• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN REMON TA15

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN REMON TA15"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas semua rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “ANALISA KUALITAS ASPAL BETON DI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN ABU BATU DAN ABU BATU KAPUR PADA CAMPURAN HRS-WC” Penelitian ini dibuat untuk memenuhi salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi. Peneliti menyadari bahwa dengan segala keterbatasannya, laporan ini masih kurang dari sempurna, maka dengan kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran untuk menyempurnakan laporan penelitian ini.

Dalam proses penelitian ini, banyak pihak yang telah turut menyumbangkan pikiran, motivasi, material, hingga penelitian ini terselesaikan. Untuk itu penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas HKBP Nommensen, Dr. Ir. Sabam Malau 2. Ketua Lembaga Penelitian UHN, Prof. Dr. Monang Sitorus, Msi 3. Dekan Fakultas Teknik UHN

4. Ketua Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UHN 5. Kepala Laboratorium Bahan Program Studi Teknik Sipil UHN 6. Serta pihak lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi saya dan yang membacanya.

Medan, 04 Agustus 2015 Peneliti,

Ir. Remon Simatupang, MSc.

(4)

iii

ABSTRAK

Semakin padatnya kendaraan berat yang bergerak di sarana lalu lintas

menyebabkan lapisan permukaan perkerasan jalan cepat mengalami proses

peretakan. Peristiwa ini dapat menyebabkan pengelupasan butir pada permukaan

jalan raya, bila dibiarkan, lubang dan kerusakan dapat mengganggu kelancaran

pemakai jalan. Untuk mengatasi kerusakan lapisan permukaan perkerasan aspal

dilakukan penelitian dengan menggunakan abu batu kapur sebagai pengganti

filler. Penelitian ini, menggunakan abu batu kapur sebagai pengganti filler pada

campuran aspal hotmix .

Performa suatu campuran tergantung pada jenis dan kualitas bahan yang

digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeahui sifat aspal Hotmix

pada penggunaan abu batu kapur sebagai pengganti filler yaitu dikhususkan pada

sifat stabilitas dan karakteristik aspal Hotmix. Metode penelitian yang digunakan

adalah metode pengujian Marshall test, dimana percobaan dilakukan dengan

menggunakan Abu batu kapur yang bervariasi (6%, 6,5%, 7%, 7,5%, 8% sebagai

pengganti filler.)

Dari hasil penelitian ini, nilai stabilitas Marshal pada kadar aspal 7%,

tanpa abu batu kapur nilai stabilitas 1210 kg, dan memakai abu batu kapur nilai

(5)

iv

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lapisan permukaan………….……….4

2.2. Agregat ………...4

2.3. Aspal/Bitumen……….8

2.4. Aspal Beton...………...8

2.5. Metode Desain Campuran...9

2.6. Karakteristik dan Perilaku Campuran………....11

2.7. Persyaratan Aspal Beton Bina Marga………12

2.8. Parameter Pengujian Marshall………...12

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian………...15

3.2. Metode Pengumpulan Data………15

3.3. Metode pencampuran……….18

(6)

v

BAB IV. ANALISA DAN PEMABAHASAN DATA

4.1. Penyajian Data………...25

4.2. PengujianMarshall………..30

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan...41

5.2. Saran...41

DAFTAR PUSTAKA...42

(7)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkerasan jalan adalah suatu konstruksi yang dibangun diatas tanah dasar

dengan maksud untuk menahan beban lalu lintas kendaraan serta tahan terhadap

perubahan cuaca yang terjadi. Konstruksi ini terdiri dari beberapa lapisan-lapisan

yang mempunyai fungsi menerima beban lalu lintas dan menyebarkan ke lapisan

yang ada dibawahnya hingga ke lapisan tanah dasar. Suatu perkerasan lentur dapat

dilihat baik apabila dapat menghasilkan dimensi konstruksi yang kecil dengan

biaya yang murah dan mempunyai masa pemakaian yang cukup lama.

Pada semua jenis perkerasan dimana agregat dalam campuran memegang

peranan penting untuk menghasilkan nilai stabilitas yang tinggi. Oleh karena

pentingnya peranan agregat dalam campuran, maka gradasi gabungan (combined

grading) dari agregat kasar, halus, maupun filler harus ditentukan sedemikian rupa untuk mendapatkan performa campuran yang baik, kuat, stabil, ekonomis,

dan tahan lama. Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan

jalan, yaitu 90-95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75-85% agregat

berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan

ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

Peningkatan kualitas dari perkerasan jalan raya dengan penggunaan

berbagai jenis bahan alam sebagai bahan tambah maupun bahan pengganti yang

mampu memberikan kontribusi kekuatan pada perkerasan jalan. Untuk

peningkatan kualitas tersebut, tentu saja dibutuhkan material perkerasan yang

memenuhi spesifikasi. Dalam hal penyediaan bahan material yang memenuhi

persyaratan inilah yang sering timbul masalah dimana bahan tersebut semakin

lama semakin berkurang jumlahnya dan semakin dibutuhkannya biaya yang cukup

besar dalam pengadaan bahan material tersebut. Sehingga mulai muncul banyak

pemikiran untuk pengadaan material alternatif sebagai pengganti dari material

(8)

2

Karna kesulitan tersebut, peneliti mencoba menggunakan bahan pengisi

(filler) dengan menggunakan abu batu kapur pada campuran aspal beton. Filler dalam campuran diperlukan untuk mengisi rongga - rongga diantara partikel

agregat sehingga dapat meningkatkan kerapatan campuran.

1.2. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini untuk menganalisa nilai perbandingan

karakteristik abu batu dan abu batu kapur sebagai filler dari uji marshall pada

campuran aspal beton sebagai bahan pengisi campuran aspal beton, dan

mengevaluasi penggunaan abu batu kapur dan variasi pengganti abu batu sebagai

filler terhadap nilai karakteristik campuran aspal beton.

1.3. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian untuk mengetahui kualitas aspal beton tersebut dan

mengetahui perbandingan abu batu dan abu batu kapur sebagai pengganti filler

untuk perkerasan aspal beton HRS-WC dan untuk menambah literatur.

1.4. Permasalahan

Permasalahan dalam perkerasan jalan, yang sering dialami adalah nilai

perbandingan karakteristik abu batu dan abu batu kapur sebagai filler, antara lain :

1. Masalah persen lolos agregat.

2. Jenis agregat.

3. Masalah persentase aspal yang di gunakan dalam campuran.

4. Jenis aspal.

5. Berat jenis agregat.

6. Suhu temperature.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian adalah :

• Penelitian hanya tentang pengaruh batu kapur sebagai pengganti filler pada

(9)

3

• Dalam penelitian ini, material yang dipakai sebagai agregatnya adalah agregat

kasar, agregat sedang, agregat halus, aspal yang dipakai adalah aspal keras (AC

pen 60/70) merek Exxon mobil.

