PENYELIDIKAN GAYA BERAT DI DAERAH PANAS BUMI TAMBU, KABUPATEN
DONGGALA, PROPINSI SULAWESI TENGAH
Dendi Surya Kusuma1, Liliek R2., Asep Sugianto2
1
Kelompok Program Penelitian Panas Bumi, 2Kelompok Program Penelitian Bawah Permukaan
ABSTRAK
Penyelidikan gaya berat di daerah panas bumi Tambu terletak di wilayah Kecamatan Balaesang,
Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Dengan luas daerah penyelidikan sekitar (17 x 12) km2,
yang terletak pada posisi geografisantara 119o 50’ 46,06 ”– 119o 57’ 19,02 ”BT dan0o 02’ 15,57”LU
– 0o 06’ 57,29” LS atau 816.833 – 828.995 mT dan 9.987.172 – 10.004.168 mS pada sistim koordinat
UTM.
Manifestasi potensi panas bumi yang terdapat di daerah ini berupa kolam mata air panas dengan luas kolam 7 x 5 m dan terletak pada koordinat 821242 mT – 9996452 mS, mempunyai temperatur 57,4° C, debit ± 0,5 liter/detik dan pH 7,1 (netral).
Hasil penyelidikan Gaya Berat memperlihatkan sebaran anomali Bouguer Regional menunjukkan arah kelurusan yang pada umumnya berarah baratdaya – timurlaut, keadaan struktur yang nampak pada anomali Bouguer Regional ini merupakan struktur yang tegak lurus dengan struktur sesar utama dan keberadaannya sesuai dengan struktur geologi yang ada di daerah ini. Secara umum sebaran anomali
Bouguer Sisa memperlihatkan di bagian tengah daerah penyelidikan dimana manifestasi panas bumi
Tambu berada didominasi oleh kelurusan-kelurusan berarah baratdaya-timurlaut. Dari hasil pengamatan sebaran anomali Bouguer dan anomali Residual (Sisa) dapat diperkirakan keberadaan sumber panas (Heat Sources) yang nampak dan keberadaannya tidak jauh ( ± 3 Km ) dari manifestasi Tambu yaitu disekitar Kampung Baru atau sekitar titik amat RT-70. Dari hasil pengolahan model 2 Dimensi memperlihatkan struktur yang terlihat pada penampang A-B dan C-D, terdapat struktur yang diperkirakan merupakan kontrol struktur yang berada di sekitar mata air panas Tambu (desa Mapane) dengan arah baratdaya – timurlaut.
PENDAHULUAN
Tim penyelidikan Gaya Berat Kelompok Kerja Penelitian Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi pada tahun anggaran 2008 telah melaksanakan penyelidikan Gaya Berat di daerah panas bumi Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan pemunculan mata air panas akibat proses tektonik pada daerah tersebut mengindikasikan adanya aktivitas panas bumi, maka daerah panas bumi Tambu dan sekitarnya dipilih sebagai daerah penyelidikan. Hasil dari penyelidikan ini diharapkan akan bermanfaat untuk pengembangan sumber daya energi sehingga mempercepat peningkatan ekonomi di daerah tersebut dalam rangka program otonomi daerah. Daerah panas bumi Tambu secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Secara geografis posisi daerah Tambu ini terletak antara 119o 50’ 46,06 ”– 119o
57’ 19,02 ”bujur timurdan0o 02’ 15,57” LU – 0o 06’ 57,29” LS atau 816.833 – 828.995 mT dan 9.987.172 – 10.004.168 mS pada sistim koordinat UTM.
Daerah panas bumi Tambu dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara dengan rute Bandung – Jakarta - Palu, kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat sampai ke daerah Tambu selama ± 7 - 9 jam. Tujuan penyelidikan ini adalah untuk memberikan gambaran bawah permukaan yang dapat digunakan untuk penafsiran struktur, batuan alas (basement) dan sesar yang mungkin digunakan sebagai jalur oleh fluida-fluida panas bumi.
dan diikat dengan titik triangulasi sebagai titik ikat di daerah ini dan titik-titik amat yang terdahulu seperti titik BPN (Badan Pertahanan Nasional) yang terletak dipinggir jalan raya sebagai titik acuan.
