• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Ampas Sagu ( Metroxylon sago Rottb) Terhadap Perkembangan Gulma Berdaun Sempit Axonopus compressus (SW) Beauv

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Ampas Sagu ( Metroxylon sago Rottb) Terhadap Perkembangan Gulma Berdaun Sempit Axonopus compressus (SW) Beauv"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Diterima 26 Juli 2010 / Direvisi 29 September 2010 / Disetujui 24 November 2010

Keperluan bahan industri dan makanan saat ini berkembang dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan. Salah satu alternatif adalah pemanfaatan sagu sebagai bahan karbohidrat karena kegunaannya yang beragam. Selain itu, sagu berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku nabati untuk penghasil bioetanol yang dibutuhkan berbagai Negara di dunia untuk substitusi minyak dari fosil yang mulai menurun produksinya. Agar potensi produksi tanaman dapat efisien dari gangguan gulma dan berdasarkan sifat fisik serta senyawa kimia dalam ampas sagu, diperlukan penelitian potensi ampas sagu sebagai mulsa untuk mengendalikan jenis-jenis gulma seperti Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 14 perlakuan termasuk persentase ampas sagu yang terdekomposisi, pemberian kompos dan kontrol (pasir kerikil dan tanpa bahan organik). Ulangan sebanyak tiga kali dengan parameter pengamatan: jumlah daun , tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot kering gulma, persentase kematian gulma, dan kandungan asam fenolat pada masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian ampas sagu setelah mengalami dekomposisi 1 bulan dapat mengurangi pertambahan tinggi gulma dibanding media pasir berkerikil. Pemberian ampas sagu sampai 100% dapat menekan pembentukan daun dan mengurangi bobot kering gulma. Selain itu, pemberian ampas sagu akan meningkatkan asam fenolat apabila persentase ampas sagu ditingkatkan.

The needs of industry and materials food is expanding rapidly to meet food needs. One alternative is the use of sago as a carbohydrate because of its diversely use are diverse. Sago is also potential to be developed as a botanical material producing bioethanol that is required by many countries in the world to swith the use of fossil oil production that tend to decline. In order to efficiently improve the potency of plant production from weed interference and to consider the physical and chemical properties of sago waste, a research to determine the potential of sago waste as mulch to control weed species such as (SW) Beauv are needed. The experimental design used was completely randomized design with 14

Terhadap Perkembangan Gulma Berdaun Sempit

(Axonopus compressus (SW) Beauv)

M. SYAKIR

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jalan Tentara Pelajar No. 1. Bogor 16111

ABSTRAK

ABSTRACT

(Axonopus compressus (SW) Beauv).

Kata Kunci : Metroxylon sago Rottb, Ampas Sagu, Gulma, Axonopus Compressus (SW) Beauv.

Axonopus compressus

The Effect of Sago Waste (Metroxylon sago Rottb)

(2)

treatments and three replications. The treatments consisted of percentage of sago waste decomposes, use of compost and control (gravel and sand without organic material). Observation parameters: leaf number, plant height, number of tillers, weed dry weight, percentage of dead weeds, and phenolic acid content. Research results indicated that the effect of sago waste after a month decomposition can reduce the height of weeds than if it uses gravel sand media. Using of sago waste in amount of 100% can suppress the formation of leaf and reduce leaf dry weight of weeds. Use of high amount of sago waste would increase phenolic acid content.

Pemanfaatan tanaman sagu ( sagu Rottb) untuk keperluan bahan industri dan makanan saat ini sedang berkembang cepat. Pemanfaatan sagu lebih beragam dibandingkan dengan tanaman karbohidrat lainnya (Allorerung dan Rembang, 1992; Bintoro

, 2010). Sagu selain merupa-kan salah satu sumber devisa, berpotensi juga untuk dikembangkan sebagai bahan baku nabati untuk penghasil biofuel yang sedang digalakkan oleh berbagai Negara di dunia (Lyons, 1999). Luas areal sagu yang ada di dunia sekitar 2 juta hektar dengan potensi produksi antara 2,5-5,5 ton/ha sagu kering (Flach, 1983). Tanaman sagu di Indonesia me-nurut Tenda (2004) menempati areal sekitar 1.398.000 hektar atau lebih 50% dari luas pertanaman sagu dunia. Dari hasil evaluasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah (2001) yang dila-kukan dengan mencocokkan persyaratan tumbuh tanaman sagu dengan karak-teristik lahan pada peta, ternyata potensi pengembangan tanaman sagu dapat mencapai 3 juta ha pada rawa-rawa di Papua dan Maluku.