Dalam penelitian ini juga dibatasi dengan penggunaan tiga jenis agregat

yang berasal dari AMP PT. ADHI KARYA di desa Patumbak pasar V Medan

dan memenuhi persyaratan untuk dipakai dalam suatu campuran perkerasan aspal

panas, yaiu agregat kasar berupa batu pecah (ukuran maksimum ¾”), agregat

sedang (medium aggregate), agregat halus (fine aggregate), serta agregat halus

berasal dari pasir alam (natural sand) sungai patumbak.Dan batu kapur yang di

(10)

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lapis Permukaan

Lapis permukaan merupakan komponen yang memiliki fungsi yang sangat

penting pada suatu konstruksi jalan raya. Fungsi dari lapis permukaan adalah ;

1. Memikul/ membagi beban lalu lintas.

2. Mencegah masuknya air dan udara ke dalam konstruksi perkerasan.

3. Memberi lapisan skid resistence (tahanan gelincir)

Dengan adanya ketiga fungsi tersebut maka suatu konstruksi jalan raya akan dapat

dilalui lalu lintas dengan aman dan nyaman serta kekuatan konstruksi dapat

dipertahankan. Untuk mendapatkan fungsi tersebut maka campuran yang

digunakan sebagai lapisan permukaan harus memiliki sifat-sifat karakteristik yang

sesuai dengan Stabilitas (kekuatan), Durabilitas (keawetan), Fleksibilitas

(kelenturan), Skid resistence (ketahanan gelincir).

2.2. Agregat

Agregat merupakan bahan dengan bagian terbesar dalam campuran

perkerasan. Fungsi agregat dalam campuran adalah sebagai bahan utama yang

menahan beban lalu lintas. Agregat didefenisikan sebagai bahan yang keras dan

kaku terdiri dari berbagai jenis butiran dan pecahan diantaranya adalah pasir,

kerikil, batu pecah dan terak dapur tinggi.

Agregat yang biasanya digunakan untuk perkerasan jalan, jika ditinjau

dari asalnya dapat dikelompokkan dalam 2 bagian yaitu agregat alam dan agregat

buatan.

Keadaan butiran agregat akan sangat menentukan dalam perencanaan

pembuatan perkerasan aspal beton. Agregat yang mempunyai gradasi seragam

tidak digunakan untuk bahan perkerasan, karena pada gradasi seragam akan

menimbulkan ruang kosong atau pori yang relatif besar serta sudut kotak antar

(11)

5

Agregat yang baik untuk perkerasan adalah agregat yang heterogen

dimana susunan butir bervariasi, sehingga ruang kosong yang terjadi lebih kecil.

Material tersebut terdiri atas: (Silvia Sukirman,1992,hal 192)

a. CA (Coarse Agregate) yaitu agregat yang tertahan pada saringan No.8.

b. FA (Fine Agregate) yaitu agregat yang lolos saringan No.8 dan tertahan pada

saringan No.200.

c. Bahan pengisi (Filler) yaitu yang lolos saringan No.200.

- Fraksi Agregat

Fraksi agregat adalah susunan ukuran butiran dari ukuran terbesar sampai

ukuran terkecil yang dipergunakan. Ukuran butiran ini dikelompokkan dalam

ukuran tertentu yang disebut fraksi. Gradasi agregat merupakan salah satu faktor

penting dalam perencanaan campuran agar campuran mempunyai sifat-sifat yang

sesuai dengan spesifikasi.

a. Agregat Kasar

Untuk keperluan praktis, agregat dikelompokkan dalam fraksi

berdasarkan ukuran saringan yang dapat dilalui oleh agregat. Fraksi agregat kasar

didefinisikan sebagai agregat yang tertahan saringan No.8 (ASTM). Fungsi

agregat kasar dalam campuran perkerasan adalah sebagai bagian yang menambah

stabilitas campuran. Proporsi agregat kasar yang digunakan dalam campuran juga

mempengaruhi stabilitas campuran tersebut.

Agregat kasar untuk bahan jalan harus mempunyai ketahanan terhadap

abrasi, khususnya jika digunakan untuk lapis permukaan. Untuk menguji

ketahanan terhadap abrasi, dilakukan pengujian dengan menggunakan alat L.A.

Abration Test. Untuk lapis permukaan, disyaratkan agregat mempunyai nilai abrasi <40%.

b. Agregat Halus

Agregat halus didefenisikan sebagai agregat yang lolos saringan No.8

(12)

6

pecah, kerikil dan slag. Dalam campuran, agregat halus diharapkan mengisi

rongga sisa antara agregat kasar sehingga meningkatkan kestabilan campuran.

c. Filler

Filler adalah mineral debu yang berukuran mikro dan mampu melewati

`saringan No. 200 (ASTM). Mineral filler dapat diperoleh dari fraksi agregat kasar

dan fraksi agregat halus, tetapi umumnya lebih banyak digunakan semen dan batu

kapur. Penambahan filler dalam campuran aspal beton mempunyai dua pengaruh ;

yaitu mengurangi rongga dalam campuran dan meningkatkan stabilitas

Secara umum, penambahan filler dalam campuran aspal beton dapat

`meningkatkan stabilitas, tetapi penambahan filler dalam jumlah banyak, akan

menghasilkan campuran yang getas, sebaliknya campuran dengan kadar filler

rendah menghasilkan campuran yang lunak pada cuaca panas.

- Gradasi

Salah satu faktor yang menentukan pada campuran aspal untuk perkerasan

jalan adalah gradasi, karena dapat mempengaruhi stabilitas, durabilitas,

fleksibilitas dan skid resistence dari campuran.

Ada tiga macam tipe gradasi agregat yaitu : (Silvia Sukirman, hal 45)

1. Gradasi Rapat (Dense Graded/Well Graded/Continous Graded)

2. Gradasi Celah/ Senjang (Gap Graded/ Skip Graded)

3. Gradasi Terbuka/ Seragam (Open Graded/ Uniform Graded).

1.Gradasi Rapat (Dense Graded)

Gradasi rapat merupakan campuran yang memiliki komposisi agregat kasar

dan agregat halus dalam porsi yang berimbang (Lihat Grafik 2.1). Umumnya

digunakan untuk campuran AC (Asphalt Concrete) dan ATB (Asphalt Treated

(13)

Grafik 2.1. Grafik grad

sering digunakan untu

pada campuran padat

ah merupakan campuran dengan persentase agreg

n tertahan saringan No.8 hampir tidak ada dan sete

ilai VMA (rongga udara yang ada diantara mine

beraspal panas) lebih kurang 24% (Lihat Grafik 2.

untuk HRS (Hot Rolled Sheet). Karena memilik

padat yang relatif besar, sehingga bleeding dapa

Grafik 2.2. Grafik gradasi senjang

(Open Graded)

emiliki rongga udara

(14)

8

Adalah agregat dengan ukuran hampir sama/sejenis . Gradasi seragam

disebut juga gradasi terbuka. Agregat dengan gradasi seragam akan menghasilkan

lapisan perkerasan dengan sifat permeabilitas tinggi, stabilitas kurang, berat

volume kecil. Open graded dipakai untuk lapisan aus (Wearing coarse), lapisan

penguat.