Gambar1: Peta indeks daerah Tambu, Donggala, Sulawesi-Tengah.
GEOLOGI REGIONAL
Beberapa penyelidik terdahulu yang melakukan penyelidikan di daerah Tambu baik langsung maupun tidak langsung dengan penyelidikan kepanasbumian antara lain:
1. Van Bemmelen (1949) dalam penelitiannya tentang geologi di seluruh Indonesia, dalam “
The Geology of Indonesia”
2. Rab Sukamto (1973) dalam ; Peta Geologi lembar Palu.
3. Nana Ratman (1976) dalam ; Peta Geologi Lembar Toli-Toli
4. DIM (2004 dan 2005) dalam ; Penyelidikan Panas bumi di daerah Merana serta Lompio dan sekitarnya.
Batuan tertua yang terdapat di daerah penyelidikan merupakan komplek batuan metamorfik yang menutupi sebagian besar daerah penyelidikan. Komplek ini terdiri dari sekis amfibiolit, sekis mika, gneis dan pualam. Sekis banyak terdapat disebelah sisi barat, sedangkan gneis dan pualam terdapat disebelah sisi timur. Selain dari itu terdapat pula adanya intrusi diorit dan granodiorit (tak terpetakan) dengan lebar kurang lebih 50 meter yang menerobos komplek batuan ini.
(Rab Sukamto, 1973) berpendapat bahwa sekis yang tersingkap di seantero Sulawesi sebagian berumur Paleozoikum.
Formasi Tinombo terdapat disebelah timur daerah Tambu dan menindih tak selaras komplek batuan metamorfik. Formasi ini mengandung bahan-bahan rombakan dari batuan metamorf, serpih, batupasir konglomerat, rijang, gamping dan batuan gunungapi yang diendapkan dalam lingkungan laut.
1o LS
0o
120o BT 121o BT
Peta
U
Daerah
Batuan intrusi terdiri dari granit dan granodiorit (terpetakan), sedangkan yang tak terpetakan karena ukurannya relatif kecil (< 50 m) dilaporkan berupa andesit dan basalt (tertua), porfiri diorit, diorit. Batuan intrusi granit dan granodiorit berdasarkan analisa K/Ar Gulf Oil Co. (Rab Sukamto, 1973) berumur 31 juta tahun (Mio-Oligosen).
Struktur di daerah ini didominasi oleh lajur sesar palu yang berarah Utara Baratlaut, ditandai dengan bentuk terban yang dibatasi oleh sesar aktif, dan bertindak sebagai pengontrol munculnya air panas di daerah ini.Selain sesar utama tersebut juga dilaporkan adanya sesar-sesar kecil yang tegak lurus sesar utama tersebut diatas. Disamping itu juga dilaporkan adanya sesar naik dengan kemiringan ke arah timur pada formasi Tinombo dan komplek metamorfik. Sesar termuda yang terdapat di Tambu dan terjadi akibat gempa pada tahun 1968, merupakan sesar normal dengan arah baratlaut dan hal tersebut juga sesuai dengan pola kelurusan dari citra landsat lokasi penyelidikan.
PENENTUAN DENSITAS BATUAN
Dari hasil analisa laboratorium (Tabel 1) dapat terlihat bahwa densitas tertinggi terdapat pada batuan Andesit, dengan nilai 2.83 gr/cm3, sedangkan densitas terendah terdapat pada batuan Granit dengan nilai 2.56 gr/cm3. Variasi harga densitas batuan di daerah panas bumi Tambu berkisar antara 2.56 – 2.83 gr/cm3. Dari hasil analisa contoh batuan tersebut diatas dapat diambil densitas batuan rata-rata. Hasil rata-rata dari analisa laboratorium untuk daerah panas bumi Tambu yaitu 2.64 gram/cm3.
