• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Bangunan Hijau

Secara umum, bangunan hijau sering disebut green building. Kata hijau tidak merujuk kepada alam atau lingkungan. (McLennan, 2004) dalam buku berjudul The Philosophy of Sustainable Design, Bangunan Hijau didefinisikan sebagai bangunan yang didesain untuk memaksimalkan kualitas lingkungan, sementara mengurangi bahkan menghilangkan dampak negatif terjadap lingkungan alam. Hal tersebut dapat dicapai melalui perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengoprasian dan perawatan yang baik serta penggunaan material dan metode yang ramah lingkungan.

(USGBC, 2003) Bangunan hijau adalah bangunan yang didesain, dibangun dan dioperasikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan, ekonomi, kesehatan, dan produktivitas lebih dari bangunan konvensional. Bangunan hijau adalah upaya untuk memaksimalkan dampak positif dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan pada seluruh siklus hidup bangunan. Bangunan hijau dirancang untuk mengurangi konsumsi energi 30-50% lebih rendah dari bangunan konvensional. (USGBC, 2006) Bangunan hijau rata-rata mengurangi biaya operasi sebesar 4-8%, meningkatkan nilai bangunan sebesar 7,5% dan meningkatkan tingkat okupansi sebesar 3.5%

Secara umum, bangunan hijau dapat ditafsirkan sebagai bangunan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama dalam hal pengurangan penggunaan energi dan sumber daya alam sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

2.2. Tantangan yang Berpengaruh pada Proyek Bangunan Hijau

Disamping manfaat-manfaat yang telah diuraikan pada subbab sebelumnya, bangunan hijau memiliki tantangan yang berpengaruh terhadap berkembangnya konsep tersebut. (Hwang & Ng, 2012) merumuskan tantangan-tantangan bangunan hijau berdasarkan beberapa kategori, yaitu :

(2)

1. Tantangan terkait perencanaan

 Adopsi bentuk kontrak yang berbeda

 Desain, orientasi dan struktur bangunan

 Perencanaan urutan aktivitas konstruksi yang berbeda

 Perencanaan teknik konstruksi yang berbeda

 Proses persetujuan yang panjang untuk teknologi baru

 Waktu yang lebih lama selama masa pra-konstruksi

 Kesulitan menyediakan spesifikasi sesuai kontrak 2. Tantangan terkait proyek

 Kesulitan persetujuan pencairan tagihan ke suplier dan subkontraktor

Kesulitan menilai hasil pekerjaan pada konstruksi hijau

 Kesulitan memilih subkontraktor yang menyediakan jasa konstruksi hijau

Dibutuhkan waktu lebih untuk implementasi konstruksi hijau

 Lebih banyak perubahan dan variasi terhadap desain 3. Tantangan terkait klien

 Spesifikasi anggaran yang spesifik

 Tujuan dari pembangunan

 Batas waktu penyelesaian proyek

 Tingkat resiko yang berani ditanggung klien akibat penggunaan teknologi hijau

 Waktu yang panjang untuk pembuatan keputusan

 Permintaan khusus dari klien mengenai penggunaan teknologi hijau yang spesifik

4. Tantangan terkait tim proyek

 Konflik dengan arsitek mengenai tipe material yang digunakan

 Kurangnya komunikasi dan ketertarikan diantara anggota tim proyek

Pertemuan yang sering dengan ahli bangunan hijau

(3)

Konflik kepentingan antara konsultan dan manajer proyek

 Performa spesifik dibutuhkan untuk proyek bangunan hijau 5. Tantangan terkait bahan dan material

 Biaya yang tinggi untuk material dan peralatan hijau

 Ketidakpastian penggunaan material dan peralatan hijau

 Ketersediaan material dan peralatan hijau

 Keputusan penggunaan material dan peralatan hijau yang berbeda

 Material dan peralatan hijau yang harus diimpor 6. Tantangan terkait pekerja

 Penolakan untuk berubah dari metode tradisional

 Keterbatasan kemampuan teknis terhadap teknologi & teknik hijau

 Ketidakpedulian pekerja terhadap metode dan prosedur yang benar 7. Tantangan eksternal

