9
2.1. Studi Literatur
2.1.1. Tinjauan Judul Perancangan Perancangan 2.1.1.1. Pengertian Buku
Buku adalah suatu media komunikasi yang mempunyai peran sangat penting dalam hal pengetahuan dan informasi pada saat ini, karena buku dapat dibaca dimana saja dan kapan saja. (“wikipedia”)
Berdasarkan kamus Oxford Advanced Learners Dictionary, maka buku didefinisikan sebagai sejumlah lembaran kertas yang ditulisi dan dicetak serta disatukan dalam satu sampul buku. Sedangkan membaca diartikan sebagai periode aktivitas seseorang dalam suatu jangka waktu tertentu dalam hal ini adalah membaca buku sehingga akan diperoleh pengetahuan sekaligus hiburan. Maka dapat disimpulkan secara sederhana bahwa buku bacaan merupakan karya tulis yang dikomposisikan untuk memberikan informasi baik pengetahuan maupun yang bersifat hiburan positif namun bisa juga negatif bagi orang yang membacanya.
Buku bacaan bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuan dan mencerdaskan seseorang, mengembangkan intelektualitasnya, juga kreativitasnya, serta membentuk pola pikir dan budaya masyarakat. Namun buku juga dapat menjadi tidak berguna apabila berorientasi kepada kepentingan pribadi dan tidak berorientasi pada kepentingan dan manfaatnya bagi masyarakat umum. Sehingga buku bacaan harus memperhatikan segmennya, tujuan apa yang dikehendaki dan metode apa yang dipergunakan serta apakah dengan metode tersebut segmen konsumennya dapat menyerap dengan baik isi buku tersebut. Buku bacaan alat dan sarana yang tepat untuk mempropagandakan ide baik itu ide positif maupun negatif.
2.1.1.2. Pengertian Biografi
Biografi adalah rangkaian kisah nyata dari kehidapan seseorang, yang diuraikan secara tertulis oleh orang lain. Jikalau seseorang menulis sendiri kisah masa lampaunya, karya tulis itu disebut autobiografi. Penulisan biografi yang baik mensyaratkan keaslian (autentisitas) serta bukti yang lengkap, dan penyajian dalam bentuk uraian yang indah atau artistik sehingga mengesankan gambaran utuh kepribadian seseorang yang menjadi objek tulisan itu. Kisah-kisah itu dapat saja merupakan kejadian-kejadian yang terpisah, tetapi harus dirangkaikan sedemikian rupa sehingga merupakan pola perkembangan yang berkesinambungan. Namun dalam sejarahnya, biografi memang mempunyai bentuk dan versi yang sangat beraneka ragam, tergantung pada tujuan, strategi, dan gaya penulisannya.
Walau istilah serta batasan “biografi” itu sendiri baru diperkenalkan pertama kali pada abad ke-17 oleh John Dryden, namun banyak karya tulis dari jaman sebelumnya yang sekarang dinilai sebagai biografi. Dalam perkembangannya, bentuk dan gaya penulisan biografi mengalami kecenderungan yang khas bagi setiap jaman.
Jaman Romawi dan Yunani Kuno, misalnya, ditandai oleh tujuan atau hasrat mendambakan pengungkapan kembali prestasi atau kehebatan tokoh-tokoh masyarakat. Bentuknya berupa novel, dialog, atau bahkan legenda. Karya plato yang berjudul Apologia, Crito, dan Phaedo, misalnya, adalah cerita berbentuk dialog yang menggambarkan kehidupan Socrates, dengan menampilkan saat Socrates diadili, dipenjarakan, meninggal dunia, termasuk ajaran filsafatnya, yang akhirnya memusat pada “gambar” mengenai ahli filsafat besar itu. (hal 380)
2.1.1.3. Pengertian Michael Iskandar “Om Chia” Sebagai Tokoh Di Belakang Suksesnya Prestasi Balap Motor Indonesia
Michael Iskandar yang mempunyai panggilan akrab “Om Chia” lahir di Padang pada tanggal 24 April 1926, mempunyai sejarah hidup yang kurang menyenangkan yaitu sejak usia 4 tahun Om Chia sudah tidak mempunyai orang tua dan tinggal bersama kakaknya. Ketika ditanya apakah Om chia ingat akan masa kecilnya? Om Chia sangat terpukul karena tidak bisa mengingat masa kecilnya bersama keluarga terutama dengan orang tuanya. Om Chia hanya teringat
waktu kecil suka memelihara ayam, dan semasa di Padang Om Chia sekolah sampai tingkat 7 di sekolah vrateran Belanda, belum menyelesaikan studinya Om Chia pindah ke Medan melanjutkan STM tapi sayangnya hanya setengah jalan saja.
Om Chia yang pernah merasakan jaman penjajahan Jepang, mengaaku pada saat itu Indonesia sangatlah susah, lalu Om Chia bekerja dengan Jepang di perusahaan alat-alat pertanian.
Di pabrik itu, ada seorang Jepang yang mempunyai motor Harley tua, dan diperbaiki kembali. Saat itu Om Chia sering memperhatikan, membantu mencuci, merawat Harley itu. Saat itu Om Chia yang masih asing dengan motor, terheran-heran “ kok, motor itu bisa jalan?” mulailah Om Chia tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang motor. karena keuletan dan kerja kerasnya Om Chia sangat disayang sama atasannya. Sewaktu bekerja di Jepang Om Chia mempunyai sahabat yaitu Montero, seorang turunan Portugis.
Setelah Jepang kalah, Om Chia dan Montero dievakuasi ke Batavia, dijemput oleh orang Inggris, disana Om Chia dan Montero bekerja dengan orang Belanda di Militer Transport Dienst (MTD) dimana Om Chia menangani bagian transport militer, dibagian servis mobil. Secara otodidak Om Chia mempelajari mesin-mesin itu.
Setelah sahabatnya, Montero naik pangkat dan dihadiahi sebuah motor dinas yaitu Harley, Om Chia yang tersepona itu akhirnya diam-diam menaiki motor itu, padahal Om Chia sama sekali belum pernah mengendarai motor sebelumnya. Akhirnya terjadi kericuhan, dan memancing kepala MTD keluar yaitu Ir. Lapre setelah dimarah-marahi dan mau dihukum akhirnya dengan bantuan Montero Om Chia akhirnya dipindahkan ke bagian bengkel motor-motor dinas. Disitulah Om Chia mulai terjun langsung ke dunia motor. Disana Om Chia bekerja sama dengan kedua temannya yaitu, Mayor Balyet dan Sersan Denjider. Lagi-lagi di dalam bekerja Om Chia tidak setengah-setengah , Om Chia begitu diperhatikan dan disayangi. Dalam waktu singkat saja Om Chia sudah menjadi kepala kelompok bengkel servis motor.
Om Chia yang mempunyai nama asli Tjia Goan Hong, 1957 muncul di arena balap bersama Bambang gunardi (Thio Tjang Djen) dan Ong Soei Ho.
1958, Om Tjia terjun di lintasan balap Curug dengan mengendarai Vellocete buatan Inggris. Setelah itu beliau terjun di lintasan balap Cililitan dengan mengndarai Gold Star, kemudian kembali ke Curug.
Pada tahun 1960, JAJ Grashuis (Jan Alex Jacobus, orang Belanda) bersama dengan Bambang Gunardi (Thio Tjang Djen) dan Michael Iskandar (Tjia Goan Hong) mewakili Indonesia dalam perlombaan Balap Motor Lionel Pereira Challenge Cup di Sri Lanka.
Sejarah balap motor JAJ Grashuis selama 2 dekade berikutnya mencerminkan awal kebangkitan OR otomotif di Tanah Air di era 1950-an. Namanya pasti disebut-sebut para pembalap di era selanjutnya bila berbicara tentang dunia olahraga otomotif di tanah air.
Mulai muncul di berbagai arena balapan tahun 1957, dua tahun kemudian berlangsung dengan Bambang Gunardi (Thio Tjang Djen) dan Ong Sei Ho. Setelah itu Om Chia lebih aktif mengkilik mesin motor Suzuki yang saat itu menjadi saingan terberat Yamaha. Pembalap yang kerap menang di atas kendaraan Suzuki A100 hasil kilikannya adalah Hendra “Abauw” Tirtasaputra, Beng Soeswanto, Maneke Cho. Om jadi sering mendampingi para pembalap dalam lomba Balap Motor di Luar Negri seperti Malaysia, singapura, Thailand, Macao, Jepang.
Setelah itu banyak para pembalap muda muncul sebagai juara dengan mesin rakitan Om Chia.
Generasi 1 : Abauw, Beng Suswanto, Inton, Ashun Bahar.
Generasi 2 : Nanang Gunawan, Doni W. (Solo), Beng Kim, Kosasih, Bilham, Jony Wijaya, “Popeye”, Iyen, Alm. Lili (Bali), Leo Santana, Herman D. (Tek Kwie), Nenet Taraya.
Generasi 3 : Hong Cuan, En lie, Yayang Ompong, Hong An, Akong, Deden Arsyad, Kerry Hutama.
Generasi 4 : Felix JY, Dicky Setiawan, Awi, Asep Hendro, Dadan Nugraha, Imanuddin, Girianto.
Generasi 5 : Sigit Sugiarto, Denny, Bima Octavianuz. Generasi 6 : Rafid Poppy, Hendriansyah, Bima Aditya.
