BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Produktivitas dan Budidaya Karet Petani Pendoh Makmur 4.1.1 Analisis Produktivitas Perkebunan Karet Pendoh Makmur
Indonesia merupakan negara dengan lahan perkebunan karet terluas di dunia, dimana seharusnya hal ini membuat Indonesia mampu menjadi produsen utama karet di dunia. Namun pada kenyataannya, Indonesia hanya mampu menduduki peringkat kedua sebagai produsen karet dunia. Mengingat masih terdapat permasalahan yang menjadi hambatan bagi komoditas karet Indonesia yaitu permasalahan produktivitas perkebunan karet terutama perkebunan karet milik rakyat. Kelompok tani Pendoh Makmur merupakan salah satu organisasi petani karet rakyat yang beranggotakan petani pemilik kebun karet dengan skala kecil. Kelompok tani ini dibentuk pada tahun 2006 kemudian secara resmi dinotariskan pada tanggal 21 Mei 2011. Gagasan utama dari pembentukan kelompok tani ini adalah banyaknya petani karet perseorangan disekitar desa polosiri yang tidak terorganisir dengan baik. Dari awal berdiri sampai sekarang, anggota kelompok tani ini terus bertambah hingga saat ini mencapai 153 petani pemilik lahan karet. Yang diantaranya terdiri dari petani karet yang sudah produktif (sudah sadap) dan petani karet yang belum produktif (belum sadap). Anggota kelompok tani Pendoh Makmur yang sudah produktif menghasilkan getah karet dalam bentuk lum (getah karet dengan kadar air yang rendah). Kebun karet milik petani Pendoh Makmur tersebar di 7 dusun, yaitu Dusun Kaliputih, Dusun Soko, Dusun Sajen, Dusun Tapen, Dusun Petet, Dusun Wangon, dan
Dusun Tugusari yang seluruhnya berada di satu desa yaitu Desa Polosiri. Sejak organisasi ini berdiri, aktivitas penyadapan karet baru dilakukan pada tahun 2012 ketika tanaman sudah siap untuk disadap. Namun, tidak semua petani dalam kelompok ini mampu berproduksi di tahun 2012 karena masa tanam yang berbeda-beda antara satu petani dengan petani yang lain. Sejauh ini, petani sudah melakukan penyadapan sepanjang tiga tahun yaitu tahun 2012, 2013, dan 2014. Untuk itu, guna melihat gambaran produksi dan produktivitas petani Pendoh Makmur peneliti melakukan perhitungan produktivitas mulai dari tahun 2012 sampai 2014. Perhitungan produktivitas tersebut mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Data Komoditas Perkebunan (PDKP) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian di tahun 2013 dan standar perhitungan komoditas perkebunan nasional.
Tabel 4.1 memberikan gambaran mengenai produksi karet petani Pendoh Makmur selama kurun waktu 2012-2014.
Tabel 4.1
Total produksi, produktivitas dan standar produktivitas ideal Perkebunan Karet Kelompok Tani Pendoh Makmur tahun 2012-2014
Tahun Total batang Total kepemilikan lahan (ha) Total Produksi (kg/th) Produktivitas (kg/ha/th) Produktivitas ideal (kg/ha) 2012 6365 10,93 2651 242,6 18249 2013 8455 16 4365 267,86 27214 2014 10125 19 12872 664 32383
Dari Tabel 4.1, dapat diketahui bahwa produktivitas perkebunan karet petani pendoh makmur masih sangat jauh lebih redah dibandingkan dengan standar produktivitasnya. Misalnya saja pada tahun 2014, dengan total lahan seluas 19 ha, seharusnya dapat menghasilkan produktivitas sebesar 32.383 kg/ha. Namun pada kenyataannya hanya mampu menghasilkan produktivitas sebesar 664 kg/ha. Pada Tabel 4.1, terlihat bahwa total produksi dari tahun 2012-2014 mengalami kenaikan. Selain itu, produktivitasnya juga mengalami kenaikan. Akan tetapi produktivitas tersebut masih jauh lebih rendah dari standar produktivitas.
Kenaikan total produktivitas tersebut disebabkan oleh adanya penambahan petani produktif. Dari tahun 2012 berjumlah 17 petani kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi sebanyak 25 petani produktif dan pada tahun 2014 bertambah sebanyak 9 orang. Sehingga secara keseluruhan sampai tahun 2014 terdapat 35 petani dari kelompok tani pendoh makmur yang telah melakukan penyadapan getah karet. Dari total 34 petani, hanya sebanyak 13 petani yang melakukan penyadapan sepanjang tahun 2012-2014.
