DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN
NOMOR PER-20/PB/2006
TENTANG
PETUNJUK PENYALURAN DAN PENCAIRAN DANA
JAMINAN SOSIAL PENYANDANG CACAT BAGI PENYANDANG CACAT BERAT
DAN
JAMINAN SOSIAL LANJUT USIA BAGI LANJUT USIA TERLANTAR
DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian dana Jaminan Sosial Penyandang
Cacat bagi Penyandang Cacat Berat dan pemberian dana Jaminan
Sosial Lanjut Usia bagi Lanjut Usia Terlantar yang dananya bersumber
pada dana Rupiah Murni yang dialokasikan dalam DIPA Direktorat
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat dan DIPA
Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia, perlu diatur Petunjuk Teknis
Penyaluran dan Pencairan Dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat
bagi Penyandang Cacat Berat dan Jaminan Sosial Lanjut Usia bagi
Lanjut Usia Terlantar;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
tentang Petunjuk Penyaluran dan Pencairan Dana Jaminan Sosial
Penyandang Cacat bagi Penyandang Cacat Berat dan Jaminan Sosial
Lanjut Usia bagi Lanjut Usia Terlantar;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5,
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002
tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4212)
sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 72 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4418);
5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan;
6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 214/KMK.01/2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Perbendaharaan dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara;
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang
Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara;
8. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 66/PB/2005
tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN
TENTANG PETUNJUK PENYALURAN DAN PENCAIRAN DANA
JAMINAN SOSIAL PENYANDANG CACAT BAGI PENYANDANG
CACAT BERAT DAN JAMINAN SOSIAL LANJUT USIA BAGI
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini yang dimaksud
dengan:
1. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen
pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga
serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama
Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan
pembiayaan kegiatan serat dokumen pendukung kegiatan akuntansi
pemerintah.
2. Dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat kepada Penyandang Cacat
Berat, yang selanjutnya disebut Jaminan Sosial Penyandang Cacat
adalah pemberian bantuan langsung berupa uang tunai sejumlah
tertentu kepada Lanjut Usia Terlantar.
3. Dana Jaminan Sosial Lanjut Usia kepada Lanjut Usia Terlantar, yang
selanjutnya disebut Jaminan Sosial Lanjut Usia adalah pemberian
bantuan langsung berupa uang tunai sejumlah tertentu kepada Lanjut
Usia Terlantar.
4. Surat Perintah Membayar Langsung, selanjutnya disebut SPM-LS
adalah surat perintah membayar langsung kepada pihak ketiga yang
diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atas
dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja lainnya.
5. Surat Perintah Pencairan Dana, selanjutnya disebut SP2D adalah surat
perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum
Negara, untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan
SPM.
6. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya
disebut PA/Kuasa PA adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau
kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada
pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Sosial untuk mengelola dana yang
dialokasikan untuk Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan Jaminan
Sosial Lanjut Usia termasuk dana untuk keperluan safe guarding.
7. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, selanjutnya disebut KPPN,
adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
8. Kantor Pos Bayar adalah Unit Pelaksana Teknis PT Pos Indonesia
(Persero) yang ditunjuk untuk pembayaran dana Jaminan Sosial
Penyandang Cacat Berat.
9. Dana safe guarding adalah dana yang dialokasikan untuk kegiatan
pendukung pelaksanaan Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan
Jaminan Sosial Lanjut Usia.
Pasal 2
(1) Pemberian Jaminan Sosial Penyandang Cacat ditujukan kepada
penyandang cacat berat guna:
a. Meringankan beban hidup dalam rangka pemenuhan kebutuhan
dasar:
b. Memelihara taraf kesejahteraan sosial penyandang cacat agar
menikmati taraf hidup yang wajar.
(2) Pemberian Jaminan Sosial Lanjut Usia ditujukan kepada lanjut usia
terlantar guna:
a. Membantu lanjut usia terlantar agar tetap dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya;
b. Memelihara taraf kesejahteraan sosial lanjut usia agar menikmati
Pasal 3
Pencairan dan penyaluran dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan
Lanjut Usia dilaksanakan atas dasar prinsip efektifitas, efisiensi,
transparansi, dan akuntabilitas.
BAB II
ALOKASI DANA
Pasal 4
(1) Alokasi dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat dituangkan dalam
DIPA Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat.
(2) Alokasi dana Jaminan Sosial Lanjut Usia dituangkan dalam DIPA
Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia.
(3) Jumlah dana yang tercantum dalam DIPA merupakan pagu maksimal
yang tidak dapat dilampaui.
BAB III
PENCAIRAN DAN PENYALURAN DANA
Pasal 5
(1) Pelaksanaan penyaluran dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan
Lanjut Usia, Kuasa PA bekerja sama dengan PT Pos Indonesia
(Persero).
(2) PT Pos Indonesia (Persero) melaksanakan penyaluran dana Jaminan
Sosial Penyandang Cacat dan dana Jaminan Sosial Lanjut Usia
berdasarkan suatu perjanjian kerjasama.
(3) Penentuan penerima dana ditetapkan melalui hasil pendataan
Penyandang Cacat dan pendataan Lanjut Usia yang dilakukan oleh
Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota.
(4) Data Penyandang Cacat dan Lanjut Usia disampaikan oleh
Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota melalui Dinas/Instansi Sosial
Provinsi yang diteruskan ke Direktur Jenderal Pelayanan dan
tentang Penyandang Cacat Berat dan Lanjut Usia Terlantar yang
menerima jaminan sosial.
(5) Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial
tentang Penerima Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan Lanjut Usia
Terlantar disampaikan kepada PT Pos Indonesia (Persero).
