BAB V
SUB DINAS BINA KESEHATAN HEWAN
A. Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan
Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan sesuai dengan tupoksi mempunyai tugas antara lain :
1. Mengevaluasi data penyakit hewan, yang berkaitan dengan upaya pencegahan pemberantasan penyakit hewan.
2. Menyiapkan bahan yang terkait dengan upaya
pencegahan pemberantasan penyakit hewan.
3. Menyiapkan program dan bahan kegiatan operasional dalam rangka penanggulangan penyakit hewan.
4. Melakukan pengawasan dan pengendalian penyakit hewan.
Beberapa jenis penyakit hewan yang pada saat ini perlu perhatian khusus untuk dilakukan pengendalian adalah ;
1. Rabies, hampir seluruh kab/kota sudah merupakan daerah endemis, kecuali Kep. Mentawai masih dinyatakan bebas.
2. SE, Ngorok, kadang-kadang terjadi kasus secara sporadic terutama pada daerah kantong penyakit dan pada lokasi ternak kerbau, dan pada tahun 2005 terjadi out break di Kec. Basa ampek balai Tapan Kab Pesisir Selatan.
3. Jembrana pada tahun 2005 tidak terjadi out break terutama pada daerah yang pernah terjadi kasus positif jembrana, ternak sapi bali yang berada pada daerah kasus telah dilakukan vaksinasi selama 3 tahun berturut-turut.
5. Hog colera karena peternakan babi di Sumatera barat sudah berkurang, sejak terjadi kasus hog colera pada tahun 1995 di kota Padang, sampai tahun2005 penyakit hog colera tidak pernah muncul.
6. Avian Influenza ( flu burung ) pada tahun 2005 daerah yang terjangkit flu burung ada 2 kab/kota yaitu Kab. Agam, Kab 50 Kota. Sedangkan pada tahun 2004 sebanyak 5 kab/kota yaitu Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kab.50 Kota, Kab Tanah Datar dan Kab Padang Pariaman, sehingga pada tahun 2005 daerah Sumatera Barat yang terjangkit flu burung adalah 7 daerah kab/ kota.
Untuk melakukan penanggulangan beberapa penyakit penting tersebut maka kasi P3H telah merencanakan vaksin untuk pengendalian penyakit supaya tidak terjadi out break antara lain :
1) Vaksin SE, Ngorok. Pelaksanaan vaksinasi SE dilakukan oleh Kab/kota yang berada pada daerah kantong penyakit SE (ngorok ) terutama pada ternak kerbau. Pada tahun 2005 propinsi Sumatera Barat mendapat vaksin SE berasal dari subsidi Pusat sebanyak 10.000 dosis dan pengadaan dari DASK Dinas Peternakan tahun 2005 sebanyak 25.000 dosis dan realisasi vaksinasi SE dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Realisasi vaksin SE Tahun 2005
No Kabupaten/Kota Vaksin SE Vaksin SE Realisasi APBN/dosis APBD/dosis dosis
1 Kabuapten Agam 400 2,000 2,000
2 Kabuapten Pasaman Barat - -
3 Kabupaten Pasaman - -
4 Kabupaten 50 Kota 5,600 5,600 5 Kabupaten Tanah Datar 2,000 2,000 6 Kabuapaten Solok 1,000 1,000
7 Kabupaten Swl Sijunjung - -
14 Kota Pdg. Panjang 250 250 15 Kota Pariaman 1,750 1,750 16 Kota Sawahlunto 500 - -
17 Kota Solok - -
18 Kota Payakumbuh - 2,000 2,000
19 Kota Padang 1,000 - -
20 UPT Klinik Hewan padang - -
Jumlah 10,000 25,000 25,000
2) Vaksin rabies dan racun stricnin untuk pemberrantasan diutamakan pelaksanaan vaksinasi terhadap anjing yang berpemilik sedangkan eliminasi terhadap anjing yang berkeliaran di jalan umum. Pada tahun 2005 pengadaan vaksin oleh Dinas Peternakan Provinsi melalui dana dekosentrasi sebanyak 6.000 dosis dan subsidi pusat sebanyak 10.000 dosis, sedangkan untuk eliminasi disediakan racun strikhnin sebanyak 15 kg yang berasal dari dana dekonsentrasi sebanyak 9 kg dan dari DASK Dinas Peternakan Propinsi sebanyak 6 kg, alokasi dan realisasi seperti Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Realisasi Penanggulangan Penyakit Rabies
No Kabupaten/Kota Rabies APBN Racun APBN Racun APBD
Dosis Kg Kg
1 Kabuapten Agam 1,050 0,5
2 Kabuapten Pasaman Barat 150
3 Kabupaten Pasaman 750 0,5
4 Kabupaten 50 Kota 800 1
5 Kabupaten Tanah Datar 2,100 0,5 0,5
6 Kabuapaten Solok 750 1 0,5
7 Kabupaten Swl Sijunjung -
8 Kabupaten Dharmasraya 1,100 0,5 0,5
9 Kabupaten Solok Selatan - 0,5
10 Kabupaten Pesisir Selatan 1,000 1,5
11 Kabupaten Pdg. Pariaman 1,700 0,5 0,5
12 Kabupaten Kep. Mentawai -
13 Kota Bukittinggi 850 0,5
14 Kota Pdg. Panjang 350 0,5 0,5
15 Kota Pariaman 450 0,5
16 Kota Sawahlunto 1,050 0,5
17 Kota Solok 400 0,5
18 Kota Payakumbuh 1,900 0,5 0,5
19 Kota Padang 1,450 1,5 1
Jumlah 16,050 9 kg 6 kg
3) Vaksin AI dan Desinfektan, untuk
pengendalian penyakit flu burung di Propinsi Sumatera Barat, telah dilakukan vaksinasi terhadap unggas yang berada pada daerah yang telah dinyatakan positif terhadap flu burung. Pada tahun 2005 vaksin AI disediakan dari dana subsidi pusat sebanyak 800.000 dosis dan dari DASK Dinas snak Propinsi sebanyak 500 liter desinfektan kemudian pada anggaran belanja tambahan disediakan vaksin AI 1.000.000 dosis dan desinfektan sebanyak 1000 liter. Alokasi dan realisasi dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3. Realisasi Penanggulangan Penyakit Avianinfluenza ( AI )
No Kabupaten/Kota Vaksin AI Vaksin AI Desinfektan Desinfektan APBN/dosis APBD/dosis Liter ABT/Liter
1 Kabuapten Agam 50,000 30 48
2 Kabuapten Pasaman Barat - 10
-3 Kabupaten Pasaman - 20 30
4 Kabupaten 50 Kota 400,000 300,000 55 140
5 Kabupaten Tanah Datar 100,000 - 40 76
6 Kabuapaten Solok - 10 48
7 Kabupaten Swl Sijunjung 10,000 - 31
8 Kabupaten Dharmasraya 20,000 10 24
9 Kabupaten Solok Selatan - 10
-10 Kabupaten Pesisir Selatan - 32 48
11 Kabupaten Pdg. Pariaman 50,000 50,000 30 57
12 Kabupaten Kep. Mentawai - -
-13 Kota Bukittinggi - 20 12
14 Kota Pdg. Panjang 40,000 10 55
15 Kota Pariaman 50,000 25,000 35
-16 Kota Sawahlunto 20,000 12 36
17 Kota Solok 60,000 20 63
18 Kota Payakumbuh 100,000 50
-19 Kota Padang 100,000 50,000 50 58
20 UPT Klinik Hewan padang
21 Propinsi 375,000 56 274
Pemberantasan penyakit Hewan, berkaitan dengan evaluasi data penyakit dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan. Berdasarkan laporan dari Kabupaten dan Kota serta peninjauan kelapangan terjadi kasus luar biasa (wabah) penyakit SE (ngorok) di Kab. Pesisir selatan di Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan di Jorong Bakir, Nilau Halang Rambah dan Talang sepakat, kasus penyakit ngorok terjadi pada pertengahan Maret 2005 dari kasus ini telah menimbulkan kematian ternak kerbau sebanyak 658 ekor (mati bangkai 137 ekor dan 419 potong paksa dari populasi 6000 ekor).
