BAB II
EKSPLORASI ISU BISNIS
2.1 Kerangka Konseptual
Pemikiran konseptual dalam penelitian ini berdasarkan pada tantangan yang dihadapi oleh PT PERTAMINA (Persero) dalam rangka pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses kerja dan strategi yang akan dijalankan perusahaan. Salah satu keputusan tersebut meliputi upaya penentuan strategi yang tepat untuk perbaikan sistem supply dan distribusi BBM. Peta pemikiran konseptual yang dikembangkan berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam proses penyaluran produk BBM oleh PT PERTAMINA (Persero) di Indonesia. Skema peta pemikiran konseptual tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Transportation Competitive Strategy Supply Chain Strategy Facilities Pricing Sourcing Information Inventory
Supply Chain Structure
Efficiency Responsiveness
Cross-Functional Drivers Logistical Drivers
Gambar 2.1 Skema Peta Pemikiran Konseptual Sumber: Chopra dan Meindl, 2007
Tujuan utama strategi rantai penyaluran adalah menemukan kesesuaian antara
responsiveness dan efficiency yang diperlukan dalam strategi kompetitif. Untuk itu
diperlukan kombinasi yang sesuai antara logistical dan cross-functional drivers.
Inventory (persediaan) muncul pada rantai distribusi karena adanya ketidakpastian demand. Peranan penting persediaan dalam rantai distribusi adalah untuk menjamin
adanya pemenuhan ketersediaan produk ketika konsumen membutuhkannya. Selain itu persediaan dapat berguna untuk mengurangi biaya distribusi dan operasional dengan adanya kebijakan economic of scale.
PT PERTAMINA (Persero) sebagai satu-satunya perusahaan minyak negara, memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi terhadap demand produk (uncertain
demand), untuk itu diperlukan adanya responsive supply chain yang sesuai dengan
kebutuhan bisnis. Tingginya tingkat persediaan pada sebuah depot akan memberikan tingkat responsiveness yang tinggi terhadap demand konsumen, sedangkan tingkat persediaan yang rendah dapat memberikan efisiensi namun dapat mengurangi tingkat
responsiveness terhadap pemenuhan demand yang mungkin terjadi.
Sourcing yang dimiliki PT PERTAMINA (Persero) berasal dari 6 kilang yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yaitu Kilang Dumai dan Kilang Plaju di Sumatera, Kilang Balongan dan Kilang Cilacap di Jawa, Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur dan Kilang Kasim-Sorong di Irian Jaya.
Tanki timbun merupakan fasilitas distribusi yang dimiliki oleh PT PERTAMINA (Persero) untuk memenuhi uncertain demand. Tanki timbun ini terdiri dari terminal transit, depot utama, instalasi dan depot penyalur. Terminal transit, depot utama, dan instalasi selain berfungsi untuk memenuhi demand lokal, juga berfungsi untuk menyalurkan produk BBM ke depot-depot penyalur, untuk selanjutnya di teruskan ke ritel-ritel lokal seperti SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan agen-agen. Moda transportasi yang digunakan oleh PT PERTAMINA (Persero) adalah kapal tanker, pipa dan RTW (Rail Tank Wagon). Sebagian besar distribusi BBM di Indonesia dilakukan dengan menggunakan moda transportasi laut atau kapal tanker, moda transportasi darat digunakan untuk mendistribusikan BBM ke inland depot dengan moda pipa atau RTW.
Setiap moda transportasi yang digunakan memilki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Kapal tanker memiliki keunggulan dalam cost eficiency dengan volume barang yang besar, sedangkan kelemahannya adalah kecepatan yang lambat dan adanya ketidak pastian penjadwalan dalam loading atau unloading di dermaga. Moda distribusi
pipa mempunyai keunggulan dalam pemenuhan kontinuitas produk dengan tingkat akurasi yang tinggi, sedangkan kelemahanya pada faktor keamanan dan biaya investasi yang sangat tinggi. Rail Tank Wagon mempunyai keunggulan dalam cost eficiency dan sangat efisien untuk memenuhi demand depot yang tidak terlalu besar, sedangkan kelemahannya pada kontinuitas produk dan waktu loading atau unloading yang relatif lambat.
Informasi yang akurat dan up to date akan menciptakan supply chain
effectivenes yang optimal. EDI (Elektronik Data Interchance) adalah salah satu sistem
informasi yang digunakan untuk mengatur dan mengontrol arus lalu lintas produk pada sistem rantai pasok.
2.2 Lokasi Penyelesaian Masalah
Permasalahan yang dipecahkan dalam proyek akhir ini berada di kantor pusat PT PERTAMINA (Persero) Jakarta yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No. 1A, Jakarta Pusat. Hal ini dilakukan karena penetapan kebijakan pengelolaan jaringan dan sarana operasi distribusi BBM (Instalasi, Depot, Pipa, RTW (Rail Train Wagon) seperti tanker, mobil tangki, truk, tongkang dan pipa) dilakukan di kantor pusat.
2.3 Latar Belakang Masalah
Daerah distribusi PT PERTAMINA (Persero) meliputi seluruh wilayah Kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang ditunjang dengan sumber daya fisik berupa 111 seafed dan inland depot, 6 kilang utama, dan 2 ship to ship transfer (STS). Kondisi eksisting dalam supply dan distribusi dari kilang (1st tier), depot utama/terminal transit/instalasi (2nd tier) sampai dengan depot penyalur (3rd
1. Kegiatan operasi supply dan distribusi dilakukan dengan full capacity sehingga bila terjadi sesuatu akan rentan terhadap kondisi kritis.
tier) akan dijelaskan pada akhir bab ini. Adapun garis besar permasalahan yang sedang dihadapi PT PERTAMINA (Persero) pada Divisi Supply dan Distribusi adalah:
2. Tidak ada pembatasan (clustering) pergerakan produk ataupun kapal, akibatnya sering terjadi pergerakan yang tidak efisien dari Indonesia Timur ke Indonesia Barat dan sebaliknya.
3. Monitoring dan pengendalian menjadi sangat kompleks dikarenakan luas areal pengamatan yang terlalu besar (menganggap Indonesia sebagai satu envelope atau satu daerah pengamatan).
4. Pola supply dan distribusi yang kompleks disebabkan: kondisi geografis, ketersediaan produk, jumlah kapal dan infrastruktur yang kurang handal.
5. Kegiatan supply dan distribusi terpola oleh perhitungan material balance yang dihitung berdasarkan angka rencana produksi kilang yang sudah ditentukan untuk memenuhi demand dengan biaya serendah mungkin, sehingga tidak ada antisipasi atau barrier cadangan dalam jumlah yang cukup jika terjadi krisis BBM di depot-depot penyalur.
6. Waktu Round Trip Days (RTD) lebih lama yang berakibat ongkos operasional menjadi mahal. Rute kapal yang tidak tetap menyebabkan utilitas kapal menjadi rendah.
7. Terjadinya penumpukan jalur distribusi di luar ketentuan-ketentuan alur material (flow of material). Keadaan ini sering terjadi bila salah satu depot mengalami kondisi krisis dan kritis, sehingga dilakukan pengambilan BBM dari depot atau tempat lain yang masih memiliki persediaan berlebih untuk menutupi kekurangan depot tersebut. Akan tetapi hal tersebut berakibat terganggunya sistem pemasaran dan alur rantai pasok. (Contoh: Peristiwa kelangkaan premium di Bali dan Manado pada bulan Maret 2008).
8. Ketidakpastian yang tinggi dalam pengiriman produk BBM dari kilang (1st
tier) ke depot utama/terminal transit/instalasi (2nd tier), dan dari depot utama/terminal transit/instalasi (2nd tier) sampai depot penyalur (3rd
9. Biaya transportasi (freight cost) yang tinggi untuk pengiriman barang ke tempat tujuan, contohnya pengiriman produk dari Indonesia Barat ke Indonesia Timur. (Contoh: Pengiriman BBM dari Terminal Transit Tanjung Uban (Riau) ke Terminal Transit Wayame (Ambon).
tier). Contoh: Tingkat RTD tidak sesuai dengan KPI yang ditetapkan oleh PT PERTAMINA.
10. Terjadinya ketidaktersediaan barang (premium, kerosene, dan solar) di beberapa depot sehinga depot mengalami kodisi kritis (safety stock <3hari) dan krisis (safety
11. Terjadinya double handling (satu depot dilayani oleh dua sumber), hal ini mengakibatkan antrian pada saat backloading/bongkar muat kapal di dermaga depot tersebut.
2.3.1 Pemetaan Permasalahan
Pemetaan permasalahan dilakukan untuk memperjelas urutan masalah yang terjadi di dalam tubuh PT PERTAMINA (Persero), dengan melakukan pendekatan ini diharapkan akan memperjelas masalah-masalah yang sedang dihadapi perusahaan.
Permasalahan yang terjadi dalam rantai pasok di PT PERTAMINA (Persero) dapat dibagi dalam lima bidang utama yaitu: sistem distribusi, produksi kilang, kondisi perkapalan, management inventory dan BBM import. Kelima hal tersebut menyebabkan terjadinya kondisi depot kritis dan depot krisis. Depot krisis adalah keadaan dimana cadangan BBM yang tersedia di depot sudah kosong (< 1 hari) sehingga tidak dapat memasok kebutuhan BBM di areal pemasaranya. Depot kritis adalah keadaan dimana jumlah cadangan BBM yang tersedia di depot sudah sangat terbatas (< 3 hari) dan tidak lama lagi dapat menahan demand.
