DAFTAR ISI
EKONOMI
KUANTITATIF
TERAPAN
VOLUME 9 NO. 1 FEBRUARI 2016
Pengantar Redaksi ... iii
Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Hendra Kusuma ... 1 - 11 Keterkaitan antara Perilaku Merokok, Preferensi Waktu dan Pilihan Terhadap Resiko (Studi Kasus di Kota Surabaya) Lilik Sugiharti, Ni Made Sukartini dan Tanti Handriana ... 12 - 27 Transformasi Pekerja Informal ke Arah Formal: Analisis Deskriptif dan Regresi Logistik Nindy Purnama Sari ... 28 - 36 Transformasi Struktur Ekonomi dan Sektor Unggulan di Kabupaten Buleleng Periode 2008-2013 Ida Bagus Putu Wiwekananda dan I Made Suyana Utama ... 37 -45 Willingness to Pay Masyarakat Terhadap Penggunaan Jasa Pengolahan Sampah Zulfa Emalia dan Dewi Huntari ... 46 -52 Partisipasi Masyarakat dalam Program Bank Sampah: Model Logit Ni Made Ratiabriani dan Ida Bagus Putu Purbadharmaja ... 53 - 58 Dilema Pendidikan dan Pendapatan di Kabupaten Grobogan Jarot Kurniawan ... 59 - 67 Evaluasi Program Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan pada Masyarakat Pesisir Ni Made Ayu Indiradewi dan A.A. Istri Ngurah Marhaeni ... 68 - 79 Model Regresi Logistik pada Kelulusan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Rukini ... 80 -84 Mitra Bestari (Reviewer) ... 85
Indeks ... 86
Pedoman Penulisan Naskah ... 89
mor ISSN 1978-7871, dan di tahun kelima, INPUT telah terbit sebanyak sembilan edisi, dengan terbitan terakhirnya adalah Volume V, Nomor 1 Februari 2012. Pembaharuan INPUT menjadi JEKT tercetus pada pertemuan antara tim redaksi jurnal jurusan bersama pimpinan kampus, awal Maret 2012. Setelah melakukan beberapa evaluasi dan dengan merujuk kepada Peratu-ran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 49/dikti/kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah, maka terbit-lah jurnal jurusan: Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan yang dimulai dari Volume V, Nomor 2 Agustus 2012.
PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang terhormat,
Pada JEKT Volume 8, No. 1, Redaksi mendiskusikan mengenai perkembangan metode kuantitatif khususnya ekonometrika dalam mengevaluasi berbagai kebijakan pemerintah, khususnya yang dipergunakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kemudian, pada JEKT Volume 8, No. 2, kami lanjutkan bahwa untuk mendukung proses evaluasi sebuah kebijakan diperlukan adanya data yang baik. Data tidak hanya dalam bentuk data makro namun kemampuan untuk mempresentasikan data mikro yang baik sudah menjadi suatu keharusan bagi sebuah perekonomian, jika ingin melaksanakan program perbaikan ekonominya. Sehingga pada intinya JEKT Volume 8 mencoba menyampaikan bahwa proses pembangunan ekonomi dalam tataran implementasi tidak akan dapat lepas dari metode kuantitatif dan data.
JEKT Volume 9, No. 1, kembali mencoba untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa betapa canggihnyapun metode kuantitatif yang digunakan dan kompleksnya data yang dimiliki namun jika logika ekonomi yang mendasarinya tidak masuk akal maka semua itu hanya percuma saja. Mungkin kita perlu mengingat kembali tulisan Heckman (2001) yang menyatakan ekonometrika akan berguna jika dapat membantu ekonom menganalisis dan menginterpretasikan data ekonomi. Hal ini mengisyaratkan kepada para sarjana ekonomi dalam menggunakan ekonometrika yang menjadi tujuan utama haruslah solusi bagi permasalahan ekonomi dan sosial di masyarakat, dan bukan hanya untuk mempertontonkan kepiawaian dalam menggunakan matematika dan statistika dan software komputer.
Salah satu indikator kesejahteraan yang paling fundamental adalah konsumsi. Memiliki pemahaman yang baik mengenai konsumsi akan memberikan arahan yang lebih baik dalam perencanaan kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi. Seperti tema dalam penganugerahan Nobel dalam bidang ilmu ekonomi tahun 2015 yang diberikan kepada Angus Deaton, hubungan antara keputusan konsumsi individu, dan outcome perekonomian secara makro memiliki peranan penting dalam mentransformasi mikro ekonomi, makro ekonomi dan ekonomi pembangunan moderen. Bertitik tolak pada literatur-literatur yang ditulis Angus Deaton mungkin kita dapat merancang kebijakan yang kita gunakan untuk Indonesia. Karakter ekonomi dan demografi yang beranekaragam membuat area penelitian ini masih sangat luas untuk diungkap, apa lagi yang menyangkut masalah perilaku.
Memahami mengenai perilaku masyarakat dalam memutuskan barang dan atau jasa yang dikonsumsinya akan membantu dalam memberikan guidelines dalam merancang kebijakan pembangunan ekonomi. Berbicara mengenai perilaku maka ilmu ekonomi akan sangat memerlukan bantuan dari ilmu sosial lainnya seperti ilmu
EKONOMI
KUANTITATIF
TERAPAN
VOLUME 9 NO. 1 FEBRUARI 2016
psikologi misalnya. Sekali lagi hal ini menyiratkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari aktifitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya. JEKT hadir dalam rangka memberikan ruang untuk menjembatani metode-metode kuantitatif dengan berbagai isu-isu sosial yang melingkupi kehidupan manusia. Redaksi JEKT kali ini kembali mengingatkan walaupun tema utama JEKT adalah kuantitatif namun isu-isu sosial tetap menjadi jiwa dalam setiap artikel terbitannya.
Kami menyadari bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di bidang sosial dan ekonomi, selain didukung oleh kemajuan teori juga didukung dengan riset-riset aplikasi terapan dari teori-teori dimaksud. Untuk itu JEKT selalu menanti partisipasi Sidang Pembaca yang terhormat untuk menuangkan hasil riset dan kajian tersebut dalam bentuk artikel ilmiah, sehingga dapat terpublikasi dengan baik. Edisi enam bulanan JEKT juga bisa dibaca melalui ojs.unud.ac.id/index.php/jekt.
Selamat membaca.
Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Hendra Kusuma*)Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Desentralisasi fiskal di Indonesia telah diberlakukan sejak tahun 2000, konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah diberikannya kewenangan pengelolaan keuangan kepada pemerintah daerah. Namun dalam penerapan kewenangan tersebut terdapat beberapa permasalahan diantaranya adalah apakah pelimpahan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Peran pemerintah pusat dalam membantu pertumbuhan ekonomi di daerah tercermin dari berbagai macam dana transfer yang diberikan seperti DAU, DAK dan DBH. Dengan menggunakan data provinsi di pulau Jawa dan Sulawesi antara tahun 2010 hingga 2013 serta melihat ukuran desentralisasi dengan proxy yang digunakan adalah kemampuan daerah dari transfer dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi (AII) dan ukuran kemampuan pendapatan asli daerah dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi (AIII) maka akan memberikan gambaran yang lebih objektif pada pertumbuhan ekonomi di daerah pada masa desentralisasi fiskal. Hasil estimasi dengan menggunakan random effect menunjukkan bahwa rasio belanja modal terhadap total belanja pemerintah daerah, indikator desentralisasi fiskal yang diwakili kemampuan dana transfer terhadap pembentukan Pendapatan daerah serta kontribusi pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan, menyimpulkan bahwa desentralisasi fiskal di Indonesia telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi terutama dari kontribusi belanja yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Kata kunci : desentralisasi fiskal, dana transfer, pertumbuhan ekonomi, data panel Fiscal Decentralization and Economic Growth in Indonesia
ABSTRACT
The fiscal decentralization in Indonesia has been applied since 2000, the consequences of this policy are given the financial to local governments. However, there are several issues which are whether the delegation of authority given by the central government to the local governments that can contribute to economic growth in the region in the implementation of authority. The role of central government in helping economic growth in the region is reflected in the various kinds of funds transfer that is given, such as DAU, DAK and DBH. By using data of provinces in Java and Sulawesi between 2010 and 2013 and seeing the size of the decentralization of the proxy used is the capability area of the transfer in the creation of economic growth (AII) and the measure capability of local revenue in contributing to economic growth (AIII), so that it will give more objective overview to economic growth in the region during fiscal decentralization. The result of estimation by using random effect indicate that the ratio of capital expenditures to total expenditures of local governments, indicator of fiscal decentralization represented the capability of funds transfer to the establishment of regional income and the contribution of local revenues to total revenues, concluding that fiscal decentralization in Indonesia have an impact on economic growth, especially the contribution of spending conducted by local governments.