Kemudian pada pertengahan Juli 2005 penyakit SE atau ngorok meluas ke kecamatan Surantih desa Timbulun dan Pasir Panjang, jumlah kasus sampai akhir kejadian berjumlah 94 ekor ( mati bangkai dan potong paksa ).
Pada bulan September 2005, terjadi di daerah kec Air haji hal ini terjadi karena ternak tidak divaksinasi pada saat terjadi wabah ngorok di Kecamatan BAB Tapan, jumlah kematian ternak kerbau sebanyak 28 ekor (mati bangkai dan potong paksa )
Kabupaten Padang Pariaman., terjadi di kecamatan Tapakis desa Rimbo karambil Pada awal bulan Desember 2005 secara sporadic, dengan kematian ternak kerbau sebanyak 15 ekor (mati bangkai dan potong paksa ).
Untuk pencegahan dan pengendalian penyakit SE,atau ngorok telah dialokasikan sebanyak 12.000 dosis vaksin SE dan obat-obatan ke daerah kab. Pesisir Selatan. Karena satu-satunya jalan adalah dengan melaksanakan vaksinasi rutin terhadap ternak kerbau 1x setahun. Pengadaan vaksin SE disamping subsidi dari Direktorat jenderal Peternakan juga dianggarkan pada Dask Dinas Peternakan tahun 2005.
Avian Influenza ( Flu Burung ).
Pada tahun 2005 kasus penyakit Flu burung terjadi didaerah :
pada bulan Oktober terjadi juga kematian pada ayam buras di Jorong Tabek Panjang Kecamatan Baso dengan kematian 10 ekor dari 100 ekor populasi. 2. Kabupaten 50 Kota, di Nagari Taeh Kecamatan Mungka kematian ayam
petelur umur 52 hari sebanyak 3000 ekor dari 5000 ekor populasi kematian terjadi pada bulan September. Kemudian pada bulan Oktober terjadi kematian ayam petelur 3 ½ bulan di Kecamatan Akabiluru dengan jumlah kematian sebanyak 1000 ekor lebih dari 21.000 ekor populasi. Sampai bulan Desember tidak ada kematian lagi, semua kasus kematian unggas sudah dikonfirmasikan dengan BPPV Reg II Baso dengan hasil Positif Avian Influenza.
Untuk pengendalian dan pemberantasan penyakit avian influenza telah dilakukan beberapa tindakan antara lain :
1. Peningkatan Biosecurity dengan mengalokasikan 2500 liter desinfektan keseluruh kabupaten dan kota se Sesumatera Barat.
2. Melakukan vaksinasi pada daerah yang terjadi kasus positif Avian Influenza. 3. Mempersiapkan tenaga Dokter Hewan dan Paramedis Veteriner di Pos-Pos
Keswan untuk selalu melakukan pemantauan pada daerah kawasan ternak unggas.
Sosialisasi tentang penyakit Avian Influenza melalui media elektronik dan penyebaran leaflet kepada masyarakat
Penyakit Rabies.
293. Untuk pengendalian penyakit Rabies terutama se Sumatera telah dilakukan Rapat Koordinasi Rabies pada tanggal 9 s/ d 11 Agustus 2005 yang diikuti oleh Dinas Peternakan se Sumatera, Dinas Kesehatan se Sumatera dan Pemerintah Daerah se Sumatera.
Penanggulangan Penyakit Reproduksi.
Penanggulangan Penyakit Reproduksi dimaksudkan untuk mengatasi ternak yang mengalami kawin berulang ( lebih dari tiga kali IB ). Dilakukan pada 3 kab/kota yaitu Kab 50 Kota, Kota Payakumbuh dan Kab Darmasraya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di Kab.50 Kota dari 78 ekor yang diperiksa 26 ekor mengalami Hipofungsi (33,3%) dan CLP 12 ekor (15,4%) sedangkan endometritis 6 ekor (7,8 %) dan bunting 21 ekor ( 26,9 % ). Di Kota Payakumbuh dari 37 ekor yang diperiksa ditemui 9 ekor Hipofungsi (24,3%) dan CLP 2 ekor (5,4%) sedangkan yang menderita endometritis tidak ada (0 ) majir 1 ekor (2,7%) bunting 18 ekor (48,6 %).
Di Kab. Darmasraya dari 336 ekor yang diperiksa ditemui hipofungsi 80 ekor ( 23,8 %) CLP 43 ekor (12,8 %) endometritis sebanyak 131 ekor (39 %) bunting 97 ekor (28,7 %). Dari hasil pelayanan lansung kepada masyarakat dalam kegiatan penanggulangan penyakit reproduksi dapat dianalisa kondisi sistim reproduksi ternak disuatu wilayah/daerah.
Pelaksanaan tugas koordinasi dengan unit kerja lain ,dilakukan dalam bentuk kerjasama dalam pengembangan bioteknologi dengan Balai Embrio Tranfer dan LIPI. Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk transfer embrio pada daerah kab dan kota ( Kab 50 Kota, Kota Payakumbuh, Tanah Datar, Kab. Solok ) dan sexing sperma dengan maksud untuk meningkatkan kwalitas ternak Sumatera Barat.
B. Seksi Pengamatan Penyakit Hewan (P2H)
Seksi Pengamatan Penyakit Hewan sesuai dengan tupoksi mempunyai tugas antara lain :
1. Mengamati dan membuat ramalan penyakit hewan menular 2. Membuat peta situasi penyakit hewan menular
3. Melaksanakan surveilens epidemiologi penyakit hewan menular
4. Melaksanakan pengamatan dini terhadap kejadian penyakit hewan menular 5. Standarisasi dan akreditasi laboratorium Kesehatan Hewan
6. Melaksanakan penyidikan dan penangkalan penyakit eksotik dalam melindungi wilayah.
7. Melaksanakan koordinasi dengan chek point perbatasan dan karantina kewan 8. Standarisasi dan akreditasi peralatan dan prosedur kerja laboratorium
9. Sistim pelaporan sesuai dengan peraturan daerah, nasional dan internasional.
Selama tahun 2005 Seksi Pengamatan Penyakit Hewan telah melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1. Pengamatan terhadap penyakit
dilaporkan ke Dinas Peternakan Propinsi melalui Dinas Peternakan/Dinas Yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab./Kota masing-masing.
Kejadian penyakit hewan yang dapat dipantau di Sumatera Barat pada tahun 2005 yang digolongkan dalam jenis penyakit adalah sebagai berikut :
B. Parasit Darah
3. Avian Influenza 4. Herpes virus
G. Protozoa
1. Trichomoniasis 2. Coccidiosis 3. Plasmodium
Selain oleh Petugas Kecamatan, pengamatan penyakit dilaksanakan oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II Bukittinggi dan Laboratorium Kesehatan Hewan Simpang Empat Pasaman. Laporan hasil pemeriksaan BPPV terhadap hewan selama tahun 2005 adalah ayam sebanyak 233 ekor, sapi sebanyak 785 ekor, ikan sebanyak 10 ekor, kerbau sebanyak 75 ekor, kuda sebanyak 3 ekor, unta sebanyak 1 ekor, dan anjing sebanyak 218 ekor . Kucing 43 ekor, Monyet 5 ekor, kera 13 ekor, tikus 6 ekor, musang 1 ekor, kambing sebanyak 2 ekor, Siamang sebanyak 7 ekor.
Sehubungan denagan hal Pengamatan Penyakit Hewan seksi ini telah melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
Penentuan tingkat Prevalensi Pengamatan dan Pengujian Brucellosis pada tahun 2005 dilakukan dengan sistim sebagai berikut :
- Survei/Pengujian dilaksanakan pada 6 (enam) kabupaten, yaitu: Agam, 50 Kota, Padang Pariaman, Sawahlunto/Sijunjung, Pasaman, dan Tanah Datar.
- Masing-masing Kabupaten diambil/dipilih Kecamatan yang padat populasi sapi/kerbaunya, kemudian dari Kecamatan yang dipilih, diambil satu atau lebih desa yang terbanyak populasi sapi bibitnya. - Dari desa/lokasi yang dipilih dilakukan pengujian/pengambilan sample pada seluruh sapi/kerbau yang ada di desa tersebut (100 %).