DEPOT KRISIS & KRITIS
SISTEM DISTRIBUSI BBM IMPORT
PRODUKSI KILANG KAPAL TANKER
Tdk ada batasan wilayah dlm distribusi Menganggap indonesia 1 envelope
DOT tidak konstan dan akurat
Sistem Taksi
Cuaca
Sistem CNF yang mahal
Beli BBM diharga spot
Jadwal tidak jelas
Harga minyak naik
Administrasi yg rumit Melibatkan BP MIGAS
sebagai penentu kebijakan
Tdk Produktif / sudah tua Minyak sisa kilang tdk bisa dijual
Tdk ada kepastian volume supply
Kilang sering Shut Down
Koefisen jarak tidak ada
Kecepatan kapal tdk sesuai spek Budaya kerja
Volume tdk sesuai spek kapal Kapal tdk bisa multiproduk
Sistem kompartemen
Kecepatan loading dan unloading
Komposisi TT tdk sesuai dengan demand
Kapasitas timbun kurang
Pompa untuk loading dan unloading rusak
INVENTORY MNGT
Gambar 2.2 Fish Bone Permasalahan yang Dihadapi PT PERTAMINA (Persero) Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Pada sistem distribusi kendala utama yang dihadapi adalah tidak adanya pembagian daerah distribusi yang jelas, sehingga terjadi lalu lintas produk dari Indonesia Timur ke Indonesia Barat, begitu juga sebaliknya. BP Migas yang berfungsi sebagai penentu kebijakan bersama pemerintah menjadi kendala dalam pendistribusian BBM di Indonesia, karena kedua badan ini memberlakukan penjatahan volume BBM di suatu daerah, padahal demand di suatu daerah tidak mungkin berjalan konstan. Sistem distribusi taksi atau distribusi yang berdasarkan pada firing system akan membingungkan dan membiaskan rute perjalanan kapal, selain itu sistem taksi tersebut menyebabkan kegiatan scheduling menjadi rumit dan tidak teratur. Faktor cuaca seperti pasang surut air laut, pola arus laut, hujan lokal, dan angin laut-darat sedikit banyak berpengaruh dalam pendistribusian BBM, mengingat daerah Indonesia adalah daerah tropis kepulauan, sehingga pengaruh cuaca lokal akan lebih berpengaruh, daripada pengaruh cuaca regional dan global.
Jumlah produksi kilang yang tidak pasti mempengaruhi luas areal pemenuhan
demand yang dapat dicapai suatu titik supply. Jika terjadi kekurangan pasokan maka
dibutuhkan supply dari daerah lain, maka dari itu untuk mengatasi hal ini dibutuhkan suatu lokasi buffer atau barrier dengan kapasitas timbun tertentu yang berfungsi untuk menahan ketersediaan supply di masing-masing envelope. Salah satu kasus yang sering terjadi adalah kilang shut down, sehingga kilang tidak dapat memproduksi BBM, padahal kebutuhan BBM bersifat kontinu. Kejadian seperti ini dapat menyebabkan
bullwhip effect yang lebih besar dalam suatu sistem rantai pasok. Produk sisa hasil
pengolahan seringkali menjadi kendala, karena produk sisa ini dapat mengurangi kapasitas timbun BBM di kilang, sehingga tanki timbun yang ada, dipakai menampung produk sisa pengolahan.
Tanki timbun yang efektif dan efisien adalah tanki timbun yang sesuai dengan karakteristik demand daerah pemasarannya. Selama ini belum ada penelitian yang spesifik dan menyeluruh mengenai hubungan demand dengan volume kapasitas timbun yang harus dimiliki suatu depot, tetapi sebelum melangkah pada tahapan ini diperlukan kepastian rute dan sumber pasokan suatu depot dari suatu titik supply di sekitarnya, dengan melakukan hal tersebut diharapkan perhitungan buffer stock, minimum
inventory dan jalur mitigasi akan menjadi lebih mudah dan akurat. Kondisi infrastruktur
dalam melakukan loading dan unloading produk kadang-kadang menjadi masalah ketika proses penjadwalan berlangsung sangat padat. Kendala seperti kemacetan pipa
dapat mengakibatkan efek domino yang besar dan berdampak pada keterlambatan distribusi produk.
Ketidakpastian produksi kilang sering menyebabkan kekurangan persediaan BBM di suatu daerah supply. Kekurangan persediaan ini seringkali dipenuhi dengan melakukan import dadakan dari Singapore dengan membeli produk diharga spot, padahal pembelian produk BBM diharga spot jauh lebih mahal dibandingkan dengan pembelian terencana yang dapat dilakukan 2-3 bulan sebelumnya. Keadaan ini diperburuk dengan biaya sewa kapal asing yang tinggi untuk melakukan pengiriman barang, karena proses sewa dilakukan dengan mendadak.
Berdasarkan hasil analisis permasalahan yang terdapat dalam sistem distribusi, mekanisme BBM import, produksi kilang, kondisi kapal tanker dan sistem inventory
management, maka dapat disimpulkan bahwa masalah utama yang menyebabkan
kondisi depot krisis dan kritis adalah berawal dari pola sistem distribusi yang tidak teratur. Proyek akhir ini bertujuan untuk meyelesaikan masalah tersebut yang diharapkan membuat sistim distrubusi menjadi efektif dan efisien. Salah satu perbaikan sitem distribusi ini adalah dengan memastikan sumber pasokan suatu depot penyalur dari titik supply terdekatnya dan kepastian rute suatu kapal tanker.
2.4 Gambaran Umum dan Karakteristik Demand Envelope
Gambar 2.3 Pembagian Daerah Berdasarkan Konsep Envelope Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
BITUN KRUENG RAYA LHOK SEUMAWE UP. I - PKL. BRANDAN LAB. DELI UP. II - DUMAI SIAK MEULABOH SIBOLGA G. SITOLI TT. TLK. KABUNG BENGKULU JAMBI PANJANG UP. III - PLAJU
P. NATUNA P. BATAM SEMARANG SURABAYA CAMPLONG MENENG TT. TLK MANGGIS AMPENAN BIMA BADUNG REO ENDE WAINGAPU MAUMERE L. TUKA KALABAHI ATAPUPU DILI KUPANG SAUMLAKI DOBO TUAL FAK - FAK NABIRE MERAUKE JAYAPURA BIAK SERUI MANOKWARI SORONG BULA MASOHI NAMLEA SANANA PABUHA UP. IV CILACAP PONTIANAK SINTANG SAMPIT CILIK RIWUT PKL.BUN P. PISANG BANJARMASIN BALIKPAPAN SAMARINDA TARAKAN TOLI - TOLI MOUTONG DONGGALA PARIGI POSO GORONTALO KOLONDALE PALOPO TAHUNA KOTA BARU PARE - PARE TJ.UBAN TT. TG. GEREM/MERAK BONTANG PLUMPANG LUWUK KENDARI KOLEKA RAHA BAU -BAU UJ. PANDANG SUBUNG TT. WAY AME TOBELO TERNATE BANGGAI T. SEMANGKA SINGAPORE P. SAMBU STS KOTA BARU STS KALBUT ENVEPOPE 1 ENVEPOPE 2 ENVEPOPE 3 ENVEPOPE 4 ENVEPOPE 5 KAIMANA
Indonesia terbagi dalam 5 daerah envelope, pembagian ini dibuat berdasarkan konsep klasterisasi (clusterisasi) yang telah di jelaskan pada sub bab 2.4. Envelope 1 meliputi wilayah Kalimantan Barat, Natuna dan Sumatera. Envelope 2 meliputi wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Bengkulu dan Lampung. Envelope 3 meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan NTT. Envelope 4 meliputi wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Envelope 5 meliputi daerah Irian Jaya dan Kepulauan Maluku.
AGREGAT RATA-RATA DEMAND PERBULAN DARI 2005-2007 7.0% 7.5% 8.0% 8.5% 9.0% 9.5% JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NO V DE C
Premium Kerosene Solar
Gambar 2.4 Grafik Agregat Demand Rata-Rata Bulanan Sumber: Hasil Pengolahan
Produk premium, kerosene dan solar (PKS) merupakan produk utama yang dipasarkan dan distribusikan oleh PT PERTAMINA (Persero), kolaborasi ketiga produk ini mempunyai proporsi sekitar 70% dari produk yang dipasarkan. Berdasarkan
objective thruput dari tahun 2005 sampai 2007, dapat dilihat adanya peningkatan demand pada pertengahan tahun sekitar bulan Juni dan Juli, diikuti dengan peningkatan
yang cukup besar di akhir tahun sekitar bulan Oktober dan November. Peningkatan pada pertengahan tahun berhubungan dengan jadwal kegiatan libur panjang kegiatan akademik, sehingga untuk mengisi liburan biasanya keluarga melakukan rekreasi keluar kota dan belanja baik untuk liburan maupun untuk persiapan semester berikutnya, selain alasan tersebut pada pertengahan tahun juga terjadi persiapan beberapa sektor industri dalam menghadapai liburan akhir tahun yang bertepatan dengan hari besar keagamaan yaitu Idul Fitri dan Natal. Kebutuhan premium dan solar yang meningkat pesat pada
bulan September sampai dengan Januari ini menunjukan volume dan intensitas kegiatan yang sangat besar pada sesi akhir tahun yang diawali dari bulan September.