Tabel 4.2
Luas Areal Tanam, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Perkebunan Karet Kelompok Tani "Pendoh Makmur" tahun 2014
NO NAMA WILAYAH Jumlah
Batang Luas areal yang dimiliki (ha) Luas areal tanam ideal (ha)
Produksi (kg/th) Produktivitas (kg/ha/th)
Produktivitas ideal (kg/ha) 2012 2013 2014 2012 2013 2014 1 Sudiman Kaliputih 600 0,625 1,079 206 307 1280 329,60 491,20 2048,00 1043,75 2 Suwoto Kaliputih 500 0,850 0,899 211 535 1138 248,24 629,41 1338,82 1419,5 3 Mardianto Kaliputih 200 0,924 0,360 75 50 292 81,18 54,12 316,05 1542,913 4 Sutoyo Kaliputih 230 0,352 0,414 324 257 196 920,98 730,53 557,13 587,506 5 Asrori Wangon 470 0,670 0,845 177 247 819 264,18 368,66 1222,39 1118,9 6 Maryono Wangon 250 0,133 0,450 33 53 113 248,12 398,50 849,62 222,11 7 Maryadi Wangon 350 0,800 0,629 19 177 333 23,75 221,25 416,25 1336 8 Mukminin Wangon 335 0,550 0,603 146 167 442 265,45 303,64 803,64 918,5 9 Munir Wangon 190 0,650 0,342 236 405 713 363,08 623,08 1096,92 1085,5 10 Sakimin Wangon 100 0,250 0,180 12 54 116 48,00 216,00 464,00 417,5 11 Sujari Wangon 600 0,723 1,079 68 246 734 94,05 340,25 1015,21 1207,41 12 Sulaeman Wangon 240 0,400 0,432 44 65 335 110,00 162,50 837,50 668 13 Parman Tugusari 200 0,291 0,360 297 551 1077 1020,62 1893,47 3701,03 485,97 Total 10125 7,218 7,671 1848 3114 7588 4017,24 6432,59 14666,58 12053,56 Rata-rata 289,3 0,555 0,590 142,15 239,54 583,69 7235,57 11585,93 26416,38 927,20 Sumber : Data Sekunder dari Kelompok tani Pendoh Makmur
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pada tahun 2012 dan 2013 sebagian petani memiliki produktivitas yang belum memenuhi standar ideal. Kemudian di tahun 2014, produktivitas petani mulai meningkat mendekati standar produktivitas. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2012 maupun 2013, pohon karet milik para petani masih relatif muda sehingga belum menghasilkan lum dalam jumlah yang banyak. Kemudian pada tahun 2014, pohon karet petani mulai dapat berproduksi secara normal sehingga peningkatan produktivitasnya hampir mendekati standar ideal. Menurut hasil wawancara dengan informan, semakin tua usia tanaman karet maka getah karet yang dapat dihasilkan semakin banyak. Produktivitas ini juga dipengaruhi oleh jumlah bibit dan luas areal lahan tanam yang dimiliki. Menurut Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Data Komoditas Perkebunan (PDKP) luas areal tanam produktif adalah perbandingan antara jumlah bibit yang dimiliki petani dengan standar populasi tanaman per hektar.
Gambar 4.3 menunjukkan bahwa luas areal tanam ideal sebagian besar lebih tinggi daripada jumlah luas lahan yang sebenarnya dimiliki oleh petani. Kondisi ini menyebabkan petani terpaksa mempersempit jarak tanam antar pohon karet karena lahan yang dimiliki terbatas. Menurut hasil wawancara, sempitnya jarak tanam ini dapat menyebabkan rendahnya produktivitas perkebunan karet karena batang pohon akan tumbuh lebih kecil dari yang seharusnya.
Tanaman karet pada dasarnya memerlukan persyaratan terhadap kondisi-kondisi tertentu yang menentukan kelangsungan pertumbuhan tanaman tersebut. Pulau Jawa termasuk dalam wilayah yang memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian termasuk komoditas karet karena kesuburan tanah yang dimiliki. Namun di Desa Polosiri ternyata memiliki struktur tanah yang kurang subur karena menurut petani tanah di Desa Polosiri dan sekitarnya merupakan tanah padas. Hal ini tidak dapat diabaikan mengingat tanah merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi tanah padas ikut memberi pengaruh terhadap produktivitas perkebunan karet petani Pendoh Makmur. Namun hal lain yang tidak kalah penting adalah perlunya beberapa kemajuan teknologi pada budidaya karet seperti klon-klon rekomendasi, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama/ penyakit dan penyadapan yang sesuai guna mendapatkan hasil getah yang banyak dan berkualitas.
4.1.2 Teknik Budidaya Perkebunan Karet Perkebunan Karet
Untuk menganalisis lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perkebuanan karet Pendoh Makmur, maka peneliti menggali informasi terkait dengan teknik budidaya yang diterapkan oleh petani. Berikut adalah hasil wawancara dan analisis peneliti mengenai teknik budidaya perkebunan karet Pendoh Makmur.
1. Pembibitan
Ketersediaan bibit unggul merupakan komponen dasar bagi perkebunan karet dengan produktivitas yang tinggi. Bibit unggul menentukan kualitas batang pohon karet dan getah yang dihasilkan. Di kelompok tani Pendoh Makmur, para petani menggunakan klon bibit tanaman karet jenis PB260. Menurut pengetahuan petani, bibit jenis tersebut merupakan jenis klon karet unggulan. Namun pada kenyataannya, meskipun direkomendasikan oleh Balai Penelitian Sembawa sebagai salah satu klon karet unggul periode 2010 sampai dengan 2015 akan tetapi bibit jenis ini membutuhkan waktu lama untuk siap disadap yaitu saat tanaman sudah berusia minimal 7 tahun. Selain itu, PB260 juga sangat peka terhadap penyakit seperti kekeringan alur sadap, serta gangguan angin dan kemarau panjang. Teknologi klon unggul yang menghasilkan produktivitas tinggi adalah jenis IRR ( Indonesian Rubber Research ) dimana klon unggul ini mempersingkat masa tanaman dari 5 tahun menjadi 3 tahun 6 bulan sehingga petani dapat cepat melakukan penyadapan.