(6) Berdasarkan data Penyandang Cacat Berat dan Lanjut Usia Terlantar
yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi
Sosial pada ayat (5), PT Pos Indonesia (Persero) menentukan Kantor
Pos Bayar.
(7) PT Pos Indonesia (Persero) meyampaikan data sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) kepada masing-masing Kantor Pos Bayar sesuai lokasi
Penerima Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan Lanjut Usia.
Pasal 6
(1) Pencairan dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat dan Lanjut Usia
pada KPPN yaitu KPPN Jakarta III dilaksanakan sekaligus untuk
memenuhi kebutuhan selama 12 (dua belas) bulan sesuai dengan
jumlah Penyandang Cacat dan Lanjut Usia yang diajukan oleh Kuasa
PA.
(2) Pencairan dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat di KPPN
dilaksanakan dengan mengajukan Surat Perintah Membayar Langsung
(SPM-LS) oleh Kuasa PA ke KPPN dengan melampirkan:
a. Data Penyandang Cacat Berat;
b. Rekapitulasi dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat sesuai dengan
data jumlah Penyandang Cacat Berat yang dirinci per provinsi, per
kabupaten/kota, per kecamatan, dan per desa/keluharan;
c. Asli Perjanjian Kerjasama antara Departemen Sosial Republik
Indonesia dan PT Pos Indonesia (Persero) mengenai penyaluran
(3) Pencairan dana Jaminan Sosial Lanjut Usia di KPPN dilaksanakan
dengan mengajukan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS)
oleh Kuasa PA ke KPPN dengan melampirkan:
a. Data Lanjut Usia Terlantar;
b. Rekapitulasi dana Jaminan Sosial Lanjut Usia sesuai dengan data
jumlah Lanjut Usia Terlantar yang dirinci per provinsi, per
kabupaten/kota, per kecamatan, dan per desa/kelurahan;
c. Asli Perjanjian Kerjasama antara Departemen Sosial Republik
Indonesia dan PT Pos Indonesia (Persero) mengenai penyaluran
dana Jaminan Sosial Lanjut Usia.
(4) Atas dasar SPM-LS tersebut, KPPN menerbitkan SP2D dan
mentransfer dana ke rekening Kuasa PA yang ada di PT Pos Indonesia
(Persero) c.q. Sentral Giro Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta.
(5) PT Pos Indonesia (Persero) c.q. Sentral Giro Layanan Keuangan
(SGLK) Jakarta dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
terhitung mulai tanggal pencairan dana oleh Bank Operasional KPPN,
harus mentransfer dana tersebut ke seluruh Kantor Pos Bayar.
(6) PT Pos Indonesia (Persero) wajib menginformasikan kepada Kantor
Pos Bayar mengenai transfer dana sebagaimana dimaksud dalam ayat
(5).
(7) Kantor Pos Bayar melakukan penyaluran dana Jaminan Sosial
Penyandang Cacat dan Lanjut Usia Terlantar kepada yang berhak
sesuai dengan data Penyandang Cacat Berat dan Lanjut Usia Terlantar
yang disampaikan PT Pos Indonesia (Persero) sebagaimana dimaksud
pada pasal 5 ayat (7).
(8) Penyaluran dana oleh Kantor Pos Bayar dilakukan setelah Kantor Pos
Bayar melakukan verifikasi mengenai kebenaran dan keabsahan data
yang diterima.
(9) Kantor Pos Bayar dapat melakukan pembayaran setelah tenggang
waktu 21 hari sejak SGLK menerima transfer dana dari Bank
(10) Masa pembayaran adalah 40 hari sejak Kantor Pos Bayar dapat mulai
melakukan pembayaran sebagaimana pada ayat (9).
BAB IV
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
Pasal 7
(1) PT Pos Indonesia (Persero) wajib menyampaikan Laporan Transfer
Dana beserta salinan Rekening Koran kepada Kuasa PA pada hari
berikutnya setelah transfer dana yang dilakukan.
(2) PT Pos Indonesia (Persero) c.q. Sentral Giro dan Layanan Keuangan
(SGLK) Jakarta wajib menyampaikan Laporan Rekapitulasi Realisasi
Penyaluran Dana per Kabupaten/Kota dan Provinsi dari setiap Kantor
Pos Bayar kepada Kuasa PA dan KPPN selambat-lambatnya tanggal
10 bulan berikutnya.
(3) Pada akhir tahun anggaran PT Pos Indonesia (Persero) c.q. Sentral
Giro dan Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta wajib menyetorkan ke
rekening Kas Negara sisa dana yang tidak terserap oleh penerima
bantuan selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran
berkenaan dan berkewajiban menyampaikan bukti setoran tersebut ke
KPPN dan Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.
(4) Selanjutnya PT Pos Indonesia (Persero) c.q. Sentral Giro dan Layanan
Keuangan (SGLK) Jakarta dan Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi
Sosial membuat Surat Pernyataan Bersama bahwa dana bantuan telah
disalurkan kepada penerima bantuan. Surat Pernyataan Bersama ini
disampaikan kepada KPPN.
BAB V
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 8
(1) Kecuali dinyatakan lain, Dana Jaminan Sosial Penyandang Cacat bagi
Usia Terlantar yang tidak dicairkan setelah batas akhir tahun anggaran
dapat digunakan pada tahun anggaran berikutnya.
(2) Kepala Kantor Wilayah XI Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jakarta
diminta mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan penyaluran
dana sehingga berjalan lancar.
Pasal 9
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini berlaku mulai 1 Januari
2006.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan
Direktur Jenderal Perbendaharaan ini dengan penempatannya dalam Berita