Berdasarkan prosentase kebutuhan BBM di Indonesia, envelope 2 mempunyai
demand terbesar sebanyak 39%, diikuti oleh envelope 1 sebanyak 26%, kemudian envelope 3 sebesar 18%, envelope 4 sebesar 14% dan terakhir envelope 5 sebesar 3%.
Perbedaan prosentase konsumsi BBM antar envelope yang cukup besar ini mencerminkan pertumbuhan perekonomian Indonesia lebih berpusat di Pulau Jawa dan Sumatera (Indonesia Barat). Wilayah envelope 4 dan 5 atau wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya (Indonesia Timur) merupakan daerah yang perkembanganya cenderung lambat. Ketidakseimbangan atau ketimpangan pembangunan di Indonesia ini juga dapat terlihat di envelope 4 bagian utara, dimana letak lokasi depot-depot penyalur yang sangat berdekatan dan disertai dengan demand yang jumlahnya tidak terlalu besar. Depot-depot ini dibuat berdasarkan pertimbangan kurangnya sarana dan prasarana transportasi di daerah tersebut.
DEM AND BBM PER-ENVELOPE RATA-RATA NASIONAL OKT - DES 2007
ENVELOPE 2, 1,565,161, 39% ENVELOPE 3, 719,265, 18% ENVELOPE 5, 117,834, 3% ENVELOPE 1, 1,041,546 , 26% ENVELOPE 4, 575,640, 14%
Gambar 2.5 Grafik Demand BBM per-Envelope Rata-rata Nasional Oktober sampai Desember 2007
Berdasarkan klasifikasi jenis produk BBM yang paling banyak dikonsumsi, maka produk solar dan premium merupakan produk utama yang dikonsumsi masyarakat dengan jumlah prosentase yang cukup besar yaitu 42% (1.691,660 KL) untuk solar dan 38% (1.532,033 KL) untuk premium, sedangkan untuk kerosene hanya sebesar 20% (795,754 KL), walaupun demikian jumlah demand yang besar dari ketiga produk ini tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh kilang-kilang di dalam negeri karena kapasitas produksi yang terbatas, sehingga diperlukan tambahan BBM import untuk memenuhi defisit permintaan. Kegiatan import BBM biasanya dikirim dari Singapore, mengacu pada data realisasi kilang dan import tahun 2006 yang terdapat pada Table 1.1, maka produk solar adalah produk yang paling banyak mendapatkan subsidi import, jumlah subsidinya mencapai 41% dari kebutuhan solar nasional, premium menempati urutan kedua dengan subsidi import sebesar 39%, sedangkan kerosene mendapatkan subsisdi import sebesar 8%.
Konsumsi premium, kerosene dan solar di masing-masing envelope memiliki karakteristik yang berbeda. Produk premium merupakan konsumsi utama di envelope 2 dan 3 (Pulau Jawa dan Bali), sedangkan solar merupakan konsumsi utama untuk
envelope 1, 4 dan 5. Besarnya volume demand premium di envelope 2 dan 3, sebanding
dengan percepatan laju pertambahan penduduk dan jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di daerah tersebut. Prioritas produk solar di envelope 1, 4 dan 5 menunjukan ramainya kegiatan industri, terutama industri pertambangan dan eksplorasi.
DEMAND PRODUK BBM RATA2 NASIONAL OKT - DES 2007 Premium, 1,532,033 , 38% Kerosine, 795,754 , 20% Solar, 1,691,660 , 42%
Gambar 2.6 Grafik Demand BBM Produk Nasional Oktober sampai Desember 2007 Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Kegiatan import BBM ini sebetulnya sangat menghawatirkan, jika dilihat dari sudut pandang kemandirian suatu bangsa, karena kelangsungan ketersediaan supply BBM Indonesia bergantungan pada bangsa lain. Mengingat cukup banyaknya perusahaan-perusahaan minyak internasional dan multinasional yang melakukan kegiatan eksplorasi secara besar-besaran di Indonesia. Masalah ini tidak dapat diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan, seperti yang disuarakan oleh para aktivis mahasiswa dan masyarakat yang sering kita dengar sekarang ini, masalah ini seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua dan pihak PT PERTAMINA (Persero) pada khususnya. Mungkin salah solusi yang terdekat adalah dengan mengurangi penggunaan BBM untuk konsumsi pribadi.
2.5 Moda Distribusi Kapal Tanker
Indonesia adalah negara kepulauan maka dari itu sangat wajar jika moda distribusi laut dengan kapal tanker adalah moda utama dalam pendistribusian BBM di Indonesia. Moda distribusi dengan menggunakan kapal selain murah juga mempunyai daya angkut yang besar, kelemahan moda distribusi ini adalah lambat dan sering terjadi permasalahan ketika akan melakukan loading atau unloading.
Tabel 2.1 Perbandingan Moda Distribusi Laut, Pipa dan RTW
SEA PIPE RTW JML DEPOT
Envelope 1 19 2 6 27 Envelope 2 5 8 4 17 Envelope 3 17 0 2 19 Envelope 4 26 1 0 27 Envelope 5 21 0 0 21 SUM 88 11 12 111
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Dari 111 depot yang diteliti, pendistribusian BBM dengan menggunakan kapal tanker mempunyai prosentase sekitar 79% (88 seafed depot), sedangkan pipa dan RTW (Rail Tank Wagon) mempunyai prosentase yang hampir sama yaitu 10% dan 11%.
Envelope 2 merupakan wilayah yang lebih banyak menggunakan moda distribusi pipa
jika dibandingkan dengan envelope lainnya, hal ini dilakukan karena demand inland depot-depot di wilayah ini jumlahnya besar dan memerlukan kontinuitas yang tinggi. Penggunaan moda distribusi pipa di envelope lain biasanya dilakukan dari kilang ke depot kilang. Depot kilang ini selain berfungsi sebagai depot penyalur di daerah
pemasarannya, juga berfungsi sebagai tanki timbun kilang sebelum produk didistribusikan ke depot-depot penyalur lain.
Kapal tanker yang digunakan oleh PT PERTAMINA (Persero) berjumlah 100 kapal yang terdiri dari 13 kapal tipe MR (Medium Range), 11 kapal tipe GP (General
Purpose), 14 kapal tipe SMALL II, 28 kapal tipe SMALL I dan 34 LIGHTER. Tetapi
berdasarkan data yang diperoleh oleh penulis pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2007 tercatat 118 kapal tanker yang beroperasi di Indonesia, terdiri dari 8 kapal tipe MR (Medium Range), 22 kapal tipe GP (General Purpose), 22 kapal tipe SMALL II, 50 kapal tipe SMALL I dan 16 LIGHTER.
Untuk memudahkan analisis dan penentuan solusi maka penulis menggunakan data Oktober sampai Desember 2007, langkah tersebut diambil dengan alasan lebih mendekati kondisi realisasi di lapangan. Pembagian jenis kapal dilakukan berdasarkan jumlah volume produk yang dapat dibawa atau diangkut oleh satu kapal tanker seperti pada Tabel 2.2. dan diasumsikan semua kapal dapat mengangkut 3 jenis produk BBM.
Tabel 2.2 Pembagian Jenis Kapal Berdasarkan Daya Angkut
JENIS KAPAL DAYA ANGKUT
· Lighter < 1.250 dwt · Small tanker I < 3.500 dwt · Small tanker II < 6.500 dwt · General purpose I (GP I) < 16.500 dwt · General purpose ii (GP II) < 25.000 dwt · Medium range (MR) < 45.000 dwt · Large range I (LR I) < 80.000 dwt · Large range II (LR II) < 160.000 dwt · Very large carrying kargo (VLCC) < 250.000 dwt Keterangan: DWT: Death Weight Tonnage
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
2.6 Kondisi Eksisting Supply dan Distribusi PT PERTAMINA (Persero)
Kondisi eksisting supply dan distribusi PT PERTAMINA (Persero) pada dasarnya mengasumsikan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan satu wilayah distribusi atau satu wilayah envelope. Untuk mempermudah dan memperjelas analisis kondisi eksisting maka dibuat distribusi eksisting dengan menggunakan sub daerah pembagian envelope seperti yang dijelaskan pada pembahasan sub bab selanjutnya.
2.6.1 Supply dan Distribusi Envelope Satu (Sumatera - Kalimantan Barat)
Depot-depot yang termasuk di dalam envelope satu, merupakan depot-depot yang sebelumnya berada di bawah pengawasan UPMS 1,2 dan 6. Daerah envelope satu terdiri dari 28 titik observasi yang meliputi Kalimantan Barat, Kepulauan Natuna dan Pulau Sumatera, kecuali Bengkulu dan Lampung.
Envelope satu terdiri dari 19 depot penyalur, 2 depot utama (Depot Kertapati dan
Depot Pontianak), 3 terminal transit (TT Tanjung Uban, TT Pulau Sambu, TT Kabung/Bungus), 1 instalasi (Ins Belawan Medan), 1 jobber Tanjung Pandan (depot yang dikelola pihak ke-3), dan 2 kilang (Kilang Dumai dan Kilang Plaju). 19 depot penyalur yang dikelola oleh PT PERTAMINA (Persero) 6 buah depot diantaranya merupakan inland depot yang letaknya terpisah di utara dan selatan Sumatera, depot-depot darat tersebut yaitu: Depot Pematangsiantar, Depot Kisaran dan Depot Dumai di utara Sumatera, sedangkan di selatan Sumatera yaitu: Depot Lubuklinggau, Depot Lahat dan Depot Baturaja, ditambah dengan inland Depot Kertapati yang merupakan tanki timbun Kilang Plaju.
TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Jobber Depot Utama Inland Depot TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Jobber Depot Utama Inland Depot
Gambar 2.7 Lokasi Titik-titik Observasi Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Enam buah supply point di dalam envelope satu yaitu: Terminal Transit Kabung/Bungus, Terminal Transit Pulau Sambu, Terminal Transit Tanjung Uban, Instalasi Belawan Medan, Depot Pontianak, dan inland Depot Kertapati. Enam buah
supply point tersebut berfungsi sebagai tanki timbun (second tier) yang memasok
permintaan depot-depot penyalur (third tier) di envelope satu.
Berdasarkan data material balance yang diperoleh dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2008, dapat dianalisis bahwa demand yang dibutuhkan envelope satu adalah sebesar 1.041.546 KL per-bulan, jumlah ini memakan konsumsi sekitar 26% dari
demand BBM nasional. Demand 1.041.546 KL tersebut terdiri dari 329,773 Kl
premium (32%), kerosene 156,099 KL (15%) dan solar 555,674 KL (53%). Kebutuhan solar di envelope satu mempunyai prosentase yang paling besar. Besarnya kebutuhan solar di envelope satu menunjukan dominasi kebutuhan BBM di sektor industri yang diperkirakan akan masih terus meningkat.
Tabel 2.3 Daftar Depot, Rata-rata Demand, Daftar Kilang, Produksi Rata-rata Kilang dan Kapasitas Tanki Timbun Envelope Satu
P K S SUM P K S SUM
1 SF DEPOT LHOK SEUMAWE Aceh UPMS 1 10,238 6,064 8,138 24,440 4,822 4,332 7,833 16,987 2 SF DEPOT KRUENG RAYA Aceh UPMS 1 9,317 3,327 11,744 24,387 3,898 4,535 6,154 14,587 3 SF DEPOT MEULABOH Aceh UPMS 1 4,633 1,398 8,299 14,331 987 1,313 1,123 3,423 4 SF DEPOT SABANG Aceh UPMS 1 269 119 689 1,076 1,006 1,470 1,403 3,878 5 INS INST. - LABUAN DELI Sumatera Utara UPMS 1 70,996 47,622 80,559 199,177 27,338 24,525 35,857 87,719 6 INL DEPOT DUMAI Sumatera Utara UPMS 1 32,214 6,124 74,599 112,937 3,333 2,526 7,130 12,989 7 SF DEPOT SIBOLGA Sumatera Utara UPMS 1 9,089 6,282 11,524 26,896 1,950 6,637 6,101 14,688 8 INL DEPOT P.SIANTAR Sumatera Utara UPMS 1 5,205 0 3,650 8,856 922 1 1,041 1,964
9 INL DEPOT KISARAN Sumatera Utara UPMS 1 3,469 0 3,252 6,721 258 1 928 1,187
10 INL DEPOT PKL. BRANDAN Sumatera Utara UPMS 1 0 0 0 0 4,869 2,801 11,455 19,125 11 SF DEPOT GUNUNG SITOLI Sumatera Utara UPMS 1 1,403 950 2,451 4,803 1,027 2,245 932 4,204 12 TT T.T. TL KABUNG.BUNGUS Sumatera Barat UPMS 1 38,475 14,052 37,137 89,664 19,639 14,651 28,767 63,057 13 SF DEPOT SEI SIAK/P.BARU. Riau UPMS 1 23,531 9,208 31,780 64,519 1,788 1,962 5,041 8,790 14 SF DEPOT BATU AMPAR Riau UPMS 1 11,100 3,325 11,464 25,888 2,313 1,459 8,786 12,558 15 SF DEPOT NATUNA Riau UPMS 1 393 376 1,238 2,007 2,870 2,818 5,527 11,215 16 TT TANJUNG UBAN Sumatera Utara UPMS 1 6,204 3,099 66,370 75,673 10,356 17,840 74,078 102,274 17 TT PULAU SAMBU Riau UPMS 1 557 714 22,393 23,664 1,862 10,773 32,780 45,415 18 SF DEPOT TEMBILAHAN Riau UPMS 1 1,342 4,558 5,683 11,584 1,020 1,544 5,438 8,002 19 SF DEPOT JAMBI Riau UPMS 2 18,203 6,789 28,444 53,437 3,715 2,559 7,542 13,816 20 INL DEPOT KERTAPATI Sumatera Selatan UPMS 2 28,048 13,908 43,929 85,886 16,238 16,561 21,397 54,196 21 SF DEPOT PONTIANAK Kalimantan Barat UPMS 6 19,857 14,416 50,679 84,952 7,588 9,681 17,729 34,998 22 SF DEPOT SINTANG Kalimantan Barat UPMS 6 3,814 2,811 7,693 14,318 2,184 5,551 10,693 18,428 23 SF DEPOT PKL.BALAM Bangka Belitung UPMS 2 11,333 2,515 24,333 38,181 2,029 1,771 7,978 11,778 24 INL DEPOT BATURAJA Sumatera Selatan UPMS 2 5,744 3,306 4,590 13,640 721 625 1,198 2,544 25 INL DEPOT LUBUK LINGGAU Sumatera Selatan UPMS 2 4,251 2,341 3,974 10,566 462 758 927 2,147 26 INL DEPOT LAHAT Sumatera Selatan UPMS 2 7,482 1,914 5,452 14,847 704 813 1,202 2,719 27 P3 JOBBER/TG.PANDAN Sumatera Selatan UPMS 2 2,605 882 5,610 9,097 858 469 1,962 3,289 329,773 156,099 555,674 1,041,546 124,757 140,219 311,000 575,977
P K S SUM
1 KL KILANG P BRANDAN Aceh UPMS 1
2 KL KILANG DUMAI Sumatera Utara UPMS 1 99,799 94,849 181,234 375,882 3 KL KILANG PLAJU Sumatera Selatan UPMS 2 104,993 74,818 75,260 255,071
SOURCE
ENVELOPE REGION 1
Tanki Timbun P, K, S Mat Balance okt - des 08
PROV REG
DESTINATION
NO JL LOKASI
Kilang Dumai yang dikelola oleh Unit Pengolahan II (UP II) memproduksi 375,882 KL BBM per-bulan yang terdiri dari 99,799 KL premium, 94,849 KL kerosene, dan 181,234 KL solar, sedangkan Kilang Plaju yang terletak di sungai Musi dan dikelola oleh Unit Pengolahan III (UP III) memproduksi 255,071 KL BBM yang terdiri dari 104,993 KL premium, 74,818 KL kerosene, dan 75,260 KL solar. Jumlah komulatif kedua kilang ini hanya mencukupi 61% kebutuhan envelope satu, maka dari itu diperlukan supply tambahan dari sumber lain yang dapat memenuhi defisit permintaan. Untuk produk premium dan solar diperlukan tambahan import dari Singapore, sedangkan untuk kerosene sudah dapat dipenuhi oleh supply dari kedua kilang. Kilang Brandan yang berlokasi di Sumatera Utara dan dikelola oleh Unit Pengolahan I (UP I) sudah tidak produktif, sehingga pada tahun 2006 kilang ini ditutup, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Demand terbesar produk BBM (PKS) berturut-turut adalah Instalasi Belawan
Medan (199,177 KL), Depot Dumai (112,937 KL), TT. Kabung/Bungus (89,664 KL), Depot Kertapati (85,886 KL) dan Depot Pontianak (84,952 KL). Kelima depot ini mengkonsumsi sekitar 55% produk BBM di envelope satu.
Distribusi yang menggunakan moda RTW (Rail Tank Wagon) di Sumatera bagian utara adalah Depot Pematang Siantar dan Depot Kisaran yang dipasok dari Instalasi Belawan Medan, sedangkan Depot Lubuklinggau, Depot Lahat dan Depot Baturaja dipasok dari Depot Kertapati di Sumatera bagian selatan. Produk premium, kerosene dan solar di Depot Kertapati dikirim dengan pipa dari Kilang Plaju, begitu juga dengan Depot Dumai yang mendapat pasokan dari Kilang Dumai.
Depot Tanjung Uban merupakan tanki timbun utama dengan kapasitas timbun terbesar di Indonesia, tanki timbun ini berfungsi untuk menimbun produk BBM import dari Singapore. Penimbunan ini dilakukan dengan dua alasan, pertama disebabkan oleh ketidakpastian penjadwalan dari pelabuhan Singapore, karena antrian panjang ketika melakukan loading BBM, alasan kedua disebabkan oleh ongkos sewa kapal asing yang mahal. Sewa kapal asing ini dikenal dengan sistem CNF (Chartered and Freight). PT PERTAMINA (Persero) pada watu dekat akan mengubah sistem distribusi BBM import, yang semula menggunakan CNF menjadi FOB (Free on Board), atau dengan kata lain menggunakan kapal milik PT PERTAMINA (Persero) sendiri, tetapi perubahan ini masih terbentur oleh ketidak pastian penjadwalan di atas, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu sistem distribusi BBM di dalam negeri.
Berdasarkan data Oktober sampai Desmber 2008, tercatat 49 buah kapal tanker yang beroperasi diwilayah envelope satu, terdiri dari 3 buah kapal tipe MR, 6 buah kapal tipe GP, 8 buah kapal tipe SMALL II, 24 buah kapal tipe SMALL 1, dan 8 buah kapal tipe LIGHTER, daftar kapal dapat dilihat pada Table 2.4.
