memerlukan persiapan khusus sebelum bertugas. Latihan rutin, perawatan, dan pemeriksaan kesehatan akan mempengaruhi kualitas kinerja anjing tersebut.

Golden Retriever terkenal sebagai anjing yang ramah dan bersahabat dengan manusia. Anjing ini sangat populer sebagai hewan peliharaan kesayangan keluarga karena memiliki temperamen lembut dan senang bermain dengan anak-anak. Golden Retriever juga dinilai sebagai salah satu ras yang cocok menjadi anjing pelacak karena memiliki insting dan penciuman yang sangat tajam, gusi yang kuat, dan kecerdasan (Rees 1993).

Pemeriksaan kesehatan anjing pelacak melalui gambaran darah merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Untuk itu diperlukan suatu data

(13)

tentang gambaran darah anjing pelacak sebagai acuan pemeriksaan. Penelitian ini menyajikan data gambaran darah anjing pelacak ras Golden Retriever di Subdirektorat Satwa Kepolisian Republik Indonesia yang terletak di daerah Depok. Data gambaran darah ini diharapkan dapat menjadi indikator saat terjadi suatu penyakit pada anjing Golden Retriever.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah anjing pelacak ras Golden Retriever yang merupakan keturunan dari anjing-anjing impor yang telah didomestikasi di Subdirektorat Satwa POLRI Depok, meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai PCV, nilai MCV, nilai MCH, nilai MCHC, jumlah leukosit, dan diferensiasi leukosit.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data gambaran darah anjing pelacak ras Golden Retriever sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya yang berhubungan dengan penyakit dan diharapkan dapat menjadi informasi mengenai status kesehatan anjing.

                     

(14)

TINJAUAN PUSTAKA

Darah

Darah adalah jaringan cair yang beredar dalam tubuh melalui saluran berupa pembuluh darah (Deldar 1998). Darah berfungsi membawa zat-zat nutrien dari saluran pencernaan ke jaringan tubuh, membawa produk akhir metabolisme dari sel-sel organ ke organ ekskresi, membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan, membawa karbondioksida dari jaringan ke paru-paru, dan mengedarkan sekresi kelenjar endokrin ke seluruh tubuh. Darah juga membantu tubuh mempertahankan suhu, menjaga kestabilan konsentrasi air dan elektrolit dalam sel, mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh, dan sebagai pertahanan terhadap mikroorganisme (Swenson and Reece 1993).

Darah terdiri atas benda-benda darah dan cairan plasma. Benda-benda darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (platelet atau keping-keping darah). Plasma darah terdiri dari 91% air dan 9% zat terlarut (Deldar 1998). Volume darah umumnya mencapai sekitar 8 -10% dari total berat badan (Reece 2006). Pada anjing, volume darah adalah 90 ml per kilogram berat badan (Anonimb

 2007). Volume total darah dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, spesies, berat badan, dan lain-lain. (Clarenburg 1992). Darah umumnya memiliki pH sekitar 7,4. Darah pada pembuluh vena sedikit lebih asam daripada darah arteri. Keasaman yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh kandungan CO2 yang terdapat dalam darah vena. Reaksi antara CO2 dan H2O menghasilkan ion H+ dan HCO

3-. Ion H+ itulah yang mengakibatkan keasaman yang tinggi dan pH yang rendah. Pada anjing, kisaran pH normal adalah 7,31 – 7,42 (Reece 2006).

Proses pembentukan darah disebut hematopoiesis. Pada mamalia, hematopoiesis berawal dari dinding kantung kuning telur (yolk sac) selama masa prenatal. Sel darah primitif bermula dari eritroblastik yang merupakan hasil proliferasi dan diferensiasi sel-sel mesenkim yang kemudian muncul dalam jumlah kecil di kantung kuning telur. Seiring dengan perkembangan embrio, sel-sel hematopoietik bermigrasi ke hati kemudian menetap. Selanjutnya sel-sel-sel-sel induk

(15)

hematopoietik juga tersebar di sumsum tulang, limpa, limfonodus, dan timus embrio dan melakukan hematopoiesis. Pada hewan dewasa, darah dibentuk di sumsum tulang. Aktivitas hematopoiesis bergantung pada kemampuan sumsum tulang untuk menginduksi dan mengendalikan suatu kumpulan sel-sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi bermacam-macam jenis sel darah (Deldar 1998).

Gambar 1. Skema Hematopoiesis Sumber : Deldar (1998)

Jika tubuh hewan mengalami gangguan fisiologis maka gambaran darah dapat mengalami perubahan. Perubahan gambaran darah dapat disebabkan faktor internal seperti pertambahan umur, status gizi, kesehatan, stres, siklus estrus dan suhu tubuh. Faktor eksternal yang dapat menyebabkan perubahan gambaran darah antara lain infeksi kuman, perubahan suhu lingkungan, dan fraktura terbuka (Guyton and Hall 1997).

(16)

Eritrosit

Eritrosit dikenal juga sebagai Red Blood Cell (RBC) atau sel darah merah. Fungsi eritrosit adalah membawa gas-gas berupa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Sepertiga bagian dari eritrosit adalah hemoglobin. Hemoglobin memberi warna merah pada eritrosit dan berperan utama dalam membawa gas-gas tersebut (Clarenburg 1992).

Eritrosit berasal dari sel hemositoblast yang dibentuk secara terus-menerus dari sel induk primordial sumsum tulang. Hemositoblast membentuk eritroblast basofil yang mulai mensintesis hemoglobin, kemudian menjadi eritroblast polikromatofilik yang mengandung campuran zat basofilik dan hemoglobin merah. Selanjutnya, inti sel mengecil sedangkan hemoglobin terbentuk lebih banyak sehingga menjadi normoblast. Normoblast kemudian berubah menjadi retikulosit dimana inti sel lama-kelamaan menghilang, dan sitoplasma terisi hemoglobin dan sedikit retikulum endoplasma basofilik. Retikulosit masuk ke dalam kapiler darah secara diapedesis (menyelip melalui pori membran). Retikulum endoplasma yang tersisa masih membentuk sedikit hemoglobin selama satu atau dua hari, kemudian menghilang. Setelah itu sel menjadi eritrosit matang (Guyton and Hall 1997).

Eritrosit mamalia yang matang tidak memiliki inti sel, mitokondria, lisosom, retikulum endoplasma, dan badan Golgi sehingga tidak dapat mensintesis asam nukleat atau proein dan tidak dapat menggunakan lemak sebagai sumber energi. Akan tetapi eritrosit membutuhkan glukosa sebagai nutrisi untuk memompa ion pada membran plasmanya, mempertahankan bentuk, dan menjalankan fungsi hemoglobin (Clarenburg 1992). Eritrosit mamalia yang matang berbentuk cakram bikonkaf (kedua sisinya cekung). Setiap spesies memiliki tipikal bikonkaf yang bervariasi (Deldar 1998). Bentuk bikonkaf tersebut bertujuan untuk memperluas permukaan eritrosit sehingga mempermudah pertukaran oksigen dan karbondioksida. Untuk memfasilitasi transport karbondioksida, eritrosit memiliki enzim karbonik anhidrase yang mengkatalisasi reaksi dapat balik dari karbondioksida ke bentuk ion-ion bikarbonat sehingga

(17)

karbondioksida dapat dieliminasi dengan cepat dari tubuh ke paru-paru. Pada anjing, bentuk eritrosit yang bikonkaf terlihat jelas (Swenson and Reece 1993).

Eritrosit memiliki ukuran, umur, jumlah, dan bentuk yang bervariasi pada tiap spesies (Swenson and Reece 1993). Anjing merupakan hewan domestik yang memiliki ukuran eritrosit terbesar, yaitu 7 μm (Deldar 1998). Masa hidup eritrosit anjing adalah 100-120 hari (Reece 2006). Jumlah eritrosit normal pada anjing adalah 5,6 - 8,7 juta /mm3 (Foster et al. 2007). Eritrosit anjing berukuran relatif besar, seragam, dan berbentuk cakram bikonkaf. Eritrosit terlihat sebagai sebuah sel yang memiliki daerah berwarna pucat di bagian tengah (Anonime 2007). Komposisi eritrosit pada mamalia dewasa terdiri dari 62 - 72 % air, dan sekitar 35% zat terlarut. Sebagian besar zat terlarut tersebut terdiri atas 95% hemoglobin. Sisanya terdiri dari lemak, enzim, vitamin, dan mineral (Swenson and Reece 1993).

