• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Praktikum

a. Definisi

Definisi praktikum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menguji dan melaksanakan di keadaan nyata apa yang diperoleh dari teori. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa pentingnya dilaksanakan kegiatan prakikum untuk mengaplikasikan dan membuktikan teori-teori yang didapatkan saat kuliah. Selain itu pembelajaran dengan paktikum sangat efektif untuk mencapai seluruh ranah pengetahuan secara bersamaan, antara lain melatih agar teori dapat diterapkan pada permasalahan yang nyata (kognitif), melatih perencanaan kegiatan secara mandiri (afektif), dan melatih penggunaan instrumen tertentu (psikomotor) (Rahayuningsih dan Dwiyanto, 2005). Penelitian Schuijers et al. (2013) menyimpulkan bahwa mahasiswa yang mempelajari suatu teori dan mengikuti kegiatan praktikum mempunyai nilai ujian yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang hanya mendapatkan teori saja atau mahasiswa yang hanya mengikuti praktikum saja. Sejalan dengan penelitian

(2)

Ariyati (2010) bahwa praktikum menambah pemahaman dalam proses belajar dan mendorong untuk berpikir kritis.

Dalam kurikulum pendidikan kedokteran terdapat beberapa bidang keilmuan yang harus dikuasai oleh mahasiswa, meliputi ilmu Biomedik, Ilmu Kedokteran Klinik, Ilmu Humaniora Kedokteran, dan Ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas. Bidang ilmu Biomedik meliputi Anatomi, Biokimia, Biologi Sel dan Molekuler, Fisiologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Patologi Anatomi, Patologi Klinik, dan Farmakologi (KKI, 2012).

Secara harfiah Patologi berasal dari kata logos yang berarti “ilmu” dan patos yang berarti “penyakit”.Jadi, Patologi adalah ilmu yang menjembatani antara penyakit klinis dengan ilmu dasar dan mencakup tentang penyebab suatu penyakit (etiologi) serta mekanismenya (patogenesis) yang menyebabkan munculnya tanda dan gejala pada pasien (Kumar et al., 2007).Patologi Anatomi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang termasuk dalam pengetahuan dasar yang selayaknya diajarkan dalam kurikulum pendidikan kedokteran (Sadofsky et al, 2014).Praktikum Patologi Anatomi diperlukan agar prinsip-prinsip dasar dapat tetap terkuasai oleh mahasiswa (Carr et al., 2008).Penelitian Magrid dan Cambor (2012) menemukan bahwa dalam beberapa kurikulum kedokteran yang sudah terintegrasi, Ilmu Patologi Anatomi tidak diajarkan dalam bentuk kuliah tersendiri.Walaupun demikian Ilmu Patologi Anatomi memiliki peran penting bagi karir seorang dokter,

(3)

yaitu sebagai bekal melanjutkan spesialis; memilih dan menginterpretasikan hasil tes pasien; mengetahui penyebab dan patogenesis suatu penyakit untuk menentukan diagnosis bandingnya; dan melatih kemampuan dalam pemeriksaan laboratorium (Ford dan Pambrun, 2015).Memahami etiologi dan patogenesis tidak hanya penting untuk mendiagnosis suatu penyakit, tetapi juga memahami dasar pemberian pengobatan yang rasional. Patologi mengidentifikasi suatu perubahan dengan caragross dan penampang mikoskopis dari suatu sel atau jaringan yang diambil dari bagian tubuh (Kumar et al., 2013).

Histologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu histos yang berarti “jaringan” dan logos yang berarti “ilmu atau pengetahuan”.Histologi tidak hanya mencakup pengetahuan mengenai berbagai jaringan, tetapijuga berbagai sel dan sistem organ (Junqueira et al., 2005).Interpretasi histologi didapatkan dari sediaan histologik, yaitu irisan datar yang tipis pada jaringan atau organ yang telah difiksasi dan diwarnai pada kaca objek.Mempelajari histologi memiliki keunikan karena melihat suatu bagian struktur dalam tiga-dimensi.Hal ini karena gambar yang diperoleh berasal dari pemotongan dua-dimensi (Eroschenko, 2008).