Pemanfaatan tanaman sagu selain diambil patinya sekitar 16-28% dari bobot total batang yang termanfaatkan (Djoefrie, 1999), hasil ikutan lain berupa kulit batang dan ampas belum

diman-faatkan sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman apabila dibiar-kan. Menurut Flach (1997) dalam batang tanaman sagu terdapat kandungan poli-fenol sehingga kulit batang dan ampas yang mencapai 72% jika dibiarkan sebagai limbah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Hasil penelitian Salisbury dan Ross (1995), menyatakan bahwa limbah seperti ini menghasilkan asam-asam fenolat yang bersifat racun bagi tanaman. Adanya bahan aktif fenol di dalam ampas sagu, dapat difungsikan sebagai insektisida, herbisida dan fungi-sida. Oudejans (1991) menyatakan her-bisida organik yang mengandung bahan aktif fenol sangat tinggi toksisitas dan beberapa herbisida organik yang telah diaplikasikan sangat efektif dalam pengendalian gulma.

Penanggulangan gulma merupa-kan hal yang penting dalam bidang perkebunan dan pertanian agar potensi produksi tanaman dapat dicapai secara efisien. Pada beberapa tanaman pangan, akibat persaingan dengan gulma pro-duktivitas hasil dapat menurun sampai 60%. Pada padi sawah, penurunan pro-duksi berkisar 15-42%, padi gogo 36-92%, jagung 16-82%, kedelai 18-19%, kacang tanah 20-50%, kacang hijau 32% dan ubi kayu 6-62% (Bangun, 1990).

Adanya kultur teknis pengen-dalian gulma dengan herbisida organik diharapkan potensi genetik tanaman pokok dapat bertumbuh dan

berkem-Keywords : Metroxylon sago Rottb, sago waste, weed, Axonopus compressus (SW) Beauv.

Metroxylon

et al.

(3)

Treatment Combination among sago waste, time at decomposition time and percentage of compost

No. Perlakuan Kombinasi ampas sagu, lamanya dekomposisi dan persentase kompos

1 A % ampas sagu

2 B 100 % ampas sagu setelah dekomposisi 1 bulan 3 C 100 % ampas sagu setelah dekomposisi 2 bulan 4 D 75 % ampas sagu + 25 % kompos

5 E 75 % ampas sagu + 25 % kompos dekomposisi 1 bulan 6 F 75 % ampas sagu + 25 % kompos dekomposisi 2 bulan 7 G 50 % ampas sagu + 50 % kompos

8 H 50 % ampas sagu + 50 % kompos , dekomposisi 1 bulan 9 I 50 % ampas sagu + 50 % kompos , dekomposisi 2 bulan 10 J 25 % ampas sagu + 75 % kompos

11 K 25 % ampas sagu + 75 % kompos, dekomposisi 1 bulan 12 L 25 % ampas sagu + 75 % kompos,dekomposisi 2 bulan

13 M Pasir kerikil

14 N Tanpa bahan organik

Tabel 1. Perlakuan ampas sagu lamanya dekomposisi, dan persentase kompos.

bang dengan baik karena daya saing yang disebabkan tanaman pengganggu menjadi lemah. Dampak lain sebagai bagian dari pengelolaan tanaman pokok yang diusahakan, biaya produksi ter-kendali dengan mendapatkan keun-tungan yang maksimal. Berdasarkan sifat fisik dan senyawa kimia yang terdapat dalam ampas sagu, maka diperlukan penelitian mengenai nilai tambah potensi limbah sagu sebagai mulsa dalam mengendalikan perkembangan jenis-jenis gulma dimana salah satu gulma daun sempit yang dominan dilapangan adalah

Beauv.