Gambar 2. Morfologi Eritrosit pada Anjing Sumber : Anonime (2007)

Hemoglobin merupakan pigmen yang memberi warna merah pada eritrosit, terdiri dari zat besi (heme) dan protein (globin) (Swenson and Reece 1993). Biosintesis dari hemoglobin dimulai dalam rubrisit (polikromatofil eritroblast) dan dilanjutkan dalam tahap subsekuen dari perkembangan sel. Selama material inti masih ada dalam sel, baik sel berada dalam sumsum tulang ataupun dalam darah yang bersirkulasi, pembentukan hemoglobin terus berlangsung. Retikulosit yang mengandung RNA dan bagian dari nukleus memiliki kemampuan untuk mensintesis hemoglobin (Swenson 1984). Globin terdiri dari empat rantai polipeptida dan masing-masing mengandung satu kelompok heme. Setiap kelompok heme mengandung ion besi yang dapat berikatan dengan satu molekul oksigen (Reece 2006). Hemoglobin seberat 1 gram dapat mengikat oksigen

(18)

sebanyak 1,34 ml (Swenson and Reece 1993). Kadar hemoglobin normal pada anjing adalah 14 - 20 g% (Foster et al. 2007).

Persentase volume eritrosit dari volume keseluruhan darah setelah sentrifugasi dikenal dengan sebutan PCV (Packed Cell Volume) atau hematokrit (Swenson and Reece 1993). Nilai PCV normal pada anjing adalah 40 - 59% (Foster et al. 2007) Nilai PCV menunjukkan ukuran eritrosit (Anonima 2006) dan jumlah eritrosit (Anonim 2005), sehingga mengindikasikan dua kemungkinan, yaitu jumlah eritrosit yang sedikit, atau jumlah eritrosit normal tetapi ukurannya kecil. Peningkatan nilai PCV yang abnormal dapat disebabkan antara lain oleh dehidrasi, asphyxia, atau kegembiraan. Reece dan Wahlstrom menyatakan bahwa kegembiraan pada anjing dapat menyebabkan peningkatan nilai PCV sebesar 9 -13%. Epinefrin yang dihasilkan saat gembira menyebabkan kontraksi limpa sehingga terjadi pelepasan eritrosit (Swenson and Reece 1993).

Peningkatan konsentrasi eritrosit disebut polisitemia. Polisitemia terbagi atas tiga macam, yaitu polisitemia vera atau polisitemia primer, polisitemia sekunder, dan polisitemia relatif. Polisitemia primer merupakan sebuah penyakit pada sel induk hematologi dimana tidak hanya terjadi peningkatan jumlah eritrosit, namun juga terjadi peningkatan granulosit dan trombosit. Polisitemia sekunder adalah sebuah komplikasi dari beberapa jenis penyakit atau kelainan yang megakibatkan peningkatan produksi eritropoietin yang diikuti peningkatan massa eritrosit. Polisitemia relatif merupakan sebuah gejala dimana terjadi penurunan volume plasma darah sehingga seolah-olah terjadi peningkatan massa eritrosit (Rapaport 1987).

Defisiensi eritrosit disebut anemia. Anemia bukanlah suatu penyakit, melainkan sebuah gejala (Rapaport 1987). Anemia dapat disebabkan oleh kehilangan eritrosit dalam jumlah besar atau pembentukan eritrosit yang terlalu lambat. Beberapa hal yang lazim menyebabkan anemia antara lain perdarahan, aplasia sumsum tulang karena keracunan obat atau radiasi sinar gamma, kegagalan pematangan karena defisiensi asam folat atau vitamin B12, dan hemolisis yang dapat disebabkan antara lain oleh keracunan obat, penyakit herediter, atau eritroblastosis fetalis dimana antibodi induk merusak eritrosit dalam tubuh janin. Efek utama anemia pada sistem sirkulasi adalah peningkatan

(19)

beban kerja jantung yang besar dimana curah jantung meningkat dua kali lipat atau lebih dari normal. Hal ini disebabkan oleh turunnya viskositas darah hingga kurang dari setengah kali nilai normalnya sehingga menurunkan resistensi aliran darah ke perifer dan meningkatkan jumlah darah yang kembali ke jantung. Selain itu anemia mengakibatkan hipoksia dimana kekurangan oksigen yang dialami jaringan membuat pembuluh-pembuluh jaringan melebar dan disertai peningkatan pengembalian darah ke jantung jauh lebih tinggi lagi (Guyton and Hall 1997).

Salah satu contoh penyakit pada anjing yang berkaitan dengan eritrosit dan perubahan gambaran darah adalah Immune-Mediated Hemolytic Anemia (IMHA). IMHA adalah suatu kondisi dimana sistem kekebalan anjing menyerang eritrosit dalam tubuhnya sendiri. Eritrosit akan terlapisi oleh protein antibodi yang akan menyebabkan eritrosit tersebut mengalami kerusakan. Akibatnya adalah anemia, dimana jumlah eritrosit dalam peredaran darah akan berkurang secara nyata (Brooks 2005).

Penegakan diagnosa anemia membutuhkan penunjang berupa indeks eritrosit. Indeks eritrosit adalah ketentuan yang dihitung setelah jumlah eritrosit dihitung dan nilai PCV dan konsentrasi hemoglobin telah diketahui. Indeks eritrosit terdiri dari tiga macam, yaitu MCV (Mean Corpuscular Volume), MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin), dan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration). Ketiga indeks tersebut saling berhubungan dan menggambarkan nilai dari sebuah eritrosit (Reece 2006).

MCV (Mean Corpuscular Volume)

MCV adalah perbandingan nilai PCV dengan jumlah eritrosit. MCV mengukur besar rata-rata eritrosit. Pada anjing, nilai MCV normal adalah 50-68 fL (Jain 1993). Nilai MCV yang normal menggambarkan bahwa ukuran eritrosit normal. Nilai MCV yang rendah berarti ukuran eritrositnya lebih kecil dari ukuran normal atau disebut juga anemia mikrositik. Penyebab umum dari anemia mikrositik antara lain defisiensi zat besi, talasemia (penyakit herediter), dan penyakit kronis (Nordenson 2006). Eritrosit yang berukuran kecil merupakan eritrosit tua, sedangkan eritrosit muda berukuran besar. Bila terdapat banyak eritrosit berukuran kecil dalam peredaran darah, maka kemungkinan yang bisa

(20)

terjadi adalah tubuh mengalami kegagalan pembentukan eritrosit. Kegagalan pembentukan eritrosit ini dapat merupakan manifestasi kegagalan organ eritropoiesis yaitu sumsum tulang. Nilai MCV yang besar menunjukkan adanya anemia megaloblastik, dengan sel darah merahnya besar dan berwarna muda. (Anonimc 2007).

  Nilai MCV yang besar dapat juga disebut anemia makrositik, dimana eritrositnya berukuran besar. Sel yang berukuran besar tersebut dapat diakibatkan oleh adanya tahapan pematangan eritrosit yang terlewati dan ditemukan pada kelainan eritropoiesis dengan pematangan inti sel yang abnormal dan juga ketika produksi eritrosit terstimulasi oleh eritropoietin (Rapaport 1987). Penyebab yang lebih umum dari anemia makrositik adalah defisiensi vitamin B12 atau asam folat (Nordenson 2006).

MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)

MCH adalah berat rata-rata hemoglobin yang terkandung dalam sebuah eritrosit (Cunningham 1997). Anjing memiliki kisaran nilai MCH normal yaitu 19,5 – 24,5 pg (Anonimb 2007). Nilai MCH meningkat bila terjadi anemia makrositik, dan menurun pada anemia mikrositik (Anonimd 2007).

MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)

MCHC adalah konsentrasi hemoglobin yang terkandung dalam tiap desiliter eritrosit (Cunningham 1997). Nilai MCHC didapat dari perbandingan kadar hemoglobin dengan nilai PCV. Nilai MCHC normal pada anjing adalah 32 -36 g% (Jain 1993). Nilai normal MCHC mengacu pada normokromik dan jika lebih rendah dari normal maka hipokromik (Meyer et al. 1992). Nilai MCHC yang rendah menunjukkan bahwa eritrosit berwarna pucat (hipokromik) pada anemia mikrositik dan nilai MCHC yang normal (normokromik) pada anemia hipokromik. Pada eritrosit yang berukuran besar, walaupun jumlah hemoglobin atau nilai MCH tinggi, namun konsentrasinya masih normal (Anonimd 2007). Tidak ada istilah hiperkromik karena terbatasnya jumlah hemoglobin yang bisa termuat dalam sebuah eritrosit (Nordenson 2006). Nilai MCHC yang rendah dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin, gangguan sintesis eritrosit, atau

(21)

keadaan darah yang encer akibat peningkatan cairan plasma atau kehilangan sejumlah eritrosit (Cunningham 1997).

Leukosit

Leukosit berfungsi untuk mempertahankan tubuh dari serangan agen-agen patogen, zat racun, dan menyingkirkan sel-sel rusak atau abnormal (Kelly 1984). Pertahanan tubuh ini dilakukan melalui dua cara yaitu menghancurkan agen penyerang dengan proses fagositosis, serta membentuk antibodi dan limfosit yang disensitifkan (Guyton and Hall 1997). Jumlah leukosit dalam peredaran darah sangat kecil bila dibandingkan dengan eritrosit. Pada anjing, perbandingan jumlah antara eritrosit dan leukosit adalah 600:1 (Swenson and Reece 1993). Jumlah leukosit pada anjing berkisar antara 6.000 - 17.000/mm3 (Jain 1993). Leukosit dibedakan menjadi granulosit dan agranulosit. Granulosit memiliki ciri-ciri berupa adanya granula-granula pada sitoplasmanya. Berdasarkan reaksinya terhadap eosin, granulosit terbagi dalam 3 macam yaitu neutrofil, eosinofil, dan basofil. Agranulosit terbagi dalam 2 macam yaitu limfosit dan monosit (Swenson and Reece 1993).