2. Persiapan Lahan
Teknik pembukaan lahan yang dilakukan oleh para petani Pendoh Makmur adalah dengan tebang tanpa membakar. Teknik ini hanya dilakukan cukup dengan menebang tanaman dan sisa-sisa tumbuhan sebelum ditanami tanaman karet tanpa membakar lahan tersebut. Teknik ini dipilih oleh petani karena petani memperhatikan kondisi lingkungan dan tidak ingin merusak serta mencemari udara di sekitar kebun karet. Hanya teknik ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga kerja yang lebih banyak. Petani Pendoh Makmur sudah menggunakan teknologi seperti alat pemotong rumput untuk membuka lahan di perkebunan. Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa tumbuhan hasil tebas tebang, sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman.
3. Penanaman
Persiapan penanaman bibit tanaman karet Pendoh Makmur dilakukan pada saat musim kemarau ketika musim babat atau lebih dikenal dengan musim tebang karena pada saat tersebut, kadar air di dalam tanah rendah. Pada fase ini petani Pendoh Makmur melakukan konturisasi tanah yaitu dengan memberi lubang-lubang pada areal yang akan ditanami bibit karet. Petani memberi jarak dengan panjang 2 meter dan lebar sebesar 4 meter. Setelah melubangi tanah, petani memberikan pupuk organik pada setiap lubang dan menutup kembali lubang tersebut dengan tanah sampai musim penghujan tiba. Setelah semua persiapan penanaman telah dilakukan, maka langkah
selanjutnya adalah penanaman bibit karet. Di kelompok tani Pendoh Makmur, proses penanaman bibit karet dilakukan ketika musim penghujan tiba. Namun sebelumnya bibit karet yang akan ditanam sudah harus siap untuk ditanam di lubang-lubang yang telah dibuat. Penanaman bibit karet dikakukan dengan cara membuka kembali lubang yang telah diberi pupuk organik kemudian bibit ditanam pada lubang tersebut dan ditutup kembali dengan tanah.
4. Sistem Budidaya
Di kelompok tani Pendoh Makmur, sebagian besar petani memilih untuk menerapkan sistem budidaya agroforesti yaitu menanam karet bersamaan dengan beberapa tanaman lain. Namun penanaman tanaman sela hanya dilakukan pada saat karet memasuki usia 0-2 tahun saja.
Meskipun teknik tanam campur ini kurang baik, namun terdapat beberapa alasan mengapa para petani Pendoh Makmur memilih untuk mencampur kebun karet mereka dengan tanaman lain, alasan tersebut antara lain1: Sistem
budidaya agroforesti tidak membutuhkan modal dan biaya yang besar dikarenakan pemeliharaannya tidak terlalu intensif, lalu sebagian besar petani memiliki keahlian dalam menanam tanaman lain. Kemudian alasan yang paling kuat adalah keinginan petani untuk memanfaatkan lahan disela-sela tanaman karet sekaligus untuk memperoleh tambahan pengasilan dari tanaman sela yang ditanam di kebun karet.
Tanaman sela yang ditanam oleh para petani Pendoh Makmur antara lain yaitu berbagai macam tanaman palawija, seperti jagung, ketela, kacang tanah dan sebagainya. Selain tanaman palawija, petani Pendoh Makmur juga menanam tanaman empon-empon seperti jahe, kencur, lengkuas, dsb.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan dilakukan mulai dari setelah penanaman bibit sampai pohon karet sudah tidak produktif dan siap ditebang. Bagi petani Pendoh Makmur, pemeliharaan secara intensif dilakukan pada saat tanaman karet berusia 0-3 tahun.
Selama kurun waktu tersebut, pemeliharaan terus dilakukan oleh para petani. Pemeliharaan ini biasanya dimulai dengan pemipilan ranting liar dan juga dilakukan proses pemupukan. Pemupukan ini dilakukan secara berkala, di kelompok tani ini pemupukan dilakukan setiap 4 bulan sekali. Sebenarnya para petani menyadari bahwa baik apabila pemupukan dilakukan secara lebih rutin, namun petani merasa keberatan karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk juga tidak sedikit. Karena alasan biaya yang pada akhirnya membuat petani melakukan pemupukan secara kurang intensif. Selain proses pemipilan dan pemupukan, perawatan lain yang rutin dilakukan oleh para petani adalah membasmi gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman karet.
Setelah usia 3 tahun, jenis pemeliharaan yang dilakukan adalah melakukan topping-topping pada tanaman karet. Topping adalah kegiatan pemangkasan pada ujung-ujung tunas agar keluar cabang tunas baru.