Om Chia pernah mendapat penghargaan dari Indomobil karena prestasinya dan kesetiannya pada Suzuki. Selain itu Michael Iskandar juga diakui prestasinya oleh IMI (Ikatan Motor Indonesia).
2.1.1.4. Pengertian Visual Grafis
Grafis, yang berasal dari bahasa Inggris graphic, adalah presentasi visual pada sebuah permukaan seperti dinding, kanvas, layar komputer, kertas, atau batu bertujuan untuk memberi tanda, informasi, ilustrasi, atau untuk hiburan. Contohnya adalah: foto, gambar/drawing, Line Art, grafik, diagram, tipografi, angka, simbol, desain geometris, peta, gambar teknik, dan lain-lain. Seringkali dalam bentuk kombinasi teks, ilustrasi, dan warna. Dalam bahasa Indonesia, kata "grafis" sering dikaitkan dengan seni grafis (printmaking) dan desain grafis atau desain komunikasi visual.
Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan teks dan/atau gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan. Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan termasuk tipografi, pengolahan gambar, dan page layout. Desainer grafis menata tampilan huruf dan ruang komposisi untuk menciptakan sebuah rancangan yang efektif dan komunikatif. Desain grafis melingkupi segala bidang yang membutuhkan penerjemahan bahasa verbal menjadi perancangan secara visual terhadap teks dan gambar pada berbagai media publikasi guna menyampaikan pesan-pesan kepada komunikan seefektif mungkin.Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis komunikasi lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan (mendesain) atau pun produk yang dihasilkan (desain/rancangan).
Desain grafis biasanya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik - yang sering kali disebut sebagai "desain interaktif" (interactive design), atau "desain multimedia" (multimedia design).
2.1.2. Tinjauan Unsur-Unsur Visual Buku Bergambar
Komposisi merupakan suatu bentuk abstrak dari suatu gambar, basis acuaan dan kerangka yang mendukung keseluruhan struktur dan konstruksi dari elemen-elemen pada gambar tersebut. Komposisi mempergunakan kaidah grid yang merupakan pedoman yang terdiri atas garis-garis lurus yang saling memotong satu sama lain dan membentuk persegi. Grid dapat menentukan posisi obyek yang tepat sehingga mudah dilihat dan juga mencapai keseimbangan gambar antara bidang gambar dan gambarannya. Saat menyusun komposisi gambar, daerah-daerah yang kosong, jarak-jarak antar obyek juga menjadi bahan pertimbangan, sekalipun bukan merupakan obyek perhatian utama dari pengamat, namun secara tidak langsung mempengaruhi kenyamanan dalam melihat gambaran tersebut. Hal ini tentu saja dengan tujuan yaitu dicapai keseimbangan tanpa pembagian yang berkesan simetris membosankan.
Secara garis besar, unsur–unsur komposisi antara lain: garis (line), tekanan atau kualitas gelap terang (value), bentuk dan ruang (shape and space), pola (pattern), tekstur (texture), dan warna (colors), yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
2.1.2.1. Garis (Line)
Garis menciptakan arah, gerak, dan energi. Garis tegas umumnya digunakan untuk menggambarkan fenomena alam dan terkesan maskulin, sedangkan garis lembut dapat menciptakan kesan feminin, melankolis, ataupun kelunakan.
Garis merupakan unsur dasar komposisi dan memiliki peranan penting karena dapat dipergunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk dan observasi visual atau pengungkapan secara subyektif akan gagasan, membangkitkan berbagai pengalaman, pikiran, atau paham, dan intuisi-intuisi (Mendelowitz dan Wakeham 64).
Garis yang sederhana menggambarkan suatu arah, membagi ruang, memiliki panjang, memiliki lebar, corak atau warna, dan tekanan atau kontur.
Garis yang tergambar mampu mengungkapkan emosi dan temperamen yang secara natural diekspresikan oleh subyek yang digambar.
Garis dapar dibedakan menjadi: 1. Garis Kontur
Garis kontur, yaitu garis yang melukiskan bagian tepi dari suatu bentuk sehingga memisahkan setiap area atau volume yang ada disekitarnya. Garis kontur yang sangat sederhana umumnya tidak bervariasi dari segi ketebalan, tidak diperkuat dengan gradasi gelap-terang ataupun bayangan. Sedangkan garis kontur yang ekspresif akan mengajak mata pengamat untuk menerima garis tersebut sebagai sebuah bentuk karena dibentuk dengan variasi tebal tipis garis serta memiliki detail.
2. Garis Kaligrafi
Garis kaligrafi atau penulisan indah. Garis kaligrafi terjadi jika keindahan dari garis yang ditampilkan menjadi aspek utama bagi keindahan gambar, dimana garis ini dapat menunjukkan masing-masing kualitas pribadi dari penggambarnya, karena garis ini bersifat ekspresif yang menggunakan kekuatan tebal tipis untuk mengekspresikan bentuk, tepi yang berpotongan, terang dengan gelap.
2.1.2.2. Kualitas Gelap Terang (Value)
Secara nyata putih merupakan tekanan yang paling rendah atau yang paling terang, sedangkan hitam merupakan tekanan yang paling kuat atau paling gelap dan diantaranya terdapat warna abu-abu. Setiap benda walaupun tidak memiliki warna hitam atau putih, namun tetap saja mashi memiliki kualitas gelap terang yang dapat dianalisa dan dikategorikan sebagai tingkatan kualitas gelap terang atau value.
Bila garis mendiskripsikan bentuk obyek, maka value akan memperjelas dan memperkaya garis sehingga bentuk 3 dimensi dari benda tersebut dapat terlihat dan lebih hidup, tempat dan hubungan antar bentuk dapat ditentukan, membentuk pola untuk menggambarkan tekstur obyek, serta memberikan kesan dramatis. Derajat perubahan value tergantung dari kekontrasan antara bayangan dengan cahaya, juga dari sumber cahaya yang menimpa obyek.
2.1.2.3. Bentuk dan Ruang (Shape and Space)
Bentuk mampu menghadirkan suasana berbeda layaknya bentuk imajinatif, geometrik, dan sebagainya, bentuk merupakan sebuah presentasi abstrak sebuah garis imajinasi yang menggambarkan sebuah obyek didalam hubungannya dengan latark belakang, karakter tiga dimensi ang terbentuk. Sedangkan ruang merupakan aspek negatif dari sebuah bentuk. Ruang dapat dikenali dengan adanya gelap terang cahaya sehingga obyek menjadi bentuk yang terpisah dari suatu ruang.
2.1.2.4. Pola (Pattern)
Merupakan bentuk dekoratif yang bersifat datar dan tidak memiliki value atau kualitas gelap terang sehingga seperti silhouette atau siluet yang meminimalkan volume obyek. Apabila pola bersifat dekoratif maka hanya bertujuan untuk memperindah yang dapat terlihat pada pola dekoratif pada tekstil.
2.1.2.5. Tekstur (Texture)
Kualitas permukaan benda yang dapat dirasakan, baik kasar maupun halus, keras maupun lembut yang disebut tekstur. Tekstur merupakan elemen desain yang bersifat ekspresif dan emosional serta menggambarkan ciri khas pelukisnya (Wolf 8). Tekstur juga dapat menimbulkan kesan ekspresif yang dapat menentukan kekuatan emosional dalam sebuah gambar.
Tekstur dapat dihasilkan dan berbentuk berbagai variasi kuat lemah warna atau arsiran dan juga dapat diperoleh melalui percobaan yang menggunakan alat-alat yang ada disekitar kita secara kreatif. Tekstur dapat berbentuk seragam (pointilisme, melalui penemuan penggunaan alat-alat (spons, garam, dan sebagainya yang dicampur dengan cat), serta tekstur yang ekspresif dengan berbentuk kasar dan unik.
2.1.2.6. Warna (Colors)
Kualitas dari mutu cahaya yang dipantulkan oleh suatu obyek ke mata manusia sehingga dapat membangkitkan perasaan manusia (Sudiana 38).
Warna di lain pihak merupakan elemen yang bercahaya dari suatu obyek yang memiliki berbagai kualitas yang memberikan kesan volume dan komplesitas dari obyek (Wilco Int. 33). Warna dihasilkan dari gelombang cahaya sejenis radiasi elektromagnetik, yang terukur dengan satuan mikron. Warna-warna yang dapat dilihat dengan kemampuan mata manusia antara 400-700 mikron, namun ada juga warna-warna yang tidak terjangkau untuk dilihat karena panjang gelombangnya berada diluar jangkauan kita.
Warna pada umunya digunakan untuk menghidupkan emosi dan suasana yang terdapat didalam satu kesatuan ilustrasi.
Berikut ini penjabaran peran warna secara terperinci adalah: Identifikasi, menarik perhatian, memberi pengaruh psikologis, mengembangkan asosiasi, membangun ketahanan minat, dan menciptakan suasana.
Gambar 2.1. Spektrum warna sederhana Sumber: www.sapdesignguild.org
Gambar 2.2. Spektrum warna dengan kombinasi warna sekunder dan tersier
1. Klasifikasi Warna Berdasarkan Spektrum Warna
Pertama adalah warna primer atau warna dasar terdiri atas tiga warna, yaitu merah (magenta red), kuning (lemon yellow), dan biru (turquoise blue). Warna ini merupakan warna-warna yang tidak bisa dicapai atau didapatkan melalui pencampuran warna-warna lainnya, karena merupakan warna yang paling dasar. Sedangkan warna-warna lainnya merupakan turunan atau pencampuran ataupun kombinasi dari ketiga warna tersebut.