Leukosit memiliki masa hidup yang relatif singkat. Granulosit berada dalam darah selama 6-20 jam, sedangkan pada jaringan sekitar 2 - 3 hari. Monosit berada dalam pembuluh darah selama 24 jam atau kurang, namun di dalam jaringan dapat mencapai beberapa bulan. Limfosit memiliki masa hidup yang bervariasi. Masa hidup limfosit T cenderung lama yaitu 100-200 hari, sedangkan limfosit B cenderung singkat yaitu 2 - 4 hari. Akan tetapi sel memori T dan B memiliki masa hidup selama bertahun-tahun (Reece 2006).

Neutrofil

Neutrofil dewasa memiliki diameter 12 - 15 mikron (Deldar 1992). Neutrofil dibentuk di sumsum tulang dari myelosit neutrofilik ekstravaskuler. Neutrofil memiliki sitoplasma bergranul yang terlihat dengan pewarnaan netral. Neutrofil matang terbagi menjadi beberapa lobus atau segmen yang dihubungkan oleh filamen sehingga disebut neutrofil segmented, sedangkan neutrofil yang lebih

(22)

muda memiliki nukleus yang terlihat seperti pita (band) sehingga dinamai neutrofil band (Swenson and Reece 1993).

Neutrofil merupakan bentuk pertahanan pertama yang dimiliki tubuh dalam melawan infeksi mikrobial (Deldar 1998). Granula pada neutrofil mengandung lisosom, yang memakan benda-benda asing seperti bakteri, virus, dan sisa-sisa sel (Swenson and Reece 1993). Neutrofil sangat reaktif, bersama makrofag biasanya menjadi sel darah putih pertama yang mendatangi bagian tubuh yang mengalami luka (Martini et al. 1992). Neutrofil mengalami diapedesis dan bergerak amuboid menuju jaringan yang terluka dengan cara kemotaktik. Jumlah neutrofil berbeda pada tiap spesies (Swenson and Reece 1993). Jumlah normal neutrofil pada anjing berkisar antara 3.000 - 12.000/mm³ (Foster et al. 2007).

Gambar 3. Morfologi Neutrofil pada Anjing Sumber : Anonima 2007

Eosinofil

Eosinofil memiliki diameter 10 - 15 mikron, nukleus yang terdiri atas 2 lobus (Dellmann and Brown 1987) dan sitoplasmanya memiliki granul yang terlihat dengan pewarnaan asam (Swenson and Reece 1993). Eosinofil berperan dalam mengatur alergi akut dan proses peradangan, mengatasi investasi parasit dan memfagositosis bakteri, kompleks antigen-antibodi, mikoplasma, dan kapang (Dellmann and Brown 1987). Eosinofil dibentuk di sumsum tulang. Eosinofil berperan dalam detoksifikasi protein pada parasit. Bila terjadi reaksi antigen-antibodi dalam tubuh, eosinofil akan mendatangi lokasi terjadinya reaksi dan memakan kompleks antigen-antibodi tersebut. Eosinopenia atau berkurangnya jumlah eosinofil dapat terjadi akibat pemberian hormon ACTH (Adrenocorticotropic Hormone) (Swenson and Reece 1993). Jumlah eosinofil meningkat tajam pada saat alergi atau terjadi investasi parasit (Tizard 1988).

(23)

Jumlah eosinofil normal pada anjing adalah sekitar 0 – 1.900/mm³ (Foster et al. 2007).

Gambar 4. Morfologi Eosinofil pada Anjing Sumber : Anonima 2007

Basofil

Basofil memiliki diameter 10 - 12 mikron (Dellmannn and Brown 1987). Granula-granula yang terdapat dalam sitoplasmanya berwarna biru tua kehitaman (Haen 1995). Granula tersebut telihat dengan pewarnaan alkalis. Basofil diproduksi di sumsum tulang dan secara histologis, basofil mirip dengan sel mast yang terdapat di sekitar pembuluh kapiler (Swenson and Reece 1993).

Fungsi basofil adalah membangkitkan reaksi inflamasi akut pada tempat deposisi antigen (Tizard 1988). Pada lokasi inflamasi, basofil bersama-sama dengan sel mast menghasilkan heparin, histamin, bradikinin, serotonin, dan enzim-enzim lisosom. Keduanya juga memiliki reseptor untuk immunoglobulin E (IgE) yang dihasilkan pada reaksi alergi (Swenson and Reece 1993). Basofil mencapai jaringan yang rusak dengan keluar dari endotel kapiler dan melepaskan granula-granulanya ke cairan interstisial (Martini et al. 1992). Jumlah basofil pada anjing sangat sedikit yaitu kurang dari 100/mm³dari jumlah total leukosit (Foster et al. 2007).

Gambar 5. Morfologi Basofil pada Anjing Sumber : Anonima 2007

(24)

Limfosit memiliki nukleus yang besar dengan sitoplasma yang mengelilinginya. Tempat pembentukan limfosit adalah jaringan limfoid. Limfosit sangat berperan penting dalam kekebalan karena memproduksi antibodi, terutama IgG. Limfosit bersifat motil namun tidak fagositik. Limfosit terbagi menjadi limfosit B dan limfosit T (Swenson and Reece 1993). Limfosit B berperan dalam kekebalan humoral melalui perlindungan oleh antibodi, sedangkan limfosit T berperan dalam kekebalan seluler yang masuk ke jaringan dan secara langsung menyerang benda-benda asing (Martini et al. 1992).

Limfosit diproduksi selama masa fetal di sumsum tulang dan dipengaruhi oleh beberapa fungsi baik oleh kelenjar thymus untuk limfosit T maupun ”bursal equivalent” untuk limfosit B. Pada akhir masa fetal dan postnatal kebanyakan limfosit diproduksi di limpa, limfonodus dan usus yang berhubungan dengan jaringan limfoid. Limfopoiesis pada organ limfoid sekunder bergantung pada stimulasi antigenik (Meyer et al. 1992). Jumlah normal limfosit pada anjing adalah 530 – 4.800/mm³ (Foster et al. 2007).

Gambar 6. Morfologi Limfosit pada Anjing Sumber : Anonima 2007

Monosit

Monosit memiliki ukuran paling besar dibandingkan leukosit lain dalam peredaran darah (Haen 1995). Ukuran diameternya sekitar 15 - 20 mikron (Dellmann and Brown 1987). Monosit hanya memiliki satu nukleus, bersifat motil dan fagositik (Swenson and Reece 1993). Jumlah monosit normal pada anjing adalah sekitar 0 - 1.800/mm3 (Foster et al. 2007)

Monosit berubah menjadi makrofag saat ia bergerak dari darah menuju jaringan dengan cara kemotaksis dan bantuan limfokin (Swenson and Reece 1993). Limfokin adalah substansi yang dihasilkan oleh leukosit, berperan dalam aktivasi makrofag, transformasi limfosit, dan kekebalan dengan perantara sel (Haen 1995). Pada jaringan perifer, monosit disebut makrofag bebas (Martini et

(25)

al. 1992). Monosit dalam aliran darah maupun makrofag dalam jaringan dikenal dengan sistem fagositik mononuklear. Sistem fagositik mononuklear tersebut berfungsi menghancurkan partikel asing dan mengolah bahan asing sehingga dapat memberikan respon tanggap kebal (Tizard 1988).

Makrofag mencerna mikroba dan membunuhnya dengan pH mereka, protein yang bersifat bakteriostatik, dan enzim-enzim penghancur. Makrofag membunuh sel-sel tumor ekstraseluler dengan enzim protease. Satu makrofag sanggup memakan bakteri dalam jumlah banyak (hingga 100 atau lebih) dan diameternya dapat bertambah hingga 2 - 3 kali lipat (Swenson and Reece 1993). Beberapa makrofag dapat bersatu menjadi sel raksasa (giant cell) agar mampu memakan benda-beda asing lain yang berukuran lebih besar (Martini et al. 1992).

Makrofag memiliki peranan penting dalam inflamasi karena makrofag mengandung dan mensekresi banyak substansi aktif biologis, termasuk enzim proteolitik, interferon, interleukin-1, komponen komplemen, prostaglandin, dan protein carrier. Makrofag bertanggung jawab dalam pemrosesan dan pembuangan senescent cell dan debris serta filtrasi bakteri dan racun dari darah portal (Meyer et al. 1992).

Gambar 7. Morfologi Monosit pada Anjing Sumber : Anonima (2007)

Trombosit (Platelet atau Keping-keping Darah)

Trombosit merupakan nama lain dari platelet. Hal ini dikarenakan mereka membentuk trombus atau sumbatan bila terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Akan tetapi, sebenarnya trombosit merupakan istilah yang salah, sebab ia bukanlah suatu sel, melainkan sitoplasma terbungkus yang terlepas dari sitoplasma suatu sel induk yang terdapat di sumsum tulang, yaitu megakariosit (Haen 1995).

