• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inovasi dan Relik pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Inovasi dan Relik pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Inovasi dan Relik pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

Maghfirohtul Mubarokah

Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya E-mail : maghfirohtulmubarokah49@gma il.co m

Abstrak

Penelitian dialektologi, khusunya dialektologi diakronis jarang dilakukan sehingga pada penelitian ini diambil kajian mengenai inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan. Tujuan dari penelitian ini yakni, mendeskripsikan bentuk inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan serta mendeskrisikan distribusi bentuk inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yakni metode cakap, sedangkan metode analisis data yang digunakan yakni metode padan intralingual dan berkas isoglos. Sumber data dalam penelitian ini adalah penutur bahasa Jawa yang menetap di Kabupaten Lamongan. Hasil penelitian ini yakni adanya bentuk inovasi eksternal yang dipinjam dari bahasa Indonesia, bahasa M adura, dan dialek atau tingkat tutur yang lebih tinggi. Bentuk inovasi lebih banyak dipinjam dari bahasa Indonesia. Bentuk inovasi terdapat yang dipinjam secara utuh dan tidak utuh atau dengan perubahan. Perubahan yang kerap terjadi pada bentuk inovasi yakni perubahan bunyi asimilasi. Bentuk relik pada penelitian ini dibagi menjadi bentuk relik utuh dan relik tidak utuh. Relik tidak utuh atau mengalami perubahan lebih banyak daripada relik utuh. Perubahan yang sering terjadi yakni perubahan bunyi aferesis, penghilangan bunyi di awal kata. Distribusi bahasa Jawa subdialek Lamongan yakni kecamatan Brondong dan kecamatan Lamongan merupakan daerah konservatif, kecamatan Babat merupakan daerah inovatif, sedangkan kecamatan Deket dan kecamatan Sukorame merupakan daerah konservatif dan inovatif. Jumlah relik lebih banyak daripada jumlah inovasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penutur bahasa Jawa di Lamongan masih mempertahankan bahasa Jawa.

Kata Kunci : Inovasi, Relik, dan Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

Abstract

Dialectology research, especially diachronic dialectology is rarely done within the study of literature. Therefore, this study was conducted by taking innovation and relics of Lamongan -Subdialect in the Javanese language into account. The purpose of this research is to describe the form and the distribution of Lamongan-Subdialect innovation and relics found in the Javanese language. The data collection method used in this research was capable method. The data analysis techniques used in this rese arch were the unified intralingua method and isogloss file. The source of data in this study was the Javanese language speakers who settled in Lamongan. The result of this study showed that there is an existence of the external innovation borrowed from Ind onesian, Maduranese language and dialect with the higher speech level. In this study, it is found that many forms of innovation are mostly borrowed from Indonesian language. In this case, the form of innovation is borrowed wholly and partially. The changes of the sound of assimilation frequently happen in the form of innovation. The form of the relics in this study was divided into whole relics and partial relics. The partial relics undergo many changes compared to the whole relics. The frequent changes hap pened is called the changes of aferesis sound. It deals with the process of sound-removing at the beginning of words. The process of Lamongan -Subdialect of Javanese language distribution happen in the subdistricts of Lamongan and Brondong which belong to conservative area, subdistricts of Babat which belongs to innovative area, while the subdistricts of Deket and Sukorame belong to conservative and innovative areas. The Number of relics is found more than the number of innovations. Thus, it can be concluded that the Javanese language speakers in Lamongan are still maintaining the Java language.

Keywords: Innovation, Relics, and Lamongan-Sub dialect of Javanese Language

PENDAHULUAN

Lamongan merupakan satu di antara kabupaten yang ada di Jawa Timur yang terletak di sisi utara. Kabupaten ini memiliki beberapa kecamatan dengan kondisi geografis yang berbeda-beda. Masyarakat Lamongan

merupakan masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa yang dipakai penutur Lamongan merupakan subdialek Lamongan dari dialek bahasa Jawa di Jawa Timuran.

(2)

Seiring dengan berjalannya waktu, bahasa akan terus bertumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat pemakainya. Oleh karena itu, bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Lamongan akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut bertujuan agar bahasa yang digunakan dapat berterima bagi masyarakat lainnya. Adanya perubahan tersebut memunculkan variasi-variasi bahasa. Mahsun (1995) menyatakan bahwa setiap variasi bahasa yang hadir di lingkungan masyarakat memiliki variasi-variasi dalam unsur kebahasaan yang membangunnya. Dalam kajian dialektologi, variasi tersebut muncul dalam tataran fonologis, morfologis, leksikal, dan semantis. Dengan demikian, variasi bahasa yang terdapat pada Bahasa Jawa di Kabupaten Lamongan berkemungkinan mengalami perubahan terkait dengan leksikon yang digunakan. Leksikon yang dipakai berkemungkinan mengalami proses retensi atau sebaliknya, yakni sudah menjadi sebuah bentuk inovasi. Relik merupakan unsur lama yang dipertahankan oleh penutur bahasa tersebut, sedangkan inovasi merupakan bentuk pembaruhan atau perubahan yang dijumpai dalam unsur-unsur kebahasaan.

