• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan Menuju Universal Coverage 2014:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Kebijakan Menuju Universal Coverage 2014:"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Kebijakan Menuju Universal

Coverage 2014:

Sejarah kebijakan jaminan kesehatan,

ideologi dan aktor penyusun kebijakan,

serta peran perguruan tinggi

sebuah Working Paper oleh Laksono Trisnantoro∗

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM

(2)

Isi:

1. Pengantar

2. Hasil Pengamatan: Perkembangan Kebijakan

Pembiayaan Kesehatan di Indonesia

3. Pembahasan 1: Apakah penyusunan kebijakan

jaminan pembiayaan dilakukan berdasarkan prinsip kebijakan berbasis bukti?

4. Pembahasan 2: Bagaimana Peran Perguruan Tinggi? 5. Pembahasan 3:Perbandingan dengan Thailand

6. Rangkuman dan Saran dengan berbasis pada model

(3)

Pengantar:

Proses penyusunan kebijakan (Buse dkk 2009):

Menggunakan berbagai tahap

kebijakan dimulai,

dikembangkan atau disusun,

dinegosiasi,

dikomunikasikan,

dilaksanakan, dan

dievaluasi.

(4)

Konsep “tahapan heuristik”.

Identifikasi masalah dan isu.

Perumusan kebijakan

Pelaksanaan kebijakan

(5)

Prinsip-prinsip

Evidence Based Policy Making

Evidence Based Medicine Evidence Based Policy

 Sackett dkk mendefinisikan

EBM sebagai: “The

conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient”.

 (Sackett DL, Rosenberg WMC, Muir Gray JA, Haynes RB,

Richardson WS. Evidence-based medicine: what it is and what it isn’t. BMJ 1996: 312:71-2)

 Cookson memberikan definisi

yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang

kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien

 (Cookson R. Evidence-based policy

making in health care: what it is and what it isn’t. Journal of Health

Service Research Policy. Vol 10 No 2 April 2005).

(6)

Evidence Based Policy Making Sumber: Cookson, 2005 Bukti Ilmiah Nilai-nilai Kepercayaan Pengalaman Bukti Anekdot Opini

Hambatan: Politis, ekonomi, hukum, dan etika Keputusan

(7)

Situasi A: Tidak Ada bukti Ilmiah.

Tidak ada Bukti Ilmiah yang berasal dari Riset Nilai-nilai Kepercayaan Pengalaman Bukti Anekdot Opini

Hambatan: Politis, ekonomi, hukum, dan etika Keputusan

(8)

Situasi B: Ada Bukti Ilmiah.

Ada Bukti Ilmiah Berasal dari Riset Nilai-nilai Kepercayaan Pengalaman Bukti Anekdot Opini

Hambatan: Politis, ekonomi, hukum, dan etika Keputusan

(9)

Dalam situasi B ini ada beberapa

kemungkinan:

 B1. Ada Bukti Ilmiah dari riset dasar dan klinik, dan proses

Evidence Based Policy dilakukan. Contohnya adalah:

 Program TB DOTS  Program IMCI

 B2. Ada Bukti Ilmiah dari Riset Dasar namun Proses Evidence

based Policy tidak berjalan, misalnya:

 Kebijakan penyemprotan DHF (fogging)

 Pembelian test diagnostic AIDS melalui saliva oleh Pemda DKI  Pemberian makanan tambahan

 Kebijakan obat-obat kanker  Kebijakan Obat AIDS.

(10)

ISU-ISU YANG DIANALISIS

1. Bagaimana perkembangan kebijakan jaminan kesehatan di Indonesia

2. Apakah penyusunan kebijakan jaminan pembiayaan

dilakukan berdasarkan prinsip kebijakan berbasis bukti? 3. Bagaimana peran perguruan tinggi dalam proses

penyusunan kebijakan pembiayaan kesehatan: Saat ini dan masa mendatang.