Ukuran diameter trombosit berkisar antara 2 - 10 μm. Selain dalam sumsum tulang, trombosit juga sering ditemukan di kapiler paru-paru. Kisaran

(26)

normal jumlah trombosit pada anjing adalah 100.000 - 400.000/μL. Perhitungan trombosit normal pada anjing sangat bervariasi. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh metode pengambilan dan perhitungan sampel yang tidak terstandarisasi (Hall 1972).

Pada fetus, trombosit dibentuk di hati, limpa, dan sumsum tulang. Pada mamalia dewasa, trombosit dibentuk di sumsum tulang. Jumlah trombosit sangat banyak dalam peredaran darah dan bervariasi pada tiap spesies. Variasi jumlah trombosit juga ditemukan antara hewan tua dan hewan muda. Pada anjing muda, jumlah trombositnya lebih sedikit daripada anjing dewasa. Trombosit cenderung tidak bertahan lama dalam peredaran darah, hanya 8 - 11 hari (Swenson and Reece 1993).

Fungsi trombosit adalah mencegah perdarahan berlebihan dengan menutup dinding pembuluh darah yang terkoyak. Pada kondisi tertentu, misalnya saat perdarahan hebat, kebutuhan akan trombosit meningkat tajam. Hal ini memaksa sumsum tulang untuk melepaskan lebih banyak trombosit, termasuk trombosit prematur. Trombosit yang belum matang tersebut biasanya terlihat berukuran lebih besar dari trombosit normal. Ada pula trombosit yang berukuran lebih kecil dari normal, biasanya ditemukan pada kasus peradangan atau anemia akibat kekurangan zat besi (Haen 1995).

Gambar 8. Morfologi Trombosit pada Anjing Sumber : Anonime (2007)

Plasma Darah

Plasma darah merupakan cairan dimana benda-benda darah tersuspensi. Plasma darah mengandung sejumlah protein yang terlarut yaitu albumin, globulin, dan fibrinogen. Pada manusia, anjing, kambing, domba, albumin terdapat dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan globulin. Plasma albumin, fibrinogen, sebagian globulin, dan protrombin dibentuk di hati (Swenson and Reece 1993).

(27)

Fibrinogen merupakan prekursor dari fibrin yang berperan penting dalam proses penggumpalan darah. Plasma darah memiliki warna kuning yang berasal dari pigmen bilirubin dan karoten (Clarenburg 1992). Komposisi plasma darah adalah 91 – 92% air dan 8 – 9% zat terlarut (Deldar 1998).

Anjing

Anjing merupakan hewan peliharaan yang memiliki hubungan paling dekat dengan manusia. Kedekatan hubungan ini salah satunya disebabkan oleh tingkat kecedasannya yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan hewan lain sehingga dapat dilatih untuk membantu manusia. Selain mudah dilatih, anjing juga terkenal sebagai sahabat yang setia bagi manusia dan memiliki kepatuhan yang luar biasa (Prajanto dan Andoko 2004).

Klasifikasi Anjing Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mamalia Ordo : Carnivora Famili : Canidae Genus : Canis Spesies : Canis lupus

Subspesies : Canis lupus familiaris (Linnaeus 1758 dalam Anonimd 2007)

Asal-usul Anjing

Sekitar 40 juta tahun yang lalu, terdapat mamalia karnivora yang diyakini merupakan nenek moyang dari anjing, yaitu Miacis. Setelah Miacis punah, muncul hewan yang merupakan hasil evolusinya yaitu Cynodictis yang selanjutnya berevolusi menjadi Cynodesmus dan Tomoritus. Fosil anjing yang paling awal ditemukan diperkirakan berasal dari 10 ribu tahun lalu, dimana pada masa itu hubungan antara anjing dan manusia dimulai (Sayer 1994).

(28)

Semua jenis anjing yang ada saat ini memiliki nenek moyang yang sama, yaitu serigala. Charles Darwin meyakini bahwa ada dua spesies yang merupakan nenek moyang anjing domestik saat ini yaitu serigala Canis aureus dan Canis lupus. R.I. Pocock (1935) menyatakan bahwa ada 4 jenis nenek moyang serigala yaitu Serigala Abu-abu utara (Canis lupus), Serigala Gurun kecil dari Arab (Canis lupus arabis), Serigala Asia berkaki pucat (Canis lupus palliper), dan Serigala berambut tebal atau Serigala Cina dari Tibet dan India Utara (Canis lupus laninger) (Sayer 1994). Para peneliti dari Swedia, yaitu Charles Vila dari Universitas Uppsala dan Pater Savoilainen dari Royal Institute of Technology, Stockholm menyimpulkan bahwa anjing-anjing modern yang ada saat ini berasal dari Asia Timur. Hampir 95% populasi anjing modern berasal dari sebuah kelompok gen tunggal serigala abu betina Canis lupus palliper. Serigala abu-abu ini dijinakkan oleh manusia purba pada zaman Paleolitikum di Asia Timur dan belasan ribu tahun kemudian akhirnya menjadi anjing Canis familiaris. Seiring perjalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia, anjing mengalami berbagai perubahan fungsi, yaitu sebagai anjing penggembala, anjing penjaga, anjing perang, dan anjing pelacak (Sianipar et al. 2004).

Sejarah Pemanfaatan Anjing oleh Manusia

Anjing telah berinteraksi dengan manusia sejak zaman prasejarah. Pada masa itu manusia purba hidup nomaden dan pekerjaannya adalah berburu dan mengumpulkan makanan (food and gathering). Sisa-sisa makanan yang didapat dari hasil buruan tersebut mengundang anjing-anjing liar untuk datang memakannya. Sesuai dengan nalurinya, anjing-anjing liar tersebut akan mengusir kelompok anjing lain serta binatang buas yang mencoba mendekati daerah teritorial mereka. Secara tidak langsung, hal ini melindungi manusia purba dari serangan binatang buas sehingga lama-kelamaan tercipta simbiosis mutualisme antara kawanan anjing tersebut dengan manusia (Sianipar et al. 2004).

Kehebatan Indera Penciuman Anjing

Anjing adalah hewan yang terkenal akan ketajaman penciumannya yang luar biasa. Anjing mampu membedakan sekitar 200.000 jenis bau, sedangkan

(29)

manusia hanya mampu membedakan sekitar 10.000 jenis bau (Rimmer 2006). Anjing bahkan mampu membedakan bau dari pasangan kembar identik dan mampu mendeteksi bau dari sidik jari hingga kurun waktu enam minggu sejak sidik jari tersebut menempel di kaca (Houpt dan Wolski 1982).

Anjing memiliki total area epitelium olfaktori seluas 150 cm2 (ras German Shepherd), jauh lebih luas dibandingkan kucing, katak, manusia, dan kelinci. Jumlah syaraf olfaktori anjing juga paling banyak dibandingkan mamalia lain, yaitu sekitar 225 juta (Dodd dan Squirrell 1980). Hidung anjing memiliki rongga yang kaya akan pembuluh darah dan ujung-ujung syaraf yang berhubungan dengan pusat olfaktori yang paling berkembang di otak. Oleh sebab itu, hidung anjing jauh lebih sensitif dibandingkan dengan hidung manusia, bahkan mungkin jutaan kali lebih sensitif. Dengan daya penciuman yang luar biasa seperti ini, anjing tidak mudah ditipu. Hidung anjing tidak memiliki kelenjar keringat dan pada keadaan normal bersifat dingin, lembab tetapi tidak berkeringat (Yahya 2004).

Seekor anjing dapat membedakan jenis kelamin hewan, jenis diet, kesehatan, keadaan emosi, atau bahkan membedakan kawan dan lawan hanya dengan mengendus setetes urin. Anjing pelacak mengikuti “jejak biokimia” dari runtuhan sel kulit mati, keringat, molekul bau dan gas. Robert Burton dalam bukunya yang berjudul The Language of Smell menyatakan bahwa anjing memproses molekul bau lebih cepat karena ia memiliki satu set membran pencium bau yang jauh lebih besar dalam hidungnya. Anjing dapat melacak jenis bau dari salju, lumpur, air, atau bahkan abu. Debra Ann Fadool, ahli biologi dari Florida State University, menyatakan bahwa rahasia dari daya cium anjing tersebut adalah suatu zat yang dinamakan Kvi.3 yang banyak terdapat di otak anjing. Zat ini sebenarnya dimiliki juga oleh manusia, tetapi tidak sebanyak seperti yang dimiliki oleh anjing (Woolf 2006).

