• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian yang berjudul “Analisis Eksternal Wacana Pada Iklan Kosmetik di

Televisi” oleh Elis Kristianti tahun 2010 Universitas Muhammadiyah

Purwokerto.

Penelitian tersebut membahas tentang analisis Eksternal wacana pada iklan kosmetik di televisi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang unsur Eksternal wacana pada iklan kosmetik ditelevisi berdasarkan implikatur, presuposisi, referensi, inferensi, konteks wacana. Data yang digunakan yaitu tuturan pada iklan kosmetik yang muncul ditelevisi yang mengandung unsur eksternal wacana. Sumber datanya diperoleh dari enam stasiun televisi. Tahap penyediaan data penelitian tersebut menggunakan metode simak. Dalam prakteknya penyimakan atau metode simak itu diwujudkan dengan penyadapan penelitian. Kegiatan menyadap biasa disebut teknik sadap. Adapun teknik lanjutannya yaitu Teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), teknik rekam dan teknik catat. Dalam tahap analisis data menggunakan metode padan. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik padan referensial dan teknik padan pragmatik. Dalam tahap penyajian hasil analisis data menggunakan penyediaan data dalam wujud laporan tertulis.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada jenis penelitiannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Perbedaan penelitian Elis Kristianti dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada teori, data dan sumber data yang digunakan. Teori yang digunakan Elis Kristianti adalah unsur eksternal wacana yang meliputi

(2)

9

implikatur, presuposisi, referensi, inferensi, konteks wacana, sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah salah satu unsur eksternal wacana yaitu praanggapan. Data Elis Kristianti adalah tuturan pada iklan kosmetik, sedangkan data yang digunakan peneliti adalah tuturan iklan sabun. Kemudian, sumber data yang digunakan Elis Kristianti adalah enam stasiun televisi Indonesia milik swasta (RCTI, SCTV, Indosiar, Trans 7, Global, dan Trans TV), sedangkan sumber data peneliti adalah enam stasiun televisi (SCTV, RCTI, Indosiar, Trans 7 dan Mnc TV).

2. Penelitian yang berjudul “Kajian Praanggapan Iklan Makanan pada Enam

Stasiun Televisi” oleh Setia Cristiana tahun 2012 Universitas

Muhammadiyah Purwokerto.

Penelitian Setia Cristiana bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan macam-macam praanggapan yang terdapat dalam iklan makanan pada enam stasiun televisi tersebut. Sumber data yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah tuturan-tuturan iklan makanan pada enam stasiun televisi yaitu RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, ANTV dan Trans 7. Tahap penyediaan data, penelitian tersebut menggunakan metode simak. Peneliti kemudian menyidap dengan menggunakan alat secara terang-terangan. Dalam teknik sadap ini diikuti dengan teknik lanjutan berupa teknik Bebas Libat Cakap (SBLC), teknik rekam dan teknik catat. Untuk tahap analisis data menggunakan metode padan pragmatis. Teknik dasar yang digunakan yaitu teknik pilah unsur penentu yaitu memilah data yang akan dianalisis atau yang menjadi penentu dalam penelitian. Teknik lanjutan dari teknik Pilah Unsur Penentu menggunakan teknik Hubung Bidang Menyamakan (HBS) yaitu mengolah data dengan teori yang digunakan. Teknik lanjutan dari teknik Pilah Unsur Penentu menggunakan teknik Hubung Banding Menyamakan (HBM) yaitu mengolah data

(3)

10

dengan teori yang digunakan. Tahap penyimpulan hasil ialah melakukan penyimpulan keseluruhan hasil analisis yang telah dikerjakan.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada jenis penelitian dan teori nya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan teorinya adalah praanggapan. Perbedaan penelitian Setia Cristiana dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada data dan sumber data yang digunakan. Data Setia Cristiana adalah tuturan pada iklan makanan, sedangkan data yang digunakan peneliti adalah tuturan iklan sabun. Kemudian, sumber data yang digunakan Setia Cristiana adalah enam stasiun televisi Indonesia milik swasta (RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, ANTV dan Trans 7), sedangkan sumber data peneliti adalah enam stasiun televisi (SCTV, RCTI, Indosiar, Trans 7 dan Mnc TV).