Penelitian pengaruh ampas sagu terhadap gulma berdaun sempit

dilaksanakan di KP. Cikabayan, IPB dan Laboratorium Balittro Bogor dari bulan September 2003 sampai dengan April 2004. Rancangan percobaan yang dipakai adalah Rancangan Acak Lengkap yang

terdiri atas 14 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali (Tabel 1). Jenis gulma yang dipakai adalah gulma yang dominan tumbuh di Kebun Percobaan Cikabayan IPB. Gulma

yang terpilih ditanam pada polibag berukuran 30 cm x 30 cm selama dua minggu. Sekeliling polibag diberi per-lakuan mulsa ampas sagu setebal 5 cm. Sebagai kontrol dipakai mulsa pasir berkrikil dan perlakuan tanpa bahan organik. Pengamatan di lapangan dilaku-kan terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, bobot kering gul-ma, dan persentase kematian gulma. Selain itu, di laboratorium dianalisis kadar asam fenolat dari setiap kombinasi perlakuan ampas sagu.

Hasil pengamatan berbagai pe-ubah diolah secara statistik. Apabila terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji berganda Duncan pada taraf 5%.

Table 1. Treatment of sagu waste duration of decomposition and percentage of organic matter. Axonopus compressus (SW)

A. compressus

A. compressus

(4)

No. Perlakuan

12 Minggu setelah perlakuan Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) Jumlah Tunas Jumlah Daun 1 A (% ampas sagu) 58,63 ab 2,45 38,84 c

2 B (100% ampas sagu setelah dekomposisi 1 bulan) 34,11 c 2,66 45,44 bc 3 C (100% ampas sagu setelah dekomposisi 2 bulan) 50,95 ab 3,01 51,72 bc 4 D (75% ampas sagu + 25% kompos) 52,44 ab 2,38 55,39 abc 5 E (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 1 bulan) 48,12 ab 3,30 56,47 abc 6 F (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 2 bulan) 61,52 a 3,42 55,60 abc 7 G (50% ampas sagu + 50% kompos) 61,95 a 2,49 61,57 ab 8 H (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 1 bulan) 58,48 ab 3,26 66,89 a 9 I (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 2 bulan) 59,44 ab 3,89 65,05 a 10 J (25% ampas sagu + 75% kompos) 49,53 ab 3,91 56,47 abc 11 K (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 1 bulan) 59,55 ab 3,63 69,82 a 12 L (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 2 bulan) 52,82 ab 3,84 64,99 a

13 M (Pasir kerikil) 52,03 ab 2,98 58,09 ab

14 N (Tanpa bahan organik) 46,21 bc 2,84 60,94 ab

Treatment

12 weeks after treatment

Height of weed (cm) Number of shoots Number of leaves

Tabel 2. Pengaruh beberapa perlakuan ampas sagu terhadap pertambahan tinggi tanaman, jumlah tunas dan jumlah daun gulma .

Dari hasil analisis, ternyata perlakuan-perlakuan yang diberi ampas sagu tidak berpengaruh nyata terhadap

pertam-bahan tinggi gulma

diban-ding dengan media pasir berkerikil atau tanpa bahan organik. Adanya bedaan nyata hanya terjadi pada per-lakuan B, yaitu media tanah diberi 100% ampas sagu yang telah mengalami dekomposisi selama satu bulan diban-dingkan dengan gulma yang tumbuh pada mulsa pasir kerikil. (Tabel 2). Pengaruh pemberian ampas sagu dengan

kombinasi dekomposisi sampai 2 bulan dan beberapa persentasi campuran kompos tidak berbeda nyata dibanding-kan apabila gulma tumbuh di media mulsa berkerikil maupun tanpa bahan organik.

Pemberian ampas sagu dalam berbagai persentase termasuk yang telah mengalami dekomposisi dan diberi per-sentase kompos yang bervariasi ternyata tidak berpengaruh nyata dalam hal jumlah anakan dibandingkan perlakuan yang diberi pasir kerikil atau tanpa bahan organik sebagai kontrol. Selain itu, antara perlakuan, ampas sagu yang telah terdekomposisi atau penambahan kom-pos ternyata tidak berbeda nyata dalam hal jumlah anakan.

A. compressus

Table 2. Effect of several treatments of sago waste on height of weed, number of leaves of A. compressus weed.

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap kolom tidak berbeda nyata pada level 5% DMRT. Note : Numbers followed by same letters in the same column are not significantly different at 5 % level of DMRT.