Hasil dari pengujian/pengamatan ini, akan dipergunakan untuk menentukan status suatu daerah bebas atau tertular. Kriteria/Ketentuan Daerah/lokasi yang akan diambil sample untuk uji coba adalah sebagai berikut :
- Daerah/lokasi di suatu desa yang terbanyak populasi sapi betinanya.
- Daerah yang dicurigai/ daerah lalu lintas ternak antar daerah/pulau. - Pada lokasi/daerah yang pernah terjadi kasus sapi Abortus
(keguguran).
2) Kab. Tanah Datar = 900 spl 3) Kab. pasaman = 900 spl 4) Kab. Padang Pariaman = 900 spl 5) Kab. 50 Kota = 900 spl 6) Kab. Sawahlunto/Sjj = 500 spl
Pelaksanaan Surveillance
Pelaksanaan pengujian Surveilance Brucellosis ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2005 yang didanai oleh Bagian Proyek Pengamanan Produksi Peternakan Sumatera Barat Tahun Anggaran 2004. Pelaksanaan surveilance ini dilakukan pada 6 kabupaten di Sumatera Barat.
4.
b. Surveilance Penyakit Defisiensi Mineral
Demi tercapainya kesehatan hewan optimal yang bebas dari berbagai macam penyakit termasuk kekurangan mineral terutama mineral Calsium dan Phospor, Sub Dinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat kembali melakukan Surveilance gangguan Defisiensi Mineral melalui pemeriksaan sample yang di kerjasamakan dengan BPPV Regional II Bukittinggi.
Surveilance ini bertujuan untuk menetukan situasi/kondisi topograpi tanah yang kekurangan kalsium dan phospor di daerah sasaran guna membantu masyarakat peternak dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak dengan cara pemberian makanan tambahan supplement berupa mineral kalsium dan phospor.
Kegiatan surveilance/pemeriksaan mineral darah ini dilakukan pada 7 Kabupaten di Sumatera Barat yaitu : Kab. Agam, 50 Kota, Padang Panjang, Tanah Datar Kab. Pasaman, Kab. Swl/Sijunjung dan Kab. Padang Pariaman. Pemeriksaan kadar mineral sampel darah yang diambil bekerjasama dengan BPPV Regional II Bukittinggi dan pendanaan didukung oleh Proyek APBN TA 2005.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang sudah dilaksanakan terhadap pemeriksaan serum darah sapi dan kerbau dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Kekurangan Kalsium (CA) sudah mulai menunjukkan kemajuan dibandingkan pada tahun 2003 yang lalu sebesar 83,6%, dan th. 2005 hanya mencapai 32,8 % dari jumlah sample yang diperiksa.
masyarakat yang kekurangan phospor sekitar 14,3 % dari sample yang diperiksa.
Hasil Surveilance Defisiensi Mineral :
Pemeriksaan sampel darah terhadap sapi dan kerbau yang sudah dilakukan berjumlah lebih kurang sebanyak 1021 , terdiri dari 850 ekor dibiayai dinas melalui dukungan dana dari APBN Ta. 2005 dan sebagian lagi hasil Aktif service BPPV Reg. II Baso pada kawasan tertentu atau sasaran pemeriksaan mineral darah pada setiap Kabupaten yang dimaksud diatas. Melaksanakan analisa terhadap hasil pemeriksaan laboratorium (jumlah, kimia darah dari sample yang diambil)
Dari semua hasil sample darah yang diambil seluruhnya berjumlah 1021 sample yang berasal dari 7 Kabupaten diatas menunjukan gambaran sebagai berikut :
Kekurangan kalsium (Ca) terbesar adalah daerah Kab. Tanah Datar mencapai 47% dari jumlah sample kabupaten yang bersangkutan dan 28,06% dari sample keseluruhan.
c. Surveilance Penyakit Jembrana :
Pada tahun 2005, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat telah melakukan Surveilance Jembrana (JD) dengan dukungan dana dari APBN th. 2005.
Daerah yang menjadi target Survei adalah daerah yang banyak populasi sapi Ras Balinya, yaitu pada 4 Kabupaten di Sumatera Barat Antara Lain : Kab. Pasaman,Kab. Sawahlunto Sijunjung, Kab. Agam dan Kab. Pesisir Selatan dengan jumlah sampel sebanyak 500 sample. Adapun rincian jumlah sampel pada masing-masing lokasi survei adalah sbb :
No. Kabupaten Jumlah Sample
1. 2. 3. 4.
Kab. Sawahlunto/Sijunjung Kab. A g a m
Kab. Pesisir Selatan Kab. Pasaman
140 120 140 100
Jumlah
500Pelaksanaan Surveilance Penyakit Jembrana :
Sumatera Barat guna dilakukan persiapan untuk pemeriksaan selanjutnya oleh BPPV VI Denpasar.
Hasil Surveilance Penyakit Jembrana :
Dari hasil pemeriksaan sample sebanyak 500 sample terdapat
hasil sebagai berikut :
No. Kabupaten Jumlah diperiksa Hasil yg positif AB/Anti Bodi
Jumlah keseluruhan hasil uji sample penyakit Jembrana (JD)
th.2005 seperti diatas ditambah dengan hasil uji sample
kunjungan petugas BPPV VI Denpasar Bali tahun 2004 ke
Sumatera Barat, secara keseluruhan dapat kita lihat sbb :
No. Kabupaten Kecamatan Jenis
Prevalensi Jembrana (JD) di Sumatera Barat, khususnya daerah yang banyak populasi Ras Bali seperti Daerah yang dilaksanakan Surveilance ini menunjukan Prevalensi yang sangat tinggi mencapai 24%.
Akan tetapi antara Positif vaksin atau positif Infeksi belum dapat dibedakan, karena sifat dari virus Jembrana (JD) masih dalam penelitian lebih lanjut oleh BPPV VI Denpasar Bali dengan ACIAR Australia.
2. Meningkatkan Kewasadaan Penyakit Eksotik Dalam Rangka Perlindungan Wilayah.
Dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis global dan regional dengan diberlakukannya perdagangan bebas dan semakin terbukanya hubungan lalu lintas antar negara, maka akan menimbulkan dampak kemungkinan yang lebih besar lolosnya penyakit hewan menular dari luar negeri (Penyakit Eksotik) masuk ke Indonesia, termasuk ke Sumatera Barat.
terhadap keluar masuknya hewan, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan.
3. Melaksanakan Koordinasi Dengan Pihak Karantina Hewan.
Dalam rangka penolakan penyakit hewan maka karantina hewan yang terdapat di Sumatera Barat (Pos Karantina Bandar Udara Tabing dan Pelabuhan Laut Teluk Bayur) memegang peranan penting dalam upaya mencegah masuknya hama dan penyakit hewan serta pemasukan Bahan Asal Hewan atau Hasil Bahan Asal Hewan yang ilegal dari luar Sumatera Barat ke wilayah Sumatera Barat.
Kegiatan yang dapat dipantau adalah pemasukan/pengeluaran hewan/ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan dari dan ke Propinsi Sumatera Barat, baik melalui angkutan laut maupun udara. Sedangkan yang melalui jalan darat dilaksanakan oleh pos-pos yang berada di perbatasan antar Propinsi tetangga.
Berdasarkan laporan pihak karantina ke pusat dan tembusannya antara lain disampaikan ke Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat diperoleh data lalu lintas hewan/ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan yang masuk ataupun keluar Propinsi Sumatera Barat antara lain :
1) Ekspor/Impor Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan selama tahun 2005 di Propinsi Sumatera Barat.
a. Sarang Burung Layang-layang b. Beberapa Jenis Burung
c. Beberapa Jenis Kumbang
Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan selama tahun 2005 juga tidak ada sama sekali.
2) Pemasukan Domestik Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan selama tahun 2005 di Propinsi Sumatera Barat. a. Chicken Nugget
b. Daging Ayam beku c. Daging Ayam Olahan d. Ayam Kampung e. DOC (Anak Ayam) f. Orang Utan Sumatera g. Ungko
h. Berbagai jenis Anjing i. Beberapa jenis burung j. Lumba-lumba
k. Singa Laut l. Linsang
Pemasukan Domestik Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan tahun 2005 berasal dari Jakarta, Tangerang, Medan dan Batam. Tujuan pemasukan Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan ini untuk keperluan konsumsi, pemeliharaan dan diperdagangkan.