yang dapat ditulis kembali menjadi : (gObs – gN + 0.094h) = ( 0.01277h – Terrain)σ. Jika : (gObs – gN + 0.094h) di plot terhadap (0.01277h – Terrain), maka gradiennya adalah densitas. Gambar 2 memperlihatkan grafik untuk mendapatkan nilai estimasi densitas dan regresi linier menggunakan seluruh data dari hasil pengukuran gaya berat daerah Tambu ini dan memberikan nilai densitas sebesar 2.68 gram/cm3. Dari hasil metode Parasnis dan hasil analisa laboratorium yang diperlihatkan mempunyai perbedaan nilai agak berdekatan, maka penulis akan menggunakan nilai densitas untuk daerah Tambu ini mempergunakan hasil dari analisa laboratorium sedangkan metode Parasnis hanya sebagai pembanding. Dan selanjutnya untuk menghitung anomali-anomali gaya berat untuk daerah panas bumi Tambu ini dipergunakan koreksi densitas sebesar 2,64 gr/cm3.
.
ANOMALI BOUGUER
Zona patahan yang terbentuk di daerah Tambu ini merupakan lajur sesar Palu yang mempunyai arah utara – baratlaut dan merupakan sesar utama. Selain sesar utama terdapat juga sesar-sesar lainnya yang tegak lurus dengan sesar utama tersebut. Beberapa sesar yang terdapat di daerah ini merupakan sesar naik dan normal.
Nilai anomali Bouguer yang diperlihatkan berkisar antara 53 mgal sampai 81 mgal, dimana pola anomalinya memiliki suatu rentang anomali Bouguer dan gradien anomali yang relatief besar. Pola liniasi sebaran anomali Bouguer memperlihatkan arah umum baratdaya – timurlaut, serta di beberapa tempat seperti di sekitar daerah Pemukiman Khusus Masyarakat Tertinggal (PKMT), Kampung Baru, dan Punti, terjadi pembelokan dan pengkutuban anomali rendah dan tinggi. Peta anomali Bouguer ini memperlihatkan kecenderungan pola regional berarah baratdaya – timurlaut dengan nilai gayaberat yang meninggi dari Tengah ke arah timurlaut, timur, tenggara, dan selatan daerah penyelidikan. Beberapa kelurusan dengan pola yang kuat dan tegas, terutama di timurlaut, tengah, dan baratdaya daerah penyelidikan mempertegas keberadaan struktur-struktur berarah baratdaya – timurlaut dan barat – timur.
Anomali tinggi muncul di bagian timur terus menyebar kearah selatan dan tenggara, sedangkan anomali rendah menempati sekitar daerah tengah
menyebar kearah baratdaya, barat, baratlaut, dan utara daerah penyelidikan. Keadaan anomali gaya berat ini mengisyaratkan bahwa terdapat beberapa struktur geologi skala besar yang berasosiasi dengan suatu rentang densitas tertentu di bagian dalam kulit bumi. Struktur dalam yang terlihat pada anomali ini berada di bagian tengah dengan arah baratdaya – timurlaut, dan struktur lainnya berada dibagian baratdaya mempunyai arah barat – timur. Seperti yang telah diutarakan diatas pola anomali tinggi dari peta ini berada di bagian tenggara dan timur yaitu sekitar daerah Punti dan Kampung Baru diperkirakan diisi oleh batuan andesit, malihan, dan granit. Sedangkan Anomali rendah yang berada di bagian tengah kearah baratdaya, barat, baratlaut, dan utara diperkirakan diisi oleh batuan alluvium, endapan pantai, dan batu pasir. Di sekitar manifestasi Tambu diperkirakan ditempati oleh anomali rendah dan diperkirakan diisi oleh batuan alluvium/endapan pantai.
ANOMALI REGIONAL
Hasil sebaran Anomali Bouguer Regional merupakan anomali permukaan polinomial (trend
surface) orde-2 sebelum dilakukan pemfilteran.