Kedua warna sekunder merupakan hasil dari pencampuran atau kombinasi dari warna primer tersebut diatas, dimana dalam lingkaran warna, warna-warna sekunder merupakan lawan dari warna-warna-warna-warna primer. Warna-warna-warna sekunder berada pada posisi yang saling berlawanan dengan posisi warna-warna primer, dan hal ini disebut juga dengan warna-warna komplementer.
Ketiga warna tertier merupakan warna-warna yang berada diantara berbagai warna-warna yang ada yang merupakan turunan atau pencampuran dari berbagai warna-warna sekunder tersebut. Warna ini biasanya ditulis lebih dari satu warna, seperti: kuning kecoklatan, biru kehijauan, dan sebagainya.
Keempat warna komplementer merupakan warna-warna yang saling berlawanan dalam lingkaran warna, berlawanan secara kontras dan jika keduanya tercampur maka akan dihasilkan warna abu-abu netral. Misalnya warna ungu dengan kuning, warna merah dengan hijau, dan warna biru dengan oranye, dan sebagainya. Warna komplementer ini dapat menetralkan intensitas warna yang terlalu kuat.
Kelima warna analogus merupakan warna yang mempergunakan terang gelap dan intensitas dari warna yang terdekat, misalnya kuning kehijauan, dan kuning oranye (didominasi oleh kuning), dan sebagainya. Sekalipun lebih berwarna daripada monochromatic, namun warna analgus juga menciptakan keharmonisan dan suasana hati yang tenang karena hubungan yang dekat dengan warna-warna yang dipakai.
2. Klasifikasi Warna Pada Gambar atau Ilustrasi
Yang pertama adalah warna Monochromatic, yaitu warna yang menambahkan atau mengurangi intensitas dari satu warna saja. Gambar yang
hanya memiliki satu warna (monochrome), warna dan kedalamannya tergambarkan pada kualitas gelap terang warna, yang mana gambar ini tidak mempresentasikan kenyataan atau realitas yang ada, namun mengidentifikasikan sebuah keseimbangan antara cahaya dan bayangan dari obyek. Gambar monochrome memberikan kesan kelonggaran dan kebebasan bagi pengamatnya untuk memiliki imajinasi tentang obyek gambar serta partisipasi didalam memahami obyek. Kedua adalah warna Polychromatic/ Optical Color, yaitu warna yang menggunakan banyak kandungan warna yang dicampurkan, tidak semata-mata menambah intensitas dan kuat lemahnya seperti halnya monochromatic. Polychromatic membuat obyek menjadi lebih realis dan ekspresif sebab pencampuran warna didasarkan pada warna-warna yang sesungguhnya dilihat pada kehidupan nyatan sehari-hari.
3. Klasifikasi Warna Berdasarkan Sensasi yang Ditimbulkan
Disini terdiri dari tiga jenis warna yaitu yang pertama adalah warna-warna panas (hot). Warna merah, kuning, dan percampuran-percampuran diantaranya. Kedua adalah warna-warna dingin (cold). Warna biru, hijau, dan percampuran-percampuran diantaranya. Terakhir yang ketiga adalah warna-warna netral (neutral). Warna putih, abu-abu, dan juga warna hitam.
4. Klasifikasi Warna Berdasarkan Karakteristiknya
Hue, yaitu mengacu pada warna-warna tersebut dalam lingkaran warna, misalnya merah, biru, kuning, hijau, dan sebagainya. Hue merupakan kualitas yang membedakan antara warna yang satu dengan warna yang lainnya atau keunikan dari masing-masing warna. Chroma, yaitu kekuatan dan kelemahan warna yang mengacu pada intensitas warna, misalnya warna kuning memiliki intensitas warna yang kuat sedangkan warna ungu kurang kuat intensitasnya. Kemudian Value, seperti yang telah dipaparkan diatas, merupakan gelap terang bila dibandingkan dengan warna hitam dan warna putih. Penambahan warna hitam dapat menjadikan gelap, sedangkan penambahan warna putih dapat menjadikan kebih muda atau terang. Dalam hal ini value warna dapat dibedakan menjadi 2 yaitu Tint, warna dengan value tinggi atau warna-warna yang dianggap lebih
ringan atau terang karena penambahan warna putih. Lalu Shade, warna dengan value rendah atau warna-warna yang dianggap lebih gelap atau berat karena penambahan warna hitam.
Untuk mencapai suatu target value tertentu dari sebuah warna, sangat dipengaruhi dari warna-warna sekitarnya. Warna-warna yang saling berdampingan dapat mempengaruhi bentuk obyek dan juga penampilan warna itu sendiri dengan memperbandingkan apakah warna tersebut lebih terang atau lebih gelap dibandingkan warna yang mendampinginya.
5. Klasifikasi Warna Berdasarkan Maknanya
Masing-masing warna memiliki makna tertentu seperti juga kata-kata. Warna yang dilihat oleh mata masuk kedalam jiwa kita seperti suara yang terdengar oleh telinga. Maka terjadi sebuah standar warna yang diklasifikasikan berdasarkan atas makna-makna simbolik dan persepsi individu terhadap warna tersebut, antara lain:
Merah: semangat dan agresif, kebesaran, kemuliaan, keluhuran, pangkat, hormat, mempercepat detak jantung, menarik perhatian, kecepatan, dan sportivitas.
Kuning: senang, gembira, penarik perhatian, optimis, membuat orang cepat marah, warna yang paling sulit diterima mata. Meningkatkan konsentrasi, dan saling meningkatkan metabolisme.
Hijau: alami, warna yang paling mudah diterima oleh mata, meningkatkan penglihatan, ketenangan, menyegarkan, membuat rileks, dan kesuburan. Hijau tua melambangkan kejantanan, kuno, dipercaya membawa keberuntungan yang jelek.
Biru: warna langit dan lautan, warna yang paling populer, menimbulkan reaksi yang berlawanan dengan merah, kedamaian, ketenangan, warna dingin, dan merupakan simbol kesetiaan.
Hitam: warna yang melambangkan otoritas dan kekuatan, membuat orang akan tampak lebih ramping jika mengenakan pakaian warna hitam, warna yang menunjukkan kepatuhan, warna yang mengarah kepada iblis, kesedihan, kebijaksanaan, dan elegan.
Putih: berkesan tidak bersalah, kesucian, warna kehangatan, terang, netral, cocok dikombinasikan dengan berbagai macam warna apapun, steril atau higienis, ketenangan, memberikan kekuatan spiritual atau batin, iman atau kepercayaan, kemurnian, berkesan hampa, dan kesegaran.
Abu-abu: netral, sebagai background, berkesan pembatalan, keadaan terjepit, dan ragu-ragu.
Ungu: kemewahan, warna kerajaan, kekayaan, berpengalaman, feminin, romantis, seni, dan berlawanan dengan sifat alam.
Coklat: tanah, keras, warna bumi, alami, keaslian, warna kayu, kesedihan, kesuburan, ketenangan, kesan orang tua, dan warna kesukaan para kaum pria.
2.1.3. Tinjauan Unsur Komposisi 2.1.3.1. Penataan Layout
Bentuk paling umum dalam mengkomposisikan adalah bidang gambar berbentuk persegi empat panjang dengan kedua sisi lebih panjang dibandingkan dengan kedua sisi yang lain yang lebih pendek, baik mendatar maupun tegak. Namun subyek dari gambar atau obyek yang akan digambar akan menentukan bentuk dari bidang yang dikehendaki, jika menggambarkan pemandangan alam atau landscape maka bidang berbentuk datar atau memanjang secara horisontal. Karena hal ini akan memberikan kesan luas atau lebar dan lebih berkesan dramatis sesuai dengan obyek yang akan digambar. Sedangkan untuk penggambaran lukisan potret maka akan menggunakan bidang gambar yang tegak atau berdiri secara vertikal. Hal ini dikarenakan penggambaran potret yang berdiri membutuhkan bidang yang tegak pula dan juga untuk menghindari semakin banyaknya ruang kosong jika penggambaran potret digambarkan dengan bidang yang mendatar.
Namun komposisi tersebut kebanyakan dilanggar dalam perkembangannya, hal ini karena untuk mencapai bentuk yang lebih menarik. Komposisi beraneka ragam terjadi sejak ditemukannya kamera sehingga orang mulai berani untuk melakukan manipulasi komposisi (Raynes 90). Hal ini dapat dilakukan dengan permainan grid yang dapat digunakan sebagai garis bantu untuk
membuat dan menentukan letak obyek, sehingga obyek dapat berada pada tempat yang unik, menarik, dan juga seimbang. Umumnya pengaturan komposisi-komposisi ini tetap menggunakan elemen-elemen untuk menjaga keseimbangan gambar, seperti bayangan, subyek pembantu, latar belakang, pewarnaan, gradasi, dan sebagainya.
Kekuatan warna juga sangat berpengaruh didalam komposisi yang menarik. Warna yang netral dengan area yang bertekstur cenderung mengurangi berat dari komposisi. Sebuah area yang luas dapat diseimbangkan dengan area yang sempit, namun menggunakan warna yang berintensitas kuat dan kontras tinggi. Misalnya latar belakang yang berwarna hitam polos akan meningkatkan perhatian penonton kepada obyek lukisan, namun komposisi ini bersifat formal dan tradisional.