(11)

METODE ANALISIS

 Analisis ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan analisis dokumen kebijakan dan observasi. Dokumen kebijakan berada di Arsip Nasional.

(12)
(13)

Perkembangan kebijakan jaminan

kesehatan di Indonesia

Periode Kolonial dan Pasca Kemerdekaan

 Jaminan kesehatan terbatas pada pegawai pemerintah

kolonial/pegawai negeri/militer/ dan karyawan perusahaan besar

 Cakupan rumahsakit sosial terbatas

 Di tahun 1953, pernah ada UU untuk memberi pelayanan bagi masyarakat miskin. Tidak jelas pelaksanaannya

 Jaman Orde Baru: Belum ada program nasional. Ada Dana Sehat dan JPKM, namun belum sampai rumahsakit dan

meluas

(14)

Krisis Moneter di tahun 1998

 Memicu adanya Jaring Pengaman Sosial (JPS), termasuk sektor kesehatan

 Merupakan awal dari proses pemberian jaminan kesehatan ke masyarakat secara nasional (bukan melalui subsidi ke rumahsakit)

 Merupakan kebijakan reaktif untuk mengatasi krisis

 Merupakan pola Medicaid Amerika Serikat, yang terbatas membiayai masyarakat miskin. Bukan pola National Health Service di Inggris

(15)

 Program JPS-BK dilanjutkan ke JPKM

 Pada tahun 2005 program dilakukan melalui PT Askes Indonesia.  Bertepatan dengan diberlakukannya UU SJSN  Kepmenkes No 1241/Menkes/SK/XI/2004, 12 November 2004

(16)

Program Askeskin menjadi

Jamkesmas

 Pada tahun 2008:Terjadi keputusan yang menarik, program Askeskin tidak lagi menggunakan mekanisme asuransi.

 Di awal tahun ini Departemen Kesehatan memutuskan bahwa program dilakukan melalui mekanisme langsung, dengan nama baru Jaminan Kesehatan Masyarakat.

(17)

Perubahan di awal tahun 2005

Model Subsidi Langsung Model Melalui mekanisme Asuransi:

Pemerintah sebagai Pembayar Rumah Sakit masyarakat Pemerintah sebagai Pembayar Rumah Sakit masyarakat Asuransi Kesehatan

(18)

Perubahan di awal tahun 2005 dan 2008

Model Subsidi Langsung Model Melalui mekanisme Asuransi:

Pemerintah sebagai Pembayar Rumah Sakit masyarakat Pemerintah sebagai Pembayar Rumah Sakit masyarakat Asuransi Kesehatan Pemerintah sebagai Pembayar Rumah Sakit masyarakat

Di tahun 2008 kembali Model Subsidi Langsung

(19)

Pembahasan 1:

Apakah penyusunan kebijakan jaminan

pembiayaan dilakukan berdasarkan prinsip

kebijakan berbasis bukti?

(20)

Pengamatan

Program Dana Sehat tidak jelas

evaluasinya

Program JPKM di Klaten dekade 1990an

berada dalam situasi yang ”berlayar sambil

membangun kapal”. Tertutup untuk studi.

Periode Bapel JPKM,tidak banyak studi

independen yang dipergunakan untuk

menguji kelayakannya.

(21)

Periode Askeskin (2005-2007) dan

Jamkesmas

Periode perubahan dari periode Bapel JPKM ke PT

Askes Indonesia pada awal tahun 2005: Kebijakan

Departemen Kesehatan yang berdasarkan Bapel JPKM

dengan cepat diubah menjadi berdasarkan kerjasama

dengan PT Askes Indonesia, tanpa ada studi yang

bersifat sebagai pilot.

Pada tahun 2008 terkesan perubahan menjadi

Jamkesmas dilakukan berdasarkan negosiasi, bukan

berbasis bukti ilmiah.