Keywords: fiscal decentralization, funds transfer, economic growth, data panel
*) E-mail: [email protected]
Ucapan terima kasih dari penulis kepada para akademisi yang ikut berkontribusi dalam penyempurnaan tulisan hingga Universitas Muhammadiyah Malang melalui Fakultas Ekonomi dalam menyediakan pendanaan
PENDAHULUAN
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan pintu gerbang reformasi di bidang birokrasi dan ekonomi, dengan berlakunya undang-undang pemerintah daerah telah diberikan saluran baru untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan umum kepada masyarakat serta mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk mendukung berlakunya undang-undang tersebut dana pemerintah yang semula dikelola oleh pemerintah pusat menjadi wewenang pemerintah daerah melalui skema dana transfer.
Transfer pemerintah pusat ke daerah melalui dana perimbangan diperkirakan akan mereduksi peranan pengelolaan fiskal pemerintah pusat, hal sebaliknya akan dirasakan oleh pemerintah daerah dimana proposri total pengeluaran pemerintah daerah melalui APBD akan meningkat tajam. Pergeseran pengelolaan fiskal dari pemerintah pusat ke daerah pada umumnya akan berdampak pada peningkatan pemerintah daerah dalam melaksanakan pelayanan umum kepada masyarakat serta mengatur dan mengurus rumah tangga pemerintah daerah itu sendiri.
Kemampuan PAD dalam mencukupi anggaran belanja daerah sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan ekonomi, namun pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan lancar jika hanya membebankan kepada pemerintah. Kemampuan keuangan daerah yang meningkat dari proses desentralisasi akan menimbulkan diskersi daerah dalam bidang anggaran, sehingga terdapat keterbatasan-keterbatasan tertentu dalam penyediaan prasarana dan pemberian layanan kepada masyarakat.
Desentralisasi telah mampu meningkatkan pendapatan pemerintah daerah yang diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu peran pemerintah daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah mengefektifkan belanja pemerintah daerah dalam menunjang aktifitas perekonomian masyarakat seperti pembangunan sarana umum, selain itu dengan pengalokasian yang tepat pada belanja pemerintah maka diharapkan pendapatan daerah juga akan meningkat.
Untuk menjalankan roda perekonomian pemerintah membutuhkan modal yang diantaranya didapat dari potensi ekonomi daerah serta transfer yang diberikan dari pemerintah pusat. Pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat jika dalam pemenuhan modal pemerintah daerah hanya mengandalkan
transfer dari pemerintah pusat sebagai salah satu bentuk pendelegasian pengelolaan keuangan kepada daerah. Manfaat positif dari tingginya dana perimbangan pemerintah pusat adalah jika dana transfer digunakan untuk konsumsi barang dan jasa yang berhubungan dengan kelancaran kegiatan ekonomi, transfer untuk pengeluaran konsumsi barang dan jasa dari pemerintah pusat memiliki hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi (Devarajan, Swaroop, & Zou, 1996).
Menurut Oates (1993)Desentralisasi fiskal telah menjadi sebuah rujukan penting untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi di daerah menjadi lebih baik dan efisien. Dengan berpindahnya beberapa kewenangan dan pengelolaan keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tersebut diharapkan kebijakan publik yang telah dibuat menjadi lebih baik dan efisien, selain itu pelayanan dan penyediaan kebutuhan publik menjadi selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah.
Untuk menjalankan roda perekonomian pemerintah membutuhkan modal yang diantaranya didapat dari potensi ekonomi daerah serta transfer yang diberikan dari pemerintah pusat. Pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat jika dalam pemenuhan modal pemerintah daerah hanya mengandalkan transfer dari pemerintah pusat sebagai salah satu bentuk pendelegasian pengelolaan keuangan kepada daerah. Provinsi yang ada di pulau sulawesi menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap dana perimbangan tahun 2006 proporsi dana perimbangan terhadap pendapatan mencapai 82 persen. Hal yang sama juga terjadi pada provinsi yang berada di pulau kalimantan, namun secara berturut turut proporsi dana perimbangan terhadap pendapatan daerah menurun hingga tahun 2010.
Manfaat positif dari tingginya dana perimbangan pemerintah pusat adalah jika dana transfer digunakan untuk konsumsi barang dan jasa yang berhubungan dengan kelancaran kegiatan ekonomik, transfer untuk pengeluaran konsumsi barang dan jasa dari pemerintah pusat memiliki hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi (Devarajan et al., 1996).
Belanja pemerintah yang salah satunya adalah untuk pembangunan infrastruktur merupakan sebuah bentuk dari investasi. Pada umumnya investasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak hanya untuk mencari keuntungan, namun untuk kelancaran roda ekonomi masyarakat. Selain pemerintah investasi juga dilakukan oleh masyarakat baik lokal maupun internasional. Sumber daya alam dan manusia yang
dimiliki daerah merupakan daya tarik bagi penanam modal, namun akan lebih menarik jika kelengkapan sarana publik yang disediakan oleh pemerintah sebagai bentuk dari investasinya dapat dipenuhi. Morrison dan Schwartz (1992) menyatakan bahwa bagi penanam modal ketersediaan infrastruktur mampu mengurangi biaya faktor produksi. Selain itu Globerman dan Shapiro (2002) mengemukakan bahwa ketersediaan infrastruktur terutama dari pemerintah adalah determinan penting dalam mempengaruhi investasi baik dari dalam maupun luar negeri.
Peran pemerintah pusat dalam membantu belanja pemerintah daerah yang dicerminkan melalui dana transfer telah diteliti oleh beberapa penelitian empiris. Penelitian Davoodi dan Zou (1998) dengan menggunakan analisis endogeneus growth model dan data yang digunakan adalah data panel dengan jumlah observasi 46 negara maju dan berkembang antara tahun 1970 - 1989 menunjukkan bahwa negara maju lebih dapat menerima kebijakan desentralisasi dari pada negara yang sedang berkembang (33% vs 20%) dimana pertumbuhan GDP nya juga lebih tinggi negara maju yang terdesentralisasi dari pada negara berkembang yang terdesentralisasi ( 2% vs 1,6%).
Penelitian yang lain dilakukan oleh Thornton (2007) dengan membandingkan 19 negara yang tergabung dalam OECD dan model yang digunakan adalah OLS didapatkan bahwa desentralisasi fiskal pada penambahan pendapatan pemerintah daerah melalui transfer tidak berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Dari penelitian yang telah dilakukan hasil menunjukkan dampak yang tidak signifikan antara desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi, hal tersebut dikarenakan negara yang tergabung di OECD telah mempunyai kemandirian ekonomi yang sangat tinggi, sehingga akan menjadi sulit untuk membandingkan antar negara anggota OECD. Penelitan yang telah dilakukan oleh Nobuo Akai (2002)dengan menggunakan data cross section dan Time Series sebanyak 50 negara bagian di Amerika Serikat serta mengikuti persamaan yang telah dibuat Xie, Zou, dan Davoodi (1999), didapatkan hasil bahwa desentralisasi fiskal akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara bagian tersebut. Ukuran kemampuan daerah atau negara bagian di dalam pelaksanaan belanja daerah terkait dengan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat menunjukkan nilai yang positif terhadap produk domestik bruto.
Desentralisasi di indonesia telah membawa banyak perubahan baik positif maupun negatif terhadap pertumbuhan ekonomi (Anis & Ardi,
2007; Laras & Priyo, 2008; Muslimin, 2010; Priyo, 2005). Keberagaman respon dari desentralisasi juga telah diteliti oleh Davoodi dan Zou (1998) dengan menggunakan menggunakan analisis endogeneus growth model dan data panel penelitian desentralisasi yang telah dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa negara maju lebih dapat menerima kebijakan desentralisasi dari pada negara yang sedang berkembang. Sementara penelitian yang lain dengan menggunakan analisis OLS data panel menyatakan bahwa desentralisasi fiskal akan berdampak pada penambahan pendapatan pemerintah daerah namun desentralisasi fiskal tidak berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah Thornton (2007). Beberapa penelitian mengenai desentralisasi baik di dalam dan luar negeri tersebut telah memberikan gambaran bahwa desentralisasi fiskal membawa dampak yang beragam kepada negara atau wilayah yang lebih maju.
Indonesia yang telah menerapkan sistem desentralisasi sejak dikeluarkannya UU nomor 22 Tahun 1999 diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah sesuai dengan karakteristik yang melekat pada daerah tersebut. Untuk mengetahui apakah pelimpahan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dapat berjalan sesuai dengan tujuan, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, maka dibutuhkan pengamatan lebih mengenai proporsi belanja daerah, kemampuan daerah dari transfer dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi, serta kemampuan pendapatan asli daerah dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pendelegasian sebagian urusan kepada daerah atau desentralisasi merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan bernegara. Tujuan dari pendelegasian sebagian wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah adalah untuk memberikan pelayanan umum yang baik kepada masyarakat dan menciptakan demokratisasi politik dalam keputusan publik. Pelimpahan wewenang kepada pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dengan memberikan kepercayaan kepada daerah untuk melakukan pembelanjaan, kewenangan pemungutan pajak, pembentukan dewan dan kepala daerah yang dipilih oleh rakyat, serta bantuan keuangan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat. Definisi dari desentralisasi mencakup berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek administrasi, fiskal, politik dan pembangunan sosial ekonomi.