3) Pengeluaran Domestik Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan selama tahun 2005 di Propinsi Sumatera Barat. a. Sarang Burung Layang-layang
b. DOC (Day Old Chicken) c. Ayam Kokok Balenggek d. Ayam Kampung
f. Ayam Koko Balenggek g. Ayam Bekisar
h. Ayam Kate i. Ayam Kalkun j. Ayam Potong k. DOC Ayam Arab l. DOC Petelur m. Musang Lokal n. Telur Ayam/Puyuh o. Tikus Putih
p. Kelinci q. Kuda
r. Serum darah
s. Beberapa Jenis Kumbang
Pengeluaran Domestik Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan tahun 2005 antara lain ke Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, Banjarmasin, Bali, Samarinda, Yogyakarta, Solo, Pontianak, Bandung, Semarang dan Ternate. Tujuan pemasukan Hewan/Ternak, Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan ini untuk keperluan pemeliharaan dan diperdagangkan.
4. Sistim InformasiKesejatan Hewan Nasional (SIKHNAS)
Sasaran yang ingin dicapai pada sistem ini adalah memantau penyakit-penyakit strategis secara temporal maupun spasial atau gangguan kesehatan hewan lainnya. Selain itu memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit terutama yang menjadi prioritas Pemerintah.
Untuk menindaklanjuti pelaksanaan SIKHNAS di daerah Sumatera Barat yang diterapkan dalam bentuk SIKHDA, maka pada tahun 2005 Sub Dinas Bina Keswan telah membuat pemetaan penyakit hewan di Sumatera Barat yang disajikan dalam bentuk Buku Pemetaan Penyakit Hewan dan sekaligus divisualisasikan pada Website SIKHDA (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Daerah) Propinsi Sumatera Barat, sehingga dapat diakses oleh seluruh pihak khususnya stakeholder peternakan dan kesehatan hewan di seluruh Sumatera Barat.
Sebagian data untuk pembuatan website ini juga berpedoman pada laporan bulanan SIKHNAS dari Kabupaten/Kota (Form E1, E2, E2a, E3, Ekh dan lain-lain). Keberadaan Website SIKHDA ini masih perlu penyempurnaan pada tahun-tahun mendatang karena masih belum lancarnya pelaporan dari Kabupaten/Kota. Keterlambatan pengiriman laporan bulanan SIKHNAS ini terkendala mulai dari tingkat kecamatan dan Kabupaten/Kota, padahal bagi Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat Program SIKHNAS diharapkan dapat dijadikan acuan dalam menentukan kantong-kantong penyakit di Propinsi Sumatera Barat.
5. Pembuatan Buletin Informasi Kesehatan Hewan
Ranah Minang) sebanyak 900 eksemplar (dua edisi), masing-masing edisi sebanyak 450 eksemplar.
Buletin Informasi Keswan Edisi V (Januari – Juni 2005) memuat tulisan mengenai :
a. Bergugurnya Emas Hitam di Kec. Basa Ampek Balai Tapan b. Mengatasi Permasalahan Burung
c. Peternakan Menuju Industri Biologis d. Misi Keswan dan Kesmavet
e. Sosialisasi Rabies
f. Penanganan Kontainer dan N2 Cair
g. Dampak Letusan Gunung Talang Terhadap Kesehatan Ternak di kab. Solok.
h. Breeding farm di Kota Sawahlunto
i. Pengendalian Penyakit Insang Membususk/KOI Herpes Virus pada Budidaya Ikan Mas dan Koi.
j. Sebuah Kesimpulan Gangguan Reproduksi.
k. Rumusan Hasil Pertemuan Regional Rabies Terpadi se-Sumatera l. Surat Keputusan Gubernur tentang Pengendalian Wabah Flu Burung.
Sedangkan Buletin Informasi Keswan Edisi VI (Juli – Desember 2005) memuat tulisan mengenai :
a. Flu Burung, Anthraks, Rabies dan Manusia. b. Memilih dan Memilah Hewan Qur’ban. c. Perkembangan Virus Avian Influenza d. Orang Bisa Kenapa Kita Tidak...?
e. Ada Apa Dengan Rabies di Sumatera Barat
i. Penyakit Bakterial (Aeromonas hydrophilla) di Kanagarian Lb. Pandan Kab. Pdg. Pariaman.
j. Mau dan Mampu.
k. Rakor Penyakit Zoonosis Lingkup Prop. Sumatera Barat.
l. Aplikasi Sperma Hasil Sexing Kerjasama LIPI dengan Disnak Sumbar Tahun 2004.
m. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) dan Hewan Qur’ban.
n. Diagnosa Anthraks Secara Laboratorikj, Pengaruh Pemanasan Pada Spesimen Terhadap Hasil Pemeriksaan.
o. Sejarah Anthraks di Kota Padang.
p. Kesimpulan & Rumusan Pertemuan Ilmiah Keswan & Poskeswan Nasional 2005.
C. Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner
Tugas pokok dari seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Seksi Kesmavet) antara lain adalah :
1. Mengumpulkan data dan bahan yang berkaitan dengan pelaksanaan Kesehatan Masyarakat Veteriner.
2. Menyiapkan bahan yang berkaitan dengan Kesehatan Masyarakat Veteriner.
3. Menyiapkan pedoman tentang pelaksanaan, pembinaan, dan pengembangan Kesehatan Masyarakat Veteriner.
4. Membuat rencana dan Program seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner. 5. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait dalam pelaksaan
kegiatan.
6. Menyiapkan bahan pengaturan pelaksanaan pengawasan mutu produk peternakan sesuai ketentuan yang berlaku.
8. Melaksanakan pengawasan dan mengevaluasi program dan kegiatan dalam rangka pelaksanaan perlindungan konsumen dalam mengkonsumsi Bahan Asal Hewan dan Hasil Asal Hewan.
9. Menyiapkan bahan pedoman dan persyaratan pelaksanaan pemotongan Hewan.
10. Melaksanakan penyimpanan berkas kerja data dan bahan menurut ketentuan yang berlaku.
11. Melaksanakan pengetikan surat seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner. 12. Melaksanakan tugas lain yang diberikan pemimpin.
Kegiatan Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner TA. 2005 adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan Dan Pemeriksaan Sampel Telur dan Daging Unggas
Mikroorganisma ada dimana-mana termasuk ada pada pangan (pangan jarang bebas dari mikroorganisme). Bahan pangan hewani seperti daging ayam dan telur merupakan bahan makanan yang mengandung gizi yang baik untuk tubuh manusia. Namun disisi lain bahan pangan hewani merupakan tempat yang layak untuk hidup jasad renik (mikroorganisme).
Salmonella adalah bakteri bukan pembentuk spora yang penularannya melalui makanan terutama hasil ternak (unggas paling banyak). Pencegahan yang dilakukan agar bakteri Salmonella tidak terdapat pada daging ayam dan telur adalah meningkatkan hygiene personal baik peternak maupun pedagang daging ayam serta membebaskan ternak dari Salmonella.
Cemaran mikroba pada daging ayam ada dua faktor yaitu pada kondisi ayam sebelum di potong dan pada saat ayam mulai dipotong sampai saat daging siap di konsumsi. Sedangkan cemaran mikroba pada telur disebabkan pada saat telur diproduksi oleh hewan yang sakit dan keadaan telur yang pecah dan retak.