Pada sistem pendidikan kedokteran konvensional, mahasiswa mempelajari Ilmu Histologi dan Patologi Anatomi menggunakan mikroskop cahaya (Triola dan Holloway, 2011).Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan mikroskop juga semakin berkembang.Sejalan dengan penelitian

(4)

Krippendorf dan Lough (2006) yang membandingkan penggunaan mikroskop cahaya dengan mikroskop virtual pada pembelajaran Histologi mendapatkan hasil bahwa mahasiswa yang menggunakan mikroskop virtual memiliki performa yang lebih baik dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih efisien.

b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kegiatan Praktikum

Widiyatmono (2014) berpendapat bahwa terdapat beberapa hal yang memengaruhi kegiatan praktikum, yaitu:

1) Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah sarana penyalur pesan dan informasi belajar. Media pembelajaran yang dirancang secara baik akan membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran.

2) Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah rencana dan cara yang digunakan pada suatu pembelajaran untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.

3) Penilaian

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar anak didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam mengambil keputusan. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator dengan menggunakan tes dan non tes,

(5)

baik tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya, yang berupa penugasan, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

c. Pembelajaran di Laboratorium Patologi Anatomi

Praktikum merupakan salah satu kegiatan pembelajaran dalam kurikulum pendidikan kedokteran yang wajib diikuti oleh mahasiswa. Kegiatan praktikum Patologi Anatomi terdiri:

1) Asistensi

Kuliah yang dilaksanakan sebagai pengantar praktikum di Fakultas Kedokteran UNS disebut asistensi.Tujuan diselenggarakan kuliah pengantar atau asistensi adalah membantu mahasiswa untuk memahami materi praktikum. Asistensi diberikan selama 100 menit pada saat praktikum Histologi dan Patologi Anatomi masih terpisah, kemudian menjadi 50 menit pada saat praktikum Histologi dan Patologi Anatomi gabungan. Asistensi disampaikan oleh dosen penanggung jawab praktikum atau asisten laboarorium. Hal ini juga bermanfaat bagi asisten laboratorium, antara lain menambah pengalaman dalam mengendalikan mahasiswa, menambah wawasan tentang materi praktikum, dan membangun kedekatan kepada mahasiswa sebelum mendampingi saat praktikum (Heidger et al., 2002).

(6)

2) Pretes

Pretes berupa tes tertulis yang dikerjakan sebelum praktikum dan wajib diikuti oleh setiap mahasiswa. Pada saat praktikum Histologi dan Patologi anatomi terpisah, pretes Histologi dan Patologi Anatomi dilaksanakan sesuai dengan jadwal masing-masing kemudian dengan adanya penggabungan praktikum Histologi-Patologi Anatomi menyebabkan pretes Histologi dan Patologi Anatomi dilaksanakan pada hari yang sama. Nilai pretes akan digunakan sebagai bagian dari nilai akhir praktikum (Patologi Anatomi FK UNS, 2014).

3) Praktikum

Praktikum diselenggarakan di laboratorium dengan segala ketentuan yang berlaku.Mahasiswa harus menyerahkan Buku Rencana Kerja (BRK) dan kartu praktikum sebelum mengikuti kegiatan praktikum. Berikut adalah ketentuan praktikum di Laboratorium Patologi Anatomi (Patologi Anatomi FK UNS, 2014):

a) Mengikuti kuliah pengantar atau asistensi yang diberikan oleh dosen penanggung jawab praktikum.

b) Melakukan pengamatan terhadap preparat mikroskopis dan makroskopis dan selanjutnya membuat laporan dalam bentuk gambar beserta deskripsinya di lembar yang sudah disediakan pada Buku Petunjuk Praktikum.