Pemangkasan ujung tunas ini dilakukan ketika pohon sudah mencapai ketinggian sekitar 2,5 meter. Setelah melakukan topping, pohon dibiarkan tumbuh sampai pohon sudah dapat disadap. Di sisi lain, petani juga memberikan “gondang-gandung”, yaitu pemberian lubang di sekeliling pohon karet. Fungsi dari pemberian lubang ini adalah agar udara bisa sampai ke akar pohon. Selain itu pemberian lubang ini juga bertujuan agar menjadi tempat pupuk dan humus-humus yang ada. Para petani Pendoh Makmur tidak memiliki aturan yang pasti dalam hal pemberian pupuk, sehingga berbeda antara satu petani dengan petani yang lain.
Teknik pemeliharaan tanaman merupakan bagian yang paling berpengaruh terhadap hasil produksi dan produktivitas kebun karet milik petani Pendoh Makmur. Salah satuya adalah pemupukan, jika pemupukan sering dilakukan maka lum yang dihasilkan akan semakin banyak karena batang pohon karet akan berpotensi tumbuh besar dengan daun yang subur. Tentu dengan kondisi pohon yang besar maka lum yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Namun bagi petani petani Pendoh Makmur, pemupukan yang dilakukan sebanyak 3 kali dalam setahun sudah merupakan usaha pemeliharaan yang maksimal. Bahkan terdapat petani yang sama sekali tidak melakukan pemupukan setelah proses penanaman bibit. Sehingga kebun karet yang mereka miliki mirip dengan hutan karet dan penuh dengan semak belukar. Kondisi ini tentu mempengaruhi produktivitas kebun setelah penyadapan.
6. Penanggulangan Hama Penyakit
Pada kelompok tani Pendoh Makmur, hama yang menyerang tanaman karet milik para petani adalah semut gramang. Hama ini menyerang tanaman karet pada saat tanaman masih berumur 0-1 tahun. Dampak dari hama semut gramang/ semut hitam terletak pada telurnya yang akan mengganggu pertumbuhan tunas karet. Selain itu rumput ilalang yang tumbuh di sekitar tanaman pokok juga dapat mengganggu tanaman karet. Selain hama, terdapat penyakit yang juga menyerang tanaman karet milik para petani pendoh yaitu Jamur upas, penyakit ini disebabkan oleh jamur
Corticium salmonicolor yang menyerang tanaman muda maupun tanaman
produktif. Jamur upas menyerang bagian batang atau cabang pohon. Jamur ini ditandai dengan keluarnya getah berwarna hitam dibagian tanaman yang terserang, meleleh di permukaan batang tanaman hingga batang menjadi busuk dan akhirnya mati. Menurut hasil penelitian, petani Pendoh Makmur tidak banyak melakukan upaya untuk menumpas hama dan penyakit. Pada umumnya petani hanya mengupayakan penumpasan hama, itupun hanya seperti penggunaan obat Roundup untuk menyemprot ilalang. Namun untuk penyakit seperti jamur upas petani tidak mengupayakan penanggulangannya melainkan lebih memilih menebang langsung pohon yang terserang penyakit tersebut karena petani kesulitan mendapatkan obat penyakit tersebut.
7. Penanganan Panen/ Sadap
Getah karet yang dihasilkan oleh para petani dikelompok ini berupa
lum, yaitu getah karet yang kadar airnya sedikit. Biasanya petani di
kelompok ini melakukan penyadapan pada pagi hari dan masing-masing petani memiliki waktu penyadapan yang berbeda-beda. Kemudian petani memiliki kebebasan untuk mengambil hasil lum kapan saja sesuai dengan keinginan mereka sehingga tidak ada jam-jam khusus untuk mengambil hasil lum dari kebun karet. Sedangkan peralatan penyadapan yang digunakan para petani di kelompok ini hanya berupa peralatan sederhana yaitu pisau sadap, wadah lum, dan ember. Para petani memanfaatkan botol minuman bekas dan juga kaleng-kaleng bekas untuk dijadikan sebagai wadah lum di kebun karet mereka. Setelah melakukan penyadapan, hasil getah karet yang berupa lum dibawa pulang oleh masing-masing petani sebelum dikumpulkan di bak tandon milik kelompok. Kemudian ketika
lum milik petani tersebut sudah terkumpul cukup banyak, maka lum
tersebut dikirim ke kelompok sebelum nanti dijual kepada pabrik. Penanganan pada saat sadap mencerminkan penerapan pola kerja penyadapan petani Pendoh Makmur yang tidak teratur. Selain itu, petani tidak berupaya untuk mengolah lum tersebut melainkan hanya didiamkan selama berhari-hari sebelum dikirim ke pabrik untuk dijual. Petani belum Pendoh Makmur tidak memiliki teknologi yang cukup untuk mengolah hasil lum mereka sebelum dijual.