Desentralisasi mempunyai empat jenis pendelegasian yaitu desentralisasi dibidang urusan
administrasi, desentralisasi fiskal, desentralisasi politik dan desentralisasi di bidang ekonomi1. Pendelegasian di bidang urusan dan administrasi merupakan pelimpahan kewenangan, tanggung jawab dan sumber daya antar berbagai tingkat pemerintah. Dalam desentralisasi pada hakekatnya pemerintah mengemban tiga fungsi utama diantaranya fungsi distribusi, alokasi dan stabilisasi (Stinglitz, 2000). Dalam fungsi distribusi pemerintah daerah mempunyai informasi yang lebih lengkap untuk dapat melaksanakan asas pemerataan pendapatan kepada masyarakat melalui distribusi pembangunan ekonomi serta menjamin adanya keadilan dalam mengatur distribusi pendapatan. Fungsi alokasi merupakan peran pemerintah dalam mengendalikan dan mengalokasikan sumber daya ekonomi termasuk alokasi transfer keuangan dari pemerintah pusat. Dalam fungsi stabilisasi pemerintah bertindak sebagai penyeimbang di berbagai aspek sosial ekonomi seperti tingkat pengangguran, harga dan pertumbuhan ekonomi. Dalam peran tersebut pemerintah daerah dituntut untuk dapat menggunakan berbagai macam sumber daya yang dimiliki untuk mengurangi pengangguran, menstabilkan harga dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Sesuai dengan tujuan dari desentralisasi bahwa pemerintah daerah diberikan keleluasaan dalam pengelolaan keuangan termasuk dana transfer yang diberikan, maka jika pemerintah daerah dapat memanfaatkannya secara efektif pertumbuhan ekonomi yang stabil akan tercapai dan kestabilan tingkat harga dapat dicapai.
Desentralisasi fiskal merupakan sebuah instrumen yang digunakan oleh pemerintah dalam mengelola pembangunan untuk mendorong perekonomian di daerah atau pusat. Kebebasan pemerintah daerah dalam mengelola dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pengelolaan keuangan sehingga pelaksanaan pembangunan di daerah akan tercapai dengan baik dan akan berimbas kepada kesejahteraan masyarakat. Desentralisasi fiskal mempunyai tiga variasi. Pertama desentralisasi berarti pelepasan tanggung jawab yang berada dalam limgkungan pemerintah pusat ke instansi vertikal di daerah/ pemerintah daerah. Kedua delegasi, yaitu daerah bertindak sebagai perwakilan pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu atas nama pemerintah. Ketiga devolusi (pelimpahan), yaitu bukan saja implementasi yang diberikan kepada daerah, tetapi juga kewenangan untuk memutuskan apa yang perlu dikerjakan oleh daerah (Richard & 1 Tercantum dalam Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Villancourt, 2002).
Perjalanan desentralisasi fiskal di Indonesia masih mempunyai berbagai macam kelemahan dan kekurangan baik dalam konsep maupun dalam implementasinya. Masih terdapat berbagai macam peraturan yang saling berbenturan yang menyebabkan pelaksanaan desentralisasi di Indonesia kurang berjalan dengan baik. Pelaksanaan desentralisasi fiskal menurut Halim (2007) akan berjalan dengan baik apabila Pemerintah Pusat kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement
Penyediaan kebutuhan publik oleh pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan publik tersebut dapat mengalokasikan pendapatan pemerintah yang diperoleh dari pendapatan asli daerah ataupun dari dana transfer pemerintah pusat. Menurut Martinez dan McNab (2003) hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pertumbuhan ekonomi yang bersifat multidimensional, dapat dibedakan dalam hubungan yang bersifat direct dan indirect. Hubungan yang bersifat langsung didasarkan pada pendapat Oates (1993) yang menyebutkan bahwa penyediaan barang publik dalam kerangka desentralisasi fiskal akan meningkatkan efisiensi yang akan dicapai selaras dengan setting pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Hubungan yang bersifat langsung antara desentralisasi fiskal dan pertumbuhan ekonomi seperti yang diungkapkan Oates (1993) masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, namun ada beberapa potensi yang dapat dikembangkan terkait masalah hubungan tidak langsung antara desentralisasi dengan pertumbuhan ekonomi.
Penelitian yang menggambarkan hubungan desentralisasi fiskal dengan pertumbuhan ekonomi juga dilakukan oleh Oates (1993) yang menyatakan bahwa desentralisasi akan menciptakan efisiensi ekonomi dan memiliki pengaruh pembentukan dinamis pada pertumbuhan ekonomi. Tetapi pengaruh dari desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi masih banyak diperdebatkan baik dari sisi teori maupun studi empiris yang juga terus berkembang. Pada awalnya yang lebih diperhatikan adalah kuantitas pengeluaran pemerintah, namun ada tahap selanjutnya mengenai aspek-aspek lain dari kebijakan pemerintah. Selain cross section studies yang dilakukan Baffes dan Shah (1998) dan Aschauher (2000), hubungan antara kebijakan fiskal dengan pertumbuhan ekonomi pada tingkat daerah di suatu negara juga telah mendapat perhatian, seperti halnya studi yang dilakukan oleh Rappaport (1999) dengan kasus di Amerika Serikat. Untuk kasus di Indonesia Brata dan Arifin (2003)
juga telah menganalisis aspek fiskal pemerintah daerah terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi di Indonesia.
Jin dan Zou (2002) melakukan penelitian mengenai desentralisasi fiskal di China, mendapatkan hasil bahwa desentralisasi pengeluaran tidak meningkatkan pertumbuhan ekonomi di provinsi-provinsi China. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah pusat lebih efisien dalam mengatur pengeluarannya dibanding pemerintah daerah Zhang dan Zou (1998). Sedangkan desentralisasi di bidang penerimaan berpengaruh positif dan signifikan, hal ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Shah dan Mundial (1994) bahwa desentralisasi penerimaan akan menstimulasi mobilisasi penerimaan dari sumber-sumber keuangan daerah. Hasil ini mendukung hal yang fundamental bahwa pengaruh dari desentralisasi sangat tergantung pada institusi fiskal dan sistem politik yang ada di negara tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitianRodden and Rose-Ackerman (1997) bahwa desentralisasi fiskal terhambat jika pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas yang memadai dibanding pemerintah pusat. Teori mengenai rancangan desentralisasi fiskal menyarankan sejumlah potensial trade off antara efisiensi dan tujuan lainnya seperti equality dari distribusi sumber daya antar pemerintah atau stabilitas makroekonomi. Beberapa penulis mengatakan bahwa memberikan sedikit kebijakan makroekonomi pada pemerintah daerah akan meningkatkan stabilitas makroekonomi (shah 2006).
Pemberlakuan undang-undang 32 dan 33 tahun 2004 mengenai keuangan pemerintah daerah telah menyebabkan perubahan yang cukup berarti bagi sistem keuangan pemerintahan di Indonesia. Dari undang-undang tersebut pendelegasian sistem keuangan dari pemerintah pusat ke daerah telah merubah pemerintahan yang dahulunya sentralistik menjadi lebih terdesentralisasi. Kedua undang-undang mengenai desentralisasi tersebut telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya, termasuk kewenangan untuk memanfaatkan dan mengalokasikan keuangannya. Dengan besarnya wewenang yang dilipahkan ke pemerintah daerah, maka diharapkan pemerintah daerah dapat meningkatkan perekonomian daerah yang tercermin dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
DATA DAN METODOLOGI
Model yang digunakan dalam penelitian untuk mengetahui pengaruh dari desentralisasi fiskal dalam
pertumbuhan ekonomi mengguakan sampel pada kabupaten dan kota di provinsi Jawa, Sulawesi dan Papua. Pengambilan sampel pada kabupaten/kota di pulau jawa diharapkan mampu menggambarkan dan mewakili Indonessia bagian Barat sedangkan pulau Sulawesi mewakili Indonesia tengah dan timur. Periode yang diambil antara tahun 2010 – 2012 dengan menggunakan data panel dimana akan dipilih pendekatan yang terbaik dari common effects, fixed effect atau random effect. Untuk mengatasi berbagai macam asumsi klasik maka digunakanlah pendekatan Feasible Generalized Least Square (FGLS).
Guna mengetahui dampak desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah peneliti mengadopsi model pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan. Kemudian diadopsi bersama dengan variabel kontrol model dari Nobuo Akai (2002) seperti Openess, pertumbuhan penduduk dan pendidikan sebagai berikut dirumuskan seperti rumus (1).
GrYit = α0 + β1RBMIit +β2AIIit + β3AIIIit + β4 (GrG)it + β5(GrJP)it + vit ...(1) Variabel terikat dalam penelitian yang dilakukan adalah pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan pertumbuhan PDRB di setiap provinsi. Variabel bebas pada penelitian ini menggunakan pengeluaran pemerintah dan untuk variabel kontrol menggunakan, pertumbuhan jumlah penduduk. Definisi operasional variabel-variabel tersebut adalah, pertama pertumbuhan ekonomi digunakan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto. Kedua, Pengeluaran pemerintah menggunakan Rasio Belanja Modal (RBM) yang merupakan proxy untuk ukuran kemampuan daerah dalam pelaksanaan belanja modal daerah terkait dengan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Rasio Belanja Modal di dapatkan dari rasio antara belanja modal kabupaten atau kota terhadap total belanja kabupaten atau kota, belanja modal kabupaten atau kota digunakan dalam satuan juta rupiah. Ketiga, Authority Indicator (AII) adalah proxy yang digunakan sebagai ukuran kemampuan daerah dari transfer dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi. Authority Indicator didapatkan dari pendapatan asli daerah kabupaten/ Kota terhadap penerimaan total kabupaten/Kota dengan tidak menyertakan transfer dari provinsi.