2.1.3.2. Tinjauan Teori Perspektif Sederhana
Perspektif merupakan hukum yang memprediksi dan menjelaskan tentang ragam dan cara bagaimana suatu obyek yang tampak semakin berkurang dan semakin kecil ukurannya saat obyek tersebut berada pada jarak yang jauh dari pengamat (Raynes 18). Basis dari semua perspektif adalah titik terang dari semua garis paralel pada horison, horison adalah batas dimana mata kita melihat terjauh atau kaki langit. Hukum perspektif yaitu semua garis paralel atau sejajar yang tampak akan menuju pada suatu titik yang sama. Aspek penting lainnya yaitu obyek-obyek yang berjarak sama, tampak semakin mengecil hingga mendekati horison. Jarak antara obyek yang berjarak sama tersebut dilakukan secara konstan. Dalam ilmu perspektif dikenal dengan perspektif satu titik lenyap, perspektif dua titik lenyap, dan perspektif tiga titik lenyap. Perspektif satu titik lenyap biasanya penggambaran obyek secara frontal dan datar setinggi horison pada salah satu sisi datarnya atau depannya dengan bagian belakang obyek yang kelihatan semakin mengecil karena menjauh dari mata menuju ke titik lenyap. Penggambaran dengan perspektif dua titik lenyap merupakan penggambaran obyek, misalnya meja yang tampak pada kedua sisi sampingnya, atau penggambaran obyek dengan salah satu sisi siku meja tersebut menghadap ke
depan dan kedua sisi yang lain kelihatan mengecil dan terus menuju ke titik lenyap, tergantung panjang sisi dari meja tersebut. Namun hal ini penggambarannya masih tetap menggunakan sudut pandang mata datar. Penggambaran perspektif tiga titik lenyap adalah sama dengan penggambaran perspektif dua titik lenyap namun penggambarannya menggunakan perspektif mata burung atau tampak atas dari obyek, maupun menggunakan perspektif mata kodok atau tampak bawah dari obyek. Dalam perspektif tiga titik lenyap tersebut, titik lenyap yang ketiga mengacu pada sumbu Z, dimana dalam hal ini juga berlaku semakin menjauh bagian obyek dari mata si pengamat maka akan terkesan semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Pada penggambaran obyek lingkaran, semakin datar atau sejajar obyek dengan mata pengamat, maka permukaan obyek yang berbentuk datar tersebut akan terlihat semakin elips, begitu pula sebaliknya.
2.1.3.3. Tinjauan Teori Tata Cahaya
Pencahayaan didalam gambar berkaitan dengan aspek kualitas gelap terang (value), karena aspek cahaya menentukan kualitas gradasi suatu obyek. Dengan pengaturan tekanan gelap terang maka akan dicapai bentuk 3 dimensi. Elemen-elemen dari cahaya yang menentukan skala gradasi antara lain:
Highlights (Cahaya Maksimum) atau bagian obyek yang memiliki warna paling ringan atau paling terang dibandingkan dengan bagian lainnya dan biasanya muncul dari permukaan yang paling halus atau mengkilap. Highlights berupa bintik sinar yang kuat dan mengena pada bagian puncak dari permukaan yang menghadap ke arah sumber cahaya.
Lights (Cahaya) dan Shadow (Bayangan) merupakan kualitas gelap terang yang paling luas areanya, berada diantara highlights dan juga pusat bayangan.
Core of The Shadow (Pusat Bayangan) yaitu area dimana konsentrasi bayangan yang paling gelap, posisinya paralel dengan sumber cahaya, pusat bayangan tidak menerima penerangan.
Reflected Light (Pantulan Cahaya) yaitu area dimana cahaya dipantulkan kembali dari permukaan yang tidak seberapa jauh, yang berfungsi sebagai pengisi dan membuat obyek semakin jelas bentuknya.
Cast Shadow (Pantulan Bayangan) yaitu bayangan yang terjadi dari obyek pada bidang yang berdekatan, biasanya lebih gelap daripada pusat bayangan.
Disamping pengertian tentang bayangan dalam tinjauan tentang teori tata cahaya dalam menggambar termasuk diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Cahaya Natural
Pada teknik penggambaran dengan cahaya ini memiliki kesulitan karena dipengaruhi oleh musim, warna, dan arah cahaya dan bayangan yang terjadi yang selalu konstan berubah sejalan dengan waktu. Namun penggambaran dengan cahaya ini terkesan menarik dan menimbulkan kesan kontras serta suasana tertentu.
2. Cahaya Membaur
Pencahayaan dalam ruang ini bersifat ideal karena cahaya tidak langsung mengena dari atas sehingga pewarnaan yang diakibatkan pencahayaan tersebut menjadi halus dan membaur serta tidak mudah mengalami perubahan. Pencahayaan ini tidak menghasilkan tepian yang kuat dan kontras pada obyek sehingga gambar tidak terlalu kuat dan menonjol. Pencahayaan menjadi tampak merata dan mendominasi keseluruhan bidang gambar. Pencahayaan ini juga memerlukan berbagai macam penekanan gelap terang, supaya obyek yang digambar tidak terlihat datar.
3. Cahaya Latar Belakang
Teknik ini menggunakan cahaya dibelakang obyek atau model lukisan. Pada penggambaran dengan pencahayaan ini memiliki tepian pada obyek dengan kontras yang tinggi karena pantulan cahaya dari belakang dibandingkan dengan bagian depan obyek yang tidak terkena cahaya. Karena pencahayaan ini dipantulkan pada bagian belakang obyek maka membuat obyek nampak menonjol. Namun demikian penggambaran dengan teknik pencahayaan ini terkesan menyilaukan dan sulit untuk mengamati bagian depan obyek secara nyaman karena detail yang suram dan kurang mendapatkan cahaya dibandingkan dengan daerah pinggiran obyek. Oleh karena itu diperlukan reflektor yang dapat memantulkan cahaya sehingga dapat mengenai bagian depan obyek yang dapat mengurangi kontras yang kuat antara bagian depan obyek yang dapat mengurangi kontras yang kuat antara bagian depan obyek dengan daerah tepian obyek
tersebut, dan juga menjadikan bagian depan obyek menjadi lebih terang dengan detail yang dapat terlihat.
4. Cahaya Buatan
Cahaya ini berasal dari sumber cahaya selain matahari, seperti pencahayaan yang didapat dari berbagai bentuk dan jenis lampu dalam ruangan studio. Hal ini memiliki keuntungan yaitu cahaya yang disorotkan tidak terlalu berlainan arah dan memiliki refleksi hyang tampak kuat dan tegas. Namun juga memiliki kekurangan yaitu pencahayaan yang terlalu kuat sehingga mengurangi detail obyek karena bayangan yang kuat dan kekontrasan yang tinggi akibatnya obyek akan tampak datar. Hal ini dapat diatasi dengan berbagai peralatan yang menunjang dan juga kreativitas, seperti menggunakan peralatan soft box atau payung pemantul yang ada dalam peralatan fotografi, serta dapat juga diatur jarak cahaya tersebut ke obyek atau dengan mengurangi kuat intensitas cahaya tersebut.
2.1.4. Tinjauan Gambar Ilustrasi
Ilustrasi merupakan bentuk seni yang bersifat kontemporer yang pada saat itu dibedakan dengan lukisan, karena pergerakan seni yang semakin lama semakin modern, dengan banyaknya desainer yang memasukkan ilustrasi ke dalam karya desain mereka yang bersifat pop dan postmodern. Hal ini membuahkan perbedaan pada fungsinya seiring dengan kemajuan jaman. Seni lukis lebih diarahkan kearah perasaan pribadi pelukis atau senimannya, bersifat independent dan tidak bergantung pada kepuasan orang lain. Sedangkan ilustrasi berlawanan dengan hal tersebut, ilustrasi sekarang ditujukan untuk tujuan komersil dan reproduksi sehingga gambardibuat untuk menyenangkan hati orang lain atau klien, yang dibatasi oleh waktu pembuatan. Ilustrasi ini dihubungkan dengan teks (artikel, cerita, teks, iklan, dan sebagainya).
Hal tersebut yang memungkinkan ilustrasi dapat dibuat melalui berbagai macam media, baik fotografi, grafik, diagram, dan sebagainya yang tidak terbatas pada gambar manual. Gambar ilustrasi merupakan suatu cara dalam memvisualisasikan ide, yang mempergunakan bentuk lukisan atau gambar. Sehingga ilustrasi diartikan sebagai bentuk gambar atau lukisan yang mengkomunikasikan ide, gagasan, pendapat, perasaan, dan juga cerita.