(7)

c) Menyerahkan lembar laporan praktikum kepada asisten dan mendapatkan pengesahan laporan sebagai syarat untuk dapat mengikuti responsi.

d) Kelompok praktikum masing-masing terdiri dari 10 orang yang dibimbing oleh 1 (satu) orang asisten.

e) Menjaga ketertiban dan kelancaran praktikum, saling menghormati, dan saling menghargai antara praktikan dan asisten pembimbing. f) Kelompok praktikum yang memecahkan preparat/slide praktikum

wajib mengganti biaya pengadaan preparat. 4) Responsi

Responsi berupa tes tertulis dengan bentuk pertanyaan yang ditampilkan dalam slidepowerpoint. Jumlah soal disesuaikan dengan jumlah materi yang dipelajari saat praktikum.Batas kelulusan adalah 70.mahasiswa yang mendapatkan nilai dibawah 70 harus mengikuti ujian remidi. Nilai responsi dan nilai pretes dihitung dengan rumus tertentu dan hasilnya sebagai nilai akhir praktikum. Nilai akhir praktikum akan berpengaruh pada nilai akhir blok (FK UNS, 2015).

2. Hasil Belajar

Menurut Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret No. 7080/UN27/PP/2015 BAB II Pasal 12 tentang Penilaian Belajar Mahasiswa dan Pasal 15 tentang Penilaian, hasil belajar harus dinilai berdasarkan pada tujuan pembelajaran dan

(8)

pencapaian kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter. Penilaian dilakukan sebagai pembanding tingkat penguasaan kompetensi antarmahasiswa.Penilaian pencapaian kompetensi Ketrampilan Klinik dan Laboratorium Lapangan pada tahap sarjana kedokteran dan ujian Bagian pada tahap profesi dokter menggunakan sistem Penilaian Acuan Patokan (PAP) (FK UNS, 2015).

Nilai suatu topik Blok/Ketrampilan Klinik/Laboratorium Lapangan dan Bagian di tahap profesi dokter serta skripsi diperoleh dari hasil konversi skor dengan ketentuan sebagai berikut :

Tabel 2.1 Tata Cara Penilaian di Fakultas Kedokteran UNS (FK UNS, 2015). Rentang Skor

(Skala 100)

Rentang Nilai (Skala 5)

Angka Huruf Ket

≥90 80-89 75-79 70-74 67-69 64-66 60-63 50-59 <50 4,00 3,70 3.30 3,00 2,70 2,30 200 1,00 0,00 A A-B+ B B-C+ C D E

Batas Kelulusan Ujian Blok, Ketrampilan Klinis, Laboratorium Lapangan, dan Ujian Bagian pada tahap profesi dokter sesuai Peraturan Rektor UNS No.7080/UN/27/PP/2012 Pasal 15 adalah 70 atau minimal B (baik). Pasal

(9)

selanjutnya yaitu Pasal 17 mengatur bahwa mahasiswa yang belum lulus wajib diberikan kesempatan untuk melakukan ujian ulang satu kali. Mahasiswa yang tidak lulus pada ujian ulang tersebut dapat menempuh remidial berupa semester padat atau semester pendek (FK UNS, 2015).

Praktikum termasuk dalam proses belajar. Proses belajar memerlukan masukan (input) yang merupakan materi pembelajaran dalam proses belajar mengajar (learning teaching process) dengan harapan berubah menjadi keluaran (output) dengan kompetensi tertentu. Selain itu proses belajar dipengaruhi oleh faktor lingkungan (environment input) dan faktor instrumental (instrumental input) yang merupakan faktor yang secara sengaja dirancang untuk menunjang proses belajar dan keluaran yang ingin dihasilkan. Secara skematik, Purwanto (2004) menggambarkan dengan pendekatan sistem sebagai berikut:

Gambar 2.1. Skema Proses Belajar (Purwanto, 2004)

Menurut Slameto (2013) terdapat dua faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar sedangkan faktor