Gambar 4.2 memperlihatkan peta Sebaran Anomali Bouguer Regional orde-2 daerah penyelidikan untuk densitas 2.64 gr/cm3. Anomali gayaberat Regional ini dikelompokkan menjadi anomali paling rendah ( 50 s/d 58 mgal.), anomali rendah ( 58 s/d 66 mgal), anomali sedang ( 66 s/d 74 mgal) dan anomali tinggi (> 74 mgal). Anomali regional ini memperlihatkan pola liniasi yang berarah baratdaya - timurlaut dan nilai anomali cenderung mengecil ke arah barat dan baratlaut, dengan nilai 50 mgal dan membesar ke tenggara dengan nilai anomali > 74 mgal.
Bouguer dengan maksud untuk mendapatkan anomali gaya berat lokal atau disebut juga anomali Sisa/Residual.
Dari kelurusan-kelurusan yang muncul dari peta anomali Regional ini dapat ditafsirkan adanya struktur besar yang terjadi dibagian utara– timurlaut menuju kearah tengah dengan arah baratdaya–timurlaut dan berlanjut kearah baratdaya daerah penyelidikan dengan arah hampir barat – timur.
Untuk mendapatkan informasi gaya berat yang berkaitan dengan target prospeksi panas bumi (lokal), dilakukan pemisahan anomali Bouguer dari kecenderungan regionalnya (struktur dalam/regional). Pemisahan dilakukan dengan cara mensubtraksi anomali Bouguer dengan permukaan polinom yang dianggap mewakili kecenderungan permukaan regional. Polinom orde-2 dianggap paling mewakili daerah penyelidikan mengingat tidak terlalu luasnya daerah penyelidikan dan kecenderungan pola regional yang dapat dikenali pada anomali Bouguer yang menunjukkan bidang sederhana orde-2. Dari permukaan anomali regional ini cenderung berarah baratlaut - tenggara dengan nilai rendah kearah tinggi yaitu dari baratlaut ke arah tenggara. Nilai yang meninggi ke arah tenggara ini mungkin disebabkan oleh karena daerah di bagian timurlaut, tengah, timur, tenggara, baratdaya dan sampai ke selatan daerah penyelidikan dominan diisi oleh batuan granit, malihan, dan andesit yang mempunyai densitas lebih tinggi dibandingkan dengan daerah barat dan baratlaut yang diisi oleh batuan aluvium dan endapan pantai serta batuan granit yang telah mengalami pelapukan tinggi. Daerah manifestasi panas bumi pada umumnya ditempati oleh anomali rendah. Pada sebaran anomali Bouguer Regional ini memperlihatkan arah kelurusan yang pada umumnya berarah baratdaya – timurlaut, keadaan struktur ini merupakan struktur yang tegak lurus dengan sesar utama daerah ini dan sesuai dengan struktur yang ada di daerah ini.
ANOMALI SISA ORDE-2
Peta Sebaran Anomali Sisa ini diperlihatkan dengan koreksi densitas 2.64 gram/cm3, yang ditampilkan pada gambar 4.3. Peta Sebaran Anomali sisa ini memperlihatkan pola lineasi yang dominan berarah baratdaya – timurlaut dan baratlaut–tenggara, selain itu juga memperlihatkan pengkutuban anomali positif dan
anomali negatif dengan kerapatan serta pembelokan kontur yang tajam. Kondisi demikian mengindikasi-kan adanya struktur-struktur sesar yang dominan berarah baratdaya – timurlaut, barat –timur, dan baratlaut-tenggara yang salah satunya searah dengan struktur utama daerah ini.