3. Penelitian yang berjudul “Kajian Praanggapan pada Tokoh Utama dalam

Film Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal oleh Ervina Khoewati tahun

2013 Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Penelitian yang dilakukan oleh Ervina Khoewati bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan macam-macam praanggapan yang terdapat dalam film “Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal. Data dalam penelitian berupa tuturan-tuturan tokoh utama dalam film “Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal yang mengandung praanggapan. Sumber data yang digunakan adalah bersumber dari film “Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal. Dalam penyediaan data, penelitian tersebut menggunakan metode simak. Pada penelitian tersebut teknik yang digunakan adalah teknik simak dan teknik lanjutan yang berupa teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Dalam analisis data menggunakan metode padan pragmatis. Teknik

(4)

11

dasarnya yaitu teknik Pilih Unsur Penentu (PUP). Langkah selanjutnya adalah menggunakan teknik Hubung Banding Menyamakan (HBS) yaitu mengolah data dengan teori yang digunakan. Sedangkan tahap penyimpulan hasil analisis yang terdapat dalam tuturan-tuturan tokoh utama pada film Habibi dan Ainun karya Faozan Rizal yang telah diselesaikan.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada jenis penelitian dan teori nya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan teorinya adalah praanggapan. Perbedaan penelitian Ervina Khoewati dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada data dan sumber data yang digunakan. Data Ervina Khoewati adalah tuturan-tuturan tokoh utama dalam film “Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal, sedangkan data yang digunakan peneliti adalah tuturan iklan sabun. Kemudian, sumber data yang digunakan Ervina Khoewati adalah film “Habibi dan Ainun” karya Faozan Rizal, sedangkan sumber data peneliti adalah enam stasiun televisi (SCTV, RCTI, Indosiar, Trans 7 dan Mnc TV).

B. Pragmatik

1. Pengertian Pragmatik

Kasher (dalam Putrayasa, 2014:1) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana bahasa tersebut diintegrasikan ke dalam konteks. Sedangkan menurut Depdiknas (2008:1209) menyatakan bahwa pragmatik yaitu berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi atau tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Menurut Yule (2014 : 3) membagi definisi pragmatik ke dalam empat ruang lingkup. Yang

(5)

12

pertama, pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Yang kedua, Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Yang ketiga, pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan. Yang keempat, pragmatik adalah studi tentang ungkapan dari jarak hubungan.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan salah satu cabang dalam ilmu bahasa tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar dalam berkomunikasi. Pada asumsi tentang tentang seberapa dekat atau jauh jarak pendengar, penutur menentukan seberapa banyak kebutuhan yang dututurkan. Makna bahasa tersebut dapat dimengerti bila diketahui konteks nya. Batasan-batasan pragmatik adalah aturan-aturan pemakaian bahasa mengenai bentuk dan makna yang dikaitkan dengan maksud pembicara, konteks dan keadaan. Konteks tersebut yakni uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan tentang makna.

2. Bentuk-bentuk Pragmatik

Menurut Cummings (2011:111) Pragmatik mempunyai bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan situasi dan konteksnya dalam kalimat. Situasi tertentu akan menimbulkan penggunaan bahasa yang berbeda dengan situasi yang lain. Demikian pula konteks tertentu akan menyebabkan penggunaan bahasa yang berbeda-beda. Bentuk-bentuk pragmatik terbagi menjadi enam yaitu tindak tutur, implikatur, rujukan atau referensi, prinsip kerja sama, prinsip kesopanan, dan praanggapan. Sedangkan Dari berbagai macam bentuk pragmatik, penulis hanya mengkaji tentang praanggapan.

(6)

13

C. Praanggapan

1. Pengertian Praanggapan

Menurut Chaer (2010:32) praanggapan atau presuposisi adalah pengetahuan bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatar belakangi suatu tindak tutur. Menurut Nababan menyatakan bahwa praanggapan berasal dari perdebatan dalam ilmu filsafah, khususnya tentang hakekat rujukan (apa-apa, benda/keadaan dan sebagainya) yang dirujuk oleh kata, frasa atau kalimat dan ungkapan-ungkapan rujukan (dalam Lubis, 1993:59). Praanggapan menurut Nababan (dalam Mulyana, 2005:14) istilah presuposisi adalah tuturan dari bahasa inggris presupposition yang berarti perkiraan, prasangkaan. Sebuah tuturan dapat dikatakan mempraanggapkan tuturan yang lain apabila ketidak benaran tuturan yang dipresuposisikan mengakibatkan kebenaran atau ketidakbenaran tuturan mempresuposisikan tidak dapat dikatakan (Rahardi, 2005:42). Menurut Yule (2014:43) berpendapat bahwa presuposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur, bukan kalimat.

