• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOKS1PELAKSANAANPERCEPATANKREDITPROGRAMREVITALISAS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOKS1PELAKSANAANPERCEPATANKREDITPROGRAMREVITALISAS."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

I Boks 1.

PELAKSANAAN PERCEPATAN KREDIT PROGRAM REVITALISASI PERKEBUNAN DI PROVINSI JAMBI TAHUN 2009

Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan dan pemberdayaan

ekonomi daerah sangat penting. Hal ini mendorong Tim Fasilitasi Percepatan dan

Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TFPPED) Provinsi Jambi untuk meningkatan

penyaluran kredit program revitalisasi perkebunan di Provinsi Jambi sejak tahun 2007.

Percepatan pertumbuhan penyaluran kredit ini diharapkan dapat meningkatkan

pendapatan masyarakat terutama melalui sub sektor karet yang merupakan salah satu

komoditas unggulan di provinsi Jambi.

Tim Fasilitasi Percepatan dan Pemberdayaan Ekonomi Daerah Jambi yang telah

ditetapkan melalui SK Gubernur Nomor 229/Kep.Gub/DISBUN/2007. Tanggal 14 Juni

2007, menempatkan BI sebagai Ketua. Kegiatan utama Tim diarahkan untuk

melakukan percepatan program antara lain melalui kegiatan pertemuan koordinasi,

asistensi teknis yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan pokja di tingkat

kabupaten.

Pada 2007, kegiatan penyaluran kredit revitalisasi perkebunan masih berupa

tahapan sosialisasi dan identifikasi, sehingga sampai dengan akhir tahun belum terjadi

pencairan kredit. Pelaksanaan penyaluran kredit program ini mulai menunjukkan

perkembangan pada tahun berikutnya, namun dalam pelaksanaannya dinilai masih

berjalan lambat karena menghadapi berbagai kendala baik teknis di lapangan maupun

dari sisi prosedur dan aturan yang berlaku di instansi-instansi terkait.

Melalui Dinas Perkebunan, Pemerintah Daerah telah memproyeksikan luas

lahan petani yang akan memperoleh kredit revitalisasi perkebunan mencapai 3.000

hektar. Namun sampai dengan Desember 2008, target tersebut baru terealisasi

sejumlah 308 hektar atau sekitar 10,27%. Tahun 2009, perkembangan pelaksanaan

kredit program ini sudah mulai mengalami peningkatan. Terjadi kenaikan hampir

47.37% dibandingkan dengan realisasi di tahun sebelumnya. Meskipun pelaksanaan

kredit program 2009 dinilai cukup baik, namun apabila dibandingkan dengan target

yang ditetapkan, realisasi tersebut masih kecil, hanya sekitar 14% dari target luasan

lahan.

Perkembangan realisasi kredit program revitalisasi perkebunan menunjukkan adanya

(2)

II

Tabel 1. Perkembangan Pelaksanaan KPEN-RP (Komoditas Karet)

Tahun Target Luas

(Ha)

Akumulasi Realisasi Luas

Lahan (Ha)

Akumulasi Plafond Kredit

(Rp Juta)

Akumulasi Pencairan

(Rp Juta)

Jml Petani (KK)

2007 - - - - -

2008 3.000 308,00 6.487,60 3.773,15 154

2009 3.000 762,39 19.902,29 6.387,42 357

Berdasarkan identifikasi di lapangan, kendala utama yang masih dihadapi

dalam proses pelaksanaan kredit program revitalisasi perkebunan adalah:

1. Biaya sertifikasi lahan yang ditanggung petani dirasakan masih cukup

memberatkan.

2. Proses sertifikasi lahan petani dirasakan masih berjalan lambat dan tidak ada

keseragaman di masing-masing kabupaten baik dalam hal biaya sertifikat

maupun waktu penyelesaian sertifikat.

3. Belum adanya kesepakatan bersama antar instansi terkait (misalnya BRI dan

BPN) dalam prosedur pembayaran biaya sertifikasi. Di satu sisi, BPN

mempersyaratkan biaya sertifikat harus dibayar 100% setelah kredit cair,

sementara dari sisi BRI, 50% biaya sertifikat dibayar setelah kredit cair,

sedangkan 50% sisanya dibayarkan setelah sertifikat selesai.

4. Koordinasi dan kerjasama antar instansi terkait di tingkat kabupaten dirasakan

masih lemah.

Langkah awal yang dilakukan untuk menyelesaikan

permasalahan-permasalahan tersebut adalah melalui asistensi dan workshop yang telah dilaksanakan

pada tanggal 20 Agustus 2009 dan berhasil meraih beberapa kesepakatan. Salah satu

point penting dalam kesepakatan tersebut adalah pembentukan kelompok kerja

(Pokja) di tingkat kabupaten. Pokja ini diharapkan dapat menjadi wadah koordinasi

dan kerjasama pihak-pihak terkait, sehingga akselerasi dalam penyaluran kredit dapat

ditingkatkan.