Peran mikroorganisme pada produk ini cukup penting, karena akan menyebabkan perubahan yang tidak menguntungkan misalnya kerusakan daging dan telur, perubahan warna, adanya lendir, bernoda dan adanya bau yang kurang sedap. Semua perubahan ini bisa membahayakan kesehatan konsumen. Upaya untuk menekan aktifitas mikroorganisme ini adalah dengan memberi perlakuan pendinginan, kemasan yang dapat mencegah masuknya kontaminasi dan pengawetan/pengolahan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Residu obat pada daging ayam dan telur terjadi akibat adanya usaha meningkatkan produktifitas yang dilakukan dengan cara meningkatkan mutu secara genetik dan menghilangkan faktor penghambat produksi. Usaha ini biasanya menggunakan obat hewan yang dapat berpengaruh secara fisiologik dan farmakologik. Residu obat hewan serta metabolitnya akan terakumulasi dan tersimpan dalam sel-sel jaringan atau organ dari hewan setelah pemakaian obat atau bahan kimia yang digunakan pada penanggulangan atau pengobatan penyakit. Kadar residu yang tinggi akan dijumpai pada jaringan atau organ bila hewan dipotong atau saat berproduksi (bertelur) setelah pengobatan atau pada saat obat masih dalam kadar pengobatan efektif.
Peternakan Kabupaten/Kota sebagian besar belum melaksanakan Monitoring Residu dan Cemaran Mikroba.
Maksud dan Tujuan a. Maksud
Pengambilan dan pemeriksaan sampel telur dan daging unggas dilaksanakan untuk melindungi konsumen.
b. Tujuan
Tujuan dari pengambilan dan pemeriksaan sampel telur dan daging unggas adalah :
- Untuk memberikan perlindungan kepada konsumen dan masyarakat terutama dalam aspek keamanan dan kesehatan.
- Mewujudkan jaminan mutu dari bahan makanan asal hewan. - Untuk memenuhi syarat memasuki pasar eksport.
- Untuk mengetahui ada tidaknya cemaran mikroba dan residu antibiotika pada daging ayam yang beredar dipasar/fast food dan pada peternakan ayam petelur.
Sasaran
Sasaran dari pengambilan dan pemeriksaan sampel telur dan daging unggas adalah terlaksananya kegiatan pengambilan dan pemeriksaan tehadap telur dan daging unggas baik yang beredar dipasaran atau di lokasi petani peternak sehingga dapat diketahui ada tidaknya cemaran mikroba dan residu antibiotika.
Pengambilan sampel dilaksanakan di 8 Kab/Kota seperti terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.5. Lokasi dan Jumlah sampel Telur Kab./Kota
1. Mawardi
Tabel 5.6. Lokasi dan Jumlah sampel daging unggas
Alamat
Pengambilan sampel telur diambil di farm-farm ayam petelur sedangkan sampel daging unggas diambil di Fast Food dan Pasar tradisional.
Selesai pengambilan sampel kemudian diantar oleh petugas ke BPPV untuk dilakukan pemeriksaan terhadap :
- Cemaran Mikroba - Residu Antibiotika
Hasil dan Pembahasan a. Hasil
Jumlah sampel yang diambil tahun angggaran 2005 adalah sebanyak 330 sampel yang terdiri dari daging ayam 120 sampel yang diambil dari pasar dan fast food dan telur sebanyak 210 sampel yang diambil dari peternakan rakyat.
b. Pembahasan
Berdasarkan 120 sampel daging yang diperiksa oleh BPPV Reg. II Bukittinggi yang berasal dari Kota Padang (5 buah pasar), Bukitinggi, Payakumbuh, Solok, KFC, CFC dan Texas terlihat dari 5 parameter pemeriksaan cemaran mikroba dan residu antibiotika dengan 3 kali periode pengambilan, sampel yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count (TPC) pada periode I sebanyak 37 sampel, periode II sebanyak 22 sampel dan periode III sebanyak 32 sampel untuk Coliform pada periode I sebanyak 29 sampel, periode II sebanyak 23 sampel dan periode III sebanyak 9 sampel. Total
Tabel 5.7.
Hasil Pemeriksaan Cemaran Mikroba dan
Antibiotika pada sampel Daging Ayam di 8 pasar
tradisional dan 3 Fast Food periode I.
Jenis Pengujian Nilai
Alai KFC CFC Texas BKT PYK SLK
TPC < BMCM 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
Tabel 5.8.
Hasil Pemeriksaan Cemaran Mikroba dan
Antibiotika pada sampel Daging Ayam di 8 pasar
tradisional dan 3 Fast Food periode II.
Jenis Pengujian Nilai
Nama Pasar
Jmlh Ps Lb.
Buaya RayaPsr SitebaPsr Ps Bndr Buat
Ps
Alai KFC CFC Texas BKT PYK Solok
TPC < BMCM 3 2 1 3 3 1 1 2 2 0 0 18
Tabel 5.9.
Hasil Pemeriksaan Cemaran Mikroba dan
Antibiotika pada sampel Daging Ayam di 8 pasar
tradisional dan 3 Fast Food periode III.
Ps Lb.
Alai KFC CFC Texas BKT PYK Solok
TPC < BMCM 1 1 0 0 0 0 0 0 1 5 0 8
Dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sampel daging ayam tahun 2004 dari 5 pasar tradisional dan 3 Fast Food terlihat peningkatan cemaran mikroba pada sampel daging ayam. Peningkatan ini antara lain pada Total Plate Count
(TPC), Coliform, E. Coli dan Staphylococcus Aureus. Tingginya angka cemaran mikroba pada sampel daging ayam mencerminkan kurang hygienisnya dalam penanganan daging ayam. Cemaran dapat bermula dari hulu mulai dari farm, Tempat Pemotongan Ayam, kebersihan sarana dan peralatan pemotongan, kondisi sanitasi, hygiene pasar, kesehatan dan hygiene pegawai dalam pengolahan/penanganan daging ayam dan pengemasan, pada saat transportasi maupun saat distribusi. Dari segi tempat pemotongan ayam seharusnya dirancang secara khusus sesuai dengan standar tempat pemotongan ayam untuk dapat menghasilkan produk bermutu, sehat, aman dan halal.
Staphylococcus aureus pada sampel daging ayam diduga berasal dari kontaminasi kuman dari tangan orang yang terlibat dalam proses produksi (pengirisan, pemotongan, dan pembumbuan).
yang memotong, tong tempat pengeluaran darah yang kotor, peralatan pemotong/pisau yang digunakan untuk memotong sama dengan pisau untuk mengeluarkan jeroan (tidak bersih), meja tempat pemotongan yang kotor serta air cucian tangan yang kotor/tidak hygienis.
Berdasarkan 210 sampel telur yang diperiksa oleh BPPV Reg. II Bukittinggi yang berasal dari Kota Padang, Kab. Padang Pariaman, Kab. Agam, Kab. 50 Kota, Kota Payakumbuh dan Kab. Tanah Datar terlihat dari 5 parameter pemeriksaan cemaran mikroba dan residu antibiotika. Data hasil pemeriksaan cemaran mikroba dan antibiotika perlokasi pengambilan sampel telur pada masing-masing kandang adalah sebagai berikut :
Tabel 5.10. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Firdaus (Kota Padang)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM 2 3 1 6
> BMCM 2 1 3 6
Coliform < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
E. Coli < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
Staph. Aureus < BMCM> BMCM 40 22 31 93
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Tabel. 5.11.
Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang
Ayam Zulkifli (Kota Padang)
Jenis Pengujian Nilai Nama Peternak Jumlah
I II III
TPC < BMCM> BMCM 22 22 22 66
Coliform < BMCM> BMCM 40 40 40 120
E. Coli < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Zulkifli (Kota Padang) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1, 2 dan 3 sebanyak 6 sampel dan Staphylococcus aureus pada priode 3 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari
Salmonella sp.
Tabel 5.12. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Lukman (Kota Padang)
Jenis Pengujian Nilai Nama Peternak Jumlah
I II III
TPC < BMCM> BMCM 22 31 31 84
Coliform < BMCM> BMCM 40 40 40 120
E. Coli < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam
Lukman (Kota Padang) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1, 2 dan 3 sebanyak 4 sampel dan Total Staphylococcus aureus terdapat pada priode 3 sebanyak 1 sampel berada diatas ambang batas. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.13. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Hasan Basri (Kota Padang)
Jenis Pengujian Nilai Nama Peternak Jumlah
I II III
TPC < BMCM 3 2 2 7
> BMCM 1 2 2 5
Coliform < BMCM> BMCM 40 22 40 102
E. Coli < BMCM 4 0 4 8
> BMCM 0 4 0 4
Staph. Aureus < BMCM 3 3 4 10
> BMCM 1 1 0 2
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
Tabel 5.14.
Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang
Ayam H. Firdaus (Kota Padang)
Jenis Pengujian Nilai I Nama PeternakII III Jumlah
TPC < BMCM 4 3 3 10
> BMCM 0 1 1 2
Coliform < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
E. Coli < BMCM> BMCM 40 40 40 120
Staph. Aureus < BMCM> BMCM 40 40 40 120
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam H. Firdaus (Kota Padang) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 2 dan 3 sebanyak 2 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.15. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Basir (Kab. Pdg. Pariaman)
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Basir
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM 1 4 0 5
> BMCM 3 0 3 6
Coliform < BMCM 4 3 3 10
> BMCM 0 1 0 1
E. Coli < BMCM> BMCM 31 22 30 83
Staph. Aureus < BMCM 4 3 3 10
> BMCM 0 1 0 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 3 11
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1 dan 3 sebanyak 6 sampel,
Coliform pada periode 2 sebanyak 1 sampel, E. Coli pada periode 1 dan 2 sebanyak 3 sampel dan Total Staphylococcus aureus terdapat pada priode 2 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.16. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Mawardi (Kab. Pdg. Pariaman)
Jenis Pengujian Nilai I IIPeriode III Jumlah
TPC < BMCM> BMCM 22 40 21 83
Coliform < BMCM 3 4 3 10
> BMCM 1 0 0 1
E. Coli < BMCM> BMCM 22 22 30 74
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 0 0
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 3 11
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 3 11
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Mawardi (Kab. Padang Pariaman) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1 dan 3 sebanyak 3 sampel, Coliform pada periode 1 sebanyak 1 sampel, E. Coli pada periode 1 dan 2 sebanyak 4 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Jenis Pengujian Nilai I PeriodeII III Jumlah
TPC < BMCM> BMCM 31 30 30 91
Coliform < BMCM 4 2 3 9
> BMCM 0 1 0 1
E. Coli < BMCM 4 0 3 7
> BMCM 0 3 0 3
Staph. Aureus < BMCM> BMCM 40 12 30 82
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 03 110
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 3 11
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Gunung Nago (Kab. Padang Pariaman) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1 sebanyak 1 sampel, Coliform pada periode 2 sebanyak 1 sampel, E. Coli pada periode 2 sebanyak 3 sampel dan Staph. Aureus pada periode 2 sebanyak 2 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.18. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Didison, S.Ag (Kab. Agam)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM 2 3 3 8
> BMCM 1 0 0 1
Coliform < BMCM 3 3 3 9
> BMCM 0 0 0 0
E. Coli < BMCM> BMCM 21 30 30 81
Staph. Aureus < BMCM 3 3 2 8
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 3 3 3 9
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Didison, S. Ag (Kab. Agam) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1 sebanyak 1 sampel, E. Coli pada periode 1 sebanyak 1 sampel dan Staph. Aureus pada periode 3 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.19. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Zuldigem (Kab. 50 Kota)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM 3 3 2 8
> BMCM 1 1 2 4
Coliform < BMCM> BMCM 40 40 40 120
E. Coli < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Zuldigem (Kab. 50 Kota) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1, 2 dan 3 sebanyak 4 sampel dan Total Staphylococcus aureus terdapat pada priode 3 sebanyak 1 sampel berada diatas ambang batas. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Jenis Pengujian Nilai I IIPeriode III Jumlah
TPC < BMCM> BMCM 22 31 22 75
Coliform < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
E. Coli < BMCM 3 4 4 11
> BMCM 1 0 0 1
Staph. Aureus < BMCM> BMCM 31 40 40 111
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam H. Man (Kab. 50 Kota) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1, 2 dan 3 sebanyak 5 sampel E. Coli pada priode 1 sebanyak 1 sampel dan Staph. Aureus pada periode 1 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang terpenting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.21. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam
Akmal (Kab. 50 Kota)
Jenis Pengujian Nilai I IIPeriode III Jumlah
TPC < BMCM 3 4 1 8
> BMCM 1 0 3 4
Coliform < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
E. Coli < BMCM> BMCM 31 40 22 93
Staph. Aureus < BMCM> BMCM 22 40 40 102
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Coliform pada periode 3 sebanyak 1 sampel, total E. Coli pada priode 1 dan 3 sebanyak 3 sampel dan total Staph. Aureus pada periode 1 sebanyak 2 sampel. Dari parameter tersebut yang terpenting dan harus bebas adalah Kualitatif dari
Salmonella sp.
Tabel 5.22. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Hasan Basri (Kab. 50 Kota)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM> BMCM 40 40 13 93
Coliform < BMCM 3 4 3 10
> BMCM 1 0 1 2
E. Coli < BMCM 2 4 1 7
> BMCM 2 0 3 5
Staph. Aureus < BMCM 3 4 4 11
> BMCM 1 0 0 1
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Hasan Basri (Kab. 50 Kota) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 3 sebanyak 3 sampel,
Coliform pada periode 1 dan 3 sebanyak 2 sampel, Total E. Coli pada priode 2 dan 3 sebanyak 5 sampel dan Total Staphylococcus aureus pada priode 1 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang terpenting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.23.
Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang
Ayam King’s (Kota Payakumbuh)
I II III
TPC < BMCM 4 4 0 8
> BMCM 0 0 4 4
Coliform < BMCM> BMCM 40 31 31 102
E. Coli < BMCM> BMCM 40 31 13 84
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam King’s (Kota Payakumbuh) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 4 sebanyak 4 sampel, total Coliform pada periode 2 dan 3 sebanyak 2 sampel, E. Coli pada periode 2 dan 3 sebanyak 4 sampel dan Staph. Aureus pada periode 3 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.24.Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam
Mabar (Kota Payakumbuh)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM> BMCM 40 22 13 75
Coliform < BMCM> BMCM 40 40 40 120
E. Coli < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
Staph. Aureus < BMCM 2 4 2 8
> BMCM 2 0 2 4
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
dan Staph. Aureus pada periode 1 dan 3 sebanyak 4 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari
Salmonella sp.
Tabel 5.25. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam Mitra (Kota Payakumbuh)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM> BMCM 31 40 04 75
Coliform < BMCM 4 4 4 12
> BMCM 0 0 0 0
E. Coli < BMCM 4 4 2 10
> BMCM 0 0 2 2
Staph. Aureus < BMCM 4 4 3 11
> BMCM 0 0 1 1
Salmonella sp ( + )( - ) 04 04 04 120
Residu Antibiotika ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam Mitra (Kota Payakumbuh) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1 dan 4 sebanyak 5 sampel,
E. Coli pada priode 3 sebanyak 2 sampel dan Staph. Aureus pada periode 3 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.26. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam H. Darwis (Kab. Tanah Datar)
I II III
TPC < BMCM 2 3 2 7
> BMCM 2 1 2 5
Coliform < BMCM> BMCM 31 40 40 111
E. Coli < BMCM> BMCM 31 40 40 111
Staph. Aureus < BMCM 4 3 4 11
> BMCM 0 1 0 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 4 4 4 12
Residu Antibiotika ( + )( - ) 04 04 04 120
Dari hasil pemeriksaan sampel telur yang diambil dari kandang ayam H. Darwis (Kab. Tanah Datar) yang tercemar mikroba diatas ambang batas cemaran pada pemeriksaan Total Plate Count pada priode 1, 2 dan 3 sebanyak 5 sampel Coliform pada periode 1 sebanyak 1 sampel, E. Coli pada priode 1 sebanyak 1 sampel dan Staph. Aureus pada periode 2 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Tabel 5.27. Hasil Pemeriksaan Sampel Telur dari Kandang Ayam H. Masrul Yakin (Kab. Tanah Datar)
Jenis Pengujian Nilai Periode Jumlah
I II III
TPC < BMCM 2 2 1 5
> BMCM 1 1 2 4
Coliform < BMCM> BMCM 12 30 30 72
E. Coli < BMCM> BMCM 21 30 30 81
Staph. Aureus < BMCM 2 3 3 8
> BMCM 1 0 0 1
Salmonella sp ( + ) 0 0 0 0
( - ) 3 3 3 9
Residu Antibiotika ( + )( - ) 03 03 03 09
4 sampel, Coliform pada periode 1 sebanyak 2 sampel, total E. Coli pada priode 1 sebanyak 1 sampel dan total Staphylococcus aureus pada priode 1 sebanyak 1 sampel. Dari parameter tersebut yang paling penting dan harus bebas adalah Kualitatif dari Salmonella sp.