A. compressus HASIL DAN PEMBAHASAN Pertambahan Tinggi Tanaman, Jumlah Anakan dan Jumlah Daun

(5)

Adanya pengaruh ampas sagu sebagai perlakuan mulai terlihat pada jumlah daun apabila diberikan setebal 5 cm dalam bentuk ampas sagu 100% dibandingkan dengan perlakuan G, H, I, J, K, L, M, dan N. Menurut Suradikusumah (1996) protein diikat oleh fenol sehingga ATP (Adenosin Triphosphat) tidak dapat terbentuk karena beberapa enzim ter-hambat pembentukannya. Akibatnya tanaman kekurangan energi sehingga pembentukan daun gulma berkurang seperti terlihat pada perlakuan A (100% ampas sagu) yang berbeda nyata diban-ding tanpa adanya fenol (perlakuan M dan N). Menurut Oudejans (1991) herbisida yang mengandung fenol meru-pakan herbisida organik dengan sifat kontak. Organ daun yang terkena herbi-sida ini dapat terbakar pada hijauan daun, sehingga daun mengering dan berakibat pembentukan daun berkurang seperti ditunjukkan oleh pemberian mulsa ampas sagu. Hasil penelitian Syakir . (2009) menyatakan bahwa pemberian ampas sagu dan kompos dapat meningkatkan jumlah biji tanaman lada 91-100% dan bobot kering buah yang tinggi sebesar 323,20 g/tanaman. Untuk menghindari terbakarnya tanam-an pokok seperti daun ttanam-anamtanam-an lada, pemberian ampas sagu dilakukan se-sudah tanaman pokok ditanam dan tumbuh menjadi tinggi sehingga tidak terkena pengaruh mulsa ampas sagu.

Pengaruh beberapa perlakuan ampas sagu terhadap bobot kering

gulma tidak berbeda nyata

sampai 6 minggu setelah di aplikasikan. Setelah memasuki minggu ke 9 perla-kuan A, B, C, D, E, F, G, I, J, K dan L memperlihatkan perbedaan yang nyata dibanding dengan perlakuan N (tanpa

bahan organik), kecuali perlakuan H, yaitu 50% ampas sagu ditambah 50% kompos yang sudah terdekomposisi selama satu bulan. Perbedaan terjadi juga pada perlakuan A, C, D dan E dibanding dengan media yang hanya diberi pasir kerikil (perlakuan M). Pada minggu ke 12 terlihat jelas perbedaan yang nyata akibat pengaruh ampas sagu yang di-kombinasikan dengan berbagai persentase kompos setelah dekomposisi 1 sampai 2 bulan dibanding tanpa bahan organik. Hal yang sama tidak terlihat jika diban-dingkan dengan perlakuan M, yaitu mulsa yang dipakai pasir krikil. Per-bedaan yang nyata hanya pada per-lakuan A dan D. Terjadinya perbedaan yang ada sehingga bobot kering ber-kurang, kemungkinan besar karena asam fenolat masih tinggi pada perlakuan A dan D, sedang pada perlakuan lainnya terjadi proses dekomposisi sehingga asam fenolat jadi berkurang (Tabel 3). Menurut Chou (1995) senyawa yang bersifat allelopati terhadap tanam-an lain dapat menekan sementara per-tumbuhan tanaman, karena secara alami senyawa tersebut dapat terurai sehingga perlahan-lahan tidak beracun.

Persentase kematian gulma dengan pemberian ampas sagu 100% atau yang telah mengalami dekomposisi satu dan dua bulan termasuk penam-bahan kompos ternyata tidak berbeda nyata dengan kontrol, yaitu pasir kerikil atau tanpa bahan organik (Tabel 4). Walaupun persentase tanaman yang mati meningkat dengan terjadinya ke-naikan asam fenolat sampai 100%, ter-nyata pemberian ampas sagu belum dapat disimpulkan sebagai penyebab tingginya kematian gulma. Sebagai et al

A. compressus

Bobot Kering Tanaman Gulma

Kematian Gulma dan Kandungan Fenolat Tanah

(6)

No. Perlakuan Minggu setelah perlakuan (g)