2.3. Aspal / Bitumen ( DPU, 2009 )

Aspal atau Bitumen merupakan material yang berwarna hitam kecoklatan

yang bersifat viskoelastis inilah yang membuat aspal dapat menyelimuti dan

menahan agregat tetap pada tempatnya selama proses produksi dan masa

pelayanannya. Umumnya aspal dihasilkan dari penyulingan minyak bumi,

sehingga disebut aspal keras. Selain itu aspal juga terdapat di alam secara alamiah,

aspal ini disebut aspal alam. Aspal modifikasi saat ini juga telah dikenal luas,

aspal ini dibuat dengan menambahkan bahan tambah.

Aspal buton merupakan bahan lama maka kadar bitumen yang dikandungnya

sangat bervariasi dari yang rendah sampai tinggi. Berdasarkan kadar bitumen yang

dikandungnya asbuton dapat dibedakan atas B1O, B13, B20, B25, dan B30.

Asbuton B1O adalah asbuton dengan kadar bitumen rata-rata 10%.

- Aspal modifikasi

Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan suatu bahan

tambah. Polymer adalah jenis bahan tambah yang banyak digunakan saat ini,

sehingga aspal modifikasi sering disebut juga sebagai aspal polymer. Antara lain

berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer yang biasanya digunakan untuk

tujuan ini, yaitu polymer elastomer dan polymer plastomer (Modul Pengendalian

mutu dan pekerjaan aspal).

2.4. Aspal Beton

Aspal beton campuran panas merupakan salah satu jenis dari lapis

perkerasan konsruksi perkerasan lentur. Jenis perkerasan ini merupakan campuran

merata antara agregat dan aspal sebagai bahan pengikat pada suhu tertentu. Untuk

(15)

9

sehingga diperoleh kemudahan untuk mencampurnya, maka kedua material harus

dipanaskan dulu sebelum dicampur. Karena dicampur dalam keadaan panas maka

seringkali disebut sebagai “Hotmix”. Pekerjaan pencampuran dilakukan di pabrik

pencampur, kemudian dibawa ke lokasi dan di hampar dengan mempergunakan

alat penghampar (paving machine) sehingga diperoleh lapisan lepas yang seragam

dan merata untuk selanjutnya dipadatkan dengan mesin pemadat dan akhirnya

diperoleh lapisan padat aspal beton. (Jenis dan Fungsi Lapisan Perkerasan (silvia

Sukirman, 1992, hal 9)

2.5. Metode Desain Campuran

Metode yang digunakan untuk mendesain campuran aspal, ada

bermacam-macam, tetapi metode yang banyak digunakan adalah ; Metoda

Marshall , Metoda Hubbard – field , Metoda Hveem dan Metoda Triaxial.

Walaupun metoda ini berbeda satu sama lain, tetapi ke empat metoda ini

mempunyai tujuan yang sama :

• Menjamin campuran cukup kuat untuk menahan beban lalu lintas

tanpa berdeformasi.

• Untuk memperlihatkan campuran cukup aspal untuk menjamin

keawetannya.

• Untuk memperlihatkan campuran padat mempunyai cukup rongga

untuk menjamin aspal tidak keluar kepermukaan selama masa

layannya.

Diantara metoda ini, metode marshall paling banyak digunakan secara

luas. Metode ini deiperkenalkan oleh BRUCE MARSHALL seorang insinyur

yang bekerja pada Missipi State Highway Department.

Uji stabilitas dengan metode Marshall, menggunakan benda uji campuran

agregat dengan gradasi sesuai spesifikasi dan aspal keras dengan tingkat penetrasi

tertentu. Untuk satu benda uji diperlukan ± 1200 gram agregat yang dipanaskan

pada suhu tertentu dan dicampur aspal panas pada suhu yang menghasilkan

(16)

10

Benda uji yang telah didinginkan pada suhu ruang selama ± 24 jam,

dikeluarkan dari cetakan dan dilakukan pengukuran/ perhitungan untuk

mendapatkan besar-besaran benda uji seperti :

bulk spesific gravity of compacted mixture (ASTM D118 / ASTM D 2726) maximum spesific gravity of mixture (ASTM D 2041)

vold in mineral aggregate (VMA) vold in mixture (VIM)

Tabel 2.2. Kriteria Desain Aspal Beton untuk Jalan Raya (Asphalt Institute)

Mix Criteria

Void in Mixed Aggregate

(%)

Sumber : Asphalt Institute

Bentuk uji dengan kadar aspal yang berbeda-beda diuji stabilitasnya untuk

mendapatkan nilai stabilitas dan flow. Untuk mendapatkan kadar aspal optimum,

dibuat 7 grafik terhadap kadar aspal yaitu : stabilitas, flow, VIM, VMA, air void,

(17)

11

rata-rata kadar aspal pada nilai maksimum grafik stabilitas, kepadatan, VIM,

VMA, Marshall quotient, dan flow.

2.6. Karakteristik dan Perilaku Campuran

Campuran perkerasan yang diproduksi di laboratorium, diuji dan dianalisis

untuk diketahui karakteristik campuran tersebut apakah memenuhi spesifikasi

yang telah ditetapkan. Karakteristik campuran perkerasan akan mempengaruhi

perilaku campuran tersebut. Karakteristik campuran perkerasan antara lain :

rongga dalam campuran (VIM), rongga antar partikel agregat (VMA), kepadatan

dan kadar aspal.

A. Rongga dalam Campuran (VIM)

Besarnya kandungan rongga dihitung berdasarkan berat jenis bulk

campuran dan berat jenis maksimum campuran (dianggap tidak ada rongga).

Rongga dalam campuran dinyatakan sebagai persentase kepadatan yang

merupakan fungsi dari kepadatan dan kadar aspal.

Campuran yang baik, mempunyai persentase rongga antar 3% - 5%, ini

dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan campuran mendapatkan pemadatan

tambahan akibat beban lalu lintas tanpa terjadi flushing. Persentase rongga yang terlalu besar, menyebabkan perkerasan mudah ditembus air dan udara sehingga

mempercepat oksidasi dan pengerasan aspal yang berakibat menurunkan

keawetan perkerasan.

B. Kepadatan (Density)

Kepadatan campuran berpengaruh pada keutuhan susunan campuran.

Kepadatan campuran di lapangan didasarkan pada kepadatan campuran yang

dibuat di laboratorium.

C. Rongga antar Mineral Agregat (VMA)

Besarnya nilai VMA dinyatakan sebagai persentase dari volume total.

(18)

12

rongga yang diperlukan dalam campuran. Semakin besar nilai VMA,

memungkinkan penyelimutan aspal efektif menjadi lebih besar.

D. Kadar Aspal

Kadar aspal dalam campuran perkerasan, dipengaruhi oleh gradasi agregat

dan daya serap agregat. Campuran yang menggunakan agregat dengan gradasi

senjang, umumnya memerlukan jumlah aspal yang lebih banyak dibandingkan

dengan campuran bergradasi menerus. Secara teknis, kadar aspal dalam campuran

perkerasan ada 2 macam, yaitu kadar aspal total dan kadar aspal efektif.