Anjing memiliki kemampan melacak yang luar biasa karena manusia meninggalkan jejak bau yang cukup baik. Sebagian besar peneliti berpendapat bahwa jejak bau berasal dari runtuhan kecil sel kulit yang memiliki aroma/bau saat bercampur dengan keringat dan bakteri. Tubuh manusia memproduksi sekitar 50 juta sel per menit. Saat runtuhan kulit jatuh dari tubuh layaknya siraman benda

(30)

mikroskopik, anjing akan sangat cepat mendeteksi runtuhan ini. Setiap manusia memiliki bau yang unik dan anjing memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membedakan jejak satu manusia dari manusia lainnya (Rimmer 2006).

Gambar 9. Indera Penciuman Anjing Sumber : Evans (1993) Jenis-jenis Anjing

Anjing dibagi menjadi enam kelompok berdasarkan tujuan pembiakan menurut sistem Inggris, yaitu kelompok hound, kelompok terrier, kelompok gundog, kelompok utility, kelompok working, dan kelompok toy. Kelompok hound umumnya memiliki napas yang panjang, mampu berlari cepat, dan berdaya tahan kuat sehingga terkenal sebagai anjing pemburu dan penjaga, contohnya Greyhound dan Basset Hound. Kelompok terrier digunakan sebagai anjing pemburu binatang kecil yang memiliki kebiasaan menggali atau masuk ke lubang setelah berburu. Kebiasaan ini sesuai dengan namanya karena terrier berasal dari kata terra yang berarti bumi. Contoh anjing terrier antara lain Staffordshire Bull Terrier dan Fox Terrier. Kelompok gundog digunakan sebagai kawan berburu burung sejak masa sebelum senapan dan pistol ditemukan dan tidak begitu cocok menjadi anjing penjaga, contohnya Golden Retriever, Cocker Spaniel, dan Pointer. Kelompok utility merupakan kelompok anjing yang dikembangbiakkan untuk berbagai tujuan, misalnya Dalmatian yang aslinya digunakan untuk berburu di negara-negara Mediteranian, namun di Inggris dan Perancis malah dijadikan anjing penarik kereta. Kelompok working sangat cocok menjadi anjing penjaga karena bersifat ganas, berani, cerdas, setia, patuh, memiliki penglihatan tajam, stamina tinggi, dan bertanggungjawab, contohnya Dobermann, Rottweiller, dan

(31)

Mastiff. Kelompok toy umumnya berukuran kecil dan dipelihara sebagai teman bermain, contohnya adalah Pomeranian, Poodle, dan Chihuahua (Untung 1999). Anjing Pelacak

Daya penciuman anjing yang luar biasa dimanfaatkan manusia untuk melacak keberadaan obat-obatan terlarang, pelaku kriminal yang melarikan diri, korban musibah, dan lain-lain. Anjing merupakan hewan yang paling banyak dimanfaatkan oleh kepolisian untuk melacak sesuatu. Oleh karena itu, mereka disebut anjing pelacak (Rimmer 2006).

Anjing penjaga digunakan oleh kepolisian Negara Repulik Indonesia sejak tahun 1959. Seorang berkebangsaan Jerman, Ny. Roll Moll, melatih beberapa orang sipil untuk menjadi pelatih anjing pelacak, penjaga, dan penyerang. Para pelatih didikan Ny. Roll Moll tersebut kemudian direkrut oleh POLRI dan menjadi embrio Polisi Pasukan Anjing. Selanjutnya didirikan Depo Pendidikan yang bertugas menyiapkan anjing untuk tugas kepolisian. Pada tanggal 4 Juli 1959, berdasarkan perintah Kepala Jawatan Kepolisian Negara No. Pol. 128/VII/1959, dibentuk Subseksi Brigade Anjing Dinas Kepolisian (BADK/DRK) di Seksi Kejahatan Dinas Reserse Kriminal. Pada perkembangannya, anjing di kepolisian memiliki tugas yang beragam, seperti anjing SAR (Search and Rescue), anjing pelacak umum, anjing penjaga, anjing pendeteksi narkotika dan bahan peledak, bahkan anjing pendeteksi penyebab kebakaran (Sianipar et al. 2004).

Tidak semua ras anjing dapat menjadi anjing pelacak. Pemilihan ras anjing perlu disesuaikan dengan tujuan pemanfaatan. Untuk pelacakan narkoba, banyak digunakan Labrador Retriever, Golden Retriever, dan German Shepherd. Ras lain yang juga dapat digunakan misalnya Fox Terrier (Karjono 2007). Golden Retriever merupakan salah satu ras anjing yang sering digunakan untuk membantu tugas kepolisian. Alasan pemilihan anjing untuk dilatih menjadi anjing pelacak adalah anjing tersebut memiliki kecerdasan, kepatuhan, dan kekuatan dalam bertugas.

(32)

Golden Retriever memiliki rambut tebal yang lurus atau bergelombang, tahan air, dan berwarna keemasan (golden) atau krem, bukan merah atau warna mahogani (Cunliffe 2002). Sebutan Golden disebabkan oleh warna rambutnya yang keemasan bila diterpa sinar. Akan tetapi, tingkat kegelapan warnanya sangat beragam, mulai dari nyaris putih (broken white) hingga yang coklat kemerahan seperti tembaga. Pada awalnya trah ini dibiakkan untuk teman berburu burung dan unggas liar lainnya. Ketika buruan telah tertembak dan jatuh, maka Golden Retriever akan mengambil dan menyerahkannya kepada tuannya secara utuh. Kemampuan inilah yang menyebabkan trah ini disebut Retriever. Tinggi badan Golden Retriever jantan sekitar 23 - 24 inci, sedangkan betina 21,5 - 22,5 inci. Berat badan jantan sekitar 29,5 - 34 kg, sedangkan betina sekitar 25 - 29,5 kg. Dalam klasifikasi AKC (American Kennel Club), Golden Retriever termasuk dalam golongan anjing sport (Anonim 1990).

Golden Retriever merupakan ras hasil persilangan antara Tweed Water Spaniel dengan Yellow Retriever pada abad ke 19. Lord Tweedmouth adalah orang pertama yang memperkenalkan ras ini. Awalnya anjing ini digunakan untuk permainan berburu (retrieve) di lapangan tembak, kemudian dapat pula dijadikan anjing penuntun tuna netra, anjing pelacak narkoba dan bahan peledak, dan pencari jejak (Cunliffe 2002).

Anjing ini termasuk ras yang sangat populer karena sifatnya yang ramah, bersahabat, dan mudah bergaul dengan manusia maupun hewan lain di sekitarnya. Selain itu, Golden Retriever juga terkenal sebagai anjing yang pandai, lembut, dan setia. Sifat-sifat tersebut menjadikan Golden Retriever banyak dipilih sebagai anjing peliharaan kesayangan keluarga (Anonim 2002). Golden Retriever juga sering digunakan untuk membantu tugas kepolisian. Anjing ini memiliki insting dan penciuman yang sangat tajam, gusi yang kuat, dan kecerdasan. Hal inilah yang membuat Golden Retriever dinilai cocok untuk digunakan sebagai anjing pelacak (Rees 1993).

(33)
(34)

METODE

Penelitian dilakukan di Subdirektorat Satwa POLRI Depok dan Laboratorium Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Anjing yang diperiksa gambaran darahnya adalah anjing ras Golden Retriever sebanyak 6 ekor yang terdiri atas 4 ekor anjing jantan dan 2 ekor anjing betina yang berusia di atas 3 tahun.

Pengambilan Sampel

Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, semua anjing yang diteliti telah diperiksa kesehatannya. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali dalam selang waktu dua minggu di kennel Subdirektorat Satwa POLRI, Depok. Sampel darah diambil melalui vena cephalica antibrachii dengan menggunakan syringe sebanyak 2 ml. Darah yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabung venoject yang telah dilapisi antikoagulan heparin. Setiap tabung diberi label nama anjing yang diteliti dan dibawa dengan termos berpendingin es untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan gambaran darah di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Parameter Penelitian

Parameter gambaran darah yang diperiksa adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai PCV, nilai MCV, nilai MCH, nilai MCHC, jumlah leukosit, dan diferensiasi leukosit.