Banyak bentuk tulisan yang dikembangkan dari gambar, dimana gambar ini merupakan pengembangan dari bentuk asli dari berbagai hal yang dapat dilihat manusia. Hal ini pada jaman dahulu disebut tulisan gambar atau pictograph, dimana melalui bentuk gambar aslinya disederhanakan hingga membentuk tulisan, seperti tulisan China, Mesir, dan sebagainya. Sebagai contoh huruf China atau huruf Tionghoa pertama kali ditemukan berasal dari gambar yang dituliskan atau diukirkan pada media cangkang kura-kura dan tulang hewan, maka tulisan Tiong Hoa mula-mula disebut dengan gaya cangkang dan gaya tulang
Perkembangan dalam dunia kesenian dan kebudayaan saling mempengaruhi, dimana kesenian merupakan wujud atau suatu unsur budaya yang telah ada sejak jaman prasejarah atau kira-kira 3500 tahun SM dan terus berkembang dan mengalami perubahan hingga sekarang dan telah melewati berbagai macam tahapan atau jaman setiap kebudayaan dengan bentuk keseniannya tersebut berlangsung disetiap daerah diseluruh dunia ini sesuai dengan kebudayaan yang ada. Adapun jenis kebudayaan dan kesenian yang ada sejak dari tahun 3500 SM hingga sekarang diseluruh dunia adalah:
3500 – 331 SM : Mesopotamian Art
3500 – 1750 SM : Sumerian Art atau Akudian Art 3200 – 1070 SM : Egyptian Art
3200 – 2185 SM : Old Kingdom Art 2040 – 1650 SM : Middle Kingdom Art 1550 – 1070 SM : New Kingdom Art 1370 – 1340 SM : Amarna Art 3000 – 1100 SM : Aegen Art
3000 – 1475 SM : Minoan (Crete) Art 1650 – 1100 SM : Mycenean (Greece) Art 1766 – 1045 SM : Shang Dynasty, China Art 1045 – 256 SM : Zhou Dynasty, China Art
1000 – 539 SM : Assyrian atau Neo-Babylonia Art 539 – 331 SM : Persian Mesopotamian Art 800 SM – 337 M : Classical Civilization Art 800 – 323 SM : Greek Art
Abad VI – Abad V SM : Etruscan Art 323 – 150 SM : Hellenistic Art 509 SM – 337 M : Roman Art
800 SM – 600 M : Olmec, Mexico Art 100 – 200 M : Zapotec, Mexico Art Abad II – Abad III M : Ghandara, India Art 320 – 647 M : Gupta, India Art 300 – 1500 M : Mayan, Mexico Art
373 – 1453 M : European Christian atau Early Middle Ages Art 200 – 732 M : Hiberno-Saxon Art
400 – 1453 M : Byzantine Art 618 – 907 M : Tang, China Art 622 – 900 M : Islamic Art 645 – 791 M : Nara, Japan Art 732 – 900 M : Carolingian Art 900 – 1050 M : Ottonian Art 960 – 1279 M : Song, China Art 1000 – 1140 M : Romanesque Style Art 1100 – 1532 M : Inca, Peru Art
1140 – 1500 M : Gothic Style Art 1185 – 1333 M : Kamakura, Japan Art 1350 – 1520 M : Aztec, Mexico Art 1368 – 1644 M : Ming, China Art 1392 – 1573 M : Muromachi, Japan Art
1400 – 1800 M : Renaisance Art atau Baroque Art 1400 – 1600 M : Renaisance Art
1600 – 1700 M : Baroque Art 1700 – 1750 M : Rococo Art 1550 – 1680 M : Benin, Africa Art 1615 – 1868 M : Edo, Japan Art 1644 – 1912 M : Qing, China Art 1800 – 1880 M : Pre-Modern Style Art
1750 – 1880 M : Neo Classicism Art 1800 – 1880 M : Romanticism Art 1830 – 1870 M : Realism Art 1848 – 1854 M : Pre-Raphaelites Art 1870 – 1890 M : Impressionism Art 1880 – 1945 M : Modernism Art 1880 – 1920 M : Post-Impressionism Art 1890 – 1920 M : Expressionism Art 1903 – 1907 M : Fauvism Art 1905 – 1939 M : Cubism Art 1916 – 1922 M : Dada Art
1920 – 1940 M : Harlem Renaissance Art 1920 – 1945 M : Bauhaus Art
1924 – 1930 M : Surrealism Art
1945 – sekarang : Modern Art to Post-Modern Art 1945 – sekarang : Abstract Expressionism Art
1950 – 1960 M : Op Art
1960 – sekarang : Pop Art 1970 – sekarang : Pop Art
Sekarang : Conceptual Post-Modern Art
2.1.4.1. Tinjauan Gambar Ilustrasi Berdasarkan Bidang Kajian
1. Ilustrasi Editorial, yang merupakan ilustrasi buku, yang sering dijumpai pada buku-buku novel, buku-buku bacaan anak atau orang dewasa, buku olahraga, kartun dan karikatur politik, dan sebagainya. Yang mana selain untuk memperjelas cerita atau penyampaian pesan dalam buku tersebut sebagai visualisasi pesan, ilustrasi ini juga dapat digunakan sebagai jaket atau sampul buku yang dapat berguna untuk menarik perhatian konsumen.
2. Ilustrasi Periklanan, merupakan ilustrasi yang ditunjukkan pada fungsi promosi dan pemasaran, yang meliputi Ilustrasi Fashion, ilustrasi ini dapat berbentuk fotografi maupun gambar untuk mempromosikan dan menjual produk fashion. Ilustrasi Produk, berfungsi untuk menggambarkan berbagai
produk yang diproduksi semenarik mungkin untuk dipromosikan dan ditawarkan kepada konsumen. Yang terakhir adalah Ilustrasi Pariwisata, yang pada umumnya menggambarkan pemandangan alam, arsitektur, dan figur-figur tertentu pada daerah yang dipromosikan.
3. Ilustrasi Medis, berkaitan dengan pengetahuan kedokteran yang menggambarkan berbagai macam dalam bidang kedokteran seperti penggambaran anatomi tubuh, bakteri, jamur, dan sebagainya.
4. Ilustrasi Ilmiah, seperti halnya ilustrasi medis, ilustrasi ini juga menggambarkan berbagai macam hal yang berhubungan dengan bidang kajian ilmiah yang sangat membutuhkan ketepatan, kejelasan, kerapia, dan sebagainya.
2.1.4.2. Tinjauan Gambar Ilustrasi Berdasarkan Sifat dan Fungsinya
Berdasarkan sifat dan fungsinya gambar ilustrasi dapat dibedakan menjadi: 1. Gambar ilustrasi yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan yang dilihat, baik berupa sketsa kasar berupa garis-garis yang cepat maupun gambar yang detail. Contoh: sketsa cepat atau bahkan photo realism, yaitu penggambaran obyek yang mirip dengan foto dengan detail yang akurat.
2. Gambar ilustrasi yang menggambarkan apa yang diimajinasikan, yaitu penggambaran obyek pada keadaan yang tidak ada didalam kenyataan. Penggambarannya dapat berupa penggambaran yang abstrak.
3. Gambar ilustrasi yang memvisualisasikan suatu ide dan konsep yang berbentuk simbolisasi. Gambar ilustrasi ini tidak hanya memerlukan teknik dan kemampuan, namun lebih menuntut kedalaman isi yang digambarkan untuk menghadirkan sudut pandang, perasaan dan emosi, intepretasi dan ekspresi orang yang menggambarnya.
4. Gambar ilustrasi yang berfungsi untuk menghias atau dekoratif yang mengisi komposisi atau bidang yang ada sehingga memberikan daya tarik besar dan memenuhi kepuasan estetis pengamatnya.
5. Gambar ilustrasi yang menggambarkan dan menjelaskan, yang berfungsi sebagai jembatan penjelas didalam pemahaman bahasa verbal. Biasanya ilustrasi ini dan verbalisasi berdampingan dan saling mendukung,
mengarahkan pembaca sesuai dengan keinginan penulis, dimana ilustrasi dapat memperluas cerita dan mempermudah pemahaman atas sesuatu yang abstrak.
2.1.4.3. Tinjauan Gambar Berdasarkan Alat
1. Perlengkapan sketsa, yang meliputi: pensil 2B dan HB, charcoal atau pensil arang, ballpoint, dan penghapus pensil.
2. Perlengkapan warna, menggunakan berbagai macam media warna seperti cat air, cat minyak, pensil warna, crayon, pastel, dan sebagainya.
3. Kertas yang digunakan untuk peralatan cat air, pensil, crayon, pastel, sketsa, dan sebagainya. Kanvas yang digunakan untuk cat minyak. Media ini terdiri dari berbagai macam ukuran.
4. Kuas. Macam-macam kuas antara lain: kuas yang berujung bulat dan kuas yang berujung datar dengan berbagai macam ukuran yang sangat beragam. Pada kuas yang berujung bulat, apabila dalam keadaan basah maka ujungnya akan meruncing yang cukup baik untuk menciptakan detail serta mempu menahan banyak cat dan air sekaligus. Sedangkan pada kuas yang berujung datar, tidak dapat menahan air dan cat yang begitu banyak, kuas ini sangat baik apabila digunakan untuk menciptakan efek semburan cat.
5. Palet dan air. Palet digunakan untuk membuat campuran cat yang dikehendaki sedangkan air berfungsi untuk mengurangi kepekatan campuran cat tersebut.
2.1.4.4. Tinjauan Gambar Berdasarkan Teknik
1. Fotografi, merupakan teknik ilustrasi yang dipergunakan sejak ditemukannya alat atau kamera yang diperlukan untuk memotret pada tahun 1665. Yang merupakan penggambaran atau melukis obyek dengan menggunakan cahaya. Fotografi terbagi menjadi dua macam, yaitu: fotografi dokumentasi yang memotret obyek atau peristiwa penting tanpa memperhatikan segi estetisnya. Sedangkan yang kedua adalah fotografi yang sangat memperhatikan segi estetis dan keindahan dari obyek yang akan dipotret serta hasil dari fotografi tersebut, yang kemudian menjadi media ekspresi keindahan dan seni baru yang disebut dengan Piktoral.