6 9 12

1 A (% ampas sagu) 1,43 2,26 d 2,53 e

2 B (100% ampas sagu setelah dekomposisi 1 bulan) 2,20 2,48 cd 2,82 de 3 C (100% ampas sagu setelah dekomposisi 2 bulan) 1,33 2,25 d 2,96 cde 4 D (75% ampas sagu + 25% kompos) 1,47 2,07 d 2,47 e 5 E (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 1 bulan) 1,45 2,21 d 3,64 bcde 6 F (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 2 bulan) 1,53 3,00 bcd 4,52 bcd 7 G (50% ampas sagu + 50% kompos) 1,49 2,57 cd 3,31 bcde 8 H (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 1 bulan) 2,32 4,04 ab 4,77 b 9 I (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 2 bulan) 1,71 2,82 bcd 4,06 bcde 10 J (25% ampas sagu + 75% kompos) 1,38 2,53 cd 3,65 bcde 11 K (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 1 bulan) 2,01 3,01 bcd 4,19 bcde 12 L (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 2 bulan) 1,54 2,98 bcd 4,66 bc

13 M (Pasir kerikil) 2,37 3,75 abc 4,51 bcd

14 N (Tanpa bahan organik) 2,12 4,40 a 6,42 a

No. Perlakuan

Persentase kematian

gulma

Kandungan asam fenolat dalam tanah (ppm)

1 A (% ampas sagu) 11,40 24,56

2 B (100% ampas sagu setelah dekomposisi 1 bulan) 10,00 22,06 3 C (100% ampas sagu setelah dekomposisi 2 bulan) 11,67 22,70

4 D (75% ampas sagu + 25% kompos) 13,33 23,70

5 E (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 1 bulan) 11,00 20,53 6 F (75% ampas sagu + 25% kompos dekomposisi 2 bulan) 11,67 20,66

7 G (50% ampas sagu + 50% kompos) 10,00 22,56

8 H (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 1 bulan) 6,70 19,63 9 I (50% ampas sagu + 50% kompos dekomposisi 2 bulan) 5,40 18,36

10 J (25% ampas sagu + 75% kompos) 6,30 16,00

11 K (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 1 bulan) 5,10 14,60 12 L (25% ampas sagu + 75% kompos dekomposisi 2 bulan) 4,00 12,06

13 M (Pasir kerikil) 8,30 9,63

14 N (Tanpa bahan organik) 6,00 10,76

Treatment Week after treatment (g)

Treatment

Percentage death of weed

Phenolic acid content in the soil (ppm)

Tabel 3. Pengaruh beberapa perlakuan ampas sagu terhadap bobot kering tanaman

gulma berdaun sempit .

Tabel 4. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu terhadap kematian gulma dan asam fenolat dalam tanah setelah 12 bulan perlakuan.

gambaran, kenaikan asam fenolat untuk perlakuan A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K dan L sekitar 12,06 – 24,56 ppm sedangkan

tanpa perlakuan ampas sagu hanya 9,63 ppm (perlakuan M) dan 10,76 ppm (perlakuan N).

A. compressus

Table 3. Effect of several treatments of sago waste on dry weight of A. compressus weed.

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap kolom tidak berbeda nyata pada taraf 5 % DMRT. Note : Numbers followed by the same letters in the some column are not significantly different at 5 % level of DMRT.

A. compressus

Table 4. Effect of decomposition time and composition of sago waste on the Percentage of death of A. compressus weed and phenolic acid content in the soil 12 months after treatment.

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap kolom tidak berbeda nyata pada level 5% DMRT. Note : Numbers followed by the same letters in the some column are not significantly different at 5% level of DMRT.

(7)

Pengaruh pemberian ampas sagu setelah mengalami dekomposisi satu bulan dapat mengurangi pertambahan tinggi gulma dibanding jika memakai media pasir berkerikil. Pemberian ampas sagu sampai 100% dapat menekan pem-bentukan jumlah daun dan mengurangi bobot kering gulma. Pemberian ampas sagu akan meningkatkan asam fenolat apabila persentase ampas sagu diting-katkan.

Aplikasi ampas sagu sebagai mulsa harus dilakukan setelah tanaman pokok ditanam, agar tidak terkonta-minasi dengan organ hijauan tanaman pokok. Hal ini disebabkan ampas sagu bersifat toksik.

Allorerung D dan Rembang JWA. 1992. Rehabilitasi hamparan sagu. Balai penelitian Tanaman Kelapa. 1-9. Bangun F. 1990. Pengelolaan Gulma Pada

Tanaman Pangan. Agricon. Bogor. Hlm.253-269.