Penghitungan Jumlah Eritrosit

Bahan dan alat yang digunakan untuk menghitung jumlah eritrosit adalah larutan pengencer Hayem, pipet eritrosit dengan aspirator (penghisap) dari bahan karet, hemositometer dan kaca penutup, serta mikroskop dengan pembesaran obyektif 45 x dan pembesaran okuler 10 x. Darah dihisap menggunakan aspirator pada pipet eritrosit hingga mencapai batas angka 0,5. Ujung pipet dibersihkan dengan tisu yang lembut. Larutan pengencer Hayem dihisap ke dalam pipet sampai angka 101. Gelembung udara atau pembekuan darah dipastikan tidak ada

(35)

di dalam pipet. Darah dan larutan pengencer Hayem yang ada di dalam pipet dikocok dengan cara pipet diputar membentuk angka 8 selama 30 detik. Lima tetes pertama dikeluarkan dari pipet untuk mengeluarkan larutan pengencer Hayem yang tidak tercampur dengan darah. Ujung pipet disentuhkan perlahan pada kamar hitung hemositometer sampai batas kaca penutup. Darah yang tercampur dengan pengencer dalam pipet diteteskan pada kamar hitung hingga mengendap. Permukaan kamar hitung kemudian ditutup dengan kaca penutup. Jumlah eritrosit pada hemositometer dilihat menggunakan mikroskop. Pembesaran 10x digunakan untuk melihat satu daerah berbentuk persegi besar di tengah kamar hitung. Persegi besar tersebut terbagi menjadi lima daerah hitung yang terlihat pada Gambar 10. Pada setiap persegi kecil, eritrosit yang tepat berada di sepanjang garis sisi kiri dan sisi atas dihitung, sedangkan eritrosit yang berada di sepanjang garis sisi kanan dan sisi bawah tidak dihitung. Hal ini dilakukan agar eritrosit yang sama tidak dihitung dua kali. Penghitungan jumlah eritrosit didasarkan pada empat parameter, yaitu jumlah eritrosit dari kelima daerah hitung, faktor pengenceran sampel darah, luas permukaan kelima daerah hitung, dan kedalaman kamar hitung. Setiap persegi besar terdiri atas 80 persegi kecil yang memiliki luas 1/400 mm² sehingga luas satu persegi besar adalah 80 x 1/400 mm² = 0,2 mm². Kedalaman kamar hitung adalah jarak antara dasar kamar hitung dengan kaca penutupnya, yaitu 0,1 mm sehingga volume daerah hitung adalah 0,1 mm x 0,2 mm² = 0,02 mm³ = 0,02 μL. Selanjutnya, jumlah total eritrosit dihitung dengan rumus berikut :

Jumlah eritrosit/μL = Jumlah eritrosit dalam 0,2 mm² x Faktor Pengenceran Volume

(36)

Gambar 11. Kamar Hitung pada Hemositometer. Penghitungan jumlah eritrosit dilakukan di daerah bernomor 1, 2, 3, 4, dan 5.

Sumber : Haen (1995) Kadar Hemoglobin

Bahan dan alat yang digunakan adalah larutan HCl 0,1 N, akuades, tabung Sahli, pipet Sahli beserta aspirator, dan alat hemoglobinometer. Tabung Sahli diisi dengan larutan HCl 0,1 N sampai angka 10. Darah dihisap ke dalam pipet Sahli dengan menggunakan aspirator sampai batas angka 20 (0,02 ml). Ujung pipet dibersihkan dengan tisu yang lembut kemudian darah tersebut dikeluarkan dari pipet dan dimasukkan ke dalam tabung Sahli. Tabung Sahli diletakkan di antara kedua bagian standar warna dalam alat hemoglobinometer dan dibiarkan selama 3 menit hingga terbentuk asam hematin berwarna coklat. Setetes demi setetes akuades ditambahkan ke dalam tabung sambil diaduk sampai warnanya sama dengan warna standar. Tinggi permukaaan cairan pada tabung Sahli dibaca dengan melihat skala kolom gram % (Haen 1995)

PCV (Packed Cell Volume) atau Hematokrit

PCV atau hematokrit dapat diartikan sebagai persentase volume eritrosit dari volume darah secara keseluruhan. Penelitian ini menggunakan metode mikrohematokrit. Bahan dan alat yang digunakan yaitu antikoagulan, pipa kapiler yang terbuat dari kaca, bola penyumbat atau sumbat gabus, alat sentrifus khusus mikrohematokrit, dan alat pembaca mikrohematokrit (microcapillary hematocrit

(37)

reader). Salah satu ujung pipa kapiler disentuhkan ke darah dari arah horizontal hingga darah terhisap dan mengisi 4/5 bagian dalam pipa. Bagian ujung pipa kapiler yang kering disumbat dengan bola penyumbat atau sumbat gabus. Pipa kapiler yang telah disumbat ditempatkan dalam alat sentrifus mikrohematokrit dengan posisi ujung pipa yang disumbat berada di sisi luar. Alat sentrifus kemudian ditutup lalu diputar dengan kecepatan 2500 - 5000 rpm selama 15 menit. Setelah diputar, nilai mikrohematokrit dibaca dengan alat baca mikrohematokrit (Haen 1995).

MCV (Mean Corpuscular Volume)

MCV menunjukkan volume atau ukuran eritrosit rata-rata dalam satuan femtoliter (fL). MCV dihitung dengan membandingkan volume eritrosit per liter darah dengan jumlah eritrosit per liter. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai MCV adalah :

MCV (fL) = Hematokrit (%) x 10 Jumlah eritrosit (x 10 ¹²/L)

Angka 10 merupakan faktor konversi pembacaan hematokrit (dalam %) yang semula satuannya adalah volume sel/desiliter menjadi volume/liter (=1000 ml) (Haen 1995).

MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)

MCH adalah berat rata-rata hemoglobin yang terkandung dalam sebuah eritrosit (Cunningham 1997). Satuan yang digunakan dalam MCH adalah picogram (pg = 10-12 g). Nilai MCH didapatkan dari perbandingan kandungan hemoglobin dalam 1 liter darah (g/L) dengan jumlah eritrosit (10¹²/L). Rumus yang digunakan untuk menentukan nilai MCH adalah :

MCH = Hemoglobin (g/dL) x 10 Jumlah eritrosit (x 10 ¹²/L) Sumber : Haen (1995)

(38)

MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)

MCHC adalah konsentrasi hemoglobin yang terkandung dalam tiap desiliter eritrosit (Cunningham 1997). Satuan yang digunakan adalah gram/desiliter (g/dL). Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai MCHC adalah :

MCHC = MCH x 100 MCV Sumber : Haen (1995)

Penghitungan Jumlah Leukosit

Bahan dan alat yang digunakan untuk menghitung jumlah leukosit adalah antikoagulan, larutan pengencer Turk, pipet leukosit dengan aspirator (penghisap) dari bahan karet, hemositometer dan kaca penutup, serta mikroskop dengan pembesaran obyektif 100 x dan pembesaran okuler 10 x. Darah dihisap menggunakan aspirator pada pipet leukosit hingga mencapai tanda 0,5. Ujung pipet dibersihkan dengan tisu, kemudian larutan pengencer Turk dihisap hingga mencapai tanda 11. Darah dan larutan pengencer Turk yang ada di dalam pipet dihomogenkan dengan dikocok dengan cara pipet diputar membentuk angka 8 selama 30 detik. Setelah beberapa tetes darah pada bagian ujung pipet dibuang, darah yang tercampur dengan pengencer dalam pipet diteteskan pada kamar hitung hingga mengendap. Permukaan kamar hitung pada hemositometer kemudian ditutup dengan kaca penutup. Jumlah leukosit pada hemositometer dilihat menggunakan mikroskop. Pembesaran 10x digunakan untuk melihat empat daerah hitung berbentuk persegi besar di setiap sudut kamar hitung. Keempat persegi besar tersebut ditandai dengan huruf A, B, C, dan D seperti yang terlihat pada Gambar 10. Masing-masing persegi besar terbagi menjadi 16 persegi kecil. Pada setiap persegi kecil, leukosit yang tepat berada di sepanjang garis sisi kiri dan sisi atas dihitung, sedangkan leukosit yang berada di sepanjang garis sisi kanan dan sisi bawah tidak dihitung. Hal ini dilakukan agar leukosit yang sama tidak dihitung dua kali. Penghitungan jumlah leukosit didasarkan pada empat parameter, yaitu jumlah leukosit dari keempat daerah hitung, faktor pengenceran sampel darah, luas permukaan keempat daerah hitung, dan kedalaman kamar

(39)

hitung. Luas permukaan keempat daerah hitung adalah 4 mm2. Kedalaman kamar hitung adalah jarak antara dasar kamar hitung dengan kaca penutupnya, yaitu 0,1 mm sehingga volume daerah hitung adalah 0,1 mm x 4 mm² = 0,4 mm³ = 0,4 μL. Selanjutnya, jumlah total leukosit dihitung dengan rumus berikut :

Jumlah leukosit/μL = Jumlah leukosit dalam 4 mm² x Faktor Pengenceran Volume

Sumber : (Haen 1995). Diferensiasi Leukosit

Bahan dan alat yang digunakan adalah larutan metil alkohol, larutan Giemsa, air, dua buah gelas obyek yang bersih dan kering, tisu, dan mikroskop. Diferensiasi leukosit dilakukan dengan pengamatan pada preparat ulas darah menggunakan mikroskop. Tahap-tahap yang dilakukan adalah persiapan preparat ulas darah, fiksasi dan pewarnaan preparat, kemudian pengamatan dengan mikroskop. Darah diteteskan pada sebuah gelas obyek yang bersih dan kering. Tetesan darah tersebut berjarak sekitar 2 cm dari salah satu sisi ujung gelas obyek. Sisi ujung yang lain dipegang menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Sebuah gelas obyek lain dipegang dengan tangan kanan dan salah satu sisi ujungnya diletakkan di depan tetesan darah dengan membentuk sudut 30°. Gelas obyek yang dipegang oleh tangan kanan digerakkan mundur sampai menyinggung dan menyebar tetesan darah di sepanjang sudut antara kedua gelas obyek. Segera setelah itu, gelas obyek yang dipegang oleh tangan kanan didorong ke depan sehingga terbentuk sediaan ulas darah yang tipis. Preparat ulas darah tersebut kemudian dikeringkan di udara. Preparat ulas darah yang telah kering direndam dalam larutan metil alkohol selama 5 menit agar terfiksasi kemudian dikeringkan kembali. Selanjutnya preparat ulas darah diwarnai dengan cara direndam dalam larutan Giemsa selama 30 menit. Setelah terwarnai, preparat tersebut diangkat dan dibilas di air mengalir untuk mengurangi kelebihan zat warna. Preparat dikeringkan di udara atau dengan menggunakan tisu yang ditekan perlahan pada permukaan preparat (Haen 1995).

