• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. Kata Kunci : Bursa Fabrisius, Infectious Bursal Disease (IBD), Ayam pedaging

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK. Kata Kunci : Bursa Fabrisius, Infectious Bursal Disease (IBD), Ayam pedaging"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ii ABSTRAK

Bursa Fabrisius merupakan target organ virus Infectious Bursal Disease (IBD) ketika terjadi infeksi, yang sering kali mengalami kerusakan setelah ayam divaksinasi IBD baik menggunakan vaksin aktif maupun vaksin inaktif. Hal ini diduga karena virus IBD memiliki sifat imunosupresif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai patologi anatomi yang dilihat dari rasio indeks bursa Fabrisius ayam pedaging yang divaksin ND-AI dan IBD dibandingkan dengan ND-AI (tanpa IBD) pada periode 2 dan 3 minggu pascavaksinasi. Sebanyak 50 ekor ayam pedaging Day Old Chicken (DOC) digunakan pada penelitian ini. Ayam pedaging tersebut kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok. Kelompok I terdiri dari 20 ekor ayam yang divaksin ND-AI dan IBD, kelompok II terdiri dari 20 ekor ayam yang divaksi ND-AI (tanpa IBD), dan kelompok III terdiri dari 10 ekor ayam sebagai kontrol. Vaksinasi ND-AI dilakukan pada umur 4 hari, sedangkan vaksinasi IBD pada umur 14 hari. Penghitungan indeks bursa Fabrisius ayam pedaging periode 2 dan 3 minggu pascavaksinasi ND-AI dan IBD menunjukkan 60 % bursa Fabrisius mengalami atrofi, sedangkan pada ayam yang divaksin ND-AI (tanpa IBD) 5 % bursa Fabrisius mengalami atrofi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian vaksin IBD yang diberikan bersama dengan vaksin ND-AI pada ayam pedaging menyebabkan atrofi bursa Fabrisius pada sebagian besar sampel, sehingga perlu adanya evaluasi dan penelitian lebih lanjut untuk pembuatan dan pemilihan vaksin IBD.

(2)

iii ABSTRACT

Bursa Fabricius is the predilection of the Infectious Bursal Disease (IBD) when there is an infection, which is often damaged after chickens are vaccinated with IBD using either active or inactive vaccines. This is presumably because the IBD virus has immunosuppressive characteristics. The purpose of this study was to obtain information on the anatomical pathology as can be seen from the ratio of stock index of bursa Fabricius broilers that are vaccinated ND-AI and ND-IBD compared with ND-AI (without IBD) within the period of 2 and 3 weeks after the vaccination. A total of 50 broiler chickens of Day Old Chicken (DOC) were used in this study. Broilers are then grouped into 3 groups. The first group consisted of 20 chickens vaccinated with ND-AI and IBD, the second group consisted of 20 chickens vaccinated with ND-AI (without IBD), and the third group consisted of 10 chickens as controls. ND-AI vaccination was performed at the age of 4 days, while the IBD vaccination at the age of 14 days. The calculation of indices of Fabricius broilers of periods 2 and 3 weeks after the vaccination with ND-AI and IBD showed 60% of bursa Fabricius experienced atrophy, whereas in chickens vaccinated with ND-AI (without IBD) 5% of bursa Fabricius experienced atrophy. Based on the results of the research, it can be concluded that the IBD vaccine given along with ND-AI vaccines in broilers, causing atrophy of bursa Fabricius on most samples, thus, evaluation and further research are needed for the making and selection of IBD vaccine.

(3)

vi DAFTAR ISI

RIWAYAT HIDUP. ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.2 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ... 6

2.1 Ayam Pedaging dan Bursa Fabrisius ... 6

2.2 Newcastle Disease ... 9

2.3 Avian Influenza ... 10

2.4 Infectious Bursal Disease ... 12

2.5 Kerangka Konsep ... 13

2.5 Hipotesis ... 15

BAB III MATERI DAN METODA ... 16

3.1 Objek Penelitian. ... 16 3.2 Bahan Penelitian. ... 16 3.3 Peralatan Penelitian. ... 16 3.4 Rancangan Penelitian. ... 17 3.5 Variabel Penelitian. ... 17 3.6 Prosedur Penelitian. ... 17 3.7 Analisis Data. ... 19

3.8 Lokasi dan Waktu Penelitian. ... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

4.1 Hasil Penelitian. ... 20

4.2 Pembahasan. ... 23

4.2 Pengujian Hipotesis. ... 26

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 27

5.1 Simpulan. ... 27

5.2 Saran. ... 27

(4)

vii

DAFTAR GAMBAR

Judul Halaman

Gambar 1. Bursa Fabrisius ... 7

Gambar 2. Perbandingan Bursa Fabrisius. ... 8

Gambar 3. Kerangka Konsep ... 15

Gambar 4. PA Bursa Fabrisius 2 mg pv. ... 22

Gambar 5. PA Bursa Fabrisius 3 mg pv ... 22

(5)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kriteria rasio indeks bursa Fabrisius ayam ... 19