Dari keseluruhan teknik budidaya tanaman karet yang telah dilakukan oleh petani Pendoh Makmur, terlihat bahwa kelemahan petani Pendoh Makmur terletak pada faktor teknologi yang digunakan/diterapkan. Pengaruh teknologi ini tampak sejak pembibitan sampai dengan penyadapan. Produktivitas perkebunan karet petani Pendoh Makmur yang berada di bawah standar rata-rata hampir seluruhnya disebabkan karena teknologi yang rendah. Jika dilihat satu per satu mulai dari
klon yang digunakan, petani Pendoh Makmur menggunakan klon yang tidak
unggul. Pengetahuan petani Pendoh Makmur akan jenis-jenis klon unggul dirasa masih kurang. Kemudian intensitas pemupukan yang sangat kurang dan bahkan tidak jarang ada petani yang tidak melakukan pemupukan. Disamping itu, yang menjadi salah satu kelemahan petani adalah keinginan untuk menanam tanaman sela. Petani hanya memikirkan keuntungan ekonomis tanaman sela tersebut tanpa mengetahui dampak tanaman sela bagi tamanan pokok. Faktor teknologi yang lain adalah rendahnya pengetahuan petani mengenai teknis membudidayakan perkebunan karet. Seperti pemberian jarak tanam yang tidak sesuai dengan standar budidaya tanaman karet serta penanganan hama dan penyakit. Buruknya penanganan hama dan penyakit menunjukkan rendahnya teknologi yang yang digunakan oleh petani karet Pendoh Makmur. Dari keseluruhan fakta yang didapat mengenai rendahnya teknologi petani Pendoh Makmur, peneliti juga menemukan satu faktor penyumbang rendahnya produktivitas perkebunan petani Pendoh Makmur yaitu pola kerja. Hal inilah yang membedakan kebun petani perseorangan dengan perkebunan milik PTPN yang pada kenyataannya perkebunan PTPN jauh lebih teratur dan terarah sehingga hasilnya juga jauh lebih
baik. Pola kerja yang tidak teratur ini merupakan faktor intern yang muncul dari dalam diri petani. Dalam hal penyadapan misalnya, bagi petani Pendoh Makmur, mereka bebas dalam hal menyadap dan mengambil hasil sadapan sewaktu-waktu karena petani berpikir bahwa usaha mereka bersifat perseorangan yang tidak mengejar target sehingga mereka bisa menyadap dan mengambil hasil sadap secara sesuka hati tanpa ada batasan waktu. Selain itu, pola kerja petani juga tidak konsisten dimana hal tersebut terlihat ketika petani membiarkan begitu saja kebun karet mereka tanpa perawatan dan sibuk dengan pekerjaan lain. Hal ini mencerminkan ketidakseriusan petani dalam mengembangkan perkebunan karet mereka. Menurut analisa peneliti, selain faktor tanah, faktor teknologi dan pola kerja jauh lebih banyak berpengaruh terhadap rendahnya produktivitas perkebunan karet milik petani Pendoh Makmur. Pandangan bahwa usaha karet mereka adalah usaha sampingan membuat petani seolah-olah menjadi acuh tak acuh terhadap tanaman karet mereka. Akibatnya produktivitas juga menjadi tidak maksimal. Disamping itu, saat ini pohon karet milik para petani Pendoh Makmur juga masih dalam tahap tahun awal sadap, dimana pohon baru pertama kali disadap pada tahun 2012. Sehingga pohon karet belum bisa manghasilkan lum secara maksimal layaknya pohon karet yang sudah berusia diatas 15 tahun.
Dengan demikian, dari hasil analisis peneliti telah menemukan bahwa produktivitas perkebunan karet di kelompok tani Pendoh Makmur masih rendah Faktor utama yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah teknologi dan pola kerja. Keterbatasan teknologi yang digunakan dan penerapan pola kerja yang tidak sesuai menjadi hambatan perkebunan karet rakyat. Hasil ini
memiliki kesamaan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang juga mengatakan bahwa permasalahan umum perkebunan rakyat itu adalah rendahnya produktivitas yang disebabkan oleh keterbatasan teknologi dan pemeliharaan yang tidak serius. Fakta ini juga sesuai dengan teori produktivitas bahwa input berupa teknologi yang rendah akan berdampak pada hasil ouput yang rendah. Meskipun faktanya perkebunan karet petani Pendoh Makmur belum berproduksi secara maksimal dan tidak menguntungkan, para petani tidak berniat untuk mengganti karet dengan tanaman lain. Menurut mereka, modal yang dahulu dikeluarkan untuk menanam tidaklah sedikit sehingga sayang jika dipangkas dan diganti tanaman lain. Apalagi penggantian tanaman juga membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Alasan ini dirasa cukup untuk membuat mereka tetap mempertahankan kebun karet yang mereka miliki saat ini.