Keempat, transfer dan penerimaan total provinsi dalam satuan juta rupiah Authority Indicator (AIII) adalah proxy yang digunakan sebagai ukuran kemampuan pendapatan asli daerah dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Authority Indicator didapatkan dari rasio pendapatan asli daerah kabupaten/kota terhadap penerimaan total provinsi dengan memasukkan transfer dari provinsi dan pemerintah pusat. Nilai pendapatan dan penerimaan total provinsi dalam satuan juta rupiah. Kelima Pertumbuhan Jumlah Penduduk (GrJP) adalah proxy yang digunakan untuk menggambarkan salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Keenam Pertumbuhan belanja pemerintah daerah (GrG) adalah ukuran untuk mengetahui tingkat perkembangan total belanja daerah di setiap tahunnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelimpahan wewenang dan tata kelola keuangan dari pemerintah pusat ke daerah dapat memberi ruang kepada daerah untuk meningkatkan ekonomi sesuai dengan potensi yang dimiliki. Melalui keleluasaan pengelolaan keuangan diharapkan pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran untuk peningkatan pelayanan publik serta kegiatan ekonomi masyarakat.
Dukungan pemerintah pusat dalam peningkatan ekonomi di daerah tidak hanya melalui pelimpahan kewenangan dan keuangan saja. Kebijakan lain untuk meningkatkan ekonomi daerah juga dilakukan oleh pemerintah pusat salah saatunya melalui kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Kebijakan pemerintah tersebut merupakan upaya dalam memaksimalkan eksploitasi sumber daya sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing.
Perubahan pola pengelolaan keuangan pasca diberlakukannya desentralisasi fiskal di Indonesia pada tahun 1999 telah memberikan banyak perubahan dalam tata kelola keuangan daerah. Pemerintah daerah yang dipandang memiliki informasi lebih mengnai keunggulan daerahnya diharapkan mampu mengelola dana transfer dari pemerintah pusat.
Seperti terlihat pada Tabel 1 bahwa sebelum diberlakukannya desentralisasi fiskal dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat masih sedikit yaitu 503 Milyar untuk dana bagi hasil dan meningkat menjadi 3,5 Triliun di tahun 2000. Namun jika dibandingkan dengan setelah desentralisasi jumlah tersebut sangat sedikit bahkan terjadi peningkataan sebesar 4,9 kali dari tahun 2000 ke 2001. Secara bertahap pemerintah pusat telah memberikan dana yang berlimpah untuk daerah dengan tujuan pemerintah daerah mampu meningkatkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) supaya kegiatan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Pada masa sebelum desentralisasi diberlakukan pemerintah daerah tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengelola keuangannya sendiri termasuk alokasi belanja daerah. Seluruh belanja kegiatan pemerintah daerah menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, hal tersebut akan berdampak kepada terhambatnya ide kreatif daerah dalam pengembangan pembangunan daerah.
Dana Alokasi Umum yang berfungsi sebagai penyelaras keuangan daerah telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan pasca desentralisasi, informasi pada Tabel 1 menunjukkan bahwa dana alokasi umum untuk daerah dengan 27 provinsi pada tahun 1990 sebesar 6,5 Triliun dan meningkat pesat di tahun 2012 menjadi 273,8 Triliun Rupiah. Hal tersebut menggambarkan bahwa untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah pemerintah pusat sangat mengharapkan peran aktif dari alokasi belanja yang tepat dari pemerintah daerah. Seiring dengan berjalannya waktu pemerintah daerah menjadikan dana perimbangan sebagai sumber utama pembiayaan kegiatan pemerintah daerah, hal tersebut dapat berdampak positif bagi daerah dengan berasumsi bahwa dana perimbangan merupakan tambahan modal bagi pemerintah daerah dengan harapan penambahan dana tersebut mampu dijadikan pemicu pertumbuhan ekonomi daerah.
Desentralisasi fiskal yang telah berjalan lebih dari 10 tahun di Indonesia secara perlahan telah membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Secara umum hasil analisis menunjukkan bahwa desentralisasi telahberdampak positif terhadap pertumbuhanekonomi di daerah. Nilai pertumbuhan dapat semakin besar ketika modal yang diterima oleh pemerintah daerah dialokasikan atau dibelanjakan pada sektor yang dapat memicu kegiatan ekonomi secara luas.
Seiring dengan besarnya limpahan wewenang dari pemerintah pusat, desentralisasi memberi dampak kepada biaya pelaksanaan pemerintahan yang semakin tinggi. secara rata-rata rasio transfer terhadap total pendapatan Provinsi mengalami penurunan hingga dibawah 50% di tahun 2012. Penurunan rasio tersebut memberi indikasi awal bahwa desentralisasi tidak selalu memberi efek negatif terhadap ketergantungan pendanaan. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk dapat memberi ruang kepada daerah dalam memenuhi kegiatan pemerintah daerah dari pendapatan asli daerah.
Desentralisasi yang digambarkan dengan belanja modal daerah terbukti mampu membantu pertumbuhan ekonomi di daerah. Pengaruh positif
tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah telah memulai proses transisi untuk dapat meningkatkan pandapatan daerah melalui keuntungan belanja modal. Salah satu yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam belanja modal adalah belanja untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia baik di lingkungan pemerintah sebagai penyedia jasa pelayanan publik ataupun untuk masyarakat luas dengan tujuan meningkatkan kualitas ketersediaan tenaga kerja.
Seiring dengan peningkatan proporsi dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Tabel 1) diharapkan mampu meningkatkan peran pemerintah daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi sesuai dengan karakterwilayah yang dimiliki. Dana transfer yang diberikan tidak hanya berfungsi untuk menutup selah fiskal yang dihasilkan dari aktivitas pemerintah daerah, namun lebih kepada memberikan stimulus untuk percepatan pertumbuhan ekonomi.
Stimulus yang diberikan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dapat berupa belanja daerah dibidang pendidikan. Pendidikan yang difasilitasi oleh pemerintah daerah dapat berupa pendidikan formal maupun non formal. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia sehingga dapat meningkatkan daya tawar pada pasar tenaga kerja.
Keterangan: Dep.var pertumbuhan PDRB (2010-2013) pada Tabel 2 ditunjukkan nilai koefisien (baris pertama) dan t-statistik (baris kedua) dengan level signifikasi 10%(***) 5%(**) 1%(*). Jumlah observasi sebanyak 644 kab/kota di Pulau Jawa & Sulawesi
Beberapa skenario yang diambil untuk mendapat-kan gambaran yang lebih lengkap dari desentralisasi yang telah diterapkan di Indonesia sejak lebih dari satu dasawarsa yang lalu (Tabel 2). Hasil menunjuk-kan dengan menggunamenunjuk-kan seluruh variabel desentral-isasi (skenario 3 pada 1.3 di Tabel 2) yang digunakan menggambarkan bahwa unutuk rasio belanja modal (RBM) yang menggambarkan kemampuan daerah dalam pelaksanaan belanja modal daerah terkait den-gan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke
pemerintah daerah menunjukkan hasil yang positif. Besaran belanja modal menjadi salah satu alat untuk memicu pertumbuhan ekonomi di daerah. Semakin tinggi belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah, maka akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan pola konsumsi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kewenangan yang diberikan dari pemerintah pusat akan meningkatkan belanja daerah, namun belanja yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi dari sisi Tabel 1. Perkembangan Dana Perimbangan (Milyar Rupiah)
Keterangan Tahun Skala Perubahan
1990 2000 2001 2012 1990-2000 2001-2012 2000-2001
Dana Bagi Hasil 503 3,54 21,18 108,42 6.0 4.1 4.98
Dana Alokasi Umum 6,55 30,35 60,51 273,81 3.6 3.5 0.99
Dana Alokasi Khusus - - 701 26,11 0.0 36.3
Dana Perimbangan 7,06 33,89 82,40 408,35 3.8 4.0 1.43
Sumber : SEKI Bank Indonesia (data diolah), 2014
Tabel 2. Output Regresi dengan Random effect FGLS
Variabel 1.1 1.2 1.3 RBM 0,857 [37,16]* [35,04]*0,829 [36,33]*0,846 AI1 0,046 [6,91]* - [5,43]*0,0391 AI2 - 0,137 [5,056]* [2,899]*0,0824 GRBELANJA 0,002 [0,490] [0,055]0,0002 [0,410]0,0017 GRJP 0,047 [1,27] [0,569]0,0214 0,0435[1,179] Coef. -0,01 [-1,45] [0,709]0,0044 [-1,4]***-0,0128 R2 0,685 0,608 0,69
Sumber : hasil olah data, 2014
Gambar 1. Rata-rata perkembangan Belanja dan Trans-fer 2005-2010
peningkatan konsumsi masyarakat (Gambar 1). Nilai positif pada rasio belanja pegawai menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah dapat dipicu dari peningkatan pendapatan masyarakat, dimana peningkatan pendapatan tersebut diperoleh dari tingginya dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat. Pada sisi lain seharusnya peningkatan pendapatan pegawai provinsi lebih disebabkan dari peningkatan PAD, namun PAD hanya membiayai pengeluaran rutin daerah kurang dari 30 persen (Iskandar, 1993). Sehingga kebutuhan rutin pemerintah daerah sebagian besar dipenuhi oleh dana transfer, hal tersebut yang membuat proporsi dana transfer untuk pembangunan daerah berkurang.