(22)

Dalam waktu 20 tahun terakhir:

Belum ada studi komprehensif yang mengevaluasi

pelaksanaan kebijakan jaminan kesehatan, misal:  Studi evaluasi manajemen jaminan kesehatan

 Studi untuk monitoring siapa pengguna pelayanan kesehatan dan mutu pelayanannya

 Studi untuk melihat jangkauan pelayanan

 Studi kepuasan pengguna dan pemberi jasa pelayanan.

Kebijakan Jaminan Kesehatan yang sangat besar

dampak dan biayanya (relatif) tidak disertai

dengan stusi monitoring dan evaluasi yang

(23)

Di tahun 2010

 Jamkesmas dipertanyakan karena dinilai tidak sesuai UU SJSN

 Di tahun 2010, ketika terjadi pencanangan Universal Coverage di tahun 2014, ada skeptisme pencapaiannya (jika menggunakan definisi ILO)

Pertanyaan adalah apakah pencanangan

ini sudah didasari oleh penelitian yang

comprehensive?

(24)

Mengapa tidak jelas dasarnya?

 Pemahaman mengenai Universal Coverage sendiri masih belum jelas.

 Secara matematika di atas kertas, memang dapat dilihat bahwa dana yang ada dapat mengkover 76 juta manusia Indonesia yang miskin dan setengah miskin.

 Pertanyaannya adalah apakah Universal Coverage benar-benar dapat mencakup pelayanannya (akses geografis sebagai salahsatu dari syarat Universal Coverage).

(25)

Gambaran

 Di atas kertas penduduk Kabupaten Larantuka di NTT mendapat jaminan kesehatan masyarakat untuk pelayanan kesehatan ibu.

 Di Larantuka tidak ada dokter spesialis obstetri, anak dan anastesi, maka ibu-ibu yang membutuhkan SC akan tidak mendapatkannya.

 Demikian pula ibu-ibu yang tidak ada akses PONEK di RS kabupatennya.

 Sementara itu peserta Jamkesmas di daerah yang mempunyai sumber daya kesehatan melimpah, akan mempunyai banyak akses ke pelayanan kesehatan ibu

(26)

Dapat disimpulkan untuk kasus di NTT

 Walaupun sudah ada jaminan kesehatan masyarakat saat

ini (Program Nasional), masyarakat NTT secara praktis belum tercakup. Misal untuk pelayanan kesehatan

kebidanan yang darurat (Sectio Caesarian).  Di NTT tidak ada ahli anastesiologi

 Di NTT, jumlah SpOG dan SpA sangat sedikit.  PONEK belum berjalan baik.

(27)

Catatan: Ketersediaan Tenaga Dokter Ahli di RS se-NTT (kondisi terkini, 18 Januari 2010)

No Kab No RS Dokter Spesialis

RS Obg Anak PD Bdh PK Anest Rö Lain2 Jl Ket.