Meskipun sebelumnya petani Pendoh Makmur memiliki kekurangan dari sisi produksi dan produktivitas, namun di sisi lain petani kelompok Pendoh Makmur memiliki satu kelebihan yang pada umumnya tidak dimiliki oleh petani perseorangan lainnya yaitu kemudahan di bidang pemasaran. Di kelompok tani Pendoh Makmur, para petani tidak menjual sendiri hasil lum mereka melainkan menjual melalui kelompok. Dengan kata lain, petani menyetorkan hasil lum mereka kepada kelompok dan kelompok yang akan memasarkan lum tersebut. Gambaran pemasaran lum milik petani Pendoh Makmur dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Input
Gambar 4.4
Rantai pemasaran Lum kelompok tani Pendoh Makmur
Sumber : Data primer diolah
Gambar 4.4 menunjukkan distribusi lum petani Pendoh Makmur dimana hal tersebut menjadi tanggung jawab kelompok. Dalam sistem penjualan melalui kelompok, pertama-tama para petani mengumpulkan lum mereka masing-masing. Ketika lum sudah terkumpul cukup banyak, lum tersebut disetorkan kepada kelompok dan ditampung dalam bak penampungan sebelum kemudian di setorkan ke pabrik pengolahan karet. Kelompok bertanggung jawab untuk membawa hasil lum milik para petani untuk kemudian disetorkan kepada pabrik pengolahan karet. Penentuan harga lum yang diberikan pabrik pengolahan karet kepada kelompok pada dasarnya mengikuti harga pasar, dengan kata lain lum yang dibeli diberi harga sesuai dengan harga karet pada saat itu. Rantai pemasaran lum milik para
Petani karet Kelompok tani Pendoh Makmur Pabrik pengolahan karet lembaran (sheet) Jasa angkut Industri
Primer Distribusi Industri sekunder
Bibit Pupuk Pestisida Pengguna lum lum Industri saprotan Ekspor Konsumen sheet
petani ini sudah terbentuk sejak kelompok tani Pendoh Makmur didirikan. Kelompok telah mengadakan perjanjian dengan pabrik pengolahan karet. Perjanjian ini berupa kesepakatan kerjasama bahwa kelompok akan menyetorkan dan menjual lum milik petani kepada pabrik. Pemasaran lum petani ke pabrik tidak memiliki patokan waktu yang pasti. Pada saat musim penghujan kelompok bisa mengirim lum ke pabrik dalam kurun waktu satu bulan sekali. Namun jika pada waktu musim kemarau kelompok bisa mengirim 3-5 bulan sekali. Kelompok belum bisa mengirim lum secara rutin setiap hari karena kebun karet milik petani belum dapat menghasilkan lum secara maksimal.
Oleh sebab itu, adanya lembaga kelompok tani Pendoh Makmur dirasa telah memberikan dampak positif berupa kemudahan dalam aspek pemasaran lum. Dengan demikian petani Pendoh Makmur tidak perlu melalui alur penjualan yang rumit dan panjang. Selain berupa kemudahan alur penjualan, adanya organisasi ini membuat petani menjadi lebih tau mengenai informasi harga getah karet di pasar Keuntungan dari kemudahan alur penjualan ini juga membuat harga jual lum mereka sesuai dengan harga di pasar dan tidak ada pungutan-pungutan seperti halnya petani karet pada umumnya.
Hasil penelitian dan pembahasan tentang produksi, produktivitas, dan pemasaran kelompok tani karet Pendoh Makmur, menunjukkan bahwa usaha karet milik petani Pendoh Makmur saat ini merupakan usaha yang kurang menguntungkan. Meskipun terdapat hal positif dalam mekanisme pemasaran lum mereka, akan tetapi hal tersebut tidak berdampak pada produksi dan produktivitas perkebunan karet milik petani.
4.2 Kondisi Ekonomi Rumah Tangga Petani Pendoh Makmur
Setelah melakukan proses penyadapan, lum yang telah terkumpul kemudian dijual untuk memperoleh uang sebagai pendapatan yang akan digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selama kurun waktu 3 tahun, harga karet nasional selalu mengalami gejolak dan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sepanjang waktu penyadapan yaitu dari tahun 2012 sampai 2014, harga tertinggi yang pernah diterima oleh para petani Pendoh Makmur adalah pada kisaran tingkat harga Rp.10.000/kg yaitu pada bulan Mei 2012. Semenjak itu harga karet justru terus mengalami penurunan dan sampai pada tahun 2014. Di akhir tahun 2012, harga karet hanya mencapai Rp.7.000 - Rp.7.500/kg. Kemudian di tahun 2013, harga karet mengalami penurunan lagi yaitu hanya berkisar Rp.6.000- Rp.7.000/kg. Harga ini terus bertahan hingga pada tahun 2014 yang hanya berada pada tingkat harga Rp.5.500/kg. Harga ini merupakan yang diterima