Input

Instrumental Input

Teaching Learning Process Output

(10)

eksternal adalah faktor yang ada di luar individu.Penjelasan faktor-faktor tersebut sebagai berikut:

a. Faktor Internal 1) Faktor Jasmani

a) Faktor Kesehatan

Kesehatan berpengaruh terhadap proses belajar. Proses belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang juga terganggu karena akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mudah mengantuk, kurang darah, ataupun adanya gangguan fungsi alat indera. Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi, dan ibadah.

b) Cacat Tubuh

Keadaan cacat tubuh memengaruhi proses belajar. Mahasiswa yang mengalami cacat tubuh akan terganggu proses belajarnya. Jika hal ini terjadi sebaiknya belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu untuk mengurangi pengaruh kecacatannya. 2) Faktor Kelelahan

Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh, sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan

(11)

adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk belajar berkurang.

3) Faktor Psikologis a) Kecerdasan

Kecerdasan merupakan salah satu aspek penting dan sangat menentukan keberhasilan studi. Mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi akan berhasil daripada yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Walaupun begitu mahasiswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajar. Hal ini disebabkan karena belajar adalah proses yang kompleks dengan banyak faktor yang memengaruhi, sedangkan inteligensi adalah salah satu faktor diantara faktor yang lain.

b) Perhatian

Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka mahasiswa harus mempunyai perhatian terhadap materi yang dipelajarinya.Jika materi pembelajaran tidak menarik perhatian, maka timbulah kebosanan untuk belajar.

c) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap dan terus-menerus untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.Berbeda dengan perhatian yang sifatnya sementara dan belum tentu diikuti rasa

(12)

senang, minat selalu diikuti perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan.Minat mempunyai pengaruh besar terhadap belajar karena bila materi yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, maka tidak ada daya tarik untuk belajar. Namun materi pembelajaran yang menarik minat mahasiswa akan lebih mudah dipelajari dan disimpan dalam memori.

d) Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika materi yang dipelajari mahasiswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

e) Motif

Motif erat hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu melakukan tindakan, sedangkan yang menjadi penyebab tindakan adalah motif itu sendiri sebagai pendorong. Motif yang sangat kuat diperlukan dalam proses belajar. Untuk membentuk motif yang kuat dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan dan dorongan dari lingkungan.

f) Kematangan

Kematangan adalah suatu fase dalam pertumbuhan, dimana tubuh sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.Mahasiswa yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya

(13)

sebelum belajar. Belajar akan lebih berhasil jika sudah siap (matang).

g) Kesiapan

Kesiapan atau readiness adalah kesediaan untuk memberi respon atau reaksi.Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar karena jika mahasiswa belajar dan sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

b. Faktor Eksternal 1) Faktor Keluarga

a) Cara Orang Tua Mendidik

Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Cara orang tua mendidikanaknya akan berpengaruh terhadap proses belajarnya. Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya dapat menyebabkan anak tidak atau kurang berhasil dalam belajarnya.

b) Relasi antara Anggota Keluarga

Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya.Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau anggota keluarga yang lainpun turut memengaruhi belajar anak.Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga.

(14)

c) Suasana Rumah

Suasana rumah adalah situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga.Suasana rumah juga merupakan faktor yang penting yang tidak termasuk faktor yang disengaja. Suasana rumah yang gaduh dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Perlu diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram agar anak betah tinggal dirumah dan dapat belajar dengan baik.

d) Keadaan Ekonomi Keluarga

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak.Anak yang sedang belajar harus terpenuhi kebutuhan pokok dan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis, buku, dan lain-lain.Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang.

e) Pengertian Orang Tua

Anak perlu dorongan dan perhatian orang tua.Bila anak sedang belajar sebaiknya tidak diganggu dengan tugas-tugas rumah yang terlalu banyak.Saat anak tidak bersemangat, orang tua wajib memberi pengertian dan membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami.

(15)

Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga memengaruhi sikap anak dalam belajar.Perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik agar mendorong semangat anak untuk belajar.