Sebaran Anomali ini memperlihatkan struktur yang agak kompleks, namun pola anomali ini relatif memiliki persamaan dengan pola sebaran anomali Bouguernya, hal ini diperkirakan karena pola anomali Bouguer di daerah penyelidikan secara dominan diakibatkan oleh struktur dalam. Zona anomali rendah yang terletak di sebelah utara, timurlaut, baratdaya, tenggara, dan tengah semakin terisolasi, begitu pula yang berada di ujung sebelah barat daerah penyelidikan. Anomali rendah ini sebagian menunjukkan kesamaannya dengan anomali Bouguer terutama yang berada dibagian barat, hal ini mengisyaratkan kondisi struktur lokal searah dengan struktur dalamnya. Zona anomali rendah yang berada di sekitar air panas Tambu semakin terfokus, ini memperlihatkan bahwa anomali sisa ini kemungkinan ditimbulkan oleh struktur-struktur dalam dan sangat kompleks. Zona anomali tinggi muncul di sebelah tengah ke arah tenggara, timur, dan baratdaya daerah penyelidikan, diperkirakan sumber panas (heat sources) dari air panas Tambu ini berada disekitar tengah ke arah tenggara yaitu sekitar titik amat RT-70 atau sekitar Kampung Baru.
Beberapa struktur yang muncul dari peta anomali sisa ini digambarkan untuk bagian tengah mempunyai tiga buah struktur yang diperkirakan yaitu yang berarah baratlaut–tenggara terdapat dua buah struktur, struktur ini merupakan kepanjangan dari bagian utara dan struktur lainnya berarah baratdaya–timurlaut yang merupakan kontrol struktur dari manifestasi air panas Tambu. Di bagian baratdaya terdapat dua buah struktur yang diperkirakan dengan arah barat–timur, dan baratdaya–timurlaut. Di bagian selatan terdapat tiga buah struktur yang diperkirakan dengan arah baratdaya–timurlaut mempunyai dua buah struktur, dan arah hampir barat–timur (baratdaya – timurlaut) mempunyai satu buah struktur.
bagian selatan dan timurlaut dari daerah penyelidikan antara anomali Sisa dan anomali Bouguer tidak memperlihatkan kesamaannya, hal ini menunjukkan bahwa struktur yang diperlihatkan pada anomali Sisa ini diperkirakan merupakan struktur lokal/ dangkal.
Anomali residual orde-2 (Gambar 4.3) lebih mempertegas lagi keberadaan kelurusan-kelurusan yang dikenali dari anomali Bouguer. Kelurusan-kelurusan baratlaut-tenggara dan baratdaya- timurlaut secara tegas terlihat di bagian utara dan tengah daerah penyelidikan. Secara umum, di bagian daerah tengah daerah penyelidikan dimana manifestasi panas bumi Tambu berada didominasi oleh kelurusan-kelurusan berarah baratdaya-timurlaut.
MODEL 2–D GAYA BERAT
Dari hasil sebaran anomali sisa diatas dicoba dibuat dua buah model dua dimensi yaitu yang pertama mempunyai arah barat–timur (penampang A – B) dan yang kedua berarah hampir baratlaut- tenggara (penampang C – D).
Model gaya berat 2-Dimensi dari irisan/penampang A – B (Gambar 4.4.a) pada sebaran anomali sisa dengan menggunakan densitas rata-rata 2.64 gram/cm3 dan panjang penampang ± 6.500 meter, yang terletak di bagian tengah daerah penyelidikan mempunyai arah barat –timur.
Model ini memperlihatkan bodi dari mulai barat sampai timur dengan uraian sebagai berikut ; 1) Bodi yang berada paling barat mempunyai
densitas 2,58 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 2500 meter diperkirakan batuan granit yang telah mengalami pelapukan tinggi dan/atau alluvium.
2) Disampingnya terdapat bodi dengan densitas 2,70 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 2000 meter diperkirakan sebagai batuan granit/malihan yang masih massif dan kompak.
3) Diantara kedua bodi tersebut diatas
diperkirakan terdapat struktur patahan yang mengontrol manifestasi air panas Tambu. 4) Bodi berikutnya mempunyai densitas 2,63
gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 2100 meter diperkirakan batuan granit yang telah mengalami pelapukan.