2.7. Persyaratan Aspal Beton Bina Marga

Aspal Beton yang digunakan di Indonesia, persyaratannya ditentukan oleh

Bina Marga. Lapis Aspal Beton (LASTON) adalah suatu lapisan pada konstruksi

jalan raya yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi

menerus, dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu

tertentu (DEPARTEMEN P.U. DIRJEN BINA MARGA, 2010).Agregat

bergradasi menerus dimaksudkan sebagai campuran fraksi agregat kasar, agregat

halus dan mineral filler.

2.8. Parameter pengujian Marshall

Sifat-sifat campuran aspal panas dapat dianalisa dari beberapa pengujian

marshall yang diperoleh dari perhitungan specific gravity, pengujian stabilitas dan

flow campuran.(DPU, 2009)

1. Kepadatan (Marshall Density)

Parameter ini pertama sekali dibutuhkan untuk control pemadatan,

dimana kepadatan dari sampel material/agregat padat tersebut mencapai 95%

dari kepadatan kering maksimum.

2. Berat Jenis Bulk Agregat (Bulk specific Gravity Agrégate)

(19)

13

Pada umumnya specific gravity pada campuran perkerasan adalah

maksimum. Menurut ukuran yang digunakan ASTM D 2041, berat jenis

efektif agregat termasuk seluruh rongga dalam agregat kecuali daya serap

aspal.

4. Stabilitas Marshall (Marshall Stability)

Stabilitas adalah kemampuan suatu campuran aspal untuk menerima

beban sampai terjadi kesalahan plastis yang dinyatakan dalam kilogram atau

pound. Nilai Stabilitas diperoleh dari pembacaan langsung pada alat marshall

sewaktu mengadakan Marshall Test nilai yang terbaca tersebut kemudian

dikoreksi dengan faktor koreksi alat Marshall yang dipakai.

5. Kelelahan (Flow)

Merupakan suatu perubahan bentuk plastis suatu campuran aspal yang

terjadi akibat beban runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0.01”. Nilai Flow

yang diperoleh dari pembacaan langsung dari alat Marshall Test sewaktu

mengadakan pengujian Marshall.

6. Rongga dalam Campuran (Voids in Mixture/VIM)

Adalah parameter yang menunjukkan volume rongga yang berisi

udara didalam campuran aspal yang dinyatakan dalam % volume.

7. Void Mineral Agregat (VMA)

Yaitu rongga udara yang berada antara agregat pada campuran

perkerasan padat termasuk ruang yang terisi aspal. VMA menggambarkan

nilai yang tersedia untuk memuat volume efektif aspal dan volume rongga

yang dibutuhkan untuk mengisi aspal yang keluar akibat beban lalu lintas.

8. Void Villed With Bitumen (VFB)

VFB (rongga udara yang berisi aspal) yaitu perbandingan antara

(20)

14

dalam persen. Umumnya lapisan permukaan persentase VFB harus mencapai

antara 75% - 82%.

9. Nilai perbandingan Marshall (Marshall Quotient)

Marshall Quotient merupakan nilai pendekatan yang hampir

menunjukkan nilai kekuatan suatu campuran beraspal dalam menerima beban.

Nilai Marshall Quotient diperoleh dari perbandingan antara nilai stabilitas

yang telah dikoreksi terhadap nilai kelelehan (flow) dan dinyatakan dalam

satuan Kg/mm atau KN/mm.

10. Indeks Kekuatan Sisa (IKS)

Indeks kekuatan sisa dianalisis dari data hasil pengujian terhadap sifat

fisis benda uji (stabilitas dan flow) dibagi dalam dua kelompok. Kelompok

pertama di uji stabilitasnya setelah perendaman dalam air suhu ruang 60ºC

selama Ti dan kelompok kedua diuji stabilitasnya selama perendaman selam

T2. Dari nilai stabilitas Marshall yang diperoleh dari kedua perendaman diatas

(21)

15

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksprimen. Semua penelitian

dilakukan di laboratorium dan dengan beberapa percobaan-percobaan.

Prosedur penelitian ini dilakukan terhadap agregat dan aspal dilakukan

dengan beberapa pengujian yang dapat mewakili material tersebut dalam

pencampuran.

3.2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara pengambilan agregat

(material) dari stone crusher AMP PT. Adhi Karya Patumbak yang berasal dari

sungai Sibiru-biru Patumbak. Agregat diambil sebanyak yang diperlukan dalam

penelitian.

Kemudian dilakukan dengan pengambilan data dari hasil pengujian

terhadap kadar aspal yang berbeda dan agregat sesuai dengan spesifikasi gradasi

yang berbeda.

A. Aspal AC 60/70

Aspal yang digunakan dalam penelitian ini adalah AC 60/70 yang sudah

memenuhi spesifikasi penetrasi 60/70 dan layak digunakan pada perencanaan

jalan raya, dimana aspal diambil dari PT.Adhi Karya dan aspal tersebut telah

mengikuti prosedur yang ditentukan oleh AASHTO.

B. Pengujian agregat / material

Sumber agregat

Sumber agregat yang diambil pada penelitian yaitu dari sungai

(22)

16

Patumbak. Jenis material yang diambil adalah agregat kasar (CA), agregat

sedang (MA), agregat halus (FA).

Analisa Saringan dan Prosedur pelaksanaan analisa saringan

Tahapan-tahapan proses pelaksanaan adalah sebagai berikut :

1. Penyediaan alat, alat yang digunakan dalam pelaksanaan analisa saringan

adalah Shieve shaker, timbangan dengan ketelitian 0,1 gr dan 0,01 gr, Pan,

plastic, 1 set saringan dan Brush kawat.

2. Pembuatan benda uji, agregat yang telah disiapkan diberi tanda agar tidak

terjadi kekeliruan

3. Prosedur percobaan antara lain adalah :

a. Sampel ditimbang sesuai berat yang telah ditentukan.

b. Sampel dimasukkan kesusunan saringan yang telah tersusun rapi untuk

gradasi II mengunakan No. urutan : ½, 3/8, #8, #30, #200, Pan.

c. Susunanan saringan tersebut dimasukkan kedalam mesin sieve Shaker.

d. Sievi shaker dikunci rapat, lalu diadakan penggoncangan dengan

kecepatan konstan selama 15 menit.

e. Setelah 15 menit, matikan alat dan timbang sampel yang tertahan untuk

setiap nomor saringan.

f. Percobaan dilakukan untuk menentukan garadasi agregat persen CA, MA,

FA.

Berat Jenis Agregat dan Prosedur Pelaksanaannya

Tujuan pelaksanaan berat jenis adalah untuk mengetahui berat jenis

agregat pada kondisi semu, kering, SSD (Saturated Surface dry) serta

absorbsinya, adapun tahapan persiapan yang akan dilaksanakan dalam proses

penelitaian berat jenis ini:

1. Peralatan yang digunakan adalah ; timbangan, picnometer, botol berisi air

suling, hot plate, bak perendam, batang perojok, skrap, pan dan cetakan

kerucut.