 Kebijakan & regulasi pemerintah

 Proses persetujuan yang panjang untuk teknologi baru

 Membutuhkan tambahan waktu untuk proses sertifikasi

 Keadaan yang tidak terduga pada proyek bangunan hijau

Penelitian sebelumnya dari (Hwang & Tan, 2010) merumuskan tantangan bangunan hijau terdiri dari:

1. Biaya yang lebih tinggi pada proyek bangunan hijau.

2. Kurangnya komunikasi dan ketertarikan diantara anggota tim proyek. 3. Kurangnya keahlian yang dibutuhkan dalam proyek bangunan hijau. 4. Kurangnya pengetahuan tentang prinsip bangunan hijau.

5. Kurangnya manajemen dan waktu untuk melaksanakan konstruksi hijau.

6. Kurangnya ketertarikan dari klien dan permintaan pasar. 7. Kurangnya ketertarikan dari anggota tim proyek yang lain.

8. Penolakan oleh karyawan perusahaan akan perubahan dari konvensional ke bangunan hijau.

9. Kurangnya dukungan dari pemerintah untuk konstruksi yang berkelanjutan.

(4)

11. Kurangnya informasi tentang produk dan sistem Bangunan Hijau. 12. Kurangnya penelitian yang kredibel mengenai keuntungan Bangunan

Hijau.

13. Peraturan & regulasi mengenai Bangunan Hijau dan konstruksi berkelanjutan yang kompleks.

Selain itu terdapat pula penelitian (Chau et al., 2013) yang merumuskan tantangan-tantangan bangunan hijau berdasarkan 3 kategori, yaitu:

1. Tantangan terkait komoditas

 Kurangnya perhatian publik terhadap Bangunan Hijau.

 Kesenjangan pengetahuan pada perhitungan pengembangan Bangunan Hijau.

 Resiko dan ketidakpastian dalam membangun Bangunan Hijau.

 Kurangnya pendanaan dalam membangun Bangunan Hijau.

 Ketidakpastian manfaat yang dapat diukur dalam mewujudkan Bangunan Hijau.

2. Tantangan dalam organisasi dan personal

 Kurangnya insentif bagi para investor untuk berinvestasi pada Bangunan Hijau.

 Kurangnya pengetahuan teknis dari anggota tim proyek tentang Bangunan Hijau.

 Kurangnya komitmen dari pimpinan administrasi untuk melindungi lingkungan

 Kurangnya komunikasi antar pemangku kepentingan dan administrator

 Resistensi terhadap perubahan untuk membangun Bangunan Hijau.

(5)

3. Tantangan terkait proses

 Kurangnya penetapan persyaratan yang dapat diukur pada Bangunan Hijau.

 Kurangnya komunikasi antar anggota tim proyek dalam membangun Bangunan Hijau.

 Keraguan informasi tentang metode Bangunan Hijau.

 Ketidaktersediaan produk yang bersifat hijau di area sekitar. (Samari et al., 2013) juga merumuskan beberapa tantangan yang ditemui dalam proyek bangunan hijau yaitu:

1. Kurangnya regulasi dan standar bangunan. 2. Kurangnya insentif.

3. Biaya investasi yang lebih tinggi 4. Resiko investasi

5. Harga akhir yang lebih tinggi

6. Kurangnya sumber kredit untuk menutupi biaya awal 7. Kurangnya kepedulian masyarakat

8. Kurangnya permintaan

9. Kurangnya strategi untuk mempromosikan Bangunan Hijau. 10. Kurangnya tim desain dan konstruksi

11. Kurangnya tenaga ahli

12. Kurangnya pengetahuan profesional

13. Kurangnya data dan informasi (studi kasus) 14. Kurangnya teknologi

15. Kurangnya dukungan pemerintah

Dari berbagai literatur mengenai tantangan yang berpengaruh pada proyek bangunan hijau, dilakukan pengelompokan yang kemudian digunakan untuk melakukan pengkodean data pada subbab 3.6. Referensi tantangan yang berpengaruh dan daftar referensi dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan Tabel 2.2 dibawah.