Selama kurun waktu tiga tahun, petani Pendoh Makmur tidak mendapatkan keuntungan melainkan merugi akibat turunnya harga yang diterima oleh petani. Harga yang diperoleh petani merupakan harga yang ditentukan oleh pabrik pengolahan karet yang bertindak sebagai pihak yang membeli lum milik petani di kelompok tani Pendoh Makmur. Salah satu yang menjadi kelemahan petani Pendoh Makmur adalah penentuan harga lum yang sepenuhnya ditentukan oleh pabrik pengolahan karet sebagai pihak pembeli. Menurut analisa peneliti, hal ini membuat tidak ada transparansi harga dari pabrik kepada petani. Petani hanya mengikuti harga tanpa mengetahui harga getah karet pada saat getah tersebut dijual. Apabila harga terus ditentukan oleh pabrik maka dapat dipastikan petani
akan ditekan dengan harga yang semakin turun dan petani semakin tidak memiliki kemampuan/ kapasitas untuk ikut bernegosiasi menentukan harga. Kondisi ini menyebabkan pendapatan yang diterima petani dari tahun ke tahun semakin menyusut. Jika tidak segera diatasi, maka dikhawatirkan dalam jangka panjang petani akan mengalami kerugian yang semakin parah. Menurut peneliti, apabila penjualan lum kepada pabrik dirasa merugikan petani, sebaiknya kelompok mencoba untuk mencari pembeli lain sebagai pembanding sehingga dalam penjualan lum petani Pendoh Makmur tidak terus-menerus bersifat monopsoni.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menduga bahwa harga getah karet akan terus cenderung menurun. Dalam jangka panjang, dikhawatirkan usaha karet petani Pendoh Makmur tidak akan berkembang dan justru akan terus menerus mengalami kerugian akibat fluktuasi harga yang menurun tajam. Rendahnya harga karet yang diterima petani Pendoh Makmur disebabkan oleh anjloknya harga karet di pasar global. Sejalan dengan harga karet di pasar global yang anjlok, pendapatan petani karet juga anjlok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat di bawah 100, yakni per Januari 2016 adalah 96,19 dan per Februari 2016 adalah 96,21 (Kompas, 5 Maret 2016). Saat ini, dampak rendahnya harga lum yang diterima petani Pendoh Makmur dari pabrik secara langsung mempengaruhi pendapatan yang mereka terima. Perhitungan pendapatan dari karet petani Pendoh Makmur dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3
Rekapitulasi Pendapatan Karet Petani Pendoh Makmur tahun 2012-2014 (Rupiah)
LUM KAS LUM KAS LUM KAS
1 Dwi/Partono 14 98.000 32 226.250 2 Jahuri 100 600.000 3 Rumiyati 466 2.902.000 4 Sudiman 206 1.598.500 307 2.192.000 1.280 8.817.500 5 Suwoto 211 1.586.000 670 4.558.500 1.138 7.704.000 6 Suliyem/Sumarlan 28 196.000 510 3.387.500 7 Mardianto 75 562.500 50 329.000 292 1.957.000 8 Sutoyo 324 2.397.000 288 1.959.000 196 1.440.000 9 Mustakim 13 130.000 53 357.000 98 630.000 10 Rohmat 113 678.000 11 Dirin 403 2.418.000 12 Kamdi 38 228.000 297 1.782.000 13 Taslim 590 4.230.000 317 2.049.000 - -14 Asrori 177 1.314.000 247 1.404.500 819 5.411.250 15 Koyin 24 165.000 76 508.500 16 Maryono 33 231.000 53 397.500 113 769.500 17 Maryadi 19 133.000 177 1.205.000 333 2.171.500 18 Muhammad K. 90 609.000 19 Muhromin/Nursaidin 24 144.000 73 500.000 20 Mukminin 146 1.190.000 211 1.445.000 442 2.973.500 21 Munir 236 1.964.000 405 2.714.000 713 4.799.000 22 Ngasri/Rifa 209 1.377.750 23 Rusiat 69 440.500 285 1.894.000 24 Sakimin 12 84.000 80 540.000 116 758.000 25 Salam / Temon 210 1.305.000 26 Saroni 150 1.014.500 27 Siti Koyimah 10 60.000 62 419.500 28 Sodikin 85 582.000 317 2.056.000 29 Sofwan 49 330.000 62 438.000 30 Sujari 68 544.000 246 1.831.000 734 4.743.250 31 Sulaeman 44 308.000 65 487.500 335 2.320.250 32 Kasturi 37 240.500 123 781.250 33 Yaeni 119 855.000 235 1.599.000 34 Parman 297 2.376.000 551 3.681.000 1.077 7.230.500 35 Seneng 441 2.867.500 1.373 9.427.500
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
NO NAMA
Hasil Sadap Karet Petani Pendoh Makmur
Sumber : Data sekunder dari sekretaris Kelompok tani Pendoh Makmur
Dari tabel 4.3, terlihat bahwa pendapatan karet petani Pendoh Makmur masih rendah. Pada kenyataannya mengandalkan pendapatan tersebut tentulah tidak akan cukup untuk menunjang kebutuhan hidup mereka. Pada dasarnya seluruh petani
kelompok pendoh makmur, memiliki pekerjaan utama diluar perkebunan karet yang kembangkan. Petani hanya menjadikan usaha perkebunan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi mereka. Oleh karena itu, sumber pendapatan petani Pendoh Makmur dibedakan menjadi pendapatan karet dan pendapatan non karet, dimana justru kehidupan ekonomi mereka lebih banyak ditopang oleh pendapatan non karet.