2) Faktor Kampus a) Metode Mengajar

Metode mengajar adalah suatu cara yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar memengaruhi proses belajar. Metode mengajar yang kurang baik akan memengaruhi proses belajar yang kurang baik pula. Agar dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar diusahakan seefektif mungkin.

b) Kurikulum

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada mahasiswa.Kegiatan tersebut sebagian besar adalah menyajikan materi pembelajaran. Kurikulum akan berpengaruh terhadap proses belajar mahasiswa. Kurikulum yang kurang baik akan berpengaruh tidak baik terhadap proses belajar.

c) Relasi Dosen dengan Mahasiswa

Relasi yang baik akan membuat mahasiswa menyukai dosen dan materi yang diberikan. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika mahasiswa tidak menyukai dosen dan materi yang diberikan, maka hasil belajar menjadi kurang baik.

(16)

Pentingnya menciptakan relasi yang baik antarmahasiswa agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap proses belajar. e) Kedisiplinan

Kedisiplinan kampus mencakup kedisiplinan dosen, karyawan, dan mahasiswa. Kedisiplinan memengaruhi proses belajar. Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, mahasiswa harus disiplin dalam belajar baik di kampus maupun di rumah.

f) Alat Pembelajaran

Alat pembelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan materi pembelajaran yang diberikan kepada mahasiswa. Jika mahasiswa mudah menerima materi pembelajaran, maka belajarnya akan lebih giat dan lebih maju.

g) Waktu Pembelajaran

Waktu pembelajaran juga memengaruhi proses belajar mahasiswa. Memilih waktu yang tepat akan memberi pengaruh yang positif terhadap hasil belajar.

(17)

Dosen dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan mahasiswa agar tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai.

i) Keadaan Gedung

Dengan jumlah mahasiswa yang banyak serta variasi karakteristik masing-masing menuntut keadaan gedung harus memadai.

j) Metode Belajar

Banyak mahasiswa melaksanakan cara belajar yang salah. Cara belajar yang tepat akan memudahkan dalam memperoleh hasil belajar yang baik. Dalam hal ini perlu pembinaan dari dosen. Dengan belajar secara teratur dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara belajar yang tepat, dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajar.

k) Tugas Rumah

Waktu belajar terutama adalah di kampus. Dosen sebaiknya tidak terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan di rumah yang menyebabkaan tidak ada waktu untuk kegiatan lain.

3) Faktor Masyarakat

(18)

Kegiatan dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadi mahasiswa. Tetapi jika mengambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak akan mengganggu proses belajar.

b) Media massa

Media massa yang baik dapat memberi pengaruh yang baik terhadap mahasiswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang buruk juga berpengaruh buruk terhadap mahasiswa. Maka dari itu perlu kiranya mahasiswa mendapatkan bimbingan dan kontrol yang cukup bijaksana dari pihak orang tua dan pendidik, baik di dalam keluarga, kampus, dan masyarakat agar tidak salah langkah.

c) Teman Bergaul

Pengaruh dari teman bergaul lebih cepat masuk dalam jiwa. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri mahasiswa, begitu juga sebaliknya teman bergaul yang kurang baik juga akan berpengaruh yang kurang baik.

d) Bentuk Kehidupan Masyarakat

Kehidupan masyarakat di sekitar mahasiswa juga berpengaruh terhadap belajarnya. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan

(19)

yang tidak baik, akan berpengaruh buruk terhadap orang yang berada di sekitarnya.

3. Perbedaan Praktikum Gabungan dan Terpisah

Pada dasarnya Ilmu Histologi dan Ilmu Patologi Anatomi saling berhubungan.Dalam mempelajari Ilmu Patologi Anatomi yang memiliki gambaran mikroskopis sel atau jaringan yang terkena penyakit atau patologis (Kumar et al., 2013), maka seharunya telah mengetahui bentuk normal dari struktur mikroskopis sel atau jaringan tersebut.Dengan adanya penggabungan praktikum ini, diharapkan mahasiswa dapat langsung membandingkan gambaran mikroskopis pada sel atau jaringan yang normal dengan yang patologis.