(6)

Tabel 2.1. Referensi Tantangan yang berpengaruh (A)

Keterangan Nomor referensi

Perencanaan

Adopsi bentuk kontrak 1

Desain, orientasi & struktur bangunan 1

Perencanaan urutan aktivitas konstruksi 1

Perencanaan teknik konstruksi 1

Proses persetujuan untuk teknologi hijau baru 1

Waktu selama masa pra-konstruksi 1,5

Penyediaan spesifikasi sesuai kontrak 1,3

Proyek

Penyetujuan pencairan tagihan ke suplier dan subkontraktor 1

Penilaian hasil pekerjaan konstruksi hijau 1

Pemilihan subkontraktor yang menyediakan jasa konstruksi hijau 1 Waktu untuk mengimplemetasikan metode konstruksi hijau 1 Perubahan dan variasi terhadap desain selama proses konstruksi 1 Klien

Spesifikasi anggaran yang spesifik 1

Tujuan dari pembangunan 1

Batas waktu penyelesaian proyek 1

Tingkat resiko akibat penggunaan teknologi hijau 1,3,4

Waktu yang panjang untuk pembuatan keputusan 1

Permintaan khusus dari klien mengenai teknologi hijau yang spesifik 1 Ketertarikan dari klien dan permintaan pasar 2,3,4 Tim proyek

Konflik dengan arsitek mengenai tipe material yang digunakan 1 Komunikasi dan kepentingan diantara anggota tim proyek 1,2,3 Frekuensi pertemuan dengan ahli bangunan hijau 1 Konsultan bangunan hijau terlambat memberikan informasi 1 Konflik kepentingan antara konsultan dan manajer proyek 1 Performa spesifik dibutuhkan untuk proyek bangunan hijau 1 Komitmen dari pimpinan administrasi untuk melindungi lingkungan 3 Material & peralatan

Biaya untuk material dan peralatan hijau 1,2,4

Spesifikasi dan informasi material dan peralatan hijau 1

Ketersediaan material dan peralatan hijau 1

Keputusan penggunaan material dan peralatan hijau 1

Material dan peralatan hijau harus diimpor 1

Ketersediaan informasi mengenai produk dan sistem bangunan hijau 2,3,4 Penetapan persyaratan yang dapat diukur pada bangunan hijau 3

(7)

Tabel 2.1. Referensi Tantangan yang berpengaruh (A) (sambungan)

Pekerja

Ketertarikan untuk berubah dari metode tradisional 1,2,3 Kemampuan / keterampilan terhadap teknologi & teknik hijau 1 Ketertarikan pekerja terhadap metode dan prosedur yang benar 1,2

Pengetahuan tentang prinsip bangunan hijau 2,3

Pengetahuan teknis anggota tim proyek tentang bangunan hijau 2,3,4 Eksternal

Kebijakan & regulasi pemerintah 1,2,4

Proses persetujuan untuk teknologi hijau baru 1

Tambahan waktu untuk proses sertifikasi 1

Keadaan yang tidak terduga pada proyek bangunan hijau 1 Dukungan dari pemerintah untuk konstruksi berkesinambungan 2,3 Penelitian yang kredibel mengenai benefit bangunan hijau 3

Sumber kredit untuk menutupi biaya awal 3,4

Perhatian publik terhadap bangunan hijau 4

Tabel 2.2. Daftar Referensi Tantangan yang berpengaruh (A)

Nomor referensi Nama

1

Hwang, G. B and Ng, J. W. (2012). “Project Management Knowledge and Skills for Green Construction: Overcoming Challenge”.

International Journal of Project Management. Vol.31, 272-284

2

Hwang, B.G., Tan, J.S. (2010) . “Green Building Project Management: Obstacles and Solutions for Sustainable Development”. Sustainable Development. Vol.20, 335-349.

3

Chau et al. (2013). “A Review on Barriers, Policies and Governance for Green Buildings and Sustainable Properties”. Urban Density & Sustainability. Proceedings of Sustainable Building 2013 Hong Kong Regional Conference, Hong Kong, China, September 12-13, 1-8.

4

Samari et al. (2013). “The Investigation of the Barriers in Developing Green Building in Malaysia”. Modern Applied Science. Vol. 7, No. 2, 1-10.

