• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGEMBANGKAN SEKOLAH UNGGUL MELALUI KULTUR SEKOLAH KARYA TULIS ILMIAH. Disusun : USEP SUWANJAL NIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENGEMBANGKAN SEKOLAH UNGGUL MELALUI KULTUR SEKOLAH KARYA TULIS ILMIAH. Disusun : USEP SUWANJAL NIP"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

MENGEMBANGKAN SEKOLAH UNGGUL

MELALUI KULTUR SEKOLAH

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun :

USEP SUWANJAL

NIP. 198604192009021005

PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 MENGGALA

TAHUN PELAJARAN 2017

(2)

2 ABSTRAK

MENGEMBANGKAN SEKOLAH UNGGUL MELALUI BUDAYA SEKOLAH

Usep Suwanjal

SMK N 1 Menggala, Tulang Bawang Email: [email protected]

Pendidikan di era globalisasi dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin kompleks. Pendidikan bukan hanya kegiatan yang berlangsung di sekolah, namun juga berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Upaya peningkatan kualitas sekolah dalam pengembangan sekolah unggul salah satunya dengan kultur sekolah. Konsep mendasar ‘efektifitas = keberhasilan = unggul’ adalah apabila sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan spesifik yang ditetapkan. Penelitian-penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat. Membangun budaya sekolah agar suatu sekolah menjadi sekolah unggul ataupun sekolah efektif merupakan tantangan bagi pemangku kepentingan yang terkait. Semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang baik (good school/effective school).

Kata Kunci : Kultur sekolah, sekolah unggul/ sekolah efektif A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses pemanusiaan dan menyiapkan manusia untuk menghadapi tantangan hidup. Pendidikan di era globalisasi dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin kompleks. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan sosial yang ada, namun lebih dari itu, pendidikan juga dituntut untuk mampu mengantisipasi perubahan dalam menyiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupannya di masa yang akan datang.

Pendidikan bukan hanya kegiatan yang berlangsung di sekolah, namun juga berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Banyak pembenahan yang

(3)

3

harus dilakukan dalam hal peningkatan kualitas sekolah. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas sekolah misalnya, terdapat aspek pokok yang perlu diperhatikan, yaitu a: 1) proses belajar mengajar, 2) kepemimpinan sekolah, 3) manajemen sekolah, 4) sarana dan prasarana dan 5) kultur sekolah. Dari kelima aspek tersebut sudah banyak menjadi fokus perhatian berbagai pihak yang peduli pada peningkatan kualitas pendidikan. Namun faktor yang kelima, yaitu kultur sekolah, belum banyak diangkat sebagai salah satu faktor yang menentukan, termasuk dalam upaya peningkatan kualitas sekolah dalam pengembangan sekolah unggul.

B. Sekolah Unggul/ Sekolah Efektif

Multiple indicators of school effectiveness have potential benefits in the area of school transparency, self-improvement and accountability, oleh National

Education Association (NEA) Amerika (2013). Artinya Beberapa indikator efektivitas sekolah memiliki potensi manfaat di bidang transparansi sekolah, perbaikan diri dan akuntabilitas.

Tidak ada kesepakatan dalam mendefinisikan sekolah efektif. Konsep mendasar ‘efektifitas = keberhasilan = unggul’ adalah apabila sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan spesifik yang ditetapkan. Sekolah efektif adalah sekolah yang mengoranisir dan memanfaatkan seluruh sumber daya untuk menjamin semua siswa mempelajari kurikulum esensial tanpa memandang latar belakang siswa itu sendiri (Kholis, 2015). Berdasarkan uraian di atas maka, tugas penting sekolah tidak sekadar mendukung tercapainya prestasi akademik, selain itu juga menjaga agar semua siswa dapat berkembang. Berkembang dalam hal ini diartikan bagaimana semua siswa dapat jauh lebih baik dalam segala aspek pemikiran dan tingkah laku jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah.

National Education Association (NEA) Amerika (2013) memberikan pedoman untuk mengukur sekolah efektif dengan tiga dimensi dan indikatornya.

1. Dimensi input mencakup keuangan, personalia, fasilitas, peralatan, bahan, kebijakan dan peraturan, dan latar belakang siswa.

(4)

4

2. Dimensi process meliputi kurikulum dan pembelajaran, penerapan kebijakan, peluang pendidikan yang beragam, keterlibatan orang tua, dan kepempimpinan.

3. Dimensi outcome mencakup keberhasilan akademis, kelulusan, sikap, tinggal kelas dan dropout, keamanan sekolah, disiplin, dan rerata yang melanjutkan belajar.

Karakteristik sekolah efektif/ sekolah unggul (Sudrajat, 2017) 1. Kepemimpinan yang profesional (professional leadership) 2. Visi dan tujuan bersama (shared vision and goals)

3. Lingkungan belajar (a learning environment)

4. Konsentrasi pada belajar-mengajar (concentration on learning And teaching)

5. Harapan yang tinggi (high expectation)

6. Penguatan/pengayaan/pemantapan yang positif (positive Reinforcement) 7. Pemantauan kemajuan (monitoring progress)

8. Hak dan tanggung jawab peserta didik (pupil rights and Responsibility) 9. Pengajaran yang penuh makna (purposeful teaching)

10. Organisasi pembelajar (a learning organization)

11. Kemitraan keluarga-sekolah (home-school partnership).

C. Kultur Sekolah/ Budaya Sekolah

Sekolah merupakan merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sama halnya dengan keluarga dan institusi sosial lainnya yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai.

Kultur atau budaya adalah sesuatu kebiasaan atau pola perilaku normatif yang merupakan hasil olah pikir, olah rasa, dan cara bertindak (Widarto, 2004). Departemen Pendidikan Nasional tahun 2010 mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat

(5)

5

kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat. Menurut Efianingrum (2008) kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, yaitu :

1. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya)

2. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan

3. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi

4. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah

Setiap sekolah mempunyai kebudayaan yang unik dan berbeda dengan sekolah lain. Tata-tertib, kebiasaan-kebiasaan, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan. Beberapa contoh kultur sekolah antara lain budaya suka membaca, budaya bersih, budaya disipilin dan efisien, budaya kerjasama, budaya saling percaya, budaya saling memberi penghargaan dan teguran, budaya berprestasi dan masih banyak hal lainnya. Penelitian-penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa.

Segala sesuatu yang dihayati siswa tidak semata berasal dari isi kurikulum sekolah yang bersifat formal, melainkan juga berasal dari kebudayaan sekolah itu sendiri. Dalam melaksanakan kurikulum dan ekstrakurikuler berkembang sejumlah pola kelakuan yang khas bagi sekolah yang berbeda dengan kultur yang terdapat pada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Peran kultur sekolah dalam membentuk karakter peserta didik sangat besar, karena di dalam kultur sekolah terdapat lapisan artifak, nilai – nilai dan keyakinan serta asumsi dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat belajar dan menunjang perbaikan mutu sekolah (Pambudi, 2013)

D. Pengembangan Sekolah Unggul melalui Kultur Sekolah

Dijumpai lulusan sekolah maupun perguruan tinggi yang pandai dalam kemampuan intelegensi akademik namun memiliki karakter yang tidak sesuai dengan intelegensi yang dimiliki. Sebagai contoh cerdas tetapi mentalnya lemah,

(6)

6

penakut, dan perilakunya cenderung tidak terpuji, korupsi yang seakan telah mengakar dan menjadi budaya pada kehidupan bangsa ini mulai dari tingkat pejabat bawah hingga pejabat tinggi negara. Selain itu juga penyalahgunaan dan peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang yang semakin menggurita bahkan menyentuh segala kalangan masyarakat. Segala hal yang telah disebutkan diatas merupakan bukti nyata akan degradasi moral yang memang telah terjadi pada generasi bangsa ini.

Membangun budaya sekolah agar suatu sekolah menjadi sekolah unggul ataupun sekolah efektif merupakan tantangan bagi pemangku kepentingan yang terkait. Tolok ukur yang menjadi indikator prestasi sekolah yang selalu dikaitkan dengan nilai akhir pada penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Akibatnya segala daya yang dimiliki sekolah dikerahkan sedemikian rupa agar di sekolah-sekolah dapat mencapai nilai akhir lulus dan dengan hasil yang tinggi. Disisi lain masyarakat juga sangat menikmati kebijakan itu, sehingga jika seorang anak memiliki nilai akhir yang tinggi orangtua anak yang bersangkutan sangat bangga tanpa mempedulikan kerusakan aspek afektif pada diri anak.

Rumusan sekolah yang efektif dapat kita ikuti dari konsep Mortimore (dalam Suyanto, 2007), yaitu: “one in which students progress further than might

be expected from a consideration of intake”. Jadi nampak dari rumusan ini bahwa

tugas penting sekolah bukannya sekadar pencapaian nilai. Namun bagaimana semua siswa dapat jauh berkembang lebih baik dalam segala aspek pemikiran dan tingkah laku jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah. Pada sekolah yang efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast learners) yang dapat berkembang.

Menurut Efianingrum (2008) berikut beberapa kegiatan yang dilakukan sebagai upaya menghidupkan kultur sekolah yang kondusif bagi pendidikan nilai di sekolah :

1. Pemecahan masalah/Problem Solving

(7)

7

2. Reflective Thinking/Critical Thinking

Murid secara pribadi atau kelompok diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan atas suatu artikel, peristiwa, kasus, gambar, foto, dan lain-lain.

3. Dinamika kelompok (Group Dynamic)

Murid banyak dilibatkan dalam kerja kelompok secara kontinyu untuk mengerjakan suatu proyek kelompok.

4. Membangun suatu komunitas kecil (Community Building)

Murid satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan tatanan dan tugas-tugas yang mereka putuskan bersama secara demokratis.

5. Membangun sikap bertanggung jawab (Responsibility Building)

Murid diserahi tugas atau pekerjaan yang konkrit dan diminta untuk membuat laporan yang sejujur-jujurnya.

Menurut Tim Konsultan SMA (dalam Moerdiyanto, 2007), untuk meningkatkan efektivitas sekolah dapat dilakukan:

1. Komunikasi lebih terbuka,

Secara umum komunikasi di antara para pemegang peran diusahakan meningkat baikdari sebelumnya. Ada beberapa perbedaan tingkat keterbukaan dan cara pendekatan yang dikomunikasikan pada setiap sekolah.

2. Pengambilan keputusan bersama,

Secara umum para pemegang peran diupayakan mengalami lebih banyak tanggung jawab dalam pengambilan keputusan.

3. Memperhatikan kebutuhan guru,

Sekolah lebih memperhatikan kebutuhan guru, karena hal ini dapat memberikan berbagai tingkatan motivasi pada guru. Kebutuhan guru termasuk juga kesejahteraan pribadi, pengembangan profesional dan bantuan dalam pengajaran.

4. Memperhatikan kebutuhan siswa,

Sekolah yang memperhatikan kebutuhan siswa lebih diterima oleh siswa, orang tua dan masyarakat. Kebutuhan siswa termasuk pula peningkatan

(8)

8

pengajaran, memberikan waktu pengajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional, menambah kegiatan ekstra kurikuler, melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan mengenai masalah-masalah mereka, serta mengembangkan program pelatihan keterampilan (ekstra kurikuler) untuk mempersiapkan ke dunia kerja.

5. Mengusahakan adanya keterpaduan Sekolah dan Masyarakat

Sekolah mempunyai peran sosial penting dalam masyarakat. Yang termasuk masyarakat dalam konteks ini adalah orang tua siswa dan masyarakat setempat. Komite Sekolah adalah alat utama untuk saling bertemu bagi sekolah dan orang tua siswa.

Pendidikan berjalan dengan pemikiran kemasa depan dan sejatinya tidak akan pernah diam. Masa sekarang abad 21, sekolah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dari masa sebelumnya, terutama berkenaan dengan era teknologi, informasi dan komunikasi. Sekolah yang mampu beradaptasi dan bertahan pada era ini tentu bukan sekolah biasa. Sekolah macam ini merupakan sekolah yang benar-benar efektif dalam membawa lulusannya siap menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di masa datang. Hal tersebut dapat diperoleh melalui sentuhan di sekolah yang mampu menawarkan transfer of learning,

transfer of training, dan transfer of principles secara efektif. Jika demikian

halnya, konsekuensi yang harus diambil adalah membangun budaya sekolah yang efektif.

E. Kesimpulan

Pendidikan bukan hanya kegiatan yang berlangsung di sekolah, namun juga berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas sekolah salah satu aspek penting yang jarang menjadi faktor perbaikan yaitu kultur sekolah atau budaya sekolah. Padahal kaitannya dengan kultur sekolah termasuk salah upaya peningkatan kualitas sekolah guna mengembangkan sekolah unggul. Aspek-aspek klasik yang selalu menjadi bahan perbaikan masih saja berputar pada proses belajar mengajar, kepemimpinan sekolah, manajemen sekolah, sarana dan prasarana.

(9)

9

Departemen Pendidikan Nasional (2010) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat. Setiap sekolah mempunyai kebudayaan yang unik dan berbeda dengan sekolah lain. Peran kultur sekolah dalam membentuk karakter peserta didik sangat besar, karena di dalam kultur sekolah terdapat lapisan artifak, nilai – nilai dan keyakinan serta asumsi dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat belajar dan menunjang perbaikan mutu sekolah (Pambudi, 2013).

Menurut National Education Association (NEA) Amerika (2013) beberapa indikator efektivitas sekolah memiliki potensi manfaat di bidang transparansi sekolah, perbaikan diri dan akuntabilitas. Konsep mendasar ‘efektifitas = keberhasilan = unggul’ adalah apabila sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan spesifik yang ditetapkan.National Education Association (NEA) Amerika (2013) memberikan pedoman untuk mengukur sekolah efektif dengan tiga dimensi yaitu

input /masukan, process/ proses dan outcome/ timbal balik.

Rumusan sekolah yang efektif menurut konsep Mortimore (dalam Suyanto, 2007), yaitu: “one in which students progress further than might be

expected from a consideration of intake”, bahwa tugas penting sekolah bukannya

sekadar pencapaian nilai. Namun bagaimana semua siswa dapat jauh berkembang lebih baik dalam segala aspek pemikiran dan tingkah laku jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah. Pada sekolah yang efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast

learners) yang dapat berkembang.

Membangun budaya sekolah agar suatu sekolah menjadi sekolah unggul ataupun sekolah efektif merupakan tantangan bagi pemangku kepentingan yang terkait. Semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang baik (good school/effective

(10)
(11)

11 Daftar Pustaka

Efianingrum, Ariefa. 2007. Kultur Sekolah yang Kondusif bagi Pengembangan

Moral Siswa. Makalah Jurusan Filsafat Dan Sosiologi Pendidikan Fakultas

Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta

Kholis, N. 2015. Menuju Sekolah Efektif: Tantangan, Peluang, Dan Strategi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan TTI Showcase Meeting Sulawesi Selatan, Makassar, 12 Mei 2015.

Moerdiyanto, 2007. Manajemen Sekolah Indonesia Yang Efektif Melalui Penerapan Total Quality Management. IMEC 2007 Proceedings 22-24 June 2007. Bayview Beach Resort, Penang, Malaysia

National Education Association. (2013). Multiple indicators of school

effectiveness, from

http://www.nea.org/assets/docs/NEAPolicyBriefMultipleMeasures.pdf Pambudi, 2013. Studi Kasus Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur

Sekolah Di SMK Negeri 2 Depok Slema. Skripsi. Universitas Negeri

Yogyakarta

Sudrajat, A. 2017. Konsep Sekolah Unggul. Artikel. Diunduh pada https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/.../konsep-sekolah-ung.

Suyanto. 2007. Tantangan Profesional Guru di Era Global. Pidato Dies Natalis ke-43 UNY, 21 Mei 2007.

Widarto, 2004. Pelatihan Pengembangan Kultur Sekolah . Di Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM). Universitas Negeri Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai salah satu program pendidikan di lingkungan sekolah dihadapkan kepada tantangan untuk mempersiapkan manusia

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai salah satu program pendidikan di lingkungan sekolah dihadapkan kepada tantangan untuk mempersiapkan manusia

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan dengan pengambilan keputusan keluarga dalam memilih pelayanan kesehatan, mengetahui

meningkatnya pengetahuan ibu mengenai MPASI akan meningkatkan pula cara ibu dalam menyiapkan makanan yang bergizi untuk anaknya, meliputi kapan waktu yang tepat untuk

Hasil temuan penelitian ini menunjukan bahwa Untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada di bidang pendidikan era disrupsi di Indonesia, diperlukan peningkatan keterampilan serta

Jurnal Pendidikan Tambusai 8549 Mengenal Indentitas Nasional Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa untuk Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi Lulu Rahma Aulia1, Dinie Anggraeni

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui gambaran penerapan pendidikan kesehatan pola hidup sehat pada anggota keluarga dengan hipertensi di wilayah Puskesmas Tamansari

LATAR BELAKANG Didalam mengahadapi era globalisasi dan derasnya arus informasi, maka pendidikan sangat menempati posisi penting untuk menghadapi tantangan tersebut dengan menyadari