1 Kota Kupang 1 Johannes Kpg 9 7 4 2 1 0 2 12 37 Resdn (1)

2 Bhayangkara 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Dokter Polri

3 Wirasakti 0 0 0 1 0 0 0 0 1 Dokter TNI

2 Kab Kupang 4 Naibonat 2 0 0 0 0 0 0 0 2 Tidak aktif

3 TTS 5 So'e 0 0 1 0 0 0 0 2 3 Ahli mata

4 TTU 6 Kefamenanu 0 0 0 0 0 0 0 0 0

5 Belu 7 Atambua 2 0 1 0 0 0 0 0 3

6 Alor 8 Kalabahi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Resdn (4) Dsr

7 Lembata 9 Lewoleba 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Resdn (1) Bdh

8 Flores Timur 10 Larantuka 1 0 0 0 0 0 0 0 1 Selsai Feb '10

9 Sikka 11 TC Hillers Mau 1 1 2 0 0 0 0 2 6 Resdn (1) Bdh

12 Elisabeth Lela 0 0 0 1 0 0 0 0 1

10 Ende 13 Ende 0 1 1 0 0 0 0 1 3 Resdn (1) Bdh

11 Ngada 14 Bajawa 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Resdn (4) Dsr

12 Manggarai 15 Ruteng 1 1 1 0 1 0 0 1 5 Resdn (1) Bdh

13 Sumba Timur 16 Umbu Rara Meha 1 1 0 1 0 0 0 0 3

14 Sumba Barat 17 Waikabubak 0 0 0 1 0 0 0 0 1 Resdn (3)

15 Sumba Barat Daya 18 Karitas 0 0 0 1 0 0 0 0 1

16 Rote Ndao 19 Ba'a 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 17 11 11 7 2 0 2 18 68 Resdn (16)

(28)

Dalam Kebijakan Jaminan Kesehatan (termasuk UC 2014) terlihat berada dalam situasi A: Tidak Ada bukti Ilmiah.

Tidak ada Bukti Ilmiah yang berasal dari Riset Nilai-nilai Kepercayaan Pengalaman Bukti Anekdot Opini

Hambatan: Politis, ekonomi, hukum, dan etika Keputusan

(29)

Pembahasan 2:

Bagaimana Peran Perguruan

Tinggi

?

 Aktor dalam jaminan kesehatan banyak: Pemerintah

(termasuk DPR/DPRD), Lembaga Asuransi, RS, Kelompok Ahli, LSM, Masyarakat, dll.

 Terkait dengan kebijakan publik yang sarat muatan politik dan dana

 Pengalaman subyektif PMPK-UGM sebagai lembaga

peneliti dan kebijakan menyiratkan: penelitian memang

belum dipergunakan secara penuh dalam sejarah program jaminan kesehatan di Indonesia.

(30)

Peran Perguruan Tinggi sering hanya

individual

Perguruan Tinggi Pemerintah sebagai Penetap Kebijakan Penyandang dana Penelitian dan Pengembangan Individu

Individu dikontrak oleh pemerintah atau penyandang dana penelitian Tidak melibatkan team yang komprehensif

(31)

Observasi terharap peran individual

dari perguruan tinggi

 Aspek ideologi dan kerpercayaan individu anggota perguruan tinggi menjadi menonjol;

 Pembiayaan kesehatan dapat terperangkap menjadi debat ideologi atau pendapat tanpa bukti;

 Kurang adanya pembahasan ke aspek teknis yang

kompleks dan membutuhkan penanganan multi profesi dan keahlian;

 Hubungan dengan pengambil kebijakan menjadi tidak jelas dan cenderung jangka pendek;

 Pertentangan faham antar individu perguruan tinggi dapat membingungkan pengambil kebijakan dan masyarakat.

(32)

Pembahasan 3:

Perbandingan dengan Thailand

 Sistem jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat Thailand

dimulaidengan nama sistem 30 Baht.

 Sistem 30 Baht berakar dari sebuah proyek yang disebut

Ayyuddhaya Project di tahun 1989.

 Proyek ini merupakan kolaborasi antara pemerintah Thailand

dan ahli-ahli dari Belgia.

 Diperkuat tenaga ahli dari London School of Hygiene and

Tropical Medicine.

 Proyek ini mempunyai 3 komponen utama yaitu:

 (1) reformasi pembiayaan;

 (2) reformasi pelayanan kesehatan; dan

(33)

Peran Perguruan Tinggi

 Dalam perjalanannya, proyek

ini diperkuat oleh dua orang Doktor yaitu yaitu Dr. Viroj Tangcharoensathien dan Dr. Supasit Pannarunothai.

 Perkembangan selanjutnya di

tahun 1993 adalah

bergabungnya para ekonom dari Fakultas Ekonomi di Universitas Thammasat dan Chullalongkorn, serta

akademisi dari National

Economic and Social Development Board.