Bodi yang terletak paling timur mempunyai densitas 2,64 gram/cm3 dengan kedalaman 3000 meter yang merupakan densitas basement.
Model gaya berat 2-Dimensi dari irisan/penampang C – D (Gambar 4.4.b) pada sebaran anomali sisa dengan menggunakan densitas rata-rata 2,64 gram/cm3 dan panjang penampang ± 9.750 meter, yang terletak di bagian tengah kea rah tenggara daerah penyelidikan mempunyai arah baratlaut - tenggara.
Model ini memperlihatkan bodi dari mulai baratlaut sampai tenggara dengan uraian sebagai berikut ;
1) Bodi yang berada paling baratlaut mempunyai densitas 2,64 gram/cm3 dengan kedalaman sampai tidak diketahui kedalamannya dengan densitas sama dengan densitas basement yaitu granit.
2) Disampingnya terdapat bodi dengan densitas 2,55 gram/cm3 dengan ketebalan sekitar 1800 meter diperkirakan sebagai batuan granit yang telah mengalami pelapukan dan/atau batuan alluvium.
3) Selanjutnya terdapat bodi dengan densitas 2,67 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 1500 meter diperkirakan merupakan batuan granit. Antara bodi kedua dan ketiga diperkirakan ada struktur/patahan yang terjadi.
4) Bodi berikutnya mempunyai densitas 2,61 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 1700 meter diperkirakan batuan granit yang telah mengalami pelapukan.
5) Bodi selanjutnya mempunyai densitas 2,70 gram/cm3 dengan kedalaman sekitar 2500 meter diperkirakan merupakan batuan granit dan/atau malihan serta andesit yang telah mengalami pelapukan. Diantara bodi nomor 4) dengan bodi nomor 5) diperkirakan telah terjadi struktur/patahan.
Bodi yang terletak paling ujung tenggara merupakan densitas basement yang menyebar sampai kebawah dengan kedalaman yang tidak diketahui.
DISKUSI
merupakan struktur yang berkembang di daerah penyelidikan dengan panjang dan arah yang beragam. Struktur yang paling panjang berarah baratdaya–timurlaut, struktur ini memotong daerah kampung Baru dan Eas. Struktur ini diperkirakan merupakan struktur yang berkembang akibat adanya struktur Palu yang berarah Baratlaut–Tenggara. Struktur panjang kedua adalah struktur yang berarah baratlaut– tenggara. Struktur ini berada di sebelah utara daerah penyelidikan, membentang dari ujung daerah penyelidikan yaitu sebelah utara Kampung Melawa sampai ke sebelah timur daerah Pemukiman Khusus Masyarakat Tertinggal (PKMT). Struktur ini diperkirakan merupakan struktur regional Palu yang secara umum mempunyai pola baratlaut–tenggara.
Struktur-struktur yang lebih pendek menyebar di dekat air panas, PKMT, Tanahruntuh, dan Punti, dengan arah yang beragam dari mulai utara– selatan, baratlaut–tenggara, dan baratdaya– timurlaut. Struktur-struktur ini diperkirakan muncul akibat adanya struktur regional atau utama, yaitu Sesar Palu yang berarah Baratlaut– Tenggara.
Berdasarkan penampang 2-D hasil pemodelan terdapat dua buah struktur yang dekat dengan titik A (pada penampang A – B) dan dekat dengan titik C (pada penampang C – D). Struktur yang terlihat pada kedua penampang tersebut diperkirakan merupakan struktur yang ada di dekat air panas dengan arah baratdaya–timurlaut yang membentang dari dekat air panas (Desa Mapane Tambu) ke arah timurlaut memotong daerah PKMT.
KESIMPULAN
2. Pada peta sebaran anomali Bouguer terdapat beberapa kelurusan dengan pola yang kuat dan tegas, terutama di timurlaut, tengah, dan baratdaya daerah penyelidikan mempertegas keberadaan struktur-struktur berarah baratdaya–timurlaut, baratlaut–tenggara, dan barat–timur.
5. Keberadaan sumber panas (heat sources) dari hasil Anomali Bouguer dan Anomali Sisa diperkirakan nampak tidak jauh (sekitar 3 Km) dari manifestasi Tambu yaitu disekitar Kampung Baru atau sekitar titik amat RT-70. 6. Dari model -2D memperlihatkan struktur yang
terlihat pada penampang A-B dan C-D
diperkirakan merupakan kontrol struktur yang berada di sekitar air panas dengan arah baratdaya–timurlaut yang membentang dari dekat air panas (Desa Mapane Tambu) ke arah timurlaut memotong daerah PKMT.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bemmelen, van R.W., 1949. The
Geology of Indonesia. Vol. I A. The
Hague, Netherlands.
2. Bakrun dkk., (2004,2005) Penyelidikan terpadu daerah panasbumi Merawa (Marana) dan Lompio, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi-Tengah. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung
3. Hamilton W., 1979 Tectonic of Indonesia Region,Geol.Surv.Prof.Papers,U.S.Govt.P rint Off., Washington.
4. Lawless, J., 1995. Guidebook : An
Introduction to Geothermal System. Short Course. Unocal Ltd. Jakarta.
5. Sukamto, Rab, 1973, edisi 2, Peta Geologi Tinjau Lembar Palu, Sulawesi. Skala 1 : 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
6. Ratman, Nana, 1976. Peta Geologi
Lembar Toli-Toli, Sulawesi Utara. Skala 1 : 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
7. Telford, W.M et al, 1982. Applied
Tabel 1. Hasil rata-rata densitas batuan daerah panas bumi Tambu, Donggala adalah 2,64 gram/cm3
No Nomor
Sampel
Nama Batuan
Densitas gr/cm
31 RT 55 Granit 2.65
2 RT 60 Granit 2.60
3 G-3850 Sekis 2.42
4 F-6850 Sekis 2.66
5 C-4250 Granit 2.64
6 G-4000 Sekis 2.65
7 RT 19 Andesit 2.63
8 RT 51 Granit 2.56
9 G-4400 Andesit 2.83
10 PB-1 Sekis 2.76
y = 2.6841x + 72.237
0
20
40
60
80
100
120
140
0
5
10
15
20
818000 820000 822000 824000 826000 828000
831000 831500 832000 832500 833000 9991000
9991500 9992000 9992500
PETA ANOMALI BOUGUER DAERAH PANAS BUMI TAMBU
KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULWESI TENGAH
0 2000 4000
KETERANGAN
Sungai dan anak sungai
Jalan Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 4000
Kampung
Sawah Titik pengukuran gaya berat
Peta indeks
56 62 68 74 80
Kontur anomali bouguer
mGal
Gambar 3. Peta anomali Bouguer daerah Tambu, Donggala, Sulawesi Tengah
818000 820000 822000 824000 826000 828000
9988000
831000 831500 832000 832500 833000 9991000
9991500 9992000 9992500
PETA ANOMALI REGIONAL DAERAH PANAS BUMI TAMBU
KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULWESI TENGAH
0 2000 4000
KETERANGAN
Sungai dan anak sungai
Jalan Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 4000
Kampung
Sawah Titik pengukuran gaya berat
Peta indeks Kontur anomali regional
54 62 70 78 mGal
818000 820000 822000 824000 826000 828000
831000 831500 832000 832500 833000 9991000
9991500 9992000 9992500
PETA ANOMALI SISA DAERAH PANAS BUMI TAMBU
KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULWESI TENGAH
0 2000 4000
KETERANGAN
Sungai dan anak sungai
Jalan Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 4000
Kampung
Sawah
Titik pengukuran gaya berat
Peta indeks
Kontur anomali sisa
mGal
Gambar 6. Model-2D gayaberat pada penampang A - B daerah panas bumi Tambu, Donggala, Sulawesi - Tengah.