(23)

17

3. Agregat direndam didalam air selama 24 jam (CA, tertahan saringan No.8 dan

FA lolos saringan No.8 tertahan saringan No.200).

4. Prosedur percobaannya adalah ;

1. Prosedur percobaan Agregat Kasar adalah ;

a. Agregat direndam selama 24 jam, air dikeluarkan perlahan-lahan dan

agregat dikeluarkan dari perendaman. Agregat dilap permukaannya

untuk memperoleh kondisi SSD.

b. Agregat dimasukkan kedalam keranjang kawat, lalu ditimbang dengan

menggunakan timbangan otomatis.

c. Agregat dikeluarkan dari keranjang kawat lalu dimasukkan dalam oven

selama 24 jam dengan suhu 110±5º C.

d. Keranjang yang dalam keadaan kosong ditimbang dalam air dengan

timbangan otomatis.

e. Agregat yang telah dioven selama 24 jam ditimbang dan dicatat

beratnya.

f. Percobaan dilakukan untuk CA masing-masing 1000 gr.

2. Prosedur percobaan agregat halus adalah ;

Persiapan kondisi SSD :

a. Agregat direndam selama 24 jam

b. Air bahan perendam dibuang perlahan-lahan agar agregat tidak ikut

terbuang.

c. Agregat dikeringkan dengan menggunakan Hot Plate sampai SSD.

d. Agregat dimasukkan kedalam kerucut sebanyak 1/3 penuh lalu dirojok

sebanyak 5 kali dengan tinggi jatuh ± 5 cm.

e. Di isi lagi agregat 2/3 penuh lalu dirojok sebanyak 8 kali.

f. Di isi sampai penuh lalu dirojok 12 kali.

g. Permukaan cetakan diratakan.

h. Cetakan diangakat vertical.

i. Bila masih menyerupai kerucut maka agregat masih dianggap dalam

(24)

18

j. Kemudian agregat dikeringkan kembali dengan alat pengering.

k. Agregat kemudian dimasukkan kembali sebanyak 1/3, 2/3, dan 3/3

bagian penuh lalu cetakan kembali diangkat vertikal sampai kondisi

SSD.

Pengujian :

a. Timbangan agregat kondisi SSD sebanyak 250 gr.

b. Masukkan dalam oven dengan suhu (110±5ºC) selama 24 jam.

c. Timbangan agregat 250 gram lagi dan dimasukkan kedalam

picnometer.

d. Air suling diisi kedalam picnometer hingga batas yang ditentukan.

e. Picnometer kemudian diguncang hingga pori-pori udara keluar.

f. Picnometer yang berisi agregat dan air suling ditimbang dan catat

beratnya.

g. Agregat dan air suling dalam picnometer dibuang.

h. Kemudian picnometer isi kembali dengan air suling hingga batas yang

ditentukan, lalu ditimbang dan dicatat beratnya.

i. Agregat yang telah dioven selama 24 jam ditimbang dan dicatat

beratnya.

3.3. Metode Pencampuran

Dalam pekerjaan pencampuran ada 2 (dua) cara yang digunakan dalam

pencampurannya yaitu :

Pencampuran jenis takaran (weight batching plant)

Pencampur dengan pemasok menerus (continious feed plant)

Metode pencampuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pencampuran

jenis takaran (weight batching plant). Rumusan campuran kerja harus ditentukan

yang akan menjadi dasar dalam membuat benda uji. Dalam rumusan campuran

tersebut meliputi :

Spesifikasi agregat yang akan digunakan

Harga kadar aspal yang diuji dalam campuran

(25)

19 A. Campuran Aspal Beton

Perencanaan campuran Aspal Beton yang akan digunakan adalah

berdasarkan metode Marshall, dengan metode ini kita dapat menentukan

jumlah pemakaian aspal yang tepat sehingga dapat menghasilkan komposisi

campuran yang baik antara agregat dan aspal sesuai dengan persyaratan

teknis perkerasan jalan yang ditentukan.

Data yang diperlukan untuk membuat campuran aspal beton adalah ;

Jenis agregat

Gradasi agregat

Jenis aspal keras

Jenis bahan pengisi (filler)

B. Pemilihan Spesifikasi Campuran

Dalam mendisain campuran Aspal beton, spesifikasi campuran agregat

yang didapat adalah Gradasi Agregat Gabungan Spesipikasi ini sesuai

dengan dengan Gradasi Agregat gabungan WC ( Wearing Course) pada

Lataston(HRS)

Tabel : Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal

Ukuran

ayakan

(mm)

% Berat Yang Lolos Terhadap Total Agregat Dalam Campuran

Lataston (HRS)

Gradasi senjang Gradasi semi senjang

WC Base WC Base

37,5 - - - -

25 - - - -

(26)

20

12,5 90-100 90-100 87-100 90-100

9,5 75-85 65-90 55-88 55-70

4,75 - - - -

2,36 50-72 35-55 50-62 32-44

1,18 - - - -

0,600 35-60 15-35 20-45 15-35

0,300 - - 15-35 5-35

0,150 - - - -

0,075 6-10 2-9 6-10 4-8

3.4. Metode uji Marshall

A. Untuk Kadar Aspal Optimum dengan pengujian Marshall Test

Sampel yang akan diuji merupakan campuran dari kombinasi agregat

kasar (CA), agregat sedang (MA), agregat halus (FA), Filler dari sumber

agregat CA, MA, FA dan Aspal AC 60/70. Perbandingan agregat yang dipakai

akan didapat dari percobaan analisa saringan. Aspal yang digunakan adalah

aspal AC 60/70 dengan beberapa persentase yakni mulai dari 6%; 6,5%; 7%;

7,5%; 8%.

a. Pengadaan Bahan

Bahan-bahan yang sudah disiapkan diambil dari Stone cruisher AMP

PT.Adhi karya Patumbak. Adapun bahan-bahan yang diambil adalah agregat

kasar (CA), sedang (MA), dan Halus (FA) dan aspal type AC 60/70.

(27)

21

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan sampel adalah sebagai

berikut;

1. Goni plastic sebagai tampat agregat.

2. Kaleng roti (isi 5 kg) sebagai tempat aspal.

3. Pan besar dengan dasar yang rata sebagai tempat sampel yang telah

selesai dibuat.

4. Timbangan dengan kapasitas 10 kg dengan nilai akurasi 0,1 gr.

5. Saringan 1 set ( ½, 3/8, #8, #30, #200, Pan) serta mesin pengguncang

berfungsi untuk menganalisa dan memisahkan setiap fraksi agregat yang

dipakai dan disesuaikan dengan spesifikasi yang ditentukan.

6. Kantong plastik kapasitas 2 kg sebagai tempat agregat yang telah

ditimbang sebanyak 1200 gr.