 Peranan akademisi sangat besar dalam perjalanan kebijakan 30 Baht

(34)

Pembelajaran dari Thailand

(1) Adanya penggunaan ilmu pengetahuan untuk mengatasi masalah;

(2) Adanya minat dan semangat masyarakat untuk membuat gerakan sosial agar Pelayanan Kesehatan untuk Semua dapat diperhatikan; dan

(3) Adanya dukungan politik di dalam arena legislatif untuk menyelesaikan masalah.

Dalam konteks Evidence Based Policy, program 30Baht

dengan jelas telah menggunakan berbagai bukti ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan.

 Di FK Naraseuan ada Center for Equity in Health Service.  Program 30Baht bukanlah keputusan sesaat.

(35)

Ringkasan

 Sejarah perkembangan kebijakan jaminan kesehatan di Indonesia menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan lembaga penelitian belum menjadi pemain penting.

 Kegiatan penelitian dan pengembangan masih terpencar-pencar

 Belum ada persamaan faham di antara dosen perguruan tinggi.

(36)

Berbagai faktor penghambat

 Pihak Pengambil Kebijakan belum merasa perlu untuk menggunakan penelitian. Keputusan yang diambil lebih banyak berdasarkan pertimbangan pragmatis sesaat.  Prinsip Evidence Based Policy belum dipergunakan.

Demikian pula pihak perusahaan asuransi kesehatan.  Sementara itu di sisi lain para akademisi dan peneliti

masih belum mempunyai strategi sebagai lembaga pemikir untuk sistem yang sangat kompleks.

 Belum ada pemikiran untuk mengembangkan sebuah

think-tank ataupun sebuah konsorsium yang lengkap antar perguruan tinggi.

(37)

Penutup: Bagaimana ke depannya?

 Apakah Proses Kebijakan untuk mencapai Universal Coverage akan tetap sama seperti ini?

 Bagaimana peran perguruan tinggi, khususnya para peneliti dan konsultan?

(38)

Catatan:

Ada perbedaan arti antara peneliti dan konsultan • Tugas Peneliti tidak terkait dengan pelaksanaan

• Tugas Konsultan mencakup penelitian dan pelaksanaan. • Konsultan/Tenaga Ahli di perlukan oleh pengambil

kebijakan yang merasakan manfaatnya

• Konsultan ikut bertanggung jawab pada pelaksanaan kebijakan.

Catatan: Saya menggunakan pemahaman sebagai konsultan, yang tentunya mencakup penelitian.

(39)

Masukan

Kebijakan untuk UC perlu belajar dari

sistem membangun gedung/konstruksi

Menggunakan pendekatan engineering

Membutuhkan pendekatan multi-profesi

(40)

Model Engineering (1)

Universal Coverage

merupakan sebuah sistem riil yang dapat diukur

pelaksanaannya.

 Siapa yang menggunakan fasilitas kesehatan apa,

mutu pelayanan, kepuasan pengguna dan sebagainya merupakan hal yang dapat diukur.

 Pengembangannya dapat menggunakan pendekatan

engineering seperti yang

ada di sektor konstruksi fisik, mesin, atau rekayasa sosial.

(41)

Model Engineering (2)

• Pengambil kebijakan mengidentifikasi masalah

• Tim pengembangan termasuk peneliti mengatasinya

dengan menggunakan pengetahuan baru yang mengarah pada perubahan kebijakan.

• Gambaran detil mengenai bagaimana kebijakan akan dilaksanakan

• Apakah pelaksanaan kebijakan dapat berhasil atau tidak mencapai tujuann maka perlu ada sistem monitoring dan evaluasi

• Ada evaluasi kebijakan untuk perbaikan sistem, atau mungkin menghentikan sama sekali.

(42)

Model Engineering (3)

 Usaha pemecahan masalah mencakup dari Blue-print

kebijakan, perencanaan pelaksanaan, pelaksanaan kebijakan, sampai ke monitoring dan evaluasi kebijakan.