Tabel 2.4 Daftar Kapal, Volume dan Jenis Kapal Envelope Satu
NO SHIP NAME VOLUME JENIS NO SHIP NAME VOLUME JENIS
1 GANDARI 33000 MR 26 OB. JAMBORATA 2300 SMALL1
2 GANDINI 32000 MR 27 OB. TAISIR 2300 SMALL1
3 Sukses XI 32000 MR 28 Galuh Pusaka 2000 SMALL1
4 Fastron 18000 GP2 29 OB. SMS 1805 2000 SMALL1
5 Docomo 15000 GP1 30 PANCORAL 2000 SMALL1
6 Katomas 7900 GP1 31 WAREMBUNGAN 2000 SMALL1
7 Klasogun 7500 GP1 32 PRIMA TANKER 1800 SMALL1
8 Kerasak 7300 GP1 33 PUTERI DEWI 1800 SMALL1
9 BUMI INDONESIA 7000 GP1 34 PUTERI DUA 1800 SMALL1
10 LAJU PRAKARSA II 5300 SMALL2 35 SABRINA 1700 SMALL1
11 Calaguas 5200 SMALL2 36 TOWO ARYO 1600 SMALL1
12 KETALING 5000 SMALL2 37 TRIAKSA 15 1600 SMALL1
13 NAWA SAMUDRA 4000 SMALL2 38 BENUA RAYA V 1500 SMALL1
14 CAMAR MAS 3900 SMALL2 39 Krasak 1500 SMALL1
15 LAJU PRAKARSA IV 3900 SMALL2 40 KP BALI II 1500 SMALL1
16 KERTA DUA 3900 SMALL2 41 ANUGRAH PERDANA 17 1300 SMALL1
17 Melahin/P.36 3600 SMALL2 42 ANUGRAH PERDANA II 1100 LIGHT
18 OB. HC 230 NO. 1 3300 SMALL1 43 Lautan I 1100 LIGHT
19 OB.Putra Musi 3300 SMALL1 44 BONGAYA 02 1000 LIGHT
20 DASA SAMUDRA 3000 SMALL1 45 OB. HANDARA VIII 800 LIGHT
21 OB SENTANA 2800 SMALL1 46 TB.57 500 LIGHT
22 OB. SENTANA MULIA 2800 SMALL1 47 TB.96 500 LIGHT
23 CAMAR SAKTI 2600 SMALL1 48 TB.98 500 LIGHT
24 OB. OSCO PETRO VIII 2500 SMALL1 49 TB.99 500 LIGHT
25 TIRTA KARSA 2400 SMALL1
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Pasokan produk solar untuk daerah Instalasi Belawan, Pulau Sambu dan TT Kabung/Bungus diperoleh dari Kilang Balongan di Jawa Barat, sedangkan supply produk kerosene di TT Kabung/Bungus diperoleh dari Kilang Cilacap di Jawa Tengah. Pasokan premium di TT Kabung/Bungus diperoleh langsung dari Singapore. Instalasi Belawan Medan selain mendapat pasokan premium, keosine dan solar dari Kilang Dumai, masih ditambah dengan pasokan premium dari TT Tanjung Uban dan solar dari Kilang Balongan di Jawa Barat. Produk kerosene dari Kilang Dumai ditransfer ke Pulau Sambu dan TT Tanjung Uban untuk memenuhi kebutuhan lokal di daerah tersebut. Kebutuhan premium di TT Pulau Sambu dipasok dari TT Tanjung Uban.
SNG CILACAP BALONGAN TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS SNG CILACAP BALONGAN TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.8 Distribusi Supply PKS Eksisting Depot Utama Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.9 Distribusi Supply Premium Eksisting Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.10 Distribusi Supply Kerosene Eksisting Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.11 Distribusi Supply Solar Eksisting Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Depot Meulaboh mendapat pasokan premium, kerosene dan solar dari TT Kabung/Bungus ditambah pasokan produk premium dan solar dari Kilang Dumai. Tiga depot penyalur yang terdapat di daerah Aceh yaitu Depot Sabang, Depot Kruengraya dan Depot Lhokseumawe sebagian besar mendapat pasokan premium, kerosene dan solar dari Kilang Dumai, tetapi karena masih mengalami defisit maka demand premium, kerosene dan solar masih ditambah dari TT Tanjung Uban. Depot Siak mendapat supply premium, kerosene dan solar dari Kilang Dumai ditambah dengan supply premium dari TT Tanjung Uban. Depot Tembilahan mendapat 100% pasokan premium, kerosene dan solar dari Tanjung Uban. Depot Batam yang letaknya berdekatan dengan TT Tanjung Uban mendapat supply premium, kerosene dan solar dari TT Tanjung Uban ditambah dengan pasokan supply solar dari Kilang Dumai. Jambi mendapat supply premium, kerosene dan solar dari Kilang Plaju ditambah dengan pasokan solar dari TT Pulau Sambu. TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS TT, BUNGUS Meulaboh Kisaran Siak Lubuk Linggau Natuna Lahat Baturaja G Sitoli Sibolga Kruengraya Sabang Lhokseumawe MEDAN P. Siantar DUMAI Tembilahan Jambi Batam Uban & Sambu
Pkl Balam Tj Pandan Sintang Pontianak PLAJU Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.12 Distribusi Supply PKS Eksisting Envelope Satu Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Pangkalan Balam yang berlokasi di Kepulauan Bangka-Belitung mendapat pasokan premium, kerosene dan solar dari Kilang Plaju ditambah dengan pasokan premium dan solar dari TT Tanjung Gerem di Merak Banten dan pasokan premium dan
solar dari TT Pulau Sambu, Jobber Tanjung Pandan 100% di pasok dari Kilang Plaju. Selama bulan oktober 2007 tidak terdapat pemberangkatan produk kerosene ke Depot Natuna, depot ini hanya mendapat pasokan premium dan solar dari TT Tanjung Uban.
Depot Pontianak yang memiliki demand 84,952 KL dan menempati peringkat kelima terbesar di envelope satu, merupakan supply point untuk Depot Sintang yang berlokasi di dalam Pulau Kalimantan. Moda kapal yang dapat digunakan untuk rute Depot Pontianak-Depot Sintang hanya tipe LIGHTER saja, karena medan yang dilalui berupa sungai, sehingga tidak bisa menggunakan tipe kapal yang lebih besar. Depot Pontianak mendapat pasokan premium dan solar dari TT Tanjung Uban, pasokan premium dan kerosene dari Kilang Plaju dan pasokan solar dari TT Tanjung Gerem.
2.6.2 Supply dan Distribusi Envelope Dua (Jawa Barat - Jawa Tengah)
Envelope dua terdiri dari 20 titik observasi yang meliputi wilayah Bengkulu,
Lampung, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dua puluh titik observasi ini terbagi dari 13 depot penyalur, 1 buah instalasi (Ins Semarang), 2 buah terminal transit (TT Tanjung Gerem dan TT Lomanis), 1 buah tanki timbun (TT Balongan), 1 buah tangki timbun utama (TTU Balongan) dan 2 kilang (Kilang Cilacap dan Kilang Balongan). Kilang Balongan berlokasi di daerah Kuningan, Jawa Barat bagian utara, sedangkan Kilang Cilacap berlokasi di daerah selatan Jawa Tengah.
Empat supply point yang dikelola oleh PT PERTAMINA (Persero) merupakan tanki timbun yang berfungsi memasok demand daerah envelope dua dan envelope lainnya, 4 tanki timbun tersebut adalah TT Tanjung Gerem, Tanki Timbun Balongan, TTU (Tanki Timbun Utama) Balongan dan TT Lomanis. 13 depot penyalur yang berada dalam zona envelope dua, 10 depot diantaranya merupakan inland depot yang menggunakan dua jenis moda distribusi yang berbeda. Empat inland depot yaitu Depot Cepu, Depot Solo, Depot Madiun dan Depot Tegal menggunakan moda RTW (Rail
Tank Wagon) yang dipasok dari TT Lomanis dan 6 inland depot sisanya yaitu Depot
Padalarang, Depot Ujungberung, Depot Tasikmalaya, Depot Cilacap, Depot Maos dan Depot Rewulu menggunakan moda pipa yang ditransfer dari Kilang Cilacap. Tiga sea depot yang terdapat dalam envelope satu adalah Depot Plumpang, Depot Panjang dan Depot Bengkulu/P.Baai.
Tanki Timbun Balongan berfungsi untuk menimbun produk BBM yang dihasilkan oleh Kilang Balongan sebelum didistribusikan ke daerah lain, sedangkan TTU (Tanki Timbun Utama) Balongan berfungsi untuk menimbun BBM Import dari
Singapore, jika tangki timbun pada di depot-depot sekitar TTU Balongan sedang berada dalam kondisi full capacity. TTU Balongan pada dasarnya merupakan cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan BBM yang besar pada daerah Jawa dan sekitarnya.
TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK TT/TTU Balongan Semarang Cepu Madiun Bengkulu Panjang Tasikmalaya Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Depot Utama Inland Depot TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK TT/TTU Balongan Semarang Cepu Madiun Bengkulu Panjang Tasikmalaya Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Depot Utama Inland Depot
Gambar 2.13 Lokasi Titik-titik Observasi Envelope Dua Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Depot Plumpang merupakan depot penyalur untuk daerah JABOTABEK, maka tidaklah mengherankan jika depot ini mempunyai demand yang sangat besar. Demand Depot Plumpang adalah yang terbesar di Indonesia, depot ini selain dipasok dari Kilang Balongan dengan menggunakan pipa, juga ditambah dengan pasokan dengan moda kapal tanker dari Kilang Cilacap dan Singapore. Depot-depot yang termasuk di dalam
envelope dua, merupakan depot-depot yang sebelumnya berada di bawah pengawasan
UPMS 2, 3, 4 dan 5, jumlah penggabungan UPMS ini adalah yang terbanyak dibandingkan dengan envelope lainnya.
Moda distribusi laut dan darat mempunyai proporsi yang hampir seimbang di wilayah envelope dua, hal ini dapat terjadi karena jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di wilayah ini sangat besar. Besarnya jumlah kendaraan bermotor di wilayah
Umum) yang banyak dan padat. Inland depot mempunyai karakteristik demand premium yang lebih besar dibandingkan produk solar dan kerosene. Kebutuhan BBM total envelope dua berkisar 1,5 juta KL perbulannya.
Berdasarkan data material balance yang diperoleh dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2008, dapat dilihat demand yang dibutuhkan envelope dua adalah sebesar 1.565.161 KL per-bulan, jumlah ini mempunyai proporsi sekitar 39% dari aggregat demand nasional, jumlah ini besarnya 2 kali lebih besar dari demand yang dibutuhkan oleh envelope tiga. Demand BBM envelope dua merupakan demand terbesar di Indonesia, terutama produk premium. Demand sebesar 1.565.161 KL tersebut terdiri dari 721.804 KL premium (46%), kerosene 364,415 KL (23%) dan solar 478,943 KL (31%).
Tabel 2.5 Daftar Depot, Rata-rata Demand, Daftar Kilang, Produksi Rata-rata Kilang dan Kapasitas Tanki Timbun Envelope Dua
P K S SUM P K S SUM
1 SF DEPOT PANJANG Lampung UPMS 2 41,127 19,786 49,667 110,580 10,896 9,716 27,886 48,498
2 SF DEPOT P.BAAI/BENGKULU Bengkulu UPMS 2 10,220 3,346 9,017 22,583 3,315 3,866 8,716 15,896
3 TT T.T. TG.GEREM Banten UPMS 3 24,455 13,114 35,281 72,849 12,841 10,214 27,750 50,805
4 TT TT. BALONGAN Jawa Barat UPMS 3 0 0 6,255 6,255 69,800 32,280 54,228 156,308
5 SF DEPOT PLUMPANG DKI Jakarta UPMS 3 307,167 117,121 201,695 625,983 65,575 50,540 83,203 199,318 6 INL DEPOT PADALARANG Jawa Barat UPMS 3 40,717 30,457 15,270 86,444 15,211 12,948 20,683 48,842 7 INL DEPOT UJUNGBERUNG Jawa Barat UPMS 3 43,747 34,212 20,342 98,301 28,820 31,376 26,409 86,604 8 INL DEPOT TASIKMALAYA Jawa Barat UPMS 3 18,611 17,154 10,051 45,816 13,523 21,475 7,829 42,827
9 TT T.T.LOMANIS Jawa Tengah UPMS 4 322 310 0 632 36,842 62,010 60,401 159,254
10 INS INST.SEMARANG Jawa Tengah UPMS 4 57,008 34,492 38,185 129,685 17,112 17,967 17,012 52,092 11 INL DEPOT REWULU Jogjakarta UPMS 4 78,806 36,805 39,199 154,811 21,422 26,601 27,911 75,934
12 INL DEPOT CILACAP Jawa Tengah UPMS 4 0 0 555 555 1 1 636 638
13 INL DEPOT MAOS Jawa Tengah UPMS 4 29,345 20,229 17,805 67,379 5,866 11,602 13,917 31,385
14 INL DEPOT TEGAL Jawa Tengah UPMS 4 20,751 15,085 18,338 54,174 1,203 825 1,080 3,108
15 INL DEPOT SOLO Jawa Tengah UPMS 4 17,723 0 0 17,723 3,515 0 0 3,515
16 INL DEPOT CEPU Jawa Tengah UPMS 4 12,890 8,539 8,674 30,103 178 2,083 1,805 4,066
17 INL DEPOT MADIUN Jawa Timur UPMS 5 18,917 13,765 8,608 41,290 3,107 2,178 2,214 7,499
721,804 364,415 478,943 1,565,161 309,227 295,681 381,680 986,589
P K S SUM
1 KILANG P BALONGAN Jawa Barat 253,923 61,745 149,142 464,810
2 KILANG P CILACAP Jawa Tengah 404,814 295,825 319,961 1,020,600
SOURCE
ENVELOPE REGION 2
Tanki Timbun P, K, S Mat Balance okt - des 08
PROV REG
DESTINATION
NO JL LOKASI
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Kilang Cilacap yang dikelola oleh Unit Pengolahan IV (UP IV) mempunyai peran yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan demand di envelope dua, jumlah produksi di Kilang Cilacap sebesar 1.020.600 KL, yang terdiri dari 404, 814 KL premium, 295,825 KL kerosene dan 319,961 KL solar. Jumlah produksi Kilang Cilacap ini tidak sebanding dengan produksi Kilang Balongan yang hanya dapat memproduksi BBM total sekitar 464,810 KL per-bulan. Walaupun demikian jumlah produksi kedua kilang ini tetap tidak dapat memenuhi demand yang dibutuhkan oleh envelope dua yang
berjumlah sekitar 1,5 juta KL perbulan, maka berdasarkan perhitungan masih dibutuhkan tambahan BBM sekitar 80.000 KL untuk dapat memenuhi demand daerah ini, Kilang Balongan Dikelola oleh Unit Pengolahan VI (UP VI).
Demand terbesar produk BBM (PKS) berturut-turut adalah Depot Plumpang
(625,983 KL), Depot Rewulu (154,811 KL), Ins Semarang (129,685 KL), Depot Panjang (110,580 KL) dan Depot Ujungberung (98,301 KL). Kelima depot ini mengkonsumsi sekitar 72% produk BBM di envelope dua. Depot Plumpang adalah depot yang paling bermasalah selama ini, selain selalu kekurangan pasokan BBM, depot ini juga seringkali mengakibatkan pengiriman BBM ke daerah lain terhambat, karena dipakai untuk memenuhi demand yang besar di depot ini.
Demand Premium, Kerosine dan Solar Rata2 Envelope Dua per-tahun 2005-2007 0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 av 2005 av 2006 av 2007 PREMIUM KEROSINE SOLAR
Gambar 2.14 Grafik Demand Produk BBM Rata-rata Envelope Dua Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Berdasarkan data objective thruput dari tahun 2003 sampai 2007 terlihat bahwa terjadi peningkatan BBM yang cukup tajam pada tahun 2006 ke tahun 2007, dimana produk premium merupakan produk yang paling cepat pertumbuhannya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.14.
Envelope dua mempunyai kebutuhan produk kerosene yang cukup besar,
proporsi kebutuhan kerosene pada wilayah ini mencapai 24% dari jumlah total BBM yang dibutuhkan oleh daerah ini. Prosentase demand kerosene sebesar 24% tersebut dianggap cukup besar karena berada di atas prosentase envelope lain yang tidak lebih dari 20%, kecuali envelope tiga yang prosentasenya sama 24%. Hal ini menunjukan kebutuhan kerosene sebagai bahan bakar dapur rumah tangga mempunyai peranan yang
sangat vital. Melihat prosentase kebutuhannya yang cukup besar, maka tidak mengherankan jika konversi energi dari kerosene menjadi bahan bakar gas LPG (Liquid
Petroleum Gas) di daerah ini menimbulkan banyak masalah dan protes dari masyarakat,
apalagi ketika konversi ini dilakukan tidak terlihat adanya persiapan yang baik dalam pendistribusian gas, terutama gas 15 kg yang sempat hilang di pasaran.
Data yang tercatat pada bulan Oktober 2008 terdapat 10 kapal tanker yang beroperasi diwilayah ini, terdiri dari 1 kapal tipe MR, 6 kapal tipe GP, 2 kapal tipe SMALL 1, dan 1 kapal tipe LIGHTER. Kapal-kapal yang terdapat pada envelope dua sebagian besar memakai pola point-to-point dalam mendistribusikan BBM, karena volume produk yang dibawa dan kapasitas tampung depot relatif besar. Daftar kapal dapat dilihat pada Table 2.6.
Tabel 2.6 Daftar Kapal, Volume dan Jenis Kapal Envelope Dua
NO SHIP NAME VOLUME JENIS
1 Brour Arthur 29000 MR 2 SINAR EMAS 21969 GP2 3 GRIYA ASMAT 20400 GP2 4 PROVIDENCE 20400 GP2 5 KIRANA PRATAMA 15000 GP1 6 PRABUMENANG KADEPE 14600 GP1 7 MT PALU SIPAT 13200 GP1 8 SANDIKA 1300 SMALL1 9 Pandan 1300 SMALL1
10 DUTA SELATAN 1200 LIGHT
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
BBM Import dipasok ke TT Tanjung Gerem, Depot Plumpang, Tangki Timbun Utama Balongan dan Ins Semarang. Sebagian besar produk yang dipasok adalah produk premium. Depot Bengkulu selain mendapat pasokan premium dan solar dari TT Tanjung Gerem juga mendapat pasokan kerosene dan solar dari TT Kabung, Kilang Plaju yang terletak di Sungai Musi ikut memasok kebutuhan kerosene Depot Bengkulu. TT Tanjung Gerem memasok kebutuhan premium dan solar ke Depot Pangkalan Balam.
