• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Rumah Potong Hewan Se Sumatera Barat

I II III TPC < BMCM 2 3 2

5. Penilaian Rumah Potong Hewan Se Sumatera Barat

Dalam rangka penyediaan produk pangan asal hewan khususnya daging yang aman, sehat, utuh dan halal diperlukan pengawasan pemerintah agar persyaratan teknis yang telah ditetapkan dipenuhi oleh suatu unit Rumah Pemotongan Hewan.

Salah satu bentuk pengawasan tersebut adalah penetapan Nomor Kontrol Veteriner yang merupakan sertifikasi teknis terhadap cara berproduksi yang baik suatu unit usaha produk pangan asal hewan yang meliputi usaha pemotongan, pengolahan dan pemasaran produk peternakan yang diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner.

Nomor Kontrol Veteriner (NKV) adalah registrasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH)/Rumah Pemotongan Unggas (RPU), Tempat Pemrosesan Daging (TPD) atau usaha-usaha lainnya yang bergerak dalam bidang pengumpulan, penampungan, penyimpanan dan pengawetan bahan asal

hewan/unggas yang diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet).

Dengan dilakukannya langkah-langkah penataan kembali masalah RPH ini antara lain dengan standarisasi dan akreditasi RPH, pengaturan/penggunaan jenis-jenis stempel daging sesuai jenis hewan, pemberian label pada kemasan daging dan pemberian Nomor Kontrol Veteriner pada setiap RPH yang telah diakreditasi, maka RPH yang telah memenuhi persyaratan tersebut dapat melaksanakan fungsinya secara maksimal.

Dari hasil survei kegiatan keamanan pangan asal hewan yang telah dilaksanakan pada tahun 2004 maka dari 7 unit Rumah Pemotongan Hewan yang ada di Propinsi Sumatera Barat baru 1 (satu) yang memiliki sertifikat NKV yaitu RPH Padang Panjang. Berarti untuk 6 (enam) RPH yang lain akan dilakukan penilaian sedangkan yang telah memiliki NKV akan diaudit kembali.

Tujuan

Tujuan pemberian Nomor Kontrol Vetriner (NKV) pada Rumah Pemotongan Hewan (RPH) adalah sebagai berikut :

1. Terlaksananya tertib hukum dan tertib administrasi dalam pengelolaan usaha produk pangan asal hewan

2. Memastikan bahwa unit usaha telah memenuhi persyaratan higiene sanitasi dan menerapkan cara produksi yang baik selama proses produksi pangan asal hewan (PAH)

3. Mempermudah penelusuran kembali (trace back) apabila terjadi kasus keracunan pangan asal hewan

Dasar Hukum

1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok-Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 No. 10, Tambahan Lembaran Negara No. 2824).

2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3656). 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817).

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3253).

5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara 3952).

6. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 555/Kpts/TN.240/9/1986 tantang Syarat-syarat Rumah Pemotongan Hewan dan Usaha Pemotongan Hewan.

7. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 413/Kpts/TN.310/7/1992 Tentang Pemotongan Hewan Potong Dan Penanganan Daging Serta Hasil Ikutannya.

8. Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan Nomor 254/TN.520/Kpts/DJP/Deptan/1995 tentang Pedoman Pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) Rumah Pemotongan Hewan/Unggas dan Tempat Pemrosesan Daging.

Sasaran pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada Rumah Pemotongan Hewan (RPH) adalah sebagai berikut :

1. Memberikan jaminan dan perlindungan kepada masyarakat bahwa pangan asal hewan yang dibeli/dikonsumsi adalah ASUH dan berasal dari sarana usaha yang telah memenuhi persyaratan kesmavet yang diawasi oleh pemerintah.

2. Mendukung terwujudnya kesehatan dan ketentraman bathin masyarakat 3. Meningkatnya daya saing produk pangan asal hewan

Lokasi Kegiatan

Lokasi kegiatan penilaian untuk pemberian NKV adalah 6 (enam) RPH (di Kab. Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kota Solok, Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Sawhlunto) dan 1 (satu) RPH Kota Padang panjang untuk diaudit.

Waktu Kegiatan

Kegiatan penilaian yang dilakukan oleh Tim Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat pada RPH dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Oktober 2005. Sedangkan penilaian yang dilakukan tim pusat berlangsung bulan November 2005.