Sejak tahun 2014, praktikum Histologi dan Patologi Anatomi dilaksanakan secara gabungan atau bersamaan.Perbedaan antara praktikum gabungan dan terpisah adalah dalam segi waktu.Sebelum adanya perubahan tersebut, masing praktikum memiliki jadwal tersendiri dengan durasi waktu masing-masing 100 menit.Setelah dikeluarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret No.123/UN27/06/HK/2014 tentang Pemetaan Praktikum, praktikum Histologi-Patologi Anatomi dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.Jadi, dalam waktu 100 menit terdapat dua praktikum sekaligus.

(20)

Pada penerapan sistem baru akan ada kelebihan dan kekurangannya. Sama halnya dengan penggabungan praktikum ini.Salah satu faktor yang memengaruhi hasil belajar adalah waktu pembelajaran (Slameto, 2013).Sebelumnya, peneliti telah melakukan survei terhadap mahasiswa yang telah mengikuti kegiatan praktikum Histologi-Patologi Anatomi gabungan dan terpisah untuk memberikan kritik dan saran terhadap pelaksanaan praktikum gabungan.Hasil survei adalah sebagian besar mahasiswa mengeluh tentang waktu praktikum yang terlalu singkat sehingga praktikum menjadi tergesa-gesa yang mengakibatkan suasana yang kurang kondusif.

(21)

B. KerangkaPemikiran

: memengaruhi tidak diteliti : memengaruhi diteliti

Gambar 2.2SkemaKerangka Pemikiran Faktor Internal: 1. Faktor Jasmani 2. Faktor Kelelahan 3. Faktor Psikologis - Motivasi Faktor Eksternal Praktikum Histologi-PA Gabungan Nilai Responsi Faktor Keluarga Faktor Kampus Faktor Masyarakat SDM Kurikulum Sarana Metode Pembelajaran Waktu Pembelajaran Metode Pembelajaran Waktu Pembelajaran

a. Pretes Histologi dan PA

dilaksanakan pada hari yang sama b. Materi Histologi-PA diberikan

dalam 1x praktikum

50 menit

Dosen Mahasiswa Alat

Pembelajaran

Keadaan Gedung

Praktikum Histologi-PA Terpisah

a. Pretes Histologi dan PA dilaksanakan pada hari yang berbeda.

b. Materi Histologi-PA diberikan dalam 2x praktikum

100 menit

(22)

C. Hipotesis

Ada perbedaan nilai responsi Patologi Anatomi pada praktikum Histologi-Patologi Anatomi gabungan dan terpisah.

Gambar

Tabel 2.1 Tata Cara Penilaian di Fakultas Kedokteran UNS (FK UNS, 2015).
Gambar 2.1. Skema Proses Belajar (Purwanto, 2004)
Gambar 2.2SkemaKerangka PemikiranFaktor Internal:1. Faktor Jasmani2. Faktor Kelelahan3

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum terhadap anggota penyimpan dana pada koperasi CU Khatulistiwa Bakti belum sepenuhnya terakomodir dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang

KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara sense of community dengan

Biaya variabel yaitu tenaga kerja biaya tenaga kerja yang dihitung hanya biaya pemeliharaan rambutan sebesar Rp 160.963.33 didapat dari jumlah orang kerja dikali hari

Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif. Pengobatan medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau

Hasil uji t didapat bahwa secara parsial variabel pendapatan konsumen kopi Robusta berpengaruh signifikan terhadap permintaan kopi Robusta di pasar inpres,

• Kitab Suci kelompok pertama adalah ucapan budha sendiri, dan kelompok yang lain ajaran orang lain.. Budha Terawada dan Mahayana memiliki kitab

Hasil yang optimal tersebut dipergunakan sebagai bahan baku untuk proses deproteinasi menggunakan basa kuat (NaOH 2N) dengan variabel waktu proses 6, 12, 18, 24 jam sehingga

Perangkapan kepemimpinan dapat dengan mudah digunakan pemimpin untuk mengakumulasi kekuasaan dengan alasan demi kepentingan masyarakat, sehingga munculnya