Dalam konteks engineering akan ada:

Konsultan perencana (bisa perguruan tinggi),

Para pelaksana kegiatan (misal PT Askes Indonesia-PT

Jamsostek atau Badan Nirlaba yang akan dibentuk, pemberi pelayanan dll),

Konsultan pengawas dan monitoring (bisa perguruan

(43)

Contoh: gambaran tugas konsultan

Perencana:

• Harus memperhitungkan aspek pelaksanaan kebijakan.

Kebijakan adalah untuk dilaksanakan, bukan hanya di atas kertas.

Dalam konteks Universal Coverage, pelaksanaan akan mencakup:

• penerimaan dokter-perawat terhadap sistem Jamkesmas

(kompensasi/insentif),

• aspek Hukum dan UU,

• aspek ketidak merataan geografis, • aspek politik,

• aspek mutu pelayanan

• disamping perhitungan pembiayaan • ...

(44)

Ada beberapa prinsip penting yang akan

dipergunakan oleh konsultan perencana:

Menggunakan sistem yang sudah terbukti bekerja di tempat yang mirip dengan Indonesia

Kemampuan untuk memberikan masukan pada pengambil kebijakan yang mempunyai tantangan spesifik, khususnya untuk pelaksanaan. Masukan tidak hanya konsepsual.

Tersedianya waktu yang cukup untuk menjalankan kebijakan yang direncanakan

Adanya insentif untuk semua pihak untuk menjalankan kebijakan

Perlu ada suatu kegiatan monitoring agar kebijakan dapat dipertanggungjawabkan.

(45)

Contoh: gambaran tugas konsultan

Monitoring

• Harus menilai apakah kebijakan jaminan kesehatan dapat

meningkatkan akses dan mutu pelayanan sehingga akhirnya dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat.

Monitoring meliputi antara lain:

- Siapa yang menerima jaminan - Mutu pelayanan medik

- Kepuasan masyarakat - Kepuasaan pengguna

- Apakah ada perubahan perilaku masyarakat: mengurangi

merokok misalnya.

- Efisiensi sistem jaminan: misal Load factor. - ...

(46)

Siapa yang akan melakukan penelitian

pengembangan dalam konteks engineering?

Keahlian-keahlian dalam perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi kebijakan jelas tidak ada dalam satu orang

individu

Hanya dapat disediakan oleh sebuah tim yang

mempunyai para pakar di berbagai bidang tersebut.

Tim pakar tersebut harus mempunyai kesatuan visi

dan pendapat

Lebih baik memisahkan pakar yang berbeda pendapat,

(47)

Pengembangan universal Coverage membutuhkan Tim Konsultan/Tenaga ahli yang mencakup

antara lain:

• Ahli Pembiayaan (Finance)

• Ahli peraturan dan ahli hukum

• Ahli Manajemen RS-pelayanan primer dan mutu pelayanannya

• Ahli masalah kompensasi/pembayaran bagi tenaga kesehatan

• Ahli Promosi Kesehatan (jangan sampai sudah diberi jaminan malah merokok terus).

• Ahli komunikasi politik. • ...

(48)

Bagaimana pengorganisasian tim

untuk mencapai UCoverage?

Membutuhkan kerja tim yang kuat

Perlu ada dukungan penelitian di setiap tahap

kebijakan.

Ada kemungkinan satu perguruan tinggi tidak

cukup.