Masih pada skenario yang ketiga variabel kedua yaitu AII yang menggambarkan ukuran kemampuan daerah dari transfer dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi, dimana rasio tersebut menggunakan Pendapatan Asli Daerah dan penerimaan total (tanpa transfer pemerintah pusat). Hasil analisis menunjukkan nilai yang positif dan signifikan yang berarti bahwa setiap peningkatan penerimaan dengan menghilangkan transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah akan direspon dengan pertumbuhan ekonomi yang positif pula.
Besaran pertumbuhan ekonomi daerah tanpa adanya transfer dari pemerintah pusat menjadi sebuah hasil yang menarik. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pemerintah daerah telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi meskipun transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat ditiadakan. Indikasi yang lain untuk menggambarkan hasil terebut adalah telah terjadi peningkatan pendapatan asli daerah yang mampu dipergunakan untuk menggerakkan perekonomian.
Belanja pemerintah daerah merupakan stimulus dalam menggerakkan perekonomian. Meskipun belanja yang dipergunakan sebagian besar dipergunakan untuk belanja kegiatan rutin seperti
belanja pegawai, jika dilihat dari sisi konsumsi setiap pengeluaran dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi. Pemberian remunerasi, insentif tambahan bagi pegawai pemerintah daerah dan bonus lainnya dalam jangka pendek dapat meningkatkan konsumsi masyarakat yang kemudian dikonversi dalam bentuk pertumbuhan ekonomi.
Provinsi yang terletak di pulau Jawa dan Sumatera menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten meskipun terjadi pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat. Kegiatan bisnis pemerintah daerah yang dilakukan BUMD dan pendapatan dari retribusi mampu mengurangi beban belanja rutin. Secara rata-rata rasio yang dihasilkan dari PAD terhadap tetal pendapatan di Pulau Jawa lebih dari 50% (Tabel 3). Hasil analisis pada variabel ketiga yaitu AIII yang merupakan ukuran kemampuan pendapatan asli daerah dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai yang dihasilkan dari analisis adalah positif 0,0824 dengan level signifikasi dibawah 1%. Hal tersebut menunjukkan bahwa desentralisasi telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Hasil berbeda didapatkan antara skenario ke dua (hasil 1.2) dan ketiga (1.3) terutama pada nilai koefisiennya. Jika berasumsi semua variabel dianggap kosntan, maka skenario kedua menyatakan bahwa desentralisasi fiskal akan berdampak positif kepada pertubuhan ekonomi di daerah, namun hal sebaliknya ditunjukkan pada hasil dengan skenario 1.3.
Secara umum dari sampel yang diambil yaitu pada seluruh kabupaten dan kota yang berada di pulau Jawa dan Sulawesi dapat dinyatakan bahwa pelimpahan wewenang kepada pemerintah daerah mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi. Meskipun belum semua indikator desentralisasi menunjukkan arah yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun beberapa hal penting seperti kemampuan pemerintah daerah dalam membelanjakan keuangan Tabel 3. Rasio PAD dan DAPER terhadap Total Pendapatan
Pulau
Rata-rata Rasio PAD thd Total
Pendapatan Rata-rata Rasio DAPER thd Total Pendapatan
2006 2007 2008 2009 2010 2006 2007 2008 2009 2010 Sumatera 44% 35% 33% 39% 41% 75% 49% 50% 55% 52% Jawa 67% 61% 55% 63% 63% 37% 21% 33% 36% 36% Kalimantan 42% 36% 29% 38% 42% 88% 32% 52% 60% 56% Sulawesi 26% 22% 23% 27% 28% 82% 60% 75% 69% 68% Bali. NTT & NTB 42% 41% 38% 40% 40% 60% 44% 62% 59% 57% Papua 5% 3% 5% 5% 5% 76% 24% 66% 66% 31%
yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi serta kemampuan PAD dalam memicu pertumbuhan ekonomi (AIII) dapat mewakili representasi keberhasilan penerapan desentralisasi di Indonesia.
Meskipun hasil dari analisis pada kabupaten dan kota yang berada di pulau Jawa dan Sulawesi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan atas pertumbuhan belanja dengan pertumbuhan ekonomi, namun keberadaannya menunjukkan arah yang positif. Hasil tersebut menghasilkan gambaran bahwa besaran belanja pemerintah daerah akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tidak terbatas kepada belanja modal saja, namun berbagai macam pengeluaran pemerintah akan selalu direspon positif oleh pertumbuhan ekonomi. Teori pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan kuantitas menunjukkan bahwa semakin tinggi belanja maka dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi semakin baik. Belanja pegawai yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang proporsinya secara rata-rata dapat mencapai lebih dari 40% tentu akan direspon positif oleh pertumbuhan ekonomi.
Desentralisasi menyarankan untuk meminimumkan celah fiskal supaya pertumbuhan ekonomi di daerah lebih baik. Kemampuan daerah untuk meningkatkan kapasitas fiskal dengan tujuan untuk mengurangi clah fiskal yang terjadi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan memperhatikan dan meningkatkan sumber daya manusia serta peningkatan sarana insfrastruktur guna memperlancar roda perekonomian. Desentralisasi fiskal terhambat jika pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas fiskal yang memadai dibanding pemerintah pusat (Rodden dan Rose-Ackerman, 1997).
Kemampuan daerah dalam menciptakan pendapatan asli menyebabkan ketergantungan fiskal kepada pemerintah pusat. Setidaknya terdapat lima penyebab utama rendahnya pendapatan asli daerah (Kuncoro, 2010): pertama, kurang berperannya perusahaan daerah sebagai sumber pendapatan daerah; kedua, tingginya derajat sentralisasi dalam bidang perpajakan; ketiga kendati pajak daerah cukup beragam, ternyata hanya sedikit yang bisa diandalkan sebagai sumber penerimaan; keempat, faktor politis, terdapat kekhawatiran jika daerah mempunyai sumber keuangan yang tinggi akan mendorong terjadinya disintegrasi dan sepatisme; kelima, kelemahan dalam pemberian subsidi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pemerintah pusat memberikan subsidi dalam bentuk block grants dan spesifik. Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa
daerah memiliki keleluasaan dalam penggunaan dana subsidi blok, sedang penggunaan dana subsudi spesifik sudah ditentukan oleh pemerintah pusat dan daerah tidak punya keleluasaan dalam penggunaan dana tersebut.
Pertumbuhan ekonomi daerah dapat berjalan dengan baik jika Pendapatan asli daerah mampu mencukupi kebutuhan fiskal serta dapat memenuhi kebutuhan publik. Hasil analisis menunjukkan nilai yang positif dan signifikan pada pengaruh rasio Pendapatan Asli Daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Nilai yang positif tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah dalam memenuhi standart pelayanan minimum yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dapat terselenggara dari pendanaan Pendapatan Asli Daerah.
Kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat ke daerah akan semakin efektif jika nilai rasio otonomi yang dihasilkan semakin besar, selain itu otonomi menjadi semakin baik jika kebutuhan fiskal daerah dibiayai dari pendapatan asil daerah (Akai Sakata, 2002). Pendapatan asli daerah sangat tergantung kepada sumber daya alam yang dimiliki serta jumlah penduduk. Pendapatan pajak dan retribusi merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah, namun jika daerah yang berpenduduk sedikit maka pemanfaatan sumber daya alam oleh BUMD dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.
Pendapatan daerah melalui transfer menjadi variabel penting dalam pertumbuhan ekonomi. Semakin besar peranan dana transfer dalam menutup kebutuhan fiskalnya maka akan mengurangi kemandirian pemerintah daerah dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Pengaruh negatif yang ditunjukkan dalam analisis antara pendapatan asli daerah dengan pertumbuhan ekonomi telah menggambarkan bahwa investasi pemerintah di sektor layanan umum tidak secara langsung dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang positif.