Berdasarkan fenomena tersebut, bahasa Jawa subdialek Lamongan perlu dikaji lebih lanjut karena selama ini terdapat beberapa penelitian dialektologi di Kabupaten Lamongan, namun penelitian tersebut masih pada tataran dialektologi sinkronis, yakni membahas mengenai variasi bahasa dan pemetaan bahasa Jawa di Kabupaten Lamongan. Oleh karena itu, penelitian tersebut perlu dikembangkan melalui kajian dialektologi diakronis, yakni mengenai inovasi dan relik yang terdapat pada bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Tujuan penelitian ini, yakni menghasilkan deskripsi bentuk inovas i dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan dan menghasilkan distribusi bentuk inovasi dan relik dalam bentuk peta bahasa yang menunjukkan daerah inovatif dan konservatif pada bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Dialektologi merupakan ilmu tentang dialek atau cabang dari linguistik yang mengkaji perbedaan-perbedaan isolek dengan memperlakukan perbedaan-perbedaan tersebut secara utuh (Kridalaksana dalam Mahsun, 1995:11). Sedangkan diakronis berkenaan dengan dengan pendekatan terhadap bahasa dengan melihat perkembangannya sepanjang waktu, jadi bersifat hitoris (Saussure dalam mahsun, 1995:12). Jadi, dialektologi diakronis adalah suatu kajian tentang perbedaan-perbedaan isolek yang bersifat analitis sinkronis dengan penafsiran perbedaan-perbedaan isolek tersebut berdasarkan kajian yang bersifat historis atau diakronis. Dengan kata lain, Mahsun menjelaskan bahwa dialektologi diakronis adalah kajian tentang “apa dan

bagaimana” perbedaan-perbedaan isolek yang terdapat dalam satu bahasa. Berdasarkan bidang garapannya, dialektologi diakronis mencakup dua aspek, yaitu aspek sinkronis (deskriptif) dan aspek diakronis (historis).Tujuan kajian dialektologi diakronis adalah untuk memberikan gambaran tetang dialek atau subdialek secara utuh dengan melihat keterhubungan antardialek atau subdialek itu baik antarsesamanya maupun dengan dialek atau bahasa lain yang penuturnya pernah menjalin kontak dengan penutur dialek-dialek atau subdialek-subdialek tersebut.

Berdasarkan hal tersebut akan memunculkan bentuk inovasi dan relik yang terdapat pada isolek tersebut. Inovasi merupakan proses perubahan atau pembaharuan unsur–unsur kebahasaan yang mengalamai pembaharuan. Daerah yang memiliki unsur-unsur kebahasaan yang sama sekali baru dan tidak memiliki pasangan kognat dalam bahasa, dialek atau subdialek lain disebut daerah inovatif (Mahsun, 1995:83). Menurut Mahsun (1995:84) menjelaskan bahwa terdapat dua ciri unsur yang digunakan dalam menentukan daerah inovasi, yaitu: (a) Unsur itu merupakan unsur yang sama sekali baru yang tidak memiliki pasangan kognat dalam bahasa dialek, subdialek, atau daerah pengamatan lain dan (b) unsur itu memiliki kesamaan dalam bahasa, dialek, subdialek dan daerah pengamatan lain, mungkin unsur tersebut merupakan warisan dari bahasa purba yang sama atau hasil inovasi internal, tetapi keberadaanya unsur tersebut sebaga inovasi tidak sesuai dengan sistem isolek dari dialek, subdialek, atau daerah pengamatan yang menerima unsur tersebut dan atau distribusi unsur tersebut dalam bahasa, dialek, maupun subdialek yang diduga sebagai sumbernya. Dengan berpatokan pada kedua ciri unsur inovasi tersebut. Maka inovasi dalam dialektologi terbagi atas dua, yakni inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal merupakan pemunculan unsur-unsur kebahasaan yang baru dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki dialek atau subdialek itu sendiri, sedangkan inovasi eksternal berkaitan dengan pengaruh antardialek atau antarsubdialek dan pengaruh bahasa lain terhadap subdialek Lamongan, baik yang secara geografis berdekatan maupun yang berjauhan, namun penuturnya pernah melakukan kontak satu sama lain. Inovasi ekternal biasanya disebut peminjaman (Mahsun, 1995:88).

Relik merupakan unsur kebahasaan yang merupakan warisan dari bahasa purba yang menurunkan bahasa, dialek, atau subdialek. Daerah yang mempertahankan unsur-unsur kebahasaan lama atau relik yang merupakan warisan dari bahasa purba yang menurunkan bahasa, dialek, atau subdialek disebut daerah k onservatif. Sementara itu, penetapan daerah konservatif dilakukan dengan penelusuran evid ensi

(3)

pewarisan etimon bahasa purba dalam dialek atau subdialek sebuah bahasa. Evidensi pewarisan itu mencakup semua tingkat bahasa purba yang serumpun dari tingkat prabahasa sampai tingkat kelompok tertinggi (Mahsun, 1995:91).

Distribusi Inovasi dan Relik adalah persebaran dari bentuk inovatif dan relik bahasa Jawa subdialek Lamongan. Proses penyebaran tersebut ke dalam suatu bahasa dapat berjalan mengikuti teori gelombang. Seperti yang dikemukakan (John Schemidt dalam Keraf, 1984: 95) bahwa bahasa-bahasa akan dipergunakan secara berantai dalam suatu wilayah tertentu dan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu tempat tertentu. Perubahan-perubahan tersebut menyebar ke semua arah seperti halnya gelombang dalam sebuah kolam yang disebabkan oleh barang yang dijatuhkan ke dalam kolam atau dengan kata lain perubahan -perubahan linguistik dapat tersebar seperti gelombang pada suatu wilayah bahasa, dan tiap perubahan dapat meliputi suatu wilayah yang tidak tumpang tindih dengan wilayah perubahan terdahulu. Hasil dari gelombang berurutan itu adalah jarring-jaring isoglos.

Daerah yang berdekatan dengan pusat penyebaran akan lebih banyak menunjukkan persamaan-persamaan dengan pusat penyebarannya. Perbedaan tersebut semakin besar apabila jarak yang ditempuh semakin jauh dari pusat persebaran. Distribusi atau penyebaran bahasa karena adanya pengaruh antarabahasa sehingga tidak lepas dari kondisi geografis tiap-tiap daerah. Romaine (dalam Laksono dan Savitri, 2009: 8) menyatakan bahwa setiap bahasa yang bersentuhan dengan bahasa lain pasti akan mempengaruhi dan dipengaruhi bahasa lain itu dalam batas-batas terntentu. Sedikit banyaknya pengaruh itu bergantung pada berbagai faktor, termasuk pemakainya, konteks dan situasi, serta keterbukaan penutur asli bahasa yang bersangkutan untuk menerima pengaruh itu. Menurut Nothofer dan Soepomo (dalam Laksono dan Aguniar, 2009: 9) menyatkan bahwa secara teoretis dapat diketahui bahwa perbedaan antardialek terutama tampak pada bidang fonologi dan leksikal. Dengan kata lain, perbedaan dialek biasanya terjadi pada bidang fonologi dan leksikon, sedangkan bidang morfologi sudah lebih konservatif dan sintaksis paling konservatif.

Selanjutnya, pengaruh antardialek atau antarbahasa yang dapat menyebabkan perbedaan isolek antardaerah pengamatan ini dapat terjadi karena faktor ekstralinguistik, misalnya: geografis, budaya, mobilitas sosial, kelas sosial, sifat masyarakat pendukung, prestise dan migrasi. Faktor geografis, misalnya, seperti letak yang terpencil, adanya gunung, sungai, dll dapat menjadi penyebab terjadinya perbedaan. (Laksono dan Savitri, 2009: 9). Kabupaten Lamongan adalah sebuah kabupaten

di Provinsi jawa Timur. Ibu kotanya adalah Lamongan. Kabupaten ini berbatasan dengan laut Jawa di utara, Kabupaten Gresik di timur, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang di selatan, serta Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban di barat. Kabupaten Lamongan merupakan salah diantara wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yairu Gerbangkertasusila.

METODE

Penelitian ini menggunakan lima derah pengamatan. Lima daerah pengamatan tersebut adalah pengguna bahasa Jawa subdialek Lamongan. Daerah pengamatan tersebut yakni, bagian tengah atau pusat Kabupaten Lamongan, yakni Kecamatan Lamongan, pesisir utara Lamongan Kecamatan Brondong, daerah periferal timur Kecamatan Glagah, daerah periferal barat Kecamatan Babat, dan daerah periferal selatan Kecamatan Sukorame. Penomoran daerah pengamatan dilakukan secara horisontal dari atas ke bawah sehingga menghasilkan penomoran y akni, Kecamatan Brondong sebagai DP1, Kecamatan Glagah sebagai DP2, Kecamatan Babat sebagi DP3, Kecamatan Lamongan sebagi DP4, dan Kecamatan Sukorame sebagai DP5.

Data penelitian ini adalah inovasi dan relik yang terdapat dalam variasi leksikal bahasa Jawa subdialek Lamongan. Sumber data penelitian ini adalah penutur bahasa Jawa yang tinggal dan menetap di Kabupaten Lamongan dan menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari. Informan dalam penelitian ini digolongkan berdasarkan daerah pengamatan. Setiap daerah pengamatan diambil dua orang, satu orang sebagai informan utama dan satu orang untuk informan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode cakap karena cara yang ditempuh dalam pengumpulan data berupa p ercakapan antara peneliti dengan informan. Metode cakap dilakukan untuk mendapatkan data inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan. Teknik pengumpulan data penelitian ini yakni dengan teknik pancing, teknik cakap semuka, teknik simak dan catat serta teknik rekam. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa daftar tanyaan dari balai bahasa yang terdiri atas 400 glos. Pada penelitian ini juga digunakan alat peraga berupa gambar atau benda apabila terdapat kosakata yang sulit untuk ditanyakan atau ketika informan tidak mengerti dengan kosa kata yang dimaksud. Selain itu, dalam penelitian ini instrumen yang digunakan juga berupa human instrument.

Pada pengumpulan data, dilakukan langkah - langkah sebagai berikut.

(4)

b. Menyiapkan instrumen penelitian berupa daftar tanyaan dari balai bahasa

c. Mengurus surat perizinan dari jurusan dan fakultas d. Mengurus surat perizinan di balai desa untuk

melakukan penelitian di daerah pengamatan e. Menentukan informan berdasarkan kriteria informan f. Mengambil data di setiap daerah pengamatan secara

bertahap dengan melakukan wawancara kepada informan

g. Transkripsi fonetis dilakukan ketika wawancara. Metode analisis data yang digunakan dalam peneletian ini adalah metode padan intralingual dan berkas isoglos. Metode padan intralingual adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam bahasa yang berbeda. Metode ini digunakan untuk menemukan bentuk inovasi dan relik dari bahasa Jawa subdialek Lamongan. Metode berkas isoglos digunakan untuk menentukan distribusi bentuk inovasi dan relik dengan media peta peraga. Teknik analisis data yang menggunakan metode padan ini yakni dengan teknik dasar PUP (Pilah Unsur Penentu). Teknik PUP tersebut dilakukan dengan memilah glos berdasarkan pada penentunya yakni berupa variasi leksikal. Kemudian digunakan teknik lanjutannya yakni teknik hubung banding memperbedakan atau teknik HBB, teknik hubung banding menyamakan atau teknik HBM, dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok atau teknik HBMP. Teknik HBB dan HBM digunakan masing-masing untuk memilah unsur-unsur yang berkognat dengan yang tidak berkognat serta mengelompokkannya, sedangkan teknik HBMP digunakan untuk menentukan unsur prabahasanya. Selain teknik tersebut, teknik pemetaan digunakan untuk menentukan sebaran bentuk inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan. Pada analisis data, penelitian ini menggunakan instrumen tabulasi untuk mempermudah analisis setiap leksikon berdasarkan variasinya antara bahasa di daerah satu dengan daerah yang lainnya. Setelah itu, instrumen tabulasi juga digunakan untuk menemukan bentuk inovasi dan relik dari bahasa Jawa subdialek Lamongan. Selain tabulasi, penelitian ini juga menggunakan peta peraga untuk analisis data. Peta peraga tersebut bertujuan untuk mengetahui distribusi atau sebaran bentuk inovasi dan relik.

Pada pelaksanaan analisis data, dilakukan langkah -langkah sebagi berikut.

a. Mengklasifikasikan data berdasarkan variasi fonologi dan leksikal

b. Menentukan bentuk relik dan bentuk inovasi berdasarkan variasi leksikal

c. Membedakan antara glos yang merupakan inovasi utuh dan inovasi dengan adanya perubahan

d. Membedakan antara glos yang merupakan relik utuh dan relik dengan adanya perubahan

e. Menentukan perubahan yang ada pada bentuk inovasi dan relik, perubahan yang dimaksud berupa perubahan bunyi, pengulangan dan penyingkatan f. Memetakan distribusi variasi leksikal dalam bentuk

peta isoglos

g. Membedakan antara glos yang berinovasi secara penuh, glos yang merupakan relik penuh, dan glos yang termasuk inovasi dan relik

h. Membuat peta berkas isoglos inovasi, berkas isoglos relik, dan berkas isoglos inovasi dan relik

i. Menentukan daerah inovatif dan konservatif dengan media peta distribusi inovasi dan relik

j. Membuat simpulan bentuk inovasi, bentuk relik dan distribusi inovasi dan relik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis terdapat bentuk inovasi dan relik pada bahasa Jawa Subdialek Lamongan. Jumlah bentuk inovasi terdap at 138 yang terbagi atas inovasi pinjaman dari bahasa Indonesia, pinjaman dari bahasa Madura dan pinjaman dari dialek lain atau penggunaan bahasa Jawa dengan tingkat tutur yang lebih tinggi. Jumlah relik terdapat 188 yang terbagi atas relik utuh atau tanpa perubahan bunyi dan tidak utuh atau dengan perubahan bunyi.

1. Bentuk Inovasi pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

Bentuk inovasi pada bahasa Jawa subdialek Lamongan terbagi atas 88 inovasi yang merupakan pinjaman dari bahasa Indonesia, 11 inovasi yang merupakan pinjaman dari bahasa Madura, dan 39 inovasi yang dipinjam dari dialek lain atau penggunaan bahasa Jawa dengan tingkat tutur yang lebih tinggi.

a. Inovasi Pinjaman dari Bahasa Indonesia

Inovasi berupa pinjaman dari bahasa Indonesia terdapat inovasi secara utuh tanpa perubahan bunyi dan inovasi tidak utuh dengan perubahan bunyi. Perubahan bunyi tersebut berupa nasalisasi, asimilasi, protesis, paragog, sinkop, haplologi, metatesis, aferesis, dan apokop. Selain perubahan bunyi terdapat penyingkatan. Contoh glos yang termasuk pada inovasi pinjaman Bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

(5)

Tabel 1.1

Inovasi Pinjaman dari Bahasa Indonesia (Swadesh) NO No

Glos Glos Etima

1 A6 Angin [aIn]

2 A10 Apung (meng-) [timbl]

3 A12 Awan [mnd]

4 A16 Bakar [mbakar]

5 A19 Baring

[mere] [lst] [ly] Data tabel 1.1 merupakan inovas i pinjaman dari Bahasa Indonesia. Inovasi tersebut terdapat yang secara utuh berupa peminjaman dari bahasa Indonesia tanpa adanya perubahan bunyi terdapat pada glos A6, A10, dan A12. Etima-etima tersebut yakni Etima [aIn], [timbl], dan [mnd].

Pada glos A16 dan A19 mengalami proses perubahan. Pada glos A16 terdapat perubahan bunyi nasalisasi yakni etima [mbakar] meminjam dari bahasa Indonesia dari kata bakar. Terdapat perubahan bunyi yakni adanya bunyi nasal [m] yang merupakan bunyi nasal sebelum kata bakar.

Pada glos A19 BARING terdapat etima [lst] yang merupakan pinjaman dari bahasa Indonesia yakni kata keset. Pada etima tersebut terjadi perubahan bunyi [k] menjadi bunyi [l] sehingga kata keset menjadi leset. Kemudian mendapat tambahan bunyi nas al [] sehingga menjadi leset. Bentuk inovasi dari etima [lst] sendiri meminjam bentuk lain dari keset yang memiliki arti pengesat kaki. Pengesat kaki adalah alat yang ditaruh di bawah atau di lantai, sama halnya dengan [lst] yang diartikan tidur di lantai.

b. Inovasi Pinjaman dari Bahasa Madura

Inovasi berupa pinjaman dari bahasa Madura terdiri atas inovasi secara utuh tanpa perubahan bunyi dan inovasi tidak utuh dengan perubahan bunyi berupa asimilasi, protesis, sinkop, dan paragog. Selain perubahan bunyi terdapat juga penyingkatan pada kelompok glos sistem kekeluargaan. Contoh glos yang termasuk pada inovasi pinjaman Bahasa Madura dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.2

Inovasi Pinjaman dari Bahasa Madura (Swadesh) NO No

Glos Glos Etima

1 A16 Bakar [kb], [b] 2 A44 Cici Piring [kra kra]

3 A49 Dan [amb]

Data pada tabel 1.2 yang merupakan inovasi dari bahasa Madura pada kelompok glos swadesh tidak terdapat inovasi secara utuh, tetapi terdapat inovasi yang mengalami perubahan bunyi. Perubahan bunyi tersebut berupa asimilasi, sinkop, dan protesis.

Perubahan bunyi asimilasi terdapat pada glos A16 dan A104. Pada glos A16 BAKAR terdapat etima [b] dan [kb] yang merupakan pinjaman dari bahasa Madura yakni kata obbher. Perubahan bunyi yang terjadi yakni [e] berubah menjadi [] dan bunyi [r] berubah menjadi bunyi [] sehingga obbher menjadi [bbh], kemudian bunyi geminasi [bb] disederhanakan menjadi [b] dan bunyi aspirat [h] di bagian tengah hilang atau terdapat perubahan bunyi sinkop.

Perubahan bunyi protesis terdapat pada glos A44 dan A49. Pada glos A44 CUCI PIRING terdapat etima [kra kra] yang merupakan pinjaman dari bahasa Madura yakni kata ra kra. Perubahan bunyi yang terjadi yakni adanya penambahan bunyi [k] di awal kata sehingga terjadi pengulangan kata.

Pada glos A49 DAN terdapat etima [amb] yang merupakan pinjaman dari bahasa Madura yakni kata bi’. Perubahan bunyi yang terjadi yakni penambahan bunyi [a] di awal kata, kemudian [i] berasimilasi menjadi [] dan terdapat bunyi glotal [] di akhir kata.

c. Inovasi Pinjaman dari Dialek Lain atau Tingkat Tutur yang Lebih Tinggi

Inovasi berupa pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi terdiri atas inovasi secara utuh tanpa perubahan bunyi dan inovasi tidak utuh dengan perubahan bunyi. Perubahan bunyi tersebut berupa asimilasi, protesis, nasalisasi, paragog, aferesis, epentesis, sinkop dan apokop.

Tabel 1.3

Inovasi Pinjaman dari Dialek Lain atau Tingkat Tutur Lebih Tinggi

(Bagian Tubuh) NO No

Glos Glos Etima

1 B15 Gigi Menonjol

[nrs], [drs], [mrs] 2 B39 Pinggang [lmp] 3 B40 Pinggul [lmp]

Data pada tabel 1.3 menunjukan inovasi peminjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih

(6)

tinggi. Inovasi secara utuh berupa peminjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi tanpa adanya perubahan bunyi terdapat pada glos B15,B39, dan B40. Etima yang terdapat pada glos -glos tersebut adalah [mrs] dan [lmp]. Selain itu, terdapat inovasi yang mengalami perubahan bunyi. Perubahan bunyi tersebut berupa asimilasi dan nasalisasi.

Perubahan bunyi asimilasi terdapat pada glos B15 GIGI MENONJOL dengan etima [drs]. Etima tersebut merupakan pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi yakni kata mroos. Pada etima tersebut terdapat perubahan bunyi [m] menjadi bunyi [d].

Perubahan bunyi nasalisasi terdapat pada glos B15 GIGI MENONJOL dengan etima [nrs]. Etima tersebut merupakan pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi yakni kata mroos. Pada etima tersebut terdapat perubahan bunyi [m] menjadi bunyi nasal [n].

d. Rekapitulasi Bentuk Inovasi

Bentuk inovasi pada bahasa Jawa subdialek Lamongan terdiri atas inovasi bahasa Indonesia, inovasi bahasa Madura, dan inovasi dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi. Inovasi tersebut merupakan pinjaman secara utuh tanpa perubahan bunyi dan tidak utuh dengan perubahan bunyi. Etima yang berinov asi sebanyak 138 yakni 63 pinjaman secara utuh dan 75 yang mengalami perubahan. Etima yang paling berinovasi yakni pada kelompok glos swadesh, gerak dan kerja.

Inovasi pinjaman dari bahasa Indonesia paling banyak ditemukan, dengan jumlah 88 etima. Inovas i pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi berjumlah 39 dan inovasi pinjaman dari bahasa Madura berjumlah 11. Inovasi secara utuh terdiri atas 42 pinjaman dari bahasa Indonesia, 2 pinjaman dari bahasa Madura, dan 9 pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi. Selain inovasi utuh, terdapat inovasi tidak utuh dengan perubahan bunyi, pengulangan dan penyingkatan. Perubahan bunyi tersebut berupa asimilasi, nasalisasi, protesis, paragog, sinkop, haplologi, metatesis, apheresis, apokop, dan epentesis. . Perubahan bunyi yang sering terjadi yakni asimilasi dan nasalisasi khususnya pada kelompok kata swadesh, gerak dan kerja.

2. Bentuk Relik pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

Bentuk relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan terdiri atas relik utuh atau tanpa peruabahan bunyi dan relik tidak utuh atau dengan perubahan bunyi. Jumlah relik utuh terdapat 67 dan relik tidak utuh terdapat 121. Penetuan relik ini didasarkan pada warisan

etimonnya. Hal tersebut dapat dilihat dari PAND (Proto Austronesian) dan bahasa Jawa Kuno.

a. Relik Utuh (Tanpa Perubahan)

Relik utuh bahasa Jawa subdialek Lamongan merupakan penggunaan kata warisan tanpa mengubah bentuk dan bunyi. Pada penelitian ini dikatakan relik secara utuh dengan berpedoman pada kamus Jawa Kuno P.J. Zoetmolder. Selain itu, digunakan juga daftar PAND. Jumlah relik utuh yang terdapat pada JKZ sebanyak 48 dan relik utuh yang terdapat pada PAND dan JKZ sebanyak 19. Contoh glos yang merupakan relik utuh dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.4

Relik Utuh (Tanpa Perubahan Bunyi di JKZ) NO No

Glos Glos Etima Keterangan 1 A2 Air

[toy] JKZ 1270 [bau] JKZ 107 2 A6 Angin [barat] JKZ 110

Data pada tabel 1.4 merupakan glos -glos yang termasuk pada relik utuh tanpa perubahan bunyi dengan pedoman kamus Jawa Kuno. Etima-etima yang tertera pada tabel tersebut tidak ditemukan pada PAND sehingga etima-etima tersebut merupakan warisan dari bahasa Jawa Kuno.