(40)

Diferensiasi leukosit dilakukan melalui pengamatan mikroskop dengan pembesaran obyektif 100 x dan okuler 10 x. Minyak emersi diteteskan pada daerah yang diperiksa dan dipastikan terjadi kontak antara minyak dengan preparat dan dengan lensa pembesaran obyektif 100 x. Tujuan pemberian minyak emersi adalah untuk meningkatkan indeks refraksi sehingga kemampuan membedakan 2 titik terdekat meningkat. Diferensiasi leukosit ditentukan melalui pengamatan hingga total leukosit yang teramati mencapai jumlah 100 (Haen 1995). Setelah dilakukan penghitungan persentase diferensiasi leukosit, nilai absolut dari masing-masing jenis leukosit ditentukan dengan cara mengalikan persentase tersebut dengan jumlah total leukosit.

(41)

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran darah dapat berubah bila terjadi gangguan fisiologis. Perubahan gambaran darah dapat disebabkan faktor internal seperti pertambahan umur, status gizi, kesehatan, stres, siklus estrus dan suhu tubuh. Sedangkan secara eksternal dapat diakibatkan oleh infeksi kuman, perubahan suhu lingkungan, dan fraktura terbuka (Guyton and Hall 1997). Hasil pengamatan gambaran darah pada anjing pelacak ras Golden Retriever di Subdirektorat Satwa POLRI Depok dapat terlihat pada Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3.

Tabel 1. Data Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin, dan Nilai PCV No Nama Jenis kelamin Rata-rata Jumlah Eritrosit (x106/mm3) Rata-rata Kadar Hemoglobin (g%) Rata-rataNilai PCV (%) 1 Bono Jantan 5,46 ± 0,34 9,70 ± 0,14 33,62 ± 0,18 2 Breden Jantan 4,04 ± 2,06 9,05 ± 3,61 25,25 ± 12,02 3 Molly Betina 5,99 ± 1,37 7,90 ± 1,27 22,88 ± 4,06 4 Nisa Betina 4, 20 ± 0,66 10,30 ± 1,84 33,12 ± 2,30 5 Mario Jantan 5,99 ± 1,67 11,20 ± 1,13 39,25 ± 1,06 6 Gery Jantan 4,42 ± 0,71 9,50 ± 0,99 25,88 ± 2,29 Rata-rata 5,02 ± 0,90 9,61 ± 1,12 30,00 ± 6,30 Normal 5,6 - 8,7 14 - 20 37 - 55

Keterangan : Kisaran normal menurut Foster et al. (2007)

(42)

Jumlah eritrosit normal pada anjing, yaitu 5,6 – 8,7 juta/mm3 (Foster et al. 2007). Dari Tabel 1 terlihat bahwa 4 ekor anjing yaitu Bono, Breden, Nisa, dan Gery memiliki rata-rata jumlah eritrosit yang rendah, sedangkan pada 2 ekor lainnya yaitu Molly dan Mario memiliki rata-rata jumlah eritrosit yang berada dalam kisaran normal. Hal ini mengakibatkan rata-rata jumlah eritrosit dari seluruh anjing yang diteliti menjadi lebih rendah daripada jumlah eritrosit normal.

Rendahnya jumlah eritrosit ini memunculkan dugaan terjadinya anemia. Anemia didefinisikan sebagai kekurangan eritrosit, rendahnya konsentrasi hemoglobin, atau keduanya (Reece 2006). Dalam Guyton and Hall (1997) disebutkan bahwa penyebab yang umum dari anemia antara lain perdarahan, aplasia sumsum tulang karena keracunan obat atau radiasi sinar gamma, kegagalan pematangan karena defisiensi asam folat atau vitamin B12, dan hemolisis yang dapat disebabkan antara lain oleh keracunan obat, penyakit herediter, atau eritroblastosis fetalis dimana antibodi induk merusak eritrosit dalam tubuh janin.

Pada kasus ini, anjing-anjing yang diteliti diduga mengalami defisiensi zat-zat tertentu, misalnya vitamin B12, asam folat, dan beberapa mineral seperti Fe, Cu, dan Co yang berperan penting dalam proses pematangan eritrosit. Anjing-anjing tersebut mendapat pakan berupa beras merah dan makanan Anjing-anjing dalam kemasan. Pemberian beras merah dimaksudkan untuk menambah energi. Dalam Pramita (2004) disebutkan bahwa beras merah memiliki kandungan karbohidrat lebih rendah dibandingkan beras putih, namun energi yang dihasilkan justru lebih tinggi. Zat gizi lain yang banyak terkandung dalam beras merah adalah protein, tiamin, fosfor, dan selenium. Makanan anjing kemasan umumnya memiliki kandungan gizi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan anjing. Walau kedua jenis pakan tersebut memiliki gizi yang dapat dikatakan baik, namun mungkin jumlah asupan gizi yang diterima anjing masih belum mengimbangi kegiatan latihan dan kerja yang berat. Selain itu, kekurangan jumlah eritrosit dapat juga disebabkan karena kegagalan saluran pencernaan mengabsorpsi vitamin B12, walaupun vitamin B12 terdapat dalam jumlah cukup pada pakan. Hal ini disebut anemia pernisiosa, dimana kelainan dasarnya adalah atrofi mukosa lambung

(43)

sehingga tidak mampu melakukan sekresi getah lambung secara normal (Guyton and Hall 1997).

Hal lain yang diduga menjadi penyebab rendahnya jumlah eritrosit adalah investasi parasit kronis yaitu caplak. Saat dilakukan pengambilan sampel darah, baik pada hari pertama maupun kedua, ditemukan adanya caplak dalam jumlah yang cukup banyak pada sebagian besar anjing. Caplak merupakan ektoparasit yang menghisap darah. Bila investasi caplak terjadi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama, maka sangat mungkin anjing mengalami anemia. Investasi caplak dapat terjadi akibat kebersihan kandang yang kurang baik. Selain itu, seringnya terjadi kontak antar anjing semakin mempermudah penularan caplak dari satu anjing ke anjing lain. Caplak juga dapat menjadi vektor parasit darah sehingga bisa menyerang eritrosit dan dapat mengakibatkan terjadinya lisis darah.

Tabel 1 juga memperlihatkan bahwa semua anjing yang diteliti memiliki rata-rata kadar hemoglobin yang rendah. Kadar hemoglobin normal pada anjing adalah 14 - 20 g% (Foster et al. 2007). Hal ini mungkin disebabkan oleh cekaman (stress) akibat latihan atau kerja yang berat. Dalam Swenson and Reece (1993) disebutkan bahwa kadar hemoglobin dapat meningkat karena kegembiraan. Hormon epinefrin yang dihasilkan akan meningkatkan tekanan darah dan kontraksi limpa sehingga terjadi pelepasan eritrosit.

Semua anjing yang diteliti memiliki rata-rata nilai PCV yang juga rendah, kecuali Mario. Nilai PCV normal pada anjing adalah 40 - 59% (Foster et al. 2007). Nilai PCV menunjukkan ukuran eritrosit (Anonim a 2006) dan jumlah eritrosit (Anonim 2005), sehingga mengindikasikan dua kemungkinan, yaitu jumlah eritrosit yang sedikit, atau jumlah eritrosit normal tetapi ukurannya kecil. Dari Tabel 1 terlihat bahwa jumlah eritrosit pada anjing-anjing tersebut rendah. Maka dapat dikatakan bahwa terdapat kesamaan penyebab rendahnya nilai PCV ini dengan rendahnya jumlah eritrosit, yaitu defisiensi nutrisi dan investasi caplak. Pemeriksaan dari ketiga parameter ini, yaitu jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai PCV, menunjukkan hasil yang lebih rendah dari normal Hal ini menguatkan dugaan bahwa anjing yang diteliti rata-rata mengalami anemia. Dalam Rapaport (1987) disebutkan bahwa pengetahuan tentang riwayat kesehatan pasien adalah penting dalam mendiagnosa anemia. Riwayat kesehatan pasien yang