7. Spidol untuk memberi kode pada plastik yang telah diisi agregat.

8. Kompor gas untuk memanaskan agregat dan aspal.

9. Pan plastik kapasitas 2 kg untuk memudahkan penimbangan agregat.

10.Kuali 2 buah sebagai tempat memanaskan agregat dan aspal.

11.Sendok dari baja sebagai pengaduk campuran aspal.

12.Thermometer dengan suhu 0º - 280ºC untuk mengukur suhu.

13.Spatula untuk merojok campuran sebelum dipadatkan.

14.Gunting untuk membuat kertas saring yang berfungsi sebagai alas diatas

dan dibawah sampel yang dipadatkan.

15.Hot Plate untuk memanaskan cetakan.

16.Kuas untuk membersihkan dan memberi oli pada cetakan sebelum

digunakan.

17.Kain lap sebagai lap tangan.

18.Cetakan berbentuk silinder dengan diameter 10 cm, tinggi (h) 7,5 cm yang

dilengkapi dengan plat atas dan leher sambung.

19.Penumbuk berbentuk silinder dengan berat 4,563 kg, permukaan rata

dengan tinggi jatuh 45,7 cm.

20.Landasan pemadat terdiri dari balok 20 x 20 x 45 cm, dan penutup baja

dalam ukuran (30,5 x 30,5 x 2,50) cm serta dilengkapi dengan alat

(28)

22

21.Scrap untuk membersihkan sendok dari campuran aspal yang melekat

sewaktu pencampuran aspal dan agregat.

22.Ekstruder jack untuk mengeluarkan benda uji yang sudah dipadatkan dari

cetakan.

B. Benda uji

a. Persiapan Benda Uji

Keringkan agregat sampai beratnya tetap pada suhu (105 ± 5)0C. Pisahkan

agregat dengan cara penyaringan kering ke dalam fraksi-fraksi yang

dikehendaki. Jumlah benda uji yang dibuat ada dua jenis campuran

berdasarkan agregat penyusunnya. Untuk tiap jenis dibuat tiga buah benda uji

dengan kadar aspal yang sama, sedangkan kadar aspal yang ditinjau muali

dari 5% - 7 %. Sehingga banyaknya benda uji yang dibuat adalah 30 buah

benda uji.

b. Penentuan suhu pemadatan dan pencampuran

Pada penelitian ini suhu pencampuran adalah 160ºC dan suhu pemadatan

adalah 135ºC. Untuk mendapatkan suhu tersebut, agregat dipanaskan sampai

suhu 175ºC dan aspal juga dipanaskan sampai suhu 160ºC.

c. Persiapan Campuran

Untuk tiap benda uji diperlukan agrerat sebanyak ± 1200 gr sehingga

menghasilkan tinggi benda uji kira-kira 6,25 cm ± 0,25 cm (2,5” ± 0,05”).

Panaskan panci pencampuran beserta agregat kira-kira 1500C di atas suhu

pencampuran untuk aspal panas dan ter dan aduk sampai merata, untuk aspal

dingin pemanasan sampai 1400C di atas suhu campuran. Tuangkan aspal

sebanyak yang dibutuhkan ke dalam agregat yang sudah dipanaskan tersebut.

Kemudian aduklah dengan cepat pada suhu 3.b sampai agregat terlapis

merata. Untuk sampel dengan penambahan Zat Adiktif Wetfix terlebih

(29)

23

d. Pemadatan Benda Uji

Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk

dengan seksama dan panaskan sampai suhu 93,3 – 148,90C. Letakkan

selembar kertas saringan atau kertas penghisap yang sudah digunting

menurut ukuran cetakan ke dalam dasar cetakan kemudian masukkanlah

dengan spatula yang dipanaskan atau aduklah dengan sendok semen 15 kali

keliling pinggirannya dan 10 kali dibagian dalamnya. Lepaskan lehernya dan

ratakanlah permukaan campuran dengan mempergunakan sendok semen

menjadi bentuk yang sedikit cembung. Waktu akan dipadatkan suhu

campuran harus dalam batas-batas suhu pemadatan seperti yang disyaratkan.

Letakkanlah cetakan di atas landasan pemadat, dalam pemegang cetakan.

Lakukanlah pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 75 kali sesuai

kebutuhan dengan tinggi jatuh 45 cm (18”). Selama pemadatan tahanlah agar

sumbu palu pemadat selalu tegak lurus pada alas cetakan.

Lepaskan keping alas dan lehernya balikan alat cetakan berisi benda uji dan

pasanglah kembali perlengkapannya. Terhadap permukaan benda uji yang

sudah dibalik ini tumbuklah dengan jumlah tumbukan yang sama. Sesudah

pemadatan lepaskan keping alas dan pasanglah alat pengeluar benda uji pada

permukaan ujung ini. Dengan hati-hati keluarkan dan letakkan benda uji di

atas permukaan rata yang halus, biarkan selama kira-kira 24 jam pada suhu

ruang.

C. Cara Melaksanakan

a. Bersihkan benda uji dari kotoran yang menempel.

b. Berilah tanda pengenal pada masing-masing benda uji.

c. Ukur tinggi benda uji dengan ketelitian 0,1.

d. Timbang benda uji.

(30)

24

f. Timbang dalam air untuk mendapatkan isi.

g. Timbang benda uji dalam kondisi kering permukaan jenuh.

h. Rendamlah benda uji aspal panas atau benda uji ke dalam bak perendam (

Water Bath) selama 24 jam dengan suhu tetap (60 ± 1)0C. Sebelum

melakukan pengujian bersihkan batang penuntun (guide rod) dan

permukaan dalam dari kepala penekan (test head). Lumasi batang

penuntun sehingga kepala penekan yang atas dapat meluncur bebas, bila

dikehendaki kepala penekan direndam bersama-sama benda uji pada suhu

antara 21 – 380C. Keluarkan benda uji dari bak perendam dan biarkan ± 30

menit sampai suhu sampel menurun, dan letakkan ke dalam segmen bawah

kepala penekan. Pasang segmen atas di atas benda uji, letakkan

keseluruhannya dalam mesin penguji. Pasang arloji kelelehan (flow meter)

pada kedudukan di atas salah satu batang penuntun dan atur kedudukannya

jarum penunjuk pada angka nol, sementara selubung tangkai arloji (sleeve)

dipegang teguh terhadap segmen atas kepala penekan (breaking head).

Tekan selubung tangkai arloji kelelehan tersebut pada segmen atas dari

kepala penekan selama pembebanan berlangsung.

i. Sebelum pembebanan diberikan, kepala penekan beserta benda ujinya

dinaikkan alas mesin penguji. Atur kedudukan jarum arloji tekan pada

angka nol. Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan tetap

sebesar 50 mm per menit sampai pembebanan maksimum tercapai, atau

pembebanan menurut seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan

catat pembebanan maksimum yang dicapai. Lepaskan selubung tangkai

arloji (sleeve) pada saat pembebanan mencapai maksimum dan catat nilai

kelelahan yang ditunjukkan oleh jarum arloji kelelahan. Waktu yang

diperlukan dan saat diangkatnya benda uji dari rendaman air sampai

(31)

25

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN DATA 4.1.Penyajian Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel

maupun grafik. Hasil pemeriksaan agregat maupun aspal akan disajikan dalam

bentuk tabel serta di plot dalam bentuk grafik serta juga menggunakan

parameter-parameter yang mengacu pada standar perencanaan Bina Marga.