Tabel 2. Data Perolehan Rasio Indeks Bursa Fabrisius ... 20

Tabel 3. Persentase Indeks BF ... 21

(6)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengaruh pemberian vaksin ... 31 Lampiran 2. Perbandingan sumber vaksin perusahaan A & B. ... 32 Lampiran 3. Perbandingan waktu penghitungan 2 & 3 mg pv ... 32

(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ternak ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam rangka menunjang kebutuhan akan gizi masyarakat kita. Jenis ternak ini sudah banyak dipelihara, baik sebagai usaha sambilan yang dipelihara di pekarangan belakang rumah maupun diusahakan secara besar-besaran sebagai industri peternakan. Ternak ayam dipilih untuk dikembangkan oleh masyarakat karena cara pemeliharaannya relatif mudah serta hasil produksinya diperoleh dalam jangka waktu relatif singkat. Keberhasilan beternak ayam sangat didukung oleh manajemen pemeliharaan, biosekuriti serta sanitasi lingkungan. Manajemen peternakan meliputi perkandangan, pemeliharaan bibit Day Old Chicken (DOC), dan pemberian pakan. Vaksinasi dan sanitasi terhadap lingkungan sekitarnya juga merupakan faktor penentu dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan ayam (Kencana, 2012).

Salah satu bidang peternakan penghasil protein hewani di Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya adalah peternakan ayam pedaging. Faktor penyebab peningkatan ini adalah kemampuan tumbuh ayam pedaging yang cepat sehingga dapat dipanen dalam waktu sekitar 30-40 hari dengan berat mencapai 965-1344 gr (Pratikno, 2010), nilai ekonomis bibit, mempunyai nilai gizi yang berkualitas, sumber protein dan energi serta produknya disukai dan dapat diterima oleh konsumen (Susilorini et al., 2008).

Secara umum usaha peternakan ayam di Indonesia masih sering dihambat oleh berbagai kendala salah satu di antaranya adalah kejadian penyakit menular seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), dan Infectious Bursal Disease (IBD) (Kencana, 2012; Wiryawan, 2007).

Infectious bursal disease (IBD) merupakan penyakit virus akut yang sangat menular. Penyakit ini ditemukan hampir di setiap daerah peternakan ayam intensif di seluruh pelosok dunia. Penyakit IBD sangat merugikan dalam industri ayam pedaging karena dapat menyebabkan imunosupresif sehingga

(8)

2

mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi. Morbiditas penyakit IBD mencapai 100% sedangkan mortalitas mencapai 20 – 30 %. Penyakit IBD dapat menyebabkan banyak ayam yang diafkir pada saat pemotongan, rasio konversi pakan besar dan berat badan tidak mencapai target (Siregar, 2009).

Virus IBD menginfeksi organ limfoid diantaranya bursa Fabrisius, timus, serta limpa (Siregar, 2009). Organ-organ tersebut merupakan organ limfoid primer maupun organ limfoid sekunder yang memiliki peran penting dalam proses kekebalan. Kerusakan bursa Fabrisius menyebabkan menurunnya kemampuan tubuh membentuk kekebalan sehingga ayam yang terserang virus IBD menjadi rentan terhadap penyakit lain, diantaranya Newcastle disease (ND), chronic respiratory disease (CRD), dan Colibacilosis. Meskipun demikian, tubuh ayam masih mampu membentuk kekebalan terhadap IBD, namun respon imun yang terbentuk tidak maksimal (Siregar, 2009). Di samping itu, IBD juga akan menyebabkan respon yang suboptimal terhadap berbagai program vaksinasi, misalnya vaksinasi terhadap ND, dan AI.

Pada ayam, ada dua organ tubuh yang berhubungan dengan sistem kebal, yakni bursa Fabrisius dan timus. Bursa Fabrisius sebagian besar berisi sel B yang berperan dalam memproduksi antibodi humoral atau yang bersirkulasi. Timus sebagian besar berisi sel T dengan fungsi mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi bakteri atau virus, mengaktifkan makrofag dalam fagositosis dan membantu sel B dalam memproduksi antibodi. Sel B yang dihasilkan oleh bursa Fabrisius akan menghasilkan antibodi dan sel pengingat (sel memori) dalam menanggapi adanya antigen (Siregar, 2009; Attikasari, 2009).

