PROFILE OF STUDENTS CRITICAL THINKING SKILLS IN BOTANY
PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN BOTANI
Evrialiani Rosba1), Siti Zubaidah2), Susriyati Mahanal2), Sulisetijono2)
1
Program Studi Pendidikan Biologi, STKIP PGRI Sumatera Barat, Jl. Gunung Pangilun Padang 25111, Indonesia
2
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidkan Biologi, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang 6514, Indonesia
E-mail:[email protected]
ABSTRACT
This study aims to describe students' critical thinking skills in Botany lectures at IKIP Budi Utomo Malang. This study involved 51 students participating in the Botany course. This type of research is descriptive quantitative. The research instrument was a question of critical thinking skills in the form of an essay, amounting to 5 questions, the data obtained were analyzed descriptively. The results showed that students' critical thinking skills had different scores for each skill. Score 4 and score 3 have the least number of scores answered by students, namely 5.8%, while scores 1 and 2 have the highest number of scores answered by students, namely 84.3%. This indicates that students' critical thinking skills are still low, therefore it is necessary to empower critical thinking skills in planned and continuous learning in order to increase.
Keyword: critical thinking skills, botany learning, students college
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam perkuliahan Botani di IKIP Budi Utomo Malang. Penelitian ini melibatkan mahasiswa peserta mata kuliah Botani yang berjumlah 51 orang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrument penelitian berupa soal keterampilan berpikir kritis dalam bentuk essay yang berjumlah 5 soal, data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis mahasiswa memiliki skor nilai yang berbeda pada tiap keterampilannya. Skor 4 dan skor 3 memiliki jumlah nilai paling sedikit yang dijawab mahasiswa yaitu 5,8 %, sedangkan skor 1 dan 2 memiliki jumlah nilai paling banyak yang dijawab mahasiswa yaitu 84,3% dari 5 aspek yang dinilai. Hal ini menandakan keterampilan berpikir kritis mahasiswa masih rendah, untuk itu diperlukan memperdayakan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran secara terencana dan berkesinambungan agar terjadi peningkatan.
Kata kunci: keterampilan berpikir kritis, pembelajaran botani, mahasiswa
I. PENDAHULUAN
Keterampilan abad ke-21 membantu peserta didik untuk beradaptasi dengan perubahan baru. Perubahan yang lebih kompetitif di abad ke-21 mengharuskan perguruan tinggi dan universitas menjadi lebih berhati-hati dalam mempersiapkan lulusan mereka untuk memulai bidang pekerjaan dan memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu (Frydenberg & Andone, 2011). Dengan kata lain, hanya mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dapat menangani dan menyesuaikan diri dengan situasi baru dan berhasil di era teknologi ini (Ongardwanich, Kanjanawasee, & Tuipae, 2015; Pheeraphan, 2013). Salah satu keterampilan yang sesuai dengan framework abad 21 adalah keterampilan berpikir kritis (NEA, 2012).
Keterampilan berpikir kritis adalah proses disiplin intelektual yang secara aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang telah dikumpulkan (Snyder & Snyder, 2008), serta berpikir kritis diidentifikasi dengan evaluasi proses kognitif tingkat tinggi, kritik dan sintesis, yang harus dibedakan dari tuntutan ingatan kognitif tingkat rendah dan penerapan (Osborne, 2014). Kemampuan berpikir kritis meliputi: interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan self-regulation (Facione & Facione, 2001), yang dapat diekspresikan melalui lisan maupun tulisan (Hasnunidah, Susilo, Irawati & Sutomo, 2015).
Faktanya keterampilan berpikir kritis mahasiswa masih rendah, karena pembelajaran di perguruan tinggi masih belum mengimplikasi pada Pendidikan abad 21 yang menuntut mahasiswa untuk membangun pengetahuannya sendiri, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan pengetahuan serta mencari solusi sebagai hasil dari pemikiran mereka sendiri. Sumber-sumber beberapa penelitian yang menunjukkan keterampilan berpikir kritis yang rendah dilaporkan oleh Prajoko (2015); Jirana, Amin, Suarsini & Lukiati (2016); Bustami & Corebima (2017); Kirana & Kusairi (2019).
Kondisi tersebut ditemukan juga pada IKIP Budi Utomo Malang, berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara pada program studi pendidikan
biologi IKIP Budi Utomo Malang bulan September 2019 melalui angket dan didukung dengan hasil nilai ujian akhir mahasiswa semester genap Tahun Akademik 2018/2019 yang menempuh mata kuliah Botani bahwa keterampilan berpikir kritis mahasiswa masih rendah seperti menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan pengetahuan yang diperolehnya.
Rendahnya keterampilan berpikir kritis mahasiswa disebabkan dalam pembelajaran kurang mengembangkan aspek proses tapi cenderung bersifat teoritis dan hafalan, sedangkan pembelajaran yang meliputi menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi kurang terlatihkan yang merupakan bagian dari aspek berpikir kritis. Hal ini didukung oleh pendapat Ritonga (2013) bahwa pembelajaran hanya mengacu pada informasi yang diperoleh dari buku sumber, sehingga siswa hanya sekedar menghafal konsep. Padahal di era informasi sekarang ini, kemampuan berpikir kritis menjadi kemampuan yang sangat diperlukan agar dapat menghadapi perubahan keadaan atau tantangan-tantangan di dalam kehidupan yang selalu berkembang.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan pada kehidupan di abad 21. Sehingga diperlukan suatu studi untuk melihat: (1) bagaimanakah keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran Botani
II. METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang artinya mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis dan penguasaan konsep mahasiswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Biologi IKIP Budi Utomo Malang yang sedang mengambil Mata Kuliah Botani. Sampel penelitian berjumlah 51 orang yang dipilih secara acak. Instrumen dalam penelitian ini berupa soal tes essay yang terdiri dari 5 soal yang sudah di validasi.
Teknik pengumpulan data berdasarkan Skor yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran Botani. Rubrik penilaian keterampilan berpikir kritis menggunakan (Greenstein, 2012), penilaian keterampilan berpikir kritis yang terdiri atas 4 skor (1-4) sebagai acuan untuk memeriksa setiap item dengan kriteria (4 = sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup, 1 =
kurang). Rubrik penilaian ini mencakup komponen: 1) aplikasi, 2) evaluasi, 3) Menggunakan data untuk mengembangkan pandangan berpikir, 4) analisis, 5) sintesis. Skor pencapaian 1–4 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai, dikali dengan 100. Dengan demikian akan diperoleh skor atau nilai mahasiswa berdasarkan jawaban masing-masing. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis perhitungan statistik yang datanya berupa data kuantitatif.
III. HASIL
Data tentang hasil tes keterampilan berpikir kritis disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2.Sebaran Nilai Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa
Deskriptor Skor 4 Skor 3 Skor 2 Skor 1
n % n % n % n %
Aplikasi 0 0 3 5,8 24 47,1 24 47,1
Evaluasi 0 0 1 1,9 20 39,2 30 58,8
Menggunakan data untuk menggembangkan
pandangan berpikir 0 0 1 1,9 10 19,6 40 78,4
Analisis 0 0 0 0 9 17,6 42 82,3
Sintesis 0 0 0 0 8 15,7 43 84,3
Berdasarkan Tabel menunjukkan bahwa skor 4 memiliki jumlah mahasiswa terendah menjawab pertanyaan, sedangkan skor 1 memiliki jumlah mahasiswa tertinggi menjawab. Dari 5 deskriptor yang dinilai yaitu (aplikasi, evaluasi, menggunakan data untuk mengembangkan pandangan berpikir, analisis dan sintesis) skor 2 yang banyak diperoleh oleh mahasiswa. Hal ini menandakan bahwa keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran Botani masih rendah untuk deskriptor aplikasi, evaluasi, menggunakan data untuk mengembangkan keterampilan berpikir, analisis dan sintesis. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Jumlah Sebaran Nilai dan Persentase Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa
Berdasarkan Gambar 1. Persentase mahasiswa yang mendapat skor 1 lebih banyak, sedangkan persentase yang mendapatkan skor 4 tidak ada dan skor 3 hanya 5 orang mahasiswa dari 5 deskriptor penilaian yaitu aplikasi, evaluasi, menggunakan data untuk mengembangkan keterampilan berpikir, analisis dan sintesis. Lebih banyaknya mahasiswa yang mendapat skor 1 dan 2 dengan kriteria cukup menandakan masih rendahnya keterampilan berpikir krirtis mahasiswa.
IV. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpikir krirtis mahasiswa dalam pembelajaran Botani rendah. Hal ini dibuktikan lebih banyaknya mahasiswa yang mendapat nilai skor 1 dan skor 2 dalam menjawab pertanyaan. Rendahnya hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai hasil penelitian yang pernah dilaporkan oleh Dipalaya & Corebima (2016); Amin, Corebima, Zubaidah & Mahanal (2017); Wulandari, Amin, Zubaidah & Irawati (2017) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemampuan berpikir kritis adalah salah tujuan utama dalam pendidikan (Bart, 2010). Penelitian tentang berpikir kritis telah dilakukan oleh para ahli selama lebih dari 100 tahun. Tokoh berpikir kritis modern adalah John Dewey, beliau merupakan ahli filsuf, psikologis, dan pendidik di Amerika. John Dewey menyebut berpikir kritis sebagai berpikir reflektif (Fisher, 2011). Selain itu, Page
(2007) menyatakan bahwa berpikir kritis berhubungan dengan kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan analsis, evaluasi dan sintesis.
Memberdayakan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran sangat diperlukan karena berperan penting untuk: (1) mendukung kehidupan yang penuh tantangan dalam dunia global (Snyder & Snyder, 2008), (2) meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan keterampilan hidup siswa di abad 21 ( Dilapaya & Corebima, 2016), (3) mampu memecahkan masalah dan membuat keputusan dalam hidup (Wulandari, Amin, Zubaidah & Irawati, 2017), (4) mampu merancang pembelajaran dan menciptakan suasana belajar yang kondusif (Amin, Corebima, Zubaidah & Mahanal, 2017) dan (5) mampu mencermati, menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menentukan apakah informasi tersebut dapat diterima atau tidak.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan bahwa keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran Botani masih rendah yang didapatkan dari hasil analisis. Dengan demikian, perlu pengembangan kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran untuk lebih meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu matakuliah dan narasumber penelitian (mahasiswa biologi) yang telah bekerjasama dan membantu proses pengumpulan data dengan sangat baik
DAFTAR PUSTAKA
Amin, A. M., Corebima, A. D., Zubaidah, S., and Mahanal, S. 2017. The Critical Thinking Skills Profile of Preservice Biology Teachers in Animal Physiology. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 128, 177–183
Bart, W.M. 2010. The Measurement and Teaching of Critical Thinking Skill. University of Georgia.
Bustami, Y. and Corebima, A. D. 2017. The Effect of JiRQA Learning Strategy on Critical Thinking Skills of Multiethnic Students in Higher Education,
Indonesia. International Journal of Humanities Social Sciences and Education (IJHSSE), 4(3): 13–22.
Dipalaya, T and Corebima, A.D. 2016. The Effect of PDEODE (Predict Discuss Explain Observe Discuss Explain) Learning Strategy in the Different Academik Abilities on Students Critical Thinking Skills in Senior High School. European Journal of Education Studies, 2 (5): 59-78
Facione, N.C. and Facione, P. A. 2001. Analyzing Explanations for Seemingly Irrational Choices. International Journal of Applied Philosophy, 15(2), 267– 286
Fisher, A. 2009. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Terjemahan oleh Hadinata, B. Jakarta: Erlangga
Frydenberg, M. E & Andone, D. (2011). Learning for 21st Century Skills. IEEE’s International Conference on Information Society, London, 27–29 June 2011, 314–318.
Hasnunidah, N., Susilo, H., Irawati, M. H., and Sutomo, H. 2015. Argument– Driven Inquiry with Scaffolding as the Development Strategies of Argumentation and Critical Thinking Skills of Students in Lampung, Indonesia. American Journal of Educational Research, 3(9): 1185–1192. Jinara, Amin, M., Suarsin, E., Lukiati, B. 2016 Analisis Keterampilan Berpikir
Kritis Mahasiswa Pada Mata Kuliah Evolusi di Universitas Sulawesi Barat. Seminar Nasional Pendidikan Saintek (ISSN: 2557-533X)
Kirana. I. E & Kusairi . S (2019). Profil Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA dalam Kasus Grafik Kinematika Satu Dimensi. Jurnal Pendidikan. Vol.4 No.3 hal 363-368.
NEA. 2012. Preparing 21st Century Students for a Global Society: An Educator’s Guide to the “Four Cs”. National Education Association. Tersedia:
http://www.nea.org/assets/docs/A-Guide-to-Four-Cs.pdf
Osborne, J. 2014. Teaching critical thinking? New directions in science education. Perspectives on science curriculum Journal.
Ongardwanich, N., Kanjanawasee, S., & Tuipae, C. (2015). Development of 21 st Century Skill Scales as Perceived by Students. Procedia – Social and
Behavioral Sciences, 191, 737–741. https://
doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.04.716.
Prajoko, S. 2015. Profil Mahasiswa Universitas Terbuka Surakarta dan Pemahaman Tentang Keterampilan Berpikir Kritis. Jurnal Biology Science & Education Vol 4. No 1.
Pheeraphan, N. (2013). Enhancement of the 21 st Century Skills for Thai Higher Education by Integration of ICT in Classroom.Procedia – Social and
Behavioral Sciences, 103, 365–373.
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.10.346.
Ritonga, G.A. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran
Snyder L.G. and Snyder M.J. 2008. Teaching Critical Thinking and Problem Solving Skill. Delta Pi Epsilon Journal, 50 (2) 90-99
Wulandari, T.S.H., Amin, M., Zubaidah, S., and Irawati, M.H. 2017. Students Critical Thinking Improvement through PDEODE and STAD combination in the Nutrition and Health Lecture. International Journal of Evaluation and Reseacrh in Education (IJERE), 6 (2): 110-117