Penyajian data meliputi hasil pemerikasaan agregat, aspal dan pemeriksaan

campuran. Seluruh hasil pemeriksaan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

A. Hasil Pemeriksaan Analisa Saringan Agregat

Untuk mengetahui Proporsi tiap saringan pada gradasi, langkah yang

dilakukan adalah penelitian analisa saringan, hasil pemeriksaan analisa

saringan dapat kita lihat pada Table 4.1; Tabel 4.2 ; Tabel 4.3 dan Grafik 4.1,

4.2, dan 4.3.

Tabel 4.1 Analisa saringan Agregat Kasar (CA)

(32)

26 Grafik 4.1 Analisa Saringan CA

Tabel 4.2 Analisa saringan Agregat Sedang (MA)

(33)

27 Grafik 4.2 Analisa Saringan MA

Tabel 4.3 Analisa saringan Agregat Halus (FA)

(34)

28 Grafik 4.3 Analisa Saringan FA

B. Kombinasi Agregat

Dengan diperolehnya data dari analisa saringan di atas maka dicoba untuk

mengkombinasikan agregat yang ada supaya memenuhi speck yang ditentukan

oleh standart BinaMarga. (Lihat pada table 4.4)

Tabel 4.4(Proporsi campuran agregat)

NO

(35)

29

C. Analisa Perhitungan Berat Agregat, Aspal dan Batu Kapur

Berat campuran yang akan dibuat adalah berat agregat + berat aspal, berat

agregat adalah 1200 gr, sedangkan berat aspal adalah berat agregat dikali %

aspal. Contoh perhitungan berat aspal dapat dilihat pada perhitungan dibawah

ini :

Perhitungan Aspal Hotmix Tanpa Penggunaan Kapur

Berat agregat : 1128 gr

GRAFIK 4.4 KOMBINASI AGREGAT GRADASI

spec yang didapat

Batas Atas

(36)

30

Untuk sampel yang memakai Batu Kapur :

Berat agregat : 1128 gr

Pengujian marshall dilakukan untuk mengetahui stabilitas, flow, air void,

bulk density dan VBF dengan berpedoman kepada persyaratan dalam peraturan

jalan raya.

a. Analisa Data

Dalam melakukan analisa data, dilakukan evaluasi hasil uji marshall

dengan persyaratan Bina Marga untuk aspal beton campuran panas (Hotmix)

Analisa dilakukan terhadap bahan penyusun campuran dan hasil uji marshall.

A. Analisa Terhadap Bahan Penyusun Campuran Aspal

Aspal yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspal keras Pen 60/70.

Setelah dilakukan pengujian didapat data yang memenuhi kriteria persaratan

(37)

31 Tabel 4.5. Karakteristik Aspal

Jenis Penimbangan Berat material

I II

Berat picnometer (A), gr 30,6 30,60

Berat picnometer + air (B), gr 50,8 51,7

Berat picnometer + aspal (C), gr 49,5 48,9

Berat picnometer + aspal + air (D), gr 51,4 52,2

Berat jenis aspal (C-A)-((B-A)-(D-C)), gr/cc 1,033 1,028

Berat jenis aspal (C-A)-((B-A)-(D-C)), gr/cc 1,030

Sumber : Hasil Pengujian Laboratorium AMP PT.ADHI KARYA

Agregat

Data dari hasil pengujian agregat merupakan angka yang menunjukkan

karakteristik dari agregat penyusun campuran. Karekteristik dari agregat

yang ditinjau adalah

a. Berat Jenis

Agregat yang digunakan terdiri dari CA, MA, FA, sehingga didapat dua

variasi harga berat jenis dari agregat (Tabel 6).

Tabel 4.6. Karakteristik Agregat

Pemeriksaan Agregat Kasar (CA) Agregat Halus (FA)

Bj bulk 2.567 2.561

Bj Kering permukaan 2.593 2.594

Bj Semu 2.635 2.648

Absorsi (%) 1.004 1.276

(38)

32

Sifat dari berat jenis agregat ini berpengaruh dalam volume dan kekuatan

campuran. Secara teoritis, jika suatu agregat penyusun campuran memiliki berat

jenis yang lebih besar, maka stabilitas campuran dalam uji Marshall akan lebih

tinggi.

b. Absorbsi

Harga penyerapan menunjukkan persentase dari berat air yang dapat

diserap pori terhadap berat agregat kering. Penyerapan agregat terhadap air tidak

identik dengan penyerapan agregat terhadap aspal, tetapi tingkat kemampuan

penyerapan agregat terhadap air dapat dijadikan indicator dalam mengidentifikasi

kemampuan penyerapan agregat terhadap aspal. Semakin besar persentase

penyerapan agregat terhadap air, maka menunjukkan penyerapan agregat terhadap

(39)

33

(40)

34

TABEL 4.8 MARSHALL TES ABU BATU KAPUR

(41)

35

KURVA 4.1 MARSHALL ABU BATU

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

S

% Asphalt by Total Mix

1

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

A

% Asphalt by Total Mix

40

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

V

% Asphalt by Total Mix 2,230

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

B

% Asphalt by total Mix

1

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

F

% Asphalt by Total Mix

12,0

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

V

% Asphalt by Total mix

100

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

M

% Asphalt by Total Mix

(42)

36

KURVA 4.2 MARSHALL ABU BATU KAPUR

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

S

% Asphalt by Total Mix

1

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

A

% Asphalt by Total Mix

40

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

V

% Asphalt by Total Mix 2,230

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

B

% Asphalt by total Mix

1

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

F

% Asphalt by Total Mix 12,0

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

V

% Asphalt by Total mix

100

5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

M

% Asphalt by Total Mix

(43)

37

B. Analisa Uji Marshall

Dari hasil pengujian aspal beton (hotmix) dengan meode marshall test,

analisa dapat dilakukan terhadap sifat-sifat teknis yang merupakan karakteristik

dari campuran. Meliputi stabilitas, kelelehan (flow), VIM, VMA, Bulk Density

dan Marshall Quotient. Hasil parameter yang diperoleh seperti kita lihat pada

Table 4.9 dan Table 4.10.

Tabel 4.9. Hasil parameter yang diperoleh dengan abu batu.

Parameter Kadar Aspal (%) Spec Bina

Marga

parameter Kadar Aspal (%) Spec Bina

(44)

38

A. Stabilitas

Dari hasil pengujian setiap benda uji, ternyata dengan menggunakan filler

abu batu kapur akan meningkatkan nilai stabilitas suatu campuran sampai nilai

maksimum pada satu angka tertentu dan bila penambahan kadar aspal berlanjut

akan menurunkan nilai stabilitas campuran tersebut.