Faktanya pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan diluar perkebunan karet memang lebih tinggi dibandingkan dari hasil perkebunan. Dengan kata lain, pendapatan dari karet tidak berkontribusi besar dalam menopang ekonomi petani karet Pendoh Makmur. Beberapa profesi utama para petani tersebut diantaranya bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil, bekerja di perusahaan Swasta, bekerja menjadi buruh di pabrik, dan merantau ke beberapa wilayah di Indonesia untuk mencari pekerjaan serabutan2. Fakta bahwa para petani Pendoh Makmur tidak berorientasi perkebunan karet saja menimbulkan dampak pada penerapan pola kerja yang semakin tidak serius. Hasil wawancara peneliti pada Bapak Mardianto, memberikan contoh salah satu petani yang memiliki pekerjaan utama sebagai karyawan diluar kota. Akibat pekerjaan tersebut, perkebunan karet menjadi tidak terurus. Perkebunan karet milik pekerja tersebut tidak diberikan perawatan seperti pemberian pupuk, pemangkasan semak belukar, serta penanganan hama dan penyakit. Hal ini akan menimbulkan dampak yang berkelanjutan bagi produksi dan produktivitas perkebunan karet milik petani Pendoh Makmur pada masa panen.
Selain perhitungan pendapatan dari perkebunan karet yang dimiliki, dalam penelitian ini peneliti juga memberikan gambaran mengenai pendapatan non karet yag dimiliki oleh para petani Pendoh Makmur menurut beberapa profesi pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4
Golongan Pendapatan Non Karet Petani Pendoh Makmur Berdasakan Profesi yang dimiliki
Pendapatan Pegawai Negeri Sipil Pegawai Swasta Buruh Pabrik Pekerja Serabutan < 1.000.000 1.000.000-2.000.000 √ 2.000.000-3.000.000 √ 3.000.000-4.000.000 √ > 4.000.000 √
Sumber : Data Primer diolah
Jenis profesi pada Tabel 4.4 merupakan contoh beberapa pekerjaan utama yang dimiliki oleh petani Pendoh Makmur. Dari Tabel 4.4. terlihat bahwa beberapa pekerjaan utama yang dimiliki oleh petani Pendoh Makmur sebenarnya sudah dapat menjadi sumber utama penopang kehidupan mereka. Jika melihat perbandingan antara pendapatan karet dan non karet yang dimiliki, terlihat jelas bahwa kontribusi terbesar dalam menopang kehidupan ekonomi petani Pendoh Makmur adalah pendapatan non karet.
Selain melihat dari sisi sumber pendapatan peneliti juga melakukan analisis tentang kondisi ekonomi rumah tangga petani Pendoh Makmur dari aspek kondisi lingkungan (kondisi fisik rumah ) dan kebutuhan pendidikan. Dilihat dari kondisi fisik hunian, rumah milik para petani umumya sudah memenuhi beberapa kriteria minimum hunian layak seperti ditunjukkan pada Tabel 4.5.
Kondisi Tempat Tinggal Petani Pendoh Makmur Menurut Pekerjaan utama yang dimiliki
Fasilitas yang dimiliki Kepemilikan WC Keramik Semen Tanah Genteng Asbes Seng
Tembok
semen Kayu Bambu Televisi Kulkas
Sepeda
motor Sendiri Umum PDAM Sumur Sungai 1 Pegawai Negeri Sipil √ √ √ √ √ √ √ √ 2 Karyawan Swasta √ √ √ √ √ √ √ √ 3 Buruh Pabrik √ √ √ √ √ √ √ √ 4 Pekerja Serabutan √ √ √ √ √ √ √ √ Sumber air Kriteria Umum Tempat Tinggal Layak
Jenis Pekerjaan No.
Jenis Lantai Jenis Atap Jenis Dinding
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari aspek kondisi tempat tinggal, petani Pendoh Makmur sebenarnya sudah memiliki hunian yang cukup layak seperti terlihat pada bangunan rumah dan fasilitas yang dimiliki. Rata-rata tempat tinggal petani karet Pendoh Makmur sudah berkeramik, beratap genteng tanah lia, dan berdinding tembok semen. Mereka juga memiliki fasilitas seperti sepeda motor dan televisi. Bahkan terdapat petani yang memiliki pekarangan rumah yang cukup luas. Selain melihat segi keadaan fisik tempat tinggal, peneliti juga melihat bahwa dari segi pemenuhan kebutuhan pendidikan, petani Pendoh Makmur telah mampu mencukupi kebutuhan pendidikan bagi anak mereka. Para petani sadar akan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak mereka sehingga mereka mengupayakan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Oleh sebab itu, para petani Pendoh Makmur memilih mencari pekerjaan utama diluar kebun agar dapat terus memenuhi kebutuhan yang ada.
Jika dilihat secara keseluruhan, kondisi ekonomi petani Pendoh Makmur sudah tergolong baik. Tetapi sebenarnya mereka bukan petani sepenuhnya karena justru bertani hanyalah pekerjaan sampingan bagi mereka. Kesejahteraan petani karet Pendoh Makmur saat ini lebih banyak ditentukan berdasarkan pendapatan non karet dibandingkan dengan pendapatan dari perkebunan karet. Pendapatan diluar perkebunan yang mereka miliki cukup besar sehingga mampu menutupi kebutuhan hidup mereka. Sehingga tidak dipungkiri bahwa yang berkontribusi besar terhadap kehidupan ekonomi mereka adalah sumber penghasilan dari non karet.