Sebuah kalimat dapat mempresuposisikan dan mengimplikasikan kalimat yang lain. Sebuah kalimat dikatakan mempresuposisikan kalimat yang lain ketidakbenaran kalimatyang kedua (yang dipresuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah (Wijana. 1996:37). Praanggapan itu sebenarnya diketahui benar tidaknya dengan ungkapan kebahasaan khususnya dengan ketetapan dalam peniadaan (constancy under negation) tetap kebenarannya walaupun kalimatnya ditiadakan. Dari beberapa pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa praanggapan adalah pengetahuan atau asumsi yang telah dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatar belakangi suatu tuturan.

(7)

14

Contoh praanggapan dalam kalimat “Kuliah analisis wacana diberikan di semester V”. Dari kalimat tersebut maka dapat ditarik praanggapan bahwa ada kuliah analisis wacana, dan ada semester V. Andaikata kalimat ini kita negatifkan maka akan berbunyi “Kuliah analisis wacana tidak diberikan disemester V”. Walaupun kalimat tersebut dinegatifkan maka praanggapannya tetap sama yaitu ada kuliah analisis wacana da nada semester V (Nababan dalam Lubis, 1993 : 60).

Dalam koteks dialog, Stalnager mengatakan bahwa praanggapan adalah “pengetahuan bersama” antara pembicara dan pendengar. Sumber praanggapan adalah pembicara. Artinya perkiraan pengetahuan tentang sesuatu dimulai oleh pembaca ketika pembicara tersebut mengutarakan suatu tuturan. Hal itu bisa terjadi karena pembicara memperkirakan orang yang diajak bicara sudah mengetahui hal yang akan diucapkan.

Contoh :

A : “Anakmu yang bungsu sudah kelas berapa ?” B : “Baru kelas dua SD”

Dalam pertuturan itu ada pengetahuan bersama yang dimiliki A dan B bahwa B memiliki anak lebih seorang maka A tidak perlu bertanya kepada si B, anak B ada berapa ?. Karena tanpa bertanya pembicara sudah beranggapan (memperkirakan) bahwa orang yang diajak bicara sudah mengetahui hal dan maksudnya. Juga ada pengetahuan bersama bahwa ana- anak B sudah bersekolah. Tanpa pengetahuan itu, tentu A tidak dapat mengejukan pertanyaan seperti itu, dan B tidak dapat menjawab seperti itu juga. Dari contoh tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin akrab hubungan antara pembicara dengan pasangan bicaranya, maka akan semakin banyak kedua pihak berbagi pengalaman dan pengetahuan, dan semakin banyak pula praanggapan antara mereka yang tidak perlu diutarakan secara verbal. Oleh karena itu

(8)

15

penggunaan praanggapan hanya ditunjukkan kepada pendengar yang menurut pembicara, memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki oleh pembicara.

Dari beberapa pendapat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa presupposition yang dalam bahasa Indonesia berarti praanggapan dimaknai berbeda dari setiap ahli bahasa, tetapi para ahli menampilkan kesamaan sudut pandang. Penulis dapat menyimpulkan bahwa praanggapan adalah anggapan dasar (awal) pembicara secara tersirat sebagai respon awal pendengar. Praanggapan juga dapat diartikan sebgai sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Pemahaman praanggapan melibatkan dua partisipan utama, yaitu dua penutur yang membuat suatu pernyataan atau tuturan dan lawan tutur. Praanggapan belum tentu benar jika belum dikaitkan dengan partisipan, konteks situasi, dan pengetahuan bersama.