(44)

dimaksud meliputi waktu mulai terjadinya anemia, kemungkinan terjadinya kehilangan banyak darah secara kronis tanpa disadari, kemungkinan terjadinya hemolisis, kemunculan gejala syaraf yang berkaitan dengan anemia pernisiosa, pernah mendapatkan terapi anemia pada waktu lampau, penggunaan obat-obatan dan keterpaparan terhadap toksin, jenis diet pasien, keturunan, dan penyakit. Pada penelitian ini tidak dilakukan penelusuran lebih jauh tentang riwayat kesehatan anjing-anjing tersebut secara lengkap akibat beberapa keterbatasan sehingga penyebab yang sebenarnya dari dugaan anemia ini belum dapat dipastikan. Untuk mengetahui jenis anemia yang dialami oleh anjing-anjing yang diteliti maka dilakukan penghitungan indeks-indeks eritrosit, yaitu MCV, MCH, dan MCHC yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Data Nilai MCV, MCH, dan MCHC No. Nama Jenis

kelamin Rata-rata Nilai MCV (fL) Rata-rata Nilai MCH (pg) Rata-rata Nilai MCHC (g%) 1 Bono Jantan 61,70 ± 3,51 17,79 ± 0,85 28,55 ± 0,26 2 Breden Jantan 63,14 ± 2,52 23,14 ± 2,89 36,54 ± 3,20 3 Molly Betina 40,02 ± 15,94 13,79 ± 5,28 34,59 ± 0,58 4 Nisa Betina 80,18 ± 18,00 25,15 ± 8,31 30,98 ± 3,41 5 Mario Jantan 67,92 ± 17,15 19,73 ± 7,39 28,58 ± 3,66 6 Gery Jantan 58,95 ± 4,33 21,44 ± 1,51 36,69 ± 0,56 Rata-rata 61,98 ± 13,11 20,17 ± 4,01 32,66 ± 3,32 Normal 50 – 68 19,5 – 24,5 32 - 36

Keterangan : Kisaran normal nilai MCV menurut Jain (1993) Kisaran normal nilai MCH menurut Anonima (2007) Kisaran normal nilai MCHC menurut Jain (1993) Data yang disajikan berupa rata-rata ± standar deviasi

(45)

MCV menunjukkan volume atau ukuran eritrosit rata-rata dalam satuan femtoliter (fL). MCV dihitung dengan membandingkan nilai PCV dengan jumlah eritrosit per liter. Tabel 2 memperlihatkan bahwa rata-rata nilai MCV berada dalam kisaran normal. Pada anjing, nilai MCV normal adalah 50 - 68 fL (Jain 1993). Nilai MCV yang normal menggambarkan bahwa ukuran eritrosit normal. Akan tetapi seekor anjing bernama Molly memiliki nilai MCV yang lebih rendah dari normal. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Molly mengalami anemia mikrositik, dimana eritrositnya berukuran kecil. Penyebab umum dari anemia mikrositik antara lain defisiensi zat besi, talasemia (penyakit herediter), dan penyakit kronis (Nordenson 2006). Eritrosit yang berukuran kecil merupakan eritrosit tua, sedangkan eritrosit muda berukuran besar. Bila terdapat banyak eritrosit berukuran kecil dalam peredaran darah, maka kemungkinan yang bisa terjadi adalah tubuh mengalami kegagalan pembentukan eritrosit. Kegagalan pembentukan eritrosit ini dapat merupakan manifestasi kegagalan organ eritropoiesis yaitu sumsum tulang. Anjing bernama Nisa memiliki rata-rata nilai MCV tinggi, yaitu 80,18 fL. Kondisi ini diduga sebagai anemia makrositik, dimana eritrositnya berukuran besar. Sel yang berukuran besar tersebut dapat diakibatkan oleh adanya tahapan pematangan eritrosit yang terlewati dan ditemukan pada kelainan eritropoiesis dengan pematangan inti sel yang abnormal dan juga ketika produksi eritrosit terstimulasi oleh eritropoietin (Rapaport 1987). Penyebab yang lebih umum dari anemia makrositik adalah defisiensi vitamin B12 atau asam folat (Nordenson 2006).

MCH adalah berat rata-rata hemoglobin yang terkandung dalam sebuah eritrosit (Nordenson 2006). Rata-rata nilai MCH pada anjing yang diamati berada dalam kisaran normal yaitu 19,5 – 24,5 pg (Anonima 2007). Nilai MCH meningkat bila terjadi anemia makrositik, dan menurun pada anemia mikrositik (Anonimb 2007).

MCHC adalah konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam 100 ml darah (Cunningham 1997). Nilai MCHC diperoleh melalui perbandingan hemoglobin dengan hematokrit (Nordenson 2006). Nilai MCHC normal pada anjing 32 - 36 g% (Jain 1993). Nilai MCHC menggambarkan kepekatan warna merah pada eritrosit. Rata-rata nilai MCHC pada anjing-anjing yang diteliti berada dalam

(46)

kisaran normal. Akan tetapi terdapat dua anjing yang memiliki nilai MCHC yang rendah, yaitu Bono dan Nisa. Nilai MCHC yang rendah menunjukkan bahwa eritrosit berwarna pucat (hipokromik) pada anemia mikrositik dan nilai MCHC yang normal (normokromik) pada anemia hipokromik. Pada eritrosit yang berukuran besar, walaupun jumlah hemoglobin atau nilai MCH tinggi, namun konsentrasinya masih normal (Anonimb 2007). Tidak ada istilah hiperkromik

karena terbatasnya jumlah hemoglobin yang bisa termuat dalam sebuah eritrosit (Nordenson 2006). Nilai MCHC yang rendah dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin, gangguan sintesis eritrosit, atau keadaan darah yang encer akibat peningkatan cairan plasma atau kehilangan sejumlah eritrosit (Cunningham 1997).

Tabel 3. Data Jumlah Leukosit dan Diferensiasi Leukosit No Nama Jenis Kelamin Jumlah Leukosit (x103/mm3) Jumlah Neutrofil (x103/mm3) Jumlah Eosinofil (x103/mm3) Jumlah Basofil (x103/mm3) Jumlah Limfosit (x103/mm3) Jumlah Monosit (x103/mm3) 1 Bono Jantan 11,08±3,22 5,70±2,05 0,16±0,28 0 4,82±1,32 0,05±0,05 2 Breden Jantan 11,85±1,69 9,48±0,15 0,59±0,08 0 1,36±1,54 0,17±0,05 3 Molly Betina 8,20±0,64 4,75±0,21 0,82±0,12 0 3,32±0,80 0,04±0,05 4 Nisa Betina 9,18±1,66 6,56±1,90 0,46±0,07 0 2,52±0,39 0,04±0,07 5 Mario Jantan 9,68±1,94 5,27±0,71 0,14±0,23 0 4,21±1,05 0,04±0,56 6 Gery Jantan 15,40±2,33 6,54±2,62 2,54±1,68 0 6,23±1,27 0,07±0,09 Rata-rata 10,90±2,57 6,38±1,67 0,59±0,89 0 3,74±1,72 0,07±0,05 Normal 6 - 17 3 - 12 0 - 1,9 < 0,1 0,53 - 4,8 0 – 1,8

Keterangan: Kisaran normal jumlah leukosit menurut Jain (1993)

Kisaran normal jumlah neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit menurut Foster et al. (2007)

(47)

Grafik 7. Jumlah Leukosit dan Diferensiasi Leukosit (x103/mm3)

Rata-rata jumlah leukosit seluruh anjing yang diteliti berada dalam kisaran normal. Setiap anjing juga memiliki rata-rata jumlah leukosit yang normal. Jumlah leukosit pada anjing berkisar antara 6.000 - 17.000/mm3 (Jain 1993). Leukosit memiliki fungsi utama dalam pertahanan tubuh. Pertahanan tubuh ini dilakukan melalui dua cara yaitu menghancurkan agen penyerang dengan proses fagositosis, serta membentuk antibodi dan limfosit yang disensitifkan (Guyton and Hall 1997). Jumlah leukosit yang normal dapat menandakan bahwa mekanisme pertahanan tubuh masih berjalan dengan baik.

Jumlah normal neutrofil pada anjing berkisar antara 3.000 - 12.000/mm³ (Foster et al. 2007). Fungsi utama neutrofil adalah menghancurkan bahan asing yang masuk ke dalam tubuh melalui proses fagositosis (Tizard 1988). Rata-rata jumlah neutrofil anjing-anjing yang diteliti berada dalam kisaran yang normal. Bila jumlah neutrofil meningkat, biasanya menandakan bahwa telah terjadi infeksi bakteri atau stress yang ekstrim. Penurunan jumlah neutrofil dapat terjadi bila terdapat infeksi viral (Foster et al. 2007). Jumlah eosinofil normal pada anjing adalah sekitar 0 – 1.900/mm³ (Foster et al. 2007). Tabel 3 memperlihatkan bahwa semua anjing yang diteliti memiliki jumlah eosinofil yang berada dalam kisaran normal, kecuali seekor anjing bernama Gery. Keadaan ini diduga sebagai eosinofilia. Peningkatan jumlah eosinofil dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu alergi, shock anafilaktik, dan infeksi parasit (Swenson and Reece 1993). Eosinofilia yang dialami Gery diduga disebabkan oleh adanya

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :