• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS TEKNO EKONOMI SKALA LABORATORIUM

Analisis tekno ekonomi skala laboratorium dilakukan untuk mencari rancangan percobaan yang paling efisien. Pengertian efisiensi berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumberdaya dan dana yang serendah-rendahnya (spending well). Dalam penelitian ini, akan dihasilkan proses pembuatan bioetanol yang paling efisien dilihat dari total waktu, besarnya biaya yang dikeluarkan serta rendemen yang dihasilkan dari masing-masing rancangan percobaan yang dilakukan. Keempat rancangan percobaan yang dilakukan antara lain:

Rancangan pertama (R1) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis. Rancangan kedua (R2) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Saccharomyces cerevisiae – Pichia stipitis. Rancangan ketiga (R3) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara biologis menggunakan bantuan white rot fungi jenis Phanerochaete chrysosporium serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis. Rancangan keempat (R4) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara biologis menggunakan bantuan white rot fungi jenis Phanerochaete chrysosporium serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Saccharomyces cerevisiae – Pichia stipitis.

1. Efisiensi waktu

Kegiatan yang berlangsung selama proses produksi bioetanol untuk masing-masing rancangan terdapat perbedaan. Kegiatan yang dilakukan pada rancangan pertama (R1) dan rancangan kedua (R2) antara lain persiapan starter, penghancuran limbah tanaman jagung, delignifikasi pemasakan, delignifikasi pencucian, hidrotermolisis I, hidrotermolisis II, pre-hidrolisis, sakarifikasi dan fermentasi simultan (SSF), evaporasi serta destilasi. Total waktu yang digunakan untuk rancangan pertama (R1) adalah 102,76 jam atau 102 jam 45 menit 36 detik, sedangkan total waktu yang digunakan untuk rancangan kedua (R2) adalah 78,74 jam atau 78 jam 44 menit 24 detik.

Kegiatan yang dilakukan pada rancangan ketiga (R3) dan keempat (R4) antara lain persiapan jamur, persiapan starter, penghancuran limbah tanaman jagung, delignifikasi pemasakan, delignifikasi sterilisasi, delignifikasi inkubasi, hidrotermolisis I, hidrotermolisis II, pre-hidrolisis, sakarifikasi dan fermentasi simultan (SSF), evaporasi serta destilasi. Total waktu yang digunakan untuk rancangan ketiga (R3) adalah 270,09 jam atau 270 jam 54 menit, sedangkan total waktu yang digunakan untuk rancangan keempat (R4) adalah 246,05 jam atau 246 jam 30 menit. Secara rinci perhitungan alokasi waktu untuk masing-masing rancangan percobaan disajikan pada Lampiran 2.

(2)

Hasil dari keempat rancangan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa total waktu yang paling kecil adalah pada rancangan kedua (R2) dengan nilai 78,74 jam atau 78 jam 44 menit 24 detik Hasil dari keempat rancangan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa total waktu yang paling kecil adalah pada rancangan kedua (R2) dengan nilai 78,74 jam atau 78 jam 44 menit 24 detik. Rancangan percobaan pertama (R1) dan kedua (R2) merupakan rancangan jalur kimiawi menggunakan kalsium hidroksida dilanjutkan dengan sakarifikasi dan fermentasi simultan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis, Saccharomyces cerevisiae, Pichia stipitis, sedangkan rancangan percobaan ketiga (R3) dan keempat (R4) merupakan jalur biologis. Dibandingkan dengan jalur kimiawi, jalur biologis rata-rata memerlukan waktu yang relatif lebih lama dengan jalur kimiawi, pada jalur biologis, lama waktu yang dibutuhkan mencapai nilai 270,09 jam. Melihat dari kegiatan yang dilakukan pada rancangan ketiga (R3) dan rancangan keempat (R4), terdapat tambahan kegiatan yaitu persiapan starter untuk pertumbuhan kapang pelapuk putihnya, sehingga akumulasi waktu yang diperlukan lebih besar dibandingkan dengan akumulasi waktu rancangan pertama (R1) dan rancangan kedua (R2).

Dalam perlakuan awal secara biologis, jamur pelapuk putih yang dianggap paling efektif. Meskipun demikian, secara umum perlakuan awal jenis ini hanya mengurangi sedikit lignin (Taherzadeh dan Karimi 2008), serta memerlukan waktu yang lama (Knauf dan Moniruzzaman 2004). Teknik perlakuan awal yang telah dikembangkan lebih banyak dilakukan secara mekanik atau fisiko-kimia. Perlakuan awal secara biologi sedikit sekali digunakan, sehingga rancangan kedua (R2) atau jalur kimiawi dan menggunakan mikroba Saccharomyces cerevisiae – Pichia stipitis memenuhi kondisi syarat efisiensi waktu.

2. Efisiensi biaya

Analisis efisiensi berikutnya adalah efisiensi biaya. Analisis biaya dilakukan akan dicari penggunaan biaya yang paling kecil dan akan dicari rancangan yang menghasilkan keuntungan kotor paling besar. Perhitungan efisiensi biaya adalah menghitung berapa biaya per unit produk dalam skala laboratorium tanpa memperhitungkan biaya peralatan yang digunakan, jadi hanya biaya bahan baku dan bahan penunjang yang akan dihitung. Dalam perhitungan, biaya bahan baku yaitu limbah tanaman jagung, diasumsikan tidak mengeluarkan biaya. Semua rancangan percobaan menggunakan bahan baku limbah tanaman jagung sebanyak 0,659 kilogram yang akan menghasilkan produk bioetanol dengan jumlah yang berbeda-beda untuk masing-masing rancangan percobaan.

Rancangan pertama (R1) produksi bioetanol skala laboratorium menghasilkan bioetanol sebanyak 0,1013 liter. Asumsi harga jual bioetanol per liter adalah Rp. 15.000,00 maka penerimaan yang didapat pada rancangan pertama (R1) adalah Rp. 1.518,95. Total biaya yang digunakan adalah Rp. 175,58 dan keuntungan yang diperoleh dari rancangan pertama (R1) adalah sebesar Rp. 1.343,37.

Rancangan kedua (R2) produksi bioetanol skala laboratorium menghasilkan bioetanol sebanyak 0,0768 liter. Asumsi harga jual bioetanol per liter adalah Rp. 15.000,00 maka penerimaan yang didapat pada rancangan pertama (R1) adalah Rp. 1.151,51. Total biaya yang digunakan adalah Rp. 176,09 dan keuntungan yang diperoleh dari rancangan kedua (R2) adalah sebesar Rp. 975,42.

Rancangan ketiga (R3) produksi bioetanol skala laboratorium menghasilkan bioetanol sebanyak 0,1117 liter. Asumsi harga jual bioetanol per liter adalah Rp. 15.000,00 maka penerimaan yang didapat pada rancangan pertama (R1) adalah Rp. 1.675,40. Total

(3)

biaya yang digunakan adalah Rp. 22.897,72 dan keuntungan yang diperoleh dari rancangan ketiga (R3) adalah sebesar -Rp. 21.222,32 atau mengalami kerugian sebesar Rp. 21.222,32.

Rancangan keempat (R4) produksi bioetanol skala laboratorium menghasilkan bioetanol sebanyak 0,0848 liter. Asumsi harga jual bioetanol per liter adalah Rp. 15.000,00 maka penerimaan yang didapat pada rancangan pertama (R1) adalah Rp. 1.271,44. Total biaya yang digunakan adalah Rp. 22.896,66 dan keuntungan yang diperoleh dari rancangan ketiga (R3) adalah sebesar -Rp. 21.625,21 atau mengalami kerugian sebesar. Rp. 21.625,21. Rincian laba kotor semua rancangan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Laba kotor masing-masing rancangan produksi

Rancangan Total penerimaan (Rp) Total pengeluaran (Rp) Laba kotor (Rp)

R1 1.518,95 175,58 1.343,37

R2 1.151,51 176,09 975,42

R3 1.675,40 22.897,72 (21.222,32)

R4 1.271,44 22.896,66 (21.625,21)

Dari keempat rancangan percobaan yang dilakukan, total penggunaan biaya yang paling sedikit adalah pada rancangan percobaan pertama (R1) yaitu proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis, sehingga rancangan pertama (R1) merupakan rancangan yang paling efisien dari sisi biaya dengan total biaya Rp. 175,58 dan laba kotor sebesar Rp. 1.343,37. Perhitungan lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 7.

3. Efisiensi rendemen

Rendemen merupakan perbandingan output dengan input yang digunakan. Rendemen disebut juga dengan faktor konversi, dimana seberapa banyak input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tertentu. Output yang dihasilkan pada penelitian ini berupa bioetanol, dan input yang digunakan adalah limbah tanaman jagung berupa batang, tongkol, kelobot dan daun jagung. Perhitungan nilai rendemen efisiensi rendemen disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Perhitungan nilai rendemen masing-masing rancangan percobaan Rancangan Input (kg) Output (liter) Rendemen (liter/kg)

R1 0,659 0,1013 0,12

R2 0,659 0,0768 0,09

R3 0,659 0,1117 0,14

R4 0,659 0,0848 0,10

Masing-masing rancangan percobaan akan menggunakan bahan baku limbah tanaman jagung sebanyak 0,659 kilogram dan akan menghasilkan bioetanol dalam jumlah yang berbeda-beda. Pada rancangan percobaan pertama (R1) bioetanol yang dihasilkan sebanyak 0,101 liter. Rancangan percobaan kedua (R2) bioetanol yang dihasilkan sebanyak 0,076 liter, rancangan percobaan ketiga (R3) bioetanol yang dihasilkan sebanyak 0,112 liter dan pada rancangan keempat (R4) bioetanol yang dihasilkan sebanyak 0,085 liter.

Rendemen yang dihasilkan dari rancangan pertama (R1) adalah 0,12. Pada rancangan kedua (R2) rendemennya adalah 0,09. Pada rancangan ketiga (R3) rendemennya

(4)

adalah 0,14. Pada rancangan keempat (R4) rendemennya adalah 0,10. Penggunaan bahan baku yang efisien adalah penggunaan bahan baku paling sedikit, namun menghasilkan output yang maksimum dan mendekati nilai 1 untuk rendemennya. Berdasarkan perhitungan dari keempat rancangan percobaan, efisiensi rendemen didapat pada rancangan ketiga (R3) dengan nilai 0,14 yaitu proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara biologis menggunakan bantuan white rot fungi jenis Phanerochaete chrysosporium serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis. Neraca massa untuk efisiensi rendemen dapat dilihat pada Lampiran 8.

4. Penentuan rancangan terbaik

Penentuan rancangan terbaik dari keempat rancangan percobaan yang telah ditentukan menggunakan metode bayes. Parameter yang dijadikan penilaian adalah waktu, biaya serta rendemen. Ketiga parameter ini dipilih sebagai pemenuhan kondisi untuk analisis berikutnya yaitu analisis finansial. Ketiga parameter tersebut memiliki nilai kepentingan yang berbeda. Parameter yang digunakan dalam penilaian menggunakan metode bayes ini merupakan salah satu ruang lingkup dalam penelitian yang dilakukan, dimana ketiga efisiensi tersebut akan dijadikan syarat untuk dilakukan analisis finansial pada tahapan berikutnya.

Nilai kepentingan yang digunakan adalah dalam nilai antara 1 sampai dengan 7, dimana nilai 1 merupakan nilai yang sangat sangat baik dan nilai 7 merupakan nilai yang sangat tidak baik. Penentuan rancangan terbaik berdasarkan perhitungan menggunakan metode bayes adalah mencari total nilai yang paling mendekati nilai 1 karena nilai 1 merupakan nilai yang sangat sangat baik. Berdasarkan perhitungan pada Tabel 7, diketahui bahwa rancangan terbaik dari seluruh alternatif rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan pertama (R1), yaitu proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis.

Tabel 7. Penentuan rancangan terbaik dengan metode bayes Alternatif Kriteria Nilai Alternatif Keputusan Rangking Alternatif Keputusan Waktu Biaya Rendemen

R1 4 3 4 3,75 1 R2 3 5 5 4,17 3 R3 5 4 3 4,08 2 R4 5 5 5 5,00 4 Bobot 0,42 0,25 0,33 Keterangan:

N = Nilai Kepentingan (1 sampai 7) dimana:

1 = sangat baik 5 = cukup tidak baik

2 = baik 6 = tidak baik

3 = cukup baik 7 = sangat tidak baik 4 = cukup

(5)

Total Nilaii = Nilai Krit dimana:

Total Nilaii = total nilai akhir dari alternatif ke-i

Nilaiij = nilai dari alternatif ke-i pada kriteria ke-j

Kritj = tingkat kepentingan (bobot) kriteria ke-j

i = 1,2,3,...,n; n = jumlah alternatif j = 1,2,3,...,m; m = jumlah kriteria

B. ANALISIS PASAR DAN PEMASARAN

1. Potensi Pasar

Bioetanol banyak digunakan sebagai bahan baku industri alkohol, campuran untuk minuman keras, bahan farmasi, dan kosmetika. Namun peluang yang paling besar adalah bioetanol sebagai bahan bakar substitusi pengganti bahan bakar minyak bumi atau yang selama ini dikenal dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). Peluang potensi pasar Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam hal ini bioetanol, tidak akan lama lagi akan semakin meningkat seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi. Hal ini sesuai karena hampir tiap tahun industri otomotif akan meningkatkan penjualan produknya yang akan diiringi dengan konsumsi bahan bakar yang meningkat. Tabel 8 menyajikan mengenai kebutuhan premium dan produksi bioetanol di Indonesia yang digunakan untuk kendaraan bermotor.

Tabel 8. Volume kebutuhan BBM dan produksi bioetanol di Indonesia Uraian Kebutuhan Premium

(kiloliter)1 Produksi Bioetanol (kiloliter)2 2005 16.050.000 167.984.000 2006 17.170.000 169.752.000 2007 18.370.000 174.328.000 2008 19.660.000 - 2009 21.036.000 - 2010 21.500.000 -

Sumber: 1. Saptati et al. (2007), 2. BPS (2010)

Berdasarkan Tabel 8, konsumsi BBM di Indonesia meningkat rata-rata 7% setiap tahunnya, sedangkan produksi bioetanol nasional hanya meningkat 2,4% setiap tahunnya. Pemerintah mulai memikirkan rencana kedepan apabila nanti suatu saat akan terjadi kelangkaan bahan bakar tersebut. Maka pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan mengenai keberlangsungan konsumsi bahan bakar di Indonesia. Kebijakan tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2006 serta Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Seperti diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2006 dalam kurun waktu 2007-2010, pemerintah menargetkan mengganti 1,48 miliar liter bensin dengan bioetanol. Persentase itu akan meningkat menjadi 10% pada tahun 2011-2015, dan 15% pada 2016-2025. Pada kurun waktu pertama 2007-2011 selama 4 tahun pemerintah memerlukan rata-rata 370.000.000 liter bioetanol per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, pada tahun 2007 seperti yang dapat dilihat pada Tabel 8, pemerintah baru mampu

(6)

memasok sekitar 174.328.000 liter atau baru sekitar 47% saja. Itu berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 195.672.000 liter bioetanol untuk bahan bakar.

Bioetanol tidak hanya digunakan untuk konsumsi bahan bakar, namun juga digunakan pada beberapa industri seperti kosmetik, cat, farmasi, minuman berkarbonasi, parfum, rokok serta bumbu masak. Oleh karena itu, permintaan etanol akan terus berlangsung kontinyu dan cenderung meningkat. Meningkatnya kebutuhan bahan bakar premium akan membuka peluang besar bagi perusahaan bioetanol seperti yang disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Pabrik etanol di Indonesia, kapasitas dan lokasi pada tahun 2006 Nama Perusahaan Kapasitas Produksi Lokasi Molindo Raya Industrial (MRI)

Indo Lampung Destilery (ILD) Indo Acidatama

Aneka Kimia Raya* PTPN XI

Madu Baru PSA Palimanan Permata Sakti Basis Indah Japura Sarana Jaya Molasindo 50 juta l/th 50 juta l/th 45 juta l/th 17 juta l/th 7 juta l/th 7 juta l/th 7 juta l/th 5 juta l/th 5 juta l/th 3,6 juta l/th 3,6 juta l/th

Lawang, Jawa Timur Lampung

Solo, Jawa Tengah Mojokerto, Jawa Timur Jatiroto, Jawa Timur Yogyakarta, DIY Cirebon, Jawa Barat Medan, Sumatra Utara Makasar, Sulawesi Selatan Cirebon, Jawa Barat Medan, Sumatra Utara

*Sudah tidak berproduksi Sumber: Murdiyatmo (2006)

Dari semua bioetanol yang dihasilkan oleh industri-industri tersebut, tidak semuanya digunakan untuk konsumsi dalam negeri, mereka juga memenuhi permintaan bioetanol dari luar negeri. Selama ini pembuatan bioetanol menggunakan bahan baku dari bahan berpati dan berselulosa seperti singkong dan molasses. Molasses merupakan limbah hasil pengolahan industri gula. Padahal limbah tersebut juga dibutuhkan industri lain seperti pabrik kecap dan penyedap rasa, sehingga, ketika limbah ini juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, maka semakin banyak permintaan molasses dan akan berdampak pada harga bahan baku yang perlahan membumbung tinggi, sehingga margin produsen bioetanol menyusut. Beberapa lama kemudian mulai digunakan singkong sebagai bahan alternatif. Namun penggunaan bahan baku ini bukan tanpa masalah mengingat singkong merupakan bahan pangan. Semakin maraknya penggunaan singkong mulai mengalihfungsikan singkong dari bahan pangan menjadi bahan baku industri. Hal ini menimbulkan reaksi dengan munculnya gerakan ketahanan pangan.

2. Analisis Pemasaran

a. Segmentasi

Analisis pasar dilakukan sebagai proses pada tahap awal untuk mengetahui apakah potensi produk atau jasa yang akan dihasilkan. Analisis pasar yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu penentuan segmen pasar yang berpotensi, penentuan target pasar disesuaikan dengan segmen pasar yang telah ditentukan sebelumnya kemudian

(7)

penentuan posisi produk di kalangan konsumen atau pelanggan yang dapat ditelusuri dari alat strategi pemasaran yang dikenal dengan bauran pemasaran. Hasil analisis pasar akan menentukan dalam melakukan tahap selanjutnya yaitu proses pemasaran. Strategi pemasaran yang direncanakan harus benar-benar tepat sasaran.

Segmentasi menurut Amir (2005) adalah proses mengidentifikasi kelompok-kelompok pembeli yang mungkin membutuhkan produk dan bauran pemasaran tertentu, sekaligus memiliki kemampuan membelinya. Bioetanol memiliki potensi pasar yang cukup baik disebabkan belum optimalnya pemenuhan permintaan yang ada saat ini dan potensi pasar mengarah pada pembagian segmen yaitu fokus pada segmentasi perilaku dan geografis. Segmentasi perilaku yaitu pasar bioetanol terbagi menjadi beberapa kelompok didasarkan pada pemakaian produk bioetanol dalam arti luas. Sementara segmentasi geografis yang dimaksud yaitu pasar bioetanol disesuaikan dengan potensi suatu wilayah atau negara yang memanfaatkan energi berlebih dalam menggerakkan sistem perekonomian sehingga pembagian pasarnya dapat merata ke seluruh wilayah yang cenderung memanfaatkan bioetanol dalam skala yang lebih besar.

Segmentasi pasar produk bioetanol berdasarkan aspek perilaku adalah industri besar dan industri menengah. Beberapa sasaran pasar industri besar yang akan dituju antara lain industri rumah sakit, industri parfum dan kosmetik. Beberapa industri menengah yang akan dituju antara lain sektor industri Bahan Bakar Nabati (BBN), industri laboratorium dan industri rumahan. Industri menengah ini menggunakan bioetanol sebagai bahan pembantu dalam proses produksinya.

Segmentasi pasar produk bioetanol berdasarkan aspek geografis adalah Provinsi Jawa Barat khususnya daerah Jabodetabek serta Pulau Jawa. Segmen pasar yang dituju produk ini adalah segmen industri bahan bakar yang berada di kota berkembang seperti di Jabodetabek. Pemilihan segmen ini didasarkan pada jarak daerah pemasaran dari pabrik, kemudahan media promosi dan penditribusian.

b. Targetting

Targetting adalah penentuan sasaran pasar yang akan dimasuki. Penetapan target pasar mencakup evaluasi segmen dan seleksi. Informasi yang dibutuhkan dalam mengevaluasi segmen pasar menurut Amir (2005) antara lain ukuran segmen dan pertumbuhannya, struktur segmen dan daya tariknya, sasaran dan sumberdaya perusahaan.

Target pasar yang dituju lebih mengarah pada industri menengah pada sektor industri Bahan Bakar Nabati (BBN) skala nasional. Pemilihan industri menengah ini disebabkan hasil produksi yang ingin dicapai setiap harinya dalam skala sedang dan mampu memenuhi permintaan yang masih belum terpenuhi akibat kurangnya produksi yang ada. Selain itu perkembangan tentang peluang pendirian industri bioetanol telah didukung oleh pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah peraturan untuk mendukung kebijakan pengembangan biofuel diantaranya Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional kemudian Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006 tentang Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati.

(8)

c. Positioning

Penentuan posisi (positioning) adalah bagaimana sebuah produk dapat dirumuskan secara berbeda oleh konsumen atas atribut-atribut yang dianggapnya penting, relatif dibandingkan dengan produk pesaing (Amir 2005). Positioning dilakukan untuk menempatkan suatu produk dalam benak konsumen.

Penentuan posisi produk bioetanol yaitu sebagai pelopor produk bioetanol dengan kualitas terbaik, ramah lingkungan, mudah diperbaharui, distribusi lebih mudah dan cepat, dan mampu memenuhi permintaan khususnya dalam negeri. Penentuan posisi lebih difokuskan pada atribut yang dimiliki oleh produk bioetanol tersebut.

3. Strategi Bauran Pemasaran

a. Strategi produk

Produk yaitu karakteristik dari produk yang ditawarkan kepada pasar sasarannya (keanekaragaman produk, kualitas, desain, bentuk, merek, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan, pengembalian). Produk merupakan barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran. Strategi produk adalah suatu strategi yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan yang berkaitan dengan produk yang dipasarkannya. Strategi produk dilakukan agat perusahaan selalu menjaga mutu produk yang dihasilkan, sehingga mampu bersaing dengan produk lain yang sejenis.

Strategi yang dilakukan pada produk yang ditawarkan kualitas (mutu), desain kemasan dan keunggulan produk. Untuk menjangkau pasar yang luas perlu diperhatikan kualitas yang diberikan oleh produk bioetanol yang dipasarkan. Kemasan dan label yang terjamin dari kerusakan dan kebocoran dari pabrik akan mendorong konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.

Keunggulan produk bioetanol ini terletak pada keterjaminan kualitas, distribusi lebih mudah, dan penyediaannya dilakukan untuk dua skala industri. Hal ini dapat memberi keuntungan pada pelanggan, sehingga pelanggan percaya dan yakin sehingga loyal terhadap produk yang kami tawarkan.

Keunggulan produk bioetanol dari limbah tanaman jagung dibandingkan dengan bahan baku yang lain antara lain:

a. Bahan baku murah karena merupakan biomassa yang sudah dipakai lagi.

b. Penanganan bahan baku mudah, sehingga tidak diperlukan penangananan khusus yang memerlukan biaya tambahan.

b. Strategi harga

Strategi harga merupakan strategi yang cukup penting dan cukup sensitif di kalangan konsumen, apalagi bila produk ini akan digunakan sebagai bahan bakar yang akan digunakan sehari-hari.

Tujuan penetapan harga adalah pengingkatan pangsa pasar, sementara tujuan lain adalah untuk mencapai balik modal. Tujuan penetapan harga berbeda-beda menurut faktor-faktor situasi yang ada dan preferensi manajemen. Harga yang ditetapkan oleh industri ini masih mengikuti harga bioetanol/etanol yang ada dipasaran.

(9)

Produk bioetanol yang ada dipasaran merupakan bioetanol yang berasal dari bahan bergula dan berselulosa yang lebih sedikit dalam rantai produksinya, sehingga modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Berbeda dengan bioetanol dari limbah tanaman jagung atau dari bahan berlignoselulosa yang membutuhkan rantai produksi yang lebih panjang karena harus melalui tahap pretreatment atau perlakuan awal. Strategi harga sama dengan harga pasaran dimaksudkan untuk meminimalisir kerugian akibat besarnya modal yang diperlukan. Namun berdasarkan perhitungan arus kas yang ada, hampir tidak terdapat keuntungan yang diperoleh akibat besarnya pengeluaran yang dibutuhkan.

c. Strategi promosi

Promosi yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasarannya (promosi penjualan, iklan, usaha penjualan, hubungan masyarakat, pemasaran langsung).

Kegiatan promosi bioetanol limbah tanaman jagung dilakukan secara terus menerus untuk mengingatkan dan meyakinkan pembeli bahwa produk yang dijual dapat memberikan kepuasan dan memenuhi kebutuhan bagi konsumennya. Tujuan promosi direncanakan dalam bauran pemasaran adalah untuk mancapai berbagai tujuan komunikasi dengan setiap konsumen.

Tujuan promosi bioetanol limbah tanaman jagung antara lain adalah untuk: a. Membantu memperkenalkan produk bioetanol limbah tanaman jagung yang

berbahan baku ramah lingkungan dan murah serta mudah diperbaharui.

b. Mengingatkan kepada konsumen mengenai manfaat dan peranaan produk di pasar. c. Membantu industri dalam meningkatkan pangsa pasar produk bioetanol.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, dilakukan beberapa kebijakan promosi, yaitu dengan periklanan dan publikasi, promosi penjualan, dan kerjasama dengan industri bahan bakar pemerintahan.

d. Strategi tempat

Tempat yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran. Untuk melaksanakan fungsi distribusi diperlukan sumberdaya manusia dan dana yang substansial, sarana fisik distribusi, pengetahuan tentang produk, daerah pemasaran, persaingan pasar, dan pembeli di masing-masing daerah pemasaran. Untuk memenuhi jangkauan distribusi kepada konsumen, maka sistem distribusi yang dilakukan adalah produk dikirimkan langsung kepada konsumen, agar menjaga keterjaminan produk sampai langsung kepada konsumen.

(10)

C. ANALISIS TEKNIK DAN TEKNOLOGI

1. Aspek Bahan Baku

Penelitian mengenai penggunaan bahan baku alternatif untuk produksi bioetanol terus dilakukan hingga akhirnya didapatkan bahan baku pembuatan bioetanol dari bahan berlignoselulosa/biomassa. Beberapa contoh bahan yang mengandung lignoselulosa antara lain jerami padi, batang pisang serta limbah tanaman jagung, sehingga sekarang mulai diusahakan pembuatan bioetanol berbahan lignoselulosa menggunakan limbah tanaman jagung, dengan keunggulan diantaranya murah karena merupakan limbah dari budidaya jagung, kemudian keberlanjutan bahan baku terjamin karena jagung merupakan bahan pangan yang permintaan pasarnya selalu ada dan dapat dipastikan jika ada jagung maka akan terdapat pula limbah tanaman jagung.

Menurut data BPS, pada tahun 2008 luas areal pertanaman jagung di Indonesia rata-rata 4 juta hektar dengan peningkatan sebesar 0,49% per tahun. Tabel perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi jagung di Indonesia tahun 2005 sampai dengan 2009 disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Luas panen, produksi, dan produktivitas tanaman jagung tahun 2005-2009 Keterangan Luas Panen

(Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2005 3.625.987 12.523.894 3,453926889 2006 3.345.805 11.609.463 3,469856432 2007 3.630.324 13.287.527 3,660149067 2008 4.001.724 16.317.252 4,077555574 2009 4.096.838 17.041.215 4,159601869 Rata-rata 3.740.136 14.155.870 3,784854806 Sumber: BPS (2010)

Terkait dengan lokasi industri yang akan didirikan, ketersediaan bahan baku juga harus dapat diadakan pada lokasi industri. Apabila bahan baku pada lokasi industri mencukupi, maka dapat mengurangi beban biaya transportasi dalam mengangkut bahan baku yang memiliki sifat kamba ini. Lokasi industri yang akan didirikan adalah di Kabupaten Bogor Jawa Barat. Data BPS tahun 2008 menunjukkan luas panen, produksi dan produktivitas komoditi jagung di Kabupaten Bogor dan beberapa wilayah di sekitarnya sebagaimana ditampilkan pada Tabel 11.

Tabel 11. Luas panen, produksi, dan produktivitas tanaman jagung di Kabupaten Bogor Jawa Barat

Kabupaten Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) Bogor 1.145 3.922 34,25 Sukabumi 7.497 30.253 40,35 Cianjur 6.488 26.226 40,42 Bandung 10.773 30.479 51,69 Bekasi 23 50 21,74 Sumber: BPS (2010)

(11)

Indonesia memiliki sumber lignoselulosa yang berpotensi untuk dimanfaatkan salah satu diantaranya yaitu limbah tanaman jagung (LTJ). Teknologi yang mengkonversi biomassa menjadi bioetanol merupakan teknologi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena dapat memanfaatkan bahan limbah sebagai bahan baku. Ketersediaannya berkorelasi dengan budidaya tanaman jagung. Berdasarkan data lapangan, bobot LTJ dari satu tanaman jagung adalah 73,83 gram. Menurut Wirawan et al. (2000), populasi tanaman jagung optimal berkisar antara 62.500 – 100.000 tanaman/ha. Data BPS pada Kabupaten Bogor menyatakan bahwa luas lahan tanaman jagung adalah 1.145 hektar, dengan konversi 430 miligram glukosa per gram biomassa (Kaar dan Holtzapple 2000) dan 0,51 gram bioetanol per gram glukosa (Demirbas 2005), kemudian berat jenis etanol 0,789 gram per sentimeter kubik, maka potensi bioetanol yang dapat diproduksi dengan lahan seluas ini adalah berkisar 1.469 kiloliter sampai dengan 2.350 kiloliter bioetanol per panen atau sama dengan 4.406 kiloliter sampai 7.049 kiloliter bioetanol per tahunnya, sedangkan target produksi dari industri bioetanol ini hanya sebesar 216 kiloliter tiap tahunnya. Berdasarkan perhitungan ketersediaan bahan baku, maka pendirian industri bioetanol limbah tanaman jagung memiliki pasokan bahan baku yang memenuhi. Perhitungan secara lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1.

2. Aspek Lokasi

Terdapat beberapa prinsip dasar dalam penentuan lokasi industri, yaitu peraturan dan kebijakan, pembobotan relatif, interaksi antar berbagai faktor (input dan pasar), dan pertimbangan umum lokasi lainnya. Lokasi penting bagi industri, karena akan mempengaruhi kedudukan industri dalam persaingan dan menentukan kelangsungan hidup industri. Banyak faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi industri, dan lokasi tersebut harus memiliki keuntungan jangka panjang termasuk pertimbangan akan kemungkinan untuk memperbesar atau memperluas industri pada masa yang akan datang. Tujuan penentuan lokasi suatu industri dengan tepat adalah untuk dapat membantu industri beroperasi dan berproduksi dengan lancar, efektif dan efisien.

Penentuan lokasi industri yang tepat akan menentukan: a. Kemampuan melayani konsumen dengan memuaskan.

b. Mendapatkan bahan baku yang cukup dan kontinyu dengan harga yang layak. c. Mendapatkan tenaga kerja yang cukup.

d. Memungkinkan adanya perluasan lahan industri jika akan meningkatkan kapasitas produksi.

Untuk memungkinkan dapat dilakukannya penentuan lokasi suatu industri dengan tepat, maka perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya. Sebenarnya faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menentukan lokasi suatu industri banyak sekali. Menurut Assauri (1980), faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

a. Faktor utama/primer (primary factors). b. Faktor sekunder (secondary factors).

Faktor utama (primary factors) adalah faktor-faktor yang langsung mempengaruhi tujuan utama industri. Adapun faktor-faktor yang termasuk dalam faktor utama adalah letak dari pasar; letak dari sumber-sumber bahan baku; terdapatnya fasilitas pengangkutan; supply

(12)

dari buruh atau tenaga kerja yang tersedia, sedangkan yang termasuk dalam faktor sekunder (secondary factors) menurut Assauri (1980), antara lain rencana masa depan; biaya dari tanah dan gedung, terutama dalam hubungannya dengan masa depan; kemungkinan perluasan; terdapatnya fasilitas service; terdapatnya fasilitas pembelanjaan; persediaan air; tinggi rendahnya pajak dan Undang Undang Perburuhan; masyarakat daerah itu (sikap, besar, dan keamanan); iklim; tanah; perumahan yang ada dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Berdasarkan target pasar yang akan dituju, maka pendekatan pemilihan lokasi adalah pendekatan faktor utama/primer dengan pilihan dekat dengan pasar yang akan dituju. Suatu industri didirikan karena adanya permintaan akan barang yang dihasilkan atau karena diharapkan dapat menciptakan permintaan (demand) akan barang yang dihasilkan. Pasar yang akan dituju adalah pasar industri menengah yang bergerak di bidang Bahan Bakar Nabati (BBN), yang berlokasi dekat dengan pusat kota atau pusat pemerintahan, sehingga lokasi yang dipilih adalah daerah Jawa Barat, tepatnya di Bogor. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pemikiran antara lain, dekat dengan pasar yang akan dituju, yaitu kota-kota besar di Jawa Barat terutama ibu kota negara yaitu Jakarta. Selain itu, pemilihan lokasi ini dengan pertimbangan ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan sumberdaya air dan listrik, ketersediaan lahan yang cukup serta transportasi yang tidak terlalu jauh dengan pasar. Keunggulan lain adalah bahwa pasokan bahan baku pada lokasi ini mampu memenuhi target produksi yang akan didirikan.

Alasan utama industri mendirikan dekat dengan daerah pemasaran hasil produksi supaya dapat cepat melayani konsumen atau barang hasil produksinya dapat cepat sampai di pasar. Jadi bila letak industri dekat dengan daerah pasar hasil produksinya maka pelayanan kepada konsumen akan menjadi lebih cepat (Assauri 1980).

Ketersediaan tenaga kerja di daerah ini masih tersedia dalam jumlah besar sekaligus sedikit murah karena lokasi tidak berada di pusat perkotaan. Industri bioetanol dari limbah tanaman jagung akan menyerap tenaga kerja di lokasi yang dekat dengan industri, sehingga angka pengangguran dan kriminalitas bisa berkurang karena aktifitas kerja di industri bioetanol tersebut.

Ketersediaan sumberdaya air di lokasi ini masih baik. Kualitas air tanah juga masih bagus dan tidak tercemar karena daerah lokasi pendirian industri bukan merupakan pusat keramaian dan terjaga kealamiannya, sehingga kebutuhan air bersih dapat terpenuhi dengan baik. Tenaga listrik PLN juga sudah tersalurkan dengan baik di lokasi ini.

Kedekatan lokasi industri dengan pasar relatif tidak jauh. Jarak dengan pusat kota adalah sekitar 88 km dengan kondisi jalur yang baik. Kedekatan dengan lokasi pasar akan menghemat biaya transportasi pengangkutan dan penyaluran produk. Dengan demikian efisiensi biaya transportasi bisa dilakukan.

3. Penentuan Kapasitas Produksi

Berdasarkan target pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyatakan bahwa dalam kurun waktu 2007-2010, pemerintah menargetkan mengganti 1,48 miliar liter bensin dengan bioetanol. Persentase itu akan meningkat menjadi 10% pada tahun 2011-2015, dan 15% pada 2016-2025. Pada kurun waktu pertama 2007-2011 selama 4 tahun pemerintah memerlukan rata-rata 370.000.000 liter bioetanol per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, pada tahun 2007 pemerintah baru mampu memasok sekitar 174.328.000 liter atau baru sekitar 47% saja. Itu berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 195.672.000 liter bioetanol untuk bahan bakar.

(13)

Penentuan kapasitas produksi industri bioetanol berdasarkan pertimbangan ketersediaan bahan baku, industri pesaing dan target produksi bioetanol pemerintah. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kapasitas produksi yang dipilih adalah sebesar 900 liter per hari atau sebesar 216.000 liter per tahun dengan asumsi 240 hari kerja dalam setahun. Pasokan bahan baku untuk kapasitas produksi tersebut masih bisa terpenuhi, seperti yang sudah dijelaskan pada analisis aspek bahan baku.

4. Aspek Teknologi Proses Produksi

Teknologi proses produksi bioetanol limbah tanaman jagung ini secara garis besar ada dua perlakuan dan terdapat empat rancangan percobaan. Dua perlakuan yang dimaksud adalah perlakuan awal untuk menghilangkan kandungan lignin secara kimiawi serta perlakuan awal untuk menghilangkan kandungan lignin secara biologis.

Rancangan percobaan yang dilakukan antara lain rancangan pertama (R1), yaitu proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis. Diagram alir rancangan percobaan pertama dapat dilihat pada Lampiran 3. Rancangan kedua (R2) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Saccharomyces cerevisiae – Pichia stipitis. Diagram alir rancangan percobaan kedua dapat dilihat pada Lampiran 4. Rancangan ketiga (R3) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara biologis menggunakan bantuan white rot fungi jenis Phanerochaete chrysosporium serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis. Diagram alir rancangan percobaan ketiga dapat dilihat pada Lampiran 5. Rancangan keempat (R4) merupakan proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara biologis menggunakan bantuan white rot fungi jenis Phanerochaete chrysosporium serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Saccharomyces cerevisiae – Pichia stipitis. Diagram alir rancangan percobaan keempat dapat dilihat pada Lampiran 6. Dari keempat rancangan yang ada, setelah dilakukan analisis efisiensi produksi, maka rancangan yang akan diterapkan dalam skala selanjutnya adalah rancangan pertama (R1), yaitu proses produksi bioetanol dengan proses deliginifikasi secara kimiawi menggunakan kalsium hidroksida serta proses fermentasi dengan menggunakan bantuan mikroba Zymomonas mobilis – Pichia stipitis.

Secara umum Hambali (2007) menjelaskan terdapat beberapa tahapan dalam pembuatan bioetanol, yaitu tahap persiapan bahan baku, tahap pemasakan, tahap fermentasi kemudian tahap pemurnian. Tahapan tersebut digunakan apabila menggunakan bahan baku berpati dan bergula, namun untuk bahan baku lignoselulosa terdapat perbedaan pada perlakuan awal bahan baku yang digunakan, sehingga diagram alir untuk bahan lignoselulosa berdasarkan pada rancangan pertama (R1) disajikan pada Gambar 9. Namun untuk diagram alir yang lebih lengkap disajikan pada Lampiran 4.

(14)

Gambar 9. Rancangan pertama (R1) proses produksi bioetanol dari bahan lignoselulosa

a. Perlakuan awal (delignifikasi)

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam memanfaatkan lignoselulosa untuk bahan baku bioetanol adalah rendahnya tingkat digestibilitas enzim dalam proses depolimerisasi selulosa (hidrolisis). Kesulitan ini disebabkan karena kompleksitas struktur lignoselulosa. Untuk mengatasi kesulitan ini, maka perlu dilakukan perlakuan awal terhadap lignoselulosa. Perlakuan awal akan mengubah struktur rumit lignoselulosa sehingga akan meningkatkan digestibilitas enzim (Kim dan Holtzapple 2006).

Delignifikasi merupakan proses penghilangan kandungan lignin dari lignoselulosa. Perlakuan awal pada bahan berlignoselulosa akan mengubah struktur rumit lignoselulosa sehingga akan meningkatkan digestibilitas enzim, sehingga akan mempermudah untuk menghidrolisis polisakarida menjadi gula yang lebih sederhana (Moiser et al. 2005).

Sebelum memasuki proses perlakuan awal, terlebih dahulu bahan baku lignoselulosa berupa batang, tongkol, daun dan klobot dilakukan pengecilan ukuran sampai dengan 40 mesh. Kemudian dilakukan delignifikasi secara biologis dan kimiawi. Delignifikasi kimiawi menggunakan Ca(OH)2, sedangkan delignifikasi secara

biologis menggunakan kapang pelapuk putih jenis Phanerochaete chrysosporium. Kedua metode delignifikasi tersebut memiliki satu tujuan utama yaitu menghilangkan kandungan lignin pada lignoselulosa.

Delignifikasi alkali menggunakan kalsium hidroksida memiliki kelebihan tersendiri, yaitu kemudahan dan keamanan dalam recovery dengan karbondioksida (Moiser et al. 2005) serta relatif murah jika dibandingkan dengan basa lain (Kaar dan Holtzapple 2000). Selama proses delignifikasi menggunakan Ca(OH)2, lignin terpisah

dari lignoselulosa. Semakin lama proses delignifikasi semakin banyak ikatan-ikatan di dalam lignoselulosa yang terputus. Terdapat tiga pembagian tahap dalam proses delignifikasi alkalim yaitu initial, bulk, dan residual. Dalam tahap initial, terjadi pemutusan ikatan α-O-4 dan β-O-4 pada gugus fenolik, kemudian diikuti dengan pemutusan ikatan β-O-4 pada gugus non-fenolik pada tahap bulk. Apabila delignifikasi terus dilanjutkan sampai tahap residual, maka akan terjadi pemutusan ikatan antar atom C pada lignin dan degradasi karbohidrat (Kim dan Holtzapple 2000).

(15)

Biodelignifikasi atau delignifikasi secara biologis dilakukan dengan menumbuhkan organisme pada media lignoselulosa sehingga terjadi pengurangan lignin dan selulosa. Dalam perlakuan awal secara biologis, kapang pelapuk putih yang dianggap paling efektif. Kapang pelapuk putih jenis Phanerochaete chrysosporium menghasilkan enzim lignoselulolitik yang bertanggung jawab dalam pendegradasian lignin.

b. Sakarifikasi dan fermentasi simultan

Tahap berikutnya setelah melalui delignifikasi adalah tahap sakarifikasi dan fermentasi simultan. Sakarifikasi merupakan proses dimana oligosakarida sebagai hasil dari tahap likuifikasi dihidrolisis lebih lanjut oleh enzim tunggal atau enzim campuran menjadi glukosa. Secara umum sintesis bioetanol yang berasal dari biomassa terdiri atas dua tahap utama, yaitu hidrolisis dan fermentasi. Pada metode terdahulu proses hidrolisis dan fermentasi dilakukan secara terpisah atau separated hydrolysis and fermentation (SHF) dan yang terbaru adalah proses simultaneous saccharification and fermentation atau sakarifikasi dan fermentasi simultan (SSF).

Proses hirdrolisis dan fermentasi akan menjadi lebih efektif dan efisien jika dilaksanakan secara berkelanjutan tanpa melalui tenggang waktu yang lama, proses ini dikenal sebagai proses sakarifikasi dan fermentasi simultan (SSF). Sakarifikasi dan fermentasi simultan adalah kombinasi antara hidrolisis dengan enzim dan fermentasi yang dilakukan dalam suatu reaktor. Proses ini memiliki keuntungan yaitu polisakarida yang terkonversi menjadi monosakarida tidak kembali menjadi polisakarida karena monosakarida langsung difermentasi menjadi etanol (Samsuri et al. 2007). Mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi adalah Saccharomyces cerevisiae, Zymomonas mobilis, serta Pichia stipitis.

c. Destilasi

Setelah proses fermentasi selesai, dilakukan destilasi untuk memisahkan etanol. Distilasi merupakan pemisahan komponen berdasarkan titik didihnya. Titik didih etanol murni adalah 78oC, sedangkan air adalah 100oC (kondisi standar). Dengan

memanaskan larutan pada suhu rentang 78–100oC akan mengakibatkan sebagian besar

etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.

Dari proses distilasi akan dihasilkan etanol dengan kadar etanol maksimal 95%. Untuk aplikasi bahan bakar, etanol hasil destilasi harus dimurnikan yaitu dengan cara dikeringkan. Pengeringan etanol dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara-cara pengeringan etanol yang ada adalah antara lain pengeringan menggunakan kapur (CaO), garam, benzene dan penggunaan ”molecular sieve”. Namun dalam penelitian ini tidak sampai pada dehidrasi atau pengeringan.

(16)

5. Perencanaan Tata Letak Dan Kebutuhan Ruang Industri

Desain tata letak berhubungan erat dengan penyusunan letak mesin, peralatan peralatan produksi, dan ruangan-ruangan dalam pabrik. Penyusunan tata letak akan berpengaruh pada efisiensi produksi. Tata letak yang baik akan membuat proses produksi dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Tipe tata letak pabrik ada dua macam, yaitu tipe tata letak berdasarkan produk (product layout) dan berdasarkan proses (process layout). Penentuan tipe tata letak bergantung pada spesifikasi proses produksi. Proses produksi yang berbeda akan memiliki sifat-sifat khusus dan memerlukan desain tata letak yang berbeda pula.

Industri ini hanya memproduksi satu jenis produk, yaitu bioetanol. Oleh karena itu, tipe tata letak yang digunakan adalah berdasarkan produk (product layout). Pada tipe tata letak berdasarkan produk, pengorganisasian pekerjaan didasarkan pada urutan proses produksi suatu produk atau sekumpulan produk. Mesin-mesin produksi diletakkan pada satu jalur menurut urutan proses produksinya.

Penempatan fasilitas dan tata letak yang baik akan mempengaruhi efisiensi perusahaan, profitabilitas perusahaan dan kelangsungan perusahaan itu sendiri. Menurut Assauri (1980) tujuan penyusunan tata letak sendiri adalah sebagai berikut:

a. Memudahkan proses manufaktur, merupakan cara efektif dalam menyusun mesin. b. Meminimumkan perpindahan bahan.

c. Memelihara keluwesan susunan dan operasi.

d. Memelihara perputaran barang setengah jadi yang tinggi. e. Menekan modal tertanam pada peralatan.

f. Menghemat pemakaian ruang bangunan.

g. Memberikan kemudahan, keselamatan bagi pegawai dan memberikan kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaan.

Berdasarkan diagram alir proses maka dilakukan analisis keterkaitan antar aktifitas untuk menentukan tata letak pabrik. Salah satu alat untuk menganalisis dan merancang keterkaitan antar kegiatan ini disebut Bagan Keterkaitan Antar Kegiatan. Bagan keterkaitan antar aktifitas industri bioetanol limbah tanaman jagung ditunjukkan pada Gambar 11. Derajat hubungan aktifitas pada bagan keterkaitan antarkativitas tersebut diberi tanda sandi dengan arti sebagai berikut.

A (absolutely necessary) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan harus saling berdekatan dan bersebelahan.

E (especially important) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan harus bersebelahan.

I (important) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan cukup berdekatan.

O (ordinary) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan tidak harus saling berdekatan.

U (unimportant) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan bebas dan tidak saling mengikat.

X (undesirable) menunjukkan bahwa letak antara dua kegiatan harus saling berjauhan atau tidak boleh saling berdekatan.

(17)

G ke m be da ke di tem in dip bi Gambar 10. B Pada ga eterkaitan. Kri emiliki penila erikut ini: Ta Bagan k an menganali eterkaitan ant agram keterk mplate yang formasi men peroleh dari b oetanol limba agan keterkai ambar di atas iteria penilaia aian sendiri, b abel 12. Kriter keterkaitan ant isis keterkait tar aktifitas k kaitan antar menggamba ngenai derajat bagan keterka ah tanaman jag

tan antar aktif s dapat dihitu an derajat anta beberapa peni ria penilaian d Simbol A E I O U X tar aktifitas te tan antar ak kemudian diw aktifitas. Dia arkan kegiata t keterkaitan aitan antar akt

gung disajikan fitas industri b ung pembobo ar aktifitas dis ilaian simbol derajat kedeka Nilai 81 27 9 3 1 0 ersebut kemud ktifitas. Inform wujudkan da agram keterk an yang ada. kegiatan te tifitas. Diagra n pada Gamba bioetanol limb otan nilainya sajikan pada T di atas berda

atan antar akti

dian digunaka masi yang d alam bentuk kaitan antar a Setiap tem rsebut denga am keterkaitan ar 11. bah tanaman ja pada setiap Tabel 12. San asarkan pada ifitas an untuk mere dihasilkan da diagram yan aktifitas men mplate menc an kegiatan l n antar aktifita agung hubungan ndi di atas ketentuan encanakan ari bagan ng disebut nggunakan cantumkan lain yang as industri

(18)

Gam an be m No. 1. Ka 2. Gu 3. Ru 4. Ru 5. Ru 6. Ru 7. Ru 8. Mu 9. Par 10. Ka ke La ran ru op Ke Ta ke Ga mbar 11. Diagr Pada kri ntar ruang. Pad erikutnya men etode TCR. Lokas antor udang bahan b uang fermenta uang destilasi uang laborator uang hasil prod uang pengolah usholla rkir amar mandi/W Pada ha eterkaitan rua angkah selanj ncangan ruan uangan yang d perator, kelon ebutuhan luas abel 14. Pen eterkaitan anta ambar 12. ram keterkaita iteria di atas da Tabel 13 n njadi ruang di Tabel 13. P si baku si rium duksi han limbah WC asil perhitung ang sehingga jutnya adalah ngan industri. dibutuhkan ole nggaran, kebu s ruang pada nyusunan ske ar aktifitas dan an antar aktifit kemudian dij ilai total terbe isekitar pusat Perhitungan k 3 3 3 81 3 81 3 3 3 1 1 1 - - 3 1 3 27 81 1 gan di atas desain dari b h menentukan . Luas ruang eh tiap-tiap m utuhan luas g industri bioe etsa rancanga n kebutuhan lu

tas industri bio ijadikan patok esar menjadi p aktifitas. Ber keterkaitan ant Ni 3 3 3 1 81 81 81 3 81 3 3 27 - - 1 1 1 1 1 1 dapat diapl bangunan dap n kebutuhan dihitung ber esin dan peral gudang, kanto etanol limbah an ruangan uas ruang. Sit

oetanol limba kan sebagai p pusat ruang ak rikut daftar ha tar ruang ilai 1 - 3 1 - 1 3 - 1 27 - 1 3 - 1 3 - 1 - - - 1 1 - 1 1 - - 1 - likasikan ked pat ditentukan luas ruang rdasarkan per latan produks or, dan ruang

tanaman jag industri dida te plan indust

ah tanaman jag perhitungan k ktifitas dan nil asil perhitunga 3 81 27 1 1 1 1 1 1 - 1 1 - - 3 81 3 3 81 3 dalam sebuah n letak dan dan menyus rkiraan kebut i, kebutuhan l gan-ruangan y gung dapat di asarkan pada tri ini dapat di

gung keterkaitan lai terkecil an dengan Total 100 118 252 120 93 38 0 92 40 169 h gambar lokasinya. un sketsa tuhan luas luas ruang yang lain. lihat pada a diagram ilihat pada

(19)

Gambar 12. Sketsa industri bioetanol limbah tanaman jagung

Tabel 14. Kebutuhan luas ruang industri bioetanol limbah tanaman jagung Nama Ruang Panjang

(m) Lebar (m) Luas (m2) Luas kelonggaran (m2) Luas Total (m2) Kantor 20.00 5.00 100.00 100.00

Gudang bahan baku 10.00 8.00 8.000 80.00

Ruang fermentasi 9.00 8.00 72.00 8.00 80.00

Ruang destilasi 9.00 8.00 72.00 8.00 80.00

Ruang laboratorium 9.00 8.00 72.00 8.00 80.00

Ruang hasil produksi 9.00 8.00 72.00 8.00 80.00 Ruang pengolahan limbah 10.00 4.00 40.00 40.00 Musholla 5.00 4.00 20.00 20.00 Parkir 20.00 4.00 80.00 80.00 Kamar mandi/WC 5.00 4.00 20.00 20.00 Total 660.00

(20)

D. ANALISIS MANAJEMEN ORGANISASI

1. Kebutuhan Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang digunakan dalam industri bioetanol limbah tanaman jagung ini dapat dikelompokkan menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung. Tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang secara langsung terlibat dalam proses produksi, sedangkan tenaga kerja tak langsung adalah tenaga kerja yang tidak berhubungan secara langsung dengan proses produksi. Tenaga kerja yang termasuk dalam kategori tenaga kerja langsung adalah operator. Tenaga kerja yang termasuk dalam kategori tenaga kerja tak langsung adalah direktur, manajer produksi dan QC, manajer logistik dan pemasaran, staf keuangan dan administrasi, staf pemasaran, laboran, dan sopir. Rincian jenis dan jumlah tenaga kerja serta kualifikasi pendidikan minimal yang diperlukan disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Kebutuhan dan kualifikasi tenaga kerja

No. Jenis Tenaga Kerja Kualifikasi Pendidikan Minimal Jumlah

1. Direktur S1 Teknologi Industri 1

2. Manajer Produksi dan QC S1 Teknologi Industri 1 3. Manajer Logistik dan Pemasaran S1 Manajemen 1 4. Staf Keuangan dan Administrasi SMK Kesekretariatan 2

5. Staf Pemasaran SLTA 2

6. Operator SMK Mesin 5

7. Laboran SLTA/SMK Analisis Kimia 2

8. Supir SLTA 2

Total 16

2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi yang digunakan menganut sistem wewenang sentralisasi. Hal ini bertujuan agar kebijakan dapat seragam dan dapat meminimumkan kompleksitas permasalahan. Struktur organisasi industri bioetanol limbah tanaman jagung ini disajikan pada Gambar 13.

(21)

3. Deskripsi Pekerjaan

Deskripsi pekerjaan disusun untuk memudahkan pekerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Dengan deskripsi pekerjaan yang jelas, para pekerja dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Deskripsi pekerjaan pada industri bioetanol limbah tanaman jagung ini adalah sebagai berikut.

a. Direktur

Direktur bertanggung jawab menjalankan roda organisasi perusahaan, merencanakan, mengorganisasikan, dan mengawasi kegiatan manajer dan staf yang berada di bawahnya.

b. Manajer produksi dan quality control (QC)

Manajer produksi dan quality control (QC) bertugas melakukan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan produksi, pengawasan kualitas bahan baku dan produk, pemeliharaan sarana produksi, dan penelitian dan pengembangan produk (research and development) agar memperoleh keunggulan dalam persaingan.

c. Manajer logistik dan pemasaran

Manajer produksi dan pemasaran bertugas mengelola pengadaan bahan baku dan bahan pembantu, mengelola pemasaran dan pendistribusian produk, menetapkan strategi pemasaran, dan mengelola berbagai hal yang terkait dengan pengadaan logistik dan pemasaran produk.

d. Staf keuangan dan administrasi

Staf keuangan dan administrasi bertugas melaksanakan dan mengawasi kegiatan pencatatan keuangan perusahaan dan administrasi kantor dan operasional perusahaan.

e. Staf pemasaran

Staf pemasaran bertugas melaksanakan pemasaran produk, melaksanakan strategi pemasaran yang ditetapkan, dan mengelola pendistribusian produk.

f. Operator

Operator bertugas menjalankan mesin sesuai dengan prosedur yang ada dan memastikan mesin berjalan sesuai dengan kriteria yang seharusnya. Operator harus secara terus menerus melakukan pengawasan terhadap proses produksi dan kinerja mesin agar tidak terjadi penyimpangan produk yang tidak diinginkan. Operator juga bertugas untuk melakukan perawatan mesin dan alat-alat produksi.

g. Laboran

Laboran bertugas melakukan pengawasan terhadap mutu produk. Pengawasan dilakukan dengan pengecekan terhadap mutu bahan baku, hasil dari tiap tahap produksi, dan produk akhir sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.

(22)

E. ASPEK LINGKUNGAN DAN LEGALITAS

1. Aspek Lingkungan

Studi aspek lingkungan bertujuan untuk menentukan apakah secara lingkungan rencana bisnis diperkirakan dapat dilaksanakan secara layak atau sebaliknya. Studi aspek lingkungan hidup dilakukan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak dengan beroperasinya proyek-proyek industri. AMDAL harus mengacu pada peraturan dan perundangan yang berlaku mengenai lingkungan hidup setempat studi AMDAL dilakukan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 17 Tahun 2001, tentang jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL. Kerusakan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini diakibatkan oleh kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan tidak mengindahkan kelestarian alam sekitarnya.

Tujuan studi AMDAL adalah untuk meminimumkan dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif, maka segenap upaya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan uraian kegiatan yang dilakukan oleh pabrik, maka komponen kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak dibagi menjadi tiga tahap. Pada tahap prakonstruksi, tahap konstruksi, tahap operasional dan tahap pasca operasi. Dari setiap tahap ini dilakukan analisis dan penanganan terhadap setiap limbah yang dihasilkan. Untuk penyusunan AMDAL perusahaan menggunakan jasa konsultan yang memiliki memiliki sertifikat AMDAL A (dasar-dasar AMDAL) atau B (penyusun) dan perusahaan menggunakan ahli di bidang bioetanol.

Pemanfaatan limbah akan dapat menunjang pada peningkatan pendapatan industri. Limbah yang akan dibuang di lingkungan harus harus benar-benar bersih dari bahan yang berbahaya sehingga tidak menyebabkan kerusakan bagi lingkungan sekitar. Limbah cair yang dihasilkan merupakan limbah cair hasil dari proses destilasi. Karakter limbah cair bioetanol disajikan pada Tabel 16. Lumpur endapan fermentasi langsung dibuang ke kolom limbah.

Tabel 16. Karakteristik limbah cair bioetanol

Parameter Baku Mutu* Pabrik A** Pabrik B***

COD - 60.918 – 103.002 113.259 – 157.651 BOD Maks 150 30.000 – 46.308 45.000 – 58.250

pH 6-9 4 – 4,51 4,15 – 4,28

TSS 400 3.415 – 5.700 5.280 – 7.260

Sumber: P3GI Pasuruan dalam Soewondo (2010) *) Baku mutu dari Kep. Men/LH/51/1995 **) Lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta ***) Lokasi di Jawa Barat

Pada karakter di atas perlu adanya pengolahan lebih lanjut. Pengolahan tersebut adalah sebagai berikut. Limbah cair hasil proses destilasi masih akan mengandung sedikit alkohol yang tidak teruapkan kemudian dilakukan dengan cara dialirkan melalui pipa pendinginan. Setelah dingin, dilakukan proses aerasi dengan menambahkan gelembung-gelembung udara dan melakukan pengendapan setelah itu limbah cair kemudian dialirkan ke dalam kolam anaerob.

(23)

Menurut Soewondo (2010), kolam anaerob memiliki prinsip kerja UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket). UASB berfungsi untuk menurunkan kadar COD dan BOD yang terdapat dalam limbah cair sehingga tidak berbahaya terhadap makhluk hidup yang ada di dalam sungai tempat pembuangan limbah. Limbah cair yang keluar dari unit destilasi mempunyai kadar COD ±100.000 ppm dan kadar BOD ± 65.000 ppm (Soewondo 2010). Pengolahan limbah dengan prinsip UASB menggunakan rumpon-rumpon yang terbuat dari bambu. Hasil pengolahan limbah secara anaerob tersebut berupa gas metana, H2S, dan gas

CO2. Limbah cair ini juga sering dimanfaatkan oleh para petani sekitar pabrik sebagai pupuk

organik.

2. Aspek Legalitas

Aspek legalitas merupakan aspek yang sangat penting dalam pendirian industri. Suatu industri akan lebih berkembang jika telah memperoleh izin industri. Industri yang legal (telah memperoleh izin) akan lebih mendapatkan dukungan dari pemerintah, serta lebih diakui di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, luas, dan bertanggung jawab, bidang industri merupakan salah satu bidang yang diserahkan dan telah menjadi kewenangan daerah. Oleh karena itu, peraturan mengenai perizinan industri diatur sesuai dengan peraturan daerah di daerah tempat industri tersebut didirikan.

a. Bentuk usaha

Perusahaan yang ada di Indonesia terdapat dalam beberapa bentuk, yaitu Perseroan Terbatas (PT), Persekutuan Komanditer (CV), Koperasi, Firma, Kongsi, Yayasan dan bentuk usaha tetap. Dalam hal pemilikan, bentuk perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran perusahaan, jenis perusahaan, pembagian laba, resiko yang akan ditanggung, pembagian pengawasan dan aturan penguasaan perusahaan.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka bentuk perusahaan yang sesuai untuk industri bioetanol ini adalah Perseroan Terbatas (PT). Pemilihan ini dilakukan dengan alasan modal investasi yang dibutuhkan relatif cukup besar.

b. Perizinan

Untuk mendirikan suatu industri, menurut Keputusan Menteri Negara Investasi (Menives) No. 38/SK/1999 pada Bab I tentang Ketentuan Umum, diperlukan izin-izin dan persyaratan legalitas sebagai berikut.

1) Persetujuan fasilitas dan izin pelaksanaan penanaman modal yang dikeluarkan Menives/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau Ketua BPKMD terdiri dari:

• Persetujuan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk dan fasilitas perpajakan atas pengimporan barang modal.

• Persetujuan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk atas pengimporan bahan baku dan/atau bahan penolong untuk keperluan produksi 2 (dua) tahun berdasarkan kapasitas terpasang.

(24)

• Persetujuan pemberian fasilitas pajak penghasilan yang ditanggung oleh pemerintah untuk usaha industri tertentu.

• Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT).

• Keputusan tentang Rencana Penggunaan Tenaga Kerja warga Negara asing pendatang (RPTK).

• Keputusan tentang Izin Kerja Tenaga Kerja Warga Negara Asing pendatang (IKTA).

• Izin Usaha Tetap (IUT), Izin Usaha Perluasan dan Pembaharuan IUT.

2) Izin pelaksanaan penanaman modal yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota terdiri dari:

• Izin lokasi

• Izin Undang-undang Gangguan (UUG)/HO • Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Menurut Wibowo (2008), minimal diperlukan izin-izin dan persyaratan legalitas sebagai berikut:

• Persetujuan prinsip mendirikan industri, • Surat Izin Umum Perusahaan (SIUP), • Tanda Daftar Perusahaan (TERDAPAT), • Akta Pendirian Perusahaan.

Persyaratan izin Undang-undang gangguan (HO) dan izin tempat usaha adalah sebagai berikut:

• Mengisi formulir permohonan dan materia Rp. 3000 sebanyak 2 lembar • Surat persyarataan tidak keberatan dari tetangga

• Rekomendasi pertimbangan dari Camat

• Berita acara pemeriksaan lapangan dari kecamatan setempat • Gambar lokasi ruangan yang akan dipergunakan

• Keterangan Kartu Tanda Penduduk (KTP)

• Pas photo hitam putih ukuran 3 x 4 sebanyak 6 lembar • Akte Pendirian Perusahaan, bagi yang berbadan hukum • Surat keterangan tanda bukti pemilikan/penyewaan bangunan • Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

• Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

• Surat Keterangan (SEKRI) bagi keturunan asing

• Rekomendasi dari instansi yang sesuai dengan jenis yang dimohon.

Perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia. Perseroan memperoleh status sebagai badan hukum setelah akta pendirian persero disahkan oleh menteri kehakiman Republik Indonesia. Berdasarkan UU Republik Nomor 1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas (PT), pasal delapan menyatakan bahwa akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain, seperti:

Nama lengkap, tempat tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal dan kewarganegaraan pendiri.

• Susunan, nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan kewarganegaraan anggota direksi dan komisaris yang pertama kali diangkat. • Nama pemegang saham yang mengambil bagian saham pada saat pendirian.

(25)

Anggaran Dasar perseroan memuat sekurang-kurangnya: • Nama dan tempat kedudukan perseroan

• Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan • Jangka waktu berdirinya perseroan

• Besarnya jumlah modal

• Susunan, jumlah dan nama anggota direksi dan komisaris • Tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen

Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, direksi perseoan wajib mendaftarkan perusahaan. Hal-hal yang harus didaftarkan:

• Akta pendirian beserta surat pengesahan menteri kehakiman RI

• Akta perubahan Anggaran Dasar beserta laporan kepada menteri kehakiman RI Untuk mendirikan suatu industri juga diperlukan izin lokasi usaha, untuk memperoleh izin lokasi, pemohon menyampaikan permohonan secara tertulis kepada gubernur kepala daerah melalui Kanwil BPN dengan dilengkapi:

• Rekomendasi Bupati/Walikota Kepala Daerah.

• Akte pendirian perusahaan bagi perusahaan yang berbadan hukum atau Surat Izin Usaha bagi perusahaan perseorangan.

• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). • Lay out pabrik.

• Garis besar uraian proyek.

• Pernyataan kesanggupan memberikan ganti rugi dan atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik tanah.

• Pertimbangan aspek penatagunaan tanah.

• Peta rencana tata ruang lokasi yang bersangkutan.