Dari pemeriksaan sampel telur dan daging ayam tahun 2005 terlihat peningkatan cemaran pada beberapa farm.
Tingginya angka cemaran mikroba pada sampel telur ayam mencerminkan kurang sehatnya hewan yang berproduksi, alas kandang yang kotor, wadah telur (peti, egg tray) yang kotor, telur terkena debu dan tanah (lingkungan), kondisi sanitasi dan kebersihan kandang yang kurang diperhatikaan, kesehatan dan hygiene pegawai yang kurang diperhatikan serta cara pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan petujuk teknis yang telah ditentukan dari petugas pengambil contoh/sampel. Mikroorganisme yang paling sering dijumpai pada telur adalah Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus pada sampel telur ayam diduga berasal dari kontaminasi kuman dari tangan orang kandang yang kotor dan luka.
Coliform pada sampel telur diduga berasal dari air yang digunakan pada farm tersebut tidak bersih/hygienis. Escherichia coli pada sampel telur diduga berasal dari kontaminasi oleh feces ayam, peralatan yang digunakan untuk mengumpulkan telur yang kotor, kandang ayam yang kotor, air yang terkontaminasi oleh feces.
Kutipan SNI No. : 01-6366-2000 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba (BMCM) dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan adalah sebagai berikut :
JENIS CEMARAN MIKROBA
Tabel 5. 29. Spesifikasi persyaratan Mutu Batas Maksimum Residu dalam bahan makanan asal hewan (dalam satuan mg/kg)
JENIS RESIDU DagingBATAS MAKSIMUM RESIDUTelur Susu
Antibiotika golongan :
2. Peningkatan Kemapuan Teknisi RPH di Bogor
Namun kenyataannya di lapangan masih adanya penanganan daging yang tidak hygienis dan para pekerja daging terutama petugas jagal pada umumnya belum memahami cara pemotongan hewan dan penanganan daging yang baik sehingga kondisi ini tidak mendukung terhadap fungsi dari RPH itu sendiri yaitu sebagai tempat atau sarana melakukan kegiatan pemotongan hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
Oleh sebab itu sudah seharusnya petugas jagal RPH ditingkatkan sumberdayanya yaitu dengan mengikut sertakan mereka dalam kegiatan peningkatan kemampuan teknis RPH di Rumah Pemotongan Hewan yang sudah maju seperti RPH Bogor.
Maksud, Tujuan dan Sasaran a. Maksud
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tekhnis petugas jagal RPH di bidang tatacara pemotongan hewan yang benar yang mengacu kepada kesejahteraan hewan (animal welfare) dan cara pemotongan hewan yang halal.
b. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan profesionalitas petugas jagal dalam kemampuan tekhnis kesehatan daging dan meningkatkan kemampuan pengelolaan hygiene sanitasi sarana unit usaha pangan asal hewan khususnya RPH.
c. Sasaran
Peserta Pelatihan
Peserta pelatihan peningkatan kemampuan teknisi Rumah Pemotongan Hewan berasal dari petugas jagal Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dari beberapa kab/kota di Sumatera Barat antara lain :
1. Erisman dari Kota Padang
2. Yopi Wahyudi dari Kota Payakumbuh 3. Gafar St. R. Panjang dari Kota Bukittinggi 4. Rusman dari Kota Padang Panjang
5. Raimon dari Kota Pariaman 6. H. Syaiful Basir dari Kota Solok 7. Noviolldi dari Kab. Tanah Datar
Instruktur
Pelatihan Peningkatan Kemampuan Teknisi Rumah Pemotongan Hewan dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Instruktur dalam pelatihan ini berasal dari :
1. Dinas Pertanian Kota Bogor 2. Dosen FKH IPB
3. Dosen Fapet IPB
4. Asosiasi Kesmavet Veteriner Indonesia (ASKESMAVETI)
Materi Pelatihan
Materi yang disampaikan dalam pelatihan peningkatan kemampuan Teknisi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yaitu :
1. Standar Nasional Indonesia (SNI) Rumah Pemotongan Hewan (RPH). 2. Fungsi, Organisasi , Klasifikasi dan Manajemen RPH
3. Good Hygienic Practice di RPH
6. Pembersihan dan Desinfektan di RPH 7. Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
8. Pengantar Sistem HACCP : Konsep dan Penerapan
9. Tekhnik penanganan Hewan Hidup serta Penyembelihan Hewan yang Halal dan Hygienis
10. Teknik Pengulitan, pengeluaran jeroan dan pembagian karkas
11. Teknik Pelayuan (Aging), Pendinginan, Pembekuan, Pengemasan, Penyimpanan dan Distribusi Daging
12. Praktek di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Bogor
13. Praktek di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Fakultas Peternakan IPB.
Tempat dan Waktu Pelatihan
Pelatihan peningkatan kemampuan teknisi Rumah Pemotongan Hewan bertempat di Fakultas Kedoteran Hewan Institut Pertanian Bogor mulai tanggal 29 Agustus s/d 2 September 2005.
Hasil yang dicapai Selama Pelatihan
yang direncanakan sebanyak 13 materi baik teori maupun praktek telah dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Praktek di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Bogor dibimbing oleh petugas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Bogor yang dipimpin langsung oleh salah seorang Staf dari Dinas Pertanian Kota Bogor. Praktek di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Fapet IPB dibimbing oleh Dosen dan staf Bagian Produksi Ruminansia Besar Fapet.
Peserta pelatihan peningkatan kemampuan teknisi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) telah dapat memahami dan melaksanakan pemotongan hewan yang memenuhi standar dan mendapatkan hasil produk peternakan yang aman, sehat, utuh dan halal sesui yang diharapkan konsumen.
3. Pembuatan Buku Standar Rumah Potong Hewan
Pangan asal hewan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Oleh karena itu pangan asal hewan yang tersedia bagi masyarakat harus layak dan aman untuk dikonsumsi. Layak untuk dikonsumsi artinya pangan yang akan dikonsumsi harus dalam keadaan normal tidak menyimpang dari karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh suatu jenis pangan termasuk karakteristik sensori seperti daging harus memiliki penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang baik sehingga dapat diterima masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka RPH sebagai Unit Pelayanan dalam penyediaan daging yang aman, sehat, utuh dan halal harus menghasilkan produk yang terjamin mutunya.
1. Kondisi hewan sebelum dipotong (misal hewan sakit)
2. Pada saat hewan mulai dipotong sampai saat daging siap dikonsumsi.
Oleh sebab itu penanganan daging selama proses pemotongan harus diimbangi dengan penyediaan sarana Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang memadai untuk menghasilkan daging ayam yang berkualitas.
Rumah Pemotongan Hewan (RPH) adalah suatu Komplek/ bangunan dengan desain dan persyaratan-persyaratan teknis tertentu yang dipergunakan sebagai tempat memotong hewan dan penanganan serta pemrosesan dagingnya secara benar bagi konsumsi masyarakat luas.
Rumah Pemotongan Hewan (RPH) merupakan unit/sarana pelayanan masyarakat dalam penyediaan daging sehat, berfungsi sebagai :
1. Tempat dilaksanakan pemotongan hewan secara benar.
2. Tempat dilaksanakan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong (ante mortem) dan daging (post mortem) untuk mencegah penularan penyakit hewan kemanusia.
3. Tempat untuk mendeteksi dan memonitor penyakit hewan yang ditemukan pada pemeriksaan antemortem dan pemeriksaan postmortem guna pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular didaerah asal hewan.
Maksud, Tujuan dan Saran a. Maksud.
Standar Rumah Pemotongan Hewan dibuat sebagai pedoman/ acuan dalam membangun RPH.