Kabupaten dan kota yang terletak di pulau Jawa menunjukkan kemandirian dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah. Proporsi pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan mencapai lebih dari 50%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi peningkatan peran aktivitas ekonomi daerah dalam menyumbang pendapatan. Pemerintah pusat dapat mengurangi proporsi DAU yang kemudian diganti dengan DAK untuk membantu pemerintah daerah pada masalah yang paling substansial yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia.
memang diberikan ruang untuk mendapatkan nilai tambah dari dana transfer dari sisi DAU. Tambahan tersebut diakibatkan kebutuhan fiskal dari pemerintah daerah yang tidak mampu dicukupi dari pendapatan asli daerah. Pada fase awal desentralisasi fiskal diberlakukan peran pemerintah pusat dalam menutup kebutuhan fiskal pemerintah daerah mutlak diperlukan. Diharapkan desentralisasi fiskal di era otonomi daerah mampu tercukupi dari Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus. Dana Bagi Hasil merupakan indikator kekuatan ekonomi daerah dari aktivitas masyarakat yang dilihat dari penerimaan pajak. Semakin besar Dana Bagi Hasil yang didapatkan oleh pemerinta daerah, maka mengindikasikan bahwa pemerintah telah terjadi peningkatan aktivitas ekonomi di daerah. Namun jika terjadi penignakatan pada Dana Alokasi Umum maka mengindikasikan bahwa daerah belum mampu sepenuhnya mencukupi kebutuhan fiskalnya.
Dana Alokasi Khusus merupakan pendanaan pemerintah pusat untuk program yang menjadi prioritas Nasional. Pelaksana dari DAK adalah pemerintah daerah yang berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Semakin kecil DAK maka dapat dinyatakan bahwa pemerintah daerah telah mampu menyediakan serta melaksanakan program prioritas Nasional.
Pemerintah daerah sebagai penyedia kebutuhan publik diharapkan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. kegiatan masyarakat menjadi lebih lancar jika sarana infrastruktur dapat terpenuhi dengan baik. Layanan pemerintah dalam penyediaan sarana infrastruktur dapat menigkatkan arus investasi di daerah.
Insfrastruktur merupakan salah satu cara untuk menarik investor, namun ketersedian sumber daya manusia yang mencukupi menjadi kekuatan dalam menggerakkan roda perekonomian. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik apabila berpedoman pada kualitas sumberdaya manusia yang kapabel dalam menggantikan peran sebelumnya yang merupakan peran pemerintah pusat Halim (2007). Meningkatnya sumber daya manusia di daerah akan memberikan berbagai macam dampak positif bagi pembangunan daerah. Kegiatan ekonomi yang dilakukan swasta menjadi lebih baik karena mendapatkan input produksi sumber daya manusia yang semakin baik. Hal tersebut akan berdampak pada alur investasi daerah yang semakin meningkat. Pembentukan pendapatan asli daerah dari kegiatan ekonomi masyarakat menjadi tujuan utama pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pendapatan asli daerah dapat berupa
sumber daya alam ataupun bentuk aktifitas lain seperti jasa. Namun peran pemerintah pada massa desentralisasi akan menjadi penting karena pengaruh dari desentralisasi sangat tergantung pada institusi fiskal dan sistem politik yang ada di negara tersebut. Desentralisasi fiskal terhambat jika pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas yang memadai dibanding pemerintah pusat (Rodden dan Rose-Ackerman, 1997).
SIMPULAN
Meningkatnya belanja pemerintah daerah akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, peningkatan belanja dapat dilakukan di sisi pengeluaran rutin seperti belanja pegawai. Peningkatan belanja pegawai mampu meningkatkan konsumsi masyarakat yang merupakan salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi. Sedangkan belanja modal pada era desentralisasi dimana pemerintah daerah telah diberikan kewenangan sepenuhnya dalam mengalokasikan belanja modal secara bertahap telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah. Belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah tidak hanya pada bentuk fisik kegiatan, namun juga pada sektor peningkatan sumber daya manusia, dimana hal tersebut akan membentuk pertumbuhan ekonomi yang konsisten.
Variabel Authority Indicator (AII dan AIII) yang merupakan ukuran kemampuan daerah dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi di daerah mempunyai nilai yang positif dan signifikan. Indikator desentralisasi kemampuan pendapatan asli daerah dalam pembentukan total pendapatan telah menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
SARAN
Kebijakan desentralisasi tidak hanya kepada pengelolaan keuangan namun juga administrasi dan politik, oleh sebab itu perlu dilakukan kajian yang lebih merata terhadap gambaran dari desentralisasi. Melihat kontribusi transfer pemerintah pusat terhadap penerimaan jauh lebih besar dibandingkan kontribusi PAD sehingga memunculkan kesenjangan kekuasaan penerimaan dan belanja sehingga perlu ditinjau ulang keseimbangan antara fungsi, tugas dan kewajiban antar tingkat pemerintahan dapat tercapai.
Penelitian yang telah dilakukan memiliki keterbatasan dalam analisis yaitu belum terwakilinya seluruh kabupaten dan kota di Indonesia, sehingga penelitian hanya menghasilkan kesimpulan secara
sampel yang mewakili beberapa kabupaten dan kota di wilayah Indonesia bagian Barat dan beberapa kota di Indonesia bagian timur.
REFERENSI
Anis, & Ardi. (2007). Analisis Pengaruh PAD,DAU, DAK dan Belanja Pembangunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, dan Pengangguran: Pendekatan Analisis Jalur. Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Indonesia.
Aschauher, D. A. (2000). Public capital and economic growth: issues of quantity, finance, and efficiency. Economic
Development and Cultural Change, 48(2), 391-406.
Baffes, J., & Shah, A. (1998). Productivity of public spending, sectoral allocation choices, and economic growth.
Economic Development and Cultural Change, 46(2),
291-303.
Brata, A., & Arifin, Z. (2003). Alokasi Investasi Sektor Publik dan Pengaruhnya Terhadap Konvergensi Ekonomi Regional di Indonesia. Media Ekonomi, 13(20), 59-71. Davoodi, H., & Zou, H.-f. (1998). Fiscal Decentralization and
Economic Growth: A Cross-Country Study. Journal of
Urban Economics, 43, 244-257.
Devarajan, S., Swaroop, V., & Zou, H. (1996). The composition of public expenditure and economic growth. Journal of
monetary economics, 37(2), 313-344.
Globerman, S., & Shapiro, D. (2002). Governance infrastructure and US foreign direct investment. Journal of International
Business Studies, 34(1), 19-39.
Halim, A. (2007). Pengelolaan keuangan daerah yogyakarta : UPP STIM YKPN.
Jin, J., & Zou, H. (2002). How does fiscal decentralization affect aggregate, national, and subnational government size?
Journal of Urban Economics, 52(2), 270-293.
Laras, W., & Priyo, H. (2008). Perilaku asimetris Daerah Terhadap Transfer Pemerintah Pusat, The 2nd national
Conference UKWMS.
Martinez, V. J., & McNab, R. (2003). Fiscal decentralization and economic growth. World development, 31(9), 1597-1616. Morrison, C., & Schwartz, A. (1992). State infrastructure and productive performance. National Bureau of Economic
Research.
Muslimin. (2010). Pengaruh Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Peran Kelembagaan Dana Otonomi Khusus Papua di Provinsi Papua Barat.
Publikasi Ilmiah Universitas Brawijaya.
Nobuo Akai, and Masayo Sakata. (2002). Fiscal decentralization contributes to economic growth: evidence from state-level cross-section data for the United States. Journal
of Urban Economics, 52, 93-108.
Oates, W. (1993). Fiscal Decentralization and Economic Development. National Tax journal, 46(2), 237-243. Priyo, H. (2005). Analisis Desentralisasi Fiskal Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi (Studi pada kabupaten dan kota se Jawa-Bali). Jurnal Interdisipliner Kritis UKSW. Rappaport, J. (1999). Local growth empirics.
Richard, B. M., & Villancourt, F. (2002). Desentralisasi Fiskal negara-negara Berkembang. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rodden, J., & Rose-Ackerman, S. (1997). Does federalism preserve markets? Virginia Law Review, 1521-1572. Shah, A., & Mundial, B. (1994). The reform of intergovernmental
fiscal relations in developing and emerging market economies World Bank.
Stinglitz, J. (2000). Economics of the Public Sector. Third Ed. New York: W.W. Norton & Company.
Thornton, J. (2007). Fiscal decentralization and economic growth reconsidered. Journal of Urban Economics, 61, 64-70.
Xie, D., Zou, H., & Davoodi, H. (1999). Fiscal decentralization and economic growth in the United States. Journal of
Urban Economics, 45, 228-239.
Zhang, T., & Zou, H. F. (1998). Fiscal decentralization, public spending, and economic growth in China. Journal of
Keterkaitan antara Perilaku Merokok, Preferensi Waktu
dan Pilihan Terhadap Resiko (Studi Kasus di Kota Surabaya)
Lilik Sugiharti Ni Made Sukartini*)
Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Tanti Handriana
Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
ABSTRAK
Studi empiris yang mengkaji aspek keprilakuan pada perilaku adiksi seperti merokok, melaporkan adanya perbedaan temuan tentang preferensi perokok dan non perokok terhadap pilihan waktu (time preference) dan sikap terhadap resiko (risk attitude). Studi empiris yang menggunakan time preference task, melaporkan adanya variasi temuan pilihan orientasi waktu antara perokok dan non perokok. Beberapa studi melaporkan bahwa perokok bersikap impulsive, memilih opsi hadiah atau tugas dengan perspektif waktu yang bersifat “segera”, meskipun dengan nilai utilitas yang lebih rendah. Sementara itu, dalam studi-studi yang lain dilaporkan bahwa non-perokok yang berperilaku impulsive. Dalam studi yang lain dilaporkan bahwa dengan menggunakan probability discounting task, perokok cenderung bersikap risk averse. Studi ini menggunakan pendekatan standar time preference task dan probability discounting task dari Pla dan Jones (2003). Kesimpulan yang diperoleh dalam studi ini bahwa tidak ada perbedaan preferensi terhadap waktu antara perokok dan non perokok, namun perokok dilaporkan bersikap lebih menghindari resiko dibanding non perokok.
Kata kunci: Perilaku adiksi, Merokok, Preferensi Terhadap Pilihan Waktu
The Linkage between Smoking Behavior, Time Preference and Risk Preference (Case Study in Surabaya City)
ABSTRACT
Empirical studies focus on the behavioral agents such as smoking addiction reported there is ambiguity in preference between smokers and non smokers, in terms of time and risk attitude. Study focuses on times preference between smokers and non smokers come to difference conclusion. Some studies reported that smokers tend to behave impulsive in time preference task. On the other hand, other studies reported that non smokers behave impulsive. This study applies task and metodelogy of Pla and Jones (2003). Our study find there is no difference in time preference between smokers and non smokers, but compare to their counterpart, the smokers indeed avoid risky choices.
Keywords: Addiction behavior, smoking, time preferences
PENDAHULUAN
Jumlah perokok pria di Indonesia diperkirakan telah meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1980, dan prevalensi perokok pria di Indonesia tercatat kedua tertinggi di dunia (WHO, 2012). Data ini mengindikasikan bahwa penduduk Indonesia mempunyai peluang yang tinggi terkena dampak negatif dari paparan asap rokok, khususnya kondisi kesehatan, serta biaya kesehatan di Indonesia.
Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, di Indonesia secara nasional, prevalensi penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok sebesar 34,7 persen, dimana 28,2 persen diantaranya adalah perokok setiap hari, dan 6,5 persen perokok kadang-kadang. Yang memprihatinkan, hampir sebagian besar perokok aktif di Indonesia mulai merokok sejak usia belia. Data dalam Riskesdas 2010, sekitar 17,5 persen diantaranya mulai merokok di rentang usia 10-14 tahun, diperkirakan sekitar 43,3 persen mulai merokok di usia 15-19 tahun, dan
14,6 persen di usia 20-24. Bahkan di antara para perokok, sebanyak 1,7 persen mulai merokok sejak usia lima sampai sembilan tahun. Data ini akan memberi indikasi bahwa semakin muda seseorang mulai mengenal rokok, maka semakin tinggi peluang dari perokok belia ini akan menjadi pecandu rokok pada usia belasan tahun. Semakin muda mereka menjadi pecandu, maka semakin sulit bagi mereka untuk melepaskan diri dari kecanduan pada rokok.
Secara psikologi dilaporkan bahwa konsumsi rokok, apabila dilakukan secara terus menerus, dapat menimbulkan perilaku kecanduan. Hal ini disebabkan oleh kandungan tar dan nikotin dalam rokok, yang memicu perilaku kecanduan tersebut1. Telah diketahui umum bahwa ada banyak jenis barang maupun jasa yang di konsumsi secara berulang dan rutin, dapat memicu perilaku kecanduan. Kecanduan pada rokok telah memicu perhatian para pengambil keputusan, oleh karena biaya ekonomi yang ditimbulkan oleh asap rokok, akan ditanggug dalam jangka panjang tidak hanya oleh perokok, tetapi juga pemerintah dalam bentuk dana kesehatan.
Dalam literatur ekonomi keperilakuan mulai banyak dikaji parameter yang berkaitan dengan masalah preferensi, khususnya perilaku ekonomi dari merokok. Ekonomi keprilakuan diharapkan dapat memberikan insight bagi teori perilaku konsumen maupun rekomendasi bagi para pengambil kebijakan, terkait dengan perilaku kecanduan pada konsumsi rokok. Kecanduan pada rokok telah menjadi perhatian publik. Upaya pencegahan konsumsi sampai pada efek kecanduan terus dilakukan, salah satunya dibentuknya framework convention on tobacco control (FCTC). Beberapa studi mulai mengkaji kaitan antara preferensi terhadap waktu dan resiko dengan kecanduan pada rokok di level individu. Preferensi terhadap waktu secara umum dikaji dengan menyajikan pilihan waktu kepada individu, yang disebut time preference task, sementara pengujian preferensi terhadap resiko dikaji melalui opsi probability discounting task.
Dalam time preference task individu diberi tugas untuk memilih hadiah dengan pilihan hadiah bernilai kecil dan diterima langsung versus hadiah dengan nilai besar tetapi diterima beberapa waktu kemudian. Individu dikatagorikan bersifat impulsive apabila dalam tugas ini memilih hadiah yang kecil dan segera dibanding hadiah besar namun diterima beberapa waktu berikutnya. Sedangkan dalam probability discounting task individu ditugaskan untuk antara memilih hadiah yang bernilai kecil dengan kepastian 1 Informasi ini diperoleh dari: http://cancercontrol.cancer.gov/brp/TCRB/
monographs/13/m13_complete.pdf; dan http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ articles/PMC1640397/pdf/brmedj00520-0014.pdf
dibandingkan dengan hadiah dengan nilai besar tapi dengan resiko ketidakpastian. Individu dikatakan berperilaku impulsive apabila ia memilih hadiah yang bernilai besar namun beresiko (Mitchell, 1999). Studi yang berfokus pada kaitan dari perilaku merokok dengan time preference task dan probability discounting tasksebagian besar melaporkan bahwa perokok ditemukan berperilaku lebih impulsive dibanding non perokok. Dalam time preference task perokok cenderung memilih hadiah atau rewards yang lebih cepat meski dengan nilai yang lebih kecil, lihat misalnya studi dari Mitchell (1999), Bickel et al. (1999), Odum et al. (2002), Baker et al. (2003), Reynolds et al. (2004),dan Ohmura et al.(2005). Dalam studi dari Reynolds et al. (2004) menemukan ada korelasi positif signifikan dari jumlah rokok yang dikonsumsi setiap hari dan pilihan hadiah yang diterima dikemudian hari (delay discounting rate). Studi dari Ohmura et al. (2005) menemukan kuantitas dan kualitas dari nikotin yang dikonsumsi sejumlah pecandu nikotin berkorelasi positif dengan high time discounting, dimana individu melaporkan konsumsi rokok dengan kadar nikotin tinggi cenderung pada awal-awal bulan, ketika jumlah uang yang dimilki untuk membeli nikotin masih banyak.
Namun, dalam studi dari Chesson dan Viscusi (2000), ditemukan bahwa perokok cenderung memiliki discount rate yang lebih rendah dibanding non perokok, dimana dalam time preference task perokok lebih banyak memilih rewards yang lebih besar dan dalam perspektif waktu yang lebih lama. Studi dari Reynolds et al.(2003) dan Sato dan Ohkusa (2003) menemukan bahwa perilaku impulsive dalam time discounting task mungkin lebih berkaitan dengan seorang remaja yang baru mulai mencoba rokok dibanding perilaku yang ditunjukkan oleh perokok aktif. Dalam studi dari Reynolds et al. (2004), ditemukan bahwa meskipun perokok secara umum lebih berperilaku impulsive dibanding non perokok dalam pengujian preferensi terhadap waktu maupun preferensi terhadap resiko, namun menurut Reynolds et al., preferensi penundaan (delay discounting) merupakan indicator yang lebih baik dibanding probability discounting.
Pada beberapa studi yang berfokus pada delay discounting menemukan adanya variasi dalam perilaku impulsive. Studi dari Green et al. (1994 dan 1996) melaporkan bahwa anak-anak bersifat lebih impulsive dibanding orang dewasa.Studi dari Kirby dan Markovic (1996) menemukan bahwa pria berperilaku lebih impulsive di banding wanita. Dalam studi yang lain,kelompok penjudi dan kelompok ketergantungan obat penenang, juga berperilaku lebih
impulsive dibanding penduduk biasa (Alessi dan Petry, 2003; Petry, 2001; serta Bickel dan Marsch, 2001). Studi-studi ini telah melaporkan adanya ketidaksamaan dalam perilaku kecanduan pada pilihan preferensi waktu.Sebagian studi melaporkan perokok bersikap impulsive, sementara studi yang lainnya melaporkan hal yang sebalinya.Studi ini akan mengkaji perbedaan preferensi waktu dan perilaku terhadap resiko antara perokok dan non perokok dalam masyarakat Indonesia, serta mengkaji kaitan antara antara laporan subjektif tentang religiusitas dan peluang menjadi perokok pada sejumlah 165 (seratus enam puluh lima) subjek di kota Surabaya. Dengan menggunakan analisis regresi two stage least square studi ini menemukan tidak ada kaitan antara laporan subjektif tentang religiusitas individu dan peluang individu tersebut menjadi perokok. Di sisi yang lain studi ini menemukan bahwa perokok sama-sama tidak berperilaku impulsive seperti non perokok, namun perokok berperilaku menghindari resiko.