2. Manual merupakan teknik gambar yang hanya dapat dihasilkan dengan ketrampilan dan kreatifitas tangan, yang dapat menciptakan kekhasan dan keunikan gaya masing-masing seniman yang tercermin dalam gaya dan ciri khas goresan. Oleh karena itu teknik ini memiliki kelebihan dalam hal nilai estetisnya dibanding dengan menggunakan komputer.
3. Komputer merupakan teknik menggambar yang berbasiskan teknologi. Dengan teknik adanya penggunaan komputer maka secara perlahan teknik manual menjadi tergeser karena sifatnya yang serba otomatis dan terkontrol dengan cepat. Namun goresan seniman sama sekali tidak terasa nilainya. 4. Kubisme Sintetik atau Kolase atau Photomontage. Kolase berarti menempel,
yaitu teknik yang mempergunakan kertas, kain, gambar, ataupun, bermacam-macam benda lainnya yang ditempelkan pada satu permukaan dan menjadi satu kesatuan. Gaya gambar ini pertama kali dipergunakan oleh aliran Kubisme. Sedangkan Photomontage, menerapkan prinsip yang sama dengan kolase namun teknik ini mempergunakan fotografi. Photomontage banyak dipergunakan pada gaya Punk, Surealism, Pop Art, dan Dadaism.
Gambar 2.3. Contoh penggunaan teknik Photomontage Sumber: www.ipfw.edu
2.1.4.5. Tinjauan Gambar Berdasarkan Goresan
1. Arsir merupakan teknik yang menggambarkan bentuk obyek dengan mengisi daerah-daerah yang tidak terkena cahaya atau bayangan obyek sehingga volume tiga dimensi obyek dapat dideskripsikan, teknik arsir ini dibedakan menjadi arsiran garis lurus, antara lain: garis-garis paralel (Hatching) yaitu
goresan garis dengan pola sejajar, garis-garis berpotongan (Cross Hatching) yaitu pola garis yang memotong garis-garis yang sejajar, garis bervariasi (Scibbling) yaitu garis-garis yang bersifat abstrak dan acak ke segala arah. Arsiran mengikuti bentuk atau melengkung, antara lain: garis-garis kontur (Contour Hatching) berupa garis-garis lengkung yang mengikuti perubahan obyek baik bentuk melingkar maupun perspektifnya, serta garis-garis kontur yang saling mendorong (Cross Contour Hatching) yang mendeskripsikan volume dan detail-detail benda. Dry Brush, merupakan teknik menggambar dengan sapuan kuas yang setengah kering atau tanpa campuran air hanya menggunakan kepekatan cat saja, hal ini dilakukan dengan cara menyapukan kuas tanpa air tersebut ke permukaan kertas yang kasar dengan tujuan menghasilkan efek pecah-pecah atau tidak rata, hal ini untuk mendapatkan tekstur gambar. Blocking, atau disebut dengan pengecatan plakat yang menggunakan jenis cat poster, gaya gambar ini disebut dengan Plakatstil karena ditemukannya cat poster pada era modern. Pewarnaan ini berkesan datar, sedikit, tanpa gradasi, dan pada umumnya minim ornamen, karena bertujuan untuk memusatkan perhatian pada obyek utama yang sederhana.
Gambar 2.4. Early Modern Plakatstil yang muncul pada tahun 1913 Sumber: koleksi pribadi
Pointilism atau Texture, merupakan gaya penggambaran dengan memanfaatkan kualitas permukaan suatu bidang, baik kasar maupun halus, keras atau lembut, dan sebagainya. Teknik ini bersifat ekspresif, representasional, dan inovatif yang ditentukan oleh material, teknik, serta kreatifitas seniman. Bidang gambar diberikan titiki berwarna, sesuai dengan
bentuk obyeknya yang dari kejauhan seakan-akan menyatu, yang dapat mencapai tiga dimensi yang menggambarkan cahaya dan bayangan serta suasana melalui pewarnaan kuat dan lemah, bahkan tidak menggunakan outline pada obyek karena sudah menggunakan tekstur. Bentuk pola tekstur yang terkenal yaitu Pointilism oleh Georges Seurat.
2.1.4.6. Tinjauan Gambar Berdasarkan Gaya Gambar
1. Realis atau Realism, merupakan salah satu gaya gambar dimana mengutamakan kesesuaian dengan keadaan yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Realisme yang sempurna memiliki tingkat kemiripan yang akurat dengan obyek aslinya, hal ini disebut juga Photorealism, yang kelihatan sama dengan foto. Berikut ini contoh gambar yang menggunakan teknik Photorealism.
Gambar 2.5. Teknik Photorealism dengan judul Photorealism at the Millenium Sumber: http://images.google.co.id/ photorealism&btnG
2. Kubisme Analiti atau Cubism merupakan teknik menggambar yang ditemukan oleh Pablo Piccaso dan Georges Baroque pada awal abad ke-20. Kubism walaupun menggambar obyek yang realistis namun ilustrasinya bersifat abstrak dan geometris, bersifat dua dimensi dan datar.
Gambar 2.6. Portrait á la Manière oleh Pablo Piccaso Sumber: library.thinkquest.org
3. Dekoratif atau Decorative merupakan teknik menggambar yang menarik dengan penuh ornamen, namun tidak semuanya memiliki kegunaan karena hanya memenuhi fungsi estetis atau penghias. Gaya dekoratif ini akhirnya berkembang sebagai bentuk gerakan yang menghidupkan kembali ketrampilan tangan manusia dalam seni dan kriya serta menolak kehadiran industri yang menggunakan tenaga mesin. Beberapa gaya dekoratif yang terkenal yaitu gaya Victorian, Art and Craft, dan Art Nouveau.
Gambar 2.7. Victorian Art Sumber: koleksi pribadi
Gambar 2.8. American Art and Craft dan American Art and Nouveau
Sumber: koleksi pribadi
4. Kartun atau Cartoon merupakan bentuk gambar yang lucu dan menghibur yang biasanya disajikan dalam bentuk gambar maupun rangkaian cerita baik berupa komik maupun film animasi. Penggambaran jenis ini lebih banyak diidentikkan untuk anak-anak karena sifatnya yang lucu dan kekanak-kanakan. Namun demikian gambar kartun juga banyak dibuat untuk orang remaja dan dewasa, karena sifatnya yang menghibur dan ringan yang mudah dimengerti. Bentuk figur kartun sangat lucu dan digambarkan dengan bebas sesuai dengan apa yang diinginkan oleh seniman dan sekiranya dapat menghibur orang lain. Oleh sebab itu figur kartun digambarkan bebas tanpa mempedulikan bentuk yang proporsional.
5. Karikatur atau Caricature, penggambaran ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan kartun, bahkan sering kali dikategorikan sebagai bagian dari gambar kartun. Karikatur biasanya digambarkan dengan tujuan menyindir atas berita-berita yang aktual dan tokoh-tokoh yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat. Namun disamping hal itu penggambaran ini mempunyai ciri-ciri yang lucu dan menghibur. Dalam penggambaran karikatur memiliki berbagai macam prioritas yang diutamakan seperti proporsi yang tepat, kemiripan figur yang akurat dan realistis, menjadi diputarbalikkan dalam teknik penggambaran karikatur. Figur yang digambarkan kemungkinan sangat jauh dari keadaan
realitasnya, hal ini justru tetap diterima dan dianggap sebagai simbol yang mewakili dan mengingatkan pengamat terhadap orang yang digambarkan.
Karikatur yang ekstrem bersifat melebih-lebihkan keunikan seseorang dan dikembangkan melalui pengetahuan dasar wajah dan daerah kepala, misalnya apabila keunikan seseorang terletak pada hidung yang besar, maka hal tersebut yang akan dilebihkan dan ditonjolkan sehingga menjadi sangat unik namun masih dikenali tokoh yang digambarkan dalam karikatur tersebut. Figur yang digambarkan biasanya berkepala besar dan berbadan kecil, dimana hal ini dikarenakan keunikan dari tubuh manusia yang sering ditonjolkan dalam karikatur adalah bagian wajah. Seringkali karikatur dibuat dengan goresan dan arsiran ballpoint atau pena hitam sehingga berkesan monumental.
Gambar 2.9. Karikatur
Sumber: http://images.google.co.id/images? caricature&btnG
2.2. Tinjauan Judul Perancangan
2.2.1. Perancangan Buku Visual Grafis Biografi Michael Iskandar “Om Chia” Sebai Tokoh Di Belakang Suksesnya Prestasi Balap Motor Indonesia
2.2.1.1. Perkembangan Buku
Buku dilihat dari 3 aspek, yaitu: 1. Aspek fungsional
Sebuah buku bisa mencerahkan, karena di dalam buku bisa mendapatkan berbagai info dan wawasan. Selain itu sebuah buku bisa memberikan sebuah inspirasi bagi seseorang, dan yang terakhir, buku bisa memberikan motivasi sendiri bagi seseorang yang membacanya.
2. Aspek Estetika
Sebuah buku mempunyai daya tarik tersendiri dengan mengadopsi ilmu-ilmu komposisi dan desain.
3. Aspek Produksi
Sebuah Produksi bisa dilaksanakan apabila sudah jelas siapa target marketnya.
Dari ketiga aspek tersebut, maka timbullah pendekatan verbal visual yang menghasilkan sinergi/kolaborasi yang berkaitan dengan nilai fungsi, nilai estetika dan nilai ekonomis suatu produk perancangan buku.
Perkembangan Buku visual grafis
Seperti telah disinggung di atas, karya-karya komik Indonesia menjadi bagian dari perkembangan novel grafis, meskipun pada saat itu belum diidentifikasikan sebagai sebuah karya novel grafis. Awalnya adalah ketika penerbit Melodi di Bandung menerbitkan dua karya epik karya R.A. Kosasih yaitu Mahabharata dan karya Johnlo yaitu Raden Palasari pada tahun 1954.
Disebut–sebut sebagai novel grafis karena muatan sastrawinya amat kental, memuat cerita wayang Mahabharata, pertarungan antara kebaikan dan keburukan pada jaman Jawa Kuno dan diwariskan turun temurun melalui pagelaran wayang kulit maupun wayang orang.
Pada tahun 1968 Ganes TH menerbitkan Si Buta dari Gua Hantu, yang mengawali kebangkitan kedua industri komik Indonesia sekaligus mengawali tren komik silat yang berjaya sepanjang 1970-an sampai 1980-an, kemudian muncul komik-komik super hero yang bergaya kebarat-baratan, antara lain: Hasmi dengan serial Gundala Putra Petir (merupakan adaptasi dari jagoan Amerika, Flash), Wid NS dengan serial Godam (terinspirasi Superman), Kus Br. Dengan serial
Laba-Laba Merah (mirip dengan Spiderman), dan sebagainya dimana komik-komik ini cukup populer.
Mulai tahun 1990 hingga sekarang ini, para komikus dan ilustrator resah dengan situasi cergam Indonesia tidak lagi mempunyai pasaran yang luas, sekalipun mereka berada di penerbit-penerbit raksasa, ide-ide orisinil dalam cergam tersebut kurang dihargai yang hal ini disebabkan oleh tudingan penguasa Orde Baru yang merugikan potensi cergam dan komik Indonesia. Hal ini juga diperparah dengan banyaknya komik dan cergam impor yang digemari, berbagai kemunculan komik dari Jepang dan Barat yang ditunjang oleh berbagai media pendukungnya memanfaatkan kesuksesan tersebut, seperti anime (film animasi Jepang), merchandise, industri pakaian, dan sebagainya yang membuat komik impor beserta tokohnya menjadi semakin populer dan semakin dekat dengan konsumennya. Komik impor memperoleh pasaran yang lebih luas dengan alasan lebih mudah dan hemat untuk memperoleh hal cipta atau penerbitan daripada komik lokal, yang menyebabkan kurangnya minat dan dorongan bagi pembeli lokal, kurangnya kesempatan untuk mempublikasikan dan tradisi lokal yang digeser oleh komikus luar negeri, serta adanya prasyarat yang cukup berat bagi komikus untuk lolos dari Departemen Penerangan.
Perkembangan cergam dan komik Indonesia sendiri banyak diwarnai oleh komik dan cergam asing yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia seperti Manga (komik Jepang), cergam Walt Disney (Sleeping Beauty). Winnie The Pooh, dan sebagainya) padahal terjemahan buku asing tersebut dapat menurunkan kualitas isi buku tersebut. Permasalahan lainnya adalah industri perbukuan baik cergam maupun komik, dan juga buku-buku lainnya lebih mengutamakan orientasi pasar daripada perkembangan buku dalam negeri. Penerbit diuntungkan dengan permintaan masyarakat akan buku-buku asing yang lebih digemari dibandingkan dengan buku-buku lokal, akibatnya penerbit besar Indonesia juga lebih banyak memproduksi buku-buku impor yang diterjemahkan.
Namun kita tidak bisa hanya menyalahkan cergam dan komik luar negeri yang sangat digemari tersebut, kita harus melihat bahwa komik dan cergam dalam negeri sendiri juga banyak kekurangannya. Cergam di Indonesia kurang memiliki kesatuan antara penulis, ilustrator, dan juga editor yang mana hal ini berdampak
pada kualitas cergam yang tidak memiliki keseimbangan antara aspek visual dan verbal, karena keduanya tidak dapat saling mendukung sebagai elemen yang sama pentingnya. Didalam negeri sendiri, banyak para ilustrator dan penulis komik ternama yang justru meningkatkan kecintaan masyarakat, terutama anak-anak terhadap komik asing. Hal ini disebabkan para penulis dan ilustrator tersebut mengadopsi gaya asing secara mentah-mentah atau imitasi dan kehilangan identitas budaya sendiri. Seperti yang kita ketahui segala sesuatu yang berupa peniruan dan tidak memiliki kualitas yang lebih baik dari karya aslinya, akan menduduki posisi kedua bahkan mungkin lebih rendah. Penyebab lainnya sebagai upaya untuk menarik simpati konsumen dan menggeser komik impor dengan cara meniru gaya komik impor, yang pada kenyataannya justru semakin menjatuhkan kualitas komik lokal itu sendiri. Masyarakat menjadi tidak bersimpati dan menganggap tipe ilustrasi tersebut setengah-setengah, tidak terlalu ke Indonesia namun juga tidak persis gaya Jepang atau Barat.
2.2.1.2. Penjelasan Tema / Judul Buku
Pada buku biografi ini, dimana akan dijelaskan bagaimana seorang Michael Iskandar “Om Chia” dimata orang-orang yang kenal dan berhasil karena pretasi, semangat, dan keuletan Michael Iskandar “Om Chia”, kemudian akan masuk ke bab dimana mengenalkan Michael Iskandar “Om Chia” lebih jauh. Dimulai dari kehidupan keluarga, teman, prestasinya, dan lain-lain.
2.3. Tinjauan Buku
2.3.1. Sejarah dan Perkembangan Buku
Asal mula bacaan berasal dari pictograph atau piktograf yang banyak ditemukan diberbagai gua dan prasasti purbakala, dimana banyak ditemukan gambar yang saling beruntutan merangkai cerita. Pada perkembangannya penulisan dilakukan diatas tempurung hewan seperti kura-kura namun dalam jumlah terbatas. Dalam perkembangan selanjutnya buku baca modern berasal dari abad ke-15 yang saat itu terbentuk balok-balok kayu yang diukir, setiap halaman
berisi teks maupun ilustrasi. Buku ilustrasi yang paling terkenal yaitu Biblia Pauperum (Poor Man’s Bible).
Perkembangan buku bacaan mengikuti perkembangan didalam hal proses percetakan. Pada abad ke-16 dan 17, penggunaan potongan-potongan kayu mulai digantikan oleh lempengan-lempengan papan atau lempengan tembaga yang diberi ukiran dan juga digambar dengan semacam zat asam seperti tembaga atau mineral yang memberikan lapisan asam tipis. Namun penemuan ini hanya berlangsung hingga abad ke-18, dimana terjadi revolusi didalam seni membuat buku bacaan dengan ukiran kayu dan teknik lithografi (teknik cetak offset). Proses ini kemudian semakin dikembangkan didalam percetakan buku-buku ilustrasi dan majalah.
Pada akhir abad ke-19, seni mengukir pada kayu dan juga lithografi digeser dengan teknik atau proses foto mekanik yang memungkinkan reproduksi teknik melukis dan menggambar dengan variasi yang lebih banyak. Namun eksploitasi dari proses yang cepat dan murah tapi teledor ini mengaburkan potensi artistik pembuatnya, sehingga beberapa pelukis dan ilustrator besar memilih tetap menggunakan cara lama yang dihidupkan kembali, meskipun ada juga yang mempergunakan teknik foto mekanik untuk menghasilkan efek yang bagus. Buku-buku ilustrasi yang bertemakan fiksi menjadi semakin populer pada abad ke-19 yang lebih populer dibandingkan pada masa abad ke-20.
Di Indonesia kontribusi buku-buku dan berbagai media cetak lainnya sangat besar didalam perjuangan kemerdekaan pada masa kolonialisme karena dapat menjadi sarana yang kritis untuk dapat menunjukkan kesadaran bahwa dibutuhkan suatu bentuk pergerakan bersama untuk mencapai masyarakat yang merdeka dan bersatu. Namun berlawanan dengan pemerintah kolonial yang melakukan aksi penghancuran buku-buku yang dianggap mengganggu situasi politik.
Pada saat itu, dunia literatur selalu diawasi dan dimusuhi oleh pemerintah sehingga pengekangan banyak ditemui dijaman ini. Kejadian tersebut terulang kembali pada masa pemerintahan Orde Baru. Berbagai buku bacaan di Indonesia mengalami pengekangan, beberapa buku yang dianggap kritis dan membahayakan pemerintah dilarang beredar, akibatnya rakyat seperti “dibungkam”, tidak ada
kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dan seolah-olah pemerintah mengalami ketakutan akan pemikiran kritis oleh rakyat yang dapat membongkar sesuatu hal yang ditutup-tutupi. Berbagai macam media massa baik cetak maupun elektronik dikontrol ketat dan selalu diawasi dengan ancaman pencabutan SIUPP jika dianggap melanggar. Semua aspek diseragamkan dan segala perbedaan diharamkan, dengan alasan demi persatuan dan kesatuan bangsa (Setiono, 1031). Buku-buku yang diperbolehkan untuk beredar terkesan datar dan menutup-nutupi apa yang ada didalam kenyataan, yang beralasan bahwa buku-buku bacaan tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum, menghina pemerintah, tidak sesuai dengan ideologi negara, bertentangan dengan ajaran agama, merusak nilai agama, menurunkan kewibawaan pemerintah, dan sebagainya yang bertujuan tidak mengakui perbedaan perspektif, kemajemukan sudut pandang dan keragaman pendapat pribadi, serta upaya pelecehan dan pembodohan masyarakat.
2.3.2. Jenis-jenis Buku
Berdasarkan jenisnya, buku dapat dibedakan dalam beberapa kategori sebagai berikut : a. Novel b. Majalah c. Kamus d. Ensiklopedia e. Biografi
2.4. Tinjauan Gaya Desain
2.4.1. Sejarah gaya desain
Gaya desain (graphic style) adalah suatu ragam hias atau model visualisasi karya visual atau grafis yang merujuk pada pola atau gaya tertentu sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Pada perkembangan masyarakat atau jaman selanjutnya, gaya desain atau visualisasi menjadi titik acuan dan wacana untuk menciptakan gaya berikutnya.
Munculnya gaya desain dipengaruhi beberapa hal seperti:
eksplorasi rasio manusia. Pada perkembangan berikutnya dengan eksplorasi teknologi industri muncul gaya desain baru.
Menolak Revolusi Industri karena dampaknya merugikan, dengan cara mencari gagasan baru yang berbeda (post-strukturalis, ekspresif, berbeda dengan yang sebelumnya) dan mencari makna baru dengan romantisme masa lalu atau nostalgia.
Early Modern
Pada masa modernisme awal, desain sudah menekankan pada aspek fungsional. Karya desain yang dibuat tidak hanya menekankan pada aspek visualnya saja. Pada era ini terdapat suatu usaha untuk mengatasi kesenjangan antara seni dan industri, meninggalkan simbolisme dan beralih ke rasionalisme.
1. Plakatstil
Plakatstil: poster dan stilt gaya. Plakatstil pada dasarnya adalah seni poster yang lahir di Berlin, Jerman untuk mempromosikan produk. Ciri Visual: pemanfaatan ruang kosong untuk menonjolkan produk dan tidak ada ornamen.
2. Wiener Werkstatte
Dipengaruhi oleh gaya Art and Craft di Inggris, berdiri di Austria 1903 oleh Josef Hoffmann, kolomam Wienner dan Fritz Warndofer. Yang unik adalah setiap produk dari bengkel Wienner Werkstatte selalu ada merk dagang dan cap seperti ‘VW’.
3. Expressionism
Aliran Ekspresionisme berasal dari kata ekspresi atau spontan. Dimulai 1900-1906, ketika Van Gogh berkarya dengan warna-warni yang berani, Gaugin dengan distorsi orang besar dan gemuk dan Paul Cezanne dengan kebebasan pada karyanya. Pelopor Ekspresionisme adalah Eduard Munch (1863-1944) dari Norwegia dengan karya bcrjudul The. Ekspresionisme menjadi aliran avant-garde pertama abad 20. Tema utama yang diangkat seputar masalah kematian, kesakitan, dan dorongan seksual.
Modern
Modern berasal dari kata kata Latin Modo yang berarti `barusan'. Namun pengertian modernisme hams dibedakan dengan pengertian kita sehari-hari tentang sesuatu yang paling barn dan muktahir. Moderen sebagai isme adalah serangkaian pemikiran dan gerakan dalam berbagai bidang kehidupan yang muncul sejak ahun 1900 hingga 1950. Pada zaman ini, karya desain dibuat sudah mengutamakan segi atau aspek fungsinya, selain itu karyanya juga bersifat rasional dan objektif. Sehingga menghasilkan kecenderungan baru dalam desain seperti misalnya bentuk geometris dan terukur , menghilangkan elemen dekoratif, lay out atau tata letak yang asimetris namun teratur, sistem grid yang jelas, warna-warna dengan intensitas yang redup dan dingin, serta backgroung yang hersih. Sebenarnya ciri visual pada moderenisme ini hampir sama dengan modernisme awal, karena masa waktu yang berlangsung tidak terpaut waktu yang lama, bahkan mungkin terjadi secara bersamaan.
1. Futurism
Aliran seni di Italia yang didirikan oleh Filippo Marinetti. Gerakan ini diinspirasi dari kehidupan yang herubah karena penemuan mesin yang menghasilkan unsur gerak dan kecepatan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia di awal ahad ke-20. Ciri visual dari gaya ini, sedikit abstrak, kolase kubisme dan pemakaian huruf yang ditampilkan sebagai gambar.
2. Vorticsm
Gaya Victorisme cenderung menggunakan kombinasi warna yang memusingkan, gaya ini juga mendapat pengaruh Kubisme. Kubisme pada dasarnya adalah perubahan cara melukis yang sebelumnya menggunakan gaya dengan pendekatan perseptual atau penginderaan ke gaya dengan pendekatan konseptual. Upaya-upaya seniman Kubisme menampilkan obyek dalam bentuk geometric serta cara pemotongan citra dari obyek tanpa ekspresi menandakan lahirnya gaya visual moderen, fotografi, teknologi mesin dan arsitektur.
3. Konstruktivism
Berkembang tahun 1914-1920, merupakan pengaruh Kubisme yang berkembang di Rusia. Estetika konstruktivisme berkaitan dengan bentuk atau bidang geometris kinetik sebagai cerminan jaman modern yang dikuasai mesin. Tokohnya El Lisstzky yang mengatakan konstruktivisme adalah pelopor avant garde seni di Rusia. Seni harus dinikmati semua kelas secara merata. Ciri visual dari Konstruktivisme: daerah luas warna murni, konstruksi geometri yang kuat, photomontage, tipografi san serif yang tebal, huruf yang singkat dan mudah dibaca.
4. De Stijl
De Stijl adalah aliran seni yang tidak representasional, tidak ilustratif ataupun naratif. De Stijl menggunakan bentuk-bentuk geometris dengan susunan konstruksi yang sangat teknis. Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Piet Mondrian. Neo Plasticisme adalah sebuah gaya dalam De Stijl yang menekankan kelenturan bidang dengan cara memanfaatkan garis vertikal-horisontal dan warna. Ciri Visual dari De Stijl adalah: huruf tebal dan sedikit, dengan warna datar dan bentuk yang geometris.
5. Bauhaus
Gaya Bauhaus yang diterapkan pada karya dcsain Walter Gropius, Lazlo Moholy-Nagi, dan Bayer-Schmidt, diperlihatkan sangat dipengaruhi oleh gaya Ekspresionism, Contructivism. dan De Stijl, bentukan geometri yang rapi, asimetri dan berdasarkan pada grid. Penggunaan warna-warna primer dengan gambar yang biasanya realis menjadi montase atau fotografi, tipografi san serif yang asimetri, bersih dan meyakinkan. Selain itu bahan yang digunakan pun bahan yang modern. 6. New Typography
Ciri yang lain timbul dari aliran atau gaya The New Typography yang diterapkan pada karya-karya Lissitzky, Moholy-Nagi, Renner, Tschichold, Sutnar, dan Zwart adalah masih dipengaruhi oleh Futurism, Vorticsm dan Dada. Terlihat pada karyanya yang geometris dan menolak semua ornamen, mementingkan fotografi, memperhatiakan white-space, mengijinkan barisan
huruf yang ditata secara secara miring atau vertikal, juga adanya pembatasan pada warna dasar, dan huruf tetap sama yakni san serif.
7. Art Deco
Berawal dari pameran yang berjudul Paris Exposition des Art Decoratrfs et Industries pada tahun 1925 di Perancis, didapatlah nama Art Deco (1924-1937). Dalam kamus karya Guy Julier, Art Deco tidaklah dianggap sebagai sebuah gerakan namun hanyalah gaya atau kecenderungan dalam desain. Perancis sebagai pusat Art Deco telah memiliki sekolah seni dekoratif The Martine School sejak tahun 1911. Di Perancis perkembangan Art Deco ini juga dipengaruhi oleh dunia mode.
Ciri visual dari gaya Art Deco adalah beberapa karya desain menggunakan gaya Streamline, yang mana artinya garis arus, dengan bentukan yang ramping dan lurus dengan ujung meruncing atau membulat sehingga dapat mengikuti alur atau arus air dan udara, pada masa ini gaya desainnya juga menerapkan bentuk yang aerodinamik dan banyak menggunakan warna gradasi yang halus, serta warna yang mengesankan efek kilauan atau lengkungan logarn. Gaya Art Deco seringkali juga memanfaatkan bahan-bahan sederhana tapi tetap menampilkan kesan mewah.
8. Dada
Dada adalah sebuah aliran seni anti estetis dan anti seni yang berkembang antara tahun 1916 di Zurich, Swiss hingga tahun 1922. Aliran ini cenderung menganut pemikiran absurd dan nihilis, yang disebabkan kekecewaan para seniman pada masa itu terhadap penderitaan umat manusia akibat Perang Dunia I. Mereka beranggapan bencana itu disebabkan oleh pengagungan berlebih terhadap logika dan rasionalisme. Oleh sebab itu cara menyelamatkan diri dalam situasi kacau (chaos) tersebut adalah dengan anarki politik, cmosi alamiah, intuisi dan irasionalitas. Karena sikapnya tersebut maka aliran ini dianggap destruktif, sok beda namun juga diakui kreatif