Tujuan pembuatan buku Standar Rumah Pemotongan Hewan ini adalah agar petugas / petani peternak dapat mengimplementasikan dalam membangun sebuah Rumah Pemotongan Hewan.
c. Sasaran
Sasaran dari pembuatan buku ini adalah untuk memperoleh kualitas daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal.
Buku Standar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dicetak sebanyak 150 eksemplar. Buku Standar Rumah Pemotongan Hewan ini telah didistribusikan ke seluruh Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat sebagai pedoman untuk merencakan Rumah Pemotongan Hewan yang baru atau merenovasi Rumah Pemotongan Hewan sehingga memenuhi standar dan untuk memperoleh kualitas daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal.
4. Kegiatan Kesmavet dalam Rangka PengawasanLalu Lintas Hewan, BAH dan HBAH.
Dalam rangka penyederhanaan pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan (BAH/HBAH), maka sebagian kewenangan Pemerintah Pusat telah dilimpahkan kepada Daerah.
Kondisi saat ini pada umumnya peningkatan arus hewan/Bahan Asal Hewan/Hasil Bahan Asal Hewan yang masuk merupakan salah satu indikasi dimana daerah asal hewan/BAH/HBAH kemungkinan terjadi suatu penyakit atau wabah maka untuk menyelamatkan hewan dari kerugian ekonomi maka hewan/BAH/HBAH-nya langsung dijual dan membawanya keluar dari daerah tersebut. Hal ini sangat rawan untuk penularan suatu penyakit dari daerah wabah ke daerah terancam.
Sumatera Barat menjadi pintu masuk bagi propinsi tetangga (Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara, Bengkulu) dengan melalui kabupaten yang berbatasan langsung dengan propinsi tersebut.
Sumatera Barat merupakan salah satu konsumen daging yang besar baik berasal dari ternak besar (lokal atau eks impor), ternak kecil dan unggas. Dengan meningkatnya lalulintas Hewan, BAH dan HBAH ke dalam wilayah Sumatera Barat maka semakin membuka peluang bagi kemungkinan masuk dan menyebarnya penyakit hewan yang berbahaya/menular yang dapat merusak kelestarian sumberdaya alam/hayati (hewan/ternak) dan atau dapat mengganggu kesehatan manusia. Oleh karena itu harus dilaksanakan tindakan penolakan terhadap masuknya penyakit eksotik ke Sumatera Barat khususnya.
Oleh karena itu diharapkan kabupaten yang menjadi pintu masuk ke Sumatera Barat dapat membentuk Tim Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH yang diperkuat dengan 4 (empat) SK Bupati dari Kabupaten yang menjadi pintu masuk ke Sumatera Barat.
Untuk menyamakan persepsi kegiatan pengawasan dilapangan dan demi tercapainya kelancaran pelaksanaan kegiatan tersebut diatas maka diperlukan suatu pedoman atau petunjuk teknis agar semua pelaksana yang terlibat dapat mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar.
Tujuan
Petunjuk Tekhnis Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH di Sumatera Barat dibuat dengan maksud memberikan pedoman, arahan dan acuan kerja untuk Tim Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH dalam rangka : Melindungi wilayah Sumatera Barat terhadap penyakit hewan eksotik dan melindungi konsumen/masyarakat serta memberikan keamanan dalam mengkonsumsi produk pangan asal hewan.
Dasar Hukum
1. Undang-Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok-Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 No. 10, Tambahan Lembaran Negara No. 2824); 2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3462);
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3656); 4. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3101);
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3253);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara 3952);
9. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 284/Kpts/OP.210/1/1983 tentang Penunjukan Pejabat Penerima Wewenang Mengatur Tindakan Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan:
10. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 745/Kpts/TN.240/12/1992 tentang Persyaratan dan Pengawasan Pemasukan Daging dari Luar Negeri;
11.Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan Nomor : 144/TN.330/Kpts/DSP/Deptan/1996 tentang Pedoman Pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) Usaha Pengimpor, Pengumpul/Penampung. 12. Surat Keputusan Direktur Jenderal Produksi Peternakan Nomor :
Sasaran Kegiatan
Sasaran Kegiatan pengawasan lalulintas hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan adalah pelaku usaha dibidang tataniaga yang menggunakan Sarana transportasi/kendaraan sebagai alat pengangkut hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan.
Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan pengawasan lalulintas hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan adalah 4 (empat) pintu masuk (entry point) ke Sumatera Barat.
1. Rao Mapat Tunggul (Kab. Pasaman) 2. Kiliran Jao (Kab. Dammasraya) 3. Pangkalan (Kab. 50 Kota) 4. Tapan (Kab. Pesisir Selaan)
Waktu Kegiatan
Kegiatan pengawasan Lalulintas Hewan, Bahan Asal hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan dilaksanakan 2 (dua) periode (satu perode sama dengan 10 (sepuluh) hari kerja) antara bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2005 apabila ditemukan adanya kecurigaan terhadap penyimpangan persyaratan teknis yang telah ditetapkan.
Obyek Kegiatan
Obyek kegiatan pengawasan Lalulintas hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan adalah :
1) Hewan
Pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen
Surat Kesehatan Hewan dari Daerah Asal Surat Karantina Daerah Asal
2) Bahan Makanan Asal Hewan (Daging dan Hasil Olahannya)
Untuk mencegah kemungkinan masuknya /menjalarnya penyakit hewan menular ke wilayah/antar wilayah Republik Indonesia yang dapat ditularkan melalui daging/hasil olahannya dan menjamin ketentraman bathin masyarakat dalam mengkonsumsi daging/hasil olahannya, maka :
Pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen a. Daging/hasil olahannya yang berasal dari luar negeri
Setiap pemasukan daging/hasil olahannya harus disertai Surat Keterangan Kesehatan (Health Certificate) yang dikeluarkan oleh Dokter Hewan Pemerintah yang berwenang.
Disertai dengan sertifikat halal, yang menyatakan bahwa daging tersebut berasal dari ternak yang pemotongannya dilakukan menurut syariat Islam.
Surat Rekomendasi Pemasukan BAH dan HBAH dari Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat.
b. Daging/hasil olahanya yang berasal dari dalam negeri/luar daerah : Harus disertai Surat Keterangan Kesehatan dan Asal Daging
(Certificate of Health and Origin) yang dikeluarkan oleh Dokter Hewan yang berwenang pada Dinas Peternakan daerah pengirim.
Khusus daging yang berasal dari propinsi lain, selain kelengkapan dokumen diatas, harus disertai Surat Izin Pengeluaran Bahan Makanan Asal Hewan (daging/hasil olahannya) dari Direktur Jenderal Peternakan.
Alat/kendaraan Pengangkut Daging dan Hasil olahannya
Kendaraan pengangkut daging dan atau hasil olahannya harus berupa kendaraan khusus pengangkut daging dan tidak digunakan untuk keperluan lain atau Ruang daging dari kendaraan pengangkut daging tidak boleh digunakan untuk tujuan lain daripada pengangkut daging. a. Setiap pengangkut daging untuk tujuan Daerah Tk. II, Daerah Tk.
I atau negara lain harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Dan Asal Daging yang dikeluarkan oleh petugas pemeriksa yang berwenang.
b. Ruang bagian dalam angkutan daging harus terbuat dari bahan anti karat, berlantai tidak licin, bersudut pertemuan antar dinding melengkung sehingga mudah dibersihkan dan dilengkapi lampu penerang yang cukup, mempunyai pintu yang selalu tertutup selama perjalanan.
c. Kendaraan angkutan daging harus mempunyai fasilitas sedemikian rupa sehingga daging dan atau hasil olahannya tidak kontak dengan lantai (tidak diletakkan langsung dilantai kendaraan angkutan).
d. Untuk dapat mempertahankan suhu daging selama pengangkutan, kendaraan angkutan daging yang mengangkut daging lebih dari 2 (dua) jam harus dilengkapi dengan alat pendingin dengan suhu setinggi-tingginya 10 o C dan untuk pengangkutan daging/hasil olahannya dalam keadaan beku bersuhu antara minus 18 C sampai dengan minus 22 C.
e. Boks untuk menyimpan daging pada kendaraan selama transportasi (boks atau kontainer) harus memenuhi syarat-syarat :