(8)

2.3. Keterampilan Manajer Proyek pada Proyek Bangunan Hijau

Keterampilan dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan dimana hal tersebut dapat mempengaruhi performa kerja. Keterampilan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk merubah pengetahuan menjadi tindakan. (Odusami, 2002)

2.3.1. Keterampilan Esensi yang Penting

(Katz & Thamhain, 1974) merumuskan keterampilan esensi yang penting untuk dikuasai manajer proyek berdasarkan beberapa kategori, yaitu:

1. Membangun tim 2. Kepemimpinan 3. Resolusi konflik 4. Teknis 5. Perencanaan 6. Organisasi 7. Wirausaha 8. Administrasi 9. Manajemen bangunan 10. Alokasi sumber daya

2.3.2. Pengembangan keterampilan yang Dibutuhkan

Seringkali manajer proyek dipromosikan ke posisi berdasarkan bidang kemampuan teknis, tetapi kurang dalam bidang keterampilan manajemen (Nellore & Balachandra, 2001). Dalam penelitian lain ditemukan hanya 12.4% manajer proyek yang memiliki sertifikasi atau terdaftar dalam bidang manajemen proyek (Crawford & Gaynor, 1999). Program pengembangan keterampilan, dapat dilakukan melalui pelatihan yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan manajer proyek. Memiliki manajer proyek yang terampil dapat meningkatkan kesuksesan proyek dan tentunya dibutuhkan investasi untuk mengembangkan keterampilan sesuai yang dibutuhkan.

Penelitian (Carbone & Gibson, 2004) membahas mengenai pelatihan manajemen proyek berdasarkan kategori:

(9)

1. Program pascasarjana

Banyak perguruan tinggi dan universitas menawarkan program pelatihan yang spesifik pada bidang manajemen proyek. Berikut beberapa program pelatihan yang biasanya ditawarkan :

 Pengantar manajemen proyek

 Perencanaan & penjadwalan proyek

 Organisasi, manajemen & kepemimpinan

 Manajemen biaya proyek

 Manajemen resiko

 Manajemen pembelian & kontak

 Manajemen keuangan

 Ekonomi

 Probabilitas & statistik

 Hukum & etika

 Manajemen konflik

 Komunikasi proyek 2. Program sertifikasi

Berbentuk program jangka pendek dan sertifikasi untuk pelatihan manajemen proyek. Dimana program sertifikasi yang paling dikenal luas adalah Project Management Professional (PMP) certification. Berikut beberapa program sertifikasi yang biasanya ditawarkan :

 Manajemen proyek

 Pengendalian jadwal & biaya

 Kepemimpinan, manajemen & komunikasi proyek

 Estimasi biaya

 Manajemen resiko

 Keterampilan negosiasi untuk manajer proyek

 Kontrak

 Manajemen mutu

 Organisasi & mengorganisi

Gambar

Tabel 2.1. Referensi Tantangan yang berpengaruh (A)
Tabel 2.1. Referensi Tantangan yang berpengaruh (A) (sambungan)

Referensi

Dokumen terkait

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel

Dengan dikembangkannya aplikasi Alat Musik Tradisional Jawa Tengah dengan metode single marker dan markerless 3D objek tracking, serta dilakukan pengujian aplikasi

Tugas Akhir ini mengambil judul “ Pengendalian Kualitas Pada Proses Produksi Plastik Injeksi pada Front bumper Spoiler Dengan Menggunakan Metode Failure Mode and

Setelah melalui proses evaluasi dan analisa mendalam terhadap berbagai aspek meliputi: pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan kurikulum 2011, perkembangan

1) Fokus sasaran: balita pada rumahtangga miskin, terutama balita laki-laki berusia 1- 3 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, dengan tetap tidak mengabaikan balita perempuan. 2)

1) Berdasarkan validasi pada ahli media, media pembelajaran memperoleh nilai 82%, sehingga berdasarkan interprestasi skala likert media pembelajaran masuk dalam kategori

WLD2 Bulak Banteng-Dukuh Kupang PP

Penelitian ini secara umum bertujuan menganalisis pengaruh pola asuh belajar, lingkungan pembelajaran, motivasi belajar, dan potensi akademik terhadap prestasi akademik siswa