Ruang Lingkup Penilaian RPH Untuk NKV

Mencangkup kelengkapan sarana serta cara-cara produksi yang baik dari sejak ternak masuk ke RPH sampai daging dihasilkan :

1) Lokasi dan Lingkungan Lokasi

- Berada di bagian perifer/tidak berada di bagian kota yang padat penduduknya.

- RPH letaknya lebih rendah dari pemukiman penduduk. - Tidak menimbulkan gangguan/pencemaran lingkungan. - Tidak berada di daerah banjir

- Tidak berada dekat industri logam dan kimia - Tidak berada di daerah banjir

- Bebas dari polusi asap, debu, bau dan kontaminan lainnya. Lingkungan

- Selalu terawat baik dan bersih

- Pembuangan dan penanganan limbah baik dan terpantau - Sistem saluran pembuangan air lancar

2) Sarana

- Memiliki sumber air bersih yang cukup untuk keperluan proses produksi maupun proses sanitasi (karyawan, peralatan, ruangan,dll) - Memiliki sumber tenaga listrik yang cukup

- Sarana jalan yang diaspal

- Sarana pengolah limbah yang memenuhi persyaratan UKL/UPL

3) Bangunan dan Tata Letak

Memiliki disain dan kontruksi sedemikian rupa :

- Dapat mencegah terjadinya kontaminasi / kontaminasi silang pada produk akhir yang dihasilkan.

- Proses Produksi berjalan lancar dan teratur

- Kontruksi bangunan kuat, mudah dipelhara, dibersihkan dan didesinfeksi

- Memperhatikan kenyamanan serta keselamatan bekerja karyawan

4) Peralatan

- Peralatan, terutama yang berhubungan langsung dengan produk, harus terbuat dari bahan yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan didesinfeksi serta mudah dirawat

- Peralatan yang digunakan untuk menagani pekerjaan bersih harus berbeda dengan yang digunakan untuk pekerjaan kotor.

5) Suplai Air

Air yang digunakan untuk proses, kontak langsung dengan daging, pencucian peralatan yang kontak langsung dengan produk, harus memenuhi persyaratan air bersih yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (perlu pengujian secara berkala di Laboratorium yang berkompeten).

6) Higiene Karyawan

- RPH harus memiliki aturan yang jelas untuk semua karyawan dan pengunjung untuk mencegah terjadinya kontaminasi produk

- Pemeriksaan Kesehatan karyawan secara rutin (min. 1 x Setahun). - Setiap karyawan harus sehat, tidak menderita penyakit TBC, penyakit

kulit, luka terbuka, penyakit pernafasan dll.

- Tersedia fasilitas sanitasi yang cukup bagi karyawan yang menjamin kebersihan karyawan dan mencegah terkontaminasinya produk melalui karyawan.

7) Kendaran Pengangkut Daging

- Kendaran pengangkut produk pangan asal hewan dilengkapi dengan boks tertutup, berpendingin, lapisan dalam boks harus terbuat dari bahan yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan didesinfeksi, mudah dirawat serta memiliki sifat insulasi yang baik.

- Pengangkutan daging babi dan olahannya harus terpisah dari produk pangan asal hewan lainnya.

- Memiliki disain dan kontruksi yang dapat menghindarkan terjadinya kontaminasi silang (misal dinding berwarna terang, kedap air, tidak korosif, tidak toksik dan tidak mudah mengelupas, lantai mudah dibersihkan, kedap air, mudah dibersihkan dan didesinfeksi dan tidak licin, langit-langit harus berwarna terang dan tidak mudah mengelupas, kuat dan mudah dibersihkan).

- Ruang penyimpanan produk pangan harus berbeda dengan produk non pangan.

- Ruang penyimpanan daging babi dan produk olahannya harus terpisah dari produk pangan asal hewan lainnya.

9) Pengemasan

- Kemasan produk pangan asal hewan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan tidak bersifat toksik.

- Mencantumkan stempel pada daging atau NKV pada daging bagi RPH yang telah mendapat NKV.

10) Pengendalian Hama

Setiap unit usaha produk pangan asal hewan harus melengkapi sistem dan sarana pengamanan terhadap kemungkinan cemaran yang berasal dari serangga ataupun binatang pengerat lain.

(Berpedoman kepada SK Direktur Jenderal Peternakan Nomor 254./TN.520/Kpts/DJP/Deptan/1995 dapat dilihat pada lampiran)

Kriteria Penilaian

Sifat penilaian adalah yang dinilai unsur ketidaksesuaian pemenuhan persyaratan teknis hygiene sanitasi dan tingkat ketidakamanan produk pangan yang dapat terjadi pada proses akibat sarana yang tidak sesuai persyaratan teknis hygiene sanitasi yang dituangkan dalam jumlah penyimpangan : 1. Kritis (tidak bisa ditolerir) : Jika ditemukan kritis 1 maka proses

2. Serius (jika tingkat bahaya cukup besar dan harus ditangani secara cepat).

3. Mayor (jika tingkat bahaya ada dan harus diperbaiki/ disesuai dengan kemampuan).

4. Minor (jika tingkat bahaya kecil dari ketidak sesuaian tersebut). 5. OK (jika tidak ada penyimpangan).

(Aspek yang dinilai dapat dilihat pada Lampiran)

Berdasarkan Jumlah penyimpangan/ketidaksesuaian yang ditemui akan menentukan tingkat (rating) :

1. A (Baik Sekali) 2. B (Baik) 3. C (Kurang) 4. D (Jelek)

Tata Cara Penilaian NKV

Penilaian lapangan dilakukan oleh tim penilai yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Peternakan Propinsi (SK Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat No. 050/16/SK/APBD-2005 tanggal 16 Juni 2005 tentang Akreditasi NKV dan RPH se Sumatera Barat).

Tim penilai terdiri dari : 1) Kasubdin Keswan

2) Dokter Hewan yang telah mengikuti pelatihan penilaian NKV 3) Paramedis veteriner

Tugas Tim Penilai :

- Melakukan penilaian kelayakan teknis sesuai pedoman

- Melaporkan hasil penilaian dan memberikan rekomendasi kepada Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat

Proses Sertivikasi

a. Sebelum Tim penilai turun dilakukan pemberitahuan dari Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat untuk menata kembali RPH-RPH yang ada di Kab./Kota dan surat edaran dari Sekretaris Daerah dalam rangka penilaian RPH.

b. Penilaian lapang dilakukan oleh tim penilai dan dalam waktu 21 (dua puluh satu hari) kerja sejak penugasan, tim sudah harus menyampaikan laporan dan rekomendasi kepada Kepala Dinas Propinsi. c. Berdasarkan rekomendasi tim penilai, Kapala Dinas Peternakan

Propinsi Sumatera Barat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja memberikan Rekomendasi bagi RPH yang akan mendapat NKV, rekomendasi kepala dinas ini diajukan ke Direktur Kesmavet Direktorat Jenderal Peternakan. Hasil Penilaian

1) Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Padang Panjang Bobot Penyimpangan :

a. Penyimpangan Minor sebanyak 19 b. Penyimpangan Mayor sebanyak 7 c. Penyimpangan Serius sebanyak 2

(Nomor item penyimpangan dapat dilihat pada lampiran).

Beberapa saran perbaikan yang diberikan setelah penilaian dilakukan adalah :

a. Saran Administratif :

 Lengkapi pencatatan sapi yang masuk dengan pemeriksaan antemortem secara teratur.

 Lengkapi pencatatan pemeriksaan post mortem secara teratur. b. Saran Fisik :

c. Saran operasional :

 Kebersihan ditingkatkan (lantai/dinding yang berlumut segera dibersihkan.

 Toilet dilengkapi dengan sabun dan tisue/alat pengering.  Produk akhir/daging /karkas segera diberi stempel dan

dilengkapi dengan NKV.

Setelah beberapa saran perbaikan diajukan maka Dinas yang terkait menyampaikan kepada Tim penilai bahwa waktu perkiraan tanggal penyelesaian kira-kira akhir Tahun 2005.

RPH Padang Panjang telah memiliki NKV yang diklasifikasikan sebagai RPH tipe C yang merupakan hasil penilaian terhadap persyaratan teknis Rumah Pemotongan Hewan tahun 1997 sehingga Sertifikat NKV ini perlu diaudit/ditinjau kembali.

Hasil audit menunjukkan NKV RPH Padang Panjang dapat dipertahankan bahkan apabila RPH dapat segera memenuhi beberapa saran perbaikan/ketentuan tekhnis dapat naik ke kelas/tipe B (baik).

Dokumen terkait