(49)

Hubungan tipe 1. Satu Perguruan

Tinggi (sendirian) dengan Penetap

Kebijakan

Perguruan Tinggi Pemerintah sebagai Penetap Kebijakan Pertanyaan:

Apakah ada Perguruan Tinggi yang mampu melakukan

(50)

Hubungan Tipe 2: Konsorsium

dengan Penetap Kebijakan

Perguruan Tinggi 2 Pemerintah sebagai Penetap Kebijakan Perguruan Tinggi 3 Perguruan Tinggi 1 Lembaga Penelitian B Lembaga Penelitian A Konsorsium

(51)

Bagaimana hubungan Konsorsium dengan

Pembuat Kebijakan

1. Konsorsium harus “berani” memberikan masukan dan bertanggung jawab pada hasil pelaksanaan.

2. Pengambil kebijakan harus “berani” mendengarkan 3. Harus dilakukan dengan kontrak yang jelas

(52)

Konsorsium harus “berani” memberikan masukan dan bertanggung jawab pada hasil pelaksanaan.

• Masukan tidak hanya dalam konsepsual dan perencanaan. • Masukan harus sampai ke teknis pelaksanaan kebijakan

dan sistem Monitoring dan Evaluasinya.

• Masukan merupakan hal yang komprehensif dan multi keahlian

• Walaupun ada ideologi yang membayangi,diharapkan konsorsium tidak terjebak dalam perdebatan ideologi • Diperlukan adanya konsultan pengawasan (monev) yang

independen.

Catatan: Sebaiknya tidak memancing perdebatan tidak perlu (perlu ketrampilan komunikasi politik).

(53)

Pengambil kebijakan harus “berani”

mendengarkan

• Pengalaman buruk di masa lalu: Pengambil kebijakan ada yang tidak mau mendengarkan pendapat ahli.

• Pengambil kebijakan ada yang merasa sudah mampu mengatasi sendiri masalahnya (make or buy

decision,....masak sendiri atau rantangan)

• Ketika tugas rutin menekan, penelitian/pengkajian menjadi terabaikan. Akibatnya keputusan tidak jelas dasarnya.

Catatan: Dalam konteks mendengarkan, bukan berarti keputusan ada di tangan peneliti pengembangan/konsultan.

(54)

Kontrak hubungan kerja yang jelas

Pengalaman di masalalu: Tidak jelas hubungan

kerja antara peneliti/konsultan/tenaga ahli

dengan pengambil kebijakan.

Peneliti dan dosen perguruan tinggi lebih

banyak yang berperan sebagai narasumber

sesaat.

Sebaiknya dilakukan ada hubungan kerjasama

(55)

Harapan

Semoga masukan ini bisa menjadi sebuah pemicu untuk strategi baru para peneliti/tenaga ahli dalam:

Melakukan diskusi

Memberikan masukan untuk pengambil

kebijakan

Kerjasama antar perguruan tinggi dan

lembaga-lembaga penelitian serta perusahaan konsultan.

Demi meningkatnya status kesehatan

masyarakat di Indonesia

(56)

Referensi

Dokumen terkait

Cara menemukan atau menyusun pengetahuan memerlukan kajian atau pemahaman tentang metode-metode.Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman untuk membedakan

Berdasarkan hasil penelitian, komunikasi antarpribadi yang selama ini terjalin di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah belum

Nilai Odd Rasio (OR) sebesar 2,9 pada CI 95% 1,027-8,667 sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang memanfaatkan fasilitas swasta mempunyai peluang 2,9 kali

Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberikan tanda silang pada huruf a, b, c atau d di lembar jawaban yang telah disediakana. Gambar di bawah adalah bagan

Laju perkembangan di perkotaan (urban) dan sekitarnya (sub urban) semakin pesat, sehingga kegiatan perkotaan bergeser ke arah sub urban sebagai wilayah penunjang kegiatan kota,

Sedangkan hasil laba kotor untuk Ban Luar Merk Swalow ukuran 28 dan Ban Dalam Merk UK ukuran 28 untuk metode FIFO sebesar Rp.376.250,- dan untuk metode LIFO

“bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu

Shalat magrib dianalogikan sebagai sabuk, dalam bahasa Jawa sabuk berarti alat untuk mengikat perut dari celana atau tapeh.Penulis menginterpretasikan sabuksebagai bentuk