b. Relik Tidak Utuh (dengan Perubahan)

Relik tidak utuh bahasa Jawa subdialek Lamongan merupakan penggunaan kata warisan dengan adanya perubahan bunyi. Relik tidak utuh dibedakan menjadi dua yakni tidak utuh dengan pedoman kamus Jawa Kuno dan tidak utuh dengan pedoman PAND dan kamus Jawa Kuno. Jumlah glos relik tidak utuh yang terdapat di JKZ sebanyak 81 dan yang terdapat di PAND dan JKZ sebanyak 40. Contoh glos yang merupakan bentuk relik tidak utuh dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.5

Relik Tidak Utuh/Perubahan Bunyi (Gerak dan Kerja) NO NO

GLOS GLOS ETIMA KET 1 D2 Angkat

(me) [njunj ]

JKZ 430 2 D9 Buai [uru uru] JKZ 1301 3 D13 Congkak

(7)

Perubahan bunyi sinkop terdapat pada glos D2 ANGKAT (me) terdapat etima [junj] yang berpedoman pada JKZ yakni kata jinunj. Perubahan bunyi yang terjadi yakni bunyi [in] di tengah kata jinunj hilang sehingga menjadi [junj].

Pada glos D9 BUAI terdapat etima [uru uru] yang berpedoman pada JKZ yakni kata turu. Perubahan bunyi aferesis yang terjadi yakni bunyi [t] di awal kata turu hilang sehingga menjadi uru. Kemudian kata uru diulang sehingga menjadi [uru uru].

Perubahan bunyi apokop terdapat pada glos D13 CONGKAK (me). Pada glos tersebut terdapat etima [ako] yang berpedoman pada JKZ yakni kata akuh. Perubahan bunyi yang terjadi yakni bunyi [h] di akhir kata akuh hilang sehingga menjadi aku, kemudian bunyi [u] di akhir kata berasimilasi menjadi bunyi [].

c. Rekapitulasi Bentuk Relik

Bentuk relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan terbagi menjadi relik utuh dan relik tidak utuh. Pada relik utuh terdapat 67 etima yang terdiri atas 48 relik utuh yang hanya terdapat pada kamus Jawa Kuno dan dan 19 relik yang terdapat pada PAND dan kamus Jawa Kuno.

Pada relik tidak utuh terdapat 121 etima yang terdiri atas 81 etima yang hanya terdapat pada kamus Jawa Kuno dan 40 etima yang terdapat pada PAND dan kamus Jawa Kuno. Etima tidak utuh yang terdapat pada PAND dan kamus Jawa Kuno analisis perubahannya didasarkan pada kamus jawa Kuno. Perubahan pada bentuk relik tidak utuh berupa perubahan bunyi, pengulangan kata dan penyingkatan.

Perubahan yang terjadi pada bentuk relik bahasa Jawa Subdialek Lamongan. Perubahan bunyi yang sering terjadi pada bentuk relik yakni aferesis, asimilasi dan nasalisasi. Pada relik utuh yang terdapat di PAND dan kamus Jawa Kuno (RU P J) perubahan yang cenderung terjadi yakni asimilasi dengan jumlah enam, sedangkan perubahan yang paling sedikit terjadi yakni sinkop dan apokop. Perubahan bunyi protesis , paragog, haplologi, metatesis, dan epentesis tidak terdapat pada relik utuh yang ada di PAND dan kamus Jawa Kuno. Pada relik tidak utuh yang hanya ada di kamus Jawa Kuno (RTU J) perubahan bunyi yang sering terjadi yakni aferesis, sedangkan yang paling sedikit terjadi yakni epentesis. Penyingkatan dan pengulangan juga terdapat pada relik tidak utuh yang ada di kamus Jawa Kuno. Jumlah penyingkatan terdapat satu dan pengulangan terdapat enam.

3. Distribusi Inovasi dan Relik pada Bahasa Jawa Subdialek Lamongan

Distribusi Inovasi dan Relik adalah persebaran dari bentuk inovatif dan relik bahasa Jawa subdialek Lamongan. Penyebaran bentuk inovasi dan relik dapat ditentukan dengan pembuatan peta berkas isoglos. Peta tersebut terbagi menjadi peta berkas isoglos inovasi, peta berkas isoglos relik, dan peta berkas isoglos inovasi dan relik. Berdasarkan peta tersebut dapat dibuat peta distribusi inovasi dan relik sehingga dapat ditentukan daerah inovatif dan daerah konservatif.

Distribusi bahasa Jawa sudialek Lamongan yakni DP 3 Kecamatan Babat merupakan daerah inovatif, sedangkat DP 1 Kecamatan Brondong dan DP 4 Kecamatan Lamongan merupakan daerah konservatif. Hal tersebut berbeda dengan kriteria penentuan DP 4 yakni Kecamatan Lamongan yang merupakan pusat kota dan dianggap sebagai daerah yang lebih berinovasi, namun hal tersebut berkebalikan. DP 4 lebih cenderung mempertahankan bentuk relik bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Pada DP 2 Kecamatan Glagah dan DP 5 Kecamatan Sukorame merupakan daerah transisi dari relik ke inovasi. Hal tersebut disebabkan jumlah relik dan inovasi yang terdapat pada DP 2 dan DP 5 hampir sama. Selain itu, DP 3 yakni Kecamatan Babat yang merupakan daerah inovatif menjadi pusat penyebaran bentuk inovasi. Jarak antara DP 3 dan DP 2 yang berdekatan memudahkan penyebaran bentuk inovasi, sedangkan DP 3 dan DP 5 sama-sama berabatasan dengan Kabupaten Bojonegoro. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa arah penyebaran bentuk inovasi cenderung ke arah timur yakni DP 2 dan ke arah barat daya yakni DP 5.