Kesepakatan untuk pembentukan POKJA, telah ditindaklanjuti di beberapa

Kabupaten. Sampai dengan Oktober 2009, koordinasi dalam rangka pembentukan

pokja telah dilaksanakan di 4 kabupaten, yaitu kabupaten Tanjung Jabung Barat,

kabupaten Batanghari, kabupaten Muara Jambi dan Kabupaten Sarolangun. Selain

kemajuan dari sisi pelaksanaan teknis di lapangan, terdapat kemajuan dalam kebijakan

(3)

III

diberikan kepada petani meningkat dari 6% menjadi 8%. Peningkatan subsidi bunga

kredit ini tentunya diharapkan akan semakin menambah animo masyarakat untuk

dapat memperoleh fasilitas kredit guna mengembangkan tanaman karet mereka. Pada

akhirnya melalui kredit program revitalisasi perkebunan ini diharapkan tingkat

kesejahteraan masyarakat akan semakin tinggi.

KESIMPULAN

1. Kredit program revitalisasi perkebunan di provinsi Jambi merupakan program yang

strategis karena sumberdaya alam yang dimiliki sangat potensial.

2. Dukungan kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah

diharapkan meringankan beban pendanaan petani dalam usahanya untuk

mengembangkan sub sektor perkebunan (karet, sawit dan kakao).

3. Program ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi keterbatasan modal

bagi petani untuk mengembangkan usaha sub sektor perkebunan (karet, sawit dan

kakao).

4. Pelaksanaan kredit program sejauh ini masih belum berlangsung seperti yang

diharapkan dikarenakan masih terdapatnya kendala-kendala di lapangan baik dari

sisi teknis pelaksanaan, prosedur dan kebijakan pelaksanaan dan juga dari sisi

koordinasi antar pihak yang masih lemah.

5. Perlu peningkatan segala bentuk upaya konkrit untuk mempercepat pelaksanaan

kredit program revitalisasi perkebunan di Provinsi Jambi.

REKOMENDASI

1. Pembentukan kelompok kerja (POKJA) perlu segera direalisasikan di seluruh kabupaten. Anggota POKJA meliputi pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan program antara lain BPN, BRI, Disbun, Bappeda, dan Camat. Pokja

ini diharapkan akan menjadi sarana koordinasi dan komunikasi yang efektif

untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di lapangan.

2. Daerah diharapkan dapat mengambil peran lebih banyak untuk

membantu menyelesaikan permasalahan yang masih dihadapi khususnya

masalah penyelesaian biaya sertifikat lahan misalnya dengan cara

menyediakan dana talangan sementara untuk melunasi biaya tersebut ke BPN yang selama ini menjadi kendala utama.

(4)

IV

mendukung (misalnya peraturan pembayaran biaya sertifikat di BRI dan BPN

seperti yang disebutkan di atas) tidak akan menghambat proses kredit

revitalisasi perkebunan.

4. Masih diperlukan adanya sosialisasi mengenai prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi apabila menjadi peserta kredit program melalui dinas terkait yang bertanggung jawab. Harapannya masyarakat sudah

dapat menyiapkan apa yang diperlukan apabila mendaftar dalam program

Referensi

Dokumen terkait

: Peningkatan ProduKivitas Kelapa Sawit Rakyat melalui Pemanfaatan Benih Unggul. : Dinas Perkebunan Provinsi Jambi : APBN Tahun Anggaran

Tanjung Jabung Timur (4 Km) kegiatan Pengembangan/Peningkatan Jalan Usahatani Perkebunan DPA SKPD Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2013.. Berkaitan

Tanjung Jabung Timur (4 Km) kegiatan Pengembangan/Peningkatan Jalan Usahatani Perkebunan DPA SKPD Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2013.. Berkaitan

Sarolangun (2 lokasi total 8 Km) kegiatan Pengembangan/Peningkatan Jalan Usahatani Perkebunan DPA SKPD Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2013.. Berkaitan

Sarolangun (2 lokasi total 8 Km) kegiatan Pengembangan/Peningkatan Jalan Usahatani Perkebunan DPA SKPD Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2013.. Berkaitan

Publik, terutama yang berkenaan dengan Pemberdayaan Masyarakat serta dapat memperkaya kepustakaan dalam topik peningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat dan

Pelayanan pendidikan dan kesehatan lintas provinsi (masyarakat Sumsel di perbatasan yang berobat ke Provinsi Jambi)4. Pemberdayaan KAT-SAD

Sebagai salah satu potensi unggulan Kabupaten Pacitan untuk dikembangkan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat utamanya masyarakat