Dewasa ini, pemerintah masih membuka kesempatan lebar bagi perusahaan yang bermaksud mendirikan industri yang dapat meningkatkan nilai tambah pada bahan baku, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, selama persyaratan yang dibutuhkan dapat dipenuhi, maka tidak akan ada kesulitan untuk memperoleh perizinan tersebut.

c. Peraturan pemerintah

Pada saat ini, pemerintah sudah berperan proaktif dalam memacu perkembangan biofuel Indonesia. Adanya peran tersebut pemerintah telah telah mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan biodiesel di Indonesia. Kebijakan pemerintah ini merupakan kekuatan daya dukung keberhasilan pengembangan biofuel terutama bioetnaol di Indonesia.

Kebijakan tersebut dituangkan mulai dari peringkat hukum tertinggi (Undang-Undang Energi), secara bertingkat kepada Keppres dan Inpres. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:

1) Peraturan Presiden RI No.5/2006 tanggal 25 Januari 2006, tentang Kebijakan Energi Nasional. Isi dari kebijakan ini antara lain tahun 2025 ditargetkan bahan

(26)

energi terbarukan harus sudah mencapai lebih dari 5% dari kebutuhan energi nasional dan BBM ditargetkan menurun sampai di bawah 20%.

2) Instruksi Presiden RI No.1/2006 tanggal 25 Januari, tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Bio-Fuel) sebagai bahan bakar lain. Isinya antara lain Presiden menginstruksikan kepada Menteri, gubernur, dan Bupati/Walikota untuk mengambil langkah percepatan pemanfaatan bahan bakar hayati.

3) Keputusan Presiden RI No.10/2006 tanggal 24 Juli 2006, tentang Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran.

Untuk lebih jelasnya peraturan pemerintah tersebut dapat dilihat pada Lampiran 19, 20 dan 21.

F. ANALISIS FINANSIAL

1. Asumsi Yang Digunakan

Asusmsi-asumsi yang digunakan dalam analisis finansial industri bioetanol limbah tanaman jagung ini adalah sebagai berikut.

a. Harga produk bioetanol per liter adalah Rp. 15.000,00. b. Umur ekonomis proyek diasumsikan selama 10 tahun.

c. Nilai sisa bangunan adalah 50 persen dari nilai awal, nilai sisa tanah adalah 100 persen dari nilai awal, dan nilai sisa mesin dan peralatan adalah 10 persen dari nilai awal. d. Umur ekonomis mesin dan peralatan produksi adalah 10 tahun, umur ekonomis

peralatan kantor adalah 5 tahun.

e. Biaya pemeliharaan mesin dan peralatan per tahun adalah 5 persen dari harga mesin dan peralatan.

f. Jumlah hari kerja per tahun adalah 240 hari. g. Discount factor diasumsikan sebesar 14 persen.

h. Pajak dihitung berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 untuk pajak badan, yaitu sebesar 28 persen.

i. Debt Equity Ratio (DER) sebesar 100 persen modal sendiri dan 0 persen modal pinjaman dari bank.

j. Modal kerja dihitung berdasarkan biaya operasional produksi selama tiga bulan. k. Proyek dimulai pada tahun ke-0, sedangkan produksi pertama mulai berlangsung pada

tahun ke-1.

2. Biaya Investasi

Biaya investasi merupakan biaya yang diperlukan untuk mendirikan industri bioetanol limbah tanaman jagung ini. Biaya investasi meliputi biaya investasi tetap dan biaya modal kerja. Biaya investasi tetap meliputi biaya prainvestasi, tanah dan bangunan, fasilitas penunjang, mesin dan peralatan produksi, alat kantor, sarana distribusi, dan kontingensi. Biaya investasi tetap yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 4.791.119.700,00. Rincian biaya investasi tetap tersebut dapat dilihat pada Tabel 17 dan rincian lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 10.

(27)

Tabel 17. Komponen biaya investasi tetap

No. Komponen Nilai Total (Rp)

1 Biaya Prainvestasi 25.000.000

2 Tanah dan bangunan 1.390.000.000 3 Fasilitas Penunjang 20.000.000 4 Mesin dan Peralatan 2.764.563.364

5 Alat Kantor 6.000.000 6 Sarana Distribusi 150.000.000 Subtotal 4.355.563.364 Kontingensi 10% 435.556.336 Total 4.791.119.700 .

Biaya modal kerja merupakan biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan industri bioetanol limbah tanaman jagung ini. Biaya modal kerja meliputi upah tenaga kerja, biaya bahan baku dan bahan penunjang, bahan bakar, dan biaya listrik. Modal kerja yang diperlukan oleh industri bioetanol limbah tanaman jagung ini adalah sebesar Rp 2.643.968.055,00. Rincian biaya modal kerja tersebut dapat dilihat pada Tabel 18 dan rincian lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 11.

Tabel 18. Komponen biaya modal kerja No. Komponen Modal Kerja Nilai Total (Rp)

1 Upah tenaga kerja 88.500.000

2 Bahan baku dan penunjang 2.553.578.055

3 Bahan bakar 1.350.000

4 Listrik 540.000

Total 2.643.968.055

3. Sumber Dana

Sumber dana investasi terdiri atas dua sumber, yaitu modal sendiri (investor) dan modal pinjaman. Debt Equity Ratio (DER) atau porsi pendanaan yang digunakan adalah 100 persen dana sendiri dan 0 persen dana pinjaman bank. Hal ini berarti, sumber dana investasi yang digunakan adalah 100 persen modal sendiri. Total biaya investasi yang diperlukan adalah Rp. 7.435.087.755,00 yang terdiri dari biaya investasi tetap sebesar Rp 4.791.119.700,00 dan modal kerja sebesar Rp 2.643.968.055,00.

4. Harga dan Prakiraan Penerimaan

Pada industri bioetanol limbah tanaman jagung ini biaya per unit produk ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:

Biaya per unit produk BT BV

Jumlah Produk yang Dihasilkan Keterangan

BT = biaya tetap BV = biaya variabel

(28)

Prakiraan biaya per unit produk bioetanol adalah Rp. 6.955,00, dan harga jual bioetanol ditetapkan sebesar Rp. 15.000,00. Harga jual sebesar itu dapat menghasilkan profit sebesar 116%. Prakiraan penerimaan industri bioetanol limbah tanaman jagung adalah sebesar Rp. 3.240.000.000,00. Data harga dan prakiraan penerimaan dapat dilihat pada Tabel 19 dan rinciannya dapat dilihat pada Lampiran 13. Harga dan prakiraan penerimaan dihitung dengan asumsi harga jual tetap selama periode operasional.

Tabel 19. Harga dan prakiraan penerimaan

Tahun Produksi per tahun (liter) produk (Rp/liter) Biaya per unit Harga Jual (Rp/liter) Profit (%) Penerimaan (Rp)

1 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 2 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 3 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 4 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 5 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 6 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 7 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 8 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 9 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000 10 216.000 6.955 15.000 116 3.240.000.000

5. Proyeksi Rugi laba

Laporan rugi laba adalah suatu laporan keungan yang meringkas penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan selama periode akuntansi (Gittinger 1986). Proyeksi rugi laba digunakan untuk mengetahui besarnya proyeksi keuntungan atau kerugian dari industri bioetanol limbah tanaman jagung ini. Proyeksi rugi laba memuat informasi mengenai proyeksi total penerimaan dan pengeluaran. Selisih antara proyeksi total penerimaan dan pengeluaran merupakan nilai Earning Before Interests And Taxes (EBIT) yang merupakan besarnya laba atau rugi sebelum pembayaran bunga dan pajak. Laba bersih merupakan laba yang sudah dikurangi dengan pembayaran bunga dan pajak. Industri bioetanol limbah tanaman jagung dilihat dari proyeksi rugi laba memiliki proyeksi yang cukup besar. Besarnya proyeksi rugi laba ini dapat dilihat pada Tabel 20 dan rinciannya dapat dilihat pada Lampiran 14.

Tabel 20. Proyeksi rugi laba Tahun

ke-

Total Penerimaan

Total

Pengeluaran EBIT Bunga Pajak Laba bersih

1 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 2 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 3 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 4 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 5 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 6 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 7 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 8 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 9 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361 10 3.240.000.000 1.502.213.388 1.737.786.612 - 486.580.251 1.251.206.361

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan dalam penelitian ini dijabarkan ke dalam dua pertanyaan penelitian: (1) aspek perfektif apa saja yang diungkapkan oleh verba ~teiru dan ~teita ; (2) aspek

Jenis usaha tahu bakso ini diberi nama usaha Sate Ta’bo dikarenakan dalam proses pembuatannya akan dimodifikasi, selain mengisi tahu dengan bakso olahan, juga akan dibalur oleh

Hence, the researcher decided to analyze the students’ cognitive and their perception about their science laboratory environment in learning waves and sounds

Expert Advisor (EA) atau disebut juga robot forex adalah sebuah software atau skrip tambahan dalam suatu aplikasi, dimana nantinya dapat berfungsi sebagai mesin trading yang

Pada pengamatan menggunakan cara gores pada dasarnya dilakukan dengan cara menggoreskan suspensi bahan yang mengandung bakteri pada permukaan medium agar dalam

Kami waktu itu pikirannya sama begitu juga, artinya saya juga tidak ada pikiran memilih Bung Karno, karena Bung Karno waktu itu dalam pandangan kita sudah jelek, zaman

PROSEDUR PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI DALAM PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA INDUSTRI, PERDAGANGAN, RUANGAN/GUDANG, DAN TANDA

“A prince being thus obliged to know well how to act as a best must imitate the fox and the lion, for the lion cannot protect himself from traps and the fox cannot defend