4. Pembahasan

Berdasarkan analisis pada hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa bentuk inovasi terjadi karena kehidupan yang semakin modern dan penutur tidak ingin ketinggalan oleh penutur lainnya. Bahasa Indonesia menjadi bentuk inovasi tertinggi karena bahasa Indonesia menjadi pelajaran wajib yang ada di sekolah. Masyarakat menganggap Bahasa Indonesia memiliki prestise yang lebih tinggi, dan media-media yang cenderung menggunakan Bahasa Indonesia. Kondisi tersebut juga kian diperparah dengan adanya pandangan generasi muda terhadap bahasa Jawa. Mereka menganggap bahasa Jawa adalah bahasa orang-orang desa, orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang zaman dulu. Mereka mengaku malu dan gengsi menggunakan bahasa Jawa dan memilih menggunakan bahasa Indonesia sehingga secara tidak langsung bahasa Indonesia paling banyak menjadi bentuk inovasi dari bahasa Jawa subdialek Lamongan.

(8)

Bentuk inovasi bahasa Madura terjadi karena wilayah Kabupaten Lamongan yang tidak jauh dengan pulau Bawean dan Madura. Selain itu, banyak orang Lamongan yang merantau ke Madura untuk bekerja atau sebaliknya sehingga mempengaruhi bahasa Jawa sudialek Lamongan. Masyarakat Lamongan juga banyak yang menikah dengan orang Madura sehingga anak atau keturunan mereka bisa saja menguasai bahasa Jawa subdialek Lamongan dan bahasa Madura.

Bentuk inovasi berupa peminjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi. Hal tersebut terjadi karena di Lamongan masih mempertahankan unggah ungguh dalam berbahasa. Selain itu, dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi dianggap memiliki prestise yang lebih tinggi daripada bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Bentuk inovasi tersebut dipinjam secara utuh dan dipinjam secara tidak utuh atau mengalami perubahan baik perubahan bunyi, penyingkatan atau pengulangan. Perubahan yang cenderung lebih banyak yakni perubahan bunyi kususnya asimilasi dan nasalisasi. Perubahan bunyi asimilasi lebih sering muncul karena penyesuaian antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Penyesuaian tersebut lebih pada penyesuaian fonologis sehingga tidak mengubah kata, hanya mengubah beberapa bunyi dan menggantikannya dengan bunyi yang mirip. Perubahan bunyi nasalisasi terjadi karena kebiasaan orang jawa ketika mengujarkan sesuatu ditambah dengan bunyi nasal sebelum kata tersebut. Misalnya pada kata golek yang ditambah dengan bunyi nasal [] sehingga menjadi [lk].

Bentuk relik dibagi menjadi relik utuh dan relik tidak utuh. Relik utuh merupakan penggunaan bahasa warisan atau etimonnya, khususnya dari Jawa kuno secara utuh tanpa mengubah bunyi sedikitpun. Relik tidak utuh yakni penggunaan bahasa warisan atau etimonnya yakni PAND atau Jawa Kuno dengan adanya perubahan. Relik tidak utuh lebih banyak ditemukan pada penelitian ini dibandingkan relik tidak utuh. Hal tersebut terjadi karena adanya adaptasi atau penyesuaian fonologis sesuai dengan zamannya. Selain itu, dalam bahasa Jawa Kuno terdapat banyak kata yang menggunakan awalan (-a) dan (h) serta imbuhan (-in-) dan (-um-) yang saat ini jarang ditemukan pada bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Perubahan yang terjadi pada relik tidak utuh berupa perubahan bunyi, penyingkatan dan pengulangan. Perubahan yang kerap terjadi yakni perubahan bunyi khususnya perubahan aferesis yakni penghilangan bunyi di awal kata. Hal tersebut terjadi karena berkembangnya bahasa. Bahasa Jawa Kuno yang menjadi awal lahirnya bahasa Jawa, semakin berkembangnya zaman mengalami

pergeseran sehingga terjadi adaptasi fonologi pada bahasa Jawa Kuno ke bahasa Jawa subdialek Lamongan.

Jumlah relik lebih banyak ditemukan daripada inovasi sehingga dapat dikatakan bahwa penutu r bahasa Jawa di Lamongan lebih mempertahankan bahasa Jawa yang merupakan warisan dari etimon proto bahasa, khususnya bahasa Jawa Kuno.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan empat hal sebagai berikut.

Pertama, bentuk inovasi yang ditemukan berupa inovasi eksternal yang terbagi menjadi bentuk inovasi pinjaman dari bahasa Indonesia, pinjaman dari bahasa Madura, dan pinjaman dari dialek lain atau tingkat tutur yang lebih tinggi. Bentuk inovasi ada yang dipinjam secara utuh dan inovasi tidak utuh atau adanya perubahan. Perubahan tersebut berupa perubahan bunyi dan penyingkatan. Perubahan bunyi yang terjadi berupa asimilasi, nasalisasi, protesis, paragog, sinkop, haplologi, metatesis, aferesis, apokop, dan epentesis. Perubahan bunyi yang cenderung muncul dalam bentuk inovasi yakni asimilasi, dengan mengubah bunyi satu dengan bunyi lainnya yang hampir mirip. Perubahan bunyi banyak ditemukan pada glos swadeh dan gerak kerja.

Bentuk inovasi paling banyak yakni meminjam bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib dibanding bahasa Jawa, bahasa Indonesia memiliki prestise lebih tinggi, dan media elektronik dan media cetak cenderung menggunakan bahasa Indonesia.