Bintoro HMH, Yanuar HM, Purwato J dan Amarilis S. 2010. Sagu di lahan gambut. IPB Press. 169 hlm Chou CH. 1995. Allelopathic components

as naturally oceuring herbicides. Jn. C.C. Poh (Eds.). Innovative weed management strategies for sustainable agriquluture, Japan International Research Centre of Agriculture Seciences Japan. Pp.107 – 115

Djoefrie MHB. 1999. Pemberdayaan Tanaman sagu sebagai penghasil bahan pangan alternative dan bahan baku agro industry yang potensial dalam rangka Ketahanan

pangan Nasional. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Tanaman Perkebunan. IPB. 69 hlm.

Flach M. 1983. The Sago Palm Domes-tication Exploitation and Products. FAO Plant Production and Pro-tection Paper 85 p.

Flach M. 1997. The Sago Palm Metro-xylon sago Rottb. Internasional Plant Genetic Resources Institute. Rome, Italy. 76 p.

Lyons TP. 1999. Thinking outside the box. Ethanol production in the next millennium; processors of row materials, not just ethanol producers. In the alcohol text book. Third edition. Nottingham University Press. Pp.1-6.

Oudejans JH. 1991. Agro Pesticides. Pro-perties and Function in Integrated Crop Protection. United Nations. Bangkok.329 p.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2002. Arahan Perwilayahan Komoditas Pertanian Unggulan Nasional. Skala 1 : 1.000.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat . Bogor. 43 hlm.

Salisbury FB. and Ross CW. 1955. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan Lukman dan Sunaryono. ITB. Bandung. 338 hlm.

Suradikusumah E.1996. Pemisahan se-nyawa fenol dengan kromatografi kinerja tinggi (HPLC). Bul.Kimia 11; 49 -66.

Syakir M, Bintoro MH, Agusta H, Muh. Tamrin, dan Hernita D. 2008. Efektivitas limbah sagu dalam menekan pertumbuhan gulma

daun lebar ( (AUBL)

OC dan Mikania micrantha HBK). Buletin Palma. Hlm. 59-69.

Tenda ET. 2004. Pemanfaatan Ke-ragaman Genetik Untuk Pengem-bangan Sagu. Prosiding Simpo-sium IV. Hasil Penelitian Tana-man Perkebunan. Bogor. 28-30 September 2004. Hlm. 313-320. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Gambar

Tabel 1. Perlakuan ampas sagu lamanya dekomposisi, dan persentase kompos.
Table 2. Effect  of  several  treatments  of  sago  waste  on  height of  weed,  number  of leaves  of       A
Tabel 3. Pengaruh beberapa  perlakuan  ampas  sagu  terhadap  bobot  kering tanaman  gulma berdaun sempit  .

Referensi

Dokumen terkait

Kajian coreflooding test di laboratorium injeksi surfactant- polymer ini meliputi pengukuran tegangan antarmuka larutan surfaktan pada berbagai konsentrasi dan tipe

Berdasarkan hasil estimasi model persamaan regresi yang telah dilakukan di atas diperoleh nilai koefisien determinasi (R 2 ) pada (lampiran 5) menghasilkan nilai

Memperoleh suatu judul Tugas Akhir yang jelas dan layak, dengan suatu penekanan desain yang spesifik sesuai dengan aktualita, urgensi, originalitas/karakter judul dan

AKUMULASI LOGAM BERAT (Pb DAN Cu) PADA KERANG KEPAH (Polymesoda erosa) DI SUNGAI BATU

Analisis hubungan antara tingkat implementasi budidaya padi sistem tanam jajar legowo dengan pendapatan petani di Desa Suak Batok Kecamatan Indralaya Utara

Dari enam faktor yang diteliti (sistem manajemen lingkungan, kinerja.. lingkungan, ukuran perusahaan, tipe industri, return on asset, dan leverage ), terbukti sistem

memeriksa kualitas dan administrasi serta melaksanakan inventarisasi dan pencatatan barang/aset dan melaporkan pelaksanaannya ke kepala daerah. 8 Kepala bidang aset BPKD Kabupaten

Jika tanaman roboh, biasanya petani akan memanen padi pada saat masih muda, hal ini untuk menghindari adanya padi yang tumbuh dalam genangan air dan agar petani tetap