Review Studi Sebelumnya Terkait Perilaku Merokok
Beberapa studi empiris yang berfokus pada perilaku kecanduan rokok, produk minuman beralkohol, dan obat-obat yang mengandung zat adiktif lainnya melaporkan secara umum hal berikut. Sejumlah studi yang menggunakan data agregat maupun data individu, baik yang dilakukan di Amerika Serikat maupun di negara lain, menemukan bahwa secara keseluruhan elastisitas perubaha harga terhadap permintaan rokok berkisar antara -0,30 sampai -0,50. Perubahan prevalensi merokok karena kebijakan pemerintah, baik menaikkan sin tax maupun pemberian informasi dampak kesehatan atau dalam bentuk larangan, berkisar antara -0,1 sampai dengan -0,20 (Chaloupka dan Tauras, 2000).
Sejumlah studi yang berfokus pada remaja, melaporkan bahwa perilaku merokok remaja lebih mendekati prediksi model konvensional. Perokok remaja dilaporkan lebih sensitif terhadap perubahan harga, yang diduga berkaitan dengan faktor pendapatan yang masih rendah, dan mencoba rokok karena faktor pengaruh atau tekanan dari teman. Temuan ini juga masih konsisten dengan prediksi model rational addiction, perokok pemula atau perokok remaja akan bersifat lebih sensitif terhadap perubahan harga, oleh karena remaja dalam konsumsi cenderung berperilaku present oriented, dan secara umum belum memasuki tahap kecanduan pada rokok.
Studi dari Lewit et al. (1981), melaporkan bahwa
perilaku merokok di Amerika Serikat secara umum berkebalikan dengan karakteristik usia. Studi dari Lewit et al. melaporkan bahwa perokok remaja usia di bawah 20 tahun ditemukan sekitar 3(tiga) kali lipat lebih sensitif terhadap perubahan harga dibanding perokok usia di atas 25 tahun. Dalam studi lain, Lewit dan Coate (1982) melaporkan kesimpulan yang sama, bahwa perokok muda lebih sensitif terhadap perubahan harga di banding perokok usia lanjut, dan perokok pemula usia belasan tahun ditemukan paling sensitif. Hal ini diduga karena perokok pemula masih dalam tahap mencoba-coba rokok. Hanya dalam studi dari Wasserman et al.(1991) yang melaporkan bahwa data di level individu di Amerika Serikat, ditemukan tidak ada perbedaan dalam perilaku merokok antara perokok remaja dan perokok usia lebih lanjut.
Rangkuman sejumlah studi empiris dapat disimak pada Tabel 1.
Pada Tabel 1 nampak bahwa sebagian besar studi yang telah dilakukan di negara Amerika khususnya, elastisitas permintaan rokok cenderung inelastis trhadap perubahan harga, dan dalam kebanyakan studi di Amerika ditemukan konsumsi rokok mengikuti karakteristik barang inferior. Semakin tinggi pendapatan individu, maka semakin rendah porsi dari pendapatan tersebut yang digunakan untuk membeli rokok. Pada Tabel 1 juga nampak bahwa elastisitas perubahan harga terhadap permintaan rokok lebih inelastis bagi perokok pemula atau perokok yang berusia lebih muda, yaitu usia dibawah 30 tahun [Lewit et al. (1981), serta Lewit dan Coate (1982)]. Dikaitkan dengan jenis kelamin dari perokok, ada variasi temuan. Di Inggris, perokok pria kurang sensitif terhadap perubahan harga dibanding perokok wanita (Foster dan Jones, 2001), namun di Spanyol berlaku sebaliknya, perokok wanita lebih sensitif terhadap perubahan harga dibanding perokok pria (Lopes, 2001).
Studi lain yang berfokus pada perokok remaja usia belasan tahun, diantaranya dilakukan oleh Chaloupka dan Grossman (1996), Chaloupka et al. (1997), Chaloupka dan Wechsler (1997), dan Chaloupka dan Pacula (1998). Dalam Chaloupka dan Grossman (1996) dilaporkan bahwa elastisitas prevalensi merokok terhadap perubahan kebijakan pemerintah dalam bentuk sin tax di Amerika Serikat sebesar -0,675. Elastisitas permintaan rokok kondisional pada perubahan harga sebesar -0,638; sementara unconditional elastisitas dilaporkan sebesar -1,313. Chaloupka et al. (1997) melaporkan elastisitas negatif pada permintaan rokok dan produk tembakau diantara perokok pria. Chaloupka dan Pacula (1998) melaporkan perbedaan elastisitas permintaan
periode 1929-1973 melaporkan level elastisitas yang berbeda pada permintaan rokok karena perbedaan kebijakan harga. Kebijakan penurunan harga rokok berdampak lebih inelastis pada permintaan rokok dibanding kebijakan menaikkan harga rokok. Elastisitas perubahan permintaan karena penurunan harga sebesar -0,61, sedangkan perubahan permintaan karena peningkatan harga sebesar -0,30. Temuan serupa juga dilaporkan untuk kasus di Finlandia (Pekurinen, 1989).
Studi-studi yang berkaitan dengan hipotesis rational addiction, banyak dikaji oleh Becker dan Murphy (1988) dan Chaloupka (1988, 1990, 1991, dan 1992). Studi-studi ini secara umum melaporkan bahwa:
1) Perilaku merokok di sejumlah negara, khususnya di Amerika Serikat terbukti mengikuti perilaku kecanduan (addictive) dan model perilaku rational addiction. Jumlah konsumsi di periode sebelumnya berpengaruh pada level konsumsi saat ini, Chaloupka (1991)dan prediki konsumsi di masa yang akan datang berdasarkan Tabel 1. Ringkasan Studi Empiris tentang Konsumsi Rokok di beberapa Negara
Peneliti Konsumsi Adiktif yang Diteliti Negara dan Kriteria Studi Perubahan Pendapatan/ HargaElastisitas Konsumi karena
Lewit et al. (1981) Rokok Amerika Serikat i) perubahan harga (-0,46)
ii) perubahan pendapatan (-0,26)
Lewit dan Coato (1982) Rokok Amerika Serikat
Perokok usia 12-17 20-25
i) Perubahan harga (-1,20) ii) Perubahan harga
- Wanita (-0,74) - Pria (-0,20)
Baltagi dan Levin (1986) Rokok Amerika Serikat Perubahan harga (-0,4)
Baltagi dan Goel (1987) Rokok Amerika Serikat Elastisitas perubahan harga antara (-0,17 s/d -0,56)
Wasserman et al. (1991) Rokok Amerika Serikat Elastisitas perubahan harga
i) 1970 (-0,28)
ii) 1970 – 1985 (-0,06 s/d -0,23)
Haris (1994) Rokok Amerika Serikat
(1964-1993) i) Perubahan harga (-0,47)ii) Perubahan pendapatan (-0,238)
Keller et al. (1996) Rokok Amerika Serikat Perubahan harga (-0,4)
Chaloupka dan Wochsler
(1996) Perokok pemula Amerika Serikat i) Perubahan pendapatan (-0,53)ii) Perubahan harga (-1,11)
Farrelly dan Bray (1998) Rokok Amerika Serikat
Perokok usia 18-24
Usai 18 keatas
Elastisitas perubahan harga -0,58
-0,25
Hsich et al. (1999) Rokok Amerika Serikat Elastisitas perubahan harga
Domestik (-0,58) Import ( -0,25)
Lopez (2001) Mantan perokok
Perokok pemula
Spanyol Wanita (-1,5)
Pria (-1,3)
Wanita dan Pria (0,07)
Forster dan Jones (2001) Mantan Perokok Inggris Wanita (-0,46)
Pria (-0,60)
Sumber: Dirangkum dari Pla dan Jones (2003)
rokok berdasarkan karakteristi gender dan ras di Amerika Serikat. Berdasarkan karakteristik gender, perokok pria lebih sensitif terhadap perubahan harga dibanding perokok wanita. Dalam katagori ras, perokok pemula ras kulit hitam dilaporkan lebih sensitif terhadap perubahan harga dibanding perokok pemula dengan ras kulit putih.
Sejumlah studi yang berfokus pada model myopic melaporkan stylish facts berikut. Di level data agregat Amerika Serikat, ditemukan bukti empiris perilaku kecanduan pada konsumsi rokok dan minuman ber-alkohol. Jumlah konsumsi periode sebelumnya secara positif dan signifikan mempengaruhi jumlah konsumsi pada tahun ke-t [Houthaker dan Taylor (1996, 1970)]. Selanjutnya, beberapa studi lain melaporkan adanya asimetris respon konsumsi terhadap perubahan harga, yang diduga berkaitan dengan level kecanduan. Menggunakan data Inggris di level agregat, selama periode 1870 – 1938, Farrel (1952) melaporkan adanya bukti empiris perilaku kecanduan merokok pada remaja Inggris. Di sisi lain, Young (1983) menggunakan data di negara Amerika