SNG TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK TT/TTU Balongan Semarang Cepu Madiun Bengkulu Panjang Tasikmalaya Premium Solar Kerosine PKS SNG TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK TT/TTU Balongan Semarang Cepu Madiun Bengkulu Panjang Tasikmalaya Premium Solar Kerosine PKS
Gambar 2.15 Distribusi Supply PKS Eksisting Depot Utama Envelope Dua Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK Semarang Cepu Madiun Panjang Tasikmalaya Bengkulu Premium Solar Kerosine PKS TT KABUNG
PKL BALAM MEDAN , POTIANAK
TJ MANGGIS TJ.GEREM Rewulu Maos Ujung Berung Padalarang Solo Tegal TJ PRIOK Semarang Cepu Madiun Panjang Tasikmalaya Bengkulu Premium Solar Kerosine PKS TT KABUNG
PKL BALAM MEDAN , POTIANAK
TJ MANGGIS
Gambar 2.16 Distribusi Supply PKS Eksisting Envelope Dua Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Kilang Balongan selain memenuhi kebutuhan envelope satu juga memasok Instalasi Belawan Medan, Depot Kabung/Bungus dan Depot Pontianak yang ketiganya termasuk dalam areal envelope satu. Kilang Cilacap mempunyai peranan yang sangat vital pada daerah ini karena kilang ini memberikan supply hampir seluruh depot yang ada di envelope dua, terutama inland depot yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Selain memenuhi kebutuhan di dalam envelope dua, Kilang Cilacap mendistribusikan solar dan premium ke TT Manggis yang terletak di Pulau Dewata Bali.
2.6.3 Supply dan Distribusi Envelope Tiga (Jawa Timur - Bali - Lombok - Sumbawa - NTT)
Envelope tiga terdiri dari 20 titik observasi yang meliputi wilayah Jawa Timur,
Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan NTT. Kedua puluh titik observasi tersebut terbagi dalam 13 buah seafed depot penyalur, 2 buah inland depot penyalur (Depot Kediri dan Depot Malang), 2 buah depot utama (Depot Tanjungwangi dan Depot Kupang), 1 buah terminal transit (TT Manggis), 1 buah instalasi (Ins Surabaya), dan 1 buah ship to ship (STS Kalbut).
Manggis Ampenan Badas Bima Reo Maumere Larantuka Kalabahi Atapupu Dilli Camplong Tj.Wangi STS KALBUT SBY Waingapu Ende Kediri Malang Kupang Kilang Depot Penyalur Depot Utama Inland Depot Benoa Manggis Ampenan Badas Bima Reo Maumere Larantuka Kalabahi Atapupu Dilli Camplong Tj.Wangi STS KALBUT SBY Waingapu Ende Kediri Malang Kupang Kilang Depot Penyalur Depot Utama Inland Depot Benoa
Gambar 2.17 Lokasi Titik-titik Observasi Envelope Tiga Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Lima supply point yang dikelola oleh PT PERTAMINA (Persero) yaitu Depot Tanjungwangi, Depot Kupang, TT Manggis, Instalasi Surabaya, dan STS Kalbut, merupakan tanki timbun yang berfungsi sebagai sumber pasokan zona envelope tiga. Kelima tanki timbun ini sebagian besar berada di sekitar Jawa Timur dan Bali.
Depot-depot yang termasuk dalam zona envelope tiga, merupakan depot-depot yang sebelumnya berada di bawah pengawasan UPMS 5. Mayoritas moda yang digunakan dalam pendistribusian BBM dalam envelope ini adalah moda kapal tanker, hal ini menunjukkan bahwa distribusi laut mempunyai peranan yang sangat penting. STS Kalbut yang terletak di sekitar Pulau Madura adalah kapal tanker tipe VLCC (Very
Large Crude Carrier) yang dapat menampung volume 250.000 DWT. Kapal ini selain
menjadi sumber supply untuk envelope tiga juga digunakan untuk mentransfer BBM ke
envelope lain seperti envelope empat dan envelope lima.
Tabel 2.7 Daftar Depot, Rata-rata Demand, Daftar Kilang, Produksi Rata-rata Kilang dan Kapasitas Tanki Timbun Envelope Tiga
P K S SUM P K S SUM
1 TT T.T. MANGGIS Bali UPMS 5 43,871 11,200 49,590 104,662 35,513 26,485 48,363 110,361
2 INSTG.PERAK Jawa Timur UPMS 5 116,256 94,979 108,227 319,462 40,297 34,749 30,123 105,169
3 SF DEPOT TANJUNG WANGI Jawa Timur UPMS 5 23,622 17,765 39,806 81,192 12,107 16,549 15,896 44,552
4 SF DEPOT CAMPLONG Jawa Timur UPMS 5 11,768 7,326 6,051 25,145 7,412 10,986 8,130 26,527
5 SF DEPOT BENOA/SANGGARAN Bali UPMS 5 1,142 0 8,285 9,427 13,013 6,771 9,645 29,429
6 SF DEPOT AMPENAN NTB UPMS 5 13,803 9,610 14,928 38,341 6,932 5,892 8,830 21,653
7 SF DEPOT BADAS NTB UPMS 5 2,619 1,535 4,549 8,703 938 1,258 1,840 4,036
8 SF DEPOT BIMA NTB UPMS 5 2,735 1,525 4,522 8,782 558 683 1,520 2,761
9 SF DEPOT REO NTT UPMS 5 1,063 1,285 1,875 4,223 503 637 774 1,914
10 SF DEPOT MAUMERE NTT UPMS 5 1,092 715 1,374 3,181 1,118 1,095 2,192 4,405
11 SF DEPOT WAINGAPU NTT UPMS 5 1,310 665 1,542 3,517 1,048 1,092 2,185 4,325
12 SF DEPOT ENDE NTT UPMS 5 1,362 865 2,084 4,311 1,064 1,077 2,158 4,299
13 SF DEPOT TENAU KUPANG NTT UPMS 5 5,261 2,316 7,839 15,416 5,221 8,058 10,816 24,095
14 SF DEPOT ATAPUPU TIMOR LESTE UPMS 5 1,137 1,055 1,543 3,734 494 502 518 1,514
15 SF DEPOT DILLI TIMOR LESTE UPMS 5 942 2 1,211 2,156 1,097 253 1,938 3,288
16 SF DEPOT KALABAHI NTT UPMS 5 371 365 496 1,232 233 484 552 1,269
17 SF DEPOT LARANTUKA NTT UPMS 5 740 635 1,352 2,727 295 436 552 1,284
18 INL DEPOT KEDIRI Jawa Timur UPMS 5 25,291 9,068 12,894 47,253 1,809 748 1,291 3,848
19 INL DEPOT MALANG Jawa Timur UPMS 5 22,524 5,075 8,204 35,803 2,583 741 1,344 4,668
276,908 165,986 276,371 719,265 132,236 118,496 148,664 399,397
DESTINATION
NO JL LOKASI
ENVELOPE REGION 3
Tanki Timbun P, K, S Mat Balance okt - des 08
PROV REG
Sumber: Hasil Pengolahan
Berdasarkan data material balance yang diperoleh dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2008, dapat dilihat demand BBM envelope tiga adalah sebesar 719,265 KL per-bulan, jumlah ini mempunyai proporsi sekitar 18% dari aggregat
demand nasional. Demand sebesar 719,265 KL tersebut terdiri dari 276.908 KL
premium (38%), kerosene 165,986 KL (23%) dan solar 276,371 KL (38%). Jika melihat kebutuhan solar dan premium yang hampir sama pada envelope tiga, maka
dapat disimpulkan bahwa jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi sebanding dengan laju perkembangan industri dalam wilayah ini. Kebutuhan premium sebagian besar dikonsumsi oleh daerah Jawa Timur dan Bali.
Demand terbesar produk BBM (PKS) berturut-turut adalah Instalasi Surabaya
(319,462 KL), TT Manggis (104,662 KL), Depot Tanjungwangi (81,192 KL), Depot Kediri (47,253 KL) dan Depot Ampenan (38,341 KL). Kelima depot ini mengkonsumsi sekitar 82% produk BBM envelope tiga. Karakteristik demand premium yang lebih besar dibandingkan kerosene dan solar dapat dilihat pada inland Depot Malang dan Kediri, besarnya konsumsi premium tersebut menunjukkan volume dan intensitas kendaraan bermotor yang cukup besar disekitar daerah Jawa Timur.
Envelope tiga mempunyai kebutuhan produk kerosene yang cukup besar,
proporsi kebutuhan kerosene pada wilayah ini mencapai 24% dari jumlah total BBM yang dibutuhkan. Kebutuhan kerosene di envelope tiga sebanding dengan kebutuhan kerosene di envelope dua. Demand sebesar 24% tersebut dianggap cukup besar karena berada di atas rata-rata envelope lain yang tidak lebih dari 20%. Sebaian besar kebutuhan kerosene dikonsumsi oleh daerah Jawa Timur.