Kedua, bentuk relik terbagi menjadi relik utuh dan relik tidak utuh atau dengan perubahan bunyi. Relik utuh merupakan bentuk warisan dari etimonnya takni proto bahasa, khususnya bahasa Jawa Kuno. Relik tidak utuh atau adanyanya perubahan. Perubahan tersebut berupa perubahan bunyi, penyingkatan dan pengulangan. Perubahan bunyi yang terjadi berupa asimilasi, nasalisasi, protesis, paragog, sinkop, haplologi, aferesis, apokop dan epentesis. Perubahan bunyi yang sering terjadi dalam bentuk relik yakni aferesis atau penghilangan bunyi di awal kata. Bentuk relik memiliki jumlah yang lebih tinggi dibanding jumlah inovasi.

Ketiga, distribusi atau penyebaran inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan yakni DP 3 Kecamatan Babat merupakan daerah inovatif, DP 1 Kecamatan Brondong dan DP 4 Kecamatan Lamongan merupakan daerah konservatif, sedangkan DP 2 Kecamatan Glagah dan DP 5 Kecamatan Sukorame merupakan daerah inovatif dan konservatif. Penyebarannya dimulai pada daerah pusat yakni DP 3

(9)

yang merupakan daerah inovatif. Penyebaran tersebut cenderung ke arah barat daya dan timur.

Keempat, penutur bahasa Jawa di Lamongan cenderung mempertahankan bahasa Jawa. Hal tersebut karena jumlah relik lebih banyak dibandingkan jumlah inovasi.

Saran

Hasil penelitian inovasi dan relik pada bahasa Jawa subdialek Lamongan ini menunjukkan bahwa penutur Lamongan masih mempertahankan isoleknya. Akan tetapi, perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jumlah glos yang lebih banyak untuk menunjukkan bahwa penutur Lamongan benar-benar masih mempertahankan isoleknya. Hal tersebut karena kosakata budaya akan lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa lain seiring berkembangnya zaman yang semakin modern dan adanya alkulturasi budaya.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bentuk inovasi yang tertinggi sehingga dapat dikatakan bahwa peran bahasa Indonesia dalam perkembangan bahasa Jawa sangat dominan. Akan tetapi, meskipun bahasa Indonesia memiliki prestise yang lebih tinggi penutur bahasa Jawa harus tetap mempertahankan bahasanya agar tidak hilang ditelan oleh arus. Oleh karena itu, pelajaran bahasa Jawa tidak boleh dihapuskan dari mata pelajaran di sekolah.

Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian dialektologi, terutama dalam hal akomodasi dialek.

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1983. Dialek tologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Chamber, J.K. and Peter Trudgil. 1980. Dialectology.

Australia : Cambridge University Press.

Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia

Laksono, Kisyani dan Agusniar Dian Savitri. 2009.

Dialek tologi. Surabaya: Unesa Press.

Mahsun. 1995. Dialek tologi Diak ronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gajah Mada University

Press.

Nadra dan Reniwati. 2009. Dialek tologi: Teori dan

Metode. Yogyakarta: Elmatera Publishing.

Patriantoro, dkk. 2012. “Dialektologi Bahasa Melayu di Pesisir Kabupaten Bengkayang”. Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 24, No. 1, Juni 2012, Hal :101-112

Patriantoro. 2012. “Dialektologi Bahasa Melayu di Pesisir Kabupaten Pontianak”. Pontianak: Universitas Tanjungpura Pontianak.

Rozelin, Diana. 2013. “Isolek Melayu Jambi Seberang di Daerah Aliran Sungai (Das) Batanghari Jambi”. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jurnal Widyaparwa.

Savitri, Agusniar Dian. 2015. Variasi Fonologis. Bahasa

Madura di Seluruh Jawa Timur. Disertasi Tidak

Diterbitkan. Depok : Universitas Indonesia. Sudarmanto. 2011. Kamus Lengk ap Bahasa Jawa (Jawa

– Indonesia, Indonesia - Jawa). Semarang : Widya

Karya.

Sudaryanto. 2001. Metode dan Anek a tek nik Analisis

Bahasa,Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan

Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta wacana University Press.

Wurm, S.A. and S. Wilson. 1978. English Finderlist Of

Recontructions In Austronesian Languag es (Post-Brandstetter). Australia : The Australian National

University.

Zoetmulder, P.J. 2006. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut IHCM (1995) terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk menghitung nilai waktu yaitu berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) dan berdasarkan tingkat

Berdasarkan ciri ragam (variasi) pemakaian kata sapaan (tutur sapa) dalam BMB terdapat dua ciri, yakni (1) ciri keformalan (formal) yang mengarah pada

Menurut IHCM (1995) terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk menghitung nilai waktu yaitu berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) dan berdasarkan tingkat

Laboratorium Inovasi merupakan inovasi pada tataran kolektif dan organisasional, tercatat sampai dengan tahun 2016 ini terdapat 12 daerah kabupaten dan Kota yang telah

Penelitian ini bertujuan mendeskrispsikan inovasi internal dan inovasi eksternal yang terjadi dalam bahasa Sunda di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah..

Selanjutnya dikemukakan terdapat dua hal dari definisi tersebut yaitu inovasi produk dan inovasi proses yang merupakan suatu perubahan yang terkait dengan upaya

Masih berkaitan dengan unsur sumber daya manusia, selain faktor perilaku komunikasi di atas, juga terdapat faktor kepemimpinan yang berperan penting dalam proses difusi

Berikut link Youtube tentang Recount Text: https://youtu.be/aNy0a_OM3JQ ➢ Peserta didik secara berkelompok menjelaskan definisi, tujuan, struktur teks, ciri-ciri unsur kebahasaan