Organ target utama virus IBD adalah jaringan limfoid, terutama bursa Fabrisius. Virus IBD menyerang bursa Fabrisius dan bereplikasi di sel-sel yang sedang proliferasi aktif seperti sel limfosit B muda atau sel prekursor sehingga menyebabkan nekrosa pada bursa Fabrisius dan lisisnya sel limfosit B. Lisisnya sel limfosit B mengakibatkan penurunan jumlah sel tersebut di perifer sehingga terjadi penurunan pembentukan antibodi yang berperan dalam respon kekebalan humoral (Attikasari, 2009). Pada saat dilakukan nekropsi (bedah bangkai) ditemukan perubahan berupa perdarahan pada otot dada dan otot paha, bursa

(9)

3

Fabrisius membengkak, lumen bursa Fabrisius berisi cairan berwarna kekuningan seperti gelatin, serta perdarahan petechial dan ecchymotic pada permukaan mucosa dan serosa bursa Fabrisius (Wahyuwardani et al., 2015).

Penelitian tentang vaksin ND-AI dan Gumboro telah dilakukan hasilnya ternyata menunjukkan titer antibodi yang rendah pada dua dan tiga minggu pascavaksinasi (Data Belum Dipublikasi). Padahal vaksinasi dengan ND-AI hasilnya bagus dimana titer antibodi dari minggu pertama sampai dengan minggu ketiga terus mengalami peningkatan (Kencana et al., 2015). Apakah kegagalan vaksinasi ini ada hubungannya dengan pemberian vaksin IBD?. Penggunaan virus varian dalam pembuatan vaksin IBD akan dapat mempengaruhi kerusakan bursa Fabrisius (Wahyuwardani et al., 2015; Murmu et al., 2014). Oleh sebab itu maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan vaksin IBD. Berdasarkan atas permasalahan tersebut dilakukan pemeriksaan terhadap patologi anatomi bursa Fabrisius (indeks bursa) sebagai organ target dari virus IBD. Perkembangan bursa Fabrisius berpengaruh terhadap peningkatan titer antibodi IBD pascavaksinasi. Bagaimana pula pengaruh perkembangan bursa Fabrisius pada periode dua dan tiga minggu pascavaksinasi?

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan diungkapkan dalam penelitian ini berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas adalah:

1. Apakah ada perbedaan indeks bursa Fabrisius ayam pedaging pada pemberian vaksin kombinasi (ND-AI dan IBD) dibandingkan dengan vaksin ND-AI (tanpa IBD) pada dua dan tiga minggu pascavaksinasi ? 2. Apakah ada perbedaan waktu pengambilan sampel (dua dan tiga

minggu) terhadap indeks bursa Fabrisius pada ayam pedaging?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui indeks bursa Fabrisius ayam pedaging pascavaksinasi ND-AI dan IBD dibandingkan dengan indeks bursa Fabrisius ayam

(10)

4

pedaging yang divaksin dengan vaksin ND-AI (tanpa IBD) pada dua dan tiga minggu pascavaksinasi.

2. Mengetahui perbedaan waktu pengambilan sampel (dua dan tiga minggu) terhadap indeks bursa Fabrisius pada ayam pedaging.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Memberikan pengetahuan tentang perubahan patologi anatomi bursa Fabrisius terutama pada indeks bursa pada ayam pedaging yang divaksin dengan vaksin kombinasi ND-AI dan IBD yang mungkin berpengaruh terhadap tidak maksimalnya peningkatan titer antibodi pascavaksinasi.

2. Manfaat Praktis

Apabila hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi vaksin ND-AI dengan IBD ternyata menyebabkan perubahan pada indeks bursa Fabrisius ayam pedaging, maka hal ini dapat disimpulkan bahwa penyebab kegagalan vaksinasi pada penelitian ini adalah pemberian vaksin IBD. Hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai dasar evaluasi terhadap pemilihan vaksin IBD.

Referensi

Dokumen terkait

Intensitas birahi Sapi Induk Simmental Peranakan Ongole (SimPO) dengan Body Condition Score (BCS) berbeda tidak memperlihatkan pengaruh yang signifikan atau tidak

Hasil uji Krukal wallis menunjukkan bahwa penambahan daging ikan layang pada kerupuk berbahan ubi jalar dan rumput laut memberikan pengaruh nyata pada kenampakan

Pemanfaatan media teknologi aplikasi Sparkol Videoscribe tidak hanya digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah tetapi dalam sosialisasi terhadap karang taruna untuk membuat

Model madrasah dalam lembaga pendidikan Islam, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa madrasah adalah bentuk lembaga pendidikan yang muncul sebagai kelanjutan dari

Contoh peta dinamis antara lain peta jaringan jalan ( Marah Uli, 2007:5). Peta, selain disajikan dalam bentuk lembaran terpisah dapat juga dikumpulkan dalam satu buku.

[r]

Aplikasi Pengenalan Alat Musik Tradisional Gamelan untuk Anak-anak di buat menggunakan software Blender 2.68 dengan menggunakan fitur game logic yang ada

Daya tahan hidup (umur) sperma baik yang disimpan pada suhu kamar maupun suhu dingin sama dengan daya tahan hidup imagoA. Hal ini berarti bahwa sperma masih hidup