Data yang tercatat pada bulan Oktober 2008, terdapat 11 kapal tanker yang beroperasi diwilayah ini, terdiri dari 2 buah kapal tipe MR, 3 buah kapal tipe GP, 3 buah kapal tipe SMALL II, dan 3 buah kapal tipe SMALL 1. Daftar kapal dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Daftar Kapal, Volume dan Jenis Kapal Envelope Tiga
NO SHIP NAME VOLUME JENIS
1 Serang Jaya/P.3011 33000 MR
2 Sindang/P.3010 33000 MR
3 OCEAN MERLIN 13500 GP1
4 Sengeti/P.3007 12000 GP1
5 O N T A R I 10000 GP1
6 ANDHIKA ASHURA 6000 SMALL2
7 Kurau/P.59 6000 SMALL2
8 Mundu 4000 SMALL2
9 PUTERI JELITA 2800 SMALL1
10 PELUMIN SATU 2300 SMALL1
11 PUTERI TIGA 1,705 SMALL1
Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Pasokan BBM envelope tiga sebagian besar diperoleh dari sumber import, produk import ini bisa didatangkan langsung dari Singapore atau melalui TT Tanjung Uban atau Tanki Timbun Utama Balongan terlebih dahulu. Pasokan BBM lokal
envelope tiga berasal dari Kilang Balikpapan yang tidak didistribusikan ke daerah
Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Depot Utama Kupang mendapat 100% pasokan premium, kerosene, solar dari Kilang Balikpapan, supply ini cukup memenuhi demand yang dibutuhkan oleh wilayah sub area Kupang yang menangani 8 depot di wilayah timur envelope tiga, walaupun demikian untuk Depot Reo dan Maumere masih mendapat pasokan premium dari Instalasi Surabaya dan solar dari TT Manggis. TT Manggis mendapat supply dari empat sumber yang berbeda yaitu Kilang Balikpapan (kerosene dan solar), STS Kalbut (solar), Kilang Cilacap (solar dan premium) dan Import dari Singapore (premium). Instalasi Surabaya tidak mendapat pasokan solar langsung dari import tetapi melewati STS Kalbut terlebih dahulu, hal ini terjadi karena tangki timbun di Instalasi Surabaya tidak cukup untuk menampung persediaan yang dibutuhkan.
SNG
CILACAP
BALIKPAPAN PremiumSolar
Kerosine PKS
Manggis
SNG
CILACAP
BALIKPAPAN PremiumSolar
Kerosine PKS
Manggis
Gambar 2.18 Distribusi Supply PKS Eksisting Depot Utama Envelope Tiga Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Kapal tipe besar melayani kebutuhan BBM untuk depot-depot besar dan pola distribusi yang dipakai adalah point-to-point, sedangkan kapal tipe kecil dipakai untuk melayani depot-depot penyalur yang lebih kecil dan menggunakan pola campuran antara point-to-point dan multy-port. Depot Ampenan, Depot Badas, Depot Bima selain
mendapat pasokan premium, kerosene dan solar dari TT Manggis, juga mendapat pasokan solar dari STS Kalbut dan premium dari Instalasi Surabaya, khusus Depot Badas yang berlokasi disekitar Pulau Lombok mendapat tambahan pasokan kerosene dari Depot Tanjungwangi. Depot Atapupu, Depot Dilli, Depot Kalabahi, Depot Larantuka, Depot Ende dan Depot Waingapu mendapat pasukan BBM 100% dari Depot Utama Kupang. Depot Camplong mendapat pasokan premium dari Instalasi Surabaya, pasokan kerosene dari Depot Tanjungwangi, dan pasokan kerosene, solar dari STS Kalbut.
Depot Tanjungwangi dan STS Kalbut selain memasok BBM wilayah envelope tiga, juga mentransfer produk solar ke Depot Utama Kotabaru, Instalasi Makassar di
envelope empat dan Terminal Transit Wayame di envelope lima.
Ampenan
Badas Bima Reo
Maumere Larantuka Kalabahi Atapupu Dilli Tj.Wangi STS KALBUT SBY Waingapu Ende Premium Solar Kerosine PKS Makassar WAYAME Kotabaru Manggis CILACAP Ampenan
Badas Bima Reo
Maumere Larantuka Kalabahi Atapupu Dilli Tj.Wangi STS KALBUT SBY Waingapu Ende Premium Solar Kerosine PKS Makassar WAYAME Kotabaru Manggis CILACAP
Gambar 2.19 Distribusi Supply PKS Eksisting Envelope Tiga Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
2.6.4 Supply dan Distribusi Envelope Empat (Kalimantan - Sulawesi)
Envelope empat terdiri dari 29 titik observasi yang meliputi wilayah Sulawesi
dan Kalimantan, kecuali Kalimantan Barat yang masuk dalam areal envelope satu. Dua puluh sembilan titik observasi tersebut terdiri dari 24 buah depot penyalur, 2 buah depot
utama (Depot Kotabaru dan Depot Bitung), 1 buah kilang (Kilang Balikpapan), 1 buah
ship to ship transfer (STS Kotabaru), dan 1 buah instalasi (Ins Makassar).
Depot-depot yang termasuk di dalam zona envelope empat, merupakan depot-depot yang sebelumnya berada dalam pengawasan UPMS 6 dan 7. Depot-depot-depot ini hampir seluruhnya merupakan seafed depot, kecuali Depot Balikpapan yang menggunakan moda distribusi pipa dan ditransfer langsung dari Kilang Balikpapan.
Envelope empat merupakan zona envelope yang memiliki jumlah depot terbanyak dan
terumit yang kemudian diikuti oleh envelope satu dengan 28 titik observasi.
Pkl.Bun P. Pisau Kotabaru Tarakan Tahuna Bitung Gorontalo Parigi Banggai Luwuk Ampana Poso Bau Bau Raha Kolaka Palopo Sampit Samarinda Donggala Pare-pare Makassar Labuha Ternate Tobelo Kendari Bima Reo STS KOTABARU BALIKAPAPAN Toli Toli Kolonedale Moutong Banjarmasin Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Jobber Pkl.Bun P. Pisau Kotabaru Tarakan Tahuna Bitung Gorontalo Parigi Banggai Luwuk Ampana Poso Bau Bau Raha Kolaka Palopo Sampit Samarinda Donggala Pare-pare Makassar Labuha Ternate Tobelo Kendari Bima Reo STS KOTABARU BALIKAPAPAN Toli Toli Kolonedale Moutong Banjarmasin Kilang Ins Kilang Depot Penyalur Jobber
Gambar 2.20 Lokasi Titik-titik Observasi Envelope Empat Sumber: PT PERTAMINA (Persero), 2007
Depot Bitung di wilayah Sulawesi Utara, Depot Kotabaru di wilayah Kalimantan Selatan dan Instalasi Makassar di wilayah Sulawesi Selatan berfungsi sebagai supply point dan sekaligus sebagai tanki timbun di daerah sub region masing-masing. STS Kotabaru yang beroperasi di sekitar perairan selatan Pulau Kalimantan, mempunyai kapasitas tampung sekitar 80.000 KL (kapal tipe LR) yang seluruhnya diisi dengan produk solar.
STS Kotabaru digunakan untuk mengatasi demand produk solar di Depot Sampit, Depot Pulau Pisau, Depot Pangkalan Bun, Depot Banjarmasin dan Depot Kotabaru. Karena medan yang harus dilalui berupa sungai, maka moda kapal tanker yang dapat digunakan hanya tipe SMALL 1 atau LIGHTER saja. Lokasi STS Kotabaru bisa berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan sumber supply dan demand.
Lokasi depot-depot yang letaknya berdekatan di sekitar Sulawesi bagian utara dibuat dengan alasan tidak tersedianya sarana dan prasarana transportasi pada masa lalu. Beberapa tahun kedepan PT PERTAMINA (Persero) berencana untuk menutup depot-depot yang kurang efektif dikarenakan sarana dan prasarana transportasi di daerah tersebut sudah cukup memadai. Walaupun demikian penutupan depot ini memerlukan pertimbangan dari banyak faktor, karena penutupan depot akan menimbulkan dampak sosial yang cukup besar.
Berdasarkan data material balance yang diperoleh dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2008, demand BBM yang dibutuhkan envelope empat adalah sebesar 575,640 KL per-bulan, jumlah ini memakan konsumsi sebesar 14% dari demand nasional. Kebutuhan BBM sebesar 575,640 KL tersebut terdiri dari 176.620 KL premium (31%), kerosene 91,132 KL (16%) dan solar 307,888 KL (53%). Konsumsi solar yang cukup besar pada zona envelope empat menunjukkan bahwa daerah tersebut sedang mengalami perkembangan industri yang cukup pesat, terutama industri tambang dan eksplorasi.
Kilang Balikpapan yang dikelola oleh UP V (Unit Pengolahan V) memproduksi 866,391 KL BBM per-bulan yang terdiri dari premium 244,224 KL, kerosene 212,742 KL dan solar 409,425 Kl. Produksi Kilang Balikpapan sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan demand di envelope empat. Untuk memperjelas kebutuhan
demand dan kapasitas tanki timbun di masing-masing depot dapat dilihat pada Tabel
2.9.
Demand terbesar produk BBM (PKS) berturut-turut adalah Depot Banjarmasin
(82,522 KL), Instalasi Makassar (76.306 KL), Depot Samarinda (65,306 KL), Depot Balikpapan (54.954 KL) dan Depot Bitung (49,478 KL). Kelima depot ini mengkonsumsi sekitar 57% produk BBM di envelope lima.