Nilai stabilitas yang tertinggi dicapai oleh campuran dengan menggunakan

filler abu batu kapur dibandingkan tanpa pemakaian abu batu kapur.

Kenaikan stabilitas dari setiap campuran dapat dilihat dari tabel berikut:

Table 4.11. kenaikann stabilitas hotmix + batu kapur

kadar aspal

(%)

Stabilitas tanpa Batu

kapur (kg)

Hasil penelitian menunjukkan harga stabilitas dari semua jenis tipe

campuran memenuhi persyaratan nilai stabilitas, yaitu minimal 800 kg untuk lalu

lintas berat. Kenaikan stabilitas pada campuran dengan penggantian filler abu

batu menjadi abu batu kapur karena daya ikatan yang diberikan oleh abu batu

kapur lebih tinggi daripada ikatan campuran tanpa abu batu kapur.

B. Kelelehan (Flow)

Hasil pengujian marshall pada kadar aspal optimum, nilai flow dari

masing-masing tipe campuran masih dapat ditoleransi. Flow yang di ijinkan min

3mm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai flow dari campuran tanpa

abu batu kapur lebih rendah dari pada nilai flow campuran abu batu kapur.

Nilai flow maks dari campuran tanpa abu batu kapur adalah 3.82% pada kadar

(45)

39

Nilai flow mask dari campuran abu batu kapur adalah 3.87 % pada kadar aspal

8%.

Nilai flow min dari campuran tanpa abu batu kapur adalah 2.83% kadar aspal 6%

Nilai flow min dari campuran abu batu kapur adalah 2.88 pada kadar aspal 6%

Dari hasil pengujian, semakin tinggi kadar aspal maka nilai flow semakin

tinggi,dan penggantian filler menggunakan abu batu kapur menghasillkan nilai

flow yg lebih tinggi dari campuran yang menggunakan filler abu batu.

C. VIM (Void In Mixture)

VIM merupakan volume total udara yang berada diantara partikel agregat

yang terselimuti aspal dalam suatu campuran yang telah dipadatkan. Penambahan

kadar aspal pada tiap jenis campuran memiliki kecenderungan mengurangi harga

dari VIM. Dari hasil pengujian didapat hasil campuran aspal hotmix biasa

memiliki harga VIM lebih besar yaitu dibandingkan dengan campuran dengan

penggantian filler dengan abu batu kapur.

Nilai maks untuk hotmix biasa 5.27% pada kadar aspal 6%. Nilai min 2.63%

pada kadar aspal 8%.

Nilai maks untuk hotmix dengan filler abu batu kapur 5.55% pada kadar aspal 6%.

Nilai min 2.95% pada kadar aspal 8%.

Nilai VIM (rongga antar campuran) hotmix biasa lebih besar daripada

hotmix dengan filler abu batu kapur, karena ikatan antar campuran pada hotmix

dengan filler abu batu kapur lebih besar.

D. VMA (Void In Mineral Agregat)

Pada umumnya nilai VMA merupakan rongga antar partikel agregat pada

campuran padat termasuk rongga udara kadar aspal efektif, dinyatakan dalam

persen volume total. Nilai VMA tertinggi terdapat pada hotmix yang

menggunakan filler abu batu kapur. Pada campuran hotmix biasa nilai maks VMA

17.92% dan min 17.01%. sedangkan pada campuran dengan menggunakan filler

(46)

40

E.Berat Isi (Density)

Meningkatkan berat isi campuran sejalan dengan meningkatkan kadar aspal. Akan tetapi setelah mencapai titik maksimum penambahan kadar aspal

justru akan mengurangi nilai berat isi.

Nilai maks density untuk hotmix biasa 2.27 gr/cm³ pada kadar aspal 7.5%

dan min 2.25 gr/cm³pada kadar aspal 6%.

Nilai maks density yang menggunakan abu batu kapur 2.27 gr/cm³ pada

kadar aspal 7.5% dan min 2.25 gr/cm³ pada kadar aspal 6%.

F.Marshall Quotient

Berdasarkan nilai yang diberikan oleh marshall test, maka nilai MQ yang

diberikan untuk lalu lintas berat min 250kg.

Nilai maks MQ untuk campuran hotmix biasa 347kg pada kadar aspal

6.5% dan min 293 pada kadar aspal 8%

Nilai MQ dengan menggunakan abu batu kapur 361kg pada kadar aspal

6.5% dan min 301 kg pada kadar aspal 8%.

Semakin tinggi kadar aspal pada campuran hotmix maka semakin

rendah MQ pada campuran yang menggunakan filler abu batu kapur dan hotmix

biasa. Tetapi kedua aspal bentonit dan hotmix biasa memenuhi kriteria dari spek

(47)

41

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Rancangan campuran beraspal dengan penetrasi aspal 60/70 dan

pemakaian abu batu kapur sebagai pengganti filler dapat meningkatkan

nilai stabilitas ± 4.76 % dari stabilitas hotmix yang menggunakan filler

abu batu karena ikatan agregat yang semakin bertambah.

2. Nilai flow campuran dengan abu batu kapur sebagai pengganti filler lebih

tinggi daripada campuran dengan menggunakan filler abu batu.

3. Hasil uji menunjukkan bahwa model campuran dengan menggunakan abu

batu kapur sebagai pengganti filler sesuai dengan yang diharapkan yaitu,

daya lekat lebih kuat sehingga tidak membiarkan air meresap ke

perkerasan dan membuat nilai stabilitas bertambah.

5.2. SARAN

Melihat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, menggunakan abu batu

kapur sebagai pengganti filler, baik digunakan untuk campuran, karena dapat

(48)

42

LAMPIRAN

TERMOMETER ASPAL DAN TERMOMETER

(49)

43

ALAT CETAK SAMPEL (COMPEK) ALAT UNTUK MENGELUARKAN SAMPEL (JECK)

(50)

44

WATER BACK DAN TERMOMETER

Gambar

Grafik 2.2. Grafik gradasi senjang
Tabel : Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal
Tabel 4.1 Analisa saringan Agregat Kasar (CA)
Tabel 4.2 Analisa saringan Agregat Sedang (MA)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun dokumen ini telah dipersiapkan dengan seksama, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum dan keuangan

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir

Dari seorang mubaligh atau subjek dakwah menyampaikan suatu pesan yang berisi ajaran Islam dengan menggunakan suatu cara atau metode tertentu untuk mempermudah proses

SAKRI SUTARDI,

Disisi lain perkembangan pinjaman, simpanan masyarakat serta nisbah pinjaman terhadap masyarakat pada BRI Udes, LDKP dan Bank pasar dalam kurun waktu terakhir menunjukkan

Menurut Thalib (2010), sebagai makluk sosial remaja dituntut untuk mampu mengatasi segala persoalan yang timbul dari hasil interaksi dengan lingkungan sosial dan

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG..

Peran dan Fungsi yang dimiliki oleh BPOM dalam Peredaran Obat Tradisional terdaftar di Bandar Lampung didasari pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan