20 BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Seting dan karakteristik subjek Penelitian
3.1.1 Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V A SD Negeri Klidang Lor 01 Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.Jumlah siswa sebanyak 20 anak terdiri dari 10 anak laki-laki dan 10 anak perempuan.
Pengambilan subyek penelitian didasarkan dari hasil observasi awal yang dilakukan dikelas V A SD Negeri Klidang Lor 01 dimana proses belajar yang berlangsung didalam kelas belum optimal, ditandai dengan masih banyak siswa yang pasif dalam pembelajaran, proses pembelajaran masih didominasi oleh guru, dan prestasi belajar siswa relatif rendah
3.1.2 Waktu Penelitian.
Penelitian dilakukan selama 2 (dua) bulan, mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan tindakan yaitu bulan Juli dan Agustus 2013 dengan jadwal sebagai berikut:
a. Siklus I dilaksanakan pada hari, Rabu, 21 Agustus 2013
Kamis , 22 Agustus 2013 Sabtu, 24 Agustus 2013 b. Siklus II dilaksanakan pada hari,
Senin, 26 Agustus 2013 Rabu, 28 Agustus 2013 Kamis, 29 Agustus 2013
3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar IPA. Hasil belajar IPA adalah besarnya skor yang diperoleh siswa dari tes formatif IPA.
Sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah model quantum learning. Model quantum learning adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.
3.3 Prosedur Penelitian
1. PTK yang akan penulis dilakukan ada 2 siklus. Setiap siklus ada 3 x pertemuan yaitu : a. Siklus I
1. Pertemuan Pertama
Pada pertemuan yang pertama guru mengharapkan agar siswa dapat menyebutkan nama-nama organ pencernaan manusia dengan baik. Kegiatan yang dilakukan melalui diskusi kelompok siswa bisa menempelkan nama-nama organ pada gambar organ dengan teliti dan benar.
2. Pertemuan kedua
Pada pertemuan yang kedua siswa melakukan kegiatan mengurutkan gambar organ pencernaan makanan pada manusia Siswa dikelompokkan, masing – masing kelompok 4 siswa perwakilan kelompok maju ke depan kemudian, siswa tersebut diberi gambar alat-alat pencernaan makanan pada manusia. Dengan berdiskusi kelompok siswa mengurutkan gambar sesuai urutannya. Dengan kegiatan ini diharapkan siswa hafal dan paham akan susunan organ pencernaan pada manusia.
3. Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga siswa membentuk kelompok dan menyaksikan pemutaran film perjalanan makanan di dalam tubuh. Dan kemudian mendiskusikannya di dalam kelompok.
b. Siklus II 1. Pertemuan I
Pada pertemuan I guru melakukan kegiatan lanjutan yaitu dengan bermain peran. Dengan tujuan siswa akan lebih memahami nama organ, urutan organ dan fungsi organ pencernaan manusia sehingga bila diberi soal secara individu, siswa mampu mengerjakan. Pada pertemuan I kegiatan yang
dilakukan adalah setiap siswa diberi kartu gambar organ, kertu nama organ dan kartu fungsi organ. Kemudian guru mengajukan pertanyaan.
Contohnya :
a. Bagian alat pencernaan mana yang berfungsi untuk mencerna makanan ?
Maka segera siswa yang memegang gambar organ mulut mengangkat gambarnya dan siswa yang memegang kartu nama juga mengangkat kartunya.
b. Guru mengangkat gambar lambung dan bertanya apa fungsi organ pada gambar ini ?
Maka siswa yang memegang kartu fungsi organ lambung langsung mengangkat kartu fungsi.
Setelah selesai kegiatan di atas, secara individu siswa diminta membuat daftar nama, gambar dan fungsi alat pencernaan pada tabel. 2. Pertemuan II
Pada pertemuan pertama kegiatan belajar yang dilakukan dengan cara guru meminta 12 anak untuk maju, 6 anak memegang kartu fungsi pencernaan makanan dan 6 lagi memegang gambar pencernaan makanan siswa yang memegang kartu gambar pencernaan makanan mencari pasangan kartu fungsi yang sesuai dengan gambar. Setelah sesuai mereka diminta untuk menyebutkan identitasnya seperti contoh :
Nanda : “Saya kerongkongan”
Dina : “Fungsi saya menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung”
Kegiatan ini sampai dengan alat pencernaan terakhir yaitu anus. Dengan kegiatan ini diharapkan siswa memahami fungsi dari masing-masing organ pencernaan manusia.
3. Pertemuan III
Pada pertemuan ke dua siswa membentuk kelompok. Setiap kelompok diberi gambar organ pencernaan, kardus, lem, spidol. Setiap kelompok
membuat puzzle organ pencernaan. Setelah selesai hasil karya puzzlenya di tukar dengan kelompok lain. Secara berlomba siswa menempel puzzle. Yang terlebih dahulu selasai akan diberi bintang penghargaan.
2. Format Observasi
Tabel 3.1 format observasi siswa
No Nama
Kelompok
Kerjasama
Siswa Kreatifitas siswa Keaktifan Siswa 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
Ketentuan Skor = 1 : Tidak sama sekali 2 : Kurang 3 : Cukup baik 4 : Baik 5 : Sangat baik 3. Format Refleksi Nama Siswa : No. Absen :
1. Apakah kamu merasa senang ? (1,2,3,4,5)
2. Apakah kamu merasa bermanfaat ? (1,2,3,4,5)
3. Apakah kamu merasa bosan ? (1,2,3,4,5)
4. Apakah kamu merasa kegiatan ini perlu dilanjutkan ? (1,2,3,4,5) 5. Apakah kamu merasa kesulitan ? (1,2,3,4,5) Ketentuan Skor = 1 : Tidak sama sekali
2 : Kurang 3 : Cukup baik 4 : Baik 5 : Sangat baik
3.4 Data dan Cara Pengumpulannya
Dalam kegiatan PTK ini peneliti mengumpulkan data dengan tes, observasi, dokumentasi :
c. Tes
Tes yang digunakan dalam PTK ini adalah tes lisan dan tertulis. Tes tertulis dilakukan untuk melihat sejauh mana pengawasan konsep siswa. Tes disusun menggunakan tes isian dan uraian.
Berikut adalah kisi-kisi penulisan soal siklus I dan siklus II Pengembangan Butir Soal
Kisi – Kisi Soal Siklus I
Satuan Pendidikan : SD Negeri Klidang Lor 01 Mata Pelajaran : IPA
Jumlah Soal : 20 Soal
Materi Ajar : Sistem pencernaan pada manusia Kelas / Semester : V / I
SK : 1. Mengidentifikasi fungsi organ tubuh manusia dan hewan KD : 1.1 Mengidenti-fikasi fungsi organ pencernaan manusia dan
hubungannya dengan makanan dan kesehatan Materi : Sistem Pencernaan pada Manusia
No Indikator Butir Soal No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Siswa dapat menyebutkan fungsi gigi seri ( ditunjukkan gambar)
Siswa dapat menyebutkan fungsi enzim yang ada di mulut
Siswa dapat menyebutkan organ yang membantu pencernaan di dalam mulut Siswa dapat menyebutkan bagian lidah yang peka terhadap rasa manis Siswa dapat menyebutkan bagian lidah yang peka terhadap rasa pahit yang ditunjukkan oleh gambar
Siswa dapat menyebutkan nama lain dari gigi belakang
Siswa dapat menyebutkan jumlah gigi pada orang dewasa
Siswa dapat menyebutkan fungsi gigi Siswa dapat menyebutkan jalannya makanan dalam tubuh
Siswa dapat menyebutkan fungsi alat pencernaan
Siswa dapat menyebutkan nama tempat terjadinya proses pencernaan secara kimiawi
Siswa dapat menyebutkan alat pencernaan yang dapat menghasilkan asam klorida dengan menunjukkan gambar
Siswa dapat menyebutkan nama organ
PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
pencernaan yang ditunjukkan oleh gambar Siswa dapat menyebutkan alat
pencernaan yang menhasilkan enzim dalam proses pencernaan
Siswa dapat menyebutkan gerakan yang terjadi di kerongkongan
Siswa dapat mengetahui tempat pertama kalinya terjadi proses pencernaan Siswa dapat mengetahui fungsi dari gigi
Siswa dapat mengetahui fungsi dari organ pencernaan
Siswa dapat menyebutkan nama organ pencernaan yang ditunjukkan oleh gambar Siswa dapat menyebutkan nama organ pencernaan yang ditunjukkan oleh gambar
PG PG PG PG PG PG PG 14 15 16 17 18 19 20
Pengembangan Butir Soal Kisi – Kisi Soal
Siklus II
Satuan Pendidikan : SD Negeri Klidang Lor 01 Mata Pelajaran : IPA
Jumlah Soal : 20 Soal
Materi Ajar : Sistem pencernaan pada manusia Kelas / Semester : V / I
SK : 1. Mengidentifikasi fungsi organ tubuh manusia dan hewan KD : 1.1 Mengidenti-fikasi fungsi organ pencernaan manusia dan
hubungannya dengan makanan dan kesehatan Materi : Sistem Pencernaan pada Manusia
Tabel 3.3. Tabel Kisi-kisi penulisan soal siklus II
No Indikator Butir Soal No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Siswa dapat menyebutkan jenis makanan yang bermanfaat bagi tubuh
Siswa dapat menyebutkan jumlah gigi susu pada anak
Siswa dapat menyebutkan jumlah gigi pada orang dewasa
Siswa dapat menyebutkan bagian lidah yang peka terhadap rasa manis Siswa dapat menyebutkan tempat terjadinya proses pencernaan secara mekanik dan kimiawi
Siswa dapat menyebutkan tempat pencernaan makanan secara kimiawi Siswa dapat menyebutkan fungsi enzim yang ada pada lambung
Siswa dapat menyebutkan fungsi gigi Siswa dapat menyebutkan tempat terjadinya proses penyerapan sari-sari makanan
Siswa dapat menyebutkan nama organ pencernaan yang ditunjukkan oleh gambar Siswa dapat menyebutkan fungsi alat pencernaan
Siswa dapat menyebutkan enzim-enzim yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas Siswa dapat menyebutkan alat pencernaan
PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG PG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
yang yang ditunjukkan oleh gambar Siswa dapat menyebutkan fungsi enzim pada lambung
Siswa dapat menyebutkan kelainan pada system pencernaan
Siswa dapat menyebutkan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin Siswa dapat menyebutkan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin Siswa dapat menyebutkan penyakit pada system pencernaan
Siswa dapat menyebutkan penyakit pada system pencernaanditunjukkan oleh gambar
Siswa dapat menyebutkan penyakit pada system pencernaan PG PG PG PG PG PG PG 14 15 16 17 18 19 20 d. Observasi
Observasi dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan yang dilakukan pada saat kegiatan. Observasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana keaktifan siswa, kreativitas siswa, kerja sama siswa dan semangat siswa dalammengikuti pembelajaran.
e. Dokumentasi
Data yang diambil dokumentasi berupa tertulis seperti buku-buku, gambar foto, majalah, catatan harian dan sebaginya. Data dokumen berupa foto aktivitas jam pelajaran siswa didik terlampir.
3.5 Uji Tingkat Kesukaran
Uji tingkat kesukaran soal siklus I dan II di ujikan pertama pada siswa kelas VI- B SD N Klidang Lor 01 Batang
Analisis tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengetahui apakah soal tersebut tergolong mudah atau sukar. Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya sesuatu soal. (Arikunto, 1999: 207). Cara menentukan tingkat kesukaran suatu butir tes. Untuk menghitung tingkat kesukaran tiap butir soal digunakan persamaan :
Dengan: P adalah indeks kesukaran, B adalah banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar, dan Jx adalah jumlah seluruh siswa peserta tes.
Indeks kesukaran diklasifikasikan seperti tabel berikut: Tabel 3.4. Tabel klasifikasi tingkat kesukaran
P-P Klasifikasi 0,00 – 0,29 0,30 – 0,69 0,70 – 1,00 Soal sukar Soal sedang Soal mudah (Arikunto; 1999: 210)
Rumus lain yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran soal uraian sama dengan soal pilihan ganda yaitu :
Keterangan: Tk : Indeks tingkat kesukaran butir soal SA : jumlah skor kelompok atas SB : jumlah skor kelompok bawah IA : jumlah skor ideal kelompok atas IB : jumlah skor ideal kelompok bawah
Setelah indeks tingkat kesukaran diperoleh, maka harga indeks kesukaran P= B
Jx
Tk = SA + SB X 100% IA + IB
tersebut diinterpretasikan pada kriteria sesuai tabel berikut: Tabel3.5. Tabel Interpretasi Tingkat Kesukaran
Indeks Tingkat Kesukaran
Kriteria
0 – 15 % Sangat sukar, sebaiknya Dibuang
16 % – 30 % Sukar
31 % – 70 % Sedang
71 % – 85 % Mudah
86 % – 100 % Sangat mudah, sebaiknya di Buang (Karno To, 1996:15)
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah
(Arikunto, 1999 : 211)
Cara menentukan daya pembeda butir tes
Daya pembeda butir soal dihitung dengan menggunakan persamaan :
Dengan DP merupakan Indeks daya pembeda, BA adalah banyaknya peserta tes kelompok atas yang menjawab soal dengan benar, BB adalah banyaknya peserta tes kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar, JA merupakan banyaknya peserta tes kelompok atas, dan JB adalah banyaknya peserta tes kelompok bawah
Kriteria indeks daya pembeda adalah sebagai berikut :
DP = BA - BB JA - JB
Tabel 3.6. Tabel riteria indeks daya pembeda
Untuk mengetahui keberartian daya pembeda soal dilakukan dengan statistik uji-t, dengan persamaan berikut.
Dengan t merupakan Indeks Daya Pembeda (DP) antara kemampuan kelompok atas dengan kemampuan kelompok bawah, Xa merupakan skor rata-rata tiap item tes kelompok atas, Xb adalah skor rata-rata tiap item tes kelompok bawah, Sa adalah standar deviasi tiap item tes kelompok atas, Sb merupakan standar deviasi tiap item tes kelompok bawah, Na adalah jumlah siswa kelompok atas, dan Nb adalah jumlah siswa kelompok bawah.
Harga thitung yang dihasilkan dibandingkan dengan dengan harga ttabel dengan dk = (Na –1)+(Nb – 1) pada taraf kepercayaan 95%. Jika thitung > ttabel maka daya pembeda untuk soal tersebut adalah signifikan.
Persamaan lain yang dapat digunakan untuk menentukan daya pembeda yaitu :
DP Kualifikasi 0,00 – 0,19 0,20 – 0,39 0,40 – 0,69 0,70 – 1,00 Negatif Jelek cukup baik baik sekali
tidak baik, harus dibuang
t = Xa - Xb √2S – S2 a + b Na Nb DP = SA – SB X 100% IA
Keterangan:
Dp : Indeks daya pembeda satu butir soal tertentu
A : Jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah SB : Jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah
IA : Jumlah skor maksimum salah satu kelompok pada butir soal yang diolah
Setelah indeks daya pembeda diketahui, maka harga tersebut diinterpretasikan pada kriteria daya pembeda sesuai dengan tabel berikut :
Tabel 3.7 Tabel interpretasi daya pembeda tes Indeks Daya
Pembeda
Kriteria Daya Pembeda Negatif – 9% Sangat buruk, harus Dibuang
10 % – 19 % Buruk, sebaiknya dibuang 20 % – 29 % Agak baik atau cukup
30 % - 49 % Baik 50 % ke atas Sangat baik
(Karno To, 1996:15)
Analisis Pengecoh (Distractor)
Menganalisis fungsi pengecoh (distractor) dikenal dengan istilah menganalisis pola penyebaran jawaban butir soal pada soal bentuk pilihan ganda. Pola tersebut diperoleh dengan menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban butir soal atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dari pola penyebaran jawaban butir soal dapat ditentukan apakah pengecoh berfungsi dengan baik atau tidak. Suatu pengecoh dapat dikatakan berfungsi dengan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5 % pengikut tes.
Cara melakukan analisis pengecoh:
Pertimbangan terhadap analisis pengecoh: a. Diterima, karena sudah baik b. Ditolak, karena tidak baik
c. Ditulis kembali, karena kurang baik
Sebuah pengecoh dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% pengikut tes. Contoh Pilihan Jawaban A B C* D E O Jumlah Kelompok Atas 5 7 15 3 3 0 33 Kelompok Bawah 8 8 6 5 7 3 37 Jumlah 13 15 21 8 10 3 70
O = Omitted (tidak menjawab), C* = kunci jawaban
Pengecoh A : 13/70 x 100% > 5% , berfungsi B : 15/70 x 100% > 5% , berfungsi D : 8/70 x 100% > 5% , berfungsi E : 10/70 x 100% > 5% . berfungsi
Untuk tes pilihan ganda dengan 5 alternatif jawaban dan P = 0,8, dilihat dari segi Omitted (O), sebuah butir soal dikatakan baik jika persentase O-nya ≤ 10%.
Tabel 3.8. Tabel tingkat kesukaran siswa kelas 5-A SD N Klidang Lor 01 Batang Siklus I
Tingkat Kesukaran No. Soal Jumlah
Mudah 8,9,10,11,12,14,15 7
Sedang 2,4,5,6,13,16,17,18,19,20 10
Sukar 1,3,7 3
Tabel 3.9.Tabel tingkat kesukaran siswa kelas 5-A SD N Klidang Lor 01 Batang Siklus II Tingkat
Kesukaran
No. Soal Jumlah
Mudah 1,2,5,8,9,14,15 7
Sedang 3,4,6,12,13,16,17,18,19,20 10
Sukar 7,10,11 3
Total 20
3.6 Indikator Kinerja
Keberhasilan kegiatan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini diukur dari peningkatan yang signifikan dari nilai peningkatan masing – masing siswa pada tes akhir setiap siklus, kriteria keberhasilannya adalah sebagai berikut :
1. Siswa dianggap telah tuntas belajar jika mencapai nilai minimal 65 sesuai KKM mata pelajaran IPA SD Klidang Lor 01 Batang dan keberhasilan kelas jika minimal mencapai 80% siswa telah mencapai tuntas belajar serta peningkatan rata-rata hasil belajar minimal mencapai 12%
2. Peningkatan keaktifan belajar siswa dikatakan benar-benar berhasil jika skor rata-rata meningkat 8% dengan kategori baik.
3.7 Analisis Data
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan melibatkan teman sejawat sebagai pengamat dan seorang supervisor. Dalam mengamati proses pembelajaran pengamat dilengkapi dengan instrumen lembar pembantu observasi yaitu lembar pengamatan guru, lembar pengamatan partisipasi siswa dalam diskusi dan lembar observasi keaktifan siswa. Untuk data kuantitatif menggunakan analisis diskriptif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I dan nilai tes setelah siklus II. Untuk data kualitatif dari hasil pengamatan maupun wawancana menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.