2. Bentuk-bentuk Praanggapan

Cummings, dkk (2011:120) menyatakan praanggapan dibagi menjadi dua jenis, yaitu praanggapan semantik dan praanggapan pragmatik. Praanggapan semantik adalah praanggapan yang dapat ditarik dari pernyataan atau kalimat melalui leksikon atau kosa katanya, sedangkan praanggapan pragmatik adalah praanggapan yag ditarik berdasarkan atas konteks ketika suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan.

a. Praanggapan Semantik

Menurut Cummings, dkk (2011:120) praanggapan semantik adalah yang ditarik dari pernyataan atau kalimat melalui leksikon atau kosa katanya. Contoh praanggapan semantik yaitu:

(9)

16

Contoh 1

Seseorang mengatakan sebagai berikut : (1) Ade tidak jadi pergi.

(2) Sepeda motornya mogok.

Dari kata-kata yang ada dalam pernyataan itu dapat kita tarik praanggapan bahwa ade mempunyai sepeda motor. Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikutnya.

Contoh 2

Dodo telah berhenti merokok.

Dari kata-kata yang dipakai dalam pernyataan itu terkandung dua praanggapan, praanggapan yang pertama yaitu bahwa Dodo selama ini biasa merokok, sedangkan praanggapan yang kedua yaitu bahwa saat ini Dodo tidak merokok lagi.

b. Praanggapan Pragmatik

Praanggapan pragmatik adalah praanggapan yang ditarik berdasarkan atas konteks ketika suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan. Contoh praanggapan pragmatik yaitu pada percakapan sebagai berikut

Pada suatu waktu datang seorang tamu laki-laki kerumah Tono. Tono adalah seorang direktur suatu perusahaan. Tono pun mempersilahkan tamu itu untuk masuk dan duduk diruang tamu. Tamu itu ternyata teman Tono ketika sekolah di SMA. Dia bernama Santo yang sampai saat ini belum bekerja. Sambil duduk Santo mengatakan:

Santo : “Aku merasa capai sekali karena berjalan kaki terlalu jauh. Tidak ada kendaraan”.

Tono : (Segera ke belakang mengambil air minum dan ia mempersilahkan Santo meneguknya). “Silahkan minum Santo”.

(10)

17

Dari percakapan diatas dapat diketahui bahwa ketika Santo bercerita tentang proses sampainya kerumah Tono, Tono berpraanggapan bahwa ada sesuatu yang diminta oleh Santo dan Santo ingin minum. Selain itu berdasarkan percakapan diatas dapat diketahui praanggapan semantik kalimat tau ialah “Santo merasa capai” dan kalimat “tidak ada kendaraan di jalan”. Dalam hal ini tampak perbedaan antara praanggapan semantik dan praanggapan pragmatik.

3. Jenis-jenis Praanggapan

Praanggapan sudah diasosiasikan dengan pemakai sejumlah besar kata, frasa dan struktur. Menurut Yule (dalam Putrayasa, 2014:79) mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 (enam) jenis praanggapan. Enam jenis praanggapan tersebut adalah praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan leksikal, praanggapan non-faktif, praanggapan struktural, praanggapan konterfaktual. Keenam jenis praanggapan tersebut akan dijelaskan secara detail sebagai berikut:

a. Praanggapan Eksistensial

Menurut Yule (dalam Putrayasa, 2014:80) praanggapan ekstensial adalah praanggapan yang menunjukkan ekstensi, keberadaan dan jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definitif. Praanggapan mengasosiasikan adanya suatu keberadaan. Penyebab praanggapan ini tidak hanya di asumsikan terdapat dalam susunan posesif tetapi juga lebih umum pada frasa nomina tertentu. Penggunaan ungkapan apa pun, penuturan diasumsikan terlibat dalam keberadaan entitas-entitas yang disebutkan. Contoh:

(11)

18

Perempuan itu melangkah.

Praanggapan dalam tuturan diatas menyatakan keberadaan: (1) ada perempuan, (2)ada perempuan melangkah.kedua praanggapan tersebut menunjukkan keberadaan atau eksistensial.

b. Praanggapan Faktif

Menurut Yule (dalam Putrayasa, 2014:80) praanggapan faktif adalah praanggapan ketika informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan. Sejumlah kata kerja seperti: tahu, menyadari, menyesal, sadar, mengherankan, dan gembira memiliki praanggapan faktif. Contoh:

Dia tidak menyadari bahwa dia demam.

Praanggapan dalam tuturan diatas adalah (1) dia demam. Penggunaan kata menyadari dalam kalimat tersebut adalah kata yang menyatakan sesuatu yang dinyatakan sebagai sebuah fakta dalam tuturan.

Berbeda dengan contoh kalimat sebelumnya, contoh praanggapan faktif lain juga ditandai dengan adanya penggunaan kata mengakui. Berikut contoh tuturan:

Kami bersedih telah mengakui kebenaran tersebut

Praanggapan dalam tuturan diatas adalah (1) kami mengakui kebenaran tersebut. Penggunaan kata tahu, menyadari, menyesal, sadar, mengherankan, dan gembira adalah kata yang menyatakan sesuatu yang dinyatakan sebagai sebuah fakta dalam tuturan. Walaupun dalam tuturan tidak terdapat kata-kata tersebut, kefaktualan suatu tuturan yang muncul praanggapan dapat diketahui melalui partisipan tutur, konteks situasi dan pengetahuan bersama.

(12)

19

c. Praanggapan Leksikal

Menurut Yule (dalam Putrayasa, 2014:80) praanggapan leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan ketika makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lainnya (yang tidak dinyatakan) dipahami. Merupakan praanggapan yang dalam pemakaian suatu bentuk dengan makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. Didalam kasus praanggapan leksikal, pemakaian ungkapan khusus oleh penutur diambil untuk mempraanggapkan sebuah konsep lain (tidak dinyatakan), sedangkan pada kasus praanggapan faktif, pemakaian ungkapan khusus diambil untuk mempraanggapkan kebenaran informasi yang disampaikan oleh penutur. Contoh:

Dia berhenti minum minuman beralkohol.

Praanggapan pada tuturan diatas adalah (1) dulu dia minum-minuman beralkohol. Praanggapan tersebut muncul dengan adanya kata „berhenti‟ yang menyatakan ia pernah minum-minuman sebelumnya, namun sekarang berhenti.

d. Praanggapan Non-Faktif

Praanggapan non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Kata-kata kerja seperti “bermimpi”, “membayangkan”, “berpura-pura”, dan lainnya. Praanggapan non-faktif ini digunakan dengan praanggapan yang mengikutinya tidak benar. Contoh:

Saya berandai-andai kalau saya menikah dengan Rima.

Praanggapan pada tuturan diatas adalah (1) saya tidak menikah dengan rima. Praanggapan berandai-andai sebagai pengandaian dapat memunculkan praanggapan

(13)

20

non-faktif. Selain itu, praanggapan yang tidak faktif dapat diasumsikan melalui tuturan yang kebenarannya masih diragukan dengan fakta yang disampaikan.

Sama halnya dengan contoh sebelumnya, contoh ini juga menimbulkan praanggapan non-faktif. tuturannya sebagai berikut:

Kalaulah saya punya banyak perusahaan

Praanggapan pada tuturan diatas adalah (1) saya tidak punya banyak perusahaan. Praanggapan kalaulah sebagai pengandaian dapat memunculkan praanggapan non-faktif. Selain itu, praanggapan yang tidak faktif dapat diasumsikan melalui tuturan yang kebenarannya masih diragukan dengan fakta yang disampaikan.

e. Praanggapan Struktural

Praanggapan struktural mengacu pada struktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat Tanya, secara konvensional diinterprestasikan dengan kata Tanya (kapan dan dimana) sudah diketahui sebagai masalah. Dalam hal ini struktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian dari struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Penutur diasumsikan dapat menggunakan struktur-struktur yang sedemikian untuk memperlakukan informasi seperti yang diprasangkakan (karena dianggap benar) dan dari sini kebenarannya diterima oleh penutur. Tipe praanggapan structural ini dapat menuntun penutur untuk mempercayai bahwa informasi yang disajikan pasti benar, bukan sekedar praanggapan seseorang yang sedang bertanya. Pada contoh berikut digambarkan penyebab praanggapan structural yang pertanyaan tersebut bisa memperkirakan jawaban dan bisa diterima kebenarannya.

(14)

21

Contoh :

1. Bagaimana kamu tahu saya memiliki gaji besar? 2. Kamu tahu saya memiliki gaji besar.

a) Kapan dia sadar dirinya miskin? b) Dia sadar dirinya miskin.

f. Praanggapan Konterfaktual

Praanggaan konterfaktual berarti bahwa yang dipraanggapan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan. Contoh :

Seandainya ibu kota Jawa Barat ada di Sumedang .

Dari tuturan diatas, praanggapan yang muncul adalah (1) ibu kota Jawa Barat bukan di Sumedang. Praanggapan tersebut muncul dari kontradiksi kalimat dengan adanya penggunaan kata „seandainya‟. Penggunaan kata tersebut membuat praanggapan yang kontradiktif dari tuturan yang disampaikan.

Berbeda dengan contoh kalimat sebelumnya, contoh praanggapan konterfaktual lain juga ditandai dengan adanya penggunaan kata kalau. Berikut contoh tuturan:

Kalau saja lelaki dapat hamil, mungkin lelaki dapat mengetahui sakitnya. Dari tuturan diatas, praanggapan yang muncul adalah (1) lelaki tidak dapat hamil dan tidak dapat mungkin mengetahui sakitnya. Praanggapan tersebut muncul dari kontradiksi kalimat dengan adanya penggunaan kata „seandainya‟. Penggunaan kata tersebut membuat praanggapan yang kontradiktif dari tuturan yang disampaikan.

4. Ciri-ciri Praanggapan

Menurut Yule (1996: 45) mengungkapkan bahwa ciri praanggapan yang paling mendasar adalah keajegan di bawah penyangkalan. Pada dasarnya keajegan dibawah

(15)

22

penyangkalan berarti bahwa presuposisi suatu pernyataan akan tetap ajeg (yakni : tetap benar) walaupun kalimat pernyataan itu dijadikan menyangkal (kalimat negatif). Seperti contoh berikut, mempertimbangkan situasi diamana anda tidak setuju.

1) Semua orang tahu bahwa John itu seorang gay. 2) Tidak semua orang tahu bahwa John itu seorang gay.

Kalimat b merupakan bentuk negative dari kalimat a. Praanggapan dalam kalimat a adalah john seorang gay dan semua orang mengetahui itu. Dalam kalimat b ternyata praanggapan tersebut tidak berubah meski kalimat b mengandung penyangkal terhadap kalimat a, yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa john adalah seorang gay.

D. Iklan

1. Pengertian Iklan

Menurut Depdiknas (2008:521) iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Klepper (dalam Mulyana, 2005:63) iklan disejajarkan dengan konsep adversiting. Kata adversiting berasal dari bahasa latin ad-vere yang berarti menyampaikan pikiran dan gagasan kepada pihak lain. Sementara Wright menambahkan bahwa iklan merupakan proses komunikasi yang mempunyai kekuatan penting sebagai sarana pemasaran, mmbantu layanan, serta gagasan dan ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang bersifat persuasif (Mulyana, 2005:63). Swasta (1999:24) mengatakan periklanan adalah komunikasi non-individu dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga non-laba, serta individu-individu. Pada dasarnya periklanan adalah bagian dari kehidupan industry modern, dan hanya bisa ditemukan di negara-negara maju atau negara-negara yang tengah mengalami perkembangan ekonomi secara pesat (Jefkins, 2007:2).

(16)

23

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan adalah proses komunikasi yang mempunyai kekuatan penting sebagai sarana pemasaran melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan. Tujuannya adalah untuk membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang atau jasa yang ditawarkan. Dengan adanya iklan, maka masyarakat akan mengetahui produk-produk baru. Produk-produk yang diiklankan tersebut dibuat semenarik mungkin karena agar masyarakat tidak hanya mengetahui produk tersebut tetapi juga tertarik untuk membeli atau menggunakan produk tersebut. Iklan hanya ditemukan dinegara-negara yang sudah maju atau negara modern.

2. Jenis Iklan

Menurut Jefkins (2007:39) secara garis besar, iklan dapat digolongkan menjadi enam kategori pokok, yaitu iklan konsumen, iklan antarbisnis, iklan perdagangan, iklan eceran, iklan keuangan dan iklan rekruitmen. Iklan konsumen merupakan iklan yang sengaja disuguhkan untuk masyarakat bersama jasa konsumen, semua macam barang diiklankan lewat media sesuai lapisan social tertentu yang hendak dibidik. Dipasar terdapat banyak jenis barang konsumen. Yakni barang yang penjualannya bisa berulang-ulang (merupakan kebutuhan sehari-hari) seperti makanan, minuman, bahkan konveksi dan alat-alat pembersih.

Iklan antarbisnis merupakan iklan yang mempromosikan barang-barang dan jasa non-konsumen. Artinya, baik pemasangan maupun sasaran iklan sama-sama perusahaan. Produk yang diiklankan adalah barang antara yang harus diolah atau menjadi unsur produksi. Termasuk pengiklanan barang-barang mentah, komponen suku cadang dan asesoris-asesoris, fasilitas pabrik dan mesin, serta jasa-jasa seperti

(17)

24

asuransi, pasokan alat tulis kantor dn lain-lainnya. Sedangkan iklan perdagangan secara khusus ditunjukkan kepada kalangan distributor, perdagangan-perdagangan kulakan besar, para agen, eksportir/importer, dan para pedagang besar dan kecil. Barang-barang yang diiklankan itu adalah barang-barang untuk dijual kembali. Media untuk iklan perdagangan biasanya menggunakan pers perdagangan. Pos langsung dimanfaatkan, teristimewa iklan yang berisi banyak informasi seperti rencana-rencana kampanye iklan konsumen yang menyertakan tanggal dan waktu kapan dan dimana iklan tersebut akan dilangsungkan, baik pers atau diradio dan Tv.

Iklan eceran merupakan suatu bentuk penjualan dengan cara eceran (retailing) yaitu tanggapan langsung pemasaran atau kegiatan penjualan eceran tanpa iklan. Iklan eceran sering dilakukan untuk konsumsi secara langsung tanpa melalui distributor atau pedagang yang akan menjualnya kembali. Iklan eceran biasanya berupa barang atau produk kebutuhan sehari-hari. Produk-produk kebutuhan sehari-hari itu misalnya adalah gula pasir, minyak sayur, makanan ringan, minuman, sabun, shampoo, dan laim-lain. Sedangkan Iklan keuangan adalah iklan yang meliputi iklan-iklan untuk bank, jasa tabungan, asuransi dan investasi. Iklan keuangan disuguhkan untuk masyarakat dengan keperluan yang berbeda-beda yaitu berupa tawaran tabungan, atau pinjaman-pinjaman yang dikenakan jatuh tempo setiap periodenya. Iklan keuagan ini bertujuan untuk mencari nasabah agar nasabah menabung atau meminjam uang. Sekarang sudah banyak bank keliling atau sering disebut dengan bank harian. Bank harian adalah bank yang menarik setoran setiap hari dari rumah ke rumah nasabah.

Iklan rekruitmen merupakan iklan yang bertujuan merekrut calon pegawai (seperti anggota polisi, angkatan bersenjata, perusahaan swasta, dan badan-badan umum lainnya) dan bentuknya antara lain iklan kolom yang menjanjikan kerahasiaan

(18)

25

pelamar atau iklan sebaran biasa. Media-media lainnya seperti radio dan televisi juga sering dimanfaatkan untuk memuat iklan-iklan lowongan. Jenis iklan rekruitmen secara garis besar terdiri dari dua jenis yakni iklan yang diisi oleh para pencari kerja dengan menyatakan identitas atau kotak pos, dan iklan yang berasal dari lembaga, perusahaan biro-biro recruitment.

3. Iklan Televisi

Iklan televisi adalah iklan yang ditayangkan di media televisi. Melalui media ini pesan dapat disampaikan melalui audio, visual dan gerak. Televisi sudah merupakan barang umum yang mudah di jumpai dimana saja. Karena itu, potensinya sebagai wahana iklan sangat besar karena ia mampu menjangkau begitu banyak masyarakat atau calon konsumennya. Karena televisi merupakan sarana hiburan utama bagi keluarga, maka produk-produk yang diiklankan ditelevisi juga kebanyakan adalah barang-barang konsumen, baik yang dikonsumsi setiap hari maupun yang tahan lama. (Jefkins, 2007:108).

4. Iklan Sabun

Menurut Suharso (2005:175) iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Sedangkan pengertian sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa iklan sabun adalah berita tentang bahan yang digunakan untuk mencuci yang bertujuan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang yang ditawarkan. Sabun ada berbagai jenis. Jenis-jenis nya yaitu sabun yang digunakan untuk membersihkan badan atau mandi

(19)

26

(sabun cair dan sabun padat), sabun yang digunakan untuk mencuci pakaian (detergen), sabun yang digunakan untuk mencuci perabotan dapur dan sabun yang digunakan untuk membersihkan wajah.

E. Kerangka Berpikir

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok social untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Chaer 2012:32). Iklan merupakan suatu bentuk komunikasi yang bertujuan untuk menawarkan sebuah produk, iklan juga tidak terlepas dari penggunaan bahasa. Bisa dikatakan bahwa dari bahasalah letak keberhasilan sebuah iklan.

Kridalaksana (2008:198) menyatakan pragmatik adalah syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Levinson mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteks nya (Rahardi 2005:48). Konteks yang dimaksud tergramatisasi dan terkodifikasi sehingga tidak dapat dilepas dari struktur bahasanya. Pragmatik mempunyai beberapa bentuk, salah satu nya adalah praanggapan.

Terputusnya sebuah komunikasi terjadi karena kesalahan praanggapan yang dilakukan penutur kepada mitra tutur. Demikian halnya pada sebuah iklan. Tujuan iklan tersampaikan apabila praanggapan iklan tersebut diterima oleh pemirsa atau mitra tutur. Praanggapan menurut Nababan istilah presuposisi adalah tuturan dari bahasa inggris presupposition yang berarti perkiraan, prasangka (Mulyana 2005:14). Praanggapan menurut Kridalaksana (2008:198) adalah syarat yang diperlukan bagi benar tidaknya suatu kalimat.

(20)

27 A nal is is P raan ggap an I kl an S ab un p ad a En am S tas iu n Te le vi si E di si A pr il 2016 Pr agma ti k Ikl an Pe nge rt ia n Pr agma ti k Be nt uk -Be nt uk Pr agma ti k Be nt uk Pr aa ngga p an Je ni s-Je ni s Pr aa ngga p an Se ma n ti k Pr agma ti k Pe nge rt ia n Je ni s Ikl an Ikl an Te le vi si 1. K on sum en 2. A nt arbi sni s 3. P erda ga ng an 4. Ec era n 5. K eua ng an 6. Re krui tm en 1. Pra angg apa n e ks is te ns ia l 2. Pra ang ga pa n Fa kt if 3. Pra ang ga pa n Le ks ika l 4. Pra angg apa n non -fa kt if 5. Pra ang ga pa n St ru kt ur al 6. Pra ang ga pa n K on te rf akt ua l Pr aa ng ga p an Tut ura n ikl an sa bu n C ir i P ra ang ga p an

Referensi

Dokumen terkait

Unsur obyektif membujuk atau menggerakan orang agar menyerahkan, sebenarnya lebih tepat dipergunakan istilah menggerakkan dari pada istilah membujuk, untuk melepaskan

Atau dalam pengertian lain dapat juga disimpulkan bahwa komunikasi pemasaran merupakan sebuah kegiatan yang diusahakan dan ditempuh perusahaan dalam tujuan membujuk,

Iklan merupakan metode atau sarana untuk mempromosikan produk, layanan, atau brand kepada masyarakat luas yaitu audience dimana tujuannya adalah untuk

Pengertian dari jurnalisme sendiri ialah suatu proses menulis, meliput, dan menyebarkan informasi kepada khalayak secara aktual melalui media

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian promosi adalah suatu bentuk komunikasi kepada pelanggan yang bertujuan untuk menginformasikan,

Periklanan bersifat persuasif yang bertujuan membujuk konsumen untuk membeli produk. Baik melalui media cetak dan media elektronik seperti televisi. perpaduan antara

Tetapi dalam mempromosikan produk atau jasa itu tidak hanya selalu berbentuk iklan yang menjajakan dan membujuk masyarakat umum, jalan lain yang digunakan oleh

Berdasarkan pengertian yang sudah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu stimuli yang mendorong seseorang untuk menginginkan sesuatu sehingga